Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebudayaan merupakan Sesutu yang berkaitan dengan budi dan akal
manusia. Sebenarnya tanpa disadari, apa yang kita lihat dan kita lakukan
sehari-hari, tidak lepas dari yang namanya kebudayaan. Setiap kota, setiap
negara pasti memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Dan kebudayaan itu
sendiri mencakup segenap cara berpikir dan bertingkah laku. Semuanya itu
timbul karena adanya inetraksi kita dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat
komunikatif. Kebudayaan mencakup sebuah pengetahuan, yaitu apapun yang
kita pelajari atau informasi-informasi yang kita dapatkan dapat diperoleh dari
sebuah kebudayaan. Apalagi sebuah kepercayaan, serta kebiasaan manusia
sebagai warga negara.
Perubahan kebudayaan pada masyarakat biasanya ada yang disebabkan
oleh masyarakat itu sendiri, ataupun berasal dari masyarakat pendatang.
Biasanya penyebab perubahan yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.
Begitu juga sebaliknya dengan penyebab perubahan budaya yang di akibatkan
dengan adanya kedatangan masyarakat dari luar yang biasanya terjadi karena
adanya bencana alam, transmigrasi maupun lainnya.
Mereka biasanya hanya mampu meninggalkan tempat dimana tinggal dulu,
tetapi sulit bagi mereka meninggalkan budaya yang sudah ada dan
menggantikannya dengan yang baru.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu konsep konsep suku bangsa?
2. Apa yang dimaksud dengan konsep daerah kebudayaan?
3. Bagaimana proses evolusi sosial?

C. Tujuan Penulisan
1. Dapat mendeskripsikan konsep kebudayaan suku bangsa.
2. Dapat menjelaskan konsep daerah kebudayaan.
3. Dapat menjelaskan proses evolusi sosial.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Suku Bangsa


1. Suku Bangsa

2
Tiap kebudayaaan yang hidup dalam suatu masyarakat, baik suatu
komunitas desa, kota, kelompok kekerabatan, atau lainnya, memiliki suatu
corak yang khas, yang terutama tampak oleh orang yang berasal dari luar
masyarakat itu sendiri. Warga kebudayaan itu sendiri biasanya tidak
menyadari dan melihat corak khas tersebut. Sebaliknya, mereka dapat
melihat corak khas kebudayaan lain, terutama apabila corak khas tersebut
mengenai unsusr-unsur yang perbedaannya sangat mencolok dibandingkan
dengan kebudayaan itu sendiri.
Suatu kebudayaan dapat memiliki suatu corak yang khas karena
berbagai sebab, yaitu karena adanya suatu unsur kecil (dalam bentuk unsur
kebudayaan fisik) yang khas dalam kebudayaan tersebut, atau kebudayaan
tersebut memiliki pranata-pranata dengan suatu pola sosial khusus, atau
mungkin juga karena kebudayaan menganut suatu tema budaya yang
khusus. Sebaliknya, corak khas mungkin pula disebabkan karena adanya
kompleks unsur-unsur yang lebih besar, sehingga tampak berbeda dari
kebudayaan-kebudayaan lain.
Pokok perhatian dari suatu deskripsi etnografi adalah kebudayaan–
kebudayaan dengan corak yang khas seperti, yang disebut dengan istilah
“suku bangsa” (dalam bahasa Inggris disebut ethnic group, yang kalau
diterjemahkan secara harfiah menjadi “kelompok etnik”). Istilah suku
bangsa dipakai karena sifat kesatuan dari suatu suku bangsa bukan
kelompok, melainkan golongan. Konsep yang mencangkup istilah suku
bangsa adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh suatu
kesadaran dan jati diri mereka akan kesatuan dari kebudayaan tidak
ditentukan oleh orang luar.

