Anda di halaman 1dari 17

PERPAJAKAN 2

“PPh Pasal 23”

OLEH :

Kelompok 2

Nama Kelompok :

I Made Alit Arya Wibawa 1702622010263 ( 10 )

Kadek Putri Kristiani 1702622010266 ( 13 )

Ni Nyoman Iin Purnama Sari 1702622010284 ( 31 )

Putu Kartinita Apryani 1702622010294 ( 41 )

Putu Mega Aryani Dewi 1702622010295 ( 42 )

PRODI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR

2019
2.1 Pengertian PPh Pasal 23

Pajak Penghasilan Pasal 23, selanjutnya disingkat PPh Pasal 23, merupakan pajak
yang dipotong atas penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam
negeri (orang pribadi maupun badan), dan bentuk usaha tetap yang berasal dari
modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang dipotong PPh
Pasal 21. PPh Pasal 23 ini dibayarkan atau terutang oleh badan pemerintah atau
Subjek Pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau
perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.

2.2 Pemotong PPh Pasal 23


1. Badan Pemerintah
2. Subjek Pajak badan dalam negeri
3. Penyelenggara kegiatan
4. Bentuk Usaha Tetap
5. Perwakilan perusahaan di luar negeri lainnya.
6. Orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri tertentu, yang ditunjuk oleh
Kepala Kantor Pelayanan Pajak sebagai Pemotong PPh Pasal 23 yaitu :
(a) Akuntan, arsitek, dokter, notaris, Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT),
kecuali camat, pengacara, dan konsultan yang melakukan pekerjaan bebas.
(b) Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan
pembukuan atas pembeyaran berupa sewa.

Penerima penghasilan yang dipotong PPh pasal 23


1. Wajib Pajak dalam negeri (orang pribadi dan badan)
2. Bentuk Usaha Tetap (BUT)

1
2.3 Obyek Pemotong PPh Pasal 23

Tarif dan Objek PPh Pasal 23

1. 15% dari jumlah bruto atas:


a. dividen kecuali pembagian dividen kepada orang pribadi dikenakan
final, bunga, dan royalti;
b. hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong PPh pasal 21.
2. 2% dari jumlah bruto atas sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta kecuali sewa tanah dan/atau bangunan.
3. 2% dari jumlah bruto atas imbalan jasa teknik, jasa manajemen, jasa
konstruksi dan jasa konsultan.
4. 2% dari jumlah bruto atas imbalan jasa lainnya, yaitu:
a. Jasa penilai (appraisal);
b. Jasa aktuaris;
c. Jasa akuntansi, pembukuan, dan atestasi laporan keuangan;
d. Jasa hukum;
e. Jasa arsitektur;
f. Jasa perencanaan kota dan arsitektur landscape;
g. Jasa perancang (design);
h. Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas
bumi (migas), kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap;
i. Jasa penunjang di bidang usaha panas bumi dan penambangan
minyak dan gas bumi (migas);
 Jasa penunjang di bidang usaha panas bumi dan
penambangan minyak dan gas bumi (migas) adalah jasa
penunjang berupa:

2
j. Jasa penambangan dan jasa penunjang selain di bidang usaha panas
bumi dan penambangan minyak dan gas bumi (migas);
 Jasa penambangan dan jasa penunjang selain di bidang usaha
panas bumi dan penambangan minyak dan gas bumi (migas)
adalah semua jasa penambangan dan jasa penunjang di
bidang pertambangan umum berupa:
k. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara;
 Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara
adalah berupa:
l. Jasa penebangan hutan;
m. Jasa pengolahan limbah;
n. Jasa penyedia tenaga kerja dan/atau tenaga ahli (outsourcing
services);
o. Jasa perantara dan/atau keagenan;
p. Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang
dilakukan oleh Bursa Efek, Kustodian Sentral Efek Indonesia
(KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI);
q. Jasa kustodian/penyimpanan/penitipan, kecuali yang dilakukan oleh
Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI);
r. Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara;
s. Jasa mixing film;
t. Jasa pembuatan saranan promosi film, iklan, poster, photo, slide,
klise, banner, pamphlet, baliho dan folder;
u. Jasa sehubungan dengan software atau hardware atau sistem
komputer, termasuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan;
v. Jasa pembuatan dan/atau pengelolaan website;
w. Jasa internet termasuk sambungannya;
x. Jasa penyimpanan, pengolahan, dan/atau penyaluran data,
informasi, dan/ a tau program;

