Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Rumah yang sehat merupakan salah satu sarana untuk mencapai derajat kesehatan
yang optimum. Untuk memperoleh rumah yang sehat ditentukan oleh tersedianya sarana
sanitasi perumahan. Sanitasi rumah adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitik
beratkan pada pengawasan terhadap struktur fisik dimana orang menggunakannya untuk
tempat tinggal berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Rumah juga
merupakan salah satu bangunan tempat tinggal yang harus memenuhi kriteria
kenyamanan, keamanan dan kesehatan guna mendukung penghuninya agar dapat bekerja dengan
produktif (Munif Arifin, 2009).
Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat dengan penyakit
berbasis lingkungan, dimana kecenderungannya semakin meningkat akhir-akhir ini.
Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di
Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan
menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi danbalita. Keadaan
tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dankualitas intervensi kesehatan
lingkungan (Munif Arifin, 2009). Oleh karena itu penulis membuat makalah ini dengan
judul “Perumahan dan Permukiman”.

1.2. RUMUSAN MASALAH


1. Pengertian Rumah Sehat
2. Pengertian Perumahan dan Permukiman
3. Tujuan Perumahan dan Permukiman
4. Persyaratan Permukiman

Makalah Perumahan dan Permukiman | 1


1.3. TUJUAN MAKALAH
1. Untuk Mengetahui Pengertian Rumah Sehat
2. Untuk Mengetahui Pengertian Perumahan dan Permukiman
3. Untuk Mengetahui Tujuan Perumahan dan Permukiman
4. Untuk Mengetahui Persyaratan Permukiman

1.4. MANFAAT MAKALAH


1. Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai rumah sehat dan fungsinya bagi
manusia.
2. Sebagai bahan rujukan dalam mempelajari komponen dan saranan
sanitasi perumahan dan permukinan yang sehat.
3. Sebagai bahan tambahan bagi mahasiswa lain dalam mempelajari
standar dan persyaratan perumahan dan permukiman yang sehat.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 2


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. RUMAH SEHAT


A. Pengertian Rumah Sehat
Menurut WHO, rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat
berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta
keadaan sosialnya baik untuk kesehatan keluarga dan individu (Komisi WHO
Mengenai Kesehatan dan Lingkungan,2001).
Menurut UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman,
rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan
sarana pembinaan keluarga. Menurut John F.C Turner, 1972, dalam bukunya
Freedom To Build mengatakan, “Rumah adalah bagian yang utuh dari
permukiman, dan bukan hasil fisik sekali jadi semata, melainkan merupakan suatu
proses yang terus berkembang dan terkait dengan mobilitas sosial ekonomi
penghuninya dalam suatu kurun waktu. Yang terpenting dari rumah adalah
dampak terhadap penghuni, bukan wujud atau standar fisiknya. Selanjutnya
dikatakan bahwa interaksi antara rumah dan penghuni adalah apa yang diberikan
rumah kepada penghuni serta apa yang dilakukan penghuni terhadap rumah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rumah sehat adalah bangunan
tempat berlindung dan beristirahat serta sebagai sarana pembinaan keluarga yang
menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh
anggota keluarga dapat bekerja secara produktif.
Rumah menjadi tempat berlindung dari cuaca dan kondisi lingkungan sekitar,
menyatukan sebuah keluarga, meningkatkan tumbuh kembang kehidupan setiap manusia, dan
menjadi bagian dari gaya hidup manusia. Rumah harus dapat mewadahi kegiatan penghuninya
dan cukup luas bagi seluruh pemakainya, sehingga kebutuhan ruang dan aktivitas setiap
penghuninya dapat berjalan baik. Lingkungan rumah juga sebaiknya terhindar dari faktor-faktor
yang dapat merugikan kesehatan (Hindarto, 2007).

Makalah Perumahan dan Permukiman | 3


Rumah sehat dapat diartikan sebagai tempat berlindung, bernaung dan tempat untuk
beristirahat, sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna fisik, rohani maupun social
(Sanropie, 1991).

B. Fungsi Rumah
Fungsi rumah bagi manusia adalah :
1. Sebagai tempat untuk melepaskan lelah, beristirahat setelah
penatmelasanakan kewajiban sehari-hari.
2. Sebagai tempat untuk bergaul dengan keluarga atau membina
rasakekeluargaan bagi segenap anggota keluarga yang ada.
3. Sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya yang datangmengancam.
4. Sebagai lambang status sosial yang dimiliki yang masih dirasakan hingga
saat ini.
5. Sebagai tempat untuk meletakan atau menyimpan barang-barang
berhargayang dimiliki, yang terutama masih ditemui pada masyarakat
pedesaan.

C. Komponen Rumah
1. Lantai
Lantai harus cukup kuat untuk manahan beban di atasnya. Bahan untuk lantai
biasanya digunakan ubin,kayu plesteran, atau bambu dengan syarat-syarat
tidak licin, stabil tidak lentur waktu diinjak, tidak mudah aus, permukaan
lantai harus rata dan mudah dibersihkan, yang terdiri dari:
a. Lantai tanah stabilitas
Lantai tanah stabilitas terdiri dari tanah,pasir, semen, dan kapur,seperti
tanah tercampur kapur dan semen, dan untuk mencegahmasuknya air
kedalam rumah sebaiknya lantai dinaikkan 20 cm daripermukaan
tanah.
b. Lantai papan
Pada umumnya lantai papan dipakai di daerah basah/rawa. Hal yang
perlu diperhatikan dalam pemasanan lantai adalah :

