Anda di halaman 1dari 7

JURNAL ILMU TERNAK, DESEMBER 2011, VOL. 11, NO. 2.

, 74 - 80

Hambatan Sosiologis Peternak Sapi Potong pada Program


IbW dalam Pemanfaatan Limbah Menjadi Pupuk Organik
Padat
(The Sociological Barriers of Small holders Beef Cattle
Farmer on IbW Programme to Utilize Manure for Solid
Organic Fertilizers)

Lilis Nurlina, Ellin Harlia dan Destian Karmilah


Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
Email : nurlina_lilis@yahoo.co.id

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji (a) tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan
peternak sapi potong dalam memanfaatkan limbah sapi potong menjadi Pupuk Organik
Padat (POP) dan (2) hambatan sosiologis pada peternak sapi potong dalam adopsi inovasi
POP pada Program IbW. Metode penelitian dilakukan secara sensus terhadap 29 orang
peternak dan 1 orang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).. Pengumpulan data dilakukan
dengan wawancara terhadap peternak dan wawancara mendalam terhadap PPL yang
bertugas di Kecamatan Rancakalong. Data dianalisis dengan pendekatan kualitatif
deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: a) tingkat pengetahuan dan keterampilan
peternak belum optimal, tetapi sikap dan dukungan mereka terhadap pemanfaatan POP
dinilai lebih baik; (b) hambatan sosiologis pada peternak yang dihadapi Program Ib W
dalam pemanfaatan POP berupa masih kuatnya memegang budaya dan kebiasaan
memanfaatkan pupuk anorganik, juga sikap mental peternak yang malas mengaduk POP
dan membiarkan limbah menumpuk sehingga memungkinkan terjadinya proses fermentasi
anaerob yang dapat menghasilkan gas methan. Fungsi pengadukan sangat penting dalam
menciptakan suasana aerob. Selain itu, kurangnya dukungan dan mobilisasi dari aparat desa
setempat menyebabkan penyebaran inovasi POP kurang optimal.
Kata Kunci : Hambatan sosiologis, Pupuk Organik Padat, peternak sapi potong

Abstract
This study aims to examine (a) the level of knowledge, attitudes and skills in utilizing of
beef cattle waste into solid organic fertilizer (POP) and (2) sociological barriers on beef
cattle farmers in adopting solid organic fertilizer innovation on Ipteks bagi Wilayah (IbW)
Program. Methods of research carried out a census of 29 beef cattle farmer and 1 person to
Agricultural Extension Field (PPL). Data was collected through interviews with beef cattle
farmers and in-depth interviews with PPL who served in the District of Rancakalong. Data
were analyzed with descriptive qualitative approach. The results showed that: a) the
knowledge and skill of respondent not optimal yet, but their attitude was better to support
the utilizing POP; (b) the sociological constraints that is faced of IbW Program on beef
cattle farmer was still based on their culture and their habit to use anorganic fertilizer, also
they are lazy to stir and let the waste to accumulate up to allow the occurrence of anaerobic
fermentation that will produce methane. Stirring function is very meaningful to create
aerobic atmosphere. In addition, the dependence on other parties make they do not self
created, besides that, support and mobilization of official vilage is lack.
Keyword : Sosiological constrain, solid organic fertilizer, beef cattle farmer

