Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya
untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun
rohaniah kepada tenaga kerja, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan
budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.
Keselamatan dan keamanan kerja mempunyai banyak pengaruh
terhadap faktor kecelakaan, karyawan harus mematuhi standar (K3) agar tidak
terjadi hal-hal yang negatif bagi diri karyawan. Terjadinya kecelakaan banyak
dikarenakan oleh penyakit yang diderita karyawan tanpa sepengetahuan
pengawas (K3), seharusnya pengawasan terhadap kondisi fisik di terapkan
saat memasuki ruang kerja agar mendeteksi sacera dini kesehatan pekerja saat
akan memulai pekerjaanya. Keselamatan dan kesehatan kerja perlu
diperhatikan dalam lingkungan kerja, karena kesehatan merupakan keadaan
atau situasi sehat seseorang baik jasmani maupun rohani sedangkan
keselamatan kerja suatu keadaan dimana para pekerja terjamin keselamatan
pada saat bekerja baik itu dalam menggunakan mesin, pesawat, alat kerja,
proses pengolahan juga tempat kerja dan lingkungannya juga terjamin.
Apabila para pekerja dalam kondisi sehat jasmani maupun rohani dan
didukung oleh sarana dan prasarana yang terjamin keselamatannya maka
produktivitas kerja akan dapat ditingkatkan. Masalah kesehatan adalah suatu
masalah yang kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain
di luar kesehatan itu sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan,
baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat, antara lain: keturunan,
lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan.
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu aspek
perlindungan tenaga kerja yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13
Tahun 2003. Dengan menerapkan teknologi pengendalian keselamatan dan
kesehatan kerja, diharapkan tenaga kerja akan mencapai ketahanan fisik, daya
kerja, dan tingkat kesehatan yang tinggi. Disamping itu keselamatan dan

1
kesehatan kerja dapat diharapkan untuk menciptakan kenyamanan kerja dan
keselamatan kerja yang tinggi. Jadi, unsur yang ada dalam kesehatan dan
keselamatan kerja tidak terpaku pada faktor fisik, tetapi juga mental,
emosional dan psikologi.
Meskipun ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja telah
diatur sedemikian rupa, tetapi dalam praktiknya tidak seperti yang diharapkan.
Begitu banyak faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan
keselamatan kerja seperti faktor manusia, lingkungan dan psikologis. Masih
banyak perusahaan yang tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan
kerja. Begitu banyak berita kecelakaan kerja yang dapat kita saksikan. Dalam
makalah ini kemudian akan dibahas mengenai kecelakaan kerja yang telah
terjadi pada ”Pekerja yang Tewas Tertimpa Backhoe di Pelabuhan Indah Kiat
Cilegon” pada hari Selasa, 27 November 2018.

1.2 Topik Bahasan


Topik bahasan dari makalah ini yaitu membahas tentang faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya kecelakaan yang menimpa pada ”Pekerja yang
Tewas Tertimpa Backhoe di Pelabuhan Indah Kiat Cilegon” dan menganalisis
tentang kecelakaan tersebut dilihat dari berbagai pernyataan serta hasil
identifikasi sementara dari saksi mata di tempat kejadian. Identifikasi tersebut
dijabarkan dalam beberapa aspek sebagai berikut.
 Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
 Manajemen K3
 Hukum produk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
 Struktur hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
 Undang- undang yang mengatur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini diantaranya adalah untuk mengidentifikasi
penyebab terjadinya kecelakaan yang terjadi pada ”Pekerja yang Tewas
Tertimpa Backhoe di Pelabuhan Indah Kiat Cilegon” dan menganalisis tentang
kecelakaan tersebut serta mengidentifikasi kemungkinan terjadinya kecelakaan
tersebut.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Paparan Kasus (dikutip dari detik.com)


Cilegon - Kecelakaan kerja terjadi di Pelabuhan Indah Kiat, Merak, Kota
Cilegon, Banten. Seorang pekerja, Ahmad Sulaeman (46), tewas
tertimpa backhoe.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa (27/11/2018) sekitar pukul 09.00 WIB.
Saat itu backhoe yang rusak hendak diturunkan dari atas kapal Green World
berbendera Panama.
Saat alat berat itu diturunkan, Ahmad Sulaeman (46) justru naik ke
atas backhoe. Padahal rekan kerjanya sudah memperingatkan korban untuk tidak
turun bersama alat berat tersebut.
"Kronologisnya lagi nurunin alat backhoe dari atas kapal. Nah si korban
ini ikut di atasnya, sudah dilarang nggak boleh, dia nekat naik di atas sana, nggak
lama talinya putus," kata Kapolsek Kawasan Pelabuhan Banten AKP Zamrul saat
dimintai konfirmasi, Selasa (27/11).
Setelah sling putus, korban jatuh tertimpa alat berat yang dinaikinya.
Sulaeman tewas seketika saat alat berat itu jatuh.
Polisi yang menerima laporan tersebut langsung melakukan olah TKP di
Pelabuhan Indah Kiat. Saat ini, lokasi kejadian sudah digaris polisi. "Kita minta
keterangan saksi-saksi, rekan korban dan lain lain," ujarnya.
Korban langsung dibawa ke RSUD Drajat Prawiranegara Serang untuk
diautopsi.

B. Analisis dari Paparan Permasalahan ditinjau dari Pengertian, Teori, serta


Undang-undang yang Berlaku
1. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
a. Keamanan Kerja
Keamanan kerja adalah unsur-unsur penunjang yang mendukung
terciptanya suasana aman, baik berupa materil maupun nonmateril.
b. Kesehatan Kerja

3
Kesehatan adalah keadaan sejahtera/bebas dari segala penyakit-
penyakit dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang
hidup produktif secara sosial dan ekonomis dalam pekerjaan.
c. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja hanya dideskripsikan sebagai keadaan dimana
seseorang merasa aman dan sehat dalam melaksanakan tugasnya.
Aman yang mencakup keamanan dari terjadinya kecelakaan, dan sehat
mencakup berbagai faktor penyakit yang muncul dalam proses kerja.

Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa K3 ini adalah sebagian


ilmu yang penerapannya sebagai unsur-unsur penunjang seorang karyawan
agar selamat saat sedang bekerja dan setelah mengerjakan pekerjaannya.

2. Sejarah Perkembangan Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


1. Sejarah Pertumbuhan Pengawasan Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja bersifat umum dan ditujukan untuk keselamatan


seluruh umat manusia. Hal ini dibuktikan dengan diadakannya international
safety conference pada beberapa negara. Roma merupakan negara pertama
yang menjadi tuan rumah atas diadakannya international safety conference
yang diselenggarakan pada tahun 1955 dan dihadiri oleh 27 negara lain.
Selanjutnya di Brussel, Belgia pada tahun 1958 yang diikuti 51 negara,
kemudian Paris pada tahun 1961, dan yang keempat dilangsungkan di
London, Inggris. Sampai sekarang perihal kesehatan dan keselamatan kerja
terus mengalami perkembangan demi meminimalisir terjadinya kecelakaan
kerja.

