Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

“MEKANIKA KUANTUM DAN KLASIK”

Di Susun Oleh :

NAMA : 1. ADELIA APRIYANTI (061013816210

2. ETRICHA LAUREN (06101381621045)

KELOMPOK : 4 (EMPAT)

DOSEN PENGAMPU : EFFENDI NAWAWI, DR. M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini sebagai tugas
kuliah kimia fisik sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian semester.Kami telah
menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun tentunya
sebagai manusia biasa tidak akan luput dari kesalahan dan kekurangan. Harapan kami,
semoga bisa menjadi koreksi di masa mendatang agar lebih baik dari sebelumnya.

Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Dosen Pembimbing atas


bimbingan,dorongan, dan ilmu yang telah diberikan kepada kami sehingga kami dapat
menyusun dan menyelesaikan makalah ini sebagai tugas akhir semester mata kuliah kimia
fisik tepat pada waktunya dan insyaAllah sesuai dengan yang diharapkan. Kami
mengucapkan terimakasih pula kepada rekan-rekan dari semua pihak yang terkait dalam
penyusunan makalah ini.Pada dasarnya makalah ini kami sajikan khusus untuk membahas
tentang “Mekanika Kuantum dan Mekanika Klasik.

Untuk lebih jelas simak pembahasan dalam makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini
bias memberikan pengetahuan yang mendalam tentang Mekanika Kuantum dan Mekanika
Klasik kepada kita semua. Makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Tak ada gading
yang tak retak. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman untuk
memperbaiki makalah kami selanjutnya. Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terimakasih.

Palembang , 20 Agustus 2018

Tim penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………… i

DAFTAR ISI …………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang …………………………………………………...

I.2 Rumusan Masalah …………………………………………………...

I.3 Tujuan …………………………………………………...

BAB II PEMBAHASAN

II. 2.1 Pengertian mekanika kuantum ……………………………………………........

II. 2.2 Perkembangan Mekanika Kuantum ………………………………………………….

II. 2.3 Pengakuan Terhadap Teori Kuantum ……………………………………………….

II. 2.4 Tokoh-Tokoh Pelopor Mekanika Kuantum ………………………………………..

II. 2.5 Eksperimen-Eksperimen Mendasari Mekanika Kuantum ………………………….

II. 2.6 Mengetahui Bukti Mekanika Kuantum ………………………………………….

II. 2.7 Kelahiran Mekanika Kuantum …………………………………………………

II. 2.8`Kelebihan dan Kelemahan Mekanika Kuantum …………………………………

II. 2.9 Perkembangan Mekanika Klasik ………………………………………………….

II. 2.10 Kegagalan Teori Mekanika Kkasik ………………………………………………….

II. 2.11 Teori Klasik Radiasi Benda Hitam ………………………………………………….

BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan …………………….…………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA …………….………………………………………………......


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mekanika kuantum merupakan paradigma sains revolusioner yang tidak terlepas dari teori-
teori atom periode sebelumnya. Mekanika kuantum merupakan cabang dari fisika dasar yang
mempelajari perilaku materi dan energi pada skala atomik dan partikel-partikel subatomik
atau gelombang sebagai bentuk revolusi dari fisika klasik. Dasar teori mekanika kuantum
adalah energi yang tidak kontinyu. Hal ini bertentangan dengan fisika klasik yang berasumsi
bahwa energi itu berkesinambungan. Pengembangan mekanika kuantum dimulai abad 20,
dimana perumusan-perumusan mekanika klasik tidak mampu menjelaskan gejala-gejala
fisika yang bersifat mikroskopis dan bergerak dengan kecepatan yang mendekati kecepatan
cahaya. Oleh karena itu, diperlukan cara pandang yang berbeda dengan sebelumnya dalam
menjelaskan gejala fisika tersebut. Fisika kuantum diawali oleh hipotesa Planck yang
menyatakan bahwa besaran energi suatu benda yang beosilasi (osilator) tidak lagi bersifat
kontinu, namun bersifat diskrit (kuanta), sehingga muncullah istilah mekanika kuantum dan
ditemukannya konsep dualisme partikel-gelombang yang dipostulatkan oleh Louis De
Broglie sebagai bentuk perbaikan dari kelemahan teori atom Niels Henrik David Bohr,
kemudian dilanjutkan dengan persamaan Heissenbergh dan asas ketidakpastian
Heissenbergh, serta persamaan Schrodinger. Perkembangan teori atom menunjukkan adanya
perubahan konsep susunan atom dan reaksi kimia antaratom.
1.3 Tujuan Makalah

Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui Sejarah Awal Munculnya Teori Mekanika Kuantum.


2. Mengetahui Perkembangan Teori Mekanika Kuantum.
3. Mengetahui Tokoh-Tokoh Yang Melatarbelakangi Munculnya Mekanika Kuantum.
4. Menganalisa Eksperimen-Eksperimen Yang Mendasari Perkembangan Mekanika
Kuantum.
5. Mempelajari Bukti Dari Mekanika Kuamtum
6. Mengetahui Kelebihan Dan Kelemahan Mekanika Kuantum
7. Mengetahui Perkembangan Mekanika Klasik

8. Memahami Keleahan Dan Kelebihan Mekanika Kuantum

9. Mempelajari Perkembangan Mekanika Klasik

10. Mengobservasi Kegagalan Dari Teori Mekanika Klasik

11. Menganalisis Teori Klasik Radiasi Benda Hitam


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian mekanika kuantum

Pengertian mekanika kuantum menurut wikipedia adalah cabang dasar fisika yang
menggantikan mekanika klasik pada tataran atom dan subatom. Ilmu ini memberikan
kerangka matematika untuk berbagai cabang fisika dan kimia, termasuk fisika atom, fisika
molekular, kimia komputasi, kimia kuantum, fisika partikel, dan fisika nuklir. Mekanika
kuantum adalah bagian dari teori medan kuantum danfisika kuantum umumnya, yang,
bersama relativitas umum, merupakan salah satu pilar fisika modern. Dasar dari mekanika
kuantum adalah bahwa energi itu tidak kontinyu, tapi diskrit—berupa 'paket' atau 'kuanta'.
Konsep ini cukup revolusioner, karena bertentangan dengan fisika klasik yang berasumsi
bahwa energi itu berkesinambungan.
Model / gambar mekanika kuantum

2.2 Sejarah Awal Munculnya Mekanika Kuantum


Perkembangan dan pemahaman dunia atom mempengaruhi pandangan emosional,
sehingga ilmuan mengalami kesulitan dan kebuntuan dalam mengimajinasikan dunia atom.
Teori-teori yang diciptakan sebelumnya seakan belum bisa menjawab fakta yang terus terjadi
dan mengaami perkembangan. Keadaan ini dilukiskan oleh pengalaman Heisenberg: “Saya
ingat pembicaraan saya dengan Bohr yang berlangsung selama berjam-jam hingga larut
malam dan mengakhirinya dengan putus asa; dan ketika perbincangan itu berakhir saya
berjalan-jalan sendirian di taman terdekat dan mengulangi pertanyaan pada diri saya sendiri
berkali-kali: Mungkinkah alam itu absurdsebagaimana yang tampak pada kita dalam
eksperimen-eksperimen atom ini?” (Fritjof Capra, 2000:86).
Kondisi psikologis Heisenberg merupakan salah satu pemicu perkembangan
revolusioner dunia atom. Benda atau materi yang diciptakan berkeinginan untuk sesuai
dengan fungsi dan kedudukannya dalam suatu fenomena. Absurd yang dimaksud adalah
absurditas subatom yang dipandang sebagai benda atau materi sudah tidak memadai lagi.
Subatom merupakan kesinambungan pembentuk jaringan dinamis yang terpola, sehingga
subatom bukan banda atau materi. Sub-subatom merupakan jaring-jaring pembentuk dasar
materi, bukan sebagai blok-blok dasar pembentuk materi.
Mekanika kuantum merupakan paradigma sains revolusioner pada awal abad 20.
Lahirnya mekanika kuantum tidak terlepas dari teori-teori yang sudah diciptakan
sebelumnya, utamanya teori atom. Mekanika kuantum merupakan bentuk perkembangan
teori atom yang berperan untuk merevisi teori-teori yang sudah ada sebelumnya sesuai
dengan perkembangan fenomena yang terjadi, terutama dunia mikroskosmik. Menurut Gary
Zukaf (2003:22) Mekanika adalah kajian ilmu tentang gerak, sedangkan kuantum merupakan
kuantitas ukuran sesuatu dengan besar tertentu. Mekanika kuantum adalah kajian ilmu
tentang fenomena gerak kuantum. Secara sederhana mekanika kuantum menyatakan bahwa
partikel pada tingkat subatomik tidak sesuai dengan hukum fisika klasik. Entitas elektron
dapat berwujud materi atau energi yang bergantung pada cara pengukurannya.

