Anda di halaman 1dari 14

KEMAMPUAN SISWA KELAS VIII DALAM MEMECAHKAN MASALAH

MATEMATIKA BERDASARKAN TINGKAT AKREDITASI

Jackson Pasini Mairing


Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangka Raya
email: jacksonmairing@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa-siswa Kelas VIII
SMP negeri di salah satu kabupaten/kota di Kalimantan Tengah Tahun Ajaran 2015/2016
dalam memecahkan masalah berdasarkan akreditasi. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif. Dari jumlah populasi sebanyak 28 sekolah, 10 sekolah dipilih sebagai sampel
dengan metode random sampling. Sampel tersebut adalah 2 akreditasi A, 2 akreditasi B,
2 akreditasi C, dan 4 belum diakreditasi. Tiga pertanyaan diberikan pada setiap sekolah.
Setiap penyelesaian diskor menggunakan rubrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
rata-rata skor kemampuan siswa secara keseluruhan sebesar 4,71 (maksimum skornya
12). Rata-rata skor kemampuan siswa untuk sekolah dengan akreditasi A, B, C, dan belum
diakreditasi secara berturut-turut sebesar 5,24; 2,29; 3,31; dan 2,10. Hasil uji Kruskal-
Wallis dan uji lanjut adalah skor kemampuan siswa sekolah dengan akreditasi A lebih
tinggi dari kemampuan siswa sekolah dengan akreditasi B, C, dan belum diakreditasi
secara signifikan. Akan tetapi, skor kemampuan siswa sekolah dengan akreditasi B, C,
dan belum diakreditasi tidak berbeda signifikan.
Kata kunci: masalah matematika, pemecahan masalah, tingkat akreditasi

MATH PROBLEMS SOLVING ABILITY OF EIGHTH GRADE STUDENTS


BASED ON THE ACCREDITATION LEVEL

Abstract
This study was aimed at describing mathematical problem solving abilities of eight grade
students from state junior high schools in one of the districts/cities in Central Kalimantan
based on the school accreditation. This research used descriptive qualitative method. From
the total population of 28 schools, ten schools were chosen by random sampling. They were
two schools with A accreditation, two schools with B, two schools with C, and four schools
with no accreditation. Three problems were given to the students from each school. Each
student’s solution was scored by using the research rubric. The results show that the average
score of the students’ ability is 4.71 (maximum score is 12) which is the average score of
A, B, C accredited schools, 5.24, 2.29, 3.31, and 2.10 for the unaccrediated. The result of
Kruskal-Wallis and further tests show that the students’ scores of A accreditation are higher
than B, C accreditations, non acreditations. However, the scores of B, C accreditations, no
accreditation were not significantly different.
Keywords: mathematical problems, problem solving, accreditation levels

179
JURNAL KEPENDIDIKAN, Volume 46, Nomor 2, November 2016, Halaman 179-192

PENDAHULUAN pengetahuannya untuk merencanakan


Keberhasilan pembelajaran mate- cara penyelesaiannya. Hal inilah yang
matika di kelas dapat diukur berdasarkan menyebabkan cara penyelesaiannya tidak
kemampuan berpikir siswa-siswanya. Jika segera dapat dilihat oleh siswa. Contoh
pembelajaran dapat membantu siswa- masalah “Pak Anto memiliki bahan untuk
siswa memiliki kemampuan berpikir membuat pagar sepanjang 60 m. Ia akan
tingkat tinggi, pembelajaran tersebut menggunakan semua bahan tersebut untuk
dikatakan berhasil. Arends dan Kilcher memagari tamannya yang berbentuk
(2010) membagi kemampuan berpikir persegipanjang. Tentukan panjang dan
menjadi empat yaitu berpikir memanggil, lebar taman Pak Anto jika semua bahan
dasar, kritis dan kreatif. Berpikir dasar pagar tersebut habis digunakan! Jelaskan
dan memanggil tergolong tingkat rendah, jawabanmu!”.
sedangkan berpikir kritis dan kreatif Berpikir kreatif adalah berpikir yang
tergolong tingkat tinggi. diarahkan untuk mencari jawaban-jawaban
Berpikir memanggil adalah berpikir atau cara-cara penyelesaian yang baru atau
yang diarahkan untuk memanggil informasi berbeda dari suatu masalah matematika
yang telah diingat oleh siswa. Soal yang (Siswono, 2008; Adams & Hamm, 2010;
tergolong dalam berpikir ini adalah King et al., 2016). Contoh pada masalah
“Sebutkan rumus luas persegi panjang!”. sebelumnya ditambahkan pertanyaan:
Berpikir dasar adalah berpikir yang diarah- “Adakah kemungkinan lain untuk
kan untuk menerapkan secara langsung panjang dan lebar taman Pak Anto?
suatu rumus/algoritma/prosedur tertentu Jika ada, tentukan panjang dan
(Arends & Kilcher, 2010). Contoh soal lebarnya! Jelaskan jawabanmu!”.
berpikir dasar adalah “Tentukan luas
persegi panjang jika panjangnya 6 cm dan Pertanyaan tersebut menuntut siswa berpikir
lebarnya 5 cm!” Soal-soal yang tergolong kreatif. Masalah yang demikian disebut
berpikir tingkat rendah tersebut disebut masalah berakhir terbuka karena memiliki
soal-soal rutin (Posamentier & Krulik, jawaban/cara penyelesaian lebih dari satu
2009; Zeitz, 2009). (Siswono, 2008).
Berpikir kritis adalah berpikir yang Berdasarkan uraian di atas dapat
diarahkan untuk memecahkan masalah disimpulkan bahwa siswa-siswa dapat
matematika (Siswono, 2008; King, memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi
Goodson, & Rohani, 2016). Masalah jika mereka belajar memecahkan masalah-
berbeda dengan soal rutin. Polya (1973, masalah matematika di kelas. Kemampuan
1981), Zeitz (2009), Adjie dan Maulana dalam memecahkan masalah menjadi
(2009), dan Posamentier dan Krulik tolak ukur keberhasilan siswa-siswa dalam
(2009)mendefinisikan masalah sebagai belajar matematika. Tujuan utama siswa-
soal yang tidak rutin, menantang, tetapi siswa dalam belajar matematika adalah
masih mungkin diselesaikan dengan cara memecahkan masalah-masalah (Kennedy,
penyelesaian yang tidak segera dapat dilihat Tipps, & Johnson, 2008; Musser, Burger,
oleh siswa. Tidak rutin karena jawabannya & Peterson, 2011).
tidak dapat diperoleh hanya dengan Siswa-siswa juga dapat mengem-
mensubstitusi nilai-nilai ke suatu rumus bangkan sikap-sikap positif melalui belajar
tertentu seperti yang rutin dilakukan siswa. memecahkan masalah. Sikap-sikap tersebut
Siswa perlu mengelaborasi pengetahuan- adalah pantang menyerah, tekun dan percaya

