Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

KEWIRAUSAHAAN
“MEMAHAMI KESUKAAN DIRI CARL GUSTAV JUNG”

Di susun oleh :

Ayun Eka Karnita (NIM : 1511002)


Indah Fitri Anita Sari (NIM : 1511007)

PROGRAM S-1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PATRIA HUSADA BLITAR
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga
tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita semua ke jalan
kebenaran yang diridhoi Allah SWT.
Maksud kami membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
KEWIRAUSAHAAN yang diamanatkan oleh dosen kami. Kami menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini banyak sekali kekurangannya baik dalam cara penulisan maupun dalam
isi.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi kami yang membuat dan
umumnya bagi yang membaca makalah ini, untuk menambah pengetahuan tentang
“MEMAHAMI KESUKAAN DIRI CARL GUSTAV JUNG”Amin.

Mei 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................


DAFTAR ISI.....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...........................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................
1.3 Tujuan.........................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biografi Carl Gustav Jung...........................................................................
2.2 Struktur Kepribadian ..................................................................................
2.3 Dinamika Kepribadian ...............................................................................
2.4 Perkembangan Kepribadian .......................................................................
2.5 Tahap- tahap Perkembangan Kpribadian ...................................................
BAB III PENUTUP
4.1 Kesimpulan .................................................................................................
4.2 Saran ...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Teori kepribadian dengan pendekatan psikologi analitis dikembangkan oleh Carl
Gustav Jung.Beliau diakui sebagai salah seorang ahli psikologi yang terkemuka di abad ke-
20.Pandangan Jung tentang kepribadian adalah prospektif dan retrospektif. Prospektif dalam
arti bahwa ia melihat kepribadian itu ke depan kea rah garis perkembangan sang pribadi di
masa depan dan retrospektif dalam arti bahwa ia memperhatikan masa lampau sang pribadi.
Karena orang hidup dibimbing oleh tujuan dan maupun sebab.

Jung menekankan pada peranan tujuan dalam perkembangan manusia.Pandangan


inilah yang membedakan Jung dengan Freud. Bagi Freud, dalam hidup ini hanya ada
pengulangan yang tak habis-habisnya atas tema-tema insting sampai ajal menjelang. Bagi
Jung, dalam hidup ini ada perkembangan yang konstan dan sering kali kreatif, pencarian ke
arah yang lebih sempurna serta kerinduan untuk lahir kembali.
Teori Jung juga berbeda dari semua pendekatan lain tentang kepribadian karena
tekanannya yang kuat pada dasar-dasar ras dan filogenetik kepribadian. Jung melihat
kepribadian individu sebagai produk dan wadah sejarah leluhur.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Carl Gustav Jung?

2. Bagaimana struktur kepribadian menurut Carl Gustav Jung?

3. Bagaimana dinamika kepribadian menurut Carl Gustav Jung?

4. Bagaimana perkembangan kepribadian menurut Carl Gustav Jung?

5. bagaimana tahap- tahap perkembangan kepribadian menurut Carl Gustav Jung?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui biografi Carl Gustav Jung?

2. Untuk mengetahui struktur kepribadian menurut Carl Gustav Jung?

3. Untuk mengetahui dinamika kepribadian menurut Carl Gustav Jung?

4. Untuk mengetahui perkembangan kepribadian menurut Carl Gustav Jung?


5. Untuk mengetahui tahap- tahap perkembangan kepribadian menurut Carl Gustav Jung?
BAB II

TINJUAN PUSTAKA
2.1 Biografi Carl Gustav Jung
Carl Gustav Jung lahir pada 26 Juli 1875 di Kesswil, kota kecil dekat Danau Constance,
Swiss. Carl Gustav Jung adalah anak dari pasangan pendeta di Gereja Reformasi Swiss,
Johann Paul Jung dan Emillie Preiswerk Jung, putri seorang teolog. Keluarga ibu Jung
mempunyai tradisi spiritualisme dan mistisisme, dan kakeknya dari garis ibu, Samuel
Preiswerk adalah penganut okultisme dan sering berbicara dengan roh orang mati.
Orang tua Jung memiliki tiga anak, seorang anak laki-laki sebelum Carl namun hanya
hidup selama 3 hari, dan seorang putri yang lebih muda sembilan tahun daripada Carl.
Karena itu, kehidupan awal yang dimiliki Jung adalah seorang anak tunggal.
Carl Gustav Jung adalah orang pertama yang merumuskan tipe kepribadian manusia
dengan istilah ekstrovert dan introvert, serta menggambarkan empat fungsi kepribadian
manusia yang disebut dengan fungsi berpikir, pengindera, intuitif, dan perasa.
Motivasi awal Jung menyelidiki tipologi manusia adalah keinginannya untuk mengerti
dan memahami pandangan Freud tentang gangguan mental sangat berbeda dari pandangan
Adler.
2.2 Struktur Kepribadian
Kepribadian atau psyche adalah mencakup keseluruhan pikiran,perasaan dan tingkah
laku,kesadaran,dan ketidak sadaran. Kepribadian membimbing orang untuk untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan social dan lingkungan fisik.sejak awal
kehidupan,kepribadian adalah kesatuan atau berpotensi membentuk kesatuan.ketika
mengembangkan kepribadian,orang harus berusaha mempertahankan kesatuan dan harmoni
antar semua elemen kepribadian.
Kepribadian di susun oleh sejumlah sistem yang beroprasi dalam tiga tingkat kesadaran;
ego beroperasi pada tingkat sadar,kompleks beroperasi pada tingkat sadar pribadi,dan arsetip
beroperasi pada tingkat taksadar kolektif.di samping sistem-sistem yang terkait dengan
daerah operasinya masing-masing, terdapat sikap (introvers-ektravers) dan fungsi (fikiran-
perasaan-persepsi-intuisi) yang beroperasi pada semua tingkat kesadaran.jjuga ada self yang
menjadi pusat dari seluruh kepribadian.
1. Kesadaran (Consciusness)
Consciousness muncul pada awal kehidupan, bahkan mungkin sebelum
dilahirkan. Secara berangsur kesadaran bayi yang umum-kasar, menjadi semakin
spesifik ketika bayi itu mengenal manusia dan obyek disekitarnya.
Menurut jung, hasil pertama dari proses diferensiasi kesadaran itu adalah ego.
2. Ego
Ego adalah jiwa sadar yang terdiri dari persepsi-persepsi,ingatan-ingatan,pikiran-
pikiran dan perasaan-perasaan sadar. Ego melahirkan perasaan identitas dan
kontinuitas seseorang,dan dari segi pandangan sang pribadi ego dipandang berada
pada kesadaran.
3. Ketidaksadaran Pribadi (Personal Unconscius) dan kompleks (Complexes)
Ketidaksadaran pribadi adalah daerah yang berdekatan dengan ego. Ketidaksadaran
pribadi terdiri dari pengalaman-pengalaman yang pernah sadar tetapi kemudian
direpresikan, disupresikan, dilupakan atau diabaikan serta pengalaman-pengalaman
yang terlalu lemah untuk menciptakan kesan sadar pada sang pribadi. Kompleks-
kompleks. Kompleks adalah kelompok yang terorganisasi atau konstelasi perasaan-
perasaan, pikiran-pikiran, persepsi-persepsi, ingatan-ingatan, yang terdapat dalam
ketidaksadaran pribadi. Kompleks memiliki inti yang bertindak seperti magnet menarik
atau “mengkonstelasikan” berbagai pengalaman kearahnya. (Jung,1934).
4. Ketidaksadaran Kolektif (Collective Unconscius)
Ketidaksadaran kolektif adalah gudang bekas-bekas ingatan laten yang diwariskan
dari masa lampau leluhur seseorang, masa lampau yang meliputi tidak hanya sejarah ras
manusia sebagai suatu spesies tersendiri tetapi juga leluhur pramanusiawi atau nenek
moyang binatangnya. Ketidaksadaran kolektif adalah sisa psikik perkembangan evolusi
manusia, sisa yang menumpuk sebagai akibat dari pengalaman-pengalaman yang
berulang selama banyak generasi. Semua manusia kurang lebih memiliki ketidaksadaran
kolektif yang sama. Jung menghubungkan sifat universal ketidaksadaran kolektif itu
dengan kesamaan stuktur otak pada semua ras manusia dan kesamaan ini sendiri
disebabkan oleh evolusi umum.
a. Arkhetipe-Arkhetipe
Arkhetipe adalah suatu bentuk pikiran (ide) universal yang mengandung unsur
emosi yang besar. Bentuk pikiran ini menciptakan gambaran-gambaran atau visi-
visi yang dalam kehidupan sadar normal berkaitan dengan aspek tertentu dari
situasi.

b. Persona
Persona adalah topeng yang dipakai sang pribadi sebagai respon terhadap
tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat, serta terhadap kebutuhan-
kebutuhan arkhetipal sendiri(Jung,1945). Tujuan topeng adalah untuk menciptakan
kesan tertentu pada orang-orang lain dan sering kali, meski tidak selalu, ia
menyembunyikan hakikat sang pribadi yang sebenarnya.

c. Anima dan animus


Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk biseksual. Pada tingakat
fisiologis, laki-laki mengeluarkan hormon seks laki-laki maupun perempuan,
demikian juga wanita.Pada tingkat psikologis,sifat-sifat maskulin dan feminin
terdapat pada kedua jenis. Jung mengaitkan sisi feminine kepribadian pria dan sisi
maskulin kepribadian wanita dengan arkhetipe-arkhetipe. Arkhetipe fenimin pada
pria disebut anima, arkhetipe maskulin pada wanita disebut animus
(Jung,1945,1945b).

d. Bayang-bayang (Shadow)
Bayang-bayang mencerminkan sisi binatang pada kodrat manusia. Sebagai
arkhetipe, bayang-bayang melahirkan dalam diri kita konsepsi tentang dosa asal;
apabila bayang-bayang diproyeksikan keluar maka ia menjadi iblis atau musuh.
e. Diri (Self)
Arkhetipe yang mencerminkan perjuangan manusia kearah kesatuan (Wilhelm dan
Jung 1931). Diri adalah titk pusat kepribadian, disekitar mana semua sistem lain
terkonstelasikan. Ia mempersatukan sistem-sistem ini dan memberikan kepribadian
dengan kesatuan, keseimbangan dan kestabilan pada kepribadian.
f. Simbolisasi (Symbolization)
Simbol adalah tanda yang tampak yang mewakili hal lain (yang tidak tampak).
Arsetip yang terbenam di dalam taksadar kolektif hanya dapat mengekspresikan diri
melalui symbol-simbol. Hanya dengan menginterpretasi symbol-simbol ini, yang
muncul dalam mimpi, fantasi, penampakan (vision), mythe, seni, dll, dapat
diperoleh pengetahuan mengenai taksadar kolektif dan arsetipnya.
Simbol beroperasi dalam dua cara. Pertama, dalam bentuk retrospektif, dibimbing
oleh insting symbol mungkin secara sederhana menunjukkan impuls yang karena
alasan tertentu tidak terpuaskan. Kedua, dalam bentuk prospektif, dibimbing oleh
tujuan akhir kemanusiaan, simbol mengekspresikan kumpulan kebijaksanaan yang
telah dicapai, yang dapat diterapkan pada masa yang akan datang.
5. Sikap
Jung membedakan dua sikap atau orientasi utama kepribadian,yakni sikap
ekstraversi dan sikap introversi. Sikap ektraversi mengarah sang pribadi ke dunia luar,
dunia objetif; sikap introversi mengarahkan orang ke dunia dalam,dunia subjektif
(1921). Kedua sikap yang berlawanan ini ada dalam kepribadian tetapi biasanya salah
satu diantaranya dominan dan sadar.
Apabila ego lebih bersifat ekstavert dalam relasinya dengan dunia, maka
ketidaksadaran pribadinya akan bersifat introvert. Misalnya, jika seseorang egonya
bersifat ekstraversi dalam hubungnnya dengan dunia luar, termasuk orang lain, maka
ketidaksadaran pribadinya akan bersifat intoversi. Bila orang egonya bersifat intoversi,
kearah kepada dunia dalam yang bersifat subjektif, maka ketidaksadaran pribadinya
bersifat ekstaversi.
6. Fungsi
Ada empat fungsi psikologis fundamental:
a. Pikiran. Berpikir melibatkan ide-ide dan intelek. Dengan berpikir manusia
berusaha memahami hakikat manusia dan dirinya sendiri.
b. Perasaan. Perasaan adalah fungsi evaluasi; Ia adalah nilai benda-benda,entah
bersifat positif maupun negatif,bagi subjek. Fungsi perasaan memberikan kepada
manusia pengalaman-pengalaman subjektifnya tentang kenikmatan dan rasa sakit,
amarah, ketakutan, kesedihan, kegembiraan dan cinta.
c. Pendirian. Pendirian adalah fungsi perceptual atau fungsi kenyataan.Ia
menghasilkan fakta-fakta konkret atau bentuk-bentuk representasi dunia.
d. Intuisi. Intuisi adalah persepsi melalui proses-proses tak sadar dan isi di bawah
ambang kesadaran. Orang yang intuitif melampaui fakta-fakta, perasaan-perasaan
dan ide-ide dalam mencari hakikat kenyataan.
Pikiran dan perasaan disebut fungsi rasio karena mereka memakai akal, penilaian,
abstraksi dan generalisasi. Mereka memungkinkan manusia menemukan hukum-
hukum dalam alam semesta. Pendirian dan intuisi dipandang sebagai fungsi irrasional
karena mereka didasarkan pada persepsi tentang hal-hal yang konkret, khusus dan
aksidental.
Biasanya salah satu diantara keempat fungsi itu berkembang jauh melampaui
ketiga lainnya,dan memainkan peranan yang lebih menonjol dalam kesadaran.Ini
disebut fungsi superior. Salah satu dari ketiga fungsi lainnya biasanya bertindak
sebagai pelengkap terhadap fungsi superior. Apabila fungsi kerja superior terhambat
maka secara otomatis fungsi pelengkap menggantikan fungsi superior. Fungsi yang
paling kurang berkembang dari keempat fungsi itu disebut fungsi inferior.Fungsi itu
direpresikan dan menjadi tidak sadar. Fungsi inferior mengungkapkan diri dalam
mimpi-mimpi dan fantasi-fantasi. Fungsi inferior itu juga memilki fungsi pelengkap.
7. Interaksi di Antara Sistem-Sistem Kepribadian
Berbagai sistem dan sikap serta fungsi yang hendak membangun seluruh
kepribadian saling berinteraksi dengan tiga cara yang berbeda.
a. Salah satu sistem bisa mengkompensasikan kelemahan sistem lain
Kompensasi bisa dijelaskan dengan interaksi antara sikap dan ektraversi dan
introversi yang berlawanan. Apabila ektraversi merupakan sikap ego sadar yang
dominan atau superior maka ketidaksadaran akan melakukan kompensasi dengan
mengembangkan sikap intoversi yang direpresikan. Kompensasi juga terjadi
antarfungsi. Seseorang yang menekankan pikiran dan persaan dalam kesadarannya
akan menjadi intuitif, dan bertipe pendirian secara tak sadar. Demikian juga, ego
dan anima pada seorang pria serta animus pada seorang wanita melahirkan
hubungan kompensatorik satu sama lain. Ego pria normal adalah maskulin
sedangkan anima adalah feminine dan ego wanita yang normal adalah feminin
sedangkan animus maskulin.Pada umumnya, semua isi kesadaran dikompensasikan
oleh isi-isi ketidaksadaran. Prinsip kompensasi memberikan semacam ekuilibrium
atau keseimbangan antara unsur-unsur yang saling bertentangan sehingga
mencegah psikhe menjadi tidak seimbang secara neurotis.
b. Salah satu sistem bisa menentang sistem lain
Pertentangan terdapat dimana-mana dalam kepribadian; antara ego dan bayang-
bayang,antara ego dan ketidaksadaran pribadi,antara persona dan anima atau
animus, antara persona dan ketidaksadaran pribadi,antara kolektif dan ego,serta
antara ketidaksadaran kolektif dan persona. Introversi bertentangan dan ekstraversi,
pikiran bertentangan dengan perasaan,dan pendirian bertentangan dengan intuisi.
Ego adalah seperti bola bulu tangkis yang dipukul bolak-balik antara tuntutan-
tuntutan luar dari masyarakat dan tuntutan-tuntutan batin dari ketidaksadaran
kolektif. Sebagai akibat dari pertarungan ini berkembanglah persona atau topeng.
Persona kemudian diserang oleh arkhetipe-arkhetipe lain dalam ketidaksadaran
kolektif.
c. Dua sistem atau lebih bisa bersatu membentuk sintesis
Kesatuan dari yang berlawanan tercapai lewat apa yang oleh Jung disebut
fungsi transenden. Bekerjanya fungsi ini menghasilkan sintesis antara sistem-sistem
yang bertentangan dan membentuk kepribadian yang seimbang dan terintegrasi.
Pusat dari kepribadian yang terintegrasi ini adalah diri (self).

2.3 Dinamika Kepribadian


Dinamika kepribadian bersifat rentan terhadap pengaruh-pengaruh dan modifikasi dari
luar, ia tidak akan mencapai keadaan stabil yang sempurna, hanya bisa bersifat stabil
relative.
1. Energi Psikis
Energi psikis merupakan manifestasi kehidupan, yakni energi organisme sebagai system
biologis. Energi psikis lahir seperti semua energi vital lain, yakni dari proses metabolic
tubuh. Energi psikis tidak dapat diukur atau dirasakan, namun terungkap dalam bentuk daya-
daya actual atau potensial. Keinginan, kemauan, perasaan, perhatian,dan perjuangan adalah
contoh-contoh dari daya actual dalam kepribadian;disposisi, bakat, kecenderungan,
kehendak hati, dan sikap adalah contoh daya potensial.
2. Prinsip Ekuivalensi
Prinsip ekuivalensi menyatakan bahwa jika energi dikeluarkan unutk menghasilkan suatu
kondisi tertentu, maka jumlah yang akan dikeluarkan itu akan muncul di salah satu tempat
lain dalam sistem.
Prinsip ekuivalensi menyatakan bahwa jika energi dikeluarkan dari salah satu system,
misalnya ego, maka energi itu akan muncul pada suatu system yang lain, mungkin persona.
Atau jika makin banyak nilai direpresikan ke dalam sisi bayang-bayang kepribadian, maka
nilai itu akan tumbuh kuat dengan mengorbankan stuktur lain dalam kepribadian.
3. Prinsip Entropi
Prinsip entropi menyatakan bahwa jika dua benda yang berbeda suhunya bersentuhan maka
panas akan mengalir dari benda yang suhunya lebih panas ke benda yang suhunya leih
dingin. Prinsip entropi yang digunakan Jung unutk menerangkan dinamika kepribadian
menyatakan bahwa distribusi energi dalam psikhe mencari keseimbangan. Misalnya orang
yang terlalu ekstrovert terpaksa mengembangkan bagian introvert dari kodratnya. Kaidah
umum dalam psikologi Jungian adalah setiap perkembangan yang berat sebelah akan
menimbulkan konflik, tegangan, tekanan, sedangkan perkembangan yang seimbang dari
semua unsur kepribadian akan menghasilkan keharmonisan, relaksasi dan kepuasan.
4. Penggunaan Energi
Seluruh energi psikis digunakan untuk keperluan kehidupannya, dan untuk pembiakan
spesies. Ini merupakan fungsi instingtif yang dibawa sejak lahir seperti lapar dan seks.
2.4 Perkembangan Kepribadian
Jung yakin bahwa manusia tetap berkembang atau berusaha berkembang dari tahap
perkembangan yang kurang sempurna ke tahap perkembangan yang lebih sempurna.
1. Kausalitas versus Teleologi
Menurut pandangan ini, kepribadian manusia dipahami menurut ke mana ia pergi
bukan di mana ia telah berada. Sebaliknya masa sekarang dapat dijelaskan oleh masa
lampau,peristiwa sekarang adalah hasil akibat atau pengaruh dari keadaan sebelumnya.
Masa sekarang tidak hanya ditentukan oleh masa lampau (kausalitas) tetapi ditentukan
juga oleh masa depan (teleologi).
2. Sinkronisitas
Prinsip itu diterapkan pada peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat yang sama,
tetapi peristiwa itu tidak disebabkan oleh peristiwa yang lain. Misalnya orang berpikir
tentang seseorang lalu orang itu muncul, atau orang bermimpi tentang sakit atau kematian
sanak keluarganya, kemudian ia mendengar peristiwa itu terjadi bersamaan dengan
mimipinya itu. Jung menunjuk banyak literature tentang telepati jiwa, kewaskitaan, dan
tipe-tipe lain sebagai bukti prinsip sinkronisitas.
3. Hereditas
Bagi Jung insting alamiah manusia diwariskan oleh para leluhurnya berkali-kali dan
telah melewati berbagai generasi. Potensi yang diwariskan ini memiliki ragam penglaman
yang sama seperti leluhur dalam bentuk arkhetipe-arkhetipe.

2.5 Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian


Proses individuasi ini ditandai oleh bermacam-macam perjuangan batin melalui
bermacam-macam tahap perkembangan.
1. Tahap pertama
Membuat sadar fungsi pokok serta sikap jiwa yang ada dalam ketidaksadaran.
Dengan cara ini, tegangan dalam batin berkurang dan kemampuan untuk orientasi srta
penyesuaian diri meningkat.
2. Tahap kedua
Membuat sadar imago. Dengan menyadari imago ini, orang akan mampu
melihat kelemahan-kelemahannya sendiri yang diproyeksikan.
3. Tahap ketiga
Menyadari bahwa manusia hidup dalam berbagai tegangan pasangan yang
berlawanan, baik rohaniah maupun jasmaniah. Manusia harus tabah menghadapi
masalah ini serta dapat mengatasinya.
4. Tahap keempat
Adanya hubungan yang selaras antara kesadaran dan ketidaksadaran, adanya
hubungan yang selaras antar segala aspek dari kepribadian yang ditimbulkan oleh
titik pusat kepribadian yaitu Diri. Diri menjadi titik pusat kepribadian, menerangi,
menghubungkan, serta mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadian. Gambaran
manusia yang mampu mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadiannya ini disebut
manusia integral atau manusia sempurna.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Carl Gustav Jung adalah orang pertama yang merumuskan tipe kepribadian manusia
dengan istilah ekstrovert dan introvert, serta menggambarkan empat fungsi kepribadian
manusia yang disebut dengan fungsi berpikir, pengindera, intuitif, dan perasa.
Kepribadian atau psyche adalah mencakup keseluruhan pikiran,perasaan dan tingkah
laku,kesadaran,dan ketidak sadaran. Kepribadian membimbing orang untuk untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan social dan lingkungan fisik.sejak awal
kehidupan,kepribadian adalah kesatuan atau berpotensi membentuk kesatuan. Ketika
mengembangkan kepribadian,orang harus berusaha mempertahankan kesatuan dan harmoni
antar semua elemen kepribadian.
3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini penyusun menyadari tentu banyak kekurangan dan
kejanggalan baik dalam penulisan maupun penjabaran materi serta penyusunan atau
sistematik penyusunan.
Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca
semua. Dan penyusun juga berharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita
semua.
DAFTAR PUSTAKA

Hall, Calvin S & Garner Lindzey. Teori-teori Psikodinamik (Klinis), Kanisius. Yogyakarta 1993.

Naisaban, Ladislaus. Psikologi Jung: Tipe Kepribadian Manusia dan Rahasia Sukses Dalam
Hidup (tipe kebijaksanaan Jung). Jakarta: PT Gramedia

Ujam Jaenudin, dkk. 2013. Psikologi Kepribadian (Lanjut) Studi Atas Teori Dan Tokoh
Kepribadian. Bandung: Pustaka Setia.