Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM BIOLOGI/MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN

ENUMERASI
Oleh:
Kelompok 1

Nama:
Rifqi Gibran Ramadhan

NIM:
082001700062

Asisten:
1. Annisa Nur Islami
2. Candra Dwi Anggreini

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS ARSITEKTUR LANSKAP DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan
sanggup menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah
curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.
Laporan praktikum ini disusun untuk memenuhi tugas praktikum
Biologi/Mikrobiologi Lingkungan. Laporan praktikum ini di susun oleh penyusun
dengan berbagai rintangan. Saya juga berterimakasih kepada asisten laboratorium
mikrobiologi yang telah membimbing saya selama melakukan praktikum dan dalam
pembuatan laporan sehingga akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Dan juga tidak
lupa saya ucapkan berterima kasih kepada dosen Biologi/Mikrobiologi lingkungan
yang telah memaparkan materi dikelas sehingga ilmu yang saya dapatkan bertambah.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih banyak terdapat
kekurangan, baik dapat dilihat dari segi penyajian data, maupun penulisannya. Kritik
dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Terima kasih.

Jakarta, November 2018

Rifqi Gibran Ramadhan

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

DAFTAR TABEL ................................................................................................ iv

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ............................................................................................. 1

1.2. Tujuan ........................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 3

2.1. Tinjauan Pustaka .......................................................................................... 3

BAB III METODE KERJA................................................................................ 13

3.1. Alat dan Bahan ........................................................................................... 13

3.2. Cara Kerja................................................................................................... 15

BAB IV HASIL PENGAMATAN ..................................................................... 23

4.1. Perhitungan ................................................................................................. 23

4.2. Pembahasan ................................................................................................ 25

BAB V SIMPULAN ............................................................................................ 30

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 31

LAMPIRAN

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Alat dan Bahan Berat Kering………………………………................13

Tabel 3.2 Alat dan Bahan Filtrasi………………………………………….........13

Tabel 3.3 Alat dan Bahan Tes Pendugaan ………………………………...........13

Tabel 3.4 Alat dan Bahan Plate Count………………………………..................14

Tabel 3.5 Alat dan Bahan Haemositometer………………………………..........14

Tabel 3.6 Alat dan Bahan Spekfotometer……………………………….............14

Tabel 3.7 Cara Kerja Berat Kering……………………………………………...15

Tabel 3.8 Cara Kerja Filtrasi……………………………………………………16

Tabel 3.9 Cara Kerja Tes Pendugaan…………………………………………...18

Tabel 3.10 Cara Kerja Plate Count……………………………………………….19

Tabel 3.11 Cara Kerja Haemositometer………………………………………….20

Tabel 3.12 Cara Kerja Spekfotometer……………………………………………21

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mikroba dapat tinggal dimana-mana atau yang kita kenal dengan istilah
kosmopolitan (tanah, air dan sebagai simbiosis dari organisme lain), serta
mikroba bersifat mikroskopis, yang hanya bisa dilihat dengan menggunakan
mikroskop, salah satunya adalah bakteri. Mikrobia dapat tumbuh dan
berkembang dengan sangat pesat di alam. Bakteri merupakan makhluk hidup
yang sering ditumbuhkan dalam medium untuk tujuan suatu penelitian.
Pertumbuhan dan perkembangan mikroba berbentuk koloni-koloni yang sulit
dihitung jumlah bakterinya. Setelah mempelajari bagaimana menumbuhkan
suatu koloni bakteri, tentunya kita harus mengetahui kuantitas dan kualitas dari
bakteri tersebut. Kualitas suatu bakteri dapat diketahui dengan melihat sifat-
sifat bakteri baik yang menguntungkan maupun merugikan. Sedangkan, untuk
menentukan kuantitas bakteri dapat dengan berbagai cara perhitungan jumlah
bakteri, antara lain dengan cara perhitungan mikroskopis langsung (direct
microscopis count) dan metode hitungan tak langsung (indirect count) yang
menggunakan metode hitung pada cawan (spread plate maupun pour plate).
Analisis kualitatif atau enumerasi mikroorganisme dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung, dengan beberapa metode yaitu metode
penghitungan dengan mikroskop (total cell count), Keruhan (turbidity), dan
plate count (viable count). Pertumbuhan mikroorganisme yang membentuk
koloni dapat dianggap bahwa setiap koloni yang tumbuh berasal dari satu sel,
maka dengan menghitung jumlah kloni dapat diketahui penyebaran bakteri
yang ada pada bahan. Jumlah mikroba pada suatu bahan dapat dihitung dengan
berbagai macam cara, tergantung pada bahan dan jenis mikrobanya. Terdapat
dua macam cara atau metode perhitungan bakteri atau mikroba, yaitu dengan
perhitungan secara langsung dan perhitungan secara tidak langsung.

1
Perhitungan jumlah mikroba secara langsung yaitu jumlah mikroba
dihitung secara keseluruhan, baik mikroba yang sudah mati ataupun mikroba
yang masih hidup, sedangkan perhitungan mikroba secara tidak langsung yaitu
jumlah mikroba dihitung secara keseluruhan baik mikroba yang sudah mati atau
pun mikroba yang masih hidup atau hanya untuk menghitung atau pun
menentukan jumlah mikroba yang masih hidup saja, ini tergantung cara yang
dipakai atau digunakan. Perhitungan langsung dilakukan dengan menggunakan
suatu alat yaitu haemositometer. Alat ini memiliki ruang hitung dan jumlah sel
dapat dihitung langsung dengan bantuan mikroskop. Sedangkan perhitungan
jumlah mikroba dengan metode tidak langsung menggunakan metode hitungan
cawan, baik metode penyebaran atau pun dengan menggunakan metode
penuangan.