180
Jackson P. M.: Kemampuan Siswa Kelas VIII...

diri dalam situasi yang tidak biasa (Ontario meningkatkan kemampuan siswa-siswa
Ministry of Education, 2006). Para peraih dalam memecahkan masalah. Tindakan
medali OSN (Olimpiade Sains Nasional) tersebut dapat berupa peningkatan
bidang matematika yang merupakan siswa- kompetensi guru-guru dalam menerapkan
siswa dengan kemampuan pemecahan pembelajaran yang dapat membantu siswa-
masalah yang tinggi menunjukkan sikap- siswa memiliki kemampuan pemecahan
sikap positif tersebut (Mairing, Budayasa, & masalah yang tinggi. Hasil penelitian Pimta
Juniati, 2011, 2012). Sikap-sikap itu sendiri et al. (2009) menyatakan bahwa kemampuan
berpengaruh positif terhadap kemampuan siswa-siswa dalam memecahkan masalah
siswa-siswa dalam memecahkan masalah dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang
(Pimta, Tayruakham, & Nuangchalerm, diberikan guru di kelas.
2009). Sebenarnya, pemerintah telah me-
Di sekolah, kondisi saat ini menunjuk- metakan kualitas sekolah berdasarkan
kan bahwa siswa-siswa belum memiliki akreditasinya. Akreditasi sekolah adalah
kemampuan dalam memecahkan masalah. penilaian mengenai kualitas sekolah yang
Hasil survei awal peneliti di salah satu SMP dilakukan oleh Badan Akreditasi Provinsi
di salah satu kabupaten/kota di Kalimantan Sekolah/Madrasah (BAP S/M) (Badan
Tengah dengan akreditasi A menunjukkan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah
bahwa persentase banyak siswa kelas VIII [BAN S/M], 2010). Hasil penilaian
yang memperoleh skor 0, 1, 2, 3 dan 4 tersebut berupa huruf A, B, dan C. Sekolah
(skor maksimumnya 4) secara berturut- dengan akreditasi A memiliki kualitas baik
turut sebesar 65,85%; 24,39%; 3,66%; sekali, akreditasi B memiliki kualitas
2,44%; dan 3,66%. Skor tersebut ditentukan baik, sedangkan akreditasi C memiliki
menggunakan rubrik holistik pemecahan kualitas cukup. Syarat sekolah diakreditasi
masalah. adalah memiliki SK pendirian/operasional,
Siswa yang memperoleh skor 0 atau memiliki siswa di semua tingkatan kelas,
1 dapat digolongkan sebagai pemecah memiliki sarana dan prasarana pendidikan,
masalah yang kurang berpengalaman (naive memiliki pendidik dan tenaga kependidikan,
problem solver). Siswa dengan skor 2 atau melaksanakan kurikulum yang berlaku,
3 tergolong pemecah masalah yang rutin dan telah menamatkan siswa. Sekolah
(routine problem solver). Siswa dengan yang belum memenuhi syarat belum dapat
skor 4 tergolong pemecah masalah yang diakreditasi.
baik (good problem solver) (Muir, Beswick, Ada delapan standar mutu yang
& Williamson, 2008). Dengan demikian, menentukan akreditasi suatu sekolah, yakni:
hasil survei awal tersebut menunjukkan standar isi, proses, kompetensi lulusan,
96,34% siswa-siswa tergolong bukan pendidik dan tenaga kependidikan, sarana
pemecah masalah yang baik. dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan,
Keadaan tersebut perlu diperbaiki. dan penilaian pendidikan (BAN S/M, 2010).
Langkah pertama dengan memetakan Ini berarti sekolah terakreditasi A memiliki
kemampuan siswa-siswa SMP saat ini di kualitas proses belajar dan pendidik yang
salah satu kabupaten/kota di Kalimantan baik sekali. Kualitas yang demikian
Tengah dalam memecahkan masalah. seharusnya dapat mendorong siswa-siswa
Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, memiliki kemampuan pemecahan masalah
pemerintah, sekolah, dan guru dapat yang tinggi. Akan tetapi, hasil survei
merancang suatu tindakan perbaikan untuk awal sebelumnya menunjukkan fakta