2. Sejarah Keselamatan Kerja

a) Sebelum Masehi

Kurang lebih sekitar tahun 1700 sebelum masehi, kerajaan


Babilonia mempunyai seorang raja yang bernama Hamurabi yang menaruh
perhatian besar terhadap keselamatan kerja dan dalam kitab undang-
undangnya tertulis sebagai berikut.

4
“Apabila seorang ahli bangunan membuat rumah untuk seseorang
dan pembuatannya tidak dilaksanakan dengan baik sehingga rumah itu
roboh, maka ahli bengunan itu harus dibinasakan dan apabila anak pemilik
rumah itu menjadi korban hingga meninggal, maka anak dari ahli
bangunan itu harus dibunuh. Jika budak dari pemilik rumah itu yang
menjadi korban hingga meninggal, maka ia harus diganti”.

Pada zaman Mozai (5 abad setelah Hamurabi), menyatakan bahwa


ahli bangunan bertanggung jawab atas keselamatan pelaksana atau
pekerja-pekerjanya dan dalam undang-undang ketika itu tercantum:
Barangsiapa membangun rumah baru tidak menghendaki pekerja jatuh ke
tanah dari tempat tinggi, maka pada tiap ujung atap rumah yang sedang
dibangun harus diberi pagar pengaman”. Hal ini menunjukkan bahwa
keselamatan para pekerja adalah hal yang wajib untuk diperhatikan.

b) Setelah Masehi

Kurang lebih 80 tahun setelah masehi, untuk pertama kalinya di


Roma, persoalan keselamatan dan kesehatan kerja mendapat perhatian.
Ketika itu dituliskan oleh plinius, suatu syarat bahwa para pekerja di
tambang diharuskan memakai tutup hidung atau kedok. Dalam tulisannya,
Pilnius menyinggung-nyinggung pula perihal penyakit (sakit kerja/
beroepsziekte/ occupational desease).

Pada tahun 1450 Dominico Fontana diserahi tugas membangun


Obelisk di tengah-tengah lapangan St. Pieter di Roma. Dominico Fontana
mengharuskan para pekerjanya memakai topi baja seperti lazimnya dipakai
oleh tentara. Hal ini dimaksudkan agar kepala para pekerja aman dari
benda-benda yang berjatuhan.

Dalam sejarah pernah dijumpai cetusan peri kemanusiaan dari


seorang ibu kepada anak perempuannya, tanggal 4 November 1671 yang
antara lain berbunyi: “Aku telah melihat di tempat yang tinggi sepuluh
atau duabelas orang tukang yang sedang bekerja mengangkat atap untuk
suatu bangunan. Mereka berjalan di atas melalui gelandar-gelandar dan
balok-balok dalam keadaan terlepas satu sama lainnya, sehingga sewaktu-

5
waktu dapat bergeser dan tukang itu dapat tergelincir dan jatuh untuk
mengakhiri hidupnya, maka manusia wajib berterima kasih kepada Tuhan
Yang Maha Esa, bahwa ada sebagian manusia yang mau menerima upah
kecil untuk pekerjaan sangat membahayakan baginya walaupun sebagian
lainnya tidak akan mau mengerjakannya, walaupun dibayar dengan upah
yang besar”.

Sejak saat itu, perubahan besar dalam bentuk maupun jenis


kecelakaan dalam industri dimulai setelah berhasilnya revolusi industri
pada abad 18. Setelah pemakaian tenaga uap, tenaga listrik dalam proses
mekanisasi dan elektrifikasi pada industri, muncul bentuk-bentuk
kecelakaan yang lain. Penyebaran mesin-mesin industri modern secara
teratur dan peningkatan pemakaian bermacam-macam bahan untuk
keperluan industri juga semakin meningkatkan terjadinya kecelakaan.

Tujuan penggunaan teknologi maju disamping untuk meningkatkan


efisiensi dan produktivitas, juga dimaksudkan untuk mengurangi tingkat
resiko kecelakaan yang terjadi dengan menciptakan peralatan produksi
yang tidak banyak menimbulkan bahaya kecelakaan. Oleh sebab itu,
dibuatlah peraturan-peraturan mengenai berbagai jenis keselamatan kerja,
seperti halnya:

 Keselamatan kerja di dalam industri (industrial safety)


 Keselamatan kerja di pertambangan (mining safety)
 Keselamatan kerja dalam bangunan (building and construction
safety)
 Keselamatan kerja lalu lintas (traffic safety)
 Keselamatan kerja penerbangan (fight safety)
 Keselamatan kerja kereta api (railway safety)
 Keselamatan kerja di rumah (home safety)
 Keselamatan kerja di kantor (office safety)

3. Falsafah Keselamatan Kerja

Arti dan tujuan keselamatan kerja dapat diterangkan dalam perumusan


sebagai berikut.

6
“Menjamin keadaan, keutuhan, dan kesempurnaan baik jasmani maupun
rohani manusia serta hasil karya dan budayanya, tertuju pada kesejahteraan
masyarakat pada umumnya dan manusia pada khususnya”.

Keselamatan kerja mempunyai sasaran terperinci, yaitu meliputi:

a) Mencegah terjadinya kecelakaan;


b) Mencegah timbulnya penyakit akibat pekerjaan;
c) Mencegah/mengurangi kematian;
d) Mencegah/mengurangi cacat tetap;
e) Mengamankan material, konstruksi, pemakaian, pemeliharaan
bangunan-bangunan, alat-alat kerja, mesin-mesin, pesawat-pesawat,
instalasi-instalasi, dan sebagainya;
f) Meningkatkan produktivitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan
menjamin kehidupan produktinya;
g) Mencegah pemborosan tenaga kerja , modal, alat-alat, dan sumber-
sumber produksi lainnya sewaktu kerja dan sebagainya;
h) Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, nyaman, dan aman
sehingga dapat menimbulkan kegembiraan, dan semangat kerja;
i) Memperlancar, meningkatkan, dan mengamankan produksi, industri,
serta pembangunan.

4. Sejarah dan Pertumbuhan tentang Pengawasan Keselamatan Kerja

Setelah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, pada


tanggal 6 September 1950 dibentuklah Kementrian Perburuhan. Sejak
terbentuknya Kementrian Perburuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang berkedudukan di Jakarta, maka Jawatan Keselamatan
Kerja mengalami perubahan dan perkembangan. Pada tanggal 10 Oktober
1950 dibentuk Jawatan Pengawasan Keselamatan Kerja yang terdiri atas
Kantor Pusat dan Kantor Daerah. Pada tanggal 1 Juli 1951, Jawatan
Keselamatan Kerja digabungkan dengan Jawatan Pengawasan Perburuhan
menjadi satu, yaitu Jawatan Pengawasan Perburuhan.

