Anda di halaman 1dari 80

RESENSI BUKU AKHLAK TASAWUF DAN KARAKTER MULIA

Karya Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A.

Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Pengganti Ujian Akhir


Mata Kuliah: Akhlak dan Tasawuf
Dosen Pengampu: Dr. Malik Ibrahim, M.Ag

Disusun oleh:
Abdul Aziz (17106030037 / 081383736223)

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa memberikan


kenikmatan-kenikmatan-Nya yang agung, terutama kenikmatan iman dan Islam.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu
Alaihi wa Sallam, segenap keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang
konsisten menjalankan dan mendakwahkan ajaran-ajaran yang dibawanya.

Dengan tetap mengharapkan pertolongan, karunia dan hidayah-Nya,


Alhamdulillah penyusun mampu menyelesaikan penulisan resensi ini dengan
judul buku “Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia” karya Prof. Dr. H. Abuddin
Nata, M.A. sebagai salah satu tugas individu pengganti Ujian Akhir Semester
Genap dari mata kuliah Akhlak dan Tasawuf yang diampu oleh bapak Dr. Malik
Ibrahim, M.Ag.

Penulis menyadari bahwasanya selama proses penyusunan resensi buku ini


tentu melibatkan berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima
kasih kepada:

1. Dr. Malik Ibrahim, M.Ag, selaku Dosen Pengampu mata kuliah Akhlak
dan Tasawuf atas bimbingan dan pengarahan yang diberikan kepada saya
sehingga akhirnya dapat menyelesaikan penulisan resensi ini.
2. Kedua orang tua tercinta yang telah berjasa memberi semangat, dukungan
dan doa yang tiada henti sehingga saya bisa menyelesaikan resensi ini.
3. Teman-teman program studi Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
angkatan 2017 atas dorongan, saran dan kritik sehingga resensi ini dapat
terselesaikan dengan baik.
4. Teman-teman Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi’ien
Yogyakarta atas pengalaman yang sudah kalian berikan kepada saya.

ii
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terkandung di
dalam resensi ini. Untuk itu saya meminta saran dan kritik yang membangun
dari pembaca agar saya dapat memperbaiki kesalahan demi kesempurnaan
resensi ini. Harapan saya dalam penulisan resensi ini, resensi ini dapat
bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis khususnya.

Yogyakarta, 8 Mei 2018

Penyusun

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

A. Identitas Buku .............................................................................................. 1

B. Latar Belakang ............................................................................................. 2

C. Tujuan Penulisan .......................................................................................... 3

D. Sasaran Penulisan ......................................................................................... 3

E. Relevansi Hubungan .................................................................................... 4

F. Tingkat Kemutakhiran ................................................................................. 5

G. Tata Letak Buku ........................................................................................... 5

H. Isi Buku ........................................................................................................ 5

I. Kelebihan dan Kekurangan ........................................................................ 38

J. Tabel Buku Primer ..................................................................................... 39

BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 41

A. Buku Sekunder Pertama ............................................................................. 41

1. Identitas Buku ......................................................................................... 41

2. Isi Buku .................................................................................................. 41

3. Kelebihan dan Kekurangan ..................................................................... 57

4. Tabel Buku Sekunder ............................................................................. 59

B. Buku Sekunder Kedua................................................................................ 60

C. Buku Sekunder Ketiga ............................................................................... 61

D. Buku Sekunder Keempat............................................................................ 63

iv
E. Buku Sekunder Kelima .............................................................................. 64

F. Buku Sekunder Keenam ............................................................................. 67

G. Buku Sekunder Ketujuh ............................................................................. 68

H. Buku Sekunder Kedelapan ......................................................................... 68

I. Buku Sekunder Kesembilan ....................................................................... 69

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 70

C. Kesimpulan ................................................................................................ 70

D. Tabel Perbandingan .................................................................................... 71

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 73

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .............................................................................. 74

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Identitas Buku
BUKU PRIMER

Judul : ”Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia”


Penulis : Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A.
Cetakan 1 : Juni 1997
Cetakan 14 : Juni 2014
Ukuran : 16 x 23 cm
ISBN : 978-979-769-587-3
Penerbit : PT Raja Grafindo Persada Jakarta
Tahun penerbitan : 2013
Alih bahasa :-
Jumlah halaman : 357 halaman

1
B. Latar Belakang
Akhlak Tasawuf merupakan salah satu khazanah intelektual
Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan. Secara
historis dan teologis Akhlak Tasawuf tampil mengawal dan memandu
perjalanan hidup umat agar selam dunia dan akhirat. Tidaklah berlebihan
jika misi utama kerasan Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung
keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya
yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah SWT di dalam Al-
Qur’an.

Khazanah pemikiran dan pandangan di bidang Akhlak dan


Tasawuf itu kemudian menemukan momentum pengembangannya dalam
sejarah, yang antara lain ditandai oleh munculnya sejumlah besar aula
tasawuf dan ulama di bidang akhlak. Mereka mencoba meluruskan dan
memberi koreksi pada perjalanan umat saat itu yang sudah mulai miring ke
arah yang salah, da ternyata upaya mereka disambut positif karena
dirasakan manfaatnya.

Perhatian terhadap pentingnya Akhlak Tasawuf kini muncul


kembali, yaitu di saat manusia di zaman modern ini dihadapkan pada
masalah moral dan akhlak yang cukup serius, yang kalau dibiarkan akan
menghancurkan masa depan yang bersangkutan. Praktek hidup yang
menyimpang dan penyalahgunaan kesempatan dengan mengambil bentuk
perbuatan sadis dan merugikan orang kian tumbuh subur di wilayah yang
tak berakhlak dan tak bertasawuf. Cara mengatasinya bukan hanya dengan
uang, ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi harus dibarengi dengan
penangan di bidang mental spiritual dan akhlak yang mulia.

Melihat demikian pentingnya akhlak tasawuf dalam kehidupan ini,


tidaklah mengherankan jika akhlak tasawuf dalam kaitannya dengan
pembentukan karakter bangsa ditetapkan sebagai mata kuliah wajib diikuti

2
oleh seluruh mahasiswa pada setiap jurusan yang ada di Perguruan Tinggi
Islam, baik negeri maupun swasta.

Buku hasil karya Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. ini mencoba
hadir untuk memecahkan masalah tersebut di atas dengan pendekatan
epistemologis dan intelektualitas. Di dalam resensi buku Akhlak Tasawuf
dan Karakter Mulia ini, penulis akan mencoba untuk memperinci kembali
isi dan sistematika buku ini menjadi lebih mudah dipahami dan dicerna
oleh pembaca. Agar dalam penerapannya lebih mudah untuk diterapkan
pada zaman yang modern ini.

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :

1. Memberikan gambaran kepada pembaca dan penilaian umum dari


buku Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia ini secara ringkas.
2. Mengetahui kelebihan dan kekurangan buku Akhlak Tasawuf dan
Karakter Mulia.
3. Menguji kualitas buku dan membandingkan terhadap karya atau buku
lainnya yang memiliki tema, judul atau pembahasan yang sama.

D. Sasaran Penulisan
Adapun sasaran kepenulisan resensi untuk pembaca atau
segmentasi dari kepenulisan buku yang berjudul “Akhlak Tasawuf dan
Karakter Mulia” ini adalah sebagai berikut :

1. Pembaca dapat mengetahui dan memahami konsep akhlak dengan


berbagai sentuhannya dengan etika, moral dan susila yang berkembang
di masyarakat.
2. Pembaca dapat mengetahui dan memahami arti tasawuf dengan
berbagai nuansanya, aliran-aliran yang berkembang di dalamnya,
termasuk sosok yang ideal (insan kamil) dan tarekat serta mengetahui
bagaimana perkembangan tasawuf yang ada di Indonesia.

3
3. Pembaca dapat mengetahui dan memahami pendidikan karakter dalam
wacana intelektual muslim untuk mencetak generasi yang unggul yang
dapat memberi arahan bagi orang-orang yang masih memiliki karakter
menyimpang.
4. Resensi ini tidak hanya dijadikan sebagai bahan pembelajaran saja
tetapi diharapkan kepada pembaca untuk menanam kepribadian yang
mulia dan mengamalkan akhlak tasawuf dan karakter mulia sesuai Al-
Qur’an dan Al-Hadis.

E. Relevansi Hubungan
Penulisan buku “Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia” ini cukup
sistematis dan mudah dipahami banyak kalangan baik oleh akademisi,
mahasiswa, pelajar maupun masyarakat secara umum jika kita melihat dari
narasi daftar isi yang terdapat dalam sub bab isi buku pada resensi ini,
maka kita akan mengakui keteraturan penulis dalam menyusunnya.
Dimulai dengan pembahasan akhlak yang membahas tentang pengertian,
ruang lingkup, sejarah perkembangan, manfaat, hubungan akhlak dengan
ilmu-ilmu lain hingga pembentukan akhlak. Selanjutnya bagian tasawuf
membahas tentang sal-usul dan manfaatnya, mahabah, ma’rifah, al-hulul,
insan kamil, dan lain sebagainya. Adapun pada bagian materi pendidikan
karakter uraiannya tertuju pada paradigma baru pendidikan karakter di
Indonesia dalam tinjauan psikologis, pendidikan karakter dalam wacana
intelektual Muslim dan khazanah dunia pendidikan Islam, serta revitalisasi
pendidikan karakter untuk mencetak generasi yang unggul. Semua materi
dijelaskan sesuai dengan Al-Quran, Al-Hadits dan juga di tinjau dari
berbagai sumber dan literatur.
Maka dari keberadaan masing-masing bab dalam buku ini terdapat
tiga materi yang perlu diperhatikan yaitu tentang akhlak, sebagai seorang
muslim dalam berakhlak harus sesuai tuntunan syariat, tentang tasawuf,
sebagai seorang muslim harus mengetahui tasawuf dengan berbagai
nuansa terutama bagaimana sosok manusia yang ideal (insan kamil)

4
menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits, tentang pendidikan karakter, sebagai
seorang muslim harus menumbuhkan karakter yang sesuai dengan Al-
Qur’an dan Al-Hadits. Selain nalar pikirnya, dalam kepenulisan buku ini
antara bab dengan bab yang terdapat dalam tiga materi sangat
berhubungan dan berkaitan erat, dibahas secara konferhensif baik dari segi
isi/cakupan bahasan per materi.

F. Tingkat Kemutakhiran
Buku ini menggunakan data yang akurat dan sistematis terlebih
lagi diambil dari sumber-sumber serta buku-buku yang berkaitan membuat
pembaca semakin yakin dalam membacanya. Isi buku ini juga masih
sangat sesuai dan relevan dengan kondisi umat pada zaman sekarang.
Dalam buku ini, materinya juga mudah dipahami oleh semua kalangan
termasuk pendidik, pelajar maupun masyarakat umum. Dari pemaparan
diatas, terlihat bahwa buku ini memilki tingkat kemutkhiran yang bagus.

G. Tata Letak Buku


Pada buku ini halaman miror margin sudah sesuai, sebelah kiri
untuk halaman genap dan sebelah kanan untuk halaman ganjil dan margin
yang di gunakan juga standar. Ukuran fontnya juga sesuai tidak aneh dan
umum sehingga mudah dibaca. Menggunakan font yang standar atau
umum. Karena yang di gunakan layout standar penulisan buku maka saya
kira layoutnya sudah memenuhi sebagaimana layout pada buku. Mungkin
hanya perlu di tambahkan kreativitas dari para editor.

H. Isi Buku
1. BAB I. PENGERTIAN, RUANG LINGKUP DAN MANFAAT
MEMPELAJARI ILMU AKHLAK
a. Pengantar
Pada bab ini berisi mengenai pengertian ilmu akhlak, ruang
lingkup pembahasan ilmu akhlak dan manfaat mempelajari ilmu
akhlak.

5
b. Isi
1) Pengertian Ilmu Akhlak
Ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan
manusia yang dapat dinilai baik dan buruk. Tetapi tidak semua
amal yang baik dan buruk itu dapat dikatakan perbuatan akhlak.
Perbuatan manusia yang di lakukan tidak atas dasar kemauannya
atau pilihannya seperti bernafas, berkedip, berbolak-baliknya hati
tidaklah disebut akhlak, karena perbuatan tersebut dilakukan tanpa
pilihan.1
2) Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak
Bahwa ruang lingkup pembahasan Ilmu Akhlak adalah
membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian
menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan
yang baik atau perbuatan yang buruk. Sedangkan objek Ilmu
Akhlak adalah membahas perbuatan manusia yang telah mendarah
daging dan kontinyu yang selanjutnya perbuatan tersebut
ditentukan baik atau buruk.2 Perbuatan yang bersifat alami, dan
perbuatan yang dilakukan tidak karena sengaja atau khilaf tidak
termasuk perbuatan akhlaki karena dilakukan tidak atas pilihan.3
3) Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak
Selain menentukan perbuatan baik dan buruk, Ilmu Akhlak
juga berguna dalam upaya membersihkan diri manusia dari
perbuatan dosa dan maksiat. Diketahui bahwa manusia memiliki
jasmani dan rohani. Jasmani dibersihkan secara lahiriyah dengan
fiqih, sedangkan rohani dibersihkan secara batiniyah dengan
akhlak. Selain itu Ilmu Akhlak juga berguna untuk mengarahkan

1
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.5.
2
Ibid., hlm.7.
3
Ibid., hlm.9.

