Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Menghadapi soal matematika, siswa harus lebih dahulu melakukan
analisis dan interpretasi informasi sebagai landasan untuk menentukan pilihan
dan keputusan. Selain itu siswa harus menguasai cara mengaplikasikan
konsep-konsep dan menggunakan ketrampilan komputasi dalam berbagai
situasi baru yang berbeda-beda. Sehingga dalam ini untuk menyelesaikan soal
matematika para siswa dapat menentukan pilihan untuk mengubah ke dalam
bentuk lain yaitu kemampuan membuat model matematikanya dan membuat
pemecahan masalah. Di sisi lain kenyataan menunjukkan banyak siswa
mengalami kesulitan dalam memecahkan soal.
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan pada siswa kelas X
SMKN 1 Mojoanyar pada proses pembelajaran matematika, sebagian besar
siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep. Siswa yang mengalami
kesulitan untuk menemukan permasalahan dan menentukan strategi yang
akan diselesaikan didalam soal. Kesulitan lain yang dialami siswa yaitu
ketika menemukan bentuk soal yang berbeda dengan soal yang pernah
diajarkan oleh guru.
Berdasarkan uraian diatas peneliti bermaksud mendeskripsikan kesulitan-
kesulitan yang dialami oleh siswa kelas X SMKN 1 Mojoanyar dalam
menyelesaikan soal matematika materi SPLTV. Penelitian tersebut
diharapkan dapat membantu guru dalam mengetahui kesulitan siswa dalam
menyelesaikan soal matematika materi SPLTV.

B. RUMUSAN MASALAH
Permasalahan dalam penulisan makalah ini dapat dirumuskan sebagai
berikut: “apa saja permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa dalam
menyelesaikan soal matematika pada materi SPLTV dan bagaimana
solusinya” .

1
C. TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai pada penulisan makalah ini sebagai berikut:
Untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa dalam
menyelesaikan soal matematika pada materi SPLTV dan bagaimana solusinya.

2
BAB II

METODE

A. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.
Menurut Hadari Nawawi (2012: 67) metode deskriptif adalah prosedur
pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan
keadaan subyek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-
lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak, atau
sebagaimana adanya.
Bentuk penelitian ini adalah studi kasus. Sudjana (2011: 94) menyatakan
“studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang
dipandang mengalami suatu kasus tertentu.” Studi kasus atau case study
adalah bagian dari kualitatif yang hendak mendalami suatu kasus tertentu
secara mendalam dengan melibatkan pengumpulan beraneka sumber
informasi (Raco, 2010: 49).
Menurut Suharsimi Arikunto (2005:116) , “Subjek penelitian adalah
benda, hal, atau orang tempat data untuk variabel penelitian.

B. Subjek dan objek penelitian


Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X di SMKN 1 Mojoanyar ,
yang terdiri dari 3 anak. Penelitian ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal
16 November 2018 di SMKN 1 Mojoanyar yang beralamatkan di Desa
Kepuhanyar Kecamatan Mojoanyar Kabupaten Mojokerto. Materi yang akan
diujikan adalah materi tentang SPLTV.

C. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
1. Tes dalam penelitian ini untuk mengukur keterampilan siswa dalam
menyelesaikan soal. Tes dalam peneliti memuat soal berbentuk uraian.

3
Bentuk soal uraian dipilih untuk mengumpulkan data mengenai kesulitan
siswa,
2. Wawancara ini digunakan untuk menanyakan kesulitan yang dialami siswa
selama menyelesaikan soal-soal materi SPLTV,
3. Metode observasi dilakukan oleh peneliti di dalam kelas ,
4. Dokumentasi digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh dari hasil
observasi dan tes yang berupa dokumen seperti foto dan hasil dari
pekerjaan subjek selama penelitian berlangsung.

Penelitian ini menggunakan analisis data menurut Miles dan Huberman.


