Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Civics Volume 14 Nomor 2, Oktober 2017

Pendidikan Kewarganegaraan: usaha konkret untuk memperkuat


multikulturalisme di Indonesia

Arif Prasetyo Wibowo dan Margi Wahono


Universitas Pendidikan Indonesia
Universitas Negeri Semarang
arifprasetyowibowo08@gmail.com

Abstract
Civic Education has a strategic role in strengthening multiculturalism in
Indonesia. However, the contents of civic learning at the elementary level up to
university level are showing lack of phenomenon that explores the multicultural
values based on local wisdom (local genius). This research is a literature study
by finding reference theories relevant to the cases or problems found. The
reference theory obtained by method of literature study was presented as the
foundation. It was found that: (1) The primordially knowledge, attitude and
behavior of Indonesian society are kinds of things that impede Civics Education
as a medium for strengthening multiculturalism in Indonesia; (2) Civic
Education has great potential to become the foundation for multicultural
strengthening in Indonesia with attention to innovation and development of the
content, as well as the learning model. (3) Civic Education has a philosophical
meaning as the foundation of ligature strength in the establishment of pluralism
multicultural mentalities in order to realize national goals and nation’s
modernization without abandoning the local wisdom.

Keywords: civics education, multicultural citizenship, local wisdom

Pendahuluan menodai kerukunan antar umat beragama


Negara Indonesia adalah negara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik
kepulauan yang terdiri dari beraneka ragam Indonesia (Tempo, 2016). Ancaman internal
suku bangsa dan adat istiadat, hal ini adalah yang menimbulkan konflik di masyarakat
karunia Tuhan yang wajib disyukuri. yang bersifat komunal dalam keberagaman
Kemajemukan yang miliki Indonesia masyarakat indonesia sejatinya telah
sejatinya merupakan suatu kekuatan yang diidentifikasi oleh Departemen Pertahanan
apabila persatuan dan kesatuan ini goyah Republik Indonesia bahwa Indonesia
dapat dijadikan kelemahan. Dewasa ini menempatkan isu-isu ideologi, politik,
terdapat banyak sekali konflik yang terjadi ekonomi, sosial budaya, teknologi dan
dalam keseharian kehidupan bermasyarakat, informasi kedalam lingkup pertahanan negara
berbangsa dan bernegara di Indonesia. Perang berdimensi nirmiliter (2008, p. 7). Konflik
saudara antar suku, agama, dan kepentingan horizontal yang terjadi di masyarakat
lainnya dapat mengganggu jalannya merupakan signal kuat yang harus diwaspadai
pembangunan nasional. Hal ini dibuktikan oleh pemerintah dan seluruh elemen warga
dengan adanya kerusuhan di Tanjung Balai, negara sebagai bentuk ancaman Devide et
Medan, Sumatera Utara pada Tanggal 29 Juli Impera gaya baru dalam menghancurkan
2016 yang mengandung unsur SARA (Suku, persatuan dan kesatuan Negara Republik
Agama, Ras dan Antar golongan) sehingga Indonesia.

