Anda di halaman 1dari 19

Team Building Games: Straw Castle

Pendahuluan dan Persiapan

Games ini dapat juga dijadikan alat “LGD” (Leaderless Group Discussion)
karena dalam games ini diperlukan perencanaan dan strategi serta paembagian tugas.
Komunikasi dan insiatif juga dapat diamati dalam games ini. Fasilitator mesti cermat
dalam mengobservasi dan mencatat hal-hal penting untuk didiskusikan dalam debrief.

Games ini dapat dimainkan di dalam ruangan. Alat yang diperlukan hanyalan 3-5
bungkus sedotan untuk setiap kelompok yang terdiri dari 6-10 orang.

Instruksi dan petunjuk permainan

• Berbekal sedotan yang ada, setiap kelompok diminta membuat sebuah istana
yang indah dan kokoh.
• Lama waktunya ditentukan oleh fasilitator, bisa 15-30 menit, tergantung
jumlah sedotan yang akan diberikan kepada kelompok.

Larangan

Mereka tidak boleh menggunakan alat bantu yang lain.

Target

Pemenangnya adalah kelompok yang dapat membuat istana paling bagus dan paling
kokoh. Uji konstruksi dapat dilakukan untuk melihat kekokohan.

Variasi

• Sebagai variasi, dapat juga digunakan sedotan yang berbeda-beda warna


diantara kelompok-kelompok yang ada, dan mereka diijinkan untuk saling
barter, untuk membuat bangunannya lebih indah. Biasanya dinamika dalam
interkasi antar kelompok menjadi lebih menarik.
• Jika memungkinkan sediakan hadiah bagi pemenang agar dapat lebih
memeriahkan suasana.

Tools:

• 3-5 bungkus sedotan untuk setiap kelompok yang terdiri dari 6-10 orang.

Sumber:
Tulisan asli dan kumpulan games lain dapat Anda lihat di: Straw Castle

Team Building Games: Tupai dan Pemburu

Pendahuluan dan Persiapan

Permainan dapat dilakukan di ruangan yang cukup besar atau pun di halaman, dengan
jumlah peserta tidak terbatas, lebih baik dengan jumlah kelipatan 3 plus 1. Misalnya
13, 16, 22, atau 31…dst.

Instruksi dan petunjuk permainan

 Awalnya kita minta peserta membentuk lingkaran,


 kemudian secara cepat kita minta mereka membentuk kelompok-kelompok
yang terdiri dari 3 orang, sehingga pasti akan tersisa satu orang yang tidak
mempunyai kelompok.
 Dari 3 orang tersebut kita minta satu orang menjadi tupai yang akan
jongkok/merunduk, berada di antara 2 rekan lainnya yang membentuk pohon
dengan cara berpegangan tangan saling berhadapan, seperti pada permainan
“ular naga panjangnya”.
 Fasilitator akan mulai dengan memberikan cerita, di mana dalam ceritanya
akan diselipkan kata PEMBURU, ANGIN, dan BADAI.
o Jika disebut kata PEMBURU, maka semua tupai harus pindah ke
pohon yang lain, jadi berpindah ke kelompok lainnya,
secepatnya.Pohon tetap diam di tempat.
o Jika disebut kata ANGIN, maka yang berpindah adalah pohon, tanpa
boleh melepas pegangan tangannya, mencari tupai yang lain.
o Namun jika yang disebut adalah BADAI, maka semua harus berpindah
dan berganti peran, boleh jadi tupai atau pohon dan sebaliknya.
 Cerita akan dilanjutkan oleh satu orang yang tidak mendapat tempat/pasangan,
dan diteruskan hingga beberapa kali
 Pada saat berpindah, orang yang bercerita harus ikut segera mencari kelompok
dan peran sebagai tupai/pohon yang kosong.

Variasi

 Untuk lebih meriah, minta mereka untuk mencari kelompok / posisi yang ada
di seberangnya pada saat melakukan perpindahan.
Team Building Games: The Opposite

Pendahuluan dan Persiapan

Games ini dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan. Peserta dibagi dalam 3-
4 kelompok yang terdiri dari 6-10 orang.