Model analisis data dari Miles dan Huberman disebut juga sebagai Model
Interaktif. Miles dan Huberman seperti yang dikutip oleh Heris Herdiansyah
(2012: 164) menyatakan bahwa ada empat tahapan yang dilakukan dalam
pengolahan data kualitatif, yaitu pengumpulan data, reduksi data, tahap
display data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Tahapan-tahapan
tersebut saling berkaitan selama dan sesudah pengumpulan data.

4
D. Kisi-kisi Soal yang akan diujikan

No. Soal Kompetensi Dasar Indikator

1 Tentukan nilai dari 𝑥, 𝑦 dan 𝑧 dari Menyelesaikan Terampil mengidentifikasi

persamaan tiga variabel berikut dengan masalah kontekstual Sistem Persamaan Tiga
menggunakan metode campuran. yang berkaitan dengan Variabel
Sistem Persamaan
𝑥 – 𝑦 + 2𝑧 = 4
Tiga Variabel
2𝑥 + 2𝑦 – 𝑧 = 2

3𝑥 + 𝑦 + 2𝑧 = 8

2 Sebuah kios menjual buah diantaranya Menyelesaikan Terampil membuat


anggur, mangga dan apel. Seseorang masalah kontekstual model matematika
membeli 1 kg anggur , 3 kg mangga dan yang berkaitan dengan Sistem Persamaan Tiga
2 kg apel harus membayar Rp 33.000,-. Sistem Persamaan Variabel dari masalah
Orang yang membeli 2 kg anggur , 1 kg Tiga Variabel kontekstual
mangga dan 1 kg apel harus membayar
Rp 23.500,-. Orang yang membeli 1 kg
anggur , 2 kg mangga dan 3 kg apel harus
membayar Rp 36.500,-. Berapakah harga
per kilogram anggur, per kilogram
mangga dan per kilogram apel ?

5
KUNCI JAWABAN

1. Eliminasi variabel x pada persamaan 1 dan 2


𝑥 − 𝑦 + 2𝑧 = 4 2 2𝑥 − 2𝑦 + 4𝑧 = 8
2𝑥 + 2𝑦 − 𝑧 = 2 1 2𝑥 + 2𝑦 − 𝑧 = 2
−4𝑦 + 5𝑧 = 6 ............................. (4)

Eliminasi variabel x pada persamaan 2 dan 3


2𝑥 + 2𝑦 − 𝑧 = 2 3 6𝑥 + 6𝑦 − 3𝑧 = 6
3𝑥 + 𝑦 + 2𝑧 = 8 2 6𝑥 + 2𝑦 + 4𝑧 = 16
4𝑦 − 7𝑧 = −10 ...............................(5)

Eliminasi variabel y pada persamaan 4 dan 5


−4𝑦 + 5𝑧 = 6
4𝑦 − 7𝑧 = −10
−2𝑧 = −4
𝑧=2

Subtitusi
4𝑦 – 7𝑧 = − 10 𝑥 – 𝑦 + 2𝑧 = 4
4𝑦 – 7(2) = − 10 𝑥 – 1 + 2(2) = 4

4𝑦 – 14 = − 10 𝑥 + 3 = 4
4𝑦 = −10 + 14 𝑥 = 4 − 3
4𝑦 = 4 𝑥 = 1
𝑦 = 1

Jadi, nilai 𝑥 = 1, 𝑦 = 1 dan 𝑧 = 2

6
2. Misalkan:
𝑥 = ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑘𝑖𝑙𝑜𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑎𝑛𝑔𝑔𝑢𝑟
𝑦 = ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑘𝑖𝑙𝑜𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑚𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎
𝑧 = ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑘𝑖𝑙𝑜𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑎𝑝𝑒𝑙
Berdasarkan persoalan diatas, diperoleh sitem persamaan linear tiga
variabel berikut.
𝑥 + 3𝑦 + 2𝑧 = 33000
2𝑥 + 𝑦 + 𝑧 = 23500
𝑥 + 2𝑦 + 3𝑧 = 36500