2. Beragam Kebudayaan Suku Bangsa


Dalam hal ini suku bangsa diseluruh dunia dibedakan berdasarkan
mata pencaharian dan sistem ekonominya, yaitu: masyarakat pemburu dan

3
peramu, masyarakat peternak, masyarakat peladang, masyarakat nelayan,
masyarakat petani pedesaan,masyarakat perkotaan kompleks.
Kebudayaan suatu bangsa yang hidup dari berburu dan meramu pada
bagian terakhir abad ke-20 ini sudah hampir tidak ada lagi di muka bumi
ini.Mereka kini tinggal di daerah terisolasi di daerah-daerah pinggiran atau
daerah-daerah terpencil yang karena keadaan alamnya tidak suka didiami
bangsa-bangsa lain.Daerah-daerah seperti itu misalnya daerah Pantai Utara
Kanada yang terlampau dingin, atau daerah-daerah yang tidak cocok untuk
bertanam seperti daerah gurun.
Kebudayaan peternak yang hidup dalam pastoral societies hingga kini
masih ada di daerah-daerah padang rumput stepa atau sabanar di Asia
Barat Daya,Asia Tengah,Siberia,Asia Timjr Laut,Afrika Timur,atau Afrika
Selatan.Binatang yang dipeihara berbeda-beda menurut daerah
geografinya.Misalnya di daerah-daerah oase di Gurun semenanjung Arab
hidup suku-suku bangsa Arab Badui yang memelihara unta,kambing,dan
kuda.Di daerah-daerah gurun.stepa,dan sabana,di Asia Barat Daya hidup
suku-suku bangsa seperti Khanzah di Iran dan Pashtun di Afganistan yang
memelihara domba, sapi, dan kuda. Di daerah-daerah stepa di Asia Tengah
hidup suku-suku bangsa Mongolia dan Turki seperti Buryat, Kazakh,
Kirghiz, dan Uzbek yang memelihara domba, kambing, unta, dan kuda.
Kebudayaan peladang yang hidup dalam shifting cultivators societies
terbatas pengembaraannya di daerah hutan rimba tropis di daerah
pengairan Sungai Kongo di Afrika Tengah,di Asia Tenggara termasuk
Indonesia(di luar Jawa dan Bali), dan di daerah pengairan Sungai Amazon
di Amerika Selatan.Bercocok tanam di lading merupakan suatu mata
pencaharian yang dapat juga menjadi dasar suatu peradaban yang
kompleks dengan masyarakat perkotaan, sistem kenegaraan, dan seni
bangunan serta pertukangan yang tinggi.Contoh dari suatu peradaban
serupa itu adalah peradaban Indian Maya dalam abad ke-15 di Meksiko
Selatan, Yukatan, dan Guatemala di Amerika Tengah.

4
Kebudayaan nelayan yang hidup dalam fishing communities ada di
seluruh dunia,di sepanjang pantai,baik dari negara-negara yang berada di
pinggir benua-benua, maupun di pulau-pulau.Secara khusus desa-desa
nelayan itu terletak di daerah muara-muara sungai atau di sekitar sebuah
teluk.
Kebudayaan petani pedesaan,yang hidup dalam peasant communities
pada masa sekarang merupakan bagian terbesar dari objek-objek perhatian
para ahli antropologi, karena suatu proporsi terbesar dari penduduk masa
kini memang masih merupakan petani yang hidup dalam komunitas-
komunitas desa, yang berdasarkan pertanian, khususnya bercocok tanam
menetap secara tradisional dengan irigasi.
Kebudayaan perkotaan yang kompleks telah menjadi objek perhatian
para ahli antropologi,terutama sesudah Perang Dunia II.Pada masa itu
timbul banyak Negara baru bekas jajahan, dengan penduduk yang biasanya
terdiri dari banyak suku bangsa, golongan bahasa,atau golongan agama,
dalam wadah satu Negara nasional yang merdeka. Dalam usaha
membangun ekonominya secara cepat, kemakmuran diperoleh secara
mendadak, terutama di kota-kota besar, menarik jutaan penduduk daerah-
daerah dari beragam latar belakang kebudayaan suku bangsa di kota-kota
itu sehingga timbul suatu gejala baru,yaitu gejala hubungan interaksi
antarsuku bangsa di kota-kota besar di Negara-negara yang sedang
berkembang.Masalah-masalah yang berhubungan dengan gejala tersebut
dan juga beberapa masalah yang menjadi pokok perhatian antropologi
spesialisasi,sebagian besar juga timbul di kota-kota,menyebabkan ada
perhatian luas dari para ahli antropologi terhadap masyarakat kota,dan
timbulnya subilmu antropologi spesialisasi yang disebut “antropologi
perkotaan” (urban anthtropology).