Makalah Perumahan dan Permukiman | 4


1) Sekurang-kurangnya 60 cm diatas tanah dan ruang bawah
tanahharus ada aliran air yang baik.
2) Lantai harus disusun dengan rapi dan rapat satu
samalain,sehingga tidak ada lubang-lubang ataupun lekukan
dimana debu bisa bertepuk. Lebih baik jika lantai seperti ini
dilapisi dengan perlak atau kampal plastik ini juga berfungsi
sebagai penahan kelembaban yang naik dari dikolong rumah.
3) Untuk kayu-kayu yang tertanam dalam air harus yang tahan air
dan rayap serta untuk konstruksi diatasnya agar digunakan
lantai kayu yang telah dikeringkan dan diawetkan.
c. Lantai ubin
Lantai ubin adalah lantai yang terbanyak digunakan pada bangunan
perumahan karena : Lantai ubin murah/tahan lama, dapat mudah
dibersihkan dan tidak dapat mudah dirusak rayap.
2. Dinding
Adapun syarat-syarat untuk dinding antara lain :
a. Dinding harus tegak lurus agar dapat memikul berat sendiri, beban
tekanan angin, dan bila sebagai dinding pemikul harus pula dapat
memikul beban diatasnya.
b. Dinding harus terpisah dari pondasi oleh suatu lapisan air rapat air
sekurang-kurangnya 15 cm di bawah permukaan tanah sampai 20 cm
di atas lantai bangunan, agar air tanah tidak dapat meresap naik keatas,
sehingga dinding tembok terhindar dari basah dan lembab dan tampak
bersih tidak berlumut.
c. Lubang jendela dan pintu pada dinding, bila lebarnya kurang dari 1 m
dapat diberi susunan batu tersusun tegak diatas batu, batu tersusun
tegak diatas lubang harus dipasang balok lantai dari beton bertulang
atau kayu awet.
d. Untuk memperkuat berdirinya tembok ½ bata digunakan rangka
pengkaku yang terdiri dari plester-plester atau balok beton bertulang
setiap luas 12 meter.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 5


3. Langit-langit
Dibawah kerangka atap/ kuda-kuda biasanya dipasang penutup yang disebut
langit-langit yang tujuannya antara lain:
a. Untuk menutup seluruh konstruksi atap dan kuda-kuda penyangga agar
tidak terlihat dari bawah, sehingga ruangan terlihat rapi dan bersih.
b. Untuk menahan debu yang jatuh dan kotoran yang lain juga menahan
tetesan air hujan yang menembus melalui celah-celah atap.
c. Untuk membuat ruangan antara yang berguna sebagai penyekat sehingga panas
atas tidak mudah menjalar kedalam ruangan dibawahnya.
Adapun persyaratan untuk langit-langit yang baik adalah :
a. Langit-langit harus dapat menahan debu dan kotoran lain yang jatuh
dari atap.
b. Langit-langit harus menutup rata kerangka atap kuda-kuda penyangga
dengan konstruksi bebas tikus.
c. Tinggi langit-langit sekurang-kurangnya 2,40 dari permukaan lantai.
d. Langit-langit kasaunya miring sekurang-kurangnya mempunyai tinggi
rumah 2,40 m,dan tinggi ruang selebihnya pada titik terendah
titik kurang dari 1,75m.
e. Ruang cuci dan ruang kamar mandi diperbolehkan sekurangkurangnya
sampai 2,40 m.
4. Atap
Secara umum konstruksi atap harus didasarkan kepada perhitungan
yang teliti dan dapat dipertanggung jawabkan kecuali untuk atap yang
sederhana tidak disyaratkan adanya perhitungan-perhitungan. Maksud
utama dari pemasangan atap adalah untuk melindungi bagian-bagian
dalam bangunan serta penghuninya terhadap panas dan hujan, oleh karena
itu harus dipilih penutup atap yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Rapat air serta padat dan Letaknya tidak mudah bergeser.
b. Tidak mudah terbakar dan bobotnya ringan dan tahan lama.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 6


Bentuk atap yang biasa digunakan ialah bentuk atap datar dari
konstruksi beton bertulang dan bidang atap miring dari genteng, sirap,
seng gelombang atau asbes semen gelombang. Pada bidang atap miring
mendaki paling banyak digunakan penutup/atap genteng karena harga
rumah dan cukup awet.

5. Pembagian Ruangan
Telah dikemukakan dalam persyaratan rumah sehat, bahwa rumah
sehat harus mempunyai cukup banyak ruangan-ruangan seperti : ruang
duduk/ruang makan, kamar tidur, kamar mandi, jamban, dapur, tempat
cuci pakaian, tempat berekreasi dan tempat beristirahat, dengan tujuan
agar setiap penghuninya merasa nikmat dan merasa betah tinggal dirumah
tersebut. Adapun syarat-syarat pembagian ruangan yang baik adalah
sebagai berikut :
a. Adanya pemisah yang baik antara ruangan kamar tidur kepala keluarga
(suami istri) dengan kamar tidur anak-anak, baik laki-laki maupun
perempuan, terutama anak-anak yang sudah dewasa.
b. Memilih tata ruangan yang baik, agar memudahkan komunikasi dan
perhubungan antara ruangan didalam rumah dan juga menjamin
kebebasan dan kerahasiaan pribadi masing-masing terpenuhi.
c. Tersedianya jumlah kamar atau ruangan kediaman yang cukup dengan
luas lantai sekurang-kurangnya 6 m2 agar dapat memenuhi kebutuhan
penghuninya untuk melakukan kegiatan kehidupan.
d. Bila ruang duduk digabung dengan ruang tidur, maka luas lantai
tidak boleh kurang dari 11 m untuk 1 orang, 14 m bila digunakan 2
orang, dalam hal ini harus dipisah.
e. Dapur
1) Luas dapur minimal 14 m dan lebar minimal 1,5 m
2) Bila penghuni tersebut lebih dari 2 orang, luas dapur tidak boleh
kurang dari 3 m