 Eliminasi variabel x pada persamaan 1 dan 2

𝑥 + 3𝑦 + 2𝑧 = 33000 2 2𝑥 + 6𝑦 + 4𝑧 = 66000
2𝑥 + 𝑦 + 𝑧 = 23500 1 2𝑥 + 𝑦 + 𝑧 = 23500
5𝑦 + 3𝑧 = 42500 ............... (4)

 Eliminasi variabel x pada persamaan 2 dan 3


2𝑥 + 𝑦 + 𝑧 = 23500 1 2𝑥 + 𝑦 + 𝑧 = 23500
𝑥 + 2𝑦 + 3𝑧 = 36500 2 2𝑥 + 4𝑦 + 6𝑧 = 73000
−3𝑦 − 5𝑧 = −49500 ............(5)

Eliminasi persamaan 4 dan 5


5𝑦 + 3𝑧 = 42500 3 15𝑦 + 9𝑧 = 127500
−3𝑦 − 5𝑧 = −49500 5 − 15𝑦 − 25𝑧 = −247500
−16𝑧 = −120000
𝑧 = 7500

7
Subtitusikan 𝑧 = 7500 ke Persamaan 5𝑦 + 3𝑧 = 42500, sehingga
diperoleh:
5𝑦 + 3𝑧 = 42500
5𝑦 + 3(7500) = 42500
5𝑦 + 22500 = 42500
5𝑦 = 42500 − 22500
5𝑦 = 20000
𝑦 = 4000
Subtitusikan 𝑧 = 7500 dan 𝑦 = 4000 ke Persamaan 2𝑥 + 𝑦 + 𝑧 = 23500,
sehingga diperoleh:
2𝑥 + 𝑦 + 𝑧 = 23500
2𝑥 + 4000 + 7500 = 23500
2𝑥 = 23500 − 7500 − 4000
2𝑥 = 12000
𝑥 = 6000

Jadi, harga 1 kg anggur adalah Rp 6.000,- ; harga 1 kg mangga adalah


Rp 4.000,- ; harga 1 kg apel adalah Rp 7.500,-

8
BAB III

PEMBAHASAN

A. HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil wawancara dan hasil tes tertulis diperoleh data tentang
kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam belajar matematika materi relasi
dan fungsi. Berikut penjabaran dari kesulitan-kesulitan yang di alami siswa per
soal:

1. Jawaban siswa soal nomor 1

Gambar 1 : Hasil jawaban siswa 1 pada soal nomor 1


Hasil wawancara dengan siswa yang mengerjakan soal di atas adalah
sebagai berikut:
P : apakah kamu sudah paham maksud dari soal?

S : sudah paham kak.

P : coba ceritakan disini, bagaimana kamu menyelesaikan soal ini?

9
S : saya menggunakan metode campuran kak.

P : metode campuran itu seperti apa sih?

S : menggunakan metode eliminasi dan subtitusi.

P : lalu langkah pertama mengerjakan soal ini menggunakan metode yang


mana?

S : saya mengeliminasi variable y dengan menggunakan persamaan 1 dan 2.

P : lalu?

S : eliminasi y juga ke persamaan 2 dan 3 untuk mendapatkan persamaan 4


dan 5.

P : kenapa tidak mencoba persamaan 1 dan 3 lalu ke persamaan 1 dan 2 ?

S : soalnya saya menganut apa yang diajarkan guru di sekolah kak.

P : hm begitu. Setelah ketemu persamaan 4 dan 5 lalu apa langkah


selanjutnya?

S : setelah ketemu nilai z nya, ya tinggal di subtitusikan saja. Lalu nanti akan
ketemu nilai x dan y nya juga.

P : kenapa disubtitusikan? Apa tidak bisa di eliminasi lagi ?

S : enggak kak, ribet. Paling gampang ya di subtitusi.

P : apa sudah yakin nilai x, y, dan z nya benar?

S : yakin kak, tadi udah bolak-balik dihitung.

P : ada cara lain buat mengerjakan soal ini?

S : gak tau kak, soalnya ini materi baru hehe.

Dari hasil jawaban siswa pertama bisa dilihat bahwa siswa sudah
menjawab soal dengan benar. Dari hasil wawancara siswa juga sudah
memahami cara menyelesaikan soal tersebut diatas.

