Anda di halaman 1dari 18

CRITICAL BOOK REVIEW

ALAT UKUR FISIKA

DI SUSUN OLEH :

MUHAMMAD RIZKI AFIF BATUBARA

YOVANI SARUMPAET

RISDAYANI SIMANULLANG

FENNY DAMANIK

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan RahmatNya sehingga penulis dapat menyelaesaikan tugas mata kuliah kepemimpinan ini
yang berjudul “Critical Book”. Penulis berterima kasih kepada Bapak dosen yang
bersangkutan yang sudah memberikan bimbingannya.

Penulis juga menyadari bahwa tugas ini masih banyak kekurangan oleh karena itu
penulis minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan penulis juga mengharapkan kritik
dan saran yang membangun guna kesempurnaan tugas ini.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih, semoga dapat bermanfaat dan bisa
menambah pengetahuan bagi pembaca.

Medan, 16 November 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………........................................ ii
DAFTAR ISI……………...……………………………………………………… iii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………..………….. 4
Latar Belakang……………………………………………………….….. 4
Rumusan Masalah…………………………………………………….….. 4
Tujuan…………………………………………………………….…..….. 4

BAB II PEMBAHASAN………….…………………………………………….... 5
Ringkasan Buku …….……………………………………………………... 5
Penilaian Terhadap Buku…………………………………………………... 16

BAB III PENUTUP……………………………………………………………… 17


3.1 Kesimpulan……………………………………………………………... 17
3.2 Saran………..…………………………………………………………... 17

3
BAB 1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari masa ke masa berkembang cepat terutama
dibidang otomasi industri. Perkembangan ini tampak jelas di industri pemabrikan
dimana sebelumnya banyak pekerjaan menggunakan tangan manusia, kemudian
beralih menggunakan mesin, berikutnya dengan electro-mechanic (semi otomatis) dan
sekarang sudah menggunakan robotic (full automatic) seperti penggunaan Flexible
Manufacturing Systems (FMS) dan Computerized Integrated Manufacture (CIM) dan
sebagainya. Model apapun yang digunakan dalam sistem otomasi pemabrikan sangat
tergantung kepada keandalan sistem kendali yang dipakai. Hasil penelitian menunjukan
secanggih apapun sistem kendali yang dipakai akan sangat tergantung kepada
transduser yang digunakan. Transduser merupakan peralatan atau komponen yang
mempunyai peranan penting dalam sebuah sistem pengaturan otomatis. Besaran masukan
pada kebanyakan sistem kendali adalah bukan besaran listrik, seperti besaran fisika, kimia,
mekanis dan sebagainya. Untuk memakaikan besaran listrik pada sistem pengukuran, atau
sistem manipulasi atau sistem pengontrolan, maka biasanya besaran yang bukan listrik diubah
terlebih dahulu menjadi suatu sinyal listrik melalui sebuah alat yang disebut transducer
Sebelum lebih jauh kita mempelajari transduser ada sebuah alat lagi yang selalu melengkapi
dan mengiringi keberadaan transduser dalam sebuah sistem pengukuran, atau sistem
manipulasi, maupun sistem pengontrolan yaitu yang disebut alat ukur.

Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebahai berikut :

1. Pengertian Transducer dan Sensor.

2. Prinsip kerja dari Transducer dan Sensor.

3. Aplikasi dari Transducer dan Sensor.

Tujuan
1. Dapat menyebutkan definisi dan perbedaan dari sensor dan transduser.

2. Mampu menyebutkan persyaratan umum dalam memilih sensor dan transduser.

3. Mengerti tentang klasifikasi sensor dan transduser secara umum

4
BAB 2

Pembahasan

Ringkasan Buku

Transducer Sebagai Masukan Elemen Massukan Bagi Sistem


Instrumentasi

13-1 PENGELOMPOKKAN TRANSDUCER

Sistem instrumentasi elektronik dari sejumlah komponen yang secara bersama-sama


digunakan untuk melakukan sesuatu pengukuran dan mencatat hasilnya.sebuah sistem
instrumen tasi umumnya terdiri 3 elemen utaman yaitu :

 Peralatan tmasukan
 Pengkondisi Sinyal ( Signal Conditioning )
 Peralatan Pengeluaran ( Out – Put )

Trnasducer ialah sebuah alat yn bila di gerakkan oleh energi didalam sebuah sistem
transmisi ,menyalurkan energi dalam bentuk yang sama atau dalam bentuk yang berlainan
ke sistem trasnmisi yang ke dua

