Anda di halaman 1dari 107

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Pemerintah menerapkan e-Government yang bertujuan untuk mewujudkan

pemerintahan yang demokratis, transparan, bersih, adil, akuntabel,

bertanggungjawab, responsif, efektif dan efisien. E-Government memanfaatkan

kemajuan komunikasi dan informasi pada berbagai aspek kehidupan, serta untuk

peningkatan daya saing dengan negara-negara lain. Seperti yang tercantum dalam

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi

Elektronik. E-Government menerapkan sistem pemerintahan dengan berbasis

elektronik agar dapat memberikan kenyamanan, meningkatkan transparansi, dan

meningkatkan interaksi dengan masyarakat, serta meningkatkan pelayanan publik.

Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka

pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai peraturan perundang-undangan bagi

setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, atau pelayanan administratif

yang disediakan oleh pemerintah. Berbagai metode yang digunakan oleh

pemerintah agar kemudian orientasi dari pelayanan public bisa kemudian

dilaksanakan dengan prima dan bisa menyentuh secara langsung kepada rakyat.

Implementasi e-Government dalam pelayanan publik dengan penggunaan

teknologi dan informasi yang saat ini sedang dilaksanakan dalam bidang

pemerintahan adalah Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el). Melihat dari

jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, pemerintah memerlukan program


2

kependudukan yang akurat. Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) adalah

kartu tanda penduduk elektronik sebagai identitas penduduk resmi negara

Indonesia yang berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK). Inisiasi KTP-el

dimulai tahun 2009 dan mulai diterapkan secara nasional pada bulan Februari

2011. Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) diprakarsai mengingat sudah

banyak negara di dunia yang menggunakan sistem serupa, oleh karena itu

Indonesia berusaha mengembangkan sistem administrasi pemerintahan dengan

menerapkan KTP-el. Fungsi Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) adalah:

1. Sebagai identitas jati diri

2. Berlaku secara nasional, sehingga tidak perlu lagi membuat KTP lokal untuk

pengurusan izin, pembukaan rekening bank, dan sebagainya

3. Mencegah KTP ganda dan pemalsuan KTP

4. Terciptanya keakuratan data penduduk untuk mendukung program

pembangunan. (UU Nomor 23 Tahun 2006)

Penyelenggaraan administrasi kependudukan sebagaimana diamanatkan

dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi

Kependudukan adalah terwujudnya Tertib Database Kependudukan, Tertib

Penerbitan Nomor Induk Kependudukan (NIK), Tertib Dokumen Kependudukan,

untuk mewujudkan tujuan utama penyelenggaraan administrasi kependudukan

tersebut, perlu penerapan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang Berbasis NIK

Secara Nasional (KTP Elektronik) untuk setiap penduduk wajib KTP.

Pemanfaatan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) diharapkan dapat

berjalan lancar karena memiliki fungsi dan kegunaan yang sangat membantu
3

pemerintah dan masyarakat yang bersangkutan dalam hal pemberian dan

pemanfaatan pelayanan publik.

Pelaksanaan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) dipandang sangat

relevan dengan rencana pemerintah dalam upaya menciptakan pelayanan publik

yang berkualitas dan berbasis teknologi untuk mendapatkan hasil data

kependudukan yang lebih tepat dan akurat. KTP-el merupakan KTP nasional yang

sudah memenuhi semua ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang No. 23

tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Peraturan Presiden Nomor 26

Tahun 2009 tentang Penerapan KTP berbasis Nomor Induk Kependudukan secara

nasional dan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2010 tentang perubahan atas

Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009.

Pemerintah perlu melaksanakan program tersebut dengan sebaik-baiknya,

sehingga nantinya akan mempermudah masyarakat untuk mendapatkan pelayanan

dari lembaga pemerintah dan swasta karena KTP-el merupakan electronic KTP

yang dibuat dengan sistem komputer, sehingga dalam penggunaannya nanti

diharapkan lebih mudah, cepat dan akurat. Pemerintah membuat kebijakan

program KTP-el baik bagi masyarakat, bangsa dan negara dimaksudkan agar

terciptanya tertib administrasi. Selain itu diharapkan agar menghindari hal-hal

yang tidak diinginkan, seperti mencegah dan menutup peluang adanya KTP ganda

atau KTP palsu yang selama ini banyak disalahgunakan oleh masyarakat dan

menyebabkan kerugian bagi negara. Untuk mendukung terwujudnya database

kependudukan yang akurat, khususnya yang berkaitan dengan data penduduk


4

wajib KTP yang identik dengan Data Penduduk Pemilih Pemilu (DP4), sehingga

DPT pemilu yang selama ini sering bermasalah tidak akan terjadi lagi.

Pemerintah pusat telah menetapkan 5 (lima) tahapan agar menjamin

keakuratan data dari setiap warga sehingga KTP-el tersebut tidak dapat

diperbanyak atau digandakan. Berikut 5 (lima) tahap dalam pembuatan KTP-el,

yaitu:

1. Pembacaan biodata; warga datang berdasarkan waktu yang telah ditentukan

dengan membawa surat pengantar yang telah diberikan oleh pihak RT/RW

setempat

2. Foto; warga diharuskan melakukan foto diri terlebih dahulu. Foto yang

dilakukan sebaiknya memakai pakaian yang rapi, karena foto KTP-el hanya

dilakukan satu kali saja dan tidak bisa diganti dalam jangka waktu 5 (lima

tahun) kecuali kartu tersebut rusak atau hilang sebelum masa perpanjangan

3. Perekaman tanda tangan; warga diwajibkan melakukan tanda tangan untuk

kemudian direkam ke dalam komputer dan disimpan untuk identitas warga

4. Scan sidik jari; Scan sidik jari ini dilakukan dengan kelima jari warga, jika

warga mengalami kecacatan pada jari, maka dapat dilakukan dengan jari yang

ada saja

5. Scan retina mata; tahap ini dilakukan untuk menjamin keakuratan dari warga

tersebut karena scan jari tidak dapat menjamin keakuratan KTP-el, bisa saja

ketika dilakukan tahap scan jari, warga tersebut memakai jari orang lain.

Untuk itu dilakukan scan retina karena retina mata tidak dapat digantikan oleh

orang lain. (UU Nomor 23 Tahun 2006)


5

Pelaksanaan tugas untuk penyelenggaraan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur yang menentukan kebijakan baru pemerintah pusat di mana

setiap penduduk yang ingin melakukan perekaman dalam pembuatan KTP-el,

sebelum perekaman KTP-el masyarakat diwajibkan meminta surat keterangan dari

kelurahan/desa, sebab itulah persyaratan bila masyarakat ingin melakukan

pembuatan KTP-el. Setelah itu masyarakat bisa membawa langsung dari

kecamatan, maka di kecamatan akan dibuatkan database karena pemerintah harus

memerlukan NIK masyarakat di mana NIK itu gunanya untuk meminta identitas

penduduk Indonesia dan merupakan kunci akses dalam melakukan verifikasi dan

validasi data jati diri seseorang guna mendukung pelayanan publik di bidang

administrasi kependudukan. NIK ini bersifat unik dan tunggal untuk diberikan

kepada setiap penduduk dan berlaku seumur hidup serta selamanya. NIK ini akan

diberikan oleh pemerintah dan diterbitkan oleh instansi pelaksanaan di

Kabupaten/Kota.

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

sebagai instansi pelaksana penerbitan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el)

harus melakukan koordinasi dengan kecamatan-kecamatan yang ada di wilayah

Kabupaten Lampung Timur, untuk melakukan pendataan dan pencatatan

kependudukan yang ada di Kabupaten Lampung Timur. Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur telah menggelar rapat koordinasi

dengan Forum Komunikasi Kepala Desa dalam rangka percepatan pelayanan

KTP-el, Kartu Keluarga dan Akte Pencatatan Sipil bagi warga masyarakat.
6

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

juga melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan dan desa untuk memastikan

apakah warga yang bersangkutan masih berdomisili di wilayah tersebut atau

sudah pindah. Koordinasi dilakukan selain untuk mengetahui domisili masyarakat

dan juga untuk mengetahui apakah telah ada perubahan data penduduk akibat

mobilisasi penduduk dan adanya kematian penduduk. Koordinasi yang saat ini

sedang dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur dengan kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung

Timur adalah koordinasi percepatan perekaman Kartu Tanda Penduduk (KTP)

baru bagi penduduk yang telah menjadi wajib KTP karena usianya telah 17 tahun.

Koordinasi masalah kependudukan nasional dalam rangka percepatan

perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) baru, Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur melakukan

kunjungan ke kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Timur

untuk melakukan perekaman identitas penduduk dengan membawa mobil keliling

yang dapat digunakan untuk melakukan perekaman KPT-el dan pembuatan Kartu

Keluarga (KK). Koordinasi yang dilakukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan

Sipil Kabupaten Lampung Timur dengan kecamatan yang ada di Kabupaten

Lampung Timur, secara umum tidak mengalami hambatan. Namun hambatan

dalam pelayanan KTP-el baru, justru datang dari wajib KTP yang baru akan

melakukan perekaman KTP-el, karena umumnya mereka masih merupakan

pelajar dan kurang mengetahui jika ada perekaman KTP-el keliling oleh Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, karena tidak


7

adanya sosialisasi dari kecamatan dan desa. Selain itu pihak kecamatan juga

kurang melakukan koordinasi dengan pihak sekolah dan desa, karena bila

dilakukan koordinasi yang baik, maka saat Dinas Kependudukan dan Pencatatan

Sipil Kabupaten Lampung Timur melakukan pelayanan perekaman KTP-el

dengan mobil keliling dapat melakukan perekaman KTP-el bagi wajib KTP baru

di sekolah-sekolah.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka

dirumuskan masalahnya adalah: Bagaimanakah koordinasi pelayanan Kartu Tanda

Penduduk Elektronik (KTP-el) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Kabupaten Lampung Timur?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui

koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) di Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur.

1.3.2 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dalam kegiatan penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

terhadap pengembangan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik khususnya dalam bidang
8

Ilmu Administrasi Negara yang berkaitan dengan koordinasi pelayanan Kartu

Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el).

b. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam

meningkatkan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-

el) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur.


9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Ketika peneliti mulai membuat rancangan penelitian ia tidak bisa

menghindar dan harus mempelajari penemuan-penemuan tersebut dengan

mendalami, mencermati, menelaah dan mungidentifikasi hal-hal yang telah ada

untuk mengetahui apa yang ada dan apa yang belum ada. Kegiatan mendalami,

mencermati, menelaah dan mungidentifikasi pengetahuan itulah yang biasa

dikenal dengan mengkaji bahan pustaka atau disingkat dengan kajian pustaka.

(Arikunto, 2005:58).

2.1 Tinjauan tentang Koordinasi

2.1.1 Pengertian Koordinasi

Koordinasi adalah penyesuaian diri dari masing-masing bagian, dan usaha

menggerakkan serta mengoperasikan bagian-bagian pada waktu yang cocok,

sehingga dengan demikian masing-masing bagian dapat memberikan sumbangan

terbanyak pada keseluruhan hasil. Pengertian koordinasi menurut pendapat

Ndraha (2011:290) dijelaskan bahwa:

Koordinasi berasal dari kata coordination, co dan ordinare yang berarti to


regulate. Dari pendekatan empirik yang dikaitkan dengan etimologi,
koordinasi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh berbagai pihak
yang sederajat (equal in rank or order, of the same rank or order, not
subordinate) untuk saling memberi informasi dan mengatur (menyepakati)
hal tertentu.
10

Pengertian koordinasi secara normatif menurut pendapat Ndraha

(2011:290) dijelaskan:

Koordinasi diartikan sebagai kewenangan untuk menggerakkan,


menyerasikan, menyelaraskan, dan menyeimbangkan kegiatan-kegiatan
yang spesifik atau berbeda-beda agar semuanya terarah pada tujuan
tertentu. Sedangkan secara fungsional, koordinasi dilakukan guna untuk
mengurangi dampak negatif spesialisasi dan mengefektifkan pembagian
kerja

Sedangkan James G. March dan Hebert A. Simon dalam Ndraha

(2011:291) menyebutkan: “Coordination is the process of achieving unity of

action among interdependent activities”. (Koordinasi merupakan proses dari

mencapai kesatuan aksi diantara aktivitas yang saling ketergantungan).

Terry dalam Ndraha (2011:291) dijelaskan: “The orderly of efforts to

provide the proper amount, timing and directing of execution resulting in

harmonious and unified actions to a stated objective”. (Sebagian besar usaha

yang menyediakan pemilihan waktu dan mengarahkan pelaksanaan yang

menghasilkan dan mempersatukan aksi-aksi yang obyektif).

Berdasarkan definisi James G. March dan Hebert A. Simon serta Terry,

kemudian Ndraha (2011:291) mendefinisikan:

Koordinasi sebagai proses penyepakatan bersama secara mengikat


berbagai kegiatan atau unsur yang berbeda-beda sedemikian rupa sehingga
di sisi yang satu semua kegiatan atau unsur itu terarah pada pencapaian
suatu tujuan yang telah ditetapkan dan di sisi lain keberhasilan yang satu
tidak merusak keberhasilan yang lain.

Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa koordinasi

adalah proses kesepakatan bersama secara mengikat berbagai kegiatan atau unsur

(yang terlihat dalam proses) pemerintahan yang berbeda-beda pada dimensi

waktu, tempat, komponen, fungsi dan kepentingan antar pemerintah yang


11

diperintah, sehingga di satu sisi semua kegiatan di kedua belah pihak terarah pada

tujuan pemerintahan yang ditetapkan bersama dan disisi lain keberhasilan pihak

yang satu tidak dirusak keberhasilan pihak yang lain.

2.2.2 Macam-Macam Koordinasi

Macam-macam koordinasi menurut Syafiie dalam bukunya yang berjudul

Manajemen Pemerintahan (2011:35) macam-macam koordinasi adalah:

a. Koordinasi horizontal
Koordinasi horizontal adalah penyelarasan kerjasama secara harmonis
dan sinkron antar lembaga lembaga yang sederajat misalnya antar
Muspika Kecamatan (Camat, Kapolsek, Danramil), antar Muspida
Kabupaten (Bupati, Danramil, Kapolres), dan Muspida Provinsi
(Gubernur, Pangdam, Kapolda).
b. Koordinasi vertikal
Koordinasi vertikal adalah penyelarasan kerjasama secara harmonis
dan sinkron dari lembaga yang sederajat lebih tinggi kepada lembaga
lembaga lain yang derajatnya lebih rendah. Misalnya antar Kepala Unit
suatu Instansi kepada Kepala Sub Unit lain diluar mereka, Kepala
Bagian (Kabag), suatu Instansi Kepada Kepala Sub Bagian (Kasubag)
lain di luar bagian mereka, Kepala Biro suatu Instansi kepada Kepala
Sub Biro lain di luar biro mereka.
c. Koordinasi fungsional
Koordinasi fungsional adalah penyelarasan kerjasama secara harmonis
dan sinkron antar lembaga lembaga yang memiliki kesamaan dalam
fungsi pekerjaan misalnya antar sesama para kepala bagian hubungan
masyarakat.

Sedangkan macam-macam koordinasi menurut Ndraha (2011:295-296)

menyebutkan:

a. Koordinasi waktu
Koordinasi waktu atau sinkronisasi merupakan proses untuk
menentukan, mana kegiatan yang dapat berjalan serentak dan mana
yang harus berurutan; jika berurutan bagaimana urutannya. Koordinasi
ini dilakukan terhadap kegiatan antar unit kerja yang berhubungan
dependen, kauasal dan sebangsanya
b. Koordinasi ruang
Koordinasi ruang dapat disebut juga koordinasi wilayah. Koordinasi
ini ditempuh jika sesuatu kegiatan melalui berbagai daerah kerja
12

c. Koordinasi interinstitisional
Koordinasi antar berbagai unit kerja yang berkepentingan atas projek
serba guna atau produk berasama tertentu
d. Koordinasi fungsional
Koordinasi fungsional yaitu koordinasi antar unit kerja yang satu
terhadap unit kerja yang lain yang kegiatannya secara objektif
berhubungan fungsional
e. Koordinasi struktural
Koordinasi struktural yaitu koordinasai antar unit kerja yang berada di
bawah struktur tertentu, tanpa melalui superordinasi. Koordinasi
seperti ini murni kehendak berkoordinasi unit kerja yang satu dengan
unit kerja yang lain secara sukarela
f. Koordinasi perencanaan
Koordinasi perencanaan dilakukan guna mengantisipasi terjadinya
kehancuran keberhasilan unit kerja yang satu oleh keberhasilan unit
kerja yang lain. Koordinasi ini berlangsung antar unit kerja yang
berhubungan interdependen dan independent
g. Koordinasi masukan balik
Koordinasi masukan balik yaitu koordinasi hasil kontrol terhadap
setiap kegiatan unit kerja agar dapat dilakukan koreksi.

Berdasarkan teori di atas maka macam-macam koordinasi yang dilakukan

oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dalam koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) dengan

kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Timur merupakan

koordinasi ruang. Koordinasi ini ditempuh kegiatan pelayanan Kartu Tanda

Penduduk Elektronik (KTP-el) melalui berbagai kecamatan yang dilakukan

dengan mobil keliling untuk memberikan pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el).

