Anda di halaman 1dari 52

PEDOMAN PELAYANAN

KAMAR OPERASI

RUMAH SAKIT SILOAM SILAMPARI


2018
DAFTAR ISI

BAB I : Pendahuluan …………………………………………………. i

A. Latar Belakang ………………………………………………. ii


B. Tujuan Pedoman ……………………………………………..
C. Ruang Lingkup Pelayanan …………………………………...
D. Batasan Operasional ………………………………………….
E. Landasan Hukum …………………………………………….

BAB II : Standar Ketenagaan……………………………………………..... .

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia …………………………...


B. Distribusi Ketenagaan ………………………………………...
C. Pengaturan Jaga ………………………………………………

BAB III : Standar Fasilitas ………………………………………………….. .

A. Denah Ruang ………………………………………………….


B. Standar Fasilitas ….…………….…………………………….

BAB IV : Tata Laksana Pelayanan …..……………………………………

BAB V : Logistik ……………………….………………………………..

BAB VI : Keselamatan Pasien …….….……………..…………………

BAB VII : Keselamatan Kerja ….…..……..……….......………………….

BAB VIII : Pengendalian Mutu …………………………………………….


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kamar operasi / Operating Theatre (OT) RS Siloam Silampari merupakan salah


satu unit khusus di Rumah Sakit (RS) yang berfungsi sebagai ruang tindakan
pembedahan, baik yang bersifat elektif maupun emergensi, selain itu juga berfungsi
untuk meningkatkan pemulihan kesehatan bagi pasien yang berfokus pada patient
safety (keamanan dan keselamatan pasien).
Keamanan dan keselamatan pasien selama di RS perlu diperhatikan oleh
karena itu OT sangat memerlukan perhatian khusus dalam hal fasilitas atau peralatan
yang harus memenuhi standar, dimana standar tersebut juga disesuaikan dengan
sentralisasi dari pelayanan di RS. Siloam Silampari, sehingga sangat besar manfaatnya
bagi pelayanan yang dikelola secara profesional baik dari segi fasilitas maupun
Sumber Daya Manusia (SDM) sesuai dengan kompetensinya.
Kompetensi SDM yang berada di OT sangat mempengaruhi mutu pelayanan
pasien selama berada dilingkungan OT untuk dilakukan tindakan pembedahan,
baik tindakan secara lokal maupun menggunakan pembiusan atau anestesi,
selain itu juga wajib dilakukan pemantauan serta pendokumentasian sesuai
dengan kriteria tindakan.
Kelengkapan pendokumentasian pada rekam medis pasien terutama di OT
dimulai sejak pasien masuk sampai dengan pasien keluar preparation room
(prep room) baik yang dilakukan oleh perawat, dokter bedah maupun dokter
anestesi merupakan alat ukur sebagai indikator mutu pelayanan di OT. Pelayanan
kesehatan di RS selalu meningkatkan mutunya dengan berbagai macam
usaha, salah satunya pendokumentasian catatan medik pasien yang dilakukan
oleh petugas kesehatan dalam memberikan perawatan baik yang berada di OT
maupun ruangan lainnya, sedangkan kelengkapan fasilitas peralatan dengan
tekhnologi canggih atau terkini bukan satu-satunya alat pembanding mutu dari RS.
Untuk mewujudkan hal itu, disusunlah Pedoman Pelayanan Kamar Bedah ini untuk
menjadi acuan setiap pelayanan yang akin diberikan di kamar operasi.

B. Tujuan Pedoman

Tujuan Umum
Sebagai bahan acuan penyelenggara pelayanan di OT RS. Siloam Silampari
Tujuan Khusus

1. Memastikan elayanan OT RS. Siloam Silampari berjalan secara efektif dan efesien.
2. Tersedianya sarana dan prasarana sesuai dengan standar kebutuhan
pelayanan di OT RS. Siloam Silampari.
3. Tersedianya sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan pelayanan dari
segi jumlah maupun kompetensi di OT RS. Siloam Silampari.
4. Tersedianya pedoman penerapan pengendalian mutu yang dilakukan di OT
RS.Siloam Silampari

C. Ruang Lingkup Pelayanan

Pelayanan yang diberikan kepada pelanggan yang berada di OT RS. Siloam


Silampari meliputi: tindakan pembedahan terhadap pasien yanag bersifat
terencana maupun emergensi, baik yang dilakukan dengan lokal anestesi maupun
dengan pembiusan. Pelayanan pembedahan di OT bisa berasal dari AE, IPD,
OPD, ODC, ICU/ HCU, LDS. Mengingat kedatangan pasien yang berasal dari
emergensi tidak dapat diprediksi, oleh karena itu, pelayanan terhadap pasien di
OT RS. Siloam Silampari berlangsung 24 jam setiap harinya, sehingga staf yang
bekerja di OT maupun dokter juga harus dalam keadaan siap memberikan
pelayanan, baik dengan ada di tempat (onsite) atau dengan panggilan jika ada pasien
sesuai jadwal jaga yang sudah ditentukan setiap awal bulan.

D. Batasan Operasional

Pelayanan terhadap pasien yang berada di OT dapat berasal dari ruang


rawat inap, One Day Care (ODC), Accident & Emergency, Labour Delivery Suite
(LDS), Intensive Care Unit (ICU). Pasien yang berasal dari ruang tersebut diatas
setelah dilakukan serah terima di transfer area dapat langsung masuk ke ruang
tindakan jika tindakan tersebut cito, sedangkan pada pasien yang electif atau
terencana masuk ke ruang preparation room dan dokter anesthesia atau tim bedah dapat
melengkapi assessment di ruang tersebut

E. Landasan Hukum

1. Undang-Undang RI No. 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan


2. Undang-Undang RI No. 44 tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
3. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 148 tahun 2010 Tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Perawat
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 46 tahun 2013 tentang Registrasi
Tenaga Kesehatan
5. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 17 tahun 2013 tentang perubahan 148
ijin praktek keperawatan.
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 31 tahun 2013 tentang penyelenggaraan
pekerjaan perawat anestesi
7. Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan.
8. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit.
9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1204/Menkesehatan tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

10. Standar Pelayanan Keperawatan Kamar Bedah di Rumah Sakit Tahun 2011
No 11 thn 2017 mengenai keselamatan pasien.
BAB II

STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia

1. KEPALA DEPARTEMEN KAMAR OPERASI

a. IDENTIFIKASI JABATAN

1. Nama jabatan : Koordinator dokter anestesi


2. Direktorat / divisi : Penunjang Klinis dan Pelayanan Medis
3. Departmen : Kamar Operasi
4. Atasan langsung : Kepala Divisi Pelayanan Medis
5. Bawahan langsung : Dokter-dokter anestesi

5.1 Kepala Perawat Ruangan


5.2 Staff CSSD

b. RINGKASAN/ TUJUAN JABATAN

Membantu Kepala Divisi Penunjang Klinis dan Pelayanan Medis, dalam hal
mengelola dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan di Kamar Bedah dan
Kamar Pemulihan serta CSSD sehingga dapat terlaksana dengan baik.

c. TANGGUNG JAWAB UTAMA

1. Membuat rencana kerja tahunan kegiatan kamar operasi


2. Merencanakan jumlah tenaga yang dibutuhkan dikamar operasi dan CSSD
sehingga efisien dan optimal.
3. Merencanakan dan mengusulkan jumlah dan jenis(termasuk penggantian
dan pengadaan baru) peralatan medis, perawatan, obat-obatan, serta barang
rumah tangga yang diperlukan dikamar operasi.
4. Merencanakan dan menyusun serta melaksanakan jadwal pertemuan berkala
dikamar operasi.
5. Melaksanakan dan mengawasi tata tertib pelayanan dikamar operasi sesuai
kebijakan yang ditetapkan.
6. Mengadakan dan memelihara kerjasama yang baik dengan bagian yang
terkait dalam hubungan fungsional.
7. Bersama-sama dengan karyawan yang menjadi tanggung jawabnya
menciptakan suasana kerja yang baik sehingga mutu pelayanan kepada
pasien dapat terjaga.
8. Menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik dikamar
operasi maupun antar bagian di lingkungan rumah sakit.
9. Memimpin, mengawasi dan mengkoordinasikan karyawan yang menjadi
tanggung jawabnya serta memberikan petunjuk untuk pelaksanaan tugas.
Apabila terjadi penyimpangan dapat mengambil langkah yang diperlukan
dan melaporkan hal tersebut, mengikuti dan mematuhi petunjuk serta
bertanggung jawab kepada atasan.
10. Mengawasi pelaksanaan pelayanan dikamar operasi.
11. Mengkoordinir tenaga yang membantu dalam pelayanan Dokter Spesialis
baik pelayanan medis maupun administratif.
12. Mengawasi tertib administrasi dikamar operasi antara lain rekam medis
pasien(termasuk resuma apabila pasien keluar dari ICU), administrasi
keuangan, obat-obatan, alat kesehatan, alat rumah tangga dan lain-lain.
13. Mengikuti rapat/ pertemuan rutin dengan Kepala Divisi Penunjang Klinis
dan Pelayanan Medis serta rapat/ pertemuan lain apabila diminta.
14. Menerima dan melaksanakan tugas sebagai anggota panitia/ subkomite atau
tugas lain atas penunjukan direktur.
15. Membuat laporan kegiatan kamar operasi secara berkala setiap triwulan dan
tahunan.
16. Melakukan pengawasan dan pengendalian bahaya dan resiko kecelakaan
kerja di kamar operasi, yaitu:
16.1 Memahami kebijakan K3 secara menyeluruh
16.2 Mengerti dan mampu melakukan prosedur tanggap darurat/
emergency prosedure.
16.3 Mampu melakukan pemantauan dan pengukuran kinerja K3
16.4 Mampu megisis formulir insiden/ kecelakaan kerja
16.5 Mampu melakukan investigasi dan analisa insiden/ kecelakaan
kerja.
17. Berpartisipasi dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien.

d. DIMENSI JABATAN

1. Dimensi Keuangan

 Bertanggung jawab atas pengelolaan budget dikamar operasi sesuai


dengan batas kewenangan
 Mengontrol stok persediaan barang, obat dan perlengkapan lainnya
yang berada dibawah kewenangan kamar operasi.