3
y. Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas,
AC, dan/atau TV kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak
yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin
dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
z. Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, peralatan, listrik,
telepon, air, gas, AC, TV kabel, dan/atau bangunan, selain yang
dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang
konstruksi dan inempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai
pengusaha konstruksi;
aa. Jasa perawatan kendaraan dan/atau alat transportasi darat, laut dan
udara;
bb. Jasa maklon;
 Jasa maklon adalah pemberian jasa dalam rangka proses
penyelesaian suatu barang tertentu yang proses
pengerjaannya dilakukan oleh pihak pemberi jasa
(disubkontrakkan), yang spesifikasi, bahan baku, barang
setengah jadi, dan/atau bahan penolong/pembantu yang akan
diproses sebagian atau seluruhnya disediakan oleh pengguna
jasa, dan kepemilikan atas barang jadi berada pada pengguna
jasa. (Pasal 2 ayat (4) PMK-141/PMK.03/2015)
cc. Jasa penyelidikan dan keamanan;
dd. Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer;
 Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer adalah
kegiatan usaha yang dilakukan oleh pengusaha jasa
penyelenggara kegiatan meliputi antara lain
penyelenggaraan pameran, konvensi, pagelaran musik,
pesta, seminar, peluncuran produk, konferensi pers, dan
kegiatan lain yang memanfaatkan jasa penyelenggara
kegiatan. (Pasal 2 ayat (5) PMK-141/PMK.03/2015)

4
ee. Jasa penyediaan tempat. dan/atau waktu dalam media masa, media
luar ruang atau media lain untuk penyampaian informasi, dan/atau
jasa periklanan;
ff. Jasa pembasmian hama;
gg. Jasa kebersihan atau cleaning service;
hh. Jasa sedot septic tank;
ii. Jasa pemeliharaan kolam;
jj. Jasa katering atau tata boga;
kk. Jasa freight forwarding;
 Jasa freight forwarding adalah kegiatan usaha yang
ditujukan untuk mewakili kepentingan pemilik untuk
mengurus semua/sebagian kegiatan yang diperlukan bagi
terlaksananya pengiriman dan penerimaan barang melalui
transportasi darat, laut, dan/atau udara, yang dapat mencakup
kegiatan penerimaan, penyimpanan, sortasi, pengepakan,
penandaan, pengukuran, penimbangan, pengurusan
penyelesaian dokumen, penerbitan dokumen angkutan,
perhitungan biaya angkutan, klaim, asuransi atas pengiriman
barang serta penyelesaian tagihan dan biaya-biaya lainnya
berkenaan dengan pengiriman barang-barang tersebut
sampai dengan diterimanya barang oleh yang berhak
menerimanya. (Pasal 2 ayat 6) PMK-141/PMK.03/2015)
ll. Jasa logistik;
mm. Jasa pengurusan dokumen;
nn. Jasa pengepakan;
oo. Jasa loading dan unloading;
pp. Jasa laboratorium dan/atau pengujian kecuali yang dilakukan oleh
lembaga atau institusi pendidikan dalam rangka penelitian
akademis;
qq. Jasa pengelolaan parkir;
rr. Jasa penyondiran tanah;

5
ss. Jasa penyiapan dan/atau pengolahan lahan;
tt. Jasa pembibitan dan/atau penanaman bibit;
uu. Jasa pemeliharaan tanaman;
vv. Jasa pemanenan;
ww. Jasa pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan,
peternakan, dan/atau perhutanan
xx. Jasa dekorasi;
yy. Jasa pencetakan/penerbitan;
zz. Jasa penerjemahan;
aaa. Jasa pengangkutan/ekspedisi kecuali yang telah diatur dalam
Pasal 15 Undang-Undang Pajak Penghasilan;
bbb. Jasa pelayanan kepelabuhanan;
ccc. Jasa pengangkutan melalui jalur pipa;
ddd. Jasa pengelolaan penitipan anak;
eee. Jasa pelatihan dan/atau kursus;
fff. Jasa pengiriman dan pengisian uang ke ATM;
ggg. Jasa sertifikasi;
hhh. Jasa survey;
iii. Jasa tester, dan
jjj. Jasa selain jasa-jasa tersebut di atas yang pembayarannya
dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
5. Untuk yang tidak ber-NPWP dipotong 100% lebih tinggi dari tarif PPh Pasal
23
6. Yang dimaksud dengan jumlah bruto adalah seluruh jumlah penghasilan
yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo
pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri,
penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan
luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha
tetap, tidak termasuk:

6
a. pembayaran gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran
lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dibayarkan
oleh Wajib Pajak penyedia tenaga kerja kepada tenaga kerja yang
melakukan pekerjaan, berdasarkan kontrak dengan pengguna jasa;

 Pembayaran ini tidak termasuk dalam jumlah bruto sebagai


dasar pemotongan PPh Pasal 23 sepanjang dapat dibuktikan
dengan kontrak kerja dan daftar pembayaran gaji, upah,
honorarium, tunjangan dan pembayaran lain sebagai imbalan
sehubungan dengan pekerjaan (Pasal 1 ayat (4) huruf
a PMK-141/PMK.03/2015)
 Dalam hal tidak terdapat bukti ini, jumlah bruto
sebagai dasar pemotongan PPh Pasal 23 adalah
sebesar keseluruhan pembayaran kepada penyedia
jasa, tidak termasuk PPN. (Pasal 1 ayat (5) PMK-
141/PMK.03/2015)
b. pembayaran kepada penyedia jasa atas pengadaan/pembelian barang
atau material yang terkait dengan jasa yang diberikan;
 Pembayaran ini tidak termasuk dalam jumlah bruto sebagai
dasar pemotongan PPh Pasal 23 sepanjang dapat dibuktikan
dengan faktur pembelian atas pengadaan/pembelian barang
atau material (Pasal 1 ayat (4) huruf b PMK-
141/PMK.03/2015)
 Dalam hal tidak terdapat bukti ini, jumlah bruto
sebagai dasar pemotongan PPh Pasal 23 adalah
sebesar keseluruhan pembayaran kepada penyedia
jasa, tidak termasuk PPN. (Pasal 1 ayat (5) PMK-
141/PMK.03/2015)

7
c. pembayaran kepada pihak ketiga yang dibayarkan melalui penyedia
jasa, terkait Jasa yang diberikan oleh penyedia jasa; dan/atau
 Pembayaran ini tidak termasuk dalam jumlah bruto sebagai
dasar pemotongan PPh Pasal 23 sepanjang dapat dibuktikan
dengan faktur tagihan dari pihak ketiga disertai dengan
perjanjian tertulis (Pasal 1 ayat (4) huruf c PMK-
141/PMK.03/2015)
 Dalam hal tidak terdapat bukti ini, jumlah bruto
sebagai dasar pemotongan PPh Pasal 23 adalah
sebesar keseluruhan pembayaran kepada penyedia
jasa, tidak termasuk PPN. (Pasal 1 ayat (5) PMK-
141/PMK.03/2015)
d. pembayaran kepada penyedia Jasa yang merupakan penggantian
(reimbursement) atas biaya yang telah dibayarkan penyedia jasa
kepada pihak ketiga dalam rangka pemberian jasa bersangkutan.
 Pembayaran ini tidak termasuk dalam jumlah bruto sebagai
dasar pemotongan PPh Pasal 23 sepanjang dapat dibuktikan
dengan faktur tagihan dan/atau bukti pembayaran yang telah
dibayarkan oleh penyedia jasa kepada pihak ketiga (Pasal 1
ayat (4) huruf d PMK-141/PMK.03/2015)
 Dalam hal tidak terdapat bukti ini, jumlah bruto
sebagai dasar pemotongan PPh Pasal 23 adalah
sebesar keseluruhan pembayaran kepada penyedia
jasa, tidak termasuk PPN. (Pasal 1 ayat (5) PMK-
141/PMK.03/2015)

Jumlah bruto tersebut tidak berlaku:

a. Atas penghasilan yang dibayarkan sehubungan dengan jasa


katering;
b. Dalam hal penghasilan yang dibayarkan sehubungan dengan jasa,
telah dikenakan pajak yang bersifat final;

8
2.4 Pengecualian Obyek Pemotong PPh Pasal 23

Dikecualikan dari Pemotongan PPh Pasal 23:

1. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank;


2. Sewa yang dibayar atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha
dengan hak opsi;
3. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai WP dalam negeri, koperasi, BUMN/BUMD, dari penyertaan modal
pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia
dengan syarat:
a. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan;
b. bagi perseroan terbatas, BUMN/BUMD, kepemilikan saham pada
badan yang memberikan dividen paling rendah 25% ( dua puluh
lima persen) dari jumlah modal yang disetor;
c. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham,
persekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi termasuk pemegang
unit penyertaan kontrak investasi kolektif;
d. SHU koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya;
e. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa
keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau
pembiayaan.