2.2.3 Tujuan Koordinasi

Setiap koordinasi yang dilakukan memiliki tujuan. Tujuan koordinasi

menurut Ndraha (2011:295) yaitu:


13

1. Menciptakan dan memelihara efektivitas organisasi setinggi mungkin


melalui sinkronisasi, penyerasian, kebersamaan, dan kesinambungan,
antar berbagai dependen suatu organisasi.
2. Mencegah konflik dan menciptakan efisiensi setinggi-tingginya setiap
kegiatan interdependen yang berbeda-beda melalui kesepakatan-
kesepakatan yang mengikat semua pihak yang bersangkutan.
3. Menciptakan dan memelihara iklim dan sikap saling responsif-
antisipatif di kalangan unit kerja interdependen dan independen yang
berbeda-beda, agar keberhasilan unit kerja yang satu tidak rusak oleh
keberhasilan unit kerja yang lain, melalui jaringan informasi dan
komunikasi efektif.

Buchari (1970:68) dalam Mulugol, dkk (2014:3) mengemukakan tujuan

koordinasi sebagai berikut:

1. Koordinasi untuk mencegah konflik


2. Koordinasi untuk mencegah persaingan
3. Koordinasi untuk mencegah double ours dan pemborosan
4. Koordinasi untuk mencegah kekosongan ruang atau waktu
5. Koordinasi untuk mencegah perbedaan-perbedaan pendekatan dan
pelaksanaan.

Tangkudung (1983:107) dalam Mulugol, dkk (2014:3) menyebutkan:

”Koordinasi bertujuan untuk menghindarkan adanya kesimpangsiuran, konflik

antara bagian-bagian atau unit-unit, adanya pekerjaan yang kembar, ataupun

timbulnya”.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat diketahui bahwa tujuan

koordinasi adalah untuk menciptakan dan memelihara efektivitas organisasi

setinggi mungkin, mencegah konflik dan menciptakan efisiensi setinggi-tingginya

setiap kegiatan melalui kesepakatan-kesepakatan yang mengikat semua pihak

yang bersangkutan dan menciptakan iklim yang kondusif agar keberhasilan unit

kerja yang satu tidak rusak oleh keberhasilan unit kerja yang lain.
14

2.2.4 Hambatan-Hambatan Koordinasi

Sekalipun pada umumnya telah disadari pentingnya koordinasi dalam

proses administrasi/manajemen pemerintahan, tetapi kenyataannya dalam praktek

tidak jarang ditemukan berbagai masalah yang menyebabkan kurang efektifnya

pelaksanaan koordinasi yang diperlukan, sehingga pencapaian sasaran/tujuan

tidak selalu berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Masalah koordinasi menurut Handayaningrat dalam Suminar (2015:25)

ada berbagai faktor yang dapat menghambat tercapainya koordinasi itu adalah

sebagai berikut:

a. Hambatan-hambatan dalam koordinasi vertikal (struktural) Dalam


koordinasi vertikal (struktural) sering terjadi hambatan-hambatan
disebabkan perumusan tugas, wewenang dan tanggung jawab tiap-tiap
satuan kerja (unit kerja) kurang jelas. Di samping itu adanya hubungan
dan tata kerja serta prosedur kurang dipahami oleh pihak-pihak yang
bersangkutan dan kadang-kadang timbul keragu-raguan diantara
mereka. Sebenarnya hambatan-hambatan yang demikian itu tidak perlu
karena antara yang mengkoordinasikan dan yang dikoordinasikan ada
hubungan komando dalam susunan organisasi yang bersifat hierarkis.
b. Hambatan-hambatan dalam koordinasi fungsional. Hambatan-
hambatan yang timbul pada koordinasi fungsional baik yang horizontal
maupun diagonal disebabkan karena antara yang mengkoordinasikan
dengan yang dikoordinasikan tidak terdapat hubungan hierarkis (garis
komando). Sedangkan hubungan keduanya terjadi karena adanya
kaitan bahkan interdepedensi atas fungsi masing-masing.

Adapun hal-hal yang biasanya menjadi hambatan dalam pelaksanaan

koordinasi antara lain:

1. Para pejabat sering kurang menyadari bahwa tugas yang dilaksanakannya

hanyalah merupakan sebagian saja dari keseluruhan tugas dalam organisasi

untuk mencapai tujuan organisasi tersebut.


15

2. Para pejabat sering memandang tugasnya sendiri sebagai tugas yang paling

penting dibandingkan dengan tugas-tugas lain.

3. Adanya pembagian kerja atau spesialisasi yang berlebihan dalam organisasi.

4. Kurang jelasnya rumusan tugas atau fungsi, wewenang dan tanggung jawab

dari masing-masing pejabat atau satuan organisasi.

5. Adanya prosedur dan tata kerja yang kurang jelas dan berbelit-belit dan tidak

diketahui oleh semua pihak yang bersangkutan dalam usaha kerjasama.

6. Kurangnya kemampuan dari pimpinan untuk menjalankan koordinasi yang

disebabkan oleh kurangnya kecakapan, wewenang dan kewibawaan.

7. Tidak atau kurangnya forum komunikasi diantara para pejabat yang

bersangkutan yang dapat dilakukan dengan saling tukar menukar informasi

dan diciptakan adanya saling pengertian guna kelancaran pelaksanaan

kerjasama.

Berdasarkan uraian di atas, maka hambatan dalam koordinasi pelayanan

Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) di Dinas Kependudukan dan Catatan

Sipil Kabupaten Lampung Timur adalah hambatan koordinasi fungsional, yaitu

hambatan yang disebabkan karena tidak terdapat hubungan hierarkis (garis

komando), sedangkan hubungan terjadi karena adanya kaitan bidang

penyelenggaraan data kependudukan.

2.2.5 Indikator Koordinasi

Indikator koordinasi menurut Mc. Farland dalam Ndraha (2011:297)

disebutkan: “Koordinsi indikatornya adalah harapan, output dan outcome”.


16

Kemudian Terry dalam Ndraha (2011:297) menyatakan: “Koordinasi dapat diukur

dari segi prosesnya”.

Sedangkan indikator koordinasi menurut Ndraha (2011:297) sebagai

berikut:

1. Informasi, komunikasi dan teknologi komunikasi


2. Kesadaran pentingnya koordinasi
3. Kompetensi partisipan, kalender pemerintahan
4. Kesepakatan dan komitmen
5. Penerapan kesepakatan oleh setiap pihak yang berkoordinasi
6. Insentif koordinasi
7. Feedback sebagai masukan balik dalam proses koordinasi

Berdasarkan indikator koordinasi di atas, maka dalam penelitian ini

penulis akan menggunakan indikator koordinasi dari Ndraha sebagai indikator

pengukuran koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) di

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, yaitu:

1. Informasi, komunikasi dan teknologi komunikasi

2. Kesadaran pentingnya koordinasi

3. Kompetensi partisipan, kalender pemerintahan

4. Kesepakatan dan komitmen

5. Penerapan kesepakatan oleh setiap pihak yang berkoordinasi

6. Insentif koordinasi

7. Feedback sebagai masukan balik dalam proses koordinasi

2.2 Tinjauan tentang Pelayanan

2.2.1 Pengertian Pelayanan

Pengertian pelayanan menurut pendapat Donald yang dikutip

Hardiyansyah (2011:10) menjelaskan:


17

Pelayanan pada dasarnya adalah merupakan kegiatan atau manfaat yang


ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain dan pada hakekatnya tidak
berwujud serta tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu, proses
produksinya mungkin juga tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik.

Sedangkan pengertian pelayanan menurut Lovelock yang dikutip

Hardiyansyah (2011:10) menyebutkan:

Service adalah produk yang tidak berwujud, berlangsung sebentar dan


dirasakan atau dialami. Artinya service merupakan produk yang tidak ada
wujud atau bentuknya sehingga tidak ada bentuk yang dapat dimiliki dan
berlangsung sesaat atau tidak tahan lama, tetapi dialami dan dapat
dirasakan oleh penerima layanan.

Selanjutnya Moenir (2014:16-17) menjelaskan: “Proses pemenuhan

kebutuhan melalui aktivitas orang lain yang langsung inilah dinamakan

pelayanan”. Lebih lanjut Moenir (2014:26) menjelaskan bahwa: ”Pelayanan

hakikatnya adalah serangkaian kegiatan, karena itu ia memerlukan proses.

Sebagai proses, pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan,

meliputi seluruh kehidupan orang dalam masyarakat”.

Memperhatikan pada pendapat tersebut, maka dapat diambil pengertian

bahwa pelayanan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh

seseorang kepada orang lain untuk dapat mencapai suatu tujuan. Dalam

memberikan pelayanan maka seseorang atau sejumlah pegawai dalam suatu

organisasi kerja harus menguasai teknis kerja yang harus dilaksanakan.

Pelayanan merupakan faktor yang amat penting khususnya bagi

perusahaan yang bergerak dibidang jasa. Dimana hal ini fisik produk biasanya

ditunjang dengan berbagai macam inisial produk. Adapun inti produk yang

dimaksud biasanya merupakan jasa tertentu. Oleh karena itu pentingnya


18

mengetahui secara teoritis tentang batasan, pengertian dan faktor-faktor yang

mempengaruhi dari pada pelayanan itu sendiri.

2.2.2 Kualitas Pelayanan Publik

Pelayanan publik yang diberikan oleh birokrasi hendaknya berdasarkan

ciri-ciri atau atribut sebagaimana dikemukakan Hardiyansyah (2011:40) yaitu:

1. Kepatuhan waktu pelayanan, yang meliputi waktu tunggu dan waktu


proses
2. Akurasi pelayanan yang meliputi bebas dari kesalahan
3. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan
4. Kemudahan mendapatkan pelayanan, misalnya banyaknya petugas
yang melayani dan banyaknya fasilitas pendukung
5. Kenyamanan dalam memperoleh pelayanan, berkaitan dengan lokasi,
ruang tempat pelayanan, tempat parkir dan kesediaan informasi
6. Atribut pendukung pelayanan, seperti ruang ber-AC, kebersihan dan
lain-lain.

Pelayanan yang diharapkan oleh masyarakat menurut Moenir (2014:41-

44) adalah sebagai berikut:

1. Adanya kemudahan dalam pengurusan kepentingan dengan


pelayanan yang cepat dalam arti tanpa hambatan yang kadangkala
dibuat-buat
2. Memperoleh pelayanan secara wajar tanpa gerutu, sindiran atau hal-
hal yang bersifat tidak wajar.
3. Mendapatkan perlakuan yang sama dalam pelayanan terhadap
kepentingan yang sama, tertib, dan tidak pandang bulu.
4. Pelayanan yang jujur dan terus terang, artinya apabila ada hambatan
karena suatu masalah yang tidak dapat dielakkan hendaknya
diberitahukan, sehingga orang tidak menunggu-nunggu sesuatu yang
tidak jelas.

Keempat hal di atas menjadi harapan setiap orang yang berurusan

dengan badan/instansi yang bertugas melayani masyarakat. Apabila hal itu

dapat dipenuhi, masyarakat akan puas dan kepuasan masyarakat terlihat pada:
19

a. Masyarakat sangat menghargai (respect) kepada korps pegawai yang

bertugas di bidang pelayanan umum. Mereka tidak memandang remeh dan

mencemooh korps itu dan tidak pula berlaku sembarangan.

b. Masyarakat terdorong memenuhi aturan dengan penuh kesadaran tanpa

perasangka buruk, sehingga lambat laun dapat terbentuk sistem

pengendalian diri (self control) yang akan sangat efektif dalam ketertiban

berpemerintahan dan bernegara

c. Adanya rasa bangga pada masyarakat atas karya korps pegawai di bidang

layanan umum, meskipun di lain pihak ada yang merasa ruang geraknya

dipersempit karena tidak dapat lagi mempermainkan mereka. Rasa bangga

itu akan membawa adampak positif terhadap usaha mempertahankan citra

korps pegawai yang tangguh, tanggap dan disiplin.

d. Kelembagaan-kelembagaan yang biasa ditemui, dapat dihindarkan dan

ditiadakan. Sebaliknya akan dapat ditumbuhkan percepatan kegiatan di

masyarakat di semua bidang kegiatan baik ekonomi, sosial maupun budaya.

e. Karena danya kelancaran di bidang pelayanan umum, gairah usaha dan

inisiatif masyarakat akan meningkat, yaitu akan meningkatkan pula usaha

perkembangan ekonomi, sosial maupun budaya masyarakat ke arah

tercapainya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Moenir,

2014:45)

2.2.3 Penilaian Kualitas Pelayanan

Kualitas pelayanan bisa dikatakan berkualitas atau tidak berkualitas

sebenarnya didasarkan pada penilaian dari pelayanan yang diberikan. Dalam


20

rangka menilai sejauh mana kualitas pelayanan publik yang diberikan oleh

aparatur pemerintah, perlu ada kriteria yang menunjukkan apakah suatu pelayanan

publik yang diberikan dapat dikatakan baik atau buruk, berkualitas atau tidak.

Berkenaan dengan hal tersebut, Zeithaml et.al dalam Hardiansyah (2011:40)

mengatakan bahwa:

SERVQUAL is an empirically derived method that may be used by a


services organization to improve service quality. The method involves the
development of an understanding of the perceived service needs of target
customers. The resulting gap analysis may then be used as a driver for
service quality improvement.

SERVQUAL merupakan suatu metode yang diturunkan secara empiris

yang dapat diturunkan secara empiris yang dapat digunakan oleh organisasi

pelayanan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Metode ini meliputi

pengembangan pemahaman mengenai kebutuhan layanan yang dirasakan oleh

pelanggan. Hal ini diukur dari persepsi kualitas layanan bagi organisasi yang

bersangkutan. Analisis kesenjangan yang dihasilkan kemudian dapat digunakan

sebagai panduan untuk peningkatan kualitas layanan.

Menurut Hardiyansyah (2011:41) menjelaskan bahwa ukuran kualitas

pelayanan memiliki sepuluh dimensi, yaitu:

1. Tangibles (berwujud fisik), terdiri atas fasilitas fisik, peralatan,


personil dan komunikasi
2. Reliability (kehandalan), terdiri dari kemampuan unit pelayanan dalam
menciptakan pelayanan yang dijanjikan dengan tepat
3. Responsiveness (ketanggapan), kemauan untuk membantu konsumen,
bertanggungjawab terhadap kualitas pelayanan yang diberikan
4. Competence (kompeten), terdiri atas tuntutan yang dimilikinya,
pengetahuan dan keterampilan yang baik oleh aparatur dalam
memberikan pelayanan
5. Courtesy (ramah), sikap atau perilaku ramah, bersahabat, tanggap
terhadap keinginan konsumen serta mau melakukan kontak
21

6. Credibility (dapat dipercaya), sikap jujur dalam setiap upaya untuk


menarik kepercayaan masyarakat
7. Security (merasa aman), jasa pelayanan yang diberikan harus bebas
dari berbagai bahaya atau resiko
8. Access (akses), terdapat kemudahan untuk mengadakan kontak dan
pendekatan
9. Communication (komunikasi), kemauan pemberi pelayanan untuk
mendengarkan suara, keinginan atau aspirasi pelanggan
10. Understanding the customer (memahami pelanggan), serta melakukan
segala usaha untuk mengetahui kebutuhan pelanggan.

Berdasarkan sepuluh dimensi kualitas pelayanan tersebut, kemudian

Zeithaml et.al dalam Hardiyansyah (2011:42) menyederhanakan menjadi lima

dimensi, yaitu dimensi SERVQUAL (kualitas pelayanan) sebagai berikut:

(1) Tangibles. Appearance of physical facilities, equipment, personnel,


and communication materials; (2) Reliability. Ability to perform the
promised service dependably and accurately; (3) Responsiveness. Will
ingness to help customers and provide prompt service; (4) Assurance.
Knowledge and courtesy of employees and their ability to convey trust and
confidence; and (5) Empathy. The firm provides care and individualized
attention to its customers.

Selisih antara persepsi dan harapan inilah yang mendasari munculnya

konsep gap dan digunakan sebagai dasar skala SERVQUAL, yang didasarkan

pada lima dimensi kualitas yaitu:

1. Tangibles, meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana

komunikasi

2. Realibility, yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan yang dijanjikan

tepat waktu dan memuaskan

3. Responsiveness, kemampuan para staf untuk membantu para pelanggan dan

memberikan pelayanan yang tanggap

4. Assurance, mencakup kemampuan, kesopanan, bebas dari bahaya resiko atau

keraguan
22

5. Emphaty, yaitu mencakup kemudahan dalam melakukan hubungan

komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan para pelanggan.