181
JURNAL KEPENDIDIKAN, Volume 46, Nomor 2, November 2016, Halaman 179-192

yang berbeda. Kondisi ini memunculkan terpilih sebagai sampel diberikan tiga
pertanyaan, apakah akreditasi memberikan masalah matematika. Masalah kedua dan
pengaruh terhadap kemampuan siswa- ketiga diadaptasi dari Quasar Tasks (Parke,
siswa dalam memecahkan masalah? Lane, Silver, & Magone, 2003). Ketiga
Pengaruh dapat dilihat dari ada perbedaan masalah tersebut berkaitan dengan konsep
kemampuan antara siswa-siswa dengan yang sama yaitu luas dan keliling persegi
akreditasi A, B, C, dan belum diakreditasi. panjang. Peneliti memilih materi ini karena
Penelitian ini dimaksudkan untuk siswa-siswa kelas VIII telah mengenalnya
mendeskripsikan kemampuan siswa- sejak SD kelas IV, diuji pada ujian nasional
siswa kelas VIII SMP negeri di salah satu SD, dan diulang kembali di SMP kelas VII
kabupaten/kota di Kalimantan Tengah Tahun sehingga siswa-siswa tersebut diharapkan
Ajaran 2015/2016 dalam memecahkan telah menguasai konsep ini, dan dapat
masalah-masalah matematika berdasarkan menyelesaikan masalah-masalah dalam
tingkat akreditasi sekolah. Penelitian ini juga penelitian ini.
bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan Selain itu, sekolah-sekolah negeri yang
kemampuan antarasiswa sekolah dengan menjadi sampel memiliki kurikulum yang
akreditasi A, B, C, dan belum diakreditasi. berbeda-beda. Beberapa sekolah meng-
gunakan KTSP, yang lain menggunakan
METODE Kurikulum 2013 sehingga materi yang
Penelitian ini menggunakan metode dipelajari berbeda-beda saat penelitian. Ke-
deskriptif kuantitatif. Populasi dalam cepatan belajar siswa-siswa juga berbeda-
penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII beda walaupun kurikulumnya sama.
SMP negeri di salah satu kabupaten/kota di Dengan demikian, peneliti memilih materi
Kalimantan Tengah tahun ajaran 2015/2016. yang sudah dipelajari oleh semua siswa di
Populasinya adalah 28 sekolah yang terdiri sekolah-sekolah yang menjadi sampel yaitu
5 terakreditasi A, 6 terakreditasi B, 6 luas dan keliling persegipanjang.
terakreditasi C, dan 11 belum diakreditasi. Masalah matematika dalam penelitian
Setiap akreditasi di populasi diambil ini adalah sebagai berikut.
sekolah-sekolah sebagai sampel sekitar
30% secara acak (Tabel 1). Masalah Matematika
Teknik pengumpulan data dilakukan 1. Bangun di samping
dengan memberikan tes pemecahan dibentuk oleh 5 per-
masalah matematik pada sampel penelitian. segi dengan panjang
Semua siswa kelas VIII di sekolah yang sisi yang sama. Jika

Tabel 1
Populasi dan Sampel Penelitian Berdasarkan Tingkat Akreditasi
Akreditasi
Belum Diakreditasi Jumlah
A B C
Populasi 5 6 6 11 28
Sampel [30%×5]=2 2 2 4 10
Keterangan: tanda [

182
Jackson P. M.: Kemampuan Siswa Kelas VIII...

keliling bangun tersebut adalah 72 skor maksimum setiap siswa adalah


cm, maka luasnya adalah ... 3×4=12.
Skor siswa-siswa tersebut direpre-
2. Pak Anto memiliki bahan untuk mem- sentasi menggunakan tabel dan diagram,
buat pagar sepanjang 60 m. Ia akan serta dirangkum menggunakan statistik
menggunakan semua bahan tersebut tertentu. Hal ini bertujuan untuk memberikan
untuk memagari tamannya yang gambaran mengenai kemampuan siswa-
berbentuk persegi panjang. siswa kelas VIII SMP negeri di salah satu
(a) Berapa panjang dan lebar taman Pak kabupaten/kota di Kalimantan Tengah
Anto jika semua bahan pagar ter- dalam memecahkan masalah-masalah
sebut habis digunakan? Jelaskan matematika. Kegiatan tersebut dimaksud-
jawabanmu! kan untuk memenuhi tujuan penelitian
(b) Sama seperti (a), adakah pertama.
kemungkinan lain untuk panjang Tujuan penelitian kedua dipenuhi oleh
dan lebar taman Pak Anto? Jika peneliti dengan melakukan uji hipotesis
ada, tentukan panjang dan menggunakan uji nonparametrik Kruskal-
lebarnya. Jelaskan jawabanmu! Wallis. Hipotesisnya adalah:
H0 :MA=MB=MC=MBA
3. Pak Amir ingin membeli sebidang H1: bukan H0
tanah. Ia ditawari tanah oleh Pak Pendi
dan Pak Benny dengan ukuran sebagai dengan MA, MB, MC= median skor dari
berikut. akreditasi A, B, dan C secara beturut-turut,
M BA median skor dari sekolah belum
diakreditasi.
Peneliti menggunakan uji tersebut
karena datanya menyebar tidak normal
dan memenuhi semua asumsinya yaitu
sampel-sampel dipilih secara acak dan
saling bebas, serta skala skornya ordinal
(a) Jika Pak Amir ingin membeli (Kadir, 2010). Kenormalan data tersebut
tanah seluas mungkin, tanah diuji menggunakan uji Kolmogorov-
siapa yang seharusnya dibeli? Smirnov. Jika hasil uji Kruskal-Wallis
Jelaskan jawabanmu! adalah menolak H0, peneliti melakukan
(b) Jika Pak Amir ingin membeli uji lanjut. Tujuannya untuk menentukan
tanah dengan biaya membuat akreditasi yang skor siswa-siswanya paling
pagar semurah mungkin, tinggi dan yang berbeda nyata.
tanah siapa yang seharusnya
dibeli? Jelaskan jawabanmu! HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Peneliti memberi tiga masalah ke
Ketiga masalah tersebut dibagikan ke semua siswa kelas VIII di sepuluh sekolah
semua siswa kelas VIII di sekolah-sekolah yang menjadi sampel. Setiap penyelesaian
yang menjadi sampel. Penyelesaian setiap siswa diskor menggunakan rubrik holistik
siswa diskor menggunakan rubrik holistik dengan maksimum skor setiap masalah
pemecahan masalah (Tabel 2). Ada tiga adalah 4. Ada tiga masalah sehingga
masalah dalam penelitian ini sehingga maksimum skor setiap siswa adalah 12.

