Anda di halaman 1dari 58

ANALISA PERBEDAAN KEPUTUSAN PENDANAAN DAN KEBIJAKAN DIVIDEN

BERDASARKAN POTENSI TUMBUH PERUSAHAAN

Laporan Hasil Penelitian

Dr. H. Darmawan, M.AB


NIP. 197608272005011006

Manajemen Keuangan Syariah


Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta
2018
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah akhirnya laporan penelitian ini bisa diselesaikan pada kurun waktu
yang diharapkan. Penelitian yang dibiayai negara melalui LPPM UIN Sunan Kalijaga pada tahun
anggaran 2018 ini termasuk dalam cluster Nasional 1. Penelitian mengenai analisa perbedaan
keputusan pendanaan dan kebijakan dividen atas dasar potensi tumbuh yang dimiliki perusahaan
ini meliputi semua perusahaan terbuka di seluruh Indonesia. Walaupun hampir semua perusahaan
tbk yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia memiliki kantor pusat di Jakarta, dan 3 perusahaan
yang berkantor pusat di luar jawa (Medan dan Batam). Tetapi ini tidak mengurangi ruang lingkup
kenasionalan penelitian ini karena banyak dari perusahaan ini yang justru kantor/ pabrik
operasionalnya justru diluar jawa, menyebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.
Atas selesainya laporan ini peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas
segala dukungan yang diberikan oleh:
1. Bapak Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
2. Bapak Kepala LPPM Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, bersama
seluruh stafnya yang telah memfasilitasi peneliti untuk mengikuti program ini
3. Bapak Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
beserta seluruh Dosen dan staf yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti
menyelesaikan penelitian ini
4. Bapak Dr. Misnen Ardiansyah, SE, M.Si., Ak, CA. Sebagai grup leader penelitian
FEBI yang telah memberikan dukungan dan bimbingannya selama penyelesaian
laporan hasil penelitian ini.
5. Bapk Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Intan Lampung, yang
memberikan fasilitas kepada peneliti untuk melaksanakan workshop penyelesaian
hasil penelitian ini dan berdiskusi dengan seluruh dosen dan mahasiswanya
6. Para Mahasiswa S1 dan S2 yang mengikuti workshop dan diskusi penyusunan
metodologi penelitian ini
Serta begitu banyak pihak yang membantu peneliti baik moril maupun materil dalam
penyelesaian penelitian ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan bapak/ibu/sdr dengan
kemudahan dan keberkahan aamiin.

i
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih memiliki kekurangan baik dari sisi metode
maupun cakupannya. Sehingga, peneliti juga dengan terbuka akan menerima saran dan kritik
untuk perbaikan penelitian dimasa datang.

Yogyakarta, Oktober 2018


Tim Peneliti

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................................... i


Daftar Isi ........................................................................................................................ iii
Bab I Pendahuluan ......................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 5
C. Tujuan Penelitian ............................................................................................... 5
Bab II Kajian Pustaka .................................................................................................... 6
A. Kajian Teori ....................................................................................................... 6
B. Penelitian Terdahulu .......................................................................................... 16
C. Hubungan Antar Variabel .................................................................................. 18
D. Kerangka Konseptual ........................................................................................ 20
E. Operasional Variabel ......................................................................................... 21
F. Hipotesis Penelitian ........................................................................................... 22
Bab III Metode Penelitian .............................................................................................. 23
A. Desain Penelitian ............................................................................................... 23
B. Populasi dan Sampel .......................................................................................... 24
C. Prosedur Pengumpulan Data ............................................................................. 25
D. Metode Analisis Data ........................................................................................ 28
Bab IV Hasil dan Pembahasan ...................................................................................... 28
A. Hasil Penelitian .................................................................................................. 28
B. Pembahasan ....................................................................................................... 34
C. Publikasi ............................................................................................................ 48
Bab V Simpulan dan Saran ............................................................................................ 49
A. Simpulan ............................................................................................................ 49
B. Saran .................................................................................................................. 49
Daftar Pustaka ............................................................................................................... 50
Lampiran-lampiran ........................................................................................................ 54

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertumbuhan perusahaan merupakan harapan dari pemilik perusahaan. Semua
pemilik perusahaan hakikatnya melakukan investasi memang semata untuk meningkatkan
nilai kekayaan yang dalam hal ini diproksi oleh nilai perusahaan. Bagi setiap investor,
prospek perusahaan yang memiliki potensi tumbuh tinggi memberikan keuntungan karena
investasi yang ditanamkan diharapkan akan memperoleh return yang tinggi dimasa yang
akan datang. Peluang pertumbuhan perusahaan dapat diproksikan dengan berbagai macam
kombinasi kesempatan investasi atau disebut sebagai Investment Opportunity Set (IOS),
Jiambalvo dan Rajgopal (2002: 117–145).

Sumber: BPS
Gambar 1.1 Realisasi Investasi 2012-2017
(Rp Triliun)

Berdasarkan data BPS menunjukkan tingkat realisasi investasi dari tahun 2013-
2017 di Indonesia terus menerus meningkat. Ini menunjukkan pertumbuhan perusahaan di
Indonesia relatif terus menerus meningkat. Pertumbuhannya pada kisaran 12,4 s.d 12,9%
pertahun. Ini memberikan dampak signifikan yang diapresiasi oleh investor luar. Hal ini

1
bisa dilihat dari data yang dikeluarkan oleh UNCTAD1 (Juni 2017) yang menunjukkan
kenaikan peringkat tujuan investasi dunia 2016-2018. Naik 4 posisi dari 2014-2016 pada
peringkat ke-8 menjadi peringkat ke-4 di 2016-2018. Hal ini menunjukkan bahwa potensi
tumbuh perusahaan di Indonesia semakin menarik para investor baik di dalam maupun di
luar negeri.
Tabel 1.1 Tujuan Utama Investasi Dunia
2016-2018

Sumber: UNCTAD, Juni 2017

Peningkatan ini relatif merata di seluruh Indonesia dengan peningkatan signifikan


di wilayah Pulau Sulawesi dan Sumatra. Terjadi peningkatan sebesar 189% di Sulawesi
dan 87% di Sumatra. Hal ini jika menjadikan Angka realisasi investasi dan jumlah TKI
langsung yang diserap. Kontributor terbesar yaitu sektor industri 48%, dengan total
investasi sebesar 717,5 T. Sedangkan sektor Listrik, Gas dan Air 147.6 T; Pertambangan
142.2 T; Transport, Gudang dan Telekom 125.5 T; Tanaman Pangan dan Perkebunan
99.5 T. Total investasi pada periode 2015-2017 1,494.9 T.

1
United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) adalah organisasi internasional yang didirikan
pada tahun 1969. UNCTAD adalah organ utama Majelis Umum PBB dalam menangani isu perdagangan, investasi
dan pembangunan. UNCTAD beranggotakan 191 negara dan bermarkas di Jenewa, Swiss.

2
Sumber: BKPM, 2017
Gambar 1.2 Realisasi Investasi 2015 - 2017(Sem I)
Pertumbuhan terhadap periode 2012 – 2014(Sem I)

Pertumbuhan investasi yang demikian tentu harus didukung oleh sumber


pembiayaan yang baik. Didalam memenuhi kebutuhan investasinya perusahaan
dihadapkan kepada dua pilihan, apakah memenuhi kebutuhannya dengan keputusan
pendanaan atau menggunakan kebijakan dividen? Teori Pecking order menjelaskan
mengapa perusahaan akan menentukan hierarki sumber dana yang paling disukai. Suad
Husnan (2010: 324-325) menyatakan Pecking Order Theory sebagai berikut, Teori
tersebut dikemukaan oleh Myers and Majluf (1984) dan Myers (1984). Teori ini mencoba
menjelaskan keputusan pendanaan yang diambil oleh perusahaan. Secara ringkas teori
tersebut menyatakan bahwa (Brealey and Myers, 1991): Perusahaan menyukai internal
financing (pendanaan dari hasil operasi perusahaan); Perusahaan mencoba menyesuaikan
rasio pembagian dividen yang ditargetkan, dengan berusaha menghindari perubahan
pembayaran dividen secara drastis; Kebijakan dividen yang relatif segan untuk diubah,
disertai dengan fluktuasi profitabilitas dan kesempatan investasi yang tidak bisa diduga,
mengakibatkan bahwa dana hasil operasi kadang-kadang melebihi kebutuhan dan untuk
investasi, meskipun pada kesempatan yang lain, mungkin kurang.

3
Sesuai dengan teori ini, tidak ada suatu target debt to equity ratio, karena ada dua
jenis modal sendiri, yaitu internal dan external. Modal sendiri berasal dari dalam
perusahaan lebih disukai daripada modal sendiri yang berasal dari luar perusahaan.
Pecking order theory menjelaskan mengapa perusahaan-perusahaan yang profitable
meminjam dalam jumlah sedikit. Hal tersebut bukan disebabkan karena mereka
memerlukan external financing yang sedikit. Perusahaan yang kurang profitable akan
cenderung mempunyai hutang yang lebih besar karena dua alasan, yaitu (i) dana tidak
cukup, dan (ii) hutang merupakan sumber eksternal yang lebih disukai.
Berbagai penelitian tentang Investment Opportunity Set (IOS) telah banyak
dilakukan baik didalam maupun luar negeri. Sejumlah penelitian telah dilakukan tetapi
terdapat perbedaan hasil temuan Fijrijanti & Hartono (2000: 851-877) menemukan bahwa
perusahaan yang tumbuh mempunyai kebijakan pendanaan yang lebih rendah daripada
perusahaan yang tidak tumbuh dan dalam hal kebijakan dividen ditemukan bahwa
perusahaan yang tumbuh membayar dividen yang lebih rendah daripada perusahaan yang
tidak tumbuh. Di sisi lain, Iswayuni & Suryanto (2002: 120-148) menyatakan bahwa tidak
ada perbedaan yang signifikan antara perusahaan yang tumbuh dan perusahaan yang tidak
tumbuh dalam hal pengambilan kebijakan pendanaan, kebijakan dividen, respon
perubahan harga, dan volume perdagangan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya
pertentangan sehingga mengindikasikan masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
tentang analisis perbedaan kebijakan pendanaan dan kebijakan dividen pada perusahaan
yang berpotensi tumbuh tinggi dan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah.
Sedangkan penelitian Herdinata (2009, 237-248) menemukan perbedaan kebijakan
pendanaan antara perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan perusahaan yang
berpotensi tumbuh rendah, dimana tingkat hutang perusahaan yang berpotensi tumbuh
tinggi lebih besar daripada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Hal ini berarti
pada perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi mempunyai hutang yang lebih besar
daripada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah, karena pada perusahaan yang
berpotensi tumbuh tinggi diduga mempunyai kesempatan investasi yang tinggi, sehingga
membutuhkan dana yang tinggi dimana tidak cukup jika hanya didanai dari internal
perusahaan. Terdapat perbedaan kebijakan dividen antara perusahaan yang berpotensi

4
tumbuh tinggi dan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah, dimana dividend yield
perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi lebih kecil dibandingkan perusahaan yang
berpotensi tumbuh rendah. Hal ini menjelaskan bahwa perusahaan yang berpotensi
tumbuh tinggi membutuhkan dana untuk membiayai investasinya sehingga memutuskan
untuk membayar dividen yang rendah.
Penelitian – penelitian tersebut menunjukkan kontradiksi sehingga masih perlu
dilakukan penelitian ulang tentang analisis perbedaan keputusan pendanaan dan
keputusan dividen antara perusahaan yang memiliki potensi tumbuh tinggi dengan
perusahaan yang memiliki potensi tumbuh rendah.

B. Batasan Masalah
Berdasarkan pemaparan pada pendahuluan untuk itu dalam penelitian ini akan dikaji:
1. Apakah terdapat perbedaan keputusan pendanaan antara perusahaan yang memiliki
potensi tumbuh tinggi dengan perusahaan yang memiliki potensi tumbuh rendah?
2. Apakah terdapat perbedaan kebijakan dividen antara perusahaan yang memiliki
potensi tumbuh tinggi dengan perusahah yang memiliki potensi tumbuh rendah?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pemaparan pada pendahuluan maka disusun tujuan penelitian ini sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui perbedaan keputusan pendanaan antara perusahaan yang memiliki
potensi tumbuh tinggi dengan perusahaan yang memiliki potensi tumbuh rendah.
2. Untuk mengetahui perbedaan kebijakan dividen antara perusahaan yang memiliki
potensi tumbuh tinggi dengan perusahah yang memiliki potensi tumbuh rendah.