Instruksi dan petunjuk permainan

 Setiap kelompok diminta membentuk barisan ke belakang seperti kereta,


dengan tangan memegang bahu atau pinggang kawan yang ada di depannya.
 Jika memungkinkan, minta mereka memeluk rekan yang ada didepannya
masing-masing.
 Kemudian kita beri aba-aba untuk mereka secara bersama-sama bergerak ke
kiri atau ke kanan atau ke depan ke belakang sesuai instruksi,
 Peserta harus bergerak dengan cara melompat bersama, tanpa boleh
barisannya putus atau rusak.
 Setelah beberapa kali mencoba ke arah yang sesuai dengan instruksi, maka
kemudian mereka harus melakukan gerakan yang berlawanan dengan instruksi
yang diberikan.

Larangan dan hukuman

 Barisannya tidak boleh putus atau rusak.


 Minta mereka untuk tidak bersuara (yang dapat dijadikan “alat bantu
komando”) pada saat melakukan gerakan.
 Bagi kelompok yang salah atau ada anggota kelompoknya salah melakukan
pergerakan maka kelompok tersebut harus gugur

Target

 Permainan terus dilanjutkan hingga didapat pemenang, yaitu yang tidak


pernah melakukan kesalahan

Variasi

 Untuk mendistorsi, kita dapat memberi instruksi dengan ditambahkan gerakan


tangan atau kita melompat juga sambil memberi instruksi.
 Games ini dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan.

Tulisan Asli dan Team Building Games lain dapat dilihat pada: The Opposite

Team Building Games: Carterpillar Race


Pendahulan dan Persiapan
Caterpillar race atau balap ulat bulu dapat dimainkan di lapangan Peserta dipecah jadi
3 or 4 team, terdiri dari 7-10 orang,

Instruksi

 Peserta kita minta untuk membentuk formasi berbaris ke belakang dengan


tangan dibahu, atau di pinggang atau berpelukan.
 Tugas mereka adalah berjalan dengan teamnya dengan rute yg kita buatkan
sebelumnya, bisa berupa lintasan dengan tali atau tanda-tanda patokan.
 Tiap team harus bergerak secepatnya ke garis finish yg kita tentukan
 Bagi Team yang barisannya rusak harus mulai lagi dari garis start.

Target

Team yang menjadi pemenang adalah yang pertama sampai di garis finish dengan
utuh.

Larangan

 Larangan utama yaitu bahwa barisan tidak boleh putus.


 Tidak boleh merusak formasi teamnya, misalnya tangan terlepas, terjatuh atau
tertinggal sebagian.

Variasi:

 Lintasan dapat dibuat lurus atau berkelok-kelok.


 Pergerakan bisa juga dibuat maju atau mundur,
 Bisa juga formasi lainnya, tergantung kondisi lapangan dan juga tingkat usia
peserta

Tulisan Asli dan artikel menarik lainnya dapat dilihat di:CATERPILLAR RACE

Team Building Games: Hulahoop


Pendahuluan dan persiapan
Games ini dapat dalam kelompok, dengan jumlah anggota kelompok 6-10
orang. Hulahoop yang digunakan bisa yang terbuat dari rotan atau dari tali / webbing
yg dibuat melingkar dengan diameter 1-1,5 meter.

Petunjuk

 Caranya hulahoop diletakkan di pundak salah satu anggota kelompok


 Kemudian dengan didahului aba-aba, hulahoop tersebut harus berpindah dari
satu anggota kelompok ke anggota yang lain sampai ke anggota keloompok
yang terakhir,
 Anggota kelompok boleh menggerakkan seluruh badan untuk membuat
hulaoop tersebut bergerak,
 Posisi peserta dapat dibuat melingkar atau berjajar atau berbaris ke belakang.

Larangan:

 Webbing / hulahoop tidak boleh dipegang atau digenggam oleh tangan


anggota kelompok.

Variasi

 Sebagai variasi, perpindahan hulahoop dapat dibuat satu arah atau bisa juga
bolak-balik.
 Jika menggunakan tali/webbing, dapat juga divariasikan dengan menggunakan
2 hulahoop yang harus berpindah berlawanan arah.
 Untuk lebih meriah, permainan ini dapat dimainkan dalam format kompetisi
dengan membentuk 2 atau 3 kelompok jika jumlah pesertanya mencukupi, dan
mereka yang paling cepat yang menang.

