Anda di halaman 1dari 4

Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil) Vol.

2
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007 ISSN : 1858 - 2559

KAJIAN ABSURDITAS DALAM NOVEL “ORANG ANEH” KARYA ALBERT


CAMUS

Lisetyo Ariyanti
Fakultas Bahasa & Sastra, Universitas Negeri Semarang

ABSTRACT
Absurdity is a term that was created by the formerly Albert Camus. Some experts of absurdity who had
found it were Sartre and Heidegger, but before it had changed into absurdity, it was extensialism once.
Then Albert Camus developed it became absurdity, This novel “ The Stranger” tells about a character
whose name is Mersault. He has a great life that may be close to perfect life. Instead of thanking his life to
God, he thinks that his life is useless and so boring. Till he shoots someone using a gun, and be taken to
the jail to have sentence of death, he finally realizes that his life was so good. But it was too late, because
everything now is so absurd, nothing good is left for him.

PENDAHULUAN ingin membuktikan dan mengungkapkan


Albert Camus adalah salah satu tokoh filsafat perasaannya dalam tokoh-tokoh dalam
pencetus teori absurditas. Dimana sebelumnya karyanya sehubungan dengan peristiwa yang
Sartre dan Heidegger mem-punyai paham yang terjadi di jamannya. Hal ini tidak lepas dari
sama akan eksistensi-alisme. Novel Orang Aneh fungsi sastra itu sendiri, sebagai alat pengung-
karya albert Camus ini menceritakan tentang kapan emosi pengarang maupun pembaca.
ketidak-berdayaan seorang tokoh yang bernama Wellek dan Warren juga menyatakan (1995:35)
Mersault dalam menghadapi masalah bahwa “fungsi sastra, menurut sejumlah
kehidupan. Sehingga apa-pun yang terjadi teoritikus adalah untuk membebas-kan pembaca
padanya dianggap tidak mempunyai makna dan penulisnya dari tekanan emosi. Mengeks-
walaupun dia akan dihukum mati sekalipun atas presikan emosi berarti melepaskan diri dari
kesalahan yang tidak dilakukannya. Sebenarnya emosi itu.”
makna dari keabsurditasan cerita dalam novel Pembahasan absurditas dalam makalah
Orang Aneh ini adalah Atheis. ini menafsirkan maksud pengarang dalam teks
Pengarang novel Orang Aneh dalam hal maupun data diluar teks, sebab bagaimanapun
ini Albert Camus menggunakan teori ab-surditas juga isi cerita ini tidak lepas dari latar belakang
diamana pada saat itu perkem-bangan teori pengarang Luxemburg et al menyebut
eksistensisalisme dibicarakan banyak orang. interpretasi semacam ini sebagai interpretasi
Sejarah mengatakan bahwa ketiks paham historic (1989:63), “penafsiran yang berusaha
eksistensisalisme dianaut oleh orang Jerman untuk menyusun kembali arti historic adalah
dalam Perang Dunia II dan pada saat itu bangsa dimana dalam pendekatan ini si juru tafsir dapat
– bangsa di Eropa menjadi jajahan Jerman, berpedoman pada maksud si pengarang seperti
Sedangkan pada saat itu bangsa yang menjadi nampak dari teks sendiri atau dari data diluar
jajahan Jerman tersebut berdo’a agar jerman teks. Selain itu usaha penafsiran dapat
cepat dikalahkan. Namun sampai akhirnya dilakukan dengan menyusun kembali “cakrawala
jerman terus – menerus menang dan hal inilah harapan” para pembaca waktu itu.”
yang memacu Albert Camus menjadi Atheis
dengan mencetuskan paham Absurditaas yang Absurditas
tidak percaya adanya Tuhan. Budi Darma Menurut Budi Darma (2004:94) absurditas
(2004:91) juga mengatakan “Kenya-taan bahwa dianggap sebagai sebuah titik pemikiran
perang terus berkelanjutan dan Jerman terus eksistensialisme kemudian dikembangkan oleh
menang inilah yang memacu Sartre dan Camus Albert Camus menjadi sebuah filsafat tersendiri.
untuk meragukan keberadaan Tuhan. Akhirnya Maka muncullah filsafat absurd-isme, yang tidak
inilah salah satu awal yang memicu keyakinan lain merupakan pengem-bangan dari sebuah
Sartre dan Camus untuk menjadi Atheis” titik pemikiran eksis-tensialisme. Pemikiran
Hal itulah yang melatarbelakangi Camus Sartre mengenai ke-bebasan dan absurditas
dalam novel-novel karyanya yang berwarna menjadi landasan kuat filsafat absurdisme.
atheis. Karena tokoh-tokoh dalam karyanya Sedangkan makna absurd bisa bermacam-
yang bersifat atheis itu maka tokoh-tokoh macam namun mak-na pokok dalam filsafat
tersebut dapat menentukan pilihannya sendiri, absurdisme adalah kesia-siaan dan
semua menanggung resi-ko dan bertanggung ketidakbermaknaan. Hidup adalah sia-sia, hidup
jawab atas pilihannya sendiri, dan semua tidak adalah tanpa makna.
percaya Tuhan. Sehingga disini sang pengarang