196
Pendidikan Kewarganegaraan: usaha …. Arif Prasetyo dan margi Wahono

Sebagai upaya untuk mempercepat tersebut, pendidikan kewarganegaraan dapat


tercapainya tujuan nasional sesuai yang menjadi salah satu solusi jitu sebagai sarana
termaktub dalam Pembukaan Undang- dalam mempersiapkan warga negara yang
Undang Dasar Negara Republik Indonesia baik di tengah kompleksitas keberagaman
Tahun 1945. Pada masa pemerintahan yang berada di Indonesia. Yang dikarenakan
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Pendidikan Kewarganegaraan memiliki
Jusuf Kalla mengeluarkan arahan kebijakan makna filosofis sebagai fondasi kekuatan
yang juga menjadi visi dan misi dari integrasi ligatur dalam pembentukan mental
pembangunan negara ke depan. Hal ini multikultural pluralisme guna mewujudkan
diterangkan oleh Kementerian Pertahanan cita-cita nasional serta pemodernan bangsa
(2015, p. 36) yakni terwujudnya Indonesia dan negara tanpa meninggalkan kearifan lokal
yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian yang telah diajarkan para leluhur sejak dulu.
berlandaskan gotong royong yang dijabarkan Metode
melalui tujuh misi pembangunan dan Pendekatan penelitian ini adalah
sembilan agenda prioritas atau yang lebih kualitatif dengan sumber data pertama,
dikenal dengan sebutan NAWACITA. sumber bahan cetak (kepustakaan), meliputi
Adapun salah satu poin yang merupakan buku, jurnal, makalah dan literatur hasil
perwujudan dalam upaya percepatan penelitian tentang Pendidikan
pembangunan nasional ini diantaranya adalah Kewarganegaraan. Kedua, sumber data
dengan melakukan revolusi karakter bangsa berupa dokumen analisis yang meliputi hasil
melalui kebijakan penataan kembali dokumen-dokumen kenegaraan tentang
kurikulum pendidikan nasional dengan kurikulum pendidikan kewarganegaraan
mengedepankan aspek Pendidikan sekolah menengah atas dari tahun 1975-2013.
Kewarganegaraan (Civic Education) yang Teknik pengumpulan data dan informasi
menempatkan secara proporsional aspek yang digunakan adalah teknik pengumpulan
pendidikan, seperti: pengajaran sejarah data kualitatif yang meliputi studi
pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dokumentasi, dan studi pustaka. Sementara
dan cinta tanah air, semangat bela negara dan itu proses analisis data yang digunakan
budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan peneliti adalah reduksi data, display data,
Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian verifikasi dan penarikan kesimpulan (Miles &
terdahulu yang dilakukan oleh Santoso, Huberman, 1992).
Almuchtar, dan Abdulkarim (2015, p. 108) Hasil dan Pembahasan
menunjukkan bahwa kelemahan Pendidikan Perkembangan mata pelajaran
Kewarganegaraan di Indonesia ada pada sisi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di
pengajaran yang bersifat monoton tidak Indonesia memiliki sejarah panjang dalam
inovatif (overload and overlapping content) peranannya mempersiapkan warga negara
dan lebih menitik beratkan hanya pada yang baik sesuai dengan hak dan
kognitif, sedangkan afektif dan psikomotorik kewajibannya. PKn juga telah banyak
ditiadakan serta tidak dimasukan pada ujian mengalami pergantian nama dan kurikulum
nasional selama enam dekade sejak awal berdirinya
Dari berbagai permasalahan yang terjadi sebagai salah satu bidang studi tahun 1947
di Indonesia terkait multikultural pluralisme hingga saat ini. Menurut Nuh “Tidak ada

197
Jurnal Civics Volume 14 Nomor 2, Oktober 2017

kurikulum yang abadi, kurikulum berubah program kurikuler dimulai dengan


karena perubahan zaman, bukan karena diintroduksikannya mata pelajaran Civics
kurikulum sekarang yang jelek atau salah. dalam Kurikulum SMA tahun 1962 yang
Sudah benar itu di zamannya. Tapi zaman berisikan materi tentang pemerintahan
berubah dan kita harus ikut berubah” (Santoso Indonesia berdasarkan Undang-Undang
et al., 2015, p. 86). Pengembangan serta Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
evaluasi kurikulum pendidikan 1945 (Winataputra, 2012, p. 3). Selanjutnya
kewarganegaraan di Indonesia memiliki Somantri (1969, p. 7)menjelaskan pada saat
kekhasan masing-masing dalam setiap itu mata pelajaran Civics atau
pergantian konten pada masanya, jadi tidak Kewarganegaraan pada dasarnya berisikan
ada kurikulum yang abadi. pengalaman belajar yang digali dan dipilih
Konsep kurikulum berkembang sejalan dari disiplin ilmu sejarah, geografi, ekonomi,
dengan perkembangan teori dan praktik dan politik, pidato-pidato presiden, deklarasi
pendidikan serta bervariasi sesuai dengan Hak Asasi Manusia, dan pengetahuan tentang
aliran atau teori pendidikan yang dianut oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa”.
setiap negara. Kurikulum merupakan program Dari penjelasan tersebut, dapat ditarik
pendidikan yang disediakan oleh lembaga kesimpulan mengenai fokus kajian pada
pendidikan bagi kegiatan belajar, sehingga kurikulum pendidikan moral tahun 1945-
mendorong perkembangan dan 1964 berfokus pada pembahasan mengenai
pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pengetahuan umum yang di dalamnya digali
pendidikan yang telah ditetapkan (Madjid, dan dipilih dari mata pelajaran sejarah,
2014, p. 1). Perkembangan dan pertumbuhan geografi, ekonomi, dan politik yang berkaitan
suatu kurikulum dalam sistem pendidikan dengan pelajaran Tata Negara dan Tata
memiliki sifat yang dinamis, sehingga dalam Hukum.
pembentukannya disesuaikan dengan Pada tahun 1968 sampai 1969
kebutuhan pada masa penerapan praktik penggunaan istilah Civics dan Pendidikan
kurikulum tersebut. Kewargaan Negara digunakan secara
Hal ini yang terjadi pula pada mata bertukar-pakai (interchangeably). Misalnya
pelajaran PKn di Indonesia yang diantaranya dalam kurikulum SD 1968 digunakan istilah
adalah istilah Civics secara formal tidak Pendidikan Kewargaan Negara yang dipakai
dijumpai dalam kurikulum tahun 1957 sebagai nama mata pelajaran, yang di
maupun kurikulum tahun 1946. Namun dalamnya tercakup sejarah Indonesia,
secara materiel dalam kurikulum SMP dan geografi Indonesia, dan “civics”
SMA tahun 1957 terdapat mata pelajaran Tata (diterjemahkan sebagai pengetahuan
Negara dan Tata Hukum, dan dalam kewargaan negara). Di dalam kurikulum SMP
kurikulum 1946 terdapat mata pelajaran 1968 digunakan istilah Pendidikan
Pengetahuan Umum yang di dalamnya Kewargaan Negara yang berisikan sejarah
memasukan pengetahuan mengenai Indonesia dan Konstitusi termasuk Undang-
pemerintahan (Winataputra, 2012, p. 3). Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Secara historis-epistemologi dan historis- Tahun 1945.
pedagogis menurut Dept. P&K (1962) Sedangkan di dalam kurikulum SMA
Pendidikan Kewarganegaraan sebagai terdapat mata pelajaran Kewargaan Negara

