Anda di halaman 1dari 8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Daun Sirih
1. Pengertian dan Makna Filosofi Daun Sirih
Daun sirih hijau ( Piper betle L) merupakan tanaman yang banyak tumbuh
di Indonesia (Galuh, 2010 & Lutheru, 2013). Sirih (Piper betle L.) merupakan
tumbuhan merambat dengan bentuk daun menyerupai jantung dan berwarna hijau
(Ningtias, Asyiah, & Pujiastuti, 2014).
Dalam tradisi pernikahan adat Jawa terdapat salah satu tradisi yaitu lempar
daun sirih temu rose yaitu daun-daun sirih terpilih dengan ruas (tulang) daun yang
saling bertemu. Makna secara filosofi diartikan sebagai sirih
atau suruh berarti ngangsu kaweruh (menimba ilmu), sedangkan temu rose bisa
diartikan bertemu rasa. Daun sirih yang dilemparkan diikat terlebih dulu dengan
benang berwarna putih (Jawa=lawe) yang melambangkan kesucian (Kompasiana,
2016).
Abdurrachman (2014) mengemukakan bahwa rahasia ilmu setia hati teratai
menggunakan daun sirih yang temu rose (sebagai sanepan), bertujuan agar semua
warga setia hati terate dalam sikap dan perilakunya dapat guyub rukun saling
"ngemong" silih asah asuh dalam kebenaran. Di samping itu, konon daun sirih bila
sebaris rajah dituliskan dengan tinta emas di atas daun sirih yang saling bertemu
urat daunnya (temu rose) dengan dibarengi menjalankan beberapa laku tertentu,
mampu memberikan daya kharismatik sangat dahsyat (Kaskus, 2013).
Dunia spiritual daun sirih sangat ampuh dalam membawa energi
penyembuhan sehingga sarana daun sirih sangat tepat digunakan sebagai media
penyembuhan dalam pengobatan hikmah. Ilmu spiritual mengajarkan adanya rajah
penyembuhan yang akan digoreskan ke dalam setiap lembar daun sirih lalu di
doakan dan digunakan sebagai media penyembuhan (Hidayah, 2019).
2. Karakteristik Daun Sirih
Daun sirih dipercaya memiliki banyak khasiat untuk mengobati berbagai
penyakit yang ada di masyarakat (Purnama, 2017). Masyarakat Indonesia sendiri
telah menggunakan daun sirih hijau dalam pengobatan tradisional untuk

3
menguatkan gigi, dsbnya. Daun sirih (Piper betle L) memiliki daya antibakteri
terhadap beberapa bakteri pathogen. Mursito (2002) mengemukakan bahwa
saponin dan tannin pada daun sirih bersifat sebagai antiseptik pada luka permukaan,
bekerja sebagai bakteriostatik yang biasanya digunakan untuk infeksi pada kulit,
mukosa dan melawan infeksi pada luka serta flavanoid selain berfungsi sebagai
bakteriostatik juga berfungsi sebagai anti inflamasi.
Klasifikasi tanaman Piper betle linn dalam taksonomi tumbuhan menurut
Robinson (1991) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkongdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Class : Magnoliopsida (menghasilkan biji)
Ordo : Piperales (berbunga)
Family : Piperaceae (suku sirih-sirihan)
Genus : Piper
Spesies : Piper betle linn
Dari segi morfologi, Fauziah (2007) mengemukakan bahwa tanaman sirih
ini merupakan tanaman yang tumbuh merambat, mirip tanaman lada. Tingginya
mencapai 5-15 meter, tergantung pertumbuhan dan tempat merambatnya.
Batangnya berwarna hijau kecoklatan dan ekstrak kering dalam bentuk serbuk
berwarna kuning kecoklatan (Rivai, Nanda, & Fadhilah, 2014). Rasa sirih hijau tua
pedas sehingga banyak di pakai untuk obat karena kandungan minyak atsirinya
lebih tinggi, sirih berdaun hitam biasanya digunakan sebagai obat (Fauziah, 2007).
Mengeluarkan bau yang aromatis (Putri, 2010). Permukaan daun agak kasar jika di
raba. Bunganya merupakan buah buni, berbentuk bulat, berdaging, dan berwarna.
Daun sirih hijau berbentuk jantung dan berwarna hijau berujung runcing, tepi rata,
tulang daun melengkung, lebar daun 2,5-10 cm, panjang daun 5-18 cm, tumbuh
berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas
(Wikipedia, 2009; Wirakusumah, 2000). Menurut Van Steenis (1997), tanaman
sirih memiliki bunga majemuk berkelamin 1, berumah 1 atau 2. Bulir berdiri
sendiri, di ujung dan berhadapan dengan daun. panjang bulir sekitar 5 - 15 cm dan

