Anda di halaman 1dari 9

13.

Metode pengisian campuran liquid dan solid dalam kapsul cangkang


keras
a. Menurut pharmaceutics dosage forms and drug delivery systems 10th
edition (Allen dan Howard, 2014: 244).
Serbuk dikemas dan ditempatkan pada selembar kertas besrih dengan spatula,
lalu badan cangkang kapsul kosong dipegang antara ibu jari dan jari telunjuk
sambil menekan vertikal.
b. Menurut pharmaceutics dosage forms and design (Jones, 2008:261)
Metode depender, metode ini lebih rendah setengah dari kapsul ditempatkan
ke slot yang terletak pada bimblle bergulir bagian atas dari kapsul juga
ditempatkan pada meja putar yang sama. Meja yang berisi setengah lebih
rendah dari kapsul diputar dibawah genteng yang berisi formulasi dari
sebagai hasilnya akan jauh ke bawah kapsul.
c. Menurut pharmaceutical the science of dosage form 2nd edition
(Aulton. 2002 :452-456)
a) Pengisian bahan solid
1. Pengisiaan serbuk
2. Pengisiaan pallet
3. Pengisiaan tablet
b) Pengisisan solid cairan dimasukan dalam kapsul mengantikan
pipa volumetrik.
d. Menuut pharmaceutical manufacturing handbook 2nd edition (Gad,
2008 : 234)
Metode pencetakan kapsul langsung pada kaplet atau kapsul dibantu disel
berputar atau getaran.
e. Menurut pharmaceutics dosage forms and drug delivery systems 9th
edition (Allen dan Howard, 2011: 204).
a) Mengembangkan dan mempersiapkan formulasi dan memiliki
ukuran kapsul
b) Mengisih cangkang kapsul
c) Menyegel kapsul
f. Menurut pharmaceutics dosage forms and drug delivery systems 10th
edition (Allen dan Howard, 2014: 243-244).
a. Mengembangkan dan mempersiapkan formulasi dan memiliki ukuran
kapsul
b. Mengisih cangkang kapsul
c. Penyegelan
d. Pembersihan dan pemolesan
14. Tahap-tahap finishing dari sediaan kapsul
a. Menurut Allen dan Howard (Ansel’s pharmaceutical dosage form and
drug delivery systems 10th edition (2014: 252-255).
1. Uji waktu hancur
Kapsul ditempatkan didalam peralatan rak keranjang yang dicelupkan
30 kali perment ke dalam cairan. Dikontrol pada suhu 300C dan
diamati selama waktu yang dijelaskan dalam masing-masing
monografi untuk memenuhi uji.
2. Uji Disolusi
Uji disolusi kapsul menggunakan peralatan yang sama disolusi dan les
seperti yang dilakukan untuk tablet bersalut dan polos bersalut.
3. Keseragaman isi
Kecuali dinyatakan lain dalam monografi use untuk kapsul individu 95
%-115%.
4. Uji permedasi kelembapan
Usp membutukan penebalan suatu unit dari wardah unit dosis untuk
memusakan bersesuaian untuk kemasan kapsul.
b. Menurut pengantar bentuk sediaan farmasi (Ansel, 2014 : )
Uji kapsul kelas dan lunak mengikuti prosedur yang mana menggunakan
peralatan yang sama untuk menentukan pengujian kapsul disentegrasi.
c. Menurut Jones David crasit frad : Pharmaceutical dosage form and
design , 2008 )
Kapsul akhir mananjukan :
1. Uji kadar 13 %- 16% ini merupakan penimbangan penting
dalam efek tentang kadar air pada mekan dan karenannya dalam
penggucaan sifat kapsul air bertindak sebagai plastizer.
2. Uji sifat mekanik dari kapsul yang cukup kulit sehingga bahwa
kapsul tidak mudah retak atau permanen merusaknya selama