Kajian Absurditas dalam Novel…..


D10 Ariyanti
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil) Vol. 2
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007 ISSN : 1858 - 2559

Bentuk penerapan absurditas dapat antara niat dan kenyataan yang ia hadapi. Ia
dilihat pada novel “Orang Aneh” karya Albert akan sampai pada titik dimana ia akan matipun
Camus sendiri. Dimana tokoh protagonist (tokoh ia tetap menganggap bahwa dunia ini tanpa
utama) Mersault dalam novel ini, bebas untuk makna.
membunuh atau tidak mem-bunuh. Karena dia
membunuh, dia tidak berkeberatan untuk diadili PEMBAHASAN
dan dihukum mati. Pendeta berkali-kali datang Hari – hari Mersault yang tidak bermakna
padanya agar ia mohon ampun kepada Tuhan Ketidakbermaknaan hari – hari Mersault di-
tetapi ia tidak mau, karena bagi dia Tuhan tidak rasakan olehnya bahwa semua itu tidak ada
ada. Dia mengalami hukuman mati dengan artinya. Walaupun dia mempunyai seorang
tenang karena jika dia tetap hidup bagi dia hidup teman yang sebenarnya cukup baik hati namun
adalah absurd, sia-sia, tanpa makna. Sehingga ia merasakan bahwa semua biasa – biasa saja,
dapat dikatakan bahwa sang tokoh protagonist tidak ada yang istimewa pada diri temanya
ini adalah penganut paham atheis. Seperti telah tersebut maupun dalam hubungan
dijelaskan sebelumnya bahwa pengarang pertemanannya itu. Dua hari setela kemaian
(Albert Camus) adalah perilis paham eksistensi- ibunya Mersault mulai dekat dengan seorang
alisme yang berakar dari atheis yang tidak priayang tingga pada lantai yang sama yang
percaya akan Tuhan karena kekalahan bernama Raymond. Mereka sering makan
negaranya dalam perang melawan Jerman. minum bersama dan saling cerita tentang
Albert Camus sendiri menghubung-kan masalah masing – masing. Begitulah bentuk
paham absurditasnya dengan bunuh diri. Dia hubungan pertemanan Mersault dan Raymond.
beranggapan bahwa orang bisa bunuh diri Namun tampaknya yang sering menjadi
karena berpikir yang menyebab-kan krisis batin. pembicara aktif adalah Raymond, sedangkan
Camus (1999:5) menyata-kan bahwa “ada Mersault hanyalah pendengar yang tidak banyak
banyak penyebab bunuh diri , dan pada memberikan respon memuaskan atas
umumnya, penyebab yang paling kentara pernyataan Raymond, Camus (2005:39) “Ketika
bukanlah penyebab yang paling menentukan ia melihat aku diam saja, ia bertanya lagi,
jarang orang bunuh diri karena berpikir apakah kami bisa menjadi sahabat yang baik.
(meskipun demikian praduga seperti itu tidak Kujawab, bahwa aku tidak keberatan dan
dikesampingkan). Yang mencetuskan krisis jawaban itu tampaknya memuaskan hatinya.”
batin itu hampir selalu tidak dapat dikendalikan.” Dikala Mersault tidak begitu mem-
Selain itu Camus juga (1999:7) berikan tanggapan yang memuaskan, Raymon
menjelaskan bahwa pokok pembicaraan esai ini masih saja meminta pendapat, dan dengan
adalah justru hubungan antara yang absurd dan jawaban ringan Mersaul member-kan empati
bunuh diri ,seberapa tepatnya bunuh diri yang biasa – biasa saja namun justru Raymon
merupakan suatu jalan keluar yang absurd. nampak lega atas jawaban tersebut, Camus
Adalah suatu keingintahuan yang sah bahwa (2005:42 - 43), “ kukatakan aku tidak
orang bertanya-tanya, dengan jernih dan tanpa mempunyai pendapat, tapi ceritanya itu menarik
perasaan palsu, apakah kesimpulan semacam hati apakah dengan itu aku berpikir bahwa
itu menuntut tindakan untuk meninggalkan perempuan itu telah memperlakukan dia dengan
secepat mung-kin suatu kondisi yang tidak bisa tidak wajar dan kotor? kuakui memang
dimengerti. Sedang-kan untuk masalah bunuh demikianlah halnya. Lalu ia bertanya apakah
diri filosofis dikata-kan bahwa “ suasana itu aku tidak berfikir bahwa perem-puan itupantas di
membunuh bukan sekedar bermain kata. Hidup hokum sekiranya aku menjadi dia. Kukatakan
dibawah langit yang menyesakkan ini memaksa padanya, sesorang memang tidak akan begitu
manusia untuk tetap tinggal atau keluar. Yang yakin benar bagaimana tindakan yang tepat
perlu diketahui adalah bagai-mana cara keluar dalam masalah seperti itu, tapi aku bisa
dari hidup pada kasus yang pertama, atau cara memahami bagaimana ia menderita karena
untuk tetap tinggal dalam hidup pada kasus perempuan itu.”
yang kedua. Dem-ikianlah saya definisikan Memiliki perkerjaan yang baikpun
masalah bunuh diri dan kepentingan yang dapat dianggap Mersault sebagai sesuatu yang biasa
diberikan pada kesimpulan-kesimpulan filsafat – biasa saja, baik itu bosnya yang ramah
eksistensi-alisme.” maupun jenis pekerjaan yang menyenangkan.
Seseorang berusaha untuk keluar dari Saat itu ia menjawab pertanyaan bos dengan
permasalahan tanpa ada tanggung jawab. Untuk datar tentang usia ibunya ketika meninggal,
menyelesaikannya, dan kemu-dian juga memilih (Camus, 2005:33), “Majikanku bersikap baik dan
masalah kedua yang tidak diselesaikannya juga. ramah. Ia malah menanyakan apakah aku tidak
Semakin lama ketika ada ketidakseimbangan terlalu lelah yang kemudian disambung dengan