4
lebar 2 – 5 cm. Pada bulir jantan panjangnya sekitar 1,5 - 3 cm dan terdapat dua
benang sari yang pendek sedang pada bulir betina panjangnya sekitar 2,5-6 cm
dimana terdapat kepala putik tiga sampai lima buah berwarna putih dan hijau
kekuningan.
3. Kandungan Kimia Daun Sirih dan Manfaatnya
Daun sirih dipercaya memiliki banyak khasiat untuk mengobati berbagai
penyakit yang ada di masyarakat (Purnama, 2017). Pada umumnya senyawa yang
memiliki keefektifan untuk dapat menyembuhkan penyakit berasal dari senyawa
metabolit sekunder. Senyawa metabolit sekunder tersebut yaitu alkaloid, flavonoid,
steroid, terpenoid, saponin, tanin. Tanaman yang mengandung senyawa flavonoid
dapat digunakan sebagai antikanker, antioksidan, antiinflamasi, antialergi, dan
antihipertensi (Aiello, 2012) serta antibiotik (Putri, 2010). Jenis flavonoid daun
sirih hijau adalah flavon (Iqbal, Rustam, & Kasman, ). Yenie, et al., (2013)
menyebutkan bahwa senyawa tanin berpotensi sebagai senyawa yang menjadi
racun bagi tubuh serangga sehingga daun sirih juga berperan sebagai fungisida.
Kandungan utama daun sirih hijau adalah minyak atsiri yang mengandung
beberapa senyawa (Patel & Jasrai, 2013). Daun sirih hijau mengandung 4,2%
minyak atsiri yang komponen utamanya terdiri dari bethlephenol dan beberapa
derivatnya diantaranya Eugeno 26,8- 42,5%, Cineol 2,4%-4,8%, methyeugenol 4,2-
15,8%, Caryophyllen (siskueterpen) 3-9,8%, kavikol 7,2-16,7% (Patel & Jasrai,
2013; Seila, 2012). Daun sirih mengandung banyak zat kimia, diantaranya seperti
minyak atsiri, hidroksivacikol, kavicol, kavibetol, allypyrokatekol, karvakol,
eugenol, eugenol metil eter, p-cymene, cineole, cariophyllene, cadinene, estragol,
terpenena, sesqiterpena, fenil, propane, tanin, diastase, gula, dan pati (Pinatik,
Joseph, & Akili, 2015). Ibrahim (2013) minyak atsiri dari daun sirih hijau yang
komponen utamanya terdiri atas phenol dan beberapa derivatnya diantaranya
euganol dan kavikol berkhasiat sebagai antibakteri. Daun sirih memiliki manfaat
sebagai antibakteri karena didalamnya terdapat kandungan fenol dan turunannya,
terutama tanin, flavonoid, dan saponin yang diketahui sebagai antibakteri (Carolia
& Noventi, 2016).
Efek antibiotik daun sirih hijau diperoleh dari kandungan minyak atsiri
sebesar 4,2% yang komponen utamanya terdiri dari bethel phenol dan turunannya