2. Dimensi Non keuangan

 Bertanggung jawab terhadap operasional kamaroperasi

e. HUBUNGAN KERJA

1. Internal Perusahaan

 Kepala Divisi Penunjang Klinis dan Pelayanan Medis


 Divisi Keperawatan
 Departemen/ unit terkait lainnya
 SMF

2. Eksternal Perusahaan

 Pasien dan keluarga pasien


 Instansi/ Perusahaan dan atau Rumah Sakitlainnya
f.. WEWENANG

1. Memberi dan membagi tugas karyawan yang

menjadi tanggung jawabnya untuk kelancaran pelayanan

kepada pasien

2. Membuat prosedur pelayanan dikamar operasi sesuai standar SiloamHospitals

3. Menganalisa kebutuhan, menyusun rencana pengembangan karir, mengendalikan

produktifitas serta menevaluasi kinerja SDM di kamar operasi.

4. Memberikan ijin dan cuti kepada karyawan yang menjadi tanggung jawabnya

sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan mempertimbangkan kelancaran

pelayanan kepada pasien dikamar operasi

5. Mempertahankan dan mengutamakan prinsip patient safety

g. SPESIFIKASI JABATAN
1. Latar Belakang Pendidikan
Minimal Dokter Spesialis Bedah/ Anestesi
2. Pengalaman Kerja
Memiliki pengalaman bekerja minimal 3 tahun dibidang profesinya.
3. Kualifikasi khusus
 Surat Tanda Registrasi(STR)
 Surat Ijin Praktek(SIP)

2. KOORDINATOR DOKTER ANESTESI


Koordinator Doter Anesthesia adalah seorang doter anesthesia yang dipilih oleh
direktur RS untuk menjadi koordinator dokter anesthesia yang ada di RS.

a. IDENTIFIKASI JABATAN
1. Nama Jabatan : Koordinator Dokter Anestesi
2. Direktorat/ Divisi : Penunjang Klinis dan Pelayanan Medis
3. Departemen : Kamar Operasi
4. Atasan langsung : Kepala Divisi Pelayanan Medis
5. Bawahan langsung : Dokter-dokter anestesi
b. RINGKASAN/ TUJUAN JABATAN

Membantu Kepala Divisi Penunjang Klinis dan Pelayanan Medis, dalam


hal mengelola dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan anesthesia di RS
sehingga dapat terlaksana dengan baik.

c. TANGGUNG JAWAB UTAMA

1. Membuat rencana kerja tahunan kegiatan anestesi


2. Merencanakan jumlah tenaga anesthesia yang dibutuhkan di RS untuk
memberikan pelayanan anesthesia dengan aman.
3. Merencanakan dan mengusulkan jumlah dan jenis(termasuk
penggantian dan pengadaan baru) peralatan medis, perawatan, obat-
obatan yg diperlukan untuk menjalankan pelayanan anestesi.
4. Merencanakan dan menyusun serta melaksanakan jadwal pertemuan
berkala dengan semi dokter anestesi.
5. Melaksanakan dan mengawasi kebijakan yang ditetapkan yang
berhubungan dengan pelayanan anestesi.
6. Mengadakan dan memelihara kerjasama yang baik dengan bagian
yang terkait dalam hubungan fungsional.
7. Mengawasi pelaksanaan pelayanan anesthesia di RS.
8. Mengikuti rapat/ pertemuan rutin dengan Kepala Divisi Penunjang
Klinis dan Pelayanan Medis serta rapat/ pertemuan lain apabila
diminta.
9. Menerima dan melaksanakan tugas sebagai anggota panitia/
subkomite atau tugas lain atas penunjukan direktur.
10. Membuat laporan kegiatan anesthesia secara berkala setiap triwulan
dan tahunan.
3. HEAD NURSE

a. Pendidikan
 Diutamakan S1 keperawatan/ Ners, pernah menjadi Ketua Tim/
Perawat
Primer atau Duty Manager
 Mengikuti pelatihan manajemen kepala bangsal keperawatan
 Mengikuti pelatihan CPR/ACLS

b. Ketrampilan Teknis

 Mampu menerapkan praktek manajemen operasional bangsal (perencanaan,


pengorganisasian, staffing, budgeting, controlling dan evaluating)
 Kepemimpinan dalam keperawatan
 Manajemen asuhan keperawatan
 Memahami masalah yang berkaitan dengan etik dan hukum keperawatan
 Menguasai prosedur keperawatan diarea masing2
 Mampu memberikan motivasi kepada orang lain
 Mampu melakukan komunikasi dengan baik terhadap semua tingkatan
 Mampu melakukan bimbingan & penyuluhan
 Mampu melakukan negoisasi dengan pihak terkait
 Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
 Memiliki ide-ide untuk pengembangan
 Mampu menganalisa setiap permasalahan dan menetapkan tindak lanjut
dari setiap permasalahan yang ada
 Mampu bekerjasama dengan dept. Lain
 Memastikan semua fasilitas penunjang berfungsi dengan baik
 Mampu menyusun perencanaan dan pelaporan secara akurat dan efektif
 Kemampuan menggali fenomena untuk penelitian dan menginisiasi
pelaksanaan penelitian klinik

c. Sikap & Kepribadian

 Jujur, bertanggung jawab, terbuka menerima masukan, dapat dipercaya


 Memiliki kepedulian sosial
 Dapat menjadi role model
 Mampu bekerjasama, disiplin, penampilan baik
 Loyalitas dan dedikasi tinggi

d. Kecakapan Lain
 Mampu berbahasa inggris denga baik (tulisan maupun lisan) dan bisa
mengoperasikan komputer dengan baik

4. PERAWAT BEDAH

a. Pendidikan

 Minimal D3 keperawatan AMD / S1 keperawatan Ners


 Mengikuti pelatihan kamar bedah
 Mengikuti pelatihan CPR/ACLS dan atau ATLS

b. Ketrampilan Teknis

 Menguasai standar asuhan keperawatan Bedah dan mampu bekerja


dalam tim
 Menguasai dan menerapkan manajemen asuhan keperawatan kamar
bedah dan Kepemimpinan yang efektif
 Memahami dan menerapkan peran fungsi dan tanggung jawab
sebagai perawat kamat operasi
 Memahami masalah yang terkait dengan dsisiplin, etik keperawatan, dan
hukum
 Menguasai prosedur keperawatan umum dan kamar bedah
 Mampu memberikan motivasi pada orang lain dan konsisten dalam
menetapkan peraturan RS
 Menciptakan lingkungan dan area kerja yang aman dan nyaman
 Mampu melakukan komunikasi dengan baik terhadap pasien dan profesi lain
 Sense of belonging
 Memiliki ide2 untuk pengembangan dan peningkatan mutu keperawatan
 Mampu menganalisa setiap permasalahan dalam tim dan melaksanakan
tindak lanjut dari setiap permasalahan yang ada
 Memastikan semua fasilitas penunjang berfungsi dengan baik dan lengkap
setiap hari
 Mampu menyusun perencanaan dan pelaporan setiap shift
 Membuat pendokumentasian asuhan keperawatan
 Membuat pendokumentasian asuhan keperawatan

c. Sikap & Kepribadian

 Jujur, bertanggung jawab, terbuka menerima masukan, dapat dipercaya


 Memiliki kepedulian sosial
 Dapat menjadi role model
 Mampu bekerjasama, disiplin, penampilan baik
 Loyalitas dan dedikasi tinggi

d. Kecakapan Lain

 Mampu berbahasa inggris denga baik (tulisan maupun lisan) dan bisa
mengoperasikan komputer dengan baik

5. PERAWAT ANESTESI

a. Pendidikan

 Minimal D3 keperawatan AMD / S1 keperawatan Ners


 Mengikuti pelatihan perawat anestesi
 Mengikuti pelatihan CPR/ACLS dan atau ATLS

e. Ketrampilan Teknis

 Menguasai standar asuhan keperawatan pasien dengan anestesi serta


mampu bekerja dalam tim
 Menguasai dan menerapkan manajemen asuhan keperawatan pasien dengan
anesthesia.
 Memahami dan menerapkan peran fungsi dan tanggung jawab
sebagai perawat anestesi
 Memahami masalah yang terkait dengan dsisiplin, etik keperawatan, dan
hukum
 Menguasai prosedur keperawatan umum dan kamar bedah yang
berkaitan dengan anestesi
 Mampu memberikan motivasi pada orang lain dan konsisten dalam
menetapkan peraturan RS
 Menciptakan lingkungan dan area kerja yang aman dan nyaman
 Mampu melakukan komunikasi dengan baik terhadap pasien dan profesi lain
 Sense of belonging
 Memiliki ide-ide untuk pengembangan dan peningkatan mutu keperawatan
 Mampu menganalisa setiap permasalahan dalam tim dan
melaksanakan tindak lanjut dari setiap permasalahan yang ada
 Memastikan semua fasilitas penunjang berfungsi dengan baik dan
lengkap setiap hari terutama alat-alat anestesi
 Mampu menyusun perencanaan dan pelaporan setiap shift
 Membuat pendokumentasian asuhan keperawatan
 Membuat pendokumentasian asuhan keperawatan