5
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Teori Pecking order
Teori struktur modal telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.
Struktur modal (capital structure) adalah perbandingan atau imbangan hutang jangka
panjang terhadap modal sendiri. Menurut J. Fred Weston dan Thomas E Copeland (1996)
mengatakan bahwa struktur modal adalah pembiayaan permanen yang terdiri dari utang
jangka panjang, saham preferen, dan modal pemegang saham. Perkembangan teori
struktur modal dimulai dari kemunculan The Net Income Approach (pendekatan
penghasilan bersih), The Net Operating Income Approach (pendekatan penghasilan
operasional bersih), dan Traditional Approach (pendekatan tradisional). Pendekatan laba
bersih (Net Income) mengasumsikan bahwa investor mengkapitalisasi atau menilai laba
perusahaan dengan tingkat kapitalisasi yang konstan dan perusahaan dapat meningkatkan
jumlah utangnya dengan biaya utang yang konstan pula. Karena biaya modal saham dan
biaya utang adalah sama, maka semakin besar utang yang digunakan perusahaan, biaya
modal rata-rata tertimbang akan semakin kecil. Jika biaya modal rata-rata tertimbang
semakin kecil sebagai akibat penggunaan utang yang semakin besar, maka nilai
perusahaan akan meningkat. Persoalannya adalah apakah dalam kenyataannya ada
perusahaan dapat memperoleh pembiayaannya dengan 100% utang.
Pendekatan laba operasi bersih (Net Operating Income) mengasumsikan bahwa
investor memiliki reaksi yang berbeda terhadap penggunaan utang oleh perusahaan.
Pendekatan ini melihat bahwa biaya modal rata-rata tertimbang adalah konstan berapapun
tingkat utang yang digunakan oleh perusahaan. Pertama, diasumsikan bahwa biaya utang
konstan seperti halnya dalam pendekatan Net Income. Kedua, penggunaan utang yang
semakin besar, oleh pemilik modal sendiri dilihat sebagai peningkatan risiko perusahaan.
Oleh karena itu tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemilik modal sendiri akan
meningkat sebagai akibat meningkatnya risiko perusahaan oleh utang. Konsekuensinya
adalah biaya modal rata-rata tertimbang tidak mengalami perubahan dan dalam situasi ini

6
keputusan struktur modal menjadi tidak penting. Pendekatan tradisional (Traditional
Approach) diasumsikan dalam pendekatan ini bahwa hingga satu leverage tertentu, risiko
perusahaan tidak mengalami perubahan, sehingga biaya modal baik utang (Kd) maupun
saham (Ke) relative konstan. Tetapi setelah leverage atau rasio tertentu, biaya utang dan
biaya modal sendiri meningkat. Peningkatan biaya modal sendiri ini akan semakin besar
dan bahkan akan lebih besar daripada penurunan biaya karena penggunaan utang yang
lebih murah. Akibatnya biaya modal rata-rata tertimbang pada awalnya menurun dan
setelah leverage tertentu akan meningkat. Oleh karena itu nilai perusahaan pada awalnya
meningkat dan kemudian menurun sebagai akibat penggunaan utang yang semakin besar.
Dengan dimikian menurut pendekatan tradisional ini terdapat suatu struktur modal yang
optimal untuk setiap perusahaan.
Pada tahun 1958, teori struktur modal mengalami perkembangan, dengan
dikemukakannya teori struktur modal modern oleh Franco Modigliani & Merton Miller
(MM) yang menggunakkan 2 pendekatan. Pendekatan teori MM tanpa pajak:
a. Preposisi 1
MM berpendapat bahwa nilai setiap perusahaan tidak lain merupakan kapitalisasi
laba operasi bersih yang diharapkan atau expected net operating income ( NOI =
EBIT ) dengan tingkat kapitalisasi ( Ko ) konstan yang sesuai dengan tingkat
resiko perusahaan
b. Preposisi 2
MM berpendapat bahwa biaya modal sendiri perusahaan yang memiliki leverage
adalah sama dengan biaya modal sendiri perusahaan yang tidak memiliki leverage
ditambah dengan premium resiko. Dimana besar kecilnya resiko tergantung atas
selisih antara biaya modal sendiri dan biaya utang perusahaan yang tidak memiliki
leverage dikalikan dengan besarnya utang.
c. Preposisi 3
MM berpendapat bahwa perusahaan seharusnya melakukan investasi proyek baru
sepanjang nilai perusahaan meningkat paling tidak sebesar biaya investasi.

7
Pendekatan teori MM bila ada pajak:
a. Preposisi 1
MM berpendapat bahwa nilai perusahaan yang memiliki leverage sama dengan
nilai perusahaan yang tidak memiliki leverage ditambah dengan nilai perlindungan
pajak. Adapun nilai perlindungan pajak ini adalah sebesar pajak penghasilan
perusahaan dikalikan dengan utang perusahaan.
b. Preposisi 2
MM berpendapat bahwa biaya modal sendiri perusahaan yang memiliki leverage
adalah sama dengan biaya modal perusahaan yang tidak memiliki leverage
ditambah dengan premium resiko. Besarnya premium rsiko ini tergantung atas
besarnya utang dan selisih atas biaya modal sendiri perusahaan yang tidak
memiliki leverage dan biaya utang.
c. Preposisi 3
Sama seperti dalam kondisi tidak ada pajak, perusahaan seharusnya melakukan
investasi sepanjang memenuhi syarat

Pendekatan teori MM ini dilakukan dengan adanya pajak penghasilan perusahaan


dan pajak pendapatan perseorangan. Pendekatan ini sama seperti pendekatan-pendekatan
terdahulu hanya saja pada pendekatan ini, kita memasukkan adanya nilai penghasilan
perusahaan dan pajak pendapatan perseorangan.
Munculnya teori MM ini sangat berguna bagi perkembangan teori struktur
modal, walaupun teori ini kurang relevan karena penggunaan asumsi pasar modal
sempurna, sedangkan pada kenyataannya pasar modal adalah tidak sempurna. Bukti
ketidaksempurnaan ini antara lain adalah adanya pajak, biaya transaksi, informasi yang
tidak simetris, adanya biaya kebangkrutan, dan terjadinya perubahan biaya utang ketika
proporsi jumlah hutang berubah (Husnan, 2010). Oleh karena itu pengembangan teori
struktur modal selanjutnya dengan mengubah asumsi, sehingga semakin mendekati
kondisi riil. Kelemahan teori-teori sebelumnya diperbaiki oleh kemunculan Trade Off
Theory dan Pecking Order Theory.

8
Teori Trade off menjelaskan adanya hubungan antara pajak, resiko kebangkrutan
dan penggunaan hutang yang disebabkan keputusan struktur modal yang diambil
perusahaan (Brealey dan Myers, 1991). Teori ini merupakan keseimbangan antara
keuntungan dan kerugian atas penggunaan hutang, dimana dalam keadaan pajak nilai
perusahaan akan naik minimal dengan biaya modal yang minimal. Teori ini menyatakan
bahwa struktur modal yang optimal diperoleh pada saat terjadinya keseimbangan antara
keuntungan tax shield of leverage dengan financial destress dan agency cost of
leverage.
Leverage merupakan jumlah utang yang digunakan untuk membiayai / membeli
aset-aset perusahaan. Perusahaan yang memiliki utang lebih besar dari equity dikatakan
sebagai perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi (Fakhruddin, Hendy M. 2008).
Tingkat keuntungan dan pajak suatu perusahan mempunyai hubungan yang positif,
sehingga perusahaan tersebut memilki motivasi untuk mengurangi pajak perusahaan, yang
antara lain dapat dilakukan dengan meningkatkan hutangnya. Dalam hal ini hutang
bertindak sebagai Pengurang pajak penghasilan (tax shields), karena dapat mengurangi
pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan dalam bentuk pembayaran bunga kepada
pihak yang memberikan hutang.
Financial distress, berarti kesulitan dana untuk menutup kewajiban perusahaan
atau kesulitan likuiditas yang diawali dengan kesulitan ringan sampai pada kesulitan yang
lebih serius, yaitu jika hutang lebih besar dibandingkan dengan aset. Indikator yang
menunjukkan apakah suatu perusahaan mengalami financial distress antara lain ditandai
dengan adanya pemberhentian tenaga kerja atau hilangnya pembayaran dividen, serta arus
kas yang lebih kecil daripada hutang jangka panjang (Whitaker, 1999)
Pecking order theory mengasumsikan bahwa perusahan bertujuan
memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham. Perusahaan berusaha menerbitkan
sekuritas pertama dari internal, retained earning, kemudian utang berisiko rendah dan
terakhir ekuitas (Myers, 1984). Pecking order theory memprediksi bahwa pendanaan
utang eksternal didasarkan pada defisit pendanaan internal. Model pecking order theory
memfokuskan pada motivasi manejer korporat, bukan pada prinsip-prinsip penilaian pasar
modal. Pecking order theory mencerminkan persoalan yang diciptakan oleh asimetrik

9
informasi. Dasar pemikirannya didasarkan pada penjelasan berikut ini, (Meyers, 1984):
Para manejer mengetahui lebih banyak tentang perusahaan daripada investor luar, namun
mereka enggan untuk menerbitkan saham ketika percaya saham mereka adalah
undervalued. Investor memahami bahwa para manajer mengetahui lebih banyak dan
mereka mencoba menerbitkan sesuai waktu yang tepat. Para manejer
menginterpresentasikan keputusan untuk menerbitkan ekuitas sebagai bad news, dan
perusahaan dapat menerbitkan ekiutas hanya pada harga discount. Perusahaan yang
bekerja berdasarkan filosofi pecking order theory dan membutuhkan ekuitas eksternal
kemungkinan tidak akan memanfaatkan kesempatan investasi yang baik, karena saham
tidak dapat dijual pada “fair Price”.
Menurut Myers (1996) perusahaan lebih menyukai penggunaan pendanaan dari
modal internal, yakni dana yang berasal dari aliran kas, laba ditahan dan depresiasi.
Urutan penggunaan sumber dana dengan mengacu packing order theory adalah internal
fund (dana internal), debt (utang), dan equity (modal sendiri).

2. Pertumbuhan Perusahaan Melalui Pendekatan Proksi IOS


Smith dan Watts (1992: 263-292) menjelaskan bahwa IOS adalah komponen nilai
perusahaan yang berasal dari pilihan untuk membuat investasi di masa depan. Penelitian
Kallapur dan Trombley (1999: 3-5) menyatakan bahwa IOS perusahaan memengaruhi
cara perusahaan dinilai oleh manajer, pemilik, investor dan kreditor. Sementara Kole dan
Lehn (1991:) menjelaskan bahwa nilai IOS bergantung pada pengeluaran yang oleh
manajemen masa depan dan saat ini diharapkan dapat memberikan pengembalian yang
lebih besar daripada biaya modal. Bahkan terkait dengan pergerakan harga saham,
Khanna dan Palepu (1999) menyatakan bahwa IOS menjadi faktor yang dominan. Dari
definisi di atas, dapat diinterpretasikan bahwa IOS berisi dua istilah. Pertama, IOS
merupakan keputusan investasi oleh perusahaan untuk memberikan pertumbuhan positif,
sehingga IOS dianggap sebagai prospek pertumbuhan. Kedua, IOS adalah kemampuan
perusahaan untuk menentukan jenis investasi yang akan dilakukan. Bagi perusahaan yang
tidak mampu memilih investasi yang tepat, maka pengeluaran akan lebih tinggi dari nilai
kesempatan yang hilang. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa IOS adalah hubungan

10
antara pengeluaran saat ini dan nilai masa depan/ pengembalian/ prospek sebagai akibat
dari keputusan investasi untuk menghasilkan nilai pemegang saham.
Nilai perusahaan merupakan gabungan antara asset in place dan opsi future
invesment. Opsi future investment tersebut tidak hanya ditunjukkan dengan adanya
proyek-proyek yang didukung oleh kegiatan riset dan pengembangan saja, tetapi juga
kemampuan perusahaan yang lebih dalam mengeksploitasi kesempatan mengambil
keuntungan dibanding perusahaan lain dalam satu kelompok industri.
Kemampuan perusahaan tersebut tidak dapat diukur secara pasti atau tidak dapat
diobservasi. Oleh karena itu, dikembangkan suatu proksi untuk pertumbuhan perusahaan
yang selanjutnya disebut Proksi IOS. Penelitian ini menggunakan lima proksi IOS sesuai
yang telah digunakan oleh Subekti & Kusuma (2000: 356-370); AlNajjar & Ahmed
(2001: 72-99), yaitu book value of plant, property, and equipment to asset ratio
(PPE/BVA), market to book of asset ratio MVA/ BVA, market to book of equity ratio
(MVE/ BE), price earning ratio (PER), dan capital addition to book of asset ratio (CAP/
BVA).
Dalam mengukur Invesment Opportunity Set Kallapur dan Trombley (2001)
menggolongkan dalam tiga metode pengukuran:
a. Pengukuran Invesment Opportunity Set berbasis harga
Metode ini menyataka bahwa prospek pertumbuhan perusahaan sebagian
dinyatakan dalam harga-harga dan prospek pertumbuhan perusahaan secara parsial
dinyatakan dalam harga-harga saham serta perusahaan yang tumbuh akan memiliki nilai
pasar yang tinggi secara relative untuk aktiva yang dimiliki (asset in place) dibandingkan
perusahaan yang tidak tumbuh. Rasio yang telah digunakan dalam beberapa penelitian
yang berkaitan dengan proksi pasar adalah sebagai berikut :
Book value of plant, property, and equipment to asset ratio (PPE/BVA), Rasio
PPE/BVA digunakan dengan dasar pemikiran PPE/BVA bahwa prospek pertumbuhan
perusahaan tergambar dengan besarnya aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan. Rumus
yang digunakan sebagai berikut:

/ =

11
Market to Book Value Assets ( MVA/BVA), Rasio ini menjelaskan gabungan
antara aset di tempat dengan kesempatan investasi. Oleh karena itu, semakin tinggi rasio
MVA/BVA, semakin tinggi kesempatan investasi yang dimiliki perusahaan tersebut yang
berkaitan dengan aset di tempat. Rumus yang digunakan sebagai berikut:
/
ℎ − ℎ + ℎ ℎ
=

Market to Book Value Equity ( MVE/BVE), Rasio ini digunakan dengan dasar
pemikiran MVE/BVE mencerminkan bahwa pasar menilai return atas investasi
perusahaan pada masa depan akan lebih besar dari return yang diharapkan ekuitasnya.
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

/ =

b. Pengukuran Invesment Opportunity Set berbasis investasi


Proksi IOS berbasis pada investasi merupakan proksi yang percaya pada gagasan
bahwa suatu level kegiatan investasi yang tinggi berkaitan secara positif dengan nilai
IOS suatu perusahaan. Rasio yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
Capital Additions to Book Assets Value (CAP/BVA), Rasio ini digunakan dengan
dasar pemikiran bahwa semakin besar pertambahan modal yang dilakukan oleh
perusahaan maka akan semakin tinggi kadar investasi yang dilakukan perusahaan. Rasio
CAP/BVA dapat dihitung dengan cara berikut ini:
1
/ =

c. Pengukuran Invesment Opportunity Set berbasis varian


Metode ini mengungkapkan bahwa suatu opsi akan menjadi lebih bernilai jika
menggunakan variabilitas ukuran untuk memperkirakan besarnya opsi yang tumbuh,
seperti variabilitas return yang mendasari peningkatan aktiva. Ukuran yang digunakan

12
dalam beberapa penelitian antara lain: Varriance of Total Return (VARRET) dan Beta
Asset (BETA).

Rasio penilaian memberikan informasi seberapa besar masyarakat menghargai


perusahaan, sehingga masyarakat tertarik untuk membeli saham dengan harga yang lebih
tinggi dibanding nilai bukunya. Rasio ini kita gunakan pada penelitian ini untuk
memahami bagaimana masyarakat, apakah mempertimbangkan harga saham yang lebih
tinggi dari harga bukunya sebagai salah satu indikasi pertumbuhan perusahaan yang
baik? Dalam penelitian digunakan rasio PER. Price earning ratio (PER), Rasio ini untuk
mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham perusahaan dengan
keuntungan yang diperoleh oleh para pemegang saham. Price Earning Ratio dapat
dihitung sebagai berikut :

=

Penelitian ini sendiri memutuskan hanya akan menggunakan book value of plant,
property, and equipment to asset ratio (PPE/BVA), market to book of asset ratio MVA/
BVA, market to book of equity ratio (MVE/ BE), price earning ratio (PER), dan capital
addition to book of asset ratio (CAP/ BVA) dalam upaya memahami IOS.

3. Keputusan Pendanaan
Pendanaan (financing) adalah kegiatan pengalokasian dana untuk mendanai
kegiatan investasi. Pada dasarnya pendanaan dapat digolongkan menjadi dua yakni
pendanaan internal (internal financing) melalui laba ditahan dan pendanaan eksternal
(eksternal financing) melalui penerbitan hutang dan saham baru. (Donalson, 1961) dalam
Stefanus (2001).
Keputusan pendanaan dilakukan dengan mempertimbangkan kombinasi sumber-
sumber dana yang ekonomis guna memenuhi kebutuhan investasi perusahaan dengan
memperhitungkan biaya modal dari investasi tersebut (cut-off rate of investment)
(Sudarma, 1998). Pada masing-masing alternatif pendanaan tersebut mengandung biaya

13
yang dinamakan dengan biaya modal (Cost of Capital). Biaya modal adalah biaya riil
yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana baik yg berasal dari
hutang, saham preferen, saham biasa, dan laba ditahan untuk mendanai suatu investasi
atau operasi perusahaan. Biaya modal inilah yang menjadi pertimbangan utama dari tiap
manajer untuk memutuskan sumber pendanaan mana yang paling baik bagi perusahaan.
Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan manajer dalam menghitung biaya
modal. Salah satu pendekatan yang biasa digunakan untuk menghitung biaya modal
adalah melalui biaya modal rata-rata tertimbang (Weighted Average Cost Of
Capital/WACC). Pendekatan ini berasumsi bahwa pada prinsipnya perusahaan dibiayai
dari modal pemilik usaha, hutang jangka panjang, dan modal eksternal melalui emisi
saham baru di pasar modal. Untuk memahami konsep biaya modal ini perlu di pahami
dahulu tentang arus kas perusahaan untuk digunakan sebagai bahan analisis dalam
menyusun kebijakan pendanaan perusahaan.
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan sumber finansial perusahaan
menurut Weston dan Brigham (1994) ialah tentang analisis keputusan penganggaran
modal yang menyangkut persyaratan tingkat pengembalian yang diharapkan (required
return) atas ekuitas. Namun pada umumnya perusahaan membiayai anggaran modalnya
dari hutang jangka panjang dan saham preferen.
Keputusan pendanaan dalam penelitian ini diukur dari Debt to Equity ratio (DER)
dikarenakan DER mencerminkan besarnya proporsi antara total debt (total hutang) dan
total shareholder’s equity (total modal sendiri). Total debt merupakan total liabilities
(baik utang jangka pendek maupun jangka panjang); sedangkan total shareholders’equity
merupakan total modal sendiri (total modal saham yang disetor dan laba yang ditahan)
yang dimiliki perusahaan.

4. Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen (dividend policy) adalah kebijakan apakah laba yang diperoleh
perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan
dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi dimasa datang? Laba ditahan
merupakan salah satu sumber dana yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan

14
perusahaan, sedangkan dividen merupakan aliran kas keluar yang dibayar kepada
pemegang saham. Dividen merupakan nilai pendapatan bersih perusahaan setelah pajak
dikurangi dengan laba ditahan yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai
keuntungan dari laba perusahaan. Rasio pembayaran dividen (dividen payout ratio) yaitu
perbandingan antara dividend per share (DPS) dengan Earning Per Share (EPS).
Berdasarkan di hukum Indonesia (UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas), keputusan tentang dividen dibuat oleh pemegang saham melalui Rapat Umum
Pemegang Saham atas rekomendasi Dewan Direksi. Perusahaan dapat mengumumkan
pembagian dividen setiap tahun jika memiliki penghasilan yang positif. Sebelum
berakhirnya suatu tahun buku, dividen interim dapat dibagikan selama diperbolehkan
berdasarkan anggaran dasar dan bila pembagian dividen interim tidak mengakibatkan
jumlah aset bersih menjadi lebih kecil dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh
serta memperhatikan ketentuan mengenai penyisihan cadangan wajib sebagaimana yang
dipersyaratkan dalam undang-undang PT (Compulsory Reserves). Pembagian dividen
interim tersebut ditentukan oleh Direksi setelah terlebih dahulu disetujui oleh Dewan
Komisaris.
Apabila keputusan telah dibuat untuk membayar deviden, dividen tersebut akan
dibayar dalam Rupiah. Pemegang saham pada tanggal pencatatan yang berlaku berhak
atas sejumlah penuh dividen yang disetujui, dan dapat dikenai pajak penghasilan yang
berlaku di Indonesia. Dividen yang diterima oleh seorang pemegang saham asing akan
dikenai pajak penghasilan Indonesia maksimum sebesar 20%. Terdapat dua indikator
yang biasa digunakan untuk mengukur kebijakan dividen suatu perusahaan (Warsono,
2003:275), yaitu:
Hasil Dividen (Dividend Yield), merupakan rasio yang menghubungkan dividen
yang dibayar dengan harga saham biasa perusahaan. Secara sistematis, dividend yield
dapat dirumuskan sebagai berikut:

=

Beberapa pemegang saham menggunakan dividend yield sebagai suatu ukuran
risiko dan sebagai penyaring investasi. Para pemegang saham akan berusaha untuk

15
menginvestasikan dananya dalam saham yang menghasilkan nilai dividend yield yang
tinggi.
Rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio), merupakan indikator kedua
yang digunakan untuk mengukur kebijakan dividen. Dividend payout ratio merupakan
rasio hasil perbandingan antara dividen dengan laba yang tersedia bagi pemegang saham
biasa. Secara sistematis, dividend payout ratio dapat dirumuskan sebagai berikut:

=

B. Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang potensi pertumbuhan perusahaan dan pengaruhnya terhadap
keputusan pendanaan dan kebijakan dividen sudah lama dilakukan. Masing-masing
dilakukan dengan proksi atas potensi tumbuh perusahaan yang berbeda dnegan berbagai
pertimbangan yang mereka ambil. Swaltyuni , Yetti (2001) Melakukan Analisis
Perbedaan Perusahaan Tumbuh Dan Tidak Tumbuh Dengan Kebijakan Pendanaan,
Deviden, Perubahan Harga Saham Dan Volume Perdagangan Pada Bursa Efek Jakarta
Dengan Pendekatan Asosiasi Proksi Investment Opportunity Set (I0S). Tujuan dari
penelitiannya adalah menginvestigasi perbedaan perusahaan yang tumbuh dan tidak
tumbuh dengan kebijakan pendanaan, deviden, perubahan harga saham dan volume
perdagangan pada Bursa Efek Jakarta dengan pendekatan analisis proksi IOS. Ada enam
proksi yang digunakan sebagai prediktor pertumbuhan perusahaan, seperti: book value of
plant, property and equipment to assets ratio (PPE/BVA), market to book of equity ratio
(MVE/BVE), price to earning ratio (P/E), market to book assets ratio (MVA/BVA),
capital expenditures to market value of assets (CAP/MVA) dan variance to total return
(VAR). Proksi ini dianalisis dengan common factor analysis. Empat puluh perusahaan
masuk kategori perusahaan tumbuh dan 40 perusahaan masuk kategori tidak tumbuh dari
100 perusahaan publik yang terdaftar di BEJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
korelasi antara MVE/BVE dengan MVA/BVA, MVA/BVA dan Varret signifikan positif
sesuai dengan yang diharapkan. Perusahan yang tumbuh memiliki kebijakan pendanaan
yang lebih kecil daripada perusahaan yang tidak tumbuh, sedangkan kebijakan deviden

16
untuk perusahaan yang tumbuh tidak berbeda dengan perusahaan yang tidak tumbuh.
Begitu juga, pada perubahan harga saham dan volume perdagangan tidak berbeda antara
perusahaan yang tumbuh dan yang tidak tumbuh. Ini berarti investor belum merespon
signal ini.
Christian Herdinata (2009), Penelitiannya bertujuan untuk mengetahui apakah
terdapat perbedaan kebijakan pendanaan antara perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi
dan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah serta untuk mengetahui apakah terdapat
perbedaan kebijakan dividen antara perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan
perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Hasil penelitian menunjukkan terdapat
perbedaan kebijakan pendanaan antara perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan
perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah, dimana tingkat hutang perusahaan yang
berpotensi tumbuh tinggi lebih besar daripada perusahaan yang berpotensi tumbuh
rendah. Hal ini berarti pada perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi mempunyai hutang
yang lebih besar daripada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah, karena pada
perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi diduga mempunyai kesempatan investasi yang
tinggi, sehingga membutuhkan dana yang tinggi dimana tidak cukup jika hanya didanai
dari internal perusahaan. Terdapat perbedaan kebijakan dividen antara perusahaan yang
berpotensi tumbuh tinggi dan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah, dimana
dividend yield perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi lebih kecil dibandingkan
perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Hal ini menjelaskan bahwa perusahaan yang
berpotensi tumbuh tinggi membutuhkan dana untuk membiayai investasinya sehingga
memutuskan untuk membayar dividen yang rendah.
Penelitian pada kurun waktu setelahnya dilakukan Ade Pendria Astuti (2015),
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh peluang investasi, leverage pada
kebijakan dividen dan nilai perusahaan pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah peluang investasi,
leverage, kebijakan dividen dan nilai perusahaan. Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
periode 2008-2012. Sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling
dengan sampel 170 perusahaan manufaktur. Berdasarkan kriteria yang ditentukan

17
sebelumnya, hanya 34 perusahaan yang memenuhi syarat untuk dijadikan sampel.
Analisis statistik digunakan untuk menguji pengaruh peluang investasi, leverage pada
kebijakan dividen dan nilai perusahaan adalah analisis jalur yang dapat menjelaskan
hubungan antara variabel, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa peluang investasi memiliki pengaruh langsung terhadap nilai
perusahaan, tetapi peluang investasi melalui kebijakan dividen tidak berpengaruh pada
nilai perusahaan. Leverage tidak memiliki efek langsung pada nilai perusahaan, tetapi
leverage melalui kebijakan dividen tidak berpengaruh pada nilai perusahaan. Kebijakan
dividen tidak memiliki efek langsung pada nilai perusahaan.