Tulisan Asli dan Artikel menarik lainnya dapat dilihat di: Games Hulahoop

Kontributor
Andreas Purnawan. Lulusan Fakultas Psikologi dan Program Pasca Sarjana
Magister Manajemen Universitas Indonesia ini, telah mempunyai pengalaman lebih
dari 10 tahun di bidang Human Resources & Development sebagai praktisi, dengan
posisi saat ini sebagai Group HR Manager di sebuah Multinational Company.

Dalam 10 tahun yang sarat dengan pengalaman sebagai praktisi, beliau juga aktif
sebagai associate consultant di beberapa konsultan terkemuka di Jakarta.dan
memperoleh world-wide certification dari DDI sebagai trainer/fasilitator serta
terakreditasi untuk menganalisa DISC profiling.

Semangat berbagi ilmu dan berorganisasi juga mendorongnya untuk tetap berkiprah di
beberapa kegiatan lain seperti sebagai dosen tamu di beberapa perguruan tinggi dan
juga aktif di organisasi profesi.

GAMES BERSAMA KELOMPOK ANAK


1. Game perkenalan

1.1. ”Saya”
Tujuan : pada akhir permainan peserta belajar dapat saling
mengenal antar anggota kelompok
Jumlah peserta maximum : 10 – 30 peserta
Lama waktu : 15 – 20 menit
Peralatan : Kertas kosong, spidol, isolatip

Langkah-langkah:

1. Berikan satu kertas kosong pada setiap peserta beserta spidol dan minta
mereka untuk menulis nama mereka di bagian atas kertas dan menyelesaikan
kalimat ” Saya …….” menggunakan enam kata akhir yang berbeda.Misalnya:
saya tampan, kepala desa, lapar dan seterusnya
2. Minta peserta untuk menempelkan kertas yang telah diisi di dada mereka
dengan menggunakan isolasi dan kemudian berjalan disekitar ruangan dan
membaca kalimat antar peserta -
3. Sarankan bahwa setiap peserta belajar minimal 30 detik berbicara satu dengan
yang lainnya
4. Ketika latihan telah selesai, Kertas ”Saya” dapat ditempelkan di dinding
sebagai galery kelompok. Jika kamu memiliki photo peserta dengan atau tanpa
kertas ”saya” di dada dapat juga ditempelkan.
1.2. ”Perkenalan tanpa kata”
Tujuan : Peserta belajar dapat mendemonstrasikan bahwa
komunikasi antar orang dapat dilakukan secara
efektif tanpa menggunkan kata
Jumlah peserta maximum : 10 – 30 peserta
Lama waktu : 30 menit
Peralatan : Kertas plano, spidol, isolatip

Kapan digunakan?: bagus digunakan pada saat memulai kegiatan kelompok


Langkah-langkah:

1. Minta peserta belajar menjadi berpasang-pasangan


2. Katakan bahwa tujuan dari latihan ini adalah untuk memperkenalkan sesuatu
benda atau situasi pada pasangan, tetapi memperkenalkan benda atau situasi
tersebut tanpa menggunakan kata-kata. Peserta dapat menggunakan gambar,
gerakan tubuh, simbol, sinyal, tanpa menggunakan suara dan kata-kata. Jika
dibutuhkan mereka dapat memberikan petunjuk seperti menunjuk cincin
kawin untuk mengindikasikan perkawinan, lari di tempat untuk
mengindikasikan joging dan lain-lain.
3. Beri kesempatan pada setiap orang untuk ”memperkenalkan tanpa kata” pada
partnernya selama 3 menit. Kemudian partner menebak apa yang
diperkenalkan oleh rekannya tersebut.
4. Kemudian minta setiap orang untuk mengatakan apa sebenarnya yang ingin
mereka perkenalkan pada pasangannya.

Pertanyaan pada seluruh peserta belajar:


Setelah semua langkah selesai, peserta belajar kembali ke pleno dan dapat ditanya:

• Sejauh mana kamu tepat menggambarkan apa yang kamu maksud?


• Seberapa jauh kamu dapat menebak secara tepat membaca petunjuk teman
kamu ?