2.3 Perkembangan Mekanika Kuantum


2.3.1 Fisika Kuantum
Pembahasan tentang produksi cahaya dan cara pengkajiannya di dalam tahun 1900
merupakan babak baru yang menandai lahirnya fisika kuantum. Sumber-sumber cahaya
seperti benda benda padat yang dipanaskan dan gas-gas yang dihasilkan oleh sebuah lecutan
listrik merupakan awal dari penelitian tentang bagaimana kuatnya radiasi pada berbagai
panjang gelombang. Joseph Stefan dan Ludwig Boltzman telah melakukan pengukuran laju
energi kalor radiasi yang dipancarkan oleh suatu benda, kemudian dikenal dengan Hukum
Stefan-Boltzman.Selanjutnya Wilhelm Wien seorang fisikawan Jerman menemukan suatu
hubungan yang empiris sederhana antara panjang gelombang yang dipancarkan untuk
intensitas maksimum (λm) dengan suhu mutlak (T) sebuah benda yang dikenal
sebagai Hukum Pergeseran Wien. Berikut ini terdapat dua teori klasik yang mencoba
menjelaskan spektrum radiasi benda hitam yaitu teori Wien dan teori Rayleigh Jeans :
Teori Wien menyatakan hubungan antara intensitas radiasi dengan panjang gelombang
menggunakan analogi antara radiasi dalam ruangan dan distribusi kelajuan molekul gas.
Ternyata persamaan tersebut hanya mampu menjelaskan radiasi benda hitam untuk λ pendek,
tetapi gagal untuk λ panjang.
Teori Rayleigh-Jeans menyatakan hubungan antara intensitas dan panjang gelombang
radiasi dengan menggunakan penurunan dari teori klasik murni. Ternyata persamaan tersebut
berhasil menjelaskan radiasi benda hitam untuk λ yang panjang, tetapi gagal untuk λ yang
pendek
Pada tahun 1900, fisikawan berkebangsaan Jerman Max Planck (1858-1947),
memutuskan untuk mempelajari radiasi benda hitam. Beliau berusaha untuk mendapatkan
persamaan matematika yang menyangkut bentuk dan posisi kurva pada grafik distribusi
spektrum. Planck menganggap bahwa permukaan benda hitam memancarkan radiasi secara
terus-menerus, sesuai dengan hukum-hukum fisika yang diakui pada saat itu. Hukum-hukum
itu diturunkan dari hukum dasar mekanika yang dikembangkan oleh Sir Isaac Newton.
Namun dengan asumsi tersebut ternyata Planck gagal untuk mendapatkan persamaan
matematika yang dicarinya. Kegagalan ini telah mendorong Planck untuk berpendapat bahwa
hukum mekanika yang berkenaan dengan kerja suatu atom sedikit banyak berbeda dengan
Hukum Newton.
Max Planck mulai berasumsi baru, bahwa permukaan benda hitam tidak menyerap
atau memancarkan energi secara kontinu, melainkan berjalan sedikit demi sedikit dan secara
bertahap. Menurut Planck, benda hitam menyerap energi dalam berkas-berkas kecil dan
memancarkan energi yang diserapnya dalam berkas-berkas kecil pula. Berkas-berkas kecil itu
selanjutnya disebut kuantum. Teori kuantum ini bias diibaratkan dengan naik atau turun
menggunakan tangga. Hanya pada posisi-posisi tertentu, yaitu pada posisi anak tangga kita
dapat menginjakkan kaki, dan tidak mungkin menginjakkan kaki di antara anak-anak tangga
itu. Dengan hipotesis yang revolusioner ini, Planck berhasil menemukan suatu persamaan
matematika untuk radiasi benda hitam yang benar-benar sesuai dengan data percobaan yang
diperolehnya. Persamaan tersebut selanjutnya disebutHukum Radiasi Benda Hitam
Planck yang menyatakan bahwa intensitas cahaya yang dipancarkan dari suatu benda hitam
berbeda-beda sesuai dengan panjang gelombang cahaya. Planck mendapatkan suatu
persamaan :
E = hf
Keterangan:
E adalah energi (Joule)
h adalah tetapan Planck, h = 6.63× (Js)
f adalah frekuensi dari cahaya (Hz)
Hipotesis Planck berlawanan dengan teori klasik tentang gelombang elektromagnetik
yang merupakan titik awal dari lahirnya teori kuantum sebagai penanda terjadinya revolusi
dalam bidang fisika. Terobosan Planck merupakan tindakan yang sangat berani karena
bertentangan dengan hukum fisika yang telah mapan dan sangat dihormati. Ilmu fisika
mampu menyuguhkan pengertian yang mendalam tentang alam benda dan materi melalui
teori ini. Planck menerbitkan karyanya pada majalah yang sangat terkenal. Namun untuk
beberapa saat, karya Planck ini tidak mendapatkan perhatian dari masyarakat ilmiah saat itu.
Pada mulanya, Planck sendiri dan fisikawan lainnya menganggap bahwa hipotesis tersebut
tidak lain dari fiksi matematika yang cocok. Namun setelah berjalan beberapa tahun,
anggapan tersebut berubah hingga hipotesis Planck tentang kuantum dapat digunakan untuk
menerangkan berbagai fenomena fisika.

2.3.2 Pengakuan terhadap Teori Kuantum


Teori kuantum sangat penting dalam ilmu pengetahuan karena pada prinsipnya teori
ini dapat digunakan untuk meramalkan sifat-sifat kimia dan fisika suatu zat. Pengakuan
terhadap hasil karya Planck datang perlahan-lahan karena pendekatan yang ditempuh
merupakan cara berfikir yang sama sekali baru. Albert Einstein menggunakan konsep
kuantum untuk menjelaskan efek fotolistrik yang diamati. Efek fotolistrik merupakan
fenomena fisika berupa pancaran elektron dari permukaan benda apabila cahaya dengan
energi tertentu menimpa permukaan benda itu. Semua logam dapat menunjukkan fenomena
ini. Penjelasan Einstein mengenai efek fotolistrik itu terbilang sangat radikal, sehingga untuk
beberapa waktu tidak diterima secara umum. Einstein melakukan eksperimen dengan
menembakkan cahaya pada permukaan logam Natrium (Sodium) dan mengamati partikel-
partikel atau elektron-elektron pada permukaan logam terhambur dengan kecepatan tertentu.
Elektron-elektron yang terhambur memiliki energi kinetik sebesar ½ mv2, dimana m adalah
masa elektron dan v adalah kecepatan elektron yang terhambur. Peristiwa pergerakan
elektron dengan kecepatan tertentu merupakan sifat dari partikel, sehingga dikatakan bahwa
gelombang cahaya dapat berperilaku seperti partikel. Namun hanya cahaya dengan frekuensi
atau energi tertentu yang mampu menghamburkan elektron-elektron pada permukaan logam
Natrium, yaitu energi foton harus sama dengan energi yang diperlukan untuk memindahkan
elektron (fungsi kerja logam) ditambah dengan energi kinetik dari elektron yang terhambur.
Dengan demikian, penerapan teori kuantum untuk menjelaskan efek fotolistrik telah
mendorong ke arah perhatian yang luar biasa terhadap teori kuantum dari Planck yang
sebelumnya diabaikan.

