Anda di halaman 1dari 38

DANA BOS (BANTUAN

OPERASIONAL SEKOLAH)
BOS adalah program pemerintah yang pada
dasarnya adalah untuk penyediaan
pendanaan biaya operasi nonpersonalia bagi
satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana
program wajib belajar.

http://bos.kemdikbud.go.id/home
Sasaran program BOS adalah semua sekolah
SD dan SMP, termasuk SMP (SMPT) dan
Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) yang
diselenggarakan oleh masyarakat, baik negeri
maupun swasta di seluruh provinsi di
Indonesia

http://bos.kemdikbud.go.id/home
Sehingga penerima BOS dapat diklasifikasi :
1. Sekolah Negeri
2. Sekolah Swasta

Konsekuensinya : Aspek Perpajakannya pun


berbeda
Penggunaan Dana BOS dapat dikelompokkan
menjadi 2 (dua), yaitu :

1. Belanja Barang/Jasa,
2. Pengeluaran untuk Honorarium Guru
dan bantuan Siswa

(SE Dirjen Pajak No. SE-02/PJ./2006)


Antara lain meliputi :
1) Pembelian ATK/bahan/penggandaan dan lain-lain:
a) untuk keperluan pengadaan formulir pendaftaran;
b) untuk keperluan ujian sekolah, ulangan umum bersama dan
ulangan umum harian.
2) Pembelian bahan-bahan habis pakai, seperti buku tulis, kapur tulis,
pensil dan bahan praktikum;
3) Pembelian bahan-bahan untuk perawatan/perbaikan ringan
gedung sekolah;
4) Pembelian peralatan ibadah oleh pesantren salafiyah;
5) Pengadaan buku pelajaran pokok dan buku penunjang untuk perpustakaan;
6) Pembayaran honor atas jasa tenaga kerja lepas, seperti tukang bangunan atau
tukang kebun, untuk pekerjaan perawatan dan pemeliharaan Bangunan
sekolah;
7) Pembayaran imbalan jasa perawatan atau pemeliharaan gedung sekolah kepada
pemberi jasa berbentuk badan usaha bukan orang pribadi.
1) Pembayaran honorarium guru honorer (non
PNS) dan guru PNS yang merangkap di
sekolah swasta;
2) Pemberian bantuan biaya transportasi bagi
siswa miskin.
Jika Dana BOS diberikan ke Sekolah Negeri , maka
penanggung jawab atau bendaharawan BOS merupakan
pemungut PPN
Jika Dana BOS diberikan ke Sekolah Swasta, maka
penanggung jawab atau bendaharawan BOS merupakan
bukan pemungut PPN

Atas belanja barang yang dananya berasal dari dana BOS


maka :
-PPh Pasal 22 nya tidak dipungut
(PMK Nomor 154/PMK.03/2010 tgl 31 Agustus 2010)
-Akan tetapi bendahawan BOS yang pemungut PPN tetap wajib
memungut PPN nya jika nilai belanja lebih dari Rp.1.000.000
Kewajiban Perpajakan Yang Terkait Dengan
Penggunaan BOS
1) Pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan
berupa honorarium atau gaji;
2) Pemotongan PPh Pasal 23 atas penghasilan
pemberi jasa;
3) Pemungutan PPN atas pembelian Barang Kena
Pajak dan Perolehan Jasa Kena Pajak, dalam
hal penanggung jawab atau bendaharawan
BOS merupakan Pemungut PPN.
4) Pelunasan Bea Meterai
Penanggung jawab atau bendaharawan BOS
pada sekolah swasta penerima dana BOS
harus terdaftar sebagai wajib pajak dan
memiliki NPWP.
GAJI
PEMBAYARAN HONOR
UPAH
UANG TRANSPORT
DLL
UU No.7 Tahun 1983 stdtd UU No.36 Tahun 2008
tentang Pajak Penghasilan Pasal 21
PP No. 80 tahun 2010 tentang tarif pemotongan dan
pengenaan PPh Pasal 21 atas penghasilan yang
menjadi beban APBN atau APBD
Permenkeu 262/PMK.03/2010 tentang Tata Cara
Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi Pejabat
Negara, PNS, Anggota TNI, Anggota POLRI, dan
Pensiunannya atas Penghasilan yang Menjadi Beban
APBN atau APBD
PerdirjenPajak Nomor 31/PJ/2009 diubah dengan
Nomor 57/PJ/2009 tentang pedoman teknis
Pemotongan PPh Pasal 21
1. GAJI & TUNJANGAN dikurangi Biaya Jabatan, Iuran
Pensiun dan PTKP = Penghasilan Kena Pajak
(Tarif PPh pasal 17)