f. Sikap & Kepribadian

 Jujur, bertanggung jawab, terbuka menerima masukan, dapat dipercaya


 Memiliki kepedulian sosial
 Dapat menjadi role model
 Mampu bekerjasama, disiplin, penampilan baik
 Loyalitas dan dedikasi tinggi

g. Kecakapan Lain

 Mampu berbahasa inggris dengan baik (tulisan maupun lisan) dan bisa
mengoperasikan komputer dengan baik
6. ASISTEN PERAWAT KESEHATAN (HCA)

a. Pendidikan

 Lulusan SMU dan sederajat


 Diutamakan memiliki pengalaman minimal 1 tahun di Rumah Sakit sebagai
pembantu perawat/ pembantu orang sakit

b. Ketrampilan Teknis

 Dapat melaksanakan prinsip Universal Precaution dalam


menunjang tugasnya sehari- hari
 Mampu menyiapkan fasilitas kelengkapan linen untuk persiapan operasi
 Mengenal, memastikan dan menjaga semua fasilitas lengkap dan
berfungsi baik
 Mau meningkatkan pengetahuan ketrampilan, dan sikap professional
 Mampu menerapkan komunikasi yang baik dan benar kepada semua
customer Konsisten dalam menerapkan peraturan RS
 Menciptakan lingkungan dan area kerja yang bersih, aman, dan nyaman
 Mampu memberikan masukan dan ide2 untuk peningkatan mutu pelayanan
 Mengenal dan mengetahui lokasi tempat menyimpan barang2 dan alat2 untuk
operasi.

c. Sikap & Kepribadian

 Jujur, bertanggung jawab, terbuka menerima masukan, dapat dipercaya


 Memiliki kepedulian sosial
 Mampu bekerjasama, disiplin, penampilan baik
B. Distribusi Ketenagaan

Kategori Jumlah Kategori Peran dan Tugas Beban Kerja


Staf Kebutuhan Staf

HN/ 1 perawat Incharge Mengkoordinir jadwal operasi dan staff


Senior staf pershift

OT Room 3 perawat OT Perawat asisten Perawat  Perawat asisten menjadi asisten dokter
pertim pershift instrument Perawat sirkulasi bedah
 Perawat instrumen menjadi perawat
instrumentator bedah.
 Perawat sirkulasi bertugas
melengkapi
Recovery 1 Perawat Perawat anesthesi Bertugas menerima pasien dan memonitor
Room perhift pasien di prep room & RR.
Anesthesi 1 Perawat Perawat anesthesi Bertugas menjadi asisten dr Anestesi
Nurse perhift selama operasi berjalan.
HK 1 HK pershift Petugas kebersihan Bertugas untuk menjaga kebersihan di
lingkungan OT.

C. Pengaturan Jaga

Suatu organisasi pelayanan kesehatan terdiri dari beberapa departemen salah satunmya
adalah: departemen OT. Adanya departemen tentunya membutuhkan staf yang akan
memberikan pelayanan kesehatan yaitu tindakan operasi. Kebutuhan staf atau
ketenagaan disesuaikan dengan jenis pelayanan operasi yang dilakukan di OT Siloam
Hospitals, dimulai dengan operasi ringan sampai operasi berat serta tergantung juga
dari spesialisasi dokter bedah tersebut. Ketenagaan juga akan berkaitan dengan
sentralisasi atau center of excelleance dari masing-masing RS sehingga dapat
menentukan jumlah kebutuhan yang dimulai dari parawat di ruang pemulihan /
recovery room (RR), perawat steril (Perawat asisten & instrumen), perawat anestesi
maupun tenaga penunjang lainnya yang berkaitan dalam pelayanan di
OT.

Di RS. Siloam Silampari, pengaturan jaga sudah diatur dalam jadwal dinas setiap awal
bulan yang telah disusun oleh Head Nurse dan sudah disetujui oleh HDON dan Kepala
Departemen untuk 1 bulan ke depan yang terdiri dari minimal 1 perawat senior, 1
perawat bedah, 1 perawat instrumen, 1 perawat instrumen dan 1 perawat anesthesia
setiap shiftnya. Namun begitu, jika ada kebutuhan tenaga yang lebih pada waktu tertentu,
incharge malam akan mengatur kembali ketenagaan disesuaikan dengan jumlah
operasi dan kesibukan esok hari sehingga bisa mengefektifkan ketenagaan

Pengaturan jaga atau jadwal dinas adalah pengaturan tugas pelayanan bagi perawat untuk
melaksanakan tugas pelayanan di instalasi kamar operasi sehingga semua kegiatan
pelayanan bedah dapat terkoordinir dengan baik. Pengaturan dinas dibuat 4 shift dalam
24 jam yaitu:

 Dinas Pagi Jam 07.00 sampai dengan Jam 14.30.

 Dinas Midle Jam 09.00 sampai dengan Jam 17.00


 Dinas Sore Jam 13.00 sampai dengan Jam 20.30

Jika ada kekurangan tenaga untuk operasi diwaktu malam hari, terdapat jadwal On
Call yang berlaku dari Jam 20.30 sampai dengan 07.30 pagi.
BAB III

STANDAR FASILITAS

Standar Fasilitas

No Nama Fungsi Kebutuhan Fasilitas


Ruangan

1 Tranfer area Tempat melakukan 1. Brackhet hand srub

serah terima pasien. 2. Out let listrik

3. Bed site table

4. Outlet oksigen

5. Branchard transfer pasien

6. Petslide

2 RR (Recovery Ruang pemulihan 1. Tempat tidur pasien/ branchard


Room)
pasien paska tindakan 2. bed side monitor

3. brackhet handsrub.

4. Outlet oksigen dan suction sentral,

5. flow meter oksigen

6. Regulator suction jumlah sesuai dengan kapasitas


tempat tidur RR.

7. Warm air warmer, tempat sampah medis, non medis

3 CU Tempat menyimpan 1. Cabinet & hanging cabinet

linen bersih. box besar, sedang dan kecil

2. Cabinet double door dan key untuk tempat obat


narkotik.

3. Buku monitoring narkotik

4 Consultation Tempat menjelaskan 1.Meja, kursi dokter d an keluarga


Room pasien (3bh).
hasil operasi
2. X Ray viewer

3. Tempat sampah non medis

6 Medical Tempat menyimpan cadangan 1. Rak besi, jolly box kecil, sedang dan besar.
obat dan consumable OT
2. Foot step, Hygrometer

Supplies 3.Access door.


storage
4. Meja komputer

5. Kulkas untuk menyimpan obat

7 OT Room 1 Ruang tidakan 1. Lantai dari vinyl bersudut disetiap ruang OT.

pembedahan untuk operasi 2. Pendan 2 buah, mesin anesthesia, bed side monitor.
bersih
3. Meja operasi merk Mindray (arm board 2 bh, seat
belt)
4. Sumber listrrik selain dari PLN

harus tersambung generator & UPS

5. Lampu operasi

6.Trolley instrumen 2 bh, trolley gown 1 bh, trolley


mayo 1 bh, trolley intrubasi 1 bh, trolley spinal 1 bh,
trolley consumable 1 bh.

7. X Ray viewer 3 bank 1 bh, tempat sampah medis ,


non medis dan tempat sampah medis beroda, serta
tempat linen kotor.

8. Dingklik/foot step dan kursi untuk dokter anestesi


serta untuk operator dan asisten (jika operasi dalam
posisi duduk).
9. Jam dinding & hygrometer.
10.AC HEPA filter dan tekanan udara positif (suhu
18 -22°C, kelembaban udara 45 - 65% , Tekanan +8,
perputaran udara dari AC dan kultur udara 10 CFU/m3
(Kemenkes No 1204/ Menkes/ SK/ X/ 2004 hal 59
maupun KRS- SHOT - 001).

11.TV monitor dan komputer untuk membuka


Instapacs.
12.Troley alkes untuk bedah sesuai operasi

13.Troley alkes untuk anesthesia.

14.Rak stainless untuk menyimpan asesoris meja


operasi sementara.

8 OT Room 2 Ruang tidakan 1. Lantai dari vinyl dan bersudut disetiap ruang OT.

pembedahan untuk operasi 2. Pendan 2 buah, mesin anesthesia, bed side monitor.
umum
3.. Meja operasi merk Mindray (arm board 2 bh, seat
belt, penopang kaki 2 buah)

4. Sumber listrrik selain dari PLN harus tersambung


generator & UPS

5. Lampu operasi merk Mindray

9 OT Room 3 Ruang tidakan pembedahan 1. Lantai dari vinyl dan tidak bersudut disetiap ruang
untuk operasi minor OT.

2. Pendan 1 buah, mesin anesthesia, bed side monitor.

3. Meja operasi merk Mindray (arm board 2 bh, seat


belt, penopang kaki 2 buah)

4. Sumber listrrik selain dari PLN harus tersambung


generator & UPS

5. Lampu operasi merk Mindray

7. Trolley instrumen 2 bh, trolley gown 1 bh, trolley


mayo 1 bh,

8. Dingklik/foot step dan kursi untuk dokter anestesi


serta untuk operator dan asisten (jika operasi dalam
posisi duduk).
9. Jam dinding & hygrometer.

