Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kesehatan lingkungan adalah cabang dari ilmu kesehatan masyarakat
yang lebih berfokus menangani segala aspek natural dan perkembangan
lingkungan yang mungkin mempengaruhi kesehatan masyarakat. Kesehatan
lingkungan juga merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana lingkungan
dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat dan penyakit yang terjadi di
masyarakat.
Di Indonesia, ruang lingkup kesehatan lingkungan diterangkan dalam
Pasal 22 ayat (3) UU No 23 tahun 1992 ruang lingkup kesehatan lingkungan
ada 8, yaitu: penyehatan air dan udara, pengamanan limbah padat/sampah,
pengamanan limbah cair, Pengamanan limbah gas, pengamanan radiasi,
pengamanan kebisingan, pengamanan vektor penyakit, penyehatan dan
pengamanan lainnya sepeti keadaan pasca bencana.1
Berdasarkan uraian diatas, maka sangat penting kita mempelajari ilmu
kesehatan lingkungan. Salah satunya adalah penyediaan air bersih yang
nantinya akan bermanfaat sebagai air minum. Berdasarkan ketentuan dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan
Lingkungan, kualitas lingkungan yang sehat ditentukan melalui pencapaian
atau pemenuhan Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan
Persyaratan Kesehatan. Air merupakan salah satu media lingkungan yang
harus ditetapkan Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan
Persyaratan Kesehatan (Permenkes No. 32 Tahun 2017) 2
Pada dekade-dekade sebelumnya, Indonesia telah menunjukkan
kemajuan signifikan dalam meningkatkan akses terhadap persediaan air
bersih dan pelayanan sanitasi. Air bersih dan sanitasi merupakan sasaran
Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) yang ketujuh dan pada tahun 2015
diharapkan sampai dengan setengah jumlah penduduk yang tanpa akses ke
air bersih yang layak minum dan sanitasi dasar dapat berkurang. Bagi
Indonesia, perlu mencapai angka peningkatan akses air bersih hingga

1
68,9%. Saat ini, Indonesia tidak berada pada arah yang tepat untuk
mencapai target MDG tentang masalah air bersih pada tahun 2015. Saat ini,
bahkan di provinsi-provinsi yang berkinerja lebih baik (Jawa Tengah dan di
Yogyakarta), sekitar satu dari tiga rumah tangga tidak memiliki akses ke
persediaan air bersih. Perbandingan dengan tahun 2007 menunjukkan akses
air bersih pada tahun 2010 telah mengalami penurunan kira-kira sebesar
tujuh persen. 3
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan
akan menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai
batasannya, air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem
penyediaan air minum. Adapun persyaratan yang dimaksud adalah
persyaratan dari segi kualitas air yang meliputi kualitas fisik, kimia, biologi
dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek
samping.
Ketersediaan air bersih selain untuk kebutuhan sehari-hari, juga sangat
penting untuk menghindari masyarakat dari penyakit yang ditularkan
melalui air seperti diare, ataupun penyakit tidak menular yang bisa
disebabkan karena kandungan yang terdapat di dalam air seperti dermatitis.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana kualitas air bersih di RT 01 RW13 Dusun Girimulya Desa
Binangun Kota Banjar ?
2. Bagaimana gambaran kesehatan lingkungan di RT 01 RW13 Dusun
Girimulya Desa Binangun Kota Banjar ?
3. Bagaimana gambaran promosi kesehatan yang sudah dilakukan di RT
01 RW13 Dusun Girimulya Desa Binangun Kota Banjar ?
4. Bagaimana gambaran capaian indikator PHBS masyarakat RT 01
RW13 Dusun Girimulya Desa Binangun Kota Banjar ?
5. Bagaimana gambaran kejadian penyakit diare di RT 01 RW13 Dusun
Girimulya Desa Binangun Kota Banjar ?
6. Bagaimana gambaran kejadian penyakit kulit di RT 01 RW13 Dusun
Girimulya Desa Binangun Kota Banjar ?

2
1.3. Tujuan
1. Mengetahui kualitas air bersih di RT 01 RW13 Dusun Girimulya Desa
Binangun Kota Banjar.
2. Mengetahui gambaran kesehatan lingkungan di RT 01 RW13 Dusun
Girimulya Desa Binangun Kota Banjar.
3. Mengetahui gambaran promosi kesehatan yang sudah dilakukan di RT
01 RW13 Dusun Girimulya Desa Binangun Kota Banjar .
4. Mengetahui gambaran capaian indikator PHBS masyarakat RT 01
RW13 Dusun Girimulya Desa Binangun Kota Banjar.
5. Mengetahui gambaran kejadian penyakit diare di RT 01 RW13 Dusun
Girimulya Desa Binangun Kota Banjar.
6. Mengetahui gambaran kejadian penyakit kulit di RT 01 RW13 Dusun
Girimulya Desa Binangun Kota Banjar.