B. Konsep Daerah Kebudayaan


Suatu daerah kebudayaan adalah suatu daerah pada peta dunia yang oleh
par aahli antropologi disatukan berdasarkan persamaan unsur-unsur atau ciri-

5
ciri kebudayaan yang mencolok. Dengan pengolongan seperti itu, berbagai
suku bangsa yang tersebar di suatu daerah di muka bumi diklasifikasikan
berdasarkan unsu-unsur kebudayaan yang menunjukkan persamaaan, untuk
memudahkan para ahli antropologi melakukan penelitian analisa komparatif.
Ciri-ciri kebudayaan yang dijadikan dasar dari suatu pengolongan daerah
kebudayaan bukan hanya unsur-unsur kebudayaan fisik saja (misalnya alat-
alat yang digunakan berbagai jenis mata pencaharian hidup, yaitu alat
bercocok tanam, alat berburu, dan alat transportasi, senjata, bentuk-bentuk
ornamen, gaya pakaian, bentuk rumah, dsb), tetapi juga unsur-unsur
kebudayaan abstrak seperti unsur-unsur organisasi kemasyarakatan, system
perekonomian, upacara keagamaan, adat istiadat dll. Persamaan ciri-ciri
mencolok dalam suatu daerah kebudayaan biasanya hadir lebih kuat pada
kebudayaan-kebudayaan yang menjadi pusat pada kebudayaan yang
bersangkutan, dan makin tipis didalam kebudayaan-kebudayaan yang
jaraknya makin jauh dari pusat tersebut.

1. Daerah-daerah Kebudayaan di Amerika Utara

Kesepuluh daerah kebudayaan di Amerika menurut klasifikasi Clark


Wissler adalah:

a. Daerah Kebudayaan Eskimo, meliputi kebudayaan-kebudayaan suku-


suku bangsa pemburu binatang laut, di pantai utara dan barat laut
kanada, serta pantai pulau-pulau yang berhadapan dengan Pantai
Kanada (seperti Bafinland dan Greenland).
b. Daerah kebudayaan Yukon-Mackenzie, meliputi kebudayaan-
kebudayaan suku-suku bangsa pemburu binatang hutan Koniferus di
Kanada, barat laut (seperti beruang atau binatang-binatang berburu
yang lebih kecil), dan penangkapan ikan di Sungai Yukon dan
Mackenzie, serta anak-anak sungainya.
c. Daerah kebudayaan pantai barat laut, meliputi kebudayaan suku-suku
bangsa bermasyarakat rumpun yang tinggal di desa-desa tepi pantai
barat-laut Kanada, atau di tepi pantai pulau-pulau yang berhadapan
dengan pantai kanada.

6
d. Daerah kebudayaan dataran tinggi, meliputi kebudayaan suku-suku
bangsa bermasyarakat rumpun yang hidup di desa-desa dalam rumah-
rumah setengah di bawah tanah dalam musim dingin, dan rumah-
rumah jerami untuk musim panas.
e. Daerah kebudayaan Plains, yang meliputi kebudayaan suku-suku
bangsa bermasyarakat rumpun yang sampai kira-kira akhir abad ke-19
tersebar di daerah stepa-stepa mahaluas, yaitu di daerah praire atau
plains di antara sungai besar Mississippi dan deret Pegunungan Rocky,
yang hidup dari berburu binatang banteng bison dengan kuda.
2. Daerah-daerah Kebudayaan di Amerika Latin
a. Sistem Penggolongan Daerah-daerah Kebudayaan di Amerika Latin

Benua Amerika Selatan dan Amerika Tengah pertama-tama dibagi


kedalam daerah-daerah kebudayaan Amerika Latin oleh J.M. Cooper.
Sistem itu membedakan adanya empat tipe kebudayaan di Amerika
Latin, yaitu:
a) Circum Caribbean Cultures
b) Andean Civilization
c) Tropical Forest Cultures
d) Marginal Cultures
Suatu sistem pembagian daerah-daerah kebudayaan yang lebih
detail dibuat oleh G.P. Murdock, yang membagi seluruh benua kedalam
24 culture areas. Klasifikasi itu juga memperhitungkan perbedaan-
perbedaan sistem kekerabatan dan perbedaan-perbedaan linguistik; dan
ternayata bersifat kurang praktis, jarang dipakai oleh para ahli
antropologi.
Diterjemahkan,”kebudayaan-kebudayaan dengan sistem
kenegaraan (kerajaan-kerajaan) kecil” dan kurang tepat; maka
digunakan istilah spanyol yang juga dipakai dalam sumber-sumber
spanyol dari abad ke-17 mengenai kebudayaan-kebudayaan tersebut,
yaitu istilah cacique. Daerah-daerah kebudayaan lainnya diterjemahkan
menjadi: kebudayaan Andes, kebudayaan Andes Selatan, kebudayaan
Rimba Tropis dan kebudayaan-kebudayaan pemburu dan peramu.

