Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Karet alam adalah polimer isoprene (C5H8) yang mempunyai bobot
molekul yang besar. Susunannya adalah –CH–C(CH3)=CH–CH2–. Karet
Hevea yang diperoleh dari pohon Hevea Brasiliensis adalah bentuk
alamiah dari 1,4–polyisoprene. Karet jenis ini memiliki ikatan ganda lebih
dari 98% dalam konfigurasi cisnya yang penting bagi kelenturan atau
elastisitas polyisoprene. Lebih dari 90% cis –1,4 polyisoprene digunakan
dalam industri karet Hevea (Tarachiwin dkk., 2005).
Indonesia merupakan negara penghasil karet alam terbesar kedua
di dunia setelah Thailand. Akan tetapi, sekitar 70-80% karet mentah yang
dihasilkan petani diekspor ke luar negeri dengan jenis produk utamanya
adalah Standard Indonesian Rubber (SIR-20). Standar kualitasnya
didasarkan pada Standar Nasional Indonesia (SNI: 06-1903-1990), dimana
komposisi lainnya adalah kotoran 0,20%, abu 1,00%, zat menguap 0,80%,
dan nitrogen 0,60% (Baharudin, 2007).
Karet alam memiliki kemampuan untuk berkristalisasi, misalnya
pada saat pembebanan tarik menyebabkan karet ini memiliki kekuatan
tarik yang unggul dibandingkan dengan karet-karet lainnya (Bhuana,
2009). Karet alam adalah salah satu bahan penting yang digunakan secara
luas dalam aplikasi teknik. Penggunaannya terutama disebabkan oleh
kelembutan alaminya dan kemudahan pembentukannya. Bagaimanapun,
bahan pengisi perlu ditambahkan dengan maksud untuk menyiasati sifat-
sifat alami yang tidak dikehendaki sehingga didapat suatu produk seperti
yang diinginkan.
Bahan pengisi merupakan bagian yang cukup penting dalam
pembuatan kompon karet. Penggunaan bahan pengisi dimaksudkan untuk
memperkecil biaya dan menjadikan vulkanisat lebih keras dan kaku
(Basseri, 2005). Menurut Haryadi (2010), ada dua macam bahan pengisi,
yaitu bahan pengisi aktif dan bahan pengisi tidak aktif. Bahan pengisi aktif
akan meningkatkan kekerasan, ketahanan sobek, ketahanan kikis dan
ketegangan putus pada barang jadi karet, seperti aluminium silika,
magnesium silika dan carbon black. Bahan pengisi tidak aktif atau netral
akan menambah kekerasan dan kekakuan pada karet, misalnya berbagai
jenis tanah liat, kaolin, kalsium karbonat, magnesium karbonat, barium
sulfat dan barit.
Bahan pengisi karet yang sering digunakan dan telah beredar
dipasaran yaitu carbon black jenis N110, N220, dan N330. Setiap
tahunnya, bahan pengisi carbon black untuk keperluan industri kertas,
karet, plastik, perekat, dan cat di dunia telah diproduksi sebanyak 50 juta
ton (Gleiche, 2010). Pada tahun 2010, carbon black telah digunakan
sebanyak 9 juta ton dengan rincian pemakaian 6,5 juta ton untuk industri
ban dan 2,5 juta ton untuk industri karet lainnya. Carbon black diproduksi
dengan kondisi proses pembakaran yang tidak sempurna dari fraksi berat
yang menghasilkan emisi CO2 sebanyak 2,18 ton per ton carbon black,
sehingga total emisi CO2 yang dihasilkan dari produksi carbon black di
dunia sebanyak 19,62 juta ton yang bisa mengakibatkan efek rumah kaca
(Madhusoodanan dkk., 2010). Penelitian dan pengembangan dilakukan
untuk mencari material baru sebagai bahan pengisi karet, salah satu bahan
yang telah banyak diteliti adalah tanah liat (clay). Kandungan silika pada
tanah liat yang tinggi (Hasan dkk., 2018) sehingga bisa digunakan sebagai
bahan pengisi yang bersifat semi penguat.
PT Bukit Asam (Persero) Tbk. merupakan suatu perusahaan yang
bergerak dalam penambangan batubara yang salah satunya terletak di
wilayah Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Tambang batubara memiliki
beberapa lapisan diantaranya dari lapisan paling atas berupa tanah gambut,
tanah liat sampai lapisan paling bawah yang berupa batubara jenis antrasit.
Kegiatan penambangan batubara hal ini mengakibatkan banyaknya sumber
daya alam tanah liat yang jumlah keseluruhan deposit tanah liat di area
penambangan batubara lima kali lebih banyak daripada deposit batubara.
Pemanfaatan tanah liat di tambang PT Bukit Asam (Persero) Tbk.
yang masih sangat minim kurang begitu dimanfaatkan, karena hanya
digunakan untuk pembuatan jalan di sekitar area tambang sendiri dan
sebagian kecil juga disuplai untuk bahan campuran briket. Kurang
dimanfaatkannya ini dapat dilihat dari tanah tambang yang masih banyak
menumpuk disekitar tambang dan karena memang jumlah tanah liat
tambang yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah batubara.
Dalam penelitian ini, diharapkan tanah liat di PT Bukit Asam
(Persero) Tbk. dapat dimanfaatkan sebagai pengisi dari karet karena
mempunyai kandungan silika sebagai semi penguat untuk mengantikan
carbon black yang sering digunakan di industri.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka dapat disusun
rumusan masalah yaitu pengkajian berapa banyak serapan dari tanah liat di
dalam karet yang diamati dengan analisa kuat tarik, perpanjangan putus,
dan modulus.

