Anda di halaman 1dari 12

INDAHNYA PERSAHABATAN

Betapa enak menjadi orang kaya. Semua serba ada. Segala keinginan terpenuhi. Karena semua
tersedia. Seperti Tyas. Ia anak konglomerat. Berangkat dan pulang sekolah selalu diantar mobil
mewah dengan supir pribadi.
Meskipun demikian ia tidaklah sombong. Juga sikap orang tuanya. Mereka sangat ramah.
Mereka tidak pilih-pilih dalam soal bergaul. Seperti pada kawan kawan Tyas yang datang ke
rumahnya. Mereka menyambut seolah keluarga. Sehingga kawan-kawan banyak yang betah
kalau main di rumah Tyas.
Tyas sebenarnya mempunyai sahabat setia. Namanya Dwi. Rumahnya masih satu kelurahan
dengan rumah Tyas. Hanya beda RT. Namun, sudah hampir dua minggu Dwi tidak main ke
rumah Tyas.
“Ke mana, ya,Ma, Dwi. Lama tidak muncul. Biasanya tiap hari ia tidak pernah absen. Selalu
datang.”
“Mungkin sakit!” jawab Mama.
“Ih, iya, siapa tahu, ya, Ma? Kalau begitu nanti sore aku ingin menengoknya!” katanya
bersemangat
Sudah tiga kali pintu rumah Dwi diketuk Tyas. Tapi lama tak ada yang membuka. Kemudian
Tyas menanyakan ke tetangga sebelah rumah Dwi. Ia mendapat keterangan bahwa Dwi sudah
dua minggu ikut orang tuanya pulang ke desa. Menurut kabar, bapak Dwi di-PHK dari
pekerjaannya. Rencananya mereka akan menjadi petani saja. Meskipun akhirnya mengorbankan
kepentingan Dwi. Terpaksa Dwi tidak bisa melanjutkan sekolah lagi.
“Oh, kasihan Dwi,” ucapnya dalam hati,
Di rumah, Tyas tampak melamun. Ia memikirkan nasib sahabatnya itu. Setiap pulang sekolah ia
selalu murung.
“Ada apa, Yas? Kamu seperti tampak lesu. Tidak seperti biasa. Kalau pulang sekolah selalu tegar
dan ceria!” Papa menegur
“Dwi, Pa.”
“Memangnya kenapa dengan sahabatmu itu. Sakitkah ia?” Tyas menggeleng.
“Lantas!” Papa penasaran ingin tahu.
“Dwi sekarang sudah pindah rumah. Kata tetangganya ia ikut orang tuanya pulang ke desa.
Kabarnya bapaknya di-PHK. Mereka katanya ingin menjadi petani saja”.
Papa menatap wajah Tyas tampak tertegun seperti kurang percaya dengan omongan Tyas.
“Kalau Papa tidak percaya, Tanya, deh, ke Pak RT atau ke tetangga sebelah!” ujarnya.
“Lalu apa rencana kamu?”
“Aku harap Papa bisa menolong Dwi!”
“Maksudmu?”
“Saya ingin Dwi bisa berkumpul kembali dengan aku!” Tyas memohon dengan agak mendesak.
“Baiklah kalau begitu. Tapi, kamu harus mencari alamat Dwi di desa itu!” kata Papa.
Dua hari kemudian Tyas baru berhasil memperoleh alamat rumah Dwi di desa. Ia merasa senang.
Ini karena berkat pertolongan pemilik rumah yang pernah dikontrak keluarga Dwi. Kemudian
Tyas bersama Papa datang ke rumah Dwi. Namun lokasi rumahnya masih masuk ke dalam. Bisa
di tempuh dengan jalan kaki dua kilometer. Kedatangan kami disambut orang tua Dwi dan Dwi
sendiri. Betapa gembira hati Dwi ketika bertemu dengan Tyas. Mereka berpelukan cukup lama
untuk melepas rasa rindu. Semula Dwi agak kaget dengan kedatangan Tyas secara mendadak.
Soalnya ia tidak memberi tahu lebih dulu kalau Tyas ingin berkunjung ke rumah Dwi di desa.
“Sorry, ya, Yas. Aku tak sempat memberi tahu kamu!”
“Ah, tidak apa-apa. Yang penting aku merasa gembira. Karena kita bisa berjumpa kembali!”
Setelah omong-omong cukup lama, Papa menjelaskan tujuan kedatangannya kepada orang tua
Dwi. Ternyata orang tua Dwi tidak keberatan, dan menyerahkan segala keputusan kepada Dwi
sendiri.
“Begini, Wi, kedatangan kami kemari, ingin mengajak kamu agar mau ikut kami ke Surabaya.
Kami menganggap kamu itu sudah seperti keluarga kami sendiri. Gimana Wi, apakah kamu
mau?” Tanya Papa.
“Soal sekolah kamu,” lanjut Papa, “kamu tak usah khawatir. Segala biaya pendidikan kamu saya
yang akan menanggung.”
“Baiklah kalau memang Bapak dan Tyas menghendaki demikian, saya bersedia. Saya
mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Bapak yang mau membantu saya.”
Kemudian Tyas bangkit dari tempat duduk lalu mendekat memeluk Dwi. Tampak mata Tyas
berkaca-kaca. Karena merasa bahagia.Akhirnya mereka dapat berkumpul kembali. Ternyata
mereka adalah sahabat sejati yang tak terpisahkan. Kini Dwi tinggal di rumah Tyas. Sementara
orang tuanya tetap di desa. Selain mengerjakan sawah, mereka juga merawat nenek Dwi yang
sudah tua.