7
b. Daerah-daerah Kebudayaan di Amerika Latin
(a)Daerah kebudayaan cacique meliputi kebudayaan-kebudayaan yang
dulu maupun sekarang tersebar di Kepulauan Karibia, di negara-
negara Venezuela dan Columbia bagian utara, di Ekuador dan
Bolivia bagian timur. Kebudayaan-kebudayaan ini dulu sampai
datangnya orang spanyol telah mengembangkan organisasi-
organisasi kemasyarakatan yang tidak terbatas kepada masyarakat
desa-desa lokal, tetapi menjangkau ke suatu daerah yang lebih luas
dan Equador, dam Cuna di Columbia.
(b)Daerah kebudayaan Andes meliputi daerah dari kebudayaan jaman
pre-Inca, zaman kejayaan negara Inca di pegunungan Andes, dan
suku-suku bangsa rakyat Indian dalam zaman setelah runtuhnya
negara Inca di negara Peru dan Bolivia bagian barat. Contoh suku-
suku bangsa dari daerah ini misalnya Campa dan Inca.
(c)Daerah kebudayaan Andes Selatan meliputi kebudayaan suku-suku
bangsa yang hidup di bagian utara negara Chili dan Argentina, yang
tidak pernah mengembangkan sistem organisasi sosial yang luas
berupa sistem-sistem federasi desa-desa atau negara-negara kecil,
tetapi dalam kebudayaan kebendaannya dan teknologinya banyak
terpengaruh oleh peradaban andes. Contoh suku-suku bangsa dari
daerah ini mislnya atacama, diaguita, dan araucania.
(d)Daerah kebudayaan rimba tropis meliputi kebudayaan suku-suku
bangsa di perairan Sungai Amazon dan anak-anak sungainya, serta di
bagian besar dari negara Brazil. Penduduk daerah sungai amazon itu
biasanya hidup dari bercocok tanam diladang, dan hidup dalam desa-
desa tetap. Contoh suku-suku bangsa dari daerah ini misalnya Jifaro,
Tupinamba, dan Mundurucu.
(e)Daerah Kebudayaan berburu dan meramu adalah daerah yang dulu
oleh Cooper disebut Marginal Culture Area dan meliputi kebudayaan
suku-suku bangsa yang tidak mengenal bercocok tanam. Banyak
diantaranya memang menunjukkan pola-pola hidup yang marginal
(berada pada batas kewajaran kehidupan manusia), tetapi tidak
semuanya

8
3. Sub-subkawasan Geografi di Oseania

Kebudayaan-kebudayaan dari penduduk kepulauan di Lautan teduh


dalam keseluruhan belum pernah dibagi dalam culture areas oleh para ahli
antropologi, dan memang lebih mudah untuk menggolong-golongkan
beragam kebudayaan yang tersebar di berates-ratus kepulauan di kawasan
itu menurut empat sukawasan geografis, yaitu: kebudayaan-kebudayaan
penduduk asli Australia, kebudayaan-kebudayaan penduduk Irian dan
Melanesia,kebudayaan-kebudayaan penduduk Irian dan Melanesia,
kebudayaan-kebudayaan penduduk Mikronesia, dan kebudayaan-
kebudayaan penduduk Polinesia.
Australia merupakan suatu benua tersendiri yang letaknya agak
terpencil di Selatan dan bagian-bagian dunia yang lain;Melanesia
merupakan suatu deret pulau-pulau besar yang sebenarnya merupakan
formasi-formasi deret pegunungan-pegunungan karang yang melingkari
pantai timur Australia mulai dari Irian di Indonesia Timur,hingga ke
Selandia Baru;Melanesia merupakan gagasan kepulauan dibagian barat
dari Lautan Teduh yang sebagian besar bersifat pulau atoll;sedanngkan
Polinesia merupakan suatu subkawasan kepulauan yang terdiri dari semua
tipe,kepulauan gunung berapi,kepulauan padas,kepulauan atoll dan tipe-
tipe pulau lain,yang terlatak dalam segitiga besar,terjadi bila kita
hubungkan dengan garis-garis lurus Selandia Baru dengan Kepulauan
Paskah dan Kepulauan Hawaii.
Penduduk Pribumi Autralia mempunyai ciri-ciri yang sangat khas
yang didalam antropologi fisik disebut kompleks ciri Australoid.Kecuali
itu,kebudayaan berburu dari orang-orang itu tampak sangat terbelakang
sehingga sering kali dianggap sebagai sisa-sisa kebudayaan manusia
berburu dari berpuluh-puluh ribuan tahun yang lalu,seolah-olah terdesak
ke daerah-daerah pinggir yang paling buruk dari muka bumi ini dan dapat
hidup terus sampai masa kini,dengan suatu perubahan minimum.
Penduduk Melanesia (termasuk Irian) menunjukkan ciri-ciri ras
Melanesoid.Dipandang dari sudut bahasanya,penduduk Melanesia(kecuali

