Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA DAN SEMISOLIDA

“PEMBUATAN LARUTAN SIRUP PARACETAMOL”

KELOMPOK F2 :

Dosen jaga : Dwi Nurahmanto, S.Farm., M.Sc., Apt

1. Dita Ariesa Putri Prajoko (162210101048)


2. Dayu Lantika (162210101049)
3. Lyta Septi Fauziah (162210101054)
4. Itut Septiana Dewi (162210101055)
5. Anis Dwi Astuti (162210101056)
6. Saragoza Oktaviana M (162210101057)

BAGIAN FARMASETIKA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2018
JURNAL PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA DAN SEMISOLIDA

Percobaan Praktikum : Sediaan Larutan Parasetamol


Hari / Tanggal : Senin, 17 September 2018
Kelompok : F-2
Nama Peserta : 1. Dita Ariesa Putri Prajoko (162210101048)
2. Dayu Lantika (162210101049)
3. Lyta Septi Fauziah (162210101054)
4. Itut Septiana Dewi (162210101055)
5. Anis Dwi Astuti (162210101056)
6. Saragoza Oktaviana M (162210101057)

I. TUJUAN PRAKTIKUM

1. Mahasiswa mampu mengetahui rancangan formula dalam pembuatan sediaan larutan.


2. Mahasiswa dapat memahami proses pembuatan sediaan larutan dan dapat membuat
suatu sediaan larutan paracetamol.

II. DASAR TEORI

Larutan adalah sediaan cair yang mengandung suatu atau lebih zat kimia yang
terlarut, missal : terdispersi secara molecular dalam pelarut yang sesuai atau campuran
pelarut yang saling bercampur. Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara
merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan
jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau
dicampur.

Sediaan padat secara kimia umumnya lebih stabil disbanding senyawa dalam
larutan, dan dapat dikemas lebih ringkas dan ringan. Untuk semua larutan, terutama yang
mengandung pelarut mudah menguap, harus digunakan wadah tertutup rapat dan
terhindar dari panas berlebih. Jika senyawa tidak stabil dan mudah mengalami degradasi
secara fitokimia, penggunaan wadah tahan cahaya perlu dipertimbangkan.

1
Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung
satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut
dalam air atau campuran kosolven-air. Larutan oral dapat diformulasikan untuk diberikan
langsung secara oral kepada pasien atau dalam bentuk lebih pekat yang harus diencerkan
lebih dulu sebelum diberikan. Penting untuk diketahui bahwa pengenceran larutan oral
dengan air yang mengandung kosolven seperti etanol, dapat menyebabkan pengendapan
bahan terlarut. Jika terdapat kosolven, pengenceran larutan pekat perlu berhati-hati.
Sediaan zat padat atau campuran zat padat yang harus dilarutkan dalam pelarut sebelum
diberikan secara oral disebut uttuk larutan oral, misalnya : kalium klorida untuk larutan
oral.

Larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi, dinyatakan
sebagai sirup. Larutan sukrosa hampir jenuh dalam air dikenal sebagai sirup atau sirup
simpleks. Penggunaan istilah sirup juga digunakan untuk nentuk sediaan cair lain yang
dibuat dengan pengental dan pemanis, termasuk suspense oral. Disamping sukrosa dan
gula lain, senyawa poliol tertentu seperti sorbitol atau gliserin dapat digunakan dalam
larutan oral untuk menghambat penghabluran dan untuk mengubah kelarutan, rasa, dan
sifat lain zat pembawa. Umumnya juga ditambahkan antimikroba untuk mencegah
pertumbuhan bakteri, jamur dan ragi. Beberapa larutan oral tidak mengandung gula,
melainkan bahan pemanis buatan, seperti sorbitol atau aspartame, dan bahan pengental
seperti gom selulosa. Larutan kental dengan pemanis buatan seperti ini, tidak menandung
gula; di buat sebagai zat pembawa untuk pemberian obat kepada pasien diabetes. Banyak
larutan oral yang mengandung etanol sebagai kosolven dinyatakan sebagai eliksir.
Banyak lainya dinyatakan sebagai larutan oral, juga mengandung etanol dalam jmlah
yang berarti. Karena kadar etanol tinggi dapat menimbulkan efek farmakologi jika
diberikan secara oral, dapat digunakan kosolven lain seperti gliserin dan propilen glikol,
untuk mengurangi jumlah etanol yang diperlukan. Untuk dapat menyatakan sebagai
eliksir, larutan harus mengandung etanol.

Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan
pelarut, juga bergantung pada faktor temperature, tekanan, pH larutan, dan untuk jumlah
yang lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut. Adapun kelarutan
didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan

2
jenuh pada temperature tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi
spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk disperse molecular homogen.

Dalam bidang farmasi kelarutan sangat penting, karena dapat mengetahui dapat
membantu dalam memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi
obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu
pembuatan larutan farmasetis (dibidang farmasi) dan lebih jauh lagi dapat bertindak
sebagai standar atau uji kelarutan.

Kelarutan diartikan sebagai konsentrasi bahan terlarut dalam suatu larutan jenuh
pada suatu suhu tertentu. Larutan sebagai campuran homogen bahan yang berlebihan.
Untuk dibedakan antara larutan dari gas, cairan dan bahan padat dalam cairan. Disamping
itu terdapat larutan dalam keadaan padat (misalnya gelas, pembentukan Kristal
campuran).

Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut


dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai
interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen.
Larutan dinyatakan dalam mili liter pelarut yang dapat melarutkan gram zat. Misalnya 1
gram asam salisilat akan larut dalam 500 ml air. Kelarutan dapat pula dinyatakan dalam
satuan molalitas, molaritas dan persen.

Pelepasan zat dari bentuk sediannya sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia dan
fisika zat tersebut serta formulasinya. Pada prinsipnya obat baru dapat diabsorbsi setelah
zat aktifnya terlarut dalam cairan usus, sehingga salah satu usaha untuk mempertinggi
efek farmakologi dari sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya.

Kelarutan suatu bahan dalam suatu pelarut tertentu menunjukkan konsentrasi


maksimum larutan yang dapat dibuat dari bahan dan pelarut tersebut. Bila suatu pelarut
pada suhu tertentu melarutkan semua zat terlarut sampai batas daya melarutkannya,
larutan ini disebut larutan jenuh.

Faktor faktor yang mempengaruhi kelarutan

1. Sifat dari solute atau solvent. Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar
juga, begitu juga sebaliknya solute yang non polar akan larutdalam solvent yang non
polar juga.
3
2. Konsolvensi
Konsolvensi adalah peristiwa kaenaikan kelarutan suatu zat karena adanya
penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut.
3. Kelarutan
Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, zat yang sukar larut memerlukan
banyak pelarut.
4. Temperature
Zat padat umumnya bertambah larut jika suhunya dinaikkan, zat tersebut dikatakan
bersifat endoterm karena pada proses kelarutanya memerlukan panas.
5. Salting out
Salting out adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan
lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama
atau terbentuknya endapan karena adanya reaksi kimia.
6. Salting in
Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama
dalam solvent menjadi besar.
7. Pembentukan kompleks
Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut
dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompeks.

Bahan tambahan yang biasa digunakan dalam sediaan larutan


1. Pemanis (sukrosa)
Sukrosa adalah bahan pemanis yang digunakan secara luas dalam formulasi desiaan
larutan.
2. Sorbitol
Sorbitol pada sediaan sirup efektif dalam mencegah pengkristalan pada tutup botol.
3. Pelarut
Salah satunya air digunakan sebagai pembawa dan pelarut untuk bahan-bahan pemberi
rasa (flavoring agent)
4. Pewarna
Untuk menambah daya tarik sirup, umumnya digunakan zat pewarna yang
berhubungan dengan pemberian rasa.

4
5. Pengawet
Sebagai pelindung sediaan larutan, khususnya yang mengandung sediaan yang terdiri
dari air terhadap serangan mikroba.

Keuntungan dari sediaan sirup parasetamol


1. Cocok untuk pasien yang sulit menelan obat dengan sediaan padat, contohnya : tablet,
pil, kaplet.
2. Sesuai untuk bahan yang bersifat higroskopis atau deliquescent.
3. Memiliki warna dan aroma yang lebi acceptable atau lebih disukai dan dapat diterima.

Kerugian sediaan larutan parasetamol


1. Tidak semua bahan tertututpi rasa dan baunya
2. Beberapa bahan obat atau bahan obat tidak stabil jika dilarutkan sehingga terjadi
inkompatibilitas.
3. Dapat terjadi caplocking.
4. Tidak bisa untuk bahan obat yang tidak larut air yang biasanya dibuat dalam bentuk
sediaan eliksier kurang disukai karena mengandung alkohol dengan kadarnya kurang
bisa diterima konsumen.