UNSUR INSTRINSIK
• Tema : Persahabatan
• Tokoh : Tyas, Dwi, Papa Tyas, Dan Mama Tyas
• Watak :
·Tyas : Suka Menolong
·Dwi : Tidak Mau Membebani Orang Lain
·Papa Tyas : Baik Hati
·Mama Tyas : Peduli
• Alur : Maju
• Latar :
Tempat :
·Rumah Dwi (Lama)
·Rumah Tyas
·Rumah Dwi (Di Desa).
•Waktu :
·Siang Hari
•Suasana : Mengharukan
• Sudut pandang : Orang Pertama
• Amanat : Sebagai makluk tuhan kita harus saling tolong menolong Dan Berbagi kepada
sesama
TAKDIR

Gerimis tak berhenti juga, ditambah dengan Tari yang sejak pulang dari sekolah tadi tak keluar-
keluar dari kamarnya. Padahal jam dinding hadiah dari temannya sudah menunjukkan pukul
17.15. Itu berarti adzan magrib semakin dekat.

Tari kembali melirik buku bututnya. Aduh! Susahnya, ia membanting napas kesal isi buku yang
dibacanya dari tadi belum masuk juga ke otaknya. Karena capek, ia selonjoran di kasur bunga
mawarnya itu. Tapi ia malah teringat oleh mantannya. Ditariknya foto tu dari dompetnya. Huh,
seandainya! Adu, dia melulu. Malas ah!

Ia sekejap langsung menyembunyikan benda kenangannya dengan Audra itu di dompetnya.


“Bodohnya aku!” Cewek berambut panjang hitam itu mengeluh, namun penyesalan yang
menginjak-nginjak batinnya nggak pergi-pergi juga. “Iih”, Tari menggumam. “Kenapa aku dulu
menyia-nyiakannya,ya? Ga dewasa, kurang bersyukur? Atau, dia yang terlalu seperti anak
kecil?”

Kenangan itu masih tertempel di otak Tari, saat sosok yang dikenangnya itu memberikan surat
kepadanya. Surat yang isinya mengajak Tari putus dengannya. Memang sosok Audra yang
seperti anak kecil, pemalu, pintar, berkulit cokelat, wajahnya yang bersih, dan bertubuh tinggi itu
bukan termasuk tipe Tari. Tapi ia sulit untuk memutuskan putus atau tidak pada saat itu. Selama
ini semenjak putus dengan Audra, ia sering berkhayal, berkhayal seandainya ia bisa lebih
berpikir dewasa lagi. Namun yang sudah terjadi tidak bisa kembali lagi.

Daripada ia teringat dengan kekerasan bapaknya, ia mending terlintas kenangannya dengan


Audra.:”Plak!!” Batin Tari tergoncang, tamparan bapaknya ke bundanya itu sampai
menggerakkan gendang telinganya.” Bapak, Bapak! Cukup!” Tari berlari menangis. Tak heran
kalau Tari terkadang berdiam diri di kelasnya. Wajah gelisahnya membuat dirinya penuh dengan
misteri. Tapi sesungguhnya ia termasuk perempuan sabar dan kuat karena ia dapat bertahan
dengan kondisin keluarga seperti itu.

