Anda di halaman 1dari 58

ANALISA PERBEDAAN KEPUTUSAN PENDANAAN DAN KEBIJAKAN DIVIDEN BERDASARKAN POTENSI TUMBUH PERUSAHAAN Laporan Hasil Penelitian Dr. H. Darmawan, M.AB NIP. 197608272005011006

Dr. H. Darmawan, M.AB NIP. 197608272005011006 Manajemen Keuangan Syariah Fakultas Ekonomi

Manajemen Keuangan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

2018

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah akhirnya laporan penelitian ini bisa diselesaikan pada kurun waktu yang diharapkan. Penelitian yang dibiayai negara melalui LPPM UIN Sunan Kalijaga pada tahun anggaran 2018 ini termasuk dalam cluster Nasional 1. Penelitian mengenai analisa perbedaan keputusan pendanaan dan kebijakan dividen atas dasar potensi tumbuh yang dimiliki perusahaan ini meliputi semua perusahaan terbuka di seluruh Indonesia. Walaupun hampir semua perusahaan tbk yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia memiliki kantor pusat di Jakarta, dan 3 perusahaan yang berkantor pusat di luar jawa (Medan dan Batam). Tetapi ini tidak mengurangi ruang lingkup kenasionalan penelitian ini karena banyak dari perusahaan ini yang justru kantor/ pabrik operasionalnya justru diluar jawa, menyebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Atas selesainya laporan ini peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala dukungan yang diberikan oleh: 1. Bapak Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2. Bapak Kepala LPPM Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, bersama seluruh stafnya yang telah memfasilitasi peneliti untuk mengikuti program ini 3. Bapak Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, beserta seluruh Dosen dan staf yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti menyelesaikan penelitian ini 4. Bapak Dr. Misnen Ardiansyah, SE, M.Si., Ak, CA. Sebagai grup leader penelitian FEBI yang telah memberikan dukungan dan bimbingannya selama penyelesaian laporan hasil penelitian ini. 5. Bapk Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Intan Lampung, yang memberikan fasilitas kepada peneliti untuk melaksanakan workshop penyelesaian hasil penelitian ini dan berdiskusi dengan seluruh dosen dan mahasiswanya 6. Para Mahasiswa S1 dan S2 yang mengikuti workshop dan diskusi penyusunan metodologi penelitian ini Serta begitu banyak pihak yang membantu peneliti baik moril maupun materil dalam penyelesaian penelitian ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan bapak/ibu/sdr dengan kemudahan dan keberkahan aamiin.

i

Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih memiliki kekurangan baik dari sisi metode maupun cakupannya. Sehingga, peneliti juga dengan terbuka akan menerima saran dan kritik untuk perbaikan penelitian dimasa datang.

Yogyakarta, Oktober 2018 Tim Peneliti

ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

i

Daftar Isi

iii

Bab I Pendahuluan

1

A. Latar Belakang

1

B. Rumusan Masalah

5

C. Tujuan Penelitian

5

Bab II Kajian Pustaka

6

A. Kajian Teori

6

B. Penelitian Terdahulu

16

C. Hubungan Antar Variabel

18

D. Kerangka Konseptual

20

E. Operasional Variabel

21

F. Hipotesis Penelitian

22

Bab III Metode Penelitian

23

A. Desain Penelitian

23

B. Populasi dan Sampel

24

C. Prosedur Pengumpulan Data

25

D. Metode Analisis Data

28

Bab IV Hasil dan Pembahasan

28

A. Hasil Penelitian

28

B. Pembahasan

34

C. Publikasi

48

Bab V Simpulan dan Saran

49

A. Simpulan

49

B. Saran

49

Daftar Pustaka

50

Lampiran-lampiran

54

 

iii

iv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pertumbuhan perusahaan merupakan harapan dari pemilik perusahaan. Semua pemilik perusahaan hakikatnya melakukan investasi memang semata untuk meningkatkan

nilai kekayaan yang dalam hal ini diproksi oleh nilai perusahaan. Bagi setiap investor,

kombinasi kesempatan investasi atau disebut sebagai Investment Opportunity Set (IOS),

prospek perusahaan yang memiliki potensi tumbuh tinggi memberikan keuntungan karena investasi yang ditanamkan diharapkan akan memperoleh return yang tinggi dimasa yang akan datang. Peluang pertumbuhan perusahaan dapat diproksikan dengan berbagai macam