10. Troley alkes untuk bedah dan anestesi

11. Hepafilter udara positif (suhu 18 – 22°C,


kelembaban udara 45 – 65% Tekanan +8, perputaran
udara dari AC dan kultur udara 10

10 Storage Tempat menyimpan 1. Rakbesi tempat menyimpan asesoris meja operasi &
Equipment alat-alat yang tidak dipakai tolley asesoris orthopedic
pada saat operasi.
2. Troley Apron

3. High speed drill

4. Alat-alat medis untuk operasi(Mesin harmonic, C-


Arm dan monitor, TV monitor laparascopy, Mesin Cryo
surgery dll)

11 Steril Storage Tempat menyimpan 1. Rak besi, jolly box sedang dan
instrumen besar, serta container

12 Nurse Station Tempat menulis laporan 1. Meja nurse station, kursi, telepon, tempat sampah
maupun pendokumentasian non medis, tempat sampah medis
catatan rekam medis pasien.
2. Komputer dan printer & telepon.

3. Rak tempat menyimpan form.

4. Documentation book, booking book.

5. Jam dinding

6. White board dilapisi kaca.

13 DU Tempat menyimpan 1. Janitor, sink single bowl, cabinet/ rak tempat


depo sementara menyimpan plastik dan cairan desinfektan lantai.
(sampah dan linen)
serta lainnya. 2. Tempat menyimpan mop dan aksesorinya.

3. Bed pan washer & bedpan rack &


brackhet sharp box.
4. Tempat sampah medis, non medis

14 Ruang Ruang istirahat untuk tim 1. Tempat tidur tingkat, Meja sedang
OT

Istirahat

15 Change Room Ruang ganti staf dan dokter 1. Toilet, tempat sampah non medis.
Male & Female
2. Wastafel, tempat sampah, brackhet tissue dan trolley
linen.

3. Lemari tempat menyimpan barang-


barang berharga(loker)

4. Rak sandal dan sandal jumlah disesuaikan dengan


jumlah staf maupun OT yang dioperasionalkan dan
dokter bedah serta 1psg untuk dokter Anak, 1 psg
bidan,

5. Brachet face mask, nurse cap /surgeon cap dan


Linen trolley.

6. Locker untuk staf dan dokter.

16 Staf Lounge Ruang makan staf dan dokter 1. Dispenser, galon air minum, Meja
setelah melakukan tindakan. dan kursi makan

2. Meja dan Rak piring untuk menempatkan gelas atau


piring setelah dicuci.

3. Sink dan kran air mengalir, jam dinding.

4. Tempat sampah non medis

5. Canvas Board.

6. Kulkas makanan

17 Sterile Koridor Tempat lalu lalang staf dan 1. Scrub sink dan brackhet desinfektan dan cermin.
transfer bed pasien
2. Brackhet tissue dan tempat sampah non medis & jam
dinding.

3. Meja untuk apron plastik dan scrub brush


BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN

Jenis Pelayanan

Pelayanan pasien di RS khususnya dibagian OT dapat beroperasional selama 24 jam baik


yang bersifat elektif maupun emergency, untuk pelayanan pasien yang elektif tentunya dapat
diatur sesuai dengan ketenagaan maupun sistem kerja dibagian OT. Sistem kerja petugas atau
perawat dan dokter di OT dapat diatur dengan cara seperti jaga ditempat bagi perawat maupun
doter anesthesia sesuai dengan jadwal jaganya, hal ini untuk menghindari keterlambatan
tindakan bagi pasien yang masuk RS dengan kategori sangat membutuhkan pelayanan dengan
segera diunit OT

Pelayanan operasi elektif di RS Siloam Silampari mulai dari jam 07.00 sampai 20.00 WIB,
diluar jam itu akan diberlakukan sebagai operasi cito. Pelayanan Bedah yang bisa dilakukan
adalah
a. Bedah Umum
b. Bedah Orthopedi
c. Obsgyn
d. THT

Pembagian daerah-daerah di Kamar Operasi

a. Daerah Kotor

Daerah atau koridor jalur untuk distribusi linen kotor bekas operasi yang akan dipilah
dan dikirim ke Laundry. Juga alur instrument bekas operasi sebelum dikirim ke
CSSD untuk dilakukan pencucian dan penyeterilan.

b. Daerah Bebas

Daerah bebas merupakan daerah dimana pembatasan baju dan alas kaki masih
bisa dari luar/ belum perlu ganti baju dan alas kaki. (Pantry, Ruang tunggu,
Ruang konsultasi).
c. Daerah Bersih

Daerah pembatasan alas kaki, jadi petugas, keluarga pasien harus ganti alas kaki atau
melepas alas kaki jika ingin masuk area ini.

• Koridor transfer pasien


• Kamar ganti Pakaian dokter
• Kamar ganti Perawat
• Kamar persiapan dan pemulihan pasien d.
d. Area Semirestriktik

Area semirestriktik adalah daerah semisteril sehingga tidak dipekenankan


memakai baju dan alas kaki yang dari luar area kamar operasi. Semua petugas
harus bergati baju khusus kamar operasi dan mengganti alas kaki khusus kamar
operasi.

e. Area restriktik/ steril (kamar operasi dan koridor kamar operasi)


Area restriktik adalah daerah dimana pengunjung tidak diijinkan masuk, petugas harus
memakai perlengkapan khusus(topi, masker, alas kaki, pakaian khusus), harus ganti
baju, tidak boleh dirangkap.

A. Persiapan Lingkungan Kamar Operasi

a. Persiapan alat-alat

 Semua kebutuhan perlengkapan bedah dikemas atau dibungkus dengan


pembungkus steril yang memenuhi syarat.
 Kemasan atau pembungkus steril harus diperiksa terhadap:

o Keutuhan dari bungkusan atau kemasan tersebut (tidak robek, tidak terbuka,
tidak kotor).
o Kelembaban dari kemasan atau bungkusan.
o Tanggal steril harus tercantum di bagian luar pembungkus, tanda expire date
harus ada. Jika sudah expire, makan alat tidak boleh dipakai dan segera
dikirim ke CSSD untuk disteril ulang.

 Perlengkapan bedah yang dipergunakan untuk operasi sepsis, harus segera


diamankan agar tidak menyebabkan kontaminasi.
 Alat-alat bedah yang disposable tidak boleh diulang, harus segera langsung
dibuang.
 Tempat larutan antiseptik atau desinfektan yang dipakai di kamar bedah harus
sering diganti, paling sedikit seminggu sekali. Dan hanya digunakan untuk
perendaman alat-alat untuk operasi urologi.
 Alat-alat besar seperti: lampu operasi, meja operasi, alat-alat anestesi, troli-troli
yang dipakai untuk operasi dibersihkan dengan desinfektan tertentu setiap selesai
operasi.
 Khusus untuk alat harmonic scalpel, digunakan sampai 5 kali pemakaian. Setelah
dilakukan uji fungsi dan kultur sterilitas harmonic scalpel dalam 5 kali pemakaian
dan masih terbukti jika alat tersebut masih berfungsi dengan baik serta hasil
kultur sterilitas yang masih dalam batas aman untuk pemakaian.
 Persiapan alat-alat untuk operasi disiapkan tim operasi minimal 1 jam sebelum
jadwal operasi. Persiapan operasi dalam hal ini meliputi:

Persiapan instrument sesuai jenis operasi

Persiapan linen steril sesuai jenis operasi

Persiapan alat medis yang diperlukan sesuai jenis operasi

Persiapan consumable dan obat-obat yang diperlukan sesuai jenis operasi

b. Ventilasi

Udara yang masuk kamar bedah disaring bebas debu dan kuman, hepafilter diganti
setiap 12 bulan sekali, yaitu pada bulan Januari. Jika sebelum 12 bulan ada
ketidaknormalan pemantauan suhu, tekanan dan kelembaban kamar operasi, penggantian
hepafilter bisa saja dilakukan untuk mendapatkan hasil tekanan, suhu dan
kelembaban yang sesuai standar. Pemeriksaan kultur udara kamar operasi dilakukan
setiap 1 tahun sekali atau jika diperlukan. Suhu dan kelembaban udara
0 0
harus diatur, suhu antara 18 -22 C, kelembaban antara 45-65%, tekanan dibanding
dengan koridor diatas +8. Pemeriksaan suhu, tekanan dan kelembaban kamar operasi di
cek 3 kali sehari atau setiap pergantian shift, jika ada ketidaknormalan maka
petugas OT akan melaporkan hal tersebut kepada building maintenance agar bisa
segera dilakukan pemeriksaan dan perbaikan apabila diperlukan.

c. Persiapan Permukaan Kamar Operasi (Dinding, Lantai, Plafon)

 Lantai harus sudah dibersihkan dan dipel dengan cairan khusus( Hexaquart plus)
yang memang khsus dipakai untuk disinfeksi lantai kamar operasi.
 Pastikan meja operasi, meja instrumen, meja mayo sudah di lap dengan cairan
khusus untuk pembersihan permukaan meja stainless
 Pastikan semua asesoris meja operasi yang akin dipakai sudah dilap dan
dibersihkan dengan cairan khusus untuk operasi

B. Syarat-Syarat Bekerja di Kamar Operasi

a. Displin yang tinggi dalam menjalankan peraturan sepsis jangan banyak bicara.
b. Jangan banyak mondar-mandir dan usahakan jangan terlalu banyak orang dalam
kamar operasi.
c. Kesehatan dan kebersihan.
d. Petugas kamar operasi harus bebas dari kuman-kuman yang mudah ditularkan (karier
sangat sukar ditentukan).
e. Perlengkapan petugas:

Perlengkapan petugas yang ikut pembedahan:

Baju kamar operasi

Penutup kepala

Masker

Alas kaki atau sepatu dalam kamar operasi

Jas operasi steril


Sarung tangan steril

Perlengkapan petugas yang lain:

Baju kamar operasi

Penutup kepala

Masker

Alas kaki

C. Lalu Lintas di Lingkungan Kamar Operasi

Pada lalu lintas ini perlu diingat adanya daerah-daerah bebas, area semirestriktik, daerah
bersih dan area restriktik, lalu lintas meliputi:

1. Lalu lintas Petugas

Sarana pada lalu lintas petugas harus ditentukan adanya:

• Ruang ganti pakaian


• Perlengkapan-perlengkapan khusus
• Batas daerah bersih dan kotor

Batas-batas tersebut meliputi:

a. Petugas buka alas kaki, masuk ruang bedah lewat pintu khusus, menuju ruang ganti
pakaian (daerah bersih)
b. Petugas ganti pakaian dengan pakaian khusus bedah (tidak boleh dirangkap)
dan cuci tangan.
c. Pakaian petugas disimpan dalam lemari pakaian yang sudah disiapkan.
d. Petugas masuk dalam area restriktik dalam kedaan sudah memakai tutup
kepala, masker dan alas kaki khusus.
e. Bila sudah selesai bekerja petugas keluar melalui jalur yang sama waktu
masuk dengan meletakkan kembali perlengkapan-perlengkapan yang sudah
dipakai di tempat yang sudah ditentukan.

