Anda di halaman 1dari 10

http://bibilung.wordpress.

com/2007/08/04/kadar-fluoride-tinggi-ancam-kesehatan-anak/
http://firman-ramdhani.blogspot.com/2008/08/bahaya-fluoride.html
manfaat fluor untuk mengurangi kerusakan gigi dan karies, namun ada beberapa hasil
penelitian yang mengungkapkan sifat toksik dan karsinogenik fluor.

Fluor telah terbukti menyebabkan sintesa DNA yang tak diinginkan, yaitu pertukaran
kromosom sejenis yang menyebabkan mutasi genetik pada sel (mutagenik). Artinya, jika
pasta gigi yang mengandung fluor tersebut tertelan ketika sedang menyikat gigi, atau
tertelan melalui air minum yang diberi tambahan fluor, maka akan terjadi peningkatan
mutasi genetik yang memicu timbulnya kanker. Selain itu fluor bisa menyebabkan
kerusakan ginjal, menurunkan IQ dan menimbulkan keracunan syaraf.
Kadar ‘Fluoride’ Tinggi Ancam Kesehatan Anak
Ditulis oleh bibilung di/pada Sabtu, 4 Agustus 2007

Delapan merek pasta gigi anak yang beredar di pasar ditemukan memuat kandungan
fluoride melebihi ambang batas yang ditentukan. Bila tertelan, zat pencegah gigi
berlubang itu dalam jangka panjang bisa merusak sistem saraf dan merapuhkan tulang
(osteoporosis) anak.

Demikian hasil riset Lembaga Kesehatan Jakarta Public Interest Research and Advocacy
Center (LKJ PIRAC) pada September-Oktober 2002, yang diumumkan kemarin di
Jakarta.

Menurut Koordinator Program LKJ PIRAC As’ad Nugroho, penelitian dilakukan dengan
mengambil sampel sembilan merek pasta gigi anak yang beredar di pasaran. Dan hanya
satu merek yang kandungan fluoride-nya dikategorikan aman.

As’ad mengatakan, fluoride yang dipercaya berguna mencegah gigi berlubang


membahayakan kesehatan kalau tertelan. Dan kadar fluoride pada delapan merek pasta
gigi anak tersebut ternyata cukup tinggi.

“Sejak 60-an, muncul kontroversi soal manfaat fluoride di dunia. Mereka yang pro yakin
bahan itu membantu kesehatan gigi. Sedangkan yang kontra menyatakan zat tersebut
dapat menimbulkan efek samping berbahaya bagi kesehatan,” jelas As’ad.

Namun belakangan, As’ad menambahkan, makin banyak ilmuwan mempertanyakan


keuntungan pemanfaatan fluoride dalam pasta gigi, bahkan dengan jumlah yang sedikit
sekalipun.

Beberapa negara di Eropa, misalnya, kata As’ad, melarang pemakaian fluoride, karena
ditemukan berbagai kasus penyakit kerapuhan tulang (osteoporosis) dan kerusakan sistem
saraf.

Ia mengungkapkan kekhawatiran ini terjadi pada pasta gigi anak karena besar
kemungkinan mereka menelannya saat menyikat gigi, karena mereka belum mampu
mengeluarkan hasil kumurnya.

Uji laboratorium

Lebih lanjut, As’ad menjelaskan, riset dilakukan dengan menggunakan dua tahap
pemeriksaan. Pertama, mengujinya di laboratorium Balai Besar Industri Kimia
Depperindag. Kedua, dengan menghitung kandungan yang tertera di label.
Dari analisis tersebut, peneliti LKJ PIRAC Iman Firmansyah menegaskan, 8 di antara 9
merek mengandung fluoride melebihi 1.000 part per miligram (ppm). Artinya, hanya satu
merek yang kadarnya di bawah 500 ppm dan merupakan produk impor.

Ia mengatakan, ditemukan pula perbedaan jumlah kandungan zat ini secara signifikan
pada hasil uji laboratorium dengan penghitungan berdasarkan yang tercantum dalam
kemasan.

Memang, jelasnya, Indonesia menetapkan standar 800-1.000 ppm, cuma apabila angka
ini terus dipertahankan, kelak akan sangat membahayakan kesehatan anak-anak di negara
kita.

Alasannya, Selandia Baru bersama negara-negara di Australia, dan yang termasuk


kelompok Uni Eropa, telah menurunkannya menjadi 250-500 ppm dari sebelumnya
1.000-1.500 ppm. “Standar di AS dan beberapa negara lain masih 1.000-1.500 ppm.”

Tapi, Iman melihat, Food and Drug Administration (FDA) AS telah mengeluarkan
peringatan dan wajib dicantumkan di label bahwa apabila timbul sesuatu yang tidak
diinginkan, segera hubungi kalangan profesional.

Selain itu, ia menuturkan produsen wajib pula mencantumkan peringatan bahwa pasta
gigi yang dipakai untuk anak-anak jangan diberikan terlalu banyak, tetapi sedikit saja.

Menurut Iman, dari sembilan merek yang diteliti cuma satu yang mencantumkan
peringatan itu di labelnya, yaitu pasta gigi anak impor dari Australia. Peringatan itu pun
masih dalam bahasa asing, bukan bahasa Indonesia.

Ironisnya, Iman mengemukakan, delapan merek produk lokal yang disurvei memberikan
tambahan berupa rasa buah kesukaan anak-anak, di antaranya strawberi, jeruk, maupun
anggur.

Tambahan rasa inilah yang malah dianggap mengancam kesehatan anak-anak karena
mereka terdorong untuk menelannya, sehingga terjadi kelebihan dosis.

Untuk itu, kata Iman, LKJ PIRAC akan meminta kepada Badan Pengawas Obat dan
Makanan (POM) untuk menetapkan standar fluoride dalam pasta gigi anak 250-500 ppm.
Maksudnya, lembaga pemerintah nondepartemen tersebut dituntut untuk melakukan
regulasi dalam peraturan yang berkaitan dengan produk pasta gigi, terutama buat anak-
anak.

Permintaan yang sama berlaku terhadap produsen supaya menurunkan kadar zat ini dan
kepada mereka diharapkan pula untuk menghilangkan tambahan rasa buah dalam
produknya. Selain itu, produsen didesak agar mengganti tulisan dalam kemasan yang
berupa persentase kandungan fluoride dengan jumlah dalam bentuk ppm. (Rse/V-4)
Bahaya Fluoride

Sejak dulu produk odol atau pasta gigi erat sekali dengan kandungan fluoride
yang tak bisa dipungkiri merupakan salah satu zat yang dibutuhkan tubuh bagi
pertumbuhan dan kesehatan gigi. fluoride berfungsi melapisi struktur gigi dan
ketahanannya terhadap proses pembusukan serta pemicu proses mineralisasi.
Unsur kimia dalam zat ini mengeraskan email gigi pada persenyawaannya.
Begitupun, sejak dulu efek kerugiannya juga sudah dipublikasikan secara luas
yakni bahayanya bila tertelan dan karena itu juga kita tidak diajarkan menelan
pasta gigi.

Dari sejumlah berita yang beredar beberapa waktu lalu fluoride disinyalir
sebagai salah satu bahan yang digunakan pada pembuatan bom atom. Efek
racun kimiawi yang dipaparkan lewat penemuan ini mendorong para peneliti
semakin kritis melakukan riset tentang bahaya flouride pada pasta gigi,
kemudian banyak berita mempublikasikan efek samping dan bahaya fluoride
dalam memicu osteoporosis dan kerusakan sistem saraf terutama pada
penggunaan yang salah. Sekitar awal tahun 2000‚ pemerintah Belgia menjadi
pihak pertama melarang peredaran tablet dan permen mengandung fluoride
yang selama ini dianjurkan pemberiannya pada anak-anak untuk menguatkan
gigi mereka. Riset lain dari Swedia menyorot kecenderungan anak untuk
menelan pasta gigi secara tak sengaja melalui air ludah bekas sikat gigi yang
kerap memicu kasus overdosis fluoride dan menimbulkan gangguan seperti
banyaknya pengeluaran ludah, tumpulnya indera perasa di sekitar mulut sampai
ke gangguan pernafasan bahkan kanker. Keadaan terhambatnya penyerapan
kalsium sebagai salah satu manifestasi efek sampingnya juga dikenal dengan
istilah fluorosis yang bisa berakibat lanjut pada penurunan IQ, gangguan sistem
saraf dan kekebalan tubuh serta kerapuhan tulang dan terhambatnya
pertumbuhan.

Di beberapa negara, anjuran penggunaannya sudah dibatasi untuk usia diatas 5


tahun. Di Indonesia telah dihimbau penggunaannya dalam tiap tube pasta gigi
tidak lebih dari 500 ppm dari sebelumnya sekitar 1000-1500 ppm dan mengikuti
antisipasinya untuk mengurangi penambah rasa sebagai pencegah anak-anak
agar tak menelan pasta gigi tersebut. Di luar kemungkinan pemberitaan efek
fluoride ini sebagai fakta, mungkin tak perlu buru-buru menjadi terlalu resah
dan was-was menggunakan produk pasta gigi yang mengan-dung fluoride sejauh
kadarnya masih di bawah ambang batas yang dianjurkan. Kesadaran konsumen
untuk memilih produk masih tetap bisa dilaksanakan, paling tidak untuk
memilih pasta gigi dengan kadar fluoride rendah, dan mungkin, dengan adanya
pro dan kontra ini salah satu antisipasi terbaik yang bisa dilakukan adalah
dengan mengawasi penggunaannya.

Fluor

Sumber Utama:
teh, kopi, air yg mengandung fluor

Manfaat Utama:
pembentukan tulang & gigi

Akibat kekurangan:
meningkatnya resiko terjadinya kavitasi gigi, mungkin terjadi penipisan tulang

Akibat kelebihan:
fluorosis (penumpukan berlebihan dari fluor), gigi berbintik & berlubang, pertumbuhan
tulang diluar tulang belakang
http://www.pdgi-online.com/

Gigi merupakan gambaran kesehatan tubuh seorang anak. Pada anak tertentu, gigi bisa
rapuh atau mudah keropos meski rajin sikat gigi dan menjaga makanan. Konon kondisi
ini ada hubungannya dengan keturunan.

Gigi adalah salah satu alat bantu pencernaan, yang juga merupakan pintu masuk dari
seluruh kuman-kuman dan bakteri dari luar tubuh. Oleh karena itu, kesehatan mulut dan
gigi, sangat penting untuk dilakukan. Hanya saja, anak-anak sering mengalami berbagai
keluhan, misalnya gigi berlubang, gusi berdarah dan juga gigi keropos.

Gigi keropos, menurut drg. Risqa Rina Darwita, Ph.D., sebenarnya bisa terjadi pada siapa
saja. "Pada anak-anak, umumnya pada saat mereka masih memiliki gigi susu," jelas
Dosen di Fakultas Kedokteran Kesehatan Gigi Universitas Indonesia, Jakarta ini. Yang
paling sering terjadi, keroposnya gigi balita, akibat banyaknya plak yang menumpuk
akibat banyaknya sisa susu yang menempel pada gigi.

Anak-anak yang suka memakan makanan yang manis-manis atau permen, dan diperparah
dengan kurangnya orangtua memperhatikan kebersihan gigi si kecil, menyebabkan gigi
menjadi mudah berlubang bahkan keropos. "Gigi susu yang keropos ini, nantinya masih
bisa diganti dengan gigi tetap." Hanya saja pada beberapa anak yang telah mempunyai
gigi tetap, ada yang tetap mengalami gigi keropos, meski rajin sikat gigi dan menghindari
makanan yang manis-manis.

Kerusakan Struktur Gigi

Secara struktur, gigi terdiri dari mahkota gigi, akar gigi, dan leher gigi yang ditutupi oleh
gusi. "Semua bagian rongga mulut tersebut, apabila tidak dipelihara dengan baik akan
mudah terserang oleh penyakit," terangnya. Terjadinya gigi keropos, lanjut Risqa, secara
kedokteran disebut dengan Radang gigi Gangraena Pulpa atau Pulpitis.

Kekeroposan ini, terjadi akibat adanya kerusakan pada struktur gigi yang berdampak
pada email (lapisan keras yang melindungi gigi) dan lapisan terluar dari gigi, yang terus
menjalar pada lapisan dentin dan pulpa. Secara umum, gigi keropos bisa terjadi akibat
beberapa sebab. "Timbunan plak dari makanan dan kurang asupan kalsium dan mineral,
bisa mengakibatkan gigi keropos. Bahkan pada sebagian orang, gigi keropos juga bisa
disebabkan oleh faktor keturunan," ungkapnya lagi.

Umumnya, gigi keropos banyak disebabkan oleh adanya plak yang tidak dibersihkan.
"Plak yang tidak dibersihkan dari lapisan luar gigi, akan menjadi tempat berkumpulnya
mikroorganisme, dimana mikroorganisme tersebut akan mengeluarkan zat yang bersifat
asam." Plak terjadi akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung
karbohidrat (gula dan makanan yang mengandung perekat), seperti roti, sereal, susu,
soda, buah-buahan, kue, atau permen yang tersisa pada gigi.
Bakteria yang tinggal di dalam mulut akan mencerna makanan-makanan ini, dan
merubahnya menjadi acids (asam). Bakteria, asam, sisa makanan dan air liur yang
menyatu pada plak, akan menempel erat pada gigi. Asam yang dikeluarkan oleh plak,
lama kelamaan akan mengikis lapisan lembut email pada gigi, dan menyebabkan
timbulnya lubang pada gigi, yang disebut Calvities atau Caries. "Kekeroposan terjadi
akibat zat asam yang menghancurkan jaringan lunak (misalnya gingiva)."

Mikroorganisme - salah satunya streptococcus Mutant - bersifat menghancurkan jaringan


email, disamping itu mikroorganisme ini juga mendukung perubahan plak yang tidak
dibersihkan, lama kelamaan bisa menjadi karang gigi. "Bila kondisi ini dibiarkan, maka
kerusakan ini akan terus menjalar ke bagian dentin dan pulpa," terangnya.

Bila kerusakan sudah mengenai dentin dan pulpa, apalagi bila sudah mengenai syaraf gigi
yang menyebabkan gigi membusuk dan matinya syaraf pada gigi Gangraena atau
Necrosis," terangnya. Bila syaraf gigi mati, maka lambat laun gigi akan runtuh sedikit
demi sedikit dan menyebabkan gigi menjadi keropos. "Matinya syaraf gigi, juga berarti
hilangnya fungsi gigi."

Unsur Penguat Gigi

Selain plak, gigi keropos juga bisa terjadi akibat kurangnya asupan fluor, yang bisa
membantu gigi menjadi lebih kuat. "Saya pernah menemukan kasus dimana dalam satu
masyarakat di daerah Kalimantan, mengalami gigi keropos," ungkap Risqa. Dari
penelitian diketahui, ini terjadi akibat kurangnya asupan fluor (mineral). "Mereka minum
dari air tadah hujan, yang tidak mengandung fluor," jelasnya.

Di lain pihak, gigi keropos pada anak-anak, bisa juga akibat adanya faktor keturunan.
"Seorang ibu yang mempunyai gigi keropos, kemungkinan anaknya juga mengalami gigi
keropos," paparnya. Sebab gen yang ikut terbawa pada bayi, bisa jadi gen yang kurang
mengandung mineral dan kalsium dan menyebabkan anak juga mengalami kekurangan
kalsium. "Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk banyak mengkonsumsi kalsium
dan mineral."

Kebutuhan kalsium dan mineral, lanjut Risqa, memang sangat dibutuhkan untuk
memperkuat email gigi. "Kebutuhan ini, sebenarnya bisa dicukupi dengan meminum air
yang mengandung mineral, asupan gizi yang cukup - terutama vitamin D, dan menggosok
gigi dengan pasta gigi yang mengandung fluor." Vitamin D merupakan salah satu unsur
pokok dalam metabolisme kalsium dan fosfor.

Jadi, usahakan anak-anak cukup mendapatkan vitamin D (dari sinar matahari pagi)
setidaknya 10 mg per hari. Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi, bisa jadi si kecil akan
mengalami masalah pada penguatan struktur gigi, akibat adanya gangguan mineralisasi
pada struktur tulang dan gigi. Sehingga serajin apapun si kecil menggosok gigi dan
menghindari makanan yang manis-manis, ia tetap akan mengalami gigi keropos akibat
kurangnya unsur yang bisa memperkuat gigi.
Hindari Pencabutan

Sebenarnya, gigi keropos bisa terjadi pada siapa saja. Umumnya, gigi keropos banyak
terjadi pada orang yang telah berusia lanjut (Manula). Sebab pada manula, semakin lama
tubuh semakin kurang dapat menyerap fluoride. Namun Risqa tidak menutup
kemungkinan adanya anak-anak yang telah mengalami gigi keropos. "Kesehatan gigi,
sangat dipengaruhi oleh kerajinan dan kedisiplinan anak dalam menggosok gigi,"
tegasnya.

Pada anak-anak yang telah mempunyai gigi keropos, Risqa menyarankan untuk segera di
bawa ke dokter gigi untuk diperiksa. "Pemeriksaan ini diperlukan untuk mengetahui
penyebab mengapa gigi menjadi keropos." Bila penyebab gigi keropos disebabkan
adanya plak atau karang gigi, maka biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukan
pembersihan plak atau karang gigi tersebut. "Bila keroposannya masih dalam bentuk gigi
berlubang, maka penambalan harus dilakukan di tempat yang berlubang."

Penanganan gigi keropos, jelas Risqa, tidak selalu harus dilakukan dengan pencabutan -
yang merupakan ketakutan paling besar bagi anak-anak. "Dalam penanganan gigi saat ini,
pencabutan gigi merupakan alternatif yang paling terakhir." Untuk memperbaiki gigi
yang telah keropos, lanjutnya, sebenarnya bisa dilakukan dengan memberikan mahkota
pada permukaan gigi. "Mahkota ini nantinya akan mengganti lapisan gigi yang telah
keropos."

Kecuali, bila gigi yang keropos tersebut sudah sangat parah karena mulai membusuk dan
syarafnya sudah mulai mati (necrosis), mau tidak mau gigi tersebut harus dicabut. Gigi
yang berlubang atau yang telah membusuk harus segera ditangani, tuturnya, sebab bila
tidak akan mengganggu kesehatan - bukan saja pada kesehatan di sekitar mulut (seperti
sariawan), tapi juga pada anggota tubuh lainnya.

Gigi merupakan gambaran dari kesehatan tubuh kita. Seseorang bisa saja terkena
hipertensi, penyakit jantung atau lainnya, hanya karena ia memiliki gigi berlubang atau
gigi yang telah membusuk. "Kesehatan tubuh, bisa diakibatkan oleh adanya gangguan
pada gigi, begitu juga sebaliknya. Karena tubuh merupakan satu kesatuan, yang saling
terkait dengan unsur tubuh lainnya. Jadi, jangan anggap sepele kesehatan gigi ya,"
sarannya.

Mencegah Gigi Keropos

1. Gosoklah gigi sekurangnya dua kali sehari dengan pasta gigi yang mengandung
fluoride. Terutama, setelah makan dan sebelum tidur.
2. Bila perlu, setiap seminggu sekali lakukan kumur-kumur dengan obat kumur yang
bisa membantu mencegah terjadinya plak dan karang gigi.
3. Sikatlah gigi dengan baik dan benar, yaitu dengan menjangkau ke seluruh
permukaan gigi dan sela-sela gigi.
4. Sikatlah gigi dengan tekanan yang sedang, tekanan yang terlalu keras akan
mengakibatkan email gigi rusak, begitu juga bila terlalu lunak yang bisa
menyebabkan gigi kurang bersih.
5. Kalau perlu, pergunakanlah dental floss atau benang gigi untuk membantu
membersihkan sisa-sisa makanan yang terselip pada sela-sela gigi.
6. Makanlah makanan yang bergizi dan seimbang. Hindari terlalu banyak memakan
makanan yang mengandung karbohidrat, seperti permen atau makanan bertepung
yang sisanya dapat melekat pada gigi.
7. Hindari penggunaan pasta gigi yang unsur fluoridenya terlalu rendah atau pun
terlalu tinggi. Terlalu banyak fluoride, bisa mengakibatkan kerusakan gigi dan
keracunan.
8. Minumlah air yang mengandung fluor atau mineral.
9. Lakukan pemeriksaan gigi setiap 6 bulan sekali, dan lakukan pembersihan plak
dan karang gigi secara rutin.

Pertahankan Keasaman Gigi

Menyikat gigi secara rutin, terang drg. Risqa Rina Darwita, Ph.D., mampu menghindari
menumpuknya sisa makanan pada gigi, yang bisa menyebabkan terjadinya plak atau
karang gigi - yang bisa menyebabkan gigi lambat laun menjadi keropos. Namun, Risqa
juga menganjurkan untuk tidak terlalu cepat menggosok gigi setelah kita mengkonsumsi
makanan.

"Mulut kita, sebenarnya membutuhkan keasaman (pH) tertentu, yaitu pH 7," terangnya.
Pada saat mulut kita mengunyah makanan, pH di dalam mulut lambat laun akan turun
hingga mencapai pH kritis, yaitu 5,5. "Untuk mencapai pH yang normal, memerlukan
waktu hingga mencapai 20-30 menit. "Bila kita terlalu sering ngemil, maka lambat laun
gigi akan mudah keropos. Hal ini disebabkan oleh keasaman di dalam mulut, yang tidak
normal."

Begitu juga pada anak-anak yang langsung menggosok gigi sehabis makan, karena saat
kita menggosok gigi keasaman dalam mulut pun menurun. "Oleh sebab itu sebaiknya kita
baru menggosok gigi, sekitar 20-30 menit setelah makan. Sehingga pH gigi pun, bisa
tetap terjaga. "Saya menyarankan untuk lebih banyak berkumur dari pada menggosok
gigi, sebab umumnya kita menggosok gigi dengan menggunakan pasta gigi," sarannya.

Pasta gigi, meski mengandung fluoride yang dibutuhkan gigi, namun juga mengandung
deterjen (terlihat pada efek busa saat menggosok gigi). Padahal, deterjen tersebut juga
tidak baik pengaruhnya pada gigi. "Dengan berkumur, sebenarnya kotoran dan sisa-sisa
makanan pada gigi sudah terbuang. Atau kita juga bisa menyikat gigi dengan sikat gigi,
tanpa harus menggunakan pasta gigi terlalu sering." (Rahmi)