Penggabungan kedua jawatan itu setelah beberapa tahun


dijalankan, ternyata tidak menguntungkan dan tidak berjalan dengan lancar

7
dikarenakan soal psikologis dan teknis penggabungan. Sehingga tanggal 1
Januari 1959 dengan peraturan Menteri Perburuhan tanggal 19 Desember
1958 No.24 Tahun 1958 diadakan perubahan terhadap peraturan Menteri
Perburuhan tanggal 3 Mei 1954 No. 70 Tahun 1954 dan dibentuk Jawatan
Keselamatan Kerja dengan bentuk dan kedudukan seperti sekarang ini,
terpisah dari Jawatan Pengawasan Perburuhan.

3. Hukum Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja/ SMK3


Hukum manajemen K3 berlandaskan pada Peraturan Menteri Tenaga
Kerja RI No. Per-05/MEN/1966 tentang sistem-sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja yang selanjutnya disebut SMK3. SMK3
adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi
struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur,
proses dan sumber daya yang dibutuhkan pengembangan, penerapan,
pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan
kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan
kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman dan produktif. Setiap
perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau
lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh
karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan
kecelakaan kerja wajib menerapkan sistem manajemen K3, sistem manajemen
K3 dilaksanakan oleh pengurus, pengusaha, dan seluruh tenaga kerja sebagai
satu kesatuan. Isi dari Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-
05/MEN/1966 tentang sistem sistem manajemen keselamatan dan kesehatan
kerja yakni sebagai berikut:
 Komitmen dan Kebijakan
Pengurus harus menunjukkan kepemimpinan dan komitmen terhadap K3
dengan menyediakan sumber daya yang memadai. Pengusaha dan
pengurus harus menunjukkan komitmen terhadap K3 yang diwujudkan
dalam: (1) menetapkan organisasi K3 pada posisi yang dapat menentukan
keputusan perusahaan, (2) menyediakan anggaran, tenaga kerja yang
berkualitas dan sarana-sarana lain yang diperlukan di bidang K3, (3)
menetapkan personel yang mempunyai tanggung jawab, wewenang dan

8
kewajiban yang jelas dalam penanganan K3, (4) perencanaan
K3 yang terkoordinasi, (5) melakukan penilaian kinerja dan tindak lanjut
pelaksanaan K3.
 Perencanaan
Perusahaan harus membuat perencanaan yang efektif guna
mencapai keberhasilan penerapan SMK3 dengan sasaran yang jelas dan
dapat diukur. Perencanaan harus memuat tujuan, sasaran dan indicator
kinerja yang ditetapkan dengan mempertimbangkan identifikasi sumber
bahaya, penilaian dan pengendalian resiko sesuai dengan persyaratan
perundangan-undangan yang berlaku serta hasil pelaksanaan tinjauan awal
terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Perusahaan harus menetapkan
dan memelihara prosedur untuk inventarisasi, identifikasi dan pemahaman
peraturan perundangan dan persyaratan lainnya yang berkaitan
dengan K3 sesuai dengan kegiatan perusahaan yang bersangkutan.
Pengurus harus menjelaskan peraturan perundangan dan persyaratan
lainnya kepada tenaga kerja.
 Penerapan
Dalam penerapan SMK3 yang efektif perlu dipertimbangkan hal-hal
sebagai berikut: (1) menyediakan sumber daya yang memadai sesuai
dengan ukuran dan kebutuhan, (2) melakukan identifikasi kompetensi
kerja yang diperlukan pada setiap tingkatan manajemen perusahaan dan
menyelenggarakan setiap pelatihan yang dibutuhkan, (3) membuat
ketentuan untuk mengomunikasikan informasi keselamatan dan kesehatan
kerja secara efektif, (4) membuat peraturan untuk mendapatkan pendapat
dan saran dari para ahli, (5) membuat peraturan untuk pelaksanaan
konsultasi dan keterlibatan tenaga kerja secara aktif.
 Pengukuran dan Evaluasi
Audit adalah pemeriksaan secara sistematik dan independen
untuk menentukan suatu kegiatan dan hasil-hasil yang berkaitan sesuai
denganpengaturan yang direncanakan, dan dilaksanakan secara efektif dan
cocok untuk mencapai kebijakan dan tujuan perusahaan. Audit sistem
manajemen K3 harus dilakukan secara berkala untuk mengetahui

9
keefektifan penerapan SMK3. Audit harus dilaksanakan secara sistematik
dan independen oleh personel yang memiliki kompetensi kerja dengan
menggunakan metodologi yang sudah ditetapkan. Frekuensi audit harus
ditentukan berdasarkan tinjauan ulang hasil audit sebelumnya
dan bukti sumber bahaya yang didapatkan ditempat kerja. Hasil audit
harus digunakan oleh pengurus dalam proses tinjauan ulang manajemen.
Tinjauan Ulang dan Peningkatan Oleh Pihak Manajemen Pimpinan yang
ditunjuk harus melakukan tinjauan ulang seluruh kegiatan, produk
barang dan jasa termasuk dampaknya terhadap kinerja perusahaan.
Tinjauan ulang SMK3 dilakukan secara berkala untuk menjamin
kesesuaian dan keefektifan yang berkesinambungan dalam pencapaian
kebijakan dan tujuan K3. Tinjauan ulang sistem manajemen K3 harus
meliputi: (1) evaluasi terhadap penerapan kebijakan dan keselamatan
kerja, (2) tujuan, sasaran dan kinerja K3, (3) hasil temuan audit SMK3, (4)
evaluasi efektifitas penerapan SMK3.
4. Hukum Produk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Tujuan dan sasaran K3 yaitu menciptakan suatu sistem keselamatan dan
kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan tenaga kerja, kondisi
dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mengurangi
kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang
aman. Oleh karena itu diperlukan suatu payung hukum untuk melindungi para
pekerja di tempat kerja. Adapun dasar hukum yang menjadi payung para
pekerja tentang K3 antara lain:
1. Undang-undang
a. Undang-undang Republik Indonesia No. 21 tahun 2003 tentang
pengesahan ILO Convention No. 81 mengenai pengawasan
ketenagakerjaan dalam industri dan perdagangan,
b. Undang-undang Republik Indonesia No. 13 tahun 2003 tentang
ketenagakerjaan,
c. Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja.
2. Peraturan Pemerintah

10
a. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1973 tentang pengaturan dan
pengawasan keselamatan kerja di bidang pertambangan,
b. Peraturan Pemerintah No. 11 tahun 1979 tentang keselamatan kerja
pada pemurnian dan pengolahan minyak dan gas bumi.
3. Peraturan Menteri dan Keputusan Menteri
a. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
01/MEN/1978 tentang keselamatan dan kesehatan kerja dalam
pengangkutan dan penebangan kayu,
b. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
03/MEN/1978 tentang persyaratan penunjukkan dan wewenang, serta
kewajiban pegawai pengawas keselamatan dan kesehatan kerja dan ahli
keselamatan kerja,
c. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
01/MEN/1980 tentang keselamatan dan kesehatan
kerja pada konstruksi bangunan,
d. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
03/MEN/1999 tentang syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja
lift untuk pengangkutan orang dan barang,
e. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
03/MEN/1985 tentang keselamatan dan kesehatan kerja pemakaian
asbes,
f. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Per-
03/MEN/1986 tentang syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja di
tempat kerja yang mengelola pestisida.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang
memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat
sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut
merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan
mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero
accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya
pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang
menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap

11
sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang
berlimpah pada masa yang akan datang.
Bagaimana K3 dalam perspektif hukum? Ada tiga aspek utama
hukum K3 yaitu norma keselamatan, kesehatan kerja, dan kerja nyata.
Norma keselamatan kerja merupakan sarana atau alat untuk mencegah
terjadinya kecelakaan kerja yang tidak diduga yang disebabkan oleh
kelalaian kerja serta lingkungan kerja yang tidak kondusif. Konsep ini
diharapkan mampu menihilkan kecelakaan kerja sehingga mencegah
terjadinya cacat atau kematian terhadap pekerja, kemudian mencegah
terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja. Konsep ini juga
mencegah pencemaran lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tempat
kerja.Norma kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu
menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya.
K3 dapat melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat
kerja, misalnya kebisingan, pencahayaan (sinar), getaran, kelembaban
udara, dan lain-lain yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat
pendengaran, gangguan pernapasan, kerusakan paru-paru, kebutaan,
kerusakan jaringan tubuh akibat sinar ultraviolet, kanker kulit,
kemandulan, dan lain-lain. Norma kerja berkaitan dengan manajemen
perusahaan. K3 dalam konteks ini berkaitan dengan masalah pengaturan
jam kerja, shift, kerja wanita, tenaga kerja kaum muda, pengaturan jam
lembur, analisis dan pengelolaan lingkungan hidup, dan lain-lain. Hal-hal
tersebut mempunyai korelasi yang erat terhadap peristiwa kecelakaan
kerja.
Eksistensi K3 sebenarnya muncul bersamaan dengan revolusi
industri di Eropa, terutama Inggris, Jerman dan Prancis serta revolusi
industri di Amerika Serikat. Era ini ditandai adanya pergeseran besar-
besaran dalam penggunaan mesin-mesin produksi menggantikan tenaga
kerja manusia. Pekerja hanya berperan sebagai operator. Penggunaan
mesin-mesin menghasilkan barang-barang dalam jumlah berlipat ganda
dibandingkan dengan yang dikerjakan pekerja sebelumnya. Revolusi
Industri Namun, dampak penggunaan mesin-mesin adalah pengangguran

12
serta risiko kecelakaan dalam lingkungan kerja. Ini dapat menyebabkan
cacat fisik dan kematian bagi pekerja. Juga dapat menimbulkan kerugian
material yang besar bagi perusahaan. Revolusi industri juga ditandai oleh
semakin banyak ditemukan senyawa-senyawa kimia yang dapat
membahayakan keselamatan dan kesehatan fisik dan jiwa pekerja
(occupational accident) serta masyarakat dan lingkungan hidup.
Pada awal revolusi industri, K3 belum menjadi bagian integral dalam
perusahaan. Pada era in kecelakaan kerja hanya dianggap sebagai
kecelakaan atau resiko kerja (personal risk), bukan tanggung jawab
perusahaan. Pandangan ini diperkuat dengan konsep common law defence
(CLD) yang terdiri atas contributing negligence (kontribusi kelalaian),
fellow servant rule (ketentuan kepegawaian), dan risk assumption (asumsi
resiko) (Tono, Muhammad: 2002). Kemudian konsep ini berkembang
menjadi employers liability yaitu K3 menjadi tanggung jawab pengusaha,
buruh/pekerja, dan masyarakat umum yang berada di luar lingkungan
kerja.Dalam konteks bangsa Indonesia, kesadaran K3 sebenarnya sudah
ada sejak pemerintahan kolonial Belanda. Misalnya, pada 1908 parlemen
Belanda mendesak Pemerintah Belanda memberlakukan K3 di Hindia
Belanda yang ditandai dengan penerbitan Veiligheids Reglement,
Staatsblad No. 406 Tahun 1910. Selanjutnya, pemerintah kolonial Belanda
menerbitkan beberapa produk hukum yang memberikan perlindungan bagi
keselamatan dan kesehatan kerja yang diatur secara terpisah berdasarkan
masing-masing sektor ekonomi. Beberapa di antaranya yang menyangkut
sektor perhubungan yang mengatur lalu lintas perketaapian seperti tertuang
dalam Algemene Regelen Betreffende de Aanleg en de Exploitate van
Spoor en Tramwegen Bestmend voor Algemene Verkeer in Indonesia
(Peraturan umum tentang pendirian dan perusahaan Kereta Api dan Trem
untuk lalu lintas umum Indonesia) dan Staatblad 1926 No. 334,
Schepelingen Ongevallen Regeling 1940 (Ordonansi Kecelakaan Pelaut),
Staatsblad 1930 No. 225, Veiligheids Reglement (Peraturan Keamanan
Kerja di Pabrik dan Tempat Kerja), dan sebagainya. Kepedulian Tinggi
Pada awal zaman kemerdekaan, aspek K3 belum menjadi isu strategis dan

13
menjadi bagian dari masalah kemanusiaan dan keadilan. Hal ini dapat
dipahami karena Pemerintahan Indonesia masih dalam masa transisi
penataan kehidupan politik dan keamanan nasional. Sementara itu,
pergerakan roda ekonomi nasional baru mulai dirintis oleh pemerintah dan
swasta nasional.
K3 baru menjadi perhatian utama pada tahun 70-an searah dengan
semakin ramainya investasi modal dan pengadopsian teknologi industri
nasional (manufaktur). Perkembangan tersebut mendorong pemerintah
melakukan regulasi dalam bidang ketenagakerjaan, termasuk pengaturan
masalah K3. Hal ini tertuang dalam UU No. 1 Tahun 1070 tentang
Keselamatan Kerja, sedangkan peraturan perundang-undangan
ketenagakerjaan sebelumnya seperti UU Nomor 12 Tahun 1948 tentang
Kerja, UU No. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Mengenai Tenaga Kerja tidak menyatakan secara eksplisit konsep K3 yang
dikelompokkan sebagai norma kerja.Setiap tempat kerja atau perusahaan
harus melaksanakan program K3. Tempat kerja dimaksud berdimensi
sangat luas mencakup segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di
permukaan tanah, dalam air, di udara maupun di ruang angkasa.
Pengaturan hukum K3 dalam konteks di atas adalah sesuai dengan
sektor/bidang usaha. Misalnya, UU No. 13 Tahun 1992 tentang
Perkerataapian, UU No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan (LLAJ), UU No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan beserta
peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. Selain sekor perhubungan di
atas, regulasi yang berkaitan dengan K3 juga dijumpai dalam sektor-sektor
lain seperti pertambangan, konstruksi, pertanian, industri manufaktur
(pabrik), perikanan, dan lain-lain.Di era globalisasi saat ini, pembangunan
nasional sangat erat dengan perkembangan isu-isu global seperti hak-hak
asasi manusia (HAM), lingkungan hidup, kemiskinan, dan buruh.
Persaingan global tidak hanya sebatas kualitas barang tetapi juga
mencakup kualitas pelayanan dan jasa. Banyak perusahaan multinasional
hanya mau berinvestasi di suatu negara jika negara bersangkutan memiliki
kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup. Juga kepekaan

