Anda di halaman 1dari 49

PENELITIAN KESEHATAN

A. BATASAN PENELITIAN KESEHATAN


Penelitian pada hakekatnya adalah suatu upaya untuk memahami dan memecahkan masalah
secara ilmiah, sistematis, dan logis. Istilah ilmiah disini diartikan kebenaran pengetahuan
yang didasarkan pada fakta empiris, yang diperoleh dari penyelidikan secara berhati-hati dan
bersifat objektif. Dengan kata lain, kebenaran pengetahuan tersebut diperoleh bukan dari ide
pribadi atau dugaan-dugaan, tetapi berdasarkan data empiris. Oleh sebab itu, kegiatan
penelitian ilmiah memerlukan dan menempuh tahap-tahap yang sistematis, dalam arti
menurut aturan tertentu, dan logis dalam arti sesuai dengan penalaran.
Didalam kehidupan kita sebagai mahluk sosial di jagat raya ini tidak terlepas dari berbagai
masalah.masalah-massalah tersebut dikelompokkan dalam berbagai bidang kehidupan, antara
lain pendidikan, kesehatan, kemassyarakatan, politik, ekonomi, keagamaan dan sebagainya.
Pada tiap bidang kehidupan itu pun tidak terlepas dari masalah di bidangnya masing-masing.
Upaya untuk memahami dan memecahkan masalah-massalah tersebut dapat dilakukan
dengan cara yang sederhana atau secara tradisional (non ilmiah), dan dapat dilakukan secara
komplek atau modern (ilmiah).dan cara inilah disebut metode penelitian (scientific method).
Dikatakan oleh salah seorang ahli (Hillway Tyrus di dalam bukunya Introduction to
Research), bahwa penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu melalui penyelidikan
atau mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah tersebut, yang dilakukan
secara hati-hati sehingga diperoleh pemecahannya.
Penelitian kasehatan berorientasikan atau memfokuskan kegiatannya pada masalah-masalah
yang timbul di bidang kesehatan / kedokteran dan sistem kesehatan. Kesehatan itu sendiri
terdiri dari dua sub bidang pokok, yakni yang pertama, kesehatan individu yang
berorientasikan klinis/pengobatan, yang biasanya di sebut kedokteran. Sub bidang yang
kedua berorientasi pada kesehatan kelompok atau masyarakat, yang bersifat pencegahan,
yang disebut kesehatan masyarakat (publik healt). Sub bidang kesehatan masyarakat inipun
terdiri dari berbagai komponen, sepoerti epidemiologi, pendidikan kesehatan, kesehataqn
lingkungan, administrasi kesehatan masyarakat, gizi masyarakat, dan lain sebagainya. Kedua
sub bidang kesehatan inipun masing-masing mempunyai gejala dan masalah yang berbeda,
yang memerlukan penelitian.
Secara makro, kesehatan merupakan sub sistem dari sistem sosial budayayang tidak terlepas
dari sub sistem yang lain seperti pendidikan, ekonomi, politik dan sebagainya. Hal inipun
merupakan sasaran dari penelitian kesehatan. Bertitik tolak dari uraian tersebut di atas,
penelitian kesehatan dapat di artikan sebagai suatu upaya untuk memahami permasaalahan-
permasalahan yang di hadapi dalam bidang kesehatan, baik kuratif/klinis maupun preventif/
kesehatan masyarakat, serta masalah-masalah yang berkaitan dengannya, dengan mencari
bukti yang muncul, dan dilakukan melalui langkah-langkah tertentu yang bersifat ilmiah,
sistematis, dan logis.
B. JENIS PENELITIAN KESEHATAN
Berdasarkan metode, penelitiaan kesehatan dapat di golongkan menjadi tiga
kelompok besar, yakni :
a. Metode penelitian survei
Dalam survei, penelitian tidak dilakukan terhadap seluruh objek yang diteliti natau
populasi, tetapi hanya mengambil sebagian dari polulasi tersebut (sampel).
Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap mewakili populasinya. Dalam
penelitian survei, hasil dari penelitian tersebut merupakan hasil dari keseluruhan.
Dengan kata lain, hasil dari sampel tersebut dapat digeneralisasikan sebagai hasil
populasi.
Penelitian survei, digolongkan lagi menjadi 2, yaitu penelitian survei yang bersifat
deskriptif (descriptive) dan analitik (analytical) . dalam penelitian survei
deskriptif, penelitian diarahkan untuk mendeskripsikan atau menguraikan suatu
keadaan di dalam suatu komunitas atau masyarakat. Misalnya distribusi penyakit
di dalam masyarakat dan kaitannya dengan umur, jenis kelamin, dan karakteristik
lain. Oleh sebab itu penelitian deskriptif ini sering disebut penelitian penjelajahan
(exploratory study ). Dalam survei deskriptif pada umumnya penelitian menjawab
pertanyaan bagaimana (how).
Sedangkan survei analitik, penelitian diarahkan untuk menjelaskan suatu keadaan
atau situasi. Misalnya, mengapa penyakit menyebar di suatu masyarakat, mengapa
penyakit terjadi pada seseorang, mengapa masyarakat tidak menggunakan fasilitas
yang telah tersedia, mengapa orang tidak mau membuat jamban keluarga, dan
sebagainya. Survei analitik ini pada umumnya berusaha menjawab pertanyaan
mengapa (whay?), oleh sebab itu juga disebut penelitian penjelasan (explanatory
study). Lebih lanjut, penelitian survei yang bersifat analisis ini dibedakan l;agi
menjadi 3 macam, yakni:
1. Seksional Silang (cross Sectional)
Dalam penelitian seksional silang, variabel sebab atau resiko dan akibat atau
kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur atau dikumpulkan secara
simultan (dalam waktu yang bersamaan). Misalnya penelitian tentang
hubungan antara bentuk tubuh dengan hipertensi, hubungan antara kondisi
sanitasi lingkungan dengan penyakit menular dan lain sebagainya.
Pengumpulan data untukjenis penelitian ini, baik untuk variabel sebab
(indevendent variable) maupun variabel akibat (dependent variable) dilakukan
secara bersama-sama atau sekaligus.
2. Studi Retrospektif (Retrospective Study)
Penelitian ini adalah penelitian yang berusaha melihat kebelakang (backward
looking), artinya pengumpulan data dimulai dari efek atau akibat yang telah
terjadi. Kemudian dari efek akibat yang terjadi. Kemudian dari efek tersebut
ditelusuri penyebabnya atau variabel-variabel yang mempengaruhi akibat
tersebut. Dengan kata lain, dengan penelitian retrospektif ini berangkat dari
dependent variables, kemudian dicari independentvariablesnya. Misanya,
penelitian yang akan mencari hubungan antara merokok dengan kanker paru-
paru. Maka dimulai dari mengumpulkan kasus-kasus penderita kanker paru-
paru, kemudian dari kanker tersebut ditanyakan tentang riwayat merokoknya
pada waktu yang lampau sampai sekarang. Dari sini akan dapat diketahui
berapa persen dari kasus tersebut yang merokok, dan berapa batang rokok
yang diisap tiap hari, serta berapa persen dari kasus tersebut tidak merokok.
Dari proporsi besarnya perokok dan bukan perokok terhadap jumlah kasus
tersebut, akan dapat disimpulkan hubungan antara merokok dan kanker paru-
paru.
3. Studi Prospektif
Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat melihat kedepan (forward
looking), artinya penelitian dimulai dari variabel penyebab atau faktor resiko,
kemudian diikuti akibatnya pada waktru yang akan datang. Dengan kata lain,
penelitian ini berangkat dari variabel independent kemudian diikuti akibat dari
independent variabel tersebut terhadap dependent variabel. Misalnya,
penelitian tentang hubungan antara merokok dan kanker paru-paru tersebut,
tidak dimulai dari kasus atau penderita, tetapi dari orang yang merokok dan
bukan perokok. Penelitian dimulai dari mengambil sampel dari perokok dan
bukan perokok, dan diikuti misalnya sampai 15 tahun mendatang. Setelah 15
tahun, maka terhadap orang-orang tersebut diaadkan pemeriksaan kesehatan,
khususnya paru-paru. Dari analisis hasil atau proporsi orang-orang yang
merokok dan menderita kanker paru-paru, dan bukan perokok juga menderita
kanker paru-paru, serta orang yang merokok tidak menderita kanker paru-paru
dan orang yang tidak merokok tidak menderita kanker paru-oaru, dapat
disimpulkan hubungan antara merokok dan kanker paru-paru.
b. Metode Penelitian Eksperimen
Dalam penelitian eksperimen atau percobaan, peneliti melakukan percobaan atau
perlakuan terhadap variabel independentnya, kemudian mengukur akibat atau
pengaruh percobaan tersebut pada dependent variabel. Yang dimaksud percobaan
atau perlakuan disnin adalah suatu usaha modifikasi kondisi sexara sengaja dan
terkontrol dalam menetukan peristiwa atau kejadian, serta pengamatan terghadap
perubahan yang terjadi akibat dari peristiwa tersebut. Penelitian eksperimen ini
bertujuan untuk mengunci hipotesis sebab akibat dengan melakukan intervensi.
Oleh sebab itu sering disebut penelitian intervensi (intervention studys). Di dalam
literatur lain, penelitian eksperimen ini juga disebut penelitian operasional
(operasional research).
Ditinjau dari segi manfaat atau kegunaan, penelitian kesehatan dapat digolongkan
menjadi :
1. Penelitian dasar
Penelitian ini dilakukan untuk memahami atau menjelaskan gejala yang
muncul pada suatu ikhwal. Kemudian dari gejala yang terjadi pada ikhwal
tersebut dianalisis, dan kesimpulannya adalah merupakan pengetahuan atau
teori baru. Jenis penelitian ini sering juga disebut penelitian murni atau “pure
research”, karena dilakukan untuk merumuskan suatu teori atau dasar
pemikiran ilmiah tentang kesehatan/ kedokteran. Misalnya penelitian tentang
teori penyebab kanker, penelitian kloning, bayi tabung, dan sebagainya.
2. Penelitian Terapan
Penelitian ini dilakukan untuk memeperbaiki atau memodifikasi proses suatu
sistem atau program, dengan menerapkan teori-teori kesehatan yang ada.
Dengan kata lain, penelitian in berhubungan dengan penerapan suatu sistem
atau metode yang terbaik sesuai dengan sumber daya yang tersedia untuk
suatu hal atau suatu keadaan. Artinya, penelitian dilakukan sementara itu,
sistem baru tersebut diuji coba dan dimodifikasi. Penelitian terapan ini sering
disebut penelitian operassional (operational research). Contoh penelitian untuk
mengembangkan sistem pelayanana terpadu di puskesmas.
3. Penelitian Tindakan
Penelitian ini dilakukan terutama untuk mencari suatu dasar pengetahuan
praktis guna memperbaiki suatu situasi atau keadaan kesehatan masyarakat,
yang dilakukan secara terbatas. Biasanya penelitian ini dilakukan terhadap
suatu keadaan yang sedang berlangsung. Penelitian ini biasanya dilakukan
dimana pemecahan masalah perlu dilakukan, dan hasilny diperlakukan untuk
memperbaiki suatu keadaan. Misalnya penelitiian tindakan untuk peningkatan
kesehatan masyarakat transmigrasi.
4. Penelitian Evaluasi
Penelitian ini dilakukan untuk melakukan penilaian terhadap suatu
pelaksanaan kegiatan atau program yang sedang dilakukan dalam rangka
mencari umpan balik yang akan dijadikan dasar untuk memperbaiki suatu
program atau sistem. Penelitian evaluasi ada tipe, yaitu: tinjauan (riviews) dan
pengujian (trials).
Penelitian evaluasi yang bersifat tinjauan dialkukan untuk mengetahui sejauh
mana program itu berjalan, dan sejauh mana program tersebut mempunyai
hasil atau dampak. Misalnya penelitian untuk mengevaluassi keberhasilan
program imunisasi, program perbaikan sanitasi lingkungan, program keluarga
berencana, dan lain sebagainya.
Sedangkan penelitian pengujian (trials) dialkukan untuk menguji efektifitas
dan efisiensi suatu pengobatan atau program-program yang lain. Biaanya
penelitian ini dilakukan untuk mengunci keampuhan dari suatu produk obat
baru atau sistem pengobatan yang lain. Oleh sebab itu jenis penelitian ini lebih
dikenal dengan nama penelitian klinik, atau klinikal trials.
Ditinjau dari segi tujuan, p[enelitian kesehatan dapat digolongkan menjadi 3,
yaitu penelitian penjelejahan (exploratorif) penelitian penegmbangan dan
penelitian ferivikatif. Penelitian penjelajahan bertujuan untuk menemukan
problematik-problematik baru dalam dunia kesehatan atau kedokteran.
Penelitian pengembannga bertujuan untuk mengembangkan penegtahuan atau
teori baru di bidang kesehata atau kedokteran. Sedangkan penelitian verifikatif
bertujuan untuk mengunci kebenaran suatu teori dalam bidang kesehatan atau
kedokteran.
Dari segi tempat atau sumber data dari mana penelitian itu dilakukan, jenis
penelitian kesehatan dibedakan menjadi: penelitian perpustakaan, penelitian
laboratorium, dan penelitian lapangan.
Penelitian perpustakaan dilakukan hanya dengan mengumpulkan dan
mempelajari data dari buku-buku literatur, laporan-laporan, dan dokumen-
dokumen lainnya yang telah ada di perpustakaan. Penelitian laboratorium
dilakukan di dalam laboratorium, pada umumnya digunakan dala penelitian-
oenelitian klinis. Sedangkan penelitian lapangan, dilakukan pada masyarakat
dan masyarakat sendiri sebagai objek penelitian. Oleh sebab itu, penelitian ini
biasanya digunakan dalam penelitian-penelitian kesehatan masyarakat.
Dari segi area masalah kesehatan, penelitian kesehatan dikelompokan menjadi
2 yaitu, penelit
Ian klinik termasu keperawatan dan penelitian kesehatan masyarakat.
Penelitian klinik atau kedokteran termasuk keperawatan dilakukan
dipelayanan kesehatan dengan sasaran pasien. Sedangkan penelitian kesehatan
masyarakat biasanya dilakukan dalam masyarakat, dengan sasaran orang yang
sehat dalam rangka pencegahan dan pemeliharaan kesehatan mereka
Meskipun ada beberapa penggolongan penelitian seperti telah diuraikan di
atas, tetapi di dalam prakteknya tidak secara mutlak melaksanakan salah satu
jenis penelitian tertentu. Melainkan kadang-kadang dilakukan secara tumpang
tindih (overlao) antara jenis penelitian yang satu dengan jenis penelitian yang
lain. Hal ini tergantung pada bagaimana penelitian itu sendiri dilakukan, dan
bagaimana tujuan penelitian tersebut. Oleh karena itu dalam prakteknya yang
tidak mutlak perlunya diadakan pembatasan jenis penelitian secara kaku
seperti pembagian atau penggolongan di atas.