1.3. ”Dua Huruf Sama”


Tujuan: Belajar mengingat nama peserta lain
Jumlah peserta maximum: 25 peserta
Lama waktu: 30 menit
Langkah-langkah:

1. Minta peserta untuk duduk dalam lingkaran

2. Minta peserta untuk berpikir satu kata sifat yang dimulai dengan huruf yang
sama dengan huruf pertama nama panggilannya dan menjadi kata pertama
namanya. Misalnya: ”Tampan Toni” atau ”Lembut Lani”.
3. Minta mereka untuk merahasiakan kata sifat namanya yang dia pilih hingga
gilirannya memperkenalkan diri pada kelompok.

4. Perkenalkan dirimu sendiri dengan ”dua huruf sama - kata sifat dan nama”
dan kemudian minta orang yang disebelah kananmu untuk memperkenalkan
sifat dan namanya. Kemudian orang di sebelah kananmu memperkenalkan
”dua huruf sama kamu (nama kamu dan kata sifat yang mendahului ). Dan
kemudian orang disebelah kananmu meminta orang disebelah kanannya
melakukan hal yang sama memperkenalkan dirinya, dan orang disebelumnya
dan seterusnya.

5. Proses terus berlanjut hingga orang terakhir di lingkaran memperkenalkan


dirinya dan seluruh orang dilingkaran.

1.4. ”Menulis Nama”


Tujuan: Memfasilitasi perkenalan dan mengkreasi suasana persahabatan antar
peserta
Waktu: 10 – 20 menit
Jumlah peserta maximum: 20 – 25 peserta
Peralatan: Potongan kartoon, Isolatip, Spidol
Langkah-langkah bermain game:

1. Minta setiap peserta menuliskan namanya di kartu nama atau potongan


kartoon. Lengketkan kartu nama tersebut di baju yang dapat terlihat peserta
lain. Minta peserta membentuk lingkaran.
2. Beri mereka waktu yang cukup untuk mengingat nama peserta lain di
lingkaran.
3. Ketika waktu yang diberikan sudah berakhir, minta peserta untuk melepaskan
kartu namanya, dan putarkan seluruh kartu nama searah jarum jam di
lingkaran.
4. Peserta memegang kartu nama peserta lain. Beri mereka waktu 10 detik untuk
menemukan orang yang sesuai dengan kartu nama.
5. Setelah 10 detik selesai, peserta yang masih memegang kartu nama orang lain
dihukum ke tengah lingkaran. Minta mereka untuk menemukan pemilik kartu
nama. Kali ini peserta yang dihukum dibantu oleh peserta lain.
6. Ulangi langkah 3 – 5 hingga semua peserta saling kenal satu dengan yang lain.
2. Game Motivasi dan Pemanasan

2.1. ”Mengendarai Mobil”


Tujuan:
- Meningkatkan kepercayaan antara peserta pelatihan
- Menghidupkan suasana positif kelompok
Waktu: 5 menit
Jumlah peserta : 10 – 50
Peralatan: tidak ada
Langkah-langkah:

1. Minta peserta untuk berpasangan


2. Setiap pasangan satu orang berdiri didepan dan satu orang berdiri dibelakang.
Yang di depan harus ditutup matanya dan seolah-olah menjadi sebuah mobil.
3. Orang yang dibelakang matanya tetap terbuka dan menjadi supir mobil.
4. Supir memberikan petunjuk pada mobil harus ke arah mana tanpa suara. Sopir
hanya boleh menepuk bahu dari orang di depan untuk menunjukkan arah
mobil berjalan. Bila sopir menepuk bahu sebelah kiri orang di depan, maka
mobil berbelok ke kiri, bila sopir menepuk bahu kanan orang di depan maka
mobil berbelok ke kanan. Tepukan sopir pada tengah-tengah punggung berarti
mobil harus berjalan lurus. Bertambah cepat tepukan sopir maka mobil harus
berjalan lebih cepat. Bila tangan sopir memegang punggung orang di depan
dengan erat berarti mobil harus berhenti.
5. Setelah beberapa menit, tukar peranan antara sopir dengan mobil. Sopir harus
mengendarai mobil tidak boleh bertabrakan dengan mobil lain atau menabrak
tembok.