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu sebagi berikut:
1. Menentukan seberapa optimal serapan tanah liat pada karet
dibandingkan dengan hibrid tanah liat ditambahkan carbon black.
2. Menganalisa sifat fisik vulkanisat karet yang dihasilkan dengan
analisa kuat tarik, perpanjangan putus, dan modulus.

1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat dari penelitian ini adalahh :
1. Bagi Mahasiswa
 Memberikan sumbangan pemikiran terhadap informasi terbarukan
kepada yang berkepentingan mengenai salah satu alternatif
penumpukan tanah liat tambang PT Bukit Asam (Persero) Tbk.
dengan cara menggunakan tanah liat tambang untuk mengurangi
penggunaan karet alam sebagi bahan pengisi karet.
 Mampu menghasilkan produk berupa kompon karet dengan
memanfaatkan tanah liat sebagai bahan pengisi.
2. Bagi Institusi
 Mampu memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi lembaga
pendidikan Politeknik Negeri Sriwijaya untuk pembelajaran, dan
penelitian mahasiswa Teknik Kimia.
 Mampu menjadi referensi lembaga untuk pengembangan teknologi
selanjutnya.
3. Masyarakat
 Memberikan informasi kepada industri kecil bahwa bahan pengisi
berupa carbon black bisa digantikan dengan menggunakan tanah
liat yang harganya lebih murah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 A
2.2 B
2.3 C
2.4 D
2.5 F
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 8 April 2019 – 8 Mei 2019 di
Laboratorium Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya dan
analisa hasil dilakukan di Pusat Penelitian Karet di Bogor.

3.2 Alat dan Bahan yang Digunakan


3.2.1 Alat yang Digunakan
 Furnace

3.2.2 Bahan yang Digunakan
 SP 325 ex Miwon (Sulfur) = 10 gram
 Vulkanox HS/LG (Antioxidant TMQ) = 8 gram
 Zinkoxyd Aktiv (Zinc Oxide Activ) = 20 gram
 Aflux 52 (Asam Stearat) = 8 gram
 TBBS = 2 gram
 Paraffinic Oil = 20 gram
 SI 69 = 4 gram
 Carbon black = 200 gram
 Tanah liat INT A1-A2 = 2000 gram

3.3
3.4 D
3.5 E
3.6 F
BAB IV
BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

4.1 Rincian Biaya


Tabel Daftar harga instrumen penelitian
Biaya Satuan Jumlah Total
No Barang (Rp)
(Rp)

1 Giling sampel 76.000 760.000

2 Rheometer 150 OC 200.000 2.000.000

3 Persiapan sampel 30.000 300.000

Analisa Kuat Tarik +


4 150.000 1.500.000
Perpanjangan putus

5 Analisa Modulus 25.000 250.000

Total Rp 4.810.000

Tabel Rekapitulasi Biaya


No Spesifikasi Jumlah (Rp)
1 Transportasi 100.000
2 Kertas A4 (5 rim) 215.000
3 Biaya lain-lain 500.000
Total Rp 1.715.000
Total Biaya Keseluruhan Rp 6.525.000
4.2 Jadwal Kegiatan
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2019. Jadwal kegiatan penelitian disusun
dalam Tabel sebagai berikut:
Tabel Jadwal Kegiatan
Bulan
Uraian Kegiatan Februari Maret April Mei Juni Juli
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Konsultasi Pembimbing

Persiapan Bahan Baku

Pembuatan Proposal
Pengajuan Proposal
Sidang Proposal
Pengambilan Data dan Penelitian
Analisis Data
Penyusunan Laporan Tugas Akhir
Pengumpulan Laporan Tugas Akhir
Sidang Tugas Akhir
Publikasi