Anda di halaman 1dari 6

PENGEMBANGAN METODA ANALISA KIMIA UNTUK

PEMANTAUAN PROSES FERMENTASI PEMBUATAN ASAM


CUKA, ANTIBIOTIKA DAN HORMON STEROID

A.T. Karossi dan Julia Kantasubrata

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kimia Terapan - LlPI


.Jalan Cisitu - Sangkuriang, Bandung 40135

INTI SARI PENDAHULUAN


tnatisa kimia mempunyai peranan yang tidak dapat diabaikan, Secara umum dalam suatu proses fermentasi dibutuhkan
, scbogai alat pemandu proses maupun dalam mcnentukan mutu analisa dari komponen senyawa yang terdapat dalam substrat
T t'<k ;mlg dihasilkan dari proses [ermentasi. Kemajuan yang cukup dan produk yang terbentuk dalam campuran hasil fermentasi.
F r- datam metoda analisa kimia, diawali oleh metoda yang relatif
Kondisi optimum suatu proses fermentasi dapat dipelajari de-
konvensional menuju pada metoda instrumental, merupakan kenyataan
ngan jalan memantau kandungan komponen senyawa tersebut
saat ini. Perkembangan tersebut tidak hanya meningkatkan kepckaan
dan ketelitian, tetapi juga mampu mengungkapkan terdapatnya ber- selama proses berlangsung. Jelas terlihat analisa yang cermat
bagai jenis senya •••.
a/komponen dalam campuran hasil [ermentasi, yang dan tepat memegang peranan yang sangat penting, sarna pen-
tak mungkin ditemukan dengan metoda konvensional. Beberapa hasil tingnya dengan teknik fermentasinya sendiri.
penelitian dati metoda analisa kitnia dcngan teknik kromatografi cairan Metoda analisa konvensional membutuhkan waktu analisa
kincrja tinggi (HPLC) yang digunakan dalam mcmantau proses [ermen- yang relatif panjang dan umumnya hanya memberikan kan-
tasi untuk produksi asam cuka makan, antibiotika dan harmon steroid dungan total senyawa. Hampir tidak mungkin dengan metoda
diuraikan dalam rnakalalt ini. Pada [ermentasi asam cuka, jenis
analisa konvensional dapat ditentukan misalnya kandungan
analisa tersebut meliputi analisa gula, etanol dan asam-asam organik,
senyawa secara individual. Sejalan dengan berkembangnya
sedangkan pada proses [ermentasi antibiotika, selain analisa gula
dilakukan pula analisa derivat tetrasiklin sebagai produk hasil [ermen- teknik kromatografi, analisa senyawa secara individual mulai
tasi. Pada fermentasi steroid dilakukan analisa solasodine sebagai sub- dapat dirintis. Kromatografi kertas, kromatografi lapisan tipis
strat, dan AD serta ADD sebagai produk yang dihasilkan pada proses (TLC), kromatografi gas (GLC) dan kromatografi cairan kiner-
[ermentasi. ja tinggi (HPLC) tclah banyak dipakai untuk keperluan' ter-
sebut. Kromatografi kertas dan TLC sangat menarik karena
sederhana, murah dan dapat dipakai untuk analisa berbagai
ABSTRACT contoh secara serentak. Namun dcmikian untuk keperluan
Chemical analysis plays an important role in monitoring fern/enta- analisa kuantitat1f, kedua cara diatas kurang dapat diandalkan
tion process and determining product quality of the process. No •••. adays karena masih berada pada tingkat semi-kuantitatif, Dengan
the development of analytical methods, •••.hich commenced from relative- metoda GLC, pada umumnya komponen senyawa yang akan
Iy conventional method to instrumental method, has become a reality. dianalisa harus diubah terlebih dahulu menjadi turunannya
The development does not only increase either sensitivity or
(derivat ) yang mudah menguap. Cara ini kurang disukai karena
reproducibility, but also could identify the existence of substances
ketepatan hasil analisa menjadi kurang dapat diandalkan.
produced during fermentation, which could not be achieved by cOIII'cn-
tional methods. In this article, several chemical analyses used for Kromatografi cairan kinerja tinggi (HPLC) banyak dikem-
monitoring the production of vinegar, antibiotic and steroid harmon are bangkan untuk analisa komponen yang tidak mudah menguap.
described. II} vinegar fern/entation, analyses cover the determination of Terlihat adanya harapan yang cukup besar dari HPLC ini,
sllgars, ethanol and organic acids, while in antibiotic [ermentation, in untuk dapat digunakan sebagai suatu metoda yang spesifik,
addition to determination of sugar, analyses of tetracycline derivatives as peka, cepat, cermat dan tepat.
fermentation products, is also carried out. In steroid fermentation,
analysis covers the determination of solasodine as substrate, AD and
ADD as fermentation products.