pembuatan, pengana, atau penampatan.
d. Menurut Aulton (Pharmaceutics the sciene of dosage form design and
edition, 2002 : 272)
Gorgels (kapsul cangkang lunak) jadi dikarenakan sejumlah tes sesuai dengan
persyaratan kompondial untuk produk kapsul dosis unit biasanya meliputi
penampilan kapsul uji bahan aktif dan terkait uji talk. Serta mengisi berat
bahan keseragaman pengujian mikrobiologis.
e. Menurut Nurfinah, 2013 standarisasi bahan baku dan produk
temulawak serta peningkatan penyebaran berada direktorat Jendral kementrian
pendidikan
Tahap finishing dan pelepasan sediaan kapsul dan uji keamanan kapsul. Uji
keamanan produk obat pada produk perundang-undangan dibidang obat
tradisional.
f. Menurut prosiding seminar nasional penelitian dan PKM sains,
teknologi dan kesehatan (Gad, 2012).
Uji stabilitas sediaan meliputi pengujian kecepatan disolusi dan kadar zat aktif
dalam sediaan kapsul ketopofen. Penetapan kecepatan disolusi dilakukan
menggunakan alat disolusi tipe 1 terhadap sediaan.
15. Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan kapsul
a. Menurut pharmaceutics dosage forms and drug delivery systems 9th
edition (Allen dan Howard, 2011: 203 dan 217).
Stabilitas dan molekul obat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu,
kelembapan, cahaya komponen oleh faktor lingkungan dan kandungan
formula serta kemasan. Gelatin kapsul tidak cocok terhadap cairan karena air
melembutkan gelatin dan mendivisikan kapsul sehingga terjadi kebocoran
kapsul.
b. Menurut Ansel (pengantar bentuk sediaan farmasi, 2008: )
Kestabilan fisik kapsul dipengaruhi kepadatan dan ukuran partikel suatu
campuran kapsul akan melewati bila ukuran partikelnya dan kepadatannya
hampur sama.
c. Menurut phamasi world journal of pharmacy and pharmaceutical
sciences, 2013 vol 7(3):10)
Stabilitas fisik kapsul gelatin lunak harus dibatasi kandungan minyak mineral.
Stabilitas fisik kapsul gelatin lunak terkait terutama dengan pick-up
d. Menurut amirita pada intenational Journal of pharmaceutical and Bio-
sciences, 2013, vol 2(6))
Faktor yang mempengaruhi stabilitas obat dan diklasifikasikan pada
lingkungan seperti suhu, cahaya, oksigen, kelembapan, dan CO2.
e. Menurut teori dan pratek farmasi industri edisi 2 ( Lachman, 2008 :
851)
Kestabilan fisika kapsul gelatin dihubungkan dengan pengambilan atau
kehilangan oleh cangkang kapsul. Jika hal ini dicegah dengan pengemasan
yang benar kapsul contoh harus mempunyai kestabilan fisika yang
memuaskan pada temperature antara titik beku sampai 60oc.
f. Menurut pharmaceutical dosage form and design (Jones, 2008 : 268).
Sifat fisika sediaan kapsul dipengaruhi oleh cairan yang menyebabkan
masalah teknologi yang berbeda-beda dibandingkan kapsul isi zat kering
dalam hal uji waktu hancur dan disolusi.
16. Bentuk dan ukuran sediaan kapsul
a. Menurut pharmaceutics the sciences of dosage form design (Aulton,
dan Jalkor, 2002 : 949).
Terdiri dari dua potong dalam bentuk selinder ditutup disalah satu potongan
yang lebih pendek, yang disebut “cap” pas dengan ujung terbuka dengan
potongan bagi yang disebut “budg”.

