Anda di halaman 1dari 37

BAB III

PROSES PRODUKSI

3.1 Weight Bridge (Jembatan Timbang)


Penerimaan bahan baku pembuatan minyak Goring maka harus menimbang serta
memeriksa segel utama bahan baku CPO dari PKS yang ada diwilayah sekitaran Kabupaten
Kotawaringin Barat. Unit pertama yaitu jembatan timbang (WB) untuk proses penimbangan
berat beban truk-truk pengangkut bahan baku dan yang lainnya ketika masuk dan keluar area
pabrik. Jembatan timbang ini terletak didepan pintu masuk area pabrik dengan dua jalur yaitu
jalur masuk dan jalur keluar.
Adapun material yang harus ditimbang sebelum masuk dan keluar area pabrik adalah:

1. Penerimaan Bahan Baku Utama: Crude palm oil (CPO) dan palm kernel (PK).
2. Penerimaan Bahan penunjang;
a) Chemical: BE, PA dan bahan kimia yang lainnya.
b) Spare Part: peralatan suku cadang pabrik.
c) Bahan bakar: Cangkang kelapa sawit dan solar.

Gambar 3 1 Weight Bridge (jembatan timbang) PT SBI

9
3.1.1 Fungsi Jembatan Timbang (Weight Bridge)

Jembatan timbang berfungsi untuk mengetahui jumlah (berat) material yang


masuk dan keluar pabrik. Adapun material tersebut pada umumnya adalah TBS, CPO,
Kernel, Janjangan Kosong, Material Teknik Sipil (batu, sirtu pasir) dan Solar. Hal ini
bermanfaat dalam menentukan jumlah TBS yang diproduksi untuk bagian perkebunan,
premi/upah yang akan dibayarkan kepada karyawan (pengangkutan) dan penentuan jumlah
produksi (rendemen minyak dan kernel) bagi pabrik.

Pencatatan hasil penimbangan meliputi berat (kg), jenis material, asal material,
nomor kendaraan, tanggal dan waktu penerimaan atau pengiriman, petugas penimbangan
dan diketahui Mill Head Processing. Hasil penimbangan TBS dicatat untuk disampaikan
kepada Mill Manager, Estate Manager, Plasma Estate Manager dan Petugas Pihak Ketiga.

3.1.2 Peralatan Pada Jembatan Timbang (Weight Bridge)

a) Indicator Timbangan
Indicator adalah alat yang digunakan untuk membaca dan mengetahui berat dari
mobil / truck yang ditimbang, sama seperti timbangan pada umumnya Indicator
merupakan komponen penting dari sebuah Jembatan Timbang.

Gambar 3 2 Indikator Jembatan Timbang

10
b) Sensor Strain Gauge
Sensor strain gauge adalah sensor yang digunakan untuk mengukur berat atau
beban dari suatu benda dalam ukuran besar. Sensor strain gauge ini sering
diaplikasikan pada jembatan timbang mobil atau alat ukur berat dalam skala besar.
Sensor strain gauge adalah grid metal-foil yang tipis yang dilekatkan pada
permukaan dari struktur. Apabila komponen atau struktur dibebani, terjadi strain dan
ditransmisikan ke foil grid. Tahanan foil grid berubah sebanding dengan strain
induksi beban. Sensor strain gauge pada umumnya adalah tipe metal-foil, dimana
konfigurasi grid dibentuk oleh proses photoeching. Karena prosesnya sederhana,
maka dapat dibuat bermacam macam ukuran gauge dan bentuk grid. Untuk macam
gauge yang terpendek yang tersedia adalah 0,20 mm; yang terpanjang adalah 102
mm.

Gambar 3 3 Sensor Strain Gauge

c) Loadcell
Load cell atau yang biasa disebut sensor timbangan adalah satu dari bagian part
Jembatan Timbang yang letaknya antara pondasi dan konstruksi Jembatan Timbang,
load cell umumnya terbuat dari Alloy Steel & Stainless Steel, kapasitas load cell
tergantung dari kapasitas Jembatan Timbang ada yang 20 / 25 / 30 / 50 Ton.

Gambar 3 4 Loadcell Jembatan Timbang.

11
d) Konstruksi Jembatan Timbang (Weight Bridge)
Platform atau jembatan timbang merupakan hal penting, karena kekuatan
kapasitas ditentukan oleh bahan-bahan dan disaint konstruksi itu sendiri. Sedangkan
ukuran platform yaitu 8 x 3 m untuk tronton, 16 x 3 meter untuk container 40 feet
atau gandengan. Konstruksi Jembatan Timbang sedikit berbeda dengan jembatan
biasa pada umumnya, karena terbuat dari plat dan besi yang khusus didesain untuk
alat timbang, contoh dari besi tersebut adalah (Besi WF : 600/500/250/200 Untuk
Main Beam & Cross Beam ). Sedangkan untuk PT SBI sendiri menggunakan
konstruksi berjenis Twin Module Pitless Weight Bridge dikarenakan memerlukan
beban yang sangat berat dari truck pengangkut CPO untuk menimbang muatan yang
ada dipabrik.

Gambar 3 5 konstruksi twin module pitlles weight bridge.

12
e) Software dan printer
Software Jembatan Timbang fungsinya hampir sama seperti software yang
biasanya digunakan untuk parkir kendaraan bermotor, hanya perbedaanya jika
software parkir biasa tidak dilengkapi dengan data material maupun berat dari
kendaraan yang lewat, jika di software Jembatan Timbang semua data tersebut bisa
terrecord / tersimpan dan dapat dicetak untuk struk / tiketnya.