198
Pendidikan Kewarganegaraan: usaha …. Arif Prasetyo dan margi Wahono

yang berisikan materi, terutama yang berisikan materi Pancasila sebagaimana


berkenaan dengan Undang-Undang Dasar diuraikan dalam Pedoman Penghayatan dan
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengamalan Pancasila atau P4. Perubahan ini
Sementara itu di dalam Kurikulum SPG 1969 sejalan dengan misi pendidikan yang
mata pelajaran Pendidikan Kewargaan diamanatkan oleh Tap. MPR II/MPR/1973
Negara isinya terutama berkenaan dengan tentang Pedoman Penghayatan dan
sejarah Indonesia, Konstitusi, pengetahuan Pengamalan Pancasila. Selanjutnya mata
kemasyarakatan dan Hak Asasi Manusia pelajaran Pendidikan Moral Pancasila ini
(Winataputra, 2012, p. 3). merupakan mata pelajaran wajib untuk SD,
Pada masa Kurikulum 1973, kurikulum SMP, SMA, SPG dan Sekolah Kejuruan.
Civic Education (Pendidikan Kewargaan Ruang lingkup materi pembahasan secara
Negara) di dalam Kurikulum Proyek Perintis keseluruhan mata pelajaran ini diantaranya
Sekolah Pembangunan digunakan beberapa adalah civics, sejarah kebangsaan, kejadian
istilah, yakni Pendidikan Kewargaan Negara, setelah Indonesia merdeka, UUD 1945,
Studi Sosial, “Civics” dan Hukum. Untuk masing-masing sila Pancasila, pesan
sekolah dasar 8 tahun pada Proyek Perintis pentingnya pembangunan (seperti rencana
Sekolah Pembangunan digunakan istilah pembangunan lima tahun dan Garis Besar
Pendidikan Kewargaan Negara yang Haluan Negara) bagi bangsa Indonesia,
merupakan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan doktrin kenegaraan yang spesifik, membahas
Sosial terpadu atau identik dengan integrated persoalan moral dan sebagainya, visi misinya
social studies di Amerika. Di sini istilah berorientasi pada value inculcation dengan
Pendidikan Kewargaan Negara kelihatannya muatan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945
diartikan sama dengan Pendidikan Ilmu (Santoso et al., 2015, pp. 89–90).
Pengetahuan Sosial. Di sekolah menengah Perkembangan Kurikulum pada tahun
pertama 4 tahun digunakan istilah Studi 1984 membuat Pemerintah memberlakukan
Sosial sebagai pengajaran Ilmu Pengetahuan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989
Sosial yang terpadu untuk semua kelas dan tentang Sistem Pendidikan Nasional yang
pengajaran IPS yang terpisah-pisah dalam menggariskan adanya Pendidikan Pancasila
bentuk pengajaran geografi, sejarah, dan dan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai
ekonomi sebagai program major pada jurusan bahan kajian wajib kurikulum semua jalur,
Ilmu Pengetahuan Sosial. Selain itu juga jenis dan jenjang pendidikan (Pasal 39) pada
terdapat mata pelajaran Pendidikan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila,
Kewargaan Negara sebagai mata pelajaran Kurikulum Pendidikan Dasar dan Sekolah
inti yang harus ditempuh oleh semua siswa. Menengah 1994 mengakomodasikan misi
Sedangkan mata pelajaran Civics dan Hukum baru pendidikan tersebut dengan
diberikan sebagai mata pelajaran major pada memperkenalkan mata pelajaran Pendidikan
jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial Pancasila dan Kewarganegaraan atau PPKn
(Winataputra, 2012, p. 4). (Winataputra, 2012, p. 4). Ruang lingkup
Dalam Kurikulum 1975 istilah materi dalam pembahasan mata pelajaran
Pendidikan Kewargaan Negara diubah Pendidikan Moral Pancasila ini diantaranya
menjadi Pendidikan Moral Pancasila atau adalah mengenai Hak Asasi Manusia, asas
yang lebih dikenal dengan sebutan PMP yang dan makna keadilan, UUD 1945, lembaga-