Tet tet tet! Bunyi bel sekolah Tari berdenting, yang menandakan jam istirahat telah usai. Namun
Tari masih tetap duduk terenung di bangkunya sampai Yanti sobatnya itu membangunkannya
dari lamunannya.
“Tar!”
“Ei, kowe kok ngelamun aja toh?”
“Iya nih, lagi pusing aku.”
“Ooo, makanya kowe kok nggak sholat dhuha, biasanya kowekan rajin gitu.”
“He, itu itu Audra!” Yanti menyoel-nyoel Tari. Paan sih! Kalau kamu suka dia jangan kayak gini
dong! Alah yang suka aku apa kowe, Ihiir!! Yanti menyindir sobatnya itu.

Tapi dengan kelucuan sahabatnya itu, akhirnya Tari dapat tersenyum yang sejak kemarin ia terus
menangis dan bersedih karena bapaknya itu menampar bundanya yang tak sengaja mengingatkan
bapaknya untuk tidak merokok dan pulang malam. Yan, aku tuh udah putus dengannya! Tari
menyela sobatnya denan menahan ketawa sebab melihat wajah Yanti yang berekspresi kayak
“Aming” komedian itu.

Tentu saja Tari nggak akan mengatakan ke Yanti kalau ia sedang sedih dan menangisi takdirnya.
Batas bercerita tetap ada. Dan Tari tak ingin sobatnya itu bersedih lantaran kehidupannya yang
menyedihkan.

Dan siang itu meskipun Tari mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia, tapi pikirannya masih
melayang kemana-mana. Seandainya Audra masih menjadi kekasihku! pasti masalahku akan
reda dengan adanya dirinya. Huh malangnya nasibku. Eiiiiihh!! Teriakannya membuat sekelas
gaduh dan kaget. Ini berawal dari Bejo yang menepuk bahu Tari.

“Tar, hihihihi, ngelamun aja, kesambet lo entar!” Bejo pura-pura tak ngerti kesalahannya.
Padahal gara-gara dia Tari dipanggil ke depan oleh Bu Tartik, guru paling killer di sekolah.
“Tari! Maju ke depan.”
“Oh, My God!”
“Bilang apa kamu tadi ?”
“Ndak Bu, ndak!”

Semua teman Tari tertawa sambil menahan ketawa karena tak ingin Bu Tartik mendengar ketawa
mereka, namun tidak dengan Yanti dan Audra. Mereka terlihat sedang berpikir sesuatu.

“Ono opo ya ma Tari ?”


“Iya ya, ada apa dengan Tari, apa gara-gara aku ?”
Teman sebangku Yanti dan yang tak lain adalah Audra mencetuskan kata-kata seperti itu. Dan
membuat Yanti terkejut dan berpikir apa sebenarnya mereka berdua masih saling suka.
Tapi…………
Di lain posisi, Bu Tartik memarahi Tari abis-abisan.

“Tariiiii, kamu itu! Kalau kamu tidak ingin mengikuti pelajaran saya. Kamu jangan menganggu
pelajaran Ibu!” muka Tari yang memerah membuat dirinya tampak habis makan 100 cabe merah
keriting yang biasa dilihatnya di dapur ketika ia memasak dengan bundanya.
Tet tet tet tet tet tet…………

Untung penderitaan Tari berhenti juga, bel sekolah yang memengakkan telinga itu
menyelamatkan hidupnya hari ini. Tak hanya Tari, teman-temannya juga terselamatkan. Karena
mereka ingin sekali tak mengikuti pelajaran ini. Tapi begitu melihat Bu Tartik, akhirnya mereka
mengikutinya.

“Duduk kamu! Ketua kelas pimpin doa!”


“Iya Bu.” Tari dan ketua kelasnya menyahut bersama. Setelah Bu Tartik keluar dari kelas, Yanti
dengan tas merah stroberinya itu langsung menyambar Tari. Tar kowe kenapa?
“Iya, kamu kenapa ?”