Makalah Perumahan dan Permukiman | 7


3) Di dapur harus tersedia alat-alat pengolahan makanan, alat-
alatmasak, tempat cuci peralatan dan air bersih.
4) Didapur harus tersedia tempat penyimpanan bahan makanan. Atau
makanan yang siap disajikan yang dapat mencegah pengotoran makanan
oleh lalat, debu dan lain-lain dan mencegah sinar matahari
langsung.
f. Kamar Mandi dan jamban keluarga
1) Setiap kamar mandi dan jamban paling sedikit salah satu dari
dindingnya yang berlubang ventilasi berhubungan dengan udara
luar. Bila tidak harus dilengkapi dengan ventilasi mekanis
untuk mengeluarkan udara dari kamar mandi dan jamban tersebut,
sehingga tidak mengotori ruangan lain.
2) Pada setiap kamar mandi harus bersih untuk mandi yang cukup jumlahnya.
3) Jamban harus berleher angsa dan 1 jamban tidak boleh dari 7orang
bila jamban tersebut terpisah dari kamar mandi.
6. Ventilasi
Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar kedalam suatu
ruangan dan pengeluaran udara kotoran suatu ruangan tertutup baik
alamiah maupun secara buatan. Ventilasi harus lancar diperlukan
untuk menghindari pengaruh buruk yang dapat merugikan kesehatan
manusia pada suatu ruangan kediaman yang tertutup atau kurang
ventilasi.Pengaruh-pengaruh buruk itu ialah (Sanropie, dkk, 1989) :
a. Berkurangnya kadar oksigen diudara dalam ruangan kediaman.
b. Bertambahnya kadar asam karbon (CO2) dari pernafasan manusia.
c. Bau pengap yang dikeluarkan oleh kulit, pakaian dan mulut manusia.
d. Suhu udara dalam ruangan naik karena panas yang dikeluarkan oleh
badan manusia.
e. Kelembaban udara dalam ruang kediaman bertambah karena
penguapan air dan kulit pernafasan manusia.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 8


7. Pencahayaan
Menurut Sanropie, dkk (1989) dalam Mukono (2000) bahwa cahaya
yang cukup kuat untuk penerangan didalam rumah merupakan kebutuhan
manusia. Penerangan ini dapat diperoleh dengan pengaturan cahaya buatan
dan cahaya alam.

a. Pencahayaan alam
Pencahayaan alam diperoleh dengan masuknya sinar matahari
kedalam ruangan melalui jendela, celah-celah atau bagian ruangan
yang terbuka. Sinar sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohon-
pohon maupun tembok pagar yang tinggi. Kebutuhan standar cahaya
alam yang memenuhi syarat kesehatan untuk kamar keluarga dan
kamar tidur menurut WHO 60-120 Lux.
b. Pencahayaan buatan
Penerangan pada rumah tinggal dapat diatur dengan memilih
system penerangan dengan suatu pertimbangan hendaknya penerangan tersebut
dapat menumbuhkan suasana rumah yang lebih menyenangkan. Lampu
Flouresen (neon) sebagai sumber cahaya dapat memenuhi kebutuhan
penerangan karena pada penerangan yang relatif rendah mampu
menghasilkan cahaya yang baik bila dibandingkan dengan penggunaan
lampu pijar. Bila ingin menggunakan lampu pijar sebaiknya dipilih
yang warna putih dengan dikombinasikan beberapa lampu neon.

D. Sarana Sanitasi Rumah


1. Penyediaan Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari
yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila
telah dimasak. Air minum adalah air yang syaratnya memenuhi syarat
kesehatan dan dapat langsung diminum yang berasal dari penyediaan air
minum (DepKes RI, 2002).

Makalah Perumahan dan Permukiman | 9


Sarana air bersih adalah semua sarana yang dipakai sebagai
sumber air bagi penghuni rumah untuk digunakan bagi penghuni rumah
yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari.Yang perlu diperhatikan
antara lain :
a. Jarak antara sumber air dengan sumber pengotoran (seperti septik tank,
tempat pembuangan sampah, air limbah) minimal 10 meter.
b. Pada sumur gali sedalam 3 meter dari permukaan tanah dibuat kedap
air, yaitu dilengkapi dengan cincin dan bibir sumur.
c. Penampungan air hujan pelindung air, sumur artesis atau terminal air
atau perpipaan/kran atau sumur gali terjaga kebersihannya dan
dipelihara rutin.
2. Penggunaan Jamban
Pembuangan tinja manusia yang terinfeksi yang dilaksanakan
secara tidak layak tanpa memenuhi persyaratan sanitasi dapat
menyebabkan terjadinya pencemaran tanah dan sumber-sumber
penyediaan air. Disamping itu, juga akan dapat memberi kesempatan bagi
lalat-lalat dari species tertentu untuk bertelur, bersarang, makan bahan
tersebut, serta membawa infeksi, menarik hewan ternak, tikus serta
serangga lain yang dapat menyebarkan tinja dan kadang-kadang
menimbulkan bau yang tidak dapat ditolerir.
Atas dasar hal tersebut, maka perlu dilakukan penanganan
pembungan tinja yang memenuhi persyaratan sanitasi. Tujuan
dilakukannya pembuangan tinja secara saniter adalah untuk menampung
serta mengisolir tinja sedemikian rupa sehingga dapat tercegah terjadinya
hubungan langsung maupun tidak langsung antara tinja dengan manusia,
dan dapat dicegah terjadinya penularan faecal borne diseases dari
penderita kepada orang yang sehat, maupun pencemaran lingkungan pada
umumnya.
Adapun persyaratan sarana pembuangan tinja yang baik dan
memenuhi syarat kesehatan adalah :
a. Tidak terjadi kontaminasi pada tanah permukaan.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 10