183
JURNAL KEPENDIDIKAN, Volume 46, Nomor 2, November 2016, Halaman 179-192

Tabel 2
Rubrik Holistik Pemecahan Masalah
Skor Deskripsi
0 a. Siswa tidak menulis apa pun pada lembar penyelesaian.
b. Siswa menulis yang diketahui dan ditanya, tetapi tidak tampak pemahaman
terhadap masalah.
1 a. Siswa menulis yang diketahui dan ditanya dengan benar, ada langkah-langkah
penyelesaian, tetapi cara yang digunakan salah.
b. Siswa berusaha untuk mencapai subtujuan, tetapi belum berhasil.
c. Siswa menjawab dengan benar, tetapi tidak ada cara penyelesaiannya.
2 a. Siswa menggunakan cara yang tidak sesuai dan jawabannya salah, tetapi
penyelesaiannya menunjukkan beberapa pemahaman terhadap masalah.
b. Siswa memperoleh jawaban benar, tetapi caranya tidak dapat dipahami atau
salah.
3 a. Siswa menerapkan cara yang benar, tetapi siswa salah memahami beberapa
bagian dari masalah, atau mengabaikan suatu kondisi dari masalah.
b. Siswa menerapkan cara penyelesaian yang sesuai, tetapi
(i) siswa menjawab masalah secara tidak benar tanpa penjelasan, dan
(ii) siswa tidak menuliskan jawaban.
c. Siswa menuliskan jawaban benar dan ada beberapa bukti yang menunjukkan
bahwa siswa telah memilih cara penyelesaian yang sesuai, tetapi
penerapannya tidak sepenuhnya benar.
4 a. Siswa membuat cara penyelesaian yang sesuai, menerapkannya dengan benar,
dan menuliskan jawaban benar.
b. Siswa memilih cara yang sesuai, jawabannya benar, tetapi ada sedikit
kesalahan perhitungan.
Sumber: Sa’dijah & Sukoriyanto, 2015

Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor 0-2 untuk masalah 1 dan 2 dengan
median skor siswa pada masalah 1 dan 2 persentase banyak siswa secara berturut-
masing-masing sebesar 1 (Tabel 3). Ini turut sebesar 73,2% dan 83,0% (Tabel
berarti sebagian besar siswa memperoleh 4). Pada masalah 3, median skornya

Tabel 3
Rata-Rata Skor Kemampuan Siswa dalam Memecahkan Masalah
Masalah Total Skor
1 2 3 Ketiga Masalah
Rata-rata 1,62 1,26 1,83 4,71
Median 1 1 2 4

184
Jackson P. M.: Kemampuan Siswa Kelas VIII...

adalah 2 yang berarti sebagian besar siswa akreditasi A (27,04%) (Tabel 5). Jika dilihat
memperoleh skor 1-3 untuk masalah ini dari persentase tersebut, ada perbedaan
dengan persentase banyak siswa sebesar banyak pemecah masalah yang kurang
69,8%. berpengalaman antara sekolah dengan
akreditasi A, B, C, dan belum diakreditasi
Tabel 4 secara deskriptif.
Persentase Banyak Siswa yang Memperoleh Hal yang sama juga ditunjukkan oleh
Skor Tertentu per Masalah banyak siswa yang tergolong pemecah
Skor Masalah Masalah Masalah masalah yang baik yaitu siswa dengan skor
1 2 3 4 di setiap masalah. Persentase banyak
0 15,5 27,7 18,7 pemecah masalah ini sebesar 2,78%. Siswa-
1 54,9 49,2 26,4
siswa yang tergolong kelompok ini hanya
ada di sekolah dengan akreditasi A dengan
2 2,8 6,1 19,5
persentase sebesar 3,52% (Tabel 6). Ini
3 5,7 3,1 24,0 berarti ada perbedaan banyak pemecah
4 21,1 13,9 11,4 masalah yang baik antara sekolah dengan
akreditasi A, B, C, dan belum diakreditasi
Siswa-siswa yang memperoleh secara deskriptif.
skor 0 atau 1 di setiap masalah dapat Boxplot skor juga menunjukkan bahwa
digolongkan sebagai pemecah masalah siswa yang memperoleh skor 12 atau skor
yang kurang berpengalaman (Muir et al., 4 di setiap masalah hanya ada di sekolah
2008). Persentase banyak pemecah masalah dengan akreditasi A. Garis tengah boxplot
ini sebesar 34,26%. Pemecah masalah skor sekolah dengan akreditasi A juga
tersebut paling banyak ada di sekolah- lebih tinggi dibandingkan lainnya. Garis
sekolah negeri belum diakreditasi (70,73%) tengah boxplot sekolah dengan akreditasi
dan paling sedikit ada di sekolah dengan B, C, dan belum akreditasi hampir segaris