Gambar 3 6 Sistem Software pada Jembatan Timbang.

f) Kamera Timbangan
Jembatan yang terdapat di PT SBI telah dilengkapi dengan kamera yang
berfungsi untuk menyimpan data mobil dan material truck maupun mobil yang
ditimbang baik nomor kendaraan maupun material truck agar hasil lebih transparan
untuk perusahaan.

Gambar 3 7 Kamera Jembatan Timbang

13
3.1.3 Cara Kerja Jembatan Timbang (Weight Bridge)
Pada saat mobil truck mulai masuk atau menimbang ke dalam timbangan maka
Load cell sebagai sensor mulai mendeteksi gaya tekanan beban di rubah kedalam arus/
tegangan listrik. Besaran arus/tegangan listrik yang dihasilkan oleh load cell selalu berubah-
ubah mengikuti beratnya beban yang ditimbang. Selanjutnya arus/tegangan dikirim ke
analog yang ada di indicator, Analog digital segera memproses perubahan arus/tegangan
yang di timbulkan oleh load cell sedemikian rupa hingga terbentuk angka digital sebagai
hasil penimbangan.

Gambar 3 8 Skema Alur Pada Jembatan Timbang

14
3.2 Unloading CPO dan Unloading Kernel
Unit yang kedua yaitu Unloading CPO dan Unloading Kernel dimana pada unit ini
merupukan proses balking/pembongkaran bahan baku utama kedalam tangki penyimpanan
yang digunakan yaitu CPO (crude palm oil) dan kernel (inti sawit), CPO akan ditampung dalam
storage tank yang kemudian akan diproses di Refinery sedangkan kernel akan ditampung ke
dalam silo yang selanjutnya akan diproses di KCP (kernel crushing plant) dikarena proses
pembuatan unloading belum bepoprasi makad menggunakan unloading sementara untuk proses
penampungan CPO.

Gambar 3 9 Unloading CPO sementara dan Storage Tank.

15
3.3 Rifinery.
Dalam Rifinery plant terbagi menjadi 2 tahapan yaitu Refinery/pengolahan tahap pertama
untuk CPO yang akan menghasilkan produk minyak setengah jadi (RBDPO) kemudian setelah
itu dilanjutkan masuk ke tahap fractionation untuk diperoleh hasil produk akhir berupa olein
(minyak goreng) dan stearin. Hasil olahan dari Refinery Plant akan dikembalikan ke storage
tank melalui Pump House yang kemudian bisa dikirim/dijual ke konsumen.

Gambar 3 10 Rifinery Plant PT SBI

3.3.1 Bahan Pembantu


a) Bleaching Earth
Bleaching Earth disini adalah bahan yang berfungsi untuk mengapsorbi kotoran
kotoran (impurities) yang telah terikat dalam prose degumming seperti kandungan
logam,karoten,kelembapan bahan yang tak terlarut atau zat zat yang bersifat koloidal seperti
gum,protein,resin dan fosfotida dalam CPO dimana semua ini kandungan dalam CPO.
Bleaching Earth juga sebagai bahan pemucatatan dalam pengambilan warna CPO dalam
proses yang digunakan dalam proses Bleaching Section. Bleaching Earth di Plant Refinery
memiliki batas penggunaan 2% max tergantung dari DOBI value. DOBI value merupakan
nilai yang digunakan dalam menentukan apakah crude palm oil mudah dipucatkan atau tidak.
DOBI value CPO dibawah 2, berarti CPO sukar dipucatkan sehingga diperlukan dosing yang
lebih dari biasanya, untuk DOBI value 2-2,3 tidak dapat diprediksi, dan DOBI value diatas
2,3 sangat mudah dipucatkan sehingga tidak membutuhkan dosing yang banyak.

16
Gambar 3 11 Bleaching Earth

3.3.2 Phosporic Acid (H3PO4)


Phosphoric Acid(H3PO4) yang digunakan dalam Plant Refinery adalah Phosporic Acid
dengan kada 85%. Phosporic acid digunakan untuk mengikat getah, phosphatidies dan unsur-
unsur logam. Dosing penggunaan Phosporic Acid diatur berkisar 0,04-0,07% dari feed oil
dimana disini Phosporic Acid yang hendak digunakan harus di pompa menggunakan jenis
pompa diagfragma jenis udara.

Gambar 3 12 Phosphoric Acid

17
3.3.3 Pompa Diagfrma
Pompa Diafragma termasuk Pompa Perpindahan Positif dimana Pompa Diafragma
mempunyai komponen utama yang berupa membran fleksibel sebagai elemen pemindah
positif. Pompa Diafragma mentransfer energi dari penggerak ke cairan melalui batang
penggerak yang bergerak bolak-balik untuk menggerakkan difragma sehingga sehingga timbul
isapan dan penekanan secara bergantian antara katup isap dan katup tutup .Pompa ini umumnya
untuk kapasitas kecil dipakai untuk aliran jernih atau yang mengandung padatan misalnya
bubur kertas kental , air selokan bahkan campuran air dan pasir . Pompa jenis ini kemungkinan
tersumbatnya kecil dan tahan terhadap korosi oleh bahan – bahan kimia yang dipompanya ,
dikarenakan bahan yang berhubung langsung berupa difragma.

Gambar 3 13 Pompa Diafragma PT SBI.