Transducer dapat di kelompokkan berdasarkan pemakaiannya,metoda pengubahan


sifat, sifat dasar dari sinyal keluaran dan lain – lain .Semua peneglompokkan ini biasanya
memperlihatkan daerah yang saling melengkapi

13-2 PEMILIHAN TRANSDUCER

Dalam sistem pengukuran ,transducer merupakan elemen masukan yang fungsi


kritisnya adalah mengubah suatu besaran fisis menjadi sinyal listrik yang sebanding
.persyaratan ketelitian bagi sistem keseluruhan menentukan derajat terhadap mana masing-
masing gfaktor yang berkontribusi tehadap ketelitian harus dipertimbangkan .Sebagian dari
faktor – faktor ini adalah :

 Parameter dasar transducer : Jenis dan rangkuman pengukuran,sentivtas,eksitasi,


 Kondisi fisik : Sambugan – sambungan mekanis dan elektris ,perlengkapan -
perlengkapan pemasaran ,tahanan korosi
 Kondisi sekeliling : efek ketidaklinearan,efek histeresis,respons frekuensi,resolusi
 Kondisi lingkungan : efek temperatur,percepatan,goncangan dan getaran

Kesalahan total pengukuran dalam di dalam sebuah sistem yang diaktifkan oleh transducer
dapat di perkecil agar berada dalam rangkuman ketelitian yang di inginkan melalui tknik-
teknik :

5
 Menggunakan sistem kalibrasi pada tempatnya beserta koreksi dan reduksi data
 Secara simultan memonitor lingkungan dan mengoreksi datasecara cepat
 Mengontrol lingkungan secara buatan guna memperkecil kesalahan-kesalahan yang

13-3 STRANI GAGE

13-3-1 Faktor gage

Strai gagee adalah contoh transducer pasif yang mengubah suatu pergeseran mekanis
menjadi perubahan tahanan

Sentivitas sebuah strain gage dijelaskan suatu kateristik yang disebut faktor gage ,K
yang defenisikan sebagai nperubahan sauan tahanan di bagi dengan perubahan satuan
panjang atau

∆R/R
Faktor Gage K =
∆l/l

Dimana K = Faktor Gage

R = Tahanan Gage Nominal

∆𝑅 = Perubahan Tahanan Gage

l = Panjang Nominal bahan Percobaan

∆𝑙 = Perubahan Panjang Bahan percobaan

13-3-2 Elemen Penginderaan Metalik

Strain gage metalik dibentuk dari kawat tahanan tipis atau dietsa dari lembaran
kawat ogam tipis .Umumnya,ukuran kawat agage adalah kecik,mengalami kebocoran paling
kecil , dan dapat digunakan pada pemakian temperatur tinggi

Berbagai jenis bahan tahanan telah dikembangkan untuk pemakian dalam gage
kawat dan foil .sebagian dari mereka dijelaskan pada bab-bab berikut :

o Constant ,paduan tembaga tembaga-nikel dengan koefisien temperatur yang rendah


o Dynaloy ,paduan nikel-besi denganfaktor gage yang rendah
o Stabiloy, paduan nikel-chrome yang dimodifikasi denan rangkuman kompensasi
temperaur yang lebar

6
13-3-3 Konfigurasi strain gage

Bentuk elemen dipilih menurut regangan yang akan diukur : astu sumbu ,dua sumbu
,atau arah ganda.Pemakian satu sumbu paling sering digunakan untuk memaksimalkan bahan
penginderaan regangan dalam arah yang diselidiki,

Rosette dua elemen ,sering digunakan dalam transducer gaya .Gage dirangkaikan
dalam sebuah rangkian jembatan wheatstone guna memberikan keluaran paling besar

13-3-4 Strain gage tanpa ikatan

Strain gage ini terdiri dari sebuah kerangkadiam dan sebuah jangkar yang ditopang
pada pertengahan kerangka.jangkar hanya dapat bergerak dalam satu arah.Gerakannya dalam
arah tersebut dibatasi oleh empat filamen kawat sensitif regangan ,dililitkan filamen-filamen
adalah sama dan disusun seperti di ujunkkan