199
Jurnal Civics Volume 14 Nomor 2, Oktober 2017

lembaga negara, badan peradilan, terutama digunakan adalah ceramah dan tanya
kemerdekaan Indonesia, kerja sama jawab (Budimansyah, 2010).
internasional, dan kajian terhadap Pancasila Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.
itu sendiri (Santoso et al., 2015, pp. 89–90). 25 Tahun 2000 maka Pemerintah melalui
Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, Departemen Pendidikan Nasional melakukan
Kurikulum PPKn 1994 pengorganisasian penyusunan standar nasional untuk seluruh
materi dilakukan bukan atas dasar rumusan mata pelajaran yang ada di Indonesia, adapun
butir-butir nilai Pedoman Penghayatan dan komponen-komponen yang disusun oleh
Pengamalan Pancasila (P4), tetapi atas dasar pemerintah tersebut adalah (1) standar
konsep nilai yang diambil dari inti P4 dan kompetensi, (2) kompetensi dasar, (3) materi
sumber resmi lainnya yang ditata dengan pokok, dan (4) indikator pencapaian. Dengan
menggunakan pendekatan spiral meluas atau dikeluarkannya Peraturan Pemerintah
spiral of concept development (Winataputra, tersebut, maka terjadi pergantian nama dan
2012, p. 4) . Pendekatan ini kurikulum juga terhadap mata pelajaran yang
mengartikulasikan sila-sila Pancasila dengan semula Pendidikan Pancasila dan
jabaran nilainya untuk setiap jenjang Kewarganegaraan (PPKn) menjadi
pendidikan dan kelas serta catur wulan dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan
setiap kelas. Kurikulum Berbasis Kompetensi atau yang
Sehingga materi pembahasan dalam lebih dikenal dengan sebutan KBK pada
PPKn ini memiliki ruang lingkup pertama, tahun 2004. Materi pembahasan dalam mata
nilai, moral dan norma serta perilaku yang pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ini
diharapkan terwujud dalam kehidupan memiliki ruang lingkup mengenai persatuan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bangsa dan negara, Nilai dan norma (agama,
sebagaimana dimaksud dalam P4. Kedua, kesusilaan, kesopanan dan hukum), Hak
Kehidupan ideologi politik ekonomi, sosial, Asasi Manusia, Kebutuhan hidup warga
budaya, pertahanan, dan keamanan serta negara, Kekuasaan dan politik, masyarakat
perkembangan ilmu pengetahuan dan demokratis, Pancasila dan konstitusi negara,
teknologi dalam wadah kesatuan negara globalisasi; namun materi ini mengusung misi
kesatuan Republik Indonesia yang pendidikan nilai dan moral (Santoso et al.,
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 2015)
(Santoso et al., 2015, pp. 89–90). Proses pengembangan Kurikulum
Hal ini dikarenakan dalam kurikulum Berbasis Kompetensi ini menggunakan
1994 untuk PPKn diartikan sebagai mata asumsi bahwa siswa yang akan belajar telah
pelajaran yang digunakan sebagai wahana memiliki pengetahuan dan keterampilan awal
untuk mengembangkan dan melestarikan nilai yang dibutuhkan untuk menguasai
luhur dan moral yang berakar pada budaya kompetensi tertentu. Oleh karenanya
bangsa Indonesia. Kurikulum 1994 lebih pengembangan kurikulum 2004
mengarahkan peserta didik untuk menguasai memperhatikan prinsip-prinsip berikut; (1)
materi pengetahuan. Materi pengetahuan berorientasi pada pencapaian hasil dan
diberikan pada peserta didik sesuai dengan dampaknya (outcome oriented), (2) berbasis
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan pada Standard Kompetensi dan Kompetensi
sebelumnya. Metode belajar di kelas yang Dasar, (3) Bertolak dari Kompetensi Lulusan,

