Anda di halaman 1dari 4

Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap

obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis lazim yang digunakan pada
manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosa, dan terapi.

Therapeutic Drug Monitoring atau TDM itu adalah pengukuran kadar obat di dalam tubuh sebagai
sarana monitoring untuk mencapai tujuan terapi. Hal yang melatarbelakangi TDM ini adalah adanya
variasi individu yang dapat mempengaruhi dosis obat.

Tujuan MESO
a. Memberikan kesempatan untuk mengenali suatu obat dengan baik dan untuk mengenali respon
orang terhadap obat.
b. Membantu meningkatkan pengetahuan tentang obat, manusia atau penyakit dari waktu ke waktu.
c. Menerima info terkini tentang efek samping obat (Purwantyastuti, 2010).
d. Menemukan efek samping obat (ESO) sedini mungkin terutama yang berat, tidak dikenal,
frekuensinya jarang.
e. Menentukan frekuensi dan insidensi efek samping obat yang sudah dikenal dan yang baru saja
ditemukan.
f. Mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan/mempengaruhi angka kejadian dan
hebatnya efek samping obat.
g. Meminimalkan resiko kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki.
h. Mencegah terulangnya kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki (Syah, 2012).

Keuntungan dari TDM ini adalah :

Mengevaluasi pemberian sejumlah dosis yang diberikan

Menghindari toksisitas

Membedakan penyebab dari kegagalan terapi, apakah disebabkan dari farmakokinetik atau dari
farmakodinamik. Beda keduanya adalah, Farmakokinetik berbicara tentang kuantitas atau jumlah
sedangkan farmakodinamik erat kaitannya dengan kualitas obat itu sendiri atau lebih tepatnya ikatan
obat dengan reseptor sehingga menghasilkan efek erapi.

Efektif dalam pembiayaan, maksudnya adalah jika kita lihat untuk kondisi jangka panjang. Jika pasien
tidak di berikan TDM/monitoring terapi obat maka kondisi pasien akan memburuk, sehingga pasien
memerlukan biaya perawatan dan pengobatan yang lebih besar lagi.

Faktor yg mempermudah terjadinya Interaksi Obat :

1. Usia

> sering pada usia lanjut (penyakit >1, multidrugs, pe↓ fungsi organ)

2. Genetik (polimorfisme genetik)

3. Penggunaan obat bebas, antasida, tembakau, obat herbal  interaksi dgn banyak obat

4. Penyakit yang diderita:

- Peny. Ginjal  me↓ ekskresi /sekresi /reabsorbsi obat


PENGUJIAN PADA MANUSIA (UJI KLINIK)

 Pada dasarnya uji klinik memastikan efikasi, keamanan, dan gambaran efek samping yang
sering timbul pada manusia akibat pemberian suatu obat. Uji klinik ini terdiri dari uji fase I
sampai IV.

UJI KLINIK FASE I

 Fase ini merupakan pengujian suatu obat baru untuk pertama kalinya pada manusia. Yang
diteliti di sini ialah keamanan dan tolerabilitas obat, bukan efikasinya, maka dilakukan pada
sukarelawan sehat, kecuali untuk obat yang toksik (misalnya sitostatik), dilakukan pada
pasien karena alasan etik.

 Tujuan pertama fase ini ialah menentukan besarnya dosis maksimal yang dapat ditoleransi
(maximally tolerated dose = MTD), yakni dosis sebelum timbul efek toksik yang tidak dapat
diterima. Dosis oral yang diberikan pertama kali pada manusia biasanya 1/50-1/60 x dosis
minimal yang menimbulkan efek pada spesies hewan yang paling sensitif. Tergantung dari
data yang diperoleh pada hewan, dosis berikutnya ditingkatkan sedikit-sedikit atau dengan
kelipatan dua sampai dicapai MTD. Untuk mencari efek toksik yang mungkin terjadi dilakukan
pemeriksaan hematologi, faal hati, faal ginjal, urin rutin, dan jika perlu pemeriksaan lain yang
lebih spesifik.

 Pada fase ini diteliti juga sifat farmakodinamik dan farmakokinetiknya pada manusia. Hasil
penelitian farmakokinetik ini digunakan untuk meningkatkan ketepatan pemilihan dosis pada
penelitian selanjutnya. Selain itu, hasil ini dibandingkan dengan hasil uji serupa pada hewan
coba sehingga diketahui pada spesies hewan mana obat tersebut mengalami proses
farmakokinetik seperti pada manusia. Jika spesies ini dapat ditemukan, maka penelitian
toksisitas jangka panjang dilakukan pada hewan tersebut.

 Uji klinik fase I ini dilaksanakan secara terbuka, artinya tanpa pembanding dan tidak
tersamar, pada sejumlah kecil subyek dengan pengamatan intensif oleh dokter ahli
farmakologi klinik, dan dikerjakan di tempat yang memiliki sarana klinik dan laboratoris yang
lengkap, termasuk sarana untuk mengatasi keadaan darurat. Total jumlah subyek pada fase
ini bervariasi antara 20-50 orang.

