Anda di halaman 1dari 8

RISET MENGENAI PERBANDINGAN PERUBAHAN

ANTARA PSAK 30 DENGAN PSAK 73

Oleh :
Yudha Vandiyanto ( 041711333173 )

Jurusan Akuntansi 2017


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga
2019
BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Setiap perusahaan selalu melakukan transaksi tukar menukar barang , salah satunya
adalah dengan cara sewa. Pada perkembangan saat ini sewa semakin berkembang di masyarakat
luas baik dari kalangan usaha individu, pengusaha, perusahaan, industri, maupun bisnis.
Perkembangan yang terjadi adalah para pelaku dunia bisnis menjadikan sewa sebagai pekerjaan
yang menjanjikan bagi peghasilan mereka. Dengan begitu, munculah banyak instansi yang
bergerak dalam usaha sewa menyewa.

Usaha sewa menyewa memang dinilai mengutungkan bagi pemberi sewa (lessor) dan
penyewa (lessee) . Bagi pemberi sewa keuntungan yang didapat adalah bunga dari kenaikan
angsuran yang diberikan kepada penyewa ,aset yang disewa dapat digunakan lagi sebagai usaha
selama masih memiliki umur manfaat, juga penghasilan yang didapat bersifat pasif. Sedangkan
bagi penyewa adalah tidak perlu memiliki aset untuk dioperasikan , keuntunganya yaitu biaya
yang dikeluarkan hanya sedikit dibandingkan harus membeli aset, serta tidak memiliki kewajiban
memelihara aset dan melakukan penyusutan.

Dengan perkembangan tersebut, standar akuntansi untuk sewa menyewa juga


berkembang termasuk di Indonesia. Ikatan Akuntansi Indonesia menerbitkan Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) pasal 73 untuk sewa yang akan menggantikan pasal 30 yaitu pasal
sebelumnya yang mengatur tentang sewa.

Dengan adanya regulasi tersebut maka riset ini saya lakukan untuk mengetahui perbedaan
diantara kedua pasal yang telah saya sebutkan dan memahami perkembangan sewa saat ini.
Selain itu, riset yang saya lakukan termasuk bagian dari tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan
Menengah III yang mengharuskan mahasiswa untuk melakukan riset mengenai perkembangan
dunia akuntansi dalam hal ini sewa.

RUMUSAN MASALAH

1. Apa itu sewa menurut PSAK ?


2. Bagaimana perkembangan bisnis sewa saat ini ?
3. Apa saja perbedaan pada pasal 73 dan pasal 30 PSAK sebelumnya tentang sewa?
4. Apakah pasal 73 yang akan diterapkan sesuai dengan perkembangan sewa di Indonesia
saat ini?
BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Umum

Sewa adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan hak kepada lessee untuk
menggunakan suatu aset selama periode waktu yang disepakati. Pesewa (lessor) meminjamkan
asetnya untuk digunakan oleh Penyewa (lesse). Aset yang digunakan untuk sewa adalah yang
dapat diidentifikasi secara jelas.

Sewa dapat dijadikan sebagai altenatif pembiayaan sebagai penghemat kas suatu entitas.
Sewa berdasarkan sifatnya dibagi menjadi sewa operasi dan sewa pembiayaan. Sewa Operasi
merupakan sewa jangka pendek dengan aset yang digunakan tidak untuk dimiliki oleh penyewa
dan penyewa tidak memiliki kewajiban penuh untuk memelihara aset sewa sehingga aset yang
disewa hanya untuk dipakai dan dikembalikan sesuai perjanjian sewa. Sedangkan sewa
pembiayaan merupakan sewa jangka panjang dalam arti penyewa memiliki opsi untuk memiliki
aset sewa dan terdapat transfer risiko atas kepemilikian aset sewa pada akhir masa sewa sehigga
aset yang disewa merupakan opsi pembelian secara angsuran dan atau untuk dipakai saja.

Perkembangan Sewa

Munculnya sewa karena entitas membutuhkan aset untuk dijalankan akan tetapi dana
yang dimilikai entitas tidak memadai , sedangkan disisi entitas pemilik aset telah mengeluarkan
banyak dana untuk mendapatkan aset tetapi entitas tidak sepenuhnya menggunakan aset untuk
dijalankan akibatnya aset tidak bekerja secera efektif dan efisien.

