Anda di halaman 1dari 2

Diagnosis Keracunan Organofosfat

Sebagian besar kasus keracunan organofosfat mudah ditegakkan karena informasi riwayat
minum racun serangga sering mudah didapatkan melalui heteroanamnesis. Diagnosis
keracunan organofosfat terkadang sulit untuk dilakukan jika tidak ada informasi "pasti" yang
menyatakan pasien post minum organofosfat. Karena gejala keracunan organofosfat
terkadang mirip dengan keracunan carbamate. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat
akan sangat membantu menegakkan diagnosis.

Anamnesa bertujuan untuk mencari kemungkinan kontak dengan insektisida. Anamnesis


yang cermat mulai dari pekerjaan, penggunaan insektisida sampai dengan kemungkinan
kecelakaan/tercemar dengan insektisida.

Diagnosa dibuat berdasar kecurigaan klinis, tanda klinis dengan karateristik adanya bau
pestisida, gejala mual, muntah, diare, pusing (dizziness), nyeri kepala, hipersalivasi, otot
mengalami fasiculasi, tampak agitasi, berkeringat banyak, penurunan kesadaran, pupil miosis,
dan ter-jadi gangguan pernapasan. Gejala-gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Overstimulasi muscarinic: bradikardia, bronchorrhea, bronchospasm, diar-hea,


hipotensi, lacrimasi, miosis, hipersalivasi, urinasi, vomiting.
2. Overstimulasi nicotinic pada saraf perifer: agitasi, midriasis, berkeringat dan
takikardia.
3. Overstimulasi nicotinic pada neuromuskuler junction: fasiculasi, kelemah-an otot
dan paralise.
Diagnosa pasti keracunan organofosfat ditegakkan dengan pengukuran butirilkoinesterase
atau asetilkolinesterase di darah/pasma atau lebih akurat eritrosit asetilkolinesterase.

EKG dilakukan untuk mendeteksi adanya aritmia atau prolong QT interval.

Tatalaksana Keracunan Organofosfat


Penatalaksanaan dasar dari keracunan terdiri:

1. Supportif dan Decomentasi (mencegah kontak selanjutnya dengan bahan beracun),

2. Melakukan eliminasi bahan racun,

3. Pemberian anti-dotum,

4. Pencegahan terhadap kejadian keracunan.


Tindakan supportif berupa ABC (Airway-Breathing-Circulation), yaitu pemberian oksigenasi
dan kalau perlu bantuan ventilasi, pertahankan jalan napas dan mengatasi gangguan
hemodinamik dan gangguan aritmia.

Dekontaminasi gastrointestinal dengan melakukan kumbah lambung atau pemberian


activated charcoal (arang aktif) atau melalui tindakan endoskopi/tindakan operatif, pencucian
mata atau pencucian kuit.
1. Lavage Lambung (kumbah kambung), memberikan 5 ml cairan/kgBB dengan sonde
lambung no.40 (dewasa) dan no.28 (anak), akan menurunkan absorpsi 52% bila dilakukan
dalam waktu 5 menit, 26% bila dilakukan dalam 30 menit dan hanya 16% bila dilakukan 1
jam setelah minum bahan toksik. Kemungkinan komplikasi yang mungkin terjadi diantaranya
aspirasi (10%) dan perforasi/salah masuk (1%)

2. Arang aktif, diberkan dalam larutan secara oral, dosis 1 gr/kgBB. Menurunkan
absorpsi 73% bila diberikan dalam 5 menit, 51% bila dalam waktu 30 menit, 36% bila
diberikan dalam waktu 1 jam. Efek samping mual, muntah, diare atau konstipasi.
Eliminasi dilakukan dengan pemberian aranga aktif atau forced emesis, pemberian oral
fluid dan hemodialisis.
Terapi Farmakologis Keracuanan Organofosfat
Pada keadaan darurat prinsip penanganan ialah resusitasi, pemberian oksigen pemberian
atropin, cairan dan asetilkolinerase reactivator (oxime).

Atropin (iv) diberikan secara infus dengan dosis 0.02-0.08 mg/kg per jam atau 70 mg/kg
infus selama 30 menit atau dosis intermiten 2 mg tiap 15 menit sampai hipersekresi
terkendali. Efek takikardia dihindari dengan pemberian diltiazem atau propranolol.

Ozime/Pralidoxime diberikan dosis 4 gr/hari dibagi dalam 4 dosis. WHO merekomendasikan


penggunaan oxime (pralidoxime chloride/obidoxime) pada penderita simptomatik yang
memakai atropin. Dosis loading 2 g per iv lambat (20 menit) dan dilanjutkan dengan 1 gr per
infus setiap jam.

Pengobatan lain ialah pemberian magnesium sulfate atau pemberian sodium bicarbonate
untuk melakukan alkanisasi urin dalam rangka eliminasasi bahan beracun Diazepam (iv), bila
kejang atau bila terjadi delirium.

Untuk dokter di Instalasi Gawat Darurat, menguasai prosedur tatalaksana keracunan


organofosfat dengan atropin saja sudah cukup. Prinsipnya adalah membuat atropinisasi
terjadi, dan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan dengan sarana yang lebih lengkap.