Menurut Zeithaml dalam Hardiansyah (2011:41) menyatakan bahwa

kualitas pelayanan dapat diukur dari 5 dimensi, yaitu: Tangible (berwujud),

Reliability (kehandalan), Responsiveness (ketanggapan), Assurance (jaminan),

dan Emphaty (empati). Masing-masing dimensi memiliki indikator sebagai

berikut:

1. Untuk dimensi Tangible (berwujud), terdiri atas indikator:


a. Penampilan petugas/aparatur dalam melayani pelanggan
b. Kenyamanan tempat melakukan pelayanan
c. Kedisiplinan petugas/aparatur dalam melakukan pelayanan
d. Kemudahan proses dan akses layanan
e. Penggunaan alat bantu dalam pelayanan
2. Untuk dimensi Reliability (kehandalan), terdiri atas indikator:
a. Kecermatan petugas dalam melayani pelanggan
b. Memiliki standar pelayanan yang jelas
c. Kemampuan petugas/aparatur dalam menggunakan alat bantu
dalam proses pelayanan
d. Keahlian petugas dalam menggunakan alat bantu dalam proses
pelayanan
3. Untuk dimensi Responsiveness (Respon/ketanggapan), terdiri atas
indikator:
a. Merespon setiap pelanggan/ pemohon yang ingin mendapatkan
pelayanan
b. Petugas/aparatur melakukan pelayanan dengan cepat dan tepat
c. Petugas/aparatur melakukan pelayanan dengan cermat
d. Semua keluhan pelanggan direspon oleh petugas
4. Untuk dimensi Assurance (jaminan), terdiri atas indikator:
a. Petugas memberikan jaminan tepat waktu dalam pelayanan
b. Petugas memberikan jaminan legalitas dalam pelayanan
c. Petugas memberikan jaminan kepastian biaya dalam pelayanan
5. Untuk dimensi Emphaty (empati), terdiri atas indikator:
a. Mendahulukan kepentingan pemohon/pelanggan
b. Petugas melayani dengan sikap ramah
c. Petugas melayani dengan sikap sopan santun
d. Petugas melayani dengan tidak diskriminatif (membeda-bedakan)
e. Petugas melayani dan menghargai setiap pelanggan
23

Berdasarkan uraian di atas jelas menunjukkan bahwa pelayanan yang

diberikan oleh aparatur negara sesungguhnya tidak terlepas dari perilaku internal

birokrasi itu sendiri. Pada penelitian ini, peneliti memilih teori dan ukuran atau

dimensi kualitas pelayanan SERVQUAL yang dikemukakan oleh Zeithaml.

Menurut peneliti, bahwa kelima dimensi kualitas pelayanan yang dikemukakan

oleh Zeithaml sangat relevan untuk dijadikan dimensi dan indikator dalam

penelitian ini, karena dalam konsepnya ia mengatakan bahwa metode

SERVQUAL (Service Quality) tersebut dapat digunakan dan dapat diterapkan

pada semua tipe pelayanan dari berbagai organisasi, baik organisasi yang

berorientasi laba maupun nirlaba, termasuk pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur.

2.3 Tinjauan tentang Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el)

2.3.1 Pengertian Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el)

Secara sederhana, e-KTP berasal dari kata electronik-KTP, atau Kartu

Tanda Penduduk Elektronik atau sering disingkat e-KTP. Lebih rincinya, menurut

situs resmi e-KTP, KTP elektronik adalah dokumen kependudukan yang memuat

sistem keamanan/pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi

informasi dengan berbasis pada basis data kependudukan nasional. (Peraturan

Presiden Nomor 26 Tahun 2009:1)

Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan KTP berbasis

Nomor Induk Kependudukan, yang berbunyi:


24

1. KTP berbasis NIK memuat kode keamanan dan rekaman elektronik


sebagai alat verifikasi dan validasi data jati diri penduduk.
2. Rekaman elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi
biodata, tanda tangan, pas foto dan sidik jari tangan penduduk yang
bersangkutan
3. Rekaman seluruh sidik jari tangan penduduk disimpan dalam basis
data kependudukan
4. Pengambilan seluruh sidik jari tangan penduduk sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dilakukan pada saat pengajuan permohonan
KTP berbasis NIK, dengan ketentuan : Untuk WNI, dilakukan di
kecamatan; dan untuk orang asing yang memiliki izin tinggal tetap
dilakukan di instansi pelaksana
5. Rekaman sidik jari tangan penduduk yang dimuat dalam KTP berbasis
NIK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berisi sidik jari telunjuk
tangan kiri dan jari telunjuk tangan kanan penduduk yang
bersangkutan;
6. Rekaman seluruh sidik jari tangan penduduk sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan
7. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perekaman sidik jari diatur
oleh peraturan menteri

KTP Elektronik (KTP el) adalah Dokumen Kependudukan yang memuat

sistem keamanan/pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi

informasi dengan berbasis pada database Kependudukan Nasional. Penduduk

hanya diperbolehkan memiliki 1 (satu) KTP yang tercantum nomor induk

kependudukan dan berlaku seumur hidup sesuai dengan Peraturan Presiden

Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2013 tentang Penetapan Kartu Tanda

Penduduk Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional.


Autentikasi kartu Identitas (e-ID ) biasanya menggunakan biometrik yaitu

verifikasi dan Validasi sitem melalui pengenalan karateristik fisik atau tingkah

laku manusia ada banyak pengamatan dengan cara ini, antara lain sidik jari

(fingerprint), retina mata, DNA, bentuk wajah, dan bentuk gigi pada e-KTP

adalah sidik jari penggunaan sidik jari e-KTP lebih canggih dari yang selama ini

telah diterapkan pada SIM (Surat Izin Mengemudi) sidik jari tidak sekedar di
25

cetak dalam bentuk gambar (format jpeg) seperti SIM tetapi juga dapat dikenali

melalui chip yang terpasang di kartu. Data yang disimpan dikartu tersebut telah

dienkripsi dengan algoritma kriftografi tertentu. Proses pengambilan sidik jari dari

penduduk sampai dapat dikenali dari chip kartu adalah sebagai berikut: Sidik jari

yang direkam dari setiap wajib KTP adalah seluruh jari (berjumlah sepuluh) tetapi

yang dimasukan datanya dalam chip hanya dua jari yaitu jempol dan telunjuk

kanan sidik jari dipilih sebagai autentik untuk KTP elektronik (KTP el). Menurut

Rizal (2014:2) adalah:

1. Biaya paling murah lebih ekonomis dari pada biometrik yang lain
2. Bentuk dapat dijaga tidak berubah karena gurat-gurat sidik jari akan
kembali kebentuk semula walaupun kulit tergores
3. Sidik jari tidak mungkin sama walaupun orang kembar

Langkah-langkah yang harus dilakukan seorang warga negara/penduduk

untuk membuat KTP elektronik (KTP el) adalah:

1. Mendaftar di loket pendaftaran pembuatan KTP elektronik (KTP el) dan

menyerahkan surat panggilan dan e-KTP yang masih berlaku. Petugas akan

mencocokan dan memberi nomor antrian baru. Tunggulah di ruang tunggu

setelah nomor antrian dipanggil.


2. Wajib KTP selanjutnya melakukan perekaman pas photo, iris mata, sidik jari

dan penandatanganan elektronik. (Rizal, 2014:2)

2.3.2 Fungsi Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el)

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun

2013 tanggal 27 Desember 2013 tentang perubahan Keempat Atas Peraturan

Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penetapan Kartu Tanda Penduduk

Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional dan surat edaran Menteri
26

Dalam Negeri Nomor 470/327/SJ tanggal 17 Januari 2014 perihal Perubahan

Kebijakan dalam Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan, poin penting dari

Peraturan Presiden tersebut sebagai berikut: Sebutan e-KTP berubah menjadi

KTP-el. Masa Berlaku KTP Elektronik (KTP-el) yang semula 5 (Lima) tahun

diubah menjadi berlaku seumur hidup.

Program e-KTP dilatarbelakangi oleh sistem pembuatan KTP

konvensional/nasional di Indonesia yang memungkinkan seseorang dapat

memiliki lebih dari satu KTP. Hal ini disebabkan belum adanya basis data terpadu

yang menghimpun data penduduk dari seluruh Indonesia. Fakta tersebut memberi

peluang penduduk yang ingin berbuat curang dalam hal-hal tertentu dengan

manggandakan KTP-nya, misalnya dapat digunakan untuk:

a. Menghindari pajak

b. Memudahkan pembuatan paspor yang tidak dapat dibuat di seluruh kota

c. Mengamankan korupsi atau kejahatan/kriminalitas lainnya

d. Menyembunyikan identitas (seperti teroris)

e. Memalsukan dan menggandakan KTP

Oleh karena itu, didorong oleh pelaksanaan pemerintahan elektronik (e-

Government) serta untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada

masyarakat, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia menerapkan suatu

sistem informasi kependudukan yang berbasiskan teknologi yaitu Kartu Tanda

Penduduk elektronik atau e-KTP.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang

Administrasi Kependudukan, dijelaskan bahwa: “Penduduk hanya diperbolehkan


27

memiliki 1 (satu) KTP yang tercantum Nomor Induk Kependudukan (NIK). NIK

merupakan identitas tunggal setiap penduduk dan berlaku seumur hidup”.

Nomor NIK yang ada di e-KTP nantinya akan dijadikan dasar dalam

penerbitan Paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak

(NPWP), Polis Asuransi, Sertifikat atas Hak Tanah dan penerbitan dokumen

identitas lainnya.

2.3.3 Perekaman dan Penerbitan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-


el)

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2016 tentang Perubahan

Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2011 tentang

Pedoman Penerbitan Kartu Tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk

Kependudukan Secara Nasional, Pasal 1 ayat 10 menjelaskan: “Penerbitan Kartu

Tanda Penduduk Elektronik adalah pengeluaran Kartu Tanda Penduduk Elektronik

baru, atau penggantian Kartu Tanda Penduduk Elektronik karena pindah datang,

rusak atau hilang”.

Selanjutnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2016, Pasal

1 ayat 17 menjelaskan: ”Perekaman dan Penerbitan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik adalah pengeluaran Kartu Tanda Penduduk Elektronik karena

perekaman baru atau penggantian Kartu Tanda Penduduk Elektronik karena rusak

atau hilang”.

Tata cara perekaman sidik jari penduduk dijelaskan dalam Peraturan

Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2016, Pasal 10 sebagai berikut:


28

(1) Perekaman sidik jari penduduk dalam penerbitan KTP-el dilakukan di


tempat pelayanan KTP-el secara massal dan tempat pelayanan KTP-el
secara reguler.
(2) Perekaman sidik jari penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh Petugas Operator.
(3) Petugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merekam seluruh sidik
jari tangan penduduk dengan urutan perekaman tangan kanan mulai
ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan jari kelingking dan
tangan kiri mulai ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan jari
kelingking.
(4) Hasil perekaman sidik jari tangan penduduk sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) disimpan ke dalam database kependudukan di tempat
pelayanan.
(5) Hasil perekaman sidik jari telunjuk tangan kiri dan jari telunjuk tangan
kanan penduduk juga direkam ke dalam chip KTP-el.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2016, Pasal 11

menjelaskan: “Dalam hal sidik jari telunjuk tangan kanan dan/atau tangan kiri

tidak dapat direkam ke dalam chip KTP-el, dilakukan perekaman sidik jari yang

lainnya dengan urutan jari tengah, jari manis, atau ibu jari”.

Kemudian Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2016, Pasal

12 menjelaskan:

(1) Penduduk yang cacat fisik sehingga tidak bisa dilakukan perekaman
sidik jari tangan, tidak dilakukan perekaman sidik jari tangan.
(2) Penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan perekaman
pas photo wajah, kedua tangan dan iris penduduk yang bersangkutan
ke dalam database kependudukan.

Perekaman dan penerbitan KTP-el bagi penduduk di luar domisili

dijelaskan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2016, Pasal 13

menyebutkan: “Dalam perekaman dan penerbitan KTP-el penduduk di luar

domisilinya, Instansi Pelaksana dilarang melakukan perubahan data penduduk”.

Selanjutnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2016, Pasal

14 menjelaskan:
29

(1) Penduduk dapat melakukan perekaman dan penerbitan KTP-el di


Instansi Pelaksana di luar domisili; dengan persyaratan:
a. Mengisi formulir permohonan perekaman dan penerbitan KTP-el
ke Instansi Pelaksana di luar domisili; dan
b. Melampirkan fotocopy kartu keluarga penduduk yang
bersangkutan.
(2) Perekaman dan penerbitan KTP-el bagi penduduk di luar domisili
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk mempercepat kepemilikan
KTP-el bagi seluruh penduduk wajib KTP.

Kemudian Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2016, Pasal

15 menjelaskan:

(1) Penerbitan KTP-el bagi penduduk di luar domisili, dilakukan dengan


ketentuan:
a. Telah melakukan perekaman data
b. Kehilangan KTP-el di luar domisili; dan
c. Rusak KTP-el di luar domisili.
(2) Penerbitan KTP-el bagi penduduk di luar domisili sebagaimana
dimaksud dalam pada ayat (1) huruf a dengan persyaratan:
a. Mengisi formulir permohonan penerbitan KTP-el di Instansi
Pelaksana di luar domisili; dan
b. Melampirkan fotocopy kartu keluarga penduduk yang
bersangkutan.
(3) Penerbitan KTP-el bagi penduduk di luar domisili sebagaimana
dimaksud dalam pada ayat (1) huruf b, dengan persyaratan:
a. Mengisi formulir permohonan penerbitan KTP-el kepada Instansi
Pelaksana di luar domisili;
b. Surat keterangan kehilangan dari kepolisian di kabupaten/kota di
tempat hilangnya KTP-el; dan
c. Surat pernyataan kehilangan bermaterai.
(4) Penerbitan KTP-el bagi penduduk di luar domisili sebagaimana
dimaksud dalam pada ayat (1) huruf c dengan persyaratan:
a. Mngisi formulir permohonan penerbitan KTP-el kepada Instansi
Pelaksana di luar domisili; dan
b. Melampirkan KTP-el yang rusak.

Selanjutnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2016, Pasal

16 menjelaskan:

(1) Perekaman dan penerbitan penduduk di luar domisili berlaku secara


mutantis mutandis sebagaimana ketentuan dalam Pasal 5 dan Pasal 6.
30

(2) Seluruh transaksi data hasil perekaman sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) tercatat di Instansi Pelaksana di luar domisili dan Instansi
Pelaksana di daerah asal penduduk serta di server IDMS Pusat

Kemudian Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2016, Pasal

17 menjelaskan:

(1) Penerbitan KTP-el penduduk di luar domisili dilakukan dengan tata


cara:
a. Penduduk melapor kepada petugas penerbitan KTP-el di luar
domisili pada Instansi Pelaksana di luar domisili penduduk dengan
mengisi formulir permohonan sebagai dasar untuk mengajukan
permohonan penerbitan KTP-el di luar domisili
b. Petugas pada Instansi Pelaksana melakukan pencarian data
biometrik penduduk dengan menggunakan sidik jari atau iris mata
penduduk untuk memastikan penduduk sudah pernah melakukan
perekaman sebelumnya
c. Petugas pada Instansi Pelaksana memindai surat keterangan
kehilangan KTP-el dari kepolisian dan surat pernyataan kehilangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) untuk dikirimkan
ke server IDMS Pusat
d. Petugas pada Instansi Pelaksana di daerah asal penduduk
melakukan verifikasi data penduduk yang bersangkutan
e. Petugas pada Instansi Pelaksana melakukan personalisasi data yang
sudah diidentifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf d pada
blangko KTP-el
f. Petugas pada Instansi Pelaksana melakukan penyimpanan data
yang sudah diidentifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf d ke
dalam cip KTP-el
g. Petugas pada Instansi Pelaksana melakukan verifikasi melalui
pemadanan sidik jari penduduk 1:1
h. KTP-el diserahkan kepada penduduk apabila data hasil identifikasi
sidik jari sama dengan sidik jari yang bersangkutan
i. KTP-el tidak diserahkan kepada penduduk apabila data hasil
identifikasi sidik jari tidak sama dengan sidikjari yang
bersangkutan; dan
j. Dalam hal penggantian KTP-el yang rusak, penduduk
menyerahkan KTP-el yang rusak pada saat menerima KTP-el yang
baru.
(2) Seluruh transaksi data hasil penerbitan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tercatat di server IDMS Pusat

Berdasarkan penjelasan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun

2016 tentang Pedoman Penerbitan Kartu Tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk
31

Kependudukan Secara Nasional, maka dapat diketahui tata cara perekaman sidik

jari penduduk yang tidak mengalami cacat fisik dalam perekaman KTP-el dan

perekaman data penduduk yang memiliki cacat fisik dan perekaman serta

perekaman KTP-el bagi penduduk di luar domisili. Selain itu juga dijelaskan

mengenai penerbitan KTP-el bagi penduduk yang domisili sesuai dengan alamat

tinggal dan penerbitan KTP-el bagi penduduk di luar domisili.

BAB III
32

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah suatu cara yang akan dipergunakan untuk

melaksanakan penelitian guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya,

yang mana cara-cara yang akan dipergunakan tersebut bersifat operasional dari

kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang untuk merealisasikan tujuan.

Sugiyono (2014:1) menyatakan: “Metode penelitian pada dasarnya merupakan

cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metodologi

penelitian adalah menemukan, menggambarkan dan menguji kebenaran suatu

pengetahuan, memberikan garis-garis yang cermat dengan menggunakan metode

ilmiah.

3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis

penelitian deskriptif. Pengertian penetian deskriptif menurut Sugiyono (2014:11)

mengemukakan: “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan

mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen)

tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan antara variabel satu dengan

variabel yang lain”.

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

pendekatan kualitatif. Sugiyono (2011:15) menjelaskan bahwa:

Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang


berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada
kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen)
33

dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel


sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik
pengumpulan dengan triangulasi, analisis data bersifat induktif/kualitatif,
dan hasil penelitian kualitatif lebih menekan makna dari pada generalisasi.

