Anda di halaman 1dari 6

WAHAM

A. Konsep Dasar Waham


1. Pengertian
Waham merupakan keyakinan seseorang berdasarkan penelitian
realistis yang salah, keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budaya. Waham adalah kepercayaan
yang salah terhadap objek dan tidak konsisten dengan latar belakang
intelektual dan budaya.
Waham dibangun atas unsur-unsur yang tidak berdasarkan logika,
individu tidak mau melepaskan wahamnya, walaupun telah tersedia
cukup bukti-bukti yang objektif tentang kebenaran itu. Biasanya
waham digunakan untuk mengisi keperluan atau keinginan-keinginan
dari penderita itu sendiri. Waham merupakan suatu cara untuk
memberikan gambaran dari berbagai problem sendiri atau tekanan-
tekanan yang ada dalam kepribadian penderita biasanya:
 Keinginan yang tertekan.
 Kekecewaan dalam berbagai harapan.
 Perasaan rendah diri.
 Perasaan bersalah.
 Keadaan yang memerlukan perlindungan terhadap ketakutan.
2. Faktor Predisposisi dan Prespitasi
Faktor predisposisi yang mungkin mengakibatkan timbulnya waham
adalah:
a. Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak / SSp. yang
menimbulkan.
 Hambatan perkembangan otak khususnya kortek prontal,
temporal dan limbik.
 Pertumbuhan dan perkembangan individu pada prenatal,
perinatal, neonatus dan kanak-kanak.
b. Psikososial
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon psikologis dari klien. Sikap atau keadaan yang dapat
mempengaruhi seperti penolakan dan kekerasan.
c. Sosial Budaya
Kehidupan sosial budaya dapat pula mempengaruhi timbulnya
waham seperti kemiskinan. Konflik sosial budaya (peperangan,
kerusuhan, kerawanan) serta kehidupan yang terisolasi dan stress
yang menumpuk.
Faktor prespitasi yang biasanya menimbulkan waham merupakan
karakteristik umum latar belakang termasuk riwayat penganiayaan
fisik / emosional, perlakuan kekerasan dari orang tua, tuntutan
pendidikan yang perfeksionis, tekanan, isolasi, permusuhan,
perasaan tidak berguna ataupun tidak berdaya.
3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang dihasilkan atas penggolongan waham (Standar
Asuhan Keperawatan Jiwa RSJP Bogor di kutip oleh RSJP
Banjarmasin, 2001) yaitu:
a. Waham dengan perawatan minimal
 Berbicara dan berperilaku sesuai dengan realita.
 Bersosialisasi dengan orang lain.
 Mau makan dan minum.
 Ekspresi wajah tenang.
b. Waham dengan perawatan parsial
 Iritable.
 Cenderung menghindari orang lain.
 Mendominasi pembicaraan.
 Bicara kasar.
c. Waham dengan perawatan total
 Melukai diri dan orang lain.
 Menolak makan / minum obat karena takut diracuni.
 Gerakan tidak terkontrol.
 Ekspresi tegang.
 Iritable.
 Mandominasi pembicaraan.
 Bicara kasar.
 Menghindar dari orang lain.
 Mengungkapkan keyakinannya yang salah berulang kali
 Perilaku bazar.
4. Jenis-Jenis Waham
a. Waham Kebesaran
Penderita merasa dirinya orang besar, berpangkat tinggi, orang
yang pandai sekali, orang kaya.
b. Waham Berdosa
Timbul perasaan bersalah yang luar biasa dan merasakan suatu
dosa yang besar. Penderita percaya sudah selayaknya ia di hukum
berat.
c. Waham Dikejar
Individu merasa dirinya senantiasa di kejar-kejar oleh orang lain
atau kelompok orang yang bermaksud berbuat jahat padanya.
d. Waham Curiga
Individu merasa selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya.
Individu curiga terhadap sekitarnya. Biasanya individu yang
mempunyai waham ini mencari-cari hubungan antara dirinya
dengan orang lain di sekitarnya, yang bermaksud menyindirnya
atau menuduh hal-hal yang tidak senonoh terhadap dirinya. Dalam
bentuk yang lebih ringan, kita kenal “Ideas of reference” yaitu ide
atau perasaan bahwa peristiwa tertentu dan perbuatan-perbuatan
tertentu dari orang lain (senyuman, gerak-gerik tangan, nyanyian
dan sebagainya) mempunyai hubungan dengan dirinya.
e. Waham Cemburu
Selalu cemburu pada orang lain.
f. Waham Somatik atau Hipokondria
Keyakinan tentang berbagai penyakit yang berada dalam tubuhnya
seperti ususnya yang membusuk, otak yang mencair.
g. Waham Keagamaan
Waham yang keyakinan dan pembicaraan selalu tentang agama.
h. Waham Nihilistik
Keyakinan bahwa dunia ini sudah hancur atau dirinya sendiri
sudah meninggal.
i. Waham Pengaruh
j. Yaitu pikiran, emosi dan perbuatannya diawasi atau dipengaruhi
oleh orang lain atau kekuatan.

