Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA DAN SEMISOLIDA

“PEMBUATAN SEDIAAN SUSPENSI DRY SYRUP AMOXICILLIN”

Kelompok F2 :

1. Dita Ariesa Putri Prajoko (162210101048)


2. Dayu Lantika (162210101049)
3. Lyta Septi Fauziah (162210101054)
4. Itut Septiana Dewi (162210101055)
5. Anis Dwi Astuti (162210101056)
6. Saragoza Oktaviana M (162210101057)

Dosen jaga :Dwi Nurahmanto, S.Farm., M.Sc., Apt

BAGIAN FARMASETIKA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2018
I. Tujuan Praktikum
 Mahasiswa mampu mengetahui rancangan formula dalam pembuatan sediaan
suspensi dry syrup.
 Mahasiswa mampu mengetahui jenis dan contoh bahan tambahan dalam formula
sediaan suspensi dry syrup.
 Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami proses pembuatan sediaan suspensi
dry syrup beserta prosedur evaluasinya.

II. Dasar Teori


Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang
terdispeesi dalam fase cair. Sediaan yang digolongkan sebagai suspensi adalah sediaan seperti
tersebut di atas, dan tidak termasuk kelompok suspensi yang lebih spesifik, seperti suspensi
oral, suspensi topikal, dan lain-lain.
Beberapa suspensi dapat langsung digunakan, sedangkan yang lain berupa campuran
padat yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera
sebelum digunakan. Sediaan seperti ini disebut “....untuk Suspensi Oral”. Istilah susu kadang-
kadang digunakan untuk suspensi dalam pembawa yang mengandung air yang ditujukan
untuk pemakaian oral, seperti Susu Magnesia. Istilah Magma sering digunakan untuk
menyatakan suspensi zat padat anorganik dalam air seperti lumpur, jika zat padatnya
mempunyai kecenderungan terhidrasi dan teragregasi kuat yang menghasilkan konsistensi
seperti gel dan sifat reologi tiksotropik seperti Magma Bentonit.
Istilah Lotio banyak digunakan untuk golongan suspensi topikal dan emulsi untuk
pemakaian pada kulit seperti Lotio Kalamin. Beberapa suspensi dibuat steril dan dapat
digunakan untuk injeksi, juga untuk sediaan mata dan telinga. Suspensi dapat dibagi dalam 2
jenis, yaitu suspensi yang siap digunakan atau yang dikonstitusikan dengan jumlah air untuk
injeksi atau pelarut lain yang sesuai sebelum digunakan. Suspensi tidak boleh diinjeksikan
secara intravena dan intratekal.
Suspensi yang dinyatakan untuk digunakan dengan cara tertentu harus memgandung zat
antimikroba yang sesuai untuk melindungi kontaminasi bakteri, ragi dan jamur seperti tertera
pada Emulsi dengan beberapa pertimbangan penggunaan pengawet antimikroba juga berlaku
untuk suspensi. Sesuai sifatnya, partikel yang terdapat dalam suspensi dapat mengendap pada
dasar wadah bila didiamkan.
Suspensi adalah suatu bentuk sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk
halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan
tidak boleh cepat mengendap. Jika digojog perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi
kembali.
Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi antara lain :
1. Ukuran partikel
2. Banyak-sedikitnya partikel yang bergerak
3. Tolak menolak antar partikel karena adanya muatan listrik partikel
4. Konsentrasi suspensoid
Bila muatan partikel diabaikan maka faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi dapat
dilihat dari hukum Stokes :
v = 2r2g (d1-d2) / 9η
Keterangan :
v = kecepatan sedimentasi
g = percepatan gravitasi (980 cm/detik2)
r = jari-jari partikel (cm)
d1 = kerapatan fase dispersi (g/ml)
d2 = kerapatan medium dispersi (g/ml)
η = viskositas

Pada pembuatan suspensi dikenal dua macam sistem :


1. Sistem flokulasi
Dalam sistem flokulasi terikat lemah, cepat mengendap, pada penyimpanan tidak terjadi
cake dan mudah tersuspensi kembali.
2. Sistem deflokulasi
Dalam sistem ini, partikel mengandap perlahan-lahan dan akhirnya embentuk “cake”
yang keras dan sukar tersuspensi kembali.

Sifat-sifat relatif partikel flokulasi dan deflokulasi adalah sebagai berikut :

Flokulasi
1. Partikel merupakan agregat yang bebas.
2. Sedimentasi terjadi cepat, partikel mengendap sebagai flok yaitu kumpulan partikel
3. Sedimen terbentuk cepat
4. Sedimen dalam keadaan terbungkus dan bebas, tidak membentuk cake yang keras dan
padat, serta mudah terdispersi seperti semula
5. Wujud suspensi kurang menyenangkan sebab sedimentasi cepat terjadi sehingga bagian
atasnya tampak cairan jernih dan nyata.

Deflokulasi
1. Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan lainnya
2. Sedimentasi terjadi lambat, masing-masing partikel mengendap secara terpisah dan
ukuran partikel adalah minimal
3. Sedime terbentuk lambat. Akhirnya sedimen akan membentuk “cake” yang keras dan
sukar terdispersi kembali
4. Wujud suspensi menyenangkan karena zat tersuspensi stabil dalam waktu yang relatif
lama
5. Tampak ada endapan dan cairan bagian atas tersebut

Peristiwa flokulasi dan deflokulasi


Ada beberapa cara dalam pembuatan suspensi. Pemilihannya tergantung pada apakah
partikel terdeflokulasi atau terflokulasi. Cara pertama dengan menggunakan Structured
vehicle yang berfungsi menjaga agar partikel tetap terdeflokulasi dalam suspensi. Yang kedua
adalah menggunakan sistem terflokulasi sebagai suatu cara mencegah terbentuknya “cake”,
sedangkan yang ketiga adalah kombinasi dari keduanya yang menghasilkan suatu suspensi
dengan stabilitas optimal.
Elektrolit merupakan bahan pemflokulasi yang paling banyak digunakan. Bahan ini
beraksi dengan mengurangi kekuatan tolak menolak antar partikel sehingga memungkinkan
partikel-pertikel membentuk flok. Dalam suatu suspensi yang terflokulasi, fase terdispersi
akan mengendap secara tepat dan supernatannya merupakan cairan yang jernih. Untuk
menilai suatu suspensi/emulsi dapat dipergunakan volume endapan (F) yaitu perbandingan
volume endapan pada suatu saat dengan volume suspensi/emulsi mula-mula.
F = Vu/Vo
Dimana :
F = Volume pengendapan
Vu = Volume endapan setelah proses pengendapan
Vo = Volume suspensi/emulsi sebelum pengendapan

Robinson dkk, menggunakan perbandingan yang sama tetapi dengan menggunakan tinggi
endapan.
F = Hu/Ho
Dimana :
F = Volume pengendapan
Vu = Tinggi endapan setelah proses pengendapan
Vo = Tinggi suspensi/emulsi mula-mula sebelum pengendapan

Suatu parameter yang lebih baik untuk menilai suspensi adalah dengan menggunakan
derajat fokulasi (β) yang menerangkan hubungan antara volume pengendapan suspensi
terflokulasi (F) dengan volume pengendapan suspensi yang sama jika suspensi tersebut dalam
keadaan terdeflokulasi (F~). Suspensi yang terdeflokulasi sempurna akan mempunyai endapan
yang relative kecil ditandai dengan V~. Volume pengendapan suspensi tersebut. Berdasarkan
persaman (1) menjadi :
F~ = V~/Vo
Perbandingan antara F dengan F~ adalah derajat flokulasi (β)
Β = F/ F~
Substitusi harga F dan F~ dari persamaan (1) dan (3) ke persamaan (4) menjadi :
Vu/Vo Vu
β= =
V~/Vo Vo
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa :
Volume endapan akhir suspensi terflokulasi
β=
Volume endapan akhir suspensi terdeflokulasi
Apabila harga β = 1 berarti tidak terjadi flokulasi dalam sistem tersebut.