2.2. ”Sungai Kehidupan”


Tujuan : Peserta belajar dapat membangun pertemanan dan
mendorong keterbukaan dan kepercayaan dalam
kelompok
Jumlah peserta maximum : 10 – 30 peserta
Lama waktu : 45 – 60 menit
Peralatan : Kertas plano, spidol, isolatip

Kapan digunakan?: bagus digunakan pada saat workshop dimana dibutuhkan


kerjasama kelompok yang lebih dalam

Langkah-langkah:
1. Minta peserta belajar untuk berpasangan
2. Minta mereka untuk mendiskusikan periode kehidupan mereka yang
menyenangkan dan yang sulit. Ijinkan sekitar 10 menit setiap orang untuk
berdiskusi dan berbicara
3. Minta peserta untuk menggambarkan informasi yang diberikan oleh
pasangannya di sebuah ”sungai kehidupan”.
4. Peserta kemudian mempresentasikan dan menjelaskan kehidupan pasangannya
pada semua peserta belajar

2.3. ”Bergerak dan Berhenti”


Tujuan: Meningkatkan konsentrasi dan partisipasi kelompok
Waktu: 5 – 10 menit
Jumlah peserta: 15 – 40 orang
Peralatan: kartu/potongan karton, musik (pilihan)
Langkah-langkah:

1. Game ini akan berjalan dengan baik bila dengan musik atau dengan perintah
”bergerak” dan ”berhenti”
2. Tempatkan potongan kartu di atas lantai di mana antar kartu minimal berjarak
60 cm. Jumlah kartu harus kurang satu dari jumlah peserta.
3. Saat musik mulai dimainkan atau perintah ”bergerak” diberikan, peserta
menari dan bergerak sesuka hati di tengah-tengah ruang.
4. Ketika musik dihentikan atau perintah ”berhenti” diberikan, peserta
secepatnya memilih kartu dan berdiri di atas kartu. Peserta yang berdiri tanpa
kartu harus keluar dari game.
5. Facilitator mengambil satu kartu dan perintah ”bergerak” diberikan lagi.
6. Ini dilakukan berulang-ulang hingga hanya ada dua orang peserta yang
berkompetisi.

2.4. ”Memindahkan Cincin”


Tujuan: meningkatkan semangat peserta pelatihan melalui kompetisi permainan
Waktu: 5 – 10 menit
Jumlah peserta: 15 – 30 orang
Peralatan:
- Satu pensil yang tidak diraut atau tongkat kecil yang kuat untuk setiap peserta
- 2 -3 cincin
Langkah-langkah:

1. Minta peserta untuk berbaris dalam dua baris berhadapan satu sama lain.
Jumlah peserta pada setiap baris haruslah sama.
2. Minta semua peserta untuk menempatkan pencil di mulut mereka.
3. Orang pertama di tiap baris menempatkan cincin di pensilnya, rapatkan mulut
untuk menjaga pensil dan secara cepat pindahkan cincin di pensilnya ke pensil
orang ke dua dibarisnya. Memindahkan cincin tidak boleh menggunakan
tangan namun harus dari pensil ke pensil.
4. Jika cincin jatuh, maka harus diulang dari orang pertama di barisnya.
5. Group yang menang adalah yang pertama dapat memindahkan cincin pada
semua orang di barisnya.

2.5. ”Kacau”
Tujuan: Untuk memotivasi kelompok dan meningkatkan konsentrasi
Waktu: 10 -15 menit
Jumlah peserta: 15 -30 orang
Peralatan: Kertas dan Pena

Langkah-langkah

1. Dalam persiapan, fasilitator harus menulis berbagai macam gerakan/perilaku


di kertas.
2. Minta peserta berdiri di satu lingkaran. Berikan setiap peserta satu kertas yang
sudah berisi petunjuk gerakan/perilaku yang harus dilakukan.
3. Fasilitator kemudian menjelaskan ketika diberikan satu tanda pada peserta
maka peserta harus melakukan prilaku yang tertulis dikertas. Ketika fasilitator
memberikan tanda lain maka peserta harus berhenti melakukan
gerakan/perilaku tersebut.
4. Ulangi game beberapa kali dengan perilaku yang berbeda.

Catatan:
Contoh gerakan/prilaku yang lucu antara lain, gerakan kelinci melompat-lompat,
makan rumput dan mengembik seperti lembu, mencangkul di sawah dll.

Variasi:
Persiapkan gerakan-gerakan yang berhubungan satu sama lain. Misalnya; satu
gerakan adalah mencangkul di sawah, gerakan orang lain adalah menanam padi.
Minta setiap peserta saat mereka melakukan gerakan untuk memperhatikan gerakan
orang lain yang berhubungan dengan prilaku yang dia lakukan.