6
dan mewarnai berbagai aktivitas kehidupan manusia di segala
bidang.4
2. BAB II. HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU LAINNYA
a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang hubungan ilmu akhlak dengan
ilmu tasawuf, hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tauhid, hubungan
ilmu akhlak dengan ilmu jiwa hubungan ilmu jiwa dengan ilmu
pendidikan dan hubungan ilmu akhlak dengan filsafat.
b. Isi
1) Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf
Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf sebagaimana
diuraikan oleh Harun Nasution, bahwa menurutnya ketika
mempelajari Tasawuf ternyata Al-Qur’an dan Al-Hadis
mementingkan akhlak. Al-Qur’an dan Al-Hadis menekankan nilai-
nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan,
keadilan, tolong menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar,
baik sangka, berkata benar, pemurah, peramah, bersih hati, berani,
kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencari ilmu dan berpikir
lurus.5
Ilmu Tasawuf itu sendiri dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Tasawuf Falsafi
2. Tasawuf Akhlaki
3. Tasawuf Amali6
2) Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid
Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid dapat dilihat
dari beberapa analisis sebagai berikut :

4
Ibid., hlm.12.
5
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.16.
6
Ibid., hlm.15.

7
1. Dari segi obyek pembahasan, bahwa Ilmu Tauhid
akan mengarahkan perbuatan manusia menjadi ikhlas, dan
keikhlasan ini merupakan salah satu akhlak yang mulia.7
2. Dari segi fungsinya, bahwa Ilmu Tauhid menghendaki
seseorang yang bertauhid tidak hanya cukup dengan
menghafal rukun iman yang enam dalilnya, tapi yang
terpenting adalah agar orang yang bertauhid itu meniru dan
mencontoh subjek yang terdapat dalam rukun iman itu.8
3. Dilihat dari eratnya kaitan antara iman dan amal soleh.
3) Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa
Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa bahwa melalui
bantuan informasi yang diberikan Ilmu Jiwa atau potensi kejiwaan
yang diberikan Al-Qur’an, maka secara teoritis Ilmu Akhlak dapat
dibangun dengan kokoh.9
4) Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Pendidikan
Bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencapai suatu
akhlak yang sempurna. Dengan demikian hubungan antara Ilmu
Akhlak dengan Ilmu Pendidikan adalah bahwa pendidikan islam
merupakan sarana yang mengantarkan anak didik agar menjadi
orang yang berakhlak.
5) Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Filsafat
Filsafat sebagaimana diketahui adalah suatu upaya berpikir
mendalam, radikal, sampai akar-akarnya, universal dan sistematik
dalam rangka menemukan inti atau hakikat mengenai segala
sesuatu. Selain itu filsafat juga membahas tentang Tuhan, alam dan
makhluk lainnya. Dengan demikian dapat diwujudkan akhlak yang
baik terhadap Tuhan, terhadap manusia, alam dan makhluk

7
Ibid., hlm.18.
8
Ibid., hlm.19.
9
Ibid., hlm.29.

8
lainnya. Dari pembahasan ini dapat diketahui tentang adanya
hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Filsafat.10
3. BAB III. INDUK AKHLAK ISLAMI
a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang perbuatan utama yang menjadi
induk dari akhlak islami, yaitu hikmah (bijaksana), syaja’ah
(perwira atau kesatria), dan iffah ( menjaga diri dari perbuatan dosa
dan maksiat).
b. Isi
Secara teoritis akhlak (baik dan buruk) berinduk kepada tiga
perbuatan yang utama, yaitu hikmah (bijaksana), syaja’ah (perwira
atau kesatria), dan iffah ( menjaga diri dari perbuatan dosa dan
maksiat). Ketiga macam induk akhlak ini muncul ari sikap adil
yaitu sikap pertengahan atau seimbang alam mempergunakan
ketiga potensi rohaniah yang terdapat dalam diri manusia, yaitu
‘aql (pemikiran) yang berpusat di kepala, ghadab (amarah) yang
berpusat di dada, dan nafsu syahwat (dorongan seksual) yang
berpusat di perut. Akal yang digunakan secara adil akan
menimbulkan hikmah, sedangkan amarah yang digunakan secara
adil akan menimbulkan perwira, sedangkan nafsu syahwat yang
digunakan secara adil akan menimbulkan iffah yaitu dapat
memelihara diri dari maksiat sehingga menimbulkan akhlak yang
mulia. Dengan demikian inti akhlak pada akhirnya bermuara pada
sikap adil dalam menggunakan potensi rohaniyah yang dimiliki
manusia. Seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an, QS. Al-Maidah 5:8
yang berarti :“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada
taqwa”.11

10
Ibid., hlm.33.
11
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.37.

9
4. BAB IV. SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
ILMU AKHLAK
a. Pengantar
Pada bab ini penulis membahas tentang bagaimana ilmu akhlak
di luar agama islam, akhlak pada agama islam dan akhlak pada
zaman baru.
b. Isi
Dalam sebuah buku karangan Ahmad Amin berjudul al-
Akhlak dibahas bahwa pertumbuhan dan perkembangan Ilmu
Akhlak dibagi menjadi dua bagian yaitu :

1) Ilmu Akhlak Di Luar Agama Islam

a. Akhlak pada bangsa Yunani

Pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Akhlak di


Yunani baru terjadi setelah muncul Sophisticians, yaitu
orang-orang yang bijaksana (500-450 SM) setelah
sebelumnya perhatian mereka hanya tertuju pada
penyelidikan mengenai alam. Sejarah mencatat bahwa
filsuf pertama dari Yunani yang mengemukakan
pendapatnya mengenai akhlak adalah Scorates (469-399
M). Ia dipandang sebagai perintis Ilmu Akhlak. Setelah
Scorates pun ada Cynics dan Cyrenics, Plato, Aristoteles,
Stoics dan Epicurus. Keseluruhan ajaran akhlak yang
mereka kemukakan bersifat rasionalistik. Penentuan baik
dan buruk didasarkan pada pendapat akal pikiran yang
sehat dari manusia. Ajaran akhlak merekan pun
bersifat anthropocentris.12

b. Akhlak pada agama Nasrani

12
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.50.

10
Akhir abad ketiga Masehi agama Nasrani tersiar di
Eropa dan membawa ajaran akhlak dari kitab Taurat dan
Injil. Menurut ajaran ini, Tuhan adalah sumber akhlak.
Tuhanlah yang menentukan dan membentuk patokan-
patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan
dalam kehidupan social kemasyarakatan. Ajaran akhlak
pada agama Nasrani bersifat teo-centri (memusat pada
tuhan) dan sufistik (bercorak batin). Menurut agama
Nasrani pendorong berbuat kebaikan ialah cinta dan iman
kepada Tuhan berdasarkan petunjuk kitab Taurat.13

c. Akhlak pada Bangsa Romawi ( Abad Pertengahan )

Kehidupan masyarakat di Eropa pada abad


pertengahan dikuasai oleh gereja. Ajaran akhlak yang lahir
di Eropa itu adalah ajaran Akhlak yang dibangun dan
merupakan perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran
Nasrani.14

d. Akhlak pada Bangsa Arab

Bangsa Arab pada zaman jahiliyah tidak punya ahli


filsafat yang mengajak kepada aliran atau paham tertentu.
Pada masa itu mereka hanya memiliki ahli hikmah dan
syair. Dalam kata-kata hikmah dan syairnya akan dijumpai
ajaran yang mendorong dan memerintahkan untuk berbuat
baik dan menjauhi keburukan.

2) Akhlak pada Agama Islam

Ajaran akhlak pada agama Islam bentuknya sempurna


yang titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Agama

13
Ibid., hlm.50.
14
Ibid., hlm.56.

11
Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada
Tuhan dan mengakui bahwa Dia-lah Pencipta, Pemilik,
Pemelihara, Pelindung, Pemberi Rahmat, Pengasih dan
Penyayang terhadap segala makhluk-Nya. Akhlak dalam Islam
memiliki dua corak, corak yang pertama adalah normatif yang
bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah yang bersifat mutlak
dan absolut. Kedua adalah yang bercorak rasional dan kultural
yang didasarkan kepada hasil pemikiran yang sehat serta adat-
istiadat dan kebudayaan yang berkembang. Akhlak yang kedua
ini bersifat relative, nisbi dan dapat berubah sesuai dengan
perkembangan zaman.15

3) Akhlak pada Zaman Baru

Pada akhir abad ke lima belas Masehi Eropa mulai


mengalami kebangkitan dibidang filsafat, ilmu pengetahuan
dan teknologi. Sumber akhlak yang semulanya al-Kitab dan
dogma kristiani dan khayalan mereka ganti dengan ajaran
akhlak yang bersumber pada logika dan pengalaman empirik.
Pandangan akhlak yang dikemukakan para sarjana Barat
sepenuhnya didasarkan pada pemikiran manusia semata-
mata.16
5. BAB V ETIKA, MORAL, DAN SUSILA
a. Pengantar
Pada bab ini penulis memberikan penjelasan tentang etika,
moral, susila serta bagaimana hubungan dari etika, moral, susila
dengan akhlak.
b. Isi
1) Etika

15
Ibid., hlm.57.
16
Ibid., hlm.74.

12
Dari segi etimologi, etika berasal dari bahasa Yunani, ethos
yang berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam Kamus Umum
Bahasa Indonesia etika diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang
asas-asas akhlak (moral). Dari segi istilah etika adalah ilmu yang
mempelajari tentang upaya menentukan perbuatan yang dilakukan
manusia untuk dikatakan baik atau buruk.17
2) Moral
Dari segi bahasa, moral berasal dari bahasa latin mores
yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam
Kamus Bahasa Indonesia, moral adalah penentuan baik buruk
terhadap perbuatan atau kelakuan. Secara istilah moral adalah
suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari
sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara
layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.18
Jika kita hubungkan, antara etika dan moral memiliki objek
yang sama yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia
untuk selanjutnya ditentukan posisi apakah baik atau buruk.19
3) Susila
Kata susila berasal dari bahasa Sanskerta su dan sila. Su
berarti baik, bagus sedang sila berarti dasar, prinsip, peraturan
hidup dan norma. Kata susila dapat diartikan juga sopan, beradab,
baik budi dan bahasanya. Orang yang baik disebut susila sedang
yang berperilaku buruk disebut asusila.20
4) Hubungan Etika, Moral dan Susila dengan Akhlak
Dilihat dari fungsi dan peranannya, bahwa antara etika,
moral, susila dan akhlak sama, yaitu menentukan hukum atau nilai

17
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.75.
18
Ibid., hlm.77.
19
Ibid., hlm.74.
20
Ibid., hlm.80.

13
dari suatu perbuatan yang dilakukan manusia untuk menentukan
baik buruknya.
Perbedaan antara etika, moral, susila dan akhlak adalah
terletak pada sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan
baik dan buruk. Jika dalam etika penilaian baik buruk berdasarkan
akhlak, dan pada moral dan susila berdasarkan kebiasaan yang
berlaku umum dalam masyarakat, maka dalam akhlak tolak
ukurnya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis.21
6. BAB VI. BAIK DAN BURUK
a. Pengantar
Pada bab ini penulis membahas tentang pengertian baik dan
buruk, bagaimana aliran-aliran filsafat yang berpengaruh dalam
penentuan baik dan buruk, sifat dari baik dan buruk, dan baik dan
buruk menurut ajaran Islam.
b. Isi
1) Pengertian Baik dan Buruk
Louis Ma’luf dalam kitabnya Munjid, mengatakan bahwa
baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan. Adapula
yang menyebutkan bahwa baik adalah sesuatu yang diinginkan
yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia.
Buruk dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah syarr dan
diartikan sebagai sesuatu yang tidak baik, tidak seperti yang
seharusnya, tak sempurna dalam kualitas dll. Beberapa definisi
tersebut memberi kesan bahwa sesuatu yang disebut baik atau
buruk itu relative sekali, karena bergantung pada pandangan dan
penilaian masing-masing yang merumuskannya.22
2) Penentuan Baik dan Buruk

21
Ibid., hlm.81.

22
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.87.

14
a. Menurut Adat Istiadat, bahwa orang yang berpegang teguh
pada adat istiadat dipandang baik, sedang orang yang menentang
dan tidak mengikuti adat istiadat dipandang buruk dan kalau perlu
dihukum secara adat.

b. Menurut Aliran Hedonisme, aliran Hedonisme adalah aliran


yang berakar pada pemikiran filsafat Yunani,khususnya pemikiran
filsafat epicurus. Aliran ini berpendapat bahwa baik adalah
perbuatan yang mendatangkan kelezatan atau kepuasan nafsu
biologis.

c. Menurut Aliran Intuisisme, paham ini berpendapat bahwa


baik adalah perbuatan yang sesuai dengan penilaian yang diberikan
oleh hati nurani atau kekuatan batin yang ada pada dirinya.

d. Menurut Paham Utilitarianisme, bahwa yang baik adalah


yang berguna.

e. Menurut Paham Vitalisme, bahwa yang baik adalah yang


mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia.

f. Menurut Paham Religionisme, bahwa yang dianggap baik


adalah perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan
perbuatan buruk adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan
kehendak Tuhan.

g. Menurut Paham Evolusi (Evolution), bahwa segala sesuatu


yang ada di alam ini mengalami evolusi, yaitu berkembang dari apa
adanya menuju kepada kesempurnaan.

3) Sifat dari Baik dan Buruk

Sifat dari baik atau buruk adalah berubah, relative nisbi dan
tidak universal. Namun demikian sifat baik dan buruk itu akan
tetap berguna sesuai dengan zamannya dan dapat dimanfaatkan

15
untuk menjabarkan ketentuan baik buruk pada ajaran akhlak yang
bersumber pada ajaran Islam.23

4) Baik dan Buruk menurut Ajaran Islam

Menurut ajaran Islam baik dan buruk harus didasarkan pada


petunjuk Al-Qur’an dan Al-Hadis. Penentuan baik atau buruk tidak
hanya didasarkan atas amal perbuatan yang nyata tapi dari niatnya.
Sifat baik dan buruk ajaran islam mengandung nilai universal dan
mutlak yang tidak dapat dirubah tapi dapat menampung nilai yang
bersifat lokal dan dapat berubah sebagaimana yang diberikan oleh
etika dan moral.

7. BAB VII. KEBEBASAN, TANGGUNG JAWAB, DAN HATI


NURANI
a. Pengantar
Pada bab ini penulis membahas tentang pengertian dari
kebebasan, tanggung jawab dalam kerangka akhlak, hati nurani, dan
bagaimana hubungan dari kebebasan, tanggung jawab, dan hati
nurani dengan akhlak.
b. Isi
1) Pengertian Kebebasan
Kebebasan adalah kehendak merdeka dalam memilih
perbuatan antara berbuat dan tidak. Kebebasan terbagi menjadi
tiga, yaitu kebebasan jasmani, kebebasan kehendak (rohani), dan
kebebasan moral.24
2) Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah konsekwensi logis yang harus
dijalani atau dihadapi karena adanya kebebasan atau tindakan yang

23
Ibid., hlm.100
24
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.109.

16
diambil. Seseorang dikatakan tanggung jawab jika ia bisa
mengatakan dengan jujur pada kata hatinya, bahwa tindakannya itu
sesuai dengan penerangan atau tuntunan kata hati itu, setidaknya
menurut kehendaknya.25
3) Hati Nurani
Bahwa hati nurani adalah tempat dimana manusia
memperoleh saluran ilham dari Tuhan. Hati nurani cenderung pada
kebaikan.
4) Hubungan Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani dengan
Akhlak
Hubungan antara kebebasan, tanggung jawab dan hati
nurani dengan akhlak adalah bahwa perbuatan akhlak dilakukan
atas dasar kemauan sendiri,hal ini terjadi apabila terdapat
kebebasan dalam kehendak. Selanjutnya perbuatan tersebut
menghasilkan perbuatan yang dapat dipertanggungjawabkan oleh
hati nurani, sehingga perbuatan tersebut menggambarkan bahwa
akhlak harus dilakukan atas dasar keikhlasan dan sesuai dengan
hati nurani.26
8. BAB VIII. HAK, KEWAJIBAN, DAN KEADILAN
a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang pengertian dan macam-
macam hak, macam-macam hak dan sumber hak, kewajiban,
keadilan, dan hubungan dari hak, kewajiban, dan keadilan dengan
akhlak.
b. Isi
1) Hak

a. Pengertian dan Macam-macam Hak

25
Ibid., hlm.113.
26
Ibid., hlm.114.

17
Hak adalah tuntutan atau klaim yang sah dan dapat
dibenarkan secara hukum, wewenang untuk memilih,
menggunakan, mengerjakan dan meninggalkan. Macam-macam
hak yaitu hak hidup, mendapatkan perlakuan hukum,
mengembangkan keturunan, milik, mendapatkan nama baik,
kebebasan berpikir, dan mendapatkan kebenaran.27
2) Kewajiban
Bahwa kewajiban adalah tindakan yang harus dilakukan
agar seseorang mendapatkan haknya. Dalam ajaran Islam,
kewajiban ditempatkan sebagai salah satu hukum syara’, yaitu
suatu perbuatan yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala
dan apabila ditinggalkan akan mendapatkan siksa.
3) Keadilan
Bahwa keadilan adalah pengakuan dan perlakuan terhadap
hak (yang sah). Sedang dalam Islam, keadilan adalah istilah yang
digunakan untuk menunjukkan pada persamaan atau bersikap
tengah-tengah atas dua perkara.28
4) Hubungan Hak, Kewajiban dan Keadilan dengan Akhlak
Bahwa akhlak harus dilakukan seseorang sebagai haknya,
kemudian menjadi bagian dari kepribadian seseorang yang
dengannya menimbulkan kewajiban untuk melakukannya tanpa
merasa berat, dan keadilan adalah sebagai penengah. Dengan
terlaksananya hak, kewajiban dan keadilan, maka dengan
sendirinya akan mendukung terciptanya perbuatan akhlaki.29
9. BAB IX. AKHLAK ISLAMI
a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang pengertian akhlak islami dan
ruang lingkup akhlak islami yang terbagi menjadi tiga, yaitu akhlak

27
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.117-120.
28
Ibid., hlm.122.
29
Ibid., hlm.123.