Kajian Absurditas Dalam Novel ….


Ariyanti D11
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil) Vol. 2
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007 ISSN : 1858 - 2559

pertanyaan tentang umur ibuku. Aku berfikir pegang. Pelatuk ku tarik dan gagang pistol itu
sebentar lalu menjawab : “sekitar 60 tahun”, terasa mendepak dalam telapak tanganku. Dan
suatu jawaban untuk menghindari kekeliruan demikianlah -dengan suara nyaring dan
dalam menafsir usia ibuku yang sebenarnya. membahana- segala sesuatunya bermula. Aku
Dengan jawaban itu ia nampak lega – dan sulit mengusap keringat dan menghindari cahaya.
bagiku membayangkan wajahnya itu – dan Aku tahu, keseimbangan dan kedamaian hari itu
seakan akan ia tampak memikirkan benar telah kuhancurkan….”
masalah itu.” Mersault terpuruk dalam penjara dan
Mersault pun juga tidak menangis ketika menunggu keputusan hakim dalam per-
ibunya meninggal, hal itulah yang menyebabkan sidangan. Ia hanya mendapatkan pengacara
para penghuni panti jompo bertanya – tanya yang tidak begitu handal. Marrie kekasihnya
mengapa ia tampak tegar saat-saat itu, bahkan hanya menemui sekali saja setelah per-
Mersault merasa tidak begitu kehilangan dan sidangan pertama selesai. Pada saat per-
malah berusaha meredakan tangis teman sidangan itu, jaksa mengatakan bahwa Mersault
ibunya, (Camus, 2005:14), “aku agak kecewa tidak punya perasaan karena ketika ibunya
karena aku tidak tahu siapa dia. Aku ingin agar meninggal, ia tidak menitikkan air mata. Namun
dia berhenti menangis, tapi aku takut bicara.” Mersault mempunyai pemi-kiran bahwa (Camus,
Kekasih Mersault aadalah seorang 2005:86), “Kujawab dengan mengatakan bahwa
wanita yang cantik untuk ukuran wanita Paris, pada tahun-tahun terakhir ini aku sudah tidak
namun Mersault agaknya telah me-nyia-nyiakan biasa mencatat atau menghayati apa yang
hatinya dengan tidak mem-berikan empati atas kurasakan dan sangat sulit bagaimana aku
wanita yang ingin menikah dengannya, menjawab. Dengan jujur aku sangat
(Camus,2005:56), ” Dia bertanya lagi apakah menyenangi ibuku- tetapi apakah hal itu banyak
aku mencintai dia. Ku jawab memang aku artinya? semua orang normal-kataku
sangat mencintai dia seperti sebelumnya. Ku menambahkan-tentu memilki perasan akan
katakan pertanyaan-nya itu tidak ada artinya bila berpisah denganorang orang yang di cintai
di ajukan atau apalah.Terserah.” berupa kematian di suatu hari.”
Mersault juga melakukan hal yang aneh Hal itu dilarang diucapkan di peng-