2.3.3 Eksperimen Davison-Germer


Sebelum eksperimen Davison-Germer, pada tahun 1924 Louis-Victor de
Broglie merumuskan secara empiris bahwa semua partikel atau materi, tidak hanya cahaya,
memilki sifat alami seperti gelombang. Gelombang dalam mekanika klasik memiliki sifat-
sifat seperti interferensi, difraksi dan polarisasi. Pada tahun 1927, hipotesa de Broglie ini
dikonfirmasi oleh dua eksperimen yang dilakukan secara terpisah oleh George Paget
Thomson (anak dari J.J. Thomson, penemu elektron, peraih Nobel Fisika tahun 1906) yang
melakukan eksperimen dengan melewatkan berkas elektron ke dalam film tipis logam dan
mengamati pola difraksi (sifat gelombang) dari elektron yang terhambur dari permukaan
logam. Atas jasanya G.P. Thomson dianugerahi Nobel Fisika pada tahun 1934. Sedangkan di
tempat terpisah C.J. Davisson dan L.H. Germer (Bell Labs) menembakkan elektron-elektron
dengan kecepatan rendah ke dalam kristal Nikel dan mengukur intensitas elektron-elektron
yang terhambur dari permukaan kristal Nikel pada sudut hamburan yang berbeda. Hasil
pengukuran menunjukkan bahwa elektron-elektron yang terhambur memiliki pola difraksi
seperti yang diperkirakan oleh Bragg dalam difraksi sinar-X dari kristal Nikel. De Broglie
dianugerahi Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1929 dan Davison dianugerahi Nobel Fisika
pada tahun 1934 atas penemuan difraksi elektron atas jasa merumuskan hipotesanya.
Teori Kuantum Modern dikembangkan dalam perhitungan energi partikel atau
elektron menggunakan persamaan gelombang yang dirumuskan oleh Erwin Schroedinger,
sehingga dikenal dengan persamaan Schroedinger. Persamaan ini bersama dengan prinsip
ekslusi Pauli yang menyatakan bahwa elektron dan partikel Fermion lain tidak dapat
memiliki keadaan kuantum yang sama (energi, orbital, spin dan lain-lain) merupakan dasar
bagi penerapan teori kuantum modern dalam menjelaskan efek zeeman, atom berelektron
banyak, osilator harmonis dan atom hidrogen. Diantara kedua teori kuantum klasik dan
modern, terdapat beberapa model atom dikembangkan oleh Thomson, Rutherford, Bohr dan
Sommerfeld-Bohr. Model atom tersebut berdasarkan teori kuantum lama (besaran diskrit)
dan sebagai dasar bagi penerapakan teori kuantum modern khusunya dalam atom hidrogen
dan atom berlektron banyak.
Pada tahun 1906, J.J. Thomson menemukan besaran perbandingan antara muatan dan
massa elektron (muatan spesifik elektron) yang berkesimpulan bahwa elektron merupakan
partikel paling dasar dari setiap materi. Dengan demikian model atom Dalton yang
menyatakan bahwa atom merupakan bagian terkecil dari materi gugur. Thomson menyatakan
bahwa atom mengandung banyak sekali elektron-elektron yang bermuatan negatif. Karena
atom bersifat netral, maka di dalam atom terdapat muatan-muatan positif yang
menyeimbangkan elektron yang bermuatan negatif. Thomson membuat model bahwa atom
berbentuk bola padat dengan muatan-muatan listrik positif tersebar merata di seluruh bagian
bola. Muatan-muatan positif dinetralkan oleh elektron-elektron bermuatan negatif yang
melekat pada bola segaram pada bola bermuatan positif seperti kismis yang melekat pada
kue. Sehingga model atom Thomson dikenal dengan model atom kue kismis. J. J. Thomson
akhirnya diberi hadiah Nobel Fisika pada tahun 1906 .
Ernest Rutherford dibantu asistennya yaitu Geiger dan Marsden pada tahun 1911
melakukan eksperimen menembakkan partikel alfa (α) melalui celah pelat timbal yang
akhirnya menumbuk lempeng tipis emas. Untuk mendeteksi partikel alfa yang terhambur dari
lempeng emas, dipasang lempeng lapisan seng sulfida. Hasilnya menunjukkan bahwa
sebagian besar partikel alfa dilewatkan tanpa mengalami pembelokkan oleh lapisan emas dan
hanya sedikit yang dibelokkan atau dipantulkan. Hasil eksperimen Rutherford menunjukkan
bahwa model atom Thomson yang menyatakan bahwa muatan positif tersebar merata di
dalam atom tidak dapat diterima. Model atom Rutherford menyatakan bahwa semua muatan
positif berkumpul di tengah atom (inti atom) dan inti atom dikelilingi oleh elektron-elektron
pada jarak yang relatif jauh. Elektron-elektron ini berputar pada lintasan-lintasannya seperti
planet mengelilingi matahari dalam sistem tata surya. Model atom Rutherford tidak mampu
menjelaskan dua pertanyaan yaitu pertama, mengapa elektron yang dipercepat hingga
memancarkan gelombang elektromagnetik tidak dapat jatuh ke dalam inti atom? Karena
dengan model tadi diperkirakan bahwa elektron akan jatuh ke dalam inti atom dalam waktu
10-8 detik, namun kenyataannya elektron bergerak stabil di lintasannya. Kedua, hasil
pengamatan spektrum atom hidrogen melalui spektrometer menunjukkan bahwa spektrum
berbentuk garis (deret Balmer) sedangkan menurut model atom Rutherford, spektrum atom
hidrogen harus.