18
terhadap Allah SWT, akhlak terhadap sesama manusia, dan akhlak
terhadap lingkungan.
b. Isi
1) Pengertian Akhlak Islami
Akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan
mudah, disengaja, mendarah daging dan sebenarnya
yang didasarkan pada ajaran agama Islam. Misal, menghormati
orang tua dengan sungkem sambil menggelosor ke lantai. Akan
tetapi akhlak islami tidak dapat disamakan dengan etika dan moral.
Akhlak Islami dapat diartikan sebagai akhlak yang menggunakan
tolok ukur ketentuan Allah.30

2) Ruang Lingkup Akhlak Islami

Ruang lingkup akhlak islami adalah sama dengan ruang


lingkup ajaran Islam itu sendiri. Ruang lingkup itu antara lain
adalah Akhlak terhadap Allah, Akhlak terhadap sesama manusia,
dan Akhlak terhadap Lingkungan. Ruang lingkup itu menunjukkan
bahwa Akhlak Islami sangat komprehensif, menyeluruh dan
mencakup berbagai makhluk yang diciptakan Tuhan.31
10. BAB X. PEMBENTUKAN AKHLAK
a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang arti pembentukan akhlak,
metode pembinaan akhlak, faktor-faktor yang memengaruhi
pembentukan akhlak, dan manfaat akhlak yang mulia.
b. Isi
1) Arti Pembentukan Akhak

Menurut sebagian ahli bahwa akhlak tidak perlu dibentuk,


karena akhlak adalah insting (garizah) yang dibawa manusia sejak

30
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.125.
31
Ibid., hlm.126-131.

19
lahir. Bahwa masalah akhlak adalah pembawaan dari manusia itu
sendiri, yaitu kecenderungan kepada kebaikan atau fitrah yang ada
dalam diri manusia.

Ada pula yang berpendapat bahwa akhlak perlu dibentuk


dan dibina karena akhlak merupakan hasil usaha dalam mendidik
dan melatih dengan sungguh-sungguh terhadap berbagai potensi
rohaniah yang terdapat dalam diri manusia.32

2) Metode Pembinaan Akhlak

Beberapa metode pembentukan akhlak antara lain adalah Pendidikan


dan Pembinaan, Pembiasaan sejak kecil, Melalui keteladanan, dan
Senantiasa menganggap diri ini sebagai yang amat banyak kekurangan
daripada kelebihan.33

3) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak

a. Menurut Aliran Nativisme, bahwa faktor yang paling


berpengaruh terhadap pembentukan diri adalah faktor pembawaan dari
dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan, bakat, akal, dan
lain-lain.

b. Menurut Aliran Empirisme, bahwa faktor yang paling


berpengaruh terhadap pembentukan diri adalah faktor dari luar, yaitu
lingkungan sosial.

c. Menurut Aliran Konvergensi, mereka berpendapat pembentukan


akhlak dipengaruhi oleh faktor internal yaitu pembawaan si anak, dan
faktor eksternal yaitu pendidikan dan pembinaan.34

32
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.133-135.
33
Ibid., hlm.136.
34
Ibid., hlm.143.

20
4) Manfaat Akhlak yang Mulia, manfaat akhlak yang mulia diantaranya
adalah memperkuat dan menyempurnakan agama, mempermudah
perhitungan di akhirat, menghilangkan kesulitan, dan selamat hidup di
dunia dan akhirat.35

11. BAB XI. ARTI, ASAL-USUL, DAN MANFAAT TASAWUF


DALAM ISLAM
a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang pengertian tasawuf dan
sumber tasawuf yang terdiri dari unsur islam dan unsur luar islam,
yaitu unsur Masehi (Agama Nasrani), unsur Yunani, unsur
Hindu/Budha dan unsur Persia.
b. Isi
1) Pengertian Tasawuf
Tasawuf adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan
yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia
sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah SWT.
Dengan kata lain tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan
pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dengan Tuhan.36
2) Sumber Tasawuf
Dikalangan orientalis Barat, sumber yang membentuk
tasawuf ada lima yaitu unsur Islam, Masehi (Agama Nasrani), unsur
Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia.
1. Unsur Islam : munculnya tasawuf dikalangan ummat Islam
bersumber pada dorongan ajaran Islam dan factor situasi sosial dan
sejarah kehidupan masyarakat pada umumnya.

35
Ibid., hlm.147-151.

36
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.154.

21
2. Unsur Luar Islam : para orientalis Barat berpendapat adanya
pengaruh Nasrani, Yunani, Hindu Budha adalah karena agama-
agama tersebut telah ada sebelum Islam.
3. Unsur Masehi : unsur-unsur yang diduga mempengaruhi tasawuf
Islam adalah sikap fakir. Menurut keyakinan Nasrani bahwa Isa bin
Maryam adalah seorang yang fakir dan injil juga disampaikan
kepada orang yang fakir. Selanjutnya sikap tawakal kepada Allah
oleh seorang syaikh pun terlihat seperti pendeta, bedanya pendeta
dapat menghapuskan dosa.
4. Unsur Yunani : kebudayaan Yunani yaitu filsafat telah masuk
pada masa Daulah Abbasiyah, metode berpikir filsafat Yunani juga
telah ikut mempengaruhi pola berpikir sebagian umat Islam yang
ingin berhubungan dengan Tuhan,
5. Unsur Hindu/Budha : terlihat berhubungan karena adanya sifat
fakir, darwisy. Al-Birawi mencatat bahwa ada kesamaan antara cara
ibadah dengan mujahadah tasawuf dengan Hindu. Dan ada
sepertinya ada persamaan antara Sidharta Gautama dengan Ibrahim
bin Adham tokoh sufi.
6. Unsur Persia : sebenarnya Arab dan Persia punya hubungan sejak
lama yakni hubungan politik, pemikiran dan sastra. Kehidupan
kerohanian Arab masuk ke Persia terjadi melalui ahli-ahli tasawuf
didunia ini. Tasawuf sendiri berlandaskan ajaran Islam, tapi tidak
dapat dipungkiri saat tasawuf berkembang menjadi pemikiran, dia
mendapat pengaruh dari filsafat Yunani, Hindu, Persia dan lain
sebagainya dan hal ini tidak hanya terjadi pada bidang tasawuf saja
tapi juga pada bidang yang lainnya.37
12. BAB XII. MAQAMAT DAN HAL
a. Pengantar

37
Ibid., hlm.156-165.

22
Pada bab ini membahas tentang istilah maqamat yang terdiri
dari al-zuhud, al-taubah, al-wara’, kefakiran, sabar, tawakal dan
kerelaan, kemudian hal yang bisa diartikan juga sebagai keadaan
mental.
b. Isi
1) Maqamat

Maqamat berasal dari bahasa arab yang berarti tempat


orang berdiri atau pangkal mulia.38 Secara istilah diartikan
sebagai jalan panjang yang harus ditempuh untuk berada dekat
Allah. Ulama sepakat bahwa maqamat ada tujuh tingkatan, yaitu
:

1. Al-Zuhud, yaitu meninggalkan gemerlap dunia dan


kematerian.

2. Al-Taubah, yaitu memohon ampun atas segala dosa dan


kesalahan disertai janji yang sungguh-sungguh tidak akan
mengulangi perbuatan dosa tersebut, yang disertai melakukan
kebajikan.

3. Al-Wara’, yaitu meninggalkan sesuatu yang didalamnya


terdapat keraguan antara halal dan haram (syubhat).

4. Al-Farq (kefakiran), yaitu tidak meminta Dari apa yang telah


diberikan kepada kita, tidak meminta rezeki kecuali hanya
untuk mejalanka kewajiban-kewajiban.

5. Al-Shabru (sabar), yaitu tetap tabah dalam menghadapi


cobaan dengan sikap yang baik. Sabar dalam menjalankan
perintah-perintah Allah, dalam mejauhi larangan-Nya a dalam

38
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.167.

23
menerima segala cobaan yang dititipkan –Nya pada diri kita /
sabar dalam menunggu pertolongan Tuhan.

6. Al-Tawakal, yaitu menyerahkan diri kepada qada dan


keputusan Allah, jika mendapat pendapat rezeki hendaknya
berterima kasih, jika mendapat suatu masalah hendaknya
bersabar dan menyerahkan semuanya kepada qada dan qadar
Allah.

7. Al-Ridha (kerelaan), yaitu tidak berusaha dan tidak


menentang qada qadar.39

2) Hal

Yang biasa disebut sebagai hal adalah takut (al-Khauf),


rendah hati (al-Tawadlu), patuh (al-Taqwa), ikhlas (al-Ikhlas),
rasa berteman (al-Uns), gembira hati (al-Wajd), berterima kasih
(al-Syukur).40

13. BAB XIII. MAHABBAH


a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang pengertian, tujuan dan
kedudukan mahabbah, alat untuk mencapai mahabbah, tokoh yang
mengembangkan mahabbah, dan mahabbah dalam Al-Qur’an dan
Al-Hadis.
b. Isi
1) Pengertian, Tujuan dan Kedudukan Mahabbah

Pengertian mahabbah dari segi tasawuf adalah merupakan hal


(keadaan) jiwa yang mulia yang berbentuk adalah disaksikannya
(kemutlakan) Allah SWT, oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya

39
Ibid., hlm.168-176
40
Ibid., hlm.177.

24
itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihi-Nya dan yang
seorang hamba mencintai Allah SWT.

Menurut Harun Nasution, mahabbah (kecintaan terhadap Allah)


adalah :

1. Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap


melawan kepada-Nya.

2. Menyerahkan seluruh diri pada yang dikasihi

3. Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari yang


dikasihi yaitu Tuhan.

Mahabbah ada tiga tingkatan, yaitu :

1. Mahabbah orang biasa : selalu mengingat Allah dengan


dzikir dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Allah.

2. Mahabbah orang shidiq : cinta orang yang kenal pada Allah,


pada kebesarannaya, kuasanya, ilmunya dan lain-lain.

3. Mahabbah orang yang arif : cinta orang yang tahu betul


tentang Allah.41

2) Alat untuk Mencapai Mahabbah

Menurut Harun Nasution, dalam bukunya Falsafah dan Mistis


dalam Islam, mengatakan bahwa dalam diri manusia ada tiga alat yang
dapat dipergunakan untuk berhubungan dengan Tuhan yaitu :

1. Al-Qalb (hati sanubari), sebagai alat untuk mengetahui


sifat-sifat Tuhan.

2. Ar-Ruh (roh), sebagai alat untuk mencintai Tuhan.

41
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.179-183.

25
3. Sir, sebagai alat untuk melihat Tuhan.42

3) Tokoh yang Mengembangkan Mahabbah

Robi’ah al-Adawiyah adalah tokoh yang pertama kali


mengenalkan ajaran mahabbah. Ia adalah seorang zahid perempuan
yang amat besar dari Bashrah. Ia adalah seorang hamba yang
kemudian dibebaskan. Ia tidak pernah menikah karena cinta
Robi’ah hanya untuk Tuhan-Nya.43

4) Mahabbah dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis

Firman Allah yang berbunyi : “jika kamu cinta kepada


Allah, maka turutlah aku dan Allah akan mencintai kamu.” (QS.
Ali ‘Imron 3:30). Ayat tersebut memberikan petunjuk bahwa
antara manusia dan Tuhan dapat saling mencintai, karena alat
untuk mencintai Tuhan yaitu roh adalah berasal dari roh Tuhan.44

14. BAB XIV. MA’RIFAH


a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang pengertian, tujuan, dan
kedudukan ma’rifah, alat untuk ma’rifah, tokoh yang
mengembangkan ma’rifah, dan ma’rifah dalam pandangan Al-
Qur’an dan Al-Hadis.
b. Isi
1) Pengertian, Tujuan dan Kedudukan Ma’rifah
Ma’rifah adalah mengertahui rahasia-rahasia Tuhan dengan
menggunakan hati sanubari. Dengan demikian tujuan yang ingin
dicapai oleh ma’rifah ini adalah mengetahui rahasia-rahasia yang
terdapat dalam diri Tuhan. Kedudukan ma’rifah adalah sesudah

42
Ibid., hlm.183.
43
Ibid., hlm.185.
44
Ibid., hlm.187.

26
mahabbah sebagaimana dikemukakan al-Kalabazi. Hal ini karena
ma’rifah lebih mengacu kepada pengetahuan, sedangkan mahabbah
menggambarkan kecintaan.
2) Alat Untuk Ma’rifah
Alat yang digunakan untuk ma’rifah telah ada dalam diri
manusia yaitu qalb (hati), qalb selain dari alat untuk merasa adalah
juga alat untuk berpikir.45
3) Tokoh yang Mengembangkan Ma’rifah
Dalam literatur tasawuf ada dua tokoh yang mengenalkan
ma’rifah yakni Al-Ghazali dan Zun al-Nun al-Misri. Sufi yang telah
mencapai ma’rifah akan memiliki perasaan spiritual dan kejiwaan
yang tidak dimiliki orang lain.
4) Ma’rifah dalam Pandangan Al-Qur’an dan Al-Hadis
Ma’rifah berhubungan dengan nur (cahaya Tuhan). Didalam
Al-Qur’an, dijumpai tidak kurang dari 43 kali kata nur diulang dan
sebagian besar dihubungkan dengan Tuhan. Cahaya tersebut ternyata
diberikan Tuhan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Ajaran
ma’rifah amat dimungkinkan terjadi dalam Islam, dan tidak
bertentangan dengan Al-Qur’an.46
15. BAB XV. AL-FANA, AL-BAQA, DAN ITTIHAD
a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang pengertian, tujuan dan
kedudukan al-Fana, al-Baqa, dan Al-Ittihad, tokoh yang
mengembangkan fana, dan Fana, Baqa dan Ittihad dalam pandangan
Al-Qur’an.
b. Isi
1) Pengertian, Tujuan dan Kedudukan al-Fana, al-Baqa dan Ittihad

