Anda di halaman 1dari 23

HALAMAN JUDUL

PEMBIAYAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN

”Aspek hukum pembiayaan dan penganggaran kesehatan serta pencegahan korupsi”

OLEH :

OLEH
KELOMPOK 7

ERICK APRIANSYAH FAUZI (J1A117200)


SUKAENA MAS’UD (J1A117139)
ARLIANI BAHTIAR (J1A117185)
NUR AULIA NISSA (J1A117096)
ROSMALADEWI K (J1A117125)
EKA PURNAMA SARI (J1A117198)
INDAH ASRIANI (J1A117222)

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNUVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Karena atas berkat rahmat

dan hidayah-Nya sehinggah kami bisa menyelesaikan makalah PEMBIAYAAN DAN

PENGANGGARAN KESEHATAN’.

Dengan pembuatan makalah yang berjudul “aspek hukum Pembiayaan dan

penganggaran Kesehatan” ini pembaca diharapkan dapat lebih mengenal tentang apa yang

dimaksud dengan apa saja defenisi biaya, teori biaya, defenisi pembiayaan kesehatan dan

sumber pembiayaan kesehatan di indonesia.

Makalah ini dibuat semata-mata karena ingin menyelesaikan tugas sekaligus

memberikan contoh yang baik. Selain itu, makalah ini juga dijadikan sebagai sarana untuk

menambah wawasan bagi pembacanya.

Saya tahu bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Olehnya itu, saya sangat

mengharapkan kritik dan saran dari Dosen pembimbing, teman-teman, dan atau siapa saja.

Saran dan kritikan yang diberikan akan saya terima dengan lapang dada. Mudah-mudahan

makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan terutama pada diri saya sendiri. Akhir kata ,

saya ucapkan banyak terima kasih.

Kendari, Februari 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR ISI ..........................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1

A. LATAR BELAKANG................................................................................................. 1

B. RUMUSAN MASALAH ............................................................................................ 2

C. TUJUAN ..................................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN TEORI .................................................................................................. 3

A. Aspek Hukum Pembiayaan Dan Penganganggaran Di Indonesia .............................. 3

B. Jenis Peraturan Yang Berhubungan Dengan Pembiayaan Dan Penganggaran

Kesehatan.......................................................................................................................... 10

C. Definisi tindak pidana korupsi .................................................................................. 14

D. Konsep Pencegahan Korupsi..................................................................................... 15

BAB III PENUTUP .............................................................................................................. 17

B. KESIMPULAN ............................................................................................................ 19

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 20

ii
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pembiayaan kesehatan merupakan salah satu bidang ilmu dari ekonomi kesehatan

(health economy). Pembiayaan kesehatan adalah besarnya dana yang harus

dikeluarkan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya

kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat

(Azrul A, 1996). Pembiayaan kesehatan harus kuat, stabil, dan selalu

berkesinambungan untuk menjamin terselenggaranya kecukupan (adequacy),

pemerataan (equity), efisiensi (efficiency), dan efektifitas (effectiveness) pembiayaan

kesehatan itu sendiri.

Penganggaran ( budgeting) dapat di definisikan sebagai proses melalui mana

rencana organisasi diwujudkan dalam bentuk nilai mata uang (rupiah). Ekspresi

kuantitatif rencana organisasi ini adalah merupakan produk akhir proses perencanaan

dan cukup membutuhkan penanganan khusus pada sebagaian besar organisasi

pelayanan kesehatan.

1
B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa aspek hukum pembiayaan dan penganggaran di indonesia ?

2. Apa jenis-jenis peraturan yang berhubungan dengan pembiayaan dan

penganggaran kesehatan ?

3. Apa definisi tindak pidana korupsi ?

4. Apa Akibat Serius dari Tindak Pidana Korupsi ?

5. Bagaimana Konsep Pencegahan Korupsi ?

6. Bagaimana Pentingnya Peran Serta Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi ?

C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui lebih luas tentang Aspek hukum pembiayaan dan

penganggaran kesehatan serta pencegahan korupsi

2. Tujuan Khusus

1) Untuk mengetahui aspek hukum pembiayaan dan penganggaran di indonesia

2) Untuk mengetahui jenis-jenis peraturan yang berhubungan dengan

pembiayaan dan penganggaran kesehatan

3) Untuk mengetahui definisi tindak pidana korupsi

4) Untuk mengetahui Akibat Serius dari Tindak Pidana Korupsi

5) Untuk mengetahui Konsep Pencegahan Korupsi

6) Untuk mengetahui Pentingnya Peran Serta Masyarakat dalam Pemberantasan

Korupsi

2
BAB II TINJAUAN TEORI

A. Aspek Hukum Pembiayaan Dan Penganganggaran Di Indonesia

1. Lembaga Pembiayaan

Lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang dilakukan kegiatan

pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau modal dengan tidak menarik dana

secara langsung dari masyarakat.