1.2 Tujuan
Berikut ini adalah tujuan dari praktikum antara lain:
1. Untuk mengetahui beberapa metode dalam perhitungan jumlah mikroba
yang hidup pada medium padat dan medium cair.
2. Mempelajari metode-metode yang digunakan dalam menghitung koloni
bakteri.
3. Untuk mengetahui banyaknya mikroba yang hidup maupun mati pada
suatu bahan.
4. Untuk mempelajari bagaimana cara menghitung data kuantitas mikroba.
5. Untuk mengetahui kurva pertumbuhan suatu mikroba.
6. Untuk mengetahui cara menghitung waktu regenerasi bakteri.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Pustaka


Enumerasi bakteri adalah teknik perhitungan jumlah mikroba dalam suatu
media tanpa mengidentifikasi jenis mikroba (bakteri, jamur, yeast) yang
bertujuan untuk menentukan jumlah sel dari suatu kultur bakteri secara
kuantitatif (Jutono, 1980). Penetapan jumlah bakteri dilakukan dengan
menghitung jumlah sel bakteri yang mampu membentuk koloni di dalam
media biakan atau membentuk suspense dalam larutan biak (Dwidjoseputro,
1990). Analisis kuantitatif mikrobiologi pada bahan pangan ini penting
dilakukan untuk mengetahui mutu bahan pangan dan menghitung proses
pengawetan yang akan diterapkan pada bahan pangan tersebut (Fardiaz,
1993).
Menurut Jannasch dan Jones (1959), indek aktivitas dan nilai biomassa
mikroorganisme dapat ditunjukkan dengan mengetahui jumlah
mikroorganisme dalam perairan tersebut. Untuk mengetahui jumlah
mikroorganisme dalam suatu perairan ada dua cara dasar yaitu:
1. Perhitungan mikroorganisme secara langsung (direct count),
2. Perhitungan bakteri secara tidak langsung (indirect count).
Perhitungan jumlah mikroba dapat dilakukan dengan perhitungan
langsung maupun tidak langsung. Perhitungan secara langsung dapat
mengetahui beberapa jumlah mikroorganisme pada suatu bahan pada saat
tertentu tanpa memberikan perlakuan terlebih dahulu, sedangkan jumlah
orgnisme yang diketahui dari cara tidak langsung terlebih dahulu harus
memberikan perlakuan tertentu sebelum dilakukan perhitungan. Perhitungan
secara langsung, dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain, adalah
dengan membuat preparat dari suatu bahan (preparat sederhana diwarnai atau
tidak diwarnai) dan penggunaan ruang hitung (counting chamber). Sedangkan
perhitungan cara tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah
mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viable count).

3
Dalam pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu: perhitungan pada cawan
petri (total plate count/ TPC), perhitungan melalui pengenceran, perhitungan
jumlah terkecil atau terdekat (MPN methode), dan calorimeter (cara
kekeruhan atau turbidimetri) (Carrol, 1964).
Menurut Lay (1994) cara untuk menentukan jumlah bakteri dalam suatu
medium dapat dilakukan dengan:
1. Jumlah bakteri secara keseluruhan (tottal cell counts), bila
menggunakan cara ini maka semua bakteri dalam medium tersebut
akan terhitung baik yang hidup maupun mati.
2. Jumlah bakteri hidup (viable counts), bila menggunakan cara ini
maka sel hidup saja yang di hitung sehingga lebih akurat.
Perhitungan langsung merupakan perhitungan yang dilakukan secara
mikroskopis dengan cara menghitung jumlah bakteri dalam satuan isi yang
sangat kecil. Perhitungan ini menggunakan alat yang di sebut
haemocytometer (Ferdiaz, 1992). Hemocytometer adalah ruang kaca atau
gelas yang meliliki sisi-sisi ditinggikan dengan penutup kecil tembus cahaya
yang tepat 0,1mm diatas lantai ruang (Hansen, 2013). Cairan yang digunakan
dalam perhitungan tersebut memiliki volume tertentu, hingga gelas penutup
dapat terpenuhi. Pada alat ini terdapat 9 kotak besar dengan luas 1 mm3, dalam
1 kotak besar ditengah terbagi menjadi 26 kotak sedang dengan panjang 0,2
mm. Sehingga dalam 1 kotak besar terdapat 400 kotak kecil. Tiap ruang
hitung memiliki lebar 0,1 mm, tinggi sampel yag terletak antara gelas objek
dan gelas penutup adalah 0,2 mm (Ferdiaz, 1992).
Metode pour plate dilakukan dengan menginokulasikan biakan ke dalam
tabung reaksi yang berisi media agar cair yang sudah agak dingin, lalu diaduk
dengan vortex hingga tercampur rata, kemudian campuran tersebut dituang
ke dalam cawan petri steril, diratakan, dan dibiarkan memadat. Sel-sel
mikrobia akan tumbuh menjadi koloni yang terpisah dalam medium padat,
sehingga pada akhirnya dapat dihitung jumlah koloni yang terbentuk.
Sedangkan metode spread plate, media agar cair dituangkan dalam cawan
petri steril lalu dibiarkan sampai memadat. Kemudian dengan menggunakan

4
ose dilakukan penginokulasian goresan di atas permukaan agar. Setelah
diinkubasi, pada akhir goresan akan tertinggal bakteri individual yang
terpisah dengan yang lainnya, kemudian jumlah koloni bakteri dapat dihitung
(Volk & Wheeler, 1993). Jumlah koloni dalam sampel dapat dihitung sebagai
berikut:

1
Koloni /ml atau /gram = jumlah koloni per cawan x
faktor pengenceran

Jumlah masing-masing cawan diamati setelah inkubasi, cawan yang


dipilih untuk penghitungan koloni ialah yang mengandung antara 30 sampai
300 koloni, karena jumlah mikroorganisme dalam sampel tidak diketahui
sebelumnya, maka untuk memperoleh sekurang-kurangnya satu cawan yang
mengandung koloni dalam jumlah yang memenuhi syarat tersebut maka harus
dilakukan sederetan pengenceran dan pencawanan. Jumlah organisme yang
terdapat dalam sampel asal ditentukan dengan mengalikan jumlah koloni yang
terbentuk dengan faktor pengenceran pada cawan yang bersangkutan (Penn,
1991).
Pada praktikum digunakan teknik penghitungan tidak langsung yaitu
dengan metode plate count, pada perhitungan bakteri secara tidak langsung,
suspensi susu dan tanah diambil 100 μl disetiap pengenceran 10-2, 10-4, dan
10-6, kemudian suspensi bahan yang mengandung bakteri diinokulasi pada
medium NA dan diratakan dengan trigalski secara spread plate agar diperoleh
koloni bakteri terpisah dan tersebar di seluruh permukaan medium tersebut
sehingga dapat memudahkan perhitungan jumlah koloni bakteri. Plate count /
viable count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme hidup
dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam
media pertumbuhan dan lingkungan yang sesuai.
Setelah diinkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan merupakan
perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam suspensi tersebut.
Koloni yang tumbuh tidak selalu berasal dari satu sel mikroorganisme karena
beberapa mikroorganisme tertentu cenderung membentuk kelompok atau
berantai. Berdasarkan hal tersebut digunakan istilah Coloni Forming Units