Tabel 5
Persentase Banyak Siswa dengan Skor 0 atau 1 di Setiap Masalah
Belum Semua
Akreditasi (%)
Diakreditasi Siswa
A B C (%) (%)
27,04 68,57 52,24 70,73 34,26

Tabel 6
Persentase Banyak Siswa dengan Skor 4 di Setiap Masalah
Belum Semua
Akreditasi (%)
Diakreditasi Siswa
A B C (%) (%)
3,52 0 0 0 2,78

185
JURNAL KEPENDIDIKAN, Volume 46, Nomor 2, November 2016, Halaman 179-192

(Gambar 1). Median skor tertinggi juga ada berarti data mendukung untuk menolak H0.
di sekolah dengan akreditasi A (Tabel 7). Kesimpulannya adalah ada setidaknya satu
Signifikansi perbedaan skor-skor tersebut skor dari sekolah dengan akreditasi tertentu
diuji menggunakan uji nonparametrik yang berbeda nyata dengan lainnya.
Kruskal-Wallis.
Tabel 8
Tabel 7 Hasil Uji Kruskal-Wallis
Ringkasan Skor untuk Ketiga Masalah Jenis Sekolah N Z P
Akreditasi Belum Akreditasi A 540 9,00 0,00
A B C Diakreditasi
Akreditasi B 35 -4,91 0,00
Rata-rata 5,24 2,29 3,31 2,10
Median 5 2 3 2 Belum Diakreditasi 41 -5,76 0,00
Akreditasi C 67 4,07 0,00
Peneliti menggunakan uji tersebut
karena data skornya menyebar tidak Peneliti melakukan uji lanjut untuk
normal. Ketidaknormalan data disimpulkan mengetahui skor-skor yang berbeda nyata.
dari hasil uji Kolmogorov-Smirnov Uji ini juga digunakan untuk menentukan
menggunakan Minitab 16.2.1 dengan jenjang akreditasi sekolah yang memiliki
p-value < 0,01 < 0,05=α. siswanya memiliki skor paling tinggi.
Hasil uji Kruskal-Wallis yang meng- Hasil analisis menunjukkan bahwa skor
gunakan Minitab 16.2.1 disajikan pada siswa yang paling tinggi secara signifikan
Tabel 8. Statistik p-value =0 < 0,05 =α yang terdapat pada sekolah dengan akreditasi

Gambar 1. Boxplot Skor Siswa per Akreditasi

186
Jackson P. M.: Kemampuan Siswa Kelas VIII...

A. Skor-skor siswa pada sekolah dengan masalah dengan jumlah paling sedikit
akreditasi B, C, dan belum diakreditasi terdapat di sekolah dengan akreditasi A.
tidak berbeda nyata (Tabel 9). Hal tersebut terjadi karena sekolah-
sekolah dengan akreditasi A memiliki
Tabel 9 input siswa yang baik dan sarana belajar
Hasil Uji Lanjut dengan α = 0,05 yang memadai. Input yang baik karena
Akreditasi N Median Kelp. sekolah-sekolah tersebut adalah sekolah-
sekolah favorit sehingga siswa-siswa
A 540 5 X yang mendaftar masuk jauh melebihi
B 35 2 Y kapasitasnya. Selain input, siswa-siswa
C 67 3 Y pada sekolah tersebut juga sering menjuarai
perlombaan baik dalam bidang akademik
Belum maupun nonakademik. Seluruh siswa yang
41 2 Y
Diakreditasi lulus UN SMP, sebagian besar masuk ke
Keterangan: Akreditasi-akreditasi dengan
huruf yang sama pada kolom kelompok SMA favorit di kabupaten/kota di daerah
menunjukkan skor-skor siswanya tidak sekitar dan beberapa masuk SMA favorit di
berbeda nyata, sebaliknya huruf yang tidak Jawa. Banyaknya pendaftar membuat pihak
sama menunjukkan berbeda nyata. sekolah melakukan seleksi untuk memilih
siswa-siswa dengan nilai UN SD terbaik.
Tujuan utama siswa belajar mate- Misalkan kapasitas sekolah sebanyak 100
matika adalah mampu memecahkan siswa, 100 siswa dengan nilai UN terbaik
masalah-masalah matematika. Guru lulus seleksi. Dengan demikian, hanya
seharusnya membantu siswa-siswa untuk pendaftar-pendaftar terbaik yang masuk ke
mencapai tujuan ini dan menjadi pemecah sekolah-sekolah tersebut.
masalah yang baik. Akan tetapi, hasil Selain itu, sekolah-sekolah tersebut
penelitian ini menunjukkan fakta berbeda. memiliki sarana belajar yang memadai
Siswa-siswa yang tergolong pemecah seperti gedung sekolah, ruang kelas, media
masalah yang baik hanya ada di sekolah belajar, fasilitas olahraga, laboratorium, dan
dengan akreditasi A dengan persentase perpustakaan. Sarana belajar yang memadai
3,52%; tetapi tidak ada di sekolah dengan dapat menciptakan lingkungan dan proses
akreditasi B, C, dan belum diakreditasi. belajar yang menyenangkan sehingga siswa
Hasil penelitian juga menunjukkan dapat mengembangkan kemampuannya
bahwa sekolah dengan akreditasi A lebih dan memperoleh hasil belajar yang tinggi
baik dibandingkan dengan sekolah dengan (Utami, Sutama, & Subadi, 2012; Tiurma &
akreditasi B, C, dan belum diakreditasi Ratnawati, 2015). Hal-hal di atas menjadi
dalam hal kemampuan siswa dalam daya tarik bagi lulusan-lulusan SD untuk
memecahkan masalah. Hasil ini sesuai masuk SMP negeri dengan akreditasi A.
dengan tujuan akreditasi dalam memetakan Hal yang berbeda terjadi di sekolah
kualitas sekolah. Skor siswa-siswa dari dengan akreditasi B, C, dan belum
sekolah dengan akreditasi A paling tinggi diakreditasi. Sekolah-sekolah tersebut
secara signifikan. Pemecah masalah yang memiliki karakteristik yang sama, yaitu
baik hanya dimiliki oleh siswa di sekolah menampung lulusan-lulusan SD agar dapat
dengan akreditasi A. Kategori siswa yang melanjutkan ke SMP. Ini dimaksudkan
kurang berpengalaman dalam pemecahan untuk mensukseskan program wajib belajar