Dari pengertian tersebut di atas terdapat beberapa unsur-unsur :

 Badan usaha, yaitu perusahaan pembiayaan yang khusus didirikan untuk

melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha lembaga pembiayaan.

 Kegiatan pembiayaan, yaitu melakukan kegiatan atau aktivitas dengan cara

membiayai pada pihak-pihak atau sektor usaha yang membutuhkan.

 Penyediaan dana, yaitu perbuatan menyediakan dana untuk suatu keperluan.

 Barang modal, yaitu barang yang dipakai untuk menghasilkan sesuatu.

 Tidak menarik dana secara langsung.

 Masyarakat, yaitu sejumlah orang yang hidup bersama di suatu tempat.

Menurut Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga

Pembiayaan, lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan

pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal.

Jenis – jenis bidang usaha dalam Lembaga Pembiayaan adalah sebagai

berikut:

3
a. Sewa Guna Usaha (Leasing)

Istilah lain dari Sewa Guna Usaha yaitu “leasing”, dimana leasing itu

berasal dari kata lease (Inggris) yang berarti menyewakan. Kegiatan sewa

guna usaha (Leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan

barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease)

maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan

oleh Lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara

berkala. Sedangkan barang modal adalah setiap aktiva tetap berwujud,

termasuk tanah sepanjang di atas tanah tersebut melekat aktiva tetap berupa

bangunan (plant), dan tanah serta aktiva dimaksud merupakan satu kesatuan

kepemilikan, yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun dan

digunakan secara langsung untuk menghasilkan atau meningkatkan, atau

memperlancar produksi dan distribusi barang atau jasa oleh Lessee.

b. Modal Ventura

Menurut Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009, Perusahaan Modal

Ventura (Venture Capital Company) adalah badan usaha yang melakukan

usaha pembiayaan/penyertaan modal ke dalam suatu Perusahaan yang

menerima bantuan pembiayaan (Investee Company) sebagai pasangan

usahanya untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk penyertaan saham,

penyertaan melalui pembelian obligasi konversi, dan/atau pembiayaan

berdasarkan pembagian atas hasil usaha. Investasi modal ventura ini biasanya

memiliki suatu resiko yang tinggi, meskipun resiko yang dihadapi tinggi,

pihak modal ventura mengharapkan suatu keuntungan yang tinggi pula dari

penyertaan modalnya berupa capital gain atau deviden.

4
Kapitalis ventura atau dalam bahasa asing disebut (venture capitalist)

adalah seorang investor yang berinvestasi pada perusahaan modal ventura dan

perusahaan yang pembiayaannya dari modal ventura disebut Perusahaan

Pasangan Usaha (PPU) atau (investee company). Dana ventura ini mengelola

dana investasi dari pihak ketiga (investor) yang tujuan utamanya untuk

melakukan investasi pada perusahaan yang memiliki resiko tinggi sehingga

tidak memenuhi persyaratan standar sebagai perusahaan terbuka ataupun guna

memperoleh modal pinjaman dari perbankan. Investasi modal ventura ini

dapat juga mencakup pemberian bantuan manajerial dan teknikal. Dana

ventura ini adalah berasal dari sekelompok investor yang mapan keuangannya,

bank investasi, dan institusi keuangan lainnya yang melakukan pengumpulan

dana ataupun kemitraan untuk tujuan investasi tersebut.

c. Anjak Piutang

Anjak Piutang (Factoring) menurut Perpres No. 9 Tahun 2009 adalah

anjak kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian piutang dagang jangka

pendek suatu Perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut. Menurut

Kasmir anjak piutang atau yang lebih dikenal dengan factoring adalah

perusahaan yang kegiatannya melakukan penagihan atau pembelian atau

pengambilalihan atau pengelolaan hutang piutang suatu perusahaan dengan

imbalan atau pembayaran tertentu dari perusahaan (klien). Kemudian

pengertian anjak piutang menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor

125/KM.013/1988 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan

dalam bentuk pembelian dan atau pengalihan serta pengurusan piutang atau

tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi perdagangan dalam dan

5
luar negeri. Dari definisi tersebut, setidaknya dapat disimpulkan sebagai

berikut.