C. Hubungan Antar Variabel


1. Peluang Investasi dan Keputusan Pendanaan
Salah satu tolak ukur pertumbuhan perusahaan ditunjukkan oleh besarnya
investasi. Hal ini akan mempengaruhi kebijakan pendanaan yang dibuat. Oleh karena itu,
diduga bahwa perusahaan yang memilik potensi tumbuh tinggi mempunyai kebijakan
pendanaan yang berbeda dengan perusahaan yang memiliki potensi tumbuh rendah.
Perusahaan bertumbuh membutuhkan dana yang besar untuk membiayai investasinya.
Perusahaan harus membuat keputusan pendanaan, dimana perusahaan cukup
menggunakan dana yang bersumber dari dalam perusahaan (berupa retaining earning)
atau mengambil dana dari luar perusahaan (berupa hutang dan ekuitas).
Jika investasi telah ditentukan dengan tetap mempertimbangkan dividen yang
dibagikan, pendanaan eksternal yang dianggap sebagai kebijakan residual, tidak kalah
perlunya untuk dipertimbangkan. Sebab, dalam pendanaan eksternal melekat di dalamnya
unsur biaya modal (cost of capital). Jika sumber pendanaan eksternal tidak tepat akan
berakibat buruk pada kekayaan perusahaan yang otomatis akan mempengaruhi
kemampuan investasi dan jumlah dividen yang dapat dibagikan. Ketidaksempurnaan
pasar yang diakibatkan oleh asimetri informasi, biaya transaksi dan pajak telah membatasi
fleksibilitas perusahaan untuk mengumpulkan dana baik secara internal maupun eksternal.
Manajer berusaha menghindari pendanaan melalui ekuitas eksternal untuk mengantisipasi
menurunnya harga saham akibat isyarat buruk dari investor.

18
Perusahaan yang mempunyai investasi tinggi akan menyebabkan hutang menjadi
tinggi. Hal tersebut terjadi karena hutang yang tinggi digunakan untuk membiayai
kesempatan investasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan oleh Fama (2000) bahwa hutang
biasanya akan bertambah ketika investasi melebihi retained earning dan hutang akan
berkurang jika investasi kurang dari retained earning.
Rasio ini menunjukkan komposisi dari total hutang terhadap total ekuitas.
Semakin tinggi DER menunjukkan komposisi total hutang semakin besar dibanding
dengan total modal sendiri, sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan
terhadap pihak luar (kreditur). Formulasi DER adalah sebagai berikut:

=
ℎ ℎ

2. Peluang Investasi dan Kebijakan Dividen


Dividen juga dapat digunakan oleh manajer sebagai isyarat tunggal tentang
prospek perusahaan di masa depan (Bhattacharya, 1979), (Miller dan Rock, 1985) dalam
(Mougoue dan Mukherjee, 1994). Peningkatan dividen dipersepsikan oleh investor
sebagai isyarat positif kondisi perusahaan saat ini dan prospek cerah dimasa mendatang.
Sebaliknya, penurunan jumlah dividen yang dibagikan (divident cut) mengisyaratkan
menurunnya kondisi perusahaan di masa mendatang karena tidak ada kegiatan investasi
baru sehingga sebagian besar laba ditahan (retained earning) dialokasikan untuk
pembayaran dividen.
Perusahaan yang pertumbuhannya tinggi mempunyai kesempatan yang
memungkinkan untuk membayar dividen yang lebih rendah karena mereka mempunyai
kesempatan yang menguntungkan dalam mendanai investasinya secara internal, sehingga
tidak terdorong untuk membayar bagian laba yang lebih besar kepada para investor.
Sebaliknya perusahaan yang pertumbuhannya rendah berusaha menarik dana dari luar
untuk mendanai investasinya dengan mengorbankan sebagian besar labanya dalam bentuk
dividen. Pernyataan tersebut didukung oleh Sulistyowati (2003) yang berpendapat bahwa
perusahaan yang memiliki peluang investasi akan lebih memilih pendanaan internal

19
daripada eksternal, akibatnya kebijakan dividen lebih menekankan pada pembayaran
dividen yang kecil.
Rasio ini untuk mengukur seberapa besar tingkat keuntungan dividen yang mampu
dihasilkan dari investasi pada saham. Dividend Yield dapat dihitung sebagai berikut :

=

D. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep
satu terhadap konsep yang lainya dari masalah yang ingin diteliti. Kerangka konsep ini
gunanya untuk menghubungkan atau menjelaskan secara panjang lebar tentang suatu
topik yang akan dibahas. Kerangka konseptual penelitian ini seperti yang sudah
dipaparkan pada hubungan antar variabel diatas bisa digambarkan pada diagram berikut
ini:

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual

20
E. Operasional Variabel
Operasional Variabel pada penelitian ini:
1. Potensi Tumbuh Perusahaan
Potensi tumbuh perusahaan adalah kemampuan mengeksploitasi kesempatan
mengambil keuntungan dibanding perusahaan lain dalam satu kelompok industri.
Kemampuan perusahaan tersebut tidak dapat diukur secara pasti atau tidak dapat
diobservasi. Oleh karena itu, dikembangkan suatu proksi untuk pertumbuhan perusahaan
yang selanjutnya disebut Proksi IOS. Penelitian ini menggunakan lima proksi IOS: book
value of plant, property, and equipment to asset ratio (PPE/BVA), market to book of asset
ratio MVA/ BVA, market to book of equity ratio (MVE/ BE), price earning ratio (PER),
dan capital addition to book of asset ratio (CAP/ BVA).

a. , , /

b. / =

c. / =

d. / =

e. =

2. Keputusan Pendanaan
Keputusan Pendanaan (financing) adalah keputusan untuk mengalokasikan dana
untuk mendanai kegiatan investasi. Pada dasarnya pendanaan dapat digolongkan menjadi
dua yakni pendanaan internal (internal financing) melalui laba ditahan dan pendanaan
eksternal (eksternal financing) melalui penerbitan hutang dan saham baru. Keputusan
pendanaan dalam penelitian ini diukur dari Debt to Equity ratio (DER) dikarenakan DER
mencerminkan besarnya proporsi antara total debt (total hutang) dan total shareholder’s

21
equity (total modal sendiri). Total debt merupakan total liabilities (baik utang jangka
pendek maupun jangka panjang); sedangkan total shareholders’equity merupakan total
modal sendiri (total modal saham yang disetor dan laba yang ditahan) yang dimiliki
perusahaan.

=
ℎ ℎ

3. Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen (dividend policy) adalah kebijakan untuk menentukan
pengalokasian laba yang diperoleh perusahaan untuk dibagikan kepada pemegang saham
sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi
dimasa datang. Apabila keputusan telah dibuat untuk membayar deviden, maka kebijakan
dividen diukur dengan hasil dividen (Dividend Yield), merupakan rasio yang
menghubungkan dividen yang dibayar dengan harga saham biasa perusahaan. Secara
sistematis, dividend yield dapat dirumuskan sebagai berikut:

=

F. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian kepustakaan yang telah dilakukan maka disusun hipotesis
sebagai berikut:
H1 : Terdapat perbedaan kebijakan pendanaan antara perusahaan yang berpotensi
tumbuh tinggi dan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah
H2 : Terdapat perbedaan kebijakan dividen antara perusahaan yang berpotensi tumbuh
tinggi dan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah.

22
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian merupakan penelitian kuantitatif Uji beda rata-rata yang didahului
Common Factor Analysis untuk menganalisa faktor manakah pada Investment
Opportunity Set (IOS) yang bisa mewakili rasio pertumbuhan perusahaan agar bisa
digunakan untuk memisahkan perusahaan dengan potensi tumbuh tinggi dan rendah.
Selanjutnya dilakukan analisis dengan model regresi untuk mengetahui jika memang
terdapat perbedaan keputusan pendanaan dan kebijakan dividen pada potensi tumbuh
perusahaan yang berbeda.

B. Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh perusahaan public yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia. Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan public yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang dipilih dengan metode purposive sampling yaitu
sampel dipilih atas dasar kesesuaian karakteristik sampel sesuai dengan kriteria pemilihan
sampel yang ditentukan sebagai berikut :
1. Perusahaan terdaftar di BEI selama lima tahun yaitu periode 2013 sampai 2017;
2. Perusahaan bukan merupakan lembaga keuangan, perbankan, asuransi, maupun
perusahaan pemerintah dengan alasan untuk mengantisipasi adanya pengaruh
peraturan tertentu yang bersifat khas yang dapat mempengaruhi variabel dalam
penelitian;
3. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan selama periode penelitian secara lengkap;
4. Perusahaan tidak memiliki laba negatif atau menderita kerugian pada periode
penelitian.
Berdasarkan kriteria tersebut maka didapatkan jumlah perusahaan yang diteliti
adalah sebanyak 196 perusahaan yang terdaftar di BEI. Dengan sebaran kantor pusat
terbesar di Jakarta sebanyak 149 perusahaan.

23
Tabel 3.1 Distribusi Sebaran Kantor Pusat
Perusahaan yang Diteliti
Kantor Pusat Jumlah
Jakarta 149
Tangerang 15
Bekasi 10
Surabaya 7
Sidoarjo 4
Batam 2
Bandung 2
Bogor 2
Gresik 2
Sukabumi 1
Medan 1
Karawang 1
Total 196
Sumber: Pengolahan Data

C. Prosedur Pengumpulan Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi data
laporan keuangan, dividen, harga penutupan saham, jumlah saham yang beredar yang
diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD).

1. Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel penelitian ditujukan pada tabel berikut ini:
Tabel 3.2 Pengukuran Variabel Penelitian
Variabel Pengukuran

Investment 1. PPE/BVA = (nilai buku aktiva tetap) : (nilai buku


Opportunity Set total aktiva)
(IOS) 2. MVA/BVA = (total aktiva - total ekuitas + (jumlah
saham beredar x harga penutupan saham)) : (total
aktiva)

24
3. MVE/BVE = (jumlah saham beredar x harga
penutupan saham) : (total ekuitas)
4. PER = (harga penutupan saham) : (laba per
lembar saham)
5. CAP/BVA = (tambahan modal saham dalam 1 tahun)
: (total aktiva)

Keputusan DER = Total utang : total ekuitas


Pendanaan

Keputusan DY = (Dividen per-lembar saham : harga penutupan saham)


Dividen

D. Metode Analisis Data


1. Pengujian Normalitas Data
Data yang akan digunakan dalam pengujian hipotesis terlebih dahulu diuji
normalitasnya. Dalam penelitian ini dilakukan uji normalitas dengan menggunakan
Kolmogorov- Smirnov, yaitu uji normalitas secara parametrik dengan kriteria jika p value
> 0.05 berarti data terdistribusi normal.
2. Common Factor Analysis
Nilai dari proksi IOS yang dianalisis dengan common factor analysis untuk
mengklasifikasikan perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan perusahaan yang
berpotensi tumbuh rendah. Nilai dari setiap proksi IOS digunakan sebagai data input
dalam prosedur analisis faktor. Jumlah faktor yang digunakan sesuai dengan jumlah
variabel IOS, tetapi selanjutnya jumlah faktor yang digunakan adalah faktor yang
mempunyai nilai eigenvalues yang tinggi, karena faktor tersebut dianggap sudah mewakili
faktor lainnya. Apabila faktor tersebut lebih dari satu, maka akan dijumlahkan menjadi
satu indeks faktor, yang kemudian diurutkan mulai yang tertinggi sampai yang terendah.
Lima puluh persen dari urutan yang tertinggi akan dikelompokan sebagai perusahaan

25
dengan tingkat potensi pertumbuhan tinggi dan lima puluh persen dari urutan terendah
akan masuk dalam perusahaan dengan tingkat potensi pertumbuhan rendah (Fitrijanti &
Hartono, 2000; Widayanti & Rita, 2004)
3. Pengujian Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini adalah:
H1 : 1 =
1 ≠
H2 : 2 =
2 ≠

Pengujian untuk hipotesis yaitu menggunakan uji beda mean. Uji beda mean
digunakan untuk membandingkan rata-rata dua kelompok apakah terdapat perbedaan
antara keduanya. Apabila perbandingan kedua kelompok rata-rata tersebut taraf
signifikansinya kurang dari 0,05 dapat dikatakan bahwa kedua kelompok tersebut berbeda
secara signifikan. Pengujian dilakukan dengan rumus uji beda rata-rata berikut:

=

− = +

Dimana :
= rata-rata DER dan DY perusahaan yang memiliki potensi tumbuh
tinggi
= rata-rata DER dan DY perusahaan yang memiliki potensi tumbuh
rendah
− = standar deviasi dari rata-rata perusahaan yang memiliki potensi
tumbuh tinggi dan rendah
= Jumlah sampel untuk perusahaan yang memiliki potensi tumbuh
tinggi
= Jumlah sampel untuk perusahaan yang memiliki potensi tumbuh

26
rendah
= Standar deviasi perusahaan yang memiliki potensi tumbuh
tinggi
= Standar deviasi perusahaan yang memiliki potensi tumbuh
rendah

27
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil penelitian
1. Pengelompokan Berdasarkan Potensi Tumbuh Perusahaan
Untuk melakukan analisi terhadap keputusan pendanaan dan kebijakan dividen
terlebih dahulu akan dilakukan Common Factor Analysis.
A. Communalities 5 nilai IOS

IOS PPE/BVA MVA/BVA MVE/BVE CAP/BVA PER

Communalities 0,633 0,799 0,823 0,546 0,853

B. Eigenvalues untuk pengurangan matrik korelasi

Faktor 1 2 3 4 5

Eigenvalues 1,633 1,017 1,004 0,955 0,391

C. Korelasi antar faktor dengan IOS

Faktor / IOS PPE/BVA MVA/BVA MVE/BVE CAP/BVA PER

1 0,891 0,818 0,341 0,205 0,108

2 -0,069 -0,389 0,717 0,541 0,231

3 0,023 -0,043 0,040 -0,461 0,888

Pengelompokkan sampel menjadi dua kelompok yaitu perusahaan yang memiliki


potensi tumbuh tinggi dan perusahaan berpotensi tumbuh rendah menggunakan analisa
faktor. Analisis faktor digunakan karena dapat mengidentifikasi dimensi-dimensi laten
atau membentuk representasi atas variabel-variabel asli Tabel 4.1 menunjukkan hasil
common factor analisis terhadap proksi IOS sebagai proksi pertumbuhan perusahaan.

28
Communality adalah jumlah varian variabel-variabel asli yang terbagi pada semua
variabel yang masuk dalam analisis.
Berdasarkan data ini terlihat bahwa pengukuran invesment opportunity set berbasis
harga (PPE/BVA dan MVA/BVA) lebih menunjukkan kemampuan menjelaskan potensi
tumbuh perusahaan dari pada metode pengukuran lain. Metode ini menyataka bahwa
prospek pertumbuhan perusahaan sebagian dinyatakan dalam harga-harga dan prospek
pertumbuhan perusahaan secara parsial dinyatakan dalam harga-harga saham serta
perusahaan yang tumbuh akan memiliki nilai pasar yang tinggi secara relative untuk
aktiva yang dimiliki (asset in place) dibandingkan perusahaan yang tidak tumbuh.

2. Statistika Deskriptif Keputusan Pendanaan dan Kebijakan Dividen


Untuk deskripsi data statistik dengan dasar potensi tumbuh yang diproksi dengan
Book value of plant, property, and equipment to asset ratio(PPE/BVA) dapat kita lihat
keputusan pendanaan dan kebijakan dividen sebagai berikut:

Tabel 4.2 Potensi Tumbuh dengan Book value of plant,property,and equipment to


asset ratio(PPE/BVA)

Variabel N Mean Standar Deviasi


Perusahaan Tumbuh 490
Tinggi
DER 1,79 10,52
DY 0,74 1,60
Perusahaan Tumbuh 490
Rendah
DER 0,72 10,41
DY 1,71 7,60
Sumber: Pengolahan data
Tabel 4.2 menyajikan hasil analisis deskriptif dengan basis proksi pertumbuhan
Book value of plant,property,and equipment to asset ratio (PPE/BVA) atas variabel yang
digunakan dalam penelitian ini. Data pada tabel ini terdiri dari variabel keputusan
pendanaan (DER), variabel kebijakan dividen (DY). Pada perusahaan yang berpotensi
tumbuh tinggi DER diperoleh rata-rata 1,79 artinya pada perusahaan yang berpotensi

29
tumbuh tinggi mempunyai hutang yang jauh lebih besar dari modal yang dimiliki,
sedangkan pada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah diperoleh rata-rata DER
sebesar 0,72, artinya pada perusahaan yang tidak tumbuh mempunyai hutang yang lebih
kecil dibanding dengan modal yang dimiliki dalam struktur pendanaan. Perusahaan yang
berpotensi tumbuh tinggi mempunyai rata-rata dividend yield sebesar 0,74, sedangkan
pada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah mempunyai rata-rata dividend yield
sebesar 1,71 Dividend yield perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi lebih rendah
daripada dividend yield perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Hal ini menunjukkan
bahwa pada perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi membayar dividen yang lebih
rendah daripada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah.
Untuk deskripsi data statistik dengan dasar potensi tumbuh yang diproksi Market
to book of asset ratio (MVA/ BVA) dapat kita lihat keputusan pendanaan dan kebijakan
dividen sebagai berikut:

Tabel 4.3 Potensi Tumbuh dengan Market to book of asset ratio (MVA/ BVA)

Variabel N Mean Standar Deviasi


Perusahaan Tumbuh 490
Tinggi
DER 1,88 14,75
DY 1,16 5,19
Perusahaan Tumbuh 490
Rendah
DER 0,62 1,21
DY 1,29 5,81

Tabel 4.3 menyajikan hasil analisis deskriptif dengan basis proksi pertumbuhan
Market to book of asset ratio (MVA/ BVA) atas variabel yang digunakan dalam penelitian
ini. Data pada tabel ini terdiri dari variabel keputusan pendanaan (DER), variabel
kebijakan dividen (DY). Pada perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi DER diperoleh
rata-rata 1,88 artinya pada perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi mempunyai hutang
yang jauh lebih besar dari modal yang dimiliki, sedangkan pada perusahaan yang
berpotensi tumbuh rendah diperoleh rata-rata DER sebesar 0,62, artinya pada perusahaan

30
yang tidak tumbuh mempunyai hutang yang lebih kecil dibanding dengan modal yang
dimiliki dalam struktur pendanaan. Perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi
mempunyai rata-rata dividend yield sebesar 1,16, sedangkan pada perusahaan yang
berpotensi tumbuh rendah mempunyai rata-rata dividend yield sebesar 1,29 Dividend yield
perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi lebih rendah daripada dividend yield
perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pada perusahaan
yang berpotensi tumbuh tinggi membayar dividen yang lebih rendah daripada perusahaan
yang berpotensi tumbuh tinggi.

3. Pengujian Hipotesis ke-1


Pengujian hipotesis ke-1 untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kebijakan
pendanaan antara perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan perusahaan yang
berpotensi tumbuh rendah. Pertama akan diuji dengan basis data Book value of plant,
property, and equipment to asset ratio (PPE/BVA). Didapatkan hasil pengujian sebagai
berikut:

Tabel 4.4 Uji Beda Mean pada Keputusan Pendanaan (basis data PPE/BVA)

Uji Beda Mean


Variabel Jenis Perusahaan N Mean t hitung Sign
(2 tailed)
Perusahaan Berpotensi 490 1,79 1,602 0,11
Tumbuh Tinggi
DER
Perusahaan Berpotensi 490 0,72
Tumbuh Rendah
Sumber: pengolahan data

Kedua akan diuji dengan basis data Market to book of asset ratio (MVA/ BVA).
Didapatkan hasil pengujian sebagai berikut:

31
Tabel 4.5 Uji Beda Mean pada Keputusan Pendanaan (basis data MVA/ BVA)

Uji Beda Mean


Variabel Jenis Perusahaan N Mean t hitung Sign
(2 tailed)
Perusahaan Berpotensi 490 1,88 1,881 0,06
Tumbuh Tinggi
DER
Perusahaan Berpotensi 490 0,62
Tumbuh Rendah
Sumber: pengolahan data

Hasil pengujian hipotesis pertama ini menunjukkan bahwa keputusan pendanaan


dengan basis data PPE/BVA memiliki rata – rata yang berbeda pada perusahaan yang
berpotensi tumbuh tinggi rata – rata DER 1,79 sedangkan yang berpotensi tumbuh rendah
0,7 tetapi nilai sig-nya 0,11>0,05 artinya perbedaan keputusan pendanaan antara
perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan rendah tidak signifikan berbeda.
Sedangkan hasil pengujian hipotesis berikutnya menunjukkan bahwa keputusan
pendanaan dengan basis data MVA/ BVA memiliki rata – rata yang berbeda pada
perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi rata – rata DER 1,88 sedangkan yang
berpotensi tumbuh rendah 0,62 tetapi nilai sig-nya 0,06>0,05 artinya perbedaan keputusan
pendanaan antara perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan rendah tidak signifikan
berbeda.

4. Pengujian Hipotesis ke-2


Pengujian hipotesis 2 untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kebijakan
dividen antara perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan perusahaan yang berpotensi
tumbuh rendah. Pertama akan diuji dengan basis data Book value of plant, property, and
equipment to asset ratio (PPE/BVA). Didapatkan hasil pengujian sebagai berikut:

32
Tabel 4.6 Uji Beda Mean pada Kebijakan Dividen (basis data PPE/BVA)

Uji Beda Mean


Variabel Jenis Perusahaan N Mean t hitung Sign
(2 tailed)
Perusahaan Berpotensi 490 0,74 -2,768 0,006
Tumbuh Tinggi
DY
Perusahaan Berpotensi 490 1,71
Tumbuh Rendah
Sumber: pengolahan data

Kedua akan diuji dengan basis data Market to book of asset ratio (MVA/ BVA).
Didapatkan hasil pengujian sebagai berikut:

Tabel 4.7 Uji Beda Mean pada Kebijakan Dividen (basis data MVA/ BVA)

Uji Beda Mean


Variabel Jenis Perusahaan N Mean t hitung Sign
(2 tailed)
Perusahaan Berpotensi 490 1,16 -0,353 0,725
Tumbuh Tinggi
DY
Perusahaan Berpotensi 490 1,29
Tumbuh Rendah
Sumber: pengolahan data

Hasil pengujian hipotesis kedua ini menunjukkan bahwa kebijakan dividen dengan
basis data PPE/BVA memiliki rata – rata yang berbeda pada perusahaan yang berpotensi
tumbuh tinggi rata – rata DY 0,74 sedangkan yang berpotensi tumbuh rendah 1,71 tetapi
nilai sig-nya 0,006<0,05 artinya perbedaan kebijakan dividen antara perusahaan yang
berpotensi tumbuh tinggi dan rendah signifikan berbeda ketika diproksi oleh PPE/BVA.
Sedangkan hasil pengujian hipotesis berikutnya menunjukkan bahwa kebijakan dividen
dengan basis data MVA/ BVA memiliki rata – rata yang berbeda pada perusahaan yang
berpotensi tumbuh tinggi rata – rata DY 1,16 sedangkan yang berpotensi tumbuh rendah
1,29 tetapi nilai sig-nya 0,725>0,05 artinya perbedaan kebijakan dividen antara
perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan rendah tidak signifikan berbeda.

33
B. Pembahasan
Pada pengujian hipotesis ke-1 ditemukan bahwa perbedaan kebijakan pendanaan
antara perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dan rendah dengan diproksi oleh
PPE/BVA tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan walaupun rata-rata DER pada
perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi sebesar 1,79 dan tumbuh rendah 0,7. Karena
data ini masih mengikut sertakan semua sampel, akan diujicoba bagaimana jika persektor.

Tabel 4.8 Uji Beda Mean pada Keputusan Pendanaan (basis data PPE/BVA) Berdasarkan
Sektornya

Uji Beda Mean


Sektor Variabel Jenis Perusahaan N Mean t hitung Sign
(2 tailed)
Perusahaan Berpotensi 40 1,72 4,145 0,000
Jasa & Tumbuh Tinggi
Investasi Perusahaan Berpotensi 40 0, 59
Tumbuh Rendah
Perusahaan Berpotensi 45 2,24 0,352 0,726
Industri Br. Tumbuh Tinggi
Konsumsi Perusahaan Berpotensi 45 0,59
Tumbuh Rendah
Perusahaan Berpotensi 35 1,18 0,367 0,714
Tumbuh Tinggi
Pertambangan
Perusahaan Berpotensi 35 1,09
Tumbuh Rendah
Perdagangan DER Perusahaan Berpotensi 72 0,35 15,296 0,000
Tumbuh Tinggi
Perusahaan Berpotensi 72 0,10
Tumbuh Rendah
Industri Perusahaan Berpotensi 112 0,58 22,762 0,000
Tumbuh Tinggi
Perusahaan Berpotensi 112 0,23
Tumbuh Rendah
Properti Perusahaan Berpotensi 72 0,15 7,019 0,000
Tumbuh Tinggi
Perusahaan Berpotensi 72 0,01
Tumbuh Rendah
Infrastruktur Perusahaan Berpotensi 42 0,68 17,933 0,000
Tumbuh Tinggi

34
Perusahaan Berpotensi 42 0,16
Tumbuh Rendah
Pertanian Perusahaan Berpotensi 20 0,45 7,241 0,000
Tumbuh Tinggi
Perusahaan Berpotensi 20 0,31
Tumbuh Rendah
Sumber: pengolahan data

Hasil pengujian persektor ini menunjukkan bahwa pada sektor Industri Barang
Konsumsi dan Pertambangan walaupun terdapat perbedaan keputusan pendanaan tetapi
terbukti tidak signifikan sehingga hipotesisnya ditolak. Sedangkan pada sektor lain
terbukti signifikan perbedaan keputusan pendanaan berdasarkan potensi tumbuh
perusahaan.
Baik pada pengujian hipotesis pertama maupun kedua tampak bahwa potensi
tumbuh perusahaan bisa lebih dijelaskan olah PPE/BVA atau artinya potensi tumbuh
perusahaan terutama bisa dilihat oleh rasio nilai buku peralatan dan mesin terhadap nilai
buku asetnya.