5
(Sofiani & Pratiwi, 2017). Phenol dan senyawa turunannya dapat mendenaturasi
protein sel bakteri (Carolia & Noventi, 2016). Senyawa fenil propanoid bersifat
antimikroba dan anti jamur yang kuat dan dapat menghambat pertumbuhan
beberapa jenis bakteri antara lain, Salmonella sp, Klebsiella, Pasteurella, dan dapat
mematikan Candida albicans) (Reveny, 2011). Minyak atsiri dari daun sirih
umumnya aktif terhadap Escherichia coli, Posiodomonas auruginosa, Strepto
coccos epidermidis, Staphylococcus aureus dan pirogen Streptococcus (Rivai,
2014; Arambewela, Kumaratunga, & Dias, 2005). Di sisi lain Ali, et al., (2015)
mengemukakan bahwa penggunaan minyak esensial penting untuk terapi, aromatik,
parfum, dan juga digunakan untuk spiritual. Manfaat dari produk aromaterapi bagi
kesehatan manusia di antaranya adalah untuk merelaksasikan tubuh, menyegarkan
pikiran, untuk memperbaiki mood, dan sebagai placebo dalam penyembuhan
penyakit yang memberikan efek fisiologi (Ali, et.al., 2015) serta sebagai sebagai
antioksidan (Wei & Shibamoto, 2010; Gavankar, et.al., 2013).
Selain kegunaan di atas, kandungan antiseptik di dalam sirih dapat
digunakan sebagai obat kumur dan menjaga kesehatan alat kelamin wanita. Sirih
juga umum digunakan untuk mengatasi bau badan dan mulut, sariawan, mimisan,
gatal-gatal, koreng, serta mengobati keputihan pada wanita (Fauziah, 2007;
Inayatullah, 2012; & Muhlisah, 2007). Daun sirih juga dapat memperbanyak
keluarnya air susu ibu (ASI) untuk ibu yang baru melahirkan dengan banyak
meminum air rebusan daun sirih (Moeryanti, 1998). Konsumsi daun sirih secara
teratur sebagai tanaman obat bertujuan meningkatkan daya tahan tubuh manusia
(Bangun, 2008).
4. Daun Sirih Hijau “Temu Rose” dan “Tidak Temu Rose”
Daun sirih ‘temurose’ adalah sirih yang urat daunnya (nervus lateralis)
bertemu kedudukan ruasnya, sehingga bentuknya simetris (Ekosari & Sugiarto,
2013). Penggunaan daun Sirih, khususnya di Jawa, umumnya disertai syarat atau
kriteria khusus, yaitu: daun sirih yang ’temu ros-e’. ’Ros’ berasal dari bahasa Jawa
yang berarti urat, dalam hal ini adalah urat daun. ’Temu’ berasal dari bahasa Jawa
yang berarti berjumpa, ketemu. Sirih temu rose adalah sirih yang urat daunnya
(nervus lateralis) bertemu kedudukan ruasnya, sehingga bentuknya simetris.

6
Adapun perbedaan daun sirih yang ’temu ros-e’ dengan yang daun sirih
tidak yang ’temu ros-e’ dilihat dari beberapa aspek pengamatan sebagai berikut:
a. Pengamatan Morfologi dan Anatomi Daun
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Ekosari & Sugiarto, 2013)
menjelaskan bahwa parameter yang diamati pada aspek morfologi daun meliputi
bentuk dan warna daun, ketebalan daun, Panjang daun, Lebar daun, Rasio
Panjang/Lebar daun. Berikut bentuk pertulangan daun sirih yang ’temu ros-e’
dan tidak ’temu ros-e’.

(a) (b)
Gambar (a) Pertulangan Daun Sirih “Temu Ros-e” dan (b) Pertulangan
Daun Sirih “Tidak Temu Ros-e”

Hasil pengamatan preparat jaringan daun, yang menunjukkan tidak ada perbedaan,
baik pada sebaran dan atau jumlah stomata maupun struktur hasil tersebut diduga
menunjukkan bahwa kemampuan fotosintesis kedua tipe daun sirih tersebut sama.
b. Pengamatan Fisiologis
Daun sirih temurose mempunyai perbedaan bobot segar, bobot kering, dan
daya hantar listrik dengan daun yang non-temurose. Daun temurose tidak ada
perbedaan kadar air daun dengan daun non-temurose. Daya hantar listrik daun
temurose lebih besar daripada yang non-temurose, meskipun nilai bobot segar dan
bobot keringnya lebih kecil. Apabila melihat hanya dari sisi berat atau bobot, maka
daun sirih yang temurose kalah besar, akan tetapi apabila melihatnya bersama-sama
dengan nilai daya hantar listrik, dimana yang temurose lebih besar nilainya, maka