18
3.3.4 Jenis-jenis Pompa Diafragma.
Terdapat beberapa Pompa Diafragma berdasarkan Jenis Penggerak Diafragma dan
Sistem Katup pada pompa diafragma antara lain:
a) Pompa Diafragma Penggerak Udara
Pompa diafragma ini dikenal dengan nama AODD Pumps ( Air Operated
Double Diaphragm Pumps). Pompa diafragma penggerak udara mempunyai 2
diafragma yang dihubungkan oleh suatu poros penghubung dimana ketika udara
bertekanan memasuki ruang pada diafrag ma , maka akan menekan diafragma tersebut
dan poros penghubung menarik diafragma lainnya, akibatnya fluida di diafragma
pertama menjadi tertekan dan keluar, sebaliknya di difragma kedua terjadi penghisapan
fluida , jika sistem pneumatik mendeteksi diruang di diafragma pertama penuh dengan
udara maka secara otomatis tekanan udara dipindah kekanan yang berakibat kebalikan
dari proses pertama tadi, sehingga efek yg dihasilkan adalah terjadinya sistem saling
memompa secara bergantian. Karena desainnya memiliki dua pompa diafragma,
dinamakan pompa diafragma ganda yang memanfaatkan tekanan angin sebagai
penggerak diafragmanya. Posisinya saling berhadapan dimana kedua diafragmanya
(diafragma kiri dan kanan) terhubung oleh sebuah piston atau plunger.

Gambar 3 14 Pompa Diafragma Udara

19
b) Pompa Diafragma Penggerak Hidrolik
Pompa Hidrolik mempunyai sistem penggerak yang mirip dengan pompa
difragma penggerak udara ,namun pompa hidrolik biasanya menggunakan satu
diafragma yang terhubung dengan penggerak hidrolik dimana ketika sistem
hidrolik menarik diafragma maka yg terjadi adalah efek hisap yg membuat
Fluida masuk melalui inlet dan melewati katup masuk yg terbuka , sedangkan
katup untuk keluar fluida tertutup, namun ketika sistem hidrolik menekan
difragma maka fluida yg masuk akan tertekan keluar melalui outlet melalui
katup yg terbuka sedangkan katup masuk justru tertutup .Begitu seterusnya
sehingga fluida akan mengalir.

Gambar 3 15 Pompa Diafragma Hidrolik.

c) Pompa Diafragma Penggerak Motor/Mekanik


Pompa jenis ini menggunakan motor sebagai penggerak diafragmanya.
Diafragma digerakkan oleh lengan shaft yang dihubungkan dengan motor,
gerakan rotasi motor menyebabkan gerakan translasi lengan shaff yang
mengakibatkan difragma bergerak maju mundur, sehingga menimbulkan efek
hisap dan tekan pada fluida , sehingga dengan dibantu katup dalam membuka
dan menutup aliran fluidamaka fluida dapat mengalir

Gambar 3 16 Pompa Diafragma Penggerak Motor

20
d) Pompa Diafragma Penggerak Selenoid
Jenis pompa diafragma ini digerakkan oleh semacam piston atau plunger
yang didorong atau ditarik oleh medan magnet yang dihasilkan oleh solenoid.
Solenoid merupakan alat yang akan menghasilkan gerakan mekanik linier jika di
aliri arus listrik. Secara umum solenoid terdiri dari lilitan dan inti baja. Jika lilitan
di aliri arus listrik akan menghasilkan medan magnet yang akan menarik atau
mendorong inti besinya. Gerakan inti besi ini dimanfaatkan untuk menggerakkan
diafragma pada pompa diafragma.

Gambar 3 17 Pompa Diafragma Selenoid

3.3.5 Prisip kerja pompa diafragma


Berikut skema dan cara kerja pompa diafragma ;

Gambar 3 18 Cara Kerja Pompa Diafragma

21
Gambar di atas merupakan skema dari sebuah pompa diafragma secara umum
serta komponen-komponennya, yang digerakkan secara mekanik oleh sebuah motor
dengan roda eksentriknya. (roda eksentrik maksudnya roda yang berbentuk unik
tidak bulat sempurna yang dibuat dengan tujuan khusus Inti dari pompa jenis ini
adalah adanya membran / diafragma yang bergerak maju-mundur di dalam ruang
pompa untuk menghisap masuk dan mendorong air keluar. Diafragma terbuat dari
bahan yang elastis dan kedap air.

Ketika lengan camshaft menarik membran / diafragma keatas maka akan


menimbulkan efek hisap sehingga inlet valve akan membuka dan fluida masuk
sedangkan outlet valve akan menutup, danketika lengan camshaft menekan membran
/ diafragma maka fluida yg masuk akan. ditekan keluar melalui outlet valve yg
terbuka akibat tekanan fluida sedangkan inlet valve justru akan menutup. Begitu
seterusnya sehingga fluida akan terus mengalir.
Gambar sebelah kiri (gambar A), menunjukkan saat diafragma bergerak mundur
untuk menghisap masuk air. Katup masuk (inlet valve) terbuka sehingga air terhisap
masuk memenuhi ruang pompa melalui saluran masuk (inlet). Pada saat bersamaan
katup keluar (outlet valve) tertutup untuk menjaga air yang sudah ada di saluran
keluar (outlet) tidak terhisap masuk kembali ke ruang pompa.

Gambar sebelah kanan (gambar B), menunjukkan saat diafragma bergerak maju
untuk mendorong air keluar dari ruang pompa. Pada kondisi ini katup keluar (outlet
valve) terbuka sehingga air keluar dari ruang pompa menuju saluran keluar (outlet).
Pada saat bersamaan katup masuk (inlet valve) tertutup untuk menjaga agar air yang
ada di ruang pompa tidak kembali ke sumbernya.