Oh My God, Audra! Tari yang semula cemberut langsung bersinar-sinar ketika Audra
menghampiri dan perhatian kepadanya.
“Aku nggak apa-apa kok Dra! Aku cuma cuma……..”
“Cuma ngelamunin kamu Dra.” Bejo menyela perkataan Tari namun Yanti membela sobatnya.
“Bejo! kowe ojo ngono.”
“Nggak nggak, aku lagi pusing aja, kamu nggak pulang Dra ?” Tari mengalihkan suasana dan itu
berhasil.
“Ya uda, aku pulang dulu ya.” Audra melirik Tari dengan senyumnya yang bisa membuat Tari
mabuk kepayang. Bejo pun mengikutinya dari belakang.
“Tar, kowe bener-bener pusing ta ?”
“Ehmm, nggak sih, aku tadi lagi mikirin Audra tapi gara-gara Bejo tukang usil itu, aku jadi
dicereweti Bu Tartik deh.”
“Ooo, emang kowe tuh!”
“Eeemang!!!” Tari menggoda sobatnya itu dan merangkulnya agar Yanti segera pulang
dengannya. Lalu mereka harus masih menunggu kendaraan warna biru berlabelkan
“AMG”(Arjosari-Gadang) itu.

Jam 7 malam …………


Bapak sedang menonton TV dan bapak memanggil Tari. Tak biasanya bapak mau bicara dengan
Tari. Tari, sini!Bapak mau ngomong. Besok akan ada keluarga teman Bapak yang mau
melamarmu, jadi besok kamu harus langsung pulang setelah jam sekolah selesai.
“Tapi Pak, saya masih sekolah, masak mau dilamar.”

“Kamu bisa tunangan dulu dan setelah lulus dari kuliah, kamu baru menikah dengannya!”
Bapak tidak mau mendengar alasan apapun dari Tari. Jika Bapak sudah bicara A, maka Tari
harus mengikutinya. Tari tak tahu harus bagaimana, tak harus berbuat apa. Tari bingung! Tari
harus bagaimana ya Allah ? Bunda mengetuk pintu kamar Tari dan setelah bunda masuk, mereka
terlibat dalam pembicaraan.

“Sabar ya anakku, Bunda selalu disini menemanimu.” Mereka menangis berdua. Keesokan
harinya Tari tak masuk sekolah karena untuk masuk, ia terlalu capek. Capek menangis
semalaman. Ini merupakan takdir atau hanya kebetulan saja, Audra juga tak masuk. Entah apa
alasannya. Di sebuah rumah di jalan araya itu, ada perbincangan antar keluarga.
“Papa, Audra tak mau dijodohkan!”
“Nak, dia baik buat kamu! Terserah alasan kamu apa, yang penting sekarang kamu siap-siap
untuk sore nanti!”
“Pa!!!”

Jam di kamar Tari sudah menunjukkan pukul 15.00 dan sebentar lagi ia akan dilamar. Bun! Aku
nggak mau pake kebaya ini, ia melempar kebaya berwarna putih jika dipakenya akan pas di
badannya yang ramping itu. Bunda, aku mau dengan perjodohan ini hanya karena agar Bunda tak
disakiti Bapak! Tari memperjelas alasannya kepada Bundanya. Mendadak sebuah sedan hijau
masuk pelan ke halaman rumah Tari dan berhenti tepat di depan teras. Bapak menyambut
keluarga itu. Namun ada yang aneh, anak laki-laki dari keluarga itu terlihat murung dan malas
sama seperti Tari. Selamat datang! Silahkan masuk. Bapak mempersilahkan mereka masuk.

Dibantu dengan bunda, ia segera memakai sepatu highheels warna putih mengkilat itu dengan
buru-buru. Meskipun terpaksa, Tari akhirnya keluar dan menemui keluarga pelamarnya.
Ketika Tari bertatap muka dengan anak laki-laki berjas hitam dengan kerah terbuka yang terlihat
tampan saat itu, ia serasa mau pingsan di tempat. Apa kamu?kamu?? Tari terheran dengannya.

“Ya benar, aku Audra!” Dia memang Audra, mantanku. Oh, takdir macam apakah ini? Secara
reflek, Tari langsung memeluk Audra dan ……………

“Tar,Aku sayang kamu!”


“Aku juga Dra, aku sayang kamu!”