13-4 TRANSDUCER PERGESERAN

13-4-1 Pendahulan

Konsep pengubahan sebuah gaya terpasang menjadi pergeseran merupakan dasar bagi
berbagai jenis transducer .bagian-bagian dari alat ini umum nya sebgai berikut :

a) Diagrama
b) Tiupan
c) Tabung boundon
d) Tabung
e) Kantilever massa
f) Torsi ujung berputar

7
Pergeseran yang ditimbulkan oleh tindakan alat penjumlah gaya diubah menjadi perubahan
suatu parameter elektrisis .Prinsip-prinsip Listrik yang paling lazim digunakan adlam
pengukuran pergeseran adalah :

 Kapasiif
 Induktif
 Transformator selisih
 Ionosasi
 Osilasi
 Fotolistroik
 Piezo lektris
 Potensiometrik
 Kecepatan

13-4-2 Transducer kapasitif

Kapasitis dari sebuah kapasitor pelat paralel diberikan oleh

kAϵ°
G=
d
A = luas masing-masing pelat

D = jarak kedua pelat

𝜖° =9,85 X 10−2

K =konstanta dielektrik

Karena kapasitas berbanding terbalik denganjarak kedua pelat paralel,setiap variasi


dalam d menyebabkan variasi yang berkaitan pada kapasitansi

8
Transducer kapasitif memiliki respons frekuensi yang sangat baik dan dapatmengukur
fenomena statit dan dinamik.kekurangn adalah kepekaan terhadap variasi temperatur dan
kemungkinan sinyal-sinyal yang tidak teratur atau cacat

13-4-3 Transducer Induktif

Dalam transducer induktif pengukuran gaya dilakukan dengan mengubah


perbandingan induktansi dari sepasang kumparan atau dengan mengubah induktansi
kumparan tunggal. Dalam masing-masing hal, jangkar ferromaknetik yang digerakkan oleh
gaya yang akan diukur mengubah reluktansi rangkaian maknetik.

Kumparan dapat digunakan sebagai komponen sebuah osilator LC yang kemudian


frekuensinya berubah terhadap gaya yang diberikan. Jenis transducer ini dipakai secara luas
dalam sistem telemetri, bersama sebuah kumparan tunggal yang memodulasi frekuensi
sebuah osilator local. Transducer induktif memberi respon terhadap pengukuran static dan
dinamik yang memiliki resolusi yang kontinu beserta keluaran yang cukup tinggi.
Kekurangannya adalah bahwa respon frekuensi dibatasi oleh konstruksi anggota penjumlah
gaya.

13-4-4 Transformator selisih yang berubah-ubah

Transducer transformator selisih mengukur gaya yang dinyatakan dalam pergeseran


inti ferromaknetik dari sebuah transformator. Transformator ini terdiri dari satu kumparan
primer dan dua kumparan sekunder yang ditempatkan pada kedua sisi kumparan primer.
Keluaran transformator selisih dapat bekerja sebagai sebuah komponen di dalam sebuah
sistem servo gaya imbang. Terminal keluaran dari sebuah transformator masukan dan
transformator imbang dihubungkan secara berlawanan.

Transformator selisih menghasilkan resolusi kontinu dan memperlihatkan hysteresis


yang rendah. Pergeseran yang relative besar diperlukan agar instrument sensitive terhadap
getaran. Instrument pencatat harus dipilih agar beroperasi pada sinyal ac atau menggunakan
sebuah jaringan demodulator jika diinginkan suatu keluaran dc.

13-4-5 Transducer osilasi

Kelompok transducer ini menggunakan anggota penjumlah gaya untuk mengubah


kapasitansi atau induktansi dalam sebuah rangkaian osilator LC. Transducer ini mengukur
kedua fenomena static dan dinamik dan digunakan dalam pemakaian telemetri. Keterbatasan
rangkuman frekuensi, kestabilan termal yang jelek, dan ketelitian yang rendah, membatasi
penggunaannya pada pemakaian ketelitian rendah.

13-4-6 Transducer fotolistrik

Transducer fotolistrik memanfaatkan sifat-sifat sel emisi cahaya atau tabung cahaya.
Tabung cahaya merupakan sebuah alat pemancar energy yang mengontrol pancaran
elektronnya bila dihadapkan ke cahaya datang. Transducer ini dapat menggunakan salah satu
dari sebuah sumber cahaya yang stabil atau suatu cahaya yang dimodulasi oleh arus bolak-

9
balik. Keuntungan transducer jenis ini adalah efisiensinya yang tinggi dan kesesuaiannya
untuk mengukur kondisi static dan dinamik. Alat ini bisa memiliki stabilitas jangka panjang
yang jelek, tidak memberi respon terhadap variasi cahaya berfrekuensi tinggi, dan
memerlukan pergeseran yang besar bagi anggota penjumlah gaya.