22
3.4. Proses Produksi RBDPO.
3.4.1 Bleaching Section
Bleaching section adalah proses dimana CPO dipucatkan dan dihilangkan pengotor-
pengotornya. Alur proses dari awal hingga ke bleaching section adalah transfer minyak
dari Storage Tank menuju Plant dengan PU 301.

Gambar 3 19 Pompa PU 301

Setelah masuk ke plant CPO akan disaring menggunakan Strainer dan dipanaskan hingga
temperatur minimal 80oC dengan Heat Exchanger 311 dan 312

Gambar 3 20 Heat Exchanger 311 dan 312

23
Setelah dipanaskan hingga 80oC CPO akan diinjeksikan dengan Phosporic Acid lalu
diaduk dengan Mixer 312

Gambar 3 21 Mixer 312


Phosporic Acid dan CPO yang sudah dicampur merata kemudian masuk ke Bleaching
Vessel dimana akan ditambahkan bleaching earth untuk penyerapan warna.

Gambar 3 22 Bleaching Vessel

24
CPO yang sudah diinjeksikan Phosporic Acid dan Bleaching Earth lalu di filter untuk
menghilangkan bleaching earth yang sudah menyerap warna dan pengotor-pengotor yang
sudah mengendap dengan Niagara Filter. Minyak yang sudah melewati Niagara Filter disebut
Bleaced Palm Oil ( BPO )

Gambar 3 23 Niagara Filter

3.4.2 Deodorizing Section


Di deodorizing section ini BPO yang sudah dihasilkan akan dipanaskan dengan
High Pressure Boiler hingga temperatur ±260oC dengan steam sebesar 60 bar di dalam
HE 722.

Gambar 3 24 HE 722

25
Setelah dipanaskan hingga 260oC. BPO kemudian masuk ke Pre Stripper untuk memisahkan
fatty acid yang akan dimurnikan menjadi PFAD sebagai produk samping dalam pengolahan
CPO di Plant Refinery. Pemisahan ini terjadi dalam keadaanvacuum yaitu sebesar 6
miliBar.

Gambar 3 25 Pre Stripper


Setelah dipisahkan fatty acidnya minyak masuk ke deodorizer yaitu kolom tray yang akan
digunakan sebagai penahan waktu tinggal selama di deodorizing section agar lama
pemanasan berlangsung secara maksimal. Pemanasan selama section ini bertujuan untuk
menghilangkan bau tengik dari minyak.

Gambar 3 26 Deodorizer
26
Minyak yang sudah keluar dari deodorizer akan didinginkan perlahan melalui HE 721
A dan B, 742 dan 311 hingga temperatur lalu ditransfer ke Storage Tank RBDPO.

Gambar 3 27 Hasil RBDPO

3.4.3. Pompa Sentrifugal


Salah satu jenis pompa pemindah non positip adalah pompa sentrifugal yang
prinsip kerjanya mengubah energi kinetis (kecepatan) cairan menjadi energi potensial
(dinamis) melalui suatu impeller yang berputar dalam casing. Sesuai dengan data-data yang
didapat, pompa reboiler debutanizer di Hidrokracking Unibon menggunakan pompa
sentrifugal single - stage double suction.

Gambar 3 28 Pompa Sentrifugal

27
3.4.4 Klasifikasi Pompa Sentrifugal
Pompa sentrifugal diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria, antara lain:
1. Bentuk arah aliran yang terjadi di impeller. Aliran fluida dalam impeller dapat
berupa axial flow, mixed flow, atau radial flow.
2. Bentuk konstruksi dari impeller. Impeller yang digunakan dalam pompa sentrifugal
dapat berupa open impeller, semi-open impeller, atau close impeller
3. Banyaknya jumlah suction inlet. Beberapa pompa setrifugal memiliki suction inlet
lebih dari dua buah. Pompa yang memiliki satu suction inlet disebut single-suction
pump sedangkan untuk pompa yang memiliki dua suction inlet disebut double-
suction pump
4. Banyaknya impeller. Pompa sentrifugal khusus memiliki beberapa impeller
bersusun. Pompa yang memiliki satu impeller disebut single-stage pump sedangkan
pompa yang memiliki lebih dari satu impeller disebut multi-stage pump.

Pompa Sentrifugal bisa juga diklasifikasikan, berdasarkan:


a) Kapasitas:
 Kapasitas rendah < 20 m3 / jam
 Kapasitas menengah 20-60 m3/jam
 Kapasitas tinggi 60>m3/jam
b) Tekanan Discharge ;
 Tekanan Rendah < 5 Kg / cm2
 Tekanan menengah 5 -50 Kg / cm2
 Tekanan tinggi > 50 Kg / cm2
c) Jumlah / Susunan Impeller dan Tingkat :
 Single stage : Terdiri dari satu impeller dan satu casing
 Multi stage : Terdiri dari beberapa impeller yang tersusun seri dalam satu
casing
 Multi Impeller : Terdiri dari beberapa impeller yang tersusun paralel dalam
satu casing.
 Multi Impeller & Multi stage : Kombinasi multi impeller dan multi stage.
d) Posisi Poros:
 Poros Tegak
 Poros Mendatar
e) Jumlah Suction;
 Single Suction
 Double Suction
f) Arah Aliran Keluar Impeller;
 Radial Flow
 Axial Flow
 Mixed Flow

28
3.4.5. Bagian-bagian Utama Pompa Sentrifugal
Secara umum bagian-bagian utama pompa sentrifugal dapat dilihat sepert gambar
Berikut:

Gambar 3 29 Bagian Rumah Pompa Sentrifugal

a) Stuffing Box
Stuffing Box berfungsi untuk mencegah kebocoran pada daerah dimana
poros pompa menembus casing.