9
suatu bagian besar dari pedalaman Irian) mengucapkan bahasa-bahasa
penduduk Mikronesia dan Polinesia,bahkan dengan bahasa-bahasa di
Indonesia,Filipina,Taiwan,dan Madagaskar(Afrika),menjadi satu rumpun
bahasa mahabesar,yang oleh W.Schmidt disebut rumpun bahasa
Austronesia.
Penduduk Mikronesia pada umumnya menggunakan bahasa-bahasa
yang sekeluarga dan menunjukkan suatu pengkhususan mengenai
sistem mata pencaharian dan kemasyarakatannya,sebagai penduduk pulau-
pulau atoll yang kecil dan sempit,hidup dari berkebun kecil-kecilan dan
perikanan secara luas.
Penduduk Polinesia dipandang dari sudut ras menunjukkan ciri-ciri
fisik yang khas juga,yaitu ciri-ciri Polinesian.Dari sudut etnografi
kebudayaan-kebudayaan penduduk Polinesia menunjukkan suatu
keragaman besar dari yang sangat sederhana hingga yang sangat
kompleks,dengan sistem-sistem sosial berdasarkan kerajaan,upacara-
upacara keagamaan yang luas,dan seni patung yang menarik.
4. Daerah-daerah kebudayaan di Afrika

Berikut ini kedelapan belas daerah kebudayaan dari kedua daerah


geografi tersebut akan diuraikan sifat-sifatnya secara singkat satu demi
satu yaitu:
a. Daerah kebudayaan Afrika Utara. Daerah kebudayan ini meliputi
kebudayaan-kebudayaan suku bangsa yang sepanjang sejarah telah
mengalami nasib yang lebih kurang sama, sehingga walaupun
asalnya beraneka warga, tetapi pada ciri-ciri lahirnya tampak suatu
keragaman yang besar.
b. Daerah kebudayaan Hilir Nil. Daerah kebudayaan ini meliputi
kebuayaan sukusuku bangsa petani pedesaan yang intensif di suatu
daerah lembah-lembah sungai yang subur, menggunakan irigasi
dan bajak.
c. Daerah kebudayaan Sahara. Daerah geografi ini meliputi
kebudayaan suku bangsa yang hidup dan menetap dalam