200
Pendidikan Kewarganegaraan: usaha …. Arif Prasetyo dan margi Wahono

(4) Memperhatikan prinsip pengembangan namun dalam pelaksanaannya didasarkan


kurikulum yang terdiferensiasi, (5) pada Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun
mengembangkan aspek belajar secara utuh 2013 tentang Perubahan atas Peraturan
dan menyeluruh (holistik), (6) menerapkan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
prinsip ketuntasan belajar (mastery learning) Standar Nasional Pendidikan. Perubahan
(Budimansyah & Suryadi, 2008, p. 14) kurikulum tersebut berdampak pula terhadap
Pada kurikulum tahun 2006 ini mata mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia, yang semula menggunakan
(PKn) memiliki tujuan agar peserta didik istilah Pendidikan Kewarganegaraan atau
memiliki kemampuan; (1) berpikir kritis, yang lebih dikenal dengan sebutan PKn
rasional dan kreatif dalam menanggapi isu berubah kembali menjadi Pendidikan
kewarganegaraan, (2) berpartisipasi secara Pancasila dan Kewarganegaraan atau yang
aktif dan bertanggungjawab, bertindak secara lebih dikenal dengan sebutan PPKn.
cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, Berdasarkan hasil penelitian yang
berbangsa, dan bernegara, serta anti korupsi, dilakukan oleh Setiawati (2016, p. 70) bahwa
(3) berkembang secara positif dan demokratis perubahan nomenklatur didasarkan pada
untuk membentuk diri berdasarkan karakter- sejumlah masukan penyempurnaan
karakter masyarakat Indonesia agar dapat pembelajaran PKn menjadi PPKn yang
hidup bersama-sama dengan bangsa lain, (4) mengemuka dalam lima tahun terakhir, antara
Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain lain: (1) secara substansial, PKn terasa lebih
dalam percaturan dunia secara langsung atau dominan bermuatan ketatanegaraan sehingga
tidak langsung dengan memanfaatkan muatan nilai dan moral Pancasila kurang
teknologi informasi dan komunikasi mendapat penekanan yang proporsional; (2)
(Budimansyah, 2010, pp. 121–122). secara metodologi, ada kecenderungan
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum pembelajaran yang mengutamakan
terbaru yang digunakan dalam sistem pengembangan ranah sikap (afektif), ranah
pendidikan di Indonesia saat ini. Kurikulum pengetahuan (kognitif), sedangkan ranah
2013 memiliki perbedaan dengan kurikulum keterampilan (psikomotorik) belum
sebelumnya, yakni Kurikulum Berbasis dikembangkan secara optimal dan utuh
Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat (koheren). Dengan ruang lingkup materi
Satuan Pendidikan (KTSP) yang sudah pembahasan mengenai Pancasila, sebagai
penulis jelaskan secara singkat di atas. dasar negara, ideologi, dan pandangan hidup
Perubahan konsep dalam sistem Kurikulum bangsa, UUD 1945 sebagai hukum dasar
2013 ini terdapat pada perubahan Standar tertulis yang menjadi landasan konstitusional
Kompetensi Kelulusan (SKL), perubahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
struktur kurikulum, pencapaian kompetensi bernegara, Negara Kesatuan Republik
siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia, sebagai kesepakatan final bentuk
Abad ke-21, serta perubahan pembelajaran Negara Republik Indonesia, Bhinneka
yang menggunakan pendekatan saintifik. Tunggal Ika, sebagai wujud filosofi kesatuan
Secara yuridis formal Kurikulum 2013 di balik keberagaman kehidupan
berpijak pada Undang-Undang Sistem bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, (Santoso et al., 2015).

