Anda di halaman 1dari 3

PERANCANGAN ALAT

“PEMBUATAN BIODIESEL”

Oleh :

DELA ADELIA (1641420030)

MOHAMMAD HARIS FAHMI (16414200

TSAMARA AMALIA AUDIA (1641420002)

POLITEKNIK NEGERI MALANG


JURUSAN TEKNIK KIMIA
PRODI DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
KOTA MALANG

2019
PROSES PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK SAWIT

Berikut ini adalah metode mengenai Proses Pembuatan Biodiesel Dari Minyak
Sawit berdasarkan penelitian yang dilakukan Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
2006. Bahan bakar diesel, selain berasal dari petrokimia juga dapat disintesis dari ester asam
lemak yang berasal dari minyak nabati. Bahan bakar dari minyak nabati (biodiesel) dikenal
sebagai produk yang ramah lingkungan, tidak mencemari udara, mudah terbiodegradasi, dan
berasal dari bahan baku yang dapat diperbaharui.

Pada umumnya biodiesel disintesis dari ester asam lemak dengan rantai karbon antara
C6-C22. Minyak sawit merupakan salah satu jenis minyak nabati yang mengandung asam lemak
dengan rantai karbon C14-C20, sehingga mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai
bahan baku biodiesel. Pembuatan biodiesel melalui proses transesterifikasi dua tahap, dilanjutkan
dengan pencucian, pengeringan dan terakhir filtrasi, tetapi jika bahan baku dari CPO maka
sebelumnya perlu dilakukan esterifikasi.

 Transesterifikasi

Proses transesterifikasi meliputi dua tahap. Transesterifikasi I yaitu pencampuran antara


kalium hidroksida (KOH) dan metanol (CH30H) dengan minyak sawit. Reaksi transesterifikasi I
berlangsung sekitar 2 jam pada suhu 58-65°C. Bahan yang pertama kali dimasukkan ke dalam
reaktor adalah asam lemak yang selanjutnya dipanaskan hingga suhu yang telah ditentukan.
Reaktor transesterifikasi dilengkapi dengan pemanas dan pengaduk. Selama proses pemanasan,
pengaduk dijalankan. Tepat pada suhu reactor 63°C, campuran metanol dan KOH dimasukkan ke
dalam reactor dan waktu reaksi mulai dihitung pada saat itu. Pada akhir reaksi akan terbentuk
metil ester dengan konversi sekitar 94%.

Selanjutnya produk ini diendapkan selama waktu tertentu untuk memisahkan gliserol dan
metil ester. Gliserol yang terbentuk berada di lapisan bawah karena berat jenisnya lebih besar
daripada metil ester. Gliserol kemudian dikeluarkan dari reaktor agar tidak mengganggu proses
transesterifikasi II. Selanjutnya dilakukan transesterifikasi II pada metil ester. Setelah proses
transesterifikasi II selesai, dilakukan pengendapan selama waktu tertentu agar gliserol terpisah
dari metil ester. Pengendapan II memerlukan waktu lebih pendek daripada pengendapan I karena
gliserol yang terbentuk relatif sedikit dan akan larut melalui proses pencucian.

 Pencucian
Pencucian hasil pengendapan pada transesterifikasi II bertujuan untuk menghilangkan
senyawa yang tidak diperlukan seperti sisa gliserol dan metanol. Pencucian dilakuka-n
pada suhu sekitar 55°C. Pencucian dilakukan tiga kali sampai pH campuran menjadi
normal (pH 6,8-7,2).
 Pengeringan

Pengeringan bertujuan untuk menghilangkan air yang tercampur dalam metil ester.
Pengeringan dilakukan sekitar 10 menit pada suhu 130°C. Pengeringan dilakukan dengan cara
memberikan panas pada produk dengan suhu sekitar 95°C secara sirkulasi. Ujung pipa sirkulasi
ditempatkan di tengah permukaan cairan pada alat pengering.

 Filtrasi

Filtrasi Tahap akhir dari proses pembuatan biodiesel adalah filtrasi. Filtrasi bertujuan untuk
menghilangkan partikel-partikel pengotor biodiesel yang terbentuk selama proses berlangsung,
seperti karat (kerak besi) yang berasal dari dinding reactor atau dinding pipa atau kotoran dari
bahan baku. Filter yang dianjurkan berukuran sama atau lebih kecil dari 10 mikron.