2. Lalu lintas Pasien


a. Pasien dikirim ke ruang bedah lewat koridor transfer pasien
b. Petugas kamar operasi menjemput dengan brankard kamar operasi di koridor
transfer. Pasien dibawa ke kamar persiapan (ganti baju dengan baju kamar
operasi).
c. Dari kamar persiapan, pasien dibawa ke kamar operasi dengan memakai
brankard di Instalasi Kamar Operasi, dipindahkan ke meja operasi, brankard
disimpan di luar kamar operasi (masih dalam area restriktik).
d. Selesai operasi pasien dibawa ke kamar pemulihan atau ruang sadar pulih
dengan menggunakan Brankard Instalasi Kamar Operasi dan memakai pakaian
bedah.
e. Pasien keluar dari kamar pemulihan menuju ruangan lewat pintu ruang pulih
sadar.

3. Lalu lintas Alat

Sarana untuk lalu lintas.

 Ruang untuk penyimpanan alat yang sudah steril.


 Alat pengangkut: troli atau meja kecil.

• Sebelum operasi dimulai, semua alat yang mungkin akan dipakai sudah
dipersiapkan di dalam kamar operasi.
• Setelah selesai operasi, semua alat yang sudah dipakai harus segera dibawa ke
tempat pencucian sementara lewat jalur khusus instrument kotor, kemudian
disiram dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa darah yang masih
menempel.
• Kirim instrument kotor yang sudah direndam di dalam cairan enzimatik tersebut ke
CSSD lewat lift khusus instrument kotor dan segera info kepada petugas CSSD
jika ada alat kotor.
• Instrumen dicuci, dipack, disterilkan dan dikirim kembali ke OT untuk disimpan
dan siap digunakan.
• Instrument yang sudah disterikan dan siap dipakai, dikirim oleh petugas CSSD
lewat lift khusus instrument bersih.
• Linen yang sudah dipakai dimasukan kedalam troley linen kotor setelah
sebelumnya diperiksa jika ada instrument tertinggal dan akan dikirim ke laundry
untuk tatalaksana selanjutnya.
• Alat–alat disposable yang sudah dipakai dimasukkan ke dalam kantong atau
tempat khusus dan dikirim ke bagian pembakaran.

D. Tata Laksana Pembedahan pada Pasien dengan HIV dan Hepatitis B dan C

a. Pasien direncanakan dilakukan operasi terakhir, supaya kamar operasi bisa


langsung dibersihkan setelah selesai pembedahan.
b. Linen untuk operasi menggunakan disposible dan langsung dibuang setelah pemakaian
c. Harus disiapkan:

o Apron plastik yang kedap cairan.


o Pelindung mata dan muka.
o Kantong plastik kuning yang tebal dan kedap air untuk tempat sampah bekas
operasi

d. Personil kamar operasi harus memakai apron plastik kedap air di bawah jas
operasi memakai pelindung mata (kaca mata) dan pelindung muka, memakai
sarung tangan rangkap dua.
e. Personil dalam kamar operasi sesedikit mungkin dan alat-alat yang diperlukan
saja, harus ada dua orang perawat keliling: 1 orang di dalam dan 1 orang lagi di
luar untuk menghindari kontaminasi ke luar ruangan.
f. Perawat keliling juga harus menggunakan sarung tangan, pelindung mata dan
muka, apron plastik kedap air di bawah jas operasi yang steril.
g. Harus memakai linen disposable, meja operasi dilapisi plastik supaya darah bekas
operasi tidak mengenai tempat tidur
h. Pasien dibawa ke ruang pemulihan setelah sadar benar.
i. Instrumen yang telah dipakai dipisahkan dengan instrumen yang lain dan segera
dikirim ke CSSD dengan diberikan tanda instrumen infeksius serta info kepada
petugas CSSD
j. Perawat yang mencuci instrumen tersebut harus memakai perlengkapan seperti:

• Sarung tangan yang kuat dan utuh.


• Apron plastik kedap air di bawah jas luar
• Pelindung mata (kaca mata), pelindung wajah ini sangat penting dengan
banyaknya percikan-percikan air yang mengandung kuman.

k. Alat anestesi (closed circuit) setelah dipakai disterilkan.


l. Setelah pembedahan, kamar operasi harus degera dilakukan pembongkaran dan
alat-alat yang telah dipakai harus segera dikirim ke CSSD dan info kepada
petugas CSSD jika alat tersebut dipakai untuk operasi dengan penyakit menular
m. Rahasia pasien harus dijaga kecuali tanda merah status.

E. Tata Laksana di Ruang Sadar Pulih

a. Semua petugas di ruang sadar pulih harus bebas dari penyakit yang menular melalui
pernapasan atau udara dan bebas dari luka terbuka.
b. Prosedur kewaspadaan universal harus dipatuhi dengan merujuk pada penularan lewat
darah.
c. Sebelum masuk ruang sadar pulih semua petugas harus mengganti pakaian dengan
pakaian yang khusus dipakai untuk bekerja di ruang tersebut, termasuk alas kaki,
pakaian tersebut tidak diperbolehkan dibawa ke luar ruangan, dan pakaian dari luar
tidak boleh dibawa masuk.
d. Semua pengunjung harus mengenakan gaun pelindung atau gaun dan alas kaki
pelindung yang disediakan sebelum memasuki ruangan.
e. Petugas diharuskan selalu mencuci tangan dengan sabun antiseptik setiap kali kontak
dengan pasien.
f. Semua petugas di ruang sadar pulih harus bebas dari penyakit yang menular melalui
pernafasan/udara dan bebas dari luka terbuka.

 Prosedur kewaspadaan universal harus dipatuhi dengan merujuk pada


penularan lewat darah.

 Sebelum masuk ruang sadar pulih semua petugas harus menganti pakaian
dengan pakaian yang khusus dipakai untuk bekerja diruang tersebut, termasuk alas
kaki,pakaian tersebut tidak diperbolehkan dibawa ke luar ruangan, dan pakaian
dari luar tidak boleh dibawa masuk.
Semua pengunjung harus mengenakan gaun pelindung/skort dan alas kaki
pelindung yang disediakan sebelum memasuki ruangan.

 Petugas diharuskan selalu mencuci tangan dengan sabun antiseptik setiap kali
kontak dengan pasien.
g. Pemantauan pasien selama di RR (mengacu pada Pedoman Pelayanan Sedasi dan
Anestesi)

• Doter anestesi akan melakukan evaluasi kondisi pasien setelah tiba di RR dan
memastikan pasien telah dipasang alat monitor respiratorik hemodinamik
dengan baik dan benar.
• Selama pasien di RR, pemantauan kondisi pasien akan dicatat dalam form
anestesia record.
• Pemindahan pasien dari RR ke ruangan atas instruksi dokter anestesi.
• Kriteria kelayakan pemindahan pasien dari RR ke ruangan dengan
menggunakan penilaian Aldrette score
BAB V

LOGISTIK

Alat Medis

Permintaan alat medis yang dipakai di OT yaitu: consumable, obat, instrument dan equipmen
dapat mengacu ke KRS-SHPUR-003.

Madical Supplies (Consumable), Obat dan Cairan Infuse

Medical supplies kategori barang yang digunakan oleh pasien atau barang sekali pakai
seperti syringe, gloves steril, obat dan implant, barang-barang tersebut jika dipakai maka
harus masuk ke dalam billing charge form lalu dimasukkan kedalam sistem sebagai input
pemakaian pasien, hal ini dilakukan oleh WCr yang bertanggung jawab di OT.

Jenis barang-barang dan obat khusus yang dipakai operasi tertentu hanya tersimpan di OT
sehingga staf yang bertanggung jawab terhadap storage tersebut bekerjasama dengan HN
OT bertugas untuk menentukan stock sesuai dengan kebutuhan.

Permintaan barang dan obat tersebut dapat indent melalui komputerisasi maupun secara
manual dengan cara mengisi formulir permintaan stock ward yang berasal dari farmasi,
sedangkan permintaan dapat disesuaikan dengan stok inisial atau minimal dan maksimal
barang yang berada di OT. Permintaan barang atau obat diluar stoek yang telah ditentukan
bersama farmasi maka harus diketahui HN OT.

Penyimpanan barang disposable terdapat di storage kemudian didistribusikan ke masing-


masing trolley OT sesuai dengan check listnya dan ruangan tersebut suhu dan
kelembabannya harus dimonitoring.