5
(CFU’s) per ml. Perhitungan ini menggunakan teknik spread plate, jadi nilai
CFU yang terhitung adalah per 0,1 ml atau 0,1 gram sampel. Jadi konversi
dari CFU/0,1 ml sampel menjadi CFU/ml sampel yaitu dengan nilai jumlah
bakteri dikali 10 lagi untuk hasil per ml atau per gram.
TPC merupakan pemeriksaan kuantitatif terhadap bakteri dalam sampel.
TPC adalah Total Plate Count, yaitu suatu hitungan jumlah bakteri yang
terkandung didalam 1 ml sampel. Untuk menghitung Total Plate Count (TPC)
dilakukan pemeriksaan terhadap sampel air dengan spread plate method.
Setiap satu sampel dilakukan pengulangan tiga kali. Pertumbuhan koloni yang
terjadi setelah 24 jam inkubasi, dihitung dengan bantuan qubec colony
counter karena setiap sampel dilakukan pemeriksaan 3 kali (pengulangan 3
kali), maka hasil perhitungan TPC pada 3 petridisk dijumlahkan dan dibuat
angka rata-ratanya (Rahayu, 2000).
Metode viable count atau disebut dengan metode TPC (Total Plate Count)
merupakan kultur yang diencerkan sampai batas yang diinginkan. Kultur
encer ditumbuhkan kembali pada media, sehingga diharapkan setiap sel
tumbuh menjadi satu koloni, biasanya 4-12 jam. Namun, cara ini memiliki
keterbatasan yaitu jumlah sel terhitung biasanya lebih kecil dari sebenarnya
dan tidak dapat diaplikasikan pada bakteri yang tumbuh lambat. Faktor yang
mempengaruhi perhitungan bakteri dengan metode ini adalah jumlah sel
bakteri hatus mendekati kelipatan 10 pada setiap pengencerannya. Jika tidak,
maka perhitungan dianggap gagal (Purwoko, 2007).
Metode MPN (Most Probable Number) adalah metode yang digunakan
untuk menghitung koliform di dalam air dengan menggunakan pengujian
fermentasi dalam tabung. Tiga pengujian itu diantaranya adalah uji penduga
(Presumtive Test), uji konfirmasi (Confirmed Test), dan uji pelengkap
(Completed Test). Hasil dari metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN
adalah perkiraan jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit pembentuk
koloni dalam sampel (Dwidjoseputro, 1994).
Standar Plate Count (SPC) merupakan suatu standar yang digunakan
untuk melaporkan hasil analisis mikrobiologi. SPC menjelaskan cara

6
menghitung koloni yang tumbuh pada cawan serta cara memilih data yang
ada untuk menentukan jumlah koloni.
Selain itu ada beberapa cara untuk menghitung bakteri, antara lain:
1. Spektrofotometer
Beer dan lambert menemukan hukum yang menerangkan interaksi
bahan kimia dengan gelombang cahaya (elektromagnetik), yang
disimpulkan dalam hukum Beer-Lambert menyebabkan berkembangnya
analisis kimia dengan menggunakan alat instrumentasi yakni
spektrofotometer.
Suatu spektrofotometer standar terdiri atas spektrofotometer untuk
menghasilkan cahaya dengan panjang gelombang terseleksi yaitu bersifat
monokromatik serta suatu fotometer yaitu suatu piranti untuk mengukur
intensitas berkas monokromati, penggabungan bersama dinamakan
sespektrofotometer.
Penggabungan alat optik ini merupakan elektronika sifat kimia dan
fisiknya dan detektor yang digunakan secara langsung mengukur intensitas
dari cahaya yang dipancarkan dan secara tidak langsung cahaya yang
diabsorbsi. Kemampuan ini bergantung pada spektrum elektromagnetik
yang diabsorb (serap) oleh benda. Fungsi alat spektrofotometer dalam
laboratorium adalah mengukur transmitans atau absorbans suatu contoh
yang dinyatakan dalam fungsi panjang gelombang.
Prinsip kerja spektrofotometer adalah bila cahaya (monokromatik
maupun campuran) jatuh pada suatu medium homogen, sebagian dari sinar
masuk akan dipantulkan, sebagian di serap dalam medium itu, dan sisanya
diteruskan. Nilai yang keluar dari cahaya yang diteruskan dinyatakan dalam
nilai absorbansi karena memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel.
Studi spektrofotometri dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan
visual yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Hukum Beer menyatakan
absorbansi cahaya berbanding lurus dengan dengan konsentrasi dan
ketebalan bahan atau mediumnya.

