Anda di halaman 1dari 4

Ahmad Huzein B 165020301111045

Gilang Wimana 165020301111046

Hukum dan Perkembangan Asuransi Syariah di Indonesia

Asuransi syariah (Ta’min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan
tolong-menolong sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau
tabarru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui
akad (perikatan) yang seusai dengan syariah (Fatwa MUI, 2001). Perkembangan asuransi
syariah di Indonesia semakin berkembang, dapat dilihat dari cukup banyaknya perusahaan
asuransi syariah dan juga penduduk yang mayoritas beragama islam. Pada dasarnya orang
islam memandang bahwa asuransi konvensional masih banyak mengandung unsur yang
dilarang oleh islam itu sendiri, seperti adanya unsur Gharar (ketidakjelasan), Riba, Maisir
(judi), dll. Dan juga didukung oleh lembaga otoritas fikih yang menyatakan ketidak bolehan
dalam sistem asuransi konvensional karena adanya unsur yang dilarang tersebut.
Sedangkan asuransi syariah sendiri berlandasan pada asas tolong-menolong dan
menyumbang dalam perusahaan asuransi syariah juga dibuat bukan untuk memperoleh
keuntungan (profit oriented).

Prinsip operasional dari asuransi syariah didasarkan pada syariat islam dengan
mengacu pada Al-Qur’an. Di dalam asuransi syariah juga sebagai takaful yang artinya saling
memikul resiko di antara sesama orang. Sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi
penanggung atas resiko yang lain. Di dalam asuransi syariah ada akad syariah yang telah
dijadikan landasan untuk menghindar dari unsur gharar, riba, dan maisir. Sehingga
masyarakat yang beragama islam tidak ragu untuk melakukan kegiatan di perusahaan
asuransi syariah.

Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 23/POJK.05/2015 Tentang


produk Asuransi dan Pemasaran Produk Asuransi, Pasal 12 Polis asuransi untuk produk
asuransi dengan prinsip syariah. Harus memuat hal-hal sebagai berikut:

1. Jenis akad yang digunakan


2. Hak, kewajiban, dan wawenang masing-masing pihak berdasarkan akad yang di
sepakati
3. Besar kontribusi yang dialokasikan ke dalam dana tabarru, ujrah, dan dana investasi.
4. Besar, waktu dan cara pembayaran bagi hasil investasi dalam hal produk asuransi
menggunakan akad mudharabah atau mudharabah musyarakah
5. Alokasi penggunaan surplus underwriting untuk dana tabarru, dana peserta,
dan/atau dana perusahaan
6. Pemberian qardh oleh perusahaan dalam hal dana tabarru tidak cukup untuk
membayar manddat asuransi

1|F i qi h M uam ala h


Ahmad Huzein B 165020301111045
Gilang Wimana 165020301111046

Dalam Fatwa Dewan Syariah No. 21/DSN-MUI/X/2001. Dalam pertanggungan asuransi


hidup (asuransi jiwa). Fatwa dewan syariah terdapat dua akad dalam asuransi syariah, yaitu:

1. Akad yang dilakukan antara peserta dan perusahaan terdiri atas akad tijarah
dan/atau akad tabarru
2. Akad tijarah yang dimaksud dalam ayat (1) yakni mudharabah. Adapun akad tabarru
adalah hibah

Dalam asuransi syariah diatur mengenai premi dan sumber pembiayaan klaim, dalam
pengaturannya berbeda dengan asuransi konvensional. Asuransi syariah memiliki unsur
tabarru’ dan tabungan (asuransi jiwa), dalam asuransi syariah ini sumber pembayaran klaim
didapat dari rekening tabbaru’. Rekening tabbaru’ ini adalah rekening dana dari peserta
yang di akadkan untuk tolong menolong untuk keperluan sesama peserta yang
membutuhkan (Prof Zainuddin Ali. 2008. Hukum Asuransi Syariah) . Akad tolong menolong
ini dibuat agar terhindar dari unsur gharar yaitu ketidak jelasan. Berbeda dengan asuransi
konvensional, dalam asuransi konvensional preminya terdiri dari mortality table, penerimaan
bunga, dan biaya biaya asuransi.

Dalam asuransi syariah jika mengalami profit atau keuntungan yang diperoleh dari
surplus underwriting, keuntungan tersebut tidak diakui oleh perusahaan tetapi akan dibagi
hasil kepada peserta berbeda dengan mekanisme asuransi konvensional. Dalam
mekanisme investasi, asuransi syariah tidak memiliki sistem dana yang di investasikan akan
hangus. Maksudnya jika peserta masuk dan menginvestasikan dananya lalu ada sesuatu
hal yang mengharuskan peserta untuk mengundarkan diri, dana tersebut atau premi yang
dimasukkan di awal dapat diambil kembali, kecuali dana yang sudah di niatkan sejak awal
untuk dana tabbaru’. Berbeda dengan asuransi konvensional yang tidak dapat mengambil
kembali dana yang sudah di investasikan, dana yang sudah di investasikan ketika peserta
mengundarkan diri tidak dapat diambil atau hangus (Prof Zainuddin Ali. 2008. Hukum
Asuransi Syariah). Perihal pembagian dana asuransi syariah, ketika peserta tidak
mengajukan klaim maka dana premi akan dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama pada
awal akad. berbeda dengan konvensional, ketika peserta tidak mengajukan klaim, maka
premi yang dibayar oleh peserta menjadi hak milik perusahaan.