1.4. Manfaat Penelitian


1. Bagi Peneliti
Meningkatkan kemampuan peneliti dalam menganalisis permasalahan
di lingkungan masyarakat melalui penelitian.
2. Bagi Puskesmas
Sebagai bahan masukan bagi puskesmas untuk merencanakan program
agar pemakaian air bersih di masyarakat meningkat.
3. Bagi Pemerintah
Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk membuat
kebijakan-kebijakan terkait kesehatan lingkungan khususnya sarana air
bersih.
4. Bagi Masyarakat
Memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya
sumber air bersih bagi keseharian serta faktor-faktor yang ikut
mempengaruhi tingkat kesehatan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Air Bersih


Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi
sangat penting bagi kehidupan manusia. Pengertian air bersih, menurut
Permenkes RI No.416/Menkes/PER/IX/1990 adalah air yang digunakan
untuk keperluan sehari-hari dan dapat diminum setelah dimasak. Air minum
adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung
diminum.4
2.2 Sumber Air Bersih
Air yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus berasal dari
sumber yang bersih dan aman. Batasan-batasan sumber air yang bersih dan
aman tersebut antara lain:
a. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit
b. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun
c. Tidak berasa dan tidak berbau
d. Dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah
tangga
e. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen
Kesehatan RI.5
Air dikatakan tercemar bila mengandung bibit penyakit, parasit,
bahan-bahan kimia yang berbahaya dan sampah atau limbah industri. Air
yang berada dipermukaan bumi ini dapat berasal dari berbagai sumber.
Sumber-sumber air dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Air permukaan
Air permukaan adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi.
Air permukaan meliputi badan-badan air semacam sungai, danau, telaga,
waduk, rawa, terjun, dan sumur permukaan, sebagian besar berasal dari air
hujan yang jatuh ke permukaan bumi.5

4
b. Air laut
Air laut mempunyai sifat asin karena kandungan garam NaCl. Kadar
garam NaCl dalam air laut 3%. Dengan keadaan ini, maka air laut tidak
memenuhi syarat untuk air minum.
c. Air angkasa (Hujan)
Air angkasa terjadi dari proses evaporasi dari air permukaan dan
evotranspirasi dari tumbuh-tumbuhan oleh bantuan sinar matahari dan
melalui proses kondensasi kemudian jatuh ke bumi dalam bentuk hujan,
salju ataupun embun. Air angkasa mempunyai sifat tanah (soft water)
karena kurang mengandung garam-garam dan zat-zat mineral sehingga
terasa kurang segar juga boros terhadap pemakaian sabun.
d. Air tanah
Air tanah (ground water) adalah cadangan air yang bersumber dari
air presipitasi dan merembes menjadi air infiltasi berada di bawah
permukaan litosfer tertampung dalam cekungan-cekungan dan mengalir
membentuk sungai bawah tanah dan muncul sebagai mata air.6
Air tanah memiliki beberapa kelebihan dibanding sumber lain.
Pertama, air tanah biasanya bebas dari kuman penyakit dan tidak perlu
mengalami proses purifikasi. Persediaan air tanah juga cukup tersedia
sepanjang tahun, saat musim kemarau sekalipun. Sementara itu, air tanah
juga memiliki beberapa kerugian atau kelemahan dibanding sumber air
lainnya. Air tanah mengandung zat-zat mineral dalam konsentrasi yang
tinggi. Konsentrasi yang tinggi dari zat-zat mineral semacam magnesium,
kalsium, dan logam berat seperti besi dapat menyebabkan kesadahan air.
Selain itu, untuk menghisap dan mengalirkan air ke atas permukaan,
diperlukan pompa.7
Air tanah dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
a. Air Tanah Dangkal
Air tanah dangkal yaitu air yang terjadi karena proses peresapan
air dari permukaan tanah. Lumpur akan tertahan, demikian juga bakteri
sehingga air tanah akan jernih tetapi lebih banyak mengandung zat
kimia karena melalui lapisan tanah yang mempunyai unsur-unsur kimia

5
tertentu untuk masing-masing lapisan tanah. Pengotoran juga masih
terus berlangsung terutama pada muka air yang dekat dengan muka
tanah. Air tanah ini digunakan sebagai sumber air minum melalui
sumur-sumur dangkal. Sebagai sumber air minum, ditinjau dari segi
kualitas agak baik. Tetapi dari segi kuantitas kurang cukup dan
tergantung pada musim.
b. Air Tanah Dalam
Air tanah dalam yaitu air tanah yang terdapat setelah lapisan
rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah dalam ini tidak semudah
pengambilan air tanah dangkal. Biasanya air tanah dalam ini berada
pada kedalaman antara 100 –300 meter. Pada umumnya kualitas air
tanah dalam lebih baik dari air tanah dangkal karena penyaringannya
lebih sempurna dan bebas dari bakteri. Susunan unsur-unsur kimia
tergantung pada lapis-lapis tanah yang dilalui. Jika melalui tanah kapur
maka air menjadi sadah karena mengandung Ca(HCO3)2 dan
Mg(HCO3)2.
c. Mata air
Mata air yaitu air tanah yang keluar dengan sendirinya ke
permukaan tanah. Mata air yang berasal dari tanah dalam hampir tidak
terpengaruhi oleh musim dan kualitasnya sama dengan air tanah
dalam.5

2.3 Sarana Air Bersih


Sarana air bersih terbagi menjadi 2 sumber, sumur dan air pipa.
2.3.1 Sumur
A. Sumur Gali
Sumur gali adalah satu konstruksi sumur yang paling umum dan
meluas dipergunakan untuk mengambil air tanah bagi masyarakat
kecil dan rumah- rumah perorangan sebagai air minum dengan
kedalaman 7-10 meter dari permukaan tanah. Sumur gali
menyediakan air yang berasal dari lapisan tanah yang relatif dekat dari
permukaan tanah, oleh karena itu dengan mudah terkena kontaminasi