5. Penatalaksanaan
Perawatan dan pengobatan harus secepat mungkin dilaksanakan
karena, kemungkinan dapat menimbulkan kemunduran mental. Tetapi
jangan memandang klien dengan waham pada gangguan skizofrenia
ini sebagai pasien yang tidak dapat disembuhkan lagi atau orang yang
aneh dan inferior bila sudah dapat kontak maka dilakukan bimbingan
tentang hal-hal yang praktis. Biar pun klien tidak sembuh sempurna,
dengan pengobatan dan bimbingan yang baik dapat ditolong untuk
bekerja sederhana di rumah ataupun di luar rumah. Keluarga atau
orang lain di lingkungan klien diberi penjelasan (manipulasi
lingkungan) agar mereka lebih sabar menghadapinya.
Penatalaksanaan klien dengan waham meliputi farmako terapi, ECT
dan terapi lainnya seperti: terapi psikomotor, terapi rekreasi, terapi
somatik, terapi seni, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spritual
dan terapi okupsi yang semuanya bertujuan untuk memperbaiki prilaku
klien dengan waham pada gangguan skizoprenia. Penatalaksanaan
yang terakhir adalah rehablitasi sebagai suatu proses refungsionalisasi
dan pengembangan bagi klien agar mampu melaksanakan fungsi
sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Waham
1. Pengkajian
Menurut tim Depkes RI (1994), pengkajian adalah langkah awal dan
dasar proses keperawatan secara menyeluruh. Pada tahap ini pasien
yang dibutuhkan dikumpulkan untuk menentukan masalah
keperawatan.
2. Patricia A Potter et al (1993) dalam bukunya menyebutkan bahwa
pengkajian terdiri dari 3 kegiatan yaitu: pengumpulan data,
pengelompokan data atau analisa data dan perumusan diagnosa
keperawatan. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber data yaitu
sumber data primer (klien) dan sumber data sekunder seperti keluarga,
teman terdekat klien, tim kesehatan, catatan dalam berkas dokumen
medis klien dan hasil pemeriksaan. Untuk mengumpulkan data
dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: dengan observasi, wawancara
dan pemeriksaan fisik.
Setiap melakukan pengkajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal
dirawat. Isi pengkajiannya meliputi:
a. Identifikasi klien
b. Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak
dengan klien tentang: Nama klien, panggilan klien, Nama perawat,
tujuan, waktu pertemuan, topik pembicaraan.
c. Keluhan utama / alasan masuk
Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien dan
keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga
untuk mengatasi masalah dan perkembangan yang dicapai.
d. Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami
gangguan jiwa
pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami, penganiayaan fisik,
seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan
tindakan kriminal.
Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang mungkin
mengakibatkan terjadinya gangguan:
C. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian atau kesimpulan yang diambil dari
pengkajian. Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual atau
potensial dan berdasarkan pendidikan dan pengalamannya perawat mampu
Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari
hasil pengkajian adalah:
1. Gangguan proses pikir; waham
2. Kerusakan komunikasi verbal.
3. Resiko menciderai orang lain.
4. Gangguan interaksi sosial: menarik diri.
5. Gangguan konsep diri; harga diri rendah.
6. Tidak efektifnya koping individu.

Sumber
 Mulyani.Yeni . .— Materi kuliah keperawatan jiwa . .— progsus pkm
rantau, 2009