b. Tidak terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin masuk kemata
air atau sumur.
c. Tidak terjadi kontaminasi pada air permukaan.
d. Excreta tidak dapat dijangkau oleh lalat atau kuman.
e. Tidak terjadi penanganan Excreta segar. Apabila tidak dapat
dihindarkan, harus ditekan seminimal mungkin.
f. Harus bebas dari bau serta kondisi yang tidak sedap.
g. Metode yang digunakan harus sederhana serta murah dalam
pembangunan dan penyelenggaraannya.
3. Sarana Pembuangan Sampah
Pembuangan sampah adalah kegiatan menyingkirkan sampah
dengan metode tertentu dengan tujuan agar sampah tidak lagi mengganggu
kesehatan lingkungan atau kesehatan masyarakat. Ada dua istilah yang
harus dibedakan dalam lingkup pembuangan sampah solid waste
(pembuangan sampah saja) dan final disposal (pembuangan akhir).
(Sarudji. D, 2006).
Pembuangan sampah yang berada di tingkat pemukiman yang
perlu diperhatikan adalah :
a. Penyimpanan setempat (onsite storage)
Penyimpanan sampah setempat harus menjamin tidak
bersarangnya tikus, lalat dan binatang pengganggu lainnya serta
tidak menimbulkan bau. Oleh karena itu persyaratan kontainer sampah
harus mendapatkan perhatian.
b. Pengumpulan sampah
Terjaminnya kebersihan lingkungan pemukiman dari sampah juga
tergantung pada pengumpulan sampah yang diselenggarakan oleh pihak
pemerintah atau oleh pengurus kampung atau pihak pengelola apabila
dikelola oleh suatu real estate misalnya. Keberlanjutan dan keteraturan
pengambilan sampah ke tempat pengumpulan merupakan jaminan bagi
kebersihan lingkungan pemukiman.Sampah terutama yang mudah
membusuk (garbage) merupakan sumber makanan lalat dan tikus. Lalat

Makalah Perumahan dan Permukiman | 11


merupakan salah satu vector penyakit terutama penyakit saluran
pencernaan seperti Thypusabdominalis, Cholera. Diare dan Dysentri.
(Sarudji, 2006)
4. Pembuangan Air Limbah
Air limbah adalah air yang tidak bersih mengandung berbagai zat
yang bersifat membahayakan kehidupan manusia ataupun hewan, dan
lazimnya karena hasil perbuatan manusia. Sumber air limbah yang lazim
dikenal adalah :
a. Berasal dari rumah tangga misalnya air, dari kamar mandi, dapur.
b. Berasal dari perusahaan misalnya dari hotel, restoran, kolam renang.
c. Berasal dari industri seperti dari pabrik baja, pabrik tinta dan pabrik
cat berasal dari sumber lainnya seperti air tinja yang tercampur air
comberan, dan lain sebagainya.

E. Standar Rumah Sehat


Menurut Depkes RI (2002), ada beberapa prinsip standar rumah
sehat.Prinsip ini dapat dibedakan atas dua bagian :
1. Yang berkaitan dengan kebutuhan kesehatan, terdiri atas :
a. Perlindungan terhadap penyakit menular, melalui pengadaan air
minum, sistem sanitasi, pembuangan sampah, saluran air, kebersihan
personal dan domestik, penyiapan makanan yang aman dengan struktur
rumah yang aman dengan memberi perlindungan.
b. Perlindungan terhadap trauma/benturan, keracunan dan penyakit
kronis dengan memberikan perhatian pada struktur rumah, polusi
udara rumah, polusi udara dalam rumah, keamanan dari bahaya
kimia dan perhatian pada penggunaan rumah sebagai tempat
bekerja.
c. Stress psikologi dan sosial melalui ruang yang adekuat,
mengurangi privasi, nyaman, memberi rasa aman pada individu,
keluarga dan akses pada rekreasi dan sarana komunitas pada perlindungan
terhadap bunyi.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 12


2. Berkaitan dengan kegiatan melindungi dan meningkatkan kesehatan terdiri
atas :
a. Informasi dan nasehat tentang rumah sehat dilakukan oleh petugas
kesehatan umumnya dan kelompok masyarakat melalui berbagai
saluran media dan kampanye.
b. Kebijakan sosial ekonomi yang berkaitan dengan perumahan harus
mendukung penggunaan tanah dan sumber daya perumahan
untuk memaksimalkan aspek fisik, mental dan sosial.
c. Pembangunan sosial ekonomi yang berkaitan dengan perumahan dan hunian
harus didasarkan pada proses perencanaan, formulasi dan pelaksanaan
kebijakan publik dan pemberian pelayanan dengan kerjasama intersektoral
dalam manajemen dan perencanaan pembangunan, perencanaan
perkotaan dan penggunaan tanah, standar rumah, disain, dan konstruksi
rumah, pengadaan pelayanan bagi masyarakat dan monitoring serta
analisis situasi secara terus-menerus.
d. Pendidikan pada masyarakat profesional, petugas kesehatan,
perencanaan dan penentuan kebijakan akan pengadaan dan penggunaan
rumah sebagai sarana peningkatan kesehatan.
e. Keikutsertaan masyarakat dalam berbagai tingkat melalui kegiatan
mandiri diantara keluarga dan perkampungan.

Menurut Depkes RI (2002), indikator rumah yang dinilai adalah


komponen rumah yang terdiri dari : langit-langit, dinding, lantai, jendela kamar
tidur, jendela ruang keluarga dan ruang tamu, ventilasi, dapur dan pencahayaan dan
aspek perilaku. Aspek perilaku penghuni adalah pembukaan jendela kamar tidur,
pembukaan jendela ruang keluarga, pembersihan rumah dan halaman.