Pada praktikum kali ini bahan aktif yang digunakan yaitu Amoxicillin dan akan dibuat
dalam bentuk sediaan dry sirup (sirup kering). Adapun alasan dipilihnya bentuk sediaan sirup
kering, antara lain :
1. Bahan aktif amoxicillin tidak larut air dan jika di dalam air diperkirakan efek
antibiotiknya akan menurun karena terjadi degradasi pada cincin beta laktam sehingga
rusak.
2. Untuk menghindari masalah stabilitas fisika yang tidak dapat dihindari dalam suspensi
konvensional.
3. Sediaan suspensi kering lebih ringan sehingga lebih menguntungkan dalam
pendistribusian.
4. Dalam penyimpanan, sediaan sirup kering lebih stabil atau tingkat stabilitasnya lebih
tinggi dibanding sediaan larutan.
5. Sediaan suspensi lebih mudah diabsorbsi dalam tubuh dibandingkan sediaan padat.
6. Mengurangi biaya ditribusi (ekonomis) karena tidak ada pelarut cair dalam botol.
7. Baik untuk pasien yang sulit menelan.

III. Evaluasi Produk Referen


a. Amobiotic (Sumber : ISO 2016, halaman 87)
 Nama Dagang : Amobiotic
 Pabrik : Bernofarm
 Kandungan : Amoksisilin 125 mg/ 5 ml
 Indikasi : Infeksi saluran nafas atas dan bawah, saluran kemih, saluran
cerna, kulit dan jaringan lunak
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Mual, muntah, diare
 Perhatian : Ruam, gatal, ganggguan fungsi hati dan ginjal, super infeksi
 Interaksi Obat : Probenesid, Allopurinol
 Dosis : Anak < dari 2 tahun : 3x sehari 2,5 ml
Anak 2-10 tahun : 3x sehari 5 ml
Dewasa 6-8 jam : 250- 500 mg

b. Liskoma (Sumber : ISO 2016, halaman 93)


 Nama Dagang : Liskoma
 Pabrik : Mega EsaFarma
 Kandungan : Amoksisilin 125 mg/ 5 ml
 Indikasi : Infeksi kulit dan jaringan lunak, saluran kemih, saluran cerna,
infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran genitourinary
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Eritomatous, makulo papularashes, urtikaria, serum sickness,
mual muntah dan diare.
 Perhatian : Hipersensitif terhadap sefalosporin, kerusakan ginjal,
leukemia, limfatik, super infeksi
 Interaksi Obat : Probenesid, Allopurinol
 Dosis : Anak BB >20kg : 250 -500 mg
Anak BB < 20 kg : 25- 40 mg

c. Yusimox (Sumber : ISO 2016, halaman 98)


 Nama Dagang : Yusimox
 Pabrik : Ifars
 Kandungan : Amoksisilin 125 mg/ 5 ml
 Indikasi : Infeksi saluran kemih, saluran cerna, infeksi saluran
pernafasan
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Gatal, mual, muntah dan diare.
 Perhatian : Super infeksi, kejang, syok anafilaksis
 Interaksi Obat : Probenesid, Allopurinol
 Dosis : Dewasa dan Anak BB >20kg : 250 -500 mg : 3x sehari
Anak BB < 20 kg : 25- 40 mg : 3x sehari

d. Zimoxil (Sumber : ISO 2016, halaman 98)


 Nama Dagang : Zimoxil
 Pabrik : Zenith
 Kandungan : Amoksisilin 125 mg/ 5 ml
 Indikasi : Infeksi saluran kemih, saluran cerna, infeksi saluran
pernafasan, Genore, saluran empedu
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Alergi, mual, muntah dan diare
 Perhatian : Gangguan hati dan ginjal
 Interaksi Obat : Probenesid, Allopurinol
 Dosis : Dewasa dan Anak BB >20kg : 250 -500 mg : 3x sehari
Anak BB < 20 kg : 25- 40 mg : 3x sehari

e. Ramoxil (Sumber : ISO 2016, halaman 96)


 Nama Dagang : Ramoxil
 Pabrik : Rama Emerald MS
 Kandungan : Amoksisilin 125 mg/ 5 ml
 Indikasi : Infeksi saluran kemih, saluran pernafasan bagian atas dan
bawah
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Gatal, mual, muntah dan diare, ruam, serum sickness
 Perhatian : Super infeksi, gangguan hati dan ginjal
 Interaksi Obat : Probenesid, Allopurinol
 Dosis : Dewasa: 250 -500 mg : 3x sehari
Anak 2 tahun< 20 kg :1/2-1 sdtk (5 ml) : 3x sehari

f. Hufanoxil (Sumber : ISO 2016, halaman 92)


 Nama Dagang : Hufanoxil
 Pabrik : Gratia HusadaPharma
 Kandungan : Amoksisilin 125 mg/ 5 ml
 Indikasi : Infeksi saluran pernafasan bagian bawah, infeksi telinga,
hidung dan tenggorokan
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Gatal, mual, muntah dan diare, ruam, serum sickness
 Perhatian : Gangguan hati dan ginjal, infeksi saluran pencernaan
 Interaksi Obat : Probenesid, Allopurinol
 Dosis : Dewasa: 250 -500 mg : 3x sehari
Anak BB < 20 kg : 25- 40 mg : 3x sehari
Anak sampai 10 tahun : 125 mg-250 mg : 3x sehari

g. Leomoxyl (Sumber : ISO 2016, halaman 98)


 Nama Dagang : Leomoxyl
 Pabrik : Guardian Pharmatama
 Kandungan : Amoksisilin 125 mg/ 5 ml
 Indikasi : Infeksi saluran pernafasan bagian atas dan bawah, infeksi
kulit dan jaringan lunak
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Infeksi saluran cerna dan hipersensitif
 Perhatian : Alergi, gangguan fungsi hati dan ginjal, super infeksi saluran
cerna
 Interaksi Obat : Probenesid, Allopurinol
 Dosis : Dewasa dan Anak BB >20kg : 250 -500 mg : 3x sehari
Anak BB < 20 kg : 25- 40 mg : 3x sehari

h. Bufamoxy (Sumber : ISO 2016, halaman 90)


 Nama Dagang : Bufamoxy
 Pabrik : Bufa Aneka
 Kandungan : Amoksisilin 125 mg/ 5 ml
 Indikasi : Infeksi saluran pernafasan, infeksi kulit dan jaringan lunak,
infeksi saluran genitoverinary
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Alergi, mual, muntah dan diare.
 Perhatian : Kolitisberat, super infeksi, gangguan fungsi hati dan ginjal
 Interaksi Obat : Probenesid, Allopurinol
 Dosis : Dewasa dan Anak BB >20kg : 250 -500 mg : 3x sehari
Anak BB < 20 kg : 25- 40 mg : 3x sehari

i. Broadamox (Sumber : ISO 2016, halaman 90)


 Nama Dagang : Broadamox
 Pabrik : Sampharindo Perdana
 Kandungan : Amoksisilin 125 mg/ 5 ml
 Indikasi : Infeksi kulit dan jaringan lunak
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Mual, muntah dan diare.
 Perhatian : Alergi, gangguan fungsi hati dan ginjal, memicu ruam kulit
 Interaksi Obat : Probenesid, Allopurinol
 Dosis : Dewasa dan Anak BB >20kg : 250 -500 mg : 3x sehari
Anak BB < 20 kg : 25- 40 mg : 3x sehari

j. Novamox (Sumber : ISO 2016, halaman 94)


 Nama Dagang : Novamox
 Pabrik : Novapharin
 Kandungan : Amoksisilin 125 mg/ 5 ml
 Indikasi : Infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran
genitoverinary
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Mual, muntah, diare, reaksi hematological
 Perhatian : Gangguan fungsi hati dan ginjal atau hematolitik
 Interaksi Obat : Probenesid, Allopurinol
 Dosis : Dewasa dan Anak BB >20kg : 250 -500 mg : 3x sehari
Anak BB < 20 kg : 25- 40 mg : 3x sehari

k. Opimox (Sumber : ISO 2016, halaman 95)


 Nama Dagang : Opimox
 Pabrik : Otto
 Kandungan : Amoksisilin 125 mg/ 5 ml
 Indikasi : Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan lunak, gonore
 Kontra Indikasi : Hipersensitif
 Efek Samping : Mual, muntah dan diare.
 Perhatian : Gangguan fungsi hati dan ginjal
 Interaksi Obat : Probenesid, Allopurinol
 Dosis : Dewasa dan Anak BB >20kg : 250 -500 mg : tiap 8 jam
Anak BB < 20 kg : 25- 40 mg : 3x sehari