13-4-7 Transducer piezoelektrik

Bahan-bahan kristal yang tidak simetri seperti kuartz, garam Rochelle, dan barium
titanit menghasilkan suatu ggl bila regang. Sifat ini diterapkan dalam transducer, dimana
sebuah Kristal ditempatkan di antara sebuah alas pejal dan anggota penjumlah gaya. Aat ini
tidak memerlukan sumber daya luar dan membangkitkan tegangan sendiri. Kekurangan
utama adalah tidak dapat mengukur kondisi-kondisi static. Tegangan keluaran juga
dipengaruhi oleh variasi temperature dari kristal.

13-4-8 Transducer potensiometrik

Merupakan sebuah alat elektronik yang mengandung elemen tahanan yang


dihubungkan oleh sebuah kontak geser yang dapat bergerak. Alat ini bisa dieksitasi dari ac
ataupun dc dan dapat melayani cakupan pemakaian yang luas karena gesekan mekanis dari
kontak geser terhadap elemen tahanan terbatas dan derau bisa ditimbulkan jika elemen
menjadi aus.

13-4-9 Transducer kecepatan

Terdiri dari sebuah kumparan putar yang digantung di dalam medan maknit
permanen. Sebuah tegangan dibangkitkan oleh perputaran kumparan di dalam medan.
Keluaran sebanding dengan kecepatan kumparan dan pengukuran. Kecepatan yang
ditimbulkan dalam bentuk linear, sinus, sembarang. Redaman diperoleh secara elektris berarti
menjamin stabiitas yang tinggi dalam kondisi temperature yang berbeda.

13-5 PENGUKURAN TEMPERATURE

13-5-1 Termometer tahanan

Menggunakan elemen sensitive dari kawat platina, tembaga atau nikel murni yang
memberikan nilai ketahanan yang terbatas untuk setiap temperature. Hubungan antara
temperature dan tahanan dapat ditulis secara matematik sebagai berikut.

Rt = Rref (1+α ∆𝑡)

Rt = tahanan konduktor pada temperature t (0C)


Rref = tahanan pada temperature referensi 00C
α= koefisien temperature tahanan
∆𝑡 = selisih antara temperature kerja dan temperature panas
Elemen pengindraan sebuh thermometer tahanan dipilih berdasarkan karakteristik
dari tiga bahan. Kawat platina digunakan untuk pengukuran di laboratorium dan pengukuran

10
ketelitian tinggi pada industry. Kawat nikel dan tembaga digunakan di industry untuk
pemakaian rangkuman rendah. Secara praktis semua thermometer tahanan untuk pemakaian
industry dipasang di dalam sebuah tabung atau lubang guna memberikan proteksi terhadap
kerusakan mekanis dan melindungi terhadap pengotoran dan kerusakan akhir.

13-5-2 Termokopel

Termokopel terdiri dari sepasang logam yang tidak sama yang dihubungkan bersama-
sama pada satu ujung yang panas dan pada ujung lain yang dingin yang dipertahankan pada
suatu temperatur konstan yang diketahui ( te,peratur referensi). Jika terjadi perbedaan
temperatur, maka ggl di dalam rangkaian akan dihasilkan. Bila titik referensi ditutup alat ukur
maka penunjuk alat ukur itu sebanding dengan selisih temperatur antara ujung panas dan titik
referensi. Besarnya ggl termal bergantung pada bahan kawat yang digunakan dan pada
selisih temperatur antara titik-titik sambung.

Untuk menjamin umur yang panjang termokopel dilindungi dalam sebuah tabung
logam pelindung atau lobang terbuka atau tertutup. Termokopel berada jauh dari alat
pencatat, sambungan dibuat menggunakan kawat-kawat perpanjangan ( extention wires)
khusus disebut kawat kompensasi. Ketelitian pengukuran maksimal dijamin bila kawat
kompensasi dari bahan yang sama dengan kawat termokopel.