Ukuran kapsul dan ukuran badan


Ukuran kapsul Body volume (mm)
0 0,67
1 0,48
2 0,37
3 0,28
4 0,20
b. Menurut pengantar bentuk sediaan farmasi edisi IV (Howard, 2001 :
218-239)
1. Kapsul gelatin yang keras merupakan jenis yang digunakan
oleh ahli masyarakat pada pembuat sediaan famasi dalam reproduksi
kapsul umumnya biasanya kapsul keras 6 gelatin mendukung uap air
antara 9-10 g. ukuran cangkang kapsul keras bervarian dari nomor
mesh paling kecil (5) sampai nomor paling besar (000).
2. Kapsul gelatin lunak dibuat dari gelatin dimana gliseril atau
alcohol polivon dan sorbitol ditambahkan supaya gliserin bersifat
elastis seperti plastic kapsul gelatin lunak dapat dibuat dalam berbagai
macam bentuk antara lain bundarm lonjong, berbentuk pipa,
membujur dan lain-lain.
c. Menurut lachman dkk., (Teori dan pratek farmasi industry 2008, 104
dan 795)
1. Kapsul keras untuk memproduksi kapsul gelatin yang terdiri
dari satu bagian. Bentuk lonjong ditutup dengan setetes larutan pekat
gelatin panas sesudah diisi kapsul saling menutup.

Ukuran kapsul Volume (mL)


0 0,79
1 0,59
2 0,4
3 0,3
4 0,25
5 0,15

2. Kapsul gelatin lunak, kapsul gelatin lunak digunakan dalam


berbagai industry secara luas.
d. Menurut Gibran (Pharmaceutical perfomulation and formulation
practice guide form candidate drug selection to commercial dosafe form,
2009: 350 dan 425).
1. Kapsul gelatin keras yaitu kapsul dua cangkang bila diisi
dengan bubuk, padat, semi padat, atau cairan
2. Kapsul gelatin lunak yaitu kapsul salah satu dari cangkang
kapsul mengandung pengisi cair atau semi padat.

Ukuran-ukuran kapsul
Ukuran kapsul 000 00 1 2 3 4 5
Volume (mL) 1,37 0,95 0,50 0,37 0,30 0,21 0,13
e. Menurut Shayne (phamarceutical manufacturing Handbook production
and process, 2008 : 237 dan 248)
Kapsul gelatin keras yaitu kapsul dimana dua bagian cangakang yang basah
diisi dengan bubuk, granul, semi padat atau cairan. Kapsul gelating lunak
yaitu dimana salah satu bagian cangkang mengandung cairan atau semi solid.
f. Menurut JPHI (Suptijah dkk., 2012 :228, vol 15 (3))
Nilai kekerasan cangkang kapsul berkisar 429, ± 0,001-0,001, 0,151±, 0,003
mm. cangkang kapsul dengan kosentrasi 5% memiliki nilai ketebalan yang
sama dengan cangkang kapsul komersial yaitu sebesar 0.107± 0,004 mm.
standar besar kapsul gelatin kras untuk ukuran kapsum 0 rentang anatara 89-
102 mg.
19. komponen formula campuran bahan cair dan padat yang akan
dimasukan dalam kapsul
a. menurut teori dan pratek industry (Lachman, 2008)
1. bahan pengisi metil paraben, propil paraben, dengan kosentrasi
0,2% yang bertujuan dalam formula sebagai bahan pengawet.
2. Bahan celup yang dapat larut cara lain zat warna dan warna
sayuran dengan kosentrasi 9% bertujuan sebagai pewarna.
b. Menurut dasar-dasar kefarmasiaan (Manosi, 2013 :59)
Dalam kapsul dapat diisikan bahan obat padat (serbuk) atau bahkan obat cair
(bukan cairan air) tentu saja bagian yang dimasukan kecangkang kapsul tidak
merusak gelatin isinya berkisar antara 0,250%-5\6 cm2
c. Menurut pengantar bentuk sediaan farmasi (Ansel, 2008 :227)
Obat yang akan dimasukan kedalam sebuah kapsul dan kemudian jumlah
bahan sebuah kapsul pengisi atau bahan inert jika berdasarkan kebutuhan
tambahan dalam formula atau untuk memisahkan komponen kimia yang tidak
disatukan dalam formulasi \ sebagai polimer untuk memudahkan menggulinya
serbuk ketika menggunakan mesin pengisi kapsul yang otomatis magnesium
stearate biasanya dipakai untuk pembuatan kapsul.
d. Menurut buku pelajaran teknologi farmasi (Voight, 1994 :270)
Zat-zat padat yang diisi harus menjamin dosis yang seragam maka harus
memiliki keseragaman ukuran partikel dan kemampuan mengalir yang baik.
Pemberiaan bahan pelincir, misalnya aerosol dapat dilakukan. Sehingga dapat
dicapai ketetapan dosis 5%. Larutan dalam air tidak dapat diisi dalam gelatin.
e. Menurut buku sediaan solida (Hadi soewigyo, 2013 : 212)
Material yang diisikan pada kapsul terdiri :
1. Bahan aktif
2. Pengisi
3. Penghancur
4. Pelincir
5. Lubrikan
f. Menurut fastrak phamarceutics dosage form and design (Jones, 2008:
203-263)
Komponen yang digunakan dalam mengisi kapsul cangkang keras:
1. Serbuk diharuskan memiliki aliran yang baik untuk melewati
alat untuk masuk kedalam kapsul.
2. Cairan semi padat pengisi kapsul gelatin kers , dibagi menjadi
2 yaitu:
 Cairan lipofilik atau minyak yang dapat mendispersi
agen terapetik.
 Air, cairan pelarut yang dapat melarutkan terapeutik.
Nurani, L,H., Ekail, K., Abdul, R., and Sitania,W., 2017, Capsule formulation of
etnnolik ekstrak of perak bumi, Trad med J, Vol 22 (2).