Disampaikan pada Seminar Nasional Bioteknologi Industri. Peningkatan Peranan Bioteknologi Industri dalam Era Industrialisasi, Jakarta, 4 - 5 Maret
1991

50 JKTI Vol. 1No.2 Juli 1991


PROSES FERMENTASI CUKA METE Suatu jenis pemisahan yang relatif baru telah dikernbangkan
Dalam beberapa tahun terakhir ini, industri mete telah oleh WATERS (9), menggunakan kolom dengan bahan dasar
menarik minat yang cukup besar, terutama sebagai komoditi silika dan eluen yang mengandung senyawa poliamina (pereaksi
SAM), yang sifatnya tidak reaktif. Pereaksi SAM (Silica Amine
ekspor disamping juga membuka lapangan pekerjaan yang
cukup luas bagi penduduk disekitarnya. Pemerintah Indonesia Modifier) ini mempunyai fungsi mengubah permukaan silika
secara in situ melalui proses impregnasi. Telah dilakukan
telah turut menunjang peningkatan produksi biji mete dengan
membuka perkebunan- perkebunan jambu mete terutama di pemisahan dari gliserol dan tujuh jenis mono- dan disakarida
Jawa, Sumatra, Sulawesi dan daerah Indonesia bagian timur. lainnya (10). Pada saat campuran hasil fermentasi diinjeksikan
Hingga saat ini pemanfaatan jambu mete masih mengutamakan kedalam kolom, dapat didetcksi terdapatnya gliserol, fruktosa,
glukosa dan sukrosa dalam campuran tersebut. Kurva kalibrasi
pengolahan biji (cashew nut) untuk mendapatkan kacang mete,
sedangkan buahnya yang mempunyai kandungan karbohidrat yang diperoleh untuk gliserol, fruktosa, glukosa dan sukrosa
cukup tinggi, kaya akan vitamin dan mineral belum banyak menunjukkan garis lurus dengan koefisien korelasi berturut-
dimanfaatkan. Sebagian besar buah jambu mete membusuk dan turut 0,9608; 0,9992; 0,9992 dan 0,9986.
terbuang, dan sedikit sekali buah yang dikonsumsi oleh masya- Uji banding metoda HPLC ini terhadap metoda analisa gula
rakat, terutama karena rasanya yang sepat. Salah satu peman- yang lain, menggunakan spcktrofotometri (metoda Nelson-
faatan buah mete adalah dengan mengubahnya menjadi anggur Somogyi) juga telah dilakukan. Untuk keperluan tersebut, 22
mete, yang kemudian dapat dilanjutkan menjadi asam cuka jenis contoh yang diambil dari suatu campuran hasil fermentasi
beraroma melalui proses fermentasi dengan Acetobacter aceti. dengan waktu fermentasi yang berbeda dianalisa menggunakan
Untuk itu dipandang perlu untuk meneliti mula-mula kon- metoda Nelson-Somogyi dan HPLC. Apabila kemudian hasil
disi fermentasi anggur mete dan selanjutnya kondisi fermentasi analisa dari ke 22 contoh yang diperoleh dengan metoda HPLC
asam asetat pada proses pembuatan asam cuka buah mete, dibandingkan terhadap hasil analisa yang diperoleh dari
sehingga akhirnya dapat diperoleh proses fermentasi yang metoda Nelsen-Somogyi, dapat disimpulkan bahwa antara
efesien (1,2,3,4,5,6,7). kedua metoda terdapat korelasi yang cukup baik (11,12).
Dalam memantau proses fermentasi sari buah jarnbu mete Namun demikian ternyata batas dcteksi metoda HPLC
untuk menghasilkan anggur dan cuka, dibutuhkan analisa gula masih relatif lebih tinggi dibandingkan dengan metoda
dan analisa dari berbagai produk yang terbentuk (etanol dan spektrofotometri. Hal ini disebabkan karena detektor yang
asam-asam organik) dalam campuran hasil fermentasi. Perban- digunakan untuk mendeteksi gula pada percobaan ini adalah
dingan kandungan gula terhadap etanol dapat dipakai untuk detektor indeks refraksi (RI). Detektor ini memang bersifat
menentukan titik optimum terminasi proses ferrnentasi anggur universal, hanya saja kemampuan dctcksinya masih tcrlalu ren-