14
terhadap kaum pekerja dan masyarakat miskin. Karena itu bukan mustahil
jika ada perusahaan yang peduli terhadap K3, menempatkan ini pada
urutan pertama sebagai syarat investasi.
5. Struktur Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Menurut Husen (2009: 193) “program K3 sangat perlu karena setiap
institusi, perusahaan ataupun perorangan, serta lainnya memangdiwajibkan
oleh Undang-undang untuk melaksanakannya”. Guna terlaksanakannya
Undang-undang, pemerintah melakukan pengawasan dengan membentuk
panitia pengawasan yang bermutu dan memiliki banyak pengalaman
dibidangnya. Berdasarkan Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang
keselamatan kerja, dapat diketahui struktur pengawasan hokum K3 adalah
sebagai berikut:

Bagan 1: Struktur Hukum Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Penjelasan:
a. Direktur pengawasan adalah Menteri Tenaga Kerja yang melakukan
pengawasan pelaksanakan umum terhadap Undang-undang K3.

15
b. Pegawai pengawas ditugaskan menjalankan pengawasan langsung
terhadap ditaatinya Undang-undang K3 dan membantu pelaksanaannya.
c. Ahli K3 merupakan instansi-instansi pemerintah dan instansi-instansi
swasta yang dapat mengoperasikan K3 dengan tepat, sama seperti pegawai
pengawas Ahli K3 ditugaskan menjalankan pengawasan langsung terhadap
ditaatinya Undang-undang K3 dan membantu pelaksanaannya.
d. Panitia Banding adalah panitia teknis yang anggota-anggotanya terdiri dari
ahli-ahli dalam bidang yang diperlukan.
e. Panitia Pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) bertugas
memperkembangkan kerja sama, saling pengertian dan partisipasi efektif
dari pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat-tempat kerja
untuk melaksanakan tugas dan kewajiban bersama dibidang K3, dalam
rangka melancarkan usaha berproduksi.
6. Undang- undang yang Mengatur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Perundang-undangan K3 ialah salah satu alat kerja yang sangat penting
bagi para Ahli K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) guna menerapkan K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Tempat Kerja.

Berikut merupakan kumpulan perundang-undangan K3 (Keselamatan


dan Kesehatan Kerja) Republik Indonesia yang memuat isi sebagai berikut
antara lain:

a) Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.


Undang-undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
mengatur ketentuan-ketentuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja
yang mencakup segenap proses produksi dan distribusi, baik barang
maupun jasa. Perlindungan K3 dimaksudkan untuk memberikan jaminan
keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para tenaga kerja,
sehingga akan tercipta produktivitas kerja yang optimal. Karena dengan
tingkat keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi, kejadian-kejadian
yang menjadi sebab sakit, cacat dan kematian dapat dikurangi atau ditekan
sekecil mungkin, sehingga pembiayaan yang tidak perlu dapat dihindari.
Tingkat keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi juga akan

16
menciptakan kondisi yang mendukung kenyamanan serta kegairahan kerja,
sehingga akan tercipta tenaga kerja dengan tingkat efisiensi dan
produktivitas kerja yang tinggi.
b) Undang-undang No. 1 Tahun 1951 tentang Kerja
Di dalam UU No.1 tahun 1951 tentang Kerja, mengatur tentang jam kerja,
cuti tahunan, cuti hamil, cuti haid bagi pekerja wanita, peraturan tentang
kerja anak-anak, orang muda, dan wanita, persyaratan tempat kerja, dan
lain-lain. Dalam Pasal 16 ayat 1 UU No. 1 Tahun 1951 yang menetapkan,
bahwa “Majikan harus mengadakan tempat kerja dan perumahan yang
memenuhi syarat-syarat kebersihan dan Kesehatan”.
c) Undang-undang No. 2 Tahun 1952 tentang Kecelakaan Kerja
Undang-undang No. 2 tahun 1952 tentang Kecelakaan Kerja, Undang-
Undang Konpensasi Pekerja (Workmen Compensation Law) Undang-
undang ini menentukan penggantian kerugian kepada buruh yang
mendapat kecelakaan atau penyakit akibat kerja.
d) Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Undang-
Undang ini menyatakan bahwa secara khusus perusahaan berkewajiban
memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik
pekerja yang baru maupun yang akan dipindahkan ke tempat kerja baru,
sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan kepada pekerja, serta
pemeriksaan kesehatan secara berkala. Sebaliknya para pekerja juga
berkewajiban memakai alat pelindung diri (APD) dengan tepat dan benar
serta mematuhi semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
diwajibkan. Undang-undang nomor 23 tahun 1992, pasal 23 Tentang
Kesehatan Kerja juga menekankan pentingnya kesehatan kerja agar setiap
pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan
masyarakat sekelilingnya hingga diperoleh produktifitas kerja yang
optimal. Karena itu, kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja,
pencegahan penyakit akibat kerja dan syarat kesehatan kerja.
e) Undang-undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek
Undang-undang No 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja,
dalam Pasal 1 butir (1) memberi perlindungan bagi tenaga kerja dalam

17
bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dan penghasilan
yang hilang atau berkurang akibat peristiwa atau keadaan yang dialami
oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua,
dan meninggal dunia.
Adapun jaminan sosial tenaga kerja menurut UU No. 3 tahun 1992
mengatur empat program pokok yang harus diselengarakan oleh Badan
Penyelenggara Jamsostek. Dan kepada perusahaan yang mempekerjakan
paling sedikit sepuluh orang pekerja atau membayar upah paling sedikit
Rp 1.000.000,- sebulan wajib mengikutsertakan pekerjanya ke dalam
program Jamsostek yang tercantum dalam Pasal 6 ayat 1 Undang-Undang
No. 3 Tahun 1992 Tentang Jamsostek. Keempat program tersebut adalah :
a. Jaminan Kecelakaan Kerja
b. Jaminan Kematian
c. Jaminan Hari Tua
d. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
f) Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Undang-Undang ini mengatur mengenai segala hal yang berhubungan
dengan ketenagakerjaan mulai dari upah kerja, jam kerja, hak maternal, cuti
sampi dengan keselamatan dan kesehatan kerja. Sebagai penjabaran dan
kelengkapan Undang-undang tersebut, Pemerintah juga mengeluarkan
Peraturan Pemerintah (PP) dan Keputusan Presiden terkait penyelenggaraan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), diantaranya adalah :

a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 11 Tahun 1979 tentang


Keselamatan Kerja Pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas
Bumi
b. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas
Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida
c. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan
Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan
d. Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit Yang
Timbul Akibat Hubungan Kerja