201
Jurnal Civics Volume 14 Nomor 2, Oktober 2017

Dalam masyarakat multikultural, masyarakat majemuk bagi bangsa Indonesia


dibutuhkan adanya sebuah pendidikan yang khususnya generasi muda. Dengan
mampu mengajarkan kepada siswa akan diberikannya pendidikan multikultural
pentingnya nilai-nilai multikultural. Hal ini diharapkan adanya kelenturan mental bangsa
dipandang penting karena dalam masyarakat dalam menghadapi konflik-konflik yang
multikultural potensinya terjadinya konflik berbau suku antar golongan ras dan agama
dan gesekan diantara masyarakatnya sangat (SARA), sehingga persatuan bangsa tidak
besar. Sihingga dibutuhkan sebuah usaha mudah retak dan terjadi disintegrasi bangsa.
kebudayaan berupa pendidikan yang dapat Keharusan untuk mewujudkan masyarakat
menumbuhkan spirit keberagaman, serta Indonedia yang mengerti dan memahami
menumbuhkan motivasi hidup bangsanya keberagaman ini tidak dapat dilepaskan dari
yang hidua dalam keberagaman dan kebutuhan dari warga negara itu sendiri baik
pluralitas. Pendidikan Kewarganegaraan secara individu mauun sebagai bagian dari
sebagai pendidikan multikultur adalah sebuah masyarakat.
strategi pendidikan yang diaplikasikan dalam Pendidikan Kewarganegaraan atau dalam
proses pembelajaran dengan cara kurikulum 2013 berubah kembali menjadi
menggunakan perbedaan kultural yang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
terdapat pada diri siswa, seperti perbedaan berperan sebagai Pendidikan multikultural
etnis, perbedaan agama, perbedaan bahasa, dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun
perbedaan jenis kelamin, perbedaan kelas, 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
ras, agar proses pembelajaran menjadi efektif (Sisdiknas), Pendidikan Pancasila dan
dan sesuai dengan tujuan pmbelajaran. Kewarganegaraan merupakan nama mata
Pelaksanaannya melalui penerapan model dan pelajaran wajib untuk kurikulum pendidikan
pendekatan pembelajaran yang mampu dasar dan menengah dan mata kuliah wajib
membawa siswa memiliki pengalaman untuk kurikulum pendidikan tinggi (Pasal 37).
belajar khususnya pengalaman untuk Pada Pasal 37 bagian Penjelasan dari Undang-
menerapkan nilai-nilai multikultural di luar Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pendidikan
proses pembelajaran. kewarganegaraan dimaksudkan untuk
Pendidikan multikultural sangat penting membentuk peserta didik menjadi manusia
khususnya dalam pengajaran Pendidikan yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta
Pancasila dan Kewarganegaraan. Karena tanah air. Dengan adanya ketentuan Undang-
dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila Undang Nomor 20 Tahun 2003 tersebut,
dan Kewarganegaraan siswa diajarkan maka kedudukan pendidikan
bagaimana menjadi manusia Indonesia yang kewarganegaraan sebagai basis
pancasilais, yang mampu menempatkan diri pengembangan masyarakat multikultural
sebagai seorang individu yang mengerti dalam sistem pendidikan di Indonesia
memahami keberagaman dan pluralitas di semakin jelas dan mantap. Penelitian ini
Indonesia, dan Pendidikan multikultural didasarkan pada teori bahwa PKn merupakan
sebagai jawaban adalah proses bagaimana salah satu ujung tombak dari pendidikan
penanaman cara hidup untuk menghormati multikultural dalam rangka pembentukan
secara tulus, dan toleran dalam keberagaman karakter warga negara multikultural yang
budaya yang hidup di tengah-tengah menghargai identitas budaya masyarakat

