Anda di halaman 1dari 7

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO


TENTANG
PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA

Disusun Oleh:
1. Aditya Endar Pratama (20150610002)
2. Maria Apritisya Viana (20150610050)
3. Syarifah Amalia Bin Tahir (20150610072)

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur di panjatkan kehadirat Allah S.W.T. karena berkat karunia


dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan pedoman penyusunan Naskah
Akademik Rancangan Peraturan Daerah.

Pedoman penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan


Daerah disusun sebagai salah satu kegiatan Quick Wins untuk membenahi
sistem kerja dalam rangka efektivitas dan efisiensi. Pedoman Naskah
Akademik Rancangan Peraturan Daerah ini disusun bersamaan dengan
penyusunan Standart Operasional Prosedur (SOP)

Akhir kata semoga pedoman penyusunan Naskah Akademik


Rancangan Peraturan Daerah ini dapat bermanfaat untuk menyamakan
pemahaman mengenai sistematika dan substansi Naskah Akademik
Rancangan Peraturan Daerah dan menjamin penyempurnaan atau
peningkatan kualitas Naskah Akademik.

Kepala Badan
Pembinaan Hukum Nasional,

SURABAYA, 20 MARET 2019


DAFTAR ISI

Narasi Pengantar

Daftar Isi

Daftar Tabel

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

2. Identifikasi Masalah

3. Tujuan dan Kegunaan

4. Metode
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

 Hakekat orang bekerja itu bagaimana? aspek filosofisnya? Untuk


memenuhi kebutuhan hidup, penghasilan. Bekerja. Sandang, Pangan,
dan Papan.
 UUD 1945, Pasal 28 ....kamu jelaskan
 Apakah pemerintah bertanggung jawab agar kita mendapatkan
pekerjaan ?
 Upaya pemerintah untuk membuka lapangan pekerjaan? Lalu
tambahkan data jumlah orang bekerja dengan jumlah orang yang
tidak bekerja?
 Dagang = wiraswasta = pengusaha UMKM.
 Ada aturan tentang UMKM ? UU atau
 Apakah PKL secara hukum?
 Apakah PKL = UMKM?
 Ada data nasional jumlah PKL ? kontribusi PKL terhadap
perekonomian Indonesia secara nasional, perekonomian Daerah?
 Adakah dukungan dari pemerintah, instansi swasta dalam
memberdayakan PKL? Bentuknya bagaimana?
 Di Sidoarjo bagaimana? Jumlah PKL di sidoarjo? Dibawah pembinaan
siapa? Apakah PKL di sidoarjo terlokasisir?
 Sudah ada gak aturan yang mengatur PKL di Sidoarjo? Kalau gak ada
itu peluangmu? Kalau ada, apa tawaran dari perda yang kami bikin?
 Peraturan Menteri No 41 Tahun 2012 tentang Pedoman Penataan dan
Pedagang Kaki Lima.
 Masalah: Tempat, keamanan, gmn itu PKL bisa ditata?
 Perda PKL di bebeberapa tempat?
Setiap dasarnya hakekat setiap warga Negara berhak untuk
mendapatkan kehidupan yang sejahtera. Jaminan mendapatkan
kehidupan yang sejahtera itu telah ditegaskan pada batang tubuh UUD
NKRI 1945 yang berbunyi:

1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah


Indonesia.

2. Memajukan kesajahteraan umum,

3. Mencerdaskan kehidupan bangsa, dan

4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan


kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Khusus mengenai tujuan yang kedua yang berbunyi “memajukan


kesajahteraan umum” yang dapat diartikan bahwa Negara wajib
bertanggung jawab atas kemajuan kesejahteran masyarakat. Dan
warga Negara berhak mendapatkan hak untuk bekerja dan
mendapatkan imbalan yang sudah ditegaskan pada Pasal 28D Ayat 2
UUD 1945.