IV. Studi Praformulasi Bahan Aktif dan Turunannya


Pada praktikum kali ini bahan aktif yang digunakan yaitu Amoxicillin. Amoxicillin
merupakan antibiotik yang paling terkenal diseluruh dunia. Obat yang memiliki nama generik
Amoxicillin ini mempunyai nama paten yang jumlahnya mencapai ratusan buah seperti
Penmox, Intemoxyl, Ospamox, Amoxsan, Hufanoxyl dan Yusimox. Amoxicillin adalah
antibiotik yang termasuk kedalam golongan penisilin. Obat lain yang termasuk ke dalam
golongan ini antara lain Ampicillin, Piperacillin, Ticarcillin dan lain – lain.
Nama Bahan Oba : Amoxicillin
Stuktur Kimia : C6H19N3O5S
Berat Molekul : Anhidrat = 365,40; Trihidrat = 419,45
Fungsi : Antibiotik
Pemerian : Serbuk hablur putih ; praktis tidak berbau
Kelarutan : Sukar larut dalam air dan metanol, tidak larut dalam benzena, dalam
karbon tetraklorida dan dalam kloroform.
Stabilitas : Stabilitas terhadap suhu yaitu terurai pada suhu 30-35˚C. Tidak stabil
terhadap paparan cahaya. Stabilitas terhadap air sekitar 11,5-14,5%
(Wiryatni,2010 hal 6-7); (USP hal. 1764)
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, pada suhu kamar yang terkendali
(Anonim, FI IV hal 96)
Dosis : 250-500 mg setiap 8 jam atau 500-875 mg 2 kali sehari. (Siswandono,
Kimia Medisinal Edisi 1, hal. 124)
Kemurnian : Amoxicillin mengandung tidak kurang dari 90,0% C6H19N3O5S,
dihitung terhadap zat anhidrat. Mempunyai potensi setara dengan tidak
kurang dari 900 μg dan tidak lebih dari 1050 μg per mg C6H19N3O5S
dihitung terhadap zat anhidrat. (Anonim, FI IV hal. 95)
pH : Stabil antara 3 dan 6.0 ; dilakukan penetapan menggunakan larutan 2
mg/ml. pH untuk bentuk suspensi oral stabil antara 5 dan 7.5 ; dalam
suspensi yang disiapkan dalam etiket. (Anonim, FI IV hal. 96,99)
Kajian Farmakologis : Amoxicillin merupakan antibiotik dengan spektrum luas, digunakan
untuk pengobatan yaitu untuk infeksi pada saluran nafas, saluran
empedu dan saluran seni, gonorhu, gastroenteris, meningitis dan
infeksi karena Salmonella thypi seperti demam tipoid. Amoxicillin
adalah turunan penisilin yang tahan asam tetapi tidak tahan terhadap
penisilinase. Amoxicillin aktif melawan bakteri gram positif yang
menghasilkan β-laktamase dan aktif melawan gram negatif karena
obat tersebut dapat menembus pori-pori dalam membran fosfolipid
luar. Untuk pemberian oral, amoxicillin merupakan obat pilihan
karena di absorbsi lebih baik dari pada ampicillin, yang seharusnya
diberikan secara parenteral. Amoxicillin diabsorbsi dengan cepat dan
baik pada saluran pencernaan, tidak tergantung adanya makanan.
Amoxicillin terutama diekskresikan dalam bentuk tidak berubah di
dalam urin. Ekskresi amoxicillin dihambat saat pemberian bersamaan
dengan probenesid sehingga memperpanjang efek terapi.
(Siswandono, Kimia Medisinal Edisi I, hal. 333)
Kemurnian : kemurnian amoxicillin untuk Suspensi Oral yaitu mengandung tidak
kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 120% C6H19N3O5S dari jumlah
yang tertera dalam etiket. Mengandung satu aatu lebih dapar, pewarna,
pengaroma, pengawet, penstabil, pemanis dan pensuspensi yang
sesuai. (Anonim FI IV hal. 99)
Efek Samping : gangguan lambung usus (diare, mual, muntah) dan rash yang jarang
terjadi
Interaksi : Lama kerja diperpanjang oleh obat-obat cocok probenisid dan
sulfinpirazon, juga asetosal dan endometasin. Efek amoxicillin
(turunan penicillin) dikurangi oleh antibiotika bakteriostatis
(tetrasiklin,chloramphenicol, makrolida). Amoxicillin dianggap aman
bagi wanita hamil dan menyusui, walau dalam jumlah kecil terdapat
dalam darah janin dan air susu ibu. Untuk menjaga khasiat obat maka
harus diperhatikan cara penyimpanan. Amoxicillin disimpan dalam
suhu kamar yaitu 20-25˚C. Untuk sirup kering yang telah dicampur
dengan air sebaiknya tidak digunakan lagi setelah 14 hari atau 2
minggu.

Tabel 1. Hasil Studi Pustaka Bahan Aktif


Efek Karakteristik Karakteristik
No Bahan Aktif Efek Utama Sifat Lain
Samping Fisika Kimia
1 Amoxicillin Digunakan Mual, Serbuk Kelarutan 1 gram
Trihidrat dalam muntah, hablur putih, sedikit larut amoxicillin
pengobatan diare, berbentuk dalam air, setara
infeksi pada sakit putih, kristal, sangan dengan 1,15
telinga, kepala, tidak bau, sedikit larut gram
hidung, perut, dan rasa dalam amoxicillin
saluran GI glositis, pahit. alkohol, tidak trihidrat.
dan saluran dan larut dalam Tidak tahan
pencernaan. stomatis. minyak terhadap
Merupakan lemak. pemanasan
antibiotik BM=419,45; dan sulit
spektrum pH=3,5-6; terbasahi.
luas. pKa=2,8.
2 Amoxicillin Digunakan Mual, Serbuk BM=365,40; Tidak tahan
Anhidrat dalam muntah, hablur putih, pH=3,5-6; pemanasan
pengobatan diare, tidak berbau, pKa=2,8. dan sulit
infeksi pada sakit berbentuk Tidak stabil terbasahi.
telinga, perut, kristal dan di air, sukar
hidung, ganggua berasa pahit. larut dalam
sekitar n air dan
pernafasan pencerna metanol,
dan gigi serta an dan tidak larut
kulit. alergi. dalam
Merupakan benzena,
antibiotik karbon
dengan tetraklorida.
spektrum
luas.
3 Amoxicillin Digunakan Mual, Serbuk putih BM=387,4 Biasanya
Natrium dalam muntah, atau hampir pH=8-10 digunakan
pengobatan diare, putih sampai untuk
infeksi pada sakit higroskopis. sediaan
telinga, perut, injeksi.
hidung, ganggua
saluran GI, n
gigi, kulit dan pencerna
saluran an dan
pernafasan. alergi.
Merupakan
antibiotik
dengan
spektrum
luas.

Alasan Memilih Bahan Aktif :


Amoxicillin merupakan turunan dari p-hidroxy ampicillin yang digunakan
sebagai antibiotik dengan spektrum luas bersifat stabil terhadap asam. Penyerapan
amoxicillin yang terjadi di saluran cerna dan tidak dipengaruhi oleh kondisi lambung
atau makanan. Amoxicillin mudah digunakan dengan pemberian secara per oral. Proses
penyerapan amoxicillin terjadi di saluran cerna sebanyak 70%-90%. Amoxicillin
digunakan sebagai obat pilihan untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Enterococcus, fragilus dan juga efektif terhadap bakteri penghasil enzim penisilase
misalnya Streptococcus (pengobatan dikombinasi dengan clavinalat), N. gonnorhoe
(pengobatan dikombinasi dengan probenesid), dan E. coli (pengobatan dikombinasi
dengan daviliilanate), Pasteeurellah multicada (pengobatan dikombinasi dengan
davulanat).
Pembuatan dry syrup menggunakan Amoxicilin Trihidrat, dengan rumus
molekul C16H19N3O2S.3H2O dengan berat molekul 419,45. Kesetaraan amoxicillin
dengan amoxicillin trihidrat adalah 1:1,15. Amoxicillin lebih bersifat polar karena
mengandung gugus hidroxy yang hidrofil. Pemilihan amoxicillin trihidrat berdasaran
tingkat kelarutan yang lebih besar daripada amoxicillin, sehingga obat yang
mengandung amoxicillin trihidrat akan lebih cepat larut dalam tubuh dan lebih cepat
diabsorbsi dengan konsentrasi yang lebih besar.