Jiambalvo dan Rajgopal (2002:

117–145).

macam Jiambalvo dan Rajgopal (2002: 117–145). Sumber: BPS   Gambar 1.1 Realisasi

Sumber: BPS

 

Gambar

1.1 Realisasi Investasi 2012-2017 (Rp Triliun)

Berdasarkan data BPS menunjukkan tingkat realisasi investasi dari tahun 2013-

2017

di Indonesia terus menerus meningkat. Ini menunjukkan pertumbuhan perusahaan di

pertahun. Ini memberikan dampak signifikan yang diapresiasi oleh investor luar. Hal ini

Indonesia relatif terus menerus meningkat. Pertumbuhannya pada kisaran 12,4 s.d

12,9%

1

bisa dilihat dari data yang dikeluarkan oleh UNCTAD 1 (Juni 2017) yang menunjukkan kenaikan peringkat tujuan investasi dunia 2016-2018. Naik 4 posisi dari 2014-2016 pada peringkat ke-8 menjadi peringkat ke-4 di 2016-2018. Hal ini menunjukkan bahwa potensi tumbuh perusahaan di Indonesia semakin menarik para investor baik di dalam maupun di luar negeri.

Tabel 1.1 Tujuan Utama Investasi Dunia 2016-2018

1.1 Tujuan Utama Investasi Dunia 2016-2018 Sumber: UNCTAD, Juni 2017 Peningkatan ini

Sumber: UNCTAD, Juni 2017 Peningkatan ini relatif merata di seluruh Indonesia dengan peningkatan signifikan

di wilayah Pulau Sulawesi dan Sumatra. Terjadi peningkatan sebesar 189% di Sulawesi dan 87% di Sumatra. Hal ini jika menjadikan Angka realisasi investasi dan jumlah TKI langsung yang diserap. Kontributor terbesar yaitu sektor industri 48%, dengan total

investasi

sebesar 717,5 T. Sedangkan sektor Listrik, Gas dan Air 147.6 T; Pertambangan

142.2 T; Transport, Gudang dan Telekom 125.5 T; Tanaman Pangan dan Perkebunan

99.5 T. Total investasi pada periode 2015-2017 1,494.9 T.

1 United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) adalah organisasi internasional yang didirikan pada tahun 1969. UNCTAD adalah organ utama Majelis Umum PBB dalam menangani isu perdagangan, investasi dan pembangunan. UNCTAD beranggotakan 191 negara dan bermarkas di Jenewa, Swiss.

2

Sumber: BKPM, 2017 Gambar 1.2 Realisasi Investasi 2015 - 2017(Sem I) Pertumbuhan terhadap

Sumber: BKPM, 2017 Gambar 1.2 Realisasi Investasi 2015 - 2017(Sem I) Pertumbuhan terhadap periode 2012 2014(Sem I)

Pertumbuhan investasi yang demikian tentu harus didukung oleh sumber pembiayaan yang baik. Didalam memenuhi kebutuhan investasinya perusahaan dihadapkan kepada dua pilihan, apakah memenuhi kebutuhannya dengan keputusan pendanaan atau menggunakan kebijakan dividen? Teori Pecking order menjelaskan mengapa perusahaan akan menentukan hierarki sumber dana yang paling disukai. Suad Husnan (2010: 324-325) menyatakan Pecking Order Theory sebagai berikut, Teori tersebut dikemukaan oleh Myers and Majluf (1984) dan Myers (1984). Teori ini mencoba menjelaskan keputusan pendanaan yang diambil oleh perusahaan. Secara ringkas teori tersebut menyatakan bahwa (Brealey and Myers, 1991): Perusahaan menyukai internal financing (pendanaan dari hasil operasi perusahaan); Perusahaan mencoba menyesuaikan rasio pembagian dividen yang ditargetkan, dengan berusaha menghindari perubahan pembayaran dividen secara drastis; Kebijakan dividen yang relatif segan untuk diubah, disertai dengan fluktuasi profitabilitas dan kesempatan investasi yang tidak bisa diduga, mengakibatkan bahwa dana hasil operasi kadang-kadang melebihi kebutuhan dan untuk investasi, meskipun pada kesempatan yang lain, mungkin kurang.