6
melalui rembesan. Umumnya rembesan berasal dari tempat buangan
kotoran manusia kakus/jamban dan hewan, juga dari limbah sumur itu
sendiri, baik karena lantainya maupun saluran air limbahnya yang
tidak kedap air. Keadaan konstruksi dan cara pengambilan air sumur
pun dapat merupakan sumber kontaminasi, misalnya sumur dengan
konstruksi terbuka dan pengambilan air dengan timba.
Sumur dianggap mempunyai tingkat perlindungan sanitasi yang
baik, bila tidak terdapat kontak langsung antara manusia dengan air di
dalam sumur. Pada segi kesehatan sebenarnya penggunaan sumur gali
ini kurang baik bila cara pembuatannya tidak benar-benar
diperhatikan, tetapi untuk memperkecil kemungkinan terjadinya
pencemaran dapat diupayakan pencegahannya. Pencegahan ini dapat
dipenuhi dengan memperhatikan syarat-syarat fisik dari sumur
tersebut yang didasarkan atas kesimpulan dari pendapat beberapa
pakar dibidang ini, diantaranya lokasi sumur tidak kurang dari 10
meter dari sumber pencemar, lantai sumur sekurang-kurang
berdiameter 1 meter jaraknya dari dinding sumur dan kedap air,
saluran pembuangan air limbah (SPAL) minimal 10 meter dan
permanen, tinggi bibir sumur 0,8 meter, memililki cincin (dinding)
sumur minimal 3 meter dan memiliki tutup sumur yang kuat dan
rapat.5,8
Sumur gali sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Jarak
Agar sumur terhindar dari pencemaran maka harus
diperhatikan adalah jarak sumur dengan jamban, lubang galian
untuk air limbah (cesspool, seepage pit), dan sumber-sumber
pengotoran lainnya. Jarak tersebut tergantung pada keadaan serta
kemiringan tanah, lokasi sumur pada daerah yang bebas banjir dan
jarak sumur minimal 15 meter dan lebih tinggi dari sumber
pencemaran seperti kakus, kandang ternak, tempat sampah, dan
sebagainya.7

7
2. Dinding Sumur Gali
Kriteria yang harus diperhatikan dalam membuat dinding
sumur gali adalah:
 Jarak kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur
gali harus terbuat dari tembok yang kedap air (disemen).8
 Pada kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur
harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air, agar
perembesan air permukaan yang telah tercemar tidak terjadi.
 Dinding sumur bisa dibuat dari batu bata atau batu kali yang
disemen. Akan tetapi yang paling bagus adalah pipa beton.
 Kedalaman sumur gali dibuat sampai mencapai lapisan tanah
yang mengandung air cukup banyak walaupun pada musim
kemarau.8
3. Bibir Sumur Gali
Untuk keperluan bibir sumur ini terdapat beberapa pendapat antara
lain :
 Di atas tanah dibuat tembok yang kedap air setinggi minimal
70 cm untuk mencegah pengotoran dari air permukaan serta
untuk aspek keselamatan.8
 Dinding sumur di atas permukaan tanah kira-kira 70 cm, atau
lebih tinggi dari permukaan air banjir, apabila daerah tersebut
adalah daerah banjir.
 Dinding parapet merupakan dinding yang membatasi mulut
sumur dan harus dibuat setinggi 70-75 cm dari permukaan
tanah. Dinding ini merupakan satu kesatuan dengan dinding
sumur.7
Penentuan persyaratan dari sumur gali didasarkan pada hal-
hal sebagai berikut:
a. Kemampuan hidup bakteri patogen selama 3 hari dan
perjalanan air dalam tanah 3 meter/hari.
b. Kemampuan bakteri patogen menembus tanah secara vertical
sedalam 3 meter.

8
c. Kemampuan bakteri patogen menembus tanah secara
horizontal sejauh 1 meter.
d. Kemungkinan terjadinya kontaminasi pada saat sumur
digunakan maupun sedang tidak digunakan.
e. Kemungkinan runtuhnya tanah dinding sumur. Saluran
pembuangan air limbah dari sekitar sumur dibuat dari tembok
yang kedap air dan panjangnya sekurang-kurangnya 10m.
Sedangkan pada sumur gali yang dilengkapi pompa, pada
dasarnya pembuatannya sama dengan sumur gali tanpa pompa,
tapi air sumur diambil dengan mempergunakan pompa.
Kelebihan jenis sumur ini adalah kemungkinan untuk
terjadinya pengotoran akan lebih sedikit disebabkan kondisi
sumur selalu tertutup. 8
B. Sumur Bor
Dengan cara pengeboran, lapisan air tanah yang lebih dalam
ataupun lapisan tanah yang jauh dari tanah permukaan dapat dicapai
sehingga sedikitdipengaruhi kontaminasi. Umumnya air ini bebas dari
pengotoran mikrobiologidan secara langsung dapat dipergunakan
sebagai air minum. Air tanah ini dapatdiambil dengan pompa tangan
maupun pompa mesin.
2.3.2 Air Pipa
Sumber air yang sering digunakan oleh masyarakat selain air
sumur gali adalah air pipa atau air kran. Air bersih yang bersumber dari
air kran di salurkan melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Namun, setiap PDAM di setiap daerah belum tentu memiliki kualitas
dan kuantitasnya sama dengan daerah lainnya.