10
masyarakat rumput dari bercocok tanam dan beternak, atau yang
hidup mengembara dari peternakan saja di daerah lembah-lembah
sungai yang ada airnya di daerah-daerah sumber air (oasis) dan di
daerah-daerah dimana air tanah belum terlampau dalam sehingga
masih dapat diambil dengan menggali sumur.
d. Daerah kebudayaan Sudan Barat. Daerah kebudayaan ini meliputi
kebudayaan suku-suku bangsa Negroid yang hidup dari bercocok
tanam berpindah-pindah di ladang tanpa irigasi dan bajak (tetapi
dengan cangkul).
e. Daerah kebudayaan Sudan Timur.Daerah ini meliputi kebudayaan
suku-suku bangsa petani pedesaan yang hidup dari bercocok tanam
menetap dengan irigasi.Tanaman pokoknya gandum Sudan (suku-
suku bangsa di bagian selatan daerah ini, menanam tanaman Asia
Tenggara seperti keladi, ubi jalar dan pisang sebagai tanaman
pokok).
f. Daerah kebudayaan Hulu Tengah Nil.Mengenai kebudayaan-
kebudayaannya, daerah hulu Tengah Nil tidak seragam
sifatnya.Ada kebudayaan rakyat pedesaan dan ras Negroid yang
disebut orang Nubia, hidup dari pertanian intensif dengan irigasi
dan bajak di lembah Sungai Nil.
g. Daerah Kebudayaan Afrika Tengah. Daerah kebudayaan ini
meliputi kebudayaan suku-suku bangsa Negroid merupakan
masyarakat rumpun dan hidup dari bercocok tanam berpindah-
pindah di ladang tanpa menggunakan irigasi maupun
pajak.Tanaman pokok mereka adalah keladi, ubi jalar, dan pisang
(tanaman asli Asia Tenggara), gandum Sudan, gandum eleusine
(tanaman asli Ethiopia), jagung, dan dingkong (tanaman asli
Amerika).
Suatu suku bangsa, yaitu Imerina (atau Hova) didataran tinggi tengah,
telah mengembakan suatu sistem kenegaraan, meskipun menurut ciri-ciri
ras mereka paling dekat dengan orang Asianesia, dan dalam hukum adat
rakyat didesa-desa katanya banyak terdapat persamaan unsur dengan

11
hukum adat rakyat pedesaan di Indonesia, tetapi struktur negara Imerina
menunjukkan banyak unsur struktur negara-negara didaerah kebudayaan
tanduk Afrika.
5. Daerah-daerah kebudayaan di Asia

Kawasan Asia menurut pembagian A.L.Kroeber ke dalam tujuh bagian,


yaitu:
a. Daerah kebudayaan Asia Tenggara
b. Daerah kebudayaan Asia Selatan
c. Daerah kebudayaan Asia Barat Daya
d. Daerah kebudayaan Cina
e. Daerah kebudayaan Stepa Asia Tengah
f. Daerah kebudayaan Siberia
g. Daerah kebudayaan Asia Timur Laut
6. Suku-Suku Bangsa Di Indonesia
Seorang ahli antropologi Indonesia, sudah tentu tidak dapat mengikuti
syarat-syarat konvensional yang lazim diterima oleh dunia antropologi
itu.seorang ahli antropologi Indonesia wajib,terutama untuk mengenal
bentuk-bentuk masyarakat dan kebudayaan di wilayah Indonesia sendiri
termasuk irian jaya.Dalam pembagian kejuruan, ilmu antropologi secara
konvensional menggolongkan Irian jaya dan papua Nugini menjadi satu
dengan kebudayaan-kebudayaan penduduk Melanesia, dan di pelajari secara
mendalam oleh para ahli antropologi dengan kejuruan Melanesia atau
Oseania.Selain memusatkan perhatian pada wilayah Indonesia, seorang ahli
antropologi Indonesia wajib juga mengetahui dengan cukup mendalam
masyarakat dan kebudayaan di wilayah Negara tetangga, yaitu Malaysia,
brunei, Filipina, papua Nugini,, dan Asia Tenggara.
Klasifikasi dari beragam suku bangsa di wilayah Indonesia biasanya
masih berdasarkan system lingkaran-lingkaran hukum adat yang mula-mula
disusun oleh Van Vollenhoven, yaitu: Aceh, Gayo-Alas dan Batak, Nias dan
Batu, Minangkabau, Mentawai, Sumatera Selatan, Enggano, Melayu,
Bangka dan Belitong, Sangir-Talaud, Gorontalo, Toraja, Sulawesi Selatan,