3

Sesuai dengan teori ini, tidak ada suatu target debt to equity ratio, karena ada dua jenis modal sendiri, yaitu internal dan external. Modal sendiri berasal dari dalam perusahaan lebih disukai daripada modal sendiri yang berasal dari luar perusahaan. Pecking order theory menjelaskan mengapa perusahaan-perusahaan yang profitable meminjam dalam jumlah sedikit. Hal tersebut bukan disebabkan karena mereka memerlukan external financing yang sedikit. Perusahaan yang kurang profitable akan cenderung mempunyai hutang yang lebih besar karena dua alasan, yaitu (i) dana tidak cukup, dan (ii) hutang merupakan sumber eksternal yang lebih disukai. Berbagai penelitian tentang Investment Opportunity Set (IOS) telah banyak dilakukan baik didalam maupun luar negeri. Sejumlah penelitian telah dilakukan tetapi terdapat perbedaan hasil temuan Fijrijanti & Hartono (2000: 851-877) menemukan bahwa perusahaan yang tumbuh mempunyai kebijakan pendanaan yang lebih rendah daripada perusahaan yang tidak tumbuh dan dalam hal kebijakan dividen ditemukan bahwa perusahaan yang tumbuh membayar dividen yang lebih rendah daripada perusahaan yang tidak tumbuh. Di sisi lain, Iswayuni & Suryanto (2002: 120-148) menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara perusahaan yang tumbuh dan perusahaan yang tidak tumbuh dalam hal pengambilan kebijakan pendanaan, kebijakan dividen, respon perubahan harga, dan volume perdagangan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pertentangan sehingga mengindikasikan masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang analisis perbedaan kebijakan pendanaan dan kebijakan dividen pada perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Sedangkan penelitian Herdinata (2009, 237-248) menemukan perbedaan kebijakan pendanaan antara perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah, dimana tingkat hutang perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi lebih besar daripada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Hal ini berarti pada perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi mempunyai hutang yang lebih besar daripada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah, karena pada perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi diduga mempunyai kesempatan investasi yang tinggi, sehingga membutuhkan dana yang tinggi dimana tidak cukup jika hanya didanai dari internal perusahaan. Terdapat perbedaan kebijakan dividen antara perusahaan yang berpotensi

4

tumbuh tinggi dan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah, dimana dividend yield perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi lebih kecil dibandingkan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Hal ini menjelaskan bahwa perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi membutuhkan dana untuk membiayai investasinya sehingga memutuskan untuk membayar dividen yang rendah. Penelitian penelitian tersebut menunjukkan kontradiksi sehingga masih perlu dilakukan penelitian ulang tentang analisis perbedaan keputusan pendanaan dan keputusan dividen antara perusahaan yang memiliki potensi tumbuh tinggi dengan perusahaan yang memiliki potensi tumbuh rendah. B. Batasan Masalah Berdasarkan pemaparan pada pendahuluan untuk itu dalam penelitian ini akan dikaji: 1. Apakah terdapat perbedaan keputusan pendanaan antara perusahaan yang memiliki potensi tumbuh tinggi dengan perusahaan yang memiliki potensi tumbuh rendah? 2. Apakah terdapat perbedaan kebijakan dividen antara perusahaan yang memiliki potensi tumbuh tinggi dengan perusahah yang memiliki potensi tumbuh rendah?

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan pemaparan pada pendahuluan maka disusun tujuan penelitian ini sebagai
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pemaparan pada pendahuluan maka disusun tujuan penelitian ini sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui perbedaan keputusan pendanaan antara perusahaan yang memiliki
potensi tumbuh tinggi dengan perusahaan yang memiliki potensi tumbuh rendah.
2. Untuk mengetahui perbedaan kebijakan dividen antara perusahaan yang memiliki
potensi tumbuh tinggi dengan perusahah yang memiliki potensi tumbuh rendah.
5