45
Ibid., hlm.189-191.
46
Ibid., hlm.194-198.

27
Dari segi Bahasa al-fana berarti hilangnya wujud sesuatu.
Fana berbeda dengan al-fasad (rusak). Fana artinya tidak tampaknya
sesuatu. Arti fana menurut para sufi adalah hilangnya kesadaran
pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim
digunakan pada diri. Akibat dari fana adalah Baqa. Secara harfiah
baqa berarti kekal, sedangkan menurut para sufi, baqa adalah
kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia.
Fana dan Baqa erat hubungannya dengan al-Ittihad, yakni
penyatuan batin atau rohaniah dengan Tuhan, karena tujuan dari fana
dan baqa itu sendiri adalah ittihad. Dalam situasi ini seorang sufi
telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, satu tingkatan di mana
yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah
satu dari mereka dapat memanggil yang satu dengan kata-kata : “Hai
Aku”.47
2) Tokoh yang Mengembangkan Fana
Dalam sejarah Tasawuf, Abu Yarid al-Bustami (w. 874 M)
disebut-sebut sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan
paham fana dan baqa. Ucapan yang keluar dari mulut Abu Yazid
bukanlah kata-katanya sendiri tetapi kata-kata itu diucapkannya
melalui diri Tuhan dalam ittihad yang dicapainya dengan Tuhan.
3) Fana, Baqa dan Ittihad dalam Pandangan Al-Qur’an
Paham fana dan baqa yang di tujukan untuk mencapai ittihad
itu dipandang oleh sufi sebagai sejalan dengan konsep liqa al-
rabbi menemui Tuhan. Fana dan baqa merupakan jalan menuju
berjumpa dengan Tuhan. Hal ini sejalan dengan firman Allah pada
QS. Al-Kahfi, 18:110.48
16. BAB XVI. AL HULUL
a. Pengantar

47
Ibid., hlm.199.
48
Ibid., hlm.202-205.

28
Pada bab ini membahas tentang pengertian, tujuan dan
kedudukan Hulul lalu menjelaskan tokoh-tokoh yang
mengembangkan paham al-Hulul.
b. Isi
1) Pengertian, Tujuan dan Kedudukan al-Hulul

Secara harfiah hulul berarti Tuhan mengambil tempat dalam


tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan
sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana. Al-Hallaj mengatakan
bahwa hulul sebagai suatu tahap dimana manusia dan Tuhan bersatu
secara rohaniah.

Tujuan dari al-Hulul adalah mencapai kesatuan secara batin.


Untuk itu Hamka mengatakan bahwa al Hulul adalah ketuhanan
(lahut) menjelma dalam diri insan (nasut), dan ini terjadi saat
kebatinan seorang insan telah suci bersih dalam menempuh
perjalanan hidup kebatinan.49

2) Tokoh yang Mengembangkan Paham al-Hulul

Tokoh yang megenalkan al Hulul adalah al Hallaj atau


Husein bin Mansur Al Hallaj. Ia lahir tahun 244 H di Baidha. Dalam
perjalanan hidupnya, ia sering keluar masuk penjara akibat konflik
dengan ulama fikih yang mereka menganggap al Hallaj membawa
ajaran yang menyimpang. Dan akhirnya pda tanggal 18 Zulkaidah al
Hallaj dijatuhi hukuman mati. Alasan mengapa al Hallaj bisa di
jatuhi hukuman mati masih jadi perdebatan di antara para ulama, ada
yang berpendapat bahwa ajaran tasawuf yang ia bawa menyimpang
ada juga yang berpendapat bahwa al Hallaj terlibat dalam sebuah
organisasi ilegal di Makkah. Al Hallaj di bunuh dengan disalib
dengan terlebih dahulu dipukuli, dicambuk,lalu disalib dan kemudian

49
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.207-208.

29
tangan dan kakinya dipotong dan diganting di depan pintu gerbang
kota Baghdad sebagai peringatan bagi ulama lainnya yang berbeda
pendapat.50

17. BAB XVII. WAHDAT AL-WUJUD


a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang pengertian dan tujuan wahdat
al-wujud lalu menjelaskan tokoh-tokoh yang membawa paham
wahdatul wujud.
b. Isi
1) Pengertian dan Tujuan Wahdat al Wujud

Wahdat al Wudud berasal dari dua kata yaitu Wahdat yang


berarti sendiri, tunggal atau kesatuan, dan al Wujud yang berarti ada.
Jadi Wahdat al Wujud berarti kesatuan wujud. Bagi kalangan sufi,
Wahdat al Wujud diartikan bahwa antara manusia dan Tuhan pada
hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. Tuhan (khaliq) sebagai
objek utama sedangkan manusia (makhluk) hanya sekedar bayangan
dari al khaliq.51

2) Tokoh yang Membawa Paham Wahdat al Wudud

Paham Wahdat al Wujud dibawa oleh Muhyiddin Ibn Arabi.


Selain dikenal sebagai seorang sufi, Muhyiddin dikenal sebagai
penulis yang produktif yang karyanya mencapai 200 lebih.
Karangannya yang terkenal adalah Fusus al Hikam.52

18. BAB XVIII. INSAN KAMIL


a. Pengantar

50
Ibid., hlm.209.
51
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.215.
52
Ibid., hlm.220.

30
Pada bab ini membahas tentang bagaimana pengertian dari
Insan Kamil dan ciri-ciri Insan Kamil.
b. Isi
1) Pengertian Insan Kamil

Insan Kamil berasal dari dua kata yaitu insan yang berarti
manusia, dan kamil yang berarti yang sempurna. Jadi Insan Kamil
adalah manusia yang sempurna. Insan menunjukkan kepada makhluk
yang dapat melakukan berbagai kegiatan karena memiliki potensi
baik yang bersifat fisik, moral, mental maupun intelektual. Manusia
yang dapat melakukan perbuatan-perbuatan itulah yang disebut
insan kamil. Insan Kamil juga berarti manusia yang sehat dan terbina
potensi rohaniyahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal dan
dapat berhubungan dengan Allah dan dengan makhluk lainnya
secara benar menurut akhlak islami.53

2) Ciri-ciri Insan Kamil

Ada beberapa ciri-ciri insan kamil, di antaranya adalah


berfungsi akalnya secara optimal, berfungsi intuisinya, mampu
menciptakan budaya menghiasi diri dengan sifat-sifat ketuhanan,
berakhlak mulia, dan berjiwa seimbang54

19. BAB XIX. TAREKAT


a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang pengertian dan tujuan dari
tarekat, tarekat apa saja yang berkembang di Indonesia dan tata cara
pelaksanaan tarekat.
b. Isi
1) Pengertian dan Tujuan Tarikat

53
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.223.
54
Ibid., hlm.228-231.

31
Tarikat berasal dari bahasa arab thariqat yang berarti jalan,
keadaan, aliran dalam garis sesuatu. Tarikat di kalangan sufiyah
diartikan sebagai sistem dalam rangka mengadakan latihan jiwa,
membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan mengisinya
dengan sifat-sifat yang terpuji dan memperbanyak dzikir dengan
penuh ikhlas semata-mata untuk mengharap bertemu dan bersatu
secara rohaniyah dengan Allah.

Tarikat mempunyai hubungan substansional dan fungsional


dengan tasawuf. Tasawuf adalah upaya mendekatkan diri kepada
Allah sedangkan tarikat adalah cara dan jalan yang ditempuh
manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.55

2) Tarikat yang Berkembang di Indonesia

Ada tujuh aliran tarikat yang berkembang di Indonesia,


yaitu : Tarikat Qadariyah, Tarikat Rifaiyah, Tarikat
Naqsabandiyah, Tarikat Sammaniyah, Tarikat Khalwatiyah,
Tarikat al Hadad, dan Tarikat Khalidiyah.56

3) Tata Cara pelaksanaan tarikat antara lain adalah zikir, raib, muzik,
menari dan bernafas.57

20. BAB XX. PROBLEMATIKA MASYARAKAT MODERN DAN


PERLUNYA AKHLAK TASAWUF
a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang pengertian dari masyarakat
modern, problematika yang ada pada masyarakat modern, dan
perlunya pengembangan akhlak tasawuf.
b. Isi

55
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.233-235.
56
Ibid., hlm.236.
57
Ibid., hlm.239.

32
1) Pengertian Masyarakat Modern

Masyarakat modern berasal dari dua kata, yaitu masyarakat


yang berarti pergaulan hidup manusia (himpunan orang yang hidup
bersama di suatu tempat dengan ikatan aturan tertentu), dan modern
yang berarti terbaru, yang baru dan mutakhir. Jadi masyarakat
modern adalah himpunan orang yang hidup di suatu tempat dengan
ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir.

Ciri-ciri masyarakat modern antara lain adalah bersifat


rasional, berpikir untuk masa depan yang lebih jauh, menghargai
waktu, bersikap terbuka, dan berpikir obyektif.

Jalaluddin Rahmat membagi masyarakat menjadi tiga bagian :

1. Masyarakat Pertanian, sering disebut masyarakat


tradisional karena mereka belum mengenal teknologi.

2. Masyarakat Industri, mereka sudah mengenal dan


menggunakan peralatan-peralatan modern.

3. Masyarakat Informasi58

2) Problematika Masyarakat Modern

1. Disintegrasi Ilmu Pengetahuan

2. Kepribadian yang terpecah (Split Personality)

3. Penyalahgunaan Iptek

4. Pendangkalan Iman

5. Pola Hubungan Materialistik

6. Menghalalkan Segala Cara

58
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.241-243.

33
7. Stres dan Frustasi

8. Kehilangan Harga Diri dan Masa Depan.59

3) Perlunya Pengembangan Akhlak Tasawuf

Melalui tasawuf, seseorang disadarkan bahwa sumber


segala yang ada ini berasal dari Tuhan, bahwa dalam paham
Wahdat al Wujud, alam dan manusia yang menjadi objek ilmu
pengetahuan ini sebenarnya adalah bayang-bayang atau foto copy
Tuhan.60

21. BAB XXI. PARADIGMA BARU PENDIDIKAN KARAKTER DI


INDONESIA DALAM TINJAUAN PSIKOLOGIS
a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang pengantar yang terdiri dari
pengantar dan penutup yang membahas bagaimana paradigma baru
pendidikan karakter di Indonesia dalam pandangan psikologis, dan
penutup.
b. Isi
Paradigma baru pendidikan karakter di Indonesia yang berbasis
psikologi :
a. Perlunya memuaskan metode dan pendekatan pendidikan
karakter yang berbasis pada peserta didik dalam suasana yang
demokratis, adil, egaliter, manusiawi, dan menyenangkan.
b. Perlunya meningkatkan para pendidik dengan ajaran Islam
yang memandang bahwa manusia adalah makhluk yang di samping
memiliki sifat yang buruk juga memiliki sifat yang baik.
c. Secara psikologis manusia adalah makhluk yang di dalam
dirinya terdapat berbagai kecenderungan psikologis atau menyukai
sesuatu.

59
Ibid., hlm.247-253.
60
Ibid., hlm.254.

34
d. Perlunya menyajikan pendidikan karakter yang sesuai dengan
karakter masyarakat yang hidup dalam budaya kota. 61
22. BAB XXII. PENDIDIKAN KARAKTER DALAM WACANA
INTELEKTUAL MUSLIM DAN KHAZANAH DUNIA
PENDIDIKAN ISLAM
a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang dasar pemikiran,
pembahasan dan penutup.
b. Isi
1) Dasar pemikiran
a. Bahwa pendidikan karakter termasuk salah satu isu penting
yang mendapat perhatian yang cukup besar dari kalangan
intelektual muslim.
b. Bahwa di dalam menentukan konsep pendidikan karakter,
para intelektual muslim memiliki perbedaan dan persamaan
dengan konsep pendidikan yang berasal dari Barat dan konsep
pendidikan karakter yang diwariskan para pemikir Yunani
Kuno, abad pertengahan di Eropa, dan zaman Arab Jahiliyah.
c. Bahwa dalam khazanah dunia pendidikan Islam, masalah
pendidikan karakter menempati posisi yang amat sentral.
2) Pembahasan
Dalam khazanah pendidikan Islam, pendidikan yang
terdapat di dalamnya sudah sangat luar biasa. Seluruh komponen
dibangun berdasarkan nilai-nilai moral ajaran Islam. Ajaran
Islam telah mempengaruhi pola pikir, cara pandang, tutur kata,
dan semua aktivitas masyarakat dari sekarang hingga masa

61
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.274.

35
depan, mengingat tantangan yang dihadapi umat demikian
besar.62
3) Penutup
a. Pendidikan karakter pada hakikatnya adalah sebuah
perjuangan untuk memelihara kelangsungan hidup umat
manusia agar tidak jauh pada kehancuran.
b. Pendidikan karakter telah menjadi perhatian utama para
intelektual Muslim dari sejak zaman klasik hingga zaman
sekarang.
c. Pendidikan karakter dalam khazanah dunia pendidikan
Islam mendapat tempat dan perhatian yang luar biasa.
d. Pendidikan karakter sejalan dengan watak dan karakter
ajaran Islam.
e. Konsep pendidikan karakter dalam Islam mudah
diterapkan, menekankan keseimbangan wawasan kognitif,
afektif dan psikomotorik.
f. Pendidikan karakter yang terdapat dalam wacana
intelektual Muslim dan khazanah dunia pendidikan Islam
dijadikan sebagai upaya untuk melanjutkan usaha-usaha yang
telah dirintis oleh para intelektual Muslim.63
23. BAB XXIII. REVITALISASI PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK
MENCETAK GENERASI UNGGUL
a. Pengantar
Pada bab ini membahas tentang kondisi bangsa Indonesia,
faktor penyebab krisis pendidikan karakter, revitalisasi pendidikan,
dan penutup.
b. Isi

62
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.310.
63
Ibid., hlm.311-313.

36
1) Kondisi Bangsa Indonesia
a. Indonesia menempatkan urutan 63 dari 178 pada laporan
tentang Indeks Negara Gagal.
b. Sistem pendidikan di Indonesia menempati posisi terburuk di
kawasan Asia.
c. Laporan dari UNDP bahwa Indeks Pembangunan Manusia di
Indonesia tetap terpuruk.
d. Utang bangsa Indonesia yang saat ini jumlahnya cukup besar.
e. Adanya ketergantungan bangsa Indonesia hampir dalam
semua bidang pada negara lain.64
2) Faktor penyebab krisis pendidikan karakter
a. Dunia pendidikan telah melupakan tujuan utamanya.
b. Sistem pendidikan di Indonesia yang hanya menyiapkan para
siswanya untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi saja.
c. Dunia pendidikan di Indonesia saat ini terjebak pada
menyiapkan manusia dadakan atau manusia “instan”.
d. Pendidikan yang ada saat ini lebih dikuasai oleh ideologi
ekonomi kapitalis dan liberalis bukan lagi berdasarkan pada
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
e. Pelaksanaan pendidikan agama di Indonesua saat ini
mengalami kegagalan.65
3) Revitalisasi Pendidikan
a. Menerapkan model pembelajaran yang holistik dan berbasis
karakter.
b. Revitalisasi Pendidikan Moral, Nilai, Agama dan
Kewarganegaraan.
c. Revitalisasi Pendidikan Keluarga, Sekolah dan Masyarakat.