202
Pendidikan Kewarganegaraan: usaha …. Arif Prasetyo dan margi Wahono

yang plural secara demokratis, dan keyakinan akan nilai-nilai ajaran keagaman,
membentuk mosaik yang indah (cultural gender, dan perbedaan usia.
pluralism: mozaik analogy) dalam satu Multikulturalisme tidah hanya
semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Garcia, memperjuangkan kesetraan kesukubangsaan
1982, pp. 37–42). dari sebuah kelompok masyarakat, gender,
Multikulturalisme merupakan istilah ras, dan usia saja, tetapi lebih dari itu
yang digunakan untuk menjelaskan tentang multikulturalisme adalah sebuah perjuangan
pandangan seseorang tentang keragaman bagi mereka yang tersisihkan oleh sebuah
kehidupan di dunia, ataupun kebijakan sistem yang besar yang lebih mengutamakan
kebudayaan yang menekankan tentang homogenitas dari suatu kelompok masyarakat
penerimaan terhadap adanya keragaman, dan yang ada. Selain itu, multikulturalisme juga
berbagai macam budaya (multikultural) yang dapat dipakai secara deskriptif untuk
ada dalam kehidupan masyarakat menyebut sebuah tatanan masyarakat yang
menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, memiliki keanekaragaman budaya di
kebiasaan, dan politik yang mereka percayai. dalamnya.
Munculnya Pendidikan multikultural Kesadaran tentang pentingnya
(multicultural education) merupakan mempelajari dan menghayati
merupakan respon adanya kenyataan bahwa multikulturalisme sudah muncul sejak negara
Indonesia mempunyai berbagai keragaman di Republik Indonesia terbentuk dan digunakan
dalam masyarakatnya. Untuk menghadapi oleh pendiri bangsa Indonesia. Hal ini
tuntutan akan perubahan zaman yang sangat dikemukakan oleh Suparlan (Sanaky, 2005, p.
cepat akan multikulrutalisme maka yang 1) bahwa multikulturalisme sudah digunakan
dilakukan ialah menyiapkan generasi penerus untuk mendesain kebudayaan bangsa
bangsa Indonesia agar di masa yang akan Indonesia. Tetapi, bagi bangsa Indonesia
datang mampu menjadi bangsa yang mapan masa kini konsep multikulturalisme menjadi
dalam hal menyikapi multikulrutalisme yang sebuah konsep baru dan asing. Kesadaran
ada di Indonesia. Karena bangsa Indonesia terhadap konsep multikulturalisme yang
tidak segera menyikapi hal itu, maka bukan dibentuk oleh pendidiri bangsa semenjak
tidak mungkin masalah-masalah yang timbul zaman pra kemerdekaan hilang bagaikan
sebagai dampak keberagaman di Indonesia ditelan bumi ketika masa Orde Baru.
akan semakin muluas, konflik SARA yang Kesadaran tersebut dipendam atas nama
pernah melanda Indonesia tidak menutup persatuan dan stabilitas negara yang
kemungkinan akan terulang kembali. kemudian muncul paham mono-
Multikulturalisme merupakan sebuah kulturalisme yang menjadi tekanan utama dan
ajaran akan pentingnya menghargai akhirnya semuanya memaksakan pola
perbedaan dan kesederajatan. Perbedaan ”penyeragaman” berbagai aspek, sistem
individu maupun perbedaan kelompok dilihat sosial, politik dan budaya, sehingga sampai
sebagai sebuah kekayaan dari perbedaan saat ini wawasan multikulturalisme bangsa
kebudayaan yang ada. Di dalam perbedaan Indonesia masih sangat rendah.
terdapat kesederajatan, kesederajatan Pengembangan kompetensi bagi warga
menekankan terutama pada sisi perbedaan- negara yang bercirikan multikultural mutlak
perbedaan askriptif, seperti perbedaan suku dilakukan bahkan telah menjadi bagian tak
bangsa dan kebudayaan yang terdapat terpisahkan dalam upaya pengembangan
didalamnya, ciri-ciri fisik dari setiap individu, warga negara multikultural. Kompetensi