Termokopel tersedia dari pabrik bersama sertifikat kalibrasi NBS. Pengukuran


temperatur sederhana dengan menghubungkan langsung termokopel ke miliovoltmeter
sensitif terhadap ujung dingin. Defleksi alat berbanding langsung dengan beda temperatur
antara ujung panas dan titik referensi. Instrumen ini kekurangannya, karena termokopel
hanya dapat menyalurkan daya yang terbatas untuk menggerakkan mekanisme alat pencatat.

Metode paling umum pada pengukuran temperatur termokopel mencakup pemakaian


dari potensiometer. Berbagai jenis potensiometer otomatis telah dikembangkan untuk
pencatatan dan mengontrol proses secara otomatik. Keuntungan sistem ini, galvanometer
tidak dipengaruhi beban fisis karena hanya untuk mengarahkan cahaya ke fotosel. Fotosel
menerima cahaya pantulan dari galvanometer yang sudutnya adalah dari ukuran
ketidaksetimbangan tegangan di dalam rangkaian potensimeter. Penguat mengemudikan
sebuah motor reversibel yang mengontrol gerakan kontak geser. Bila potensimeter mula-mula
setimbang akan terdapat cahaya terpantul ke fotosel. Penguat mengemudikan motor
reversibel dalam arah untuk memulihkan kesetimbangan rangkaian potensiometer.

Tegangan tidak setimbang dalam potensiometer karena variasi pada ujung


termokopel. Secara bergantian menghubungkan ujung-ujung yang berlawanan dari kumparan
primer transformator ke titik seimbang. Tegangan tidak seimbang dalam kumparan primer
dalam kumparan transformator dialihkan ke kumparan sekunderberdenyut, diperkuat oleh
penguat ac dan dimasukkan ke motor imbang( balancing motor).

13-5-3 Karakteristik termistor

11
Termistor atau tahanan termal adalah alat semikonduktor yang berkelakuan sebagai
tahanan dengan koefisien tahanan temperatur yang tinggi, biasanya negatif. Tahanan
termistor pada temperatur ruang bisa berkurang 6 persen setiap kenaikan temperatur 1 0C.
Kepakaan yang tinggi terhadap perbedaan temperatur sehingga termistor sangat sesuai untuk
pengukuran, pengontrolan dan kompensasi temperatur secara presisi.

Termistor terbuat dari campuran logam oksida-oksida logam yang diendapkan seperti:
mangan , nikel, kobalt, tembaga, besi dan uranium. Rangkuman tahanannya dari 0,5 ohm
sampai 75 ohm. Bentuk piringan (disk) dibuat menjadi silinder datar dengan memadatkan
bahan termistor pada temperatur tinggi.

Tiga karakteristik paling penting dari termistor membuatnya bermanfaat untuk


pengukuran dan pengontrolan yaitu: a) karakteristik temperatur tahanan, b) karakteristik
tegangan arus dan c) karakteristik arus waktu. Termistor mempunyai koefisien tahanan
temperatur negatif yang tinggi sehingga membuatnya menjadi transducer temperatur yang
ideal.

Jika termistor dihubungkan dengan tegangan yang sangat kecil, arus kecil yang
dihasilkannya tidak menghasilkan panas yang cukupuntuk menaikkan temperatur termistor
diatas temperatur sekeliling. Hukum ohm dipenuhi dan arus sebanding dengan tegangan yang
dimasukkan.

Karakteristik pemanasan sendiri (self-heat) memberikan suatu bidang pemakaian yang


baru bagi termistor. Dalam memanasi sendiri, termistor sensitif terhadap apa saja yang
mengubah laju pada panas yang dihantarkan keluar padanya. Termistor dapat digunakan
untuk mengukur aliran, tekanan, tinggi oermukaan cairan, komposisi gas, dan lain-lain. Akan
tetapi, jika laju panas tetap, termistor sensitif terhadap masukan daya dan dapat digunakan
mengontrol level tegangan atau level daya.

13-5-4 Pemakaian termistor

Termistor mungkin yang diketahui untuk pengukuran dan pengontrolan temperatur,


mereka memiliki fungsi lainnya. Perubahan tahanan termistor relatif besar setiap perubahan
temperatur dalam derajat (disebut sensitivitas) menjadikannya pilihan yang jelas sebagai
transducer temperatur. Alat ukur dapat dikalibrasi langsung dalam temperatur dan mampu
memisahkan variasi temperatur sebesar 0.10C. Sensitivitas yang tinggi bersama-sama dengan
tahanan termistor yang relatif tinggi , membuat termistor ideal untuk pengukuran atau
pengontrolan jarak jauh( remote).