2.4 Persyaratan dalam Penyediaan Air Bersih


2.4.1 Persyaratan Kulitatif
Persyaratan kualitatif adalah persyaratan yang menggambarkan
mutu atau kualitas dari air baku air bersih. Persyaratan ini meliputi :

9
a. Syarat-syarat Fisik
1. Air tak boleh berwarna
2. Air tak boleh berasa
3. Air tak boleh berbau
4. Suhu air hendaknya di bawah sela udara (sejuk ±25º C).
5. Air harus jernih.
Syarat-syarat kekeruhan dan warna harus dipenuhi oleh
setiap jenis air minum dimana dilakukan penyaringan dalam
pengolahannya. Kadar (bilangan) yang disyaratkan dan tidak boleh
dilampaui adalah sebagai berikut :

Indikator Kadar Bilangan yang Kadar Bilangan yang


Disyaratkan Boleh Dilampaui
Kesamaan sebagai PK 7,0-8,5 <6,5 dan >9,5
Bahan-bahan padat Tak Melebihi 50mg/L Tak Melebihi 1.500mg/L
Warna (skala Pt CO) Tak melebihi 50 kesatuan Tak melebihi 50 kesatuan
Rasa Tak Mengganggu
Bau Tak Mengganggu
Sumber : Sutrisno dan Suciastuti Teknik Penyediaan Air Bersih, 2010

b. Syarat-syarat kimia
Air minum tidak boleh mengandung racun, zat-zat mineral
atau zat-zat kimia tertentu dalam jumlah melampaui batas yang
telah ditentukan. PH yang dianjurkan untuk air minum adalah 7,0-
8,5.
c. Syarat-syarat biologis
Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri
penyakit (patogen) sama sekali dan tak boleh mengandung bakteri-
bakteri golongan Coli melebihi batas-batas yang telah ditentukan
yaitu 1 coli/100 ml.air. Bakteri golongan Coli ini berasal dari usu
besar (faeces) dan tanah.

10
d. Syarat-syarat radiologis
Air minum tidak boleh mengandung zat yang menghasilkan
bahan-bahan yang mengandung radioaktif, seperti sinar alfa, beta
dan gamma.5
2.4.2 Persyaratan Kuantitatif
Dalam penyediaan air bersih ditinjau dari banyaknya air baku
yang tersedia. Artinya air baku tersebut dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan sesuai dengan jumlah penduduk yang akan
dilayani. Kebutuhan air untuk masyarakat perkotaan adalah 150
ltr/org/hari (DPU cipta Karya). Jumlah air yang dibutuhkan sangat
tergantung pada tingkat kemajuan teknologi dan sosial ekonomi
masyarakat setempat.
2.4.3 Persyaratan Kontinuitas
Untuk penyediaan air bersih sangat erat hubungannya dengan
kuantitas air yang tersedia yaitu air baku yang ada di alam. Air baku
untuk air bersih harus dapat diambil terus menerus dengan fluktuasi
debit yang relatif tetap, baik pada saat musim kemarau maupun musim
hujan. Kontinuitas juga dapat diartikan bahwa jumlah air bersih yang
direncanakan dapat memenuhi kebutuhan selama 24 jam.
a. Kebutuhan Air Domestik
Kebutuhan air domestik adalah kebutuhan air bersih yang
digunakan untuk keperluan rumah tangga. Kebutuhan air domestik
sangat ditentukan oleh jumlah penduduk, dan konsumsi perkapita.
Kota besar dengan jumlah penduduk 500.000-1.000.000 jiwa
memiliki kebutuhan air 170L/orang/hari. Lain halnya dengan
pedesaan yang memiliki penduduk <200.000 jiwa, kebutuhan air
domestik berkisar 80L/orang/hari.5
b. Kebutuhan Air Non Domestik
Kebutuhan air non domestik untuk industri, pariwisata,
tempat ibadah, tempat sosial, serta tempat-tempat komersial atau
tempat umum lainnya.8

11
2.5 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Menurut Permenkes No. 2269/MENKES/PER/XI/2011 pengertian
PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) adalah sekumpulan perilaku yang
dipraktekan sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang/keluarga,
kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di
bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan
masyarakat.9
2.5.1 Tatanan PHBS Rumah Tangga
Salah satu tatanan PHBS yang utama adalah PHBS rumah
tangga yang bertujuan memberdayakan anggota sebuah rumah tangga
untuk tahu, mau dan mampu menjalankan perilaku kehidupan yang
bersih dan sehat serta memiliki peran yang aktif pada gerakan di tingkat
masyarakat. Tujuan utama dari tatanan PHBS di tingkat rumah tangga
adalah tercapainya rumah tangga yang sehat.
Terdapat beberapa indikator PHBS pada tingkatan rumah tangga
yang dapat dijadikan acuan untuk mengenali keberhasilan dari praktek
perilaku hidup bersih dan sehat pada tingkatan rumah tangga. Berikut
ini 10 indikator PHBS pada tingkatan rumah tangga :
1. Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan.
Persalinan yang mendapat pertolongan dari pihak tenaga
kesehatan baik itu dokter, bidan ataupun paramedis memiliki standar
dalam penggunaan peralatan yang bersih, steril dan juga aman.
Langkah tersebut dapat mencegah infeksi dan bahaya lain yang
beresiko bagi keselamatan ibu dan bayi yang dilahirkan.
2. Pemberian ASI eksklusif
Kesadaran mengenai pentingnya ASI bagi anak di usia 0
hingga 6 bulan menjadi bagian penting dari indikator keberhasilan
praktek perilaku hidup bersih dan sehat pada tingkat rumah tangga.
3. Menimbang bayi dan balita secara berkala.
Praktek tersebut dapat memudahkan pemantauan pertumbuhan
bayi. Penimbangan dapat dilakukan di Posyandu sejak bayi berusia 1
bulan hingga 5 tahun. Posyandu dapat menjadi tempat memantau