Gambar 3 30 Stuffing Box Pada Pompa Sentrifugal

29
b) Packing
Digunakan untuk mencegah dan mengurangi bocoran cairan dari casing
pompa melalui poros. Biasanya terbuat dari asbes atau Teflon.

Gambar 3 31packing Pada Pompa Sentrifugal

c) Shaft sleeve (poros)


Shaft sleeve berfungsi untuk melindungi poros dari erosi, korosi
dankeausan pada stuffing box. Pada pompa multi stage dapat sebagai leakage
joint, internal bearing dan interstage atau distance sleever.

Gambar 3 32 Shaft Sleeve Pada Pompa Sentrifugal

d) Shaft (Poros)
Poros berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari penggerak selama
beroperasi dan tempat kedudukan impeller dan bagian-bagian berputar lainnya.

Gambar 3 33 Shaft Pada Pompa Sentrifugal

30
e) Vane
Sudu dari impeller sebagai tempat berlalunya cairan pada impeller.

Gambar 3 34 Vane Pada Pompa Sentrifugal

f) Casing.
Merupakan bagian paling luar dari pompa yang berfungsi sebagai
pelindung elemen yang berputar, tempat kedudukan diffusor (guide vane), inlet
dan outlet nozel serta tempat memberikan arah aliran dari impeller dan
mengkonversikan energi kecepatan cairan menjadi energi dinamis (single
stage).

Gambar 3 35 Casing Pompa Sentrifugal

31
g) Eye of impeller

Bagian sisi masuk pada arah isap impeller.

Gambar 3 36 eye of impeller

h) Impeller
Impeller berfungsi untuk mengubah energi mekanis dari pompa menjadi
energi kecepatan pada cairan yang dipompakan secara kontinyu, sehingga cairan
pada sisi isap secara terus menerus akan masuk mengisi kekosongan akibat
perpindahan dari cairan yang masuk sebelumnya.

Gambar 3 37 impller pada pompa sentrifugal.

32
i) Wearing Ring
Wearing ring berfungsi untuk memperkecil kebocoran cairan yang
melewati bagian depan impeller maupun bagian belakang impeller, dengan cara
memperkecil celah antara casing dengan impeller.

Gambar 3 38 wearing ring pompa sentrifugal

j) Bearing
Bearing (bantalan) berfungsi untuk menumpu dan menahan beban dari
poros agar dapat berputar, baik berupa beban radial maupun beban axial. Bearing
juga memungkinkan poros untuk dapat berputar dengan lancar dan tetap pada
tempatnya, sehinggakerugian gesek menjadi kecil.

Gambar 3 39 Bearing pada pompa sentrifugal

33
3.5. Heat Exhanger (Alat Penukar Panas )
Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan untuk
memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan bisa berfungsi
sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas dipakai adalah air
yang dipanaskan sebagai fluida panas dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water).
Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat
berlangsung secara efisien. Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida
terdapat dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung (direct contact).
Penukar panas sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak, pabrik kimia maupun
petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik

a) Tipe Aliran pada Alat Penukar Panas


Tipe aliran di dalam alat penukar panas ini ada 4 macam aliran yaitu :
1. Parallel flow/co current /flow (aliran searah)
2. Cross flow (aliran silang)
3. Cross counter flow (aliran silang berlawanan)
4. Counter current flow (aliran berlawanan arah)

b) Jenis-Jenis Penukar Panas


Jenis-jenis penukar panas antara lain:
1. Double Pipe Heat Exchanger
2. Plate and Frame Heat Exchanger
3. Shell anf Tube Heat Exchanger
4. Adiabatic wheel Heat Exchanger
5. Pillow plate Heat Exchanger
6. Dynamic scraped surface Heat Exchanger
7. Dynamic scraped surface Heat Exchanger
Alat penukar kalor sangat dibutuhkan pada proses produksi dalam suatu industri, maka
untuk mengetahui unjuk kerja dari alat penukar kalor perlu diadakan analisis. Dengan analisis
yang dilakukan dapat diketahui bahwa alat tersebut mampu menghasilkan kalor dengan
standar kerja sesuai kebutuhan yang diinginkan.
Penukar panas dapat diklasifikasikan menurut pengaturan arus mereka. Dalam paralel-
aliran penukar panas, dua cairan masuk ke penukar pada akhir yang sama, dan perjalanan
secara paralel satu sama lain ke sisi lain. Dalam counter-flow penukar panas cairan masuk ke
penukar dari ujung berlawanan. Desain saat ini counter paling efisien, karena dapat
mentransfer panas yang paling. Dalam suatu heat exchanger lintas-aliran, cairan perjalanan
sekitar tegak lurus satu sama lain melalui exchanger.