2. HONOR*) PNS Gol. IV = 15% (FINAL)


Gol. III = 5% (FINAL)
Gol. I dan II = 0%
NON PNS ber NPWP = 5%
Tdk ber NPWP = 6%
*) Pembayaran lain dengan nama apa pun, kecuali
biaya perjalanan dinas perlakuannya dipersamakan
dengan honor
3. HONOR kepada BUKAN PEGAWAI (NON PNS)
Yang termasuk kategori bukan pegawai (non PNS) antara lain :
tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari
pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan
aktuaris;
pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film,
bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model,
peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis,
dan seniman lainnya;
olahragawan
penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
pengarang, peneliti, dan penerjemah;
pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik komputer dan
sistem aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi,
dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan;
pengawas atau pengelola proyek;
Jika diberikan secara bulanan maka dapat diklasifikasikan
sebagai pegawai tetap, tarif :
-BerNPWP : Bruto dikurangi Biaya Jabatan, iuran Pensiun dan
PTKP x 5%
-Tidak BerNPWP : Bruto dikurangi Biaya Jabatan, Iuran Pensiun
dan PTKP x 6%
Jika honorarium merupakan insentif atau tambahan dan
hanya diberikan dalam hal GTT/PTT tersebut melaksanakan
kegiatan tertentu lainnya maka masuk dalam kategori :
Peserta Kegiatan
tarif : 5% X Bruto --- ber NPWP
6% X Bruto --- tidak ber NPWP
(Sumber : Surat Dirjend pajak Nomor S-03/PJ.43/2006)

Bantuan Biaya Transpor Untuk Siswa Miskin :


Bukan Obyek Pajak (Tidak Dipotong PPh Pasal 21)
4.UPAH HARIAN/MINGGUAN (PMK.206/PMK.011/2012)
UPAH PERHARI<200.000 TDK DIPOTONG PAJAK
UPAH PERHARI>200.000 MAKA SISANYA
DIKENAKAN PAJAK 5% yg ber NPWP
DAN 6%(TDK berNPWP)
CONTOH
Upah Budi 40.000 maka tdk dipotong pajak
Upah Anto 210.000 maka 210.000-
200.000=10.000
PPh 21 Anto = 5% X 10.000 = Rp 500
PPh Pasal 21 dipotong oleh bendaharawan
pada saat pembayaran penghasilan (membuat
bukti potong)
Penyetoran paling lambat tanggal 10 bulan
berikutnya menggunakan SSP atas nama
Bendaharawan dan ditandatangani dan dicap
oleh bendaharawan pemotong
dengan kode setor 411121-402 untuk PNS
dan kode setor 411121-100 untuk selain PNS
Pelaporan menggunakan formulir SPT 1721 ke
KPP Pratama
URAIAN SETAHUN SEBULAN
DIRI PEGAWAI 24.300.000 2.025.000
TAMBAHAN UNTUK PEGAWAI YANG KAWIN 2.025.000 168.750
TAMBAHAN UNTUK SETIAP ANGGOTA
KELUARGA SEDARAH DAN SEMENDA DLM
GARIS KETURUNAN LURUS SERTA ANAK 2.025.000 168.750
ANGKAT YG DITANGGUNG SEPENUHNYA, MAKS
3 ORANG

STATUS Mulai 2013 STATUS Mulai 2013


TK/0 24.300.000 K/0 26.325.000
TK/1 26.325.000 K/1 28.350.000
TK/2 28.350.000 K/2 30.375.000
TK/3 30.375.000 K/3 32.400.000
PTKP UNTUK KARYAWATI

STATUS KAWIN
SUAMI
STATUS TDK
STATUS KAWIN TDK MENERIMA/
KAWIN
MEMPEROLEH
PENGHASILAN

- UTK DIRI
HANYA UTK DIRI - UTK DIRI
SENDIRI
SENDIRI, YAITU SENDIRI
- STATUS KAWIN
RP 13.200.000,00 - TANGGUNGAN
- TANGGUNGAN
SETAHUN MAKS 3 ORG
MAKS 3 ORG

SYARAT.
MENUNJUKKAN KET. TERTULIS DARI
PEMERINTAH DAERAH SETEMPAT
SERENDAH-RENDAHNYA
KECAMATAN
BELANJA JASA
UU No. 36 Tahun 2008 tentang perubahan
keempat atas UU No. 7 Tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan pasal 23
Permenkeu 244/PJ.03/2008 tentang jenis jasa
lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23
ayat (1) huruf c angka 2 UU No. 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008
PEMOTONG PPh PASAL 23/26
Pasal 23 ayat (1)dan ayat (3)