Maka masing-masing entitas pemilik aset dan entitas bukan pemiliki aset sama-sama
membutuhkan untuk menjalankan usahanya. Pemilik aset membutuhkan dana sedangkan entitas
bukan pemilik aset membutuhkan aset untuk masing-masing melangsungkan usahanya.
Timbulah kebutuhan untuk melakukan pemindahan aset antara kedua entitas tersebut. Kebutuhan
tersebut merupkan transfer hak dan kewajiban antar entitas dimana pemilik aset memiliki hak
untuk mendapatkan dana dari aset yang disewa dan kewajiban untuk menberikan asetnya dalam
kondisi yang baik agar bisa dipakai oleh penyewa sementara itu , penyewa mmemiliki hak untuk
menggunakan aset dan kewajiban membayar dana atas aset yang disewa . atas kondisi tersebut
diperlukan sebuah perjanjian untuk menjamin hak dan kewajiban masing-masing entitas
terpenuhi. Perjanjian inilah yang dinamakan perjanjian sewa yang merupakan syarat untuk
melakukan sewa.

Dunia bisnis saat ini berpengaruh besar terhadap perkembangan sewa. Saat ini aset-aset
baru bermunculan baik aset berwujud maupun aset tidak berwujud menyesuaikan keaadan bisnis
dan industri yang belum langsung terdaftar dalam peraturan-peraturan berlaku. Beberapa aset
yang terdaftar dalam peraturan mengenai aset sewa mulai tidak sesuai lagi mengakibatkan sewa
dilakukan dengan bebas, untuk itu perlu adanya aturan mengenai sewa yang lebih sesuai dengan
kondisi yang terjadi di dalam perkembangan sewa saat ini. Sewa diatur dalam pasal 30 PSAK
yang telah mengalami revisi pada tahun 2007,2011,dan 2017. Namun pada tahun 2017 Ikatan
Akuntansi Indonesia menerbitkan pasal 73 PSAK mengenai sewa, menggantikan pasal 30 PSAK
yang direcanakan akan diterapkan efektif tanggal 01 Januari 2020.

Draf Eksposur PSAK 73: Sewa menggantikan PSAK 30: Sewa, ISAK 8: Penentuan
Apakah Suatu Perjanjian Mengandung Suatu Sewa, ISAK 23: Sewa Operasi–Insentif, ISAK 24:
Evaluasi Substansi Beberapa Transaksi yang Melibatkan Suatu Bentuk Legal Sewa, dan ISAK
25: Hak atas Tanah.

DE PSAK 73 diadopsi dari IFRS 16 Leases yang diterbitkan oleh International


Accounting Standards Board (IASB) sehingga mencerminkan pertimbangan dan deliberasi IASB
atas berbagai isu akuntansi terkait sewa. Dalam kaitannya dengan perlakuan akuntansi atas suatu
transaksi yang secara substansi menyerupai pembelian suatu aset tetap, IFRS 16 Leases paragraf
BC139(b) mendeskripsikan dasar pemikiran IASB bahwa pencatatan suatu transaksi bergantung
pada substansi dari transaksi tersebut dan bukan pada bentuk legalnya. Konsekuensinya, jika
kontrak memberikan hak yang secara substansi merepresentasikan pembelian aset tetap, maka
hak tersebut memenuhi definisi aset tetap dan dicatat sesuai IAS 16 Property, Plant and
Equipment (yang saat ini merupakan rujukan PSAK 16: Aset Tetap), tanpa memperhatikan
apakah hak kepemilikan legal aset tetap tersebut telah beralih. IFRS 16 Leases paragraf BC140
menegaskan bahwa IFRS 16 diterapkan untuk kontrak yang memberikan hak untuk
menggunakan aset pendasar selama suatu jangka waktu, dan tidak diterapkan untuk transaksi
yang mengalihkan pengendalian atas aset pendasar tersebut kepada entitas karena transaksi ini
masuk dalam ruang lingkup Pernyataan lain (misalnya DE PSAK 72: Pendapatan dari Kontrak
dengan Pelanggan atau PSAK 16: Aset Tetap). DSAK IAI mencermati bahwa IFRS 16 Leases
paragraf BC138–BC140, sebagaimana dianalisis dan dijelaskan dalam DE PSAK 73: Sewa
paragraf DK04–DK06, pada prinsipnya sesuai dengan perlakuan akuntansi yang sebelumnya
diatur dalam ISAK 25: Hak atas Tanah.

