Anda di halaman 1dari 18

“Upaya Perlindungan Hak Stakeholder”

NAMA KELOMPOK :

1. MOHAMAD KEVIN FALENSYAH PUTRA (116210417)


2. KADEK PRICA NATALISIA SARI (116210421)
3. I GD ANGGA KHARISMA HANJAYA (116210467)
4. LUH RANI IVAN DANI (116210470)
5. NI PUTU LINDA DEWI (116210480)

UNIVERSITAS PENDIDIKAN NASIONAL DENPASAR


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS JURUSAN AKUNTANSI
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul
“Upaya Perlindungan Hak Stakeholder” yang menurut kami dibuat dalam bentuk maupun isinya
yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Harapan kami semoga makalah ini membantu
menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki
bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Denpasar, 12 Maret 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang………………………………………………………………………..1
1.2. Rumusan Masalah…………………………………………………………………….1
1.3. Tujuan Penulisan……………………………………………………………………...2

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Perlindungan Hak Stakehorlder ………………………………………………………3
2.2. Karyawan……………………………………………………………………………...6
2.3. Pelanggan……..……………………………………………………………………….9
2.4. Pemegang Saham dan Kreditur………….……………………………………………10

BAB III PENUTUP


KESIMPULAN…………………………………………………...………………………14

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam sebuah organisasi bisnis yang ada terdapat sebuah pihak yang disebut dengan
stakeholder.Pihak stakeholder ini merupakan pihak pemangku kepentingan dalam suatu
organisasi bisnis yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh tindakan dari bisnis secara
keseluruhan.Konsep stakeholder pertama kali digunakan dalam sebuah memorandum internal
1963 di Stanford Research lembaga. Ini didefinisikan pemangku kepentingan sebagai
“kelompok-kelompok yang tanpa dukungan organisasi akan berhenti untuk eksis.” Teori ini
kemudian dikembangkan dan diperjuangkan oleh R. Edward Freeman pada 1980-an. Sejak itu
telah mendapat penerimaan luas dalam praktek bisnis dan teori yang berkaitan dengan
manajemen strategis, tata kelola perusahaan, tujuan bisnis dan tanggung jawab sosial
perusahaan (CSR).Akan tetapi, kini stakeholder bukan hanya mereka yang berkecimpung
dalam organisasi bisnis tersebut.Dalam perkembangannya Stakeholder mencakup pihak-pihak
lain yang dibedakan sebagai Stakeholder Internal dan Stakeholder Eksternal.
Dalam kenyataan tersebut muncullah berbagai jenis stakeholder.Namun, dengan
pengertian yang telah dituliskan diatas dapat diketahui bahwa seiring dengan berkembangnya
zaman, sebuah organisasi bisnis pun mengalami mindset perubahan.Organisasi bisnis secara
umum diketahui sebagai sebuah lembaga ataupun institusi yang menyediakan dan
memproduksi barang barang serta jasa untuk masyarakat dan bertujuan untuk memperoleh laba
bagi perusahaan mereka. Kini, organisasi bisnis juga memperhatikan isu-isu lain terkait
dengan tata kelola perusahaan yang strategis dan efisien serta perhatian terhadap karyawan
suatu perusahaan, bahwasannya pimpinan perusahaan kini harus mampu mengelolah
perusahaan tidak hanya secara pola kerja yang efektif namun juga harus mampu menciptakan
kondisi persaingan sehat antar karyawan di perusahaan tersebut dan tentunya persaingan sehat
antar organisasi bisnis lainnya.Selain itu, organisasi bisnis juga mulai memperhatikan isu-isu
sosial yang berkembang dalam masyarakat. Organisasi bisnis memikirkan cara agar prospek
bisnis mereka sejatinya dapat membawa pengaruh lain bagi masyarakat.

1
1.2 Rumusan Masalah

1.1.1 Apakah yang dimaksud dengan Perlindungan Hak Stakeholder?


1.1.2 Apakah yang dimaksud Karyawan?
1.1.3 Apakah yang dimaksud Pelanggan?
1.1.4 Apakah yang dimaksud Pemegang Saham dan Kreditur?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Perlindungan Hak Stakeholder
1.3.2 Untuk mengetahui apa yang dimaksud Karyawan
1.3.3 Untuk mengetahui apa yang dimaksud Pelanggan
1.3.4 Untuk mengetahui apa yang dimaksud Pemegang Saham dan Kreditur

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Perlindungan Hak Stakehorlder

Shareholders dan Stakeholder merupakan dua kata bahasa inggris yang kelihatannya
sama, namun pengertiannya berbeda shareholders merupakan para pemegang saham
sedangkan stakeholders adalah para pemangku kepentingan. Freeman (1984)
mendefinisikan stakeholder sebagai kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi dan atau
dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu. Biset (1998) juga mendefinisikan
bahwa stakeholder merupakan orang dengan suatu kepentingan atau perhatian pada suatu
permasalahan.

