Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya

maka kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PENINGKATAN

KUALITAS KETENAGAAN YANG EFEKTIF SESUAI STANDAR

AKREDITASI”. Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat dalam pemenuhan

nilai mata kuliah Manajemen Keperawatan.

Makalah ini tidak terlepas dari bantuan media massa, litelatur buku,

kerjasama kelompok kami serta bimbingan dari dosen pembimbing. Makalah ini

kami susun berdasarkan materi yang kami dapat dari media massa dan litelatur

buku.

Semoga makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan

yang membutuhkan. Makalah ini tentunya terdapat kekurangan maupun kesalahan

untuk itu kritik dan saran serta masukan dari teman-teman sangat kami nantikan.

Akhir kata kami ucapkan terimakasih.

Pontianak, Februari 2019

Kelompok 7
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keperawatan Indonesia sampai saat ini masih berada dalam proses
mewujudkan keperawatan sebagai profesi, maka akan terjadi beberapa
perubahan dalam aspek keperawatan yaitu: penataan pendidikan tinggi
keperawatan, pelayanan dan asuhan keperawatan, pembinaan dan
kehidupan keprofesian, dan penataan lingkungan untuk perkembangan
keperawatan. pelayanan keperawatan harus dikelola secara profesional,
karena tidak perlu adanya manajemen keperawatan.
Manajemen keperawatan harus dapat diaplikasikan dalam tatanan
pelayanan nyata di rumah sakit, sehingga perawat perlu memahami
berbagai konsep dan aplikasinya di dalam organisasi keperawatan itu
sendiri.
Manajemen berfungsi untuk melakukan semua kegiatan yang perlu
dilakukan dalam rangka mencapai tujuan dalam batas-batas yang telah
ditentukan pada tingkat administrasi. Manajemen adalah suatu ilmu dan
senii perancanaan, pengarahan, pengorganisasian dan pengontrol dari
benda dan manusia untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya
Manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan
keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan
keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan
masyarakat (Gillies, 1989)
Untuk lebih memahami arti dari manajemen keperawatan maka kita
perlu mengetahui terlebih dahulu Apa yang dimaksud dengan organisasi
keperawatan, Bagaimana tugas dan tanggung jawab dari masing-masing
personil di dalam organisasi yang pada akhirnya akan membawa kita untuk
lebih mengerti bagaimana konsep dasar dari manajemen keperawatan itu
sendiri.
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah cara meningkatkan kualitas ketenagaan yang sesuai
dengan standar akreditasi ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui tentang konsep ketenagaan.
2. Mengetahui tentang akreditasi.
3. Mengetahui cara meningkatkan kualitas ketenagaan sesuai standar
akreditasi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori Ketenagaan


1. Definisi Ketenagaan
Ketenagaan didefinisikan sebagai rencana sumber daya manusia
untuk mengisi posisi dalam sebuah organisasi dengan personil yang
berkualitas. Strategi ketenagaan merupakan tindakan yang dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan sumber daya di masa depan, merekrut dan
memilih pegawai yang memenuhi kebutuhan sumber daya di masa
depan, merekrut dan memilih pegawai yang memenuhi syarat dan
sesuai dengan kebutuhan oeganisasi. Strategi ketenagaan juga
disesuaikan dengan misi rumah sakit, dan sasaran yang akan dicapai
dalam jangka waktu tertentu.
2. Langkah-Langkah Tanggung Jawab Ketenagaan
Tertulis dalam buku (Huston, 2010), meskipun setiap langkah
memiliki interdependensi dengan semua kegiatan ketenagaan :