Dalam asal usul asuransi syariah banyak literature islam menyimpulkan bahwa asuransi
tidak dipandang sebagai praktek yang halal, dikarenakan pada masa awal islam tidak
dikenal adanya asuransi. Tetapi dalam aktivitasnya, dulu pada masa awal islam terdapat
aktivitas yang mengarah kepada kegiatan asuransi. Seperti konsep tanggung jawab
bersama yang disebut aqilah (Dewi, Gemala. 2007. Aspek-Aspek Hukum Dalam Perbankan
Dan Persuransian Syariah Indonesia). Aqilah merupakan system menghimpun anggota

2|F i qi h M uam ala h


Ahmad Huzein B 165020301111045
Gilang Wimana 165020301111046

untuk menyumbang dalam suatu tabungan bersama yang disebut kunz. Tabungan ini
berfungsi untuk memberikan pertolongan kepada keluarga korban yang terbunuh secara
tidak sengaja atau untuk membebaskan para hamba sahaya. Dalam melaksanakan
prateknya, aqilah pada zaman Rasulullah tetap diterima sebagai bagian dari Hukum Islam
(Zainuddin Ali. Hukum Asuransi Syariah). Meskipun saat itu digunakan sebagai bentuk
pertanggung jawaban untuk membayar tebusan, namun pada zaman sekarang dapat
dikaitkan dengan kehidupan sosial ekonomi. Hal ini juga di perkuat dengan akad-akad yang
terdapat di asuransi syariah yang tujuannya untuk memberikan jaminan kepada pihak lain
yang sedang mengalami kesulitan.

Perkembangan Asuransi syariah di Indonesia sudah mulai berkembang, hal ini


diungkapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan yang menyebutkan bahwa pertumbuhan
asuransi syariah setiap tahunnya selalu lebih besar dibandingkan dengan asuransi
konvensional (Kasmir. 2004. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya). Dalam penerapannya
Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Tati Febriyanti menilai prosepek asuransi
syariah kedepannya akan berjalan semakin baik, hal itu diperkuat dengan dukungan dari
pemerintah yang ikut berperan aktif. Salah satu hal yang mendukung berkembangnya
asuransi syariah adalah berkembangnya sektor bank syariah di Indonesia saat ini.

Semakin berkembangnya asuransi syariah di Indonesia ini juga menuntut pemerintah


membuat peraturan perundang-undangan tentang asuransi syariah di Indonesia. Didalam
Negara Indonesia ini telah di atur mengenai peraturan perundang-undangan asuransi
syariah seperti :

1. Keputusan Mentri Keuangan Republik Indonesia Nomor 426/KMK.06/2003 tentang


perizinan usaha dan kelebbagaan perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi.
Pasal 3-4 mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh izin usaha perusahaan
asuransi dan reasuransi dengan prinsip syariah.
2. Keputusan Mentri Keuangan RepubliK Indonesia Nomor 424/KMK.06/2003 tentang
kesehatan keuangan perusahan asuransi dan perusahan reasuransi. Pasal 15-18
mengenai kekayaan yang diperkenankan harus dimiliki dan dikuasai oleh perusahaan
asuransi dan perusahaan reasuransi dengan prinsip syariah.
3. Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum
Asuransi
4. Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 53/DSN-MUI/III/2006 Tentang Akad Tabarru pada
asuransi syariah

3|F i qi h M uam ala h


Ahmad Huzein B 165020301111045
Gilang Wimana 165020301111046

Daftar Pustaka

Dewi, Gemala. 2007. Aspek-Aspek Hukum Dalam Perbankan Dan Persuransian Syariah
Indonesia. Jakarta. Kencana Prenada Media Grup.

Fatwa DSN No. 21/ DSN-MUI/X/ 2001, Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

Kasmir. 2004. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi keenam. Ctk.Kedelapan.
Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 23 /POJK.05/2015 Tentang “Produk Asuransi


Dan Pemasaran Produk Asuransi”, Pasal.12

Sula, Muhammad Syakir. asuransi syariah konsep dan sistem operasional. Jakarta: GIP,
2004.

Zainuddin Prof, Ali. 2008. Hukum Asuransi Syariah. Jakarta:Sinar Grafika

http://mps.fai-umj.ac.id/blog/2016/09/22/fatwa-dewan-syariah-nasional-no-21dsn-muix2001-
tentang-pedoman-umum-asuransi-syariah/ [Diakses Pada 16 Desember 2018]

4|F i qi h M uam ala h