III. EVALUASI PRODUK REFEREN

a. Alphamol (Sumber : ISO 2016, halaman 2)


 Nama Dagang : Alphamol
 Pabrik : Molex Ayus
 Kandungan : Parasetamol 100 mg/ml. Sirup : Parasetamol 120 mg / 5 ml
 Indikasi : Menurunkan panas, menghilangkan rasa sakit.
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping :Mual, muntah, diare, penggunaan dosis besar dapat
menyebabkan kerusakan hati.
 Perhatian : Ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat,
ganggguan fungsi hati dan ginjal.
 Interaksi Obat : Metoclopramide, Carbamazepin, Fenobarbital, Fenitoin.
 Dosis :- Anak < dari 1 tahun : 3-4 x sehari 2,5 ml

5
- Anak 1-3 tahun : 3-4 x sehari 2,5 ml
- Anak 3-6 tahun : 3-4 x sehari 5 ml
- Anak 6-12 tahun : 3-4 x sehari 5-10 ml
- Di atas 12 tahun : 3-4 x sehari 15-20 ml

b. Emturnas (Sumber : ISO 2016, halaman 14)


 Nama Dagang : Emturnas
 Pabrik : First Medipharma
 Kandungan : Parasetamol 120 mg / 5 ml
 Indikasi : Analgesik dan antipiretik, menurunkan panas atau demam,
nyeri,sakit kepala, dan sakit gigi.
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Kerusakan hati, mual, muntah, diare, pendarahan lambung,
kerusakan ginjal.
 Perhatian : Ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat,
ganggguan fungsi hati dan ginjal, asma.
 Interaksi Obat : Warfarin, Metoclopramide, Fenobarbital
 Dosis :- Anak 1-3 tahun : 3-4 x sehari 5 ml
- Anak 4-5 tahun : 3-4 x sehari 10 ml
- Anak 6-12 tahun : maksimum sehari 5 x atau 3-4 x sehari
5-10 ml.

c. Fevrin (Sumber : ISO 2016, halaman 16)


 Nama Dagang : Fevrin
 Pabrik : Armoxindo Farma
 Kandungan : Parasetamol 120 mg / 5 ml syrup Parasetamol 60 mg / 0,6 ml
 Indikasi : Sakit gigi, menurunkan demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri
pada saraf
 Kontra Indikasi : Hipersensitif, nefropati
 Efek Samping : Kerusakan ginjal, mual, muntah, pendarahan lambung,
kerusakan hati.
 Perhatian : Ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat,
ganggguan fungsi hati dan ginjal.
6
 Interaksi Obat : Barbiturat, Alkohol, Kloramfenikol, Obat Hepatotoksik
 Dosis :- Anak < dari 1 tahun : 3-4 x sehari 2,5 ml
- Anak 1-3 tahun : 3-4 x sehari 2,5 – 5 ml
- Anak 3-6 tahun : 3-4 x sehari 5 ml
- Anak 6-12 tahun : 3-4 x sehari 5-10 ml
d. Hufagesic (Sumber : ISO 2016, halaman 19)
 Nama Dagang : Hufagesic
 Pabrik : Gratia Husada Farma
 Kandungan : Parasetamol 120 mg / 5 ml
 Indikasi : Sakit gigi, menurunkan demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri
pada saraf, nyeri sendi dismenore, selesma, osteoartitis.
 Kontra Indikasi : Gangguan fungsi hati, hipersensitif
 Efek Samping : Perubahan hematologikal, alergi kulit, kerusakan hati.
 Perhatian : Gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat, asma.
 Interaksi Obat : Aspirin, Kloramfenikol, Fenobarbital, Anti-Koagulan oral.
 Dosis :- Anak 1 tahun : 4x sehari ½ sendok teh
- Anak 3-5 tahun : 3-4 x sehari 1 sendok teh
- Anak 6-12 tahun : 3-4 x sehari 2 sendok teh

e. Itamol (Sumber : ISO 2016, halaman 21)


 Nama Dagang : Itamol
 Pabrik : Berlico Mulia Farma
 Kandungan : Parasetamol 120 mg / 5 ml
 Indikasi : Menurunkan demam, setelah vaksinasi : meringankan rasa
sakit pada otot, sakit kepala, sakit gigi dan dismenore.
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Kerusakan hati.
 Perhatian : Ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat,
asma
 Interaksi Obat : Barbiturat, Alkohol, Kloramfenikol, Obat Hepatotoksik
 Dosis :- Anak 0-1 tahun : 3-4 x sehari ½ sendok teh
- Anak 1-2 tahun : 3-4 x sehari 1 sendok teh
- Anak 2-6 tahun : 3-4 x sehari 1-2 sendok teh
7
- Anak 6-9 tahun : 3-4 x sehari 2 sendok teh
- Anak 9-12 tahun : 3-4 x sehari 3-4 sendok teh
- Dewasa : 3-4 x sehari 3-4 sendok teh

f. Nufadol (Sumber : ISO 2016, halaman 33)


 Nama Dagang : Nufadol
 Pabrik : Nufarindo
 Kandungan : Parasetamol 120 mg / 5 ml
 Indikasi : Meringankan nyeri seperti nyeri otot dan sendi, sakit gigi,
sakit kepala, demam.
 Kontra Indikasi : Hipersensitif, kerusakan hati.
 Efek Samping : Kerusakan hati.
 Perhatian : Gangguan ginjal
 Interaksi Obat : Ketoconazole, Leflunomide, Prilocaine, Teriflunomide.
 Dosis :- Anak < dari 1 tahun : 3-4 x sehari 2,5 ml
- Anak 1-3 tahun : 3-4 x sehari 2,5 – 5 ml
- Anak 3-6 tahun : 3-4 x sehari 5 ml
- Anak 6-12 tahun : 3-4 x sehari 10 ml

g. Ottopan (Sumber : ISO 2016, halaman 35)


 Nama Dagang : Ottopan
 Pabrik : Otto
 Kandungan : Parasetamol 120 mg / 5 ml
 Indikasi : Demam, sakit gigi, sakit kepala, artritis, reumatik.
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Kerusakan hati, mual, muntah, asma, gangguan ginjal,
pendarahan lambung.
 Perhatian : Gangguan ginjal dan hati.
 Pemberian Obat : Dengan makanan
 Dosis :- Anak < dari 1 tahun : 3-4 x sehari 2,5 ml
- Anak 1-2 tahun : 3-4 x sehari 5 ml
- Anak 2-6 tahun : 3-4 x sehari 10 ml
8
- Anak 6-9 tahun : 3-4 x sehari 10 - 15 ml
- Anak 9-12 tahun : 3-4 x sehari 15 – 20 ml

h. Piosfen Sirup (Sumber : ISO 2016, halaman 38)


 Nama Dagang : Piosfen Sirup
 Pabrik : Kalbe Farma
 Kandungan : Parasetamol 120 mg / 5 ml
 Indikasi : Meredakan nyeri, sakit kepala, sakit gigi, demam.
 Kontra Indikasi :Pasien dengan gangguan fungsi hati derajat berat, hipersensitif.
 Efek Samping : Kerusakan hati, asma, mual, muntah, diare.
 Perhatian : Diberiakn hati-hati pada pasien dengan ganggguan fungsi
ginjal.
 Dosis :- Anak 0-1 tahun : 3-4 x sehari 2,5 ml
- Anak > 1-2 tahun : 3-4 x sehari 5 ml
- Anak > 2-6 tahun : 3-4 x sehari 5 - 10 ml
- Anak > 6-9 tahun : 3-4 x sehari 10 ml
- Anak > 9-12 tahun : 3-4 x sehari 15-20 ml

i. Samconal (Sumber : ISO 2016, halaman 46)


 Nama Dagang : Samconal
 Pabrik : Samco Farma
 Kandungan : Parasetamol 120 mg / 5 ml
 Indikasi : Sakit kepala, sakit gigi, demam.
 Kontra Indikasi : Hipersensitif, kerusakan hati.
 Efek Samping : Kerusakan hatidan reaksi hipersensitif.
 Perhatian : Ganggguan ginjal, meningkatkan fungsi hati.
 Dosis :- Anak < dari 1 tahun : 3-4 x sehari 2,5 ml
- Anak 1-3 tahun : 3-4 x sehari 2,5 ml
- Anak 3-6 tahun : 3-4 x sehari 5 ml
- Anak 6-12 tahun : 3-4 x sehari 5 - 10 ml
- Anak > 12 tahun : 3-4 x sehari15 – 20 ml

9
j. Progesic (Sumber : ISO 2016, halaman 41)
 Nama Dagang : Progesic
 Pabrik : Metiska Farma
 Kandungan : Parasetamol 120 mg / 5 ml
 Indikasi : Sakit kepala, sakit gigi, demam, analgesik dan antipiretik.
 Kontra Indikasi : Hipersensitif, kerusakan hati.
 Efek Samping : Kerusakan hati padapenggunaan jangka pnjang.
 Perhatian : Ganggguan hati dan ginjal.
 Dosis :- Anak 1-6 tahun : 3-4 x sehari ½ - 1 sendok teh
- Anak 6-12 tahun : 3-4 x sehari 1 - 2 sendok teh
- Dewasa : 1 sendok teh

IV. STUDI PRAFORMULASI BAHAN AKTIF

a) Bahan aktif yang digunakan : Parasetamol


Parasetamol memiliki beberapa nama lain yaitu asetaminofen, -4-Hidroksi Asetanilida.