Tabel 4.9 Pengaruh Nilai Buku Peralatan dan Mesin Terhadap Keputusan
Pendanaan pada Sektor Perdagangan Jasa dan Investasi

Dependent Variable: DER_BSR


Method: Least Squares
Date: 10/13/18 Time: 22:48
Sample: 1 55
Included observations: 55

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 1.235239 0.170521 7.243922 0.0000


PPE_BSR 0.877135 0.152796 5.740545 0.0000

R-squared 0.383390 Mean dependent var 1.798000


Adjusted R-squared 0.371756 S.D. dependent var 1.305468
S.E. of regression 1.034738 Akaike info criterion 2.941859
Sum squared resid 56.74616 Schwarz criterion 3.014853
Log likelihood -78.90113 Hannan-Quinn criter. 2.970087
F-statistic 32.95386 Durbin-Watson stat 0.530382
Prob(F-statistic) 0.000000

Dependent Variable: DER_KCL

35
Method: Least Squares
Date: 10/13/18 Time: 22:49
Sample: 1 55
Included observations: 55

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 0.124233 0.013559 9.162188 0.0000


PPE_KCL 2.663021 0.135892 19.59658 0.0000

R-squared 0.878726 Mean dependent var 0.315455


Adjusted R-squared 0.876438 S.D. dependent var 0.198633
S.E. of regression 0.069822 Akaike info criterion -2.450043
Sum squared resid 0.258383 Schwarz criterion -2.377049
Log likelihood 69.37617 Hannan-Quinn criter. -2.421815
F-statistic 384.0258 Durbin-Watson stat 0.124533
Prob(F-statistic) 0.000000

Pada perusahaan sektor perdagangan jasa dan investasi dengan potensi tumbuh
tinggi dengan persamaan regresi = 1,235 + 0,877 / diketahui bahwa rasio
nilai buku peralatan dan mesin terhadap nilai buku asetnya berpengaruh sebesar 38%.
Sedangkan, perusahaan sektor perdagangan jasa dan investasi dengan potensi tumbuh
rendah dengan persamaan regresi = 1,124 + 2,663 / diketahui bahwa
rasio nilai buku peralatan dan mesin terhadap nilai buku asetnya berpengaruh sebesar
87%. Dari hasil ini bisa kita pahami bahwa pada sektor perdagangan jasa dan investasi
keputusan pendanaan pada perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi lebih besar dari
pada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Hal ini sesuai dengan teori pecking
order. Hal ini bisa dijelaskan dengan pada perusahaan tumbuh tinggi lebih sedikit
dipengaruhi oleh rasio nilai buku peralatan dan mesinnya terhadap nilai buku asetnya dari
pada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah.

Tabel 4.10 Pengaruh Nilai Buku Peralatan dan Mesin Terhadap Keputusan
Pendanaan pada Sektor Perdagangan

Dependent Variable: DERBSR


Method: Least Squares
Date: 10/14/18 Time: 18:51
Sample: 1 70
Included observations: 70

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

36
C -4.072929 0.618071 -6.589737 0.0000
PPEBSR 20.61481 1.672444 12.32616 0.0000

R-squared 0.690817 Mean dependent var 3.140000


Adjusted R-squared 0.686270 S.D. dependent var 2.971934
S.E. of regression 1.664628 Akaike info criterion 3.885236
Sum squared resid 188.4272 Schwarz criterion 3.949479
Log likelihood -133.9833 Hannan-Quinn criter. 3.910754
F-statistic 151.9342 Durbin-Watson stat 0.801277
Prob(F-statistic) 0.000000

Dependent Variable: DERKCL


Method: Least Squares
Date: 10/14/18 Time: 18:51
Sample: 1 70
Included observations: 70

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -0.056608 0.124466 -0.454807 0.6507


PPEKCL 5.041145 0.992271 5.080414 0.0000

R-squared 0.275135 Mean dependent var 0.462714


Adjusted R-squared 0.264475 S.D. dependent var 0.692759
S.E. of regression 0.594129 Akaike info criterion 1.824716
Sum squared resid 24.00331 Schwarz criterion 1.888959
Log likelihood -61.86507 Hannan-Quinn criter. 1.850234
F-statistic 25.81060 Durbin-Watson stat 0.944111
Prob(F-statistic) 0.000003

Pada perusahaan sektor perdagangan dengan potensi tumbuh tinggi dengan


persamaan regresi = −4,072 + 20,614 / diketahui bahwa rasio nilai buku
peralatan dan mesin terhadap nilai buku asetnya berpengaruh sebesar 69%. Sedangkan,
perusahaan sektor perdagangan dengan potensi tumbuh rendah dengan persamaan regresi
= −0,056 + 5,041 / diketahui bahwa rasio nilai buku peralatan dan mesin
terhadap nilai buku asetnya berpengaruh sebesar 27%. Dari hasil ini bisa kita pahami
bahwa pada sektor perdagangan keputusan pendanaan pada perusahaan yang berpotensi
tumbuh tinggi lebih besar dari pada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Hal ini
sesuai dengan teori pecking order. Hal ini bisa dijelaskan dengan pada perusahaan
tumbuh tinggi lebih banyak dipengaruhi oleh rasio nilai buku peralatan dan mesinnya
terhadap nilai buku asetnya dari pada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah.

37
Tabel 4.11 Pengaruh Nilai Buku Peralatan dan Mesin Terhadap Keputusan
Pendanaan pada Sektor Industri

Dependent Variable: DERBSR


Method: Least Squares
Date: 10/14/18 Time: 20:36
Sample: 1 113
Included observations: 113

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -17.49624 3.357034 -5.211814 0.0000


PPEBSR 35.03277 5.633644 6.218492 0.0000

R-squared 0.258367 Mean dependent var 3.005575


Adjusted R-squared 0.251685 S.D. dependent var 7.772471
S.E. of regression 6.723591 Akaike info criterion 6.666662
Sum squared resid 5017.940 Schwarz criterion 6.714935
Log likelihood -374.6664 Hannan-Quinn criter. 6.686251
F-statistic 38.66965 Durbin-Watson stat 0.980010
Prob(F-statistic) 0.000000

Dependent Variable: DERKCL


Method: Least Squares
Date: 10/14/18 Time: 20:37
Sample (adjusted): 1 112
Included observations: 112 after adjustments

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -11.23041 4.341313 -2.586869 0.0110


PPEKCL 39.90090 16.57466 2.407343 0.0177

R-squared 0.050048 Mean dependent var -1.927232


Adjusted R-squared 0.041412 S.D. dependent var 21.38099
S.E. of regression 20.93360 Akaike info criterion 8.938283
Sum squared resid 48203.70 Schwarz criterion 8.986828
Log likelihood -498.5439 Hannan-Quinn criter. 8.957980
F-statistic 5.795300 Durbin-Watson stat 0.872331
Prob(F-statistic) 0.017733

Pada perusahaan sektor industri dengan potensi tumbuh besar dengan persamaan
regresi = −17,496 + 35,032 / diketahui bahwa rasio nilai buku peralatan
dan mesin terhadap nilai buku asetnya berpengaruh sebesar 25%. Sedangkan, perusahaan
sektor industri dengan potensi tumbuh kecil dengan persamaan regresi =
−11,230 + 39,900 / diketahui bahwa rasio nilai buku peralatan dan mesin

38
terhadap nilai buku asetnya berpengaruh sebesar 5%. Dari hasil ini bisa kita pahami
bahwa pada sektor industri keputusan pendanaan pada perusahaan yang berpotensi
tumbuh tinggi lebih besar dari pada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Hal ini
sesuai dengan teori pecking order. Hal ini bisa dijelaskan dengan pada perusahaan
tumbuh tinggi lebih banyak dipengaruhi oleh rasio nilai buku peralatan dan mesinnya
terhadap nilai buku asetnya dari pada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah.

Tabel 4.12 Pengaruh Nilai Buku Peralatan dan Mesin Terhadap Keputusan
Pendanaan pada Sektor Properti

Dependent Variable: DERBSR


Method: Least Squares
Date: 10/14/18 Time: 22:17
Sample: 1 73
Included observations: 73

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 0.896654 0.037133 24.14735 0.0000


PPEBSR 1.774140 0.164120 10.81004 0.0000

R-squared 0.622053 Mean dependent var 1.170959


Adjusted R-squared 0.616730 S.D. dependent var 0.374140
S.E. of regression 0.231626 Akaike info criterion -0.060371
Sum squared resid 3.809189 Schwarz criterion 0.002381
Log likelihood 4.203559 Hannan-Quinn criter. -0.035364
F-statistic 116.8570 Durbin-Watson stat 0.131922
Prob(F-statistic) 0.000000

Dependent Variable: DERKCL


Method: Least Squares
Date: 10/14/18 Time: 22:17
Sample (adjusted): 1 72
Included observations: 72 after adjustments

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 0.103823 0.007818 13.27932 0.0000


PPEKCL 15.50126 0.366474 42.29841 0.0000

R-squared 0.962348 Mean dependent var 0.377500


Adjusted R-squared 0.961811 S.D. dependent var 0.190579
S.E. of regression 0.037243 Akaike info criterion -3.715311
Sum squared resid 0.097094 Schwarz criterion -3.652070
Log likelihood 135.7512 Hannan-Quinn criter. -3.690135
F-statistic 1789.155 Durbin-Watson stat 0.167694

39
Prob(F-statistic) 0.000000

Pada perusahaan sektor properti dengan potensi tumbuh besar dengan persamaan
regresi = 0,896 + 1,774 / diketahui bahwa rasio nilai buku peralatan dan
mesin terhadap nilai buku asetnya berpengaruh sebesar 62%. Sedangkan, perusahaan
sektor properti dengan potensi tumbuh kecil dengan persamaan regresi = 0,103 +
15,501 / diketahui bahwa rasio nilai buku peralatan dan mesin terhadap nilai
buku asetnya berpengaruh sebesar 96%. Dari hasil ini bisa kita pahami bahwa pada sektor
properti keputusan pendanaan pada perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi lebih besar
dari pada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Hal ini sesuai dengan teori pecking
order. Hal ini bisa dijelaskan dengan pada perusahaan tumbuh tinggi lebih sedikit
dipengaruhi oleh rasio nilai buku peralatan dan mesinnya terhadap nilai buku asetnya dari
pada perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah.

Tabel 4.13 Pengaruh Nilai Buku Peralatan dan Mesin Terhadap Keputusan
Pendanaan pada Sektor Infrastruktur

Dependent Variable: DERBSR


Method: Least Squares
Date: 10/15/18 Time: 07:12
Sample: 1 43
Included observations: 43

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -19.64346 3.252640 -6.039235 0.0000


PPEBSR 35.34893 4.734540 7.466181 0.0000

R-squared 0.576200 Mean dependent var 4.339767


Adjusted R-squared 0.565864 S.D. dependent var 5.085673
S.E. of regression 3.350899 Akaike info criterion 5.301730
Sum squared resid 460.3696 Schwarz criterion 5.383646
Log likelihood -111.9872 Hannan-Quinn criter. 5.331938
F-statistic 55.74385 Durbin-Watson stat 0.325531
Prob(F-statistic) 0.000000

Dependent Variable: DERKCL


Method: Least Squares
Date: 10/15/18 Time: 07:12
Sample (adjusted): 1 42
Included observations: 42 after adjustments

40
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -0.098190 0.109773 -0.894480 0.3764


PPEKCL 3.313885 0.484650 6.837683 0.0000

R-squared 0.538926 Mean dependent var 0.457619


Adjusted R-squared 0.527399 S.D. dependent var 0.695480
S.E. of regression 0.478114 Akaike info criterion 1.408514
Sum squared resid 9.143732 Schwarz criterion 1.491260
Log likelihood -27.57880 Hannan-Quinn criter. 1.438844
F-statistic 46.75391 Durbin-Watson stat 0.234916
Prob(F-statistic) 0.000000

Pada perusahaan sektor Infrastruktur dengan potensi tumbuh tinggi dengan


persamaan regresi = −19,643 + 35,348 / diketahui bahwa rasio nilai
buku peralatan dan mesin terhadap nilai buku asetnya berpengaruh sebesar 57%.
Sedangkan, perusahaan sektor Infrastruktur dengan potensi tumbuh rendah dengan
persamaan regresi = −0,098 + 3,313 / diketahui bahwa rasio nilai buku
peralatan dan mesin terhadap nilai buku asetnya berpengaruh sebesar 53%. Dari hasil ini
bisa kita pahami bahwa pada sektor infrastruktur keputusan pendanaan pada perusahaan
yang berpotensi tumbuh tinggi lebih besar dari pada perusahaan yang berpotensi tumbuh
rendah. Hal ini sesuai dengan teori pecking order. Hal ini bisa dijelaskan dengan pada
perusahaan tumbuh tinggi lebih banyak dipengaruhi oleh rasio nilai buku peralatan dan
mesinnya terhadap nilai buku asetnya dari pada perusahaan yang berpotensi tumbuh
rendah.