Jika dilakukan pemetaan, stakeholders dalam entitas perusahaan terbagi ke dalam 7 (tujuh) jenis,
diantaranya: pelanggan, masyarakat, karyawan, pemegang saham, lingkungan, Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) dan pemerintah. Setiap stakeholders memiliki hasrat dan kebutuhan masing-
masing. Di antara hasrat stakeholders adalah sebagai berikut:

a. Pelanggan

 Berhak atas produk berkualitas

 Berhak mendapatkan harga yang layak

b. Masyarakat

 Berhak mendapatkan perlindungan dari kejahatan bisnis

 Mendapatkan dampak hubungan yang baik dari keberadaan perusahaan

c. Pekerja

 Mendapatkan jasminan keamanan dalam bekerja

 Mendapatkan jaminan kesalamatan

 Mendapatkan perlakuan yang adil dan tidak ada dikriminasi

3
d. Pemegang Saham

 Berhak mendapatkan harga saham yang layak dan keuntungan saham

e. Lingkungan

 Mendapat jaminan terhadap perlindungan alam

 Mendapatkan hak rehalibitasi

f. Pemerintah

 Mendapatkan laporan atas pemenuhan persyaratan hukum

g. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

 Menjalankan fungsi control baik terhadap regulasi maupun komitmen perusahaan

Berdasarkan kekuatan, posisi penting, dan pengaruh stakeholder terhadap suatu


issu stakeholder dapat dikategorikan kedalam beberapa kelompok ODA (1995)
mengelompokkan stakeholder kedalam stakeholder primer, stakeholder sekunder,
dan stakeholder kunci. Adapun hak-hak stakeholder yaitu, Pemegang saham, Pelanggan dan
konsumen, Pesaing, Kreditur, Karyawan, Masyarakat dan Lingkungan, dan Pengembangan
Masyarakat.

Keanekaragaman tenaga kerja merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan


perbedaan tenaga kerja secara demografis taerutama yang berkaitan dengan umur, jenis kelamin,
ras, Negara, dan karakteristik fisik. Kondisi tenaga kerja yang beraneka ragam juga sering kali
memunculkan prasangka secara budaya dalam bentuk prejudice dan discrimination. Tantangan
utama pengelolaan tenaga kerja yang beraneka raga mini adalah bagaimana mencapai tujuan
organisasi dengan menciptakan kinerja yang tinggi dari semua karyawan melalui pemanfaatan
keterampilan dengan talenta karyawan yang beraneka ragam tersebut.

4
Beberapa program strategic yang dapat dilakukan organisasi bisnis untuk menghadapi semakin
meningkatnya keaneka ragaman tenaga kerja adalah mengembangkan budaya kinerja dengan
memperhatikan kondisi keaneka ragaman, mendukung implementasi program seperti worklife
balance dan komunikasi lintas budaya, dan merekrut tenaga kerja dengan memperhatikan nilai
keaneka ragaman untuk menarik dan mempertahankan tenaga kerja.

Peran pemerintah sebagai stakeholder dalam pengelolaan keaneka ragaman tenaga kerja dalam
organisasi bisnis adalah peran pemerintah dalam mengamankan kesempatan kerja sama dimana
pemerintah menghilangkan atau mengurangi diskriminasi di tempat kerja dan menjamin
kesempatan kerja, peran pemerintah dalam permasalahan tenaga kerja telah disebutkan
bahwasannya kebijakan pokok pemerintah di bidang ketenaga kerjaan yang utama adalah
perluasan dan pemerataan kesempatan kerja serta meningkatkan mutu dan perlindungan tenaga
kerja, equal employment opportunity maksudnya pemerintah eksekutif mempromosikan perlakuan
yang sama dari karyawan yaitu kesempatan kerja yang sama. Aturan aturan pemerintah berlaku
untuk kebanyakan bisnis dengan cara :

1. Diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, asal Negara, cacat fisik atau
mental, atau usia dilarang dalam semua kegiatan.