Struktur Parasetamol :

Rumus Struktur Parasetamol : C8H9NO2

Titik Leleh Parasetamol : 168ºC – 172ºC

Kelarutan Parasetamol : Larut dalam 70 bagian air, 7 bagian etanol (95%)P, dalam
aseton P, dalam 40 bagian Gliserol P, larut dalam larutan alkali
hidroksida (Drijen POM 1979)

10
Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1N, mudah larut dalam
etanol (FI V)

Pemerian : Serbuk Hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit (FI V)

BM(berat molekul) : 151,16

pH : 4-7 pada suhu 25º

Stabilitas : Stabil dalam larutan air, stabilitas maksimal terjadi pada pH


sekitar 6, tidak stabil pada pH aam / Basa (connoss,1986)

Parasetamol tunggal stabil pada suhu mencapai 45º dan relatif


stabil terhadap oksidasi. Parsetamol dapat menyerap sejumlah
uap air pada suhu 25ºC dan memiliki tingkat kelembaban
mencapai 90%. Apabila terpapar atau terkena kondisi lembab,
parasetamol akan terhidrolisis menjadi P-aminofenol dan asam
asetat. P-aminofenol dapat terdegradasi akibat oksidasi menjadi
quinonimin dan berubah warna menjadi pink, coklat, atau
hitam. (koshy dan lanch 1961 :117)

Titik Leleh : 168ºC- 172ºC

Efek Utama : Analgesik dan Antipiretik

Cara kerja Parasetamol :Parasetamol memiliki efek analgesik dan antipiretik, namun
lebih kuat di antipiretiknya. Parasetamol termsuk golongan
NSAID (Non Steroid Anti Inflamation Drug), namun efek anti
inflamasinya yang dimiliki parasetamol sangat lemah.
Parasetamol bekerja menghambat enzim siklooksigenase (COX
2), sehingga mediator nyeri dapat teratasi, parsetamol berkerja
sekelektif dengan menghambat salah satu enzim COX 2.
Parasetamol tidak menyebabkan lambung kehilangan cairan
mukosanya yang menyebabkan iritasi karena parasetamol
berkerjanya selektif pada salah satu enzim COX. Selain itu
parasetamol tidak memiliki efek pada penyakit kardiovaskuler,
keseimbangan asam basa, pembekuan darah atau sistem platele.
Parasetamol memiliki efek analgesik dari rendah hingga sedang
11
Parasetamol mudah diserap melalui saluran pencernaan dan
distribusikan ke seluruh tubu. Ikatan protein plasma dapat
diabaikan pada konsentrasi terapi terapetik normal, namun
dapat meningkat dengan adanya peningkatan konsentrasi. Kadar
maksimum parasetamol dalam darah dapat dicapai dalam waktu
30 menit. Setelah itu parsetamol akan di metabolisme di dalam
hati dan diekskresikan melalui urine sebagai glokoronida dan
konjugat sulfat dan sebanyak kurang dari 5% akan
diekskresikan dalam bentuk parasetamol. Sebuah metabolit
dihidroksilasi kecil biasanya di produksi dalam jumlah kecil di
sitokrom P-450 (CYP2EI DAN CYP3A4) di hati dan di ginjal.
Hal ini di detoksifikasi dan dikonjugasi dengan glukation tetapi
mungkin terjadi penumpukan

Efek Samping : penggunaan parasetamol jangka panjang dapat menyebabkan


kerusakan hati (hepatotoksik) karena sebagian parasetamol
dimetabolisme di hati.

Studi Praformulasi Bahan Aktif

No Bahan Efek Efek Karakteristik Karakteristik Sifat lain


Aktif Utama Samping Fisik Kimia

1 Parasetamol Analgesik, Reaksi Putih atau Larut dalam Simpan


Anti Hematologis, hampir putih, 70 bagian air, dalam
Inflamasi, trobositopeni kristal bubuk 7 bagian wadah
Antipiretik a, leukopenia, berupa etanol tertutup
pensitopenia, kristalin yang (95%)P, baik,
neutropenia tidak berbau dalam aseton terlindun
dan dan rasa P, dalam 40 g dari
agruiositosis, pahit. bagian cahaya ,
secara umum Gliserol P, suhu
: kulit ruam larut dalam lebur
dan heaksi larutan alkali 169ºC
hiper dalam hidroksida sampai
12
jangka (Drijen POM suhu
panjang 1979) 172ºC
menyebabkan Larut dalam mengand
kerusakan air mendidih ung tidak
hati. dan dalam kurang
natrium dari 98%
hidroksida dan tidak
1N, mudah lebih dari
larut dalam 101%
etanol (FI V) parasetam
ol
2 Ibuprofen Analgesik, Pendarahan Putih/ hampir Praktis, tidak Simpan
anti intraventrikul putih, larut dalam dalam
inflamasi ar, kristalin air, alkohol, kedap
dan leukomalasia, bubuk atau aseton dan udara
antipiretik. bronkopulno kristal tidak metil alkohol,
mer, berwarna. larut dalam
pendarahan larutan encer
paru, alkali
hipoksimia, hidroksida
oliguria, dan karbonat.
retensi
cairan,
hematuria,
perforasi dan
pendarahan
gastrointestin
al, gejala
mual dan
muntah

13
3 Aspirin Analgesik, Gastrointesti Putih atau larut dalam Simpan
anti nal, iritasi hampir putih, air, bebas dalam
inflamasi mukosa bubuk kristal, larut dalam wadah
dan lambung, kristal tidak alkohol, kedap
antipiretik ulserasi, berwarna, stabil di udara
hematemesis berbentuk udara kering,
dan malena, seperti jarum, di lembab
tukak peptik, tidak berbau dapat
dan atau berbau terhidrolisis
pendarahan samar menjadi
gastrointestin salisilat dan
al asam asteat.
Larut dalam
300 bagian
air, 5 bagian
alkohol dan
17 bagian
kloroform
dan 10-15
bagian eter,
sedikit larut
di eter
absolut

Alasan memilih bahan aktif Parasetamol.

Bahan aktif yang dipilih adalah parasetamol karena bahan aktif ini memiliki efek
samping yang sedikit dibandingkan ibuprofen dan aspirin. Parasetamol juga dapat
diabsorbsi di saluran cerna dan berkerja secara selektif

Menurut WHO parasetamol merupakan derivat sintetik dari P-aminofenol yang


berperan dalam obat analgesik dan antipiretik`

14
Dosis dan Perhitungannya :
Dosis parasetamol pada anak-anak = 20mg/kg BB selama 6 jam.
Dalam formula dibuat kandungannya setiap 5 ml syrup mengandung 120 mg
Parasetamol.
Usia Berat Badan (kg) Dosis 1× (mg) Takaran (5 ml)
1,0 8,1 162
5 ml = 1 sendok teh
2,0 9,6 192
3,0 11,4 228
4,0 13,0 260
5,0 14,4 288
10 ml = 2 sendok teh
6,0 15,8 316
6,6 16,6 332
7,6 18,9 378
8,6 20,9 418
9,6 22,0 440
15 ml = 3 sendok teh
10,6 23,9 478
11,6 26,9 538
12,6 29,1 582
13,6 33,0 660
20 ml = 4 sendok teh
14,6 40,0 800
15,6 42,3 846

1 tahun, BB = 8,1 kg
Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 8,1 kg = 162 mg
2 tahun, BB = 9,6 kg
Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 9,6 kg = 192 mg

3 tahun, BB = 11,4 kg
Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 11,4 kg = 228 mg

4 tahun, BB = 13 kg
Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 13 kg = 260 mg

15
5 tahun, BB = 14,4 kg
Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 14,4 kg = 288 mg

6 tahun, BB = 15,8 kg
Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 15,8 kg = 316 mg

6,6 tahun, BB = 16,6 kg


Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 16,6 kg = 332 mg

7,6 tahun, BB = 18,9 kg


Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 18,9 kg = 378 mg

8,6 tahun, BB = 20,9 kg


Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 20,9 kg = 418 mg

9,6 tahun, BB = 22,0 kg


Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 22,0 kg = 440 mg

10,6 tahun, BB = 23,9 kg


Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 23,9 kg = 478 mg

11,6 tahun, BB = 26,9 kg


Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 26,9 kg = 538 mg

12,6 tahun, BB = 29,1 kg


Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 29,1 kg = 582 mg
13,6 tahun, BB = 33,0 kg
Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 33,0 kg = 660 mg

14,6 tahun, BB = 40,0 kg


Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 40,0 kg = 800 mg

16
15,6 tahun, BB = 42,3 kg
Dosis 1× = 20 mg/kg BB × 42,3 kg = 846 mg

V. JENIS DAN CONTOH BAHAN TAMBAHAN DALAM FORMULA

1. Propilen Glikol (Sumber: FI V, halaman 1070)

 Kelarutan : Larut dalam pelarut campur dari aseton, kloroform, etanol 95 %, gliserin
dan air. Larut dalam eter, tidak larut dalam minyak mineral esensial.
 Stabilitas : Stabil pada suhu rendah, mudah teroksidasi pada suhu tinggi dan tempat
terbuka.
 Inkompatibilitas : Inkompitabel dengan reagen penoksidasi seperti kalium per
manganate.
 pH : -
 Konsentrasi : 10 %
 Penggunaan : Digunakan untuk pemuatan resin sintetik, sebagai plasticizer; surface-
active agent; antifreeze; pelarut; agen pengemulsi; disinfektan; agen higroskopik;
bahan pendingin dalam sistem pendingin; bahan tambahan pangan; digunakan dalam
produk farmasi; minyak rem. Komponen dalam cellophane. Humektan; skin
conditioring; agen pengontrol vis kositas.
 Frasa risiko, frasa keamanan dan tingkat bahaya
 Peringkat NFPA skala 0-4
 Kesehatan 0 = tingkat keparahan
 Kesehatan 1 = Dapat terbakar
 Reaktivitas 0 = Tidak reaktif
 Klasifikasi EC
 R 21/22 =Berbahaya bila kontak dengan kulit dan tertelan
 SO2 = Jauhkan dari jangkauan anak-anak
 S24/25 = Hindari/ cegah persinggungan/ kontak dengan kulitdan mata