3. Game Komunikasi

3.1. ”Topeng”
Tujuan: Mengembangkan komunikasi dengan bahasa isyarat.
Waktu: 10- 15 menit
Jumlah peserta: 10 – 30 orang
Peralatan: tidak ada

Langkah-langkah:

1. Minta peserta membentuk lingkaran


2. Fasilitator memulai game dengan bermimik yang tragis seperti mimik sangat
sedih atau marah. Perlahan-lahan fasilitator seolah-olah mengupas topeng
tragedi kesedihan atau kemarahan dari wajahnya dan perlahan-lahan
tersenyum dengan mengenakan topeng wajah yang bahagia.
3. panggil nama seseorang di lingkaran dan lemparkan ”topeng tragedy
kesedihan atau kemarahan” pada orang tersebut.
4. Orang yang dipanggil akan melanjutkan mimik tragedy dengan mengenakan
”topeng” tragedi, melepaskan topeng tragedi dan kembali mengenakan topeng
wajah bahagia. Setelah itu mereka harus melemparkan ”topeng” pada orang
lain di kelompok dan seterusnya hingga semua orang di lingkaran mengenakan
wajah bahagia.
5. Semua orang di group harus terus mengenakan topeng bahagia hingga semua
orang mengenakannya.

Catatan:
Saat ”topeng” dilemparkan dari satu orang ke orang berikutnya, maka sebaiknya
wajah orang dilempar topeng tersebut secepatnya berubah. Bertambah
meyakinkan perubahan wajah dan bervariasi topeng tragedi yang dimunculkan
maka bertambah menyenangkan game dilakukan.

3.2. ”Depan – Belakang”


Tujuan: Menjelaskan pada peserta pentingnya komunikasi tatap muka.
Waktu: 20 menit
Jumlah peserta: 10 – 20 orang
Peralatan: tidak ada

Langkah-langkah:

1. Minta peserta untuk berpasangan. Setiap pasangan duduk di kursi. Satu orang
dari pasangan harus duduk di belakang pasangannya.
2. Minta orang yang di depan tidak melihat ke belakang sepanjang latihan dan
orang yang duduk di belakang tidak berpindah duduk di depan orang yang di
depan.
3. Minta pasangan untuk berbicara satu sama lain selama 2 menit.
4. Bawa kembali peserta dalam diskusi seluruh peserta untuk mendiskusikan
latihan yang baru dilakukan. Facilitator bisa bertanya pada orang yang di
belakang: ”bagaimana perasaanmu saat mencoba berbicara dengan temanmu?”
Dan pada orang yang di depan:”Bagaimana perasaanmu dalam menjawab
pembicaraan teman kamu yang di belakang?”.

3.3. ”Melipat Kertas”


Tujuan: Mendemonstrasikan bahwa pesan sederhana saja masih mungkin terjadi
kesalapahaman.
Waktu: 5 – 10 menit
Jumlah peserta: 10 – 20 orang
Peralatan: Kertas segi empat.

Langkah-langkah:

1. Pilih empat sukarelawan dari peserta, minta mereka berdiri di depan ruangan
menghadap peserta lain.
2. Berikan setiap sukarelawan satu kertas. Jelaskan ada 2 aturan pada mereka,
yakni:

- Setiap sukarelawan harus menutup mata saat melakukan latihan


- Sukarelawan tidak boleh bertanya

1. Minta mereka untuk melipat kertasnya setengah dan menyobek sudut bawah
sebelah kanan kertas. Minta mereka untuk melipat setengah kertas kembali
dan robek sudut atas sebelah kanan kertas, dan kemudian lipat setengah kertas
kembali dan robek bagian bawah sudut kiri kertas.
2. Minta mereka untuk membuka mata, membuka lipatan kertas dan
menunjukkan kertas mereka satu sama lain dan dengan peserta lainnya.
3. Latihan ini dapat dilanjutkan dengan diskusi:

- Kata-kata apa di dalam instruksi yang menimbulkan berbagai macam


pengertian?
- Bagaimana caranya agar petunjuk dapat lebih jelas?