7
2. Haemocytometer
Haemocytometer adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk
melakukan perhitungan sel secara cepat dan dapat digunakan untuk
konsentrasi sel yang rendah Hemasitometer pada mulanya diperuntukkan
untuk menghitung sel darah, yang ditemukan oleh Louis-Charles Malassez.
Bentuknya terdiri dari dua counting chamber dan tiap chamber-nya
memiliki garis-garis mikroskopis pada permukaan kaca. Luas total dari
chamber adalah 9 mm². Chamber tersebut nantinya akan ditutup dengan
cover slip dengan ketinggian 0.1 mm di atas chamber floor.
Haemocytometer berupa slide kaca tebal berbentuk empat persegi
panjang. Pada bagian tengahnya terdapat kotak sebanyak 400 buah. Yakni
terdiri dari 25 kotak besar. 1 kotak besar terdiri dari 16 kotak kecil sehingga
berjumlah 400 kotak. Alat ini sangat akurat untuk menghitung kepadatan
plankton yang ada dengan meletakkan gelas penutup diatasnya, maka dapat
diketahui kedalaman kotak yakni 0,1 mm, panjang 1 mm dan lebar 1 mm.
Alat ini juga sering dipakai dalam ilmu kedokteran yaitu untuk menghitung
jumlah eritrosit pada sel darah merah.
Haemocytometer diciptakan oleh Louis-Charles Malassez dan terdiri
dari tebal kaca mikroskop slide dengan lekukan persegi panjang yang
menciptakan ruang. Ruangan ini diukir dengan menggunakan laser-tergores
grid dari garis tegak lurus. Perangkat ini disusun dengan hati-hati sehingga
daerah yang dibatasi oleh garis yang diketahui, dan kedalaman ruang juga
dikenal. Oleh karena itu mungkin untuk menghitung jumlah sel-sel atau
partikel dalam volume tertentu cairan, dan dengan demikian menghitung
konsentrasi dalam cairan sel-sel secara keseluruhan.
3. Plate Count
Plate count / viable count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel
mikroorganisme hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni
setelah ditumbuhkan dalam media pertumbuhan dan lingkungan yang
sesuai. Setelah diinkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan

8
merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam
suspensi tersebut.
Koloni yang tumbuh tidak selalu berasal dari satu sel mikroorganisme
karena beberapa mikroorganisme tertentu cenderung membentuk kelompok
atau berantai. Berdasarkan hal tersebut digunakan istilah Coloni Forming
Units (CFU’s) per ml. koloni yang tumbuh berasal dari suspensi yang
diperoleh menggunakan pengenceran bertingkat dari sebuah sampel yang
ingin diketahui jumlah bakterinya.
Syarat koloni yang ditentukan untuk dihitung adalah sebagai berikut:
1. Satu koloni dihitung 1 koloni.
2. Dua koloni yang bertumpuk dihitung 1 koloni.
3. Beberapa koloni yang berhubungan dihitung 1 koloni.
4. Dua koloni yang berhimpitan dan masih dapat dibedakan dihitung
2 koloni.
5. Koloni yang terlalu besar (lebih besar dari setengah luas cawan)
tidah dihitung.
6. Koloni yang besarnya kurang dari setengah luas cawan dihitung 1
koloni.
Koloni yang dipilih untuk dihitung menggunakan cara SPC memiliki
syarat khusus berdasarkan statistik untuk memperkecil kesalahan dalam
perhitungan.
1
Jumlah koloni / ml = Jumlah koloni per cawan x 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛

4. Filtrasi
Filtrasi adalah metode pemisahan yang digunakan untuk memisahkan
cairan dan padatan yang tidak larut dengan menggunakan penyaring (filter)
berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Proses filtrasi yang sederhana
adalah proses penyaringan dengan dengan media filter kertas saring . Kertas
saring kita potong melingkar jika masih bentuk lembaran empat persegi
panjang atau kubus, jika telah berbentuk lingkaran lipat dua, sebanyak tiga
atau empat kali. Selanjutnya buka dan letakkan dalam corong pisah

9
sehingga tepat melekat dengan corong pisah. Tuangkan campuran
heterogen yang akan dipisahkan, sedikit demi sedikit, kira-kira banyaknya
campuran tersebut adalah sepertiga dari tinggi kertas.
Lakukan berulang-ulang, sehingga kita dapat memisahkan partikel
padat dengan cairannya. Hasil filtrasi adalah zat padat yang disebut residen
dan zat cairnya disebut dengan filtrat. Proses filtrasi dilakukan dengan dua
cara, yang pertama dilakukan dengan tanpa tekanan atau hanya dilakukan
menggunakan corong dan kertas saring saja dimana cairan mengalir karena
adanya gaya grafitasi. Pemisahan ini sangat cocok untuk campuran
heterogen dimana jumlah cairannya lebih besar dibandingkan partikel zat
padatnya. Yang kedua adalah filtrasi (penyaringan) dengan menggunakan
tekanan atau dengan cara divakumkan (disedot dengan pompa vakum).
Proses pemisahan dengan teknik ini sangat tepat dilakukan, jika jumlah
partikel padatnya lebih besar dibandingkan dengan cairannya.
Filtrasi banyak dimanfaatkan untuk membersihkan air dari sampah pada
pengolahan air, menjernihkan preparat kimia di laboratorium,
menghilangkan pirogen dan pengotor pada air suntik injeksi dan obat‐obat
injeksi, dan membersihkan sirup dari kotoran yang ada pada gula dan untuk
memurnikan bahan-bahan obat dari partikel dan bahan yang tidak
diinginkan sehingga dapat menjamin hasil akhir dari suatu produk obat yang
berkualitas dan sesuia syarat yang ditentukan.
5. Berat Kering
Metode ini digunakan untuk mengukur pertumbuhan fungi berfilamen.
Miselium fungi dipisahkan dari media dan dihitung sebagai berat kotor.
Selanjutnya, miselium tersebut dicuci dan dikeringkan dengan alat
pengering (desikator) dan ditimbang beberapa kali hingga mencapai berat
konstan. Berat konstan yang diperoleh ini disebut dengan berat sel kering.
Pemilihan metode pengukuran ini dapat dipengaruhi oleh ketersedian
alat pada suatu laboratorium dan dan peneliti. Oleh sebab itu, sebagai
peneliti, kita jangan terpaku oleh satu metode saja. Kita perlu
mempertimbangkan metode-metode lain yang sesuai dengan ketersedian

10
alat dan dana dengan tidak mengesampingkan kualitas dari tujuan akhir
penelitian itu sendiri.
6. Waktu Generasi
Pada fase eksponensial, populasi mikrobia mengalami pembelahan
paling tinggi dan konstan dalam waktu generasi yang pendek. Waktu
generasi mikrobia merupakan waktu yang dibutuhkan sel mikrobia untuk
membelah menjadi 2 sel. Setiap sel mikrobia akan membelah 2x lipat
sehingga peningkatan jumlah populasi selalu 2n, n adalah jumlah generasi.
Pertambahan jumlah sel dalam populasi disebut sebagai pertumbuhan
mikrobia. Pada fase eksponensial, awalnya sel mikrobia membelah secara
pelan kemudian penambahannya semakin meningkat cepat. Secara
matematis memiliki rumus:

Nt = N0 × 2n
Nt : jumlah sel setelah tumbuh selama waktu t
t : waktu pertumbuhan selama fase eksponensial
N0: jumlah sel mula-mula selama fase eksponensial
2 : bilangan tetap (pembelahan biner)
n : jumlah generasi (pembelahan)

Skala logaritmik menunjukkan jumlah sel dan skala aritmetik


menunjukkan waktu inkubasi. Titik perpotongan antara skala logaritmik
dengan skala aritmetik menunjukkan adanya pertumbuhan eksponensial dan
populasi mengalami penggandaan dalam interval waktu konstan. Waktu
generasi berbanding terbalik dengan kecepatan pertumbuhan rerata.
(Prescott, 1999).
Rata-rata kecepatan pertumbuhan pada fase eksponensial sangat
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (seperti nutrisi, kondisi inkubasi),
seperti halnya karakteristik genetik suatu mikrobia. Pada umumnya,
prokariot lebih cepat tumbuh daripada eukariot dan eukariot yang berukuran
kecil lebih cepat tumbuh daripada yang ukurannya lebih besar. Hal ini

11
karena sel yang berukuran kecil memiliki kapasitas penyerapan nutrisi dan
pembuangan sisa metabolisme lebih besar daripada sel yang berukuran
besar. Kondisi tersebut mempercepat proses metabolisme yang akan
mempengaruhi kecepatan pertumbuhan mikrobia. Pertumbuhan yang lebih
cepat pada prokariot (bakteri) menyebabkan waktu generasinya lebih
pendek dibandingkan eukariot (Brock, 2012).

12
BAB III
METODE KERJA

3.1. Alat dan Bahan


3.1.1 Alat dan Bahan Berat Kering
Berikut ini adalah alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum
Berat Kering.
Tabel 3.1 Alat dan Bahan Berat Kering
No. Nama Alat Ukuran Jumlah Nama Bahan Konsentrasi
1. Centrifugal - 1 Alga Hijau -
2. Timbangan - 5 - -
3. Tabung reaksi - 1 - -

3.1.2 Alat dan Bahan Filtrasi


Berikut ini adalah alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum
Filtrasi.
Tabel 3.2 Alat dan Bahan Filtrasi
No. Nama Alat Ukuran Jumlah Nama Bahan Konsentrasi
Membran
1. - 1 EMB -
filtrate
Sampel bakteri
2. - - 5 -
dalam medium cair
3. - - 1 Air suling -

3.1.3 Alat dan Bahan Tes Pendugaan


Berikut ini adalah alat dan bahan yang digunakan pada Tes Pendugaan.
Tabel 3.3 Alat dan Bahan Tes Pendugaan
No. Alat Ukuran Jumlah Bahan Jumlah
1. Tabung reaksi - 9 buah Sampel air 4 secukupnya
2. Tabung durham - 9 buah Media lactose broth 9 buah
3. Pipet mikron 0,1 ml 1 buah - -
4. Bunsen - 1 buah - -
5. Korek Api - 1 buah - -
6. Inkubator - 1 buah - -

13
3.1.4 Alat dan Bahan Plate Count
Berikut ini adalah alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Plate
Count.
Tabel 3.4 Alat dan Bahan Plate Count
No. Nama Alat Ukuran Jumlah Nama Bahan Konsentrasi
1. Tabung reaksi - 5 Medium NA cair -
Sampel bakteri
2. Cawan petri - 5 -
dalam medium cair
3. Plate count - 1 Air suling -

3.1.5 Alat dan Bahan Haemositometer


Berikut ini adalah alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum
Haemositometer.
Tabel 3.5 Alat dan Bahan Haemositometer
No. Nama Alat Ukuran Jumlah Nama Bahan Konsentrasi
1. Haemocytometer - 1 Trypon blue -
Sampel bakteri
2. Cover glass - 1 -
dalam medium cair
3. Slide - 1
4. Mikroskop - 1

3.1.6 Alat dan Bahan Spektrofotometer


Berikut ini adalah alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum
Spekfotometer.
Tabel 3.6 Alat dan Bahan Spektrofotometer
No. Nama Alat Ukuran Jumlah Nama Bahan Konsentrasi
1. Spektofotometer - 1 Alga Hijau -
2. Kuvet - 5 - -
3. Tisu - 1 - -

14
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Cara Kerja Berat Kering
Berikut adalah cara kerja dalam praktikum Berat Kering.
Tabel 3.7 Cara Kerja Berat Kering
No. Cara kerja Gambar

Memasukkan tabung reaksi sampel uji


1.
ke dalam sentrifuga.

Menyalakan sentrifuga, lalu atur


2.
kecepatan putaran dan atur waktunya.

Mengambil tabung uji yang sudah


3.
terpisah antara endapan dan larutan.

4. Memindahkan ke cawan porselen.

5. Meletakkan di Oven selama 24 jam.

15
No. Cara kerja Gambar

Menggerus sampel uji yang sudah


6.
mengering.

Menimbang sampel uji menggunakan


7.
neraca analitik.

3.2.2 Filtrasi
Berikut adalah cara kerja dalam praktikum Filtrasi.
Tabel 3.8 Cara Kerja Filtrasi
No. Cara kerja Gambar

Memasang pompa vakum ke


1.
erlenmeyer.

Meletakkan kertas saring ke dalam


2.
corong buncher.

16
No. Cara kerja Gambar

Meletakkan corong buncher di atas


3.
kertas saring.

4. Menjepit corong dengan klep penjepit.

5. Menyalakan pompa vakum.

Memasukkan cairan uji ke dalam


6.
corong buncher.

Mengambil kertas saring yang terdapat


7. filtrat uji. Lalu masukkan kertas saring
ke dalam EMB.