Troley Anesthesia

Troley anestesi di OT ada 2, masing-masing dipersiapkan untuk alkes-alkes dan obat-obatan


serta cairan infus yang biasa dipakai untuk anesthesia umum. Alkes, Obat, Cairan infus
yang
disediakan di troley anesthesia akan selalu di cek oleh petugas WCr untuk penginputan
pemakaian setiap kali operasi dan kemudian akan melengkapinya lagi untuk
operasi berikutnya. Untuk troley anesthesia khusus spinal digunakan meja stainless yang berisi
perlengkapan obat, alkes, cairan infus yang telah disiapkan oleh petugas WCr setelah
ada permintaan dari perawat anesthesia, setelah selesai operasi, meja beserta sisa obat, alkes
dan cairan infus yang tidak terpakai akan dikembalikan kepada petugas WCr untuk
mengecekan pemakaian dan penginputannya.

Instrumen

Instrumen yang berada di storage OT merupakan inventaris OT dan setiap pemakaian


instrumen harus masuk ke dalam billing charge form lalu dimasukkan kedalam sistem
sebagai input pemakaian pasien, hal ini dilakukan oleh WCr yang bertanggung jawab di OT.

Permintaan instrumen baru (diluar yang telah tersedia) harus menuliskan kebutuhan
penggunaannya serta harus menulis pada formulir permintaan (Purchase Requisition Form)
dan setelah lengkap ditandantangani maka form tersebut dikirim kebagian purchasing
untuk diproses lebih lanjut.

Penyimpanan barang tersebut harus terdata sebagai barang inventaris OT, setelah barang
tersebut steril penyimpananannya berada di steril store baik berupa set maupun single
instrument dan suhu serta kelembabannya harus dilakukan monitoring.

Equipmen

Equipment yang berada di OT masuk dalam kategori mesin yang digunakan untuk
kelengkapan tindakan operasi dan setiap pemakaian alat tersebut harus masuk ke dalam
billing charge form dan proses input pemakaian pasien sama dengan obat dan atau lainnya,
hal ini dilakukan oleh WCr yang bertanggung jawab di OT.

Permintaan alat / mesin baru (diluar yang telah tersedia) harus menuliskan kebutuhan
penggunaannya serta harus menulis pada formulir permintaan (Purchase Requisition Form)
dan setelah lengkap ditandatangani atasan maka form tersebut dikirim kebagian purchasing
untuk diproses lebih lanjut. Penyimpanan barang tersebut harus terdata sebagai barang
inventaris OT dan penyimpananannya berada di equipment store, suhu dan
kelembambannya juga harus di monitoring.

Troley Emergency

Troley emergency ada 1 di kamar operasi, ditempatkan di RR sehingga jika ada kejadian yang
tidak diinginkan pada pasien post operasi yang ada di RR bisa cepat untuk mengambil
tindakan yang diperlukan. Pengecekan mesin DC Shock, alat laryngoscope beserta bladenya
diakukan setiap pagi oleh perawat anesthesia. Untuk pengecekan kelengkapan isi dari
emergency troley, dilakukan oleh petugas farmasi setiap bulan sekali dengan didampingi
petugas WCr saat pengecekannya. Setelah diakukan pengecekan kelengkapan isinya,
emergency troley kembali dikunci dengan nomer kode yang akin dicatat oleh petugas farmasi
tersebut. Jika ada kekurangan barang, petugas farmasi segera mencari tahu kemana
perginya atau kekurangan barang tersebut. Setiap pemakaian akes atau obat yang
berasal dari emergency troley, harus melaporkan kepada farmasi untuk segera mendapatkan
ganti barang dan dikunci kembali.

Permintaan barang yang bukan milik RS

Permintaan barang yang bukan milik RS tetapi akan dipakai operasi maka staf OT untuk
memintanya harus mengacu pada KRS-SHPUR-03.

Alat Keperawatan

Alat-alat yang digunakan di OT yang berhubungan dengan keperawatan antara lain


stetoskeope, tensimeter manual, flow meter oksigen, pen light, suction regulator termasuk
kategori barang yang tidak di charge ke pasien. Permintaan barang-barang tersebut
menggunakan (Purchase Requisition Form) yang ditanda tangani oleh HN OT sampai
dengan Direktur lalu diserahkan ke purchasing untuk dilakukan proses pemesanan.

Setelah barang datang maka dilakukan pengecekan dari purchasing bersama HN OT /


incharge yang telah didelegasikan oleh atasannya maka setelah itu menjadi tanggung
jawab dari HN OT dan harus dilakukan inventarisasi agar memudahkan pengontrolan
sehingga bila terjadi sesuatu cepat diketahui penyebabnya.
Tenun

Permintaan tenun yang terdapat di OT dapat dikategorikan menjadi:

1. Fasilitas tempat tidur pasien / transfer bed, meja operasi, antara lain: Sheet,
draw sheet, pillow sheet & pillow protector.
2. Fasilitas staf OT yang terdiri dari OT scrub dengan berbagai ukuran yang dimulai
dari ukuran S sampai dengan XXL.
3. Proses permintaan sama dengan peralatan.
4. Penyimpanan dapat di linen storage dan sebagian didistribusikan ke change room.
5. Inventaris harus dilakukan disesuaikan dengan jadwal dari pihak yang terkait.

Alat Tulis Kantor

Permintaan alat tulis kantor atau masuk dalam kategori alat yang tidak di charge
ke pasien maka dapat mengacu pada (PT_SHMD_002) yang terdiri dari:

1. Kertas HVS, spidol permanen maupun non permanen, formulir yang dipakai
departemen OT.
2. Permintaan ditulis pada formulir permintaan atau disesuai dengan sistem yang ada.

Alat Rumah Tangga

Permintaan alat rumah tangga yang terdapat di OT adalah alat yang


dipergunakan di staf lounge antara lain:

1. Dispenser dan galon air minum. The, kopi dan gula.


2. Rak piring yang digunakan untuk meletakkan gelas maupun piring staf setelah

dicuci. Permintaan prosesnya sama dengan permintaan barang atau alat keperawatan.
BAB VI

KESELAMATAN PASIEN

Pengertian

Keselamatan pasien menjadi tanggung jawab semua staff di Siloam Hospitals yang
bertugas dimana pasien tersebut berada. Keselamatan pasien tersebut merupakan salah
satu indikator mutu pelayanan RS, mutu pelayanan pasien yang berfokus Patient Safety di
OT dimulai sejak persiapan pasien diruangan, sebelum, selama dan setelah dilakukan
tindakan, dimana hal ini berfokus pada International Patient Safety Goals (IPSG) dan
mengacu dari buku Joint Commission International Accreditation (JCIA) selain itu juga
dari buku Standarisasi Akreditasi Nasional.

Tujuan

Penatalaksanaan dari keselamatan pasien bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan


terhadap pasien, pengunjung maupun staf yang berada di Siloam Hospitals sesuai dengan
standar yang tercantum pada IPSG.

Tata Laksana IPSG adalah:

A. Identifikasi Pasien (IPSG 1).

Identifikasi pasien dilakukan oleh seluruh petugas pelayanan di OT yang dimulai dari
transfer area, preparation room, sebelum dilakukan pembiusan sampai dengan pasien
selesai dilakukan tindakan pembedahan yaitu di RR maupun pada saat serah terima dengan
perawat ruangan.

Pada saat penerimaan pasien di transfer area, identifikasi pasien dilakukan dengan meminta
pasien menyebutkan nama dan nomer MR dan dicocokkan dengan gelang pasien dan data di
medical record. Pemberian antibiotik profilaksis sebelum operasi juga kita tanyakan
dahulu
nama dan nomer MR pasien serta kita tunjukkan expire date yang tertera pada label obat yang
akin kita berikan.

B. Meningkatkan Komunikasi Efektif (IPSG 2)

Komunikasi secara efektif di RS seperti misalnya instruksi yang diberikan melalui


telepon, dituliskan pada formulir integrated note, kemudian diberikan tanda (sign here)
setelah dibacakan dan diberikan steampel Read Back disamping pesanan tersebut atau
pada kolom nama dan tanda tangan.

Pada saat hand over pasien yang akan dilakukan operasi, pastikan semua instruksi dari dokter
dibaca ulang sehingga tidak akan ada kesalahan karena salah dengar atau salah persepsi.

Hand over mengacu kepada form catatan keperawatan peri operatif (SHNUR1506.03/2)

C. Penanganan Obat Kewaspadaan Tinggi (High Alert) (IPSG 3).

Penanganan obat dengan kewaspadaan tinggi/ high alert dilakukan oleh farmasi, obat-
obat yang termasuk dalam daftar obat tersebut akan diberikan label high alert oleh petugas
farmasi dfan disimpan dalam lemari terpisah (SPO-SHG-QR-003).

Obat high alert yang tersedia di kamar operasi antara lain, propofol, heparin inj, lidocain inj.
Dalam pemakaiannya staff yang bertanggung jawab adalah perawat anestesi.

D. Mengurangi Resiko Salah Pasien dan Tindakan Operasi (IPSG 4)

Di OT wajib dengan cara Site Marking dan Time Out.

1. Site Marking (SHG-820)


a. Pemberian tanda atau site marking dilakukan oleh dokter yang akan
melakukan tindakan dapat dimulai sejak dari OPD, rawat inap, ODC, ETC dan
yang terakhir dapat dilakukan di transfer area maupun di preparation room.
b. Penadandaan tersebut melibatkan pasien atau keluarganya khususnya anak-
anak yang belum dapat menyampaikan adanya masalah yang dirasakan atau
dialami atau pasien dengan gangguan pendengaran maupun gangguan
penglihatan bisa juga pasien yang tidak sadar.
c. Penandaan lokasi operasi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan
surgical marker jika belum tersedia, maka dapat spidol yang tidak
mudah luntur.
d. Penandaan tersebut dilakukan pada anggota tubuh yang memiliki dua
bagian yaitu kanan dan kiri, anggota tubuh yang memiliki banyak
stuktur (jari- jemari tangan dan kaki) dan anggota tubuh yang memiliki
tingkatan (tulang belakang / cervical sampai sacrum).
e. Penandaan tersebut dengan diberikan inisial dokter yang akan
melakukan tindakan pada pasien tersebut.
f. Penandaan yang akan dilakukan pada pencabutan gigi maka dapat
dilakukan pada foto rontgent gigi pasien.

