Anda di halaman 1dari 5

ARTIKEL KONTRA MENIKAH MUDA

Tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam

DWI PUTRI RAMA DHANI

150413602183

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

MARET 2019
Bukan sebuah peristiwa jika tidak mengandung pro kontra. Begitupun dengan kisah nikah
muda yang banyak menuai ungkapan yang berbeda dari para ahli. Ada yang alergi dengan
nikah muda karena beberapa alasan:

1. Tidak sejalan dengan program pemerintah, yang sudah sejak lama mencanangkan program
Millenium Depelopment Goals (MDGs). Program ini memiliki target diantaranya
mengentaskan kemiskinan, pemberdayaan wanita dan peningkatan kesejahtraan wanita
dengan emansipasi. Mereka mensinyalir adanya pernikahan muda ini akan menjadi
penghambat dalam pencapaian target MDGs tersebut.

2. Berdampak secara kesehatan terutama bagi wanita. Dikutip dari kompasiana.com, dr.
Ridwan NA, Sp.OG salah seorang dokter spesialis kandungan dan kebidanan mengatakan,
"Para perempuan yang menikah di usia muda pada dasarnya secara psikologis dan fisik
belum siap ataupun belum matang untuk mengandung karena pertumbuhan panggulnya
belum sempurna sehingga akan mengagangu kesehatan reproduksi."

Terlepas dari itu semua, tidak dipungkiri pernikahan muda juga banyak mengandung hal-hal
positif ketika dijalankan sesuai ketentuan. Banyak orang yang menganggap nikah muda
sebagai solusi dalam menghadapi perkembangan zaman yang sudah tidak terkendali. Alasan
yang sering diungkapkan seseorang ketika menikah muda adalah untuk menjaga diri dan
menunaikan sunnah Nabi. Rosululloh Saw bersabda:

‫َر يَا‬
َْ ‫شبَابْ َمعْش‬ َ ‫ع أ َمنْ ال‬
َْ ‫طا‬ ُْ ‫صرْ أَغ‬
َ َ‫فَليَتَزَ َّوجْ البَا َء ْة َ من ُكمْ ست‬، ُ‫َض فَانَ ْه‬ َ ‫صومْ فَعَلَيهْ يَست َطعْ لَمْ َمنْ َْو للفَرجْ َواَح‬
َ َ‫صنُْ للب‬ َ ‫بال‬،
َ َ
ُ‫و َجاءْ ل ْهُ فانَ ْه‬.

"Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian sudah mampu menikah, maka menikahlah.
Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa
yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa lebih bisa menahan
syahwatnya (menjadi tameng).(H.R. Bukhori)".

Angka pernikahan usia remaja (di bawah 18 tahun) di Indonesia cukup tinggi jika
dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Menurut data yang dihimpun oleh UNICEF,
badan PBB yang bergerak dalam bidang kesejahteraan anak, dari seluruh wanita Indonesia
yang telah menikah, 34% di antaranya menikah saat remaja.

Banyaknya kasus pernikahan usia remaja di Indonesia dan negara-negara lain di Asia dan
Afrika mengundang perhatian khusus dari para peneliti. Mungkin Anda sudah pernah dengar
bagaimana pernikahan usia remaja berisiko menyebabkan keguguran, kematian bayi,
kematian ibu saat bersalin, kanker serviks (leher rahim), dan penularan penyakit kelamin. Di
samping berbagai risiko kesehatan tersebut, pernikahan usia remaja juga berdampak buruk
bagi kesehatan mental kedua orang pasangan. Berikut adalah dampak-dampak psikologis
yang mungkin muncul karena pernikahan usia remaja.
Gangguan mental

Sebuah penelitian terbaru dalam jurnal Pediatrics menujukkan bahwa remaja yang menikah
sebelum menginjak usia 18 tahun lebih berisiko mengalami gangguan mental. Risiko
gangguan mental pada pasangan suami istri (pasutri) remaja cukup tinggi, yaitu hingga 41%.
Gangguan kejiwaan yang dilaporkan dalam penelitian tersebut antara lain depresi,
kecemasan, gangguan disosiatif (kepribadian ganda), dan trauma psikologis seperti PTSD.

Memasuki bahtera rumah tangga di usia yang sangat muda memang bukan hal yang mudah.
Laporan dari UNICEF menyatakan bahwa remaja cenderung belum mampu mengelola emosi
dan mengambil keputusan dengan baik. Akibatnya, ketika dihadapkan dengan konflik rumah
tangga, sebagian pasutri remaja menggunakan jalan kekerasan. Hal ini tentu mengarah pada
gangguan mental seperti depresi dan PTSD. Selain itu, keguguran atau kehilangan anak yang
kerap terjadi pada pasutri remaja juga bisa menyebabkan gangguan mental dan trauma.

Karena kebanyakan kasus pernikahan usia remaja terjadi di daerah-daerah yang belum
menyediakan akses pelayanan kesehatan jiwa, pasutri remaja yang mengidap gangguan
mental pun tidak bisa mendapat penanganan yang tepat. Maka, kondisi psikologis mereka
pun bisa jadi lebih parah seiring bertambahnya usia.