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori 1. Teori Pecking order Teori struktur modal telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Struktur modal (capital structure) adalah perbandingan atau imbangan hutang jangka panjang terhadap modal sendiri. Menurut J. Fred Weston dan Thomas E Copeland (1996) mengatakan bahwa struktur modal adalah pembiayaan permanen yang terdiri dari utang jangka panjang, saham preferen, dan modal pemegang saham. Perkembangan teori struktur modal dimulai dari kemunculan The Net Income Approach (pendekatan penghasilan bersih), The Net Operating Income Approach (pendekatan penghasilan operasional bersih), dan Traditional Approach (pendekatan tradisional). Pendekatan laba bersih (Net Income) mengasumsikan bahwa investor mengkapitalisasi atau menilai laba perusahaan dengan tingkat kapitalisasi yang konstan dan perusahaan dapat meningkatkan jumlah utangnya dengan biaya utang yang konstan pula. Karena biaya modal saham dan biaya utang adalah sama, maka semakin besar utang yang digunakan perusahaan, biaya modal rata-rata tertimbang akan semakin kecil. Jika biaya modal rata-rata tertimbang semakin kecil sebagai akibat penggunaan utang yang semakin besar, maka nilai perusahaan akan meningkat. Persoalannya adalah apakah dalam kenyataannya ada perusahaan dapat memperoleh pembiayaannya dengan 100% utang. Pendekatan laba operasi bersih (Net Operating Income) mengasumsikan bahwa investor memiliki reaksi yang berbeda terhadap penggunaan utang oleh perusahaan. Pendekatan ini melihat bahwa biaya modal rata-rata tertimbang adalah konstan berapapun tingkat utang yang digunakan oleh perusahaan. Pertama, diasumsikan bahwa biaya utang konstan seperti halnya dalam pendekatan Net Income. Kedua, penggunaan utang yang semakin besar, oleh pemilik modal sendiri dilihat sebagai peningkatan risiko perusahaan. Oleh karena itu tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemilik modal sendiri akan meningkat sebagai akibat meningkatnya risiko perusahaan oleh utang. Konsekuensinya adalah biaya modal rata-rata tertimbang tidak mengalami perubahan dan dalam situasi ini

6

keputusan struktur modal menjadi tidak penting. Pendekatan tradisional (Traditional Approach) diasumsikan dalam pendekatan ini bahwa hingga satu leverage tertentu, risiko perusahaan tidak mengalami perubahan, sehingga biaya modal baik utang (Kd) maupun saham (Ke) relative konstan. Tetapi setelah leverage atau rasio tertentu, biaya utang dan biaya modal sendiri meningkat. Peningkatan biaya modal sendiri ini akan semakin besar dan bahkan akan lebih besar daripada penurunan biaya karena penggunaan utang yang lebih murah. Akibatnya biaya modal rata-rata tertimbang pada awalnya menurun dan setelah leverage tertentu akan meningkat. Oleh karena itu nilai perusahaan pada awalnya meningkat dan kemudian menurun sebagai akibat penggunaan utang yang semakin besar. Dengan dimikian menurut pendekatan tradisional ini terdapat suatu struktur modal yang optimal untuk setiap perusahaan. Pada tahun 1958, teori struktur modal mengalami perkembangan, dengan dikemukakannya teori struktur modal modern oleh Franco Modigliani & Merton Miller

(MM) yang menggunakkan 2 pendekatan. Pendekatan teori MM tanpa pajak:

a. Preposisi 1 MM berpendapat bahwa nilai setiap perusahaan tidak lain merupakan kapitalisasi laba operasi bersih yang diharapkan atau expected net operating income ( NOI = EBIT ) dengan tingkat kapitalisasi ( Ko ) konstan yang sesuai dengan tingkat resiko perusahaan b. Preposisi 2 MM berpendapat bahwa biaya modal sendiri perusahaan yang memiliki leverage adalah sama dengan biaya modal sendiri perusahaan yang tidak memiliki leverage ditambah dengan premium resiko. Dimana besar kecilnya resiko tergantung atas selisih antara biaya modal sendiri dan biaya utang perusahaan yang tidak memiliki leverage dikalikan dengan besarnya utang. c. Preposisi 3 MM berpendapat bahwa perusahaan seharusnya melakukan investasi proyek baru sepanjang nilai perusahaan meningkat paling tidak sebesar biaya investasi.

