Anda di halaman 1dari 4

Gejala hipertensi yang sering timbul

1. Sakit kepala yang bervariasi (ringan sd berat)

2. Pusing, kadang disertai dengan mula muntah

3. Nyeri tengkuk dan kepala bagian belakang terutama bagung tidur pagi hari

4. Nyeri otot dan sendi

5. Insomnia

6. Badan lemah dan berdebar-debar

Sakit ringan kegiatan sehari-hari dapat dilakukan sendiri, penampilan secara umum baik.

155/95 : Hipertensi derajat 1

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah gangguan kesehatan yang tidak bisa disembuhkan. Jadi,
kalau Anda punya kondisi ini, Anda hanya bisa mengendalikannya. Ya, tekanan darah Anda harus
terus dikendalikan jika sudah terkena hipertensi, jika tidak, Anda akan berhadapan dengan risiko
serangan jantung, stroke, hingga gagal jantung. Salah satu pengendaliannya adalah dengan minum
obat hipertensi.

Banyak hal yang bisa bikin tekanan darah Anda jadi naik dan tak terkendali, entah itu karena makanan
atau bahkan kondisi stres. Maka itu, orang dengan tekanan darah tinggi harus minum obat hipertensi
agar tekanan darahnya tidak melonjak.

Masalah yang muncul ketika obat hipertensi tidak Anda minum sesuai dengan ketentuan adalah
tekanan darah Anda akan tidak terkendali. Anda akan memiliki tekanan darah yang tinggi terus-
terusan.

Ketika hal ini terjadi, maka akan memengaruhi kerja jantung dan pembuluh darah. Pembuluh darah
akan tersumbat dan jantung akan kelelahan akibat beban kerjanya lebih berat saat tekanan darah naik.
Kondisi ini akan menimbulkan serangan jantung, gagal jantung, bahkan gangguan kesehatan lainnya
seperti gagal ginjal.
Timun dan seledri

Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang menjadi masalah utama di masyarakat. Hipertensi
berhubungan erat dengan berbagai resiko komplikasi. Mentimun adalah jenis sayur yang biasa
dikonsumsi masyarakat untuk menurunkan tekanan darah. Tujuan penelitian adalah untuk menguji
adanya pengaruh pemberian jus mentimun terhadap tekanan darah. Penelitian ini merupakan
penelitian eksperimental dengan desain one group pre-post test design, dilaksanakan di UPT
Pelayanan Sosial Lanjut Usia Jombang, pada sebanyak 20 lansia sebagai dengan hipertensi tanpa
penyakit penyerta. Penelitian dilakukan selama enam hari, hari pertama tekanan darah lansia diukur
untuk mendapatkan tekanan darah rata-rata sebelum perlakukan, selanjutnya selama lima hari
setiap lansia diberi perlakuan berupa jus mentimun sebanyak 100 gram dan diukur tekanan darahnya
pada 2 jam, 6 jam, dan 9 jam setelah perlakuan, Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh
bermakna dari pemberian jus mentimun terhadap penurunan tekanan darah, penurunan terbesar
terjadi pada 2 jam dan setelah perlakuan hari 4 dan 5 setelah perlakuan pemberian jus mentimun.
Hasil ini diharapkan merupakan salah satu solusi bagi perawatan penderita hipertensi.

Kandungan pada mentimun yang mampu membantu menurunkan tekanan darah, kandungan pada
mentimun diantaranya kalium (potassium), magnesium, dan fosfor efektif mengobati hipertensi.
Selain itu, mentimun juga bersifat diuretik karena kandungan airnya yang tinggi sehingga membantu
menurunkan tekanan darah (Dewi. S & Familia. D, 2010). Kalium merupakan elektrolit intraseluler
yang utama, dalam kenyataan, 98% kalium tubuh berada di dalam sel, 2% sisanya berada di luar sel,
yang penting adalah 2% ini untuk fungsi neuromuskuler. Kalium mempengaruhi aktivitas baik otot
skelet maupun otot jantung. (Brunner & Suddarth, 2001). Dikalangan masyarakat umum, mentimun
sudah lazim dikonsumsi untuk sekedar pelengkap hidangan maupun dengan maksud khusus untuk
menurunkan tekanan darah.

Peran kalium telah banyak diteliti dalam kaitanya dengan regulasi tekanan darah, Solanki. P, (2011)
menyatakan beberapa mekanisme bagaimana kalium dapat menurunkan tekanan darah sebagai
berikut: Kalium dapat menurunkan tekanan darah dengan menimbulkan efek vasodilatasi sehingga
menyebabkan penurunan retensi perifer total dan meningkatkan output jantung. Konsumsi kalium
yang banyak akan meningkatkan konsentrasinya di dalam cairan intraseluler sehingga cenderung
menarik cairan dari bagian ekstraseluler dan menurunkan tekanan darah (Amran Y dkk, 2010).

Penelitian-penelitian klinis memperlihatkan bahwa pemberian suplemen kalium dapat menurunkan


tekanan darah dengan suplementasi diet kalium 60-120 mmol/hari dapat menurunkan tekanan
darah sistolik dan diastolik 4,4 dan 2,5 mmHg pada penderita hipertensi dan 1,8 serta 1,0 mmHg
pada orang normal (Saraswati. S, 2009).