Dosis dan Perhitungannya :


a) Menurut martindel 36th, hal 203:
Dosis oral : 250-500mg tiap 8 jam atau 500-875mg tiap 12 jam
Anak-anak > 10 tahun : 125-250mg tiap 8 jam
Dibawah 40kg : 20-40mg/kgBB sehari dalam dosis terbagi tiap 8 jam dan
25-45mg/kgBB sehari terbagi dalam 12 jam. Dosis maks 3
gram/hari
b) Pasien Yang Dituju
Kali ini sediaan yang dibuat dalam bentuk liquid suspensi(dry Sirup). Hal ini,
dikarenakan konsumen atau pasien yang dituju adalah pada usia 1-12 tahun yang
tidak bisa/ susah menelan obat jika dalam bentuk sediaan tablet. Selain itu juga
dipilih sediaan dry sirup karena bahan aktif yang bersifat tidak stabil dengan air dan
jika disimpan terlalu lama maka akan terhidrolisis oleh air sehingga akan
mendegradasi unsur P lactam.
c) Perhitungan dosis
Dosis sediaan yang dibuat : 125mg/5ml
Alasan : Dosis 125mg/5ml dianggap dapat digunakan bagi anak usia 1-12 tahun,
hanya penyesuaian takar dalam aturan pemakaiannya.

*Perhitungan pemakaian 1x
Usia Perhitungan Dosis Rentang Dosis Pemakaian 1x
Cek Dosis 1x
(thn) (mg) (mg) (sendok takar)
1 1/13 x (250-500mg) 19,23 - 38,46 0,25 81% ≠ OD
2 2/14 x (250-500mg) 35,71-71,43 0,5 87,5% ≠ OD
3 3/15 x (250-500mg) 50-100 0,5 62,5% ≠ OD
4 4/16 x (250-500mg) 62,5-125 0,5 50% ≠ OD
5 5/17 x (250-500mg) 73,53-147,05 1 85% ≠ OD
6 6/18 x (250-500mg) 83,33-184,21 1 75% ≠ OD
7 7/19 x (250-500mg) 92,10-104,21 1 67,85% ≠ OD
8 8/20 x (250-500mg) 100-200 1,5 93,75% ≠ OD
9 9/21 x (250-500mg) 112,5-225 1,5 83,33% ≠ OD
10 10/22 x (250-500mg) 125-250 1,5 75% ≠ OD
11 11/23 x (250-500mg) 137,5-275 2 90,9% ≠ OD
12 12/24 x (250-500mg) 150-300 2 83,33% ≠ OD

Ket : 0,5sdt = 62,5mg 1,5sdt = 187,5mg 0,25sdt = 31,25mg


1 sdt = 125mg 2sdt = 250mg
Usia Perhitungan dosis Dosis max 1 H Pemakaian 1 H
Cek Dosis 1 H
(thn) Max 1 hari (mg) (sdt)
3x¼
1 1/13 x 3000mg 230,77 40,62% ≠ OD
(93,75mg)
3x½
2 2/14 x 3000mg 438,57 43,75% ≠ OD
(187,5mg)
3x½
3 3/15 x 3000mg 600 31,25% ≠ OD
(187,5mg)
3x½
4 4 /16x 3000mg 750 25% ≠ OD
(187,5mg)
3x1
5 5/17 x 3000mg 882,35 42,5% ≠ OD
(375mg)
3x1
6 6/18 x 3000mg 1000 37,5% ≠ OD
(375mg)
3x1
7 7/19 x 3000mg 1105,25 33,9% ≠ OD
(375mg)
3x1½
8 8/20 x 3000mg 1200 46,87% ≠ OD
(562,5)
1
9 3 x 12
9. 20
x 3.000 mg 1.350 41,67% ≠ OD
(562,5)
1
10 3 x 12
10. 20
x 3.000 mg 1.500 37,5 % ≠ OD
(562,5)

11 3x2
11. 20
x 3.000 mg 1.650 45,5 % ≠ OD
(750)

12 3x2
12. 20
x 3.000 mg 1.800 41,67 % ≠ OD
(750)
Aturan Pakai :
 1 tahun : 3 x sehari ¼ sendok takar.
 2-4 tahun : 3 x sehari ½ sendok takar.
 5-7 tahun : 3 x sehari 1 sendok takar.
 8-10 tahun : 3 x sehari 1 ½ sendok takar.
 11-12 tahun : 3 x sehari 2 sendok takar.
V. Jenis dan Contoh Bahan Tambahan dalam Formula
a. PGA (Pulvis Gummi Acaciae) (HPE, Hal 1)
Pemerian : Serbuk putih/putih kekuningan, tidak berbaudan hambar.
Kelarutan : Larutdalam 20 bagian gliserin, larut dalam 20 bagian propilen
glikol, larutdalam 2,7 bagian air dan praktis tidak larut dalam
etanol.
Kegunaan : Sebagai Suspending Agent.
Persyaratan : 5% - 10%
Stabilitas : Stabil pada wadah kedap udara pada tempat sejuk dan kering.
Stabil pada larutan berair mengakibatkan degradasi bakteri atau
enzimatik bisa diawetkan dengan mendidihkan larutan sebentar
untuk menonaktifkan enzim yang ada.
Inkompatibilitas : PGA tidak kompatibel dengan jumlah zat termasuk emidorpin,
apomorfin, kreosol, etanol (95%), ferric salt, morfin, fenol,
vanilin.
pH : 4,5 – 5,0
Bobot Jenis : 1,35 – 1,49
Alasan Pemilihan : Pemilihan jenis bahan tambahan PGA, dikarenakan PGA tidak
inkompatibel dengan bahan aktif, PGA mempunyai kestabilan
yang tinggi dalam kondisi kering dan suhu dingin sehinnga stabil
dalam air, dan PGA mempunyairentang pH yang masuk dalam
rentang pH sediaan sirup (dry sirup).

b. PVP (Polyvinyl Pyrolidone) (HPE, Hal 581)


Struktur :

Pemberian : Serbuk halus berwarna putih sampai putih krem, higroskopis,


tidak berbau atau hampir tidak berbau.
Kelarutan : Mudah larut dalam asam, kloroform, etanol 95%, keton, metanol
dan air; praktis tidak larut dalam eter hidrokarbon dan minyak
mineral.
Stabilitas : PVP menjadi lebih gelap dengan pemanasan pada suhu 150ºC
tetapi stabil pada pemanasan panas singkat 110-130⁰C. PVP dapat
disimpan dalam kondisi umum tanpa mengalami dekomposisi/
degradasi. Karena sifatnya yang higroskopis pvp harus disimpan
dalam wadah kedap udara di tempat yang kering dan sejuk.
Inkompaktibilitas : Penggunaan pengawet seperti thimcrosal dapat mengakibatkan
efek samping karena terbentuk kompleks PVP
Kegunaan : Zat pesuspensi perbandingan diatas 5%
ADI : 50 mg/ kgBB

c. Natrium Benzoat (HPE, Hal 627 – 629)


Struktur :

Pemerian : Kristal putih tidak berwarna, bau seperti benzoin, higroskopis.


Kelarutan : Larutdalam 75 bagian etanol (95%) P, larut dalam 1,8 bagian air.
Kegunaan : Pengawet antimikroba
ADI : 5 mg/kgBB/hari
BM : 144,11
pH : 8,0
BJ : 1,497 – 1,527 g/cm2 pada suhu 24oC
Inkompatibilitas : Efek pengawet akan dihamba tdengan adanya kaolin.
Alasan : Pemakaian Na Benzoat lebih efisien yaitu dalam pemakaiannya
tidak perlu bahan pendukung (bahan pengawet) lainnya untuk
memaksimalkan efek yang ditimbulkan, Na Benzoat mula larut
dalam air (1:1).
d. Asam Sitrat (HPE, Hal 181 – 183)
Struktur :