17
 Identifikasi Bahaya
 Resiko utama dan sasaran organ
 Bahaya utama terhadap kesehatan. Dapat menyebabkan iritasi pada
mata, kulit dan saluran pernapasan.
 Organ sasaran : sistem saraf pusat.
 Rute paparan
 Paparan jangka pendek
Terhirup  Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan
Kontak dengan kulit  Dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Kontak
dengan kulit dapat menyebabkan eritema, kering dan hilangnya lapuran
lemak
Kontak dengan mata  Dapat menyebabkan iritasi, keluar air mata dan
rasa panas
Tertelan  Dapat menyebabkan iritasi pada asstrointestinal disertai
mual, muntah dan diare
 Jangka panjang
Terhirup  Dapat berefek pada perilaku/sistem saraf pusat dan limpa
Kontak dengan kulit  Sedikit berbahaya bila kontak dengan kulit.
Tertelan  Dapat menyebabkan laktat asidosis dan kemungkinan
kejang.
 Alasan  Propilen glikol merupakan coselvent yang dapat digunakan untuk
melarutkan parasetamol, kelarutan propilenglikol adalah 1 % sehingga dapat
digunakan untuk membantu pelarutan paracetamol dan juga pelarut yang baik untuk
niagin dan nipasol, dan menurut Farmakope Indonesia, menggunakan parasetamol
karena larut dalam 9 bagian proplilen glikol.
2. Sukrosa (Sumber: Rowe, 2009)
Sukrosa adalah gula yang berasal dari Sugar Care, sugar beet, dan sumber
lainnya. Sukrosa tidak mengandung senyawa tambahan. Sukrosa merupakan kristal
tidak berwarna, berupa serbuk, tidak berbau dan mempunyai rasa manis.
 Kegunaan
Use Concentration
Syrup for oral liquid formulations 67
Sweetening agent 67

18
Tablet binder dry granulation 2-20
Tablet binder dry granulation 50 – 67
Table Coating syrup 50 – 67

 Struktur Kimia

 Kelarutan
Solvent Solubility at 20 C unless otherwise stated
Chloroform Practically insoluble
Ethanol 1 in 400
Ethanol 95 % 1 in 170
Propan – 2 – ol 1in 400
Water 1 in 0,5
1 in 0,2 or 100 C

 Stabilitas
Sukrosa memiliki stabilitas yang baik pada suhu ruangan dan pada kelembapan
tertentu. Dapat mengabsorbsi 1% kelembapan, ketika mencapai panas 90°. Larutannya
dapat disterilkan dengan autoklaf atau filtrasi. Sebaiknya disimpan ditempat dingin
dan kering.
 Keamanan
LDso (mouse/IP) = 14 gr/kg BB
LDso (rat/oral) = 29,7 gr/kg BB
 Alasan  Karena dalam formula digunakan dapar sitrat. Dapar sitrat memiliki rasa
asam. Sehingga digunakan atau ditambahkan sukrosa sehingga daa menutupi rasa

19
asam, sukrosa akan meningkatkan viskositas sediaan sehingga memberikan rasa enak
di mulut.
3. Sodium sakarin ( Sumber = Rawe 2009)
 Struktur Kimia

+ 2𝐻2 𝑂 76 % Sodium Sakarin

+ 2/3𝐻2 𝑂 84 % Sodium Sakarin

 Deskripsi  Putih, tidak berbau, serbuk kristal, memiliki rasa manis yang intensif
tapi menimbulkan rasa pahit di akhir.
Solven Solubility at 20°canless alherwise stated
- Buffer Salutions :
Ph 2,2 (Phthalate ) 1 in 1,15
1 in 0,66 at 60°C
PH 4,0 (Citrate-Phosphate) 1 in 1,21
1 in 0,69 at 60°C
PH 7,0 (Citrate-Phosphate) 1 in 1,21
1 in 0,66 at 60°C
PH 9,0 (Borate ) 1 in 1,21
1 in 0,69 at 60°C
- Ethanol 1 in 102
- Ethanol (95%) 1 in 50
- Propylene Glycol 1 in 3,5
- Propan Propan 2,01 Practically insoluble
- Water 1 in 0,2
 Kegunaan  Pemanis buatan
 Stabilitas dan kondisi penyimpanan
Stabil pada kondisi normal ketika formulasi, jika terlepas pada temperature
tinggi (125°C) dan PH rendah (PH 2) lebih dari satu jam dapat menyebabkan

20
dekomposisi yang signifikan. Sebaiknya disimpan pada suhu ruangan kedap udara dan
kering.
 Keamanan
Acceptable Daily Intake = WHO 2,5 mg/kg BB, the Comitte on Taxi City of
Chemical in Food, consumers product, and the Envirenment (COT) = 5mg/kg BB
 Alasan  Karena sodium sakarin 300 kali lebih manis dibanding sukrosa dan
harganya murah dan sakarin tidak stabil pada pH rendah. Sedangkan parasetamol pH
nya rendah. Jika tidak bisa menggunakan 2 pemanis yaitu sukrosa dan sakarin supaya
dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.
4. Sorbitol 70% (Sumber = Rawe, 2009)

 Pemerian  Serbuk, butiran atau kepingan, putih, rasa manis, dan higroskopik.
 Kelarutan  sangat mudah larut dalam air, suka larut dalam etanol 95% P, dalam
methanol P dan dalam asetat.
 Penyimpanan  Dalam Wadah Tertutup.
 Titik leleh  Tidak lebih dari 0,1 %
 OTT/ inkomtabilitas  Sorbitol akan membentuk kelat yang larut dalam air dengan
divalene dan ion logam bervalensi dalam kondisi asam kuat dan basa. Penambahan
prophylenglikol cair untuk sorbitol solusi dengan agitasi kuat menghasilkan lili larut
dalam air gel dengan titik leleh 35°-40° C. sorbitol solusi juga bereaksi dengan zat
besi oksidasi menjadi berubah warna. Sorbitol meningkatkan laju degradasi penisilin
di netral dan larutan air.
 Bobot jenis  180,21 gr/mol
 pH larutan  4,5-7
 Kegunaan  Anti caplacting
 Alasan  Sorbitol 70% karena untuk mencegah kristalisasi gula dalam botol.
5. Nipagin ( Pengawet fase air) (Sumber : Rawe, 2009)

21
Nipagin merupakan kristal tidak berwarna atau serbuk kristal berwarna putih;
tidak berbau atau hampir tidak berbau atau hampir dan sedikit mempunya rasa panas.
 Kelarutan  Larut dalam 5 bagian propilenglikol ; 3 bagian etanol 95% ; 60 bagian
gluverin dan 400 bagian air.
 Stabilitas  Larutan metilparaben pada PH 3-6 dapat disterilkan dengan autoklaf
pada suhu 120°C selama 20 menit tanpa penguraian. Larutan ini stabil selama kurang
lebih 4 tahun dalam suhu kamar, sedangkan pada PH 8 atau leniih dapat meningkatkan
laju hidrolisis.
 Inkompatibiltas  Aktivitas antimikroba dan metil paraben atau golongan paraben
yang lain sangat dapat mengurangi efektivitas dari surfaktan non ionik, seperti
polisorbate 80. Tetapi adanya propilenglikol 10% menunjukkan peningkatan potensi
aktifitas antibakteri dari paraben, sehingga dapat mencegah interaksi antara metil
paraben dan polysorbate. Inkompatibilitas trisilicate, talc, tragocanth, sodium alginate,
essential oils, sorbitol, dan atsapine.
 Alasan  Npagin dipilih dalam formulasi ini karena npagin meningkatkan stabilitas
sediaan oksigen dengan mecegah timbulnya kontaminasi mikrobanisme.
 Kegunaan  Sebagai pengawet (anti jamur ) 0,02-0,3%

6. Nipasol (pengawet fase minyak) (Sumber F1 V, halaman 1072)

 Pemerian  serbuk atau hablur kecil dan tidak berwarna.


 Kelarutan  Sangat suka larut dalam air, suka larut dalam air mendidih, mudah larut
dalam etanol dan dalam eter.
 BM  180,20
 pH  4-8
22
 Nipasol efektif pada kadar  0,1-0,2% (bila digunakan tunggal)
 Titik leleh  95-98°
 Inkompatibilitas  Aktifitas menurun dengan adanya sufaktan non ionic,
magnesium aluminium silikat, magnesium trisilikat, yellow iron orid, ultramasina
blue.
 Kegunaan  Sebagai pengawet (antibakteri ) 0,02-0,6%
 Alasan  Nipasol dipilih karena sebagai bahan pengawet bila dkombinasikan dengan
nipagin akan memberikan fungsi sebagai antimikroba yang optimal. Nipagin dan
nipasol merupakan antimikroba spektrum luas dan dapat bekerja pada rentang pH
yang luas. Kombinasi dari keduanya dapat dapat meningkatkan efektivitas
antimikrobanya. Nipagin dan nipasol lebih aman, non mutagenik, non tetragonik dan
non karsinogenik.
7. Strawberru Essen (Rawe, 2009)
 Pemerian  Cairan kental, warna merah dan berbau strawberry.
 Alasan  Sediaan sirup perlu diberi perasa agar bau dan rasa pahit parasetamol dapat
ditutupi, memberi daya tarik tersendiri bagi orang pasien yang ingin
mengkonsumsinya, selain itu di pilih perasa strawberry karena merupakan rasa favorit
anak-anak.
8. Aquadest (F1 III, halaman 96)

 Pemerian  Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
 Kelarutan  Bercampur dengan hamper semua pelarut polar.
 Penyimpanan  Dalam wadah tertutup baik
 Titik leleh dan titik didih  0°-100°C.
 OTT/ kompatibilitas  Dalam formulasi farmasetika, air dapat bereaksi dengan obat
dan bahan lain yang dapat menghasilkan hidrolisis. Air dapat bereaksi kuat dengan
logam alkali dan cepat dengan logam alkali tanah dan oksidasinya seperti kalsium
oksidasi atau magnesium oksidasi. Air juga bereaksi dengan garam antidrat
membentuk organik dan kalsium karbid.
 Alasan  Aquadest merupakan pelarut universial yang hamper dapat melarutkan
segala macam bahan, tidak toksik, aman dan cenderung compatible dengan pelarut-
pelarut lain.