64
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,2013), cet. XIV, hlm.321-322.
65
Ibid., hlm.323-328.

37
d. Revitalisasi Peran Media Massa66

I. Kelebihan dan Kekurangan


Buku berjudul Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia karya Prof. Dr. H.
Abuddin Nata, M. A. ini memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai
berikut :

1) Kelebihan
1. Segi Isi/Materi
Pemaparan isi dari buku ini sudah sistematis, diawali dengan
pembahasan tentang akhlak, pembahasan tentang tasawuf, dan
pembahasan tentang pendidikan karakter. Dalam pembahasannya
juga terdapat contoh perilaku yang bisa diterapkan.
Cara penulisan buku ini sesuai dengan EYD (Ejaan Yang
Disempurnakan), sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Dalam
buku ini juga dilengkapi glosarium, sehingga pembaca dapat
mengetahui arti kata-kata yang kurang dimengerti.
2. Segi Metode
Dalam hal pemaparan materi, buku ini telah merujuk langsung
dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw. Penulisan buku
ini juga berdasar pada metode kualitatif atau merujuk kepada buku-
buku yang berkaitan.
3. Segi Tata Letak
Dari segi tata letak kelebihan dari buku ini adalah
penomeran halaman mirror serta margin yang digunakan juga
sudah sesuai sebelah kiri genap, sebelah kanan ganjil. Buku ini juga
sudah menggunakan font standar yang umum digunakan dan ukuran font
juga sudah sesuai sehingga mudah untuk dibaca.
2) Kekurangan
1. Segi Isi/Materi

66
Ibid., hlm.330-338.

38
Buku Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia ini dalam segi
isi sudah memiliki banyak kelebihan, hanya saja dalam buku ini
masih terdapat kekurangan. Ada beberapa pembahasan yang tidak
ada contoh kisah teladan / akhlak dari para Nabi-nabi selain Nabi
Muhammad saw yang bisa menjadi gambaran pembaca untuk
diterapkan.
2. Segi Metode
Buku ini alangkah lebih baiknya jika ditambahkan dengan
metode penelitian dengan lebih bayak lagi mengemukakan
pendapat si Penulis sendiri berkaitan dengan bahasan-bahasan dan
perlu adanya penelitian sejauh mana akhlak itu diterapkan.
3. Segi Tata Letak
Dari segi tata letak peresensi belum menemukan
kekurangan dalam buku ini, baik dalam front maupun footnote.

J. Tabel Buku Primer

“Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia”

Latar Belakang Pentingnya akhlak tasawuf dari sudut pandang Islam


Penulisan Buku
terhadap pembentukan karakter yang baik.
Tujuan Penulisan Dapat menjadikan resensi ini sebagai tolak ukur dalam
menilai satu literatur bertema akhlak tasawuf ataupun
karakter yang sesuai dengan ajaran Islam.
Sasaran Pembaca Pembaca di harapkan dapat mengetahui dan memahami
akhlak tasawuf dan karakter mulia dan mampu
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Relevansi Hubungan Buku yang terdiri dari tiga materi ini tersusun secara
sistematis susunan babnya. Pembahasan dalam buku ini
yaitu tentang akhlak, tasawuf dan pendidikan karakter
dibahas dengan cukup luas dan jelas.

39
Tingkat Buku ini memiliki tingkat kemutakhiran yang bagus
Kemutakhiran
karena jika dilihat dari berbagai aspek, buku ini sudah
tersusun secara sistematis dan dapat digunakan sebagai
bahan acuan mengajar.
Tata Letak buku Dalam tata letak, buku ini memiliki format yang sudah
cukup baik sehingga dapat mudah dipahami oleh
pembaca.
Kelebihan Buku Buku ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami
dan dapat dijadikan sebagai acuan dalam pembelajaran
akhlak tasawuf dan pembentukan karakter.
Kekurangan Buku Buku ini tidak memberikan contoh perilaku para Nabi
selain Nabi Muhammad Saw.
Kurangnya pendapat penulis yang terdapat dalam
pembahasan setiap bab.

40
BAB II
PEMBAHASAN
BUKU SEKUNDER

A. Buku Sekunder Pertama

1. Identitas Buku

Judul Buku : Akhlak Tasawuf


Penulis : Dr. H. Badrudin, M. Ag.
Penerbit : IAIB PRESS
ISBN : 978-602-1708-02-6
Cetakan : Kedua
Kota Terbit : Serang
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : viii + 200 halaman
Ukuran : 15 x 21 cm

2. Isi Buku
a. Bab I Akhlak, Moral, dan Etika

41
1) Pengertian Akhlak, Moral, dan Etika
Kata akhlak berasal dari kata kerja khalaqa yang artinya
menciptakan. Kata khalaqa mempunyai maksud bahwa akhlak
merupakan jalinan yang mengikat atas kehendak Tuhan dan
manusia. Pada makna lain kata akhlak dapat diartikan tata
perilaku seseorang terhadap orang lain. Jika perilaku ataupun
tindakan tersebut didasarkan atas kehendak Khaliq (Tuhan)
maka hal itu disebut sebagai akhlak hakiki.67
Moral artinya ajaran tentang baik buruk yang diterima
mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti. Moral
adalah istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas
suatu sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang
layak dikatakan benar, salah, baik, buruk.68
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, etika diartikan
sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral).
Jadi, etika yaitu ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk,
tentang hak dan kewajiban moral.69
2) Sumber Akhlak, Moral dan Etika
Akhlak bersumber dari agama wahyu. Moral bersumber
dari adat istiadat masyarakat. Sementara etika bersumber dari
filsafat moral dan akal pikiran. Dalam kajian ini mengarah pada
konseptual akhlak Islami dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits
Nabawi dikomparasikan dengan materi-materi yang sudah
berkembang. Sikap dan prilaku akhlak Islami yang sempurna itu
harus berpegang pada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah SAW.70
3) Manfaat Mempelajari Akhlak, Moral dan Etika

67
Badrudin, Akhlak Tasawuf, (Serang: IAIB Press, 2015), hlm. 9
68
Ibid., hlm. 7
69
Ibid., hlm. 8
70
Ibid., hlm. 12

42
Akhlak yang mulia merupakan unsur yang sangat utama di
dalam risalah Islamiyah. Dalam syariat Islam akhlak yang baik
adalah manifestasi ibadah. Demikian halnya dalam sholat
terkandung nilai-nilai akhlak. Dalam rangka menuju
kesempurnaan hidup perlu memiliki akhlak Islami, yang
mencakup berlaku benar, jujur, menunaikan amanah, menepati
janji, tawadhu’ (rendah diri), berbakti kepada orang tua,
menyambung silaturrahim, berlaku baik kepada tetangga,
memuliakan tamu, pemurah dan dermawan, penyantun dan
sabar, mendamaikan manusia, sifat malu berbuat maksiat, kasih
sayang, berlaku adil, dan menjaga kesucian diri. Itulah diantara
akhlak karimah yang perlu kita miliki sifat-sifat yang mulia
tersebut.71

2. Bab II Ruang Lingkup dan Nilai-nilai Ilmu Akhlak


1) Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak
1. Akhlak terhadap Kholik
Allah SWT adalah Al-Khaliq (Maha pencipta) dan
manusia adalah makhluk (yang diciptakan). Manusia wajib
tunduk kepada peraturan Allah. Hal ini menunjukkan
kepada sifat manusia sebagai hamba. Kewajiban manusia
terhadap Allah SWT diantaranya dengan ibadah shalat,
dzikir, dan do’a.72
2. Akhlak terhadap Makhluk
a. Akhlak terhadap diri sendiri
b. Akhlak terhadap ibu dan bapak
c. Berakhlak terhadap alam, binatang, tumbuh-tumbuhan,
kepada yang ghaib, dan semesta alam.
d. Berakhlak terhadap sesama yang beragama Islam, dan
antara orang Islam dengan non-Islam.

71
Ibid., hlm. 13
72
Badrudin, Akhlak Tasawuf, (Serang: IAIB Press, 2015), hlm. 37

43
e. Berakhlak dengan orang yang lebih tua.73
2) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Akhlak
Apabila ditinjau dari segi akhlak kejiwaan, seseorang
bertindak dan berbuat atas dasar pokok-pokok berikut ini:
a) Insting (gharizah/naluri)
b) Adat kebiasaan
c) Wirotsah (keturunan)
d) Milieu (faktor lingkungan)
e) Kehendak
f) Pendidikan
g) Takdir74
3. Bab III Nilai-Nilai Ilmu Tasawuf
1) Makna Tasawuf, Ruang Lingkup, dan Tujuannya
a) Pengertian Tasawuf
Istilah tasawuf berasal dari bahasa Arab dari kata
”tashowwafa –yatashowwafu - tashowwuf” mengandung
makna (menjadi) berbulu yang banyak, yakni menjadi
seorang sufi atau menyerupainya dengan ciri khas
pakaiannya terbuat dari bulu domba/wol (suuf), walaupun
pada prakteknya tidak semua ahli sufi pakaiannya
menggunakan wol. Menurut sebagian pendapat menyatakan
bahwa para sufi diberi nama sufi karena kesucian (shafa)
hati mereka dan kebersihan tindakan mereka. Di sisi yang
lain menyebutkan bahwa seseorang disebut sufi karena
mereka berada dibaris terdepan (shaff) di hadapan Allah,
melalui pengangkatan keinginan mereka kepada-Nya.
Bahkan ada juga yang mengambil dari istilah ash-hab al-
Shuffah, yaitu para shahabat Nabi SAW yang tinggal di
kamar/serambi-serambi masjid (mereka meninggalkan

73
Ibid., hlm. 39
74
Badrudin, Akhlak Tasawuf, (Serang: IAIB Press, 2015), hlm. 45-47

44
dunia dan rumah mereka untuk berkonsentrasi beribadah
dan dekat dengan Rasulullah SAW).75

b) Ruang Lingkup Kandungan Tasawuf


Ilmu tasawuf yang pada dasarnya bila dipelajari secara
esensial mengandung empat unsur, yaitu:
1. Metaphisica, yaitu hal-hal yang di luar alam dunia atau
bisa juga dikatakan sebagai ilmu ghoib. Di dalam Ilmu
Tasawuf banyak dibicarakan tentang masalah-masalah
keimanan tentang unsur-unsur akhirat, dan cinta
seorang sufi terhadap Tuhannya.
2. Ethica, yaitu ilmu yang menyelidiki tentang baik dan
buruk dengan melihat pada amaliah manusia. Dalam
Ilmu Tasawuf banyak sekali unsur-unsur etika, dan
ajaran-ajaran akhlak (hablumminallah dan
hablumminannas).
3. Psikologia, yaitu masalah yang berhubungan dengan
jiwa. Psikologi dalam pandangan tasawuf sangat
berbeda dengan psikologi modern. Psikologi modern
ditujukan dalam menyelidiki manusia bagi orang lain,
yakni jiwa orang lain yang diselidikinya. Sedangkan
psikologi dalam tasawuf memfokuskan penyelidikan
terhadap diri sendiri, yakni diarahkan terhadap
penyadaran diri sendiri dan menyadari kelemahan dan
kekurangan dirinya untuk kemudian memperbaiki
menuju kesempurnaan nilai pribadi yang mulia.
4. Aesthetica, yaitu ilmu keindahan yang menimbulkan
seni. Untuk meresapkan seni dalam diri, haruslah ada
keindahan dalam diri sendiri. Sedangkan puncak
keindahan itu adalah cinta. Jalan yang ditempuh untuk

75
Ibid., hlm. 57

45
mencapai keindahan menurut ajaran tasawuf adalah
tafakur, merenung hikmah-hikmah ciptaan Allah.
Dengan begitu akan tersentuh kebesaran Allah dengan
banyak memuji dan berdzikir kehadirat-Nya.76
2) Manfaat Ilmu Tasawuf dalam Kehidupan
Perlunya tasawuf dimasyarakatkan dalam pandangan
Komaruddin Hidayat terdapat tiga tujuan. Pertama, turut serta
terlibat dalam berbagai peran dalam menyelamatkan
kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat hilangnya nilai-
nilai spiritual. Kedua,mengenalkan literatur atau pemahaman
tentang aspek esoteris (kebatinan) Islam, baik terhadap
masyarakat Islam yang mulai melupakannya maupun di
kalangan masyarakat non-Islam. Ketiga, untuk memberikan
penegasan kembali bahwa sesungguhnya aspek esoteris Islam,
yakni sufisme adalah jantung ajaran Islam, sehingga bila
wilayah ini kering dan tidak berdenyut, maka keringlah aspek-
aspek lain dalam ajaran Islam.77
3) Dasar-dasar Ilmu Tasawuf
Imam Sahal Tusturi seorang ahli tasawuf telah
mengemukakan tentang prinsip tasawuf, yaitu: “Prinsip kami
ada enam macam”:
a) Berpedoman kepada kitab Allah (Al-Qur’an).
b) Mengikuti Sunnah Rasulullah (Hadits).
c) Makan makanan yang halal.
d) Tidak menyakiti manusia (termasuk binatang).
e) Menjauhkan diri dari dosa.
f) Melaksanakan ketetapan hukum (yaitu segala peraturan
agama Islam)”.78
4) Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tasawuf

76
Ibid., hlm. 59-60
77
Ibid., hlm. 62
78
Ibid., hlm. 67

46
Pada prinsipnya perkembangan tasawuf itu ada tiga
tahapan, pertama periode pembentukan dengan menonjolkan
gerakan-gerakan zuhud sebagai fenomena sosial. Periode ini
berlangsung selama abad pertama dan kedua hijriyah yang
dipelopori oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’i tabi’in. Pada
masa ini fenomena yang terjadi adalah semangat untuk
beribadah dengan prinsip-prinsip yang telah diajarkan oleh Nabi
SAW, untuk kemudian mereka mencoba menjalani hidup zuhud.
Tokoh-tokoh sufi pada periode ini adalah Hasan Bashri (110 H.)
dengan konsep khouf dan Robi’ah al-Adawiyah (185 H.) dengan
konsep cinta (al-Hubb).
Kedua, memasuki abad ketiga dan ke-empat hijriyah
tasawuf kembali menjalani babak baru. Pada abad ini tema-tema
yang diangkat para sufi lebih mendalam. Berawal dari
perbincangan seputar akhlak dan budi pekerti, mereka mulai
ramai membahas tentang hakikat Tuhan, esensi manusia serta
hubungan antar keduanya. Dalam hal ini kemudian muncul
tema-tema seperti ma’rifat, fana’, dzauk, dan lain sebagainya.
Para tokoh pada masa ini diantaranya Imam al-Qusyairi,
Suhrawardi al-Baghdadi, Al-Hallaj, dan Imam Ghazali.
Ketiga, abad ke-enam dan ketujuh tasawuf kembali
menemukan suatu bentuk pengalaman baru. Persentuhan
tasawuf dengan filsafat berhasil mencetak tasawuf menjadi lebih
filosofis yang kemudian dikenal dengan istilah teosofi. Dari
sinilah kemudian muncul dua varian tasawuf, Sunni dengan
coraknya amali dan Falsafi dengan corak iluminatifnya. Adapun
tokoh-tokoh teosofi abad ini adalah Surahwardi al-Maqtul (549
H.), Ibnu ’Arabi (638 H.), dan Ibnu Faridh (632 H.)79