17
3.2.3 Tabel MPN (Tes Pendugaan)
Berikut adalah cara kerja dalam praktikum Tes Pendugaan.
Tabel 3.9 Cara Kerja Tes Pendugaan
No. Cara kerja Gambar
Menyiapkan 9 tabung reaksi berisi
kaldu laktosa dan tabung durham. Lalu
membagi menjadi 3 kelompok,
1. masing-masing kelompok terdiri dari:
- Kelompok 1 Pengenceran 10-1
- Kelompok 2 Pengenceran 10-2
- Kelompok 3 Pengenceran 10-3

Memasukan 1 ml air sampel kedalam


masing-masing tabung kelompok 1
2.
(Pengenceran 10-1) dengan
menggunakan pipet mikron.

Mengambil 1 ml dari masing-masing


tabung pengenceran pertama dengan
3. menggunakan pipet mikron untuk
diteteskan ke tabung kelompok 2
(Pengenceran 10-2).

Mengambil 1 ml dari masing-masing


tabung pengenceran kedua dengan
4. menggunakan pipet mikron untuk
diteteskan ke tabung kelompok 3
(Pengenceran 10-3).

18
No. Cara kerja Gambar

Inkubasikan semua tabung selama 48


5.
jam.

3.2.4 Plate Count


Berikut adalah cara kerja dalam praktikum Plate Count.
Tabel 3.10 Cara Kerja Plate Count
No. Cara kerja Gambar

Menyiapkan 9 cawan petri yang telah


1.
berisi medium agar dan 9 tabung reaksi.

Melakukan pengenceran biakkan murni


bakteri dengan air suling (1:10; 1:100;
1:1000; 1:10.000; dan seterusnya
2.
sampai tidak melebihi 300 koloni),
masing – masing dibuat triplo dan
masukkan ke dalam tabung reaksi.

Mengosekkan hasil pengenceran dari


3. tabung reaksi ke dalam cawan petri
berisi medium agar.

19
No. Cara kerja Gambar

Menginkubasikan dengan temperatur


4.
370C dalam waktu 24 jam.

Mengamati dan memilih dari ke 15


cawan petri dengan koloni bakteri yang
5.
tumbuh paling banyak (30-300 koloni
bakteri).

Menghitung banyak koloni bakteri


6.
dengan Coloni Counter.

3.2.5 Haemositometer
Berikut adalah cara kerja dalam praktikum Haemositometer.
Tabel 3.11 Cara Kerja Haemositometer
No. Cara kerja Gambar

Menyiapkan alat dan bahan yang akan


1.
digunakan.

Mensterilisasi kaca preparat


haemositometer beserta cover glass
2. kemudian Letakkan cover glass pada
bagian tengah kaca preparat
hemositometer (pada ruang hitung).

20
No. Cara kerja Gambar
Memasukkan biakkan bakteri dengan
menggunakan pipet tetes (lakukukan
sterilisasi sebelum dan setelah) ke
3. bagian tepi cover glass (dengan
sendirinya tetesan tersebut akan
mengalir ke bawah cover glass dan
mengisi ruang hitung.

Meneteskan larutan Trypan blue ke


4. bagian tepi cover glass hingga
menyebar ke ruang hitung.

Mengamati di bawah mikroskop dan


hitung jumlah bakteri yang viable dan
available (bedakan antara activate
5. (kotoran) dengan bakteri) pada kotak
kotak dalam ruang hitung, kemudian
lakukan perhitungan dan buat kurva
pertumbuhannya.

3.2.6 Spektrofotometer
Berikut adalah cara kerja dalam praktikum Spektrofotometer.
Tabel 3.12 Cara Kerja Spektrofotometer
No. Cara kerja Gambar

1. Membersihkan kuvet dengan aquades.

Menuangkan mikroalga hingga penuh,


2. lalu bersihkan/keringkan bagian luar
kuvet.

21
No. Cara kerja Gambar

Meletakkan kuvet di dalam


3.
spektrofotometer.

Menutup spektrofotometer dan amati


4.
hasil yang muncul di monitor.

22
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan
4.1.1 Nilai MPN
Soal No. 1
Pada percobaan pemeriksaan air dengan 3 seri pengenceran yaitu 10-1 , 10-
2
dan 10-3 diperoleh hasil tabung positif yaitu sebesar 2;2;1. Hitunglah
banyaknya jumlah sel dengan menggunakan tabel MPN dan tanpa
menggunakan tabel!
Jawab:
a. Dengan tabel
Volume tes: 33, 3 sel/100ml
10
Jumlah sel = Nilai MPN (dari tabel) x Volume tes

10
Jumlah sel = 28 x 33,3

= 8,408 sel/100ml
b. Tanpa Tabel
Volume tes: 33,3 sel/100ml
Jumlah tabung hasil positif x 100
Jumlah sel = Total volume negatif x total volume

22,1 x 100
Jumlah sel = 11,1 x 33,3

= 5,93 sel/100ml

Soal No. 2
Pada percobaan pemeriksaan air dengan 3 seri pengenceran yaitu 10-1 , 10-
2
dan 10-3 diperoleh hasil tabung positif yaitu sebesar 3;1;0 Hitunglah
banyaknya jumlah sel dengan menggunakan tabel MPN dan tanpa
menggunakan tabel!

23
Jawab:
a. Dengan tabel
Volume tes: 33, 3 sel/100ml
10
Jumlah sel = Nilai MPN (dari tabel) x Volume tes

10
Jumlah sel = 43 x 33,3

= 12,912 sel/100ml
b. Tanpa tabel
Volume tes: 33,3 sel/100ml
Jumlah tabung hasil positif x 100
Jumlah sel = Total volume negatif x total volume

31 x 100
Jumlah sel = 2,3 x 33,3

= 40,475 sel/100ml

4.1.2 Plate Count


Diketahui pengenceran 10-3 dengan banyaknya koloni sebanyak 150
CFU/ml
Jawab:
1
Colony Count = 150 CFU/ml x
10−𝟑

= 150.000 sel/ml

4.1.3 Haemocytometer
Diketahui total sel hidup: 54, Total sel mati: 3, Total seluruhnya 57
sel
Jawab:
54
1. % sel hidup = x 100
57