mete. Kandungan asarn-asam organik merupakan indikator dah. Sebenarnya dctcktor UV atau f1uoresensi mcmpunyai
hasil metabolisme gula dalam campuran hasil fermentasi. kepekaan yang relatif tinggi bila dibandingkan dengan detektor
Jadi jelas terlihat dibutuhkannya penentuan yang akurat RI, oleh karena itu untuk memperkecillimit deteksi, sebaiknya
dari etanol dan asam-asam organik dalam suatu campuran yang digunakandetektor UV atau f1uoresensi.
juga mengandung gula. Analisa dari campuran komponen ini Gula memang memberikan penyerapan pada panjang
merupakan suatu pekerjaan yang cukup rumit, yang tidak dapat gelombang 192 nm, tetapi umumnya pelarut-pclarut organik
diselesaikan melalui cara analisa konvensional. yang banyak digunakan sebagai fasa gerak pada HPLC juga
Dengan HPLC, analisa asam-asam organik juga agak sukar menyerap kuat pada daerah panjang gelombang ini. Untuk
ditangani, karena sering terjadi reaksi ionisasi selama proses mendeteksi gula pada daerah panjang gelombang tersebut
pemisahan kromatografi berlangsung. SeringkaJi pula terjadi diperlukan kemurnian fasa gcrak yang sangat tinggi, suatu hal
interaksi yang cukup kuat antara asarn-asam terscbut dengan yang sangat sulit untuk dipenuhi.
berbagai jenis fasa diam yang umum digunakan pada HPLC, Suatu jalan penyelesaian yang harus diusahakan adalah
hingga dapat menyebabkan terbentuknya puncak yang berekor. bagaimana caranya agar gula dapat memberikan penyerapan
Cara yang paling mudah untuk menanggulanginya adalah de- pada daerah panjang gelombang yang lebih tinggi misalnya
ngan jalan berusaha menghalangi terjadinya reaksi ionisasi pada daerah panjang gclombang sinar nampak, karena pen-
asam-asam tadi secara sempuma, melalui cara pengaturan pH gukuran pada 192 nm mempunyai kelemahan. Proses
(menyangga pH) dari fasa gerak pada suatu harga yang terten- derivatisasi akan dapat menyclesaikan masalah ini. Pada proses
tu. Cara penekanan ion (ion supression) seperti ini dapat men- derivatisasi, gula direaksikan dengan pcrcaksi kromoforik atau
jamin bahwa dalam fasa gerak hanya terdapat asarn-asam f1uoroforik sehingga dapat menyerap pada daerah UV atau
dalam bentuk tak terionisasi. Jenis mekanisme kromatografi tampak. Yang penting dicari adalah reaksi pembentukan
penekan ion ini telah dicoba diterapkan pada analisa campuran derivat gula yang sesuai untuk keperluan reaksi derivatisasi
hasil fermentasi jambu mete (8). sebelum atau setelah melalui kolom pemisah. Mcncari cara
deteksi yang lcbih memadai ini akan rnerupakan salah satu
Akan tetapi dalam pemisahan tersebut, glukosa dan fruk- kelanjutan penelitian dalam bidang analisa gula.
tosa mempunyai waktu retensi yang sarna, segera setelah waktu
retensi pelarut (to) dan hampir sarna dengan waktu retensi
asam tartrat. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa sis-
PROSESFERMENTASIPEMBUATAN
tim kromatografi yang digunakan hanya dapat memisahkan
monosakarida dari disakarida (sakarosa), sedangkan tiap jenis TETRASIKLIN
monosakarida (glukosa, fruktosa) tidak dapat dipisahkan satu Dala~ usa~a memberikan pelayanan kesehatan yang cukup
sarna lain. Untuk dapat mernisahkan glukosa dari fruktosa, mem.ada!. ba~! penduduk Indonesia dengan populasi yang
harus dicari kondisi pemisahan yang lain, yang khusus diperun- relatif ~m~,. t::lah dipertimbangkan untuk mempelajari
tukkan bagi pemisahan gula. produksi antibiotik secara fermentasi.