Gambar 3 40 Perpindahan Kalor Heat Exhanger

34
3.5.1. Klasifikasi Alat Penukar Kalor
Melihat begitu banyaknya jenis alat penukar kalor (heat exchanger), maka
dapatdiklasifikasikan berdasarkan bermacam-macam pertimbangan yaitu:
1. Klasifikasi berdasarkan proses perpindahan panas
a) Tipe kontak tidak langsung.
 Tipe dari satu fase.
 Tipe dari banyak fase.
 Tipe yang ditimbun.(Storage Type)
 Tipe fluidized bed
b) Tipe kontak langsung
 Immiscible fluids
 Gas liquid
 Liquid vapor

2. Klasifikasi beerdasarkan fluida yang mengalir


a) Dua jenis fluida
b) Tiga jenis fluida
c) N – jenis fluida (N lebih dari tiga)
3. Klasifikasi berdasarkan kompaknya permukaan
a) Tipe penukar kalor yang kompak, Density luas permukaan > 700m
b) Tipe penukar kalor yang tidak kompak,Density luas permukaan < 700m
4. Klasifikasi berdasarkan mekanisme perpindahan panas
a) Dengan cara konveksi, satu fase pada kedua sisi alirannya.
b) Dengan cara konveksi pada satu sisi aliran dan pada sisi yang lainnya
terdapat cara konveksi 2 aliran
c) Dengan cara konveksi pada kedua sisi alirannya serta terdapat 2 pass
aliran masingmasin
d) Kombinasi cara konveksi dan radiasi
5. Klasifikasi berdasarkan konstruksi
a) Konstruksi tubular (shell and tube)
1) Tube ganda (double tube)
2) Konstruksi shell and tube
 Sekat plat (plate baffle)
 Sekat batang (rod baffle)
 Konstruksi tube spiral
b) Konstuksi tipe plat
1) Tipe plat
2) Tipe spiral
3) Tipe Lamela
4) Tipe plat koil

35
c) Konstruksi dengan permukaan diperluas
1) Sirip plat (plate fin)
2) Sirip tube (tube fin)
 Heat pipe wall
 Ordinary separating wall
d) Regenerative
1) Tipe rotary
2) Tipe drum
3) Tipe disk (piringan)
4) Tipe matrik tetap
6. Klasifikasi berdasarkan pengaturan aliran
a) Aliran dengan satu pass
1) Aliran berlawanan
2) Aliran melintang
3) Aliran yang dibagi (divided)
4) Aliran parallel
5) Aliran split
b) Aliran multipass
1) Permukaan yang diperbesar
 Aliran counter menyilang
 Aliran parallel menyilang
 Aliran compound
2) Shell and tube
 Aliran paralel yang berlawanan (M pass pada shell dan N pass
pada tube)
 Aliran split
 Aliran dibagi (divided)
3) Multipass plat
 N- parallel plat multipass

3.5.2. Jenis-jenis Heat Exchanger


Dikarenakan banyaknya jenis dari alat penukar kalor, maka dalam
pembahasan akan dibatasi pada alat penukar kalor jenis heat exchanger yang banyak
dijumpai dalam industri perminyakan. Heat exchanger ini juga banyak mempunyai jenis
jenisnya.
Perlu diketahui bahwa untuk alat-alat ini terdapat suatu terminology yang
telah distandarkan untuk menamai alat dan bagian-bagian alat tersebut yang dikeluarkan
oleh Asosiasi pembuat Heat Exchanger yang dikenal dengan Tublar Exchanger
Manufactures Association (TEMA). Standarisasi tersebut bertujuan untuk melindungi
para pemakai dari bahaya kerusakan atau kegagalan alat, karena alat ini beroperasi
pada temperature dan tekanan yang tinggi. Jenis-jenis Heat Exchanger yang terdapat
pada industri perminyakan dapat dibedakan atas :

36
A. Shell and Tube
Jenis ini merupakan jenis yang paling banyak digunakan dalam industri
perminyakan. Alat ini terdiri dari sebuah shell (tabung/slinder besar) dimana
didalamnya terdapat suatu bandle (berkas) pipa dengan diameter yang relative
kecil. Satu jenis fluida mengalir didalam pipa-pipa sedangkan fluida lainnya
mengalir dibagian luar pipa tetapi masih didalam shell.

Gambar 3 41 Shell and tube heat exhanger


Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel
pipa yang dihubungkan secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel
(cangkang ). Fluida yang satu mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida yang
lain mengalir di luar pipa pada arah yang sama, berlawanan, atau bersilangan. Kedua
ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada mantel. Untuk
meningkatkan effisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat penukar panas
cangkang dan buluh dipasang sekat ( buffle ). Ini bertujuan untuk membuat turbulensi
aliran fluida dan menambah waktu tinggal ( residence time ), namun pemasangan
sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan menambah beban kerja pompa,
sehingga laju alir fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur.
Jenis-jenis Shell and Tube antara lain :
1) Fixed Tube Sheet atau Fixed Head (Type L, M, atau N)
Fixed-tube-sheet heat exchanger lebih sering digunakan dibandingkan jenis
lainnya, dan frekuensi penggunaannya meningkat beberapa tahun terakhir ini.
Tibesheet dilas atau digabungkan dengan shell. Biasanya perluasan melewati shell
dan bertindak sebagai flanges, dimana tube-side header ini dibaut. Konstruksi ini
menyebabkan shell and tube sheet material menyatu satu sama lain.

37
Gambar 3 42 Fixed Tube Sheet atau Fixed Head (Type L, M, atau N)
konstruksi jenis ini sedikit lebih mahal dibandingkan dengan jenis B dan M atau
A dan L masih memberikan keuntungan dimana tabung mungkin diuji atau
digantikan tanpa mengganggu pipa penghubung tube-side. Tidak ada pembatasan
atas banyaknya aliran tube-side. Aliran shell-side dapat satu atau lebih, walaupun
shell dengan lebih dari 2 aliran side-shell jarang digunakan.
2) U-Tube Heat Exchanger
U-tube bundle memiliki keuntungan jarak yang minimum antara batas tabung
luar dan bagian dalam shell untuk perpindahan konstruksi tube bundle apapun. Jarak
merupakan sama pentingnya seperti pada fixed-tube-sheet heat exchanger.