a. Agar dapat memenuhi filosofi, memenuhi tanggungjawab


perencanaan keuangan dan menjalankan organisasi manajemen
asuhan pasien yang dipilih, tentukan jumlah dan tipe personal
yang dibutuhkan.
b. Terima tenaga baru, wawancara, pilih, dan pekerjaan seseorang
berdasarkan standar deskripsi hasil kerja yang telah ditetapkan.
c. Gunakan sumber daya organisasi untuk induksi dan orientasi.
d. Pastikan bahwa setiap pegawai cukup tersosialisasi terhadap nilai
organisasi dan norma unit.
e. Kembangkan program pendidikan staf yang akan membantu
pegawai memenuhi tujuan organisasi.
f. Gunakan penjadwalan yang kreatif dan fleksibel berdasarkan
kebutuhan asuhan pasien untuk meningkatkan produktivitas dan
retensi.
3. Tanggung Jawab Dalam Ketenagaan
Beberapa tugas atau tanggung jawab Kepala Ruangan (Karu),
Ketua Tim (Katim), dan Anggota Tim secara umum memiliki
tanggung jawab yang berbeda-beda, antara lain :
a. Tanggung jawab Karu
1) Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf
2) Membantu staf menetapkan sasaran dari ruangan
3) Memberi kesempatan katim untuk mengembangkan
keterampilan kepemimpinan dan managemen
4) Mengorientasikan tenaga baru
5) Menjadi nara sumber bagi tim
6) Mendorong kemampuan staf untuk menggunakan riset
keperawatan
7) Menciptakan iklim komunikasi terbuka
b. Tanggung jawab Katim
1) Melakukan orientasi kepada pasien baru & keluarga
2) Mengkaji setiap klien, menganalisa, menetapkan rencana
keperawatan, menerapkan tindakan keperawatan dan
mengevaluasi rencana keperawatan.
3) Mengkoordinasikan renpra dengan tindakan medis melalui
komunikasi yang konsisten
4) Membagi tugas anggota tim dan merencanakan kontinuitas
asuhan keperawatan melalui konfers
5) Membimbing dan mengawasi pelaksanaan asuhan
keperawatan oleh anggota tim
6) Bertanggung jawab terhadap kepala ruangan
c. Tanggung jawab Anggota Tim
1) Melaksanakan perawatan sesuai renpra yang dibuat katim
2) Memberikan perawatan total/komprehensif pada sejumlah
pasien
3) Bertanggung jawab atas keputusan keperawatan selama kkatim
tidak ada ditempat
4) Berkontribusi terhadap perawatan
a) Observasi terus-menerus
b) Ikut ronde keperawatan
c) Berinteraksi dengan pasien dan keluarga
d) Berkontribusi dengan katim/karu bila ada masalah

4. Prinsip-Prinsip Ketenagaan
Prinsip untuk staf perawat yang ditulis dalam buku yang ditulis
oleh (Ambos Kai, 2010) dikembangkan untuk membimbing tenaga
kerja perawat. 9 prinsip tersebut disusun menjadi 3 kategori yang
berkaitan dengan unit perawatan pasien, staf dan organisasi. Sembilan
prinsip tersebut adalah sebagai berikut (Ana, 1999)
a. Unit perawatan pasien
1) Tingkat ketenagaan yang sesuai untuk unit perawatan pasien
mencerminkan analisis kebutuhan pasien individual dan
agregat.
2) Tingkat berikut adalah kebutuhan kritis untuk menunda atau
mempertanyakan secara serius kegunaan konsep jam
perawatan.
3) Fungsi unit yang diperlukan untuk mendukung penyampaian
asuhan keperawatan berkualitas juga harus diperhatikan
dalam menentukan tingkat ketenagaan.
b. Staf
1) Kebutuhan khusus dari berbagai pasien harus memenuhi
kompetensi klinis yang sesuai dengan praktik perawat di
wilayah tersebut.
2) Registered Nurse (RN) harus memiliki dukungan manajemen
keperawatan dan perwakilan baik di tingkat operasional
maupun tingkat eksekutif.
3) Dukungan klinis dari RN yang berpengalaman harus tersedia
untuk RN tersebut dengan kemampuan yang kurang
c. Organisasi
1) Kebijakan organisasi harus mencerminkan organisasi yang
menghargai perawat terdaftar dan karyawan lainnya sebagai
aset strategis dan menunjukkan komitmen sejati untuk
mengisi posisi yang dianggarkan pada waktu yang tepat.
2) Institusi harus memiliki kompetensi terdokumentasi untuk
staf perawat, termasuk RN atau RN tambahan dan bepergian,
untuk kegiatan yang telah mereka lakukan.
3) Kebijakan organisasi harus mengenali berbagai kebutuhan
baik pasien maupun staf perawat.
B. Konsep Teori Akreditasi
1. Definisi
Akreditasi menurut ensiklopedi masional adalah suatu bentuk
pengakuan yang diberikan oleh pemerintah untuk suatu lembaga atau
institusi.
Akreditasi rumah sakit ialah suatu pengakuan yang diberikan oleh
pemerintah pada rumah sakit karena telah memenuhi standar yang
disyaratkan. Akreditasi rumah sakit merupakan salah satu cara
pemantauan bagi pelaksanaan pengukuran indikator kinerja rumah
sakit. Pengembangan penilaian terhadap kinerja rumah sakit
merupakan tugas dari pemerintah dalam hal ini adalah Departement
Kesehatan. (Kusbaryanto, 2010)
Sedangkan menurut Departemen Kesehatan RI, akreditasi rumah
sakit adalah pengakuan oleh pemerintah kepada rumah sakit karena
telah memenuhi standar yang telah ditentukan. Untuk sampai kepada
pengakuan, rumah sakit melalui suatu penilaian yang didasarkan pada
Standar Nasional perumahsakitan (Depkes, 1999). Penilaian dilakukan
berulang dengan interval yang reguler dan diawali dengan kegiatan
kajian mendiri (self assesment) oleh rumah sakit yang dinilai. Survei
akreditasi ini dilakukan oleh badan yang terlegitimasi dan di Indonesia
adalah Komite Akreditasi Rumah Sakit dan Sarana kesehatan lainnya
(KARS), sedangkan sertifikasi diberikan oleh Dirjen Pelayanan Medik
DepKes RI berdasarkan rekomendasi KARS.
2. Manfaat Akreditasi
Manfaat dapat dirasakan oleh pemilik rumah sakit, karyawan, pihak
ke-3 (asuransi, suplier, pendidikan tenaga kesehatan) maupun
masyarakat pengguna jasa layanan rumah sakit dengan memberikan
pelayanan kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
3. Kelulusan Akreditasi Rumah Sakit