Tabel 4.14 Pengaruh Nilai Buku Peralatan dan Mesin Terhadap Keputusan
Pendanaan pada Sektor Pertanian

Dependent Variable: DERBSR


Method: Least Squares
Date: 10/15/18 Time: 07:43
Sample: 1 20
Included observations: 20

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -40.06074 6.044891 -6.627206 0.0000


PPEBSR 101.6306 13.20413 7.696881 0.0000

R-squared 0.766966 Mean dependent var 5.834000

41
Adjusted R-squared 0.754020 S.D. dependent var 8.954050
S.E. of regression 4.440886 Akaike info criterion 5.914224
Sum squared resid 354.9864 Schwarz criterion 6.013797
Log likelihood -57.14224 Hannan-Quinn criter. 5.933662
F-statistic 59.24198 Durbin-Watson stat 1.042338
Prob(F-statistic) 0.000000

Dependent Variable: DERKCL


Method: Least Squares
Date: 10/15/18 Time: 07:45
Sample: 1 20
Included observations: 20

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -6.901183 1.458872 -4.730494 0.0002


PPEKCL 23.73545 4.623537 5.133612 0.0001

R-squared 0.594174 Mean dependent var 0.541000


Adjusted R-squared 0.571628 S.D. dependent var 1.116173
S.E. of regression 0.730536 Akaike info criterion 2.304564
Sum squared resid 9.606302 Schwarz criterion 2.404137
Log likelihood -21.04564 Hannan-Quinn criter. 2.324002
F-statistic 26.35397 Durbin-Watson stat 1.877336
Prob(F-statistic) 0.000070

Pada perusahaan sektor Pertanian dengan potensi tumbuh besar dengan persamaan
regresi = −40,060 + 101,630 / diketahui bahwa rasio nilai buku
peralatan dan mesin terhadap nilai buku asetnya berpengaruh sebesar 76%. Sedangkan,
perusahaan sektor Pertanian dengan potensi tumbuh kecil dengan persamaan regresi
= −6,901 + 23,735 / diketahui bahwa rasio nilai buku peralatan dan
mesin terhadap nilai buku asetnya berpengaruh sebesar 59%. Dari hasil ini bisa kita
pahami bahwa pada sektor pertanian keputusan pendanaan pada perusahaan yang
berpotensi tumbuh tinggi lebih besar dari pada perusahaan yang berpotensi tumbuh
rendah. Hal ini sesuai dengan teori pecking order. Hal ini bisa dijelaskan dengan pada
perusahaan tumbuh tinggi lebih banyak dipengaruhi oleh rasio nilai buku peralatan dan
mesinnya terhadap nilai buku asetnya dari pada perusahaan yang berpotensi tumbuh
rendah.
Hasil analisa pengaruh PPE/BVA terhadap DER pada sektor yang signifikan
berbeda antara yang berpotensi tumbuh tinggi dan rendah dirangkum pada tabel berikut:

42
Tabel 4.15 Model dan R2 antara DER dan PPE/BVA berdasarkan Sektornya

Sektor Var Jenis Perusahaan Model R2


Jasa & Tumbuh Tinggi DER =1,235+0,877PPE/BVA 0,38
Investasi Tumbuh Rendah DER =1,124+2,663PPE/BVA 0,87
Perdagangan Tumbuh Tinggi DER =-4,072+20,614PPE/BVA 0,69
Tumbuh Rendah DER =-0,056+5,041PPE/BVA 0,27
Industri Tumbuh Tinggi DER =-17,496+35,032PPE/BVA 0,25
Tumbuh Rendah DER =-11,230+39,900PPE/BVA 0,05
DER
Properti Tumbuh Tinggi DER =0,896+1,774PPE/BVA 0,62
Tumbuh Rendah DER =0,103+15,501PPE/BVA 0,96
Infrastruktur Tumbuh Tinggi DER =-19,643+35,348PPE/BVA 0,57
Tumbuh Rendah DER =-0,098+3,313PPE/BVA 0,53
Pertanian Tumbuh Tinggi DER =-40,060+101,630PPE/BVA 0,76
Tumbuh Rendah DER =-6,901+23,735PPE/BVA 0,59
Sumber: Pengolahan Data

Berdasarkan analisa tersebut ada yang menarik pada sektor industri barang
konsumsi dan sektor pertambangan yang tidak terbukti signifikan adanya perbedaan
keputusan pendanaan anatara perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dengan
perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Sementara pada kebijakan dividen terbukti
signifikan berbeda kebijakannya antara perusahaan yang tumbuh tinggi dan rendah serta
mengikuti teori pecking order. Semua sektor menunjukkan bahwa perusaahan tumbuh
tinggi lebih memilih kebijakan dividen yang lebih rendah dari pada perusahaan yang
berpotensi tumbuh rendah. Hasil yang sama ditemukan di Malaysia, Nurul Shahnaz
Mahdzan, dkk (2016, 250-262).
Ada beberapa kemungkinan kenapa pada sektor industri barang konsumsi dan
sektor pertambangan yang tidak terbukti signifikan adanya perbedaan keputusan
pendanaan anatara perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dengan perusahaan yang
berpotensi tumbuh rendah. Kalau kita lihat karakteristik keputusan investasi sektor
industri barang konsumsi adalah cenderung independen dan defensif. Martin Gunawan
(2017, 161-172) mengatakan bahwa sektor industri barang konsumsi seperti makanan dan
minuman, farmasi, kosmetik dan keperluan rumah tangga, peralatan rumah tangga dan

43
rokok mendominasi pasar bursa menunjukkan sinyal bahwa setiap emiten bergerak di
bidang industri tersebut karena menguntungkan, memiliki nilai saham yang tinggi dan
sektor yang banyak diminati oleh pemilik bisnis untuk mendirikan usaha maupun investor
dalam menanamkan modalnya. Jika kita lihat pertumbuhannya relatif terus meningkat
karena pertumbuhan gerai yang mengikuti pertumbuhan perumahan.
Rudy Chandra (2010, 101-113) menyebutkan Industri Barang Konsumsi
mempunyai kepemilikan investor institusi tertinggi karena jenis industri ini. memiliki
tingkat penjualan produk yang relatif tinggi dan bertumbuh. Menurut Harianto dan
Sudomo (1998), industri ini tergolong sebagai industri yang tidak banyak terpengaruh
oleh perubahan kondisi ekonomi (defensive industry). Artinya sektor ini saham-saham
yang secara umum bertumbuh pendapatannya pada rata-rata atau di bawah rata-rata tetapi
tidak sangat sensitif atau sangat sedikit dipengaruhi oleh kondisi bisnis. Industri barang
konsumsi terdiri dari beberapa sub-sub industri seperti industri makanan dan minuman,
rokok, farmasi, kosmetik dan barang keperluan rumah tangga, serta peralatan rumah
tangga.
Hal yang sama pada sektor pertambangan kita melihat karakteristik keputusan
investasi pada sektor ini adalah (migas, logam dan batubara) cenderung independen
mengikuti kondisi ekonomi global. Hal ini akan berakibat keputuan pendanaan sektor ini
tidak didasarkan fungsi-fungsi umum. Hal ini bisa dilihat atas dasar sektor pertambangan
berdiri sendiri dalam memutuskan kebijakan berinvestasinya. Investasinya cenderung
semata karena ditemukannya lokasi tambang baru yang dianggap bernilai. Bukan
mengikuti pertimbangan permintaan pasar. Yusuf Fatoni dkk (2013, 1-11), menyatakan
industri pertambangan merupakan sub sektor industri yang memiliki risiko sangat
kompleks. Risiko yang dihadapi oleh kedua sub sektor industri ini sangat tinggi dan
beragam seperti risiko fisik, risiko pasar terkait perubahan harga jual domestik maupun
global, serta risiko keuangan yang pasti terjadi jika ternyata kandungan hasil tambang
yang didapatkan dinilai tidak ekonomis (speculative risks) sedangkan tahap ekplorasi dan
eksploitasi yang dilakukan sebelumnya telah memakan biaya yang sangat mahal. Selain
itu, sektor industri pertambangan juga sangat terpengaruh dengan kondisi perekonomian
global. Jadi kita melihat sudut yang ekstrim berkebalikan dengan sektor sebelumnya.

44
Karena sifatnya yang sangat spekulatif maka keputusan investasi dan pendanaannya tida
mengikuti pola tertentu.
Perusahaan yang memiliki tingkat risiko bisnis yang tinggi seperti sektor
pertambangan ini, cenderung akan mengurangi atau bahkan menghindari penggunaan
hutang dalam pendanaannya (pendanaan eksternal). Hal ini disebabkan karena jika
semakin tinggi risiko bisnis maka kemungkinan kesulitan keuangan yang dihadapi oleh
perusahaan juga akan semakin tinggi. Trade-off Theory yang menjelaskan bahwa semakin
tinggi kemungkinan financial distress, perusahaan akan menanggung bangkrupt cost yang
tinggi pula (Umar Farooq dkk. 2012 , 96-108). Sebaliknya, semakin rendah tingkat risiko
bisnis, kemungkinan kesulitan keuangan yang dihadapi oleh perusahaan juga semakin
rendah sehingga perusahaan akan lebih mudah untuk menggunakan lebih banyak hutang.
Hal ini dikarenakan perusahaan yang memiliki tingkat risiko bisnis yang rendah
cenderung mempunyai earning yang relatif stabil. Tingkat earning yang stabil akan
mempengaruhi minat kreditur untuk memberikan pinjaman yang lebih besar.
Pada sektor konsumsi tahap awal pertumbuhan (introduction), masa bertumbuh
(growth), masa stabil/matang (maturity), dan masa penurunan (decline) relatif dipengaruhi
oleh perspektif konsumen terhadap barang konsumsi yang bisa dikatakan ada masa titik
jenuh yang lebih mudah diprediksi, sedangkan jumlah penduduk yang terus bertambah.
Pada pola lain di pertambangan batubara, migas, dan logam dengan permintaan dunia
yang sedang turun dan cadangan sumber daya alam (minyak) yang semakin terbatas maka
ukuran ukuran investasi dan pendanaannya relatif lebih mudah dipastikan masa
declinenya.
Sektor konsumsi ini dikenal defensif di segala kondisi karena produknya entah itu
murah atau mahal tetap dibutuhkan orang untuk keperluan sehari-hari. Saham sektor ini
favorit para investor jangka panjang. Namun sayangnya tidak semua saham di sektor ini
liquid. Saham sektor ini diuntungkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang begitu
besar dan pertumbuhan kelas menengah yang cukup pesat, dan itu adalah konsumen. Pada
sektor pertambangan karena orientasi pasarnya eksport maka pengaruh yang dominan
adalah fluktuasi harga komoditas (batubara/logam/migas) dunia, fluktuasi nilai tukar
Rupiah terhadap Dollar, regulasi pemerintah (pajak eksport), dan pertumbuhan ekonomi

45
dunia yang mempengaruhi permintaan dari negara importir. Jika kondisi ekonomi dunia
membaik maka permintaan komoditas dan energi juga ikut naik. Pengaruh paling nyata
sekarang ini terasa pada batubara. Jika kondisi ekonomi dunia sedang lesu, harga minyak
mentah dunia sedang anjlok, maka harga batubara sebagai substitusi minyak menjadi
tertekan karena kurangnya permintaan dari negara konsumen.
Pada sisi lain, pada kebijakan dividen perusahaan yang pertumbuhannya tinggi
membayar dividen yang lebih rendah karena mereka mempunyai kesempatan yang
menguntungkan dalam mendanai investasinya secara internal, sehingga tidak terdorong
untuk membayar bagian laba yang lebih besar kepada para investor. Sebaliknya
perusahaan yang pertumbuhannya rendah berusaha menarik dana dari luar untuk
mendanai investasinya dengan mengorbankan sebagian besar labanya dalam bentuk
dividen. Kedua prilaku kenaikan dan penurunan ini jika hanya dibaca dengan
menggunakan kajian kebijakan dividen semata akan membuat para investor salah arah.
Sebab, secara teori pemberian dividen yang besar seakan menunjukkan besarnya
keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan sehingga ia mampu memberikan dividen
yang lebih besar. Sebaliknya jika perusahaan memberikan dividen yang lebih kecil
menunjukkan seakan keuntungan yang didapat perusahaan menurun sehingga tidak
mampu memberikan dividen yang lebih besar, atau setidaknya mempertahankan
kebijakan dividennya. Asimetri informasi pada kebijakan dividen ini lah yang juga di
usahakan oleh para manajer keuangan untuk tidak terjadi. Sehingga banyak perusahaan
berusaha untuk mempertahankan kebijakan dividennya atau setidaknya memberikan
kebijakan dividen yang lebih smooth. Walau bagaimanapun berarti yang terbaik bagi para
pembaca kebijakan dividen dan atau investor dan calon investor adalah tidak membaca
data dividen secara tunggal. Tetapi membaca juga data investasi perusahaan.
Eli Safrida (2014, 289-299) menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan
antara profitabilitas berpengaruh terhadap kebijakan deviden. Ini menunjukkan aktifitas
investasi memang akan mempengaruhi kebijakan dividen. Walau sebenarnya terdapat
ketidakkonsistenan hasil beberapa hasil penelitian mengenai apakah kebijakan dividen itu
adalah kebijakan yang ditentukan atas dasar hasil dari investasi? Ataukah semata
kebijakan residual dari keputusan pendanaan?