Jadi untuk mengembangkan kesejahteraan umum dimasyarakat


khususnya untuk Pedagang Kaki Lima (PKL) pemerintah daerah dapat
mengambil langkah dengan adanya pembangunan, penataan yang
merata sehingga kesejahteraan Pedagang Kaki Lima (PKL) bisa lebih
terjamin.

Seiring jalannya waktu Pedagang Kaki Lima (PKL) semakin


berkembang semakin pesat dan parahnya Pedagang Kaki Lima (PKL)
sekarang mulai seenaknya mendirikan bangunan kios-kios di trotoar
yang mengakibatkan terganggunya sarana prasana umum maka dari
itu pemerintah daerah wajib melakukan penertiban Pedagang Kaki
Lima (PKL) biar bisa lebih teratur dan nyaman.
Bahwa kegiatan Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan salah
satu usaha ekonomi kerakyatan yang bergerak dalam usaha
perdagangan sektor informal sehingga perlu dilakukan pemberdayaan
untuk meningkatkan dan mengembangkan usahanya guna menunjang
pertumbuhan perekonomian masyarakat dan sekaligus sebagai salah
satu pilihan dalam penyediaan barang dagangan yang dibutuhkan
oleh masyarakat dengan harga yang relatif terjangkau.

Pengaturan mengenai Pedagang Kaki Lima (PKL) saat ini telah


diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan seperti
Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang usaha mikro, kecil, dan
menengah. Selain itu diatur juga dalam Peraturan Presiden No. 125
Tahun 2012 tentang kordinasi penataan dan pemberdayaan Pedagang
Kaki Lima (PKL) dan diatur juga pada Peraturan Menteri No. 41 Tahun
2012 Tentang Pedoman Penataan dan Pedagang Kaki Lima.

B. Identifikasi Masalah

1) Bagaimana pelaksanaan penataan dan penertiban pedagang kaki


lima (PKL) di daerah Sidoarjo?
2) Mengapa perlu dibuat peraturan daerah Sidoarjo tentang
pedagang kaki lima (PKL)?
3) Apa yang menjadi pertimbangn atau landasan filosofis, sosiologis,
dan yuridis pembentukan peraturan daerah tentang pedagang kaki
lima (PKL)?

C. Tujuan dan kegunaan

Sesuai dengan latar belakang dan identifikasi masalah yang


dikemukakan diatas, maka penyusunan Naskah Akademik memilik
tujuan sebagai berikut:
1) Untuk memberikan latar belakang, arahan dan dukungan dalam
perumusan pedagang kaki lima (PKL) dengan segala dimensinya
secara menyeluruh, dan terpadu.
2) Untuk memberikan kenyaman dan keamanan kepada pedagang
kaki lima (PKL).
3) Untuk penataan pedagang kaki lima (PKL) supaya lebih teratur
dan terarah.

D. Metode

a) Tipe Penulisan
Tipe penulisan yang dipakai dalam penyusunan naskah akademik
menggunakan tipe yuridis normatif metode penulisan ini melihat,
menelaah, dan mengiterpasikan hal-hal yang bersifat teoritos yang
menyangkut asas-asas hukum yang berupa konsepsi,peraturan
perundang-undangan, pandangan, doktrin hukum dan sistem
hukum yang berkaitan.1
b) Pengumpulan bahannya
Dalam penelitian hukum normative atau kepustakaan teknik
pengumpulan data dalam penelitian hukum normative dilakukan
dengan studi pustaka terhadap bahan-bahan hukum, baik bahan
hukum primer, bahan hukum sekunder, maupun hukum tersier
atau bahan non hukum.2

1
Soerjono soekanto dan sri mamudji 1985. Penelitian hukum normatif suatu tinjauan singkat.
Rajawali Pers. Jakarta. Hlm:52
2
Dr. ND, Mukti fajar, Yulianto Achmad MH. Dualisme penelitian hukum normative & empiris.
Yogyakarta. Hlm:153