Anda di halaman 1dari 5

TOKOH PAHLAWAN YANG PERNAH MELAWAN BELANDA

Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2
Mei 1889.Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi
Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton
Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat
genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka,
berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak
saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di
depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat
bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.

KH. Hasyim Asy'ari


KH. Hasyim Asy'ari, lahir di desa Gedang (2 km) sebelah
Utara kota Jombang Jawa Timur, pada hari Selasa tanggal 24
Dzulhijali 1289 atau 14 Februari 1871 . Wafat pada pukul
03.45 tanggal 7 Ramadhan tatiun 1366 Hijriyah atau tanggal
25 Juli 1947 Masebi dalam usia 76 tahun.

Ayahnya bernama KH. Asy'ari dari Demak keturunan Raja


Majapahit dari Jaka Tingkir (Brawijaya VI). Jadi JakaTingkir
adalah nenek moyangnya. Ibunya bernama Halimah atau
Winih, putri Kyai Utsman Gedang Jombang.

Sejak usia 15 tahun KH. Hasyim Asy'ari sudahharus berpisah dengan keluarga untuk
menuntut ilmu. Pertama-tama ia belajar di Pesantren Wonoboyo Probolinggo, lalu pindah ke
Pesantren Langitan Babad Lamongan, lalu di Pesantren yang diasuh KH. Cholil Bangkalan
Madura, dan terakhir di Pesantren Siwalan Panji Sidorejo.
Cut Nyak Dien
Nangroe Aceh Darussalam merupakan daerah yang banyak
melahirkan pahlawan perempuan yang gigih tidak kenal
kompromi melawan kaum imperialis. Cut Nyak Dien merupakan
salah satu dari perempuan berhati baja yang di usianya yang
lanjut masih mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan
Belanda sebelum ia akhirnya ditangkap.
Pahlawan Kemerdekaan Nasional kelahiran Lampadang, Aceh,
tahun 1848, ini sampai akhir hayatnya teguh memperjuangkan
kemerdekaan bangsanya. Wanita yang dua kali menikah ini, juga
bersuamikan pria-pria pejuang. Teuku Ibrahim Lamnga, suami
pertamanya dan Teuku Umar suami keduanya adalah pejuang-
pejuang kemerdekaan bahkan juga Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

TJOET NJAK DIEN lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang sangat taat
beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, uleebalang VI Mukim, bagian dari wilayah
Sagi XXV. Leluhur dari pihak ayahnya, yaitu Panglima Nanta, adalah keturunan Sultan Aceh
yang pada permulaan abad ke-17 merupakan wakil Ratu Tajjul Alam di Sumatra Barat.
Ibunda Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang bangsawan Lampagar.

Raden Ajeng Kartini


Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21
April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17
September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya
lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini[1] adalah seorang
tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia.
Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan
pribumi. Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari
kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden
Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah
putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya
bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah
dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di
Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini
dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu
mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah
bukanlah bangsawan tinggi[2], maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan
(Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini
diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan,
R.A.A. Tjitrowikromo.
Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro (lahir di Yogyakarta, 11 November 1785
– meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855
pada umur 69 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional
Republik Indonesia. Makamnya berada di Makassar.

Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang


raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November
1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir)
bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan
(istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran
Diponegoro bernama kecil Raden Mas Mustahar,[rujukan?]
lalu diubah namanya oleh Hamengkubuwono II tahun 1805
menjadi Bendoro Raden Mas Ontowiryo.

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan


ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III untuk mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak
mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Mempunyai 3 orang istri, yaitu: Bendara Raden Ayu
Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum.

Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12
Januari 1631 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12
Juni 1670 pada umur 39 tahun) adalah Raja Gowa ke-16 dan
pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I
Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng
Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat
tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla
Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin
saja. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het
Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari
Benua Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Makassar.

Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973,
tanggal 6 November 1973.
Bung Tomo / Sutomo
Sutomo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 –
meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada
umur 61 tahun) lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat
sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena
peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk
melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA,
yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang
hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota


Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas
menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah
perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di
perusahan ekspor-impor Belanda.

Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol, Pasaman,


Sumatra Barat 1772 - wafat dalam pengasingan dan
dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6
November 1864), adalah salah seorang ulama,
pemimpin dan pejuang yang berperang melawan
Belanda, peperangan itu dikenal dengan nama
Perang Padri di tahun 1803-1837. Tuanku Imam
Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional
Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor
087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973

Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab atau Petto Syarif, dan
kemudian Tuanku nan Ranceh dari Kamang salah seorang pemimpin dari Harimau nan
Salapan, menunjuk beliau sebagai Imam di Bonjol.
Dr.(HC) Ir. SOEKARNO ( SURABAYA)
Dr.(HC) Ir. Soekarno (ER, EYD:Sukarno, nama
lahir: Koesno Sosrodihardjo) (lahir di Surabaya,
Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21
Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden
Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–
1966. Ia memainkan peranan penting dalam
memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan
Belanda. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta)
yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan
konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya.
Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial,
yang isinya—berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan Darat—
menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara
dan institusi kepresidenan.

MARTHA CHRISTINA TIAHAHU ( MALUKU )

Martha Christina Tiahahu (lahir di Nusa Laut,


Maluku, 4 Januari 1800 – meninggal di Laut Banda,
Maluku, 2 Januari 1818 pada umur 17 tahun) adalah
seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut. Lahir
sekitar tahun 1800 dan pada waktu mengangkat senjata
melawan penjajah Belanda berumur 17 tahun. Ayahnya
adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari
negeri Abubu yang juga pembantu Thomas Matulessy
dalam perang Pattimura tahun 1817 melawan Belanda.
Martha Christina tercatat sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang unik yaitu seorang
puteri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial
Belanda dalam perang Pattimura tahun 1817. Di kalangan para pejuang dan masyarakat
sampai di kalangan musuh, ia dikenal sebagai gadis pemberani dan konsekwen terhadap cita-
cita perjuangannya.