7

Pendekatan teori MM bila ada pajak: a. Preposisi 1 MM berpendapat bahwa nilai perusahaan yang memiliki leverage sama dengan nilai perusahaan yang tidak memiliki leverage ditambah dengan nilai perlindungan pajak. Adapun nilai perlindungan pajak ini adalah sebesar pajak penghasilan perusahaan dikalikan dengan utang perusahaan. b. Preposisi 2 MM berpendapat bahwa biaya modal sendiri perusahaan yang memiliki leverage adalah sama dengan biaya modal perusahaan yang tidak memiliki leverage ditambah dengan premium resiko. Besarnya premium rsiko ini tergantung atas besarnya utang dan selisih atas biaya modal sendiri perusahaan yang tidak memiliki leverage dan biaya utang. c. Preposisi 3 Sama seperti dalam kondisi tidak ada pajak, perusahaan seharusnya melakukan investasi sepanjang memenuhi syarat

Pendekatan teori MM ini dilakukan dengan adanya pajak penghasilan perusahaan dan pajak pendapatan perseorangan. Pendekatan ini sama seperti pendekatan-pendekatan terdahulu hanya saja pada pendekatan ini, kita memasukkan adanya nilai penghasilan perusahaan dan pajak pendapatan perseorangan. Munculnya teori MM ini sangat berguna bagi perkembangan teori struktur modal, walaupun teori ini kurang relevan karena penggunaan asumsi pasar modal sempurna, sedangkan pada kenyataannya pasar modal adalah tidak sempurna. Bukti ketidaksempurnaan ini antara lain adalah adanya pajak, biaya transaksi, informasi yang tidak simetris, adanya biaya kebangkrutan, dan terjadinya perubahan biaya utang ketika proporsi jumlah hutang berubah (Husnan, 2010). Oleh karena itu pengembangan teori struktur modal selanjutnya dengan mengubah asumsi, sehingga semakin mendekati kondisi riil. Kelemahan teori-teori sebelumnya diperbaiki oleh kemunculan Trade Off Theory dan Pecking Order Theory.

8

Teori Trade off menjelaskan adanya hubungan antara pajak, resiko kebangkrutan dan penggunaan hutang yang disebabkan keputusan struktur modal yang diambil perusahaan (Brealey dan Myers, 1991). Teori ini merupakan keseimbangan antara keuntungan dan kerugian atas penggunaan hutang, dimana dalam keadaan pajak nilai perusahaan akan naik minimal dengan biaya modal yang minimal. Teori ini menyatakan bahwa struktur modal yang optimal diperoleh pada saat terjadinya keseimbangan antara keuntungan tax shield of leverage dengan financial destress dan agency cost of leverage. Leverage merupakan jumlah utang yang digunakan untuk membiayai / membeli aset-aset perusahaan. Perusahaan yang memiliki utang lebih besar dari equity dikatakan sebagai perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi (Fakhruddin, Hendy M. 2008). Tingkat keuntungan dan pajak suatu perusahan mempunyai hubungan yang positif, sehingga perusahaan tersebut memilki motivasi untuk mengurangi pajak perusahaan, yang antara lain dapat dilakukan dengan meningkatkan hutangnya. Dalam hal ini hutang bertindak sebagai Pengurang pajak penghasilan (tax shields), karena dapat mengurangi pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan dalam bentuk pembayaran bunga kepada pihak yang memberikan hutang. Financial distress, berarti kesulitan dana untuk menutup kewajiban perusahaan atau kesulitan likuiditas yang diawali dengan kesulitan ringan sampai pada kesulitan yang lebih serius, yaitu jika hutang lebih besar dibandingkan dengan aset. Indikator yang menunjukkan apakah suatu perusahaan mengalami financial distress antara lain ditandai dengan adanya pemberhentian tenaga kerja atau hilangnya pembayaran dividen, serta arus kas yang lebih kecil daripada hutang jangka panjang (Whitaker, 1999) Pecking order theory mengasumsikan bahwa perusahan bertujuan memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham. Perusahaan berusaha menerbitkan sekuritas pertama dari internal, retained earning, kemudian utang berisiko rendah dan terakhir ekuitas (Myers, 1984). Pecking order theory memprediksi bahwa pendanaan utang eksternal didasarkan pada defisit pendanaan internal. Model pecking order theory memfokuskan pada motivasi manejer korporat, bukan pada prinsip-prinsip penilaian pasar modal. Pecking order theory mencerminkan persoalan yang