187
JURNAL KEPENDIDIKAN, Volume 46, Nomor 2, November 2016, Halaman 179-192

9 tahun yang dicanangkan oleh pemerintah. 43,67. Selain itu, banyak pemecah masalah
Beberapa sekolah tersebut jaraknya jauh yang baik secara keseluruhan sebesar
atau hanya dapat dijangkau lewat jalur 2,78% hanya ada di sekolah dengan
sungai dari pusat kabupaten/kota dan akreditasi A. Tidak ada pemecah masalah
menjadi satu-satunya SMP yang ada di yang baik di sekolah dengan akreditasi B,
daerah tersebut. Kondisi ini membuat SMP C, dan belum diakreditasi. Sebaliknya,
tersebut harus menerima semua lulusan persentase pemecah masalah yang kurang
SD di daerah sekitarnya dengan berbagai berpengalaman di sekolah dengan akreditasi
tingkat kemampuan tanpa proses seleksi. B, C, dan belum diakreditasi lebih dari 50%.
Karakteristik yang sama lainnya Persentase tertinggi sebesar 70,73% ada
adalah sarana belajar yang kurang me- di sekolah yang belum diakreditasi dan
madai di sekolah dengan akreditasi B, terendah ada di sekolah dengan akreditasi
C, dan belum diakreditasi dibandingkan A dengan persentase sebesar 27,04%.
dengan sekolah dengan akreditasi A. Perbedaan antara pemecah masalah
Sarana tersebut adalah media belajar, yang baik dan yang kurang berpenga-
laboratorium, dan perpustakaan. Sarana laman terjadi pada kemampuan dalam
belajar merupakan salah satu faktor yang melaksanakan tahap-tahap pemecahan
mempengaruhi keberhasilan siswa dalam masalah. Tahap-tahap tersebut adalah
belajar matematika. Indikator utama memahami masalah, membuat rencana,
dari keberhasilan tersebut adalah siswa melaksanakan rencana, dan memeriksa
mampu memecahkan masalah-masalah kembali (Polya, 1973, 1981; Posamentier
matematika. & Krulik, 2009; Florida Department of
Karakteristik-karakteristik yang sama Education, 2010).
tersebut membuat tidak adanya perbedaan Pada tahap memahami masalah, pe-
kemampuan siswa-siswa sekolah dengan mecah masalah yang baik dapat menentukan
akreditasi B, C, dan belum diakreditasi dan memproses informasi dari masalah
dalam memecahkan masalah. Dengan kata untuk membentuk gambar mental yang
lain, kemampuan siswa-siswa di sekolah- sesuai, dan dapat mengenali konsep-
sekolah tersebut adalah sama. Kesamaan ini konsep yang ada dalam masalah. Pada
juga tampak dari banyak pemecah masalah tahap membuat rencana, pemecah masalah
yang kurang berpengalaman yang lebih yang baik memiliki skema pemecahan
dari 50% dan tidak ada pemecah masalah masalah sehingga mampu membuat
yang baik di sekolah-sekolah tersebut. Hal rencana-rencana penyelesaian yang
ini bertentangan dengan makna akreditasi. sesuai. Skema tersebut dikonstruksi dari
Sekolah dengan akreditasi B seharusnya pemahaman terhadap masalah, pemahaman
memiliki kualitas lebih baik dibandingkan terhadap konsep-konsep matematika yang
dengan sekolah dengan akreditasi C. terkait, pengalaman sebelumnya dalam
Kemampuan siswa-siswa SMP negeri memecahkan masalah, dan strategi-strategi
di salah satu kabupaten/kota di Kalimantan pemecahan masalah.
Tengah dalam memecahkan masalah Pada tahap melaksanakan rencana,
perlu ditingkatkan. Hal ini tampak dari pemecah masalah yang baik mampu
rata-rata skor kemampuan siswa dalam menerapkan rencana-rencananya, dan
memecahkan masalah sebesar 4,71 kurang menunjukkan kemampuan berpikir meta-
dari skor maksimumnya sebesar 12. Jika kognitif selama penerapan rencana.
dikonversi ke skala 100, nilainya menjadi Pemecah masalah yang baik memeriksa