Pada tahun 1911 Niels Bohr membuat model atom seperti berikut:
 Elektron bergerak dalam orbitnya yang melingkar di sekitar inti atom (proton)
dibawah pengaruh gaya Coulomb.
 Elektron tidak dapat berputar di sekitar inti melalui setiap orbit, tetapi elektron
hanya melalui orbit stabil (orbit stasioner) tanpa memancarkan energi.
 Radiasi dipancarkan oleh atom jika elektron melompat dari suatu orbit stasioner
yang energinya lebih tinggi ke dalam orbit yang energinya lebih rendah.
 Ukuran orbit-orbit yang diperbolehkan ditentukan oleh keadaan kuantum
tambahan yaitu momentum sudut orbital elektron.
Pada tahun 1913, Niels Bohr seorang fisikawan berkebangsaan Swedia mengikuti jejak
Einstein menerapkan Teori Kuantum untuk menerangkan hasil studinya mengenai spektrum
atom hidrogen. Bohr mengemukakan teori baru mengenai struktur dan sifat-sifat atom. Teori
atom Bohr pada prinsipnya menggabungkan teori kuantum Planck dan teori atom dari Ernest
Rutherford yang dikemukakan pada tahun 1911. Bohr mengemukakan bahwa apabila
elektron dalam orbit atom menyerap suatu kuantum energi, elektron akan meloncat keluar
menuju orbit yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika elektron itu memancarkan suatu kuantum
energi, elektron akan jatuh ke orbit yang lebih dekat dengan inti atom. Melalui teori kuantum,
Bohr juga menemukan rumus matematika yang dapat dipergunakan untuk menghitung
panjang gelombang dari semua garis yang muncul dalam spektrum atom hidrogen. Nilai hasil
perhitungan ternyata sangat cocok dengan yang diperoleh dari percobaan langsung. Namun,
untuk unsur yang lebih rumit dari hidrogen, teori Bohr tidak cocok dalam meramalkan
panjang gelombang garis spektrum. Meskipun demikian, teori ini diakui sebagai langkah
maju dalam menjelaskan fenomena-fenomena fisika yang terjadi dalam tingkatan atomik.
Teori kuantum dari Planck diakui kebenarannya karena dapat dipakai untuk menjelaskan
berbagai fenomena fisika yang saat itu tidak bisa diterangkan dengan teori klasik. Pada tahun
1918 Planck memperoleh Hadiah Nobel bidang fisika berkat teori kuantumnya. Dengan
memanfaatkan teori kuantum untuk menjelaskan efek fotolistrik, Einstein memenangkan
hadiah nobel bidang fisika pada tahun 1921. Selanjutnya Bohr yang mengikuti jejak Einstein
menggunakan teori kuantum untuk teori atomnya juga dianugerahi Hadiah Nobel Bidang
Fisika tahun 1922. Tiga hadiah Nobel fisika dalam waktu yang hampir berurutan di awal
abad ke-20 sebagai penanda pengakuan secara luas terhadap lahirnya teori mekanika
kuantum. Teori ini mempunyai arti penting dan fundamental dalam fisika.
Di antara perkembangan beberapa bidang ilmu pengetahuan di abad ke-20,
perkembangan mekanika kuantum memiliki arti yang paling penting, jauh lebih penting
dibandingkan teori relativitas dari Einstein. Oleh sebab itu, Planck dianggap sebagai Bapak
Mekanika Kuantum yang telah mengalihkan perhatian penelitian dari fisika makro yang
mempelajari objek-objek tampak ke fisika mikro yang mempelajari objek-objek sub-atomik.
Perombakan dalam penelitian fisika sejak memasuki abad ke-20, perhatian orang mulai
tertuju ke arah penelitian atom. Melalui penjelasan teori kuantum inilah manusia mampu
mengenali atom dengan baik. Sebagai konsekuensi atas beralihnya bidang kajian dalam
fisika, maka muncul beberapa disipilin ilmu spesialis seperti fisika nuklir dan fisika zat padat.
Fisika nuklir yang perkembangannya cukup kontroversial kini menawarkan berbagai macam
aplikasi praktis yang sangat bermanfaat dalam kehidupan. Energi nuklir misalnya, saat ini
telah mensuplai sekitar 17 % kebutuhan energi listrik dunia. Sedang perkembangan dalam
fisika zat pada telah mengantarkan ke arah revolusi dalam bidang mikro-elektronika, dan kini
sedang menuju ke arah nano-elektronika.

2.4 Tokoh-Tokoh Pelopor Mekanika Kuantum


2.4.1 Max Planck
Lahir pada tahun 1858 di kota Kiel, Jerman. Dia belajar di Universitas Berlin dan
Munich diperoleh gelar Doktor dalam ilmu fisika dengan summa cum laude dari Universitas
Munich saat berumur dua puluh satu tahun. Dia mengajar di Universitas Munich, kemudian
di Universitas Kiel. Di tahun 1889 dia jadi mahaguru Univeristas Berlin sampai pensiunnya
tiba tatkala usianya mencapai tujuh puluh. Saat itu tahun 1928.

2.4.2 Albert Einstein


Albert Einstein adalah seorang ilmuan fisika yang dipandang luas sebagai ilmuan
terbesar di abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang
dalam pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia
dianugerahi penghargaan nobel dalam fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang
efek foto elektrik dan pengabdiannya bagi fisika teoretis. Setelah teori relativitas umum
dirumuskan, Einstein menjadi terkenal ke seluruh dunia, hal ini merupakan pencapaian yang
tidak biasa bagi seorang ilmuan. Di masa tuanya, keterkenalan Einstein melampaui ketenaran
semua ilmuan dalam sejarah dan dalam budaya populer. Kata Einstein dianggap bersinonim
dengan kecerdasan atau bahkan jenius. Einstein dinamakan “Orang Abad Ini” oleh majalah
time pada tahun 1999. Kepopulerannya juga membuat nama “Einstein” digunakan secara luas
dalam iklan dan barang dagang lain, dan akhirnya “Albert Eisntein” didaftarkan sebagai merk
dagang. Sebagai salah satu penghargaan baginya, sebuah satuan fotokimia diberi nama
einstein, sebuah unsur kimia diberi nama einsteinium, dans ebuah asteroid diberi nama 2001
Einstein. Einstein dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman (sekitar 100 km sebelah timur
Stuttgart).

2.4.3 Niels Bohr


Niels Henrik Dacid Bohr merupakan seorang bapak teori struktur atom yang lahir
pada tahun 1885 di Kompenhagen. Dia meraih gelar doktor fisika dari Universitas
Compenhagen pada tahun 1911. Tak lama kemudian, dia pergi ke Cambridge, Inggris. Di
sana dia belajar di bawah asuhan J.J. Thomson seorang ilmuan yang menemukan elektron.
Beberapa bulan kemudian, dia pindah lagi ke Manchester untuk belajar pada Ernest
Rutherford yang beberapa tahun sebelumnya menemukan nucleus atau bagian inti atom.
Rutherford menegaskan bahwa atom umumnya kosong, denga bagian pokok berat pada
tengahnya dan elektron dibagian luarnya. Tak lama kemudian, Bohr mengembangkan
teorinya sendiri yang baru serta radikal tentang struktur atom. Kertas kerja Bohr bagaikan
membuai dalam sejarah “On the Constitution of Atoms and Molecules” diterbitkan dalam
Philosophical Magazine tahun 1933.

2.4.4 Louis de Broglie


Louis Victor Pierre Raymon de Broglie lahir pada 15 Agustus 1892 di Dieppe,
Perancis. Keturunan de Broglie berasal dari Piedmont Italia barat laut cukup dikenal dalam
sejarah Perancis karena mereka telah melayani raja-raja Perancis baik dalam perang dan
jabatan diplomatik selama beratus tahun.
Pada tahun 1740, Raja Louis XI mengangkat salah satu anggota keluarga de Broglie,
Francois Marie (1671-1745) sebagai Duc (seperti Duke di Inggris), yaitu suatu gelar
keturunan yang hanya disandang oleh anggota keluarga tertua. Putra Duc pertama ini ternyata
membantu Austria dalam Perang Tujuh Tahun (1756-1763). Karena itu, Kaisar Perancis I
dari Austria menganugerahkan gelar Prinz yang berhak disandang seluruh anggota keluarga
de Broglie.

2.4.5 Werner Karl Heisenberg


Pada tahun 1925 Werner Karl Heisenberg mengajukan rumus baru dibidang fisika.
Rumus tersebut merupakan suatu rumus yang teramat sangat radikal, jauh berbeda dalam
pokok konsep dengan rumus klasik Newton. Teori rumus baru ini telah mengalami beberapa
perbaikan dan berhasil oleh orang-orang sesudah Heisenberg. Kini rumus tersebut diterima
dan digunakan terhadap semua sistem fisika. Secara matematik dapat dibuktikan hanya
dengan menggunakan sistem mikroskopik untuk di ukur. Atas dasar ini, mekanika klasik
secara matematik lebih sederhana dari mekanika kuantum. Ketika dihadapkan pada sistem
dimensi atom, perkiraan tentang mekanika kuantum lebih tepat daripada mekanika klasik.