SEWA DE PSAK 73 dan pertimbangan dalam menganalisis apakah suatu transaksi


masuk ke dalam ruang lingkup sewa menurut IFRS 16. Dengan demikian, entitas perlu
melakukan penilaian dan menggunakan pertimbangannya dalam menganalisis fakta dan keadaan
untuk masing-masing hak atas tanah yang dimilikinya dalam menentukan perlakuan akuntansi
untuk masing-masing hak atas tanah tersebut sehingga dapat merepresentasikan dengan tepat
kejadian atau transaksi ekonomik yang mendasarinya. Maka DE PSAK 73 akan mencabut ISAK
25.

Perbedaan antara pasal 73 dan pasal 30 PSAK tentang sewa

Perbedaan pada ruang lingkup sewa yakni pengecualian terhadap aset sewa . Pasal 30
PSAK menjelaskan bahwa pasal ini diterapkan dalam akuntansi untuk semua jenis sewa kecuali:
Sewa dalam rangka eksplorasi atau penambangan mineral, minyak, gas alam dan sumber daya
lainnya yang tidak dapat diperbarui; dan Perjanjian lisensi untuk hal-hal seperti film, rekaman
video, karya panggung, manuskrip (karya tulis), hak paten dan hak cipta. Sedangkan ada
penambahan aset pengecualian pada pasal 73 PSAK yang mengatur seluruh sewa termasuk sewa
aset hak-guna dalam subsewa masuk dalam ruang lingkup, kecuali: sewa dalam rangka
eksplorasi atau penambangan mineral, minyak, gas alam, dan sumber daya serupa yang tidak
dapat diperbarui; sewa aset biologis (PSAK 69); perjanjian konsesi jasa (ISAK 16); lisensi
kekayaan intelektual (PSAK 72); Hak yang dimiliki oleh penyewa dalam perjanjian lisensi
(PSAK 19) untuk item seperti film, rekaman video, karya panggung, manuskrp, hak paten dan
hak cipta. Pernyataan ini menandakan bahwa aset pengecualian pada pasal 73 telah memiliki
aturan khusus pada PSAK yang telah disebutkan.

Pada pengidentifikasian kontrak pada awal sewa, Pasal 30 PSAK menjelaskan awal sewa
(Inception of the lease) adalah tanggal yang lebih awal antara tanggal perjanjian sewa dan
tanggal pihak-pihak menyatakan komitmen terhadap ketentuan-ketentuan pokok sewa. Pada
tanggal ini sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi atau sewa pembiayaan untuk sewa
pembiayaan , jumlah yang diakui pada awal masa sewa ditentukan. Sedangkan pasal 73 PSAK
untuk mengidentifikasi sewa menjelaskan suatu kontrak merupakan, atau mengandung, sewa jika
kontrak tersebut memberikan hak untuk mengendalikan penggunaan aset identifikasian selama
suatu jangka waktu untuk dipertukarkan dengan imbalan (PP09-PP31). Karena itu pasal 30
PSAK menentukan pengklasifikasian sewa dengan memisahkan antara kontrak sewa operasi
dengan kontrak sewa pembiayaan, sedangkan pasal 73 PSAK menetapkan sewa tunggal.

Model akuntansi sewa pasal 30 PSAK adalah sewa mensyaratkan penyewa dan pesewa
untuk mengklasifikasikan sewanya sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi dan mencatat
kedua jenis sewa tersebut secara berbeda. Dan pada pasal 73 PSAK adalah sewa menetapkan
prinsip pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan model akuntansi tunggal
khususnya untuk penyewa (lessee). Penyewa mengakui aset dan liabilitas untuk seluruh sewa
dengan masa sewa lebih dari 12 bulan, kecuali aset pendasarnya bernilai rendah. Penyewa
mengakui aset hak-guna yang merepresentasikan haknya untuk menggunakan aset pendasar
sewaan dan liabilitas sewa yang merepresentasikan kewajibannya untuk membayar sewa.

Selanjutnya adalah Pasal 30 PSAK menyatakan awal masa sewa (commencement of the
lease term) adalah tanggal saat lessee mulai berhak untuk menggunakan aset sewaan. Tanggal ini
merupakan tanggal pertama kali sewa diakui (yaitu pengakuan aset, kewajiban, penghasilan atau
beban sewa). Pada Pasal 73 PSAK dipertegas awal masa sewa merupakan periode yang tidak
dapat dibatalkan . Jika ada perubahan pada periode masa sewa maka entitas merevisi masa sewa
jika terdapat perubahan dalam periode sewa yang tidak dapat dibatalkan.