Sistem kontrol termistor memiliki sifat sensitif, stabil, dan bekerja cepat dan
memerlukan rangkaian yang relatv sederhana. Karena termistor memiliki koefisien tahanan
temperatur yang negatif berlawanan dengan koefisien positif yang kebanyakan konduktor
listrik dan semikonduktor.

Sebuah termistor yang dipilih secara tepat di dekat elemen rangkaian seperti
kumparan alat ukur dari bahan tembaga mengalami perubahan temperatur sekeliling yang
sama, dapat dihubungkan sedemikian rupa sehingga tahanan total rangkaian adalah konstan.

12
Alat kompensasi terdiri dari sebuah termistor yang paralel dngan sebuah tahanan. Dalam
pengukuran daya hantar termal, dua termistor dihubungkan dengan lengan-lengan yang
berdekatan dengan jembatan Wehatstone. Sebuah termistor ditempatkan dipermukaan yang
diam untuk memberi kompensasi temperatur, dan dua termistor lainnya ditempatkan di
rongga-rongga terpisah di dalam balok kuningan.\

13-6 ALAT-ALAT SENSITIF CAHAYA

13-6-1 Pendahuluan

Elemen-elemen sensitif cahaya merupakan alat terandalkan untuk mendeteksi energi


pancaran atau cahaya.

Penggunaan praktis alat sensitif cahaya ditemukan dalam berbagai pemakaian teknik. Bab ini
menyangkut alat-alat berikut beserta pemakaiannya.

a. Tabung cahaya atau fototabung vakum( vacum-type phototubes), paling


menguntungkan digunakan dalam pemakaian yang memerlukan pengamatan pulsa
cahayayang waktunya singkat, atau cahaya yang dimodulasi pada frekuensi yang
relatif tinggi.
b. Tabung cahaya gas ( gas type-phototubes), digunakan dalam industri gambar hidup
sebagai pengidera suara pada filem.
c. Tabung cahaya pengali atau pemfotodaraf (multiplier phototubes), dengan
kemampuan penguatan yang sangat hebat, sangat banyak diguanakan pada
pengukuran fotoelektrik dan alat-alat kontrol dan juga sebagai alat cacah kelipan (
scintillation counter).
d. Sel-sel fotokonduktif( photoconductive cells), juga disebut tahanan cahaya (photo-
resistor) atau tahanan yang bergantung pada cahaya ( LDR- Light Dependent resistor),
dipakai luas dalam industri dan penerapan pengontrolan di laboratorium.
e. Sel-sel foto tegangan ( Photovoltatic cells), adalah alat semikonduktor untuk
mengubah energi radiasi menjadi daya listrik. Contoh yang sangat baika adalah sel
matahari (solar cell) yang digunakan dalam teknik ruang angkasa.

13-6-2 Tabung cahaya vakum

Tabung cahaya pemakaiannya diperlihatkan sebagai sebuah trnsducer tekanan.


Katoda cahaya (photocathode) memancarkan elektron bila diransang dengan energi pancaran
yang datang. Katoda cahaya paling penting digunakan di dalam tabung cahaya vakum adalah
permukaan cesium-antimony., dengan sensitivitas yang tinggi didalam spektrum visibel. Bola
tegangan yang cukup dibberikan antara katoda cahaya dan anoda, arus yang terkumpul secara
keseluruhan hampir bergantung pada jumlah cahaya yang masuk.

13-6-3 Tabung cahaya berisi gas

13
Elektron dipancarkan dari katoda melalui kekuatan fotoelektrik dan mempercepatnya
melalui gas dengan memberikan tegangan pada anoda. Jika energi elektron melebihi potensial
ionisasi gas tumbukan sebuah elektron dan molekul gas dapat menyebabkan ionisasi, yakni
pembentukan sebuah ion positif dan sebuah elektron sekunder. Jika selanjutnya tegangan
diperbesar melebihi potensial ionisasi, arus yang dikumpulnya bertambah karena jumlah
tumbukan nya lebih banyak.

13-6-4 Pemfotodarap

Untuk mendeteksi level-level cahaya yang sangat rendah, dalam kebanyakan


pemakaian diperlukan penguatan khusus bagi arus cahaya. Dalam sebuah pemfotodarap,
elektron yang dipancarkan oleh fotokatoda diarahkan secara elektrostatik ke sebuah
permukaan pancar sekunder yang disebut dynoda. Pemfotodarap linier memiliki struktur
sangkar pemusat yang dirancang secara khusus dengan efektif yang besar untuk
pengumpulan elektron cahaya pada dynoda pertama.