ADALAH :
• BADAN PEMERINTAH
• SUBJEK PAJAK BADAN DALAM NEGERI
• PENYELENGGARA KEGIATAN
• BENTUK USAHA TETAP
• PERWAKILAN PERUSAHAAN LUAR
NEGERI LAINNYA
• ORANG PRIBADI TERTENTU
YANG DITUNJUK DIRJEN PAJAK

Saat MEMBERIKAN PENGHASILAN


YANG BERASAL

BARANG PENYERAHAN PENYELENG. KEGIATAN


MODAL JASA SELAIN YG TLH DIPOTONG
PPh PSL 21
No. Jenis Penghasilan (ber- (tidak ber-
NPWP) NPWP)
1 Dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) 15% 30%
huruf g UU PPh
2 Bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) 15% 30%
huruf f UU PPh
3 Royalti 15% 30%

4. Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain 15% 30%


yang telah dipotong PPh 21
5. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan 2% 4%
penggunaan harta, kecuali sewa dan penghasilan lain
sehubungan dengan penggunaan harta yang telah
dikenai PPh Final pasal 4 (2)
6. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa 2% 4%
manajemen, jasa konsultan
7 Jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21 yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan PMK-
244/PMK.03/2008 dengan tarif 2%
a. Jasa penilai (appraisal);

b. Jasa aktuaris;

c. Jasa akuntansi, pembukuan, dan asestasi laporan keuangan;

d Jasa perancang (design);

e Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas), kecuali
yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap;
f Jasa penunjang di bidang penambangan migas :

g Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas :

h Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara:


1) bidang aeronautika, termasuk :
2) bidang non-aeronatika, termasuk :
i Jasa penebangan hutan;

j Jasa pengolahan limbah;

k Jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing services);

l Jasa perantara dan/atau keagenan;

m Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek,
KSEI dan KPEI;
n Jasa custodian/penyimpanan/penitipan, kecuail yang dilakukan oleh KSEI;

o Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara

p Jasa mixing film;

q Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan;

r Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC, dan/atau TV kabel, selain yang
dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau
sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
s Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, perawatan, listrik, telepon, air, gas, AC, TV Kable, alat
transportasi/kendaraan dan/atau bangunan selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;

t Jasa maklon

u Jasa penyelidikan dan keamanan;

v Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer; yaitu kegiatan usaha yang dilakukan oleh pengusaha
jasa penyelenggara kegiatan meliputi antara lain penyelenggaraan pameran, konvensi, pagelaran musik,
pesta, seminar, peluncuran produk, konferensi pers, dan kegiatan lain yang memanfaatkan jasa
penyelenggara kegiatan
w Jasa pengepakan;

x Jasa penyediaan tempat dan / atau waktu dalam media masa, media luar ruang atau media lain untuk
penyampaian informasi;
y Jasa pembasmian hama;

z Jasa kebersihan atau cleaning service;

aa Jasa catering atau Jasa boga


TARIF PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)= 10%
DANA APBN = JASA (DPP) + PPN =
KONTRAK = 100% + 10% = 110%
JASA (DPP) = 100/110 X DANA APBN (KONTRAK)
PPN = 10/110 X DANA APBN
atau = 10% X JASA (DPP)
TARIF PPh 23 = 2%X DPP(Rekanan BerNPWP)
4% X DPP (Rekanan non NPWP)
Service Komputer Rp 1.100.000,-
Tgl Pembayaran 20 April 2014
Dasar Pengenaan Pajak (DPP) 100/110 x 1.100.000 Rp 1.000.000,-

PPN 10 % x 1.000.000 Rp 100.000,-

PPh pasal 23 2% x 1.000.000 Rp 20.000,- (Rekanan ber-NPWP)

4% x 1.000.000 Rp 40.000,- (Rekanan Tidak ber-NPWP)

PPh pasal 23 10 Mei 2014


Batas Waktu Penyetoran
PPN 7 Mei 2014

PPh pasal 23 20 Mei 2014


Batas Waktu Pelaporan
PPN 14 Mei 2014
TATA CARA PEMOTONGAN
PPh PASAL 23

DILAKUKAN PADA SAAT PENGHASILAN DIBAYARKAN

BUKTI PEMOTONGAN

F.1.1.33.01 1 UNTUK REKANAN


2 LAMPIRAN SPT MASA PPh
3 PASAL 23
ARSIP PEMOTONG
TATA CARA PENYETORAN
PPh PASAL 23

JUMLAHKAN PPh PSL 23 DALAM


BUKTI PEMOTONGAN
SELAMA SATU BULAN TAKWIM

DISETOR KE BANK PERSEPSI ATAU


KANTOR POS DAN GIRO DGN MENGGUNAKAN
SSP atas nama Bendaharawan dan Kode Setor 411124-100