12
pertumbuhan anak dan menyediakan kelengkapan imunisasi.
Penimbangan secara teratur juga dapat memudahkan deteksi dini
kasus gizi buruk.
4. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih.
Praktek ini merupakan langkah yang berkaitan dengan
kebersihan diri sekaligus langkah pencegahan penularan berbagai
jenis penyakit berkat tangan yang bersih dan bebas dari kuman.
5. Menggunakan air bersih.
Air bersih merupakan kebutuhan dasar untuk menjalani hidup
sehat. Air bersih yang digunakan untuk mandi, masak, mencuci
haruslah sesuai standar kesehatan yang berlaku.
6. Menggunakan jamban sehat.
Jamban merupakan infrastruktur sanitasi penting yang
berkaitan dengan unit pembuangan kotoran dan air untuk keperluan
pembersihan.
7. Memberantas jentik nyamuk.
Nyamuk merupakan vektor berbagai jenis penyakit dan
memutus siklus hidup makhluk tersebut menjadi bagian penting
dalam pencegahan berbagai penyakit.
8. Konsumsi buah dan sayur.
Buah dan sayur dapat memenuhi kebutuhan vitamin dan
mineral serta serat yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh optimal dan
sehat.
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari.
Aktivitas fisik dapat berupa kegiatan olahraga ataupun
aktivitas bekerja yang melibatkan gerakan dan keluarnya tenaga.
10. Tidak merokok di dalam rumah.
Perokok aktif dapat menjadi sumber berbagai penyakit dan
masalah kesehatan bagi perokok pasif. Berhenti merokok atau
setidaknya tidak merokok di dalam rumah dapat menghindarkan
keluarga dari berbagai masalah kesehatan.10

13
2.5.2 Pentingnya Materi PHBS Di Setiap Tatanan
Selain PHBS dalam tatanan rumah tangga, masih terdapat tatanan
lain yang tidak kalah penting seperti PHBS di sekolah dan juga PHBS
di tempat kerja. Keseluruhan dari materi PHBS bertujuan untuk
meningkatkan kualitas kesehatan individu dan masyarakat yang terlibat
pada setiap tatanan.
Sekolah yang sehat dengan anggota komunitas tingkat sekolah
yang berperilaku hidup bersih dan sehat dapat mencegah sekolah
menjadi titik penularan atau sumber berbagai penyakit. Demikian pula
dengan PHBS di tempat kerja dimana keamanan dan kesehatan menjadi
sesuatu yang tidak kalah penting.
Perilaku hidup bersih dan sehat yang berasal dari
implementasi materi PHBS dapat menjadi kunci untuk meningkatkan
kualitas kesehatan masyarakat. Menjalankan praktek indikator –
indikator PHBS di berbagai tatanan dapat menjadi sebuah gerakan
untuk memasyarakatkan perilaku hidup bersih dan sehat dimanapun dan
juga kapanpun.10

2.6 Pengertian Jamban


Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan
mengumpulkan kotoran manusia dalam suatu tempat tertentu, sehingga
kotoran tersebut dalam suatu tempat tertentu tidak menjadi penyebab penyakit
dan mengotori lingkungan pemukiman. Penyediaan sarana jamban
merupakan bagian dari usaha sanitasi yang cukup penting peranannya.
Ditinjau dari sudut kesehatan lingkungan pembuangan kotoran yang tidak
saniter akan dapat mencemari lingkungan terutama tanah dan sumber air11
Untuk mencegah kontaminasi tinja terhadap lingkungan maka
pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik. Suatu jamban
tersebut sehat jika memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut 11,12
1. Tidak mencemari sumber air minum (untuk ini dibuat lubang
penampungan kotoran paling sedikit berjarak 10 meter dari sumber air).
2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus.

14
3. Air seni, air pembersih dan penggelontoran tidak mencemari tanah
disekitarnya.
4. Mudah dibersihkan, aman digunakan dan harus terbuat dari bahan-bahan
yang kuat dan tahan lama.
5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna
terang.
6. Luas ruangan cukup.
7. Ventilasi cukup baik.
8. Tersedia air dan alat pembersih.
9. Cukup penerangan.

2.6.1 Jenis-jenis jamban


Menurut Entjang (2000), macam-macam tempat pembuangan tinja,
antara lain:11,12,13
1. Jamban cemplung (Pit latrine)
Jamban cemplung ini sering dijumpai di daerah pedesaan.
Jamban ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah
dengan diameter 80-120 cm sedalam 2,5-8 meter. Jamban cemplung
tidak boleh terlalu dalam, karena akan mengotori air tanah
dibawahnya. Jarak dari sumber minum sekurang-kurangnya 15
meter.
2. Jamban air (Water latrine)
Jamban ini terdiri dari bak yang kedap air, diisi air di dalam
tanah sebagai tempat pembuangan tinja. Proses pembusukannya
sama seperti pembusukan tinja dalam air kali.
3. Jamban leher angsa (Angsa latrine)
Jamban ini berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi
air. Fungsi air ini sebagai sumbat sehingga bau busuk dari kakus
tidak tercium. Bila dipakai, tinjanya tertampung sebentar dan bila
disiram air, baru masuk ke bagian yang menurun untuk masuk ke
tempat penampungannya.