F. Persyaratan Rumah Sehat


Menurut Budiman Chandra (2007), persyaratan rumah sehat yang
tercantum dalam Residential Environment dari WHO (1974) antara lain :
1. Harus dapat berlindung dari hujan, panas, dingin, dan berfungsi sebagai
tempat istrahat.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 13


2. Mempunyai tenpat-tempat untuk tidur, memasak, mandi, mencuci, kakus
dan kamar mandi.
3. Dapat melindungi bahaya kebisingan dan bebas dari pencemaran.
4. Bebas dari bahan bangunan berbahaya.
5. Terbuat dari bahan bangunan yang kokoh dan dapat melindungi penghuninya dari
gempa, keruntuhan, dan penyakit menular.
6. Memberi rasa aman dan lingkungan tetangga yang serasi.

Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan permukiman menurut


Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/ 1999
meliputi dua aspek yaitu :

1. Lingkungan perumahan yang terdiri dari lokasi, kualitas udara,kebisingan


dan getaran, kualitas tanah, kualitas air tanah, saranan dan prasarana
lingkungan, binatang penular penyakit dan penghijauan.
2. Rumah tinggal yang terdiri dari bahan bangunan, komponen dan penataan
ruang rumah, pencahayaan, kualitas udara, ventilasi, binatang penular
(vektor) penyakit, air, sarana penyimpanan makanan, limbah, dan
kepadatan huniaan ruang tidur.

Adapun persyaratan kesehatan lingkungan sehat menurut Keputusan


Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/ 1999 sebagai berikut :

1. Lokasi
a. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran
sungai, aliran lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa,
dan sebagainya.
b. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA)
sampah atau bekas tambang.
c. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran
seperti alur pendaratan penerbangan.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 14


2. Kualitas udara
a. Kualitas udara ambien di lingkungan perumahan harus bebas dari
gangguan gas beracun dan memenuhi syarat baku mutu lingkungan sebagai
berikut :
1) Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi
2) Gas SO2 maksimum 0,10 ppm
3) Debu maksimum 350 mm3 /m2 per hari.
3. Kebisingan dan getaran
a. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A;
b. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik.
4. Kualitas tanah di daerah perumahan dan pemukiman
a. Kandungan Timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
b. Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
c. Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
d. Kandungan Benzopyrene maksimum 1 mg/kg
5. Prasarana dan sarana lingkungan
a. Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan
konstruksi yang aman dari kecelakaan
b. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan
vektor penyakit
c. Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan
tidak mengganggu kesehatan, konstruksi trotoar tidak membahayakan
pejalan kaki dan penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar
pengaman, lampu penerangan jalan tidak menyilaukan mata
d. Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas air yang memenuhi
persyaratan kesehatan.
e. Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus
memenuhi persyaratan kesehatan.
f. Pengelolaan pembuangan sampah rumah tangga harus memenuhi
syarat kesehatan.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 15


g. Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi,
tempat kerja, tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian, dan lain
sebagainya.
h. Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya.
i. Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi
kontaminasi makanan yang dapat menimbulkan keracunan.

6. Vektor penyakit
a. Indeks lalat harus memenuhi syarat
b. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%.
7. Penghijauan
Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan
pelindung dan juga berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian
alam.

2.2. PENGERTIAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN


A. Pengertian Perumahan
Menurut UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman,
perumahan berada dan merupakan bagian dari permukiman, perumahan adalah
kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan
(pasal 1 ayat 2).
Pembangunan perumahan diyakini juga mampu mendorong lebih dari
seratus macam kegiatan industri yang berkaitan dengan bidang perumahan dan
permukiman (Sumber: Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan dan
Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Permukiman).
B. Pengertian Permukiman
Pengertian dasar permukiman dalam UU No.1 tahun 2011 adalah bagian
dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang
mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang
kegiatan fungsi lain dikawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 16


Permukiman merupakan suatu kebutuhan pokok yang sangat penting
dalam kehidupan manusia. Dari deretan lima kebutuhan hidup manusia pangan,
sandang, permukiman, pendidikan dan kesehatan, nampak bahwa permukiman
menempati posisi yang sentral, dengan demikian peningkatan permukiman akan
meningkatkan pula kualitas hidup.
Saat ini manusia bermukim bukan sekedar sebagai tempat berteduh,
namun lebih dari itu mencakup rumah dan segala fasilitasnya seperti persediaan
air minum, penerangan, transportasi, pendidikan, kesehatan dan lainnya.
Pengertian ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sumaatmadja (1988)
sebagai berikut: “Permukiman adalah bagian permukaan bumi yang dihuni
manusia meliputi segala sarana dan prasarana yang menunjang kehidupannya
yang menjadi satu kesatuan dengan tempat tinggal yang bersangkutan”.
Lingkungan permukiman merupakan suatu sistem yang terdiri dari lima
elemen, yaitu (K. Basset dan John R. Short, 1980, dalam Kurniasih) :
1. Nature (unsur alami), mencakup sumber-sumber daya alam seperti
topografi, hidrologi, tanah, iklim, maupun unsur hayati yaitu vegetasi dan
fauna.
2. Man (manusia sebagai individu), mencakup segala kebutuhan pribadinya
seperti biologis, emosional, nilai-nilai moral, perasaan, dan perepsinya.
3. Society (masyarakat), adanya manusia sebagai kelompok masyarakat.
4. Shells (tempat), dimana mansia sebagai individu maupun kelompok
melangsungkan kegiatan atau melaksanakan kehidupan.
5. Network (jaringan), merupakan sistem alami maupun buatan manusia,
yang menunjang berfungsinya lingkungan permukiman tersebut seperti
jalan, air bersih, listrik, dan sebagainya.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka pada dasarya suatu permukiman
terdiri dari isi (contents) yaitu manusia, baik secara individual maupun dalam
masyarakat dan wadah yaitu lingkungan fisik permukiman lingkungan fisik
permukiman yang merupakan wadah bagi kehidupan manusia dan merupakan
pengejawantahan dari tata nilai, sistem sosial, dan budaya masyarakat yang

Makalah Perumahan dan Permukiman | 17


membentuk suatu komunitas sebagai bagian dari lingkungan permukiman
tersebut.