23
9. Dapar Sitrat (Rawe, 2009)
 Kegunaan  - Untuk larutan dapar.
- Mampu menetralkan penambahan asam maupun basa dari luar.
 Alasan  Parasetamol memiliki range pH yang dapat dikatakan sempit yaitu pH 3,8–
6,1. Penambahan komponen lain dapat mempengaruhi stabilitas pH zat aktif maka
untuk untuk menjaganya diperlukan penambahan zat pendapar.

VI. SUSUNAN FORMULA DAN KOMPOSISI BAHAN YANG DIRENCANAKAN


Tabel 2. Rancangan Formula per Satuan Kemasan (60 ml) dan per Batch (500 ml)
Jumlah
No. Bahan Fungsi Persentase Rentang
per 60 ml Per 500 ml
1. Parasetamol Bahan aktif 1,44 g 12 g 2,4 %
2. Propilen glikol Kosolven 14,4 ml 120 ml 24 % 10 - 25 %
Pemanis &
3. Sukrosa 22,2 g 185 g 37 % < 67 %
Pengental
Pemanis 0,05 – 0,25
4. Sodium sakarin 0,06 g 0,5 g 0,1 %
Buatan %
Anti
5. Sorbitol 70 % 9 ml 75 ml 15 % 15 - 30%
caplocking
0,015 – 0,2
6. Nipagin Pengawet 0,108 g 0,9 g 0,18 %
%
0,01 – 0,02
7. Nipasol Pengawet 0,012 g 0,1 g 0,02 %
%
Pelarut
8. Air panas 100oC 6 ml 50 ml 10 %
Sukrosa
Strawberry Flavouring
9. qs qs
essen agent
Larutan
10. Dapar Sitrat 3 ml 25 ml 5%
dapar
11. Aquadest Pelarut ad 60 ml ad 500 ml

24
Perhitungan Kelarutan Bahan
 Parasetamol
1 bagian dalam 9 bagian propilen glikol
1 𝑔𝑟𝑎𝑚 1,44 gram
× → x = 12,96 ml (untuk mekasan 60 ml)
9 𝑚𝑙 𝑥

 Sukrosa
1 bagian dalam 0,2 bagian air panas 100oC
1 𝑔𝑟𝑎𝑚 22,2 gram
× → x = 4,44 ml (untuk mekasan 60 ml)
0,2 𝑚𝑙 𝑥
 Sodium sakarin
1 bagian dalam 1,2 bagian air
1 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,06 gram
× → x = 0,072 ml (untuk mekasan 60 ml)
1,2 𝑚𝑙 𝑥

 Nipagin
1 bagian dalam 5 bagian propilen glikol
1 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,108 gram
× → x = 0,54 ml (untuk mekasan 60 ml)
5 𝑚𝑙 𝑥

 Nipasol
1 bagian dalam 3,9 bagian propilen glikol
1 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,012 gram
× → x = 0,0468 ml (untuk mekasan 60 ml)
3,9 𝑚𝑙 𝑥

Perhitungan ADI untuk bahan tambahan :


1. Propilen glikol (ADI = 25 mg/kg BB, ρ = 1,038 g/ml)
1 - 2 tahun = (8,1 – 9,6) kg × 25 mg/kg = (202,5 – 240) mg
3 - 7 tahun = (11,4 – 18,9) kg × 25 mg/kg = (285 – 472,5) mg
8 - 10 tahun = (20,9 – 23,9) kg × 25 mg/kg = (522,5 – 597,5) mg
11 - 15 tahun = (26,9 – 42,3) kg × 25 mg/kg = (672,5 – 1057,5) mg
Propilen glikol yang digunakan 14,4 ml untuk kemasan 60 ml, maka :
m = v ×ρ
= 14,4 ml × 1,038 g/ml
= 14,9472 g
25
= 14947,2 mg (dalam 60 ml larutan)
1 - 2 tahun = 1 sdt = (5 ml/60 ml × 14947,2 mg) × 3 = 3736,8 mg (>ADI)
3 - 7 tahun = 2 sdt = (10 ml/60 ml × 14947,2 mg) × 3 = 7473,6 mg (>ADI)
8 - 10 tahun = 3 sdt = (15 ml/60 ml × 14947,2 mg) × 3 = 11210,4 mg (>ADI)
11 - 15 tahun = 4 sdt = (20 ml/60 ml × 14947,2 mg) × 3 = 14947,2 mg (>ADI)

2. Sukrosa (ADI = 11 mg/kg BB)


1 - 2 tahun = (8,1 – 9,6) kg × 11 mg/kg = (89,1 – 105,6) mg
3 - 7 tahun = (11,4 – 18,9) kg × 11 mg/kg = (125,4 – 207,9) mg
8 - 10 tahun = (20,9 – 23,9) kg × 11 mg/kg = (229,9 – 262,9) mg
11 - 15 tahun = (26,9 – 42,3) kg × 11 mg/kg = (295,9 – 465,3) mg
Sukrosa yang digunakan 22,2 gram untuk kemasan 60 ml, maka :
1 - 2 tahun = 1 sdt = (5 ml/60 ml × 22200 mg) × 3 = 5550 mg (>ADI)
3 - 7 tahun = 2 sdt = (10 ml/60 ml × 22200 mg) × 3 = 11100 mg (>ADI)
8 - 10 tahun = 3 sdt = (15 ml/60 ml × 22200 mg) × 3 = 16650 mg (>ADI)
11 - 15 tahun = 4 sdt = (20 ml/60 ml × 22200 mg) × 3 = 22200 mg (>ADI)

3. Sodium sakarin (ADI = 0 – 5 mg/kg BB)


1 - 2 tahun = (8,1 – 9,6) kg × 5 mg/kg = (40,5 – 48) mg
3 - 7 tahun = (11,4 – 18,9) kg × 5 mg/kg = (57 – 94,7) mg
8 - 10 tahun = (20,9 – 23,9) kg × 5 mg/kg = (104,5 – 119,5) mg
11 - 15 tahun = (26,9 – 42,3) kg × 5 mg/kg = (134,5 – 211,5) mg
Sodium sakarin yang digunakan 0,06 gram untuk kemasan 60 ml, maka :
1 - 2 tahun = 1 sdt = (5 ml/60 ml × 60 mg) × 3 = 15 mg (<ADI)
3 - 7 tahun = 2 sdt = (10 ml/60 ml × 60 mg) × 3 = 30 mg (<ADI)
8 - 10 tahun = 3 sdt = (15 ml/60 ml × 60 mg) × 3 = 45 mg (<ADI)
11 - 15 tahun = 4 sdt = (20 ml/60 ml × 60 mg) × 3 = 60 mg (<ADI)

4. Nipagin (ADI = 10 mg/kg BB)


1 - 2 tahun = (8,1 – 9,6) kg × 10 mg/kg = (81 – 96) mg
3 - 7 tahun = (11,4 – 18,9) kg × 10 mg/kg = (114 – 189) mg
8 - 10 tahun = (20,9 – 23,9) kg × 10 mg/kg = (209 – 239) mg
11 - 15 tahun = (26,9 – 42,3) kg × 10 mg/kg = (269 – 423) mg

26
Nipagin yang digunakan 108 mg untuk kemasan 60 ml, maka :
1 - 2 tahun = 1 sdt = (5 ml/60 ml × 108 mg) × 3 = 27 mg (<ADI)
3 - 7 tahun = 2 sdt = (10 ml/60 ml × 108 mg) × 3 = 54 mg (<ADI)
8 - 10 tahun = 3 sdt = (15 ml/60 ml × 108 mg) × 3 = 81 mg (<ADI)
11 - 15 tahun = 4 sdt = (20 ml/60 ml × 108 mg) × 3 = 108 mg (<ADI)

5. Nipasol (ADI = 10 mg/kg BB)


1 - 2 tahun = (8,1 – 9,6) kg × 10 mg/kg = (81 – 96) mg
3 - 7 tahun = (11,4 – 18,9) kg × 10 mg/kg = (114 – 189) mg
8 - 10 tahun = (20,9 – 23,9) kg × 10 mg/kg = (209 – 239) mg
11 - 15 tahun = (26,9 – 42,3) kg × 10 mg/kg = (269 – 423) mg
Nipasol yang digunakan 12 mg untuk kemasan 60 ml, maka :
1 - 2 tahun = 1 sdt = (5 ml/60 ml × 12 mg) × 3 = 3 mg (<ADI)
3 - 7 tahun = 2 sdt = (10 ml/60 ml × 12 mg) × 3 = 6mg (<ADI)
8 - 10 tahun = 3 sdt = (15 ml/60 ml × 12 mg) × 3 = 9 mg (<ADI)
11 - 15 tahun = 4 sdt = (20 ml/60 ml × 12 mg) × 3 = 12 mg (<ADI)