74
JURNAL ILMU TERNAK, DESEMBER 2011, VOL. 11, NO. 2

Pendahuluan diterapkan agar dapat memberdayakan dengan baik


Inti dari setiap upaya pembangunan yang dan arif (Laporan Sibermas, 2009). Pelaksanaan
disampaikan melalui kegiatan penyuluhan, pada Program IbW dilaksanakan di Kecamatan
dasarnya ditujukan untuk tercapainya perubahan Rancakalong Kabupaten Sumedang yang meliputi 4
perilaku masyarakat demi terwujudnya perbaikan desa, yaitu : Desa Pasir Biru, Desa Sukasirna, Desa
mutu hidup yang mencakup banyak aspek, baik Sukamaju, dan Desa Pamekaran.
ekonomi, sosial, budaya, ideologi, politik, maupun Program IbW yang memasuki tahun kedua
pertahanan dan keamanan. Oleh karena itu, pesan- memiliki sinergi dengan berbagai instansi terkait
pesan pembangunan yang disuluhkan haruslah yakni pihak Perguruan Tinggi (Universitas
mampu mendorong atau mengakibatkan terjadinya Padjadjaran dan Universitas Winaya Mukti),
perubahan-perubahan yang memiliki sifat Pemkab Sumedang melalui Dinas Pertanian-
“pembaharuan” yang disebut “innovativeness” Peternakan, serta mahasiswa yang melakukan
(Mardikanto, 1993). Kuliah Kerja Nyata dari kedua universitas tersebut.
Berhasilnya pembangunan nasional tergantung Kegiatan Program IbW yang pada tahun pertama
pada partisipasi seluruh rakyat serta pada sikap disebut Sibermas/ Sinergi Potensi Pemberdayaan
mental, tekad, semangat, ketaatan dan kedisiplinan Masyarakat, meliputi Pelatihan budidaya pertanian
seluruh rakyat Indonesia serta penyelenggara (sawah, hortikultura, palawija, tanaman obat),
negara. Hasil pembangunan harus dapat dinikmati peternakan dan kesehatan (pembuatan demplot
oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai peningkatan kebun hortikultura berbasis organik; pelatihan
kesejahteraan lahir-bathin. teknologi hasil peternakan yang berbasis potensi
Usaha-usaha yang dapat meningkatkan wilayah pelatihan pembuatan dan pendayagunaan
partisipasi masyarakat diantaranya : (a) limbah pertanian sebagai bahan pakan ternak
mendekatkan kegiatan-kegiatan pembangunan pada melalui pengawetan, demplot intensifikasi
tempat-tempat pemukiman masyarakat, sehingga peternakan, dan demplot pemanfaatan limbah
perlu dilakukan pemerataan penyebaran ternak menjadi kompos dan bio gas).
pembangunan; dan (b) kesempatan untuk dapat Penyuluhan tentang pemanfaatan limbah sapi
berpartisipasi dalam pembangunan yang menuju potong menjadi POP difokuskan di Desa Pasir Biru
peningkatan kualitas hidup, dapat berupa : adanya sementara ketiga desa lainnya difokuskan pada
sumber-sumber daya alam yang dapat pemanfaatan limbah sapi potong menjadi gas bio,
dikembangkan, adanya pasaran yang terbuka vermi kompos dan pupuk bokashi. Dukungan
(prospek untuk mengembangkan sesuatu), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang dan
tersedianya modal (uang, kredit), tersedianya motivasi Perguruan Tinggi (Universitas Padjadjaran
sarana-prasarana, serta terbukanya lapangan dan Universitas Winaya Mukti) untuk meningkatkan
pekerjaan (Slamet, 2003). kualitas sumber daya manusia (khusus di Desa Pasir
Program IbW (Ipteks Bagi Wilayah) di Biru di Kecamatan Rancakalong) telah dilakukan
Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang dengan sebaik-baiknya, namun hasilnya belum
dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan di optimal.
masyarakat antara lain : (1) ketidakberdayaan Berdasarkan latar belakang yang telah
sebagaian besar masyarakat terhadap pembangunan dipaparkan, dapat diidentifikasi permasalahan
kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat dalam sebagai berikut : (a) sejauh mana tingkat
memasuki era globalisasi yang penuh kompetisi; (2) pengetahuan, sikap dan keterampilan peternak sapi
tingkat pertumbuhan ekonomi (3,43 %); (3) tingkat potong dalam pemanfaatan POP; (b) sejauh mana
pendapatan per kapita rendah (di bawah ketetapan hambatan sosiologis berupa mentalitas peternak sapi
UNDP, yaitu kurang dari Rp 300.000,00 / potong yang menghambat pemanfaatan POP.
kapita/tahun, (Desa Pasir Biru : Rp 253.036,28); (4) Untuk itu, kami tertarik untuk melakukan
Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (IPTEKS) penelitian mengenai Hambatan Sosiologis yang
yang dimiliki Perguruan Tinggi belum sepenuhnya Dihadapi Program IbW dalam Pemanfaaatan Pupuk