Penguatn pemfotodarap bergantung pada jumlah dan sifat dynoda. Respons spektral
dapat dikontrol oleh bahan katoda dan dynoda. Keluaran pemfotodarap adalah linear, serupa
dengan keluaran tabung cahaya vakum. Medan medan magnetik mempengaruhi penguatan
pemfotodarap sebab sebagian elektron mungkin dibelokkan dari lintasan normalnyay diantara
tingkatan-tingkatan, dan dengan denikian tidak pernah mencapai sebuah dynoda atau
akhirnya anoda.

13-6-5 Sel-sel fotokonduktif

Sel-sel fotokonduktif adalah elemen-elemen yang daya hantarnya merupakan fungsi


dari radiasi elektromagnetik yang masuk. Bahan bersifat fotokonduktif yang terpenting secar
komersial adalah kadmium-sulfida, germanium dan silikon. Sel ini sering digunakan dalam
pemakaian dimana penglihatan manusia merupakan suatu faktor, seperti halnya pengontrolan
cahaya jalan atau pengontrolan selaut pelangi otomatik pada alat-alat potret. Elemen-elemen
dasar dari sebuah sel fotokonduktif adalah substrat keramik, lapisan bahan konduktif,
elektroda metalik.

Foto sel semikonduktor digunakan dlaam beberapa pemakaian. Karakteristik volt-


amper dari sebuah bahan p-n bisa nampak berupa garis tebal. Dalam pemakaian
fotokonduktif sel dicatu dalam arah balik. Pertamabahan arus cahaya ini adalah linear
terhadap pertambahan penerangan. Konstanta waktu fotosel dari bahan p-nyang relatif cepat,
membuat alatini sangat bermanfaat untuk frekuensi eksitasi optik sekalipun diatas daerah
audio.

13-6-6 Sel-sel fototegangan

Sel- sel fototegangan dapat digunakan dalam sejumlah pemakaian. Sel matahari silikon
mengubah tenaga pancaran matahari menjadi daya listrik. Alat-alat fototegangan silikon unit
ganda dapat dgunakan untuk mengindera cahaya seperti pembacaan kartu-kartu berlobang
dalam industri pengolahan data. Sel-sel germanium berlapis emas dengan karakteristik

14
respons spektral yang terkontrol bertindak sebagai alat-alat fototegangan dalam daerah
spektrum infra merah dan detektor infra merah.

13-7 Pengukuran magnetik

13-7-1 Galvanometer balistik

Defleksi sebuah galvanometer balistik berbanding langsung dengan listrik yang mengalir.
Karena muatan fluksi dihubungkan oleh sebuah kesebandingan. Instrumen harus diaklibrasi
sebelum melakukan pengukuran. Untuk memerksa sifat magnetik dengan sebuah sampel
cincin bahan magnetik dengan mengukur flukdi dengan sebuah galvanometer balistik. Arus
melalui kumparan primer pada sampel cincin dikontrol oleh tahana geser R1. Lup histeresis
diukur dengan : sekelar S2 mula mula ditututp dan arus disetl oleh R1 kesuatu nilai
maksimal. Sakelas S1 dibalik beberapa kali dalam keadaan berputar. Sakelar S2 dibuka yang
membuat R2 paralel dengan ragkaian arus Sakelas dan menurunkan gaya maknetisasi.

13-7-2 Alat Ukur fluksi Dan Alat Ukur Gauss

Alat ukur fluksi menggunakan mekanisme kumparan putar khusu yang tidak mempunyai
maknit-dalam dan potongan kutub. Alat ini ditempatkan pada alat medan magnit yang tidak
diketahui dan aru lewat melalui alat ukur. Defleksi alat ukur fluksi bergantung pada besarnya
arus dan kekuatan medan magnit yang tidak diketahui.besarnya arus dapat dikontrol dengan
sebuah tahana geser dan dibaca pada sebuah alat ukur.

Alat ukur Gauss bekerja dengan prinsip yang berbeda. Torsi yang dikeluarkan oleh induksi
magnetik terhadap sebuah magnit kecil destimbangkan oleh torsi pemulih dari sebuah pegas
spiral. Skala instrumen dikalibrasi agar langsung membaca kuat medan magnit dalam gauss
ataupun weber.