6. Sorbitol
ADI tidak dinyatakan ( no ADI allocated)
Perhitungan Pebuatan Dapar Sitrat
Dapar sitrat berfungsi untuk mempertahankan pH sediaan dengan penambahan sedikit
asam dan basa, pH yang digunakan adalah pH 6,0 dengan kapasitas dapar 0,01
sebanyak 25 ml.
pKa sitrat : pKa1 = 3,18
pKa2 = 4,78
pKa3 = 6,40 (yang digunakan, karena paling mendekati nilai pH)

[G]
pH = pKa + log [A] pKa = - log Ka pH = - log [H+]
[G]
6,0 = 6,40 + log [A] 6,40 = - log Ka 6,0 = - log [H+]
[G]
-0,4 = log [A] Ka = 3,981 × 10-7 [H+] = 1 × 10-6
[G]
= 0,3981
[A]

[G] = 0,3938 [A]


27
2,303 × Ka × [H + ] × C
𝛽=
(Ka + [H + ])2
2,303 × 3,981 × 10−7 × 1 × 10−6 × C
0,01 = 2
((3,981 × 10−7 ) + (1 × 10−6 ))
9,1682 × 10−13 × C
0,01 =
1,9547 × 10−12
0,019547 = 0,91682 × C
C = 0,0213 mol/L

C = [garam] + [asam]
0,0213 mol/L = 0,3981 [asam]+ [asam]
0,0213 mol/L = 1,3981 [asam]
[asam] = 0,0152 mol/L
[garam] = 0,3981 [asam]
= 0,0061 mol/L

Dibuat dapar sitrat sebanyak 25 ml = 0,025 L


n asam = [asam] × v n garam = [garam] × v
= 0,0152 mol/L × 0,025 L = 0,0061 mol/L× 0,025 L
= 0,00038 mol = 0,0001525 mol

Asam = NaH2 Sitrat


Garam = Na2H sitrat

Reaksi Dapar Sitrat


H3 sitrat + NaOH → NaH2 Sitrat + H2O
m 0,0005325 0,0005325
b 0,0005325 0,0005325 0,0005325 0,0005325
s - - 0,0005325 0,0005325
NaH2 Sitrat + NaOH → Na2H sitrat + H2O
m 0,0005325 0,0001525
b 0,0001525 0,0001525 0,0001525 0,0001525
s 0,00038 - 0,0001525 0,0001525

28
m H3 sitrat = mol × BM m NaOH = mol × BM
= 0,0005325 × 210,14 = (0,0005325 + 0,0001525) × 40
= 0,11189 gram = 0,000685 × 40
= 111,89 mg = 0,0274 gram
= 27,4 mg

VII. METODE PEMBUATAN

a. Alat :
 Mortir
 Stamper
 Beaker glass 500 ml
 Beaker glass 100 ml
 Botol sirup
 Sendok teh
 Batang pengaduk
 Pipet tetes
 Pipet volume 1 ml, 3 ml
 Indikator pH meter
 Viskometer brokfield
 Timbangan analitik digital

b. Bahan :
 Paracetamol
 Nipagin
 Nipasol
 Propilen glikol
 Sorbitol 70%
 Sodium sakarin
 Air panas 100˚C
 Strawberry assen
 Allura Red AC

29
 Dapar sitrat
 Aquadest
 Sukrosa

c. Cara kerja :
 Pembuatan sirup simplex (campuran 1)

Sukrosa ditimbang sebanyak 22,2 gram. Lalu digerus dengan mortir dan stamper
ad halus, dilarutkan dalam air panas 100˚C sebanyak 6 ml (a)

Sodium sakarin ditimbang sebanyak 0,06 gram dilarutkan dalam aquadest 0,04
ml (b)

Sorbitol 70% diambil sebanyak 9 ml (c)

a+b+c dicampurkan dalam beaker glass 100 ml aduk ad homogen

 Pembuatan larutan paracetamol (campuran 2)

Nipagin ditimbang 0,018 gram dilarutkan dalam propilen glikol 2,2 ml (a)

Nipasol ditimbang 0,012 gram dilarutkan dengan propilen glikol 0,2 ml (b)

Paracetamol ditimbang 1,44 gram dilarutkan dengan propilen glikol 10 ml (c)

a+b+c dicampur dalam beaker glass aduk ad homogen

30
 Pembuatan sirup akhir

Campuran 1 + campuran 2 masukkan ke dalam beaker glass aduk ad homogen

Ditambahkan strawberry essen 2 ml

Lalu tambah aquadest sampai volume 55 ml

Tambahkan allura red ac sampai berwarna

Ad kan dengan aquadest sampai volume 60 ml pada botol sirup yang telah
dikalibrasi

Cek pH dengan indikator pH meter

 Prosedur evaluasi

Pemeriksaan organoleptis

Uji pH

Uji berat jenis

Uji viskositas

Penetapan kadar

Uji stabilitas

31
Hasil prosedur evaluasi :

1. Organoleptis
Bentuk : Sirup
Rasa : Strawberry
Warna : Merah
2. Uji pH
Alat : pH meter
Metode :
a. Mengambil beberapa ml sediaan larutan yang sudah jadi dalam beaker glass.
b. Memasukkan elektroda pH meter yang telah dikalibrasi dengan standar.
c. Mengamati pHnya, catat dan bandingkan dengan pH teoritis. Ketentuan, untuk pH
paracetamol menurut teoritis adalah 6 karena harus disesuaikan dengan pH usus
sebab sediaan di absorbsi di usus.
3. Uji berat jenis
Alat : Piknometer
Metode :
a. Menimbang piknometer yang bersih dan kering.
b. Mengisi piknometer dengan air sampai penuh lalu rendam dengan air es suhu 2˚C
dibawah suhu percobaan.
c. Piknometer ditutup, pipa kapiler dibiarkan terbuka dan suhu naik sampai suhu
percobaan, lalu piknometer ditutup.
d. Biarkan suhu air dalam piknometer mencapai suhu kamar, air yang menempel
diusap lalu ditimbang dengan seksama.
e. Lihat dalam tabel kerapatan air pada suhu percobaan untuk menghitung volume air
– piknometer.
4. Uji viskositas
Alat : Viskometer
Metode :
a. Memasukkan sampel ke dalam cup, jika kental gunakan cup kecil, jika encer
gunakan cup besar.
b. Memegang viskometer disatu tangan, gunakan level ukuran atau meteran pada unit
untuk memastikan unit kira – kira telah horizontal.
c. Meletakkan rotor pada pusat cup.
32
d. Memindahkan apitan jarum meter hingga melawan arah.
e. Menyalakan power switch pada posisi ON.
f. Ketika rotor mulai berputar, jarum indikator viskositas secara berkala bergerak ke
kanan dan seimbangkan pada posisi yang menghubungkan viskositas dengan
sampel cairan.
g. Membaca nilai viskositas dari skala untuk rotor yang sedang digunakan, catat
hasilnya.
h. Setelah jarum dikembalikan pada posisi awal, amankan dengan memindahkan
kepitan jarum meter sesuai dengan petunjuk arah. Ketentuan viskositas teoritis
untuk paracetamol adalah 5.

5. Penetapan Kadar
Standar Paracetamol :
a. Menimbang 340 mg paracetamol standar larutkan 10 ml NaOH 0,1 N dan
tambahkan aquadest ad 100 ml (Larutan 1). Kocok ad homogen.
b. Memipet 1 ml larutan 1. Tambahkan aquadest ad 25 ml. Kocok ad homogen
(larutan 2).
c. Memipet 1 ml larutan 2. Tambahkan 2 ml NaOH 0,1 N. Tambahkan aquadesr ad
25 ml. Kocok ad homogen, lakukan penetapan kadar paracetamol standar
menggunakan spektrofotometri dengan panjang gelombang 257 nm.
Sampel Paracetamol :

a. Dari sediaan sirup paracetamol dipipet 10 ml tambahkan 10 ml NaOH 0,1 N dan


tambahkan aquadest ad 100 ml (larutan 1). Kocok ad homogen.
b. Mempipet 1 ml larutan 1. Tambahkan aquadest ad 25 ml. Kocok ad homogen
(larutan 2).
c. Memipet 1 ml larutan 2. Tambahkan 2 ml larutan NaOH 0,1 N. Tambahkan
aquadest ad 25 ml. Kocok ad homogen, lakukan penetapan kadar paracetamol
menggunakan spektrofotometri dengan panjang gelombang 257 nm.
6. Uji Stabilitas
a. Stabilitas Kimia
 Identifikasi
 Penetapan kadar
b. Stabilitas Fisika
33
 Organoleptik seperti bau, rasa, warna
 pH
 berat jenis
 viskositas
 kejernihan larutan
 volume terpindahkan
 kemasan meliputi etiket, brosur, wadah, peralatan pelengkap seperti sendok,
no batch, dan leaflet
c. Stabilitas Mikrobiologi
 Jumlah cemaran mikroba (uji bats mikroba)
 Uji efetivitas pengawet
d. Stabilitas Farmakologi
 Pemerian
 Identifikasi
 Penetapan kadar
e. Stabilitas Toksikologi
 Pemerian
 Identifikasi
 Penetapan kadar