7
hal tersebut bisa menunjukkan bahwa kandungan zat terlarut yang bersifat elektrolit
cukup tinggi di dalam daun yang temurose (Ekosari & Sugiarto, 2013).
c. Pengamatan Biokemis
Hasil uji laboratorium fitokimia kandungan flavonoid total daun sirih
temurose dan non-temurose sebesar 53.522 dan 43.041 ppm. Nilai tersebut
termasuk kelompok kadar tinggi (>50 ppm) dan kadar sedang (antara >10 – 50
ppm). Semakin tinggi kadar flavonoid, maka kemungkinan potensi antioksidannya
juga akan semakin tinggi (Ekosari & Sugiarto, 2013).
Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam yang terbesar.
Tanaman yang mengandung senyawa flavonoid dapat digunakan sebagai
antikanker, antioksidan, antiinflamasi, antialergi, dan antihipertensi (Fauziah,
2010). Peran penting flavonoid dari sayuran dan buah segar adalah mengurangi
resiko terkena penyakit jantung dan stroke (Safitri, 2004).

B. TASAWUF
1. Pengertian dan Hakikat Tasawuf
Tasawuf merupakan cabang keilmuan Islam yang menekankan pada aspek
spiritual dari Islam. Dilihat dari kaitannya dengan kemanusiaan, tasawuf lebih
menekankan pada aspek kerohanian daripada aspek jasmani, dalam kaitannya
dengan kehidupan tasawuf lebih menekankan kehidupan akhirat daripada
kehidupan dunia, dan apabila dilihat kaitannya dengan pemahaman keagamaan
tasawuf lebih menekankan pada aspek esoterik dibandingkan aspek eksoterik
(Kartanegara, 2006).
Dalam mengintensifkan spiritualitasnya, para sufi melakukan tazkiyat al-
nafs yaitu penyucian diri yang merupakan usaha untuk mengatasi dari berbagai
rintangan yang akan menghambat jalannya pertemuan dengan Allah, yang mana
bisa berupa menahan diri dari hawa nafsu, syahwat dan amarah. Kemudian
melakukan riyadhat al-nafs yaitu membersihkan diri dari sifat tercela, atau
melakukan latihan jiwa seoerti berpuasa, uzlah serta latihan jiwa yang lain
(Kartanegara, 2006). Dari banyaknya pengertian tasawuf tersebut, dapat dikatakan
bahwa tasawuf merupakan cabang imu yang menekankan dimensi rohani daripada
materi, akhirat daripada dunia fana, dan bathin daripada lahir. Nilai spiritual seperti

8
keikhlasan ibadah dan kerinduan kepada Allah merupakan tujuan pokok tasawuf.
Para sufi berzuhud, menerima kepurusan Allah SWT dengan hati lapang dan
berdzikir hingga mencapai kesatuan wujud (Armando, 2005).
Dari beberapa pernyataan tentang pengertian tasawuf tersebut, adapun
tasawuf itu terbagi dalam tiga bagian, yaitu tasawuf akhlaki, tasawuf amali dan
tasawuf falsafi. Ketiga bentuk tasawuf ini tidak dapat dipisahkan sebab praktik dari
ketiga tasawuf saling berkaitan (Amin, 2002). Tasawuf akhlaki adalah ajaran
tasawuf yang membahas tentang kesempurnaan dan kesucian jiwa yang di
formulasikan pada pengaturan sikap mental dan pendisiplinan tingkah laku yang
ketat guna mencapai kebahagian yang optimum, manusia harus lebih dahulu yang
mengidentifikasikan eksistensi dirinya dengan ciri-ciri ke tuhanan melaui
pensucian jiwa dan raga yang bermula dari pembentukan pribadi yang bermoral dan
berakhlak mulia. Yang dimaksud dengan tasawuf amali adalah suatu ajaran dalam
tasawuf yang lebih menekankan amalan-amalan rohaniah dibandingkan teori. Yang
mana dalam tasawuf amali tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu
mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menghapuskan segala sifat yang
tercela serta mengahadap sepenuhnya kepada Allah SWT dengan berbagai amaliah
atau riyadhoh yang dilakukan, seperti memperbanyak wirid serta amaliyah-
amaliyah lainnya. tasawuf amali lebih identik dengan thariqah yaitu sebagi wujud
dari amalan yang telah dilakukan. Sedangkan yang dimaksud dengan tasawuf
falsafi adalah tasawuf yang ajarannya memadukan antara visi mistis dan rasional
sebagai penggagasnya. Dengan ini para penganutnya berusaha untuk memutuskan
jarak yang terbentang antara hamba dengan Tuhan, sehingga merasa benar-benar
menyatu dengan Tuhan (Anwar, 2004).
2. Integrasi Tasawuf dan Tradisi Jawa
Sumber ajaran tasawuf bermula dari ajaran agama Islam sendiri yaitu Al-
Qur’an dan Hadith (Haidir, 2019). Adapun filosofi dakwah yang dilakukan oleh
Walisongo dalam menyebarkan Islam dengan mengakulturasikan antara Islam
dengan eksistensi budaya lokal terbukti membawa sukses dakwahnya. Walisongo
tidak meaksakan unsur-unsur kearab-araban dalam berdakwah tetapi dengan
mengganti kultur Jawa yang sudah lama eksis (Fauzan, 2012). Bagi Walisongo,