Dalam kegiatan factoring ada tiga pihak yang terkait, yaitu :

 Perusahaan Factoring (factoring company), atau disebut dengan factor

sebagai suatu badan usaha yang melakukan kegiatan lembaga

pembiayaan dengan bentuk pembelian dan/atau pengalihan serta

pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek perusahaan;

 Perusahaan penjual piutang atau disebut klien (client), adalah

perusahaan yang menjual atau mengalihkan piutang atau tagihannya

kepada faktor;

 Nasabah (customer), sebagai pihak yang berutang (debitur) kepada

klien, dan piutang tersebut oleh klien dijual atau dialihkan kepada

factoring. Istilah klien (client) dan nasabah (customer) dalam

mekanisme anjak piutang memiliki pengertian yang sangat berbeda.

Lain halnya dengan bank yang memiliki nasabah atau customer,

sedangkan perusahaan anjak piutang hanya memiliki klien dalam hal

ini supplier. Selanjutnya, klien yang memiliki nasabah atau customer.

d. Kartu Kredit

Menurut Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009, usaha kartu kredit

adalah kegiatan pembiayaan untuk pembelian barang dan/atau jasa dengan

menggunakan kartu kredit. Pengertian kartu kredit sendiri menurut Peraturan

Bank Indonesia Nomor 7/52/PBI/2005, kartu kredit adalah alat pembayaran

dengan menggunakan kartu yang dapat digunakan untuk melakukan

pembayaran atas kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi,

termasuk transaksi pembelanjaan dan/atau untuk melakukan penarikan tunai

6
dimana kewajiban pembayaran pemegang kartu dipenuhi terlebih dahulu oleh

acquirer atau penerbit, dan pemegang kartu berkewajiban melakukan

pelunasan kewajiban pembayaran tersebut pada waktu yang disepakati baik

secara sekaligus (charge card) ataupun secara angsuran.

2. Pembiayaan Konsumen

Menurut Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009, Pembiayaan Konsumen

(Consumers Finance) adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang

berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran. Selain itu

pengertian lainnya, pembiayaan konsumen adalah suatu pinjaman atau kredit yang

diberikan oleh suatu perusahaan kepada debitur untuk pembelian barang dan jasa

yang akan langsung dikonsumsikan oleh konsumen, dan bukan untuk tujuan produksi

atau distribusi. Perusahaan yang memberikan pembiayaan diatas, disebut perusahaan

pembiayaan konsumen (Customer Finance Company).

Adapun jenis pembiayaan konsumen berdasarkan kepemilikannya:

 Perusahaan pembiayaan konsumen yang merupakan anak perusahaan dari

pemasok.

 Perusahaan pembiayaan konsumen yang merupakan satu group usaha dengan

pemasok.

 Perusahaan pembiayaan konsumen yang tidak mempunyai kaitan kepemilikan

dengan pemasok.

3. Hubungan Hukum dalam Pembiayaan Konsumen

 Perjanjian Pembiayaan antara Pihak Perusahaan Pembiayaan (Kreditur)

dengan Konsumen Hubungan antara pihak kreditur (perusahaan pemberi

biaya) dengan konsumen (debitur sebagai pihak yang menerima biaya),

adalah hubungan yang bersifat kontraktual, yang artinya didasarkan pada

7
kontrak yang dalam hal ini adalah kontrak pembiayaan konsumen. Pihak

perusahaan pemberi biaya berkewajiban utama untuk memberi sejumlah uang

untuk pembelian sesuatu barang konsumsi, sedangkan pihak konsumen

sebagai penerima biaya berkewajiban utama untuk membayar kembali uang

tersebut secara cicilan/angsuran kepada pihak pemberi biaya. Jadi hubungan

kontraktual antara penyedia dana dengan pihak konsumen adalah sejenis

perjanjian kredit yang di atur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Perusahaan Pembiayaan Konsumen (Kreditur) dengan demikian dapat

dijelaskan, bahwa setelah seluruh kontrak ditandatangani dan dana sudah

dicairkan serta barang sudah diserahkan oleh supplier kepada konsumen,

maka barang yang bersangkutan sudah langsung menjadi miliknya konsumen,

walaupun kemudian biasanya barang tersebut dijadikan jaminan hutang

melalui perjanjian fidusia.