C. TUJUAN PENELITIAN KESEHATAN


Tujuan penelitian kesehatan/kedokteran erat hubungannya dengan jenis penelitian
yang akan dilakukan. Tujuan penelitian penjelajahan lain dengan penelitian
pengembangan, lain pula dengan penelitian verifikatif. Demikian pula penelitian dasr,
akan lain tujuannya dengan penelitian terapan, penelitian tindakan, dan berbeda pula
dengan penelitian evaluasi. Tetapi secara umum tujuan semua jenis penelitian
kesehatan antara lain adalah:
a. menemukan atau menguji fakta maupun fakta lama sehubungan dengan bidang
kesehatan atau kedokteran.
b. Mengadakan analisis terhadap hubungan atau interaksi antara fakta-fakta yang
ditemukan dalam bidang kesehatan atau kedokteran.
c. Menjelaskan tentang fakta yang ditemukan serta hubungannya dengan teori-teori
yanga ada.
d. Mengembangkan alat, teori, atau konsep baru dalam bidang kesehatan atau
kedokteran yang memberi kemungkinan bagi peningkatan kesehatan masyarakat
khususnya, dan peningkatan kesejahteraan umat manusia pada umumnya,
Secara garis besar tujuan penelitian kesehatan atau kedokteran itu dikelompokkan
menjadi 3, yaitu:
a. Untuk menemukan teori, konsep, dalil, atau generalisasi baru tentang kesehatan
atau kedokteran.
b. Untuk memperbaiki atau modifikasi teori, sistem, atau program pelayanan
kesehatan/kedokteran.
c. Untuk memperkokoh teori, konsep, sistem, atau generalisassi yang sudah ada.

D. MANFAAT PENELITIAN KESEHATA


manfaat penelitian dalam setiap bidang kehidupan atau disiplin ilmu sangat besar
dalam setiap pengembangan bidang kehidupan atau disiplin ilmu itu sendiri.
Demikian pula penelitian kesehatan mempunyai manfaat yang besar dalam
peningkatan pelayanan kesehatan. Dengan penelitian kesehatan akan dapat diketahui
berbagai faktor, baik yang menghambat maupun yang menunjang peningkatan
kesehatan atau pelayanan kesehatan individual maupun kelompok dan masyarakat.
Dalam rangka pengembangan sistem kesehatan, diperlukan perencanan yang baik dan
teliti. Perencanaan yang teliti sangat memerlukan informasi data yang akurat ini
diperlukan bantuan penelitian yang relevan. Secara singkat manfaat penelitian
kesehatan dapat diidentifikasi sebagai berikut:
a. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menggambarkan tentang keadaan atau
status kesehatan individu, kelomok, maupun masyarakat.
b. Hasil penelitian kesehatan masyarakat dapat digunakan untuk menggambarkan
kemampuan sumberdaya, dan kemengkinan sumberdaya tersebut guna
mendukung pengembangan pelayanan kesehatan yang direncanakan.
c. Hasil penelitian kesehatan dapat dijadikan sarana diagnosis dalam mencari sebab
masalah kesehatan, atau kegagalan yang terjadi di dalam sistem pelayanan
kesehatan. Dengan demikian akan memudahkan pencarian alternatif pemecahan
masalah-masalah tersebut.
d. Hasil penelitian kesehatan dapat dijadikan sarana untuk menyususn kebijaksanaan
dalam menyususn strategi pengembangan sistem pelayanan kesehatan.
e. Hasil penelitian kesehatan dapat melukiskan kemampuan dalam pembiayaan,
peralatan, dan ketenagakerjaan baik secara kuantitas maupun secara kualitas guna
mendukung sitem kesehatan.

KONSEP DASAR DAN HAKIKAT PENELITIAN


21/05/2013 Afid Burhanuddin 2 Komentar
Rasa ingin tahu merupakan salah satu sifat dasar yang dimiliki manusia. Sifat tersebut akan
mendorong manusia bertanya untuk mendapatkan pengetahuan. Setiap manusia yang berakal
sehat sudah pasti memiliki pengetahuan, baik berupa fakta, konsep, prinsip, maupun prosedur
tentang suatu obyek. Pengetahuan dapat dimiliki berkat adanya pengalaman atau melalui
interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Secara universal, terdapat tiga jenis
pengetahuan yang selama ini mendasari kehidupan manusia yaitu: (1) logika yang dapat
membedakan antara benar dan salah; (2) etika yang dapat membedakan antara baik dan
buruk; serta (3) estetika yang dapat membedakan antara indah dan jelek. Kepekaan indra
yang dimiliki, merupakan modal dasar dalam memperoleh pengetahuan tersebut.
Salah satu wujud pengetahuan yang dimiliki manusia adalah pengetahuan ilmiah yang lazim
dikatakan sebagai “ilmu”. Ilmu adalah bagian pengetahuan, namun tidak semua pengetahuan
dapat dikatakan ilmu. Ilmu adalah pengetahuan yang didasari oleh dua teori kebenaran yaitu
koherensi dan korespondensi. Koherensi menyatakan bahwa sesuatu pernyataan dikatakan
benar jika pernyataan tersebut konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Koherensi dalam
pengetahuan diperoleh melalui pendekatan logis atau berpikir secara rasional. Korespondensi
menyatakan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar jika pernyataan tersebut didasarkan atas
fakta atau realita. Koherensi dalam pengetahuan diperoleh melalui pendekatan empirik atau
bertolak dari fakta. Dengan demikian, kebenaran ilmu harus dapat dideskripsikan secara
rasional dan dibuktikan secara empirik.
Koherensi dan korespondensi mendasari bagaimana ilmu diperoleh telah melahirkan cara
mendapatkan kebenaran ilmiah. Proses untuk mendapatkan ilmu agar memiliki nilai
kebenaran harus dilandasai oleh cara berpikir yang rasional berdasarkan logika dan berpikir
empiris berdasarkan fakta. Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah melalui
penelitian. Penelitian sebagai upaya untuk memperoleh kebenaran harus didasari oleh proses
berpikir ilmiah yang dituangkan dalam metode ilmiah. Metode ilmiah adalah kerangka
landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Penelitian yang dilakukan menggunakan
metode ilmiah mengandung dua unsur penting yakni pengamatan (observation) dan penalaran
(reasoning). Metode ilmiah didasari oleh pemikiran bahwa apabila suatu pernyataan ingin
diterima sebagai suatu kebenaran maka pernyataan tersebut harus dapat diverifikasi atau diuji
kebenarannya secara empirik (berdasarkan fakta). Dengan adanya makalh ini diharapkan,
pembaca dapat lebih memahami secara detail tentang penelitian yang berkaitan dengan
skripsi dan sebagainya.
PENGERTIAN METODE PENELITIAN
1. Pengertian Metode
Metode secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos yang berarti cara atau
jalan menuju suatu jalan. Secara terminologi, menurut Rosady Ruslan (2008: 24) metode
adalah kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami
suatu subjek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya. Sedangkan menurut
Kuntowijoyo metodologi atau science of methods adalah ilmu yang membicarakan jalan dan
cara (Basri, 2006: 1). Sedangkan menurut Arif Subyantoro dan FX. Suwarto (2007: 65)
metode adalah cara kerja untuk dapat memahami objek penelitian dengan langkah-langkah
sistematis. Kumpulan metode disebut metodik, dan ilmu yang mempelajari metode-metode
disebut metodologi.
2. Pengertian Penelitian
Penelitian menurut Soerjono Soekanto adalah kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisis
dan konstruksi yang dilakukan secara metodologis, sistematis, dan konsisten (Rasady Ruslan,
2008: 24). Dapat diambil kesimpulan dari pembahasan tersebut, bahwa sistem dan metode
yang dipergunakan untuk memperoleh informasi atau bahan materi suatu pengetahuan ilmiah
yang disebut dengan metodologi ilmiah. Pada sisi lain dalam kegiatan untuk menemukan hal-
hal yang baru merupakan prinsip-prinsip tertentu atau solusi (pemecahan masalah) tersebut
penelitian. Jadi metode penelitian adalah cara kerja untuk dapat memahami objek penelitian.
Banyak definisi tentang penelitian tergantung sudut pandang masing-masing. Penelitian
dapat didefinisikan sebagai upaya mencari jawaban yang benar atas suatu masalah
berdasarkan logika dan didukung oleh fakta empirik. Dapat pula dikatakan bahwa penelitian
adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis melalui proses pengumpulan data,
pengolah data, serta menarik kesimpulan berdasarkan data menggunakan metode dan teknik
tertentu.
Pengertian tersebut di atas menyiratkan bahwa penelitian adalah langkah sistematis dalam
upaya memecahkan masalah. Penelitian merupakan penelaahan terkendali yang
mengandung dua hal pokok yaitu logika berpikir dan data atau informasi yang dikumpulkan
secara empiris (Sudjana, 2001). Logika berpikir tampak dalam langkah-langkah sistematis
mulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis, penafsiran dan pengujian data sampai
diperolehnya suatau kesimpulan. Informasi dikatakan empiris jika sumber data
mengambarkan fakta yang terjadi bukan sekedar pemikiran atau rekayasa peneliti. Penelitian
menggabungkan cara berpikir rasional yang didasari oleh logika/penalaran dan cara berpikir
empiris yang didasari oleh fakta/ realita.

METODE PENELITIAN
Metodelogi penelitian adalah cara atu strategi menyeluruh untuk menemukan atau memperleh
data yang diperlukan. Metode penelitian harus dibedakan dari teknik pengumpulan data yang
merupakan teknik yang lebih spesifik untuk memperoleh data. Metdelogi dapat dibedakan
menjadi 3 yaitu: historic, metede survey dan metode eksperimen. Metede historik digunakan
jika data yang dipergunakan terutama yang berkaiatan dengan masa lalu, sehingga teknik
pengumpulan data yang digunakan terutama adalah studi dukumenter atau mungkin juga
studi artifak.
Metode survey merupan metode untuk memperoleh data yang ada pada saat penelitian
dilakukan. Data dapat dikumpulkan meelui bebrapa teknik seperti wawancara dan
pengamatan atau observasi. Metode survey ini dapat berupa survey deskriptif dan dapat juga
survey analitif. Metode eksperimen digunakan jika data yang digunakan jika data yang
diinginkan sengaja ditimbulkan atau didorong munculnya. Dorongan atau ransangan untuk
pemunculan data tersebut merupan variable bebas atau disebut juga perlakuan (reatmen) jadi
dalam eksperimen akan dicari hubungan sebab akibat anatara variable bebas dan variable
terikat. Penelitian yang akan mencari hubungan sebab akibab tersebut.

KARAKTERISTIK PENELITIAN
Penelitian memiliki karakteristik yang khas dibandingkan dengan aktivitas pada umumnya.
Karena itu dalam membuat proposal maupun laporan penelitian, peneliti hendaknya
memperhatikan karakteristik yang terkandung di dalamnya.
1. Penelitian harus Sistematis
Proposal maupun laporan penelitian merupakan suatu aktivitas yang terstruktur, mengandung
unsur-unsur yang merupakan butir-butir pemikiran dan aktivitas. Unsure-unsur tersebut harus
diungkapkan secara runtun dan dilakukan secara bertahap, dipaparkan secara berurutan,
sehingga terlihat dan terasa jelas alur pikirannya dan mudah dipahami oleh pembaca
(transferable).
2. Penelitian harus Logis dan Rasional
Penelitian harus logis artinya penelitian tersebut memiliki alur pikir yang benar dalam arti
adanya kesesuaian antara instrumen, prosedur penelitian yang digunakan dengan hasil
penelitian yang diperoleh, sehingga memiliki alur pikir yang benar dan bisa dinalar. Setiap
pilihan dan keputusan harus logis dan rasional. Proposal atau laporan penelitian harus
mengandung penjelasan yang logis atau alas an yang kuat dalam menetapkan pilihan,
langkah, dan prosedur penelitian.
3. Penelitian harus Empirik
Proposal atau laporan penelitian harus mengungkapkan atau berkenaan dengan dunia nyata
yakni dunia yang dapat diobservasi dengan indra, sehingga setiap orang dapat
mengindranya.konsep-konsep atau istilah-istilah penelitian harus sudah secara tegas
diaplikasikan ke dunia penelitian, jangan masih bersifat umum atau mengambang.
4. Penelitian Bersifat Redukatif
Aktivitas penelitian harus dapat mereduksi (mengurangi) bahkan menghilangkan keraguan
menjadi kepastian, dari ketidaktahuan atau ketidakjelasan suatu objek pengamatan menjadi
jelas. Hal ini dikarenakan aktivitas penelitian yang sistematis untuk memperoleh data
sehingga mampu memberi pernyataan yang logis dan rasional.
5. Penelitian Bersifat Replicable dan Transmitable
Replicable maksudnya dapat diteliti ulang dan transmitable dapat dipahami untuk dapat
digunakan hasil penelitiannya. Untuk itu laporan penelitian harus dapat dan mudah dipahami
oleh para pembaca. Sehingga penelitian harus bersifat terbuka dan dibuat laporannya untuk
dipublikasikan.
6. Penelitian harus Memiliki Kegunaan
Pengungkapan tentang kegunaan suatu penelitian harus secara jelas dinyatakan baik dalam
proposal maupun laporan penelitian. Minimal suatu penelitian harus memiliki kegunaan
praktis dalam arti mampu memberi rekomendasi, saran kepada komunitas, kelompok atau
institusi dalam meningkatkan kualitas hubungan atau pelayanan publiknya. Di samping itu
penelitian bisa mempunyai manfaat akademik atau teoritik untuk pengembangan ilmu
pengetahuan.
Selain ketentuan di atas, pihak peneliti juga harus mengacu kepada beberapa hal dalam
melakukan aktivitas penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Objektif dalam penyajian yang deskriptif, sistematis, dan analisis
2. Serba relatif, bahwa kebenaran ilmiah yang diajukan bukanlah hal mutlak dan hasilnya
dimungkinkan dapat dibantah atau diuji kebenarannya.
3. Netral, dalam pengungkapan fakta yang sesungguhnya tidak berkaitan dengan nilai-nilai
baik atau buruk.
4. Skeptis, adanya keraguan atas pernyataan-pernyataan yang belum memiliki kekuatan
dasar-dasar pembuktian.
5. Sederhana, tidak terlalu rumit dalam kerangka berpikir, perumusan pernyataan dan
pembuktiannya tetap berdasarkan kebenaran ilmiah yang baku.

LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN
Penelitian adalah suatu prses, yaitu suatu rangkaian langkah-langkah yang dilakukan secara
terencana dan sistematis guna mendapatkan pemecahan masalah atau mendapatkan jawaban
terhadap pertanyan-pertanyaan tertentu. Lankah-langkah yang dilakukan ini harus sesuai dan
saling mendukun satu sama lainya, agar penelitian yang dilakukan itu mempunyai bobot yang
cukup memedai dan memberikan kesimpulan-kesimpulan yan tidak meragukan. Adapun
langkah-langkah ini pada umumnya sebagai tersebut dibawah ini
1. identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah
2. penelaah kepustakaan
3. penyusunan hipotesis
4. identifikasi, klasifikasi, dan pemberi devinisi operasional variable-variabel
5. pemilihan atau pengambengan alat pengambilan data
6. penyusunan rancangan penelitian
7. penentuan sample
8. pengumpulan data
9. pengolahan lahan dan analisis data
10. interpreasi hasil analisis
11. penyususnan laporan

RUANG LINGKUP PENELITIAN


1. Menurut penggunaannya
Jenis penelitian jika dilihat dari segi penggunaannya dapat digolongkan menjadi:
a. penelitian dasar atau penelitian murni ( pure research)
LIPI memberi devinisi sebagai berikut:
Penelitian dasar adalah setiap penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan pengatahuan
ilmiah atau untuk menemukan bidang penelitian baru tanpa suatu tuajuan praktis tertentu.
Artinya kegunaan hasil penelitian itu tidak dapat segera dipakai kecuali untuk jangka waktu
panjang.
b. penelitian terapan(applied research)
batasan yang diberikan lipi ialah: penelitian terapan adalah setiap penelitian yan bertujuan
untuk meningkatkan pengetahuan ilmiah dengan suatu tujuan praktis. Berarti hasilnya
diharapkan segera dicapai untuk keperluan praktis.
1. menurut penggunannya
jenis penelitian dilihat dari metodenya adalah sebagai berikut:
a. penelitian histories
b. penelitian filsofis
c. penelitian observasional
d. penelitian experimental
3. menurut sifat penelitiannya
sesuai dengan tugas penelitian yaitu untuk memnerikan menerangkan meramalkan dan
mengatasi permasalahan atau persalan maka penelitian dapat digolongkan dari sudut pandang
ini sehingga penggolongan ini bias mencangkup penggolongan yang disebut terdahulu.
Berdasarkan penggolongan ini dapat dipilih rancangan penelitian yang sesuai.
Ada delapan jenis penelitian itu yaitu:
a. penelitian histories
b. penelitian deskritif
c. peneltian perkembangan
d. penelitian kasus dab penelitian lapangan
e. penelitian korelaional
f. penelitian kausal-komperatif
g. penelitian experimental
h. penelitian tindakan

HAKIKAT PENELITIAN ILMIAH


Rasa ingin tahu merupakan salah satu sifat dasar yang dimiliki manusia. Sifat tersebut akan
mendorong manusia bertanya untuk mendapatkan pengetahuan. Setiap manusia yang berakal
sehat sudah pasti memiliki pengetahuan, baik berupa fakta, konsep, prinsip, maupun prosedur
tentang suatu obyek. Pengetahuan dapat dimiliki berkat adanya pengalaman atau melalui
interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Secara universal, terdapat tiga jenis
pengetahuan yang selama ini mendasari kehidupan manusia yaitu: (1) logika yang dapat
membedakan antara benar dan salah; (2) etika yang dapat membedakan antara baik dan
buruk; serta (3) estetika yang dapat membedakan antara indah dan jelek. Kepekaan indra
yang dimiliki, merupakan modal dasar dalam memperoleh pengetahuan tersebut.
Salah satu wujud pengetahuan yang dimiliki manusia adalah pengetahuan ilmiah yang lazim
dikatakan sebagai “ilmu”. Ilmu adalah bagian pengetahuan, namun tidak semua pengetahuan
dapat dikatakan ilmu. Ilmu adalah pengetahuan yang didasari oleh dua teori kebenaran yaitu
koherensi dan korespondensi. Koherensi menyatakan bahwa sesuatu pernyataan dikatakan
benar jika pernyataan tersebut konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Koherensi dalam
pengetahuan diperoleh melalui pendekatan logis atau berpikir secara rasional. Korespondensi
menyatakan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar jika pernyataan tersebut didasarkan atas
fakta atau realita. Koherensi dalam pengetahuan diperoleh melalui pendekatan empirik atau
bertolak dari fakta. Dengan demikian, kebenaran ilmu harus dapat dideskripsikan secara
rasional dan dibuktikan secara empirik.
Koherensi dan korespondensi mendasari bagaimana ilmu diperoleh telah melahirkan cara
mendapatkan kebenaran ilmiah. Proses untuk mendapatkan ilmu agar memiliki nilai
kebenaran harus dilandasai oleh cara berpikir yang rasional berdasarkan logika dan berpikir
empiris berdasarkan fakta. Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah melalui
penelitian. Banyak definisi tentang penelitian tergantung sudut pandang masing-masing.
Penelitian dapat didefinisikan sebagai upaya mencari jawaban yang benar atas suatu
masalah berdasarkan logika dan didukung oleh fakta empirik. Dapat pula dikatakan bahwa
penelitian adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis melalui proses pengumpulan
data, pengolah data, serta menarik kesimpulan berdasarkan data menggunakan metode dan
teknik tertentu.
Pengertian tersebut di atas menyiratkan bahwa penelitian adalah langkah sistematis dalam
upaya memecahkan masalah. Penelitian merupakan penelaahan terkendali yang
mengandung dua hal pokok yaitu logika berpikir dan data atau informasi yang dikumpulkan
secara empiris (Sudjana, 2001). Logika berpikir tampak dalam langkah-langkah sistematis
mulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis, penafsiran dan pengujian data sampai
diperolehnya suatau kesimpulan. Informasi dikatakan empiris jika sumber data
mengambarkan fakta yang terjadi bukan sekedar pemikiran atau rekayasa peneliti. Penelitian
menggabungkan cara berpikir rasional yang didasari oleh logika/penalaran dan cara berpikir
empiris yang didasari oleh fakta/ realita.
Penelitian sebagai upaya untuk memperoleh kebenaran harus didasari oleh proses berpikir
ilmiah yang dituangkan dalam metode ilmiah. Metode ilmiah adalah kerangka landasan
bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode ilmiah
mengandung dua unsur penting yakni pengamatan (observation) dan penalaran (reasoning).
Metode ilmiah didasari oleh pemikiran bahwa apabila suatu pernyataan ingin diterima
sebagai suatu kebenaran maka pernyataan tersebut harus dapat diverifikasi atau diuji
kebenarannya secara empirik (berdasarkan fakta).
Terdapat empat langkah pokok metode ilmiah yang akan mendasari langkah-langkah
penelitian yaitu:
1. Merumuskan masalah; mengajukan pertanyaan untuk dicari jawabannya. Tanpa
adanya masalah tidak akan terjadi penelitian, karena penelitian dilakukan untuk
memecahkan masalah. Rumusan masalah penelitian pada umumnya diajukan dalam
bentuk pertanyaan..
2. Mengajukan hipotesis; mengemukakan jawaban sementara (masih bersifat dugaan)
atas pertanyaan yang diajukan sebelumnya. Hipotesis penelitian dapat diperoleh
dengan mengkaji berbagai teori berkaitan dengan bidang ilmu yang dijadikan dasar
dalam perumusan masalah. Peneliti menelusuri berbagai konsep, prinsip, generalisasi
dari sejumlah literatur, jurnal dan sumber lain berkaitan dengan masalah yang diteliti.
Kajian terhadap teori merupakan dasar dalam merumuskan kerangka berpikir
sehingga dapat diajukan hipotesis sebagai alternatif jawaban atas masalah.
3. Verifikasi data; mengumpulkan data secara empiris kemudian mengolah dan
menganalisis data untuk menguji kebenaran hipotesis. Jenis data yang diperlukan
diarahkan oleh makna yang tersirat dalam rumusan hipotesis. Data empiris yang
diperlukan adalah data yang dapat digunakan untuk menguji hipotesis. Dalam hal ini,
peneliti harus menentukan jenis data, dari mana data diperoleh, serta teknik untuk
memperoleh data. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis dengan cara-cara
tertentu yang memenuhi kesahihan dan keterandalan sebagai bahan untuk menguji
hipotesis.
4. Menarik kesimpulan; menentukan jawaban-jawaban definitif atas setiap pertanyaan
yang diajukan (menerima atau menolak hipotesis). Hasil uji hipotesis adalah temuan
penelitian atau hasil penelitian. Temuan penelitian dibahas dan disintesiskan
kemudian disimpulkan. Kesimpulan merupakan adalah jawaban atas rumusan
masalah penelitian yang disusun dalam bentuk proposisi atau pernyataan yang telah
teruji kebenarannya.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, penelitian ilmiah merupakan kegiatan yang
dilaksanakan untuk mengkaji dan memecahkan suatu masalah menggunakan prosedur
sistematis berlandaskan data empirik. Berdasarkan proses tersebut di atas, mulai dari langkah
kajian teori sampai pada perumusan hipotesis termasuk berpikir rasional atau berpikir
deduktif. Sedangkan dari verifikasi data sampai pada generalisasi merupakan proses berpikir
induktif. Proses tersebut adalah wujud dari proses berpikir ilmiah. Itulah sebabnya penelitian
dikatakan sebagai operasionalisasi metode ilmiah.
Untuk mendapatkan kebenaran ilmiah, penelitian harus mengandung unsur keilmuan dalam
aktivitasnya. Penelitian yang dilaksanakan secara ilmiah berarti kegiatan penelitian
didasarkan pada karakeristik keilmuan yaitu:
1. Rasional: penyelidikan ilmiah adalah sesuatu yang masuk akal dan terjangkau oleh
penalaran manusia.
2. Empiris: menggunakan cara-cara tertentu yang dapat diamati orang lain dengan
menggunakan panca indera manusia.
3. Sistematis: menggunakan proses dengan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.
Penelitian dikatakan tidak ilmiah jika tidak menggunakan penalaran logis, tetapi
menggunakan prinsip kebetulan, coba-coba, spekulasi. Cara-cara seperti ini tidak tepat
digunakan untuk pengembangan suatu profesi ataupun keilmuan tertentu. Suatu penelitian
dikatakan baik (dalam arti ilmiah) jika mengikuti cara-cara yang telah ditentukan serta
dilaksanakan dengan adanya unsur kesengajaan bukan secara kebetulan.
Dalam keseharian sering ditemukan konsep-konsep yang kurang tepat dalam memaknai
penelitian antara lain:
1. Penelitian bukan sekedar kegiatan mengumpulkan data atau informasi. Misalnya,
seorang kepala sekolah bermaksud mengadakan penelitian tentang latar belakang
pendidikan orang tua siswa di sekolahnya. Kepala sekolah tersebut belum dapat
dikatakan melakukan penelitian tetapi hanya sekedar mengumpulkan data atau
informasi saja. Pengumpulan data hanya merupakan salah satu bagian kegiatan dari
rangkaian proses penelitian. Langkah berikutnya yang harus dilakukan kepala sekolah
agar kegiatan tersebut menjadi penelitian adalah menganalisis data. Data yang telah
diperolehnya dapat digunakan misalnya untuk meneliti pengaruh latar belakang
pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar siswa.
2. Penelitian bukan hanya sekedar memindahkan fakta dari suatu tempat ke tempat lain.
Misalnya seorang pengawas telah berhasil mengumpulkan banyak data/infromasi
tentang implementasi MBS di sekolah binaanya dan menyusunnya dalam sebuah
laporan. Kegiatan yang dilakukan pengawas tersebut bukanlah suatu penelitian.
Laporan yang dihasilkannya juga bukan laporan penelitian. Kegiatan dimaksud akan
menjadi suatu penelitian ketika pengawas yang bersangkutan melakukan analisis data
lebih lanjut sehingga diperoleh suatu kesimpulan. Misalnya: (1) faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan implementasi MBS; atau (2) faktor-faktor penghambat
implementasi MBS serta upaya mengatasinya.