Alasan menggunakan metode kualitatif karena permasalahan belum jelas,

dan penuh makna sehingga tidak mungkin data pada situasi sosial tersebut

dijaring dengan metode kuantitatif dengan instrument seperti tes dan kuisioner

kuisioner, sehingga penelitian ini menggunakan metode dekriptif kualitatif.

3.2 Fokus Penelitian

Untuk menghindari terjadinya penyimpangan pada proses penelitian, maka

penelitian akan difokuskan kepada koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur, dengan indikator sebagai berikut:

1. Informasi, komunikasi dan teknologi komunikasi

2. Kesadaran pentingnya koordinasi

3. Kompetensi partisipan, kalender pemerintahan

4. Kesepakatan dan komitmen

5. Penerapan kesepakatan oleh setiap pihak yang berkoordinasi

6. Insentif koordinasi

7. Feedback sebagai masukan balik dalam proses koordinasi. (Ndraha,

(2011:297)

3.3 Lokasi Penelitian


34

Penelitian dilaksanakan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Kabupaten Lampung Timur didasarkan atas adanya hambatan dalam pelayanan

KTP-el baru, justru datang dari wajib KTP yang baru akan melakukan perekaman

KTP-el, karena umumnya mereka masih merupakan pelajar dan kurang

mengetahui jika ada perekaman KTP-el keliling oleh Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, karena tidak adanya sosialisasi dari

kecamatan dan desa. Selain itu pihak kecamatan juga kurang melakukan

koordinasi dengan pihak sekolah dan desa, karena bila dilakukan koordinasi yang

baik, maka saat Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung

Timur melakukan pelayanan perekaman KTP-el dengan mobil keliling dapat

melakukan perekaman KTP-el bagi wajib KTP baru di sekolah-sekolah.

3.4 Jenis dan Sumber Data

Jenis data dibagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data

primer adalah data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti. Sedangkan data

sekunder adalah data yang telah diolah oleh pihak lain tetapi dimanfaatkan oleh

peneliti sebagai data pelengkap dan penguat data primer yang bersumber dari

dokumen, naskah, literatur dan arsip-arsip yang berkaitan dengan tema penelitian.

a. Data Primer.

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari masyarakat dan

diperoleh dengan cara langsung dari sumber pertama di lapangan melalui

penelitian di lapangan yaitu perilaku masyarakat. Dalam penelitian ini data primer

adalah data yang diperoleh secara langsung dari hasil penelitian lapangan

mengenai koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) di


35

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, yang

diperoleh dari hasil wawancara.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang antara lain mencakup dokumen-dokumen

resmi, buku-buku, hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan, buku harian dan

seterusnya. Dalam penelitian ini, data sekunder digunakan sebagai data penunjang

dari data primer. Data dalam penelitian ini yang merupakan data sekunder adalah

buku-buku sebagai landasan teori, dokumen-dokumen, naskah, literatur yang

digunakan sebagai penunjang data pokok mengenai koordinasi pelayanan Kartu

Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan

Sipil Kabupaten Lampung Timur.

3.5 Informan

Informan adalah orang yang dijadikan nara sumber dalam penelitian

dengan tujuan untuk memperoleh informasi dari informan dalam penelitian.

Adapun yang dijadikan informan penelitian adalah pegawai Dinas Kependudukan

dan Catatan Sipil 2 orang, Kasi Pemerintahan kecamatan 2 orang, Operator KTP 2

orang, kepala desa 2 orang. Alasan penulis dalam penelitian ini menentukan

informan yang telah disebutkan di atas adalah karena informan atau nara sumber

yang dipilih dianggap mengetahui dengan jelas tentang permasalahan yang

dibahas dalam penelitian ini, sehingga data yang didapat benar-benar data yang

diketahui oleh informan secara jelas.

3.6 Teknik Pengumpulan Data


36

Pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan beberapa metode

sebagai berikut:

a. Metode Wawancara

Pengertian metode wawancara menurut Sugiyono (2014:157) dijelaskan

bahwa: “Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila

peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan

yang harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari

responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil”.

Wawancara akan digunakan sebagai metode pokok untuk mengumpulkan

data tentang koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) di

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur.

b. Metode Observasi

Pengertian metode observasi menurut Sugiyono (2014:166) pengertian

observasi dijelaskan bahwa: “Observasi merupakan suatu proses yang

komplek, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan

psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah prose-prose pengamatan dan

ingatan”.

Metode observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengadakan

pencatatan dan pengamatan secara langsung mengenai koordinasi pelayanan

Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) di Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur.

c. Metode Dokumentasi
37

Pengertian dokumentasi menurut Sugiyono (2011:240) disebutkan

bahwa: ”Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari

seseorang”.

Teknik dokumen adalah suatu teknik pengumpulan data melalui bahan-

bahan tertulis (dokumen-dokumen) yang berhubungan dengan objek penelitian.

Dokumentasi sendiri merupakan catatan yang sistematis sebagai sumber data,

baik berbentuk tulisan, grafik, foto, hasil rekaman dan lain-lain khususnya

tentang tentang keadaan lokasi penelitian, keadaan pegawai dan lain-lain.

3.7 Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data

menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2011:247-252) sebagai berikut:

a. Data Reduction (Reduksi Data)

Pengertian reduksi data menurut pendapat Sugiyono (2011:247)

dijelaskan:

Mereduksi data berarti merangkum, memilah hal-hal yang pokok dan


memfokuskan keada hal-hal yang penting untuk dicari tema dan polanya.
Dengan demikian data yang telah terkumpul akan memberikan gambaran
yang lebih jelas dan memudahkan peneliti untuk melakukan
penmgumpulan data selanjutnya.

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian

pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data “kasar” yang muncul

dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk

analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak

perlu dan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa, sehingga


38

kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi secara sederhana dan dapat

dijelaskan. Melalui reduksi data, tidak perlu mengartikannya secara kuantitatif.

Data kuantitatif dapat disederhanakan dan ditranformasikan dalam aneka macam

melalui seleksi yang ketat, melalui ringkasan atau uraian yang singkat.

b. Data Display (Penyajian Data)

Penyajian data menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2011:249)

menyebutkan:

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk


uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.
Yang paling sering digunakan untuk penyajian data dalam penelitian
kualitatif adalah dengan teks yang bersiifat naratif.

Penyajian data tersebut digunakan untuk menggabungkan informasi yang

tersusun dalam bentuk yang padu dan mudah diraih, dengan demikian maka akan

dapat dipahami apa yang terjadi dan menentukan apakah dapat menarik

kesimpulan yang benar ataukah lebih jauh menganalisa menurut pemahaman yang

didapat dari penyajian data tersebut.

c. Verifikasi/Kesimpulan

Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2011:252) mengemukakan:

“Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah

bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap

pengumpulan data berikutnya”. Makna-makna yang muncul dari data harus diuji

kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya yakni merupakan validitasnya.

Dari permulaan pengumpulan data seorang penganalisis kualitatif mulai mencari

arti benda-benda, mencatat ketentuan, pola-pola penjelasan alur sebab akibat dari
39

populasi. Kesimpulan akan diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi

dilakukan sebagai tinjauan pada catatan lapangan. Peneliti yang berkompeten

akan menangani kesimpulan-kesimpulan itu dengan longgar, tetap terbuka dan

skeptis, tetapi kesimpulan sudah disediakan.

Dalam penelitian ini, proses kegiatan analisis data yang akan dilakukan

sebagaimana tertuang dalam skema di bawah ini.

Pengumpulan Data
Penyajian Data

Reduksi Data

Verifikasi/
Kesimpulan
(Sumber: Sugiyono, 2011:247)

3.8 Keabsahan Data

Triangulasi adalah cara yang paling umum digunakan dalam penjaminan

validitas data dalam penelitian kualitatif. Triangulasi merupakan teknik

pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data

itu untuk keperluan pengecekan data atau sebagai pembanding terhadap data itu.

Menurut Sugiyono (2011:267) bahwa: “Validitas merupakan derajat ketetapan

antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan

oleh peneliti”. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengetahui

validitas data, yaitu:

1. Teknik triangulasi antar sumber data, teknik pengumpulan data, dan

pengumpulan data yang dalam hal terakhir ini peneliti akan berupaya
40

mendapatkan rekan atau pembantu dalam penggalian data dari warga di

lokasi-lokasi yang mampu membantu setelah diberi penjelasan.

2. Pengecekan kebenaran informasi kepada para informan yang telah ditulis oleh

peneliti dalam laporan penelitian.

3. Akan mendiskusikan dan menyeminarkan dengan tema sejawat di jurusan

tempat penelitian belajar, termasuk koreksi di bawah para pembimbing.

4. Perpanjangan waktu penelitian. Cara ini akan ditempuh selain untuk

memperoleh bukti yang lebih lengkap juga untuk memeriksa konsistensi

tindakan para informan.

Penelitian ini menggunakan tiga macam triangulasi, yang pertama,

triangulasi sumber data yang berupa informasi dari tempat, peristiwa dan

dokumen serta arsip yang memuat catatan berkaitan dengan data yang dimaksud.

Kedua, triangulasi teknik atau metode pengumpulan data yang berasal dari

wawancara, observasi dan dokumen. Ketiga, triangulasi waktu pengumpulan data

merupakan kapan dilaksanakannya triangulasi atau metode pengumpulan data.

Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi, Sugiyono

(2011:273) menjelaskan: “Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan

sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai

waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik

pengumpulan data, dan waktu”. Menurut Sugiyono (2011:274) yaitu:

1. Triangulasi sumber
41

Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara

mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Sebagai contoh

untuk menguji kredibilitas data tentang gaya kepemimpinan seseorang, maka

pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh dilakukan ke bawahan yang

dipimpin, ke atasan yang menguasai dan ke teman kerja yang merupakan

kelompok kerjasama. Data dari ketiga sumber tersebut, tidak bisa dirata-ratakan

seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi dideskripsikan, dikategorikan, mana

pandangan yang sama, yang berbeda dan mana spesifik dari tiga sumber data

tersebut. Data yang telah dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu

kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dengan tiga

sumber data tersebut.

2. Triangulasi teknik

Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara

mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya

data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi. Bila dengan tiga

teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda, maka

peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan

atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin

semua benar, karena sudut pandang yang berbeda-beda.

3. Triangulasi waktu

Waktu sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan

dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat nara sumber masih segar, belum

banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel.
42

Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara

melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam

waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda,

maka dilakukan secara berulang-ulang sampai ditemukan kepastian datanya.


43

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian

4.1.1 Sejarah Singkat Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil


Kabupaten Lampung Timur

Pada tahun 1999 Kabupaten Lampung Timur ditetapkan sebagai salah satu

Kabupaten di Propinsi Lampung yang merupakan pecahan dari Kabupaten

Lampung Tengah. Hal tersebut dikukuhkan melalui Undang-undang Nomor 12

tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Way Kanan, Lampung Timur dan

Kotamadya Metro (Lembaran Negara tahun 1999 Nomor 46, Tambahan Lembaran

Negara Nomor 3825).

Secara geografis Kabupaten Lampung Timur terletak pada kedudukan 4”

370 sampai 5” 370 Lintang Selatan, 105” 150 Bujur Timur sampai 106” 200 Bujur

Timur serta 4-450 Lintang Utara sampai dengan 4-390 Lintang Utara, dengan

batas-batas wilayah administratif sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Lampung Selatan

Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Jawa

Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah dan Kota Metro.

Sejalan dengan pembentukan Kabupaten Lampung Timur sebagai

Kabupaten baru, maka pembangunan fisik khususnya, fasilitas penunjang

pelaksanaan pemerintahan terus digiatkan. Pada awal terbentuknya Kabupaten

Lampung Timur, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung


44

Timur cukup memegang peranan dalam pencatatan data kependudukan di

Kabupaten Lampung Timur, terutama dalam melakukan pencatatan terhadap data

kependudukan sebagai data statistik kependudukan Kabupaten Lampung Timur.

Hal ini terbukti bahwa Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur dapat mengelola dan memanfaatkan sumber daya manusia guna

menunjang data base kependudukan di Kabupaten Lampung Timur yang dapat

digunakan sebagai data pemilih dalam pemilihan umum.

Adapun personel yang pernah menduduki jabatan sebagai Kepala Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, sejak berdirinya

Kabupaten Lampung Timur sampai penelitian ini dilakukan antara lain:

1. M. Salim, SH

2. Hj. Dalyati Djayasinga, SH

3. Drs, Nirwansyah

4. Subandri Bachri, SH., MM

4.1.2 Keadaan Pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil


Kabupaten Lampung Timur

Untuk mengetahui keadaan pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan

Sipil Kabupaten Lampung Timur pada tahun 2019, maka dapat dilihat pada tabel

berikut.

Tabel 1. Keadaan Pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten


Lampung Timur
45

No Golongan Jumlah Prosentase


1 Golongan IV 4 5,26
2 Golongan III 25 32,89
3 Golongan II 4 5,26
4 Golongan I 0 0
5 Honorer/TKS 43 56,58
Jumlah 76 100%
Sumber: Dokumentasi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten
Lampung Timur, 2019

Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa pegawai Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur yang memiliki

golongan IV sejumlah 4 orang atau mencapai 5,26%, yang memiliki golongan III

sejumlah 25 orang atau mencapai 32,89%, yang memiliki golongan II sejumlah 4

orang atau mencapai 5,26%, yang memiliki golongan I sejumlah 0 (tidak ada) atau

mencapai 0% dan tenaga honorer/TKS sejumlah 43 orang atau mencapai 56,58%.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa pegawai Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur paling banyak golongan yang

dimiliki pegawai adalah tenaga honorer/TKS mencapai 56,58%.

4.1.2 Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Kabupaten Lampung Timur

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016 tentang

Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, Pasal 2

menyebutkan:

(1) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil adalah unsur pelaksana


pemerintah daerah di bidang kependudukan dan pencatatan sipil
(2) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dipimpin oleh Kepala Dinas
yang dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Bupati
melalui Sekretaris Daerah
46

Selanjutnya Pasal 3 Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun

2016, menyebutkan bahwa: “Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tugas

melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang administrasi kependudukan

berdasarkan asas otonomi daerah dan tugas pembantuan”.

Kemudian Pasal 4 Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun

2016, menyebutkan bahwa:

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Dinas


Kependudukan dan Pencatatan Sipil menyelenggarakan fungsi:
a. Penyusunan program dan anggaran
b. Pengelolaan keuangan
c. Pengelolaan perlengkapan, urusan tata usaha, rumah tangga dan barang
milik negara
d. Pengelolaan urusan Aparatur Sipil Negara (ASN)
e. Penyusunan perencanaan di bidang pendaftaran penduduk, pencatatan
sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan, kerjasama
administrasi kependudukan, pemanfaatan data dan dokumen
kependudukan serta inovasi pelayanan administrasi kependudukan
f. Perumusan kebijakan teknis di bidang pendaftran penduduk,
pencatatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan,
kerjasama administrasi kependudukan, pemanfaatan data dan dokumen
kependudukan serta inovasi pelayanan administrasi kependudukan
g. Pelaksanaan pelayanan pendaftran penduduk
h. Pelaksanaan pencatatan sipil
i. Pelaksanaan pengelolaan informasi administrasi kependudukan
j. Pelaksanaan kerjasama administrasi kependudukan
k. Pelaksanaan pemanfaatan data dan dokumen kependudukan
l. Pelaksanaan inovasi pelayanan administrasi kependudukan
m. Pembinaan koordinasi, pengendalian bidang administrasi
kependudukan
n. Pelaksanaan kegiatan pentatausahaan Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil
o. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016 tentang

Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas
47

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, Pasal 5

menyebutkan:

(1) Susunan Organisasi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil terdiri


dari :
a. Kepala Dinas
b. Sekretariat terdiri dari:
1. Subbagian Umum dan Kepegawaian
2. Subbagian Perencanaan
3. Subbagian Keuangan
c. Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk terdiri dari:
1. Seksi Identitas Penduduk
2. Seksi Pindah Datang dan Pendataan Penduduk
d. Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil terdiri dari:
1. Seksi Kelahiran dan Kematiaan
2. Seksi Perkawinan, Perceraian, Perubahan Status Anak dan
Pewarganegaraan
e. Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan terdiri
dari:
1. Seksi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan
2. Seksi Pengolahan dan Penyajian Data Kependudukan
3. Seksi Tata Kelola Sumber Daya Manusia, Teknologi, Informasi
dan Komunikasi
f. Bidang Pemanfaatan Data dan Inovasi Pelayanan terdiri dari:
1. Seksi Pemanfaatan Data dan Dokumen Kependudukan
2. Seksi Kerjasama dan Inovasi pelayanan
(2) Bagan Struktur Organisasi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Bupati ini.

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016, Pasal 6

menyebutkan bahwa: “Kepala Dinas mempunyai tugas melaksanakan urusan

pemerintahan daerah dibidang kependudukan dan pencatatan sipil berdasarkan

asas otonomi daerah dan tugas pembantuan”.