a. Tingkat Dasar

Empat bab digolongkan Major, nilai minimum setiap bab harus 80


(delapan puluh) % :

1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit

2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)

3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)

4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)

Sebelas bab digolongkan Minor, nilai minimum setiap bab harus 20


(duapuluh) % :

1) Millenium Development Goal’s (MDG’s)

2) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)

3) Asesmen Pasien (AP)

4) Pelayanan Pasien (PP)

5) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)

6) Manajemen Penggunaan Obat (MPO)

7) Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)

8) Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)

9) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)

10) Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan ( TKP)

11) Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)

b. Tingkat Madya
Delapan bab digolongkan Major, nilai minimum setiap bab harus
80 % :

1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit

2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)

3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)

4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)

5) Millenium Development Goal’s (MDG’s)

6) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)

7) Asesmen Pasien (AP)

8) Pelayanan Pasien (PP)

Tujuh bab digolongkan Minor, nilai minimumsetiap bab harus 20


%:

1) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)

2) Manajemen Penggunaan Obat (MPO)

3) Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)

4) Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)

5) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)

6) Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP)

7) Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)

c. Tingkat Utama

Duabelas bab digolongkan Major, nilai minimumsetiap babharus


80 % :
1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit

2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)

3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)

4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)

5) Millenium Development Goal’s (MDG’s)

6) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)

7) Asesmen Pasien (AP)

8) Pelayanan Pasien (PP)

9) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)

10) Manajemen Penggunaan Obat (MPO)

11) Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)

12) Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)

Tiga bab digolongkan Minor, nilai minimum setiap babharus 20


%:

1) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)

2) Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP)

3) Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)

d. Tingkat Paripurna

Limabelas (semua) bab digolongkan Major, nilai minimum setiap


bab harus 80 % :

1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit

2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)


3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)

4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)

5) Millenium Development Goal’s (MDG’s)

6) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)

7) Asesmen Pasien (AP)

8) Pelayanan Pasien (PP)

9) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)

10) Manajemen Penggunaan Obat (MPO)

11) Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)

12) Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)

13) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)

14) Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP)

15) Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)