Gambar 3 43 U-Tube Heat Exchanger (Shely Dian, 2010)

38
Banyaknya lubang tabung yang diberikan shell lebih sedikit untuk fixed-tube-
sheet exchanger karena pembatasan pada pembengkokkan tabung pada radius yang
sangat pendek. Desain U-tube memberikan keuntungan untuk mengurangi
banyaknya sambungan. Pada konstruksi bertekanan tinggi, bentuk ini menjadi
penting dipertimbangkan dalam mengurangi biaya awal dan pemeliharaan.
Penggunaan konstruksi U-tube telah meningkat dengan pengembangan tentang
pembersih tabung hidrolik, yang dapat memindahkan residu dari bagian lurus dan
bengkokan U pada tabung.
3) Packed-Lantern-Ring Exchanger
Konstruksi ini merupakan straight-tube bundle yang dapat dipindahkan yang
sedikit mahal. Bagian-bagian dari heat exchange jenis ini dapat dilihat pada gambar
berikut.

Gambar 3 44 Packed-Lantern-Ring Exchanger (Shely Dian, 2010


Fluida shell dan tube side masing-masing berisi dengan cincin terpisah dari
kemasan terpisah dengan suatu lantern ring dan dipasang pada floating tube sheet.
Lantern ring dilengkapi dengan weep holes. Kebocoran yang melewati packing pergi
melewati weep holes dan kemudian menetes ke tanah. Kebocoran di packing tidak
akan mengakibatkan pencampuran dua cairan di dalam exchanger.
Lebar floating tube sheet harus cukup besar agar dapat mudah untuk packing,
lantern ring dan differential expansion. Terkadang skirt digabungkan dengan tube
sheet tipis untuk memberikan permukaan pada packing dan lantern ring. Jarak antara
batas tabung yang luar dan bagian dalam shell adalah sedikit lebih besar dari yang
untuk fixed-tube-sheet dan U-tube exchangers.
Lebar floating tube sheet harus cukup besar agar dapat mudah untuk packing,
lantern ring dan differential expansion. Terkadang skirt digabungkan dengan tube
sheet tipis untuk memberikan permukaan pada packing dan lantern ring. Jarak antara
batas tabung yang luar dan bagian dalam shell adalah sedikit lebih besar dari yang
untuk fixed-tube-sheet dan U-tube exchangers.

4) Outside-Packed-Floating Heat Exchanger


Fluida dari sisi shell mengandung balutan dari banyak cincin, yang ditekan
diantara kotak isian dengan balutan penyokong cincin. Dulu, konstruksi ini sering
digunakan di industri kimia, tapi beberapa tahun belakangan ini penggunaannya telah

39
berkurang. Konstruksi bundle yang dapat dipindahkan menyesuaikan dengan
perbedaan ekspansi antara shell dan tube dan penggunaannya untuk perbaikan bagian
shell hingga 4137 kPa dan 600 lbf/ in2 pada 3160C (6000F). Tidak terdapat batasan
angka pada jumlah dari sisi tube yang dilalui atau pada desain tekanan dan
temperature bagian tube. Outside-packed floating heat exchanger merupakan tipe
umum yang sering digunakan untuk konstruksi bundle yang dapat dipindahkan di
industri kimia.

Gambar 3 45 Outside-Packed-Floating Heat Exchanger (Shely Dian, 2010)


Saat floating-tube-sheet skirt mengalami kontak dengan balutan dari cincin,
dapat menghaluskan akhir mesin. Split-shear-ring masuk pada alur floating-tube-
sheet skirt. Slip on backing flange, pada saat penggunaannya, ditahan di tempat untuk
shear ring, terpasang pada external floating-head cover.

B. Jenis Double Pipe (Pipa Ganda )


Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam jenis
penukar panas dapat digunakanberlawanan arah aliran atau arah aliran, baik
dengan cairan panas atau dingin cairan yang terkandung dalam ruangan nular dan
cairan lainnya dalam pipa.
Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang
dikedua ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat.
Fluida yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam
ruang anulus antara pipa luar dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini dapat
digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan tekanan operasi yang tinggi.
Sedangkan untuk kapasitas yang lebih besar digunakan penukar panas jenis
selongsong dan buluh ( shell and tube heat exchanger ).
Pada jenis ini tiap pipa atau beberapa pipa mempunyai shell sendiri- sendiri.
Untuk menghindari tempat yang terlalu panjang, heat exchanger ini dibentuk
menjadi U. pada keperluan khusus, untuk meningkatkan kemampuan memindahkan
panas, bagian diluar pipa diberi srip. Bentuk siripnya ada yang memanjang,
melingkar dan sebagainya