2.3. TUJUAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN


Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman, dalam
Pasal I menyebutkan bahwa rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat
tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Perumahan adalah kelompok rumah
yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang
dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan, sedangkan Permukiman adalah
bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan
perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan
penghidupan. Satuan lingkungan permukiman adalah kawasan perumahan dalam
berbagai bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana
lingkungan yang terstruktur.
Asas dari penataan perumahan dan permukiman berlandaskan pada asas manfaat,
adil dan merata, kebersamaan dan kekeluargaan, kepercayaan pada diri sendiri,
keterjangkauan, dan kelestarian lingkungan hidup (Bab II Pasal 3). Sedangkan dalam
Pasal 4 menyebutkan bahwa penataan perumahan dan permukiman bertujuan untuk:
1. Memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia,
dalam rangka peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat.
2. Mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak dalam lingkungan
yang sehat, aman, serasi, dan teratur.
3. Memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran penduduk yang
rasional.
4. Menunjang pembangunan di bidang ekonomi, sosial , budaya, dan bidang-
bidang lain.
Pemenuhan kebutuhan permukiman diwujudkan melalui pembangunan kawasan
permukiman skala besar yang terencana secara menyeluruh dan terpadu dengan
pelaksanaan yang bertahap (Bab IV Pasal 18). Pembangunan kawasan permukiman
tersebut ditujukan untuk menciptakan kawasan permukiman yang tersusun atas satuan-

Makalah Perumahan dan Permukiman | 18


satuan lingkungan permukiman dan mengintegrasikan secara terpadu dan meningkatkan
kualitas lingkungan perumahan yang telah ada di dalam atau di sekitarnya, yang
dihubungkan oleh jaringan transportasi sesuai dengan kebutuhan dengan kawasan lain
yang memberikan berbagai pelayanan dan kesempatan kerja.
Pembangunan perumahan dan permukiman diselenggarakan berdasarkan rencana
tata ruang wilayah perkotaan dan rencana tata ruang wilayah bukan perkotaan yang
menyeluruh dan terpadu yang ditetapkan olch pemerintah daerah dengan
mepertimbangkan berbagai aspek yang terkait serta rencana, program, dan prioritas
pembangunan perumahan dan permukiman.

2.4. PERSYARATAN PERMUKIMAN


Dalam penentuan lokasi suatu permukiman, perlu adanya suatu kriteria atau
persyaratan untuk menjadikan suatu lokasi sebagai lokasi permukiman. Kriteria tersebut
antara lain:
1. Tersedianya lahan yang cukup bagi pembangunan lingkungan dan
dilengkapi dengan prasarana lingkungan, utilitas umum dan fasilitas
sosial.
2. Bebas dari pencemaran air, pencemaran udara dan kebisingan, baik yang
berasal dari sumber daya buatan atau dari sumber daya alam (gas beracun,
sumber air beracun, dsb).
3. Terjamin tercapainya tingkat kualitas lingkungan hidup yang sehat bagi
pembinaan individu dan masyarakat penghuni.
4. Kondisi tanahnya bebas banjir dan memiliki kemiringan tanah 0-15 %,
sehingga dapat dibuat sistem saluran air hujan (drainase) yang baik serta
memiliki daya dukung yang memungkinkan untuk dibangun perumahan.
5. Adanya kepastian hukum bagi masyarakat penghuni terhadap tanah dan
bangunan diatasnya yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, yaitu :
a. Lokasinya harus strategis dan tidak terganggu oleh kegiatan
lainnya.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 19


b. Mempunyai akses terhadap pusat-pusat pelayanan, seperti
pelayanan kesehatan, perdagangan, dan pendidikan.
c. Mempunyai fasilitas drainase, yang dapat mengalirkan air hujan
dengan cepat dan tidak sampai menimbulkan genangan air.
d. Mempunyai fasilitas penyediaan air bersih, berupa jaringan
distribusi yang siap untuk disalurkan ke masing-masing rumah.
e. Dilengkapi dengan fasilitas pembuangan air kotor, yang dapat
dibuat dengan sistem individual yaitu tanki septik dan lapangan
rembesan, ataupun tanki septik komunal.
f. Permukiman harus dilayani oleh fasilitas pembuangan sampah
secara teratur agar lingkungan permukiman tetap nyaman.
g. Dilengkapi dengan fasilitas umum, seperti taman bermain untuk
anak, lapangan atau taman, tempat beribadah, pendidikan dan
kesehatan sesuai dengan skala besarnya permukiman tersebut.
h. Dilayani oleh jaringan listrik dan telepon.
(Sumber: “Pedoman Teknik Pembangunan Perumahan Sederhana
Tidak Bersusun” Departemen PU)
Hal yang sama mengenai persyaratan lokasi permukiman juga dijelaskan dalam
Joseph De Chiara dalam Standar Perencanaan Tapak, 1994, dimana yang harus
dipertimbangkan dalam pemilihan perumahan tapak untuk perumahan apabila ingin
dicapai pembangunan dan pemeliharaan yang sehat, antara lain:
1. Sifat Khas Fisis Tapak yang Penting
a. Kondisi tanah dan bawah tanah
Kondisi bawah tanah dan harus sesuai dengan untuk
pekerjaan galian dan persiapan, peletakan jaringan utilitas serta
pelandaian dan penanaman, memberikan daya dukung yang baik
untuk penghematan konstruksi bangunan yang akan dibangun.
Untuk menghemat konstruksi, sebaiknya lapisan bawa tanah tidak
mengandung batuan keras atau rintangan lain untk efisiensi galian
utilitas pondasi atau kolong bangunan.
b. Air tanah dan drainase