79
Ibid., hlm. 80-81

47
5) Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat, Fikih, dan
Psikologi Agama

a) Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam


Pertama, sebagai pemberi wawasan spiritual dalam
pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam lewat hati
(dzauq dan wijdan) terhadap Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam
menjadikan ilmu ini lebih terhayati dan teraplikasikan
dalam prilaku. Dengan demikian, Ilmu Tasawuf merupakan
penyempurna Ilmu Tauhid jika dilihat dari sudut pandang
bahwa Ilmu Tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari
Ilmu Tauhid.
Kedua, berfungsi sebagai pengendali Ilmu Tasawuf.
Jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah
yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka
itu merupakan penyimpangan dan harus ditolak.
Ketiga,berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah
dalam perdebatan-perdebatan kalam. Jika tidak diimbangi
dengan kesadaran rohaniah, Ilmu Kalam dapat bergerak ke
arah yang lebih liberal dan bebas. Di sinilah Ilmu Tasawuf
berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga Ilmu Kalam
tidak terkesan sebagai dialektika keIslaman belaka, yang
kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara
qalbiyah (hati).80
b) Hubungan Tasawuf dengan Filsafat
Filsafat landasan pemikirannya dengan logika,
sedangkan tasawuf landasannya dengan hati sanubari.
Dalam filsafat penuh dengan tanda tanya. Sedangkan dalam
tasawuf tidak mempertanyakan. Sehingga orang yang tidak
memasuki alam tasawuf dengan sendirinya tidaklah akan

80
Ibid., hlm. 85

48
turut merasa apa yang mereka rasai (dalam keyakinan
pemikirannya). Bahkan bagi kaum sufi, kuasa perasaan itu
lebih tinggi dari kuasa kata-kata. Dengan filsafat orang
mengetahui makna pemahamannya.
Oleh karena itu, menjadi tinggi martabat tasawuf kalau
diiringi dengan pengetahuan dan mempunyai keahlian
berfilsafat. Dalam hal ini sebagai figurnya adalah Imam
Ghazali, Suhrawardi, Ibnu Arabi. Sehingga menjadi kacau
dan rancu kalau tasawuf dimiliki oleh orang yang tidak
mempunyai dasar ilmu pengetahuan. Dengan demikian jelas
hubungan tasawuf dan filsafat sangat berkaitan.
c) Hubungan Tasawuf dengan Fiqih
Ilmu Fiqih berkaitan dengan amalan syari’at,
sedangkan tasawuf berkaitan dengan batiniyah. Dengan
syari’at kita dapat taat menuruti peraturan-peraturan Tuhan
(agama). Dengan tasawuf kita dapat merasakan dalam batin
kita dan mengenal Tuhan, untuk siapa dipersembahkan
amal ibadah kita, dan sebagai pengawas jiwa untuk khusyu
kepada-Nya. Tasawuf selain sebagai naluri manusia, maka
ia juga merupakan olah batin serta olah rasa (dzauq) untuk
semata-mata mencapai keridhoan Tuhan.81
d) Hubungan Tasawuf dengan Psikologi Agama
Psikologi agama mempelajari tingkah laku manusia
dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap
agama yang dianutnya dalam penelaahan kajian empiris.
Dalam hubungan ini, ternyata agama terbukti mempunyai
peranan penting dalam perawatan jiwa. Oleh karenanya
metode yang digunakan dalam penelitian Ilmu Jiwa agama

81
Ibid., hlm. 86

49
tidak berbeda dengan metode ilmiyah yang dipakai oleh
cabang-cabang Ilmu Jiwa agama.82
5. Bab IV Ajaran-ajaran dalam Ilmu Tasawuf
1) Syari’at, Thariqat, Hakikat, dan Ma’rifat
a) Syari’at
Menurut kaum sufi, Syari’at itu kumpulan lambang
yang memiliki makna tersembunyi. Shalat misalnya, bagi
kaum sufi bukanlah sekedar sejumlah gerakan dan kata-
kata, tetapi lebih dari itu merupakan percakapan spiritual
antara makhluk dengan khaliq. Demikian juga ibadah lain
seperti hajji.
b) Thariqat
Untuk mencapai tujuan tertentu memerlukan jalan dan
cara. Tanpa mengetahui jalannya, tentu sulit untuk
mencapai maksud dan tujuan. Hal ini dinamakan thariqat,
dari segi persamaan katanya berarti “madzhab” yang artinya
“jalan”. Mengetahui adanya jalan perlu pula mengetahui
“cara” melintas jalan agar tujuan tidak tersesat. Penekanan
dalam thariqat itu merupakan petunjuk dalam melakukan
ibadat sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan
dicontohkan oleh Nabi SAW dan dikerjakan oleh sahabat
dan tabi’in, turun-temurun sampai kepada guru-guru
(mursyidin).
c) Hakikat
Secara bahasa Arab “Haqiqat” yang berarti,
“kebenaran”, “kenyataan asal” atau “yang sebenar-
benarnya”. Kebenaran dalam hidup dan kehidupan, inilah
yang dicari dan ini pulalah yang dituju. Dalam
kesempurnaan sistem kebenaran ditunjang oleh petunjuk
untuk dapat memahami syari’at.

82
Ibid., hlm. 88

50
Menurut terminologi, hakikat dapat didefinisikan
sebagai kesaksian akan kehadiran peran serta ke-Tuhan-an
dalam setiap sisi kehidupan. Hakikat adalah kesaksian
terhadap sesuatu yang telah ditentukan dan ditakdirkan-Nya
serta yang disembunyikan dan ditampakkannya.
d) Ma’rifat
Kata ma’rifat berasal dari kata ‘arafa yang artinya
mengenal dan paham. Ma’rifat menggambarkan hubungan
rapat dalam bentuk gnosis, pengetahuan dengan hati
sanubari. Pengetahuan ini diperoleh dengan kesungguhan
dan usaha kerja keras, sehingga mencapai puncak dari
tujuan seorang Salik. Hal ini dicapai dengan sinar Allah,
hidayah-Nya, Qudrat dan Iradat-Nya. Ma’rifat adalah
mengetahui Tuhan dari dekat. Oleh karenanya hati sanubari
dapat melihat Tuhan.
2) Maqamat dan Ahwal
a) Maqamat
Maqamat adalah jalan yang harus ditempuh
seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Dalam
pandangan Ath-Thusi sebagaimana dikutip oleh
Rosihon Anwar dan M. Alfatih bahwa maqamat adalah
kedudukan hamba (salik) dalam perjalanannya menuju
Allah SWT melalui ibadah, kesungguhan melawan
rintangan (almujahadat), dan latihan-latihan rohani (ar-
Riyadhah).
b) Ahwal
Teori lain yang hampir sama dengan maqamat
yaitu hal (Pluralnya ahwal). Yang dinamakan hal
adalah apa yang didapatkan orang tanpa dicari (hibah
dari Allah SWT). Sedangkan dalam maqamat
didapatkan dengan dicari (diusahakan). Dengan kata

51
83
lain hal itu bukan usaha manusia, tetapi anugerah
Allah setelah seorang berjuang dan berusaha melewati
maqam tasawuf.
Hal dimaknai sebagai sebagai tingkat derajat
spiritual yang semata-mata anugerah Allah SWT. Itulah
sebabnya, ahwal lebih memiliki makna dan fungsi
tentang keadaan-kondisi kerohanian yang bersifat
temporer, tanpa ikhtiar diri, dan lebih merupakan
anugerah khusus dari Allah SWT, meskipun ia tidak
bisa dilepaskan dari upaya yang sungguh-sungguh
untuk menjalani kehidupan kerohanian.

3) Takhalli, Tahalli, dan Tajalli


a) Takhalli
Takhalli ialah membersihkan diri dari sifat-sifat
yang tercela, kotor hati, maksiat lahir dan maksiat
batin. Pembersihan ini dalam rangka, melepaskan diri
dari perangai yang tidak baik, yang tidak sesuai dengan
prinsip-prinsip agama. Sifat-sifat tercela ini merupakan
pengganggu dan penghalang utama manusia dalam
berhubungan dengan Allah.
b) Tahalli
Tahalli merupakan pengisian diri dengan sifat-sifat
terpuji, menyinari hati dengan taat lahir dan batin. Hati
yang demikian ini dapat menerima pancaran Nurullah
dengan mudah. Oleh karenanya segala perbuatan dan
tindakannya selalu berdasarkan dengan niat yang ikhlas
(suci dari riya). Dan amal ibadahnya itu tidak lain
kecuali mencari ridha Allah SWT. Untuk itulah
manusia seperti ini bisa mendekatkan diri kepada Yang

83
Ibid., hlm. 93

52
Maha Kuasa. Maka dari itu, Allah senantiasa
mencurahkan rahmat dan perlindungan kepadanya.
c) Tajalli
Tajalli adalah merasakan akan rasa ketuhanan yang
sampai mencapai sifat muraqabah. Tajalli merupakan
barang yang dibukakan bagi hati seseorang tentang
beberapa Nur yang datang dari ghoib. Tajalli ada empat
tingkatan, yaitu:60 tajalli af’al, tajalli asma, tajalli
sifat, dan tajalli zat.

4) Riyadhah, Muqorobah, dan Muroqobah


a) Riyadhah
Riyadhah adalah latihan-latihan fisik dan jiwa
dalam rangka melawan getaran hawa nafsu dengan
melakukan puasa, khalwat, bangun di tengah malam
(qiyamullail), berdzikir, tidak banyak bicara, dan
beribadah secara terus menerus untuk penyempurnaan
diri secara konsisten.84
b) Muqorobah
Secara bahasa muqorobah berarti saling berdekatan
(bina musyarakah) dari kata-kata qooraba-yuqooribu-
muqoorobah. Dalam pengertian ini, maksudnya adalah
usaha-usaha seorang hamba untuk selalu berdekatan
dengan Allah SWT, yakni saling berdekatan antara
hamba dan Tuhannya. Upaya-upaya untuk
mendekatkan diri kepada Allah ini harus diiringi
dengan nilai-nilai keikhlasan dan kesungguhan untuk
mencapai ridha-Nya.
c) Muroqobah

84
K. Permadi, Pengantar Ilmu Tasawwuf, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), cet. II, hlm. 95

53
Muroqobah dalam makna harfiah berarti awas
mengawasi atau saling mengawasi (dalam Ilmu Shorof
dalam kategori bina musyarokah). Secara bahasa
muroqobah mengandung makna senantiasa mengamati
tujuan atau menantikan sesuatu dengan penuh perhatian
(mawas diri). Sedangkan menurut terminologi berarti
melestarikan pengamatan kepada Allah SWT dengan
hatinya dalam arti terus menerus kesadaran seorang
hamba atas pengawasan Allah SWT terhadap semua
keadaannya. Sehingga manusia mengamati pekerjaan
dan hukum-hukum-Nya dengan penuh perasaan kepada
Allah SWT.

5) Fana, Baqa, dan Ittihad


a) Fana
Fana diambil dari kata faniya (fana)-yafna-fana’,
secara bahasa berarti menjadi lenyap, hilang, dan tak
kekal. Dalam sumber lain berasal dari kata fana-yafni-
fana’ yang mengandung makna hilang hancur.
Sedangkan baqa berasal dari kata baqiya-yabqa-baqa’
yang berarti dawam atau terus menerus, tidak lenyap
dan tidak hancur.
Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf adalah suatu
tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi
menjelang ke tingkat ittihad, yakni hilangnya kesadaran
tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya
ditujukan kepada Allah semata, serta yang ada hanya
Allah SWT.85
b) Baqa

85
Ibid., hlm. 133.

54
Baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-
sifat Tuhan dalam diri manusia. Karena lenyapnya
sifat-sifat Basyariyah maka yang kekal adalah sifat-
sifat Ilahiyah. Fana dan baqa datang beriringan. Ini
merupakan pengalaman mistik tentang substansi atau
kehidupan bersama dengan Tuhan setelah terjadi fana
dalam diri sufi.86
c) Ittihad
Ittihad berasal dari kata ittahada-yattahidu-ittihaad
yang berarti penyatuan atau kebersatuan. Dalam hal ini
maksudnya tingkatan tasawuf seorang sufi yang telah
merasa dirinya bersatu dengan Tuhan. Ittihad
merupakan suatu tingkatan antara yang mencintai dan
yang dicintai telah menjadi satu.

6) Mahabbah, Al-Hulul, dan Wahdatul Wujud


a) Mahabbah
Secara etimologi, mahabbah adalah bentuk masdar
dari kata hubb yang mempunyai arti: a) membiasakan
dan tetap, b) menyukai sesuatu karena punya rasa cinta.
Dalam bahasa Indonesia kata cinta, berarti: a) suka
sekali, sayang sekali, b) kasih sekali, c) ingin sekali,
berharap sekali, rindu, makin ditindas makin terasa
betapa rindunya, dan d) susah hati (khawatir) tiada
terperikan lagi.
Mahabbah (cinta) merupakan keinginan yang
sangat kuat terhadap sesuatu melebihi kepada yang lain
atau ada perhatian khusus, sehingga menimbulkan
usaha untuk memiliki dan bersatu dengannya, sekalipun

86
Badrudin, H. 2015. Akhlak Tasawuf. Serang: IAIB PRESS.

55
dengan pengorbanan. Dengan demikian dapat
dikatakan, Mahabbah adalah perasaan cinta yang
mendalam secara ruhaniah kepada Allah.
b) Al-Hulul
Hulul berasal dari kata halla-yahillu-hulul,
mengandung makna menempati, tinggal di, atau
bertempat di. Sedangkan dalam makna istilah hulul
adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih
tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat
(bersemayam) di dalamnya dengan sifat-sifat
ketuhanannya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada
dalam tubuh itu dilenyapkan.
c) Wahdatul Wujud
Secara etimologi, wahdatul wujud adalah ungkapan
yang terdiri dari dua kata, yaitu Wahdat dan al-Wujud.
Wahdat artinya adalah penyatuan, satu, atau sendiri,
sedangkan al-wujud artinya ada (eksistens). Di
kalangan ulama klasik ada yang mengartikan wahdah
sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi-bagi.
7) Insan Kamil dan Waliyullah
a) Insan Kamil
Insan Kamil berasal dari gabungan dua kata bahasa
Arab, insan dan kamil. Insan berarti manusia, kamil
berarti sempurna. Jadi secara bahasa insan kamil
mengandung makna manusia sempurna, yakni manusia
yang dekat (qarib dengan Allah) dan terbina potensi
ruhaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal.
Inilah manusia seutuhnya yang mempunyai ketinggian

56
derajat di hadapan Tuhannya, sehingga mencapai
tingkat kesempurnaan tauhid dan akhlak mulia.87
b) Waliyullah
Waliyullah merupakan gabungan dari lafadz
“wali” dan “Allah”. Kata “wali” adalah bentuk mufrad
(singular), sedangkan bentuk jamak-nya (plural) adalah
“awliya”. Wali Allah artinya kekasih Allah. Jadi bentuk
jamak-nya awliya Allah (para kekasih Allah).
Dikatakan kekasih Allah karena ia sangat dekat dengan
Allah, sehingga Allah menjadi pemelihara dan
penolong bagi kekasih-Nya.88

3. Kelebihan dan Kekurangan


Buku berjudul Akhlak Tasawuf karya Badrudin M. Ag. ini memiliki
kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :

1) Kelebihan
a. Segi Isi/Materi
Pemaparan isi dari buku ini sudah sistematis, diawali dengan
pembahasan tentang akhlak, pembahasan tentang tasawuf, sumber-
sumber akhlak tasawuf, latar belakang timbulnya berkembangnya
tasawuf, kandungan akhlak tasawuf dan lain-lain.
Kata-kata yang digunakan juga tidak terlalu sulit untuk
dipahami, sehingga pembaca tidak terlalu berpikir keras ketika
membaca buku ini.
b. Segi Metode
Dalam hal pemaparan materi, buku ini telah merujuk
langsung dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw.