 Perjanjian Jual Beli Bersyarat antara Pihak Konsumen dengan Pemasok

Antara pihak konsumen dengan supplier terdapat hubungan jual beli

(bersyarat), di mana pihak supplier selaku penjual menjual barang kepada

konsumen selaku pembeli dengan syarat, bahwa harga akan dibayar oleh

pihak ketiga yaitu pihak pemberi biaya. Syarat tersebut memiliki arti, bahwa

apabila karena alasan apapun pihak pemberi biaya tidak dapat menyediakan

dananya, maka jual beli antara supplier dengan konsumen sebagai pembeli

akan batal.

 Perjanjian Jual Beli antara Perusahaan Pembiayaan (Pemberi Biaya) dengan

Pemasok. Antara pihak penyedia dana (pemberi biaya) dengan supplier tidak

ada hubungan hukum yang khusus, kecuali pihak penyedia dana hanya pihak

ketiga yang disyaratkan untuk menyediakan dana dan digunakan dalam

8
perjanjian jual beli antara pihak pemasok dengan konsumen. Oleh karena itu

apabila pihak penyedia dana wanprestasi dalam menyediakan dananya,

sementara kontrak jual beli maupun kontrak pembiayaan konsumen telah

selesai dilakukan, maka jual beli bersyarat antara pemasok dengan konsumen

akan batal, sehingga konsumen dapat menggugat pihak pemberi dana atas

wanprestasinya

9
B. Jenis Peraturan Yang Berhubungan Dengan Pembiayaan Dan Penganggaran

Kesehatan

1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2017

Pasal 1

Pedoman Perencanaan dan Penganggaran Bidang Kesehatan bertujuan untuk

memberikan acuan bagi pelaku perencana kesehatan di lingkungan Kementerian

Kesehatan (satuan kerja kantor pusat dan kantor daerah), dinas kesehatan provinsi,

dan dinas kesehatan kabupaten/kota, serta rumah sakit daerah.

Pasal 2

Ruang lingkup Pedoman Perencanaan dan Penganggaran Bidang Kesehatan

meliputi perencanaan dan penganggaran yang menggunakan Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan sumber dana dari Rupiah Murni

(RM), Pinjaman/Hibah Luar Negeri (P/HLN), Pinjaman/Hibah Dalam Negeri

(P/HDN) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), termasuk yang digunakan

untuk dekonsentrasi, tugas pembantuan, dan dana alokasi khusus.

2. Menurut UUNo. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan

bahwa tujuan pembangunan kesehatan yaitu meningkatkan kesadaran,

kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi

pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan

ekonomis. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu disusun perencanaan dan

penganggaran yang baik. Namun, hingga saat ini kualitas perencanaan dan

penganggaran masih perlu terus ditingkatkan. Tantangan yang dihadapi oleh

10
para perencana setiap tahun antara lain adalah sinkronisasi dan koordinasi

antar unit serta waktu perencanaan yang terkesan singkat atau tergesa-gesa.

Pasal 170

1) Pembiayaan kesehatan bertujuan untuk penyediaan pembiayaan kesehatan

yang berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara

adil, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk

menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan agar meningkatkan

derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya.

2) Unsu-unsur pemiayaan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri

atas sumber pembiayaan, alokasi, dan pemanfaatan.

3) Sumber pembiayaan kesehatan berasal dari pemerintah, pemerintah daerah,

masyarakat, swasta dan sumber lain.

Pasal 171

1) Besar anggaran kesehatan pemerintah di alokasikan minimal sebesar 5%

(lima persen) dari anggaran pendapat dan belanja Negara di luar gaji.

2) Besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota

dialokaskan minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapat dan

belanja daerah di luar gaji.

3) Besaran anggaran kesehatan sebagaimana dimasud pada ayat (1) dan ayat (2)

diprioritaskan untuk kepentingan pelayaan public yang besaranya sekurang-

kurangnya 2/3 (dua petiga) dari anggaran kesehatan dalam anggaran

pendapatan dan belanja daerah dan anggaran pendapatan dan belanja daerah.

11
aPasal 172

1) Alokasi pembiayaan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 171 ayat

(3) di tunjukan untuk pelayanan kesehatan di bidang pelayanan public,

terutama bagi penduduk miskin, kelompok lanjut usia, dann anak terlantar.

2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara alokasi pembiayaan kesehatan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.

Pasal 173

1) Alokasi pembiayaan kesehatan yang besumber dari swasta sebagaimana

dmaksud dalam pasal 170 ayat (3) dimobilisasi melalui system jaminan social

nasional dan/atau asuransi kesehatan komersial.