Makalah Perumahan dan Permukiman | 20


Muka air tanah yang relatif rendah untuk untuk
melingdungi bangunan dari genangan pada kolong bangunan dan
gangguan air selokan, tidak adanya rawa, dan kelandaian lereng
yang cukup memungkinkan penyaluran curah hujan permukaan
normal dan kelancaran aliran air selokan.
c. Keterbebasan dari banjir permukaan
Daerah pembangunan harus terbebas dari bahaya banjir
permukaan yang disebabkan oleh sungai, danau atau air pasang.
d. Kesesuaian penapakan bangunan yang akan direncanakan
Lahan tidak boleh terlalu curam demi kebaikan kelandaian
dalam kaitannya dengan kostruksi hunian. Tapak bangunan tidak
boleh mempunyai ketinggian melebihi kemampuan jangkuan air
untuk keperluan rumah tangga dan penangulangan kebakaran.
e. Kesesuaian untuk akses dan sirkulasi
Topografi harus memungkinkan pencapaian yang baik oleh
kendaraan maupun pejalan kaki, ke dan di dalam tapak. Topografi
juga harus memungkinkan pelandaian yang sesuai dengan standar
yang ada.
f. Kesesuaian untuk pembangunan ruang terbuka
Lahan untuk halaman pribadi, tempat bermain dan taman
lingkungan harus memungkinkan pelandaian dan pembangunan
yang sesuai dengan spesifikasi.
g. Keterbatasan dari bahaya kecelakaan topografi
Daerah yang akan dibangun hendaknya bebas dari kondisi
topografi yang dapat menyebabkan kecelakaan, seperti galian,
lubang yang menganga, dan garis pantai yang berbahaya.
2. Ketersediaan Pelayanan Saniter dan Perlindungan
a. Persediaan air dan pembuangan air selokan saniter
Sistem persediaan air dan pembuangan harus dipandang
sebagai pelayanan saniter jangka panjang dan bukan hanya sekedar
instalasi fisis. Penyetujuan dini dari pihak berwenang dibidang

Makalah Perumahan dan Permukiman | 21


kesehatan merupakan prasyarat untuk pembuatan fasilitas
pembuangan air kotor pada tapak dan untuk usulan pengembangan
jaringan air maupun selokan yang akan melayani tapak tersebut.
b. Pembuangan sampah
Apabila pelayanan sampah kota dapat diadakan, maka
pemilihan tapak yang menyangkut hal ini tidak akan menemui
masala. Tetapi kebutuhan fasilitas pengolahan sampah pada tapak
atau di sekitas tapak untuk penguburan, pembakaran dan proses
kimiawi memerlukan upaya penelaahan untuk pengalaman.
Masalah yang utama adalah pemisahan lahan untuk pembuangan,
penghindaran bau-bauan yang disebar oleh angin serta penggunaan
metode pembuangan untuk mencegah bersarangnya tikus dan
pembiakan serangga.
c. Listrik, bahan bakar dan komunikasi
Listrik sangat penting untuk setiap rumah, tetapi karena
pelayanan listrik biasanya dapat diperluas untuk suatu
pembangunan dan dapat dibangkitkan apabila diperlukan maka
listrik jarang menimbulkanmaslah dalam pemilihan tapak. Gas
tidak dianggap sebagai utilitas yang penting. Apabila keperluan
gas berada di luar jangkauan jaringan pelayanan, maka tabung gas
bertekanan tinggi yang mudah diangkut dapat digunakan.
Pelayanan telepon, seperti listrik dapat diperluas untuk tapak yang
memerlukannya.
d. Pengamanan oleh polisi dan penyelamat kebakaran
Kelayakan perlindungan oleh polisi tidak begitu
terpengaruh oleh lokasi, tetapi seperti halnya perlindungan
terhadap kebakaran, apabila letak tempatnya terisolir maka segi
pembiayaan harus diperhitungkan.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 22


3. Keterbatasan Dari Bahaya dan Gangguan Setempat
a. Bahaya kecelakaan
Bahaya utama kecelakaan utama adalah tabarakan dengan
kendaraan bermotor lainnya, bahaya api dan ledakan, jatuh, dan
tenggelam. Penyebab tabrakan adalah lalu lintas jalan dan jalan
kereta api serta musibah pendaratan pesawat terbang di dekat jalur
pendaratan.
b. Kebisingan dan getaran
Kebisingan yang berlebihan, kadang-kadang disertai
getaran biasanya dihasilkan oleh jalan kereta api, bandar udara,
lalu lintas, industri berat, peluit kapal, dan sebagainya. Perumahan
tidak boleh terletak pada tapak yang terus menerus dilanda
kebisingan yang tidak terkendali, terutama di malam hari.
c. Bau-bauan, asap dan debu
Sumber bau-bauan yang tidak sedap biasanya adalah:
1) Pabrik, industri, terutama rumah potong hewan,
penyamakan kulit dan pabrik yang menghasilkan produk
dari binatang; industri karet, kimia dan pupuk, pewarnaan
atau pencucian tekstil; pabrik kertas, sabun dan cat; dan
pabrik gas.
2) Tempat pembuangan sampah, terutama apabila proses
pemusnahan melibatkan pembakaran.
3) Sungai yang dikotori air selokan, atau instalasi pengolahan
tinja yang tidak berjalan dengan sempurna.
4) Peternakan, terutama babi dan kambing, terutama apabila
dipelihara secara berdesak-desakan dan dalam keadaan
kotor.
5) Asap lalu lintas kendaraan bermotor dan kereta api dengan
bahan bakar batubara. Sumber asap dan debu yang sering
dijumpai adalah industri, jalur kereta api, tempat
pembuangan dan kebakaran sampah. Debu juga berasal dari