TUJUAN UMUM PENELITIAN


Uraian di atas memperlihatkan bahwa penelitian adalah penyaluran rasa ingin tahu manusia
terhadap sesuatu/masalah dengan melakukan tindakan tertentu (misalnya memeriksa,
menelaah, mempelajari dengan cermat/sungguh-sungguh) sehingga diperoleh suatu temuan
berupa kebenaran, jawaban, atau pengembangan ilmu pengetahuan. Terkait dengan ilmu
pengetahuan, dapat dikemukakan tiga tujuan umum penelitian yaitu:
1. Tujuan Eksploratif, penelitian dilaksanakan untuk menemukan sesuatu (ilmu
pengetahuan) yang baru dalam bidang tertentu. Ilmu yang diperoleh melalui
penelitian betul-betul baru belum pernah diketahui sebelumnya. Misalnya suatu
penelitian telah menghasilkan kriteria kepemimpian efektif dalam MBS. Contoh
lainnya adalah penelitian yang menghasilkan suatu metode baru pembelajaran
matematika yang menyenangkan siswa.
2. Tujuan Verifikatif, penelitian dilaksanakan untuk menguji kebenaran dari sesuatu
(ilmu pengetahuan) yang telah ada. Data penelitian yang diperoleh digunakan untuk
membuktikan adanya keraguan terhadap infromasi atau ilmu pengetahuan tertentu.
Misalnya, suatu penelitian dilakukan untuk membuktian adanya pengaruh kecerdasan
emosional terhadap gaya kepemimpinan. Contoh lainnya adalah penelitian yang
dilakukan untuk menguji efektivitas metode pembelajaran yang telah dikembangkan
di luar negeri jika diterapkan di Indonesia.
3. Tujuan Pengembangan, penelitian dilaksanakan untuk mengembangkan sesuatu (ilmu
pengetahuan) yang telah ada. Penelitian dilakukan untuk mengembangkan atau
memperdalam ilmu pegetahuan yang telah ada. Misalnya penelitian tentang
implementasi metode inquiry dalam pembelajaran IPS yang sebelumnya telah
digunakan dalam pembelajaran IPA. Contoh lainnya adalah penelitian tentang sistem
penjaminan mutu (Quality Assurannce) dalam organisasi/satuan pendidikan yang
sebelumnya telah berhasil diterpakan dalam organisasi bisnis/perusahaan.

PERAN METODE ILMIAH DALAM PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

Metode Ilmiah
Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis
terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975)
berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh
sesuatu interelasi.”
Metode Ilmiah merupakan suatu cara sistematis yang digunakan oleh para ilmuwan untuk
memecahkan masalah yang dihadapi. Metode ini menggunakan langkah-langkah yang
sistematis, teratur dan terkontrol. Menurut A. Nashrudin, S.IP, M,Si
(dossuwanda.wordpress.com ), Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian
disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Berdasarkan fakta
2. Bebas dari prasangka
3. Menggunakan prinsip-prinsip analisa
4. Menggunakan hipotesa
5. Menggunakan ukuran objektif
6. Menggunakan teknik kuantifikas

Pengertian Metode Berfikir Ilmiah


Pengertian Metode Berpikir Ilmiah Secara etimologi, metode berasal dari bahasa yunani yaitu
kata meta (sesudah atau dibalik sesuatu) dan hodos (jalan yang harus ditempuh). jadi metode
adalah langkah-langkah (cara dan teknis) yang diambil, menurut urutan atau sistematika
tertentu untuk mencapai pengetahuan tertentu, Metode menurut Senn,merupakan suatu
prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis.
Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam
metode tersebut. Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang
terdapat dalam metode ilmiah.Metode berpikir ilmiah merupakan prosedur, cara atau teknik
dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu, jadi ilmu merupakan pengetahuan yang
didapatkan lewat metode ilmiah atau dengan kata lain bahwa suatu pengetahuan baru dapat
disebut suatu ilmu apabila diperoleh melalui kerangka kerja ilmiah, syarat-syarat yang harus
dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu ,tercantum dalam apa yang dinamakan
metode ilmiah. Pendapat lain mengatakan bahwa metode ilmiah adalah sebuah prosedur yang
digunakan ilmuwan dalam pencarian kebenaran baru. Dilakukan dengan cara kerja sistematis
terhadap pengetahuan baru dan melakukan peninjauan kembali kepada pengetahuan yang
telah ada.
Tujuan Penggunaan Metode Ilmiah
Tujuan dari penggunaan metode ilmiah adalah tuntutan supaya ilmu pengetahuan bisa terus
berkembang seiring perkembangan zaman dan menjawab tantangan yang dihadapi. Dengan
berbagai riset yang dilakukan oleh para ilmuwan guna mengembangkan berbagai disiplin
ilmu pengetahuan (sains) yang akan mempermudah dari persoalan-persoalan manusia.
Metode ilmiah merupakan sebuah konsep dimana para ilmuwan mencoba untuk meneliti
disetiap masing-masing ilmu pengetahuan yang akan mengembangkan ilmu-ilmu tersebut
dengan menggunakan metode-metode ilmiah.

Manfaat Metode Berpikir Ilmiah


Seperti diketahui bahwa berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan.
Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran,dengan menggunakan
metode berpikir ilmiah manusia bisa terus meng Update pengetahuan menggali dan
mengembangkannya. Sifat ingin tahu pada diri manusia mendorong manusia mengungkapkan
pengetahuan, meski dengan cara dan pendekatan yang berbeda.M. Solly Lubis menjelaskan
bahwa manusia mampu mengembangkan pengetahuannya karena dua hal: pertama, manusia
mempunyai bahasa yang dapat dijadikan media untuk mengkomunikasikan informasi dan
jalan pikirannya;dan kedua, manusia memiliki kemampuan berpikir berdasarkan suatu alur
dan kerangka berpikir tertentu, dengan kata lain, bahasa yang komunikatif dan
nalar memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya, dan nalar sebagai bagian
dari kegiatan berpikir memiliki dua ciri utama yaitu logis dan analitis Secara historis, terdapat
empat cara manusia memperoleh pengetahuan yang tadi disebut sebagai pelekat dasar
kemajuan manusia, keempat cara tersebut adalah:
1. Berpegang pada sesuatu yang sudah ada (metode keteguhan);
2. Merujuk kepada pendapat ahli (metode otoritas);
3. Berpegang pada intuisi(metode intuisi);
4. Menggunakan metode ilmiah.
Cara pertama Sampai cara ketiga, disebut sebagai cara kebanyakan orang, atau orang awam
dan cenderung tidak efisien, dan kurang produktif bahkan terkadang tidak objektif dan tidak
rasional. Sedangkan cara terakhir, yaitu metode ilmiah adalah cara ilmiah yang dipandang
lebih rasional, objektif, efektif dan efisien. Cara yang keempat ini adalah cara bagaimana para
ilmuwan memperoleh ilmu yang dalam prakteknya metode ilmiah untuk mengungkapkan dan
mengembangkan ilmu dikerjakan melalui cara kerja penelitian.Bahwa manusia disadari atau
tidak akan selalu menghadapi masalah, manusia selalu dituntut untuk menyelesaikan masalah
yang dihadapinya bagaimana seorang nelayan agar bisa mendapatkan ikan yang banyak,
petani agar tanamannya tidak diserang hama dengan hasil yang memuaskan, termasuk
bagaimana cara mendidik anak tentu semua itu ada metode penyelesaiannya terlepas dari
apakah permasalahan itu, modusnya sama dengan yang pernah terjadi dulu sekalipun dengan
tantangan baru maka metode penyelesaiannya pun harus baru pula. Karena itulah tuhan
memberikan manusia akal pikiran, agar manusia mengoptimalkan fasilitas yang sudah
diberikan oleh tuhannya agar bisa menjawab tantangan zaman dan permasalahan yang
muncul dengan seting sosial dan modus yang berbeda pula. Masalahnya bisakah manusia
bercocok tanam, menangkap ikan, mendidik anak dengan baik tanpa adanya metode tertentu
dalam melahirkan pengetahuan. Dan pengetahuan diperoleh melalui sebuah sistem tata fikir
yang dilakukan manusia, oleh karena itu, hal inimenunjukan bahwa penelitian ilmiah dengan
metode ilmiah memiliki peranan penting dan memberikan manfaat yang banyak dalam
membantu manusia dalam memecahkan permasalahannya. Pengetahuan mempunyai sistem
dan ilmu adalah pengetahuan yang sistematis, pengetahuan yang dengan sadar menuntut
kebenaran, dan melalui metode tertentu.

Prosedur Berpikir Ilmiah Penalaran rasional dan empiris


Prosedur berfikir ilmiah penalaran rasional dan empiris merupakan dua model yang selalu
menjadi sumber sekaligus metodologis dalam menghasilkan ilmu pengetahuan, ilmu yang
dihasilkan dari sumber tadi, selalu menuntut dilakukan observasi dan penjelajahan baru
terhadap masalah yang dihadapi dari pra anggapan (hipiotesis/dedukasi), pengujian dilakukan
melalui studi lapangan(empiris/induksi). Jadi metode ilmiah adalah penggabungan antara cara
berpikir deduktif (rasional) dan induktif (empiris) dalam membangun pengetahuan.Secara
rasioanal maka ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan
secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai dengan fakta dan yang
tidak. Dengan demikian bahwa semua teori ilmiah harus memenuhi dua syarat utama yakni:
a) Harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya
kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan; dan
b) Harus cocok dengan fakta-fakta empiris sebab teori yang sekiranya tidak didukung oleh
pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.
Jadi logika ilmiah merupakan gabungan antara logika deduktif dan logika
induktif dimana rasionalisme dan empirisme hidup berdampingan dalam sebuah sistem.Teori
apapun konsistennya jika tidak didukung pengujian empiris maka tidak dapat diterima
kebenarannya secara ilmiah. begitupun sebaliknya seberapa pun faktualitasnya fakta-fakta
yang ada, tanpa didukung asumsi rasional maka ia hanya akan menjadi fakta yang mati yang
tidak memberikan pengetahuan kepada manusia.Oleh karena itu, sebelum teruji
kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah
bersifat sementara, yang biasanya disebut hipotesis. Hipotesis adalah dugaan atau jawaban
sementara terhadap permasalahan yang kita hadapi, hipotesis berfungsi sebagai penunjuk
jalan yang memungkinkan kita untuk memperoleh jawaban. Hipotesis disusun berdasarkan
cara kerja deduktif, dengan mengambil premis-premis dari penetahuan ilmiah yang sudah
diketahui sebelumnya. Penyusunan hipotesis berguna untuk menunjang terjadinya konsistensi
pengembangan ilmu secara keseluruhan dan menimbulkan efek kumulatif dalam kemajuan
ilmu. Hipotesis dapat menjadi jembatan pemanduan antara cara kerja deduksi dan
induksi.Langkah selanjutnya setelah penyusunan hipotesis adalah menguji hipotesis tersebut
dengan mengkonfrontasikannya, mengkomunikasikannya dengan dunia fisik yang nyata,
dalam proses pengujian ini merupakan pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis
yang diajukan. fakta-fakta ini bisa bersifat sederhana yang bisa langsung ditangkap oleh
panca indra ada juga yang harusmenggunakan alat seperti teleskop dan mikroskop.Dengan
adanya jembatan berupa penyusunan hipotesis, metode ilmiah sering dikenal sebagai proses
logico-hypofhetico-verifikafio (logic, hipotetik, sekaligus verifikatif). Perkawinan
berkesinambungan antara deduksi dan induksi disebut dengan prosedur berpikir ilmiah.
proses induksi diperlukan untuk melakukanvverifikasi atau pengujian hipotesis di mana
dikumpulkan fakta-fakta empiris untukmenilai apakah sebuah hipotesis didukung oleh fakta
atau tidak.
Nazir (1988) dalam buku Metode Penelitian, menyimpulkan bahwa penelitian dengan
menggunakan metode ilmiah, sekurang-kurangnya dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:

Merumuskan serta mendefinisikan masalah


Langkah pertama dalam meneliti adalah menetapkan masalah yang akan dipecahkan. Untuk
menghilangkan keragu-raguan, masalah tersebut didefinisikan serta jelas. Sampai ke mana
luas masalah yang akan dipecahkan.

Mengadakan studi kepustakaan


Langkah kedua adalah mencari data yang tersedia yang pernah ditulis peneliti sebelumnya
yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. mencari bahan di
perpustakaan merupakan hal yang tak dapat dihindari oleh seorang peneliti.
Memformulasikan hipotesa
Merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang
materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan.

Menentukan model untuk menguji hipotesa


Setelah hipotesa-hipotesa ditetapkan, langkah selanjutnya adalah merumuskan cara-cara
untuk menguji hipotesa tersebut. Pada ilmu-ilmu sosial yang telah lebih berkembang, seperti
ilmu ekonomi misalnya, pengujian hipotesa didasarkan pada kerangka analisa (analytical
framework) yang telah ditetapkan. Model matematis dapat juga dibuat untuk mengrefleksikan
hubungan antarfenomena yang secara implisit terdapat dalam hipotesa, untuk diuji dengan
teknik statistik yang tersedia.
Pengujian hipotesa menghendaki data yang dikumpulkan untuk keperluan tersebut. Data
tersebut bisa saja data primer ataupun data sekunder yang akan dikumpulkan oleh peneliti.

Mengumpulkan data
Peneliti memerlukan data untuk menguji hipotesa. Data tersebut yang merupakan fakta yang
digunakan untuk menguji hipotesis perlu dikumpulkan.
Teknik pengumpulan data akan menjadi berbeda tergantung dari masalah yang dipilih serta
metode yang digunakan. Misalnya, penelitian yang menggunakan metode percobaan, maka
data diperoleh dari plot-plot percobaan yang dibuat sendiri oleh peneliti. Penelitian yang
menggunakan metode sejarah ataupun survei normatif, data diperoleh dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepada responden, baik secara langsung ataupun dengan
menggunakan questionair.

Menyusun, menganalisa, dan memberikan interpretasi


Setelah data terkumpul, peneliti menyusun data untuk mengadakan analisa. Sebelum analisa
dilakukan, data tersebut disusun lebih dahulu untuk mempermudah analisa. Penyusunan data
dapat dalam bentuk tabel ataupun membuat coding untuk analisa dengan komputer. Sesudah
data dianalisa, maka perlu diberikan tafsiran atau interpretasi terhadap data tersebut.