C. Upaya Peningkatan Kualitas Ketenagaan Yang Efektif Sesuai


Standar Akreditasi
Salah satu aspek penting dalam pembangunan kesehatan di Indonesia
adalah tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga kesehatan. Pasal
11 pada Undang-Undang Republik Indonesia, No. 36 Tahun 2014 tentang
Kesehatan, menyebutkan bahwa tenaga kesehatan salah satunya adalah
tenaga keperawatan. Perawat di Indonesia banyak menghadapi banyak
tantangan. Salah satu tantangan tenaga kesehatan Indonesia khususnya
perawat adalah rendahnya kualitas, seperti tingkat pendidikan dan keahlian
yang belum memadai. Adanya kesenjangan kualitas dan
kompetensi lulusan pendidikan tinggi yang tidak sejalan dengan tuntutan
kerja di mana tenaga kerja yang dihasilkan tidak siap pakai.
Di Indonesia sendiri, Badan Pengembangan dan Pemberdayaan
Kesehatan SDM Kesehatan (PPSDM Kesehatan) Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia (Profil Kesehatan Indonesia 2015 dalam (Kemenkes,
2016)) melaporkan bahwa jumlah terbesar tenaga kesehatan Indonesia
menurut rumpun ketenagaan berdasarkan UU No. 36 Tahun 2014 tentang
tenaga kesehatan adalah perawat dengan jumlah 223.910 orang atau 34,6%
dari total tenaga kesehatan yang berjumlah 647.170 orang. Berdasarkan
Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor 54
Tahun 2013 tentang Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun
2011–2025, terget rasio tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk pada
tahun 2019 di antaranya rasio perawat 180 per 100.000 penduduk. Namun
secara nasional, rasio perawat adalah 87,65 per 100.000 penduduk. Hal ini
masih jauh dari target tahun 2019 yaitu 180 per 100.000 penduduk.
Angka ini juga masih belum mencapai target tahun 2014 yang sebesar
158 per 100.000 penduduk. Dari meeting MRA (Mutual Recoqnition
Arrangement) Pusrengun BPPSDM Bandung (2011), disampaikan bahwa
kebutuhan Perawat 9.280 orang pada tahun 2014, 13.100 orang pada tahun
2019, dan 16.920 pada tahun 2025, (AIPVIKI, 2015). Berdasarkan hal
tersebut, Kementerian Kesehatan akan terus menambah jumlah perawat
karena dianggap belum mencapai target rasio dan masih dianggap kurang.
Hal ini yang mendasari pertumbuhan institusi keperawatan di Indonesia
menjadi tidak terkendali.Tentunya hal ini ikut menyumbang penambahan
jumlah perawat di Indonesia. Berdasarkan data dari Dirjen Pendidikan
Tinggi dan Badan PPSDM Kesehatan RI jumlah institusi penyelenggara
pendidikan DIII Keperawatan yang telah menjadi anggota Asosiasi
Institusi Pendidikan DIII Keperawatan Indonesia (AIPDIKI) sampai
dengan April tahun 2015 berjumlah 416 institusi (AIPVIKI, 2015).
Sedangkan jumlah institusi penyelenggara pendidikan S1 Ners
Keperawatan yang telah menjadi anggota Asosiasi Institusi Pendidikan
Ners Indonesia (AIPNI) sampai dengan April 2017 sudah mencapai 304
Institusi (AIPNI, 2017). Di masa sulitnya lapangan kerja, proses produksi
tenaga perawat justru meningkat pesat. Parahnya lagi, fakta dilapangan
menunjukkan penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan berasal dari
pelaku bisnis murni dan dari profesi non keperawatan, sehingga
pemahaman tentang hakikat profesi keperawatan dan arah pengembangan
perguruan tinggi keperawatan kurang dipahami. Belum lagi sarana
prasarana cenderung untuk dipaksakan, kalaupun ada sangat terbatas.
Semakin banyak memproduksi perawat semakin lama juga profesi
keperawatan membenahi kualitasnya, tentunya peran pemerintah juga
dibutuhkan.