18
g) Pekerja Anak
Anak yang dimaksud dalam Pasal 1 angka 26 UU No. 1 Tahun 1948 tentang
Kerja adalah “Setiap orang yang berumur di bawah 18 tahun”, sedangkan
menurut UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 70 ayat 2
Anak adalah “Setiap orang yang berumur paling sedikit 14 Tahun”.
UU No. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan mengatur tentang norma
kerja mulai Pasal 68 sampai Pasal 75 yang mana pasal-pasal tersebut
melarang keras pengusaha mempekerjakan anak-anak di bawah umur 13-15
tahun, kecuali untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak
mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental, dan sosial dan
apabila pengusaha mempekerjakan anak pada pekerjaan ringan harus
memenuhi persyaratan :
a. Adanya izin tertulis dari orang tua atau wali;
b. Adanya perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali;
c. Waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam;
d. Dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah;
e. Keselamatan dan Kesehatan Kerja;
f. Adanya hubungan kerja yang jelas;
g. Menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Dan secara khusus UU No. 1 tahun 1951 tentang kerja tidak memberi
batasan tentang pekerja anak batasan yang dapat digunakan antara lain :
a. Pekerja anak adalah anak-anak yang bekerja baik sebagai tenaga
upahan maupun pekerja keluarga
b. Pekerja anak adalah anak yang bekerja di sektor formal maupun
informal dengan berbagai status hubungan kerja
Tidak semua pekerjaan dapat diberlakukaan kepada anak, dalam hal
ini ada kategori pekerjaan tertentu yang dianggap tidak baik meliputi :
a. Segala sesuatu dalam bentuk perbudakan dan sejenisnya;
b. Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, dan menawarkan
anak untuk pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno dan
perjudian;

19
c. Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau melibatkan
anak untuk produksi dan perdagangan minuman keras, narkotika,
psikotropika, dan zat adiktif lainnya; atau
d. Semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau
moral anak.
Selain UU No. 1 tahun 1948 tentang kerja terdapat beberapa peraturan
lain yang berkaitan dengan pekerja anak adalah :
a. UU No. 20 tahun 1999 meratifikasi Konvensi ILO No. 138 Tahun 1973
Tentang Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja
b. UU No. 1 Tahun 2000 meratifikasi Konvensi ILO No. 182 Tahun 1973
tentang Pelarangan dan Tindakan Segera untuk Menghapus Bentuk-
bentuk Pekerjaan Terburuk Buat Anak
c. KEP. 135/MEN/2003 tentang Jenis-jenis Pekerjaan yang
Membahayakan Kesehatan, Keselamatan dan Moral Anak
d. KEP.15/MEN/VII/2004 tentang Perlindungan Bagi Anak yang
Melakukan Pekerjaan untuk Mengembangkan Bakat dan Minat.
e. Dan lain-lain
h) Pekerja Orang Muda
Tidak hanya pekerja anak yang mendapat perlindungan akan tetapi
orang muda yang bekerja juga harus diperhatikan baik waktu kerja maupun
waktu istirahat dan tempat kerja agar tidak terjadi kecelakaan kerja dan
larangan menjalankan pekerjaan pada malam hari kecuali larangan tersebut
tidak dihindarkan karena menyangkut kepentingan atau kesejahteraan umum
dan larangan terhadap orang muda menjalankan pekerjaan berbahaya bagi
kesehatan dan keselamatannya.
Orang muda dilarang menjalankan pekerjaannya di tambang, lobang,
di dalam tanah, atau tempat mengambil logam dan bahan-bahan lain di
dalam tanah, tetapi larangan tersebut tidak berlaku terhadap buruh muda
yang berhubungan dengan pekerjaannya kadang-kadang harus turun ke
bawah tanah dan tidak menjalankan pekerjaannya dengan tangan tetapi
dengan menggunakan alat-alat kerja tertentu.

20
i) Pekerja Wanita/Perempuan
Mempekerjakan Perempuan di perusahaan tidaklah semudah yang
dibayangkan. Masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :
a. Para wanita pada umumnya bertenaga lemah, halus, tetapi tekun;
b. Norma susila harus diutamakan agar tenaga kerja wanita tidak
terpengaruh oleh perbuatan negatif dari tenaga kerja lawan jenisnya (laki-
laki) terutama kalau bekerja pada malam hari;
c. Para tenaga kerja wanita pada umumnya mengerjakan pekerjaan halus
sesuai dengan kehalusan sifat dan tenaganya;
d. Para tenaga kerja wanita yang masih gadis, telah bersuami yang dengan
sendirinya mempunyai beban rumah tangga yang harus dilaksanakan pula.
Dengan demikian UU No. 13 mulai Pasal 76 menentukan norma kerja
perempuan sebagai berikut :
a. Pekerja atau buruh Perempuan yang berumur kurang dari 18 tahun
dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 WIB sampai 07.00 WIB.
b. Pekerja atau buruh Perempuan yang hamil yang menurut keterangan
dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya.
c. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja atau buruh Perempuan antara
pukul 23.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB wajib :
1) Memberikan makanan dan minuman bergizi; dan
2) Menjaga kesusilaan dan keamanan di tempat kerja
d. Dan pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja
yang berangkat kerja antara pukul 23.00 WIB sampai 05.00 WIB.
j) Penyandang Cacat
Pekerja cacat oleh UU diberi perlindungan untuk melakukan
hubungan kerja dengan majikan/pengusaha. Dalam UU No. 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan Pasal 67 ayat 1 “Pengusaha yang mempekerjakan
penyandang cacat wajib memberikan perlindungan sesuai dengan jenis dan
derajat kecacatannya” perlindungan tersebut misalnya penyediaan
aksebilitas, pemberian alat kerja, dan alat pelindung diri (APD).
Penyandang Cacat Menurut UU No. 4 Tahun 1997 tentang
Penyandang Cacat adalah “Setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan

21
mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan
baginya untuk melakukan selayaknya” penyandang cacat menurut undang-
undang No. 4 tahun 1997 ayat 1 angka 1 terdiri dari :
a. Penyandang Cacat Fisik yaitu kecacatan yang mengakibatkan gangguan
pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran
dan kemampuan bicara;
b. Penyandang Cacat Mental adalah kelainan mental atau tingkah laku
baik cacat bawaan maupun akibat penyakit;
c. Penyandang Cacat Fisik dan Mental adalah keadaan seseorang yang
menyandang cacat dua jenis kecacatan sekaligus.
k) Waktu Kerja, Istirahat, dan Waktu Megoso
a. Waktu Kerja dan Megoso
Waktu Kerja menurut Ketentuan Pasal 77 UU No. 13 Tahun 2003 adalah :
1) 7 (tujuh) jam sehari dan 40 (empat puluh) seminggu untuk 6 (enam)
hari kerja dalam 1 (minggu);
2) 8 (delapan) jam dalam sehari dan 40 (empat puluh) jam seminggu untuk
5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.
Waktu kerja harus diselingi waktu mengoso paling sedikit 30 (tiga
puluh menit) setelah pekerja bekerja 4 (empat) jam berturut-turut. Dan
ketentuan tersebut tidak berlaku bagi sektor-sektor tertentu, seperti :
Pekerjaan pengoboran minyak lepas pantai, sopir angkutan jarak jauh,
penerbangan jarak jauh, pekerjaan di kapal laut dan penebangan hutan.
Dalam hal demikian, pengusaha yang mempekerjakan pekerja
melebihi waktu kerja harus memenuhi syarat :
1) Adanya persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan;
2) Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam
dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu;
3) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja untuk kerja lembur wajib
membayar upah lembur sesuai dengan upah yang berlaku.
b. Waktu Istirahat (Cuti)