2. Kantor pemerintah harus membuat rencana aksiafirmatif, merinci bagaimana mereka bekerja
secara positif untuk mengatasi efek diskriminasi dalam tenaga kerja mereka. Namun rencana dan
tindakan alfirmatif hanya bersifat sementara dan fleksible yang dirancang untuk memperbaiki
diskriminasi masa lalu, dan tidak dapat mengakibatkan diskriminasi terbalik terhadap kulit putih
atau laki laki.

3. Wanita dan pria harus menerima upah yang sama untuk melakukan pekerjaan yang sama,
dan pengusaha tidak boleh melakukan diskriminasi atas dasar kehamilan.

Aksiafirmatif merupakan salah satu cara untuk mempromosikan kesempatan yang sama
dan menghilangkan diskriminasi dimasa lal. Sejak tahun 1960 kontraktor pemerintah dituntut oleh
pemerintah eksekutif presiden untuk mengadopsi tindakan afirmatif melalui penetapan tujuan,
tindakan, dan jadwal untuk mempromosikan lebih besar di tempat kerja. Tujuannya adalah untuk
mengurangi diskriminasi pekerjaan dengan mendorong perusahaan untuk berfikir positif.

5
Peraturan pemerintah melarang pelecehan seksual dan rasial . dari dua jenis, kasus pelecehan
seksual lebih banyak terjadi, dan peraturan hukum untuk pelecehan itu telah dibuat. Namun kasus
pelecehan ras telah berkembang sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi majikan. Pelecehan
seksual di tempat kerja terjadi ketika setiap karyawan wanita ataupun pria mengalami perhatian
seksual yang tidak diinginkan atau ketika ditempat kerjaan dan kondisi bermusuhan atau
mengancam dengan cara seksual.

2.2 Karyawan

Setiap pekerja berhak mendapatkan perlindungan seutuhnya dalam menunaikan tugas.


Pengusaha wajib menyediakan fasilitas berkait pelaksanaan prinsip keselamatan dan kesehatan
kerja (K3) di tempat kerja.
Menakertrans mengatakan, pelaksanaan K3 merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga kerja
yang sangat penting karena akan memengaruhi ketenangan bekerja, keselamatan, kesehatan,
produktivitas, dan kesejahteraan tenaga kerja. "Semua pihak harus menyadari bahwa penerapan
K3 merupakan hak dasar perlindungan bagi tenaga kerja. Setiap pekerja wajib mendapat
perlindungan dari risiko kecelakaan kerja yang dapat terjadi," kata Muhaimin.

"Tujuan dasar dari penerapan K3 adalah mencegah atau mengurangi kecelakaan kerja,
penyakit akibat kerja, dan terjadinya kejadian berbahaya lain. Dikatakan Muhaimin, saat ini
dibutuhkannya upaya sosialiasi penerapan K3 harus melibatkan pekerja dan masyarakat umum
secara langsung. Hal itu bertujuan agar pekerja dan masyarakat umum sadar mengenai pentingnya
mengenakan peralatan pelindung diri, seperti helm, sepatu, kaus tangan, dan lain-lain. "Oleh
karena itu, saya mengajak pimpinan pemerintah daerah, para pengusaha, pekerja, dan masyarakat
melakukan upaya konkret pelaksanaan K3, serta meningkatkan kesadaran, partisipasi, dan
tanggung jawab menciptakan perilaku K3 sehingga K3 benar-benar menjadi budaya bangsa
Indonesia,” kata Muhaimin. Saat ini, pemerintah tengah melakukan revitalisasi pengawasan
ketenagakerjaan.

6
Upaya-upaya yang sedang dilakukan antara lain menitikberatkan pada peningkatan
kualitas dan kuantitas pengawas, penegakan hukum di bidang ketenagakerjaan, serta merumuskan
dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan pengawasan
ketenagakerjaan "Revitalisasi meliputi penurunan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja, menurunkan pelanggaran norma ketenagakerjaan, mengurangi pekerja anak, peningkatan
efektivitas pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan, peningkatan kepesertaan dan kualitas
jaminan sosial tenaga kerja, serta peningkatan kualitas kondisi lingkungan kerja,” kata Muhaimin.