188
Jackson P. M.: Kemampuan Siswa Kelas VIII...

kembali penyelesaian pada saat atau 2015/2016. Hasilnya adalah rata-rata skor
sesudah melaksanakan rencana (Muir et al., kemampuan siswa dalam memecahkan
2008; Mairing, dkk., 2011, 2012). Pemecah masalah secara keseluruhan sebesar 4,71.
masalah yang kurang berpengalaman Rata-rata skor siswa dari sekolah akreditasi
mengalami kesulitan di setiap tahap A, B, C, dan belum diakreditasi secara
pemecahan masalah terutama pada tahap berturut-turut sebesar 5,24; 2,29; 3,31 dan
memahami masalah dan membuat rencana. 2,10. Selain itu, persentase banyak pemecah
Hasil penelitian ini menunjukkan ada masalah yang baik secara keseluruhan
97,22% siswa tidak tergolong pemecah sebesar 2,78%. Persentase tersebut pada
masalah yang baik. Kondisi ini perlu di- sekolah dengan akreditasi A, B, C, dan
perbaiki. Caranya adalah guru menerapkan belum diakreditasi secara berturut-
pembelajaran yang menghadapkan siswa turut sebesar 3,52%; 0%; 0%; dan 0%.
pada masalah matematika di kelas. Hasil Persentase banyak pemecah masalah yang
penelitian menunjukkan metode belajar kurang berpengalaman secara keseluruhan
yang digunakan guru mempengaruhi sebesar 34,26%. Persentase tersebut pada
kemampuan siswa-siswa dalam me- sekolah dengan akreditasi A, B, C, dan
m e c ah ka n m a s a l a h ( P i m t a e t al ., belum diakreditasi secara berturut-turut
2009). Metode-metode tersebut adalah sebesar 27,04%; 68,57%; 52,24%; dan
pembelajaran kontekstual (Pitajeng, 70,73%. Hasil uji nonparametrik Kruskal
2006), belajar penemuan (Sahrudin, 2014; Wallis diperoleh p-value =0<0,05=α.
Windari, Dwina, & Suherman, 2014), Kesimpulannya ada perbedaan kemampuan
pembelajaran berbasis masalah (Prayitno, siswa dalam memecahkan masalah antara
2006; Prayanti, Sadra, & Sudiarta, 2014; sekolah dengan akreditasi A, B, C, dan
Sari, 2014), pendidikan matematika belum akreditasi. Peneliti melakukan uji
realistik (Anisa, 2014; Kusumawati & lanjut untuk mengetahui perbedaan skor
Turisia, 2014), pelangi matematika (Rahayu yang nyata antara sekolah dengan akreditasi
& Afriansyah, 2015), kooperatif STAD A, B, C, dan belum diakreditasi. Hasilnya
(Surya & Rahayu, 2015). Siswa-siswa adalah skor sekolah dengan akreditasi
juga perlu dibimbing dalam memecahkan A lebih tinggi daripada sekolah dengan
masalah menggunakan tahap-tahap Polya akreditasi B, C, dan belum diakreditasi
(Polya, 1973; Woodward et al., 2012). secara signifikan.Skor sekolah dengan
Guru juga perlu memantau perkembangan akreditasi B, C, dan belum diakreditasi
kemampuan siswa-siswanya dalam tidak berbeda nyata.
memecahkan masalah. Hasil pemantauan
tersebut dapat digunakan guru-guru dalam DAFTAR PUSTAKA
membuat rencana-rencana perbaikan guna Adams, D., & Hamm, M. (2010). Creativity,
meningkatkan kemampuan siswa-siswanya innovation, and problem solving.
dalam memecahkan masalah matematika Plymouth: Rowman & Littlefield
(Woodward et al., 2012). Education, Inc.
Adjie, N., & Maulana. (2009). Pemecahan
SIMPULAN masalah matematika. Bandung: UPI
Peneliti memberikan tiga masalah Press.
matematika kepada siswa-siswa di 10 Anisa, W. N. (2014). Peningkatan ke-
SMP negeri di salah satu kabupaten/ mampuan pemecahan masalah dan
kota di Kalimantan Tengah Tahun Ajaran komunikasi matematik melalui

189
JURNAL KEPENDIDIKAN, Volume 46, Nomor 2, November 2016, Halaman 179-192

pembelajaran pendidikan matematika masalah peraih medali OSN mate-


realisitik untuk siswa SMP Negeri di matika berdasarkan jenis kelamin.
Kabupaten Garut. Jurnal Pendidikan Jurnal Ilmu Pendidikan,18(2), 125-
dan Keguruan, I(1), 71-80. 134. Diunduh dari http://dx.doi.org
Arends, R. I., & Kilcher, A. (2010). /10.17977/jip.v18i2.3612.
Teaching for student learning. New Muir, T., Beswick, K., & Williamson, J.
York: Routledge. (2008). I am not very good at solving
Badan Akreditasi Nasional Sekolah/ problems: An exploration of student’s
Madrasah. (2010). Kebijakan dan problem solving behaviours. The
pedoman akreditasi sekolah/madrasah. Journal of Mathematical Behaviour,
Jakarta: BAN S/M. 27(3), 228-241. doi:10.1016/j.
Florida Deparment of Education. (2010). jmathb.2008.04.003.
Classroom cognitive and meta- Musser, G. L., Burger, W. F., & Peterson,
cognitive strategies for teachers. B. E. (2011). Mathematics for
Tallahassee: Bureau of Exceptional elementary teachers, a contemporary
Education and Student Services. approach (9th ed.). Hoboken: John &
Kadir. (2010). Statistika untuk penelitian Willey, Inc.
ilmu-ilmu sosial. Jakarta: Rosemata Ontario Ministry of Education. (2006).
Sempurna. A Guide to effective instruction in
Kennedy, L. M., Tipps, S., & Johnson, A. mathematics kindergarten to grade
(2008). Guiding children’s learning 6, volume two: Problem solving and
of mathematics. Belmont: Thomson communication. Toronto: Ontario
Wadsworth. Ministry of Education.
King, F. J., Goodson, L., & Rohani, F. Parke, C. S., Lane, S., Silver, E. A.,
(2016). Higher order thinking skills. & Magone, M. E. (2003). Using
Diunduh dari http://www.cala.fsu.edu/ assessment to improve middle-grades
files/higher_order_thinking_skills.pdf. mathematics teaching &learning.
Kusumawati, E., & Turisia, T. M. (2014). Reston, VA: The National Council of
Kemampuan siswa dalam pemecahan Teachers of Mathematics, Inc.
masalah matematika menggunakan Pimta, S., Tayruakham, S., & Nuangchalerm,
pendekatan matematika realistik P. (2009). Factors influencing
(PMR) dan mekanistik”. EDU-MAT mathematics problem solving ability of
Jurnal Pendidikan Matematika, II(1), sixth grade students. Journal of Social
70-79. Sciences, 5(4), 381-385. Diunduh
Mairing, J. P., Budayasa, I. K., & dari http://files.eric.ed.gov/fulltext/
Juniati, D. (2011). Profil pemecahan ED506983.pdf.
masalah peraih medali OSN. Jurnal Polya, G. (1973). How to solve it (2nd ed.).
Pendidikan dan Pembelajaran , New Jersey: Princeton University.
18(1),65-71. Diunduh dari http:// Polya, G. (1981). Mathematical discovery:
journal.um.ac.id/index.php/ On understanding, learning and
pendidikan-dan-pembelajaran/article/ teaching problem solving. New York:
viewFile/2758/508. John Willey & Sons, Inc.
Mairing, J. P., Budayasa, I. K., & Juniati, D. Posamentier, A. S., & Krulik, S. (2009).
(2012). Perbedaan profil pemecahan Problem solving in mathematics