Pemerian : Hablur bening, tidak berwarna atau serbuk hablur granul sampai
halus, putih, tidak berbau atau praktis tidak berbau, rasa sangat
asam. Bentuk hidrat mekar dalam udara kering.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol, sukar
larut dalam eter.
Kegunaan : Sebagai pengasam, antioksidan, penyangga (buffer), pengikat
rasa. Asam sitrat yang biasa digunakan adalah 0,1% - 2% sebagai
buffer, dan 0,3% - 2% sebagai pengikat rasa.
Stabilitas : Asam sitrat monohidrat kehilangan airsaat kristalisasi pada udara
kering atau saatdipanasi pada suhu 40oC. Sedikit mencair pada
udara lembab. Asam sitrat monohidrat disimpan pada tempat
sejuk dan sering.
Inkompatibilitas : Tidak bercampur dengan kalium nitrat, alkali dan alkali tanah,
karbonat dan bikarbonat, asetat serta sulfida. Asam sitrat juga
tidak bercampur dengan oksidator, basa, reduktor dan nitrat.
Potensial dapat meledak bila di kombinasikan dengan logam
nitrat. Pada penyimpanan, sukrosa dapat mengkristal dari sirup
dengan keberadaan asam sitrat.
Persyaratan : 0,1% - 2%
ADI : Tidak ada batasan
Alasan : Asam sitrat mempunyai kelarutan dalam air, stabil dalam kondisi
penyimpanan.

e. NaOH (HPE, Hal 648 – 649)


Pemerian : Bentuk batang, butiran, rapuh dan mudah meleleh basah. Massa
hablur atau keping, sangat alkalis dan korosif.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%).
Keguanaan : Sebagai alakalis dan sebagai buffering agent.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Stabilitas : Harus disimpan dalam nonmetalik yang kedap udara, dalam
wadah yang kering dan sejuk. Saat terkena udara NaOH akan
cepat kelembapannya dan mencair, tetapi menjadi padat lagi
karena penyerapan karbondioksida dan pembentukan natrium
bikarbonat.
Inkompatibilitas : NaOh merupakan basa kuatdan tidak sesuai dengan apapun
senyawa yang mudah mengalami hidrolisis atau oksidasi. NaOH
akan bereaksi dengan asam, ester dan eter terutama dalam larutan
baerair.
Alasan : NaOH mempunyai kelarutan dalam air, digunakan sebagai
buffering agent.

f. Sukrosa (HPE, Hal 703)


Pemerian : Hablur,putih, tidak berbau dan manis.
Kelarutan : Mudah larutdalam air, praktis tidak larut dalam kloroform, sukar
larut dalam etanol.
Kegunaan : Pemanis
Persyaratan : 67%
Stabilitas : Stabil pada suhu ruang,mudah terurai dengan udara luar.
Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan asam askorbat, sulfit kabar tinggi,
terhidrolisis karena adanya asam.
Alasan : Karena sukrosa mudah larut air.

g. Grape Flavour
Pemerian : Warna ungu, rasa anggur.
Kelarutan : Larutan dalam air.
Stbilitas : Dapat bercampur dengan zat tambahan.
Kegunaan : Untuk memberi warna dan rasa pada sediaan.
VI. Susunan Formula dan Komposisi Bahan yang Direncanakan
Jumlah
No. Bahan Fungsi Persentase Rentang
60 ml 500 ml
Amoxicillin 14,375
1. Bahan Aktif 1,725 g 2,876 %
trihidrat g
2. PGA Suspending Agent 4,5 g 37,5 g 7,5 % 5% - 10%
3. PVP Suspending Agent 1,8 g 15 g 3%
4. Sukrosa Pemanis 18 g 150 g 30 % 67 %
5. Natrium Siklamat Pemanis Buatan 0,102 g 0,85 g 17 % 0,17 %
0,02% -
6. Na Benzoat Pengawet 0,222 g 1,85 g 0,37 %
0,5%
0,1% - 2
7. Asam Sitrat Dapar 0,973 g 8,108 g 1,62 %
%
8. NaOH Dapar 0,33 g 2,5 g 0,5 % 0,3% - 2%
9. Grape Flavour Pembau, Pewarna 0,2 g 1,5 g 0,3 %
Ad 60 Ad 500
10. Aquadest Pelarut
ml ml

a. Penambahan Massa Bahan 10%


Jumlah 500 Penambahan
No. Bahan Fungsi Total
ml 10%
1. Amoxicillin Trihidrat Bahan Aktif 14,375 g 1,4375 g 15,8125 g
2. PGA Suspending Agent 37,5 g 3,75 g 41,25 g
3. PVP Suspending Agent 15 g 1,5 g 16,5 g
4. Sukrosa Pemanis 150 g 15 g 165 g
5. Natrium Siklamat Pemanis Buatan 0,85 g 0,085 g 0,935 g
6. Na Benzoat Pengawet 1,85 g 0,185 g 2,035 g
7. Asam Sitrat Dapar 8,1 g 0,81 g 8,91 g
8. NaOH Dapar 2,5 g 0,25 g 2,75 g
9. Grape Flavour Pembau, Pewarna 1,5 g 0,15 g 1,65 g
b. Penimbangan Bahan Untuk 1 botol (60 ml)
 Amoxicillin anhidrat dosis 125 mg/5 ml
125 𝑚𝑔 𝑥
Untuk 60 ml  = 60 𝑚𝑙
5 𝑚𝑙

x = 1.500 mg  1,5 g
1 𝑚𝑔 1,5 𝑚𝑔
Untuk amoxicillin trihidrat  1,15 𝑚𝑙 = 𝑥

x = 1,725 g amoxicillin trihidrat


7,5
 PGA  100 x 60 ml = 4,5 g
3
 PVP  100 x 60 ml = 1,8 g
30
 Sukrosa  100 x 60 ml = 18 g
0,17
 Natrium Siklamat  x 60 ml = 0,102 g
100
0,37
 Na Benzoat  x 60 ml = 0,222 g
100
1,62
 Asam Sitrat  x 60 ml = 0,972 g
100
0,5
 NaOH  100 x 60 ml = 0,3 g
0,3
 Grape Flavour 100 x 60 ml = 0,2 g

c. Penimbangan Bahan Untuk Skala Besar 500 ml


1,725 𝑔
 Amoxicillin  x 500 ml = 14,375 g
60 𝑚𝑙
10
Penambahan 10% = 100 x 14,375 g = 15,8125 g
4,5 𝑔
 PGA  60 𝑚𝑔 x 500 ml = 37,5 g
10
Penambahan 10% = 100 x 37,5 g = 47,25 g

 PVP : 1,8g/60ml x 500 ml = 15 g


Penambahan 10% = 10/100 x 15g = 1,5 + 15 = 16,5 g
 Sukrosa = 4,68 g / 60ml x 500ml = 39 g
Penambahan 10% = 10 /100 x 39 = 3,9+39= 42,9 g
 Na Siklamat = 0,102g / 60ml x 500 ml = 0,85 g
Penambahan 10% = 10/100 x 0,85 = 0,085+0,85= 0,165g
 Na Benzoat = 0,69g/60ml x 500ml = 0,5g
Penambahan 10% = 10/100 x0,5g = 0,005+0,5=0,55g
 Asam Sitrat = 0,972g/60ml x 500ml = 8,1g
Penambahan 10% = 10/100 x8,1g = 0,81 +8,1 = 8,91
 NaOH = 0,3g/60 x 500ml = 2,5 g
Penambahan 10% = 10/100 x 2,5 g = 0,25g +2,75g
 Grape flavour = 0,18g/60ml x 500ml = 1,5 g
Penambahan 10% = 10/100 x1,5g= 0,15+1,5= 1,65g

 Perhitungan Pembuatan Dapar Sitrat


Dapar sitrat berfungsi untuk mempertahankan pH sediaan dengan sedikit asam atau
basa, pH yang digunakan adalah pH 5,0. Dengan kapasitas dapar 25 ml.
pKa Sitrat : pKa 1 = 3,15
pKa 2 = 4,78 (yang digunakan)
pKa 3 = 6,40
pH = pKa + log [G] pKa = - log Ka
[A] 4,78 = - log Ka
5,0 = 4,78 + log [G] Ka = 1,6596 x 10-5
[A]
Log [G] = 0,22 pH = - log [H+]
[A] 5,0 = - log [H+]
[G] = 1,6596 [H+] = 1x 10-5
[A]

β = 2,303 . C . ka . [H3O+] C = [garam] + [asam]


ka + [H3O+] )2 0,18508 = 1,6596 [A] + [A]
0,1= 2,303 x 1,6596 x 10-5 x 10-5 x c 0,18508 = 2,6596 [A]
(1,6596 x 10-5) + (10-5 ))2 [A] = 0,06959 mol/L
0,1 = 3,8221 x 10-10x c [G] = 1,6596 [asam]
7,073x 10-10 = 1,6596 x 0,06959 mol/L
0,1 = 0,5403 C = 0,11549 mol/L
C = 0,18508
Dibuat Dapar sitrat 25 ml = 0,0025 L
n asam = 0,06959 mol/Lx 0,025 L asam = NaH2 sitrat
= 0,00174 mol garam = Na2H sitrat\
n garam = 0,11549 mol/L x 0,025 L
= 0,00289ml
Persamaan Reaksi
H3 Sitrat + NaOH NaH2 Sitrat + H2O
M : 0,00463 0,00463
R : 0,00463 0,00463 0,00463 0,00463
S : - - 0,00463 0,00463