JKTI Vol. 1No.2 Juli 1991 51


Tetrasiklin merupakan kelompok antibiotika dengan
spektrum luas yang aktif terhadap hampir semua bakteri
patogen. Antibiotika dapat diproduksi melalui proses fermen-
tasi dan mengingat bahwa bahan baku untuk membuatnya
banyak tersedia di Indonesia, usaha untuk melakukan studi
pembuatan antibiotika melalui proses fermentasi dengan
memanfaatkan bahan baku yang tersedia di Indonesia banyak
dilakukan.
Usaha yang telah dilakukan adalah mencari kondisi fermen-
tasi yang optimal, yang selain tergantung dari aktifitas mikroor- menit

ganisme dan kondisi proses fermentasinya, juga tergantung dari


jenis dan konsentrasi substrat yang digunakan. Dalam suatu Gambar 1. Pemisahan dari 5 derivat tetrasiklin (27).
proses fermentasi dibutuhkan sumber karbon dan sumber
nitrogen untuk keperluan pertumbuhan mikroorganisme dan
HCI, tetrasiklin-HCI, demeklosiklin-HCI dan dosisiklin-HCI.
biosintesa senyawa antibiotika tersebut.
Kurva kalibrasi yang diperoleh untuk setiap derivat merupakan
Sebagai sumber karbon telah diteliti kemungkinan pernan-
garis lurus dengan koefesien korelasi mendekati nilai satu.
faatan tetes tebu (13,14,15,16,17,18) yang merupakan hasil
Metoda HPLC ini dicoba diterapkan untuk memantau kandun-
samping industri gula, sukrosa (19) yang merupakan gula hasil
gan derivat tetrasiklin dalam campuran hasil fermentasi yang
produksi dalam negeri dan HFS (high fructose syrup) (20),
diambil dari waktu ke waktu. Dari campuran hasil fermentasi
yang mempunyai harga relatif rendah apabila dibandingkan
pada hari pertama (Gambar 2), terdeteksi adanya tiga puncak
dengan sukrosa (20,21).
yang terpisah dengan waktu retensi masing-masing 4,98; 5,62
Sebagai sumber nitrogen, telah dicoba untuk menggunakan
dan 6,15 menit. Apabila data waktu retensi ini dibandingkan
ragi pakan (22,24) dan membandingkannya terhadap
dengan waktu retensi senyawa standar, maka puncak dengan
pemakaian amonium sulfat (22,23). Telah diteliti pula pe-
waktu retensi 5,62 menit, dapat diduga merupakan puncak
ngaruh penambahan metionin ke dalam media fermentasi yang
senyawa oksitetrasiklin. Puncak tersebut selanjutnya dikonfir-
mengandung HFS (25). Kondisi yang paling optimal, yang
masikan dengan menggunakan detektor "spectrodiode-array".
diperoleh dari hasil penelitian dalam skala laboratorium ini
Namun demikian puncak yang keluar sebelum (waktu retensi
telah pula dicoba diterapkan dalam skala 4 dan 80 liter (26),
dengan tujuan untuk mencari kondisi optimal yang paling men-
dekati untuk pembuatan dalam skala besar.
Dalam memantau kemajuan proses fermentasinya, perlu
dilakukan analisa dari derivat tetrasiklin yang terbentuk dalam
campuran hasil fermentasi dari waktu ke waktu. Pada mulanya
analisa dilakukan dengan cara mikrobiologi, menggunakan S.
lutea, S. aureus atau B. pumilis sebagai bakteri penguji (13).
Dalam uji aktifitas ini, contoh ditotolkan diatas media uji dan
hambatan terhadap pertumbuhan bakteri diukur, dimana besar
hambatan yang diberikan akan sebanding dengan konsentrasi
antibiotika yang ditotolkan. Meskipun cara rnikrobiologi ini
cukup spesifik, ternyata cara ini memberikan hasil yang kurang
akurat karena dipengaruhi banyak faktor, antara lain porositas
dari kertas cakrarn yang digunakan dan terdapatnya kesulitan men it
teknis dalam menotolkan noda antibiotika yang sarna besar menit
pada .media pertumbuhan bakteri tersebut. Selain itu, ber-
dasarkan hasil yang diperoleh, dengan cara mikrobiologi hanya ...
dapat dilakukan analisa dengan batas konsentrasi minimum 20
ppm. Nilai hambatan yang diberikan oleh oksitetrasiklin de-
ngan konsentrasi dibawah 20 ppm tidak lagi memberikan hasil
yang teliti. III