Secara teoritis dikenal ada tiga jenis perlindungan kerja yaitu sebagai berikut : Zaeni
Asyhadie, Hukum Kerja (Hukum Ketenagakerjaan Bidang Hubungan Kerja), Jakarta, Raja
Grafindo Persada, 2007, hal 78. Ketiga jenis perlindungan di atas akan di uraikan sebagai berikut:
1. Perlindungan Sosial atau Kesehatan Kerja

Kesehatan kerja sebagaimana telah dikemukakan di atas termasuk jenis perlindungan


sosial karena ketentuan-ketentuan mengenai kesehatan kerja ini berkaitan dengan sosial
kemasyarakatan, yaitu aturan-aturan yang bermaksud mengadakan pembatasan-pembatasan
terhadap kekuasaan pengusaha untuk memperlakukan pekerja/buruh ”semaunya” tanpa
memperhatikan norma-norma yang berlaku, dengan tidak memandang pekerja/buruh sebagai
mahluk Tuhan yang mempunyai hak asasi.

Karena sifatnya yang hendak mengadakan ”pembatasan” ketentuan-ketentuan


perlindungan sosial dalam UU No. 13 Tahun 2003, Bab X Pasal 68 dan seterusnya bersifat
”memaksa”, bukan mengatur. Akibat adanya sifat memaksa dalam ketentuan perlindungan sosial
UU No. 13 Tahun 2003 ini, pembentuk undang-undang memandang perlu untuk menjelaskan
bahwa ketentuan yang berkaitan dengan perlindungan sosial ini merupakan ”hukum umum”
(Publiek-rechtelijk) dengan sanksi pidana.

2. Perlindungan Teknis Atau Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja termasuk dalam apa yang disebut perlindungan teknis, yaitu
perlindungan terhadap pekerja/buruh agar selamat dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh alat
kerja atau bahan yang dikerjakan.

7
Dasar pembicaraan masalah keselamatan kerja ini sampai sekarang adalah UU No 1 Tahun
1970 tentang keselamatan kerja. Namun, sebagian besar peraturan pelaksanaan undang-undang ini
belum ada sehingga beberapa peraturan warisan Hindia Belanda masih dijadikan pedoman dalam
pelaksanaan keselamatan kerja di perusahaan.

3. Perlindungan ekonomis atau Jaminan Sosial

Penyelenggara program jaminan sosial merupakan salah satu tangung jawab dan kewajiban
Negara untuk memberikan perlindungan sosial ekonomi kepada masyarakat. Sesuai dengan
kondisi kemampuan keuangan Negara, Indonesia seperti halnya berbagai Negara berkembang
lainnya, mengembangkan program jaminan sosial berdasarkan funded social security, yaitu
jaminan sosial yang didanai oleh peserta dan masih terbatas pada masyarakat pekerja di sektor
formal.

Jaminan sosial tenaga kerja yang diatur dalam Undang – Undang Nomor. 3 Tahun 1992
adalah : Lalu Husni, Pengantar hukum ketenaga kerjaan indonesia, ( Jakarta : PR Raja Grafindo
Persada, 2003 ), hal 122

Jenis – Jenis Jaminan Sosial tenaga kerja

1. Jaminan Kecelakaan Kerja

Kecelakaan Kerja maupun penyakit akibat kerja maerupakan resiko yang dihadapi oleh
tenaga kerja yang melakukan pekerjaan. Untuk menanggulangi hilangnya sebagian atau seluruh
penghasilannya yang diakibatkan oleh kematian atau cacat karena kecelakaan kerja baik fisik
maupun mental, maka perlu adanya jaminan kecelakaan kerja.

2. Jaminan Kematian

Tenaga kerja yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja akan mengakibatkan
terputusnya penghasilan, dan sangat berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi bagi keluarga
yang ditinggalkan. Oleh karena itu, diperlukan jaminan kematian dalam upaya meringankan beban
keluarga baik dalam bentuk biaya pemakaman maupun santunan berupa uang.

8
3. Jaminan hari Tua

Hari tua dapat mengkibatkan terputusnya upah karena tidak lagi mapu bekerja. Akibat
terputusnya upah tersebut dapat menimbulkan kerisauan bagi tenaga kerja dan mempengaruhi
ketenaga kerjaan sewaktu masih bekerja, teruma bagi mereka yang penghasilannya rendah.
Jaminan hari tua memberikan kepastian penerimaan yang dibayarkan sekaligus dan atau berkala
pada saat tenaga kerja mencapai usia 55 ( lima puluh lima ) tahun atau memnuhi persyaratan
tersebut.

4. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Pemeliharaan kesehatan dimaksudkan unutk meningkatkan produktivitas tenaga kerja


sehingga dapat melaksankan rugas sebaik-baiknya dan merupakan upaya kesehatan dibidang
penyembuhan ( kuratif ).

2.3 Pelanggan

Perlindungan pelanggan adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi dan
terpenuhinya hak konsumen. Sebagai contoh, para penjual diwajibkan menunjukkan tanda harga
sebagai tanda pemberitahuan kepada konsumen. UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun
1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia menjelaskan bahwa hak konsumen
diantaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam
mengonsumsi barang dan atau jasa; hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan
barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; hak untuk
mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang
diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; dan sebagainya.

9
Di Indonesia, dasar hukum yang menjadikan seorang konsumen dapat mengajukan
perlindungan adalah:

 Undang Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1), Pasal 21 ayat (1), Pasal 27 , dan Pasal 33.

 Undang Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara
Republik Indonesia tahun 1999 No. 42 Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia
No. 3821

 Undang Undang No. 5 tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan
Usaha Usaha Tidak Sehat.

 Undang Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbritase dan Alternatif Penyelesian
Sengketa

 Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan Pengawasan dan


Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen

 Surat Edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. 235/DJPDN/VII/2001 Tentang


Penangan pengaduan konsumen yang ditujukan kepada Seluruh dinas Indag
Prop/Kab/Kota

 Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. 795 /DJPDN/SE/12/2005
tentang Pedoman Pelayanan Pengaduan Konsumen

2.4 Pemegang Saham dan Kreditur

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG SAHAM

1. Perlindungan dari Perundang-Undangan

Secara mendasar bahwa sejak awal perusahaan akan melakukan aktivitas di pasar
modal, sudah disiapkan seperangkat peraturan yang maksudnya sebagai rangkaian tindakan
preventif, agar emiten adalah benar-benar emiten yang dapat dipertanggung jawabkan dengan
itikad baik akan membagi power dan intensisnya kepada masyarakat.

10
Peraturan yang mengatur tentang syarat materil maupun formal, prosedur dan
pelaksanaan emisi saham tersebut merupakan upaya awal kepada pemegang saham publik,
perlindungan tahap berikutnya ada dan antisipasi oleh peraturan-peraturan yang dikeluarkan
oleh bapepam.

Bapepam adalah otoritas dari pasar modal yang berwenang untuk mengawasi jalannya
aktivitas di pasar modal. Karena seperti dijelaskan diatas bahwa kepentingan pemegang saham
harus dilindungi untuk menciptakan citra pasar modal yang baik agar dapat lebih menarik
investor untuk menanamkan modalnya di pasar modal. Dengan kata lain bahwa sebagian dari
sistem perlindungan hukum bagi pemegang saham publik berada di tangan
Bapepam.Perlindungan terhadap pemegang saham dimuat dalam ketentuan perundang-
undangan dalam pasar modal, seperti UU pasar modal dan perlindungan terhadap pemegang
saham yang dilakukan Bapepam dapat dilihat dari UU pasar modal pasal 82 ayat (2) peraturan
no IX.E.1

2. Perlindungan dari Penerapan Good Corporate Governance

Penerapan GCG dalam pengelolaan perusahaan dapat memberikan perlindungan


terhadap pemegang saham karena dalam GCG terdapat prinsip-prinsip yang dapat melindungi
kepentingan perusahaan, pemegang saham, manajemen, dan investor serta pihak-pihak yang
terkait dengan perusahaan. Ide dasar dari GCG adalah memisahkan fungsi dan kepentingan
diantara para pihak dalam suatu perusahaan, seperti perusahaan yang menyediakan modal atau
pemegang saham, pengawas dan pelaksana sehari-hari usaha perusahaan dan masyarakat luas.
Dan GCG juga dijadikan sebagai suatu aturan atau standar yang mengatur perilaku pemilik
perusahaan, Direksi, Manajer, dengan merinci tugas dan wewenang serta bentuk pertanggung
jawaban kepada pemegang saham.
Melindungi kepentingan pemegang saham minoritas yang beresiko dirugikan oleh
kekuasaan pemegang saham mayoritas. Ini beberapa pasal yang dapat berusaha mengatur
kepentingan pemegang saham baik mayoritas dan minoritas:

11
A. TINDAKAN DERIVATIF

Ketentuan ini mengatur bahwa Pemegang saham dapat mengambil alih untuk mewakili
urusan perseroan demi kepentingan perseroan, karena ia menganggap Direksi dan atau
Komisaris telah lalai dalam kewajibannya terhadap perseroan.