12
Ternate, Ambon Maluku, Kepulauan Barat Daya, Irian, Timor, Bali dan
Lombok, Jawa Tengah dan Timur, Surakarta dan Yogyakarta,Jawa Barat.
7. Ras, Bahasa, Dan Kebudayaan
Sejumlah manusia yang memiliki ciri-ciri ras tertentu yang sama,belum
tentu juga mempunyai bahasa induk yang termasuk satu rumpun
bahasa,apalagi mempunyai satu kebudayaan yang tergolong satu daerah
kebudayaan.Diantara sejumlah manusia seperti ini misalnya ada beberapa
orang Thai,beberapa orang Khmer,dan beberapa orang Sunda.ketiga
golongan itu mempunyai ciri-ciri ras yang sama,yang dalam ilmu antroplogi
fisik sering kali disebut ciri-ciri ras ras Paleo-Mongoloid.Namun bahasa
induk masing-masing orang tadi termasuk keluarga bahasa yang sangat
berlainan.Bahasa Thai termasuk keluarga bahasa Sino-Tibetan;bahasa
Khmer termasuk keluarga bahasa Austro-Asia,dan bahasa Sunda termasuk
keluarga bahasa Austronesia.Demikian pula kebudayaan ketiga gabungan
orang-orang itu berlainan satu dengan yang lain.Kebudayaan Thai dan
Khmer terpengaruh oleh agama Buddha Theravada,tetapi kebudayaan Sunda
terpengaruh oleh agama islam.
Perbedaan ras pada berbagai suku bangsa tidak mengindari
kemungkinan penggunaan bahasa yang walaupun mungkin berbeda-beda,
berasal dari keluarga bahasa yang sama. Bahasa orang Huwa, yaitu
penduduk daerah pegunungan di Madagaskar, yang memiliki ciri-ciri ras
Negroid yang tercampur dengan beberapa ciri ras Kaukasoid Arab,
tergolong induk yang sama dengan bahasa Jawa maupun Bgu (salah satu
bahasa Irian Jaya), yaitu keluarga bahasa Austranesia. Kebudayaan Huwa
yang diklasifikasikan ke dalam kebudayaan Madagaskar, di zaman yang
lampau banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Imerina ketika daerah suku
bangsa Huwa dikuasai oleh kerajaan Imerina. Kebudayaan orang Huwa
adalah kebudayaan agraris, dan religinya yang asli telah mendapat pengaruh
agama katolik.
Kebudayaan Jawa juga merupakan kebudayaan agraris. Masyarakat
Jawa sebagian besar hidup didaerah pedesaan yang sejak abad ke-9 secara

13
bergantian dikuasai oleh sejumlah kerajaan kuno yang menganut agama
Hindu dan Budha Mahayana, dan kemudian dapat pengaruh agama Islam.
Para ahli mengolongkan kebudayaan Jawa kedalam lingakaran hokum adat
Jawa-Madura. Orang Bgu adalah peramu sagu yang tinggal dalam desa-desa
kecil sepanjang lembah sungai dekat rawa-rawa serta hutan-hutan sagu.
Sistem religi penduduk asli kini sudah banyak dipengaruhi oleh agama
Kristen yang diajarkan oleh para pendeta Belanda.

C. Proses Evolusi Sosial


1. Proses Microscopic dan Macroscopic Dalam Evolusi Sosial.
Proses evolusi dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisa
oleh seorang peneliti seolah-olah dari dekat secara
detail (microscopic), atau dapat juga dipandang seolah-olah dari jauh
dengan hanya memperhatikan perubahan-perubahan yang tanpak besar
saja (microscopic). Proses evolusi sosial budaya yang di analisa secara
detail akan membuka mata peneliti untuk berbagai macam proses
perubahan yang terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari dalam tiap
masyarakat di dunia. Proses-proses ini disebut dalam ilmu antropologi
proses-proses berulang, atau recurrent processes. Proses-proses evolusi
sosial budaya yang dipandang seolah-olah dari jauh hanya akan
menampakkan kepada peneliti perubahan-perubahan besar yang terjadi
dalam jangka waktu yang panjang. Proses-proses ini disebut dalam ilmu
antropologi, proses-proses menentukan arah, atau directional processes.
2. Proses-proses Berulang dalam Evolusi Sosial Budaya.
Perhatian terhadap proses-proses berulang dalam evolusi sosial
budaya, belum lama mendapat perhatian dari ilmu antropologi. Perhatian
itu sebenarnya timbul bersama dengan perhatian ilmu antropologi terhadap
faktor individu dalam masyarakat, yaitu kira-kira sejak masa sekitar 1920.
Sebelum tahun 1920, sebagian besar dari para sarjana antropologi hanya
memperhatikan adat-istiadat yang lazim berlaku dalam suatu masyarakat
yang menjadi obyek penelitiannya. Bagaimana sikap, perasaan, dan
tingkah-laku khusus para individu dalam masyarakat tadi yang mungkin