Karena adanya kendala ini, dicoba untuk mencari metoda


analisa yang lain. Dengan dasar pertimbangan bahwa pen en-
tuan derivat tetrasiklin secara individual hanya dapat dilakukan
dengan metoda kromatografi, dipilih metoda kromatografi
cairan kinerja tinggi (HPLC) (27). Lima jenis derivat tetrasiklin
yaitu minosiklin-HCI (MC), oksitetrasiklin-HCI (OTC), tetra-
siklin-HCl (TC), demeklosiklin-HCI (DMC) dan dosisiklin-HCI menit
(DC) telah berhasil dipisahkan (Garnbar 1) dan dengan meng-
gunakan kondisi pemisahan tersebut, diooba untuk mencari
batas deteksi minimum dan membuat kurva kalibrasi dari menit

kelima derivat tetrasiklin yang dipisahkan. Batas deteksi mini-


mum yang dapat dicapai adalah 40; 12,5; 30; 50 dan 200 Gambar 2 Kromatogram campuran hasil fermentasi tetrasiklin pada
nanogram, berturut-turut untuk minosiklin-HCl, oksitetrasiklin- hari pertama (HI), kedua (H2) dan ketiga (H3).

52
4,98 menit) dan sesudah (waktu retensi 6,15 menit) puncak ok- untuk keperluan ini adalah TLC (30), karena TLC mudah
sitetrasiklin, belum dapat diidentifikasi. Akan tetapi apabila dikerjakan dan relatif murah. Tambahan pula dengan
dilihat pada kromatogram dari campuran hasil fermentasi pada menggunakan TLC, berbagai kombinasi sistem fasa diam dan.
hari kedua (H2) terlihat bahwa puncak oksitetrasiklin menjadi fasa gerak dapat diselidiki seeara simultan, dengan hanya
semakin tinggi, sedangkan dua puneak disebelah kiri dan menggunakan peralatan yang relatif tidak mahal.
kanannya menjadi semakin pendek. Berdasarkan pengamatan Salah satu alasan paling penting dalam memilih TLC
ini, besar kemungkinan kedua puneak tersebut adalah puneak sebagai teknik pendahuluan adalah karena rasa diam dan fasa
dari senyawa-antara yang terbentuk selama proses fermentasi. gerak pada TLC dan HPLC identik atau sekurang-kurangnya
Apabila untuk selanjutnya kedua puneak tersebut diberi notasi
berturut-turut puneak A dan B, maka pada saat puneak OTC
(oksitetrasiklin) meneapai maksimum pada hari ketiga (H3),
terlihat bahwa puneak OTC dan puneak B tidak dapat terpisah
dengan baik. Hal ini disebabkan karena tingginya kandungan
OTC apabila dibandingkan terhadap kandungan senyawa B. .
Karena keadaan yang seperti ini akan menyulitkan perhitungan
kuantitatif, maka larutan contoh yang akan dianalisasebaiknya
dieneerkan terlebih dahulu, sehingga kedua puncak, puneak
OTC dan puneak B dapat terpisah eukup baik.
Melalui metoda pemisahan HPLC ini, dilakukan analisa
kandungan derivat tetrasiklin yang terbentuk dalam eampuran
hasil fermentasi dengan berbagai kondisi fermentasi yang ber-
beda.