1. Pemegang saham dapat melakukan tindakan-tindakan atau bertindak selaku wakil


perseoran dalam memperjuangkan kepentingan perseroan terhadap tindakan perseroan
yang merugikan, sebagai akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh anggota
Direksi dan atau pun oleh komisaris (lihat ps.85 (3) jo. ps.98 (2) UUPT).

2. Melalui ijin dari Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi kedudukan
perseroan, pemegang saham dapat melakukan sendiri pemanggilan RUPS (baik RUPS
tahunan maupun RUPS lainnya) apabila direksi ataupun komisaris tidak
menyelenggarakan RUPS atau tidak melakukan pemanggilan RUPS (lihat ps.67 UUPT).

B. HAK PEMEGANG SAHAM MINORITAS

Pada dasarnya ketentuan-ketentuan di bawah ini terutama ditujukan untuk melindungi


kepentingan pemegang saham minoritas dari kekuasaan pemegang saham mayoritas.

1. Hak Menggugat

Setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan terhadap perseroan melalui


Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi kedudukan perseroan, bila tindakan
perseroan merugikan kepentingannya (ps. 54 UUPT).

2. Hak Atas Akses Informasi Perusahaan

Pemegang saham dapat melakukan pemeriksaan terhadap perseroan, permintaan


data atau keterangan dilakukan apabila ada dugaan bahwa perseroan dan atau anggota
direksi atau komisaris melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan pemegang
saham atau pihak ketiga (lihat ps.110 UUPT).

12
3. Hak Atas Jalannya Perseroan

Pemegang saham dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri untuk


membubarkan perseroan (lihat ps.117 UUPT).

4. Hak Perlakuan Wajar

Pemegang saham berhak meminta kepada perseroan agar sahamnya dibeli dengan
harga yang wajar apabila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan perseroan yang
merugikan pemegang saham atau perseroan, berupa:
 Perubahan anggaran dasar perseroan;
 Penjualan, penjaminan, pertukaran sebagian besar atau seluruh kekayaan perseroan;
atau
 Penggabungan, peleburan atau pengambilalihan perseroan.

PERLINDUNGAN TERHADAP KREDITUR

Apabila suatu perusahaan mengalami suatu permasalahan dalam kegiatan operasionalnya,


maka terdapat beberapa pihak yang harus dilindungi dalam hal ini yaitu pihak kreditur. Jika suatu
perusahaan tidak dapat melunasi seluruh utang – utang baik jangka pendek maupun jangka
panjang, maka hal yang harus dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan menjual seluruh aset yang
dia miliki untuk melunasi seluruh utang – utangnya. Dalam hal ini para kreditur akan mendapatkan
hak prioritas dalam pelunasan kewajiban dari perusahaan yang mengalami kepailitan. Setelah
seluruh kreditur mendapatkan pelunasan kewajibannya, selanjutnya perusahaan harus melunasi
kewajibannya kepada pemegang sahamnya.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Stakeholder sebagai kelompok atau
individu yang dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu.
Stakeholder sendiri memiliki hak dalam suatu perusahaan sehingga mereka bisa dikatakan
merupakan bagian penting dari Good Corporate Governance dari perusahaan. Masing – masing
dari pihak Stakeholder memiliki haknya tersendiri dalam posisinya di suatu perusahaan, yang
haknya sudah ada dan di atur dalam peraturan perudang – undangan negara Indonesia, sehingga
masing – masing hak dari Stakeholder dapat terjaga.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://fekool.blogspot.com/2016/05/corporate-governance-perlindungan.html

https://www.facebook.com/notes/universitas-borobudur-jakarta/undang-undang-jaminan-dan-
jenis-perlindungan-tenaga-kerja/546860785327961/

https://dontrasmianto.wordpress.com/2010/04/01/perlindungan-hukum-bagi-karyawan/

https://id.wikipedia.org/wiki/Perlindungan_konsumen

http://yuliansahri.blogspot.com/2017/02/hak-para-stakeholder-dan-mengelola.html