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016, Pasal 7

menyebutkan bahwa:

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Kepala


Dinas menyelenggarakan fungsi:
a. Perumusan program kerja dan pembinaan serta pelaksanaan tugas di
bidang pendaftaran penduduk, bidang pelayanan pencatatan sipil,
48

bidang pengelolaan informasi administrasi kependudukan dan bidang


pemanfaatan data dan inovasi pelayanan
b. Pelaksanaan koordinasi program dan pembinaan pegawai
c. Pelaksanaan pembinaan teknis dan administratif pada unit pelaksana
teknis
d. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi tugas bawahan agar sasaran
dapat tercapai sesuai dengan program kerja dan ketentuan yang berlaku
e. Pelaksanaan penilaian prestasi bawahan sebagai bahan pertimbangan
dalam pengembangan karir
f. Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran dan pertimbangan bidang
tugas dan fungsinya kepada bupati
g. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016, Pasal 16

menyebutkan bahwa:

(1) Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk dipimpin oleh Kepala


Bidang yang dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada
Kepala Dinas.
(2) Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) mempunyai tugas melaksanakan penerbitan data penduduk
dan data keluarga, pendataan pindah datang penduduk serta
pengelolaan dan pelayanan administrasi penduduk.

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016, Pasal 17

menyebutkan bahwa untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 16 ayat (2), Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk menyelenggarakan

fungsi:

a. Penyusunan rencana kerja Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk


b. Penyusunan perencanaan pelayanan pendaftaran penduduk
c. Perumusan kebijakan teknis pendaftaran penduduk
d. Pelaksanaan pelayanan pendaftaran penduduk
e. Pelaksanaan pendokumentasian hasil pelayanan pendaftaran penduduk
f. Pelaksanaan pengendalian dan evaluasi pendaftaran penduduk
g. Pelaksanaan koordinasi terhadap bawahan agar terjalin kerjasama yang
baik dan saling mendukung
h. Pelaksanaan penilaian hasil kerja bawahan untuk bahan pengembangan
karir
i. Penyusunan laporkan hasil pelaksanaan kegiatan
j. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.
49

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016, Pasal 22

menyebutkan bahwa:

(1) Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil dipimpin oleh Kepala Bidang yang
dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Kepala
Dinas
(2) Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) mempunyai tugas menyiapkan bahan rumusan kebijakan teknis dan
melaksanakan kebijakan pencataan sipil.

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016, Pasal 23

menyebutkan untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22

ayat (2), Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil menyelenggarakan fungsi:

a. Penyusunan rencana kerja Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil sesuai


dengan rencana kerja dinas
b. Penyiapaan perumusan kebijakan teknis dibidang pelayanan
pencatatan sipil meliputi pencatatan kelahiran, kematian, perkawinan,
perceraian, perubahan status anak, pengangkatan anak, dan pengesahan
anak, pewarganegaraan, monitoring, evaluasi dan dokumentasi
c. Pelaksanaan pembinaan umum dan kordinasi pelaksanaan pencatatan
sipil meliputi pencatatan kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian,
perubahan status anak dan pewarganegaraan
d. Pelaksanan pelayanan pencatatan sipil
e. Pelaksanaan penerbitan dokumen pencatatan sipil
f. Pelaksanaan pendokumentasian hasil pelayanan pencatatan sipil
g. Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan pencatatan sipil
h. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016, Pasal 28

menyebutkan bahwa:

(1) Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan dipimpin


oleh Kepala Bidang yang dalam melaksanakan tugasnya bertanggung
jawab kepada Kepala Dinas.
(2) Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas menyiapkan
bahan rumusan kebijakan teknis dan pelaksanaan kebijakan bidang
pengelolaan informasi adminitrasi kependudukan.
50

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016, Pasal 29

menyebutkan untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28

ayat (2), Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan

menyelenggarakan fungsi:

a. Penyusunan rencana pengelolaan informasi administrasi


kependudukan yang meliputi sistem informasi administrasi
kependudukan, pengolahan dan penyajian data kependudukan serta
tata kelola dan sumber daya manusia, tenologi, informasi dan
komunikasi
b. Perumusan kebijakan teknis pengelolaan informasi administrasi
kependudukan yang meliputi sistem informasi administrasi
kependudukan, pengolahan dan penyajian data kependudukan serta
tata kelola dan sumber daya manusia teknologi informasi dan
komunikasi
c. Pelaksanaan pembinaan dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan
informasi administrasi kependudukan yang meliputi sistem informasi
administrasi kependudukan, pengolahan dan penyajian data
kependudukan serta tata kelola dan sumber daya manusia teknologi
informasi dan komunikasi
d. Pelaksanaan pengelolaan informasi administrasi kependudukan yang
meliputi sistem informasi administrasi kependudukan, pengolahan dan
penyajian data kependudukan serta tata kelola dan sumber daya
manusia teknologi informasi dan komunikasi
e. Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan informasi
administrasi kependudukan
f. Pelaksanaan koordinasi terhadap bawahan agar terjalin kerjasama yang
baik dan saling mendukung
g. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016, Pasal 36

menyebutkan bahwa:

(1) Bidang Pemanfaatan Data dan Inovasi Pelayanan


dipimpin oleh Kepala Bidang yang dalam melaksanakan tugasnya
bertanggung jawab kepada Kepala Dinas.
(2) Bidang Pemanfaatan Data dan Inovasi Pelayanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas melaksanakan
penyiapan perumusan kebijakan teknis dan pelaksanaan kebijakan
dibidang pemanfaatan data dan dokumen kependudukan, kerjasama
administrasi kependudukan dan inovasi pelayanan administrasi
kependudukan.
51

Peraturan Bupati Lampung Timur Nomor 69 Tahun 2016, Pasal 16

menyebutkan untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36

ayat (2), Bidang Pemanfaatan Data dan Inovasi Pelayanan menyelenggarakan

fungsi:

a. Penyusunan rencana kerja Bidang Pemanfaatan Data dan Inovasi


Pelayanan sesuai dengan rencana kerja dinas
b. Perencanaan pemanfaatan data dan dokumen kependudukan,
kerjasama serta inovasi pelayanan administrasi kependudukan
c. Perumusan kebijakan teknis pemanfaatan data dan dokumen
kependudukan, kerjasama serta inovasi pelayanan administrasi
kependudukan
d. Pelaksanaan pembinaan dan koordinasi pelaksanaan pemanfaatan data
dan dokumen kependudukan, kerjasama, serta inovasi pelayanan
administrasi kependudukan
e. Pelaksanaan pemanfaatan data dan dokumen kependududukan
f. Pelaksanaan kerjasama dan inovasi pelayanan administrasi
kependudukan
g. Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan pemanfaatan data dan
dokumen kependudukan, kerjasama serta inovasi pelayanan
administrasi kependudukan
h. Pelaksanaan penilaian hasil kerja bawahan untuk bahan pengembangan
karir
i. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

Dalam penelitian ini, uraian tugas pokok dan fungsi yang penulis uraikan

adalah yang berhubungan dengan tugas pokok dan fungsinya dalam melakukan

koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) di Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur.

4.2 Identitas Informan

Informan adalah nara sumber yang dianggap mengetahui tentang

permasalahan yang dibahas dalam penelitian. Untuk lebih jelasnya mengenai

identitas informan penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini.


52

Tabel 2. Identitas Informan

No Nama Umur Keterangan


1 Asep Sanderlix 41 Pegawai Disdudcapil
2 Sumardiono 43 Pegawai Disdudcapil
Kasi Pemerintahan Kecamatan
3 Imawan Sudrajad, SE 44
Sukadana
Kasi Pemerintahan Kecamatan
4 Kusnadi 40 Raman Utara
Operator KTP-el Kecamatan
5 Arif Efendi 37 Raman Utara
Operator KTP- el Kecamatan
6 Abdul Aziz 35 Sukadana
7 Durahman, S.Pd.I 49 Kepala Desa Rantau Fajar
8 Amir Hamzah 53 Kepala Desa Negara Nabung
Sumber: Hasil Penelitian

4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.3.1 Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan beberapa orang

informan, maka untuk mengetahui koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur, dikemukakan petikan wawancara dalam bentuk narasi sebagai

berikut:

1. Informasi, komunikasi dan teknologi komunikasi

Petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Asep Sanderlix,

sebagai Kepala Seksi Sistem Informasi Kependudukan Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

”Biasanya paling cepat lima hari sampai satu minggu jarak waktu dari
menerima informasi sampai dengan waktu pelaksanaan koordinasi
pelayanan KTP-el. Kalau untuk koordinasi informasi itu biasanya dari
Direktorat Jendral Kependudukan Jakarta itu yang biasanya memberikan
53

informasi koordinasi dengan kita untuk koordinasi dengan kecamatan-


kecamatan atau instansi yang lain”. (Wawancara tanggal 15 Januari 2019)

Petikan hasil wawancara yang hampir serupa juga dikemukakan oleh

Sumardiono, sebagai staf Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Biasanya antara tiga hari sampai enam hari jarak menerima informasi
sampai dengan waktu pelaksanaan koordinasi. Biasanya atasan dan
informasi yang terima dalam bentuk surat langsung untuk melakukan
koordinasi”. (Wawancara tanggal 15 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Imawan Sudrajad, SE, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Sukadana

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Jarak waktu dari menerima informasi sampai dengan waktu pelaksanaan


koordinasi pelayanan KTP-el biasanya antara tiga hari sampai lima hari.
Pegawai dari dinas bentuk informasi yang diterima ada yang melalui
telepon ada juga dalam bentuk surat”. (Wawancara tanggal 17 Januari
2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Kusnadi, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Tidak tentu pernah dua hari, tapi umumnya antara lima hari sampai tujuh
hari. Dari Dinas Pencatatan Sipil, informasi yang diterima untuk
melakukan koordinasi pelayanan KTP-el dalam bentuk surat bisa juga
melalui WA sebagai pemanfaatan teknologi informasi”. (Wawancara
tanggal 22 Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat


54

diketahui bahwa lama jarak waktu dari menerima informasi sampai dengan waktu

pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el yang diterima informan rata-rata antara

tiga hari sampai enam hari. Informasi ada yang diterima dari Direktorat Jendral

Kependudukan dan Catatan Sipil Jakara dan ada dari Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur. Informasi mengenai adanya ada

yang dalam bentuk surat dan ada dalam bentuk telepon atau Whats App sebagaio

bentuk penggunaan informasi teknologi untuk melakukan koordinasi pelayanan

KTP-el.

Sedangkan petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Arif

Efendi, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung

Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Kalau yang sering jarak waktu dari menerima informasi sampai dengan
waktu pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el sekitar tiga sampai loima
hari. Pihak Catatan Sipil dan kecamatan yang memberikan informasi
adanya koordinasi dan dalam bentuk informasi yang diterima untuk
melakukan koordinasi biasanya surat, pernah juga ada lewat WA”.
(Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Abdul

Aziz, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur,

mengatakan sebagai berikut:

“Kalau lama jarak waktu dari menerima informasi sampai dengan waktu
pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el tidak tentu paling cepat itu tiga
hari. Ada dari Capil ada juga yang dari kasi pemerintahan kadang juga pak
Camat”. (Wawancara tanggal 17 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Durahman, S.Pd.I, sebagai Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:


55

“Gak tentu pernah juga menerima informasi satu dua hari sebelum ada
koordinasi, tapi yang sering biasanya antara tiga sampai lima hari.
Biasanya dari kecamatan yang memberikan informasi mengenai adanya
koordinasi pelayanan KTP-el kalau dulu surat dan sekarang lebih sering
lewat WA”. (Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Amir

Hamzah, sebagai Kepala Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Ya, kalau seringnya tiga hari lama jarak waktu dari menerima informasi
sampai dengan waktu pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP. Yang sering
Kasi Pemerintahan Kecamatan yang memberikan informasi ada dalam
bentuk surat kalau sekarang lebih sering telepon atau WA”. (Wawancara
tanggal 24 Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara dan Operator KTP-el Kecamatan

Sukadana serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala

Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka

dapat diketahui bahwa lama jarak waktu dari menerima informasi sampai dengan

waktu pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el yang sering diterima informan

antara tiga hari sampai lima hari dari waktu pelaksanaan koordinasi pelayanan

KTP-el. Informan ada yang memberikan informasi mengenai adanya koordinasi

pelayanan KTP-el ada yang dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Kabupaten Lampung Tengah dan ada yang dari Kepala Seksi Pemerintahan

Kecamatan dimana informan berada, informasi yang diterima informan ada yang

dalam bentuk surat, telepon dan juga Whats App (WA) untuk melakukan

koordinasi pelayanan KTP-el.


56

2. Kesadaran pentingnya koordinasi

Petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Asep Sanderlix,

sebagai Kepala Seksi Sistem Informasi Kependudukan Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

”Untuk pengetahuan rata-rata semua yang kita koordinasi sudah kita


pahami sebelumnya jadi untuk koordinasi kita hanya melaksanakan apa
yang menjadi tugas yang sudah kita pahami sebelumnya. Kalau untuk
tingkat ketaatan peserta koordinasi pelayanan KTP-el terhadap hasil yang
dikoordinasikan sudah cukup baik”. (Wawancara tanggal 15 Januari 2019)

Petikan hasil wawancara yang hampir serupa juga dikemukakan oleh

Sumardiono, sebagai staf Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Kalau dari Catatan Sipil kita langsung turun untuk menyelesaikan


masalah pelayanan perekaman. Alhamdulillah bagus tingkat ketaatan
peserta koordinasi pelayanan KTP-el terhadap hasil yang
dikoordinasikan”. (Wawancara tanggal 15 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Imawan Sudrajad, SE, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Sukadana

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Pengetahuan pelaksana koordinasi pelayanan KTP-el mengenai masalah


yang dikoordinasikan cukup baik. Untuk ketaatan peserta koordinasi
pelayanan KTP-el terhadap hasil yang dikoordinasikan cukup baik”.
(Wawancara tanggal 17 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Kusnadi, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Pengetahuan pelaksana koordinasi pelayanan KTP-el mengenai masalah


yang dikoordinasikan cukup baik karena permasalahan bisa timbul dari
NIK juga bisa, usia juga bisa dan jarak tempuh juga bisa. Tingkat ketaatan
57

peserta koordinasi pelayanan KTP-el terhadap hasil yang dikoordinasikan


cukup baik”. (Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa pengetahuan pelaksana koordinasi pelayanan KTP-el mengenai

masalah yang dikoordinasikan cukup baik karena pelaksana koordinasi sudah

menguasai bidang yang dikoordinasikan. Tingkat ketaatan peserta koordinasi

pelayanan KTP-el terhadap hasil yang dikoordinasikan cukup baik.

Sedangkan petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Arif

Efendi, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung

Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Pengetahuan pelaksana koordinasi pelayanan KTP-el mengenai masalah


yang dikoordinasikan baik Untuk tingkat ketaatan peserta koordinasi
terhadap hasil yang dikoordinasikan juga cukup baik”. (Wawancara
tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Abdul

Aziz, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur,

mengatakan sebagai berikut:

“Menurut saya pengetahuan pelaksana koordinasi mengenai masalah yang


dikoordinasikan cukup baik. Rata-rata tingkat ketaatan peserta koordinasi
pelayanan KTP-el terhadap hasil yang dikoordinasikan cukup baik dan
hasil koordinasi dilaksanakan”. (Wawancara tanggal 17 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Durahman, S.Pd.I, sebagai Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:


58

“Menurut saya pengetahuan pelaksana koordinasi mengenai masalah yang


dikoordinasikan cukup baik karena memang yang melakukan koordinasi
mereka yang menguasai bidang yang dikoordinasikan. Menurut saya
tingkat ketaatan peserta koordinasi terhadap hasil yang dikoordinasikan
cukup baik”. (Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Amir

Hamzah, sebagai Kepala Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Pengetahuan pelaksana koordinasi mengenai masalah yang


dikoordinasikan menurut saya baik karena cukup menguasai masalah yang
dikoordinasikan. Kalau masalah tingkat ketaatan peserta koordinasi
terhadap hasil yang dikoordinasikan itu saya yang kurang tahu pasti”.
(Wawancara tanggal 24 Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara dan Operator KTP-el Kecamatan

Sukadana serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala

Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka

dapat diketahui bahwa pengetahuan pelaksana koordinasi pelayanan KTP-el

mengenai masalah yang dikoordinasikan menurut informan cukup baik, karena

pelaksana koordinasi memang menguasai masalah pelayanan KTP-el yang

dikoordinasikan dan yang menyampaikan memang yang menguasai bidang yang

dikoordinasikan. Masalah tingkat ketaatan peserta koordinasi pelayanan KTP-el

terhadap hasil yang dikoordinasikan, ada informan yang mengatakan baik dan ada

yang kurang mengetahui secara pasti, karena setelah selesai koordinasi pelayanan

KTP-el kurang mengetahui apakah peserta langsung melaksanakan hasil

koordinasi atau tidak.