PROSES FERMENTASI STEROID


Sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai potensi yang
eukup besar sebagai pemasok pra-zat steroid yang diperlukan
untuk sintesa berbagai obat antifertilitas. Perubahan dari pra-
zat steroid menjadi bahan steroid yang mempunyai sifat aktif menit
fisiologis, dapat dilakukan' baik melalui proses kimia maupun
mikrobiologi. Konversi seeara 'mikrobiologi seringkali ber-
langsung lebih eepat dan ekonomis.
Senyawa 1,4-androstadiene-3,17-dione (ADD) merupakan
pra-zat bagi sintesa bahan aktif obat anti fertilitas. Senyawa
ADD dapat diperoleh melalui proses fermentasi kolesterol
menggunakan bakteri Mycrobaeterium sp. (28). Pembentukan
senyawa ADD ini didahului dengan terbentuknya senyawa an-
tara yang lain yaitu AD (4-androstene-3, 17-dione).
Di Indonesia banyak terdapat tumbuhan jenis solanum
(terong), yang mengandung komponen senyawa solasodin. Gambar 3. Kromatogram pemisahan AD dan ADD
Melihat adanya kemiripan antara struktur diosgenin yang biasa
dapat dibandingkan. Dengan demikiart terdapat persesuaian
digunakan sebagai pra-zat dan solasodin, diharapkan proses yang eukup banyak pada mekanisme retensi yang merupakan
fermentasi solasodin juga dapat menghasilkan AD dan ADD. dasar pemisahan dari kedua metoda ini.
Dengan menggunakan jenis mikroorganisme yang tepat, kon- Transposisi data hasil pemisahan solasodin, AD dan ADD
versi mikrobiologi dari solasodin menuju senyawa-antara ADD, dari pelat TLC pada kolom HPLC telah mulai dieoba (31).
diikuti dengan proses sintesa kimia menjadi obat steroid, akan Dari 37 komposisi pelarut yang dicobakan untuk pemisahan
merupakan suatu topik penelitian yang cukup menarik. Hasil TLC pada pelat silika, diperoleh delapan komposisi pelarut
penelitian ini selanjutnya dapat diterapkan dalam suatu bioin- yang memberikan hasil yang positif. Dari komposisi pelarut ini
dustri untuk memenuhi adanya permintaan obat steroid di In- diambil salah satu komposisi pelarut untuk diaplikasikan pada
donesia. HPLC yaitu campuran benzen : etil asetat : kloroform
Pada penelitian mengenai proses fermentasi solasodin untuk (40:80:10). Dengan kondisi pernisahan tersebut, AD dan ADD
rnenghasilkan AD dan ADD (29), dibutuhkan metoda analisa dapat terpisah dengan resolusi cukup baik (Gambar 3).
yang eepat dan akurat untuk dapat mendeteksi produk yang Pada saat kondisi pemisahan HPLC zat-zat standar AD dan
terbentuk dalam campuran hasil fermentasi. Dalam hal inipun, ADD ini dicoba diaplikasikan pada contoh campuran hasil fer-
dipilih HPLC karena metoda ini menawarkan banyak mentasi, maka melalui kromatogram yang diperoleh dapat
kemudahan dan keunggulan. dimonitor pembentukan dari AD, ADD dan senyawa antara
Untuk menemukan sistim dan kondisi yang coeok bagi suatu lainnya, yang saat ini belum teridentifikasi. Terlihat dari hasil
pernisahan dalam HPLC, dibutuhkan banyak sekali waktu dan analisa (Gambar 4) bahwa pada waktu awal fermentasi (Ho)
bahan. Terlihat adanya kepentingan untuk memperkirakan belum terbentuk senyawa apapun. Pada hari kedua (H2) mulai
parameter-parameter pemisahan melalui pereobaan pen- tampak adanya senyawa AD dan senyawa ini terlihat makin
dahuluan yang relatif sederhana. Teknik yang dianggap eoeok jelas pada hari ketiga (H3).

53
baru dilakukan secara kualitatif. Pemantauannya secara kuan-
titatif merupakan pekerjaan yang perlu dilakukan.