9
aspek nilai atau ratio legis Islam perlu dikenalkan dengan residu budaya, atau yang
biasa populer dengan kearifan lokal (Sutoyo, 2014).
Salah satu kearifan lokal dalam tradisi jawa adalah dalam tradisi pernikahan
adat Jawa terdapat salah satu tradisi yaitu lempar daun sirih temu rose yaitu daun-
daun sirih terpilih dengan ruas (tulang) daun yang saling bertemu. Makna secara
filosofi diartikan sebagai sirih atau suruh berarti ngangsu kaweruh (menimba
ilmu), sedangkan temu rose bisa diartikan bertemu rasa (Kompasiana, 2016).
Dalam referensi lain, daun sirih yang “ketemu Rose” atau bertemu ruas daunnya
menggambarkan persaudaraan yang sejati akan terjalin bila didasari dengan
mempertemukan rasa atau hati (Fauzan, 2012). Hal ini sebagaimana konsep tasawuf
bahwasannya hati adalah pokok pembahasan di mana gerak lahir ditentukan oleh
gerak batin. Jika seseorang hatinya bersih maka akan melahirkan perilaku yang
mulia. Bagi hati, yang dipenuhi oleh keagungan Allah, dunia bukan barang yang
istimewa. Ma‘rifat adalah wilayah hati. Jika hati bersih dan suci serta dipenuhi
dengan zikir kepada Allah maka hidupnya dipenuhi dengan kearifan dan bimbingan
Allah.
Perilaku lahiriah mereka sangat ditentukan oleh baik-buruknya kondisi hati.
Jika hatinya baik, maka akan terwujud dalam perilaku yang baik. Sebaliknya jika
hatinya jelek, maka akan terwujud dalam perilaku yang jelek pula. Menjaga hati
berarti menjaga ketenangan jiwa. Semboyan istilah daun sirih temu rose dalam
istilah Jawa artinya Jika manusia menggunakan hati, maka hal itu akan mendorong
lahirnya sebuah kekuatan besar pada dirinya (Sutoyo, 2014). Hubungan interaksi
sosial yang dilandasi dengan keikhlasan serta ketulusan akan menimbulkan
kekuatan hubungan baik dalam masyarakat. Ketulusan dalam mencintai mahluk
akan menimbulkan kekuatan besar dalam hubungan sosial. Jika dihubungkan
dengan Tuhan, hati akan menimbulkan kekuatan yang sangat besar, menimbulkan
perasaan optimis, bahagia dan menjauhkan perasaan pesimistis serta frustrasi.
Semboyan tersebut bisa menimbulkan kekuatan yang besar karena hati adalah
tempat mengingat Tuhan. Hal ini berkorelasi dengan firman Allah dalam Q.S. al-
Ra’du [13]: 28. Jadi, dalam dunia tasawuf hati lah yang menjadi parameter untuk
bisa temu roso atau sambung kepada Allah.

10