203
Jurnal Civics Volume 14 Nomor 2, Oktober 2017

kewarganegaraan multikultural adalah Selanjutnya untuk memperdalam pemahaman


seperangkat pengetahuan, nilai, dan sikap, siswa guru harus mampu membawa siswa
serta keterampilan siswa sebagai warga untuk bisa menghargai kompleksitas atau
negara yang mendukung upaya terwujudnya keberagaman dari kebenaran penafsiran yang
warga negara multikultural yang partisipatif tidak mampu disederhanakan. Untuk itu
dan bertanggung jawab dalam kehidupan Pendidikan Kewarganegaraan seudah
bermasyarakat, berbangsa, serta bernegara. sepantasnya menjadi salah satu mata
Kompetensi kewarganegaraan pelajaran yang mampu mengemban tugas
multikultural yang dimaksudkan tersebut sebagai mata pelajaran yang di
sebagaimana dikemukakan Branson & dalamnya trdapat muatan ataupun konten
Quigley (1998) yaitu: 1) Civic multikulturalisme, karena Pendidikan
knowledge (pengetahuan kewarganegaraan), Kewarganegaraan khususnya di Indonesia
berkenaan dengan konten atau apa yang mengajarkan bagaimana seorang warga
seharusnya diketahui oleh setiap warga negara untuk mampu menjadi individu yang
negara; 2) Civic skill (kecakapan memiliki kecerdasan dan berkarater baik
kewarganegaraan), adalah kemampuan sesuai dengan nilai-nilai pancasila.
intelektual dan partisipatif setiap warga Simpulan
negara; dan 3) Civic disposition (watak Pertama, PPKn di Indonesia memiliki
kewarganegaraan) yang mengisyaratkan pada makna filosofis dalam mempersiapkan warga
karakter yang terdapat di dalam diri warga negara yang beradap dan bijaksana, hal ini
negara yang mendukung bagi pemeliharaan dikarenakan dalam kurikulum PPKn dalam
dan pengembangan demokrasi konstitusional perkembangannya sendiri memiliki makna
Branson (1998, p. 16). Ketiga kompetensi filosofis pelbagai penentu watak warganegara
tersebut diolah menjadi sebuah formula yang yang taat hukum yang seimbang antara hak
dimiliki setiap siswa agar mampu menjadi dan kewajiban, sebagai pembentuk nilai,
warga negara yang cerdas dan baik, moral dan akhlak bangsa dalam
khususnya menjadi warganegara yang mempersiapkan mental multikultural warga
mengerti, memahami, serta mampu negara.
melaksanakan apayang seharusnya dilakukan Kedua, perkembangan kurikulum PPKn
oleh seorang warga negara multikulturalisme, di Indonesia berkembang secara dinamis
dan PPKn menjadi ujung tombak bagi siswa disesuaikan dengan kebutuhan serta visi-misi
untuk mampu mempelajari multikulturalisme dari pemerintah yang mempengaruhi dalam
di Indonesia. pembentukan kebijakan kurikulum
Salah satu tujuan sentral pendidikan pendidikan di Indonesia. Tetapi dalam
adalah menpersiapkan peserta didik untuk pelaksanaannya terdapat kekuatan yang
dapat terlibat baik langsung maupun tidak menjadi fondasi dalam pelaksanaan mata
langsung dalam tema-tema dialog yang pelajaran Pendidikan Pancasila dan
berkaitan dengan nilai, adat, kebiasaan, Kewarganegaraan, yaitu Pancasila, Undang-
sosialisasi, enkulturasi, kolonialisme, praktik Undang Dasar Negara Republik Indonesia
hak asasi, kedudukan perempuan, keluarga, Tahun 1945, politik, hukum, nilai, moral,
revolusi industri, kelas sosial, perang saudara, kearifan lokal, dan kebhinekaan dalam
keragaman etnis, dan tema lainnya yang berkebudayaan.
berkaitan dengan kehidupan warga negara Daftar Pustaka
sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Branson, M. S., & Quigley, C. N. (1998). The

204
Pendidikan Kewarganegaraan: usaha …. Arif Prasetyo dan margi Wahono

role of civic education. Washinton DC. Winataputra, U. S. (2012). Pendidikan


Budimansyah, D. (2010). Penguatan kewarganegaraan dalam perspektif
pendidikan kewarganegaraan untuk pendidikan untuk mencerdaskan
membangun karakter bangsa. Bandung: kehidupan bangsa: gagasan,
Widya Aksara Press. instrumentasi, dan praksis. Bandung:
Budimansyah, D., & Suryadi, K. (2008). PKN Widya Aksara Press.
dan masyarakat multikultural. Bandung:
Program Studi Pendidikan
Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia.
Departemen Pertahanan. (2008). Buku putih
pertahanan Indonesia. Jakarta:
Departemen Petahanan Republik
Indonesia. https://doi.org/075-12-015-1
Garcia, R. L. (1982). Teaching in a pluralistic
society: concepts, models. Michigan:
Harper & Row.
Kementerian Pertahanan. (2015). Buku putih
pertahanan Indonesia (3rd ed.). Jakarta:
Kementerian Pertahanan Republik
Indonesia.
Madjid, A. (2014). Implementasi kurikulum
2013 kajian teoritis dan praktis.
Bandung: Interes Media.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1992).
Analisis data kualitatif: buku sumber
tentang metode-metode baru. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
Sanaky, H. (2005). Sakral (sacred) dan
profan: studi pemikiran Emile Durkheim
tentang sosiologi agama. Yogyakarta.
Santoso, G., Al Muchtar, S., & Abdulkarim,
A. (2015). Analysis SWOT Civic
Education curriculum for senior high
school year 1975-2013. CIVICUS:
JURNAL PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN, 19(1).
Setiawati, W. (2016). Implementasi penilaian
keterampilan kewarganegaraan
berdasarkan Kurikulum 2013. CIVICUS:
JURNAL PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN, 20(2), 69–79.
Somantri, N. (1969). Pelajaran kewargaan
negara di sekolah. Bandung: IKIP
Bandung.
Tempo. (2016). Kerusuhan di Tanjung Balai,
ini versi Polda Sumatera Utara.
Retrieved from
https://nasional.tempo.co/read/791902/k
erusuhan-di-tanjung-balai-ini-versi-
polda-sumatera-utara

205