Saat Terutang, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 23

1. PPh Pasal 23 terutang pada akhir bulan dilakukannya pembayaran,


disediakan untuk dibayar, atau telah jatuh tempo pembayarannya,
tergantung peristiwa yang terjadi terlebih dahulu.
2. PPh Pasal 23 disetor oleh Pemotong Pajak paling lambat tanggal sepuluh
bulan takwim berikutnya setelah bulan saat terutang pajak.
3. SPT Masa disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak setempat, paling lambat
20 hari setelah Masa Pajak berakhir.

9
Dalam hal jatuh tempo penyetoran atau batas akhir pelaporan PPh Pasal 23
bertepatan dengan hari libur termasuk hari sabtu atau hari libur nasional, penyetoran
atau pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.

Bukti Pemotong PPh Pasal 23

Pemotong Pajak harus memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 23 kepada Wajib
Pajak Orang Pribadi atau badan yang telah dipotong PPh Pasal 23.

2.5 Dasar Pemotongan PPh Pasal 23

Ada 2 (dua) dasar pemotongan, yaitu :

1. Dari jumlah bruto, untuk penghasilan berupa:


a. Deviden.
b. Bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan
jaminan pengembalian utang.
c. Royalty.
d. Hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21.
2. Dari perkiraan penghasilan netto, untuk penghasilan berupa:
a. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
b. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa
konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain yang telah dipotong pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.

10
2.6 Tarif Pemotongan PPh Pasal 23

Tarif PPh 23 dikenakan atas nilai Dasar Pengenaan Pajak (DPP) atau jumlah bruto
dari penghasilan. Ada dua jenis tarif yang dikenakan pada penghasilan yaitu 15%
dan 2%, tergantung dari objek PPh 23 tersebut. Berikut ini adalah daftar tarif PPh
23 dan objek PPh Pasal 23 :

1. Tarif 15% dari jumlah bruto atas :


a. Dividen, kecuali pembagian dividen kepada orang pribadi dikenakan final,
bunga dan royalti;
b. Hadiah dan penghargaan, selain yang telah dipotong PPh pasal 21;
2. Tarif 2% dari jumlah bruto atas sewa dan penghasilan lain yang berkaitan
dengan penggunaan harta kecuali sewa tanah dan/atau bangunan.
3. Tarif 2% dari jumlah bruto atas imbalan jasa teknik, jasa manajemen, jasa
konstruksi dan jasa konsultan.
4. Tarif 2% dari jumlah bruto atas imbalan jasa lainnya adalah yang diuraikan
dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 141/PMK.03/2015 dan efektif
mulai berlaku pada tanggal 24 Agustus 2015.
5. Bagi Wajib Pajak yang tidak ber-NPWP akan dipotong 100% lebih tinggi dari
tarif PPh Pasal 23.

2.7 Cara Menghitung PPh Pasal 23

Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Dividen

Penghasilan berupa dividen dikenakan pemotongan sebesar 15% dari jumlah bruto.

PPh pasal 23 = 15% x Bruto

11
Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Bunga, Termasuk premium, Diskonto,
dan Imbalan Sehubungan Dengan Jaminan Pengembalian Utang.

1. Atas Penghasilan berupa bunga dikenakan pemotongan PPh pasal 23


sebesar 15% dari jumlah bruto.

PPh pasal 23 = 15% x Bruto

2. Atas penghasilan berupa bunga simpanan anggota koperasi yang jumlahnya


melebihi Rp 240.900 dikenakan pemotongan PPh pasal 23 yang bersifat
FINAL sebesar 15% dan Jumlah bruto.