2) Ketentuan mengenai tata cara penyelenggaraan system jamina social nasional

dan/atau asuransi kesehatan komersial sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perunang-undangan.

3. Menurut uu No. 29 tahun 1992 tentang kesehatan

Pasal 65

1) Penyelenggaraan upaya kesehatan dibiayai olch pemerintah dan atau

masyarakat.

2) Pemerintah membantu upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh

masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yangberlaku,

terutama upaya kesehatan bagi masyarakat rentan.

Pasal 66

1) Pemerintah mengembangkan, membina, dan mendorong jaminan

pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagai cara, yang dijadikan landasan

12
setiap penyerlenggaraan pemeliharaan kesehatan yang pembiayaannya

dilaksanakan secara praupaya, berasaskan usaha bersama dan kekeluargaan.

2) Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat merupakan cara

penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan pembiayaannya, edikelola

secara terpadu untuk tujuan meningkatkan derajat kesehatan, wajib

dilaksanakan olch setiap penyclenggara.

3) Penyelenggara jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat harus berbentuk

badan hukum dan memiliki izin operasional serta kepesertaannya bersifat

aktif.

4) Ketentuan mengenai penyclenggaraan jaminan pemeliharaan kesehatan

masyarakat ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

13
C. Definisi tindak pidana korupsi

Tindak pidana korupsi merupakan sebuah kejahatan yang secara kualitas maupun

kuantitasnya terus meningkat. Peningkatan jumlah tindak pidana korupsi tentu akan

sangat berpengaruh terhadap turunnya kualitas kesejahteraan bagi masyarakat.

Padahal negara memiliki kewajiban untuk meningatkan kesejahteraan masyarakat.

Dampak korupsi yang demikian besar, dan merupakan problem serius

terhadap kesejahteraan masyarakat harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh

elemen bangsa tanpa kecuali. Sehingga ini juga menjadi tanggung jawab rakyat untuk

ikut bersama-sama memerangi korupsi. Tentu bukan hal yang mudah dalam

memecahkan masalah korupsi, sekalipun harus melibatkan seluruh elemen bangsa

termasuk rakyat, hal ini karena korupsi merupakan kejahatan yang dinamakan dengan

White Collar Crime yaitu kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang

berkelebihan kekayaan dan dipandang “terhormat”, karena mempunyai kedudukan

penting baik dalam pemerintahan atau di dunia perekonomian, bahkan menurut

Harkristuti Harkrisnowo,pelaku korupsi bukan orang sembarangan karena mereka

mempunyai akses untuk melakukan korupsi tersebut, dengan menyalahgunakan

kewenangan, kesempatan-kesempatan atau sarana yang ada padanya. Sedangkan

menurut Marella Buckley korupsi merupakan penyalahan jabatan publik demi

keuntungan pribadi dengan cara suap atau komisi tidak sah. (“No Title,” 2009)

14
D. Konsep Pencegahan Korupsi

Tidak ada jawaban yang tunggal dan sederhana untuk menjawab mengapa

korupsitimbul dan berkembang demikian masif di suatu negara. Ada yang

menyatakan bahwa korupsi ibarat penyakit ‘kanker ganas’ yang sifatnya tidak hanya

kronis tapi juga akut. Ia menggerogoti perekonomian sebuah negara secara perlahan,

namun pasti. Penyakit ini menempel pada semua aspek bidang kehidupan masyarakat

sehingga sangat sulit untuk diberantas. Perlu dipahami bahwa dimanapun dan sampai

pada tingkatan tertentu, korupsi memang akan selalu ada dalam suatu negara atau

masyarakat. Sebelum melangkah lebih jauh membahas upaya pemberantasan korupsi,

berikut pernyataan yang dapat didiskusikan mengenai strategi atau upaya

pemberantasan korupsi (Fijnaut dan Huberts : 2002): 90

It is always necessary to relate anti-corruption strategies to characteristics of

the actors involved (and the environment they operate in). There is no single concept

and program of good governance for all countries and organizations, there is no ‘one

right way’. There are many initiatives and most are tailored to specifics contexts.

Societies and organizations will have to seek their own solutions.