59

3. Kompetensi partisipan, kalender pemerintahan

Petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Asep Sanderlix,

sebagai Kepala Seksi Sistem Informasi Kependudukan Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

”Dalam pelaksanaan koordinasi kalau tidak ada pejabat yang berwenang


yang pasti ada orang yang mewakili yang terlibat dalam koordinasi. Tentu
saja untuk ahli yang membidangi tentu ada yang ahli menguasai
bidangnya”. (Wawancara tanggal 15 Januari 2019)

Petikan hasil wawancara yang hampir serupa juga dikemukakan oleh

Sumardiono, sebagai staf Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Mesti ada pejabat yang berwenang yang selalu terlibat dalam koordinasi.
Dalam pelaksanaan koordinasi ada ahli pada bidangnya yang dilibatkan”.
(Wawancara tanggal 15 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Imawan Sudrajad, SE, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Sukadana

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Ya, selalu ada pejabat yang berwenang yang terlibat dalam koordinasi.
Dalam pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el ada ahli pada bidangnya
yang dilibatkan”. (Wawancara tanggal 17 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Kusnadi, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Dalam pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el selalu ada pejabat yang


berwenang yang selalu terlibat dalam koordinasi. Betul sekali dalam
pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el ada ahli pada bidangnya ada
dua operator yang dilibatkan”. (Wawancara tanggal 22 Januari 2019)
60

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa dalam pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el selalu ada

pejabat yang berwenang yang terlibat dalam koordinasi. Dalam pelaksanaan

koordinasi pelayanan KTP-el ada ahli pada bidangnya yang dilibatkan seperti

operator pelayanan perekaman KTP-el.

Sedangkan petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Arif

Efendi, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung

Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Ya, selalu ada pejabat yang berwenang yang selalu terlibat dalam
koordinasi. Dalam pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el semua ahli
pada bidangnya yang dilibatkan”. (Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Abdul

Aziz, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur,

mengatakan sebagai berikut:

“Menurut saya dalam pelaksanaan koordinasi kadang-kadang memang ada


pejabat yang berwenang yang selalu terlibat dalam koordinasi, tapi sering
juga diwakili orang lain, seperti saya sering mewakili Camat untuk
koordinasi dengan kepala desa. Dalam pelaksanaan koordinasi tidak harus
ada ahli pada bidangnya yang dilibatkan yang penting ada orang yang
memang mengusai dengan baik apa yang dikoordinasikan”. (Wawancara
tanggal 17 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Durahman, S.Pd.I, sebagai Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:


61

“Tidak tentu, kadang ada kadang juga tidak karena diwakili. Sepertinya
dalam pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el ada ahli pada bidangnya
yang dilibatkan”. (Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Amir

Hamzah, sebagai Kepala Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Tidak tentu kadang-kadang ada pejabat yang berwenang kadang juga


tidak ada karena diwakilkan. Tergantung apa yang dikoordinasikan, kalau
masalah teknis biasanya ada ahli yang dilibatkan tapi kalau bukan teknis
biasanya tidak ada”. (Wawancara tanggal 24 Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara dan Operator KTP-el Kecamatan

Sukadana serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala

Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka

dapat diketahui bahwa menurut informan dalam pelaksanaan koordinasi tidak

selalu ada pejabat yang berwenang yang terlibat dalam koordinasi, karena pernah

beberapa kali dalam koordinasi diwakili oleh orang lain karena yang

berkepntingan tidak dapat hadir. Dalam pelaksanaan koordinasi apabila yang

dibahas masalah teknis, memang ada ahli yang dilibatkan, namun apabila

koordinasi yang dibahas masalah penyelenggaraan perekaman KTP tidak ada ahli

pada bidangnya yang dilibatkan.

4. Kesepakatan dan komitmen

Petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Asep Sanderlix,

sebagai Kepala Seksi Sistem Informasi Kependudukan Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:


62

“Ya, biasanya kesepakatan itu dalam membentuk out put apa yang akan
yang kita tuju atau kita lakukan. Jelas kita buat dan diagendakan”.
(Wawancara tanggal 15 Januari 2019)

Petikan hasil wawancara yang hampir serupa juga dikemukakan oleh

Sumardiono, sebagai staf Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Ya, ada, setelah melakukan koordinasi pelayanan KTP-el ada bentuk


kesepakatan yang dihasilkan. Ya, kesepakatan yang dibuat diagendakan
sebagai bentuk komitmen kesepakatan bersama”. (Wawancara tanggal 15
Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Imawan Sudrajad, SE, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Sukadana

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Kadang setelah melakukan koordinasi ada bentuk kesepakatan yang


dihasilkan ada juga tidak. Kalau ada kesepakatan memang diagendakan
kalau tidak ada ya tidak”. (Wawancara tanggal 17 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Kusnadi, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Betul ada bahwa pihak kecamatan memberikan surat bahwa masyarakat


telah melakukan perekaman. Betul sekali kita buat kesepakatan bersama
sebagai bentuk komitmen dari kecamatan”. (Wawancara tanggal 22
Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa setelah melakukan koordinasi pelayanan KTP-el ada bentuk


63

kesepakatan yang dihasilkan seperti jika telah melakukan perekaman pihak

kecamatan memberikan laporan telah melakukan perekaman KTP-el. Pihak

kecamatan membuat kesepakatan sebagai bentuk komitmen kesepakatan bersama.

Sedangkan petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Arif

Efendi, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung

Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Ya, bentuk kesepakatan yang dihasilkan adalah setelah dilakukan


pencetakan akan diberikan rekomendasi untuk dibawa ke Catatan Sipil
Lampung Timur. Ya, kesepakatan dibuat diagendakan sebagai bentuk
komitmen kesepakatan bersama”. (Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Abdul

Aziz, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur,

mengatakan sebagai berikut:

“Setelah melakukan koordinasi belum tentu ada bentuk kesepakatan yang


dihasilkan karena tergantung koordinasinya apa. Memang ada kesepakatan
yang diagendakan dan ada juga yang tidak diagendakan”. (Wawancara
tanggal 17 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Durahman, S.Pd.I, sebagai Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Memang setelah melakukan koordinasi ada bentuk kesepakatan yang


dihasilkan seperti kesanggupan menjalankan program kerja. Tidak ada
kesepakatan yang diagendakan sebagai bentuk komitmen kesepakatan
karena kesepakatan yang terjadi hanyalah kesanggupan menjalankan
program kerja”. (Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Amir

Hamzah, sebagai Kepala Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:


64

“Biasanya setelah melakukan koordinasi memang ada bentuk kesepakatan


yang dihasilkan berupa kesanggupan-kesanggupan dari peserta koordinasi.
Kesepakatan yang dibuat memang tidak diagendakan sebagai bentuk
komitmen kesepakatan karena itu hanya suatu kesanggupan dari peserta
untuk menjalankan apa yang sudah disepakati bersama”. (Wawancara
tanggal 24 Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara dan Operator KTP-el Kecamatan

Sukadana serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala

Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka

dapat diketahui bahwa dalam pelakasanaan koordinasi, setelah melakukan

koordinasi ada bentuk kesepakatan yang dihasilkan walaupun dalam bentuk

kesanggupan dari peserta koordinasi mengenai kesanggupan untuk menjalankan

program kerja yang dikoordinasikan. Tidak semua kesepakatan yang dibuat dalam

koordinasi diagendakan sebagai bentuk komitmen kesepakatan, karena

kesepakatan yang terjadi adalah sebuah kesanggupan melaksanakan apa yang

telah disepakati bersama dalam koordinasi.

5. Penerapan kesepakatan oleh setiap pihak yang berkoordinasi

Petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Asep Sanderlix,

sebagai Kepala Seksi Sistem Informasi Kependudukan Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Biasanya setelah ada kesepakatan tidak ada yang melanggar kesepakatan


yang sudah ditetapkan. Ya, setelah ada kesepakatan dilakukan penetapan
kesepakatan yang telah disepakati untuk dijalankan secara bersama-sama”.
(Wawancara tanggal 15 Januari 2019)
Petikan hasil wawancara yang hampir serupa juga dikemukakan oleh

Sumardiono, sebagai staf Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:


65

“Umumnya tidak ada yang melanggar kesepakatan yang sudah ditetapkan


dalam koordinasi pelayanan KTP-el. Ya, setelah ada kesepakatan
dilakukan penetapan atas kesepakatan yang telah disepakati bersama”.
(Wawancara tanggal 15 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Imawan Sudrajad, SE, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Sukadana

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Kurang tahu karena setelah koordinasi semuanya kembali ke tempatnya


masing-masing. Kalau memang ada kesepakatan memang dilakukan
penetapan atas kesepakatan yang telah disepakati bersama”. (Wawancara
tanggal 17 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Kusnadi, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Kurang tahu ada tidaknya yang melanggar kesepakatan yang sudah


ditetapkan dalam koordinasi pelayanan KTP-el. Biasanya setelah ada
kesepakatan dilakukan penetapan atas kesepakatan yang telah disepakati
bersama walaupun dalam bentuk lisan”. (Wawancara tanggal 22 Januari
2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa tidak ada yang melanggar kesepakatan yang sudah ditetapkan

dalam koordinasi pelayanan KTP-el. Setelah ada kesepakatan dilakukan

penetapan atas kesepakatan yang telah disepakati bersama meskipun dalam bentuk

lisan tanda setuju atas kesepakatan yang telah disepakati bersama.


66

Sedangkan petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Arif

Efendi, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung

Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Kurang tahu karena setelah koordinasi pelayanan KTP-el kita kembali ke


kecamatan-masing-masing dan kurang tahu ada yang melanggar
kesepakatan apa tidak. Ya, setelah ada kesepakatan maka kesepakatan itu
disepakati bersama”. (Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Abdul

Aziz, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur,

mengatakan sebagai berikut:

“Saya rasa kalau melanggar itu ya tidak hanya kurang patuh aja dengan
kesepakatan yang sudah dibuat. Setahu saya tidak dilakukan penetapan
atas apa yang telah disepakati”. (Wawancara tanggal 17 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Durahman, S.Pd.I, sebagai Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Namanya kesepakatan yang tidak ada konsekwensi sanksinya ya ada


yang melanggar kesepakatan itu. Sepertinya setelah ada kesepakatan tidak
dilakukan penetapan kesepakatan yang telah disepakati bersama”.
(Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Amir

Hamzah, sebagai Kepala Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Saya kurang tahu apakah ada yang melanggar kesepakatan apa tidak.
Setahu saya setelah ada kesepakatan tidak dilakukan penetapan atas
kesepakatan yang telah disepakati bersama secara tertulis”. (Wawancara
tanggal 24 Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara dan Operator KTP-el Kecamatan


67

Sukadana serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala

Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka

dapat diketahui bahwa karena kesepakatan yang dibuat hanya berupa kesanggupan

dari peserta koordinasi, maka ada peserta koordinasi yang melanggar kesepakatan

tersebut. Setelah ada kesepakatan dari peserta koordinasi tidak dilakukan

penetapan atas kesepakatan yang telah disepakati bersama karena kesepakan yang

ada hanya berupa kesanggupan menjalankan program kerja.

6. Insentif koordinasi

Petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Asep Sanderlix,

sebagai Kepala Seksi Sistem Informasi Kependudukan Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Kalau sanksi secara administratif tidak ada. Kalau ada sanksi yang
memberikan sanksi biasanya pimpinan koordinasi”. (Wawancara tanggal
15 Januari 2019)

Petikan hasil wawancara yang hampir serupa juga dikemukakan oleh

Sumardiono, sebagai staf Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Tidak ada sanksi bagi yang melanggar kesepakatan dalam koordinasi.


Kurang tahu karena memang tidak ada sanksi yang diberikan”.
(Wawancara tanggal 15 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Imawan Sudrajad, SE, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Sukadana

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Tidak ada sanksi bagi yang melanggar kesepakatan dalam koordinasi.


Saya kurang tahu siapa yang memberikan sanksi”. (Wawancara tanggal 17
Januari 2019)
68

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Kusnadi, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Tidak ada sanksi bagi yang melanggar kesepakatan. Mungkin jika ada
sanksi yang memberikan sanksi camat masing-masing”. (Wawancara
tanggal 22 Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa tidak ada sanksi bagi yang melanggar kesepakatan dalam

koordinasi pelayanan KTP-el. Jika ada sanksi yang memberikan sanksi biasanya

pimpinan masing-masing yang melanggar sanksi.

Sedangkan petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Arif

Efendi, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung

Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Tidak ada sanksi bagi yang melanggar kesepakatan. Kurang tahu siapa
yang memberikan sanksi karena memang belum ada yang kena sanksi”.
(Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Abdul

Aziz, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur,

mengatakan sebagai berikut:

“Sepengetahuan saya belum pernah ada sanksi bagi yang melanggar


kesepakatan. Saya tidak tahu siapa yang memberikan sanksi karena
memang belum pernah ada”. (Wawancara tanggal 17 Januari 2019)
69

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Durahman, S.Pd.I, sebagai Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Saya belum pernah mendengar ada sanksi bagi yang melanggar


kesepakatan. Kurang tahu saya soal itu”. (Wawancara tanggal 22 Januari
2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Amir

Hamzah, sebagai Kepala Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Mungkin ada mungkin juga tidak ada sanksi bagi yang melanggar
kesepakatan karena selama saya mengikuti koordinasi juga belum pernah
ada yang kena sanksi. Kurang tahu kalau ada siapa yang memberikan
sanksinya”. (Wawancara tanggal 24 Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara dan Operator KTP-el Kecamatan

Sukadana serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala

Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka

dapat diketahui bahwa menurut informan selama ini belum pernah ada sanksi bagi

yang melanggar kesepakatan dan menurut informan memang belum pernah ada

sanksi yang dikenakan. Informan juga kurang mengetahui jika ada sanksi siapa

yang memberikan sanksi kepada yang melanggar kesepakatan.

7. Feedback sebagai masukan balik dalam proses koordinasi

Petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Asep Sanderlix,

sebagai Kepala Seksi Sistem Informasi Kependudukan Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:


70

“Ya, setelah melakukan koordinasi memang ada usulan dari peserta


koordinasi. Ya, usulan atau masukan dalam koordinasi untuk kedepannya
kita menginginkan masukan itu untuk menghasilkan perencanaan yang
lebih baik kedepannya”. (Wawancara tanggal 15 Januari 2019)

Petikan hasil wawancara yang hampir serupa juga dikemukakan oleh

Sumardiono, sebagai staf Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Biasanya memang ada usulan dari peserta koordinasi setelah melakukan


koordinasi pelayanan KTP-el. Ya, masukan dalam koordinasi pelayanan
KTP-el digunakan sebagai masukan dalam proses koordinasi selanjutnya”.
(Wawancara tanggal 15 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Imawan Sudrajad, SE, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Sukadana

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Tidak tentu kadang ada peserta koordinasi yang usul kadang tidak.
Kurang tahu apakah usulan dalam koordinasi pelayanan KTP-el digunakan
sebagai masukan dalam proses koordinasi selanjutnya apa tidak”.
(Wawancara tanggal 17 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Kusnadi, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Ya, ada usulan dari peserta koordinasi seperti masyarakat kurang patuh
walaupun sudah diberikan informasi oleh perangkat desa, dikarenakan usia
lanjut, jarak tempuh dan dari anak sekolah itu juga yang menjadi kendala
adalah waktu. Saya rasa usulan atau masukan dalam koordinasi pelayanan
KTP-el digunakan sebagai masukan dalam proses koordinasi selanjutnya”.
(Wawancara tanggal 22 Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi
71

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa setelah melakukan koordinasi pelayanan KTP-el ada usulan dari

peserta koordinasi, mengenai kendala perekaman KTP-el seperti kendala Nomor

Induk Kependudukan (NIK) yang tidak muncul, usia wajib KTP dan jarang

tempuh menjadi kendala. Usulan atau masukan dalam koordinasi pelayanan KTP-

el digunakan sebagai masukan dalam proses koordinasi KTP-el selanjutnya.

Sedangkan petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Arif

Efendi, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung

Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Kadang-kadang memang ada usulan dari peserta koordinasi. Sebenarnya


masukan yang diberikan, karena kami yang melayani KTP kalau ke Capil
agar dapat dilayani sehingga kalau pulang membawa hasil”. (Wawancara
tanggal 22 Januari 2019)

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Abdul

Aziz, sebagai Operator KTP-el Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur,

mengatakan sebagai berikut:

“Biasanya memang setelah koordinasi ada usulan dari peserta koordinasi.


Usulan atau masukan dalam koordinasi bisa saja digunakan sebagai
masukan dalam proses koordinasi selanjutnya bisa juga tidak”.
(Wawancara tanggal 17 Januari 2019)

Selanjutnya petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh

Durahman, S.Pd.I, sebagai Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Rata-rata setelah melakukan koordinasi ada usulan dari peserta


koordinasi. Bisa digunakan bisa juga tidak tergantung dari koordinasi yang
akan diadakan”. (Wawancara tanggal 22 Januari 2019)
72

Kemudian petikan hasil wawancara sebagaimana dikemukakan oleh Amir

Hamzah, sebagai Kepala Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten

Lampung Timur, mengatakan sebagai berikut:

“Ya, setelah melakukan koordinasi memang ada usulan dari peserta


koordinasi. Soal usulan atau masukan dalam koordinasi digunakan sebagai
masukan dalam proses koordinasi selanjutnya saya kurang tahu karena
hanya peserta koordinasi”. (Wawancara tanggal 24 Januari 2019)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator KTP-el Kecamatan Raman Utara dan Operator KTP-el Kecamatan

Sukadana serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala

Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka

dapat diketahui bahwa setelah melakukan koordinasi jika ada usulan dari peserta

koordinasi, karena dalam koordinasi yang dilaksanakan dibuka ruang bagi peserta

yang mau memberikan usul dan saran. Jika koordinasi yang dilakukan masih

membahas masalah yang sama maka usulan atau masukan dalam koordinasi yang

telah dilaksanakan akan digunakan sebagai masukan dalam proses koordinasi

selanjutnya.