NaH2 Sitrat + NaOH NaH2 Sitrat + H2O


M: 0,00463 0,00289
R: 0,00289 0,00289 0,00289 0,00289
S: 0,00174 - 0,00289 0,00289

M H2 sitrat = mol x BM
= 0,00463 x 210,14
= 0,9729 gram
= 973 mg
M NaOH = mol x BM
= (0,00463=0,00289) x 40
= 0,3008 gram
= 300,8 mg

Perhitungan ADI
1. NA Benzoat
- ADI = 5 mg/kgBB
- Rentang Usia
1 th = 7,85 kg x 5 mg = 39,25 mg
2-4 th = (9,45 - 12,8) kg x 5 mg = (47,25 - 64) mg
5 - 7 th = (14,3 – 18,2) kg x 5 mg = (71,5 - 91) mg
8 - 10 th = (20,45 – 24,3) kg x 5 mg = (102,25 – 121,5) mg
11 - 12 th = (27,65 – 30,35) kg x 5 mg = (138,25 – 154,25) mg
- Na Benzoat yang digunakan 0,222 g
1,25
1 th =3x x 0,222 g = 0,013875 g (Tidak Melebihi ADI)
60
2,5
2 - 4 th =3x x 0,222 g = 0,02775 g (Tidak Melebihi ADI)
60
5
5 - 7 th = 3 x 60 x 0,222 g = 0,0555 g (Tidak Melebihi ADI)
7,5
8 - 10 th =3x x 0,222 g = 0,08325 g (Tidak Melebihi ADI)
60
10
11 - 12 th = 3 x 60 x 0,222 g = 0,111 g (Tidak Melebihi ADI)

2. Na Siklamat
- ADI = 11 mg/kgBB
- Rentang Usia
1 th = 7,85 kg x 11 mg = 86,35 mg
2 - 4 th = (9,45 - 12,8) kg x 11 mg = (103,95 – 140,8) mg
5 - 7 th = (14,3 – 18,2) kg x 11 mg = (157,3 – 200,2) mg
8 - 10 th = (20,45 – 24,3) kg x 11 mg = (224,95 – 267,3) mg
11 - 12 th = (27,65 – 30,35) kg x 11 mg = (304,15 – 399,35) mg
- Na Siklamat yang digunakan 0,102 g
1,25
1 th =3x x 0,102 g = 0,006375 g (Tidak Melebihi ADI)
60
2,5
2 - 4 th =3x x 0,102 g = 0,01275 g (Tidak Melebihi ADI)
60
5
5 - 7 th = 3 x 60 x 0,102 g = 0,0255 g (Tidak Melebihi ADI)
7,5
8 - 10 th =3x x 0,102 g = 0,03825 g (Tidak Melebihi ADI)
60
10
11 - 12 th = 3 x 60 x 0,102 g = 0,051 g (Tidak Melebihi ADI)

3. PVP
- ADI = 50 mg/kgBB
- Rentang Usia
1 th = 7,85 kg x 50 mg = 392,5 mg
2 - 4 th = (9,45 - 12,8) kg x 50 mg = (472,5 – 640) mg
5 - 7 th = (14,3 – 18,2) kg x 50 mg = (715 – 910) mg
8 - 10 th = (20,45 – 24,3) kg x 50 mg = (1022,5 – 1215) mg
11 - 12 th = (27,65 – 30,35) kg x 50 mg = (1382,5 – 1542,5) mg
- PVP yang digunakan 1,8 g
1,25
1 th =3x x 1,8 g = 0,1125 g (Tidak Melebihi ADI)
60
2,5
2 - 4 th =3x x 1,8 g = 0,225 g (Tidak Melebihi ADI)
60
5
5 - 7 th = 3 x 60 x 1,8 g = 0,45 g (Tidak Melebihi ADI)
7,5
8 - 10 th =3x x 1,8 g = 0,675 g (Tidak Melebihi ADI)
60
10
11 - 12 th =3x x 1,8 g = 0,9 g (Tidak Melebihi ADI)
60
4. PGA
- ADI = 70 mg/kgBB
- Rentang Usia
1 th = 7,85 kg x 70 mg = 549,5 mg
2 - 4 th = (9,45 - 12,8) kg x 70 mg = (661,5 – 896) mg
5 - 7 th = (14,3 – 18,2) kg x 70 mg = (1001 – 1274) mg
8 - 10 th = (20,45 – 24,3) kg x 70 mg = (1431,5 – 1701) mg
11 - 12 th = (27,65 – 30,35) kg x 70 mg = (1935,5 – 1851) mg
- PGA yang digunakan 4,5 g
1,25
1 th =3x x 4,5 g = 0,28125 g (Tidak Melebihi ADI)
60
2,5
2 - 4 th =3x x 4,5 g = 0,5625 g (Tidak Melebihi ADI)
60
5
5 - 7 th = 3 x 60 x 4,5 g = 1,125 g (Tidak Melebihi ADI)
7,5
8 - 10 th =3x x 4,5 g = 1,6875 g (Tidak Melebihi ADI)
60
10
11 - 12 th = 3 x 60 x 4,5 g = 2,25 g (Melebihi ADI)

5. Sukrosa
- ADI = 11 mg/kgBB
- Rentang Usia
1 th = 7,85 kg x 11 mg = 86,35 mg
2 - 4 th = (9,45 - 12,8) kg x 11 mg = (103,95 – 140,8) mg
5 - 7 th = (14,3 – 18,2) kg x 11 mg = (157,3 – 200,2) mg
8 - 10 th = (20,45 – 24,3) kg x 11 mg = (224,95 – 267,3) mg
11 - 12 th = (27,65 – 30,35) kg x 11 mg = (304,15 – 399,35) mg
- Sukrosa yang digunakan 18 g
1,25
1 th =3x x 18 g = 1,125 g (Melebihi ADI)
60
2,5
2 - 4 th =3x x 18 g = 2,25 g (Melebihi ADI)
60
5
5 - 7 th = 3 x 60 x 18 g = 4,5 g (Melebihi ADI)
7,5
8 - 10 th =3x x 18 g = 6,75 g (Melebihi ADI)
60
10
11 - 12 th = 3 x 60 x 18 g = 9 g (Melebihi ADI)
IX. Hasil dan Pembahasan
Hasil Evaluasi Dry Dyrup Amoxicillin :
Organoleptis
Spesifikasi Hasil
Bau = Anggur Bau = Anggur
Rasa = Manis Rasa = Manis
Warna = Merah Muda Warna = Merah Muda
Bentuk = Dry Syrup bentuk serbuk halus Bentuk = Dry Syrup bentuk serbuk halus
saat dilarutkan semua bahan saat dilarutkan semua bahan
terlarut homogen, larutan terlarut homogen, larutan
suspensi tidak terlalu kental. suspensi tidak terlalu kental.

Uji Keasaman
Alat = pH meter
Spesifikasi = 5,0 – 6,0
Hasil = 5,06

Uji Viskositas
Alat = VT-03F & Spindel No. 3
Spesifikasi = 3 – 7 mPas.
Hasil = 5 mPas.