34
VIII. RANCANGAN ETIKET, BROSUR, DAN KEMASAN

Rancangan Kemasan

35
Rancangan Etiket

Rancangan Brosur

36
IX. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengertian Larutan

Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang
terlarut. Misal : terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran
pelarut yang saling bercampur. Karena molekul-molekul dalam pelarut terdispersi secara
merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan
jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau
dicampur.
Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan menjadi tipe larutan sebagai
berikut:
1. Larutan encer, yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut.
2. Larutan, yaitu larutan yang mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut.
3. Larutan jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat
larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu.
4. Larutan lewat jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut
melebihi batas kelarutannya didalam air pada temperature tertentu.
Zat pelarut disebut juga solvent, sedangkan zat yang terlarut disebut
solute. Solvent yang biasa dipakai :
1. Air, untuk macam-macam garam.
2. Spirtus, misalnya untuk kamfer, iodium, menthol.
3. Gliserin, misalnya untuk tanin, zat samak, borax dan fenol.
4. Eter, misalnya untuk kamfer, fosfor dan sublimat.
5. Minyak, misalnya untuk kamfer dan menthol.
6. Parafin, liquidum, untuk cera, cetaceum, minyak-minyak, kamfer, menthol dan
klorbutanol.
7. Eter minyak tanah, untuk minyak-minyak lemak.

Keuntungan dan Kerugian Sediaan Larutan


A. Keuntungan bentuk sediaan larutan (solutio) dibandingkan dengan jenis sediaa lainnya
antara lain :
 Lebih mudah ditelan daripada sediaan yang lain, sehingga dapat lebih mudah
digunakan bayi, anak-anak, dewasa, maupun usia lanjut

37
 Segera diabsorpsi karena telah berbentuk sediaan cair (tidak mengalami proses
disintegrasi maupun pelarutan seperti pada tablet/pil dsb
 Obat secara homogen terdistribusi keseluruh bagian sediaan
 Mengurangi resiko terjadinya iritasi lambung oleh zat zat iritan (Aspirin, KCl) karena
larutan langsung diencerkan dalam lambung
 Lebih mudah untuk menutupi rasa dan bau tidak enak pada obat dengan cara
penambahan pemanis dan pengaroma

B. Kerugian bentuk sediaan larutan (solutio) dibandingkan dengan jenis sediaan lainnya
antara lain :
 Bersifat voluminous, sehingga kurang menyenangkan untuk dibawa atau diangkut dan
disimpan, lebih berat.
 Stabilitas dalam bentuk cair kurang baik dibandingkan dalam bentuk sediaan tablet,
kapsul, pil, terutama apabila zat aktif/bahan mudah terhidrolisis
 Larutan/air merupakan media ideal mikroorganisme untuk berkembang-biak sehingga
diperlukan penambahan pengawet yang lebih banyak dibanding sediaan tablet, pil,
krim, dll
 ketepatan dosis tergantung kemampuan pasien dalam menakar obat
 Rasa obat yang tidak menyenangkan akan terasa lebih tidak enak apabila dalam
bentuk larutan, terutama jika tidak dibantu dengan pemanis dan pengaroma

Pada praktikum kali ini, kami melakukan pembuatan sediaan liquid yaitu dengan
membuat sirup paracetamol. Kami memilih bentuk sediaan sirup karena paracetamol
memiliki rasa yang sangat pahit sehingga perlu ditutupi rasanya agar lebih dapat diterima
oleh pasien, terutama dengan target pasar yaitu anak – anak yang tidak suka dengan rasa
pahit. Alasan mengapa sirup paracetamol dibuat dengan volume 60 ml karena
paracetamol memiliki kegunaan yaitu antipiretik menurunkan demam. Demam adalah
suatu gejala dari timbulnya penyakit dan demam tersebut bukan merupakan penyakit.
Sehingga demam bisa hilang dalam 3 – 4 hari. Dalam kemasan 60 ml jika diminum 3 kali
sehari dan mengandung paracetamol 5 ml, maka dalam 4 hari sirup tersebut akan habis.
Jika dalam 4 hari demam belum turun maka disarankan harus periksa ke dokter karena
mungkin ada penyakit lain yang datangnya ditandai dengan demam. Penggunaan
paracetamol lebih dari 1 minggu akan menyebabkan kerusakan hati. Karena paracetamol
38
memiliki sifat hepatotoksik. Maka dari itu, sirup paracetamol dirancang dengan kemasan
volume 60 ml untuk melihat apa hanya demam saja atau ada penyakit lain dari pasien
yang meminum paracetamol.

B. Parasetamol

a. Deskripsi
Rumus molekul C8H9NO2; Berat molekul 151,16 g/mol; Berat Jenis 1.293 (air=1);
Titik lebur 169-170oC; Titik didih >500oC; Oktanol / Koefisien partisi air (P) log P
0,49. Penampilan kristal berwarna atau bubuk kristal putih. Sangat sedikit larut
dalam air dingin; cukup larut dalam air panas;
b. Sifat Zat Berkhasiat
Menurut Dirjen POM. (1995), sifat-sifat Parasetamol adalah sebagai berikut:
Sinonim : 4-Hidroksiasetanilida
Berat Molekul : 151.16
Rumus Empiris : C8H9NO2.
c. Sifat Fisika dan Kimia Parasetamol
Sinonim : Paracetamolum, Asetaminofen.
Nama kimia : 4-hidroksiasetanilida.
Rumus molekul : C8H9NO2
Kandungan : Tidak kurang dari 98,0 % dan tidak lebih dari
101,0% C8H9NO2, dihitung terhadap zat yang telah
dikeringkan.
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 N,
mudah larut dalam etanol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan tidak tembus cahaya
Titik lebur : Antara 168⁰ dan 172⁰ .
(DitJen POM., 1995).

39
d. Khasiat
Paracetamol adalah salah satu obat yang masuk ke dalam golongan analgesik
(pereda nyeri) dan antipiretik (penurun demam). Obat ini dipakai untuk meredakan
rasa sakit ringan hingga menengah, serta menurunkan demam. Untuk orang dewasa,
dianjurkan untuk mengonsumsi paracetamol 1-2 tablet sebanyak 500 miligram hingga
1 gram tiap 4-6 jam sekali dalam 24 jam.
Paracetamol mengurangi rasa sakit dengan cara menurunkan produksi zat
dalam tubuh yang disebut prostaglandin. Prostaglandin adalah unsur yang dilepaskan
tubuh sebagai reaksi terhadap kerusakan jaringan atau infeksi, yang memicu terjadinya
peradangan, demam, dan rasa nyeri. Paracetamol menghalangi produksi prostaglandin,
sehingga rasa sakit dan demam berkurang.
e. Indikasi dan Kontraindikasi
Parasetamol tidak boleh diberikan pada orang yang alergi terhadap obat anti-
inflamasi non-steroid (AINS), menderita hepatitis, gangguan hati atau ginjal, dan
alkoholisme. Pemberian parasetamol juga tidak boleh diberikan berulang kali kepada
penderita anemia dan gangguan jantung, paru, dan ginjal.
Parasetamol terdapat dalam berbagai bentuk dan dalam berbagai campuran
obat sehingga perlu diteliti jumlahnya untuk menghindari overdosis. Risiko kerusakan
hati lebih tinggi pada peminum alkohol, pemakai parasetamol dosis tinggi yang lama
atau pemakai lebih dari satu produk yang parasetamol.
f. Efek Samping
Efek samping parasetamol jarang ditemukan. Efek samping dapat berupa
gejala ringan seperti pusing sampai efek samping berat seperti gangguan ginjal,
gangguan hati, reaksi alergi dan gangguan darah. Reaksi alergi dapat berupa bintik –
bintik merah pada kulit, biduran, sampai reaksi alergi berat yang mengancam nyawa.
Gangguan darah dapat berupa perdarahan saluran cerna, penurunan kadar trombosit
dan leukosit, serta gangguan sel darah putih. Penggunaan parasetamol jangka pendek
aman pada ibu hamil pada semua trimester dan ibu menyusui.

Setelah melakukan diskusi bersama dosen, kelompok kami melakukan beberapa


perubahan terhadap formula yang kami susun untuk menghasilkan sediaan sirup
paracetamol yang baik dan dapat memenuhi spesifikasi untuk sediaan sirup paracetamol.
Berikut adalah perbaikan untuk formula sirup paracetamol kelompok kami :

40
Jumlah
No. Bahan Fungsi Persentase Rentang
per 60 ml Per 500 ml
1. Parasetamol Bahan aktif 1,44 g 12 g 2,4 %
2. Propilen glikol Kosolven 14,4 ml 120 ml 24 % 10 - 25 %
Pemanis &
3. Sukrosa 10 g 83,3 g 16,67 % < 67 %
Pengental
Pemanis 0,05 – 0,25
4. Sodium sakarin 0,12 g 1g 0,2 %
Buatan %
Anti
5. Sorbitol 70 % 9 ml 75 ml 15 % 15 - 30%
caplocking
0,015 – 0,2
6. Nipagin Pengawet 0,108 g 0,9 g 0,18 %
%
0,01 – 0,02
7. Nipasol Pengawet 0,012 g 0,1 g 0,02 %
%
Pelarut
8. Air panas 100oC 10 ml 83,3 ml 16,67 %
Sukrosa
Strawberry Flavouring 0,07 g (1 0,14 g (2
9. 0,1167 %
essen agent tetes) tetes)
Larutan
10. Dapar Sitrat 1,25 ml 10,42 ml 2,083 %
dapar
11. Aquadest Pelarut ad 60 ml ad 500 ml

Dapat dilihat bahwa adanya perubahan pada jumlah sukrosa yang digunakan,
karena pada formula sebelumnya persentase sukrosa yang digunakan terlalu banyak
sehingga dikhawatirkan larutan yang dihasilkan terlalu kental, kemudian jumlah air panas
pada formula yang baru diperbanyak supaya lebih cepat melarutkan sukrosa, serta larutan
dapar sitrat yang dimasukkan pada susunan formula baru sesuai dengan yang kelompok
kami gunakan.