87
Badrudin, H. Akhlak Tasawuf. (Serang: IAIB PRESS, 2015).

88 Badrudin, H. Akhlak Tasawuf. (Serang: IAIB PRESS, 2015).

57
Penulisan buku ini juga berdasar pada metode kualitatif atau
merujuk kepada buku-buku yang berkaitan.
c. Segi Tata Letak
Dari segi tata letak kelebihan buku ini adalah penomeran
halaman mirror serta margin yang digunakan juga sudah sesuai
sebelah kiri genap, sebelah kanan ganjil.
2) Kekurangan
a. Segi Isi/Materi
Buku Akhlak Tasawuf dalam segi isi sudah memiliki banyak
kelebihan, hanya saja dalam buku ini masih ada kekurangan yaitu:
Pertama, tidak ada pembahasan tentang contoh kisah
teladan/akhlak dari para Nabi-nabi selain Nabi Muhammad saw.
yang bisa menjadi gambaran pembaca tentang pentingnya memiliki
akhlak yang terpuji. Kedua, tidak dibahas mengenai akhlak seorang
muslim terhadap nonmuslim pada masa sekarang ini yang mudah
terjadi kericuhan antar umat beragama.
b. Segi Metode
Buku ini alangkah lebih baiknya jika ditambahkan dengan
metode penelitian dengan mengemukakan contoh-contoh akhlak
terpuji dan akhlak tercela sehingga bentuk-bentuk akhlak yang
dijelaskan bisa dilihat juga dari sisi prakteknya. Selain itu perlu
juga mengemukakan pendapat si Penulis sendiri berkaitan dengan
bahasan-bahasan, perlu juga ditekankan aspek efektivitas
penerapan realita dan perlu adanya penelitian sejauh mana akhlak
itu diterapkan.
c. Segi Tata Letak
Dari segi tata letak kekurangan buku ini adalah belum
menggunakan font standar yang umum digunakan dan ukuran font
juga belum sesuai sehingga masih begitu sulit untuk dibaca.
Footnote pada buku ini juga masih kurang tepat karena banyak
yang tidak tercantum di dalam daftar pustaka. Kekurangan lain

58
pada buku ini dari segi tata letak yaitu pada sistem penomoran yang
masih kurang tepat, tidak sistematis, dan selalu berubah-ubah.

4. Tabel Buku Sekunder

“Akhlak Tasawuf”

Latar Belakang Buku ini ditulis dengan latar belakang memberikan


Penulisan Buku pengetahuan agama kepada siapa pun yang
membacanya khususnya mengenai tasawuf yang
mencakup pengertian akhlak, manfaat mempelajari
akhlak, tasawuf, objek tasawuf, ilmu tasawuf dan lain
sebagainya.
Tujuan Penulisan Untuk menjadi bacaan dalam masyarakat maupun
sebagai bahan studi bagi pelajaran-pelajaran.
Sasaran Pembaca Pembaca di harapkan dapat mengetahui dan memahami
akhlak tasawuf. Dengan jalan membaca buku ini , akan
dapat dialihkan dari jurang kelalaian ke tingkat ingat
kepada Tuhan.
Relevansi Hubungan Antar judul dan isi buku tersebut terdapat keterkaitan
dengan materi yang cukup jelas.
Tingkat Buku ini mutakhir materinya cukup lengkap untuk
Kemutakhiran mendalami akhlak tasawuf dengan baik sesuai dengan
tuntutan syariat.
Tata Letak buku Buku ini belum menggunakan front dan footnote pada
umumnya. Sehingga pembaca sedikit kesulitan dalam
membacanya.
Kelebihan Buku Pemaparan dari pembahasan buku ini sudah sistematis.
Baik dari segi isi dan metode.
Kekurangan Buku Buku ini tidak memberikan contoh perilaku para Nabi
selain Nabi Muhammad Saw.

59
Ukuran front, footnote, dan penomoran masih
ditemukan kesalahan.

B. Buku Sekunder Kedua


“Akhlak Tasawuf “

Karya Nur Hidayat M. Ag.

Akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa manusia,


sehingga ia akan muncul secara spontan apabila dibutuhkan, tanpa
memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dulu. Sedangkan tasawuf
merupakan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan
menekankan pentingnya akhlak atau sopan santun baik kepada Allah
maupun kepada sesama makhluk.
Hubungan akhlak dengan tasawuf sangatlah erat bisa dikatakan
seperti dua sisi mata uang, karena untuk mencapai akhlak yang mulia
dibutuhkan proses-proses yang biasanya dilakukan oleh kalangan
pengamal tasawuf. Sementara bagian yang terpenting dalam tasawuf
adalah pencapaian akhlak yang mulia disamping hal-hal yang terkait
dengan kebutuhan.
Setiap bab dalam buku ini dibahas secara mendetail dan jelas. Berikut
adalah beberapa bab dari buku ini
1. Pembahasan Akhlak
2. Hakikat Baik dan Buruk
3. Pembahasan Tasawuf
4. Sumber-sumber Akhlak Tasawuf
5. Latar Belakang Timbulnya Studi Tentang Akhlak Tasawuf
6. Kandungan Akhlak Tasawuf
7. Hakikat Pembinaan Akhlak Tasawuf
8. Hubungan Syariah dengan Tasawuf89

89
Hidayat, Nur. Akhlak Tasawuf. (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013)

60
C. Buku Sekunder Ketiga
“Akhlak Tasawuf”

Karya Dr. H. Jamil, MA.

a. Bab I Akhlak

Pada bab ini membahas tentang pengertian akhlak, ruang lingkup,


perbedaan akhlak, etika dan moral, kajian akhlak dalam lintasan sejarah
manusia, kedudukan akhlak dalam ajaran Islam, akhlak terpuji dan tercela,
kriteria seseorang telah mencapai tingkatan akhlak terpuji, hubungan
akhlak dan tasawuf, urgensi akhlak di zaman modern, serta akhlak dalam
kehidupan keluarga.90

b. Bab II Pengenalan Aklak Tasawuf Akhlaqi dan Falsafi

Pada bab ini membahas tentang sejarah akhlak tasawuf, tasawuf akhlaqi,
dan tasawuf falsafi.

c. Bab III Maqamat dan Ahwal

Pada bab ini membahas tentang maqamat dan ahwal dalam ilmu tasawuf.

d. Bab IV Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat, Fiqih, dan


Ilmu Jiwa Agama

Pada bab ini membahas tentang ilmu dalam pandangan kaum sufi,
hubungan ilmu tasawuf dengan beberapa ilmu lain.

e. Bab V Tasawuf Akhlaqi

Pada bab ini membahas tentang tokoh-tokoh yang mengembangkan


tasawuf akhlaqi.

f. Bab VI Tasawuf Irfani

90
Jamil, H.M. Akhlak Tasawuf. (Referensi, 2013)

61
Pada bab ini membahas tentang tokoh-tokoh yang mengembangkan
tasawuf irfani.

g. Bab VII Tasawuf Falsafi

Pada bab ini membahas tentang tokoh-tokoh yang mengembangkan


tasawuf falsafi.

h. Bab VIII Seputar Tarekat

Pada bab ini membahas tentang pengertian tarekat dan tarekat yang
berkembang di Indonesia.

i. Bab IX Tasawuf di Indonesia

Pada bab ini membahas tentang aliran tasawuf falsafi dan aliran tasawuf
sunni.

j. Bab X Seputar Tasawuf Syar’i

Pada bab ini membahas tentang syari’at, hakikat, dan landasan tasawuf
syar’i.

1. Perbandingan Buku Primer dengan Buku Sekunder


a. Kelebihan

Kelebihan dari buku ini adalah mampu memberikan informasi tentang


akhlak, mulai dari pengertian secara umum hingga pada hal-hal yang
sangat penting dalam proses pembentukan akhlak al-karimah. Pada buku
ini juga terdapat keterangan untuk bahasa-bahasa asing yang dicetak
miring. Buku ini juga memberikan penjelasan yang mudah dipahami oleh
masyarakat umum khususnya mahasiswa. 91

b. Kelemahan

91
Jamil, H.M. Akhlak Tasawuf. (Referensi, 2013)

62
Di dalam buku ini juga terdapat kelemahan seperti terdapat ayat atau
hadist yang sebagian tidak berharakat sehingga sedikit membingungkan
pembaca yang tidak memahami kaidah bahasa arab. Selain itu banyak
terdapat kata-kata yang diulang-ulang dan salah ketik. Tidak adanya
biografi pengarang sehingga kurang bisa memahami sejarah sekaligus
background dari penulis sendiri. Pada buku ini juga tidak terdapat
glosarium sebagai penjelasan dalam kalimat yang sulit untuk dipahami.92

D. Buku Sekunder Keempat


“Kuliah Akhlaq”

Karya Prof. Yunahar Ilyas.

Penulis buku “kuliah akhlaq”ini cukup sistematis dan mudah


difahami banyak kalangan baik oleh akademisi, mahasiswa, pelajar
maupun masyarakat secara umum jika kita melihat dari narasi daftar isi
buku ini, maka kita akan mengakui keteraturan penulis dalam
menyusunnya. Dimulai dengan pengertian akhlaq yang di tinjau dari
berbagai sumber dan literatur,cakupan serta keutamaan berakhlaqul
karimah, pada bagian selanjutnya dijelaskan bagimana akhlaq kepada yang
serba maha yaitu Allah swt. Sebelum akhlaq kepada yang lain di jelakan
,kemudian bagian selanjutnya di jelaskan bagaimana akhlaq kepada
Rasulullah Muhammad saw. ,akhlaq sebagai seorang muslim atau akhlaq
pribadi apa saja yang harus ada dan tertanam dalam diri individu sebagai
muslim termasuk bagimana akhlaq dalam keluarga sebagai ayah,ibu dan
anak, kemudian akhlaq dalam bermasyarakat dan akhlaq dalam bernegara
semua dijelaskan sesuai dengan Alquran dan Hadist Rosulullah saw,
sehingga semua cakupan bahasan tidak hanya bersumber dari rasio namun
dasarnya adalah Alquran dan sunnah.

92
Jamil, H.M. Akhlak Tasawuf. (Referensi, 2013)

63
Maka dari keberadaan masing-masing bab dalam buku ini semua
sama yaitu tentang Akhlaq sebagai seorang muslim sesuai tuntunan syariat
hanya saja masing-masing bab nya membahas tentang beberapa bentuk
akhlaq mulai dari akhlaq kepada Allah sebagai sang pencipta hingga
akhlaq dalam bernegara sebagaimana yang disebutkan pada sistematika
buku ini.
Selain nalar fikirnya dalam kepenulisan buku ini antara bahasan
bab 1 dan bab lainnya sangat berhubungan dan berkaitan erat dimana
persoanalan mengenai akhlaq bagi seorang muslim dibahas secara
konferhensif baik dari segi isi/cakupan bahasan yang diawali dengan
mengenal akhlaq,cakupan dan keutaman berakhlaq lalu di kaitan dengan
bentuk-bentuk akhlaq yang ada seperi akhlaq kepada Allah,akhlaq dalam
bernegara bagaimana harus sesuai dengan syariat Allah sebagai warga
Negara.93

E. Buku Sekunder Kelima


“Akhlak Tasawuf”

Karya Nasrul HS, S. Pd.I, M.A.

1. Pengantar
Buku perbandingan yang kelima berjudul, Berikut ini sedikit ulasan
materi pada buku sekunder sebagai pembanding:
a. Bab I Pengertian, Urgensi, dan relevansi Akhlak dengan Ilmu-ilmu
lain
Pada bab ini membahas tentang akhlak, etika, moral, adab,
perbedaan akhlak, etika, dan moral, urgensi akhlak, serta relevansi
akhlak dengan ilmu lainnya.
b. Bab II Dalil-dalil Pembentukan Akhlak

93
Ilyas, Yuhanar. Kuliah Akhlaq. (Yogyakarta: LPPI, 1999).

64
Pada bab ini membahas tentang pembentukan akhlak dan dalil-
dalil tentang akhlak.
c. Bab III Konsep Akhlak Mahmudah-Mazmumah dalam Al-Qur’an da
Hadis dan Aplikasinya dalam Kehidupan
Pada bab ini membahas tentang baik dan buruk dalam konteks
ilmu akhlak, konsep-konsep akhlak mahmudah dan mazmumah,
kriteria seseorang telah mencapai tingkatan akhlak terpuji,
peningkatan akhlak terpuji, serta implikasi akhlak terpuji dan tercela.
d. Bab IV Nabi Muhammad Al-Musthafa sebagai Induk Akhlak Islami
Pada bab ini membahas tentang nabi Muhammad Al-Musthafa
sebagai sumber akhlak Islami dalam pendidik, berekonomi, sosial
kemasyarakatan, dan berpolitik.
e. Bab V Akhlak dalam Kisah Teladan Nabi Ya’Qub a.s. dan
Aplikasinya dalam Kehidupan
Pada bab ini membahas tentang hikmah yang terkandung dalam
kisah-kisah teladan Nabi Ya’qub a.s.
f. Bab VI Akhlak dalam Kisah Teladan Nabi Khaidir dan Aplikasinya
dalam Kehidupan
Pada bab ini membahas tentang hikmah sikap Nabi Khaidir
kepada Nabi Musa dan pelajaran yang dapat diambil.
g. Bab VII Pengertian dan Asal-Usul Tasawuf
Pada bab ini membahas tentang pengertian tasawuf dan asal-
usul tasawuf.
h. Bab VIII Sejarah dan Perkembangan Tasawuf serta Pembentukannya
dalam Islam94
Pada bab ini membahas tentang sejarah lahirnya tasawuf, sejarah
perkembangan tasawuf dari masa ke masa, dan perkembangan
tasawuf di Indonesia.