Membuat generalisasi dan kesimpulan


Setelah tafsiran diberikan, maka peneliti membuat generalisasi dari penemuan-penemuan,
dan selanjutnya memberikan beberapa kesimpulan. Kesimpulan dan generalisasi ini harus
berkaitan dengan hipotesa. Apakah hipotesa benar untuk diterima, ataukah hipotesa tersebut
ditolak. Apakah hubungan-hubungan antarfenomena yang diperoleh akan berlaku secara
umum ataukah hanya berlaku pada kondisi khususnya saja.

Membuat laporan ilmiah


Langkah akhir dari suatu penelitian ilmiah adalah membuat laporan ilmiah tentang hasil-hasil
yang diperoleh dari penelitian tersebut. Penulisan secara ilmiah mempunyai teknik tersendiri
pula.

Metode ilmiah digunakan dalam berbagai bidang, seperti :


Ilmu Biologi
Manajemen Informatika
Ilmu Komputer
Persahaman
Ilmu Sosial
Farmasi
Pertanian
Pendidikan
Ilmu Ekonomi
Ilmu Pengetahuan Alam

Sifat Ilmu Pengetahuan dan Metode Ilmiah:


a) Logis atau masuk akal, yaitu sesuai dengan logika atau aturan berpikir yang
ditetapkan dalam cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Definisi, aturan, inferensi
induktif, probabilitas, kalkulus, dll. merupakan bentuk logika yang menjadi landasan ilmu
pengetahuan. Logika dalam ilmu pengetahuan adalah definitif. Obyektif atau sesuai dengan
fakta. Fakta adalah informasi yang diperoleh dari pengamatan atau penalaran fenomena.
b) Obyektif dalam ilmu pengetahuan berkenaan dengan sikap yang tidak tergantung pada
suasana hati, prasangka atau pertimbangan nilai pribadi. Atribut obyektif mengandung arti
bahwa kebenaran ditentukan oleh pengujian secara terbuka yang dilakukan dari pengamatan
dan penalaran fenomena.
c) Sistematis yaitu adanya konsistensi dan keteraturan internal. Kedewasaan ilmu
pengetahuan dicerminkan oleh adanya keteraturan internal dalam teori, hukum, prinsip dan
metodenya. Konsistensi internal dapat berubah dengan adanya penemuan-penemuan baru.
Sifat dinamis ini tidak boleh menghasilkan kontradiksi pada azas teori ilmu pengetahuan.
d) Andal yaitu dapat diuji kembali secara terbuka menurut persyaratan yang ditentukan
dengan hasil yang dapat diandalkan. Ilmu pengetahuan bersifat umum, terbuka dan universal.
e) Dirancang, Ilmu pengetahuan tidak berkembang dengan sendirinya. Ilmu pengetahuan
dikembangkan menurut suatu rancangan yang menerapkan metode ilmiah. Rancangan ini
akan menentukan mutu keluaran ilmu pengetahuan.
f) Akumulatif, Ilmu pengetahuan merupakan himpunan fakta, teori, hukum, dll. yang
terkumpul sedikit demi sedikit. Apabila ada kaedah yang salah, maka kaedah itu akan diganti
dengan kaedah yang benar. Kebenaran ilmu bersifat relatif dan temporal, tidak pernah mutlak
dan final, sehingga dengan demikian ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan terbuka.

Membedakan cara memperoleh pengetahuan tidak ilmiah dengan yang ilmiah


Dalam menulis karya ilmiah, tentu saja dibutuhkan informasi-informasi yang berkaitan
dengan hal yang diteliti. Informasi-informasi tersebut juga harus merupakan pengetahuan
ilmiah. Lalu, bagaimana cara membedakan pengetahuan yang ilmiah dan yang tidak ?
Bagaimana pula cara kita memperolehnya ? Sebenarnya pengetahuan dapat kita peroleh dari
mana saja sebagai referensi karya ilmiah, namun yang harus diperhatikan adalah apakah
informasi tersebut merupakan pengetahuan yang ilmiah atau tidak. Hal yang perlu diingat
adalah bahwa dalam pengetahuan yang ilmiah pasti berdasarkan fakta dan dapat dibuktikan
kebenarannya. Pengetahuan ilmiah juga harus bebas dari prasangka atau harus bersifat
objektif. Itu berarti, pengetahuan yang tidak ilmiah bukanlah berdasarkan fakta dan bersifat
subjektif.
Disini saya akan memberikan contoh tentang proses terjadinya gempa bumi. Dalam sudut
pandang pengetahuan ilmiah, gempa bumi merupakan getaran atau guncangan yang terjadi
di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan
gelombang seisemik. Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang
dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama
tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut
tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa bumi akan
terjadi. Sedangkan dalam sudut pandang pengetahuan yang tidak ilmiah, gempa bumi sering
dikaitkan dengan mitos-mitos tertentu, tergantung dari mana mitos tersebut berasal. Misalnya
mitos yang ada di Afrika Barat, Sebagian orang Afrika Barat percaya bahwa bumi terletak di
kepala raksasa. Semua tanaman yang tumbuh adalah rambut raksasa itu. Sedangkan manusia
dan binatang adalah kutu-kutu yang berkeliaran di kepala raksasa itu. Si raksasa biasa duduk
menghadap ke Barat. Lalu, ke Timur lagi. Ulah raksasa ini membuat Bumi di kepalanya
terguncang atau terjadi gempa bumi. Berbeda dengan mitos yang ada di Suku Indian, mereka
percaya bahwa zaman dulu ketika sebagian besar bumi merupakan lautan, Roh agung
memutuskan untuk membuat daratan dengan danau dan sungai yang dipangul oleh kura-kura.
Suatu hari kura kura mulai bertengkar dan 3 kura-kura berenang ke timur dan 3 lainya ke
barat. Daratan pun bergetar, dan patah dengan suara besar tapi daratan di pungung mereka
terlalu berat dan begitu mereka sadar tidak dapat berenang jauh mereka berhenti dan
berbaikan lagi. Tetapi begitu mereka bertengkar lagi maka sekali lagi gempa bumi pun
terjadi.

Keunggulan dan keterbatasan serta peranan metode ilmiah dalam perkembangan ilmu
pengetahuan
Metode ilmiah memang selalu digunakan dalam penulisan karya ilmiah, namun metode
ilmiah juga memiliki keunggulan dan keterbatasan. Berikut ini, saya akan menjelaskan
keunggulan, keterbatasan, serta peranan metode ilmiah.
Keunggulan metode ilmiah :
1. Mencintai kebenaran obyektif, bersifat adil dan hidup bahagia
2. Kebenaran tidak absolut karena kebenaran dicari secara terus menerus
3. Dengan ilmu pengetahuan kita tidak dapat dengan mudah percaya pada takhayul,
astrologi maupun untung-untungan karena terjadi proses yang teratur di alam
4. Dengan ilmu pengetahuan kita memiliki rasa ingin tahu yang lebih banyak
5. Dengan ilmu pengetahuan kita tidak mudah berprasangka tetapi dapat berpikir secara
terbuka, obyektif, dan toleran
6. Dengan metode ilmiah kita tidak mudah percaya tanpa bukti
7. Dengan metode ilmiah kita jadi memiliki sikap optimis, teliti, berani membuat
pernyataan yang benar menurut ilmiah

Kelemahan Metode Ilmiah :


a) Metode ilmiah bersifat tentatif yaitu sebelum ada kebenaran ilmu yang dapat menolak
kesimpulan maka kesimpulan dianggap benar. tetapi kesimpulan ilmiah bisa berubah sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan
b) Metode ilmiah tidak dapat membuat kesimpulan tentang baik buruk sistem nilai dan
juga tidak dapat menjangkau tentang seni dan estetika
c) Metode ilmiah tidak mungkin bisa menjangkau objek yang bersifat inmateri (gaib),
dikarenakan tidak adanya wujud, ukuran dan timbangan yang jelas.
d) Terlalu bergantung pada objek yang ada
e) Metode ilmiah akan berubah bila objek yang di amati telah berubah. Sebagai contoh
ilmuan mengatakan bahwa suhu diatas puncak merapi adalah 35 derajat c, namun apa yang di
kemukakan oleh ilmuan akan berubah seiring berubahnya cuaca dan suhu
f) Kurang valid, karena tidak semua hasil dari metode atau penelitian di suatu daerah akan
bisa di terapkan untuk daerah lain.
g) Membutuhkan waktu yang lama, karena penelitian dilakukan secara berulang.
h) Membutuhkan biaya yang sangat mahal, karena setiap penelitian memerlukan alat
bantu berupa peralatan yang menggunakan tehnologi canggih.
i) Dapat terhapus atau tidak di pakai bila terbukti ditemukan kesalahan dan bila muncul
teori lain yang dianggap lebih berguna
j) Cenderung kaku dan tidak terpengaruh oleh rasio Dari uraian di atas dapat kita
simpulkan bahwa setiap teori selalu memiliki sisi positive dan negatif.

Kesimpulan
Pengertian dan Hakikat Metode Penelitian yaitu Rasa Ingin Tahu yang mendorong
terjadinya penelitian. Penelitian merupakan penyaluran hasrat keingintahuan manusia dalam
taraf keilmuan atau dapat juga diartikan sebagai mempertanyakan. Penelitian merupakan
suatu proses. Peneliti adalah orang yang melakukan kajian atau penelitian atas berbagai
fenomena-fenomena yang terjadi. Metode Penelitian merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Berfikir ilmiah harus bersifat skeptik, analitik, dan kritik.
1. Skeptik yaitu selalu menanyakan bukti atau fakta yang dapat mendukung setiap
pernyataan
2. Analitik yaitu selalu menganalisa setiap pertanyaan atau persoalan mana yang relevan dan
mana yang tidak relevan.
3. Kritik yaitu selelu mendasarkan pikiran dan pendapat kita pada logika dan teori-teori dan
mampu menimbang berbagai hal secara objektif berdasar data dan analisis akal sehat
(commonsense).
Terkait dengan ilmu pengetahuan, dapat dikemukakan tiga tujuan umum penelitian yaitu:
1. Tujuan Eksploratif, penelitian dilaksanakan untuk menemukan sesuatu (ilmu
pengetahuan) yang baru dalam bidang tertentu. Ilmu yang diperoleh melalui
penelitian betul-betul baru belum pernah diketahui sebelumnya. Misalnya suatu
penelitian telah menghasilkan kriteria kepemimpian efektif dalam MBS. Contoh
lainnya adalah penelitian yang menghasilkan suatu metode baru pembelajaran
matematika yang menyenangkan siswa.
2. Tujuan Verifikatif, penelitian dilaksanakan untuk menguji kebenaran dari sesuatu
(ilmu pengetahuan) yang telah ada. Data penelitian yang diperoleh digunakan untuk
membuktikan adanya keraguan terhadap infromasi atau ilmu pengetahuan tertentu.
Misalnya, suatu penelitian dilakukan untuk membuktian adanya pengaruh kecerdasan
emosional terhadap gaya kepemimpinan. Contoh lainnya adalah penelitian yang
dilakukan untuk menguji efektivitas metode pembelajaran yang telah dikembangkan
di luar negeri jika diterapkan di Indonesia.
3. Tujuan Pengembangan, penelitian dilaksanakan untuk mengembangkan sesuatu (ilmu
pengetahuan) yang telah ada. Penelitian dilakukan untuk mengembangkan atau
memperdalam ilmu pegetahuan yang telah ada. Misalnya penelitian tentang
implementasi metode inquiry dalam pembelajaran IPS yang sebelumnya telah
digunakan dalam pembelajaran IPA. Contoh lainnya adalah penelitian tentang sistem
penjaminan mutu (Quality Assurannce) dalam organisasi/satuan pendidikan yang
sebelumnya telah berhasil diterpakan dalam organisasi bisnis/perusahaan.
Cara ilmiah didasarkan pada ciri-ciri keilmuan:
1. Rasional
2. Empiris
3. Sistematis
Sifat Penelitian Ilmiah yaitu selalu mempertanyakan pengetahuan-pengetahuan yang telah
ada serta harus memerikasa kembali kemampuannya untuk membantu kita menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang kita hadapi pada saat ini dan esok, serta bukannya bagaimana
kemampuan memecahkan persoalan kemarin. Karena itu, sifat peneliti ilmiah adalah
berkemauan serta berkemampuan mempertahankan obyektivitas hasil penelitian, berkemauan
serta berkemampuan menyesuaikan diri dalam arti luas serta bersifat terbuka.

DAFTAR PUSTAKA
Abdulloh, Taufik. Ilmu sosial dan tantangan zaman.2006. Jakarta: Rajawali Press
Wallace, Walter L.Metoda logika Ilmu sosial.1994. Jakarta : Bumi Aksara (diterjemahkan
Drs. Lailil Kodar)
Soehartono Irawan. 2000. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Remaja Rosdakarya
Hamidi. 2004. Metodelogi Penelitian Kualitatif, Malang: UM Malang
Jalaluddin Rakhmat.1997.Metode Penelitian Kmunikasi.Bandung: Remaja Rosdakarya
http://manyul83.blogspot.com/2010/04/kelompok-ilmu-pengetahuan.html

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Tinjauan Pustaka


Tinjauan pustaka adalah pengkajian kembali literatur-literatur yang relevan (review of related
literature) dengan penelitian yang sedang dikerjakan.
Istilah lain dari tinjauan pustaka yang sering digunakan para peneliti adalah studi literatur.
Studi literatur yang dibuat dengan membaca banyak buku, majalah kesehatan, artikel, jurnal
penelitian dan sumber lainnya akan mempermudah peneliti dalam merumuskan kerangka
konsep penelitian.1 Referensi lain menyebutkan istilah lain dari tinjauan pustaka adalah studi
kepustakaan yang mempunyai arti yang sama dengan yang telah dijelaskan di atas.2
Tinjauan pustaka diperlukan untuk memberikan pemantapan dan penegasan tentang ciri khas
penelitian yang hendak dikerjakan. Ciri khas penelitian ini akan tampak dengan melampirkan
referensi yang digunakan dalam daftar pustaka baik dari buku-buku ajar, artikel dan jurnal
penelitian sebelumnya. Suatu naskah penelitian yang berbobot harus terdiri dari 80%
artikel/jurnal penelitian, dan sisanya dapat dari buku ajar yang relevan dan sumber lain yang
membahas masalah penelitian yang diteliti.
Jika peneliti menggunakan karya orang lain tanpa menampilkan sumbernya, baik nama
author (penulis/peneliti), tahun, judul, tempat dan penerbit dan sebagainya yang dilampirkan
dalam daftar pustaka, atau nama dan tahun (Metode Harvard) pada naskah penelitian
merupakan praktik plagiat. Plagiarisme akan menjadikan seorang peneliti di tuntut secara
hukum dan mempunyai sejarah dalam hal akademik yang buruk, yang akan dipikul seumur
hidup.
Tinjauan pustaka dalam penelitian kesehatan tidak hanya membahas secara substansial
variabel dependen maupun variabel independen yang diteliti dari berbagai buku ajar /
texbook. Pada Tinjauan pustaka peneliti secara mendalam menggali teori yang berhubungan
dengan variabel yang diteliti, kemudian melakukan investigasi dari penelitian sebelumnya
yang relevan sehingga memahami secara mendalam masalah dan faktor penyebab masalah
penelitian yang akan diteliti.
Penelitian yang terdahulu yang dapat dipaparkan pada tinjauan pustaka antara lain hasil
penelitian baik deskriptif maupun analitik (kuantitatif/kualitatif). Selain itu yang perlu
didalami adalah metoda penelitian apakah sudah sesuai, dampak dari masalah peneltian
tersebut baik positif maupun negatif, sehingga dapat menjadi pedoman apakan hasil
penelitian tersebut dapat di aplikasikan di lingkungan / lokasi penelitian yang dipilih oleh
peneliti. Lebih lanjut Riyanto mengemukakan hal-hal yang perlu di muat dalam tinjauan
pustaka dalam penelitian kesehatan antara lain: 3 Teori-teori yang berhubungan dengan
permasalahan yang akan diteliti.
1. Seluruh aspek penyakit yang diteliti tidak perlu ditulis dalam tinjauan pustaka, hal-hal
yang ditulis difokuskan pada aspek yang akan diteliti dengan penekanan utama pada
hubungan variabel yang dipermasalahkan (dependen) dengan variabel lain yang
menjadi faktor penyebab maupun perancu.
2. Buku sumber pustaka sebaiknya tidak terlalu lama tahunnya sehingga masih up to
date (10 tahun) kecuali yang menjadi grand theory sebagai acuan kerangka teori di
akhir bab 2, tetapi setidaknya carilah terbitan yang terbaru.
3. Gunakan hasil penelitian dalam artikel / jurnal yang relevan yang dapat memperkuat
teori yang dibangun dengan sumber yang up to date.
4. Membuat kerangka teori sebagai dasar untuk mengembangkan kerangka konsep
penelitian. Dengan membuat kerangka toeri, maka peneliti dapat meletakkan masalah
yang sedang diteliti dalam konteks ilmu pengetahuan yang sedang didalami.

Tujuan Tinjauan Pustaka


Tujuan utama membuat tinjauan pustaka adalah menjadi dasar pijakan atau fondasi untuk
memperoleh dan membangun landasan teori, kerangka pikir, menentukan hipotesis
penelitian, mengorganisasikan, dan kemudian menggunakan variasi pustaka dalam
bidangnnya.

Fungsi Tinjauan Pustaka


Fungsi tinjauan pustaka antara lain untuk (1) mengetahui sejarah masalah penelitian, (2)
membantu memilih prosedur penyelesaiaan masalah penelitian, (3) memahami latar belakang
teori masalah penelitian, (4) mengetahui manfaat penelitian sebelumnya, (5) menghindari
terjadinya duplikasi penelitian, dan (6) memberikan pembenaran alasan pemilihan masalah
penelitian, yang akan dijelaskan secara rinci di bawah ini.4
1. Mengetahui Sejarah Masalah Penelitian. Berdasarkan sejarah masalah yang berkaitan
dengan masalah penelitiannya, peneliti akan mendapatkan informasi tentang hal-hal
yang telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya, aspek-aspek yang telah diteliti,
prosedur-prosedur yang telah diterapkan, hasil dan hambatan yang ditemukan di
dalam penelitian, dan perbedaan antara masalah yang hendak dipecahkan dengan
masalah-masalah yang sudah dipecahkan orang lain.
2. Memilih Prosedur Penyelesaiaan Masalah Penelitian. Berdasarkan prosedur-prosedur
yang telah diterapkan oleh para peneliti sebelumnya yang berkaitan dengan masalah
penelitiannya, peneliti dapat memilih prosedur yang cocok atau membuat prosedur
baru berdasarkan kajian tentang kelebihan dan kekurangan dari prosedur-prosedur
yang ada.
3. Memahami Latar Belakang Teori Masalah Penelitian. Berdasarkan latar belakang
teori masalah penelitian, peneliti dapat memetakan kedudukan masalah penelitiannya
ke dalam perspektif cakupan pengetahuan yang lebih luas, sehingga dapat membantu
peneliti dalam menjelaskan pentingnya penelitan itu dilakukan serta dampak dari hasil
penelitiannya.
4. Mengetahui Manfaat Penelitian Sebelumnya. Berdasarkan kajian dari hasil-hasil
penelitian sebelumnya yang relevan, peneliti dapat memperkirakan manfaat hasil
penelitian yang akan dilaksanakannya.
5. Menghindari Terjadinya Duplikasi Penelitian. Pengkajian pustaka dapat menghindari
duplikasi penelitian. Dalam batas-batas tertentu suatu penelitian boleh merupakan
duplikasi dari penelitian lain, sepanjang penelitian yang akan dilaksanakan memiliki
tujuan berbeda untuk melengkapi hasil penelitian sebelumnya atau mempunyai alasan
yang kuat untuk meragukan hasil penelitian sebelumnya (bukan plagiat).
6. Memberikan Pembenaran Alasan Pemilihan Masalah Penelitian. Kajian pustaka harus
berfungsi sebagai kajian secara kritis tetapi singkat tentang kekhususan, manfaat dan
kelemahan dari penelitian sebelumnya (bukan sekadar senarai teori atau hasil
penelitian yang relevan saja), sehingga peneliti dapat memberikan pembenaran
tentang pentingnya masalah tersebut diteliti.

Peran Tinjauan Pustaka


Melalui tinjauan pustaka, peneliti dapat memiliki pemahaman yang luas dan dalam tentang
masalah penelitian yang diteliti. Selanjutnya peran tinjauan pustaka menurut beberapa
sumber antara lain:2
1. Mengetahui batas-batas cakupan permasalahan penelitian.
2. Dapat menempatkan pertanyaan penelitian dari perspektif yang jelas dan
komprehensif
3. Dapat membatasi pertanyaan penelitian yang diajukan dan menentukan konsep studi
yang berkaitan erat dengan permasalahan.
4. Dapat mengetahui dan menilai hasil-hasil penelitian yang sejenis yang bisa sama
maupun kontradiktif antara penelitian satu dengan penelitian lainnya.
5. Dapat menentukan metode penelitian yang tepat untuk memecahkan masalah
penelitian.
6. Mencegah dan mengurangi replikasi yang kurang bermanfaat dengan penelitian
sebelumnya.
7. Dapat lebih yakin dalam menginterpretasikan hasil penelitian yang hendak
dilakukannya.

Macam-Macam Sumber Tinjauan Pustaka


Adapun sumber-sumber yang dapat digunakan dalam menyusun tinjauan pustaka adalah
referensi ilmiah yang mempunyai ISBN untuk buku, ISSN untuk jurnal dan sedapat mungkin
dari jurnal ilmiah yang berbobot. Sumber-sumber referensi ilmiah yang dapat digunakan
dalam penelitian kesehatan antara lain:
1. Jurnal Penelitian : Jurnal penelitian yang dimaksud adalah jurnal ilmiah yang telah
memiliki ISSN, terakreditasi baik jurnal lokal, nasional maupun internasional. Akan
lebih bagus lagi jika jurnal yang di ambil sebagai referensi adalah jurnal yang sudah
terindeks SCOPUS. Sebagai contoh jurnal ilmiah dapat diakses melalui Proquest,
EBSCO, WHO, Cochrane dan lain sebagainya. Di Indonesia Kementrian Riset dan
Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEK DIKTI) telah memfasilitasi seluruh civitas
akademika baik di PTN maupun PTS untuk dapat mengakses jurnal ilmiah yang
bagus dengan berlangganan portal jurnal seperti EBSCO, Proquest dll. Password
jurnal tersebut data diperoleh dengan menghubungi pustakawan di perguruan tinggi
masing-masing. Penelitian yang berkualitas jika menggunakan sumber pustaka dari
jurnal ilmiah sebesar 80% dari seluruh referensi yang ada.
2. Buku Ajar : Buku ajar yang telah dipublikasi oleh penerbit baik dari dalam maupun
luar negeri. Buku yang sudah dipublikasi akan memiliki nomor ISBN. Sedapat
mungkin gunakan buku yang ditulis oleh author yang kompeten di bidangnya, baik
sebagai pendidik maupun praktisi kesehatan. Untuk melihat kualitas buku ajar
tersebut, lihat bagian referensi yang digunakan. Jika menggunakan referensi yang up
to date dan dapat dipertangungjawabkan, buku ajar tersebut adalah buku yang layak
digunakan dan dapat menjadi koleksi peneliti.
3. Artikel dari Internet : artikel dari internet yang layak dijadikan sumber pustaka adalah
artikel yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun institusi pendidikan. Peneliti harus
mencantumkan URL / alamat situs tersebut sebagai syarat penulisan referensi ilmiah.
Contohnya artikel elektronik dari WHO, Kemenkes, Harvard University, Universitas
Indonesia, dan lain sebagainya.
4. Narasumber : Menggunakan sumber pustaka dari narasumber dapat digunakan jika
sumber lainnya tidak ada atau waktu penerbitannya sudah lebih dari 10 tahun. Sebagai
bukti harus dicantumkan kapan dan dimana topik tersebut dibicarakan seperti seminar,
workshop dan pertemuan ilmiah lainnya. Untuk studi kualitatif, dapat dilampirkan
bukti berupa transkrip dari rekaman yang di rekam saat narasumber tersebut berbicara
pada acara tersebut dilaksanakan. Narasumber yang dimaksud adalah narasumber
yang kompeten dan seorang guru besar.
5. Majalah Kesehatan : sepanjang majalah kesehatan tersebut memiliki ISBN dan
authornya dapat di kontak untuk dimintai keterangan ataupun konfirmasi terkait
masalah penelitian yang diteliti, sumber tersebut dapat digunakan.

Jumlah Referensi yang Dibutuhkan


Para peneliti dari berbagai disiplin ilmu memiliki hak seluas-luasnya untuk mengembangkan
rasa ingintahunya. Namun demikian ada batasan yang harus dipatuhi yaitu harus berdasarkan
sistematika yang jelas dan sesuai dengan domain masing-masing peneliti. Hal ini disebabkan
karena penelitian yang dilakukan khusunya penelitian di dunia kesehatan, harus sesuai
dengan kode etik penelitian. Hak peneliti yang luas ini harus diimbangi juga dengan tanggung
jawab yang besar. Pengembangan ilmu harus mengacu kepada peningkatan kesejahteraan
umat manusia.5
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi, segala hasil
penelitian yang dilakukan di berbagai negara dapat segera di ketahui hanya berbekal
komputer dan internet. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi para peneliti untuk membatasi
sumber ilmiah yang relevan yang harus digunakan.
Seringkali para mahasiswa atau peneliti pemula bertanya tentang batasan jumlah referensi
ilmiah yang digunakan. Dalam hal kuantitas referensi yang digunakan, tidak ada batasan.
Tetapi dalam hal kualitas, ada batasan yang jelas yakni 80% dari seluruh referensi harus
berasal dari jurnal ilmiah.
Ada beberapa institusi pendidikan yang membuat batasan minimal referensi ilmiah yang
digunakan misalnya setiap variabel harus di ambil dari sekian referensi seperti di bawah ini:
1. Strata I ke bawah harus terdiri dari 5 jurnal penelitian / buku ajar dari luar negeri dan
sisanya boleh ditambahkan buku ajar atau jurnal penelitian dari dalam negeri
2. Strata II harus terdiri dari 8 jurnal penelitian / buku ajar dari luar negeri dan sisanya
boleh ditambahkan buku ajar atau jurnal penelitian dari dalam negeri.
3. Strata III harus terdiri dari 10 jurnal penelitian / buku ajar dari luar negeri dan sisanya
boleh ditambahkan buku ajar atau jurnal penelitian dari dalam negeri

Cara Membuat Tinjauan Pustaka


Pembuatan kajian pustaka sebaiknya mengikuti langkah awal, sebagai berikut : 4
1. Mulai mencari sumber yang relevan baik dari buku ajar, jurnal cetak maupun jurnal
elektronik dan lain sebagainya.
2. Buatlah matriks untuk mengisi ringkasan referensi yang diperoleh baik jurnal, artikel,
buku ajar dan lain sebagainya agar saat menulis dengan segera dapat ditemukan
sumber mana yang dimaksud.
3. Ciptakan lingkungan yang tenang untuk dapat meningkatkan konsentrasi dan fokus
pada saat mulai menulis
4. Baca dahulu panduan penulisan, sehingga pada saat melakukan editing pada tulisan
kita, tidak terlalu banyak yang dirubah terkait penulisan.
5. Selain melakukan ringkasan dengan tools matriks yang digunakan, proses analisis
juga kita lakukan terhadap jurnal yang dibaca, apakah relevan dan layak digunakan
atau tidak.
6. Kunci sukses dalam menulis adalah niat dan aksi harus sejalan. Jika tidak pernah
memulai, maka tidak akan pernah selesai.
7. Lakukan refresh otak dan pikiran jika mulai jenih, munculkan motivasi pada diri
sendiri baik itu dari keluarga (ayah/ibu) jika berhasil dapat membuat mereka bangga,
dapat menjadi role model bagi keluarga dan lain sebagainya sehingga tetap semangat
dalam menulis dan menyelesaikan proyek tugas akhir
8. Selalu berdoa memohon tuntutan dan hikmat dari yang Maha Kuasa agar dapat
menyelesaikan tugas ini dengan baik dan tepat waktu.