KESIMPULAN
Dalarn mernpclajari proses fermentasi, analisa kimia
memegang peranan yang penting, sarna pentingnya dengan
tcknik fermentasi itu sendiri. Dukungan metoda analisa yang
tepat dan dapat langsung ditcrapkan, memcrlukan studi tcrscn-
diri. Teknik kromatografi, dianraranya HPLC rncnawarkan
banyak kemudahan dan keunggulan untuk rnendctcksi produk
~
-e yang terbentuk sclama proses fermentasi berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA
1. AT. Karossi, T.I\. l3udiwati dan S.P. Raharti, Cashew apples as a
menit potential substrate from cashew nut production. for wine and
menit vinegar making, Makalah dipresentasikan pada s'" Australian
Biotechnology Conference, Sydney, 6 - 9 February 1989.
menit 2. T.A Budiwati, S.P. Raharti dan AT Karossi, Konversi sari buah
jambu mete menjadi anggur menggunakan berhagai konsentrasi
Gambar 4. Kromatogram campuran hasil [ermentasi solasodine pada dan jenis inokulum, Makalah dipresentasikan pada Seminar
waktu awal [ermentasi (HO), hari kedua (H2) dan hari Nasional PERHIBI VIII, Palembang, 19 - 20 Nopcmher 1988.
ketiga (H3) 3. AS. Pramudi, Skripsi, Universitas Pajajaran, (1988).
4. AT. Karossi, AS. Pramudi dan O. Suwaryono, Study on forma-
Pada hari kelirna (H5) disamping AD, terbentuk pula tion of cashew vinegar, Proceedings of the Food Conference '88,
senyawa ADD (Gambar 5), sedangkan pada hari: ketujuh Bangkok, 1988, hal 394.
5. S.P. Raharti, T.A l3udiwati dan AT. Karossi, Fermentasi anggur
sari buah jambu mete untuk produksi asam cuka, Makalah
dipresentasikan pada Seminar Nasional PERlIlfli VIII. Palcm-
bang, 19 - 20 Nopemher 1988.
H5
6. T.I\. Budiwati, S.P. Raharti dan I\.T. Karossi, Pengaruh pem-
berian gelatin pada fermentasi sari buah jamhu mete terhadap
H7
0 etanol dan asam asetat yang dihasilkan, Proseding Kajian Kimiawi
;;J
Pangan II, PAU Pangan Gizi, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, 1989, hal233
7. S.P. Raharti, TA l3udiwati dan AT Karossi, Fermentasi anggur
'" dan asam asetat skala fermentor 4L dari sari huah jambu mete,
~ Proseding Kajian Kimiawi Pangan II. PAU Pangan Gizi, Univer-
~ sitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1989, 175
~ 31
8. Julia Kantasubrata dan AT Karossi, The determination of car-
boxylic acids, saccharose and ethanol of fermentation broth 'using
ion suppression reversed phase HPLC, Proceedings of the Food
Conference '88. Bangkok, 1988. hal 475.
9. Choosing the Right Column Chemistry for Carbohydrate
Analysis, Notes Food & Beverage, Waters Chromatography Division
menit Millipore Corporation, 2: 4-6 (1987).
10. Julia Kantasubrata, AT. Karossi dan AS. Pramudi, I1PLC in the
analysis of cashew apple juice fermentation broths, Makalah
menit
dipresentasikan pada International Conference: Biotechnology
and Food, Stuttgart, 20 - 24 February 1989.
11. Julia Kantasubrata dan I\.T Karossi, Alternative methods used
menit
for monitoring cashew-apple fermentation process. Food Forums
Proceedings, Chemistry International, I3risbane, 1989, hal 133.
12. Julia Kantasubrata dan AT Karossi, Studi Perbandingan Metoda
Analisa Gula mcnggunakan Tcknik Spektrofotometri dan IIPLC,
Gambar 5 Kromatogram campuran hasil [ermentasi solasodine pada Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional PERHIBI ke IX,
hari kelima (H5), hari ketujuh (H7) dan kesepuluh (H10). Mcdan, 22 - 24 Januari 1991.
13. Karossi, I\.T., Thelma A dan Linar Z. Udin, Utilization of
Agroindustrial by-product for biosynthesis of oxytetracycline,
(H7) senyawa ADD menghilang dan digantikan dengan
Makalah dipresentasikan pada Seventh Australian Biotechnology
senyawa-l yang terdapat di belakang puncak AD dan ADD
Conference, Melbourne, 25 - 28 Agustus 1986.
Pada hari kesepuluh (HIO), baik senyawa AD maupun ADD 14. T.A l3udiwati dan AT Karossi, Pemanfaatan tetes tebu pada
menghilang seluruhnya dan digantikan dengan senyawa-2. pembuatan antibiotika oleh Streptomyces rimosus ATCC 33022,
Pemantauan dari terbentuknya senyawa-senyawa antara ini l3uletin Limbah Pangan II: 190 -200 (1986)