Pebuatan Dapar Sitrat

Dapar sitrat yang kelompok kami buat yaitu sebanyak 25 ml dengan kapasitas
dapar sebesar 0,01. Dapar sitrat tersebut dibuat dengan mencampur 111,89 mg asam sitrat
dan 27,4 mg NaOH kemudian dilarutankan dengan aquadest ad 25 ml. Banyaknya dapar
41
sitrat yang kami teteskan untuk mendapatkan sediaan sirup paracetamol volume 60 ml
dengan pH sekitar 6,0 yaitu sebanyak 25 tetes. 1 tetes larutan dapar sitrat ditimbang
beratnya sebesar = 0,05 gram, jadi banyaknya larutan dapar sitrat yang kami tambahkan
yaitu sekitar 0,05 gram × 25 = 1,25 gram dan didapat pH sirup paracetamol kami sebesar
5,94.

C. Cara Kerja Dan Evaluasi Prosedur

a. Cara Kerja

Dalam praktikum yang dikerjakan, praktikan pertama-tama menimbang


parasetamol sebanyak 1,44 gram kemudian dibagi menjadi dua. Bagian yang pertama
dilarutkan dengan propilen glikol, bagian kedua dilarutkan dengan sorbitol. Keduanya
dicampur menjadi satu kemudian ditambahkan nipagin dan nipasol (Campuran 1).

Langkah selanjutnya praktikan membuat larutan sirup simplek dengan cara


yang pertama menimbang sukrosa dan menimbang sodium sakarin. Setelah sodium
sakarin ditimbang kemudian dihaluskan dan dicampurkan ke dalam sukrosa, keduanya
dihaluskan bersama menggunakan mortir dan stamper. Selanjutnya praktikan
memanaskan aquadest untuk melarutkan campuran sukrosa dan sodium sakarin.
Campuran sukrosa dan sodium sakarin dilarutkan sampai larut dengan air panas
(Campuran 2).

Setelah larutan sirup simplek jadi, kemudian dicampurkan ke campuran 1


(larutan parasetamol), diaduk di atas penangas air agar larutan tercampur secara
merata. Langkah selanjutnya larutan diberi pewarna/pembau strawberry satu tetes dan
kemudian dicek pH nya, untuk menstabilkan pH nya praktikan menambahkan 25 tetes
dapar sitrat untuk volume 60 ml sampai didapat pH sekitar 6. Dalam praktikum kali ini
pH yang di dapatkan sebesar 5,94.

Langkah terakhir larutan yang sudah dicek pH nya diadkan dengan aquadest
sampai 60 ml. Kemudian botol untuk wadah sirup parasetamol dikalibrasi sesuai
volume yang diinginkan, setelah kalibrasi botol, larutan yang sudah jadi dimasukkan
ke dalam botol. Setelah itu, botol dimasukkan ke dalam kemasan yang udah berisi
etiket.

42
b. Hasil Prosedur Evaluasi

7. Organoleptis
Bentuk : Sirup
Rasa : Strawberry
Warna : Merah

8. Uji pH
Alat : pH meter
Metode :

a. Mengambil sediaan larutan yang sudah jadi dalam beaker glass.


b. Memasukkan elektroda pH meter yang telah dikalibrasi dengan standar.
c. Mengamati pH nya, catat dan bandingkan dengan pH teoritis. Ketentuan, untuk
pH paracetamol menurut teoritis adalah 6 karena harus disesuaikan dengan pH
usus sebab sediaan di absorbsi di usus.
d. Penstabilan pH dengan menambahkan 25 tetes dapar sitrat.

9. Uji viskositas
Alat : Viskometer
Metode :

a. Memasukkan sampel ke dalam cup besar.


b. Memegang viskometer disatu tangan, gunakan level ukuran atau meteran pada
unit untuk memastikan unit kira – kira telah horizontal.
c. Meletakkan rotor pada pusat cup.
d. Memindahkan apitan jarum meter hingga melawan arah.
e. Menyalakan power switch pada posisi ON.
f. Ketika rotor mulai berputar, jarum indikator viskositas secara berkala bergerak
ke kanan dan seimbangkan pada posisi yang menghubungkan viskositas
dengan sampel cairan.
g. Membaca nilai viskositas dari skala untuk rotor yang sedang digunakan, catat
hasilnya.
h. Didapatkan hasil viskositas sebesar 24 mP.as.

43
i. Setelah jarum dikembalikan pada posisi awal, amankan dengan memindahkan
kepitan jarum meter sesuai dengan petunjuk arah. Ketentuan viskositas teoritis
untuk paracetamol adalah 22-26 mP.as.

D. Hasil Uji Evaluasi

1. Uji Organoleptis
No. Spesifikasi Hasil
Sirup atau larutan jernih Sirup atau larutan jernih
1. Bentuk Sediaan
yang homogen yang homogen
2. Warna Merah muda Merah muda
3. Bau Strawberry Strawberry
Manis sedikit pahit dari Manis sedikit pahit dari
4. Rasa
bahan aktif paracetamol bahan aktif paracetamol

2. Uji pH
Spesifikasi = 6,0
Hasil = 5,94

3. Uji Viskositas
Spesifikasi = 22-26 mPa.s
Hasil = 24 mPa.s

Berdasarkan hasil uji evaluasi dan dibandingkan dengan spesifikasi yang


diharapkan, sirup paracetamol yang kelompok kami buat sudah memenuhi spesifikasi
yang diinginkan.

E. Permasalahan yang dihadapi waktu formulasi

Pada saat formulasi sediaan larutan sirup parasetamol, kelompok terdapat kendala
yaitu sirup yang telah dibuat, awalnya dari segi warna sedikit kurang menarik, yaitu
bewarna merah keruh. Hal ini dikarenakan pada saat pembuatan larutan gula yang berasal
dari sukrosa, larutan gula kurang larut ketika kami campurkan dengan bahan-bahan yang
lain karena jumlah terlalu banyak. Dari segi rasa, sirup yang kami buat masih terasa
44
sedikit pahit, hal ini merngindikasikan bahwa rasa asli parasetamol sulit terutupi dengan
hanya menggunakan larutan gula dengan kadar hampir 60%. Pada saat pengecekan pH
pada sirup, pH tidak stabil

X. KESIMPULAN

 Larutan adalah sediaan cair yang mengandung suatu atau lebih zat kimia yang terlarut,
missal : terdispersi secara molecular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut
yang saling bercampur.
 Paracetamol memiliki rasa yang sangat pahit sehingga perlu ditutupi rasanya agar
lebih dapat diterima sehingga lebih tepat untuk dibuat sediaan sirup.
 Berdasarkan uji evaluasi larutan sirup yang dilakukan, kriteria larutan sirup yaitu
memiliki pH 6 dan sifatnya harus tiksotropi yakni semakin lama waktu pengadukan
maka viskositas akan semakin kecil.

45
XI. DAFTAR PUSTAKA

1. Abdullah,Bedri, dkk 2011. Study of formulation of pharmaceutical solution from of


paracetamol in the pediatric clinical practice. Pristhina, kosova
2. Agoes, G et al 1986. Penelitian difusi asam salisilat dan kloramfenikol dari sediaan
semisolida dengan pembawa Vaseline, campuran vaselin propilenglikol dan vaelin
lemak bulu domba secara in vitro. Acta pharmaceutical IX (3). Bandung ITB.
3. Agoes G. Darijanto .S.T. 1993. Teknologi farmasi likuida san semisolida. Pusat antar
bidang bidang ilmu hayati ITB. Bandung.
4. Ansel, H.C. Pengantar bentuk sediaan farmasi edisi keempat. Jakarta: UI. Press 1989
5. Depkes RI farmakope Indonesia IV penerbit dirjen POM. Jakarta .1995
6. Genmaro, A.R 2000 Remington. The science and pratica of pharmacy 20th ed vol II,
mack publishing company Pennsylvania
7. Harry,R.G, 1973. Harry’s cosmetiology 6th edition leonard hill books an intertext
publisher. London p 2-3,38-93
8. Ikatan apoteker Indonesia.2015.ISO informasi spesialite obat Indonesia volume 50
tanun 2016. Jakarta: PT. ISFI penerbitan
9. Lachman, Leon.1994. Teori dan praktek farmasi indusstri II (penerjemah: siti
suyatmi) penerbit: UI.Press. Jakarta
10. Martindel: the complete drug reference thirty-sixth edition. London: pharmaceutical
11. Rowe, R.C.Sheskey PJ dan Quinn, M.E 2009. Handbook of pharmaceutical excipient
6th edition UK: Pharmaceutical pree and American pharmaceutical association

46