= 94,7 %

24
54 sel hidup
2. Rata-rata =
5 Kotak
= 10,8
200µl
3. Dilution Factor =
100 µ𝑙

=2
4. Konsentrasi = rata-rata x dilution x 104
= 10,8 x 2 x 104
= 216000 sel/ml

4.1.4 Waktu Regenerasi


Diketahui jika 100 sel telah ditumbuhkan selama 5 jam menghasilkan
106 sel. Hitunglah waktu regenerasi!
Jawab :

𝐍𝐭 = 𝐍𝐨 𝐱 𝟐𝐧

𝐭 𝐱 𝐥𝐨𝐠 𝟐
G=
𝐥𝐨𝐠 𝐍𝐭−𝐥𝐨𝐠 𝐍𝐨
𝟓 𝐣𝐚𝐦 𝐱 𝐥𝐨𝐠 𝟐
G=
𝐥𝐨𝐠 106 − log 100

= 0,3762 jam

4.2. Pembahasan
Dalam praktikum Enumerisasi untuk menghitung jumlah sel bakteri per ml
yang selanjutnya digunakan untuk membuat kurva pertumbuhan bakteri. Dalam
percobaa kali ini menggunakan tujuh metode, yaitu MPN (most probable
number), waktu regenerasi, berat kering, filtrasi, Spektrofotometer,
Haemocytometer, dan Plate Count.
Pada metode pertama yaitu metode MPN, MPN merupakan perhitungan
jumlah bakteri yang hidup dalam sampel uji. Metode ini digunakan untuk
menghitung mikroba yang hidup di dalam sampel uji. Kekurangan pada metode
ini adalah dalam suatu percobaan hanya dapat menggunakan sedikit sampel,

25
lalu untuk mendapatakan kultur yang baik butuh waktu lama, dalam
menghitung bakteri hanya didapatkan hasil yaitu perkiraannya saja,
membutuhkan banyak perlengkapan dan tidak dapat dilakukan di lapangan,
pengerjaannya harus dilakukan di laboratorium.
Pada metode plate count dilakukan beberapa kali pengenceran sample yaitu
10-1, 10-2, 10-3, 10-4, dan 10-5. Pengenceran yang paling tepat terdapat pada
pengenceran 10-3 karena sampel tersebut tidak terlalu encer dan juga tidak
terlalu kental karena dalam pengeceran ini dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu faktor kekentalan yang dapat bakteri tersebut sulit untuk dilihat oleh plate
count dan faktor keenceran yaitu bakteri yang tersebar sangatlah sedikit
sehingga koloni yang dihasilkan juga sangat sedikit. Jumlah koloni bakteri yang
dapat dihitung jumlahnya antara 30-300 koloni. Misalnya dari contoh soal
diketahui pengenceran 10-3 dengan banyaknya koloni sebanyak 150 CFU/ml,
dengan rumus yang ada didapatkan bahwa jumlah sel yang terdapat pada cawan
petri tersebut adalah sebanyak 150.000 sel/ml.
Metode plate count terdapat beberapa keuntungan dan kekurangan
dibanding dengan metode-metode lainnya. Kentungannya dari metode ini
adalah hanya sel mikroba yang hidup yang dapat dihitung, beberapa jasad renik
dapat dihitung sekaligus dan metode ini dapat digunakan untuk isolasi dan
identifikasi mikroba. Untuk kekurangan metode ini adalah hasil perhitungan
tidak menunjukan jumlah sel yang sebenarnya karena beberapa sel yang
berdekatan membentuk koloni, serta medium dari kondisi inkubasi yang
berbeda mungkin menghasilkan jumlah yang berbeda, mikroba yang
ditumbuhkan juga harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk
koloni yang kompak, jelas, menyebar, dan memerlukan persiapan dan waktu
inkubasi yang relatif lama.
Metode yang ketiga yaitu melakukan Petroff-Hauser Chamber
menggunakan alat Haemocytometer. Alat ini yang memiliki 25 kotak dengan
kedalaman kotaknya sebesar 0,02 mm dan mempunyai luas per kotaknya 1
mm2. Haemocytometer bertujuan untuk menghitung jumlah sel dalam satuan
volume (sel sangat kecil). Dalam percobaan menggunakan media cair Trypan

26
Blue. Trypan Blue bergunanya untuk pengenceran dan memberi warna yang
berbeda pada bakteri yang hidup maupun bakteri yang tidak hidup sehingga
bakteri yang hidup dapat dibedakan dengan yang tidak hidup. Bakteri yang
hidup pada haemocytometer yaitu jika terdapat bakteri berwarna putih
kekuningan, jika terdapat bakteri berwarna biru maka bakteri tersebut adalah
bakteri yang mati.
Haemocytometer memiliki kekurangan dan kelebihan penggunaannya
dalam proses perhitungan bakteri secara langsung. Kelebihannya dari metode
ini antara lain metode ini cepat dalam menghasilkan data dan tidak perlu
menunggu lama, serta datanya atau jumlah selnya langsung didapat pada saat
itu juga setelah menghitung menggunakan rumusnya dan menghemat biaya.
Sedangkan kelemahannya ialah tidak dapat membedakan sel yang hidup dan
yang mati karena perhitungan secara keseluruhan dan data yang dihasilkan tidak
akurat karena setiap pengamat memiliki mata yang berbeda-beda dan terdapat
keterbatasan dalam melihat serta menghitung sel yang ada dalam kamar
Haemocytometer.
Pada metode spekfotometer biasanya menggunakan alat Turbidimeter,
tetapi dapat juga menggunakan alat spektoftometri dan menggunakan media
alga yang berbeda suhu dan kekeruhan. Prinsip umum dari alat tersebut adalah
pengukuran intensitas cahaya, cahaya yang di absorbsi akan bergantung kepada
Jumlah dan Ukuran Partikel. Pada percobaan kali ini menggunakan alat
spektofotometri yang menggunakan panjang logam 600 nm. Dengan alat
tersebut maka akan didapati nilai absorbansi. Prinsip dari absorbansi adalah
Semakin besar konsentrasi larutan maka semakin besar absorbansinya,
Semakin besar dan banyak jumlah partikel maka jumlah cahaya yang
diabsorbsikan semakin besar. Setelah diketahui nilai konsentrasi dan nilai
absorbansi dapat dibuat kurva kalibrasinya. Pembuatan kurva kalibrasi atau
kurva standar bertujuan untuk mengetahui linieritas hubungan antara
konsentrasi larutan standar dengan absorbansinya.
Pada metode berat kering, alat yang digunakan adalah alat centrifuge,
centrifuge merupakan alat untuk memutar sampel pada kecepatan tinggi,