3.4. Latihan memasang tali sepatu

Tujuan: Mendemonstrasikan bagaimana komunikasi yang efektif

Waktu: 50 menit

Jumlah peserta: 10 – 20 orang

Media:
Sepatu yang bertali
Dua buah kursi
Kertas plano
Spidol

4.2.5. Langkah-Langkah
Langkah Persiapan:
Jelaskan bahwa peserta belajar akan memainkan game memasang tali sepatu yang
bertujuan untuk memperlihatkan cara berkomunikasi yang efektif.

Cara bermain game:

1. Minta peserta untuk membentuk group yang terdiri dari tiga orang. Satu orang
peserta harus memiliki sepatu yang memiliki tali. Anak yang kedua harus
menjadi yang memberi petunjuk memasang tali sepatu/instruktur/pemandu.
Anak yang ketiga menjadi pengamat komunikasi anak pertama dan kedua
2. Minta anak yang memakai sepatu untuk duduk saling membelakangi/beradu
punggung dengan anak yang memberi petunjuk memasang tali sepatu/
instruktur/pemandu. Sementara yang mengamati duduk di samping mereka.
3. Pemasang tali sepatu harus lebih dahulu melepaskan tali sepatu seluruhnya
dari sepatu, dan kemudian mengikuti petunjuk dari si pemandu untuk
memasang kembali tali sepatunya. Si pemasang tali sepatu tidak boleh
bertanya pada si pemandu. Ia harus mengikuti seluruh petunjuk si pemandu
tanpa boleh bertanya. Si pemandu juga tidak boleh menggunakan gerak tubuh
atau cara lain dalam memberikan petunjuk. Hanya boleh menggunakan suara.
4. Si pengamat harus menjaga bahwa petunjuk harus dari si pemandu, tidak
boleh menggunakan gerak tubuh dan tidak ada pertanyaan dari yang
memasang tali sepatu
5. Lihat hasilnya. Minta pengamat untuk melaporkan bagaimana game berjalan
di kelompoknya.
6. Minta setiap kelompok kembali mengulang game. Pemasang tali sepatu
dengan pemandu masing duduk saling membelakangi, namun si pemasang
boleh bertanya pada pemandu. Langkah game sama dengan langkah
sebelumnya.
7. Kemudian lihat hasilnya. Minta pngamat untuk melaporkan bagaimana game
berjalan di kelompoknya
8. Minta setiap kelompok kembali mengulang game kembali. Pemasang tali
sepatu dengan pemandu duduk saling berhadapan, si pemasang boleh
bertanya pada pemandu, dan pemandu boleh menggunakan gerak tubuh.
9. Lihat hasilnya. Minta pengamat untuk melaporkan bagaimana game berjalan
di kelompoknya
10. Tanya anggota group lain bagaimana perasaan mereka dalam melakukan
tugas. Mulai dari si pemandu.
11. Simpulkan hasil diskusi dengan mengambil kata-kata penting yang
memudahkan anak memasang tali sepatu.

PERMAINAN JADUL...
Tiba-tiba keingetan masa kecil..., inget sama permainan-permainan waktu
kecil dulu... Just share aja nih, buat agan-agan siapa tau ada yang pernah mainin
permainan dibawah ini, lumayan bisa ngingetin masa kecil dulu... hehehehe...

Galah Asin atau Gobak Sodor

Galah Asin atau di daerah lain disebut Galasin atau Gobak Sodor adalah
sejenis permainan daerah dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup
yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Inti
permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris
terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus
secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah
ditentukan.
Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis
yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x
4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda
dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini
terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas
vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas
horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga
berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas.
Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal
(umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan
garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan.

Spoiler for gobaksodor:


Petak umpet

Petak umpet adalah sejenis permainan yang bisa dimainkan oleh minimal 2
orang, namun jika semakin banyak akan semakin seru.

Spoiler for petakumpet:

Gatrik atau Tak Kadal

Gatrik atau Tak Kadal pada masanya pernah menjadi permainan yang populer
di Indonesia. Merupakan permainan kelompok, terdiri dari dua kelompok.
Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu yang satu menyerupai
tongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih kecil. Pertama
potongan bambu yang kecil ditaruh diantara dua batu lalu dipukul oleh tongkat
bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin, pemukul
akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak
mengena/luput/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang
berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir.
Setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan
dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke batu awal permainan
dimulai tadi. Makin jauh, maka makin enak digendong dan kelompok lawan akan
makin lelah menggendong.