75
Nurlina, dkk., Hambatan Sosiologis pada Program I bW

Organik Padat (POP) di Desa Pasir Biru Kecamatan Inovasi POP ini dimaksudkan agar dapat
Rancakalong Kabupaten Sumedang. mengurangi penggunaan pupuk anorganik yang
harganya terus naik dan kadang-kadang langka
Metode dipasaran, serta mengurangi efek negatif
Penelitian ini menggunakan metode sensus penggunaan pupuk buatan yang menyebabkan tanah
pada peternak sapi potong di Desa Pasir Biru menjadi keras. POP (kompos) dapat menjadikan
Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang. tekstur tanah gembur. Selain itu, melalui
Responden berjumlah 30 orang terdiri dari 29 orang pemanfaatan POP diharapkan para peternak dapat
peternak sapi potong dan 1 orang PPL yang bertugas menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
di Kecamatan Rancakalong.. Data primer diperoleh (PHBS) karena limbah peternakan jika tidak diolah
melalui wawancara langsung dengan para peternak dapat menyebabkan pencemaran tanah, air dan
dan wawancara mendalam dengan PPL, sedangkan udara.
data sekunder diperoleh dari Kantor Desa Pasir Biru Tingkat pengetahuan (kognitif) peternak
Kecamatan Rancakalong dan Laporan Program terhadap penyuluhan POP secara jelas dapat dilihat
Sibermas Tahun 2009. Data dianalisis secara pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1, tingkat
deskriptif-kualitatif. pengetahuan responden yang termasuk kategori
sedang (50,00%) hampir berimbang dengan yang
Hasil dan Pembahasan termasuk kategori tinggi (43,33 %). Hal ini dapat
Cukup banyaknya program yang dilihat dari pengetahuan responden tentang
dilaksanakan Sibermas/IbW yang mengintegrasikan pengertian dasar tentang kompos yang diketahui
berbagai inovasi pertanian-peternakan, maka dalam dengan baik oleh sebanyak 46,67%. Selain itu
kesempatan ini yang diteliti hanya yang berkaitan pengetahuan responden mengenai manfaat dari
dengan faktor hambatan/kendala dalam pembuatan kompos termasuk kategori sedang (56,67%), baik
dan pemanfaatan POP yang berasal dari limbah sapi manfaat untuk lingkungan maupun bagi
potong dari aspek sosiologis. Hal ini mengingat tanah/tanaman.
keberhasilan terhadap adopsi inovasi berkaitan Sebagian besar responden (80,00 %) juga
dengan pola berpikir, sikap-mental, budaya yang cukup memahami penyuluhan pembuatan kompos,
dianut serta ciri/karakteristik dari inovasi tersebut. yang informasinya didapatkan tidak hanya dari para
penyuluh Program IbW, tetapi mereka peroleh dari
A. Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan media cetak dan dari peternak lainnya. Dengan
Peternak dalam Pemanfaatan Pupuk Organik demikian dapat dikatakan bahwa peternak sapi
Padat (POP) pada Kegiatan Penyuluhan potong di Desa Cibiru cukup mengetahui mengenai
Melalui Program IbW POP.

Tabel 1. Aspek Kognitif Peternak Terhadap Penyuluhan Pupuk Kompos Program IbW
Kategori
No Indikator
Tinggi Sedang Rendah
… % ... …%… …%…
1 Pengertian Kompos 46,67 36,67 16,67
2 Manfaat 33,33 56,67 10,00
3 Penyuluhan 13,33 80,00 6,67
4 Informasi 23,33 63,33 13,33
Pengetahuan Responden 43,33 50,00 6,67

76
JURNAL ILMU TERNAK, DESEMBER 2011, VOL. 11, NO. 2.

Tabel 2. Aspek Afektif Peternak Terhadap Penyuluhan Pembuatan Kompos Melalui Program IbW
Kategori
No Indikator
Tinggi Sedang Rendah
… % ... …%… …%…
1 Manfaat 20,00 60,00 20,00
2 Tujuan 56,67 33,33 10,00
Sikap Responden 56,67 40,00 3,33