190
Jackson P. M.: Kemampuan Siswa Kelas VIII...

grades 3-6, powerful strategies to Sari, N. (2014). Peningkatan kemampuan


deepen understanding. Thousand pemecahan masalah matematis melalui
Oaks: Corwin. pembelajaran berbasis masalah dan
Pitajeng. (2006). Peningkatan kemampuan pembelajaran konvensional pada
pemecahan masalah dengan pem- mahasiswa STMIK di Kota Medan.
belajaran kontekstual dan penggunaan Jurnal Saintech, 6(4), 106-111.
op e n e n de d pr ob l e m s . J ur nal S i s wono, T. Y. E. (2008) . Mod el
Kependidikan, 36(1). Diunduh dari pembelajaran matematika berbasis
http://journal.uny.ac.id/index.php/jk/ pengajuan dan pemecahan masalah
article/view/7285. untuk meningkatkan kemampuan
Prayanti, N. P. D., Sadra, I. W., & Sudiarta, berpikir kreatif. Surabaya: Unesa
I. G. P. (2014). Pengaruh strategi University Press.
pembelajaran pemecahan masalah ber- S urya , E., & Ra hayu , R . (201 5).
orientasi masalah matematika terbuka Peningkatan kemampuan komunikasi
terhadap kemampuan pemecahan dan pemecahan masalah matematis
masalah ditinjau dari keterampilan siswa SMP Ar-Rahman Percut melalui
metakognitif siswa kelas VII SMP pembelajaran kooperatif tipe student
Sapta Andika Denpasar tahun pelajaran teams achevement division (STAD).
2013/2014. Jurnal Pendidikan Jurnal Pendidikan Matematika
Matematika, 3(1). Diunduh dari Paradikma, 7(1), 24-34.
http://e-journal/index.php/JPM/issue/ Tiurma, L., & Ratnawati, H. (2015).
view/71. Keefektifan pembelajaran multimedia
Prayitno, S. (2006). Model pembelajaran materi dimensi tiga ditinjau dari
berbasis masalah untuk meningkatkan prestasi dan minat belajar matematika
aktivitas dan hasil belajar pada di SMA. Jurnal Kependidikan,
perkuliahan teori peluang. Jurnal Ke- 44(2), 175-187. Diunduh dari http://
pendidikan, 36(2), 223-226. Diunduh journal.uny.ac.id/index.php/jk/article/
dari http://journal.uny.ac.id/ index. view/5230/4535.
php/jk/article/view/7300. Utami, I. B., Sutama, & Subadi, T.
Rahayu, D. V., & Afriansyah, E. A. (2012). Kontribusi fasilitas belajar,
(2015). Meningkatkan kemampuan lingkungan belajar, dan motivasi
pemecahan masalah matematik siswa berpretasi terhadap hasil belajar
melalui model pembelajaran pelangi matematika sekolah berbasis ISO di
matematika. Jurnal Pendidikan SMK Negeri 1 Purwodadi (Naskah
Matematika, 5(1), 29-37. Publikasi). Diunduh dari http://eprints.
Sa’dijah, C., & Sukoriyanto. (2015). ums.ac.id/19782/13/NASKAH_
Asesmen pembelajaran matematika. PUBLIKASI.pdf.
Malang: UM Press. Windari, F., Dwina, F., & Suherman. (2014).
Sahrudin, A. (2014). Implementasi strategi Meningkatkan kemampuan pemecahan
pem belaj aran discovery untuk masalah matematika siswa kelas VIII
meningkatkan kemampuan pemecahan SMPN 8 Padang tahun pelajaran
masalah matematis dan motivasi 2013/2014 dengan menggunakan
belajar siswa SMA. Jurnal Pendidikan strategi pembelajaran inkuiri. Jurnal
Unsika, 2(1), 1-12. Pendidikan Matematika, 3(2), 25-28.

191
JURNAL KEPENDIDIKAN, Volume 46, Nomor 2, November 2016, Halaman 179-192

Woodward, J., Beckmann, S., Driscoll, and Regional Assistance, Institut of


M., Franke, M., Herzig, P., Jitendra, Educational Science, US Department
..., & Ogbuehi, P. (2012). Improving of Education.
mathematical problem solving in grade Zeitz, P. (2009). The art and craft of
4 through 8. Washington: National problem solving (2nd ed.). River State:
Center for Education Evaluation John & Willey, Inc.

192