94
Nasrul, HS. Akhlak Tasawuf. (Yogyakarta: CV Aswaja Pressindo, 2015).

65
i. Bab IX Relevansi Tasawuf dengan Berbagai Disiplin Ilmu lain dan
Urgensi Mempelajarinya
Pada bab ini membahas tentang relevansi ilmu tasawuf degan
bebeapa ilmu lain dan urgensi mempelajari akhlak tasawuf.
j. Bab X Konsep Hakikat Manusia dalam Perspektif Tasawuf
Pada bab ini membahas tentang jism, nafs, dan ruh dalam ilmu
tasawuf.
k. Bab XI Perjalanan Ruhani Menuju Allah
Pada bab ini membahas tentang jihad, ijtihad, dan mujahadah
dalam ilmu tasawuf.
l. Bab XII Konsep Al-Maqamat dan Al-Ahwal95
Pada bab ini membahas tentang maqamat dalam tasawuf dan juga
Al-Ahwal.

2. Perbandingan dengan Buku Primer


Buku primer berisi tentang pemahaman-pemahaman secara lebih
mendalam tentang akhlak dan tasawuf. Selain pemahaman, dalam buku
ini membahas tentang pembinaan karakter yang dikaitkan dengan
beberapa fenomena di Indonesia dan juga berhubungan dengan
pemahaman tersebut agar pembaca bisa lebih paham akan materi yang
sedang dijelaskan sebagaimana telah dipaparkan pada bab sebelumnya.
Buku sekunder memiliki isi yang hampir mirip dengan buku primer,
hanya saja pada buku ini dilengkapi dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan
Hadis yang lebih mendalam daripada buku primer. Selain itu, pada buku
ini juga digambarkan kisah-kisah teladan pada Nabi Ya’qub dan Nabi
Khaidir. Berikut beberapa perbandingan antara buku primer dengan buku
sekunder:

95
Nasrul, HS. Akhlak Tasawuf. (Yogyakarta: CV Aswaja Pressindo, 2015).

66
a. Pada buku primer tidak menjelaskan tentang adab sedangkan pada
buku sekunder menjelaskan tentang adab.
b. Pada buku primer dalil-dalil tentang akhlak dituliskan secara singkat
sedangkan pada buku sekunder dalil-dalil tentang akhlak diterangkan
secara khusus dan terperinci.
c. Pada buku sekunder digambarkan kisah-kisah teladan Nabi Ya’qub
dan Nabi Khaidir, sedangkan pada buku primer hanya
menggambarkan kisah tentang Rasulullah saja.
d. Pada buku primer penulisan buku ini berdasar pada metode kualitatif
atau merujuk kepada buku-buku yang berkaitan sedangkan pada
buku sekunder tidak merujuk kepada buku-buku tertentu.

F. Buku Sekunder Keenam


“Pengantar Ilmu Tasawuf”

Karya Drs. K. Permadi, S.H.


Buku yang diberi judul Pengantar Ilmu Tasawwuf mengantarkan kita pada
upaya dan pemikiran tentang pendalaman terhadap Tasawwuf di pandang dari
sudut agama Islam. Sebagaimana dikemukakan oleh pengarangnya dalam (Bab)
Pendahuluannya bahw Tasawwuf atau mistik atau suluk merupakan ilmu
pengetahuan yang mempelajari cara bagaimana orang dapat berada dan sedekat
mungkin dengan Tuhan-Nya.
Walaupun apa yang diuraikan tentang pengertian tasawwuf cukup
gamblang, namun masih banyak kalangan umat islam yang masih meragukan
bahwa Tasawwuf tidak bersumber dari ajaran islam. Padahal sebenarnya
Tasawwuf adalah pokok-pokok ajaran dari Nabi Muhammad SAW.
Segi manfaat dari Tasawwuf sebagaimana dikemukakan dalam buku ini
adalah dasar dari kekuatan batin untuk pembersihan jiwa, pemupuk iman, dan
penyubur amal soleh yang semuanya semata-mata agar memperoleh ridla
Allah.96

96
K. Permadi, Pengantar Ilmu Tasawwuf, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), cet. II.

67
G. Buku Sekunder Ketujuh
“Pengantar Ilmu Tasawuf “
Karya Usman Said
Timbulnya tasawuf dalam islam bersamaan dengan kelahiran agama islam
itu sendiri, yaitu semenjak Muhammad SAW di utus menjadi Rassul untuk
segenap umat manusia dan seluruh alam semesta. Fakta sejarah menunjukan
bahwa pribadi Muhammad sebelum di angkat menjadi Rassul dan berulang kali
melakukan tahannus dan khalwat di Gua Hira’ di samping untuk mengasingkan
diri dari masyarakat Makkah yang sedang mabuk untuk memperturutkan hawa
nafsu keduniaan. Juga Muhammad berusaha mencari jalan untuk membersihkan
hati dan mensucikan jiwa dari noda yang menghinggapi masyarakat pada waktu
itu.
Tahannuts yang di lakukan Muhammad di dalam Gua Hira’ merupakan
cahaya pertama dan utama bagi tasawuf atau itulah benih pertama bagi kehidupan
rohaniyah yang di sebut dengan ilham atau renungan rohaniyah. Sehingga dapat
kita pahami pola kehidupan Rasullah adalah pola kehidupan yang paling ideal
yang patut di tiru dalam segenap aspek kehidupan , baik dalam tata cara
peribadatan, maupun dalam tata cara berpakain dan sopan santun. Beramal siang,
malam, makan dan berpakain dengan pola kehidupan sederhana dan bersahaja.
Sikap dan tingkah lakunya di kagumi oleh segenap kawan dan lawan, pokoknya
hidup Rasulullah merupakan Khazanah dan ibrah bagi kehidupan para Sufi.97

H. Buku Sekunder Kedelapan


“Tasawuf dan Perkembannganya dalam Islam”
Karya Simuh
Tasawuf memiliki pengaruh sangat besar terhadap dunia Islam, karena
ajaran dan pemahamannya berdampak kepada sikap benci atau menjauhi
kehidupan duniawi dan menjadikan seseorang tidak menggunakan
kesempatannya sebagai umat manusia pada umumnya. Dengan begitu, maka

97
Usman, Said. Pengantar Ilmu Tasawuf. (Medan: IAIN Sumatera Utara, 1982)

68
manusia menjadi lemah, tidak mampu mengorbankan dan bersedekah dengan
harta, karena kekayaan duniawi telah dibencinya.98

I. Buku Sekunder Kesembilan


“Risalah Memahami Ilmu Tasawuf”
Karya Moh. Syaifullah Al Aziz
Buku ini menjelaskan asal mula kata sufi, pengentian tasawwuf menurut para
ahli, lebih menjelaskan perbedaan pendapat mengenai makna tasawwuf. salah
satunya pendapat Menurut Prof. Dr. H. Abu bakar aceh mengatakan bahwa
tashawuf itu diartikan mencari jalan untuk memperoleh kecintaan dan
kesempurnaan rohani. Menjelaskan pula sumber-sumber tasawuf yang isinya
hampir sama dengan buku primer.
Buku ini terdiri dari sembila bab yang didalamnya terdapat sub-sub bab yang
memperinci pokok-pokok pembahasan secara detail. Terdiri dari, bab pertama
pendahuluan, bab kedua membahas sejarah singkat perkembangan dan
pertumbuuhan tasawuf, bab ketiga mebahas tentang memasuki jalan tasawuf, bab
keempat membahas Riyadlah dan Tingkatan yang ditempuh dalam bertasswuf,
bab kelima membahas tentang menapak jalan tasawuf menuju ma’rifat kepada
Allah, bab keenam membahas tentang memasuki maqam ma’rifat billah, bab
ketujuh membahas Ma’rifat Billah, bab kedelapan waliyullah dan karamah,
terakhir do’a dan munajat.99

98
Simuh. 1996. Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada.

99
Moh. Syaifullah Al Aziz, Risalah Memahami Ilmu Tashawwuf, (Surabaya : Terbit
Terang, 1998).

69
BAB III
PENUTUP

C. Kesimpulan
Demikianlah beberapa pandangan serta pembahasan mengenai Akhlak
Tasawuf dan Karakter Mulia yang dapat disampaikan kepada para pembaca.
Berdasarkan hasil bacaan dari buku-buku yang berkaitan peresensi meyakini
bahwa akhlak tasawuf dan karakter tidak dapat dipelajari atau dipahami
semata-mata berdasarkan ilmu pengetahuan, akan tetapi mencoba untuk
dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan uraian dari pembahasan diatas telah memberikan


informasi yang amat jelas tentang cara-cara yang harus ditempuh seseorang
yang menghendaki kehidupan yang baik guna selamat hidup dunia dan
akhirat. Akhlak merupakan hiasan diri yang membawa keberuntungan bagi
yang mengerjakannya. Ia akan disukai oleh Allah dan disukai umat manusia
dan makhluk lainnya. Namun, dalam pelaksanaannya akhlak dalam Islam itu
memerlukan penjabaran dan pengembangan yang dihasilkan akal manusia
melalui ijtihad. Pemikiran dalam bentuk konsep etika, moral dan susila dapat
digunakan untuk menjabarkan berbagai ketentuan akhlak yang bersifat
mutlak, universal dan general yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis.

Tasawuf yang dibangun oleh para ulama sufi juga mengandung nilai-
nilai luhur yang berhubungan erat dengan pembinaan akhlak yang mulia.
Untuk itulah, tidak salah jika antara akhlak dan tasawuf disandingkan secara
berdampingan untuk bahu-membahu membimbing manusia kepada kehidupan
yang ideal sebagaimana terlihat dalam konsep insan kamil.

70
Sebagai sebuah ilmu hasil ijtihad manusia, akhlak tasawuf sama
dengan ilmu ainnya. Di sana ada kekurangan, kelemahan dan keganjilan, dan
di sana pula ada kelebihan, kekuatan dan keistimewaan. Kiranya cara yang
bijaksana yang perlu kita tempuh adalah apabila kita mengambil kelebihan,
kekuatan dan keistimewaan dari tasawuf itu untuk memandu hidup kita, dan
meluruskan paham-paham yang kurang proporsional. Sikap yang adil ini
nampaknya belum banyak berkembang di kalangan masyarakat. Ajaran
akhlak tasawuf juga berkaitan degan pendidikan karakter.

D. Tabel Perbandingan
Perbandingan Buku Primer “Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia” Karya Prof.
Dr. H. Abuddin Nata, M.A. dengan Buku Sekunder “Akhlak Tasawuf
” karya Dr. H. Badrudin, M. Ag.
No Aspek Buku Primer Buku Sekunder
Pembanding (Akhlak Tasawuf dan (Akhlak Tasawuf)
Karakter Mulia)
1 Bahasa yang Cukup jelas dan tersedia Cukup jelas dan mudah
digunakan glosarium kata untuk dipahami oleh pembaca.
penjelasan berbagai kata yang
belum jelas.
2 Intisari Memfokuskan pada tiga Membahas tentang
pembahasan pokok yaitu akhlak tasawuf tetapi
akhlak tasawuf dan karakter lebih difokuskan
mulia. mengenai tasawufnya.
3 Jumlah BAB Ada 24 bab dan terdapat Hanya terdapat 4 bab
banyak sub-bab didalamnya. dan sub-bab tidak terlalu
banyak.
4 Tata Letak Dalam tata letak, buku ini Buku ini belum
Buku memiliki format yang sudah menggunakan front dan

71
cukup baik sehingga dapat footnote pada umumnya.
mudah dipahami oleh Sehingga pembaca
pembaca. sedikit kesulitan dalam
membacanya.
5 Tingkat Buku ini memiliki tingkat Buku ini mutakhir
Kemutakhiran kemutakhiran yang bagus materinya cukup lengkap
karena jika dilihat dari untuk mendalami akhlak
berbagai aspek, buku ini sudah tasawuf dengan baik
tersusun secara sistematis dan sesuai dengan tuntutan
dapat digunakan sebagai bahan syariat.
acuan mengajar.
7 Relevansi Buku yang terdiri dari tiga Antar judul dan isi buku
Hubungan materi ini tersusun secara tersebut terdapat
sistematis susunan babnya. keterkaitan dengan
Pembahasan dalam buku ini materi yang cukup jelas.
yaitu tentang akhlak, tasawuf
dan pendidikan karakter
dibahas dengan cukup luas dan
jelas.
8 Isi Buku Materi yang dibahas dalam Materi yang dibahas
buku ini sudah cukup rinci dan cukup lengkap.
pembahasannya luas dan jelas. Pembahasanny cukup
luas.

72
DAFTAR PUSTAKA

Badrudin, H. 2015. Akhlak Tasawuf. Serang: IAIB PRESS.

Hidayat, Nur. 2013. Akhlak Tasawuf. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Ilyas, Yuhanar. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LPPI, 1999.

Jamil, H.M. 2013. Akhlak Tasawuf. Referensi

Moh. Syaifullah Al Aziz, 1998, Risalah Memahami Ilmu Tashawwuf, Surabaya :


Terbit Terang.
Nasrul, HS. 2015. Akhlak Tasawuf. Yogyakarta: CV Aswaja Pressindo

Nata, Abuddin. 2013. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta: PT Raja
Garfindo Persada
Permadi, K.1997.Pengantar Ilmu Tasawwuf. PT Rineka Cipta
Simuh. 1996. Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam. Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada.
Usman, Said. 1982. Pengantar Ilmu Tasawuf. Medan: IAIN Sumatera Utara.

73
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Data Pribadi

Nama : Abdul Aziz


Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 29 Maret 1999
Kewarganegaraan : Indonesia
Status : Mahasiswa
Tinggi, berat badan : 173 cm, 70 kg
Agama : Islam
Alamat Asal : Jl. Kramat P. Syarief RT 10/001 No.74c
Lubang Buaya Cipayung Jakarta Timur 13810
Alamat tinggal : Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul
Mubtadi’ien Jl. Raden Ronggo Gg. Garuda KG II 1051 RT 031/013 Prenggan
Kotagede Kota Yogyakarta 55172
Telepon / email : 081383736223 / dulzizab29@gmail.com

Riwayat Pendidikan

2005 – 2011 : SDN Lubang Buaya 01 Pagi.


2011 – 2014 : SMP Negeri 157 Jakarta.
2014 – 2017 : SMA Negeri 93 Jakarta.
2017 – Sekarang : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Riwayat Organisasi

2015 – 2016 : Koordinator Lapangan Paskibra SMA Negeri 93


Jakarta

74
2017 – Sekarang : Anggota Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa
Betawi DKI Jakarta
2017 – Sekarang : Ketua Santri 3 Blok Wahab Hasbullah Keluarga
Mahasiswa Nahdlatul Ulama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2018 – Sekarang : Anggota Departemen Keilmuan dan Riset Himpunan
Mahasiswa Program Studi Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

75