10
Gambar 2 : Hasil jawaban siswa 2 pada soal nomor 1
Hasil wawancara dengan siswa yang mengerjakan soal di atas adalah sebagai
berikut:
P : “ada kesulitan dengan nomer 1 dek?”

S : “ndak ada kak, tapi saya ragu dengan jawaban saya.. karna hasil y dan
z.nya pecahan”

P : “ragu gimana? Coba jelaskan secara per tahap cara menyelesaikan soal
nomer 1 ? ”

11
S : “pertama, saya eliminasi x dari persamaan 1 dan 2 menghasilkan
persamaan 4 yaitu −4𝑦 + 5𝑧 = 6”

P : “ Sebentar, ini yang persamaan 1 dikali 1 hasilnya 2𝑥 − 2𝑦 + 4𝑧 = 8


dan persamaan 2 dikali 2 kok hasilnya 2𝑥 + 2𝑦 − 𝑧 = 2

S : “Loo iya kak, kebalik nulisnya.. harusnya yang persamaan 1 dikalikan 2


dan persamaan 2 dikalikan 1”

P : “ Ooo gitu, trus gimana kelanjutanya ?”

S : “Sama seperti cara yang pertama kak, mengeliminasi x dari persamaan 2


dan 3 menghasilkan persamaan 5, lalu mengeliminasi y dari persamaan 4 dan
4
5 menghasilkan 𝑧 = − 6 , kemudian nilai z tadi disubtitusikan ke persamaan 4
7
menghasilkan 𝑦 = − 3”

56 1 −56
P : “Sebentar, ini hasil dari × − 4 = −24 benar yaa?”
6

S : “hmmm bener kak”

−56 56
P : “ −24 dan − 24 sama ngga ?”

S : “sama kak..”

P : “yakin sama ?”

S : (tidak ada jawaban)

P : “ menurut kamu bilangan negatif dibagi dengan bilangan negatif hasilnya


positif atau negatif?”

S : “Positif kak”

−56 56
P : “berarti harusnya −24 = yaa ?”
24

−56 56
S : “Ooo berarti ndak sama yaa kak −24 dengan − 24 ?”

P : “iyaa, ndak sama dek.. trus gimana kelanjutannya”

12
7 4
S : “kemudian 𝑦 = − 3 dan 𝑧 = − 6 disubtitusikan ke persamaan 1

mengahasilkan 𝑥 = 3?”

Dari hasil jawaban siswa kedua bisa dilihat bahwa siswa kurang teliti
dalam membaca dan mengerjakan soal. Dari hasil wawancara ternyata siswa
sudah paham cara mengerjakan SPLTV dengan metode campuran.

Gambar 3 : Hasil jawaban siswa 3 pada soal nomor 1

Hasil wawancara dengan siswa yang mengerjakan soal di atas adalah sebagai
berikut:
P : Apa no 1 ada kesulitan ?

S : banyak kak.

P : sudah mengerti apa yang harus dicari dalam soal tersebut ?

S : sudah kak, kan dicari nilai x,y dan z

P : di soal kan disuruh untuk menggunakan metode campuran, apa sih

metode campuran itu ?

S : itu saya tidak tahu kak.

P : yang kamu tau metode apa saja ?

S : eliminasi sama subtitusi kak

13
P : oo gitu, sekarang coba jelaskan bagaimana kamu ngerjakannya tadi ?

S : saya pakai metode eliminasi kak, saya mengeliminasi x dari persamaan 1


dan 2 kemudian saya eliminasi y dari persamaan 2 dan 3

P : trus gimana kelanjutannya ?

S : ndak saya lanjutkan kak, saya bingung..

P : bingungnya dimana ?

S : udah bingung kak,mungkin saya kebingungan gara – gara salah

nyelesaikan peng-eliminasiannya

Dari hasil jawaban siswa ketiga bisa dilihat bahwa jawaban siswa tidak
benar. Dari hasil wawancara ternyata siswa juga tidak paham cara
mengerjakan SPLTV dengan metode campuran.