dan tidak masuk akal, ketika ia melihat seoarang adilan oleh pengacaranya. Namun apa yang
wanita kecil, wajahnya montok seperti buah terjadi adalah selama sidang dilakukan berkali-
apel, aktif di sebuah restoran tiba-tiba ia kali, alibi yang digunakan oleh jaksa justru
mengikuti kemana wanita tersebut pergi tanpa adalah masalah sikapnya ketika ibunya
ada maksud apa-apa, (Camus,2005:59), meninggal. Bahkan pria penjaga panti jompo
”Merasa tak ada yang lebih baik ku kerjakan, dimana ibunya tinggal malahan memberatkan
aku mencoba mengikuti wanita itu dalam jarak dengan memberikan kesak-sian-kesaksian yang
agak dekat. Tanpa menoleh kiri-kanan atau tidak masuk akal dalam sidang. Penjaga itu juga
melihat kebelakang, ia terus menelusuri tepi mempertegas bahwa Mersault tidak sedikitpun
jalan dan aku heranmelihat cepatnya ia berjalan berkabung dan sehari kemudian ia memulai
mengingat badannya yang kecil. Ternyata ia hubungan asmara dengan seorang wanita.
terlalu cepat berjalan dan dalam waktu singkat Kesaksian teman-teman Mersault pun juga tidak
ia sudah hilang dari pandanganku. Aku akhirnya banyak membantu baik itu dari Raymond
pulang. Untuk sejenak “si robot kecil” itu maupun tuan Salamano pemilik café, begitu
membuat kesan pada diriku, tapi aku cepat juga kesaksian dari Marie tidak membantu.
melupakannya” Pengadilan seakan-akan telah mem-
buat scenario seperti itu, dimana sahabat-
Hukuman mati yang absurd sahabat Mersault tiddak bisa bicara banyak
Ketika suatu hari Mersault berlibur di suatu tentang kebaikan Mersault. Sedangkan orang-
pantai bersama Marie dan juga Raymond orang yang tidak mengenalnya justru
sahabat barunya, tiba-tiba Mersault mem-bunuh memberikan kesaksian yang lama dan bicara
seseorang atas kesalahan yang tidak memojokkan dirinya, seakan-akan orang itu
dilakukannya dengan sengaja. Pada saat mengenal dekat diri Mersault. Mersault merasa
menarik pelatuk pistol yang di pegangnya, orang bahwa ini bukanlah kesalahannya namun apa
arab yang telah dibunuhnya itu juga memegang boleh buat, ia telah menembakkan peluru-peluru
pisau yang diarahkan kepada Mersault, (Camus, pada orang arab itu. Namun yang sungguh
2005:78), “…. Dan orang arab itu mencabut disesalkan mengapa justru pernyataan terakhir
pisaunya dan meng-arahkan kepadaku, jaksa yang menggunakan alibi bahwa Mersault
menantang sinar mata-hari…. Tiap saraf dalam bersalah atas kematian ibunya yang membuat
tubuhku mengen-cang dan pistol makin kuat ku hakim memutuskan ia bersalah dan dihukum

Kajian Absurditas dalam Novel…..