14
bertantangan dengan adat-istiadat yang lazim, diabaikan saja atau tidak
mendapat perhatian yang layak. Dengan demikian kalau seorang ahli
antropologi misalnya harus menulis tentang adat-istiadat perkawinan orang
Bali, ia hanya akan mengumpulkan keterangan tentang apa yang lazim
dilakukan dalam perkawinan-perkawinan orang Bali itu. Upacara, aktivitas
dan tindakan yang menyimpang dari adat Bali yang umum, yang terjadi
karena berbagai situasi atau keadaan yang khusus, biasanya diabaikan atau
kurang diperhatikan. Tindakan individu warga masyarakat yang
menyimpang dari adat-istiadat umum seperti terurai di atas itu, pada suatu
ketika dapat banyak terjadi dan dapat sering berulang dalam kehidupan
sehari-hari di setiap masyarakat di seluruh dunia. Memang sikap individu
yang hidup dalam banyak masyarakat itu terutama adalah mengingat
keperluan diri sendiri dengan demikian ia sedapat mungkin akan mencoba
menghindari adat atau menghindari aturan apabila adat-istiadat itu tidak
cocok dengan keperluan pribadinya. Kita mengerti bahwa justru keadaan-
keadaan yang menyimpang dari adat ini sangatpenting artinya, karena
penyimpangan demikian merupakan pangkal dari proses-proses perubahan
kebudayaan masyarakat pada umumnya.
Perubahan-perubahan yang kecil serupa itu tadi, yang hanya dapat
dilihat dengan peninjauan secara detail dengan "alat mikroskop" oleh para
peneliti masyarakat, tidak akan tampak kepada orang lain yang hanya
meninjau masyarakat dari luar, dari jauh, atau yang memang membutakan
diri untuk penyimpangan-penyimpangan yang kecil itu. Walaupun
demikian, dalam jangka waktu yang panjang, berpuluh-puluh perubahan
kecil dalam adat-istiadat sesuatu masyarakat akan mulai tampak pula dari
luar sebagai suatu perubahan yang besar.
3. Proses Mengarah Dalam Evolusi Kebudayaan
Kalau evolusi masyarakat dan kebudayaan kiita pandang seolah-olah
dari jauh, dengan mengambil interval waktu yang panjang, misalnya,
beberapa ribu tahuh, maka akan tampak perubahan-perubahan besar yang
seolah-olah bersifat menentukan arah dari sejarah perkembangan
masyarakat dan kebudayaan yang bersangkutan.

15
Perubahan-perubahan besar ini dalam abad ke-19 yang lalu telah
menjadi perhatian utama para sarjana ilmu antropologi budaya dalam arti
umum. Pada masa sekarang, gejala ini menjadi perhatian khusus dari suatu
sub-ilmu dalam antropologi, yaitu ilmu prehistori yang memang bertugas
mempelajari sejarah perkembangan kebudayaan manusia dalam jangka
waktu yang panjang, dan juga oleh para sarjana ilmu sejarah yang
mencoba merekontuksi kembali sejarah perkembangan seluruh umat
manusia dan yang karena itu harus juga bekerja dengan jangka-jangka
waktu yang panjang.

BAB III
PENUUTUP

A. Kesimpulan

Ciri-ciri kebudayaan yang dijadikan dasar dari suatu pengolongan


daerah kebudayaan bukan hanya unsur-unsur kebudayaan fisik saja
(misalnya alat-alat yang digunakan berbagai jenis mata pencaharian hidup,
yaitu alat bercocok tanam, alat berburu, dan alat transportasi, senjata,
bentuk-bentuk ornamen, gaya pakaian, bentuk rumah, dsb), tetapi juga
unsur-unsur kebudayaan abstrak seperti unsur-unsur organisasi
kemasyarakatan, system perekonomian, upacara keagamaan, adat istiadat

16
dll. Persamaan ciri-ciri mencolok dalam suatu daerah kebudayaan biasanya
hadir lebih kuat pada kebudayaan-kebudayaan yang menjadi pusat pada
kebudayaan yang bersangkutan, dan makin tipis didalam kebudayaan-
kebudayaan yang jaraknya makin jauh dari pusat tersebut.

B. Saran

Begitu banyak aneka ragam kebudayaan di luar sana yang berbeda-


beda.Oleh karena itu kita harus menghargai dan menghormati perbedaan
orang lain sehingga orang lain pun akan menghargai dan menghormati
budaya kita.Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan dapat di
kembangkan lagi kedepannya.

DAFTAR RUJUKAN

Koentjaraningrat. (2013). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.

17