14
2. Jawaban siswa soal nomor 2

Gambar 4 : Hasil jawaban siswa 1 pada soal nomor 2

Hasil wawancara dengan siswa yang mengerjakan soal di atas adalah sebagai
berikut:
P : ada kesulitan di soal nomor 2 ini?

S : ada kak. Susah menentukan variabel mana yang lebih mudah dieliminasi

P : emang menurut kamu variabel yang lebih mudah dieliminasi itu yang
bagaimana ?

S : yang konstantanya sama kak.

15
P : kalo soal SPLTV dalam bentuk cerita seperti ini ngga ada masalah yaa ?

S : ndak ada kak

P : oh iya disini kan pemisalannya kamu menulis kalau anggur = x, lalu


mangga = y, apel = z. menurut kamu sudah benar seperti itu?

S : aduh kak saya bingung kalo ditanya pemisalan.

P : coba dibaca lagi soal nya. Yang ditanyakan itu apa? Banyak anggur atau
harga anggur?

S : harga 1kg anggur kak.

P : kok ditulisnya x = anggur?

S : nah itu hehehe.

P : jadi sudah paham ya. Menentukan model matematikanya ada kesulitan?

S : enggak kak.

P : terus ini kenapa ada yang dicoret-coret ?

S : itu keliru kak.

P : menurut kamu untuk SPLTV ini apa bisa dikerjakan dengan cara lain?

S : Cuma dijelaskan cara ini aja kak eliminasi, subtitusi, dan campuran.

Dari hasil jawaban siswa pertama bisa menjawab dengan benar. Dari hasil
wawancara siswa juga memahami cara menyelesaikan soal SPLTV dengan
metode campuran.

16
Gambar 5 : Hasil jawaban siswa 2 pada soal nomor 2

Hasil wawancara dengan siswa yang mengerjakan soal di atas adalah sebagai
berikut:

Dari hasil jawaban siswa ketiga tidak bisa menjawab dengan benar. Dari hasil
wawancara ternyata siswa tidak memahami cara mengerjakan SPLTV dengan
metode campuran.

17
Gambar 6 : Hasil jawaban siswa 3 pada soal nomor 2

Hasil wawancara dengan siswa yang mengerjakan soal di atas adalah sebagai
berikut:
P : Ada kesulitan pada no 2 ?

S : mungkin kalau saya lihat sama dengan no 1 kak,kesalahan ada pada


peng-eliminasiannya

P : oke deh, tapi sebelum saya tanya tentang peng-eliminasiannya, coba


jelaskan kenapa kok anggur itu (x),mangga itu (y) dan apel itu (z) ?

S : ya itu pemisalan aja kak.

P : pemisalan yang seperti apa ?

S : ya kalau di ajarin gurunya itu biar gampang kita pakai variabel buat
memisalkan bendanya kak

18
P : oke, untuk peng eliminasiannya kenapa kok gak 1 dan 2 setelah itu 1 dan
3?

S : diajarin gurunya memang 1 dan 2 dulu setelah itu 2 dan 3 kak.

P : terus disini tujuan dari meng-eliminasikan persamaan 1 dan 2 ataupun 2


dan 3 ini untuk apa ?

S : untuk mencari persamaan 4 dan 5

P : tujuan persamaan 4 dan 5 itu untuk diapakan lagi ?

S : ya untuk di eliminasikan lagi kak

P : lha ini kenapa kok yang kamu eliminasikan persamaan 2 dan 4 ? lha
katanya tadi persamaan 4 dan 5 yang di eliminasikan ?

S : ya supaya ketemu nilai (x) kak, kan disitu persamaan 2 (y) sama (z) nya
sama – sama 1,sedangkan persamaan 4 (y) sama (z) nya sama – sama
5,jadi tinggal menghilangkan (y) sama (z). Lha persamaan 4 dan 5 saya
coba eliminasikan tapi gak ketemu nilai variabelnya malah persamaan
lagi, terus saya kira – kira persamaan mana yang di eliminasikan supaya
dapat nilai variabelnya,saya pilih persamaan 2 dan 4. Ternyata nilai x nya
ketemu.

P : oke,setelah ketemu (x) terus langkah selanjutnya apa ?

S : saya subtitusikan kak

P : kenapa kok gak dilanjutkan ?

S : saya bingung kak kok hasilnya (-), saya teliti lagi kayaknya gak ada
kesalahan di subtitusinya.

Dari hasil jawaban siswa ketiga tidak bisa menjawab dengan benar. Dari
hasil wawancara ternyata siswa tidak memahami cara mengerjakan SPLTV
dengan metode campuran.

19
B. Jenis-Jenis Kesalahan Siswa
Jenis-jenis Kesalahan Siswa dalam Mempelajari Materi SPLTV
Kesalahan merupakan suatu penyimpangan dari yang telah disepakati.
Kesalahan juga disebut sesuatu yang keliru atau tidak semestinya. Apabila
siswa menyimpang dan keliru dalam mempelajari suatu materi matematika
khususnya materi fungsi, maka ia akan mengalami kesulitan pada saat
mempelajari materi-materi selanjutnya. Hal ini dikarenakan materi-materi
yang terdapat dalam matematika saling berkaitan antara satu dengan yang
lainnya. Adapun kesalahan yang sering dialami siswa ketika belajar
matematika adalah sebagai berikut:
a. Kesalahan konsep
Konsep merupakan aktivitas mental. Konsep akan terbentuk dari
pengalaman-pengalaman seseorang. Menurut Hudojo (1990), konsep baru
terbentuk karena adanya pemahaman terhadap konsep sebelumnya,
sehingga matematika itu konsepnya tersusun secara hierarkis.
Adakalanya konsep yang telah ada pada siswa salah sehingga hal ini
menyebabkan siswa terus beranggapan bahwa konsep yang dipahaminya
benar, hal ini dikarenakan dalam proses belajar matematika menunjukkan
hubungan yang hierarkis. Dalam mengajar konsep baru hal terpenting dan
sangat kita butuhkan adalah konsep dasar. Disini hal yang harus dilakukan
oleh seorang guru ketika menyampaikan konsep baru adalah menggunakan
bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa.
b. Kesalahan Prinsip
Prinsip merupakan objek matematika yang kompleks. Prinsip dapat berupa
aksioma, teorema, dan sifat. Dalam penelitian ini siswa dikatakan
mengalami kesalahan prinsip apabila:
1. Tidak dapat menggunakan rumus
2. Salah dalam menyebutkan atau menggunakan rumus
c. Kesalahan Operasi
Operasi adalah aturan untuk memperoleh elemen tunggal dari satu atau
lebih elemen yang diketahui. Apabila siswa salah dalam menggunakan
aturan untuk memperoleh elemen tunggal dari satu atau lebih elemen yang

20
diketahui pada penyelesaian atau menyimpang dari definisi operasi
tersebut maka siswa tersebut dikatakan telah salah dalam mengoperasikan
penyelesaian soal.
Dalam penelitian ini, siswa dikatakan mengalami kesalahan operasi
apabila:
1. Salah dalam melakukan operasi penjumlahan
2. Salah dalam melakukan operasi pengurangan
3. Salah dalam menyatakan relasi dan fungsi, dan menentukan nilai
fungsi

21
Hasil penelitian menunjukkan kesalahan siswa terbanyak di Nomor 2 dan
3, hal tersebut menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami yaitu kesulitan
mengaplikasikan konsep fungsi dikarenakan siswa tidak memahami konsep
dari sebuah fugsi tersebut. Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian
Lithner (2011) yang mengatakan bahwa kesulitan dalam menyelesaikan
persoalan matematika terletak pada kesulitan memahami konsep. Penelitian
lain yang dilakukan Tunjungsari (2012) menyatakan kesulitan yang dialami
siswa yaitu kesulitan dalam memahami konsep utamanya tentang mengingat
konsep. Kesulitan memahami konsep terjadi karena siswa cenderung
menghafal tanpa memahami konsep secara jelas. Hal ini dapat dilihat pada
hasil penelitian, siswa yang tidak memahami konsep banyak melakukan
kesalahan dan mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal yang diberikan.
Siswa cenderung mengingat hasil pekerjaan pada latihan soal dan tidak
paham dengan jawaban yang ditulis.