15
4. Jamban bor (Bored hole latrine)
Tipe ini sama dengan jamban cemplung hanya ukurannya lebih
kecil karena untuk pemakaian yang tidak lama, misalnya untuk
perkampungan sementara. Kerugiannya bila air permukaan banyak
mudah terjadi pengotoran tanah permukaan (meluap).
5. Jamban keranjang (Bucket latrine)
Tinja ditampung dalam ember atau bejana lain dan kemudian
dibuang di tempat lain, misalnya untuk penderita yang tak dapat
meninggalkan tempat tidur. Sistem jamban keranjang biasanya
menarik lalat dalam jumlah besar, tidak di lokasi jambannya, tetapi di
sepanjang perjalanan ke tempat pembuangan. Penggunaan jenis
jamban ini biasanya menimbulkan bau.
6. Jamban parit (Trench latrine)
Dibuat lubang dalam tanah sedalam 30-40 cm untuk tempat
defaecatie. Tanah galiannya dipakai untuk menimbunnya. Penggunaan
jamban parit sering mengakibatkan pelanggaran standar sanitasi,
terutama yang bberhubungan dengan pencegahan pencemaran
tanah, pemberantasan lalat, dan pencegahan pencapaian tinja oleh
hewan.
7. Jamban empang / gantung (Overhung latrine)
Jamban ini semacam rumah-rumahan dibuat di atas kolam,
selokan, kali, rawa dan sebagainya. Kerugiannya mengotori air
permukaan sehingga bibit penyakit yang terdapat didalamnya dapat
tersebar kemana-mana dengan air, yang dapat menimbulkan wabah.
8. Jamban kimia (Chemical toilet)
Tinja ditampung dalam suatu bejana yang berisi caustic soda
sehingga dihancurkan sekalian didesinfeksi. Biasanya dipergunakan
dalam kendaraan umum misalnya dalam pesawat udara, dapat pula
digunakan dalam rumah.

16
2.7 Macam-macam Sumber Air
Berdasarkan macam dan sumbernya dibedakan atas tiga bagian yaitu 11,12:
a. Air Angkasa
Air angkasa adalah air hujan sebelum jatuh ke permukaan bumi
yang terjadi dari proses evaporasi dari air permukaan dan
evapotranspirasi dari tumbuh-tumbuhan oleh bantuan sinar matahari, dan
melalui proses kondensasi kemudian jatuh ke bumi dalam bentuk hujan
salju ataupun embun.
b. Air Permukaan
Air permukaan adalah air yang berada di atas permukaan tanah
baik yang mengalir maupun yang tergenang seperti sungai, danau dan
waduk.
c. Air Tanah

Air tanah adalah air yang tersimpan/terperangkap di dalam lapisan


batuan yang mengalami pengisian/penambahan secara terus menerus oleh
alam. Dalam pemenuhan kebutuhan air bersih manusia biasanya
memanfaatkan sumber-sumber air yang berada di sekitar permukiman
baik itu air alam, maupun setelah mengalami proses pengolahan terlebih
dahulu.
Tempat sumber air dibedakan menjadi tiga yaitu :
a) Air hujan, air angkasa, dalam wujud lainnya dapat berupa salju;
b) Air permukaan, air yang berada di permukaan bumi dapat berupa air
sungai, air danau, air laut;
c) Air tanah, terbentuk dari sebagian dari air hujan yang jatuh ke
permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui pori-
pori/celah-celah dan akar tanaman serta bertahan pada lapisan tanah
membentuk lapisan yang mengandung air tanah (aquifer), air tanah
yang disebut air tanah dalam atau artesis, artinya air tanah yang
letaknya pada dua lapisan tanah yang kedap air, ada yang sifatnya
tertekan dan yang tidak tertekan. Air tanah dangkal artinya terletak
pada aquifer yang dekat dengan permukaan tanah dan fluktuasi
volumennya sangat dipengaruhi oleh adannya curah hujan.

17
2.8 Sumur Gali
Sumur merupakan sumber air yang banyak digunakan masyarakat
Indonesia. Agar air sumur memenuhi syarat kesehatan sebagai air rumah
tangga, maka air sumur harus dilindungi dari bahaya pengotoran
a. Sumur yang baik harus memenuhi syarat-syarat 14.15:
1) Syarat lokasi
Untuk menghindari pengotoran yang harus diperhatikan adalah
jarak sumurdengan kakus, lubang galian sampah, lubang galian
untuk limbah dan sumber-sumber pengotoran lainnya tidak kurang
dai 10 meter. Dan bila tidak memungkinkan (kurang dari 10 meter)
konstruksi lubang galian untuk sumber-sumber pengotoran tersebut
dibuat kedap air. Jangan dibuat ditempat yang ada airnya dalam
tanah, dan jangan dibuat di tanah yang rendah yang mungkin
terendam bila banjir (hujan).
2) Syarat konstruksi
a) Sumur gali tanpa pompa
(1) Dinding sumur 3 meter dalamnya dari permukaan tanah
dibuat dari tembok yang tidak tembus air.
(2) Satu setengah meter dinding berikutnya ( sebelah bawahnya
) dibuat dari batas yang ditembok.
(3) Kedalaman sumur dibuat sampai mencapai lapisan tanah
yang mengandung air cukup banyak walaupun musim
kemarau.
(4) Di atas tanah dibuat dinding tembok yang kedap air,
setinggi minimal 70cm.
(5) Lantai sumur dibuat kedap air dan agak miring dan
ditinggikan 20 cm di atas permukaan tanah, bentuknya bulat
atau persegi.
(6) Dasar sumur diberi kerikil agar airnya tidak keruh bila
ditimba.
(7) Permukaan tanah sekitar bangunan sumur dibuat miring
untuk memudahkan pengeringan