UJI KLINIK FASE II

 Pada fase ini obat dicobakan untuk pertama kalinya pada pasien yang kelak akan diobati
dengan obat ini. Tujuannya ialah melihat apakah obat ini memiliki efek terapi.

 Dilaksanakan oleh dokter ahli farmakologi klinik dan dokter ahli klinik dalam bidang yang
bersangkutan.

 ikut berperan dalam membuat protokol penelitian yang harus diikuti dengan ketat.

 Seleksi pasien harus ketat: tidak ada penyakit penyerta dan tidak mendapat terapi
lain, dan setiap pasien harus dimonitor dengan intensif.
 Fase II awal pengujian efek terapi obat dikerjakan secara terbuka karena masih merupa-
kan penelitian eksploratif, karena itu belum dapat diambil kesimpulan yang mantap
mengenai efikasi obat yang bersangkutan.

 Fase II akhir atau fase III awal  Untuk menunjukkan bahwa suatu obat memiliki efek terapi,
perlu dilakukan uji klinik komparatif

 membandingkannya dengan plasebo; atau jika penggunaan plasebo tidak memenuhi


persyaratan etik, obat dibandingkan dengan obat standar (pengobatan terbaik yang
ada).

 Validitas uji klinik komparatif ini  alokasi pasien harus acak dan pemberian obat
dilakukan secara tersamar ganda Ini disebut uji klinik berpembanding, acak,
tersamar ganda.

 Pada fase II ini tercakup :

 studi kisaran dosis (dose-ranging study) untuk menetapkan dosis optimal yang akan
digunakan selanjutnya,

 dan penelitian lebih lanjut mengenai eliminasi obat, terutama metabolismenya.

 Jumlah subyek yang mendapat obat baru pada fase ini antara 100-200 pasien.

UJI KLINIK FASE III

 Uji klinik fase III dilakukan untuk memastikan efikasi terapi dari obat baru (sama dengan
penelitian pada akhir fase II) dan untuk mengetahui kedudukannya dibandingkan dengan
obat standar.

 Uji klinik ini sekaligus akan menjawab pertanyaan mengenai

 (1) efeknya jika digunakan secara luas dan diberikan oleh para dokter yang “kurang
ahli”;

 (2) efek samping lain yang belum terlihat pada fase II; dan

 (3) dampak penggunaannya pada pasien yang tidak diseleksi secara ketat.

 Uji klinik fase III dilakukan pada sejumlah besar pasien yang tidak terseleksi ketat (ada
penyakit penyerta dan/atau mendapat terapi lain) dan dikerjakan oleh peneliti klinik yang
tidak terlalu ahli, sehingga menyerupai keadaan sebenarnya dalam penggunaan sehari-hari
di masyarakat.

 Pada uji klinik fase III ini biasanya pembandingan dilakukan dengan

 plasebo,

 obat yang sama tetapi dosis berbeda,

 obat standar dengan dosis ekuiefektif,


 atau obat lain yang indikasinya sama dengan dosis yang ekuiefektif.

 Pengujian dilakukan secara acak dan tersamar ganda

 Jika hasil uji klinik fase III menunjukkan bahwa obat baru ini cukup aman dan efektif, maka
obat dapat diberikan ijin pemasaran.

 Jumlah pasien yang diikutsertakan pada fase III ini paling sedikit 500 orang.

UJI KLINIK FASE IV

 Fase ini sering disebut post-marketing drug surveillance karena merupakan pengamatan
terhadap obat yang telah dipasarkan.

 Fase ini bertujuan menentukan pola penggunaan obat di masayarakat serta pola efektivitas
dan keamanannya pada penggunaan yang sebenarnya.

 Survei ini tidak terikat pada protokol penelitian; tidak ada ketentuan tentang pemilihan
pasien, besarnya dosis, dan lamanya pemberian obat.

 Pada fase ini kepatuhan pasien makan obat merupakan masalah.

 Penelitian fase IV merupakan survei epidemiologik menyangkut efek samping maupun efek-
tivitas obat.

 Pada fase IV ini dapat diamati

 (1) efek samping yang frekuensinya rendah atau yang timbul setelah pemakaian obat
bertahun-tahun lamanya,

 (2) efektivitas obat pada pasien berpenyakit berat atau berpenyakit ganda, pasien
anak atau usia lanjut, atau setelah penggunaan berulangkali dalam jangka panjang,
dan

 (3) masalah penggunaan berlebihan, penggunaan yang salah (misuse),


penyalahgunaan (abuse), dan lain-lain.

 Studi fase IV dapat juga berupa uji klinik yang menggunakan protokol dengan kriteria seleksi
pasien.

 Tujuannya:

 (1) sebagai uji klinik tambahan mirip uji klinik pada fase III untuk melengkapi data sebelum
pemasaran yang tidak cukup akibat registrasi jalur cepat;

 (2) uji klinik pada populasi pasien yang belum cukup diteliti pada fase sebelum pemasaran,
misalnya pasien anak, usia lanjut; dan

 (3) uji klinik jangka panjang dalam skala besar untuk menentukan efek obat terhadap
morbiditas dan mortalitas, yang dilakukan dengan/tanpa kelompok pembanding.

 Data dari fase IV ini menentukan status obat yang bersangkutan dalam terapi.