Aspek afektif merupakan suatu penilaian atau pemanfaatannya masih ada yang tetap
reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu menggabungkan dengan pupuk buatan. Secara
objek adalah perasaan mendukung atau memihak lengkap keterampilan peternak responden dalam
(favourable) maupun perasaan tidak mendukung pembuatan dan pemanfaatan POP dapat dilihat
atau tidak memihak (unfavourable) pada objek dalam Tabel 3.
tersebut. Dalam hal ini objek yang dimaksud adalah Dalam hal indikator penyediaan alat dan bahan
penyuluhan pembuatan kompos Program IbW. serta sumber informasi termasuk kategori sedang
Sikap peternak terhadap penyuluhan POP secara karena responden sudah mampu menyediakan alat
lengkap dapat dilihat dalam Tabel 2. dan bahan pada pembuatan POP sekalipun masih
Berdasarkan Tabel 2 tanggapan / sikap dibantu penyuluh Program IbW, namun mengetahui
responden terhadap penyuluhan pembuatan POP mengenai penyuluhan pembuatan POP melalui
Program IbW secara umum termasuk baik media cetak. Berdasarkan Tabel 3 keterampilan
(56,67%), begitu pula tanggapannya terhadap responden termasuk kategori sedang. Penerapan
manfaat penyuluhan pembuatan POP termasuk penyuluhan pembuatan POP memiliki nilai sama
cukup (60,00%). Hal ini menunjukkan bahwa antara yang kategori tinggi dan cukup, yang berarti
peternak anggota kelompok tani sudah memiliki sebagian responden telah memiliki keterampilan
kesadaran dan minat, namun belum melakukan yang baik dan sebagian lagi masih belum baik,
penilaian secara matang, mencoba sendiri, apalagi sedangkan dalam hal pemanfaatan limbah
menerapkan inovasi. Sedangkan tanggapan keterampilan responden termasuk kategori sedang
responden terhadap tujuan penyuluhan pembuatan dengan persentase 56,67%, artinya anggota
POP termasuk baik sebesar 56,67%, karena mereka kelompok tani masih menggunakan prosedur lama
sudah menduga bahwa pemanfatan POP akan namun sudah menggunakan prosedur pembuatan
memberikan keuntungan relatif dibanding- kan POP yang baik dan benar. Responden dalam
dengan penggunaan pupuk buatan. pengolahan limbah sudah dapat menerapkan
Aspek psikomotorik adalah tindakan / prosedur pembuatan POP yang baik dan benar yang
keterampilan responden terhadap penyuluhan termasuk kategori tinggi (70,00%). Dilihat dari
pembuatan POP melalui Program IbW. indikator penyediaan alat dan bahan serta sumber
Keterampilan anggota kelompok tani terhadap informasi responden sudah bersedia dan mampu
pembuatan POP Program IbW tergolong cukup menyediakan alat dan bahan pada pembuatan POP
dengan persentase 50,00%. Artinya, sebagian besar meskipun masih dibantu penyuluh. Selain itu para
responden (70,00 %) sudah mulai membuat dengan peternak sapi potong sudah berusaha untuk mencari
prosedur pembuatan sesuai petunjuk dan informasi pembuatan kompos melalui media cetak.
memanfaatkan POP, sementara sebagian lagi mulai B. Hambatan Sosiologis Pemanfaatan POP Pada
membuat/ mengolah limbah ternak menjadi POP Peternak Sapi Potong
namun prosedurnya belum sesuai petunjuk. Para Hasil analisis menunjukkan bahwa kendala
peternak tersebut belum atau malas melakukan sosiologis yang dihadapi Program Sibermas dalam
pengadukkan (membolak-balikan campuran kotoran mencapai keberhasilan pemanfaatan pupuk POP
dengan sisa rumput/hijauan), dan dalam adalah:

77
Nurlina, dkk., Hambatan Sosiologis pada Program I bW

Tabel 3. Aspek Psikomotorik Terhadap Penyuluhan Membuat POP dari Program IbW
Kategori
No Indikator
Tinggi Sedang Rendah
… % ... …%… …%…
1 Penerapan 50,00 50,00 -
2 Pemanfaatan 43,33 56,67 -
3 Pengolahan 70,00 30,00 -
4 Penyediaan Alat dan Bahan 40,00 46,67 13,33
5 Sumber informasi 16,67 56,67 26,67
Keterampilan Responden 36,67 50,00 13,33