54 JKTI Vol. 1NO.2 Juli 1991


15. Linar Z. Udin, AT. Karossi dan Thelma A Budiwati, Ok- 24. T.A Budiwati, AT. Karossi dan L.Z. Udin, Utilization of fodder
sitetrasiklin hasil ferrnentasi media tetes tebu oleh Streptomyces yeast in the medium of molasses for antibiotic production by
rimosus ATCC 33022, Makalah dipresentasikan pada Seminar Streptomyces rirnosus ATCC 33022, Makalah : dipresentasikan
Nasional dan Temu I1miah Himpunan Kimia Indonesia, Surabaya, pada 8'h International Biotechnology Symposium, Paris, 17 - 22
17 -19 November 1986. Juli 1988.
16. AT. Karossi, Thelma A Budiwati dan Linar Z. Udin, Suatu usaha 25. L.Z. Udin, S.P. Raharti dan AT. Karossi, Pengaruh penambahan
produksi oksitetrasiklin menggunakan tetes tebu dan bahan metionin pada biosintesa oksitetrasiklin oleh S.rimosus ATCC
turunannya, Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional 33022, Laporan Pcnclitian 1989/W)(), Puslitbang Kimia Terapan -
Produk A1ami Bioaktif, Bandung, 11 - 12 Maret 1987. LIP!.
17. Linar Z Udin, TA. Budiwati dan AT. Karossi, Sukrosa sebagai 26. Lindajati T.W., Lik Anah dan I1ari Rom II, Pcmbuatan ok-
komponen media penumbuh Streptomyces rimosus untuk prod uk- sitetrasiklin skala 4 liter dan 80 liter, Laporan Penelitian
si oksitetrasiklin, Laporan Penelitian 1988/1989, Puslitbang Kirnia 1989/1990, Puslitbang Kimia Terapan - LIP!.
Terapan - LIP!. 27. Evita Does, Julia Kantasubrata dan AT. Karossi, Metoda HPLC
18. Raharti S.P., Skripsi, Institut Teknologi Bandung (1988). dan Spektrofotometer untuk monitoring hasil fermentasi tetrasik-
19. Mona, Skripsi, Universitas Padjadjaran (1989). lin, Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional PERHIBI ke
20. Sri Handayani, Skripsi, Universitas Indonesia (1989) IX, Medan, 22 - 24 Januari 1991.
21. L.Z. Udin, T A. Budiwati, S.P. Raharti dan A.T. Karossi, I'e- 28. Kim H.S., Choi CK, Park Y.I!., Determination of cholesterol and
ngaruh konsentrasi asam sitrat pada produksi oksitetrasiklin its fermentation products by HPLC, J. Chromo 398: 372 - 374
dalam media yang mengandung IIFS, Laporan Pcnelitian (1987) .
1989/1990, Puslitbang Kimia Terapan - LIP!. 29. T.A Budiwati, S.Pujiraharti, J. Kantasubrata, AT. Karossi,
22. Thelma A Budiwati, Ar.Kaross.i dan Linar Z.U., Studi pem- Biokonversi steroid oleh Mycobacterium phlei DSM 43286,
buatan oksitetrasiklin pada media tetes dcngan amonium sulfat Laporan intern P3KT-LIPI, 1991
atau ragi pakan sebagai surnber nitrogen, Buletin Limbah Pangan 30. Jost W., Hauck H.E., Eisenbeif3 F., Thin Layer Chromatography
IV: 430-436 (1988). as a pilot technique for transfering retention data to HPLC, Kon-
23. TA. Budiwati dan AT. Karossi, Penggunaan amonium sulfat de- takte 3: 45 (1984).
ngan berbagai konscntrasi pada media teres untuk pembentukan 31. Loyniwati, Julia Kantasubrata, AT. Karossi, Syafsir Akhlus,
antibiotik, Laporan Penelitian 1988/1989, I'uslitbang Kimia Transposisi data dari pclat KIT pada kolom KCKT. Laporan
Terapan - LIP!. Intern.

JKTI Vol. 1NO.2 Juli 1991