Kecanduan

Pernikahan usia remaja juga bisa menyebabkan masalah psikologis berupa kecanduan. Entah
itu kecanduan minuman keras, rokok, narkoba, atau judi. Kecanduan memang kerap terjadi
karena banyak pasutri remaja tidak bisa menemukan cara yang sehat untuk meluapkan emosi
atau mencari distraksi saat dilanda stres.

Masalah ekonomi dan rumah tangga serta minimnya tingkat pendidikan sering kali menjadi
alasan pasutri remaja beralih ke gaya hidup yang tidak sehat. Pada kebanyakan kasus,
kecanduan akan terus melekat sampai pasutri remaja menginjak usia dewasa. Padahal,
orangtua yang sejak muda sudah kecanduan zat-zat berbahaya seperti alkohol, nikotin, dan
narkoba berisiko menyebabkan gangguan atau kecacatan pada janin serta kematian bayi.

Jika bayi meninggal atau lahir dengan kecacatan, pasutri remaja mungkin akan semakin
kewalahan menghadapi situasinya dan semakin bergantung pada candunya. Hal ini menjadi
semacam lingkaran setan yang tak akan tuntas.

Tekanan sosial

Keluarga dekat, kerabat, hingga masyarakat bisa menjadi beban tersendiri bagi pasutri
remaja. Hal ini semakin kentara di negara-negara yang menganut sistem hidup komunal.
Remaja laki-laki dituntut untuk menjadi kepala rumah tangga dan menafkahi keluarganya,
padahal usianya masih sangat belia. Sementara remaja perempuan dituntut untuk
membesarkan anak dan mengurus rumah tangga, padahal secara psikologis mereka belum
sepenuhnya siap mengemban tanggung jawab tersebut.
Jika pasutri remaja tidak mampu memenuhi tuntutan sosial tersebut, mereka mungkin saja
dikucilkan atau dicap buruk oleh warga setempat. Akibatnya, pasutri remaja jadi semakin
sulit mendapatkan bantuan dan dukungan yang mereka butuhkan dari orang-orang di
sekitarnya.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) Kalimantan Timur Yenrizal Makmur mengatakan, pernikahan usia dini berdampak
terhadap banyak hal negatif.

"Dampak negatif, di antaranya rentan terhadap perceraian, karena tanggung jawab yang
kurang, dan bagi perempuan berisiko tinggi terhadap kematian saat melahirkan," katanya di
Samarinda, Sabtu (12/4).

Ia mengatakan, perempuan usia 15-19 tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar
meninggal saat melahirkan ketimbang yang berusia 20-25 tahun, sedangkan usia di bawah 15
tahun kemungkinan meninggal bisa lima kali.

Dia mengatakan, perempuan muda yang sedang hamil, berdasarkan penelitian akan
mengalami beberapa hal, seperti akan mengalami pendarahan, keguguran, dan persalinan
yang lama atau sulit. Kondisi inilah yang menyebabkan ibu yang akan melahirkan bisa
meninggal.

Sedangkan dampak bagi bayi, menurut dia, kemungkinannya adalah lahir prematur, berat
badan kurang dari 2.500 gram, dan kemungkinan cacat bawaan akibat asupan gizi yang
kurang karena ibu muda belum mengetahui kecukupan gizi bagi janin, di samping ibu muda
juga cenderung stres.

Selain itu, katanya, dampak psikologis mereka yang menikah pada usia muda atau di bawah
20 tahun, secara mental belum siap menghadapi perubahan pada saat kehamilan.

Persoalan lainnya adanya perubahan peran, yakni belum siap menjalankan peran sebagai ibu
dan menghadapi masalah rumah tangga yang seringkali melanda kalangan keluarga yang
baru menikah.

Pernikahan dini, kata dia, juga berdampak buruk ditinjau dari sisi sosial, yaitu mengurangi
harmonisasi keluarga serta meningkatnya kasus perceraian.

"Hal ini disebabkan emosi yang masih labil, gejolak darah muda, dan cara pola pikir yang
belum matang. Di samping ego yang tinggi dan kurangnya tanggung jawab dalam kehidupan
rumah tangga sebagai suami-istri," katanya.

Dia juga mengatakan, pernikahan dini di lingkungan remaja cenderung berdampak negatif
terhadap alat reproduksi, mental, dan perubahan fisik. Di sisi kesehatan, katanya, pernikahan
dini akan merugikan alat reproduksi perempuan karena makin muda menikah, semakin
panjang rentang waktu bereproduksi.
Sementara itu, berdasarkan survei riset kesehatan dasar yang dilakukan pada 2013,
permasalahan kesehatan reproduksi dimulai dengan adanya perkawinan dini. Survei
dilakukan pada perempuan usia 10-54 tahun. Hasilnya adalah sebanyak 2,6% menikah
pertama pada usia kurang dari 15 tahun, kemudian 23,9% menikah pada umur 15-19 tahun.

Sedangkan provinsi dengan usia perkawinan kurang dari 15 tahun tertinggi berada di
Kalimantan Selatan yang mencapai 9%, Jawa Barat 7,5%, Kalimantan Timur dan Kalimantan
Tengah masing-masing 7%, dan Banten 6,5%. Sedangkan untuk usia 15-19 tahun,
Kalimantan Tengah memiliki angka 52,1%, Jawa Barat 50,2%, Kalimantan Selatan 48,4%,
Bangka Belitung 47,9%, dan Sulawesi Tengah 46,3%.