2.5 Eksperimen – Eksperimen yang Mendasari Mekanika Kuantum


Berikut eksperimen – eksperimen yang mendasari perkembangan mekanika kuantum :
 Thomas Young mendemonstrasikan sifat gelombang cahaya pada tahun 1805
melalui eksperimen celah ganda.
 Henri Becquerel pada tahun 1896 menemukan radioaktivitas.
 J.J. Thomson menemukan elektron pada tahun 1897 melalui eksperimen sinar
katoda.
 Penjelasan studi radiasi benda hitam antara tahun 1850 sampai 1900 tanpa
menggunakan konsep mekanika kuantum.
 Einstein menjelaskan efek foto listrik pada tahun 1905 menggunakan konsep foton
dan partikel cahaya dengan energi terkuantisasi.
 Robert Millikan pada tahun 1909 menunjukkan bahwa arus listrik bersifat seperti
kuanta dengan menggunakan eksperimen tetes minyak.
 Ernest Rutherford pada tahun 1911 mengungkap model atom pudding yaitu massa
dan muatan positif dari atom terdistribusi merata pada percobaan lempeng emas.
 Otti Stern dan Walther Gerlach pada tahun 1920 mendemonstrasikan sifata
terkuantisasinya spin partikel yang dikenal dengan eksperimen Stern-Gerlach.
 Clinton davisson dan Lester Germer pada tahun 1927 mendemonstrasikan sifat
gelombang dalam elektron melalui percobaan difraksi elektron.
 Clyde L. Cowan dan Frederick pada tahu 1955 menjelaskan keberadaan neutron.

2.6 Mengetahui Bukti Dari Mekanika Kuantum


Mekanika kuantum sangat berguna untuk menjelaskan perilaku atom dan partikel
sub atomic seperti proton, neutrondan electron yang tidak mematuhi hukum-hukum fisika
klasik. Atombiasanya digambarkan sebagai sebuah sistem di mana elektron (yang bermuatan
listrik negatif) beredar seputar nukleus atom (yang bermuatan listrik positif). Menurut
mekanika kuantum, ketika sebuah elektron berpindah dari tingkat energi yang lebih
tinggi (misalnya dari n=2 atau kulit atom ke-2 ) ke tingkat energi yang lebih rendah (misalnya
n=1 atau kulit atom tingkat ke-1), energi berupa sebuah partikel cahaya yang disebut
foton, dilepaskan. Energi yang dilepaskan dapat dirumuskan sbb:keterangan: adalah energi
(J) adalah tetapan Planck, (Js), dan adalah frekuensi dari cahaya (Hz)Dalam spektrometer
massa, telah dibuktikan bahwa garis-garis spektrumdari atom yang di-ionisasitidak kontinyu,
hanya pada frekuensi/panjang gelombangtertentu garis-garis spektrum dapat dilihat. Ini
adalah salah satu bukti dari teori mekanika kuantum.

2.7 Kelahiran Mekanika Kuantum


Kata Kunci: atom, bilangan kuantum, elektron, gelombang, konfigurasi elektron, mekanika
kuantum, panjang gelombang, partikel, persamaan schrodinger, prinsip pauli
Ditulis oleh Yoshito Takeuchi pada 01-03-2008
a. Sifat gelombang partikel
Di paruh pertama abad 20, mulai diketahui bahwa gelombang elektromagnetik, yang
sebelumnya dianggap gelombang murni, berperilaku seperti partikel (foton). Fisikawan
Perancis Louis Victor De Broglie (1892-1987) mengasumsikan bahwa sebaliknya mungkin
juga benar, yakni materi juga berperilaku seperti gelombang. Berawal dari persamaan
Einstein, E = cp dengan p adalah momentum foton, c kecepatan cahaya dan E adalah energi,
ia mendapatkan hubungan:
E = hν =ν = c/λ atau hc/ λ = E, maka h/ λ= p … (2.12)
De Broglie menganggap setiap partikel dengan momentum p = mv disertai dengan
gelombang (gelombang materi) dengan panjang gelombang λ didefinisikan dalam persamaan
(2.12) (1924). Tabel 2.2 memberikan beberapa contoh panjag gelombang materi yang
dihitung dengan persamaan (2.12). Dengan meningkatnya ukuran partikel, panjang
gelombangnya menjadi lebih pendek. Jadi untuk partikel makroskopik, particles, tidak
dimungkinkan mengamati difraksi dan fenomena lain yang berkaitan dengan gelombang.
Untuk partikel mikroskopik, seperti elektron, panjang gelombang materi dapat diamati.
Faktanya, pola difraksi elektron diamati (1927) dan membuktikan teori De Broglie.

Tabel 2.2 Panjang-gelombang gelombang materi.


Panjang gelombang
partikel massa (g) kecepatan (cm s-1)
(nm)

elektron (300K) 9,1×10-28 1,2×107 6,1

elektron at 1 V 9,1×10-28 5,9×107 0,12

elektron at 100
9,1×10-28 5,9×108 0,12
V

He atom 300K 6,6×10-24 1,4×105 0,071

Xe atom 300K 2,2×10-22 2,4×104 0,012

Latihan 2.7 Panjang-gelombang gelombang materi.


Peluru bermassa 2 g bergerak dengan kecepatan 3 x 102 m s-1. Hitung panjang gelombang
materi yang berkaitan dengan peluru ini.
Jawab: Dengan menggunakan (2.12) dan 1 J = 1 m2 kg s-2, λ = h/ mv = 6,626 x 10-34 (J s)/
[2,0 x 10-3(kg) x 3 x102(m s-1)] = 1,10 x 10-30 (m2 kg s-1)/ (kg m s-1) = 1,10 x 10-30 m
Perhatikan bahwa panjang gelombang materi yang berkaitan dengan gelombang peluru jauh
lebih pendek dari gelombang sinar-X atau γ dan dengan demikian tidak teramati.

b. Prinsip ketidakpastian
Dari yang telah dipelajari tentang gelombang materi, kita dapat mengamati bahwa kehati-
hatian harus diberikan bila teori dunia makroskopik akan diterapkan di dunia mikroskopik.
Fisikawan Jerman Werner Karl Heisenberg (1901-1976) menyatakan tidak mungkin
menentukan secara akurat posisi dan momentum secara simultan partikel yang sangat kecil
semacam elektron. Untuk mengamati partikel, seseorang harus meradiasi partikel dengan
cahaya. Tumbukan antara partikel dengan foton akan mengubah posisi dan momentum
partikel.
Heisenberg menjelaskan bahwa hasil kali antara ketidakpastian posisi x dan ketidakpastian
momentum p akan bernilai sekitar konstanta Planck:
x p = h (2.13)
Hubungan ini disebut dengan prinsip ketidakpastian Heisenberg.