B. Kerangka Teoritis
Kerangka Teori adalah hubungan antar konsep berdasarkan studi empiris. 6 Kerangka teori
harus berdasarkan teori asal / grand theory. Sebagai contoh masalah perilaku ibu hamil dalam
memeriksakan kehamilannya dapat menggunakan kerangka teori dari Green yang sering
digunakan mahasiswa, atau dapat juga menggunakan kerangka teori reason action, Health
Believe Model, atau teori lain yang sesuai dengan masalah penelitian yang dapat di temukan
dalam buku ajar Health Behavior Theory for Public Health dan buku ajar lainnya.
Jika masalah yang diteliti berhubungan dengan penyakit tetapi yang di dalami adalah
pengetahuan tentang penyakit tersebut, maka dapat menggunakan teori pengetahuan seperti
tacit knowledge dan explicit knowledge. Contoh PERCEDE teori Green dapat dilibat pada
gambar berikut ini.7
Gambar 1. PERCEDE Teori Green.7
C. Kerangka Konsep
Kerangka Konsep adalah hubungan antara konsep yang dibangun berdasarkan hasil-hasil
studi empiris terdahulu sebagai pedoman dalam melakukan penelitian.6
Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal yang khusus. Oleh
karena konsep merupakan abstraksi, maka konsep tidak dapat langsung diamati atau diukur.
Konsep hanya dapat diamati dan diukur melalui konstruk yang dikenal dengan istilah
variabel.1
Variabel adalah sesuatu yang bervariasi. Variabel penelitian adalah sesuatu yang bervariasi
yang dapat diukur. Contoh variabel dalam penelitian kesehatan adalah Hb darah, tekanan
darah, berat badan, kunjungan ANC, jenis tenaga kesehatan, dan lain sebagainya. 1
Kerangka Konsep dapat berpijak pada kerangka teori yang dibentuk pada bab II. Kerangka
teori biasanya lebih kompleks dari kerangka konsep, karena tidak semua variabel dalam
kerangka teori diangkat menjadi variabel penelitian. Oleh karena itu pada BAB II sebelum
gambar kerangka konsep penelitian dipaparkan, peneliti wajib menjustifikasi mengapa
variabel lain tidak diteliti. Alasan yang disampaikan harus ilmiah, buka sekedar keterbatasan
waktu, dana, tenaga dan kemampuan penelitia saat itu. Contoh gambar kerangka konsep
dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2. Contoh Kerangka Konsep 1
Contoh Kerangka Konsep lain yang meneliti variabel perancu/confounding variables dapat
dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 3. Kerangka Konsep dengan Variabel Perancu8

D. Hipotesis
Pengertian Hipotesis
Hipotesis dalam suatu penelitian berarti jawaban sementara, patokan duga, atau dalil
sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut.1
Jika ditinjau dari asal kata, Hipotesis terdisi dari kata:
Hipo : di bawah
Thesis : dalil
Jadi Hipotesis adalah suatu dalil atau kaidah yang kebenarannya belum diketahui.
Hipotesis adalah penjelasan sementara yang diajukan tentang hubungan antara dua atau lebih
fenomena terukur/variabel untuk pembuktian secara empirik.6
Setelah melalui pembuktian dengan penelitian yang dilakukan, maka hipotesis yang dibuat
tentu saja dapat terbukti benar atau salah, dapat diterima atau ditolak. Jika diterima atau
terbukti benar, maka hipotesis tersebut menjadi tesis.1, 9
Kegunaan Hipotesis
Hipotesis berguna untuk :6
1. Menuntun arah penelitian : hubungan dua fenomena atau lebih dari dua
2. Identifikasi variabel yang digunakan: Misalnya untuk meneliti status gizi dengan
mengukur berat badan yang dibandingkan dengan usia menggunakan KMS.
3. Menentukan disain penelitian: analitik vs deskriptif; Potong lintang vs eksperimental
4. Petunjuk jenis analisis statistik yang digunakan : satu arah atau dua arah

Jenis Hipotesis
Hipotesis Penelitian dan Hipotesis Statistik
Seringkali terdapat dalam naskah penelitian hipotesis penelitian ditulis hipotesis kerja. Yang
harus muncul dalam naskah penelitian adalah hipotesis penelitian atau hipotesis kerja.9
Dalam penelitian dikenal dua macam hipotesis yaitu:1, 9
1. Hipotesis Kerja / hipotesis penelitian
Hipotesis kerja / hipotesis penelitian adalah suatu rumusan hipotesis dengan tujuan untuk
membuat ramalan tentang peristiwa yang terjadi apabila suatu gejala muncul. Ciri hipotesis
kerja adalah terdapat kata: ada, terdapat, jika, , maka, lebih dan sebagainya.
Contoh hipotesis penelitian / hipotesis kerja:
1. Terdapat hubungan merokok dengan kejadian BBLR.
2. Angka kematian bayi lebih tinggi pada persalinan yang ditolong oleh dukun bayi.

2. Hipotesis Statistik
Hipotesis statistik adalah Hipotesis yang digunakan dalam analisis statistik, pertama kali
diperkenalkan oleh Fisher. Hipotesis statistik biasanya menggunakan rumus, contoh : H0 : x
= y.1
Hipotesis statistik bersifat universal, sedangkan hipotesis penelitian berifat individual, sesuai
dengan penelitian yang dikerjakan peneliti, tergantung pada dugaan si peneliti itu sendiri.
Dibawah ini adalah tabel perbedaan hipotesis penelitian dan hipotesis statistik.9
Tabel 1. Perbedaan Hipotesis Penelitian dan Hipotesis Statistik
Hipotesis Statistik (H0)
Hipotesis Penelitian

Terdapat hubungan antara minum Tidak terdapat hubungan antara


Peneliti 1 alkohol dengan kanker payudara minum alkohol dengan kanker
payudara
Tidak ada hubungan antara
Tidak ada hubungan antara minum
Peneliti 2 minum alkohol dengan kanker
alkohol dengan kanker payudara
payudara

Selanjutnya hipotesis yang akan dibahas adalah hipotesis penelitian bukan hipotesis statistik.
Contoh lain hipotesis statistik pada uji perbandingan satu proporsi:10
H0 : tidak ada perbedaan proporsi perokok antara mahasiswa dan populasi
Ha : ada perbedaan proporsi perokok antara mahasiswa dan populasi
Batas kritis alfa = 0,05
Uji yang dilakukan adalah uji Z dan untuk SE karena sampel (mahasiswa) dan populasi yang
dipakai adalah populasi (masyarakat umum).
Rumus :

Sampel : x = 35, n = 75 p (Perokok) = 35/75 = 0,47


Proporsi Perokok di populasi p = 0,25

Dari nilai pv : Keputusan uji adalah H0 ditolak


Kesimpulan : Ada perbedaan proporsi perokok antara sampel (mahasiswa) dengan populasi
(masyarakat umum).

Jenis Hipotesis Menurut Arah Hipotesis


Jenis hipotesis menurut arah hipotesis terdiri dari ada dua macam yaitu:
1. Hipotesis satu arah : Hipotesis yang sudah memberi arah. Ciri hipotesis satu arah
terdapat kata : “ lebih tinggi, lebih rendah.”
Contoh : “Proporsi kejadian spina bifida pada ibu hamil yang mengkonsumsi asam folat 3
bulan pra konsepsi lebih rendah dibandingkan dengan ibu hamil yang mengkonsumsi asam
folat hanya pada saat trimester pertama.”
1. Hipotesis dua arah : Hipotesis yang belum mempunyai arah, ciri hipotesis ini adalah
terdapat kata : “ ada hubungan, ada korelasi, ada perbedaan” Jadi belum mengarahkan
dampak faktor tertentu terhadap kejadian tertentu.
Contoh: “Terdapat hubungan senam hamil dengan lama persalinan kala II.”

Hipotesis Positif dan Hipotesis Negatif


Ada juga jenis hipotesis positif dan hipotesis negatif. Hipotesis yang lazim ditemukan dalam
penelitian adalah hipotesis positif, namun jarang ditemukan hipotesis negatif. Contoh :
Hipotesis Negatif:
 Tidak terdapat hubungan antara minum alkohol dengan kanker payudara
 Tidak terdapat hubungan antara makanan cepat saji dengan penurunan densitas massa
tulang
 Tidak ada hubungan antara obat SF dengan kejadian perdarahan kala tiga
Hipotesis Positif:
 Terdapat hubungan antara pemakaian kontrasepsi hormonal dengan kejadian kualitas
hidup akseptor
 Terdapat hubungan antara masase perineum dengan robekan perineum tingkat III
 Semakin teratur ibu hamil melakukan senam hamil, semakin cepat persalinan kala II.

4. Cara Membuat Hipotesis yang Benar


Suatu hipotesis haus memenuhi syarat sebagai berikut:6, 9
1. Merupakan kalimat deklaratif
2. Merupakan jawaban sementara
3. Dapat dibuktikan secara empiris
4. Berkaitan dengan teori-teori yang ada
5. Konsisten dengan pertanyaan penelitian
6. Hipotesis hanya dibuat untuk penelitian analitik : Korelasi / hubungan antara dua atau
lebih variabel
7. Hipotesis hanya dibuat untuk pertanyaan utama
8. Menyebutkan variabel secara spesifik
9. Hipotesis boleh mengandung beberapa variabel bebas/independen, tetapi hanya
mengandung satu variabel terikat/dependen
10. Hipotesis dapat dibuat dalam bentuk Hipotesis positif dan hipotesis negatif
11. Hipotesis dapat terdir dari dua arah dan satu arah

Daftar Pustaka :
1. Notoatmodjo S. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta Rineka Cipta; 2010.
2. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara; 2012.
3. Riyanto A. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan; Dilengkapi COntoh kuesioner
dan Laporan Penelitian. Yogyakarta: Nuha Medika; 2011.
4. Hamdiyati Y. Cara Membuat Kajian Pustaka. . Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) bagi Guru-Guru MGMP Kota Bandung [Internet]. 2008. Available from:
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196611031991012-
YANTI_HAMDIYATI/Kajian_Pustaka_Pelatihan_KTI-PTK.pdf.
5. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: Sagung
Seto; 2011.
6. Kusumayati A. Materi Ajar Metodologi Penelitian. Kerangka Teori, Kerangka Konsep
dan Hipotesis. Depok: Universitas Indonesia; 2009.
7. Green LW, Ottoson JM. A Framework for Planning and Evaluation: PRECEDE-
PROCED Evolution anf Application of te Model. Journees de Sante Publique
[Internet]. 2006. Available from:
http://jasp.inspq.qc.ca/Data/Sites/1/SharedFiles/presentations/2006/JASP2006-
Ottawa-Green-Ottoson14-1.PDF.
8. Djami MEU. Hubungan Kontrasepsi Hormonal dengan Kualitas Hidup wanita Pernah
Kawin di Wilayah Kerja Puskesmas Tigaraksa. In: Indonesia U, editor. Manuskrip.
Depok2011.
9. Dahlan S. Langkah-Langkah Membuat Proposal Penelitian Bidang Kedokteran dan
Kesehatan. Jakarta: Sagung Seto; 2009.
10. Hastono SP, Sabri L. Statistik Kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers; 2006.
POPULASI DAN SAMPEL

PENGERTIAN POPULASI dan SAMPEL


Suatu kegiatan penelitian pasti akan selalu berhadapan dengan Objek yang akan diteliti atau
yang akan DIOBSERVASI. Objek tersebut dapat berupa Manusia, Hewan, Tumbuh –
tumbuhan, Benda – benda mati lainnya serta Peristiwa dan Gejala yang terjadi di dalam
masyarakat atau di alam sekitar kita.
Selanjutnya, menurut Sugiyono (2003) Polpulasi adalah “Wilayah Generalisasi yang
terdiri atas Obyek/Subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.”
Jadi, Populasi BUKAN HANYA Orang, tetapi juga benda – benda alam yang lain. Populasi
juga BUKAN SEKEDAR Jumlah yang ada pada 0bjek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi
seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek itu.
Satu orangpun dapat digunakan sebagai Populasi, karena satu orang itu mempunyai berbagai
karakteristik, misalnya Gaya Bicara, Disiplin, Hobi, Cara Bergaul, Sel, Persepsi, Kimia
Darah, Urine dan lain-lain.
Adapun pengertian Populasi menurut Nawawi (1985) menyebutkan bahwa Populasi adalah :
“Totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung ataupun pengukuran
kuantitatif maupun kualitatif dari karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek
yang lengkap”.
Sedangkan Riduan dan Tita Lestari (1997) mengatakan bahwa Populasi
adalah :“Keseluruhan dari karakteristik atau Unit hasil pengukuran yang menjadi
objek penelitian”.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa “Populasi merupakan
Objek atau Subjek yang berada pada Suatu Wilayah dan Memenuhi Syarat – Syarat
tertentu berkaitan dengan Masalah Penelitian.”