PPh pasal 23 (Final) = 15% x Bruto

Contoh :

Kaguya adalah anggota Koperasi Persaudaraan, bulan Juli, Kaguya menerima


bunga atas simpanannya sebesar Rp 800.000 dari Koperasi Persaudaraan. PPh Pasal
23 yang dipotong Koperasi Persaudaraan :

15% x Rp 800.000 = Rp 120.000 (Final)

Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Royalti

PPh pasal 23 = 15% x Bruto

Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Hadiah

PPh pasal 23 = 15% x Bruto

12
Contoh :

PT Insan Media Print adalah perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan buku
dan percetakan. Perusahaan ini melakukan sejumlah pembayaran yang terkait
dengan PPh Pasal 23 kepada beberapa pihak dengan rincian:

1. Pembayaran terhadap royalti tiga orang penulis: Damayanti dengan NPWP


01.444.888.2.987.000, Nurmadina NPWP 01.888.555.2.456.000, dan
Azzahra yang belum memiliki NPWP. Royalti yang diberikan kepada
Damayanti sebesar Rp 25.000.000. Royalti untuk Nurmadina sebesar Rp
10.000.000. Dan royalti untuk Azzahra sebesar Rp 5.000.000.
2. Pembayaran bunga pinjaman kepada BRI dengan NPWP
03.111.222.2.541.000 untuk bulan September sebesar Rp 1.500.000.

Jadi, perhitungan pajak penghasilan (PPh Pasal 23) untuk PT Insan Media Print
adalah sebagai berikut:

1. Untuk pembayaran royalti kepada penulis:


a. Damayanti 15% x Rp 25.000.000 = Rp 3.750.000
b. Nurmadina 15% x Rp 10.000.000 = Rp 1.500.000
c. Azzahra 15% x Rp 5.000.000 = Rp 750.000
Karena Azzahra masih belum memiliki NPWP, maka dikenakan tambahan PPh
sebesar 100% dengan nominal: 100% x Rp 750.000 = Rp 750.000. Dengan
demikian, Azzahra akan terkena pemotongan sebesar Rp 750.000 + Rp 750.000 =
Rp 1.500.000. Setelah melakukan pemotongan PPh Pasal 23, penulis akan
mendapatkan hasil bukti pemotongan.

2. Untuk pembayaran atas bunga pinjaman pada BRI, tidak dikenakan PPh Pasal
23. Sebab termasuk penghasilan yang dibayarkan atau terutang kepada bank
dan merupakan pengecualian terhadap PPh Pasal 23.

13
Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Sewa dan Penghasilan lain berupa harta

a. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta khusus


angkutan darat adalah sebesar 15% dari perkiraan penghasilan netto perkiraan
penghasilan netto adalah 20% dari jumlah bruto tidak termasuk PPN.
PPh pasal 23 = 15% x 20% x Bruto

b. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa
dan penghasilan lain sehubungan dengan persewaan tanah dan bangunan yang
telah dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 29 Tahun 1995 dan sewa dan penghasilan lain sehubungan
dengan penggunaan harta khusus angkutan darat adalah sebesar 15% dari
perkiraan penghasilan netto Perkiraan penghasilan netto adalah 40% dari
jumlah bruto tidak termasuk PPN.
PPh pasal 23 = 15% x 40% x Bruto

Cara Menghitung PPh Pasal 23 atas Imbalan Sehubungan dengan Jasa


Teknik, Jasa Manaiemen, Jasa Konsultan Hukum, Jasa Konsultan Pajak, dan
Jasa Lain.

Atas penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemem
jasa konsultan hukum, jasa konsultan pajak, dan jasa lain dikenakan pemotongan
PPh pasal 23 sebesar 15% dari perkiraan penghasilan netto.

PPh pasal 23 = 15 % x Penghasilan Netto x Bruto

14
Kesimpulan

Pemerintah telah menambahkan objek PPh Pasal 23 menjadi 62 jenis jasa lainnya
dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 141/PMK.040/2015.

PPh Pasal 23 adalah pajak yang dikenakan pada penghasilan atas modal,
penyerahan jasa, atau hadiah dan penghargaan, selain yang telah dipotong PPh
Pasal 21.

Tarif PPh 23 ada dua yaitu 15% dan 2% tergantung pada objek pajaknya.

15
Daftar Pustaka

http://pajak.go.id/content/seri-pph-pajak-penghasilan-pasal-23

https://kuliahpendidikan.com/pph-pasal-23/

file:///D:/118%20Perpajakan/kel2perpajakan/06-pajak-penghasilan-pasal-23.pdf

file:///D:/118%20Perpajakan/pph23-baru.pdf

https://www.online-pajak.com/pph-pajak-penghasilan-pasal-23

16