UNSUR INTRINSIK

1.Tema :Percintaan dan takdir


2. Amanat :
· Dalam menghadapi hal apapun harus bersikap dewasa dan berpikir panjang.
· Jangan melamun dan tak fokus sewaktu pelajaran
3.Alur : Campuran

4. Setting :
· Kamar tari pukul 17.15

· Kelas sehabis jam istirahat sekolah

5. Penokohan/perwatakan :
· Tari : sabar, tabah, tertutup, kuat, taat beribadah, pelamun.
· Audra : tidak dewasa, perhatian, pemalu
· Yanti : medok, baik, perhatian, suka, melucu, setia kawan
· Bapak : keras kepala, pemaksa, egois, suka memukul, mudah emosi
· Bunda : sabar, penyayang, perhatian, lemah lembut, rela berkorban
· Bejo : Usil, medok, nakal
· Bu Tartik : Pemarah, tegas, killer
· Papa : Egois
6. Sudut pandang : Orang ketiga
VETERAN TUA

Seorang lelaki tua menyandarkan sepeda bututnya di parkiran balai desa. Karena baru saja
datang, lelaki itu akhirnya duduk di antrian paling belakang. Satu jam sudah ia duduk mengantri
di tempat itu. Beberapa saat kemudian, tibalah kakek itu di antrian paling depan. Ia
mengeluarkan sebuah map berwarna merah yang ia bungkus dengan kresek berwarna hitam dan
menyerahkannya kepada si petugas kelurahan. Si petugaspun langsung memeriksa satu per satu
isi map merah milik kakek tadi.

“Maaf pak, tapi syarat-syarat bapak kurang lengkap. Bapak harus meminta surat keterangan tidak
mampu dari ketua RT dan RW, baru bapak bisa kembali lagi kesini. Kata si petugas kelurahan
sambil menyerahkan kembali map merah milik kakek.

Lelaki tua itu tetap berusaha tersenyum, sudah lebih dari sejam ia duduk menunggu disana
namun ternyata semua itu sia-sia. Ia kembali menuju sepeda onthel tuanya yang diparkir diantara
beberapa mobil dan sepeda motor.

Kakek tua yang sehari-hari bekerja sebagai kuli panggul di pasar itu dulunya adalah seorang
pejuang kemerdekaan, sudah banyak pengalaman pahit manis yang dialaminya. Ia telah
kehilangan banyak sekali teman-teman seperjuangannya, tapi kematian teman-temannya tersebut
tidaklah sia-sia. Mereka semua adalah para syuhada, mereka semua mati syahid, mati di jalan
Illahi sebagai bunga bangsa.

Lelaki tua itu tiba-tiba tersentak mendengar klakson bis yang membangunkannya dari lamunan
masa lalunya. Tak terasa ternyata ia telah berada di jalan raya, itu artinya ia harus lebih berhati-
hati lagi.

Kakek itu sekarang tinggal bersama istrinya di kolong jembatan setelah rumah mereka digusur
polisi seminggu lalu. Tapi sayangnya sang istri sekarang sedang sakit keras dan dirawat di rumah
sakit, sementara si kakek sedang mengusahakan pengobatan gratis bagi istrinya tersebut.
Tiba-tiba anngin berhembus semakin kencang, suara petir mulai terdengar dan awanpun berubah
menjadi hitam tanda akan turun hujan. Dan benar saja, hujan turun dengan derasnya. Si kakek
memutuskan untuk berteduh di emperan toko karena tak ingin map yang dibawanya tersebut
menjadi basah dan rusak.

Ternyata dari tadi lelaki tua itu berteduh di depan warung sate, pantas saja perutnya merasa
semakin lapar. Ia ingat bahwa terakhir ia makan sudah sejak tadi malam, sedangkan sekarang
sudah jam dua lebih. Sekilas ia menengok ke dalam warung sate tadi, di dalamnya banyak orang
sedang makan dengan lahapnya. Lelaki tua itu pun tersenyum, ia merasa bangga karena
perjuangannya dulu saat mengusir kompeni dari tanah airnya tidaklah sia-sia. Bila ia dan teman-
teman seperjuangannya dulu gagal mengusir penjajah, mungkin mereka tak akan bisa menikmati
suasana seperti ini.

Kakek tua itu kemudian mengalihkan pandangannya ke televisi yang dari tadi di setel oleh
seorang pedagang kaset yang berjualan tak jauh darinya. Televisi itu sedang menyiarkan seorang
berpakaian jas hitam rapi dengan mengenakan dasi sedang berpidato di sebuah ruangan yang
kelihatannya sangat mewah. Si lelaki tua itu menebak bahwa orang yang sedang muncul di
televisi tadi pastilah seorang pejabat negerinya. Dalam pidatonya, orang itu mengatakan bahwa
rakyat di negerinya sudah kehilangan rasa nasionalisme, rakyat dinegerinya juga dikatakan sudah
kehilangan rasa cinta terhadap tanah airnya. Sejenak ia berpikir merenungi kata-kata pejabat itu.
Dalam hati ia bertanya, siapa sebenarnya yang tidak punya nasionalisme, rakyat negerinya atau
para pejabat itu?