Berdasarkan Batasan Sumber Data yang terdapat dalam suatu Populasi secara Kuantitatif,
maka Populasi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
1) Populasi Terbatas (finite population)
Adalah Populasi yang mempunyai Sumber Data yang Jelas Batasnya secara Kuantitatif
sehingga dapat dihitung Jumlahnya.
Contoh :
Jumlah Penduduk Kota Surakarta 500.642 jiwa,
Jumlah 360 Mahasiswa Politeknik Kesehatan Surakarta di Jurusan Keperawatan, Jumlah 190
Dosen Politeknik Kesehatan Surakarta.
2) Populasi Tak Terbatas (Tak Terhingga)/(infinite population)
Yaitu Populasi yang Sumber datanya TIDAK dapat ditentukan Batas –Batasnya sehingga
Relatif TIDAK dapat ditentukan dalam bentuk Jumlah (uncountable).
Misalnya : Penelitian tentang berapa liter kenaikan air laut saat pasang karena bulan purnama,
Populasi tanaman anggrek di dunia, dsb.
Sedangkan berdasarkan SIFATnya, Populasi dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu :
1) Populasi Homogen
Populasi homogen adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang sama
sehingga tidak perlu mempermasalahkan jumlahnya secara kuantitatif.
2) Populasi Heterogen
Populasi heterogen adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang
berbeda (bervariasi) sehingga perlu ditetapkan batasbatasnya baik secara kuantitatif maupun
secara kualitatif.
Dalam melaksanakan penelitian, walaupun tersedia populasi yang terbatas dan homogen , ada
kalanya peneliti tidak melakukan pengumpulan data secara populasi. Tetapi mengambil
sebagian dari populasi yang dianggap mewakili populasi (representative). Hal ini berdasar
pertimbangan yang logis, seperti kepraktisan, keterbatasan biaya, waktu, tenaga dan adanya
percobaan yang bersifat merusak (destruktif).
Informasi tentang populasi sangat diperlukan untuk menarik kesimpulan. Bila kita dapat
mengobservasi keseluruhan individu anggota populasi, kita akan mendapatkan besaran yang
menyatakan karakteristik populasi yang sebenarnya; dalam statistika disebut PARAMETER.
Dengan demikian
PARAMETER adalah suatu nilai yang menggambarkan ciri/karakteristik populasi.
Parameter merupakan suatu nilai yang stabil karena diperoleh dari observasi terhadap seluruh
anggota populasi. Biasanya dilambangkan dengan huruf-huruf Yunani. Misalnya: Rata-rata
populasi dilambangkan dengan μ (baca: myu).dst.

Tabel 1. Parameter pada Populasi dan Sampel


SAMPEL (menurut Sugiyono, 2003 ; 56) adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin
mempelajari semua yang ada pada populasi, maka peneliti dapat menggunakan sample yang
diambil dari populasi itu.
Semua yang dipelajari dari sample itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk Populasi.
Oleh karena itu, Sampel yang diambil dari Populasi harus benar –benar Representatif.

Sedangkan Suharsimi Arikunto (2002, 109) mendefinisikan Sampel adalah Bagian dari
Populasi yaitu sebagian atau wakil dari Populasi yang diambil sebagai sumber data dan
dapat mewakili seluruh populasi.
Dari beberapa pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa SAMPEL adalah Sebagian
dari Populasi yang memiliki ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti.

B.KEGUNAAN SAMPEL
Terdapat beberapa kegunaan / keuntungan dengan menggunakan sample dalam penelitian,
yaitu :
1) Biaya yang lebih murah
2) Waktu yang relatif singkat
3) Kualitas informasi lebih baik, karena :
a. Jumlah yang relatif kecil memungkinkan dapat menggunakan tenaga peneliti / asisten
peneliti yang lebih terlatih,
b. Supervise yang ketat terhadap pengumpul data lebih mungkin dilakukan,
c. Kelompok penelitian yang lebih kecil memungkinkan untuk menggunakan metode
pengumpulan data yang lebih kompleks dan lebih akurat.
4) Data yang dikumpulkan dapat lebih menyeluruh (Komprehensif)
5) Memperoleh hasil yang lebih akurat.

C. TEKNIK SAMPLING
Teknik Sampling / Teknik Pengambilan Sampel adalah Suatu cara mengambil sample yang
representatif dari populasi. Hal ini berarti bahwa pengambilan sample harus dilakukan
sedemikian rupa sehingga diperoleh sample yang benar-benar dapat mewakili dan dapat
menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya. Oleh karena itu, Representativitas
Sampel sangat ditentukan oleh :
1) Homogenitas Populasi,
2) Jumlah Sampel yang dipilih,
3) Banyaknya Ciri/Karakteristik subyek yang dipelajari,
4) Teknik Pemilihan/Pengambilan sample.
Sifat/Karakter yang semakin homogen pada suatu individu di dalam populasi memberikan
representativitas sample yang semakin tinggi. Kemudian jumlah sample yang semakin
besar/banyak juga akan meningkatkan representativitas sample karena karakteristik sample
yang terambil semakin mendekati karakteristik populasi. Sedangkan banyaknya
Ciri/Karakteristik yang dipelajari dalam Sampel akan semakin menurunkan representativitas
sample, karena dengan demikian populasi akan semakin kurang homogen. Dan teknik
pengambilan sample yang memperhatikan prinsip Randomisasi akan semakin meningkatkan
representativitas.

Gambar : Teknik Sampling


TEKNIK
SAMPLING
PROBABILITY
SAMPLING
NON PROBABILITY
SAMPLING
1) Simple Random
Sampling
2) Proportionate Stratified
Random Sampling
3) Disproportionate
Stratified Random
Sampling
4) Cluster Sampling / Area
Sampling.
1) Systematic Sampling
2) Quota Sampling
3) Accidental Sampling
4) Purposive Sampling
5) Sampling Jenuh
6) Snowball Sampling
Berdasarkan gambar tersebut di atas terlihat bahwa Teknik Sampling pada dasarnya dapat
dibedakan menjadi 2 macam, yaitu PROBABILITY SAMPLING dan NON
PROBABILITY SAMPLING.
1. PROBABILITY SAMPLING :
Adalah : Teknik Sampling yang memberikan kesempatan/peluang yang sama kepada setiap
anggota populasi untuk dapat dipilih menjadi anggota sample. Disebut juga Random
Sampling, sehingga Sampel yang diperoleh disebut Sampel Random.
Teknik semacam ini HANYA boleh digunakan apabila setiap unit atau anggota populasi
bersifat HOMOGEN.
Teknik Probability Sampling atau Random Sampling ini dapat dibedakan menjadi beberapa
macam, diantaranya adalah :
a) Simple Random Sampling
Adalah Cara pengambilan sample dari anggota populasi dengan menggunakan cara acak
tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam anggota populasi tersebut.
Gambar : Simple Random Sampling
Hakekat dari Pengambilan Sampel secara Acak Sederhana ( Simple Random Sampling) ini
adalah bahwa setiap anggota atau Unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama
untuk diseleksi sebagai sample.
Populasi
Homogen
Sample
Keuntungan :
Estimator yang tidak bias,
Pelaksanaan yang sangat mudah,
Kelemahan :
Sampel mengumpul di satu tempat atau bahkan tersebar kemana – mana.
Kesulitan membuat Sample Frame (Daftar Anggota Populasi)
Cara-cara / Teknik yang digunakan untuk Randomisasi Sederhana (Simple Random Sample)
antara lain :
1. Cara Undian
Cara ini dilakukan sebagaimana kita melakukan pengundian, yang secara sistematis dapat
dilakukan dengan cara :
(a) Buat Daftar yang berisi Semua Subjek/Individu (Sample Frame),
(b) Beri kOde Nomor Urut pada semua subyek/individu itu,
(c) Tulis kode itu masing – masing dalam selembar kertas,
(d) Gulung kertas itu baik – baik,
(e) Masukkan gulungan – gulungan kertas itu kedalam tempolong/tempat pengundian,
(f) Kocok baik – baik, dan ambil satu demi satu sampai jumlah yang kita butuhkan.

Cara pengambilan Sample seperti ini juga sering dikatakan sebagai


Cara Mekanik.
2. Randomisasi dengan Tabel Bilangan Random Cara seperti inilah yang paling banyak
digunakan oleh para ahli statistic dan para peneliti. Karena selain prosedurnya sangat
sederhana, juga kemungkinan penyelewengan dapat dihindarkan sejauh – jauhnya.
Cara penggunaan Tabel Bilangan Random untuk menentukan suatu Sample dari suatu
populasi adalah sebagai berikut :
(a) Buat daftar subjek dengan nomor urutnya (Sample Frame),
(b) Jatuhkan ujung pensil/pen disembarang tempat pada Tabel Bilangan Random,
(c) Ambil DUA DIGIT Angka yang berdekatan dengan jatuhnya Ujung Pensil itu untuk
mengidentifikasi Orang Pertama sebagai Sample,
(d) Selanjutnya, untuk mengidentifikasi Orang yang Ke-2, 3, 4, 5, 6, 7, dst………(n),
ambillah dua angka di Bawah, di Atas dan atau di Sampingnya sampai kebutuhan kita
terpenuhi.
 Catatan :
Jika jumlah subjek dalam Populasi berkisar antara 100 – 999, maka pada Langkah (c) di atas,
TIDAK mengambil DUA angka, melainkan 3 (TIGA) Angka yang berdekatan. Demikian
juga bila jumlah populasi berkisar 1000 – 9999, maka harus mengambil 4 (EMPAT) Angka
yang berdekatan, dan seterusnya, disesuaiak dengan Jumlah Populasi.

Tabel 2 : Contoh Tabel Bilangan Random


b) Proportionate Stratified Random Sampling
Adalah Pengambilan Sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata secara
proporsional. Teknik ini biasa dilakukan bila anggota Populasinya Heterogen. Makin
heterogen suatu populasi, makin besar pula perbedaan sifatsifat antara lapisan tersebut. Untuk
dapat menggambarkan secara tepat tentang sifat-sifat populasi yang heterogen, maka populasi
yang bersangkutan harus dibagi-bagi kedalam lapisan-lapisan (strata) yang seragam atau
homogen, dan dari setiap strata dapat diambil sampel secara random (acak).
Gambar : Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik Sampling Random Strata Proporsional digunakan apabila proporsi ukuran sub-
populasi atau jumlah satuan elementer dalam setiap strata relatif seimbang atau relatif sama
besar. Dalam sampel strata proporsional, dari setiap strata diambil sampel yang sebanding
dengan besar setiap strata dengan berpatokan pada pecahan sampling (sampling fraction)
yang sama yang digunakan. Pecahan sampling adalah angka yang menunjukkan persentase
ukuran sampel yang akan diambil dari ukuran populasi tertentu.
Cara pengambilan sample dilakukan dengan menyeleksi setiap unit sampling yang sesuai
dengan ukuran unit sampling.
Keuntungannya ialah aspek representatifnya lebih meyakinkan sesuai dengan sifat-sifat
ynag membentuk dasar unit-unit yang mengklasifikasinya, sehingga mengurangi
keanekaragamannya.
Karakteristik-karakeristik masing-masing strata dapat diestimasikan sehingga dapat dibuat
perbandingan.
Kerugiannya ialah membutuhka informasi yang akurat pada proporsi populasi untuk
masing-masing strata. Jika hal tersebut diabaikan maka kesalahan akan muncul.









c) Disproportionate Stratified Random Sampling
Adalah Pengambilan sample dari anggota populasi secara acak dan berstrata tetapi sebagian
ada yang kurang Proposional Pembagiannya. Strategi pengambilan sample sama dengan
proporsional. Perbedaanya ialah terletak pada ukuran sample yang tidak proporsional
terhadap ukuran unit sampling karena untuk kepentingan pertimbangan analisa dan
kesesuaian.
Contoh :
Pegawai pada suatu Perusahaan tertentu mempunyai : 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2,
90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, dan 700 orang lulusan SMP.
Dengan kondisi tersebut, maka 3 orang lulusan S3 dan 4 orang Lulusan S2 tersebut diambil
semua sebagai sample, karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan
kelompok S1, SMU dan SMP.
d) Cluster Sampling / Area Sampling.
Adalah Teknik sampling yang dilakukan dengan cara mengambil wakil dari setiap Daerah
atau Wilayah geografis yang ada. Teknik ini digunakan apabila ukuran populasinya tidak
diketahui dengan pasti, sehingga tidak memungkinkan untuk dibuatkan kerangka
samplingnya, dan keberadaannya tersebar secara geografis atau terhimpun dalam klaster-
klaster yang berbeda-beda.
Apabila klaster itu bersifat wilayah geografis yang kecil, maka pengambilan sampelnya dapat
dilakukan satu tahap (simple cluster sampling).
Akan tetapi jika klasternya besar atau wilayah geografisnya besar, maka pengambilan sampel
tidak cukup hanya satu tahap, melainkan harus beberapa tahap. Dalam keadaan yang
demikian gunakanlah teknik sampling klaster banyak tahap (multistage cluster sampling).
Keuntungan menggunakan teknik ini ialah jika kluster-kluster didasarkan pada perbedaan
geografis maka biaya penelitiannya menjadi lebih murah. Karakteristik kluster dan populasi
dapat diestimasi.
Kelemahannya ialah membutuhkan kemampuan untuk membedakan masing-masing
anggota populasi secara unik terhadap kluster, yang akan menyebabkan kemungkinan adanya
duplikasi atau penghilangan individu-individu tertentu.

DAFTAR KEPUSTAKAAN :
1) Bhisma Murti, 1996, Penerapan Metode Statistik Non-Parametrik Dalam Ilmu – Ilmu
Kesehatan, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama
2) Ibnu Fajar, dkk, 2009, Statistik Untuk Praktisi Kesehatan, Yogyakarta, Graha Ilmu.
3) Riduwan, 2010, Dasar – Dasar Statistika, Edisi Revisi. Bandung, CV. Alfabeta
4) Sidney Siegel, 1994, Statistik Non-Parametrik Untuk Ilmu – Ilmu Sosial, Jakarta, PT.
Gramedia Pustaka Utama
5) Siswandari, 2009, Statistika Computer Based, Surakarta, LPP UNS dan UNS Press.
6) Sugiyono, 2003, Statistik Untuk Penelitian, Bandung, CV. Alfabeta
7) Sugiyono, 2009, Statistik Non Parametris Untuk Penelitian, Bandung, CV. Alfabeta
8) Sutrisno