22
Waktu istirahat (cuti) pekerja atau buruh hampir sama dengan waktu
istirahat Pegawai Negeri Sipil (PNS) tetapi secara yuridis, waktu istirahat
bagi pekerja/buruh ada 4 (empat) macam yaitu :
1) Istirahat mingguan atau istirahat (cuti) mingguan ditetapkan satu hari
untuk enam hari kerja dalam seminggu.
2) Istirahat (cuti) tahunan (Pasal 76 ayat (2) UU No. 13 tahun 2003), cuti
tahunan sekurang-kurangnya 12 hari setelah pekerja yang bersangkutan
bekerja selama 12 bulan, dan harus dimohonkan kepada pengusaha dan
harus ada persetujuan pengusaha.
3) Istirahat (cuti) panjang sekurang-kurangnya 2 bulan dan dilaksanakan
pada tahun ke 7 (tujuh) dan 8 ( kedelapan) masing-masing 1 bulan yang
sudah bekerja selama 6 tahun berturut-turut pada perusahaan yang sama
dengan ketentuan pekerja tidak berhak lagi untuk istirahat tuhunan
dalam dua tahun berjalan.
4) Istirahat (cuti) haid, hamil, dan bersalin bagi pekerja perempuan yang
merasa sakit sewaktu mengalami “datang bulan” harus diberitahukan
kepada pengusaha dan tidak wajib bekerja untuk hari pertama dan
kedua masa haidnya.
H. Sanksi – sanksi
Apa sanksi/hukuman bagi yang melanggar Hukum Ketenagakerjaan?
Pertanyaan seperti inilah yang sering muncul. Sama seperti pelanggaran-
pelanggaran hukum lainnya, siapapun tidak ada yang bisa lepas dari
sanksi/hukuman. Dalam Hukum Ketenagakerjaan ada banyak pasal yang
mencantumkan sanksi/hukuman yang dapat dikenakan kepada siapapun yang
melakukan pelanggaran. Dan hal tersebut tergantung dari jenis-jenis
pelanggaran Hukum Ketenagakerjaan.
Ada tiga jenis sanksi yang dapat dijatuhkan bila terjadi pelanggaran
terhadap hak dalam hubungan industrial yaitu :
1. Sanksi Administratif
2. Sanksi Perdata
3. Sanski Pidana

23
Berikut penjelasan tentang sanksi-sanksi tersebut yang ada hubungannya
dengan Hukum Ketenagakerjaan.
Sanksi Administratif
Sanksi administratif dapat dijatuhkan apabila pengusaha melakukan
pelanggaran-pelanggaran sebagai berikut :
1. Melakukan diskriminasi kesempatan kerja kepada pekerja.
2. Penyelenggaraan pelatihan kerja yang tidak memenuhi syarat.
3. Melakukan pemagangan pekerja di luar negeri tanpa ijin dari instansi
tenaga kerja.
4. Perusahaan penempatan tenaga kerja yang memungut biaya
penempatan kepada pekerja.
5. Perusahaan yang tidak membentuk lembaga kerja bipartit padahal
sudah mempekerjakan lebih dari 50 orang pekerja.
6. Pengusaha tidak mencetak atau memperbanyak naskah Perjanjian Kerja
Bersama (PKB).
Pengusaha yang tidak memberikan bantuan paling lama enam
bulan takwin terhitung sejak hari pertama pekerja ditahan oleh pihak yang
berwajib kepada keluarga pekerja yang menjadi tanggungannya. Kewajiban
pengusaha tersebut diatur dengan persentase berikut:
- 25% dari upah untuk satu orang tanggungan.
- 35% dari upah untuk dua orang tanggungan.
- 45% dari upah untuk tiga orang tanggungan.
- 50% dari upah untuk empat orang tanggungan.
Bentuk sanksi administratif tersebut dapat berupa:
1. Teguran.
2. Peringatan Tertulis.
3. Pembatasan Kegiatan Usaha.
4. Pembekuan Usaha.
5. Pembatalan Pendaftaran.
6. Penghentian sementara sebagian atau keseluruhan alat produksi.
7. Pencabutan ijin usaha.

24
Sanksi Perdata
Sanksi perdata dalam perselisihan hubungan industrial dapat dijatuhkan
kepada pengusaha dan pekerja. Bentuk sanksi dapat berupa :
1. Batalnya perjanjian kerja bila perjanjian kerja bukan karena
kesepakatan dan kecakapan kedua belah pihak.
2. Batalnya perjanjian kerja apabila pekerjaan yang diperjanjikan
tersebut bertentangan dengan perundang-undangan, kesusilaan, dan
ketertiban umum.
3. Batalnya PHK bila sebelumnya tidak ada penetapan dari Pengadilan
Hubungan Industrial untuk jenis PHK yang mempersyaratkan adanya
penetapan dari Pengadilan Hukum Industrial.
4. Hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan penerima borongan
pekerjaan beralih menjadi hubungan kerja antara pekerja dengan
pemberi pekerjaan apabila pekerjaan yang diborongkan tidak
memenuhi syarat (Pasal 65 Ayat 8-9 Undang-Undang
Ketenagakerjaan).
5. Status hubungan kerja antara pekerja dengan PPJP beralih menjadi
hubungan kerja antara pekerja dengan pemberi pekerjaan apabila PPJP
itu digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan tugas
pokok/produksi (Pasal 66 Ayat 3-4 Undang-Undang
Ketenagakerjaan).
6. Mogok kerja yang dilakukan secara tidak sah, maka pekerja yang
melakukan mogok dianggap mangkir dan bila sudah dipanggil secara
patut dan tertulis, pekerja tidak juga datang. Maka dianggap
mengundurkan diri. Ia tidak berhak mendapat uang pesangon dan
uang penghargaan masa kerja.
7. Mogok kerja di perusahaan yang melayani kepentingan umum atau
yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia sehingga jatuh
korban, maka dianggap sebagai melakukan kesalahan berat. Pekerja
tersebut tidak berhak mendapat uang pesangon.