46
Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh keputusan investasi sangat besar
terhadap kebijakan yang diambil oleh perusahaan. Sehingga kenaikan, penurunan dan
kebijakan dividen tetap itu sangat dipengaruhi oleh keputusan investasi perusahaan. Tidak
semata oleh laba yang berhasil didapatkan perusahaan pada tahun berjalan. Sehingga
memandang kebijakan dividen sebagai kebijakan residual juga menjadi tidak tepat benar.
Akhirnya penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan investasi, keputusan pendanaan
dan kebijakan dividen tidaklah merupakan kebijakan residual atas masing-masingnya.
Tetapi sama-sama dipertimbangkan secara matang oleh para manajer keuangan agar
memberikan informasi yang benar tetang keadaan perusahaan pada orang lain. Penelitian
ini akhirnya memberikan prespektif dan bukti lain dari teori Signaling Hypotesis pada
kebijakan dividen. Kebijakan dividen terbukti memberikan signal kemungkinan investasi
dimasa depan yang berarti memberikan prediksi pada besaran laba yang akan di dapatkan
oleh perusahaan. Jadi ketiga keputusan/ kebijakan ini sama berpengaruhnya satu sama
lain.

Keputusan
Investasi

Keputusan Kebijakan
Pendanaan Dividen
Gambar 4.1 Koneksi Strategi keuangan Perusahaan

47
C. Publikasi
Rencananya hasil penelitian analisa keputusan pendanaan pada perusahaan yang
memiliki perbedaan potensi tumbuhnya ini akan diterbitkan di Jurnal Internasional The
Journal of Entrepreneurship and Business (JEB) e-ISSN: 2289-8298
http://fkp.umk.edu.my/jeb/.

Hasil penelitian ini akan diterbitkan juga dalam bentuk buku sehingga diharapkan dalam
memberikan kontribusi dalam pengembangan keilmuan tentang keputusan investasi,
keputusan pendanaan dan kebijakan dividen.

48
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
1. Sektor industri barang konsumsi dan sektor pertambangan yang tidak terbukti
signifikan adanya perbedaan keputusan pendanaan antara perusahaan yang berpotensi
tumbuh tinggi dengan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah. Pada sektor lainnya
terbukti, signifikan adanya perbedaan keputusan pendanaan antara perusahaan yang
berpotensi tumbuh tinggi dengan perusahaan yang berpotensi tumbuh rendah
2. Kebijakan dividen terbukti signifikan berbeda kebijakannya antara perusahaan yang
tumbuh tinggi dan rendah serta mengikuti teori pecking order.

B. Saran
1. Penelitian lebih lanjut kenapa di sektor industri barang konsumsi dan sektor
pertambangan tidak terbukti signifikan adanya perbedaan keputusan pendanaan anatara
perusahaan yang berpotensi tumbuh tinggi dengan perusahaan yang berpotensi tumbuh
rendah?
2. Penelitian lebih lanjut menggunakan analisis konfirmatori pada Invesment Opportunity
Set (IOS)

49
DAFTAR PUSTAKA

Ade Pendria Astuti. 2015. Pengaruh Kesempatan Investasi, Leverage Terhadap Kebijakan
Deviden Dan Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di
Bursa Efek Indonesia. Vol. VII No. 3 September 2015 Jurnal Tepak Manajemen
Bisnis
AlNajjar & Ahmed, R. B. 2001. Empirical Validation of a General Model of Growth
Opportunities. Journal of Managerial Finance, Vol. 27, No.3, pp.72-99.
BKPM. 2017. Perkembangan Realisasi Investasi. BKPM
Brealey, R. A. & Myers, S. C. 1991. Principles of Corporate Finance, 4th edition. McGraw Hill
Inc.
Christian Herdinata, 2007. Kebijakan Pendanaan Dan Dividen Dengan Pendekatan Investment
Opportunity Set. Jurnal Keuangan dan Perbankan, Vol. 13, No.2 Mei 2009, hal. 237 –
248.
Christian Herdinata. 2009. Kebijakan Pendanaan Dan Dividen Dengan Pendekatan Investment
Opportunity Set. Jurnal Keuangan dan Perbankan, Vol. 13, No.2 Mei 2009, hal. 237 –
248.
Dharmapala, D., dan V. Khanna. 2008. Corporate governance, enforcement, and firm value:
evidence from India. Working Paper Series. No.8 Vol.5.
Eli Safrida, 2014. Profitabilitas Dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Kebijakan Deviden Pada
Perusahaan Manufaktur Di Indonesia. Jurnal Riset Akuntansi Dan Keuangan, 2 (1),
2014, 289-299
Fakhruddin, Hendy M. 2008. Istilah Pasar Modal A-Z. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Fijrijanti, T. & Hartono, J. 2000. Analisis Korelasi Pokok IOS dengan Realisasi Pertumbuhan
Perusahaan, Kebijakan Pendanaan dan Dividen. Makalah Simposium Nasional
Akuntansi III, hal.851-877.
Harianto, Farid dan Sudomo, Siswanto. (1998). Perangkat dan Teknik Analisis Investasi di Pasar
Modal Indonesia. Jakarta: Bursa Efek Jakarta.
Husnan, S. 1996. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi ketiga. Penerbit
UPP AMPYKPN. Yogyakarta.

50
Husnan, Suad. 2010. Manajemen Keuangan Teori Dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang).
Edisi Keempat. BPFE :Yogyakarta.
Iswaltyuni , Yetti (2001) Analisis Perbedaan Perusahaan Tumbuh Dan Tidak Tumbuh Dengan
Kebijakan Pendanaan, Deviden, Perubahan Harga Saham Dan Volume Perdagangan
Pada Bursa Efek Jakarta Dengan Pendekatan Asosiasi Proksi Investment Opportunity
Set (I0S). Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.
Iswayuni, Y. & Suryanto, L. 2002. Analisis Perbedaan Perusahaan Tumbuh dan Tidak Tumbuh
dengan Kebijakan Pendanaan, Deviden, Perubahan Harga Saham dan Volume
Perdagangan Pada Bursa Efek Jakarta dengan Pendekatan Asosiasi Proksi
Investement Opportunity Set (IOS). Jurnal Bisnis dan Ekonomi, Vol.9, No.2,
hal.120-148.
Jiambalvo, J., dan S. Rajgopal. 2002. Institutional ownership and the extent to which stock prices
reflect future earnings. Contemporary Accounting Research Vol.19 No.1: 117–145
Kallapur , S. & Trombley, M.K. 2001. The Invesment Opportunity Set: Determinants,
Consequences and Measurement. Managerial Finance, Vol.27, No.3, pp.3-15.
Khanna, T., dan K. Palepu. 1999. Policy shocks, market intermediaries, and corporate strategy:
the evolution of business groups in Chile and India. Journal of Economics &
Management Strategy. Vol.8 No.2: 271-310.
Kole, S. 1991. An investigation of the building of compensation. Working Paper.
Martin Gunawan, 2017. Pengaruh Faktor Makroekonomi Dan Risiko Terhadap Return Saham
Sektor Industri Indonesia. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil, Volume 7, Nomor 02,
Oktober 2017.
Miller, M. H., dan F. Modigliani. 1961. Dividend policy, growth, and the valuation of shares.
Journal of Business. Vol.34: 411-433.
Miller, M. H., dan M. Scholes. 1982. Dividends and taxes: some empirical evidence. Journal of
Political Economy. Vol.90: 1118-1141.
Miller, R., dan F. Modigliani. 1961. Dividend policy, growth and the valuation of shares. Journal
of Business. Vol.34 No.4 (October): 411–33.
Modigliani, F. and Miller, M. 1958. The cost of capital, corporation finance and theory of
investment. The American Economic Review, Vol. 48, pp. 261-97.

51
Myers, S. c.. 1984. Capital Structure Puzzle. Journal of Finance, 39 (3), July, pp 575-592.
Myers, S. C & N.S Majluf. 1984. Corporate Financing & Invesment Decision When Firm
Have Information That Investor Do Not Have. Journal of Financial Economics,
13, pp 187-221.
Myers, S. C. 1977. Determinants of corporate borrowing. Journal of Financial Economics. Vol.5:
147-175
Rudy Chandra, 2010. Analisis Pemilihan Saham oleh Investor Asing di Bursa Efek Indonesia.
Bisnis & Birokrasi, Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Volume 17, Nomor 2.
Mei—Agus 2010, hlm. 101-113.
Smith Jr., C. W. 1986. Investment banking and the capital acquisition process. Journal of
Financial Economics. Vol.15: 3–29.
Smith, Jr., W. Clifford, dan R. L. Watts. 1992. The investment opportunity set and corporate
financing, dividend, and compensation policies. Journal of Financial Economics.
Vol.32: 263-292.
Stefanus, D. S. 2001, Studi Empirik Pengaruh Konsep Pecking Order Theory dalam
Pengambilan Keputusan Pendanaan. Tesis. Malang : PPSUB.
Subdirektorat Indikator Statistik. 2017. Laporan Perekonomian Indonesia 2017. BPS
Subekti, I., & Suprapti. 2002. Assosiasi Antara Potensi Pertumbuhan Perusahaan dengan Volume
Perdagangan Saham dan Asimetri Informasi. Simposium Nasional Akuntansi V,
hal.356-370
Sudarma, M., Salim, U., Susanto, H. 1998. Analysis Kausalitas Keputusan Dividen, Investasi dan
Pendanaan pada Perusahaan Manufaktur di BES. Wacana Vol 1 No.2.
MODERNISASI, Volume 3, Nomor 1, Februari 2007
UNCTD. 2017. Word Investment Report 2017, Investment and the Digital Economy. UNCTD
Warsono. 2003. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jilid 1. Bayu Media. Publishing. Malang.
Weston, J. Fred dan Thomas E. Copeland. 1996. Manajemen Keuangan. Jilid 2. Erlangga.
Jakarta.
Whitaker, Richard B. 1999. The Early Stage of Financial Distress. Journal of Economics and
Finance. Vol. 23. no.2. p.123-133.

52
Yusuf Fatoni, Hadi Paramu, Elok Sri Utami. 2013. Determinan Struktur Modal Pada Perusahaan
Pertambangan Sub Sektor Batubara Dan Non Batubara Yang Listed Di Bursa Efek
Indonesia. Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE), Vol. 20, No. 1. Maret 2013, Hal. 1 – 11
Nurul Shahnaz Mahdzan, Rozaimah Zainudin & Nikoo Karimi Shahri. 2016. Interindustry
dividend policy determinants in the context of an emerging market. Economic
Research-Ekonomska Istraživanja, 29:1, 250-262, DOI:
10.1080/1331677X.2016.1169704
Umar Farooq , Mian Sajid Nazir, Muhammad Musarrat Nawaz. 2012. Operating or Financial
Distress? How much Costly these are? American Journal of Scientific Research, Issue
55, pp. 96-108
Mougue, M & Mukherjee T. K. 1994. An Investigation into The Causality among Firms’
Dividend, Investment and Financing Decision. The Journal of Financial Research.
Vol XVII No 4 page 512-530.
Sulistyowati,Indah et al, “Pengaruh Profitabilats, Leverage, Growth Terhadap Kebijakan Deviden
Dengan Good Corporate Governance Sebagai Variabel Intervening” Puwarkarta:
SNA XII, 2010

53

Anda mungkin juga menyukai