Profil perubahan tekanan darah sistol maupun diastol pada jam ke 2, ke 6, dan ke 9 setelah perlakuan
memberi gambaran bahwa efektifitas pemberian jus mentimun terhadap perubahan tekanan darah
terjadi dengan onset yang cukup cepat, namun durasi efek jus mentimun tidak panjang, tampak dari
kecenderungan tekanan darah untuk meningkat lagi pada jam ke 6 enam setelah perlakuan dan
hampir mendekati tekanan darah semula pada jam ke 9 setelah perlakuan. Dengan
mempertimbangkan hasil penelitian ini, pemberian jus mentimun dengan tujuan penurunan tekanan
darah dapat dipertimbangkan untuk diberikan dlam dosis terbagi sehingga efek penurunan tekanan
darah yang diharapkan dapat terjadi terjadi secara simultan, juga mentimun dapat dipertimbangkan
untuk menjadi menu seharihari bagi penderita tekanan darah tinggi. Belum ada rujukan yang dengan
jelas menguraikan tentang onset of action maupun duration of action dari jus mentimun, hasil
penelitian ini memerlukan tindak lanjut untuk kajian lebih dalam.

JIMKESMAS

Seledri (Apium graveolens) dikatakan memiliki kandungan Apigenin yang dapat mencegah
penyempitan pembuluh darah dan Phthalides yang dapat mengendurkan otot-otot arteri atau
merelaksasi pembuluh darah. Zat tersebut yang mengatur aliran darah sehingga memungkinkan
pembuluh darah membesar dan mengurangi tekanan darah. Seledri diketahui mengandung senyawa
aktif yang dapat menurunkan tekanan darah yaitu ''apiin'' (yang berfungsi sebagai calcium
antagonist) dan manitol yang berfungsi seperti diuretik. Daun seledri banyak mengandung Apiin dan
substansi diuretik yang bermanfaat untuk menambah jumlah urin. Seledri tidak memiliki efek
samping untuk tubuh kita, mudah didapat dan harganya pun terjangkau untuk semua kalangan.

Antihipertensi lini I

Pedoman NICE yang baru mengemukakan bahwa diuretik tiazid atau CCB dihidropiridin merupakan
terapi lini pertama untuk pasien lanjut usia. Namun, harus diperhatikan fungsi ginjal selama terapi
dengan tiazid karena pasien lanjut usia lebih beresiko mengalami gangguan ginjal. Pasien yang lebih
dari 80 tahun dapat diberi terapi seperti pasien usia > 55 tahun.

Dikenal lima kelompok obat lini pertama (first line drug) yang digunakan untuk pengobatan awal
hipertensi yaitu : diuretik, penyekat reseptor beta adrenergik (β-blocker), penghambat angiotensin
converting enzyme (ACE-inhibitor), penghambat reseptor angiotensin (Angiotensin-receptor blocker,
ARB), dan antagonis kalsium.

Diuretik

Mekanisme kerja : Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menghancurkan garam yang
tersimpan di alam tubuh. Pengaruhnya ada dua tahap yaitu :(1) Pengurangan dari volume darah total
dan curah jantung; yang menyebabkan meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer; (2) Ketika
curahjantung kembali ke ambang normal, resistensi pembuluh darah perifer juga berkurang. Contoh
antihipertensi dari golongan ini adalah Bumetanide, Furosemide, Hydrochlorothiazide, Triamterene,
Amiloride, Chlorothiazide, Chlorthaldion.

Penyekat Reseptor Beta Adrenergik (β-Blocker)

Berbagai mekanisme penurunan tekanan darah akibat pemberian β-blocker dapat dikaitkan dengan
hambatan reseptor β1, antara lain : (1) penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas
miokard sehingga menurunkan curah jantung; (2) hambatan sekresi renin di sel jukstaglomeruler
ginjal dengan akibat penurunan Angiotensin II; (3) efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf
simpatis, perubahan pada sensitivitas baroresptor, perubahan neuron adrenergik perifer dan
peningkatan biosentesis prostasiklin.19 Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Propanolol,
Metoprolol, Atenolol, Betaxolol, Bisoprolol, Pindolol, Acebutolol, Penbutolol, Labetalol.

Penghambat Angiotensin Converting Enzyme (ACE-Inhibitor)

Kaptopril merupakan ACE-inhibitor yang pertama banyak digunakan di klinik untuk pengobatan
hipertensi dan gagal jantung.19 Mekanisme kerja : secara langsung menghambat pembentukan
Angiotensin II dan pada saat yang bersamaan meningkatkan jumlah bradikinin. Hasilnya berupa
vasokonstriksi yang berkurang, berkurangnya natrium dan retensi air, dan meningkatkan vasodilatasi
(melalui bradikinin). Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Kaptopril, Enalapril, Benazepril,
Fosinopril, Moexipril, Quianapril, Lisinopril.

Penghambat Reseptor Angiotensin

Mekanisme kerja : inhibitor kompetitif dari resptor Angiotensin II (tipe 1). Pengaruhnya lebih spesifik
pada Angiotensin II dan mengurangi atau sama sekali tidak ada produksi ataupun metabolisme
bradikinin. Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Losartan, Valsartan, Candesartan,
Irbesartan, Telmisartan, Eprosartan, Zolosartan.

Antagonis Kalsium

Mekanisme kerja : antagonis kalsium menghambat influks kalsium pada sel otot polos pembuluh
darah dan miokard. Di pembuluh darah, antagonis kalsium terutama menimbulkan relaksasi arteriol,
sedangkan vena kurang dipengaruhi. Penurunan resistensi perifer ini sering diikuti efek takikardia dan
vasokonstriksi, terutama bila menggunakan golongan obat dihidropirin (Nifedipine). Sedangkan
Diltiazem dan Veparamil tidak menimbulkan takikardia karena efek kronotropik negatif langsung
pada jantung. Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Amlodipine, Diltiazem, Verapamil,
Nifedipine.