Pada pengakuan awal pasal 30 PSAK, Aset dan kewajiban diakui sebesar nilai wajar aset
sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari
nilai wajar.Tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat suku bunga implisit dalam sewa, jika
dapat ditentukan secara praktis; jika tidak, digunakan tingkat suku bunga pinjaman inkremental
lessee. Biaya langsung awal yang dikeluarkan lessee ditambahkan ke dalam jumlah yang diakui
sebagai aset, termasuk biaya sehubungan dengan aktivitas sewa tertentu, seperti negosiasi dan
pemastian pelaksanaan sewa.

Sedangkan pada pasal 73 PSAK jumlah pengukuran awal liabilitas sewa adalah
pembayaran sewa yang dilakukan pada atau sebelum tanggal permulaan, dikurangi dengan
insentif sewa yang diterima, biaya langsung awal yang dikeluarkan oleh penyewa, dan estimasi
biaya yang akan dikeluarkan oleh penyewa dalam membongkar dan memindahkan aset pendasar,
merestorasi tempat di mana aset berada atau merestorasi aset pendasar ke kondisi yang
disyaratkan oleh syarat dan ketentuan sewa, kecuali biaya-biaya tersebut dikeluarkan untuk
menghasilkan persediaan. Penyewa dikenai kewajiban atas biaya-biaya tersebut baik pada
tanggal permulaan atau sebagai konsekuensi dari telah menggunakan aset pendasar selama
periode tertentu.

Kemudian pada saat pengungkapan dan pengukuran passal 30 PSAK pembayaran sewa
diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus selama masa sewa kecuali terdapat dasar
sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati
pengguna. Sedangkan menurut pasal 73 PSAK mengakui aset hak-guna dan liabilitas sewa,
mengukur aset hak-guna pada biaya perolehannya. Mengukur liabilitas sewa pada nilai kini
pembayaran sewa yang belum dibayar pada tanggal permulaan. Pembayaran sewa didiskontokan
dengan menggunakan suku bunga implisit dalam sewa jika suku bunga tersebut dapat ditentukan.
Entitas dapat menggunakan suku bunga pinjaman inkremental penyewa jika suku bunga implisit
dalam sewa tidak dapat ditentukan.

Lalu pada pengungkapan dan penyajian pada Laporan Keuangan, untuk pasal 30 PSAK
tidak jauh berbeda dengan pasal 73 PSSAK dimana pengungkapan yang dipersyaratkan dalam
PSAK 50, kemudian direkonsiliasi antara investasi sewa bruto dan nilai kini piutang pembayaran
sewa minimum pada tanggal neraca, klasifikasi investasi sewa bruto dan nilai kini piutang
pembayaran sewa minimum(Kurang dari 1 tahun, 1 – 5 tahun, atau lebih dari 5 tahun), diakui
sebagai penghasilan pembiayaan tangguhan, nillai residu yang tidak dijamin yang diakui sebagai
laba lessor, akumulasi penyisihan piurang tidak tertagih atas pembayaran sewa minimum, rental
kontinjen yang diakui sebagai penghasilan dalam periode berjalan, penjelasan umum isi
perjanjian sewa lessor yang material.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan & Saran

Ikatan Akuntan Indonesia telah mengadopsi IFRS 16 menjadi pasal 73 PSAK mengenai
sewa yang akan diterapkan secara efktif pada tanggal 01 Januari 2020. Dimana pasal ini
memberikan model akuntansi tunggal yang berbeda dari pasal 30 PSAK sebelumnya, dengan
menekankan kepada penyewa (lessee) bahwasanya penyewa tetap melakukan kapitalisasi aset
baik sewa operasi maupun pembiayaan, kemudian beberapa pasal dicabut karena hal tersebut ,
namun menurut saya pasal 73 PSAK terbaru ini nantinya akan memberikan pengaruh tingkat
pendapatan, profitabilitas, arus kas, total aset, perjanjian, pinjaman dan lain sebagainya yang
sangat signifikan di Indonesia.

Saran saya agar nantinya penerapan PSAK 73 harus memperhatikan hukum dan aturan
yang berlaku di Indonesia sebagaimana diatur dalam KUH Perdata, UU Hak guna usaha,
bangunan, dan hak pakai atas tanah serta peratuan perundang-undangan lainya yang terkait.
DAFTAR PUSTAKA

IAI, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan pasal 30

DSAK-IAI, DE PSAK 73

Keiso, Weygant, Warfield, ”Intermediate Accounting IFRS EDITION” , edisi 3

www.bdo.co.id/events/implikasi-penerapan-psak-73,-sewa”-(psak-73)-terhadap-pelaporan-
keuangan