Anda di halaman 1dari 4

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Meningkatnya volume kendaraan searah dengan meningkatnya jumlah
penduduk (Badan Pusat Statistik, 2016). Kondisi ini diakibatkan oleh
meningkatnya kegiatan atau mobilitas penduduk untuk memenuhi kebutuhan
mereka sehingga muncul banyak kendaraan seperti truk dengan tonase tinggi,
melintas di jalan raya. Jika jalan diberi beban tidak sesuai dengan kapasitasnya
secara terus menerus maka akan terjadi kerusakan pada perkerasan jalan tersebut.
Kerusakan jalan yang biasa terjadi berupa retak buaya, retak memanjang,
berlubang, dan tergerus (Suprapto, 2004). Jalan merupakan salah satu sarana
transportasi yang dapat menyalurkan lalu lintas orang, hewan dan kendaraan yang
mengangkut barang dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan mudah dan cepat
(Oglesby, C.H., Hicks R.G., 1999), jika perkerasan jalan mengalami kerusakan
maka proses tercapainya atau teralurnya kebutuhan penduduk akan terhambat.
Selain itu, jalan akan diperbaiki dengan perkerasan yang baru dan jika perbaikan
dilakukan secara terus menerus maka juga akan dibutuhkan material secara terus
menerus pula, kondisi ini dapat menyebabkan rusaknya lingkungan akibat adanya
proses ekplorasi yang berlebihan untuk memenuhi kebutuhan material perkerasan
jalan raya.
Perkerasan lentur pada jalan merupakan lapisan perkerasan yang terletak di
antara lapisan tanah dasar dan roda kendaraan, yang berfungsi memberikan
pelayanan kepada sarana transportasi (Sukirman, S. 2003). Untuk mendapatkan
perkerasan jalan yang memenuhi mutu yang diharapkan, maka harusmengacu pada
standar yang berlaku, seperti SNI, dan diuji dengan berbagai metode pengujian
salah satunya yaitu pengujian Marshall. Material utama yang digunakan adalah
agregat dan aspal. Campuran agregat biasanya terdiri agregat kasar, agregat halus
dan filler. Selama ini campuran agregat aspal menitik beratkan pada pemakaian
debu batu sebagai filler, dimana pemakaian material ini ternyata membutuhkan
waktu dan biaya yang lebih untuk menyediakannya (Razali, 2011). Oleh karena itu
diperlukan pemikiran untuk mendapatkan alternatif bahan yang dapat dijadikan
2

sebagai filler, salah satunya yaitu memanfaatkan kapur sebagai filler pada
campuran aspal beton karena kapur dapat diperoleh dengan waktu dan biaya yang
relatif kecil. Disamping itu, aspal merupakan material yang dipilih karena hasil
akhirnya yang baik dan nyaman sebagai perkerasan lentur (Pratomo, P, Ali H., and
Diansari S., 2016). Namun penggunaan aspal secara berlebihan juga akan dapat
merusak lingkungan baik sebelum dan setelah pengolahan. Untuk itu perlu adanya
upaya untuk menekan jumlah kebutuhan akan aspal, salah satunya yaitu dengan
meminimalisir penggunaan bahan dasar aspal, atau bisa juga dengan meningkatkan
mutu aspal dalam campuran dengan menambahkan bahan tambahan seperti bahan
polimer ataupun plastik ke dalam campuran yang sifatnya mampu mengatasi
kelemahan yang dimiliki aspal.
Searah dengan peningkatan jumlah penduduk, jumlah sampah yang
dihasilkan juga semakin meningkat salah satunya yaitu sampah berbahan plastik
(Rahmawati, A. dan Rizana, R., 2013). Plastik dibagi menjadi beberapa macam
salah satunya jenis LDPE (Low-Density Polyethylene). Plastik jenis ini digunakan
sebagai tempat pembungkus makanan karena sifatnya yang tidak berbahaya jika
tersentuh dengan objek lain. Namun biasanya plastik jenis ini terbuang percuma
setelah digunakan atau didaur ulang untuk dibuat berbagai kerajinan karena sifatnya
yang sulit untuk diurai. Padahal sebenarnya ada manfaat lain dari limbah plastik
tersebut, salah satunya untuk perkerasan jalan. Karena banyaknya jumlah plastik
LDPE yang ada dilapangan maka penelitian ini memanfaatkan limbah plastik
LDPE sebagai bahan tambah pada campuran aspal beton. Hal ini perlu dilakukan
sebagai salah satu upaya untuk menekan kebutuhan aspal serta sebagai upaya untuk
mengurangi volume sampah khususnya sampah plastik LDPE.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun beberapa rumusan masalah pada penelitian ini antara lain:
1. Bagaimana nilai uji Marshall pada laston dengan penambahan plastic
LDPE menggunakan kapur sebagai bahan pengisi (filler)?
2. Apakah laston dengan penambahan plastik LDPE menggunakan kapur
sebagai bahan pengisi (filler) memenuhi persyaratan karakteristik
Marshall?
3