Spoiler for gatrik:

Benteng

Benteng adalah permainan yang dimainkan oleh dua grup, masing - masing
terdiri dari 4 sampai dengan 8 orang. Masing - masing grup memilih suatu tempat
sebagai markas, biasanya sebuah tiang, batu atau pilar sebagai 'benteng'. Tujuan
utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih 'benteng' lawan
dengan menyentuh tiang atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan meneriakkan
kata benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan 'menawan' seluruh anggota lawan
dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi
'penawan' dan yang 'tertawan' ditentukan dari waktu terakhir saat si 'penawan' atau
'tertawan' menyentuh 'benteng' mereka masing - masing. Orang yang paling dekat
waktunya ketika menyentuh benteng berhak menjadi 'penawan' dan bisa mengejar dan
menyentuh anggota lawan untuk menjadikannya tawanan. Tawanan biasanya
ditempatkan di sekitar benteng musuh. Tawanan juga bisa dibebaskan bila rekannya
dapat menyentuh dirinya. Dalam permainan ini, biasanya masing - masing anggota
mempunyai tugas seperti 'penyerang', 'mata - mata, 'pengganggu', dan penjaga
'benteng'. Permainan ini sangat membutuhkan kecepatan berlari dan juga kemampuan
strategi yang handal.

Spoiler for bentengan1:

Congklak

Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai


macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang
kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan
juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan. Permainan congklak dilakukan oleh dua
orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan
congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congkak atau buah congklak.
Umumnya papan congklak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat
dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan
congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling
berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain
dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain. Pada awal
permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang
berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil
dan meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di
lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan
melanjutkan mengisi, bisa habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan
dengan memilih lobang kecil di sisinya. bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia
berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di
lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.
Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat dimabil (seluruh
biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji
terbanyak.

Spoiler for congklak:


Gasing

Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan
pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs
arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang
dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib. Sebagian besar
gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain.
Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya
dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang
tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.

Spoiler for gasing:

Kasti atau Gebokan

Kasti atau Gebokan merupakan sejenis olahraga bola. Permainan yang


dilakukan 2 kelompok ini menggunakan bola tenis sebagai alat untuk menembak
lawan dan tumpukan batu untuk disusun. Siapapun yang berhasil menumpuk batu
tersebut dengan cepat tanpa terkena pukulan bola adalah kelompok yang
memenangkan permainan. Pada awal permainan, ditentukan dahulu kelompok mana
yang akan menjadi penjaga awal dan kelompok yang dikejar dengan suit. Kelompok
yang menjadi penjaga harus segera menangkap bola secepatnya setelah tumpukan
batu rubuh oleh kelompok yang dikejar. Apabila bola berhasil menyentuh lawan,
maka kelompok yang anggotanya tersentuh bola menjadi penjaga tumpukan batu.
Kerjasama antaranggota kelompok sangat dibutuhkan seperti halnya olahraga softball
atau baseball.

Spoiler for kasti:

Engklek
Permainan Engklek mungkin tidak asing lagi di telingga kita jenis permainan
tradisional ini dilakukan di pelataran dengan mengambar kotak-kotak kemudian
melompat-lompat dari kotak satu ke kotak selanjutnya. Engklek ada beberapa istilah
lain untuk permainan ini, ada yang menyebut permainan ini dengan Teklek ada juga
yang menyebutkan dengan ciplek gunung. Istilah untuk penyebutan nama permainan
ini memang beragam tapi permainan yang dilakukan sama.

Spoiler for engklek:

Lompat Tali Karet

Ini mainan yang terbilang sangat popular sekitar tahun 70-an sampai 80-an
lalu. Sederhana tapi bermanfaat. Tali yang digunakan terbuat dari jalinan karet gelang
yang banyak terdapat di sekitar kita. Cara bermainnya paling tidak bertiga atau
bahkan berkelompok. Tali direntangkan dengan ketinggian bergradasi, dari paling
rendah hingga paling tinggi. Yang pandai melompat tinggi, dialah yang keluar sebagai
pemenang. Sementara yang kalah memegang kedua ujung tapi untuk dilompati teman
lainnya. Selain melatih fisik mainan ini juga bisa membuat kita mahir melompat
tinggi.

Spoiler for lompatkaret: