Anda di halaman 1dari 4

Strategic Management

Case AirBnB in 2016

Disusun Oleh:

Nafiesa Lauza Mernisa Hilman 17/172093/PEK/72093


Mahardika Agung Madepo 17/172082/PEK/72082
Ossy Sinatrya Permata Sari 17/172101/PEK/72101
Ridho Aditya 17/172111/PEK/72111

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2019
Overview
Airbnb ditemukan pada tahun 2008 oleh Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharczyk.
Airbnb sendiri adalah kepanjangan dari airbed and breakfast dan ide ini tercetus ketika akhir
pekan Chesky bersama temannya menyewakan apartemen mereka menggunakan kasur angin dan
memberikan sarapan kepada tamu mereka. Kemudian mereka menyadari ada potensi besar dalam
penyewaan tempat tinggal peer to peer. Mulai saat itu hingga tahun 2016 Airbnb sudah memiliki
lebih dari dua juta properti yang terdaftar di lebih dari 190 negara dengan valuasi total kira-kira
30 milliar US dollar. Airbnb merupakan yang pertama kali mengenalkan model bisnis yang
mempertemukan pihak pemilik properti dengan pihak penyewa properti jadi Airbnb sendiri tidak
memiliki banyak tangible asset dalam beroperasi.
Airbnb sendiri mengambil keuntungan dari biaya komisi yang ditarik dari para pemilik
properti. Airbnb juga tidak perlu memikirkan biaya operasi dari properti yang disewakan karena
biaya operasi ditanggung oleh pemilik properti. Airbnb mengambil biaya komisi 11% per kamar
dan memiliki penghasilan $6 juta pada tahun 2010 dan diperkirakan akan menghasilkan $1.2
miliar pada tahun 2017 dengan growth yang sangat tinggi hingga tahun 2013.

Costs 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Estimated Revenue $6 $44 $132 $264 $436 $675 $945 $1.229

Estimated Bookings 273% 666% 200% 100% 65% 55% 40% 30%
Growth

Airbnb menawarkan platform teknologi sebagai dasar nilai yang diberikan kepada
pemilik properti maupun penyewa properti. Dengan memanfaatkan ubiquitous computing
dimana gadget dapat digunakan kapan saja dan dimana saja Airbnb dapat menawarkan kamar
kepada calon penyewa menggunakan aplikasi tersebut. Pemilik properti atau penyewa properti
hanya tinggal mengunduh platform Airbnb lalu memilih antara ingin menyewakan atau
menyewa properti.
Masalah muncul ketika banyak bisnis yang memberikan kritik terhadap Airbnb karena
dianggap tidak fair dalam melakukan bisnis dan menuduh Airbnb melakukan lobi terhadap
pembuat hukum tentang hukum penyewaan tempat tinggal. Airbnb seperti lolos dari hukum ini
karena dianggap bukan sebagai penyedia jasa tempat tinggal. Kemudian ada tuduhan bahwa
pemilik properti menggunakan Airbnb sebagai alat untuk lolos dari keharusan memiliki lisensi
untuk menyewakan tempat tinggal.
ANALISIS KASUS

Business Model Canvas Airbnb

Airbnb menawarkan suatu konsep yang berbeda dengan apa yang sudah ditawarkan oleh
penyedia akomodasi lainnya, seperti hotel dan penginapan. Berdasarkan business model canvas
dari Airbnb, value proposition yang ditawarkan menyasar ke dua segmen yaitu, host dan
wisatawan. Value proposition tersebut sebenarnya menjawab apa yang menjadi perilaku
konsumen saat ini, yaitu:
- Keinginan untuk mendapatkan pengalaman unik ketika menginap dengan harga yang
murah.
- Penggunaan internet yang semakin mudah dan cepat serta bisa diakses dimana saja.
Selanjutnya Airbnb memiliki sumber daya yang menjadi poin penting dalam persaingan
dengan hotel dan penginapan, yaitu platform. Platform tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda
dengan platform perusahaan lain yang menggunakan pola multi-sided, seperti Uber, Gojek, dan
Traveloka. Yang berbeda adalah segmen pasar host yang dituju oleh Airbnb. Host dari Airbnb
cenderung memiliki daya tarik yang berbeda karena tempat-tempat yang ditawarkan memiliki
pengalaman yang unik dan berbeda serta memiliki harga yang relatif lebih murah jika
dibandingkan dengan hotel.
Pola tersebut dikembangkan oleh Airbnb merupakan jawaban dari apa yang menjadi
kekurangan dari pemain di industri serupa. Pola tersebut juga sulit untuk ditiru oleh pesaing
karena value proposition dan segmen konsumen yang akan dituju oleh Airbnb merupakan celah
yang ada di pasar dan saat ini Airbnb adalah pemain tunggal di pasar tersebut.
Airbnb memiliki beberapa kekuatan, yaitu:
- Tidak adanya biaya pemeliharaan penginapan
- Platform yang menjawab perilaku konsumen yang memiliki ketergantungan gadget
- Pemimpin pasar
- Penginapan murah dengan pengalaman unik
Sedangkan kelemahannya, yaitu:
- Adanya ketakutan akan keamanan
- Adanya ketidakinginan dari konsumen untuk menggunakan aplikasi daerah tertentu
- Model bisnis yang relatif mudah untuk ditiru
Peluang berkembangnya bisnis yang ditawarkan Airbnb tercermin dari segmen konsumen
yang dituju, yaitu wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman unik dan orang yang memiliki
tempat ekstra untuk disewakan. Model bisnis yang dikembangkan oleh Airbnb bisa saja
mengubah perilaku konsumen, wisatawan dan host untuk saling melengkapi. Adanya potensi
bisnis berdasarkan value proposition yang ditawarkan oleh Airbnb membuat semakin banyaknya
host yang membuat penginapannya semenarik mungkin untuk menarik wisatawan.
Selain hal tersebut, beberapa ancaman juga dapat mengganggu bisnis yang dijalankan oleh
Airbnb, seperti perbedaan hukum yang ada di setiap negara membuat Airbnb tidak dapat dengan
mudah mengembangkan bisnisnya di negara tertentu. Airbnb seharusnya memiliki tim lobbyist
untuk menangani perbedaan hukum dan kebijakan yang ada di negara tertentu.

Referensi

Thompson, Peteraf, Gamble, Strickland. (2018). Crafting and Executing Strategy 21e.
McGraw Hill.

Anda mungkin juga menyukai