Nurfina, A., Irif, A., Retno, A., 2012, uji klinis terbatas sediaan jamu temulawak
bentuk kapsul nitran sebagai antihepatoksik, laporan penelitian risot, FMIPA
: UNY.

Panda, A., Butiba., Raihan., dan Rali, F., 2013, stabily dan integral part of drug
development process, International Journal of pharmaceutical and bio
sciences, Vol 2(6).

Padazede, F., dan Brian, E, J., 2014, Pharmaceutical capsule second edition,
pharmaceutical press : Uko.

Purnami, T., Warad, S., Solance, R., Ashar, T., Anagha, B., dan Agha, S., 2013,
Stabily study dosage form an innovation step, warstol, Journal of pharmacy
and pharmaceutical science, Vol 3(2).

Rabadiya, B., dan Paresh, R., 2013, Review : capsule shell material from gelatin
tanam animal orign material, IJPRBS, Vol 15 (3).

Rachmania, A, R, A., Fatimah, N., Elok, M., 2013, ekstrak gelatin dan tulang ikan
tengiri, Jurnal media farmasi, Vol 10 (2).

Suptijah, P., Sugeng, H., dan Kurniawan., 2012, aplikasi keseragaman sebagai
cangkang kapsul keras, JPHPI, Vol 15 (3).

Swarbick, J., 2005, Handbook of pharmaceutical gradation technology,


pharmaceutical : North California.

Swarbick, J., 2007, Ercylopedia of pharmaceutical technologi, Informa Healtcare :


New York.
Sriwidya, B., Sawya, C., dan Surya, P, R., 2014, Capsule and its technology A
overview, IJPOA,Vol 3 (9).

Thotari, I., Mustakim., Mardiana, C, P., dan Promg, P, R., 2017, Teknology hasil
ternak, IB Press : Malang.

Voight, R., 1994, Buku pelajaran teknologi farmasi, UGM Pres : Yogyakarta.

Zheny,Y, H., 2002, Endotesim dependent vorerel avant and antiprerance effect,
general pharmacology, Vol 3 (5).

Anda mungkin juga menyukai