PALING LAMBAT TGL 10 BULAN TAKWIM


BERIKUTNYA SETELAH BULAN SAAT
TERUTANGNYA PAJAK

APABILA TGL 10 JATUH PD HARI LIBUR,


MAKA PENYETORAN DILAKUKAN PADA
HARI KERJA BERIKUTNYA
TATA CARA PELAPORAN
PPh PASAL 23/26

MENGISI DGN LENGKAP DAN BENAR


SPT MASA PPh PSL 23/26 (KP.PPh 1.9/2000)
RANGKAP 2

LAMPIRAN
•LEMBAR KE-3 SSP BUKTI SETORAN PPh PSL 23/26
•(atas nama npwp bendaharawan, kode setor 411124-100,
•ditandatangani dan dicap bendaharawan)
* DAFTAR BUKTI PEMOTONGAN PPh PSL 23/26 (D.1.1.32.05)
* LEMBAR KE-2 BUKTI PEMOTONGAN (F.1.1.33.01)
SELAMBAT-LAMBATNYA
KE KPP TANGGAL 20 BULAN
PRATAMA BERIKUTNYA

PD HARI KERJA JIKA JATUH PD


BERIKUTNYA HARI LIBUR
ATAS
BELANJA BARANG
DAN
BELANJA JASA
UU Nomor 42 Tahun 2009 perubahan keempat
atas UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai
PP 144 tahun 2000 tentang barang dan jasa yg
tidak kena PPN
PP 12 tahun 2001 stdtd PP 31 tahun 2007
Tentang Impor dan atauPenyerahan Barang Kena
Pajak Tertentu yg bersifat strategis yg
dibebaskan dari pengenaan PPN
Kepmenkeu 563/KMK.03/2003 tentang
Penunjukan Bendaharawan Pemerintah dan KPPN
untuk Memungut, Menyetor dan Melaporkan PPN
dan PPnBM
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang
dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak
dan/atau Jasa Kena Pajak di dalam daerah Pabean.
Pengenaan PPN pada prinsipnya semua Barang dan
Jasa dikenakan PPN, kecuali yang dikecualikan oleh
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Bendahara HARUS mencari rekanan PKP, apabila
terpaksa/sulit menemukan rekanan PKP maka
sementara dengan rekanan non PKP dengan syarat
tidak boleh membuat Faktur Pajak/ membuatkan
Faktur Pajak.
1. Pembayaran yg jumlahnya paling banyak Rp
1.000.000 (termasuk PPN) dan tidak merupakan
pembayaran yang terpecah-pecah
2. Pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci
dan buku-buku pelajaran agama
3. Pembelian barang hasil pertambangan yang diambil
langsung dari sumbernya
4. Barang-barang kebutuhan pokok, barang hasil
pertanian
5. Makanan ternak,unggas dan ikan
6. Bibit dan atau benih pertanian, perkebunan,
kehutanan, peternakan dan perikanan
7. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel,
restoran, rumah makan dan sejenisnya
8. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik seperti Jasa
rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan,
laboratorium kesehatan, dan sanatorium;
9. Jasa di bidang pelayanan sosial;
10. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko
11. Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna
usaha dengan hak opsi;
12. Jasa di bidang keagamaan;
13. Jasa di bidang pendidikan;
14. Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah
dikenakan Pajak Tontonan;
15. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan;
16. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air;
17. Jasa di bidang tenaga kerja;
18. Jasa dibidang perhotelan meliputi jasa persewaan
kamar termasuk fasilitas yang terkait dengan kegiatan
perhotelan untuk tamu yang menginap dan jasa
persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau
pertemuan dihotel, penginapan, motel, losmen dan
hostel
19. Jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka
menjalankan pemerintahan secara umum
20. Jasa Catering (mulai 1 April 2010)
PPN dipungut oleh bendaharawan pada saat
pembayaran
Penyetoran menggunakan SSP atas nama Wajib
Pajak Rekanan, Kode Setor 411211-900 serta
ditandatangani dan dicap oleh bendaharawan
pemungut paling lambat tanggal 7 bulan
berikutnya
Pelaporan menggunakan formulir 1107 PUT ke
KPP Pratama

SOSIALISASI PERPAJAKAN 37
UU No.13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai
Permenkeu nomor 55/PMK.03/2009
KepdirjenPajak Nomor 02/PJ/2003

Bea Meterai adalah Pajak atas dokumen.


Dokumen yg memuat jumlah uang atau dokumen
kontrak /perjanjian.
Penerima Dokumen terutang Bea Meterai
-3.000 atas bukti pembayaran senilai 250.000 s.d 1 juta
- 6.000 atas bukti pembayaran senilai diatas 1 juta
- 6.000 atas dokumen kontrak/perjanjian