1. Penyuluhan Pembuatan dan Pemanfaatan POP penyuluhan/ kumpulan di desa berarti akan ada
(demplot) baru dilakukan di perwakilan bantuan, sementara dalam hal pengembalian
peternak (ketua kelompok) sementara tingkat pinjaman mengalami keterlambatan (hasil
kehadiran peternak sapi potong anggota wawancara dengan PPL).
kelompok kurang dan ketua serta anggota Dengan demikian jika penyuluhan
kelompok yang hadir kurang menyampaikan tersebut hanya bersifat ceramah atau pemberian
informasi hasil penyuluhan terhadap anggota informasi mereka kurang tertarik. Dari uraian
kelompok lainnya sehingga Penyuluhan Model
kendala di atas, yang paling berpengaruh adalah
“Tetesan Minyak” tidak dapat berjalan.
2. Adanya sifat individualis dari para petani- dalam hal pelaksanaan pembuatan POP, berupa
peternak sapi potong sehingga kesadaran untuk malasnya peternak untuk membolak-balik
melakukan uji coba sendiri dan bersama campuran limbah peternakan dan sisa
anggota kelompok lainnya tanpa pelaksana rumput/hijauan yang jatuh dari kandang (POP)
program dalam pembuatan dan evaluasi setelah 20 hari pada saat POP tidak berbau dan
pemanfaatan POP oleh anggota kelompok tidak dikerubuti lalat, POP siap untuk digunakan.
tidak dilakukan sehingga tidak ada keputusan
Sifat malas, tidak berorientasi pada masa depan,
kolektif untuk memanfaatkan POP
3. Kelompok yang merupakan wadah belajar bagi dan tidak memperhatikan kualitas, menjadi
petani-peternak tidak berjalan sesuai fungsinya kelemahan petani-peternak dalam mencapai
sehingga inovasi POP belum sepenuhnya keberhasilan program pembangunan sesuai
diadopsi. pendapat Koentjaraningrat (1993)
4. Kurangnya dukungan aparat pemerintahan Mencermati hal ini, maka program
desa sebagai penggerak masyarakat pemberdayaan terhadap petani-peternak sapi
(mobilisator) dalam setiap kegiatan
potong perlu terus menerus digalakkan dengan
penyuluhan. Kehadiran aparat desa,
kecamatan, petugas Dinas Peternakan lebih dukungan dari pemerintah daerah. Hal ini
tertuju pada hal-hal yang bersifat seremonial mengingat peran penyuluhan sebagai syarat
(saat bupati Sumedang dan Rektor Unpad pelancar pembangunan yang meskipun hasilnya
hadir) atau pada saat penyambutan oleh diperoleh dalam jangka panjang dan tidak
pemerintah setempat, padahal yang diharapkan memberikan sumbangan Pendapatan Asli Daerah
dalam kegiatan ini adalah adanya kerjasama
(PAD) secara langsung tapi bersifat tidak
dari aparat desa, penyuluh IbWdan PPL
setempat untuk menyebarluaskan pembuatan langsung, namun hal ini memiliki implikasi
dam pemanfaatan POP ini untuk setiap terhadap peningkatan kemampuan untuk
peternak agar tujuan pengurangan pupuk mengendalikan masa depan. Hal ini sesuai
anorganik dan perilaku hidup bersih dan sehat pendapat Ndraha (1990) bahwa pembangunan
dapat tercapai. sumber daya manusia memiliki implikasi terhadap
5. Adanya ketergantungan para peternak sapi : (a) kemampuan (capacity), tanpa kemampuan
potong terhadap bantuan yang bersifat materil.
seseorang tidak akan dapat mempengaruhi masa
Hal ini menimbulkan persepsi di kalangan
masyarakat peternak bahwa adanya depannya. Kemampuan disini meliputi :
78 78
Nurlina, dkk., Hambatan Sosiologis pada Program IbW