2. Time Out (KRS-SHAMA-001, hal 12 point 5.3.7.5)

Pelaksanaan Time Out dapat dilakukan dengan 3 tahap antara lain: dimulai
dari ruang persiapan, proses time out yang dilakukan di ruang tindakan dan
sebelum dilakukan penutupan rongga operasi.

a. Pelaksanaan Time Out di OT Room

1. Time out dilakukan sesaat sebelum insisi dilakukan.


2. Proses time out dapat dimulai jika semua tim sudah siap dan semua
tim berada di ruang tersebut.
3. Proses time out dipimpin oleh operator, dan dilakukan oleh perawat si
rkulasi.
4. Hal-hal yang harus disebutkan saat melakukan time out adalah

 Identitas masing-masing tim


 identitas pasien
 cek informed consent
 sisi prosedur (cek site marking dan foto radiolgi)
 posisi pasien selama prosedur
 Antisipasi kejadian kritis:
o Dokter operator (antisipasi kehilangan darah,
kemungkinan kejadian di luar rencana prosedur, perkiraan
lama prosedur)
o Dokter anestesi (perhatian khusus terkait anestesi)
o Perawat Scrub (sterilisasi instrument sudah
dikonfirmasi, masalah/perhatian khusus terkait alat)
 Antibiotik profilaksis diberikan 60menit terakhir
 Tromboprofilaksis diberikan/tidak
 Implant tersedia dan siap digunakan (bila dipakai)

5. Pada saat membacakan Nama, MR, Date of Birth (DOB) pasien


perawat anestesi mencocokkan label yang digunakan pasien tersebut.
6. Jenis tindakan yang dibacakan adalah dari formulir IC bedah.

7. Setelah proses time out selesai, operasi dapat segera dimulai.

b. Kelengkapan Pendokumentasian

Proses time out & site marking harus dilakukan pendokumentasian


secara lengkap oleh semua tim yang melakukan tindakan pada pasien tersebut
didokumentasi di form penandaan lokasi operasi.

E. Pencegahan Infeksi (IPSG 5).

Pencegahan terjadinya infeksi di OT dengan cara penerapan universal precaution


yaitu cuci tangan yang dilakukan oleh semua staff, Cuci tangan tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan alkohol gel maupun air mengalir. Cuci tangan
bertujuan untuk mencegah penyebaran mikroorganisme melalui tangan:

Prosedur cuci tangan yang dilakukan oleh staff OT untuk membantu tindakan pembedahan
terhadap pasien tentunya berbeda dengan petugas kesehatan yang lain.
Prosedur cuci tangan tim steril adalah sebagai berikut:

1. Lipat lengan baju dan gunakan APD.


2. Rapihkan rambut, topi dan masker dengan melihat kaca.
3. Alirkan air yang berada di scrubsink lalu basahi tangan sampai kira-kira 5cm
diatas siku.
4. Alirkan larutan antiseptic pada telapak tangan kemudian ratakan keseluruh
lengan sampai siku dan mulai menggosok tangan sesuai dengan cara 6 langkah
cuci tangan kurang lebih selama 2 menit.
5. Gosok jari-jari dan sela-sela dengan menggunakan sikat steril yang berisi larutan
desinfektan.
6. Bilas tangan dibawah air mengalir mulai dari ujung jari sampai diatas siku
dengan posisi tangan menghadap keatas dan siku setinggi umbilicus.
7. Ulangi prosedur cuci tangan dari nomor 4 sampai nomor 6.
8. Bilas lengan sekali lagi seperti pada nomor
9. Matikan sumber air yang mengalir kemudian lakukan pengeringan tangan dengan
menggunakan hand towel steril.
10. Ambil larutan alkohol dan letakkan pada telapak tangan lalu ratakan sampai
dengan punggung tangan dan biarkan sampai mengering.
11. Ambil gown steril dengan memegang bagian dalam dan bagian lalu pegang
bagian leher sampai dengan proses pengikatan selesai.
12. Selanjutnya menggunakan dengan cara tehnik steril.

F. Pencegahan Resiko Pasien Jatuh (IPSG 6)

Mencegah terjadinya pasien jatuh selama berada di OT dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut :

1. Pada saat dilakukan perpindahan atau penggeseran dari transfer bed ke meja
operasi roda tempat tidur dalam keadaan terkunci.
2. Bedside rail tempat tidur selalu terpasang.
3. Selama berada di meja operasi seatbelt dalam posisi terpasang.
4. Pada saat monitoring pasien di RR, pastikan bedside rail selalu terpasang,
posisikan branchard pada posisi terendah, monitor selalu kesadaran pasien post op
5. Pasca operasi pasien memiliki resiko jatuh pasca anestesi, maka pasien pin kuning
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Sarung Tangan

1. Memakai sarung tangan (bersih non steril dan adekuat) bila akan kontak dengan
darah, cairan tubuh atau substansi lainnya.
2. Gunakan sarung tangan bersih bila akan kontak dengan mucus, membrane atau luka
terbuka.
3. Ganti sarung tangan di antara dua pekerjaan atau prosedur pada pasien yang sama.
4. Lepaskan sarung tangan segera setelah dipakai secara benar dan pada saat akan
memegang benda yang bersih atau pindah ketempat lain.
5. Cuci tangan segera.

Keamanan Kerja

1. Semua staf yang akan melakukan tindakan pembedahan kepada pasien dengan
resiko terpapar cairan tubuh pasien wajib menggunakan APD seperti apron, goeggles
sarung tangan.
2. Menutup luka atau goresan kulit sebelum melakukan tindakan terhadap pasien.
3. Sesering mungkin melakukan cuci tangan sebelum maupun setelah
melakukan tindakan kepada pasien.
4. Berhati-hati pada saat melakukan tindakan dengan menggunakan benda tajam.
5. Untuk mencegah terjadinya bahaya atau tertusuk jarum bekas pakai pasien, pada
saat melepas jarum menggunakan pengaman atau klem dan menggunakan tempat
yang aman.
6. Setiap insttumen yang akan dipakai atau setelah dipakai harus dilakukan
penghitungan sebelum dikirim ke CSSD.

Manajemen Lingkungan Kerja

1. Kebersihan lingkungan OT harus selalu terjaga, pembersihan dilakukan setiap hari


sebelum aktifitas kegiatan operiasi dan setiap OT selesai dipergunakan.
2. Mempertahankan kebersihan sandal yang dipergunakan oleh perawat maupun dokter,
sehingga pembersihan dilakukan pada sore hari atau pagi hari sebelum ada aktifitas
di OT.
3. Menjaga kebersihan pantry dari sampah sisa makanan sore atau malam
hari.
4. Menjaga keamanan linen kotor dilakukan dengan cara: isi tidak melebihi ¾ kantong
kemudian dilakukan pengikatan setiap selesai tindakan pembedahan.
5. Kantong sampah medis maupun non medis isi juga tidak melebihi ¾ kantong lalu
dilakukan pengikatan setiap kali selesai operasi.
6. Setiap selesai tindakan ruangan OT wajib dibersihkan agar siap digunakan setiap
saat.
7. Penempatan barang-barang selesai dipakai harus dikembalikan pada tempat asalnya.

Antisipasi Kejadian Bencana

Kejadian bencana alam di negara kita tidak bisa di prediksi kapan waktu dan
bentuknya, oleh sebab itu untuk mengantisipasi kejadian-kejadian di luar praduga
manusia maka di OT Siloam Hospitalss menentukan pembagian tugas yang
diberlakukan pada setiap OT maupun setiap shift yang akan dibagi dan dituliskan
pada papan pembagian jadwal K3 oleh HN pada pagi hari.

Bila Terjadi Percikan Darah atau Bahan Kimia.

1. Petugas yang terkena paparan cairan tubuh pasien pada daerah selaput lendir
segera
lakukan bilas dengan air yang mengalir atau air bersih atau dengan cairan fisiologis
(NaCL 0.9%).
2. Setelah dibersihkan segera berobat ke emergency.
3. Jika bahan kimia yang tertumpah adalah bahan mudah terbakar, segera matikan
sumber listrik yang mungkin dapat mengeluarkan api seperti diathermy mesin.
4. Jika terjadi tumpahan darah dilantai segera buka spill kit yang berisi sarung tangan
atau gloves, apron, bubuk hipoklorit, sendok kecil dan masker.
5. Dengan cara memakai masker, gloves, apron bila perlu taburkan bubuk hipoklotit
diatas tumpahan darah lalu tutup dengan tissue.
6. Hubungi petugas house keeping untuk segera membersihkan tumpahan tersebut.
7. Lakukan pelaporan dengan cara menuliskan kejadian pada formulir incident
report non medis.

Bila Tertusuk Jarum Bekas Pakai

1. Petugas segera membersihkan luka tusukan dengan cara mencuci dengan air yang
mengalir dan sabun lalu bilas dengan alkohol serta hindarkan menekan luka
tersebut.
2. Segera periksa ke dokter perusahaan atau ke emergency bila di luar jam dinas atau
hari libur.
3. Memberitahu atasan dan infection control nurse.
4. Membuat laporan kejadian dan melaporkan tim K3 RS dan QR Departement.
5. Melakukan tindakan profilaksis dan pemeriksaan sampel darah (bila ada indikasi
hepatitis atau HIV).
6. Melakukan tindak lanjut pemeriksaan bila hasil posistif (1, 3, 6 bulan) setelah
kejadian

Ergonomi Bekerja

Terkait dengan ergonomi beberapa posisi aktivitas saat bekerja dan sikap tubuh yang benar
sebagai berikut:
a. Duduk.