22
C. SOLUSI
Kemampuan memahami konsep menjadi landasan untuk berpikir dan
menyelesaikan masalah atau persoalan. Konsep-konsep itu akan melahirkan
teorema atau rumus. Agar konsep-konsep atau teorema-teorema dapat
diaplikasikan ke situasi yang lain, perlu adanya keterampilan menggunakan
konsep-konsep atau teorema-teorema tersebut. Langkah-langkah dalam
menanamkan suatu konsep berdasarkan penggabungan beberapa teori belajar
Bruner menurut Hudoyo (2003:123) antara lain teori konstruksi, teori notasi, teori
kekontrasan dan variasi serta teori konektivitas adalah sebagai berikut ini.
1. Pengajar memberikan pengalaman belajar berupa contoh-contoh yang
berhubungan dengan suatu konsep matematika dari berbagai bentuk yang
sesuai dengan struktur kognitif peserta didik.
2. Peserta didik diberikan dua atau tiga contoh lagi dengan bentuk
pertanyaan.
3. Peserta didik diminta memberikan contoh-contoh sendiri tentang suatu
konsep sehingga dapat diketahui apakah peserta didik sudah mengetahui
dan memahami konsep tersebut.
4. Peserta didik mencoba mendefinisikan konsep tersebut dengan bahasanya
sendiri.
5. Peserta didik diberikan lagi contoh mengenai konsep dan bukan konsep.
6. Peserta didik diberikan drill untuk memperkuat konsep tersebut.

Konsep-konsep merupakan pilar-pilar pembangun untuk berpikir yang lebih


tinggi. Dengan mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang
sedang dibicarakan, mahasiswa akan memahami materi yang harus dikuasainya
itu, ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai pola atau struktur tertentu
akan lebih mudah dipahami dan diingatnya (Erman dkk., 2003:43). Menurut
Depdiknas (Fadjar, 2009:13), indikator kemampuan pemahaman konsep sebagai
berikut:

1. menyatakan ulang sebuah konsep;


2. mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan

23
konsepnya);
3. memberi contoh dan non contoh dari konsep;
4. menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis;
5. mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari konsep;
6. menggunakan prosedur atau operasi tertentu;
7. mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.

Pengembangan Instrumen Pemahaman Konsep


Instrumen soal-soal tes pemahaman konsep ditulis berdasarkan kisi-kisi butir
soal yang telah disusun terlebih dahulu dengan indikator, kompetensi dasar, dan
materi. Untuk mendapatkan instrumen tes yang benar-benar valid atau dapat
diandalkan dalam mengungkapkan data penelitian, maka instrumen tes tersebut
disusun dengan langkah-langkah sebagi berikut ini.
1. Membuat kisi-kisi soal yang di dalamnya menguraikan indikator
pemahaman konsep matematis.
2. Berdasarkan kisi-kisi tersebut selanjutnya adalah menyusun butir-butir
soal.
3. Setelah butir-butir soal dibuat, kemudian dilakukan validasi oleh pakar
(expert) dengan maksud untuk mengetahui tingkat kebaikan isi, konstruk,
dan redaksi sesuai dengan aspek yang diungkap.
4. Melakukan uji coba pada responden untuk mengetahui keberadaan
instrumen secara empirik, yaitu untuk mengetahui validitas butir, indeks
kesukaran, daya pembeda soal dan reliabilitas soal tersebut.
Kriteria penilaian untuk setiap butir soal tes pemahaman konsep mengacu
pada indikator. Kriteria penilaian untuk setiap butir soal tes pemahaman konsep
menggunkan rubrik holistik. Menurut Fauzan (2011) rubrik holistik adalah
pedoman untuk menilai berdasarkan kesan keseluruhan atau kombinasi semua
kriteria.