c. Persamaan Schrödinger
Fisikawan Austria Erwin Schrödinger (1887-1961) mengusulkan ide bahwa persamaan De
Broglie dapat diterapkan tidak hanya untuk gerakan bebas partikel, tetapi juga pada gerakan
yang terikat seperti elektron dalam atom. Dengan memperuas ide ini, ia merumuskan
sistem mekanika gelombang. Pada saat yang sama Heisenberg mengembangkan
sistem mekanika matriks. Kemudian hari kedua sistem ini disatukan dalam mekanika
kuantum.
Dalam mekanika kuantum, keadaan sistem dideskripsikan dengan fungsi gelombang.
Schrödinger mendasarkan teorinya pada ide bahwa energi total sistem, E dapat diperkirakan
dengan menyelesaikan persamaan. Karena persamaan ini memiliki kemiripan dengan
persamaan yang mengungkapkan gelombang di fisika klasik, maka persamaan ini disebut
dengan persamaan gelombang Schrödinger.
Persamaan gelombang partikel (misalnya elektron) yang bergerak dalam satu arah (misalnya
arah x) diberikan oleh:
(-h2/8π2m)(d2Ψ/dx2) + VΨ = EΨ … (2.14)
m adalah massa elektron, V adalah energi potensial sistem sebagai fungsi koordinat, dan Ψ
adalah fungsi gelombang.
BILANGAN KUANTUM
Karena elektron bergerak dalam tiga dimensi, tiga jenis bilangan kuantum (Bab 2.3(b)),
bilangan kuantum utama, azimut, dan magnetik diperlukan untuk mengungkapkan fungsi
gelombang. Dalam Tabel 2.3, notasi dan nilai-nilai yang diizinkan untuk masing-masing
bilangan kuantum dirangkumkan. Bilangan kuantum ke-empat, bilangan kuantum magnetik
spin berkaitan dengan momentum sudut elektron yang disebabkan oleh gerak spinnya yang
terkuantisasi. Komponen aksial momentum sudut yang diizinkan hanya dua nilai, +1/2(h/2π)
dan -1/2(h/2π). Bilangan kuantum magnetik spin berkaitan dengan nilai ini (ms= +1/2 atau -
1/2). Hanya bilangan kuantum spin sajalah yang nilainya tidak bulat.

Tabel 2.3 Bilangan kuantum


Nama (bilangan kuantum) simbol Nilai yang diizinkan

Utama N 1, 2, 3,…

Azimut L 0, 1, 2, 3, …n – 1

Magnetik m(ml) 0, ±1, ±2,…±l

Magnetik spin Ms +1/2, -1/2


Simbol lain seperti yang diberikan di Tabel 2.4 justru yang umumnya digunakan. Energi
atom hidroegn atau atom mirip hidrogen ditentukan hanya oleh bilangan kuantum utama dan
persamaan yang mengungkapkan energinya identik dengan yang telah diturunkan dari teori
Bohr.
Tabel 2.4 Simbol bilangan kuantum azimut

nilai 0 1 2 3 4

simbol s p d f g

2.8 Kelebihan dan kelemahan teori mekanika kuantum


 Kelebihan
1. Mengetahui dimana keboleh jadian menemukan elektron (orbital)
2. Mengetahui dimana posisi elektron yang sedang mengorbit
3. Bisa ngukur perpindahan energi eksitasi dan emisinya
4. Bisa teridentifikasi kalau di inti terdapat proton dan netron kemudian dikelilingi
oleh elektron yang berputar diporosnya/ di orbitalnya
 Kelemahan:
Persamaan gelombang Schrodinger hanya dapat diterapkan secara eksak untuk
partikel dalam kotak dan atom dengan elektron tunggal

Mekanika Klasik

2.9 .Perkembangan Mekanika Klasik

Perkembangan mekanika klasik didasarkan pada perkembangan sejarah fisika, yaitu :

I. Periode Pertama (Pra Sains – 1550 M)

a. Aristoteles (384 – 332 SM)

Aristoteles merupakan seorang filosof dan ilmuwan terbesar dalam masa lampau. Dia
mempelopori penyelidikan ihwal logika, memperkaya hampir tiap cabang falsafah dan
memberi sumbangsih yang besar terhadap ilmu pengetahuan.

Aristoteles merupakan orang pertama di periode ini yang mengemukakan cabang mekanika
yang berurusan dengan hubungan timbal balik antara gerak dan gaya yaitu bidang dinamika.
Ia mengemukakan suatu argumen tentang sifat bawaan dari berbagai benda yang memberikan
alasan untuk berbagai sifat tersebut dalam daya intrinsik khusus dari benda itu sendiri.
Aristoteles membedakan dua jenis gerak yaitu gerak alamiah dan gerak paksa. Menurutnya
tiap unsur memiliki “tempat alamiah” di alam semesta ini seperti di pusat bumi yang
dikelilingi oleh udara, air dan api. Dengan cara serupa tiap unsur memiliki suatu gerak
alamiah untuk bergerak ke arah tempat alamiahnya jika ia tidak berada di sana. Umumnya,
bumi dan air memiliki sifat berat, yaitu cenderung bergerak ke bawah, sementara udara dan
api memiliki sifat levitasi, yaitu cenderung bergerak ke atas. Salah satu kekurangan dinamika
Aristoteles adalah bahwa kecepatan sebuah benda akan menjadi tak hingga jika tidak ada
resistansi terhadap geraknya. Sukar sekali bagi penganut Aristoteles (aristotelian) untuk
membayangkan gerak tanpa resistansi. Memang kenyataan bahwa gerak seperti itu akan
menjadi cepat secara tak terhingga jika tak ada gesekan dengannya seperti benda yang
bergerak di ruang kosong. Teori Aristoteles bahwa gerak paksa (gerak yang s=disebabkan
oleh gaya luar yang dikenakan dan boleh ke sembarang arah) membutuhkan suatu gaya yang
bekerja secara kontiniu ternyata bisa disangkal dengan memandang gerak proyektil.
Aristoteles mencontohkan pada sebuah anak panah yang ditembakkan dari sebuah busur
akan tetap bergerak untuk beberapa jarak meskipun jelas-jelas tidak selamanya didorong,
busur entah bagaimana memberi suatu daya gerak kepada udara, yang kemudian
mempertahankan anak panah tetap bergerak. Penjelasan ini sangat tidak meyakinkan, dan
masalah gerak peluru terus berlanjt hingga membuat kesal para Aristotelian selama berabad-
abad.

b. Archimedes (287 – 212 SM)

Cabang lain mekanika adalah Statistika. Statistika meruakan studi benda-benda diam karena
kombinasi berbagai gaya. Perintis bidang ini adalah Archimedes. Archimedes juga
merupakan pendiri ilmu hidrostatistika, yaitu studi tentang keseimbangan gaya-gaya yang
mereka kenakan pada benda-benda tegar. Dalam bukunya yag berjudul “benda-benda
merapung”, ia menyatakan suatu prinsip terkenal yaitu “benda-benda yang lebih berat dari
cairan bila ditempatkan dalam cairan akan turun ke dasar cairan tersebut. Bila benda tersebut
ditimbang beratnya dalam cairan tersebut akan lebih ringan dari berat yang sebenarnya,
seberat zat cair yang dipisahkannya.”

Sumbangsih lain dari Archimedes yaitu prinsip-prinsip fisika dan matematika diaplikasikan
Archimedes seperti pompa ulir, untuk mengangkat air dari tempat yang lebih rendah maupun
untuk tujuan perang. Memang tidak dapat dihindari bahwa suatu penemuan biasanya akan
dipicu oleh suatu kebutuhan mendesak. Cermin pembakar, derek (crane) untuk melontarkan
panah dan batu atau menenggelamkan kapal adalah penguasaan fisika Archimedes yang
dapat dikatakan luar biasa pada zamannya. Kontribusi penghitungan p (pi) dari Archimedes
dapat disebut sebagai awal bagi para pengikut untuk meniru metode yang dipakai untuk
menghitung luas lingkaran. Terus memperbanyak jumlah segi enam untuk menghitung
besaran p (pi) mengilhami para matematikawan berikutnya bahwa adanya suatu
ketidakhinggaan seperti paradoks Zeno, dimana hal ini mendorong penemuan kalkulus.
Archimedes adalah seorang yang mendasarkan penemuannya dengan eksperimen sehingga ia
dijuluki Bapak IPA Eksperimental.

c. Eratoshenes (273 – 192 SM)