D12 Ariyanti
Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek & Sipil) Vol. 2
Auditorium Kampus Gunadarma, 21-22 Agustus 2007 ISSN : 1858 - 2559

mati atas kesalahannya tersebut (Camus, Keabsurditasan hidup Mersault telah mem-bawa
2005:137). dirinya kepada hukuman mati yang justru
Hingga tinggal beberapa hari lagi membuatnya bahagia sebab saat dia dihukum
pelaksanaan hukuman mati akan dilaksana-kan, mati itulah ia dapat menemukan kedamaian
Mersault selalu menolak untuk betemu dengan yang mampu menghilangkan kekosongan
pendeta. Sampai kedatangannya yang keempat hidupnya. Dimana memiliki sahabat setia,
kali, pendeta tersebut berhasil bicara dengan kekasih cantik, dan pekerjaan mapan tidaklah
Mersault dengan memberikan ceramah agama bermakna lagi baginya. Dan ketika kesendirian
dan meminta Mersault untuk memohon dirinya di dalam sel penjara yang membuatnya
pengampunan pada Tuhan. Mers-ault menjadi berpikir betapa tidak bergunanya hidup, lebih
semakin marah dan menyatakan bahwa dirinya baik mati karena hukuman mati daripada mati
tidak percaya pada Tuhan, (Camus, 2005:161), bunuh diri, karena mereka telah menanggalkan
“Tapi rupanya masih banyak lagi yang ingin kehidupannya sendiri. Sebab jika ia mati karena
dikatakan padaku tentang Tuhan. Aku hukuman mati, ia merasa bahwa hidupnya lebih
melangkah lebih dekat padanya dan kucoba lagi bermakna ketika orang-orang banyak yang
menjelaskan padanya bahwa aku hanya membicarakan dirinya atas apa yang telah
mempunyai sedikit waktu lagi dan aku tidak dilakukannya selama ini. Walaupun saat itu ia
ingin membuat waktu yang sedikit itu berceloteh merasa bahwa dunia tidak adil dan Tuhan tidak
tentang Tuhan ….Lalu aku tidak tahu lagi mencintai dirinya, disitulah ketika ia benar-
bagaimana hal itu terjadi….Aku men-cekam benar merasakan bahwa hidupnya sangat
leher jubahnya dan dalam keadaan semacam absurd, tidak bermakna, sia-sia belaka,
suka cita yang amat sangat dan kemarahan, aku walaupun disisi lain bahwa kebermaknaan
tumpahkan semua pikiran-ku yang mulai hidupnya adalah ketika ia dijatuhi hukuman mati.
mendidih di otakku Penjaga-penjaga penjara
menyerbu masuk dan mencoba memisahkan DAFTAR PUSTAKA
sang pendeta dari peganganku…..” Camus, Albert. 1999. Mite Sisifus. Pergulatan
Mersault-pun tiba saat dirinya menemui Dengan Absurditas. Jakarta: PT.
pisau guillotine, (Camus,2005: 165), “segala- Gramedia Pustaka Utama.
galanya telah selesai. Dan aku merasa tidak ______, 2005. Orang Aneh. Jogjakarta:
begitu kesepian lagi. Lega. Dan sisa harapan Mahatari.
yang ada adalah semoga pada hari Darma, Budi. 2004. Pengantar Teori Sastra.
pelaksanaan hukuman matiku akan banyak Pusat Bahasa Jakarta: Depdiknas.
orang yang menyaksikannya. Dan mereka akan Luxemburg, Jan Van, et al. 1989. Pengantar
memberikan penghormat-an padaku beberapa Ilmu Sastra. Jakarta: PT Gramedia.
teriakan, kutukan, dan cacian”. _______,1991. Tentang Sastra. Jakarta:
Intermasa.
KESIMPULAN Wellek & Warren, Rene & Austen. 1995. Teori
Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.

Kajian Absurditas Dalam Novel ….


Ariyanti D13