kemamuan fisik, mental, dan spiritual; (b) dari pihak lain, sehingga tingkat kemandirian
kebersamaan (equity), keadilan sosial, yang dalam sasaran dianggap kurang.
pembangunan dapat berarti pemerataan. Dalam 3. Diperlukan upaya pembinaan yang
berkelanjutan terhadap kelompok peternak sapi
hal ini, bagaimanapun tingginya laju pertumbuhan
potong dari Dinas Instansi Terkait (tidak hanya
suatu bangsa, jika kemajuan tidak merata hal itu PPL) serta dari pemerintahan desa yang
sia-sia belaka; (c) kekuasaan (empowerment), bertindak sebagai motor penggerak langsung di
dalam hal ini kelemahan atau ketidakberdayaan tingkat masyarakat.
merupakan kondisi manusia yang fatal; dan (d) 4. Adanya pelatihan kepemimpinan bagi para
ketahanan/kemadirian, hal ini memberikan ketua kelompok dan peternak muda yang
implikasi bahwa karena sumber daya itu terbatas, menunjukkan respon yang baik dan bersifat
progresif.
maka sumber-sumber yang ada haruslah dapat
5. Mendorong para ketua kelompok dan petani
dikelola sedemikian rupa sehingga pada suatu saat muda progresif untuk melakukan penelitian di
masyarakat yang bersangkutan mampu tingkat petani-peternak yang dibantu pihak staf
berkembang secara mandiri dan sanggup merebut Ahli Perguruan Tinggi sebagai upaya
kesuksesan; dan (e) kesalingtergantungan di pengujian kemanfaatan pupuk kompos untuk
antara anggota masyarakat (termasuk peternak berbagai tanaman serta mampu memberikan
yang tergabung dalam wadah kelompok). informasi berapa besar kenaikan produksi dan
pendapatannya.
Peternak sapi potong diharapkan memiliki
6. Adanya insentif (keuntungan relatif yang
mentalitas manusia pembangunan dalam nyata) bagi para peternak sapi potong, sebagai
peranannya sebagai juru tani sekaligus sebagai contoh adanya pasar untuk menjual POP/
manajer dalam usaha tani-ternak yang dikelolanya kompos/ bokashi.
(Mosher, 1967), karena segala kegiatan produksi 7. Penataan wilayah Desa Pasir Biru khususnya
ternak bergantung kepada kualitas pribadi dan Kecamatan Rancakalong umumnya
sebagai wilayah agrowisata yang dilakukan
peternak berupa pengetahuan, keterampilan, dan
secara berrsama-sama antara Pemkab
kesadaran membangun dalam jiwa peternak. Sumedang dengan Perguruan Tinggi (Unpad
Kesadaran membangun akan tumbuh bila dan Unwim) akan secara nyata meningkatkan
peternak memiliki mentalitas manusia pendapatan masyarakat termasuk sapi potong
pembangunan yang menyangkut tata nilai, melalui penjualan sayuran, bunga-bungaan dan
perilaku, dan orientasi harapan sebagai fungsi tanaman lain yang menggunakan pupuk
motivasi berprestasi yang memberikan dorongan kompos.
kuat pada diri peternak dalam pengembangan
Ucapan Terima Kasih
usaha ternaknya. Tanpa adanya pendorong yang
Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima
menjadi motor penggerak untuk bekerja secara
kasih kepada Program IbW hibah kompetitif
produktif dan disiplin dalam mengelola ternak
pengabdian kepada masyarakat program DP2M
sapi potong maka keberhasilan sulit tercapai.
DIKTI. Program ini dibiayai oleh DIPA BLU
Universitas Padjadjaran berdasarkan SK Rektor
Kesimpulan
No. 1517/H6.1/Kep/KU/2011 Tanggal 1 Maret
1. Tingkat pengetahuan dan keterampilan/
psikomotorik peternak terhadap pemanfaatan 2011
POP termasuk belum optimal, namun dalam
aspek sikap cukup mendukung dalam Daftar Pustaka
pembuatan dan pemanfaatan POP. Koentjaraningrat, 1993. Kebudayaan, Mentalitas dan
2. Hambatan sosiologis pada peternak sapi Pembangunan. Gramedia Pustaka Umum.
potong dalam pemanfaatan POP berupa sifat Jakarta. Laporan Sibermas. 2009. Dikti. Jakarta.
mentalitas yang malas, memegang teguh Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan
kebiasaan (menggunakan pupuk buatan) dan Pertanian. Sebelas Maret University Press.
kurangnya peran mobilisasi dari pemerintahan Surakarta.
desa serta senantiasa mengharapkan bantuan Mosher, A.T. 1967. Menciptakan StrukturPedesaan
Progresif. CV Yasaguna. Jakarta.
79
JURNAL ILMU TERNAK, DESEMBER 2011, VOL. 11, NO. 2.

Ndraha, T. 1990. Pembangunan Masyarakat : IdaYustina dan Adjat Sudradjat (penyunting).


Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas. Membentuk Pola Perilaku Manusia
PT Rieneka Cipta. Jakarta. Pembangunan, hlm9-10. IPB Press. Bogor
Slamet, M. 2003. Meningkatkan Partisipasi Masyarakat
dalam Pembangunan Perdesaan. Dalam

80