40
Gambar 3 46 Alat penukar kalor jenis Double Pipa (Ike Yulia, 2011)
Keistimewaan jenis ini adalah mampu beroperasi pada tekanan yang
tinggi, dank arena tidak ada sambungan, resiko tercampurnya kedua fluida sangat
kecil. Kelemahannya terletak pada kapasitas perpindahan panasnya sangat kecil,
Fleksibel dalam berbagai aplikasi dan pengaturan pipa, dapat dipasang secara seri
ataupun paralel, dapat diatur sedimikian rupa agar diperoleh batas pressure drop
dan LMTD sesuai dengan keperluan,mudah bila kita ingin menambahkan luas
permukaannya dan kalkulasi design mudah dibuat dan akurat Sedangkan
kelemahannya terletak pada kapasitas perpindahan panasnya sangat kecil, mahal,
terbatas untuk fluida yang membutuhkan area perpindahan kalor kecil (<50 m2),
dan biasanya digunakan untuk sejumlah kecil fluida yang akan dipanaskan atau
dikondensasikan.

a) Prinsip Kerja Double Pipe


Pada alat ini, mekanisme perpindahan kalor terjadi secara tidak langsung
(indirect contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida
sehingga kedua fluida tidak bercampur. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah
(fluida pendingin) mengalir melalui pipa kecil, sedangkan fluida dengan suhu
yang lebih tinggi mengalir pada pipa yang lebih besar (pipa annulus). Penukar
kalor demikian mungkin terdiri dari beberapa lintasan yang disusun dalam
susunan vertikal. Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida adalah proses
konveksi, sedang proses konduksi terjadi pada dinding pipa. Kalor mengalir
dari fluida yang bertemperatur tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.Dalam
desain pipa penukar panas ganda, merupakan faktor penting adalah jenis pola
aliran dalam penukar panas. Sebuah penukar panas pipa ganda biasanya akan baik
berlawanan arah / counterflow atau aliran paralel. Crossflow hanya tidak bekerja
untuk penukar panas pipa ganda. Pola yang aliran dan tugas panas yang

41
dibutuhkan pertukaran memungkinkan perhitungan log mean perbedaan suhu.
Yang bersama-sama dengan perpindahan panas keseluruhan diperkirakan
koefisien memungkinkan perhitungan luas permukaan perpindahan panas yang
diperlukan. Kemudian ukuran pipa, panjang pipa dan jumlah tikungan dapat
ditentukan Prinsip kerja dari alat ini adalah memindahkan panas dari cairan
dengan temperature yang lebih tinggi ke cairan yang memiliki temperatur lebih
rendah. Dalam percobaan kali ini, aliran panas (steam) dialirkan pada bagian
dalam pipa konsentris sedangkan air dialirkan pada bagian luar dari pipa
konsentris ini (bagian anulus).
Namun, terkadang dalam beberapa alat seperti HE ini, akan ada pengotor
didalam pipa yang membuat proses perpindahan kalor nya menjadi terganggu.
Pengotoran ini dapat terjadi endapan dari fluida yang mengalir, juga disebabkan
oleh korosi pada komponen dari heat exchanger akibat pengaruh dari jenis fluida
yang dialirinya. Selama heat exchanger ini dioperasikan pengaruh pengotoran
pasti akan terjadi. Terjadinya pengotoran tersebut dapat menganggu atau
memperngaruhi temperatur fluida mengalir juga dapat menurunkan ataau
mempengaruhi koefisien perpindahan panas menyeluruh dari fluida tersebut.
Beberapa faktor yang dipengaruhi akibat pengotoran antara lain : Temperatur
fluida, Temperatur dinding tube dan Kecepatan aliran fluida.

C. Koil Pipa
Heat Exchanger ini mempunyai pipa berbentuk koil yang dibenamkan
didalam sebuah box berisi air dingin yang mengalir atau yang disemprotkan
untuk mendinginkan fluida panas yang mengalir di dalam pipa. Jenis ini disebut
juga sebagai box cooler jenis ini biasanya digunakan untuk pemindahan kalor
yang relative kecil dan fluida yang didalam shell yang akan diproses lanjut.
HE jenis ini disusun dari tabung-tabung (tubes) dengan jumlah besar
mengelilingi tabung inti, dimana setiap HE terdiri dari lapisan-lapisan tabung
sepanjang arah aksial maupun radial. Aliran tekanan tinggi diberikan pada tube
diameter kecil, sementara untuk tekanan rendah dialirkan pada bagian luar tube
diameter kecil

Gambar 3 47 Pipa Coil Heat Exchanger (Anonim, 2012)

42
D. Jenis Pipa Terbuka (Open Tube Section)
Pada heat exchanger ini pipa-pipa tidak ditempatkan lagi didalam shell, tetapi
dibiarkan di udara. Prndinginan dilakukan dengan mengalirkan air atau udara
pada bagian pipa. Berkas pipa itu biasanya cukup panjang. Untuk pendinginan
dengan udara biasanya bagian luar pipa diberi sirip-sirip untuk memperluas
permukaan perpindahan panas. Seperti halnya jenis coil pipa, perpindahan panas
yang terjadi cukup lamban dengan kapasitas yang lebih kecil dari jenis shell and
tube.

Gambar 3 48 Alat penukar kalor jenis open tube section (Anonim, 2010)

43
3.5 Utility Proses Produksi

3.5.1 Boiler
Untuk kebutuhan steam plant refinery berencana menggunakan steam dari exhaust
Power Plant yang berkapasitas 7,5 x 2 MW. Namun selama masa commisioning plant
menggunakan package boiler dengan kapasitas 2x10 ton/hari untuk memenuhi
kebutuhan steamnya karena Power Plant masih 80% dalam proyek.

Gambar 3 49 Boiler

3.5.2 Power

44
Dalam memenuhi kebutuhan listrik selama commisioning, plant refinery
menggunakan genset 2000kVa karena Plant masih 80% dalam proyek.

Gambar 3 50 Genset 200kVa

45