4.3.2 Keabsahan Data

Untuk mendapatkan keabsahan data yang telah dilakukan dalam

penelitian, maka dilakukan uji keabsahan data dengan melakukan cross cek

apakah jawaban yang diberikan oleh informan memiliki keajegan atau tidak

dengan menggunakan Keabsahan Konstruk (Construct validity) dengan

menggunakan Trianggulasi metode sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai

keabsahan.. Adapun hasil cross cek yang diperoleh sebagai berikut:


73

Asep Sanderlix, sebagai Kepala Seksi Sistem Informasi Kependudukan

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur,

mengatakan bahwa data hasil wawancara yang dibuat peneliti sudah sesuai

dengan apa yang telah diuraikan oleh informan saat dilakukan wawancara.

Sumardiono, sebagai staf Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan bahwa data hasil wawancara yang dibuat

peneliti sudah sesuai dengan apa yang telah diuraikan oleh informan saat

dilakukan wawancara.

Imawan Sudrajad, SE, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan

Sukadana Kabupaten Lampung Timur, mengatakan bahwa data hasil wawancara

yang dibuat peneliti sudah sesuai dengan apa yang telah diuraikan oleh informan

saat dilakukan wawancara.

Kusnadi, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan bahwa data hasil wawancara yang dibuat

peneliti sudah sesuai dengan apa yang telah diuraikan oleh informan saat

dilakukan wawancara.

Aris Efendi, sebagai Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el)

Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung Timur, mengatakan bahwa data

hasil wawancara yang dibuat peneliti sudah sesuai dengan apa yang telah

diuraikan oleh informan saat dilakukan wawancara.

Abdul Aziz, sebagai Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el)

Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, mengatakan bahwa data hasil


74

wawancara yang dibuat peneliti sudah sesuai dengan apa yang telah diuraikan

oleh informan saat dilakukan wawancara.

Durahman, S.Pd.I, sebagai Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman

Utara Kabupaten Lampung Timur, mengatakan bahwa data hasil wawancara yang

dibuat peneliti sudah sesuai dengan apa yang telah diuraikan oleh informan saat

dilakukan wawancara.

Amir Hamzah, sebagai Kepala Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana

Kabupaten Lampung Timur, mengatakan bahwa data hasil wawancara yang dibuat

peneliti sudah sesuai dengan apa yang telah diuraikan oleh informan saat

dilakukan wawancara.

Berdasarkan hasil cross cek yang dilakukan dengan informan dengan

melakukan wawancara kembali, maka dapat diketahui bahwa jawaban yang

diberikan oleh informan penelitian dapat memberikan keajegan karena jawaban

yang diberikan informan sama dengan jawaban sebelumnya, sehingga dapat

dikatakan bahwa data yang diberikan oleh informan memiliki keabsahan data.

4.3.3 Pembahasan

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan beberapa

informan mengenai koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik

(KTP-el) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung

Timur, maka dapat dikemukakan pembahasan hasil penelitian sebagai berikut:

1. Informasi, komunikasi dan teknologi komunikasi

Indikator koordinasi menurut Ndraha (2011:297) salah satunya adalah:

“Informasi, komunikasi dan teknologi komunikasi”.


75

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa lama jarak waktu dari menerima informasi sampai dengan waktu

pelaksanaan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el)

yang diterima informan rata-rata antara tiga hari sampai enam hari. Informasi ada

yang diterima dari Direktorat Jendral Kependudukan dan Catatan Sipil Jakara dan

ada dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur.

Informasi mengenai adanya ada yang dalam bentuk surat dan ada dalam bentuk

telepon atau Whats App sebagaio bentuk penggunaan informasi teknologi untuk

melakukan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Raman Utara

dan Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Sukadana

serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala Desa Negara

Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat diketahui

bahwa lama jarak waktu dari menerima informasi sampai dengan waktu

pelaksanaan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el)

yang sering diterima informan antara tiga hari sampai lima hari dari waktu

pelaksanaan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el).

Informan ada yang memberikan informasi mengenai adanya koordinasi pelayanan

Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) ada yang dari Dinas Kependudukan
76

dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Tengah dan ada yang dari Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan dimana informan berada, informasi yang diterima

informan ada yang dalam bentuk surat, telepon dan juga Whats App (WA) untuk

melakukan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el).

Berdasarkan hasil penelitian dan observasi yang dilakukan di Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, Kecamatan

Raman Utara dan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa lama jarak waktu dari menerima informasi sampai dengan waktu

pelaksanaan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el)

yang diterima informan rata-rata antara tiga hari sampai enam hari. Informasi ada

yang diterima dari Direktorat Jendral Kependudukan dan Catatan Sipil Jakara dan

ada dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

sedangkan Kepala Desa menerima informasi mengenai koordinasi pelayanan

Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) dari Kepala Seksi Pemerintahan

Kecamatan dimana informan berada. Informasi mengenai adanya koordinasi

pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) ada yang diterima dalam

bentuk surat dan ada dalam bentuk telepon atau Whats App (WA) sebagai bentuk

penggunaan informasi teknologi untuk melakukan koordinasi pelayanan Kartu

Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el).

2. Kesadaran pentingnya koordinasi

Indikator koordinasi menurut Ndraha (2011:297) salah satunya adalah:

“Kesadaran pentingnya koordinasi”.


77

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa pengetahuan pelaksana koordinasi pelayanan Kartu Tanda

Penduduk Elektronik (KTP-el) mengenai masalah yang dikoordinasikan cukup

baik karena pelaksana koordinasi sudah menguasai bidang yang dikoordinasikan.

Tingkat ketaatan peserta koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik

(KTP-el) terhadap hasil yang dikoordinasikan cukup baik.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Raman Utara

dan Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Sukadana

serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala Desa Negara

Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat diketahui

bahwa pengetahuan pelaksana koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) mengenai masalah yang dikoordinasikan menurut informan

cukup baik, karena pelaksana koordinasi memang menguasai masalah pelayanan

Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) yang dikoordinasikan dan yang

menyampaikan memang yang menguasai bidang yang dikoordinasikan. Masalah

tingkat ketaatan peserta koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik

(KTP-el) terhadap hasil yang dikoordinasikan, ada informan yang mengatakan

baik dan ada yang kurang mengetahui secara pasti, karena setelah selesai

koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) peserta


78

koordinasi kurang mengetahui apakah peserta langsung melaksanakan hasil

koordinasi atau tidak.

Berdasarkan hasil penelitian dan observasi yang dilakukan di Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, Kecamatan

Raman Utara dan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa pengetahuan pelaksana koordinasi pelayanan Kartu Tanda

Penduduk Elektronik (KTP-el) mengenai masalah yang dikoordinasikan menurut

informan cukup baik, karena pelaksana koordinasi memang menguasai masalah

pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) yang dikoordinasikan dan

yang menyampaikan memang yang menguasai bidang yang dikoordinasikan.

Masalah tingkat ketaatan peserta koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) terhadap hasil yang dikoordinasikan, ada informan yang

mengatakan baik dan ada yang kurang mengetahui secara pasti ketaatan peserta

koordinasi, karena setelah selesai koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) informan kurang mengetahui apakah peserta langsung

melaksanakan hasil koordinasi atau tidak karena masing-masing peserta

koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) langsung

kembali ke tempat tugasnya masing-masing. .

3. Kompetensi partisipan, kalender pemerintahan

Indikator koordinasi menurut Ndraha (2011:297) salah satunya adalah:

“Kompetensi partisipan, kalender pemerintahan”.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur


79

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa dalam pelaksanaan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) selalu ada pejabat yang berwenang yang terlibat dalam

koordinasi. Dalam pelaksanaan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) ada ahli pada bidangnya yang dilibatkan seperti operator

pelayanan perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Raman Utara

dan Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Sukadana

serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala Desa Negara

Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat diketahui

bahwa menurut informan dalam pelaksanaan koordinasi tidak selalu ada pejabat

yang berwenang yang terlibat dalam koordinasi, karena pernah beberapa kali

dalam koordinasi diwakili oleh orang lain karena yang berkepentingan tidak dapat

hadir. Dalam pelaksanaan koordinasi apabila yang dibahas masalah teknis,

memang ada ahli yang dilibatkan, namun apabila koordinasi yang dibahas

masalah penyelenggaraan perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el)

tidak ada ahli pada bidangnya yang dilibatkan.

Berdasarkan hasil penelitian dan observasi yang dilakukan di Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, Kecamatan

Raman Utara dan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa dalam pelaksanaan koordinasi tidak selalu ada pejabat yang
80

berwenang yang terlibat dalam koordinasi, karena pernah beberapa kali dalam

koordinasi diwakili oleh orang lain karena yang berkepentingan tidak dapat hadir,

namun orang yang mewakili memiliki kompetensi terhadap bidang tugasnya.

Dalam pelaksanaan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik

(KTP-el) ada ahli pada bidangnya yang dilibatkan seperti operator pelayanan

perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) yang merupakan pegawai

yang sudah mendapatkan pendidikan dan pelatihan perekaman Kartu Tanda

Penduduk Elektronik (KTP-el) mulai dari perekaman sidik jari, retina mata dan

lainnya.

4. Kesepakatan dan komitmen

Indikator koordinasi menurut Ndraha (2011:297) salah satunya adalah:

“Kesepakatan dan komitmen”.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa setelah melakukan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) ada bentuk kesepakatan yang dihasilkan seperti jika telah

melakukan perekaman pihak kecamatan memberikan laporan telah melakukan

perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Pihak kecamatan

membuat kesepakatan sebagai bentuk komitmen kesepakatan bersama.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Raman Utara


81

dan Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Sukadana

serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala Desa Negara

Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat diketahui

bahwa dalam pelakasanaan koordinasi, setelah melakukan koordinasi ada bentuk

kesepakatan yang dihasilkan walaupun dalam bentuk kesanggupan dari peserta

koordinasi mengenai kesanggupan untuk menjalankan program kerja yang

dikoordinasikan. Tidak semua kesepakatan yang dibuat dalam koordinasi

diagendakan sebagai bentuk komitmen kesepakatan, karena kesepakatan yang

terjadi adalah sebuah kesanggupan melaksanakan apa yang telah disepakati

bersama dalam koordinasi.

Berdasarkan hasil penelitian dan observasi yang dilakukan di Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, Kecamatan

Raman Utara dan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa setelah melakukan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) ada bentuk kesepakatan yang dihasilkan seperti jika telah

melakukan perekaman pihak kecamatan memberikan laporan telah melakukan

perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el). Pihak kecamatan

membuat kesepakatan sebagai bentuk kesanggupan dari peserta koordinasi

mengenai kesanggupan untuk menjalankan program kerja pelayanan perekaman

Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) yang dikoordinasikan. Tidak semua

kesepakatan yang dibuat dalam koordinasi diagendakan sebagai bentuk komitmen

kesepakatan, karena kesepakatan yang terjadi adalah sebuah kesanggupan

melaksanakan apa yang telah disepakati bersama dalam koordinasi.


82

5. Penerapan kesepakatan oleh setiap pihak yang berkoordinasi

Indikator koordinasi menurut Ndraha (2011:297) salah satunya adalah:

“Penerapan kesepakatan oleh setiap pihak yang berkoordinasi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa tidak ada yang melanggar kesepakatan yang sudah ditetapkan

dalam koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el). Setelah

ada kesepakatan dilakukan penetapan atas kesepakatan yang telah disepakati

bersama meskipun dalam bentuk lisan tanda setuju atas kesepakatan yang telah

disepakati bersama.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Raman Utara

dan Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Sukadana

serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala Desa Negara

Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat diketahui

bahwa karena kesepakatan yang dibuat hanya berupa kesanggupan dari peserta

koordinasi, maka ada peserta koordinasi yang melanggar kesepakatan tersebut.

Setelah ada kesepakatan dari peserta koordinasi tidak dilakukan penetapan atas

kesepakatan yang telah disepakati bersama karena kesepakan yang ada hanya

berupa kesanggupan menjalankan program kerja.


83

Berdasarkan hasil penelitian dan observasi yang dilakukan di Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, Kecamatan

Raman Utara dan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa karena kesepakatan yang dibuat hanya berupa kesanggupan dari

peserta koordinasi, maka ada peserta koordinasi yang melanggar kesepakatan

tersebut. Setelah ada kesepakatan dilakukan penetapan atas kesepakatan yang

telah disepakati bersama meskipun dalam bentuk lisan tanda setuju atas

kesepakatan yang telah disepakati bersama karena kesepakan yang ada hanya

berupa kesanggupan menjalankan program kerja pelayanan perekaman Kartu

Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el).

6. Insentif koordinasi

Indikator koordinasi menurut Ndraha (2011:297) salah satunya adalah:

“Insentif koordinasi”.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa tidak ada sanksi bagi yang melanggar kesepakatan dalam

koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el). Jika ada sanksi

yang memberikan sanksi biasanya pimpinan masing-masing yang melanggar

sanksi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Raman Utara


84

dan Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Sukadana

serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala Desa Negara

Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat diketahui

bahwa menurut informan selama ini belum pernah ada sanksi bagi yang

melanggar kesepakatan dan menurut informan memang belum pernah ada sanksi

yang dikenakan. Informan juga kurang mengetahui jika ada sanksi siapa yang

memberikan sanksi kepada yang melanggar kesepakatan.

Berdasarkan hasil penelitian dan observasi yang dilakukan di Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, Kecamatan

Raman Utara dan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa tidak ada sanksi bagi yang melanggar kesepakatan dalam

koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el). Informan juga

kurang mengetahui jika ada sanksi siapa yang memberikan sanksi kepada yang

melanggar kesepakatan dalam menjalankan perekaman Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el).

7. Feedback sebagai masukan balik dalam proses koordinasi

Indikator koordinasi menurut Ndraha (2011:297) salah satunya adalah:

“Feedback sebagai masukan balik dalam proses koordinasi”.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur

dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Raman Utara dan Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa setelah melakukan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk


85

Elektronik (KTP-el) ada usulan dari peserta koordinasi, mengenai kendala

perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) seperti kendala Nomor

Induk Kependudukan (NIK) yang tidak muncul, usia wajib KTP dan jarang

tempuh menjadi kendala. Usulan atau masukan dalam koordinasi pelayanan Kartu

Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) l digunakan sebagai masukan dalam proses

koordinasi Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) selanjutnya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan penelitian yang merupakan

Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Raman Utara

dan Operator Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) Kecamatan Sukadana

serta Kepala Desa Rantau Fajar Kecamatan Raman Utara dan Kepala Desa Negara

Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat diketahui

bahwa setelah melakukan koordinasi jika ada usulan dari peserta koordinasi,

karena dalam koordinasi yang dilaksanakan dibuka ruang bagi peserta yang mau

memberikan usul dan saran. Jika koordinasi yang dilakukan masih membahas

masalah yang sama maka usulan atau masukan dalam koordinasi yang telah

dilaksanakan akan digunakan sebagai masukan dalam proses koordinasi

selanjutnya.

Berdasarkan hasil penelitian dan observasi yang dilakukan di Dinas

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur, Kecamatan

Raman Utara dan Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, maka dapat

diketahui bahwa setelah melakukan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk

Elektronik (KTP-el) ada usulan dari peserta koordinasi, mengenai kendala

perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) seperti kendala Nomor


86

Induk Kependudukan (NIK) yang tidak muncul, usia wajib KTP dan jarang

tempuh menjadi kendala. Usulan atau masukan dalam koordinasi pelayanan Kartu

Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) digunakan sebagai masukan dalam proses

koordinasi Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) selanjutnya jika koordinasi

yang dilakukan masih membahas masalah yang sama yaitu pelayanan perekaman

Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el).


87

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat

dikemukakan kesimpulan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik

(KTP-el) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung

Timur, sebagai berikut:

1. Secara umum informasi yang diterima peserta koordinasi rata-rata antara tiga

hari sampai enam hari dari waktu pelaksanaan koordinasi. Informasi ada yang

diterima dari Direktorat Jendral Kependudukan dan Catatan Sipil Jakara dan

ada dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung

Timur sedangkan Kepala Desa menerima informasi dari Kepala Seksi

Pemerintahan Kecamatan dimana informan berada dalam bentuk telepon atau

Whats App (WA) sebagai bentuk penggunaan informasi teknologi untuk

melakukan koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el).

2. Pengetahuan pelaksana koordinasi cukup baik mengenai masalah yang

dikoordinasikan. Tingkat ketaatan peserta koordinasi terhadap hasil yang

dikoordinasikan adalah cukup baik.

3. Dalam pelaksanaan koordinasi tidak selalu ada pejabat yang berwenang yang

terlibat, karena pernah beberapa kali dalam koordinasi diwakili oleh orang

lain, namun orang yang mewakili memiliki kompetensi terhadap bidang

tugasnya. Dalam pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el ada ahli pada


88

bidangnya yang dilibatkan seperti operator pelayanan perekaman KTP-el yang

merupakan pegawai yang sudah mendapatkan pendidikan dan pelatihan

perekaman KTP-el mulai dari perekaman sidik jari, retina mata dan lainnya.