Pembahasan
1. Definisi Dry Sirup
Sirup kering adalah suatu campuran padat yang ditambahkan air pada saat akan
digunakan, sediaan tersebut dibuat pada umumnya untuk bahan obat yang tidak stabil dan
tidak larut dalam pembaa air, seperti Ampisilin dan Amoxicillin. Agar campuran setelah
ditambah air membentuk dispersi yang homogen, maka dalam formulanya digunakan bahan
pensuspensi. Komposisi suspensi sirup kering biasanya terdiri dari bahan
pensuspensi, pembasah, pemanis, pengawet, penambah rasa/aroma, buffer, dan zat arwna.
Sirup kering adalah sediaan berbentuk suspensi yang harus direkonstitusikan terlebih dahulu
dengan sejumlah air atau pelarut lain yang sesuai sebelum digunakan. Sedian ini adalah
sediaan yang mengandung campuran kering zat aktif dengan satu atau lebih dapar, pewarna,
pengencer, pendispersi, dan pengaroma yang sesuai (Depkes RI, 1995).
Dry syrup atau sirup kering atau suspensi kering adalah suatu campuran padat baik
dalam bentuk serbuk atau granul yang ditambahkan air pada saat akan digunakan. Sediaan
tersebut dibuat pada umumnya untuk bahan obat yang tidak stabil dan bahan pensuspensi.
Komposisi suspensi sirup kering biasanya terdiri dari bahan pensuspensi, pembasah,
pemanis, pengawet, penambah rasa / aroma buffer dan zat warna. Bahan aktif untuk suspense
kering tidak tahan lama di dalam air (± 2 minggu). Sediaan ini lebih menguntungkan dalam
hal pengiriman dari pada suspense konvesional, karena ia lebih tahan terhadap perubahan
temperature.
Dibuat dry sirup, karena bahan obat ini secara kimia tidak stabil dalam media air,
karena dalam air amoxycillin dapat mengalami degradasi karena terhidrolisis oleh air, dan
menghindari masalah stabilitas fisika karena amoxycilinn sukar larut dalam air. Selain itu
bentuk sediaan dry syrup dapat mengurangi bobot dari masing-masing botol, karena di dalam
sediaan tidak mengandung air sehingga akan mengurangi biaya distribusi dan Sediaan dalam
bentuk kering lebih tahan terhadap bakteri penisilinase karena sediaan tidak kontak langsung
dengan air.

2. Keuntungan Sirup
a. Produk berbentuk granul, tampilan, karakteristik aliran kurang pemisahan, serbuk.
b. Campuran serbuk dan granul mengurangi biaya penggunaan komponen, peka
terhadap panas.
c. Baik untuk pasien yang sulit menelan.
d. Campuran serbuk lebih ekonomis, resiko ketidakstabilannya rendah.
e. Sediaan suspensi kering lebih ringan sehingga lebih menguntungkan
dalam pendistribusian.
f. Alat yang dibutuhkan sederhana.
g. Jarang menimbulkan masalah stabilitas dan kimia karena tidak digunakannya
pelarut dan pemanasan saat pembuatan.
h. Dapat dicapai kondisi kelembabam yang sangat rendah.

3. Kekurangan Sirup
a. Masalah campuran, pemisahan serbuk dan kehilangan obat.
b. Campuran serbuk dan granul menjamin tidak ada pemisahan campuran granul dan
non-granul.
c. Biaya produk berbentuk granul, efek panas dan cairan, penggranulasi pada obat dan
excipients.
d. Setelah dilarutkan 5-12 hari, harus dibuang walaupun masih bersisakarena terdapat
bahan obat yang tidak stabil dalam larutan berair, misalnyaantibiotik. Sirup kering
biasanya diresepkan untuk habis sebelum 5-12hari.
e. arus menjelaskan dengan rinci cara pemberian sediaan kepada pasien.
f. Homogenitas kurang baik.
g. Adanya kemungkinan ketidakseragaman ukuran partikel.
h. Aliran serbuk kurang begitu baik.

4. Penjelasan Bahan Aktif (Amoxicillin)

Amoksisilin adalah salah satu senyawa antibiotik golongan beta-lactam dan memiliki
nama kimia alfa-amino-hidroksibenzil-penisilin. Obat ini awalnya dikembangkan memiliki
keuntungan lebihd ibandingkan ampisislin yaitu dapat diabsorbsi lebih baik di trakstus
gastrointestinal. Amoxicillin adalah antibiotik yang termasuk ke dalam golongan beta laktam
dan merupakan derivat penicillin sehingga digunakan sebagai drug of choice karen amemiliki
spektrum yang luas terhadap bakteri.
a. Sifat Zat Berkhasiat
Menurut Dirjen POM. (1995), sifat-sifat Amoksisilin adalah sebagai berikut:
Sinonim : Amoksisilin
BeratMolekul : 419, 45 dan365, 9 dalam bentuk anhidrat
RumusEmpiris : C16H19N3O5S.3H2O
b. Sifat Fisika dan Kimia Amoksisilin
Sinonim : Amoksisilin
Rumusmolekul : C1H19N3O5S.3H2O
Kandungan : tidak kurang dari 90,0% , dihitung terhadap zat anhidrat.
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, praktis.
Kelarutan : Sukar larut dalam air dan methanol, tidak larut dalam benzene,
Dalam karbon tetraklorida dan dalam kloroform.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan tidak tembus cahaya
Titiklebur : Antara 194⁰ C.
(DitJen POM., 1995)
c. Indikasi
Amoksisilin digunakan untuk mengatasi nfeksi yang disebabkan oleh bakteri
gram negatif seperti Haemophilus influenza, Escherichia coli, Proteusmirabilis,
Salmonella. Amoksisilin juga dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang
disebabkan oleh bakteri gram positif seperti : Streptococcus pneumoniae, Enterococci,
nonpenicilinase-producing staphylococci, Listeria. Tetapi walaupun demikian,
amoksisilin secara umum tidak dapat digunakan secara sendirian untuk pengobatan
yang disebabkan oleh infeksi Streprtococcus dan Staphilococcal. Amoksisilin
diindikasikan untuk infeksi saluran pernapasan, infeksi saluran kemih, infeksi
klamidia, sinusitis, bronkitis, pneumonia, abses gigi dan infeksi rongga mulut lainnya
(Siswandono, 2000).
d. Efek Samping
Efek samping Amoxicillin antara lain dapat menyebabkan reaksi alergi, seperti
rasa gatal, peradangan atau ruam, yang menyebabkan adanya pembengkakan.
Pembengkakan dapat terjadi di leher, hidung, tenggorokan, atau mulut, sehingga
dapat mengganggu kemampuan pasein dalam bernapas. Pada reaksi alergi yang
sangat kronis, berakiba terjadinya penurunan tekanan darah yang sangat drastis.
Gangguan pencernaan seperti diare, muntah, sakit perut, merupakan efek samping
Amoxicillin yang sering terjadi.
e. Dosis
Oral : 250-500 mg tiap 8 jam atau 500-875 mg 2 kali sehari.
Anak-anak sampai 10 tahun : 125-250 mg tiap 8 jam
Penggunaan amoksisilin dengan dosis berlebih dapat menyebabkan berbagai
efek samping salah satunya yaitu dengan meningkatnya resistensi terhadap bakteri dan
gangguan terhadap organ tubuh seperti hati dan ginjal. Ada juga gangguan lain yaitu :
Gangguan jantung, infeksi kandung kemih, prostat, kejang arteri coroner, hilang
kesadaran gangguan saraf, pembengkakan bibir dan reaksiana filaksis.
f. Mekanismeaksi
Amoksisilin bertindak dengan menghambat sinstesis bakteri dinding sel. Hal
ini menghambat hubungan silang antara rantai linier peptidoglikan polimer yang
membentuk komponen utama dari dinding sel dari kedua gram positif dan bakteri
gram negative.

5. Prosedur Kerja selama Praktikum


Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan sediaan dry syrup Amoxicillin. Untuk
pembuatan dry suspensi amoxicillin ini yang pertama dilakukan adalah menimbang semua
bahan yang dibutuhkan. Kita membuat pada skala kecil terlebih dahulu. Setelah bahan semua
ditimbang. Kita panaskan mortir terlebih dahulu, pemanasan tersebut agar pada saat gerus
semua bahan bisa tercampur merata ad homogen. Setelah mortir panas kita keringkan dulu
dengan tissue agar tidak ada air yang tersisa. Lalu masukkan semua bahan kecuali
Amoxicillin yaitu PGA, PVP, Sukrosa, Natrium Siklamat, Na benzoat dan gerus ad homogen.
Menunggu sampai homogen, kita membuat larutan dapar dengan campuran NaOH dan asam
sitrat.
Setelah bahan tercampur rata kita masukin grape flavour dan digerus kembali ad
homogen lalu kita ayak dengan ayakan no 16. Fungsi dari bahan yang diayak agar ukuran
serbuk tetap sama sehingga kelarutan serbuk jika dibuat suspensi akan seragam. Setelah
diayak maka serbuk di oven dengan suhu 50˚C selama 15 menit. Serbuk dioven bertujuan
untuk menghilangkan kadar air karena air merupakan tempat yang cocok untuk pertumbuhan
mikroorganisme, jika kita terlalu lama mengoven akan membuat serbuk tersebut rusak.
Setelah dioven kita ayak lagi serbuk tersebut untuk mendapatkan hasil serbuk yang seragam
secara maksimal. Setelah itu kita tambahkan bahan aktif Amoxicillin gerus sampai homogen.
Lalu kita tambahkan air adkan sampai 60ml dan melakukan uji prosedur evaluasi. Setelah
melakukan uji prosedur evaluasi dan ternyata hasilnya memenuhi, suspensi tersebut
dimasukkan ke dalam botol dan kita membuat sediaan dry suspensi skala besar yaitu 500 ml.