Kualitas perawat dianggap sebagai hal yang sangat vital karena hal ini
berkenaan langsung dengan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan
untuk masyarakat, dan tentunya untuk mendukung program-program kerja
Kementerian Kesehatan RI dalam pembangunan kesehatan Nasional.
Pemerintah bersama-sama dengan organisasi profesi keperawatan sudah
melakukan upaya peningkatan kualitas perawat dengan melakukan uji
kompetensi dan juga sejumlah pelatihan-pelatihan. Namun hal tersebut di
rasa belum optimal karena jumlah perawat yang terus bertambah dan tidak
terkendali. Pemerintah dalam menjalankan UU No. 36 tentang Tenaga
Kesehatan Tahun 2014 dirasa belum optimal terutama memenuhi tanggung
jawab dan wewenang dalam meningkatkan mutu tenaga kesehatan, yang
salah satunya adalah tenaga keperawatan.
Pada UU No. 36 tentang Tenaga Kesehatan Tahun 2014 telah diatur
perencanaan, pengadaan, pendayagunaan tenaga profesi, registrasi dan
perizinan tenaga kesehatan, dan penyelenggaraan profesi tenaga kesehatan
dalam hal ini termasuk profesi keperawatan. Namun terkait mengenai
pengaturan institusi pendidikan keperawatan secara spesifik belum
dijelaskan, sehingga institusi pendidikan keperawatan berlomba-lomba
menyelenggarakan program pendidikan keperawatan dengan berbagai
jenjang baik DIII, Sarjana, bahkan DIV keperawatan. Di Indonesia, selama
ini pengaturan mengenai pendirian dan penyelenggaraan pendidikan
keperawatan masih belum tegas dan jelas, sehingga banyak sekali berdiri
institusi pendidikan keperawatan yang kualitasnya masih diragukan.
Peningkatan kualitas dan kompetensi ini menjadi lebih penting saat
dunia kesehatan memasuki situasi global yang memungkinkan terjadi
persaingan. Kualitas menjadi titik penting bagi peningkatan layanan
kesehatan kepada masyarakat.
Tanpa kualitas memadai sulit rasanya kita mengharapkan terjadi
perubahan terhadap indeks kesehatan masyarakat di Bumi Marunting Batu
Aji ini. Maka upaya untuk terus mencetak tenaga kesehatan yang
berkualitas, baik itu dokter, bidan, dan perawat harus menjadi prioritas
utama.
Uji sertifikasi, uji kompetensi, pelatihan, magang, tugas lapangan dan
lainnya bisa menjadi alat ukur kualitas dan kompetensi tenaga kesehatan.
Selain itu, pengakuan terhadap profesi tenaga kesehatan seperti perawat
misalnya akan menjamin kenyamanan dan kualitas kerja dari SDM
kesehatan tersebut.
Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan juga harus menjadi perhatian
tersendiri. Kompetensi tenaga kesehatan perlu terus ditingkatkan melalui
serangkaian kursus, pelatihan studi banding dan sejenisnya sehingga
mereka mampu melakukan tugas-tugas layanan kesehatan secara memadai,
aplikatif dan sistematis sesuai perkembangan teknologi dunia kesehatan.
Jika kuantitas dan distribusi tenaga kesehatan yang berkualitas dan
kompeten ini terus dimonitoring secara intensif oleh Pemerintah, maka
diyakini akan terjadi peningkatan derajat pelayanan kesehatan kepada
masyarakat. Pertumbuhan dan persebaran tenaga kesehatan yang merata
harus selalu disertai upaya peningkatan kualitas dan kompetensinya.
Mungkin dengan strategi ini harapan masyarakat untuk mendapatkan
layanan kesehatan secara mudah, merata dan berkualitas dapat tercapai.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran
KELULUSAN AKREDITASI RUMAH SAKIT
I. Ketentuan Penilaian

1. Tingkat Dasar
a. Empat bab digolongkan Major, nilai minimum setiap bab harus 80 (delapan puluh) % :
1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)
4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
b Sebelas bab digolongkan Minor, nilai minimum setiap bab harus 20 (duapuluh) % :
1) Millenium Development Goal’s (MDG’s)
2) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)
3) Asesmen Pasien (AP)
4) Pelayanan Pasien (PP)
5) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
6) Manajemen Penggunaan Obat (MPO)
7) Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)
8) Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)
9) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
10) Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan ( TKP)
11) Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)
2. Tingkat Madya
a. Delapan bab digolongkan Major, nilai minimum setiap bab harus 80 % :

1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit


2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)
4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
5) Millenium Development Goal’s (MDG’s)
6) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)
7) Asesmen Pasien (AP)
8) Pelayanan Pasien (PP)
b. Tujuh bab digolongkan Minor, nilai minimumsetiap bab harus 20 % :
1) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
2) Manajemen Penggunaan Obat (MPO)
3) Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)
4) Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)
5) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
6) Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP)
7) Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)
3. Tingkat Utama
b. Duabelas bab digolongkan Major, nilai minimumsetiap babharus 80 % :
1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)
4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
5) Millenium Development Goal’s (MDG’s)
6) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)
7) Asesmen Pasien (AP)
8) Pelayanan Pasien (PP)
9) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
10)Manajemen Penggunaan Obat (MPO)
11)Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)
12)Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)
b. Tiga bab digolongkan Minor, nilai minimum setiap babharus 20 % :
1) Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
2) Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP)
3) Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)
4. Tingkat Paripurna
Limabelas (semua) bab digolongkan Major, nilai minimum setiap bab harus 80 % :
1) Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2) Hak Pasien dan Keluarga (HPK)

3) Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)


4) Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
5) Millenium Development Goal’s (MDG’s)
6) Akses Pelayanan dan Kontinuitas pelayanan (APK)
7) Asesmen Pasien (AP)
8) Pelayanan Pasien (PP)
9) Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
10)Manajemen Penggunaan Obat (MPO)
11)Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)
12)Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS)
13)Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
14)Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP)
15)Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)