Makalah Perumahan dan Permukiman | 23


lahan terbuka seperti lahan kosong, perkebunan yang tidak
ditanami, tempat rekreasi yang tak terurus dan daerah
berdebu yang luas.
(Dirangkum dari: Joseph De Chiara; Lee E. Koppelman.
Standar Perencanaan Tapak. 1994. Hal: 91-95)
Adapun pemilihan lokasi permukiman di dasarkan pada berbagai faktor
antara lain:
1. Faktor Kemudahan
Faktor yang dimaksud adalah kemudahan dalam menjangkau suatu
tempat. Faktor ini perlu diperhatikan, sebab akan berpengaruh terhadap
biaya transportasi dan lamanya perjalanan bagi penghuni untuk bepergian.
Faktor kemudahan pada suatu permukiman dapat berupa jalan
penghubung atau masuk, yaitu jalan yang menghubungkan jalan masuk
dengan jaringan jalan umum menuju pusat kota.
2. Utilitas
Utilitas adalah kelengkapan fasilitas yang terdapat pada
perumahan, antara lain listrik, air minum, saluran pembuangan.
3. Faktor Status Tanah
Tanah mempunyai fungsi sosial ekonomi. Dalam pengaturan hak
atas tanah dan ruang pemanfaatanya harus dapat meningkatkan
kesejahteraan rakyat, status tanah mempunyai peranan penting bagi
kelangsungan penghuni karena memberikan kepastian hukum atas tanah
yang menjadi haknya.
4. Faktor Penggunaan Tanah
Daerah perumahaan sedapat mungkin tidak menggunakan lahan
yang produktif dan menghindari daerah-daerah yang sudah terbangun.
Dengan demikian penggunaan lahan tersebut akan lebih efektif dan saling
mendukung dengan kegiatan lainnya.
5. Faktor Kemungkinan Perluasan
Diharapkan daerah perumahan mampu menampung aktivitas-
aktivitas yang sudah sulit sulit dikembangkan di pusat kota, dengan

Makalah Perumahan dan Permukiman | 24


demikian kawasan permukiman tidak berdiri sendiri dan tidak lepas dari
sistem kotanya.
6. Faktor Pusat Pelayanan
Lokasi perumahan yang baik adalah lokasi yang memudahkan atau
dapat menjangkau semua tempat karena tersedia macam-macam
pelayanan, baik yang bersifat sosial maupun bersifat ekonomi.
7. Faktor Efek Samping yang Mungkin Terjadi
Efek samping yang dimaksud adalah efek negatif yang mungkin
timbul dengan di bangunnya permukiman.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 25


BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Rumah sehat adalah tempat berlindung atau bernaung dan tempat
untuk beristrahat sehingga menimbulkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani
maupun sosial. Rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat beristrahat dan berlindung,
tetapi juga sebagai sarana untuk memperbaiki kesehatan. Untuk itu rumah harus
memenuhi syarat syarat kesehatan. Rumah sehat tidak harus mahal dan mewah. Tetapi,
rumah sehat harus memenuhi syarat syarat kesehatan. Oleh karena itu, rumah yang
sederhana jika memenuhi syarat syarat kesehatan juga dapat dikatakan rumah sehat.
Sebuah rumah yang sehat harus memenuhi saranan sanitasi rumah, seperti penyediaan air
bersih, penggunaan jamban, sarana pembuangan sampah dan pembuangan air limbah.
Ada dua standar rumah sehat yaitu yang berkaitan dengan kebutuhan kesehatan dan yang
berkaitan dengan kegiatan melindungi dan meningkatkan kesehatan.
Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari
satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta
mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain dikawasan perkotaan atau kawasan
perdesaan, sedangkan perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan
sarana lingkungan.
Tujuan dari penataan perumahan dan permukiman sendiri yaitu memenuhi
kebutuhan rumah, peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. mewujudkan
perumahan dan permukiman yang layak, memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan
persebaran penduduk yang rasional, menunjang pembangunan di bidang ekonomi, sosial ,
budaya, dan bidang-bidang lain.
Adapun persyaratan permukinan yaitu tersedianya lahan yang cukup bagi
pembangunan lingkungan, bebas dari pencemaran air, kualitas lingkungan hidup yang
sehat, kondisi tanahnya bebas banjir dan memiliki kemiringan tanah 0-15 %, dan adanya
kepastian hukum bagi masyarakat penghuni terhadap tanah dan bangunan diatasnya yang
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 26


3.2. SARAN
1. Sebaiknya sebuah rumah memiliki ketentuan teknis kesehatan yang wajib dipenuhi
dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang bermukim di perumahan
dan masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan kesehatan.
2. Seharusnya rumah yang sehat tidak hanya dapat dijadikan sebagai tempat berlindung, bernaung dan
tempat untuk beristirahat, tetapi juga dapat menumbuhkan kehidupan yang sempurna fisik, rohani
maupun sosial bagi penghuninya.
3. Persyaratan perumahan dan permukiman harus terpenuhi dan terus ditingkatkan, karena perumahan
merupakan salah satu bagian sentral kebutuhan hidup manusia, dengan peningkatan
permukiman akan meningkatkan pula kualitas hidup.
4. Diharapkan perumahan dan permukiman bukan sekedar sebagai tempat berteduh,
namun lebih dari itu mencakup rumah dan segala fasilitasnya seperti persediaan air
minum, penerangan, transportasi, pendidikan, kesehatan dan lainnya.

Makalah Perumahan dan Permukiman | 27


DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/100184351/perumahan-dan-permukiman#scribd

Makalah Perumahan dan Permukiman | 28