24
Tabel Rubik Penskoran Pemahaman Konsep
Menyajikan konsep Mengaplikasikan
Mengklasifikasikan Menggunakan
ke bentuk konsep atau
No obyek menurut sifat- prosedur atau
respresentasi algoritma pemecahan
sifat tertentu operasi tertentu
matematis masalah
Tidak ada
Tidak ada penyajian Tidak ada Tidak ada algoritma
0 pengklasifikasian
konsep prosedur operasi pemecahan masalah
obyek
Algoritma
Ada pengklasifikasian Penyajian konsep Prosedur operasi
1 pemecahan masalah
obyek namun salah ada namun salah namun salah
ada namun salah
Algoritma
Pengklasifikasian Penyajian konsep Prosedur operasi
2 pemecahan masalah
obyek kurang lengkap kurang lengkap kurang lengkap
kurang lengkap
Pengklasifikasian Penyajian konsep Prosedur operasi Algoritma
3 obyek benar kurang benar namun kurang benar namun pemecahan masalah
lengkap lengkap kurang lengkap benar kurang lengkap
Pengklasifikasian Prosedur operasi Algoritma
obyek lengkap dan Penyajian konsep
4 lengkap dan pemecahan masalah
benar lengkap dan benar.
benar lengkap dan benar.
Skor Maksimal 4 Skor Maksimal 4 Skor Maksimal 4 Skor Maksimal 4

25
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian dan hasil analisis yang telah dilakukan kepada


kelima siswa dapat disimpulkan bahwa siswa tidak dapat memahami konsep
dari sebuah fungsi sehingga tidak mampu menyelesaikan masalah kontekstual
tentang fungsi. Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Lithner
(2011) yang mengatakan bahwa kesulitan dalam menyelesaikan persoalan
matematika terletak pada kesulitan memahami konsep. Penelitian lain yang
dilakukan Tunjungsari (2012) menyatakan kesulitan yang dialami siswa yaitu
kesulitan dalam memahami konsep utamanya tentang mengingat konsep.
Kesulitan memahami konsep terjadi karena siswa cenderung menghafal tanpa
memahami konsep secara jelas. Hal ini dapat dilihat pada hasil penelitian,
siswa yang tidak memahami konsep banyak melakukan kesalahan dan
mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal yang diberikan. Siswa
cenderung mengingat hasil pekerjaan pada latihan soal dan tidak paham
dengan jawaban yang ditulis.

B. SARAN
Guru diharapkan memberikan perhatian yang lebih kepada siswa yang
memiliki tingkat kemampuan matematis kurang atau rendah sehingga
bisa mengimbangi siswa yang memiliki kemampuan matematis tinggi.
Diharapkan siswa memiliki kemauan lebih untuk melatih keterampilannya
dalam menyelesaikan permasalahan dengan mengerjakan soal-soal. Selama
latihan soal alangkah baiknya siswa mengkomunikasikan jenis kesulitan
yang ditemukan saat mengerjakan soal kepada guru mata pelajaran atau
teman sebaya yang memiliki kemampuan matematika lebih tinggi.

26
DAFTAR PUSTAKA

Herdiansyah, Haris. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu-Ilmu


Sosial. Jakarta : Salemba Humanika.

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta: Depdiknas

Fadjar, Shadiq. 2009. Diklat Instruktur Pengembang Matematika SMA Jenjang


Lanjut. Kemahiran Matematika. Yogyakarta : Departemen Pendidikan
Nasional

Fuzan, Ahmad. 2011. Modul 1 Evaluasi Pembelajaran Matematika: Pemecahan


Masalah Matematika. Evaluasimatematikanet: UNP.

Erman, Suherman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.


Bandung : JICA-Universitas Pendidikan Indonesia

Hudojo, Herman dkk. 2003. Strategi Belajar Mengajar Matematika Kontemporer,


Malang: Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang.

27
FOTO DOKUMENTASI

28