18
(8) Saluran pembuangan air limbah dan sekitar sumur dibuat
tembok dan panjangnyaminimal 10 meter.
b) Sumur gali yang dilengkapi pompa
Pembuatannya sama dengan sumur gali tanpa pompa
hanya disini air sumur diambil dengan menggunakan pompa.
Dalam hal ini kemungkinan pengotoran lebih sedikit dari karena
sumur selalu ditutup.
2.9 Sumur Resapan
Sumur resapan merupakan sumur atau lubang pada permukaan tanah
yang dibuat untuk menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam
tanah. Sumur resapan ini kebalikan dari sumur air minum. Sumur resapan
merupakan lubang untuk memasukkan air ke dalam tanah, sedangkan
sumur air minum berfungsi untuk menaikkan air tanah ke permukaan.
Dengan demikian konstruksi dan kedalamannya berbeda. Sumur resapan
digali dengan kedalaman di atas muka air tanah. Sumur air minum digali
lebih dalam lagi atau di bawah muka air tanah13,14,15.
Secara sederhana sumur resapan diartikan sebagai sumur gali yang
berbentuk lingkaran. Sumur resapan berfungsi untuk menampung dan
meresapkan air hujan yang jatuh di atas permukaan tanah baik melalui atap
bangunan, jalan dan halaman.
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 03-2453-2002,
dapat diketahui bahwa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah
sumur resapan untuk lahan pekarangan rumah adalah sebagai berikut14,15:
a. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah
berlereng, curam atau labil.
b. Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh
dari septic tank (minimum 5 m diukur dari tepi), dan berjarak
minimum 1 m dari fondasi bangunan.
c. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal 2
m di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table)
tanah minimum 1,5 m pada musim hujan.

19
d. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan
tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm/jam (artinya,
genagan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan
tiga klasifikasi, yaitu sebagai berikut:
 Permeabilitas sedang (geluh kelanauan, 2,0-3,6 cm/jam atau
0,00056-0,001 cm/detik).
 Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus, 3,6-36 cm/jam atau
0,001-0,01 cm/detik).
 Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar, lebih besar dari 36 cm/jam
atau lebih besar dari 0,01 cm/detik).
2.10 Mata Air
Mata air adalah tempat dimana air tanah keluar kepemukaan tanah,
keluarnya air tanah tersebut secara alami dan biasanya terletak di lereng-
lereng gunung atau sepanjang tepi sungai. Berdasarkan munculnya
kepermukaan air tanah terbagi atas 2 (dua) yaitu 14:
1. Mata air mengalir (graviti spring) yaitu air mengalir dengan gaya
berat sendiri. Pada lapisan tanah yang permukaan tanah yang tipis,
air tanah tersebut menembus lalu keluar sebagai mata air.
2. Mata air artesis berasal dari lapisan air yang dalam posisi tertekan.
Air artesis berusaha untuk menembus lapisan rapat air dan keluar ke
permukaan bumi.
Ditinjau dari sudut kesehatan, ketiga macam air ini tidaklah selalu
memenuhi syarat kesehatan, karena ketiga-tiganya mempunyai
kemungkinan untuk tercemar. Embun, air hujan dan atau salju misalnya,
yang berasal dari air angkasa, ketika turun ke bumi dapat menyerap abu,
gas, ataupun meteri-materi yang berbahaya lainnya. Demikian pula air
permukaan, karena dapat terkontaminasi dengan pelbagai zat-zat mineral
ataupun kimia yang mungkin membahayakan kesehatan (Gabriel, 2001).
2.11 Pencemaran Air
Pencemaran air umumnya terjadi oleh tingkah-laku manusia seperti
oleh zat-zat detergen, asam belerang dan zat-zat kimia sebagai sisa
pembuangan pabrik-pabrik kimia/industri. Pencemaran air juga

20
disebabkan oleh pestisida, herbisida, pupuk tanaman yang merupakan
unsur-unsur polutan sehingga mutu air berkurang 13,14.
Pencemaran air menurut Surat Keputusan Menteri Negara
Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor : KEP-
02/MENKLH/I/1988 Tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan adalah :
masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen
lain ke dalam air sehingga menyebabkan berubahnya tatanan air oleh
kegiatan manusia atau oleh peruses alam sehingga kualitas air turun
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air menjadi kurang atau
sudah tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (pasal 1).
Pencemaran air terjadi apabila dalam air terdapat berbagai macam
zat atau kondisi (panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air yang
telah ditentukan, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan
tertentu. Suatu sumber air dikatakan tercemar tidak hanya karena
tercampur dengan bahan pencemar, akan tetapi apabila air tersebut tidak
sesuai dengan kebutuhan tertentu. Sebagai contoh suatu sumber air yang
mengandung logam berat atau mengandung bakteri penyakit masih dapat
digunakan untuk kebutuhan industri atau sebagai pembangkit tenaga
listrik, akan tetapi tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga
(keperluan air minum, memasak, mandi dan mencuci) (Supardi, 2003).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pencemaran air bersih,
diantaranya14,15:
a. Jamban
Tanah tersusun dari berbagai jenis material (batu, pasir, dll)
yang akan menyaring bakteri yang melewatinya. Semakin jauh jarak
jamban dengan sumber air bersih, maka jumlah bakteri semakin
sedikit. Namun sebaliknya, jika jarak jarak jamban semakin dekat
dengan sumber air bersih, maka menyebabkan jumlah bakteri

semakin banyak.26
b. Sumber Pencemar
Karakteristik limbah ditentukan oleh jenis sumber pencemar.
Perbedaan karakteristik limbah mempunyai pengaruh yang berbeda

21
pula terhadap kualitas bakteriologis air sumur gali.25
Jumlah sumber pencemar menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi pencemaran air bersih. Semakin banyak sumber
pencemar dengan jarak maksimal 10 meter, maka semakin besar
pengaruhnya terhadap penurunan kualitas bakteriologis sumur gali.
Ini disebabkan karena faktor yang mempengaruhi tingkat resiko

pencemaran.25
Tingkat risiko pencemaran air sumur gali dibagi menjadi 4
kategori, yaitu sangat tinggi (<25%), tinggi (25-50%), sedang (51-