4. Dalam pelaksanaan koordinasi, setelah melakukan koordinasi ada bentuk

kesepakatan yang dihasilkan walaupun dalam bentuk kesanggupan dari

peserta koordinasi mengenai kesanggupan untuk menjalankan program kerja

yang dikoordinasikan.

5. Kesepakatan yang dibuat hanya berupa kesanggupan dari peserta koordinasi,

sehingga ada peserta koordinasi yang melanggar kesepakatan tersebut.

6. Tidak ada sanksi bagi yang melanggar kesepakatan dalam koordinasi

pelayanan KTP-el. Informan juga kurang mengetahui jika ada sanksi siapa

yang memberikan sanksi kepada yang melanggar kesepakatan dalam

menjalankan perekaman KTP-el.

7. Setelah melakukan koordinasi pelayanan KTP-el ada usulan dari peserta

koordinasi, mengenai kendala perekaman KTP-el seperti kendala Nomor

Induk Kependudukan (NIK) yang tidak muncul, usia wajib KTP dan jarang

tempuh menjadi kendala. Usulan atau masukan dalam koordinasi pelayanan

KTP-el digunakan sebagai masukan dalam proses koordinasi selanjutnya jika

koordinasi yang dilakukan masih membahas masalah yang sama.

5.2 Saran

Dengan selesainya kegiatan penelitian ini, maka penulis ingin

mengemukakan saran-saran sebagai berikut:


89

1. Kepada Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, diharapkan agar

dapat mengagendakan waktu koordinasi yang benar-benar dalam keadaan

luang dan tidak ada agenda kegiatan dengan instansi lain sehingga dapat

memimpin jalannya koordinsi dan tidak mewakilkan kepada bawahannya.

2. Kepala pihak penyelenggara koordinasi, diharapkan agar dapat memberikan

informasi pelaksanaan koordinasi setidaknya tiga hari sebelum koordinasi

dilaksanakan, sehingga yang hadir dalam koordinasi benar-benar pihak-pihak

yang dimaksudkan untuk diajak koordinasi dan bukan yang mewakili yang

hadir dalam koordinasi,

3. Kepala peserta koordinasi, diharapkan dapat benar-benar melaksanakan hasil

koordinasi yang telah disepakati bersama sesuai dengan program kerja yang

telah ditentukan dalam koordinasi.


90

KOORDINASI PELAYANAN KARTU TANDA PENDUDUK


ELEKTRONIK (KTP-el) DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN
PENCATATAN SIPIL KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

SKRIPSI

Oleh

FENDY SYAPUTRA
NPM. 151210100

SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


(STISIPOL) DHARMA WACANA METRO
2019
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
91

Judul : KOORDINASI PELAYANAN KARTU TANDA PENDUDUK


ELEKTRONIK (KTP-el) DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN
PENCATATAN SIPIL KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
Nama : Fendy Syaputra
NPM : 151210100
Jurusan : Ilmu Administrasi
Program Studi : Ilmu Administrasi Negara

Jurusan: Ilmu Administrasi


Program Studi: Ilmu Administrasi Negara

Menyetujui

1. Komisi Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Bambang Utoyo, M.Si Dra. Sri Sundari,M.Si

2. Ketua Jurusan

Yuditya Wardhana. E, S.AN., M.Si


92

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

Telah Dipertahankan di Depan Tim Penguji Jurusan Ilmu Administrasi


Program Studi Ilmu Administrasi Negara
Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL)
Dharma Wacana Metro

Pada Hari : Kamis


Tanggal : 14 Maret 2019
Waktu : Pukul 11.00 Wib. s/d selesai
Tempat : Ruang Seminar/Ujian
STISIPOL Dharma Wacana Metro

1. Tim Penguji

Ketua Penguji : Dr. Bambang Utoyo, M.Si ( )

Penguji Utama : Drs. M. Waspa Kusuma Budi, M.Si ( )

Anggota Penguji : Dra. Sri Sundari,M.Si ( )

2. Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik


Dharma Wacana Metro

Sudarman Mersa, S.Sos., M.IP


93

ABSTRAK

KOORDINASI PELAYANAN KARTU TANDA PENDUDUK


ELEKTRONIK (KTP-el) DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN
PENCATATAN SIPIL KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
Oleh
FENDY SYAPUTRA
NPM. 151210100

Koordinasi yang dilakukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil


dengan kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Timur, secara umum tidak
mengalami hambatan. Namun hambatan dalam pelayanan KTP-el baru, justru
datang dari wajib KTP yang baru akan melakukan perekaman KTP-el, karena
umumnya mereka masih merupakan pelajar dan kurang mengetahui jika ada
perekaman KTP-el keliling oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil,
karena tidak adanya sosialisasi dari kecamatan dan desa, karena bila dilakukan
koordinasi yang baik, maka saat Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
melakukan pelayanan perekaman KTP-el dengan mobil keliling dapat melakukan
perekaman KTP-el bagi wajib KTP baru di sekolah-sekolah.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dirumuskan masalahnya
adalah: Bagaimanakah koordinasi pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik
(KTP-el) di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Lampung Timur?
Metode pengumpulan data yang digunakan wawancara observasi dan
dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kualitatif.
Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat dikemukakan kesimpulan
sebagai berikut: 1) Secara umum informasi yang diterima peserta koordinasi rata-
rata antara tiga sampai enam hari dari waktu pelaksanaan koordinasi. Informasi
ada yang diterima dalam bentuk telepon atau Whats App (WA). 2) Pengetahuan
pelaksana koordinasi cukup baik mengenai masalah yang dikoordinasikan. 3)
Dalam pelaksanaan koordinasi tidak selalu ada pejabat yang berwenang yang
terlibat, karena pernah beberapa kali dalam koordinasi diwakili oleh orang lain. 4)
Setelah melakukan koordinasi ada bentuk kesepakatan yang dihasilkan walaupun
dalam bentuk kesanggupan untuk menjalankan program kerja. 5) Kesepakatan
yang dibuat hanya berupa kesanggupan, sehingga ada peserta koordinasi yang
melanggar kesepakatan tersebut. 6) Tidak ada sanksi bagi yang melanggar
kesepakatan dalam koordinasi. 7) Setelah melakukan koordinasi ada usulan dari
peserta, mengenai kendala perekaman KTP-el seperti kendala NIK yang tidak
muncul, usia wajib KTP dan jarang tempuh. Usulan atau masukan digunakan
sebagai masukan dalam proses koordinasi selanjutnya jika koordinasi yang
dilakukan masih membahas masalah yang sama.
94

PERNYATAAN

ORISINILITAS SKRIPSI

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa sepanjang pengetahuan

saya, di dalam naskah skripsi ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan

oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu Perguruan Tinggi dan

tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain,

kecuali yang secara penulis kutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam lembar

kutipan dan daftar pustaka.

Apabila di dalam naskah skripsi ini dapat dibuktikan unsur PLAGIASI,

saya bersedia Skripsi ini digugurkan dan gelar akademik yang telah saya peroleh

(Strata 1) dibatalkan, serta diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku. (UU No. 20 Tahun 2003, Pasal 25 ayat 2 dan Pasal 70).

Metro, 5 Februari 2019


Mahasiswa,

Nama : Fendy Syaputra


NPM : 151210100
PS : Ilmu Administrasi Negara
95

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat

dan karunia, yang dilimpahkan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan

penyusunan skripsi, sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program

Sarjana, Jurusan Ilmu Administrasi Program Studi Ilmu Administrasi Negara di

Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dharma Wacana Metro.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selama proses penyusunan skripsi

ini penulis banyak mendapatkan bantuan, dorongan, bimbingan serta pengarahan

dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan

terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Sudarman Mersa, S.Sos., M.IP, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Dharma Wacana Metro.

2. Bapak Sutiyo, S.Sos., M.IP, selaku Pembantu Ketua I Bidang Akademik

Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dharma Wacana Metro, sekaligus

sebagai penguji utama.

3. Bapak Sigit Setioko, SE., MM selaku Pembantu Ketua II Bidang

Kepegawaian dan Keuangan Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Dharma Wacana Metro.

4. Ibu Ari Gusnita, S.AN., M.Si, selaku Pembantu Ketua III Bidang

Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dharma Wacana

Metro.
96

5. Bapak Drs. Agus Budiharto, M.AP, selaku Pembantu Ketua IV Bidang

Kerjasama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dharma Wacana

Metro.

6. Bapak Dr. Bambang Utoyo, M.Si, sebagai dosen pembimbing I dalam

penyusunan skripsi

7. Ibu Dra. Sri Sundari, M.Si, sebagai dosen pembimbing II dalam penyusunan

skripsi.

8. Bapak dan Ibu Dosen pada Jurusan Ilmu Administrasi Program Studi Ilmu

Administrasi Negara Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dharma

Wacana Metro yang telah banyak memberikan bekal pengetahuan dan

pengalaman selama penulis menempuh studi.

9. Bapak Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten

Lampung Timur, yang telah banyak membantu dan memberikan kemudahan

selama penulis melakukan penelitian.

10. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Demikianlah mudah-mudahan Allah SWT dapat membalas budi baik

semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini. Amin.

Metro, 5 Februari 2019

Penulis

Fendy Syahputra
97

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL.............................................................................................i

HALAMAN PERSETUJUAN.............................................................................ii

HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................iii

ABSTRAK ..........................................................................................................iv

PERNYATAAN ORISINILITAS SKRIPSI .........................................................v

RIWAYAT HIDUP...............................................................................................vi

PERSEMBAHAN..............................................................................................vii

M O T T O........................................................................................................viii

KATA PENGANTAR..........................................................................................ix

DAFTAR ISI .......................................................................................................xi

DAFTAR TABEL .............................................................................................xiv

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................xv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian .....................................................................1

1.2 Perumusan Masalah ..............................................................................7

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian .............................................................7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan tentang Koordinasi .................................................................9

2.1.1 Pengertian Koordinasi.................................................................9

2.1.2 Macam-Macam Koordinasi ......................................................11

2.1.3 Tujuan Koordinasi ....................................................................12


98

2.1.4 Hambatan-Hambatan Koordinasi .............................................14

2.1.5 Indikator Koordinasi ................................................................15

2.2 Tinjauan tentang Pelayanan ................................................................16

2.2.1 Pengertian Pelayanan ...............................................................16

2.2.2 Kualitas Pelayanan....................................................................18

2.2.3 Penilaian Kualitas Pelayanan....................................................19

2.3 Tinjauan tentang Kartu Tanda Penduduk (KTP-el)..............................23

2.3.1 Pengertian Kartu Tanda Penduduk (KTP-el)............................23

2.3.2 Fungsi Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el).................25

2.3.3 Perekaman dan Penerbitan Kartu Tanda Penduduk Elektronik


(KTP-el)....................................................................................27

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian .........................................................32

3.2 Fokus Penelitian...................................................................................33

3.3 Tempat Penelitian.................................................................................34

3.4 Jenis dan Sumber Data ........................................................................34

3.5 Informan ..............................................................................................35

3.6 Teknik Pengumpulan Data ..................................................................36

3.7 Teknik Analisis Data ...........................................................................37

3.8 Keabsahan Data ..................................................................................39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian...................................................43

4.2 Identitas Informan................................................................................51

4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan .......................................................52


99

4.3.1 Hasil Penelitian.........................................................................52

4.3.2 Pembahasan...............................................................................72

4.3.3 Keabsahan Data........................................................................74

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan .......................................................................................87

5.1 Saran .................................................................................................88

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................90

LAMPIRAN-LAMPIRAN.................................................................................92
100

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

1. Ibu dan Bapakku, yang telah mendidik dan membesarkanku dengan penuh

kasih sayang sejak aku kecil hingga dewasa

2. Istri dan anakku tercinta, yang selalu menjadi penyemangat dan pendorong

motivasiku untuk menyelesaikan studi

3. Kakak dan adikku, yang selalu memberikan motivasi, dorongan dan dukungan

semangat dan menantikan keberhasilan studiku

4. Rekan-rekan seperjuangan yang telah banyak membantu baik materiil maupun

moril demi terwujudnya cita-citaku

5. Almamaterku, Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL)

Dharma Wacana Metro.


101

RIWAYAT HIDUP

Fendy Syaputra, dilahirkan di Sukadana pada tanggal 7 Februari 1992,

merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari Bapak Hamdan dengan Ibu

Mastiah.

Pendidikan yang pernah ditempuh dan ditamatkan antara lain adalah:

1. SD Negeri 1 Negara Nabung tamat Tahun 2004

2. SMP Negeri 3 Sukadana tamat Tahun 2007

3. SMA Negeri 1 Sukadana tamat Tahun 2010

4. Masuk Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Dharma

Wacana Metro, Jurusan Ilmu Administrasi, Program Studi Ilmu Administrasi

Negara Tahun Akademik 2015/2016.


102

MOTTO

Tak seorangpun tahu anda baik kecuali bila anda membuktikan


dalam kehidupan anda sehari-hari

(Penulis)
103

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Keputusan Penunjukan Dosen Pembimbing

2. Berita Acara Seminar

3. Surat Izin Penelitian dari STISIPOL Dharma Wacana Metro

4. Surat Izin Penelitian dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten

Lampung Timur

5. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian Dari Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil Kabupaten Lampung Timur.

6. Lampiran Hasil Penelitian


104

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Keadaan Pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil


Kabupaten Lampung Timur..................................................................45

Tabel 2. Identitas Informan.................................................................................51


105

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, 2005, Manajemen Penelitian, Rineke Cipta, Jakarta

Hardiyansyah, 2011, Kualitas Pelayanan Publik, Konsep, Dimensi, Indkator dan


Implementasinya, Gava Media, Yogyakarta

Moenir, H.A.S, 2014, Manajemem Pelayanan Umum di Indonesia, Bumi Aksara,


Jakarta

Mulugol, Eneas, dkk, 2014, Implementasi Fungsi Koordinasi Pemerintahan


Pada Kantor Distrik Alama Kabupaten Mimika, Skripsi Fakultas Ilmu
Sosial dan Politik Universitas Sam Ratulang

Ndraha, Taliziduhu, 2011, Kybernology Ilmu Pemerintahan Baru, Rineke Cipta,


Jakarta

Rizal, Yus, 2012, Perekaman e-KTP Hadapi Banyak Kendala, http://izalbota.com

Sugiyono, 2011, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfa Beta,
Bandung

________, 2014, Metode Penelitian Administrasi, Alfa Beta, Bandung

Suminar, Ratna, 2015, Koordinasi Antar Instansi Pemerintah Kota Bandar


Lampung Dalam Pelaksanaan Program Pengembangan Kota Hijau,
Universitas Lampung. Bandar Lampung

Syafiie, Inu Kencana, 2011, Manajemen Pemerintahan, Pustaka Reka Cipta,


Bandung

B. Sumber Lain

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan,


www.hukumonline

Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan KTP Berbasis


Nomor Induk Kependudukan, www.hukumonline

Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2013 tentang Penerapan KTP Berbasis
Nomor Induk Kependudukan, www.hukumonline

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pedoman


Penerbitan Kartu Tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk Kependudukan
Secara Nasional, www.hukumonline
106

PANDUAN WAWANCARA

A. Informasi, komunikasi dan teknologi komunikasi

1. Berapa lama jarak waktu dari saudara menerima informasi sampai dengan

waktu pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el?

2. Siapa yang memberikan informasi mengenai adanya koordinasi pelayanan

KTP-el dan dalam bentuk apa informasi yang saudara terima untuk

melakukan koordinasi pelayanan KTP-el?

B. Kesadaran pentingnya koordinasi

3. Menurut saudara bagaimana pengetahuan pelaksana koordinasi pelayanan

KTP-el mengenai masalah yang dikoordinasikan?

4. Menurut saudara bagaimana tingkat ketaatan peserta koordinasi pelayanan

KTP-el terhadap hasil yang dikoordinasikan?

C. Kompetensi partisipan, kalender pemerintahan

5. Dalam pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el apakah selalu ada

pejabat yang berwenang yang selalu terlibat dalam koordinasi?

6. Dalam pelaksanaan koordinasi pelayanan KTP-el apakah ada ahli pada

bidangnya yang dilibatkan?

D. Kesepakatan dan komitmen

7. Setelah melakukan koordinasi pelayanan KTP-el apakah ada bentuk

kesepakatan yang dihasilkan?

8. Apakah kesepakatan yang dibuat diagendakan sebagai bentuk komitmen

kesepakatan bersama?
107

E. Penerapan kesepakatan oleh setiap pihak yang berkoordinasi

9. Apakah ada yang melanggar kesepakatan yang sudah ditetapkan dalam

koordinasi pelayanan KTP-el?

10. Apakah setelah ada kesepakatan dilakukan penetapan atas kesepakatan

yang telah disepakati bersama?

F. Insentif koordinasi

11. Apakah ada sanksi bagi yang melanggar kesepakatan dalam koordinasi

pelayanan KTP-el?

12. Jika ada sanksi siapa yang memberikan sanksi tersebut?

G. Feedback sebagai masukan balik dalam proses koordinasi

13. Apakah setelah melakukan koordinasi pelayanan KTP-el ada usulan dari

peserta koordinasi?

14. Apakah usulan atau masukan dalam koordinasi pelayanan KTP-el

digunakan sebagai masukan dalam proses koordinasi selanjutnya?