Apakah pejabat yang bernasionalisme adalah pejabat yang makan kekenyangan saat rakyatnya
mati kelaparan? Apakah pejabat yang nasionalis adalah para pejabat yang bebas liburan keliling
dunia saat rakyat di negerinya antri bbm hingga berhari-hari? Atau pejabat yang punya banyak
mobil mewah saat rakyatnya berdesakan di gerbong kereta api?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus memenuhi pikirannya, namun ia sadar ia harus pergi


sekarang. Istrinya di rumah sakit pasti sudah menunggunya dan hujan pun kini telah reda, lelaki
tua itu kembali mengayuh sepedanya.
Sesampainya di rumah sakit kekek tua itu memarkirkan sepedanya dan langsung bergegas
menuju kamar tempat istrinya dirawat. Entah kenapa kakek itu selalu merasa tak tenang setiap
jauh dari istrinya. Ia akan memastikan dulu bahwa istrinya tak membutuhkan bantuannya, baru ia
akan berangkat lagi untuk mengurus surat keringanan ke ketua RT dan RW.

Saat sampai di depan kamar tempat istrinya dirawat, ia mendapati bahwa kamar sudah dalam
keadaan kosong. Pintu kamarpun dalam keadaan terkunci sehingga tak bisa dibuka, padahal
kakek itu yakin ia tidak salah kamar. Dalam hati ia berpikir bahwa mungkin istrinya telah
sembuh sehingga dipindahkan ke tempat lain oleh dokter. Namun untuk memastikan, si kakek
mencari seorang dokter yang tadi pagi memeriksa keadaan istrinya. Si kakek pun menanyakan
kepada dokter tadi dimana istrinya sekarang berada. Dokter pun menatap wajah si kakek dengan
mata berkaca-kaca.

“Maaf pak, kami sudah berusaha sebisa kami tapi ternyata Allah berkehendak lain. Istri bapak
sudah meninggal sejam yang lalu.” Kata si dokter yang tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.
Si kakek pun meneteskan air matanya, tubuhnya bergetar hebat, map merah yang dibawanya
jatuh dari pegangan tangannya. Pandangannya pun menjadi semakin kabur dan perlahan menjadi
gelap gulita. Si kakek pun sekarang sudah tak ingat apa-apa lagi.

Keesokan harinya dua buah gundukan tanah baru muncul di kuburan. Yang satu bertuliskan
Darsono bin Atmo, seorang veteran tua yang sehari-hari bekerja sebagai kuli panggul.
Sedangkan nisan yang satunya lagi bertuliskan Pariyem binti Ngatijo, istri dari sang veteran
pejuang. Meskipun sang veteran miskin itu sekarang telah tiada. Namun di negerinya, negeri
dimana kayu dan batu bisa jadi tanaman, masih banyak orang yang bernasib sama bahkan lebih
tragis darinya. Mereka semua, para rakyat di negeri itu, banyak yang rela bekerja keras
membanting tulang memeras darah hanya sekedar untuk makan sekali sehari.
UNSUR INTRINSIK

1. Tema : Perjuangan

2. Sudut Pandang : Orang ketiga

3. Amanat : Tetaplah sabar dan tetap berjuang sesulit apapun keadaan.

4. Alur : campuran
Perkenalan : Seorang lelaki tua menyandarkan sepeda bututnya di parkiran
balai desa
Penampilan masalah: bahwa rakyat di negerinya sudah kehilangan rasa
nasionalisme, rakyat dinegerinya juga dikatakan sudah kehilangan rasa cinta
terhadap tanah airnya.
Klimaks: Istri bapak sudah meninggal sejam yang lalu
Klimaks : negeri dimana kayu dan batu bisa jadi tanaman, masih banyak
orang yang bernasib sama bahkan lebih tragis darinya. Mereka semua, para
rakyat di negeri itu, banyak yang rela bekerja keras membanting tulang
memeras darah hanya sekedar untuk makan sekali sehari.

5. Latar : : Tempat: kantor balai desa, emperan toko, rumah sakit.


Waktu: siang hari, jam dua siang.
Suasana: sedih, mengharukan.

6. Penokohan : Kakek Tua : pekerja keras, penyabar, ramah.


Istri : setia, penyabar.