Erastohenes melakukan perhitungan diameter bumi pada tahun 230 SM. Dia menengarai
bahwa kota Syene di Mesir terletak di equator, dimana matahari bersinar vertikal tepat di atas
sumur pada hari pertama musim panas. Erastohenes mengamati fenomena ini tidak dari
rumahnya, dia menyimpulkan bahwa matahari tidak akan pernah mencapai zenith di atas
rumahnya di Alexandria yang berjarak 7o dari Syene. Jarak Alexandria dan Syene adalah
7/360 atau 1/50 dari lingkaran bumi yang dianggap lingkaran penuh adalah 360o. Jarak antara
Syene sampai Alexandria +/- 5000 stade. Dengan dasar itu disebut prakiraan bahwa diameter
bumi berkisar 50x5000 stade = 25.000 stade = 42.000 Km. Pengukuran tentang diameter
bumi diketahui adalah 40.000 km. Ternyata, astronomer jaman kuno juga tidak kalah
cerdasnya degan deiasi kurnag dari 5%

II. Periode Kedua (Awal Sains 1550 M – 1800 M)

a. Galileo (1564 M – 1642 M)

Aristoteles mengajarkan, benda yang lebih berat jatuh lebih cepat ketimbang benda yang
lebih enteng, dan generasi-generasi kaum cerdik pintar menelan pendapat ini. Tetapi, Galileo
mencoba memutuskan benar tidaknya, dan lewat senrentetan eksperimen dia menyimpulkan
bahwa Aristoteles keliru. Yang benar adalah, baik benda berat maupun enteng jatuh pada
kecepatan yang sama kecuali sampai batas berkurang kecepatannya akibat pergeseran udara.
Galileo melakukan eksperimen ini dimenara Pisa. Pada satu sisi benda ringan akan
menghambat benda berat dan benda berat akan mempercecpat benda ringan, dan karena itu
kombinasi tersebut akan bergerak pada suatu laju pertengahan. Di lain pihak benda-benda
yang dipadu bahkan akan membentuk benda yang lebih berat yang karena itu harus bergerak
lebih cepat daripada yang pertama atau salah satunya. Mengetahui hal ini, Galileo mengambil
langkah-langkah lebih lanjut. Dengan hati-hati dia mengukur jarak jatuhnya benda pada saat
yang ditentukan dan mendapat bukti bahwa jarak yang dilalui oleh benda yang jatuh
berbanding seimbang dengan jumlah detik kwadrat jatuhnya benda. Penemuan ini (yang
berarti penyeragaman kecepatan) memiliki arti penting tersendiri. Bahkan lebih penting lagi
Galileo berkemampuan menghimpun hasil penemuannya dengan formula matematik.

b. Isaac Newton (1642 M – 1727 M)

Penemuan-penemuan Newton yang terpenting adalah di bidang mekanika, pengetahuan


sekitar bergeraknya susuatu benda didasarkan pada tiga hukum fundamental. Hukum pertama
adalah hukum inersia Galileo. Galileo melukiskan gerak sesuatu objek apabila tidak
dipengaruhi oleh kekuatan luar. Tentu saja pada dasarnya semua objek dipengaruhi oleh
kekuatan luar dan persoalan yang paling penting adalah bagaimana objek bergerak dalam
keadaan itu. Masalah ini dipecahkan oleh Newton dalam hukum geraknya yang kedua dan
termasyhur dan dapat dianggap sebagai hukum fisika klasik yang paling utama. Hukum
kedua menetapkan bahwa percepatan objek adalah sama dengan gaya netto dibagi massa
benda (a=F/m). Hukum kedua Newton memiliki bentuk sama seperti hukum dinamika
Aristoteles (v=kF/R), dengan dua perbedaan penting, yang satuadalah bahwa gaya
menghasilkan percepatan dari pada kecepatan sehingga dalam ketidakhadiran gaya kecepatan
tetap konstan, perbedaan yang lain adalah bahwa hambatan terhadap gerak disebabkan oleh
massa benda itu sendiri terhadap medium di mana ia bergerak. Terhadap kedua hukum itu
Newton menambah hukum ketiganya yang termasyur tentang gerak (menegaskan bahwa pada
tiap aksi terdapat reaksi yang sama dengan yang bertentangan) serta yang paling termasyur
penemuannya tentang kaidah ilmiah hukum gaya berat universal.

Newton juga membedakan antara massa dan berat. Massa adalah sifat intrinsik suatu benda
yang mengukur resistansinya terhadap percepatan, sedangkan berat adalah sesungguhnya
suatu gaya, yaitu gaya berat yang bekerja pada sebuah benda. Jadi berat W sebuah benda
adalah W=mag, dimana ag adalah percepatan gravitasi.Keempat perangkat hukum ini , jika
digabungkan akan membentuk suatu kesatuan sistem yang berlaku buat seluruh makro sistem
mekanika, mulai dari ayunan pendulum hingga gerak planet-planet dalam orbitnya
menglilingi matahari. Newton tidak Cuma menetapkan hukum-hukum mekanika, tetapi juga
menggunakan alat kalkulus matematik dan menunjukkan bahwa rmus-rumus fundamental ini
dapat dipergunkakan bagi pemecahan masalah fisika.

Diantara banyak prestasi Newton, penemuan terbesarnya ialah “Hukum Gravitasi”. Pada
penemuan ini, Newton menggunakan dengan baik penemuan penting sebelumnya tentang
pergerakan angkasa yang dibuat oleh Kepler dan lainnya. Gerak sebuah planet mengelilingi
matahari adalah suatu kombinasi gerak garis lurus yang ia harus miliki jika tak ada gaya yang
bekerja kepadanya dan percepatannya karena gaya gravitasi matahari.

III. Periode Ketiga ( (Fisika Klasik 1800 M – 1890 (1900) M)

a. Daniel Bernoulli (1700 M – 1780 M)

Prinsip Bernoulli adalah sebuah istilah dalam mekanika fluida yang menyatakan bahwa pada
suatu aliran fluida peningkatan pada kecepatan fluida akan menimbulkan penurunan tekanan
pada aliran tersebut. Prinsip ini merupakan penyederhanaan dari Persamaan Bernoulli yang
menyatakan bahwa jumlah energi pada suatu titik di dalam suatu aliran tertutup sama
besarnya dengan jumlah energi di titik lain pada jalur aliran yang sama.

b. Leonard Euler (1707 M – 1783 M)


Euler khusus ahli mendemonstrasikan bagaimana hukum-hukum umum mekanika yang telah
dirumuskan oleh Isaac Newton, dapat digunakan dalam jenis situasi fisika tertentu yang
terjadi berulang kali. Misalnya, dengan menggunakan hukum Newton dalam hal gerak cairan,
Euler sanggup mengembangkan persamaan hidrodinamika. Juga melalui analisa yang cermat
tentang kemungkinan gerak dari barang yang kekar dan dengan penggunaan prinsip-prinsip
Newton. Euler berkemampuan mengembangkan sejumlah pendapat yan sepenuhnya
menentukan gerak dari barang kekar. Dalam praktek tentu saja objek benda tidak selamanya
mesti kekar, karena itu Euler juga membuat sumbangan penting tentang teori elastisitas yang
menjabarkan bagaimana benda padat dapat berubah bentuk lewat penggunaan tenaga luar.

Pengetahuan modern dan teknologi akan jauh tertinggal tanpa adanya formula Euler, rumus-
rumusnya dan metodenya.

Teori yang pertama kali muncul dari Gustav Kirchoff pada tahun 1859 dimana setiap benda
dalam keadaan kesetimbangan termal dengan radiasi daya yang dipancarkan adalah
sebanding dengan daya yang diserapnya. Factor yang mempengaruhi secara langsung yaitu
frekuensi cahaya dengan suhu mutlak dari benda tersebut sedangkan sifat dari benda hitam
tidak mempengaruhinya.