13-7-2 Transducer maknetik

Bisthmuth dan logam-mu memiliki sifat mengubah tahanan atau impedansinya kjika didalam
sebuah medan magnit melintang. Efek ini digunkaan untuk mengukur kerapatan fluksi.
Metoda ini diperlihatkan dimana dua kawat logammu ditaruh pada magnit yang tidak
diketahui. Impndasi kawat adalah salah satu kekuatan medan magnit.

Transducell efek hall menggunakan sebuah bilah dari bahan semi konduktor yang
disingkapan kemedan magnit yang tidak diketahui. Bila sebuah bilah semikonduktor
membawa arus dalam medan magnit , maka dihasilkan ggl yang berlawanan. Germanium
dapat dibuat di pabrik dengan koefisien hall yang sangat tinggi dan jarum penduga geranium
digunakan untuk kerapatan-kerapatan fluksi yang kecil.

15
Penilaian buku

Kelebihan

 Pada buku ini dijelaskan dengan rinci pengertian dan proses dari setiap sub materi.
Sehingga memudahkan kita memahami pembelajaran.
 Dalam menyajikan materi, penulis membuat tanda pada kata-kata yang berasal dari
bahasa asing, dan kata-kata tertentu lainnya sehingga pembaca dengan mudah
mencari kata-kata yang sulit.
 terdapat gambar, rumus, dan keterangan yang menjadi inovasi dari buku ini yang
dapat membantu pembaca memahami materi yang disajikan. Setiap subbabnya
memiliki gambar dan keterangan yang membuat buku ini kelihatan menarik.

Kekurangan

o Dalam menyajikan materi di dalam buku, penulis menggunakan bahas yang bertele-
tele, sehingga seharusnya pembaca dapat dengan mudah mengerti namun menjadi
kebingunan dalam memaknai dari kalimat atau pernyataan yang ditulis oleh penulis

o Pembahasan materi pada subbab ini menjelaskan jenis-jenis transducer yang disajikan
menggunakan bahasa yang rumit sebab banyak menggunakan pilihan kata berupa
istilah yang sulit dimengerti sehingga menyulitkan pembaca dalam memahami intisari
materi tersebut. Materi yang disampaikan sangat kompleks dan mendetail, hanya saja
pemilihan kata yang berupa istilah yang membuat pembaca sulit memahaminya

o Memiliki bahasa yang terlalu bertele-tele. Contohnya : ‘’ instrumen harus dikalibrasi


didalam rangkaian dalam mana pengukuran dilakukan.’’ Penggunaaan bahasa yang
mubazir.

16
BAB 3
Penutup

3.1 Kesimpulan

Sensor dan transduser merupakan peralatan atau komponen yang mempunyai


peranan penting dalam sebuah sistem pengaturan otomatis. Ketepatan dan kesesuaian dalam
memilih sebuah sensor akan sangat menentukan kinerja dari sistem pengaturan secara
otomatis.

Transducer adalah alat yang biasa pada elektonika, kelistrikan, mekanik elektronik,
elektromagnetik, digunakan mengubah energi dari satu energi ke bentuk energi yang lain
untuk berbagai pengukuran atau transfer informasi. Di dalam transducer terdapat sensor yang
berfungsi untuk mengubah energi masukan menjadi energi keluaran dalam bentuk yang
lain. Dalam memilih peralatan sensor dan transduser yang tepat dan sesuai dengan sistem
yang akan disensor maka perlu diperhatikan persyaratan umum sensor, yaitu lineraitas,
sensitivitas, dan tanggapan waktu. Ada berbagai macam sensor dalam elektronika dan
pengukuran, namun yang umum diketahui hanya 3 macam sensor, yaitu sensor thermal,
sensor mekanik, dan sensor optic.

Aplikasi dari masing – masing sensor telah banyak kita ketahui. Sebagai contoh dari sensor
thermal ialah thermocouple, thermistor, RTD, dll. Sensor mekanik diantaranya adalah strain
gauge, piezoelektrik, potensiometer, dll. Sedangkan contoh dari sensor optic adalah sel
photovoltaic, LED, dll.

3.2 Saran

 Agar menambahkan pengertian dari setiap materi

 Ada baiknya dalam menyampaikan materi jangan menggunakan kalimat yang


membingungkan pembaca, agar pembaca memiliki minat untuk mengupas atau
membahas isi buku tersebut.

17
18