3. Berapa biaya laston dengan penambahan plastik LDPE menggunakan


kapur sebagai bahan pengisi (filler)?

1.3. Batasan Masalah


Batasan masalah penelitian ini antara lain:
1. Perubahan kimiawi yang terjadi tidak ditinjau.
2. Bahan pengisi (filler) yang digunakan untuk laston dengan penambahan
plastik LDPE yaitu kapur dengan kadar filler benda uji yaitu 5%
mengacu pada persyaratan Spesifikasi Umum 2010 (Revisi 3).
3. Bahan pengikat menggunakan aspal pertamina 60/70.
4. Melakukan penambahan limbah plastik LDPE pada campuran aspal
beton dengan kadar plastik 7%, 9%, 11%, dan 13%.
5. Penelitian terhadap karakteristik campuran aspal terbatas pada
pengamatan hasil uji Marshall.
6. Gradasi agregat mengacu pada standar RSNI M02-2003.
7. Persyaratan stabilitas, flow, porositas, dan densitas mengacu pada
standar RSNI M01-2003 tentang Metode Pengujian Campuran Aspal
dengan Alat Marshall.
8. Dalam pengaplikasiannya harus memenuhi syarat SNI 1737-1989-F
tentang Tata Cara Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (LASTON) untuk
Jalan Raya.
9. Bahan material agregat kasar berasal dari Kabupaten Pasuruan dan untuk
agregat halus/pasir menggunakan pasir dari Kabupaten Lumajang
10. Penerapan dan pengujian dilakukan hanya di laboratorium.
11. Karakteristik campuran yang ditinjau adalah nilai stabilitas dan flow.
12. Pencampuran plastik LDPE dilakukan dengan cara kering (dry process).

1.4. Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain:
1. Untuk mengetahui pengaruh Kapur yang dimanfaatkan sebagai filler
pada campuran aspal ditinjau dari pengujian Marshall
4

2. Untuk membandingkan hasil karakteristik Marshall laston dengan


penambahan plastik LDPE dengan laston tanpa penambahan plastik
sebagai acuan tercapainya syarat karakteristik Marshall.
3. Untuk mengetahui biaya yang dibutuhkan untuk membuat laston dengan
penambahan plastik LDPE menggunakan kapur sebagai bahan pengisi
(filler).

1.5. Manfaat Penelitian


Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain:
1.5.1. Teoritis
Adapun manfaat penelitian dari segi teoritis yaitu:
1. Menambah pengetahuan sejauh mana kapur dapat dijadikan
sebagai bahan pengisi (filler) pada campuran aspal beton
modifikasi.
2. Menambah pengetahuan tentang konstruksi lapisan perkerasan
lentur yaitu mengenai karakteristik Marshall.

1.5.2. Praktis
Adapun manfaat penelitian dari segi praktis antara lain:
1. Menambah variasi pilihan penggunaan bahan perkerasan lentur
jalan yang lebih ekonomis, ramah lingkungan, dan bahan yang
dapat diperbaharui
2. Mengatasi permasalahan pemanfaatan limbah plastik terhadap
lingkungan.
3. Mengatasi permasahalan tingginya kebutuhan aspal secara
berlebihan.
4. Memanfaatkan sumber daya alam khususnya kapur di
Indonesia yang masih melimpah.