Uji evaluasi sediaan dry suspensi Amoxicillin


1. Uji Organoleptis
Dry suspensi yang telah ditambahkan aquadest
Sebelum penyimpanan Setelah seminggu penyimpanan
Rasa : Manis anggur Rasa : Manis anggur
Bau : Aroma anggur Bau : Aroma anggur
Warna : Ungu Warna : Ungu
Bentuk : suspensi (keruh), tidak mudah
mengendap, namun apabila terjadi Bentuk : suspensi (keruh), mengendap,
pengendapan dapat terdispersi lagi terjadi cake.
dengan adanya penggojokan ringan.
Pada hasil diatas menunjukkan bahwa sediaan suspensi kering kelompok kami
megalami deflokulasi karena terbentuk cake. Tetapi pada keadaan sebelum ditambah
aquadest uji organoleptis kelompok kami memenuhi persyaratan.
2. Uji pH
Uji pH dilakukan untuk melihat pH suspensi yang dihasilkan. pH dapat mempengaruhi
kestabilan dari zat aktif. Secara teoritis sediaan dry suspensi yang baik adalah
memiliki pH 5-7,5. Berdasarkan uji pH sediaan yang kami lakukan dengan
menggunakan alat pH meter, menunjukkan bahwa suspensi kami memiliki nilai pH
5,22 dan hal ini membuktikan bahwa pH sediaan kami telah sesuai dengan teoritis.
3. Uji Viskositas
Suatu suspensi membutuh bahan suspending agent. Bahan yang digunakan untuk
suspending agent adalah PGA dan PVP. Dengan meningkatnya kekentalan maka akan
meningkatkan stabilitas suspensi dan memperlambat bahkan mencegah terjadinya
pengendapan. Pada sediaan farmasi umumnya, dry suspensi khususnya dibutuhkan
viskositas yang baik agar penggunaannya lebih mudah dan aman. Hal tersebut
ditujukan agar sediaan mudah dituang dalam sendok.
Pada uji viskositas menggunakan alat viskometer nomer spindel 3 dihasilkan
viskositas sebesar 5 dPas. Hal ini sesuai dengan viskositas dry suspensi yang baik
sekitar 3,4-39,6 dPas pada spindel nomor 3.

6. Alasan Pemilihan Bahan-Bahan Tertentu


Dalam kelompok kami terdapat 6 bahan aktif yaitu: Amoxycillin trihidrat,
Amoxycillin anhidrat, amoxycillin natrium, amoxycillin, ampicillin dan penicillin. Namun
kelompok kamu lebih memilih menggunakan amoxycillin trihidrat. Alasan dipilih
amoxycillin trihidrat dengan disebabkan karena :
 Amoxycillin tidak stabil dalam larutan berair, oleh karena itu solusinya dipilih bentuk
yang paling tidak larut yaitu amoxycillin trihidrat.
 Amoxycillin trihidrat juga merupakan satu golongan antibiotik broad spectrum
penicilin berfungsi untuk mengobati infeksi dan lyme disease. Amoxycillin trihidrat
cepat diabsorpsi daripada ampicillin pada pemberian oral. Efek samping diare lebih
kecil daripada ampiciliin. Selain itu, pada amoxycillin adanya makanan pada lambung
tidak mengurangi jumlah total yang diabsopsi.
 Pemilihan trihidrat berdasarkan tingkat kelarutan lebih besar daripada amoxycillin,
sehingga obat yang mengandung amoxycillin trihidrat akan lebih cepat larut didalam
tubuh dan lebih cepat diabsopsi dengan konsentrasi yang lebih besar.

Dalam praktikum ini, dilakukan formulasi suspensi menggunakan kombinasi suspending


agent yaitu Pulvis Gummi Arabici (PGA) dan Polyvinylpyrrolidone (PVP). Menurut Rowe
dkk (2009), konsentrasi PGA sebagai suspending agent adalah 5-10%. Menurut Nussinovitch
(1997) dalam Anggreini DB (2013), PGA pada konsentrasi kurang dari 10% memiliki
viskositas yang rendah dapat mempercepat terjadinya sedimentasi yang menyebabkan sediaan
menjadi tidak stabil.Oleh karena itu, PGA dikombinasikan dengan PVP yang merupakan
suspending agent yang dapat meningkatkan viskositas serta dapat meningkatkan kestabilan
dari suspensi yang dihasilkan.(Rowe CR, 2009)
Kelompok kami lebih memilih pengawet natrium benzoat daripada nipagin dan
nipasol. Karena nipagin dan nipasol merupakan kombinasi pengawet yang efektif pada pH
basa, dan sediaan suspensi per-oral amoxycillin stabil pada pH 5,0 – 7,5. Sehingga kelompok
kami menggunakan natrium benzoat sebagai pengawet karena na benzoat cukup efektif dalam
pH asam dimana molekul tidak mengalami ionisasi, mudah larut dalam air dan baik untuk
mencegah pertumbuhan mikroba.

7. Kendalan selama Praktikum dan Solusinya


Pada saat praktikum pembuatan dry sirup amoxicillin perlu diperhatikan beberapa
kendala yang bisa saja terjadi, seperti pada saat pencampuran essense ke dalam serbuk,
apabila antara essense yang digunakan dan serbuk tidak tercampur secara homogen maka
dapat mengurangi acceptabilitas sediaan yang mana warna tidak tercampur merata dan
terkesan tidak larut secara sempurna, oleh sebab itu solusinya sendiri pencampuran bahan
essense ini dilakukan sedikit demi sedikit, tidak langsung dimasukkan semua, kemudian di
aduk hingga homogen sampai campuran tersebut merata pada serbuk. Selain itu perlu
diperhatikan juga pH sediaan, apakah sudah sesuai dengan rentang pH yang memenuhi syarat
apabila belum memenuhi syarat, solusinya bisa dilakukan adjust dengan menambah dapar
sehingga harga pH bisa memasuki rentang yang sesuai syarat. Tidak hanya itu saja kendala
yang terkadang muncul juga adalah pada saat pengeringan, bisa saja terjadi perubahan warna
dari sediaan menjadi kecoklatan karena pemanasan yang temperaturnya terlalu tinggi,
solusinya sendiri dapat dipastikan suhu yang paling optimum untuk pengeringan , sehingga
serbuk tidak berubah warna yang dapat mempengaruhi acceptabilitas sediaan

X. Kesimpulan
Pada praktikum ini sediaan dibuat dalam bentuk dry sirup sebab amoksisilin tidak stabil
dalam media air. Karena dengan adanya air dapat menghidrolisis cicin beta-lactam sehingga
amoksilin akan rusak dan efek antibiotikya terdegradasi. Dibuat dalam bentuk suspensi karena
Amoksisilin sukar larut dalam air. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan diperoleh, bau dan
waktu alir tidak memenuhi syarat spesifikasi sediaan yang telah ditetapkan. Sedangkan untuk
evaluasi pH, warna, rasa,dan viskositas memenuhi syarat spesifikasi sediaan yang telah
ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Ed IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Ed III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

Ansel, Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Ed IV. Jakarta : UI Press.

G, A. (2012). Sedaan Farmasi Liquida Semisolida. Bandung: Penerbit ITB.

Ikatan apoteker Indonesia. 2015. ISO Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume 50 Tahun
2016. Jakarta: PT. ISFI penerbitan.

Lachman, Leon.1994. Teori dan praktek farmasi indusstri II (penerjemah: siti suyatmi)
penerbit: UI.Press. Jakarta

Reynolds, J.E.F. 1982. Martindale The Extra Pharmacopeia, 28 Edition. London: The
Pharmaceutical Press.

Rowe CR, S. J. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Ed. Washington:


American Pharmacists Association.

Wiryanti, N.M. 2010. Jurnal Awal Formulasi Sediaan Non- Steril Sediaan Sirup Kering
Amoxicilin I-mox. Denpasar : FMIPA Udayana University.