27
memaksa partikel yang lebih berat terkumpul ke dasar tabung centrifuge.
Perhitungan massa sel secara langsung atau tidak langsung sering digunakan
untuk mengukur pertumbuhan sel selama proses fermentasi, dimana komposisi
substrat atau bahan yang difermentasi dapat diamati dan diukur dengan teliti.
Untuk menentukan massa sel mikroba dalam suatu populasi, dilakukan dengan
cara menumbuhkannya dalam suspensi homogen pada medium yang sesuai
dengan konsentrasi (jumlah sel/ ml) dan densitasnya (mg/ml), dihitung adanya
peningkatan seiring dengan waktu. Kelemahan dari metode berat kering ini
adalah metode ini hanya dapat menghitung alga dan jamur.
Metode selanjutnya adalah metode waktu generasi yang dimana waktu
generasi adalah waktu yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk
meningkatkan jumlah sel menjadi dua kali lipat jumlah semula dalam waktu
tertentu. Mayoritas bakteri memiliki waktu generasi bersekitas 1-3 jam, E.coli
memiliki waktu generasi yang singkat 15-20 menit Microbacterium
tuberculosis memiliki waktu generasi sekitar 20 jam, tetapi tidak semua species
bakteri mempunyai waktu generasi yang sama. Pada percobaan waktu generasi,
digunakan untuk menghitung waktu generasi bakteri diamana bakteri sendiri
melakukan reproduksi dengan cara pembelahan biner atau sering disebut
pembelahan ganda sehingga didapat pertambahan bakteri pada waktu ke-n
adalah 2n. Dalam praktikum ini diberikan suatu contoh studi kasus mengenai
bakteri dengan jumlah sel awal 100 namun setelah 5 jam bakteri tersebut
bertambah jumlahnya menjadi 106 sel, sehingga waktu generasi bakteri dapat
dihitung dengan rumus yang ada dan mendapatkan hasil 0,3762 jam atau setara
dengan 22 menit 36 detik.
Metode terakhir adalah metode filtrasi. Metode filtrasi ini memisahkan
campuran dua atau lebih komponen tanpa menggunakan panas. Komponen-
komponen akan terpisah berdasarkan ukuran dan bentuknya, dengan bantuan
tekanan dan selaput semi-permeable. Hasil pemisahan berupa retentate (bagian
dari campuran yang tidak melewati membran) dan permeate (bagian dari
campuran yang melewati membran). Metode ini bakteri disaring menggunakan
kertas saring, yang dimana kertas saring tersebut membutuhkan pompa karena

28
ukuran pori-pori kertas saring tersebut sangat kecil. Kelebihan dari metode
filtrasi adalah hasil yang didapatkan lebih cepat, namun kelemahannya adalah
jika praktikan kurang teliti maka hasil yang didapatkan tidak terlihatnya antara
bakteri yang hidup dan bakteri yang mati. Bila tidak terlihat maka harus
dilakukan tahap pengenceran.

29
BAB V
SIMPULAN

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat disimpulkan dari praktikum ini:
1. Pada praktikum Enumerasi Mikroba dapat dilakukan tujuh metode yaitu
MPN (most probable number), waktu regenerasi, berat kering, filtrasi,
Spektrofotometer, Haemocytometer, dan Plate Count.
2. Pada meode plate count dilakukan dengan beberapa kali pengenceran
sample yaitu 10-1, 10-2, 10-3, 10-4, 10-5 pengenceran yang tepat itu pada
pegenceran 10-3.
3. Syarat koloni bakteri yang dapat dihitung pada metode plate count antara
30-300 koloni.
4. Larutan trypan blue pada metode haemocytometer berguna untuk
membedakan bakteri yang hidup dan bakteri yang mati.
5. Pada spektrofotometer semakin tinggi nilai absorbai maka semakin tinggi
pula kekeruhan sampel dan jumlah sel yang terkandung dalam sampel.
6. Metode berat kering hanya dapat menghitung alga dan jamur.
7. Hasil filtrasi adalah zat padat yang disebut residen dan zat cairnya disebut
dengan filtrat.
8. Masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan.

30
DAFTAR PUSTAKA

Carol, B., Freund, M. 1964. Factors Affecting Haemocytometer Counts of Sperm


Concentration in Human Semen. The Journal of the Society for Reproduction
and Fertility.
Dwidjoseputro. 1990. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.
Fardiaz, S. 1992. Mikirobiologi Pangan. Gramedia Pustaka Utama.
Jannasch, H.W., dan G.E., Jones. (1959). Bacterial Population in Sea Water as
Determined by Different Methods of Enumeration. Limnal. Oceanogr. 4:128-
139.
Jutono, J., Soedarsono, S., Hartadi, S., Kabirun, S., Suhadi, D., Soesanto. 1980.
Pedoman Praktikum Mikrobiologi Umum. Departemen Mikrobiologi Fakultas
Pertanian UGM, Yogyakarta
Lay, W. B. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Nugroho, Astri Rinanti dan Sintorini Moerdjoko. 2018. Penuntun Praktikum
Biologi/Mikrobiologi Lingkungan. Jakarta: Trisakti.
Penn, C. 1991. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek: Teknik dan Prosedur Dasar
Laboratorium. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Purwoko, T. 2007. Fisiologi Mikrobia. Bumi Aksara, Jakarta.
Rahayu, Asih. 2000. Deteksi Adanya Bakteri Pada Air Minum dalam Kemasan
Galon. Jurnal Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma.
Surabaya.
Richards, B. N. 1987. The Microbiology of Terrestrial Ecosystems. New York: John
Willey and Sons Inc.
Volk &Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar jilid 1. Erlangga. Jakarta.

31