25
Sanksi Pidana
Sanksi pidana dalam hubungan industrial dapat dijatuhkan kepada
pekerja atau pengusaha apabila melakukan pelanggaran (kejahatan).
Sebagian dari bentuk-bentuk sanksi pidananya antara lain:
1. Dikenakan ancaman sanksi pidana penjara paling singkat satu tahun dan
paling lama lima tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 100.000.000,-
dan paling banyak Rp. 500.000.000,- bagi pengusaha yang tidak
mengikutsertakan pekerja yang mengalami PHK karena usia pensiun
pada program pensiun dan tidak memberikan pesangon sebesar dua kali
ketentuan, uang penghargaan, dan uang penggantian hak sesuai
ketentuan (Pasal 184 Undang-Undang Ketenagakerjaan).
2. Pidana denda paling sedikit Rp. 5.000.000,- dan paling tinggi Rp.
50.000.000,- bila memungut biaya penempatan tenaga kerja oleh
perusahaan penempatan tenaga kerja swasta (Pasal 38 Undang-Undang
Ketenagakerjaan).
3. Sebagai kejahatan dan diancam pidana penjara paling singkat satu tahun
dan paling lama empat tahun dan atau denda paling sedikit Rp.
100.000.000,- dan paling banyak Rp. 400.000.000,- bagi pengusaha
yang membayar upah lebih rendah dari ketentuan upah minimum (Pasal
90 Ayat 1 dan Pasal 185 Ayat 1 Undang-Undang Ketenagakerjaan).
4. Pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama empat tahun
dan atau denda paling sedikit Rp. 100.000.000,- dan paling banyak Rp.
400.000.000,- bagi pengusaha yang tidak membayar kepada pekerja
yang mengalami PHK yang setelah enam bulan tidak dapat melakukan
pekerjaan sebagaimana mestinya, karena dalam proses perkara pidana,
uang penghargaan masa kerja satu kali ketentuan dan uang penggantian
hak sesuai ketentuan (Pasal 185 Undang-Undang Ketenagakerjaan).
5. Sanksi pidana pelanggaran dengan ancaman penjara paling singkat satu
bulan dan paling lama empat bulan dan atau denda paling sedikit Rp.
100.000.000,- dan paling banyak Rp. 400.000.000,- bagi pengusaha
yang :

26
a. Tidak membayar upah dalam hal pekerja tidak dapat melakukan
pekerjaan karena sakit.
b. Tidak membayar upah pekerja perempuan yang sakit pada hari pertama
dan kedua masa haid.
c. Tidak membayar upah kepada pekerja yang tidak masuk kerja karena
pekerja:
o Menikah
o Menikahkan Anak
o Mengkitankan/Membaptiskan Anak.
o Istri/Anak/Menantu/Orangtua/Mertua/anggota keluarga dalam satu
rumah meninggal
d. Tidak membayar upah pekerja yang sedang menjalankan kewajiban
terhadap negara atau agama.
e. Tidak mempekerjakan pekerja pekerjaan yang dijanjikan.
f. Memaksa pekerja untuk bekerja padahal pekerja sedang melaksanakan
hak istirahat.
g. Memaksa pekerja untuk bekerja padahal pekerja sedang melaksanakan
tugas pendidikan dari perusahaan (Pasal 186 Undang-Undang
Ketenagakerjaan)
Di atas merupakan beberapa undang – undang yang mengatur
tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Dengan lebih jelasnya
penulis akan melampirkan bunyi serta penjelasan pasal demi pasal dari
undang–undang terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada
akhir makalah ini.

27
BAB III

PENUTUP

Rangkuman
Hasil identifikasi masalah diatas, permasalahan yang dapat disimpulkan
yaitu terjadinya kecelakaan murni karena kecerobohan pekerja tersebut, karena
dari keterangan saksi menyatakan bahwa rekan kerjanya telah mengingatkan
bahwa korban dilarang ikut turun bersama backhoe tapi korban malah menaiki
dan tidak menghiraukan seruan dari rekannya, jadi menurut analisa penulis maka
kecelakaan tersebut murni kecerobohan dari pekerja tersebut.
Akan tetapi, jika dilihat dari aspek SMK3 maka selain kesalahan dari
pekerjanya tersebut, manajemen dari perusahaan itu perlu diperbaiki terutama
manajemen pengawasan, jika manajemen pengawasannya ketat maka seorang
pekerja tidak akan berani bertindak ceroboh yang merugikan diri sendiri serta
perusahaan juga otomatis akan merugi karena kerusakan alat serta menunggu ijin
usahanya kembali, tentu akan banyak waktu yang terbuang dan jika hasil
identifikasi dari kepolisian menemukan bahwa terjadinya kecelakaan ini
diakibatkan oleh kurangnya sistem pengawasan maka perusahaan ini otomatis
akan mendapatkan sanksi, apalagi kalau sampai ijin usahanya di tutup maka akan
merugikan perusahaan sendiri serta karyawan lainnya.
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu unsur yang penting
dalam ketenagakerjaan. Oleh karena itu sangat banyak berbagai peraturan
perundang-undangan yang dibuat untuk mengatur nmasalah kesehatan dan
keselamatan kerja. Meskipun banyak ketentuan yang mengatur mengenai
kesehatan dan keselamatan kerja, tetapi masih banyak faktor di lapangan yang
mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja yang disebut sebagai bahaya
kerja dan bahaya nyata seperti pada contoh kasus diatas. Sebenarnya masih
banyak pula perusahaan yang tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan
kerja sehingga banyak terjadi kecelakaan kerja.

28
Oleh karena itu, perlu ditingkatkan lagi tentang larangan-larangan,
himbauan, serta meningkatkan pengawasan pada sistem manajemen kesehatan
dan keselamatan kerja yang dalam hal ini tentu melibatkan peran bagi semua
pihak tidak hanya terfokus pada seorang manajer.

29
DAFTAR PUSTAKA

Ardimoviz. 2012. Keselamatan dan Kesehatan Kerja, (online),


(http://hitamandbiru.blogspot.com/2012/08/keselamatan-dan-
kesehatan-kerja.html#ixzz3jgsbRjim), diakses 3 Desember 2018
Daryanto. 2001. Keselamatan Kerja Bengkel Otomotif. Jakarta : Bumi Aksara
Iqbal, M. 2018. Pekerja Tewas Tertimpa Backhoe di Pelabuhan Indah Kiat
Cilegon, (online), (https://news.detik.com/berita/d-
4319386/pekerja-tewas-tertimpa-backhoe-di-pelabuhan-indah-kiat-
cilegon), diakses 3 Desember 2018
Prayogo, Yogi Dwi. 2015. Undang – undang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja,(online),(http://yogidwiprayogo.blogspot.com/2015/04/unda
ng-undang-keselamatan-dan-kesehatan.html), diakses 3 Desember
2018
Sukma, Ardi. 2013. Keselamatan dan Kesehatan Kerja, (online),
(http://ardisukma.blogspot.com/2013/07/kesehatan-dan-
keselamatan-kerja.html), diakses 3 Desember 2018
Tim Penulis Modul KTSP Spektrum. 2008. Mengikuti Prosedur Kesehatan
dan Keselamatan Kerja. Surakarta : Cahaya Mentari

30