Teori selanjutnya dikemukakan oleh Josef Stefan pada tahun 1879 yang melakukan
pengamatan serta menyimpulkan bahwa besar intensitas radiasi total (I) sebanding dengan
pangkat empat suhu mutlaknya.

dengan Itotal adalah intensitas (daya persatuan luas) radiasi pada permukaan benda hitam pada
esmua frekuensi, Rf adalah intensitas radiasi persatuan frekuensi yang dipancarkan oleh
benda hitam, T adalah suhu mutalak benda, dan _ adalah tetapan Stefan-Boltzmann, yaitu _ =
5,67 × 10-8 W m-2 K-4.

2.11 Teori Klasik Radiasi Benda Hitam

Ringkasannya dari teori Klasik Radiasi Benda Hitam yaitu

Hubungan antara J (f, T) dan u(f,T), yang sebanding dinyatakan oleh


Berikut akan dibahas teori klasik radiasi benda hitam, yaitu: hukum eksponensial Wien dan
hukum Raileigh-Jeans.

Suatu prakiraan penting terhadap bentuk fungsi universal u(f;T) dinyatakan pertama kali pada
tahun 1893 oleh Wien, yang memiliki bentuk

Dalam bentuk panjang gelombang _,

dengan c1 dan c2 adalah tetapan yang ditentukan melalui eksperimen. Dari hasil
eksperimen, Wien mendapatkan bahwa c = 8Πhc dan c = ch/k. Persaman (8-8) atau
Persamaan (8-7) disebut sebagai hukum radiasi Wien. Setahhun kemudian, ahli
spektroskopi Jerman, Friedrich Paschen yang bekerja dalam daerah inframerah denga kisaran
panjang gelombang 1 μm, sampai dengan 4 μm, dan suhu benda hitam dari 400 K sampai 1
600 K, menemukan bahwa prakiraan Wien tepat bersesuaian dengan titik-titik data
eksperimennya

Tetapi pada tahun 1900, Lummer dan Pringsheim melanjutkan pengukuran Paschen sampai
dengan panjang gelombang 18 μm. Rubens dan Kurlbaum bahkan melanjutkan sampai 60
μm. Kedua tim ini kemudian menyimpulkan bahwa hokum Wien gagal dalam daerah ini
(lihat kembali gambar 8.5). Perkiran berikutnya tentang u(f,T) atau u(_,T) dilkukan oleh Lord
Rayleigh (1842-1919) dan Sir James Jeans (1877-1946) pada Juni 1900. Rayleigh
berkonsentrasi secara langsung pada gelombang-gelombang elektromagnetik dalam rongga.
Rayleigh dan Jeans menyatakan bahwa gelombang gelombang elektromagnetik stasioner
dalam rongga dapat dipertimbangkan memiliki suhu T, karena mereka secara konstan
bertukar energi dengan dinding-dinding dan menyebabkan termometer dalam rongga
mencapai suhu yang sama dengan dinding. Lebih lanjut, mereka mempertimbangkan
gelombang elektromagnetik terpolarisasi stasioner ekivalen dengan penggetar satu dimensi
(Gambar 8.6). Mereka menyatakan kerapatan energi sebagai hasil kali jumlah gelombang
stasioner ( 0,5; 1; 1,5; 2 gelombang,….) dan energi rata-rata per penggetar. Mereka
mendapatkan energi penggetar rata-rata tak bergantung pada panjang gelombang l , dan sama
dengan kT dari hokum distribusi Maxwell-Boltzmann. Akhirnya mereka memperoleh
kerapatan energi per panjang gelombang , u (l ,T ) , yang dinyatakian sebagai

dengan k adalah tetapan Boltzmann. Pernyataan ini dikenal sebagai hukum Rayleigh-Jeans.
Dalam bulan September 1900, pengukuran menunjukkan bahwa diantara 12 μmdan 18 μm
prakiraan Rayleigh-Jeans tepat. Tetapi seperti ditunjukkan pada gambar 8.7, hukum
Rayleigh-Jeans secara total tak layak pad panjang gelombang pendek atau frekuensi
tinggi. Persaman (8-9) menunjukkan bahwa ketika l mendekati nol, kerapatan energi
diperkirakan tak terbatas (u( f ,T )®»)dalam ultraviolet.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa mekanika klasik gagal menjelaskan fenomena dari
radiasi benda hitam karena keduanya tidak sesuai dengan hasil eksperimen yang didapat.
Setelah itu muncullah teori Kuantum pertama yang dikemukakan oleh Max Planck pada
partikel. Energi kinetik partikel dalam koordinat kartesian adalah fungsi dari percepatan,
energi potensial partikel yang bergerak dalam medan gaya konservatif adalah fungsi dari
posisi. Persamaan Lagrange merupakan persamaan gerak partikel sebagai fungsi dari
koordinat umum, dan mungkin waktu berpengaruh dalam persamaan ini karena Persamaan
transformasi yang menghubungkan dengan koordinat kartesian dan koordinat umum
mengandung fungsi waktu. Pada dasarnya persamaan Lagrange ekuivalen dengan persamaan
gerak Newton jika koordinat yang digunakan adalah koordinat kartesian.
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah disampaikan pada makalah ini maka dapat disimpulkan
sebagai berikut :

1. Dasar dimulaianya periode mekanika kuantum adalah ketika mekanika klasik tidak bisa
menjelaskan gejala-gejala fisika yang bersifat mikroskofis dan bergerak dengan kecepatan
yang mendekati kecepatan cahaya. Oleh karena itu, diperlukan cara pandang yang berbeda
dengan sebelumnya dalam menjelaskan gejala fisika tersebut.

2. Pada tahun Max Planc memperkenalkan ide bahwa energi dapat dibagi-bagi menjadi
beberapa paket atau kuanta. Ide ini secara khusus digunakan untuk menjelaskan sebaran
intensitas radiasi yang dipancarkan oleh Benda hitam Pada tahun 1905, Albert
Einsteinmenjelaskan efek fotolektrik dengan menyimpulkan bahwa energi cahaya datang
dalam bentuk kuanta yang disebut Foton

3. Pada tahun 1913 Neils Bohr menjelaskan garis spektrum dari Atom hidrogen, lagi
dengan menggunakan kuantisasi. Pada tahun 1924 Loius-Victor de Broglie memberikan
teorinya tentang gelombang benda.

4. Mekanika kuantum modern lahir pada tahun 1925, ketika Werner karl Heisenberg
mengembangkan mekanika matriks dan erwin menemukan mekanika gelombang
danpersamaan. Schrödinger beberapa kali menunjukkan bahwa kedua pendekatan tersebut
sama.

5. Perkembangan mekanika klasik didasarkan pada perkembangan sejarah fisika, yaitu


Periode Pertama (Pra Sains – 1550 M),Aristoteles (384 – 332 SM), II. Periode Kedua
(Awal Sains 1550 M – 1800 M), Galileo (1564 M – 1642 M), bekerja kepadanya dan
percepatannya karena gaya gravitasi matahari. Periode Ketiga ( (Fisika Klasik 1800 M – 1890
(1900) M) Daniel Bernoulli (1700 M – 1780 M) Prinsip Bernoulli adalah sebuah istilah
dalam mekanika fluida

6. Mekanika klasik gagal menjelaskan fenomena dari radiasi benda hitam karena keduanya
tidak sesuai dengan hasil eksperimen yang didapat. Setelah itu muncullah teori Kuantum
pertama yang dikemukakan oleh Max Planck.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2014.Teori Kuantum [serial online].http://www.forumsains.com. Di akses pada 31


agustus 2014.

Bahtiar, A. 2014. Fisika Modern, Definisi, Konsep dan Aplikasinya[serial online].


http://pustaka.unpad.ac.id. Di akses pada 31 agustus 2014.

Haliday, D., & Resnick, R. 1984.Fisika Moderen. Jakarta: Erlangga.

Liong, T.H. 1992. Konsep Fisika Modern. Jakarta: Erlangga