Perhatikan pemilihan kursi yang dapat mendukung bagian belakang tubuh kita pada
posisi yang benar dan atur tinggi rendahnya agar posisi kaki dapat menapak di
lantai dengan nyaman. Sebisa mungkin mengosongkan isi kantong celana bagian
belakang agar tidak mengganggu keseimbangan bagian belakang tubuh kita. Isi
dompet yang tebal di kantong celana juga dapat membuat nyeri punggung bawah
karena adanya tekanan yang besar dan terus menerus terhadap otot bokong.

b. Berdiri.

Pekerjaan yang dilakukan berdiri maka salah satu kaki harus di istirahatkan secara
bergantian yaitu: letakkan salah satu kaki di atas sesuatu yang letaknya lebih
tinggi dari kaki yang sebelahnya dan hindari membungkuk atau miring ke
samping. Hindari juga penggunaan sepatu hak tinggi bagi pekerjaan yang
dilakukan dengan cara berdiri dan berjalan.

b. Mengambil benda yang lebih rendah.

Jika benda yang diambil lebih rendah letaknya hindari posisi membungkuk setinggi
pinggang, cara yang salah dapat menimbulkan nyeri punggung bagian bawah dan
risiko terjadi cedera otot.

c. Mengambil benda yang lebih tinggi.

Jika benda yang akan diambil lebih tinggi letaknya maka harus memperhatikan
seberapa jauh jangkauan tangan kita. Apabila pada posisi tersebut menyebabkan
tangan kita membentuk sudut lebih dari 120º terhadap tubuh kita, maka kita
harus menggunakan ala bantut seperti: meja, kursi, dan tangga.

d. Mengangkat beban

Cara atau teknik mengangkat beban yang benar, yaitu:

1. Posisikan kedua kaki secara terpisah, salah satu berada didepan kaki
yang lainnya agar stabil dan kuat.
2. Tekuk lutut, posisi jongkok, menghadap beban yang diangkat.
3. Pegang beban, angkat beban, tarik beban mendekati tubuh.
4. Angkatlah beban dengan menggunakan otot-otot kedua kaki.
5. Jaga punggung agar tetap lurus begitu juga kepala saat mengangkat
beban hingga proses mengangkat selesai (posisi berdiri).
6. Usahakan semua gerakan dilakukan secara halus, hindari melakukan
gerakan menghentak atau gerakan memutar.
e. Membawa beban

Pada saat membawa beban jangan melakukan hentakan mendadak atau gerakan
memutar/menyamping, karena kondisi ini akan menyebabkan tekanan yang lebih
besar di bagian punggung bawah, terutama bila hal ini dilakukan secara berulang.
Ketika membawa beban, usahakan posisi tubuh adalah berdiri tegak saat berjalan,
jangan terlalu membungkuk (ke depan atau ke belakang), posisi beban mendekati
tubuh dan jika jarak tempuhnya cukup jauh, sebaiknya menggunakan bagian bahu
dan bila terlalu berat, maka harus diangkat dengan bantuan pekerja lainnya.

Batasan mengangkat beban menurut International Labour Organization (ILO),


adalah sebagai berikut:

 Laki-laki dewasa 40 kg
 Perempuan dewasa 15-20 kg
 Laki-laki (16-18 tahun) 15-20 kg
 Perempuan (16-18 tahun)12-15 kg

Selain memperhatikan posisi aktivitas saat bekerja dan sikap tubuh, maka harus
juga diperhatikan masalah pengaturan kegiatan atau proses kerja, peningkatan
pengetahuan cara mengangkat beban, dan pengawasan terhadap para pekerja.
Pengaturan kegiatan adalah sebagai berikut:

 Frekuensi pergerakan harus diminimalisasi.


 Jarak tempuh dalam mengangkat beban harus dikurangi.
 Alat bantu mekanik tetap harus dimanfaatkan setiap saat.
 Selalu memanfaatkan prinsip-prinsip ergonomi yang relevan.
 Beban sebaiknya tidak diangkat dengan posisi yang terlalu tinggi, dan kondisi
jalan yang akan dilalui tidak licin.
BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

Sasaran Mutu OT

Sasaran mutu yang terdapat di departemen OT dilakukan dengan cara monitoring data
maupun mengantisipasi terjadinya keterlambatan sesuai dengan rencana atau jadwal
tindakan. Monitoring sasaran mutu di OT yang dilakukan antara lain:

1. Kelengkapan procedure safety checklist 100%


2. Time out & site marking 100%
LAPORAN

Jenis Laporan

Laporan yang harus dilaporkan setiap bulannya (sebelum tgl 3) antara lain:

No Jenis Laporan Ditujukan Ket

1 Dashboard OT CEO, Direktur, QR,


HDON, ICN, KaDept OT,
a. Utilisasi operasi Medical record

b. Pemakaian kamar operasi

c. Jenis-jenis pembiusan

d. Criteria operasi

e. Keterlambatan operasi

f. Jenis-jenis operasi

2 Laporan FTE/ jadwal dinas HDON, HRD

3 Audit cuci tangan ICN

4 Pemantauan pemberian antibiotik QR, HDON


profilaksis

5 Incident Report QR

6 PDSA sasaran mutu QR

7 Pemantauan pelaksanaan time out QR


A. Laporan Mutu

Laporan bulanan yang masuk dalam kategori mutu adalah:

 Kelengkapan informed consent tindakan pada saat pasien di terima di transfer


area.
 Pemberian antibiotik profilaksis

 Keterlambatan operasi, mundur dari jadwal yang sudah ditentukan


 Ketidaksesuaian diagnosa medis pre operasi dengan post operasi

 Kelengkapan informed consent Anesthesia

 Kelengkapan pengisian Laporan operasi

 Kelengkapan pengisian laporan anesthesia

 Laporan re open surgery dalam 2x24 jam

 Laporan efek sedasi

 Laporan adanya konversi anesthesia epidural menjadi GA

B. Laporan Audit Cuci Tangan

Laporan audit cuci tangan dilakukan random selama 1 bulan untuk memantau
kepatuhan staff dalam menjalankan 5 langkah cuci tangan. Audit dilakukan oleh link
infection control yang ada di OT dan akan dilaporkan kepada Infection control RS
setiap akhir bulan.

Frekuensi Pelaporan

Laporan Harian

Laporan harian dikirim via email kepada Medical Record untuk dibuat laporan OTR Medical
Record. Laporan ini juga dikirim ke Director, CEO, Kepala Dept OT. Laporan ini
berisi tentang operasi hari kemarin, keterlambatan operasi, batal atau jadi operasi
beserta alasan batalnya, rencana operasi hari ini dan rencana ketenagaan.

Laporan Bulanan

Laporan bulanan harus masuk kebagian masing-masing paling lambat adalah setiap
tangga 03 pada bulan yang sedang berjalan, laporan dikirimkan melalui email kepada:
 Direktur Operasional dan Head Division of Ancillary Clinical anatar lain: Clinical
indicator, Laporan mutu, laporan kinerja staf, FTE & Dashboard OT.
 QR : Clinical indicator, laporan mutu dan Dashboard OT.
 HDoN : FTE & Dashboard OT.
 Medical Record : Dashboard

Laporan Tahunan

Laporan tahunan dibuat berdasarkan data laporan bulanan selama satu tahun dimulai dari
bulan Januari sampai Desember, kemudian data tersebut dianalisa sesuai dengan program
maupun target / budget pencapaian dari OT serta tindak lanjut dari program tersebut maupun
program kedepannya.
BAB X

PENUTUP

OT RS Siloam Silampari merupakan salah satu unit khusus di Rumah Sakit yang berfungsi
sebagai ruang tindakan pembedahan, baik yang bersifat elektif maupun emergensi, selain itu
juga berfungsi untuk meningkatkan pemulihan kesehatan bagi pasien yang berfokus pada
patient safety. Keamanan dan keselamatan pasien selama di RS perlu diperhatikan, oleh
karena itu OT sangat memerlukan perhatian khusus dalam hal fasilitas atau peralatan
yang harus memenuhi standar, dimana standar tersebut juga disesuaikan dengan
sentralisasi dari pelayanan di Siloam Hospitals, sehingga sangat besar manfaatnya
bagi pelayanan yang dikelola secara profesional baik dari segi fasilitas maupun SDM
sesuai dengan kompetensinya.

Pelayanan kesehatan di RS Siloam Silampari selalu meningkatkan mutunya dengan


berbagai macam usaha, selain dari pendokumentasian catatan m e dic pasien yang
dilakukan oleh petugas kesehatan dalam memberikan perawatan baik yang berada di
OT maupun ruangan lainnya juga didapatkan dari survey pelayanan pasien selama berada
di OT, sedangkan kelengkapan fasilitas peralatan dengan tekhnologi canggih atau terkini
bukan satu-satunya alat pembanding mutu dari RS.

Buku Pedoman Pelayanan OT Siloam Hospitals disusun sebagai sarana yang dapat
membantu dalam pengaturan maupun monitoring pelayanan, efektifitas, efesiensi serta
keamanan dan keselamatan yang berfokus pada patient safety selain itu juga dapat
berfungsi sebagai pedoman untuk meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan harapan
semua pelanggan

Ditetapkan
Lubuk Linggau, 08 Januari 2018

Direktur RS Siloam Silampari

Dr. Susanti Abdiwijaya, M.Biomed