Dari pernyataan ini dapat dipahami bahwa sangat penting untuk

menghubungkan strategiatau upaya pemberantasan korupsi dengan melihat

karakteristik dari berbagai pihak yangterlibat serta lingkungan di mana mereka

bekerja atau beroperasi. Tidak ada jawaban,konsep atau program tunggal untuk setiap

negara atau organisasi. Ada begitu banyakstrategi, cara atau upaya yang kesemuanya

harus disesuaikan dengan konteks, masyarakatmaupun organisasi yang dituju. Setiap

negara, masyarakat mapun organisasi harus mencaricara mereka sendiri untuk

15
menemukan solusinya.Di muka telah dipaparkan bahwa upaya yang paling tepat

untuk memberantas korupsiadalah dengan memberikan pidana atau menghukum

seberat-beratnya pelaku korupsi.Dengan demikian bidang hukum khususnya hukum

pidana akan dianggap sebagai jawabanyang paling tepat untuk memberantas korupsi.

Benarkah demikian? (Dasar, Bahasan, & Bahasan, n.d.)

16
E. Pentingnya Peran Serta Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi

Melihat dampak korupsi yang demikian dahsyat, dan sangat merugikan

masyarakat, maka diperlukan sebuah keseriusan dalam penegakan hukum guna

pemebrantasan tindak pidana korupsi. Berkaitan dengan penegakan hukum Barda

Nawawi Arief berpendapat bahwa Penegakan hukum adalah menegakkan nilai-

nilai kebenaran dan keadilan.di sini berati bahwa penegak hukum dipercaya oleh

masyarakat untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang

terkandung di dalam hukum. Namun demikian dalam penegakan hukum itu

terdapat sisi yang penting yaitu peran serta masyarakat, yang kemudian disebut

sebagai kontrol sosial.

Korupsi yang dilakukan dengan penggunaan kekuasaan pada intinya

dilakukan karena lemahnya kontrol sosial, atau lingkungan sosial yang

membentuknya demikian,lingkungan yang ada dalam kekuasaan yang sudah

dihinggapi oleh tanggung jawab yang hilang. Jadi tak berlebihan jika James C.

Scoot memiliki pendirian bahwa korupsi meliputi penyimpangan tingkah laku

standar, yaitu melanggar atau bertentangan dengan hukum untuk memperkaya diri

sendiri,oleh karenanya diperlukan kontrol sosial.

Kontrol sosial menurut Ronny Hanitijo Soemitro, merupakan aspek normatif

dari kehidupan sosial atau dapat disebut sebagai pemberi definisi dan tingkah laku

yang menyimpang serta akibat-akibatnya, seperti larangan-larangan, tuntutan-

tuntutan, pemidanaan dan pemberian ganti rugi.bahkan menurutnya tingkah laku

yang menyimpang tergantung pada kontrol sosial. Ini berarti, kontrol sosial

menentukan tingkah laku bagaimana yang merupakan tingkah laku yang

17
menyimpang. Makin tergantung tingkah laku itu pada kontrol sosial, maka

semakin berat nilaipenyimpangan pelakunya. jadi tindakan menyimpang tidak

dibenarkan karena masyarakat secara umum merasa tindakan-tindakan tersebut

tidak dapat diterima.

Sikap penolakan masyarakat terhadap perilaku menyimpang tersebut dapat

dikualifisir sebagai kejahatan, di mana kejahatan tersebut merupakan hal yang

tercela bagi masyarakat. Oleh karena itu, menurut Emile Durkheim, kejahatan

merupakan tindakan yang tidak disepakati secara umum oleh anggota masing-

masing masyarakat. Suatu tindakan bersifat kejahatan ketika tindakan tersebut

melanggar kesadaran bersama yang kuat dan terdefinisi. Jadi dengan demikian

menurut Emile Durkheim kejahatan merupakan hal yang disepakati oleh

masyarakat sebagai sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Secara tegas Reiss

mendefinisikan kontrol sosial sebagai kemampuan kelompok sosial atau lembaga-

lembaga di masyarakat untuk melaksanakan norma-norma atau peraturan menjadi

efektif.

18
BAB III PENUTUP

B. KESIMPULAN

19
DAFTAR PUSTAKA

Permenkes No. 48 Tahun 2017.Tentang Pedoman Perencanaan Dan Penganggaran Bidang

Kesehatan.

Dasar, K., Bahasan, P., & Bahasan, S. P. (n.d.). Upaya pemberantasan korupsi, 87–118.

(2009).

Fijnaut, Cyrille and Leo Huberts (2002), Corruption, Integrity and Law Enforcement, dalam

Fijnaut, Cyrille and Leo Huberts (ed), (2002), Corruption, Integrity and Law Enforcement,

The Hague: Kluwer Law International.

20