75%), rendah (>75%).26


c. Genangan Air dengan Jarak 2 meter
Salah satu persyaratan pembuatan sumur adalah jarak sumur
dengan resapan air minimal 2 meter.
d. Saluran Pembuangan Air Limbah
Saluran pembuangan air limbah harus dibuat menyambung

dengan parit agar tidak terjadi genangan air di sekitar sumur.27


e. Lantai Semen pada Sumur
Lantai sumur harus dibuat kedap air kurang lebih 1 meter
lebarnya dari dinding sumur, dibuat miring dan ditinggikan 20 cm di
atas tanah dengan bentuk bulat atau segi empat.
f. Keretakan Pada Lantai Sekitar Sumur
Kondisi lantai sumur yang tidak memenuhi syarat bermacam-
macam, baik itu berupa panjangnya kurang 1 meter dari tepi sumur,
lantai. yang retak dan ada juga yang tidak memiliki lantai sumur
(langsung tanah). Lantai sumur yang tidak memenuhi syarat
memungkinkan air permukaan yang berada disekitar sumur gali
mudah meresap/masuk ke dalam sumur gali.
Terjadinya patahan atau retakan pada lantai sumur gali
memungkinkan masuknya kontaminasi dengan sangat cepat. Oleh
karena itu lantai sumur harus kedap air minimal 1 meter dari sumur,
dengan kondisi tidak retak/bocor, mudah dibersihkan, dan tidak

22
tergenang air.
g. Letak Ember dan Tali Timba
Cara pengambilan air dengan menggunakan timba membuat
sumur selalu dalam keadaan terbuka yang mengakibatkan kotoran
mudah masuk kedalam sumur. Sedangkan letak ember yang
diletakkan di sembarang tempat dapat menjadi sumber pencemar
untuk sumur karena kotoran atau mikroorganisme yang menempel

pada menempel dapat mencemari kualitas air sumur.19


h. Kontruksi Bibir Sumur (Cincin)
Kondisi fisik sumber air bersih adalah konstruksi bangunan

dan sarana yang mendukung sanitasi sumber air bersih.27


pembangunan sumur harus mengikuti standar kesehatan, yaitu jarak

terhadap sumber pencemar dengan konstruksinya33 cincin yang


kedap air, lantai semen yang kedap air, dudukan pompa, dan pipa

distribusi.7
i. Kontruksi Dinding Sumur
Dinding bagian dalam sumur gali 3 meter dari permukaan
tanah harus kedap air agar perembasan air permukaan yang telah
tercemar tidak masuk. Sumur yang masih mengandung bakteri
diperkirakan sampai kedalaman 3 meter. Oleh karena itu, dinding
dalam yang melapisi sumur sebaiknya dibuat kedap air dengan

kedalaman 3 – 5 meter.29 dinding sumur kedap air berperan sebagai


penahan agar air permukaan yang mungkin meresap ke dalam sumur
telah melewati lapisan tanah sehingga mikroba yang ada didalamnya

telah tersaring.30
Aliran tanah memberikan pengaruh secara terus menerus
terhadap lingkungan di dalam tanah. Pergerakan aliran air tanah
melalui pori-pori tanah akan mempengaruhi penyebaran pencemaran

air tanah.31 Aliran air yang mengarah kearah berlawanan dengan


sumber air bersih akan menyebabkan air yang tercemar tidak
mengarah ke sumber air bersih dan kecepatan aliran air yang lambat

23
akan memperlambat aliran sehingga dapat mengurangi

pencemaran.32
2.12 Tingkat Resiko Pencemaran Air Sarana Sumur Gali
Air dalam perjalanannya mulai dari sumber asalnya dapat
mengalami resiko pencemaran sebelum sampai ke konsumen melalui
berbagai cara dan sarana penyediaan air minum, mempunyai kemungkinan
besar untuk terjadinya pencemaran air.Pencemaran fisik, kimia,
bakteriologi maupun radio aktif akan berakibat menimbulkan gangguan

kesehatan bagi manusia.12 Pencemaran air oleh kuman dapat berupa


bakteri, virus, protozoa dan fungsi yang mana dapat ditemukan dalam
faeces urine penderita atau carier. Oleh karena pada dasarnya bakteri
dalam kotoran manusia dapat bergerak secara horizontal maupun vertikal
didalam tanah di mana terdapat lokasi pembuangan kotoran.
Bakteri pada bahan buangan manusia dapat menyebar secara
horizontal dan vertikal melalui pencemaran air, sedangkan jarak
pencemarannya bervariasi terutama dipengaruhi oleh porositas tanah.
Secara horizontal area kontaminasi melebar sampai kurang dari 2 meter
pada jarak 5 meter dari lobang kotoran serta menyempit hinggajarak 11
meter, bergerak vertikal kebawah sedalam 3 meter.
Kontamisasi bersifat searah dengan aliran air, pola pencemaran
oleh zat kimia mengikuti bentuk yang hampir sama dengan pencemaran
bakterial, hanya jarak lebih jauh. Pada jarak 25 meter dari lubang
pembuangan area kontaminasi melebar sampai kurang dari 9 meter untuk

kemudian menyempit hingga jarak 115 meter.29 Sumur gali adalah salah
satu konstruksi sumur yang paling umun dan meluas dipergunakan untuk
mengambil air tanah bagi masyarakat sebagai sumber air minum dan air
bersih. Sumur gali menyediakan air yang berasal dari lapisan tanah yang
relatif dekat dari tanah permukaan, oleh karena itu mudah terkena
kontaminasi melalui rembesan.
Kontaminasi paling umum adalah karena rembesan air dari sarana
pembuangan kotoran manusia dan binatang, oleh karenanya perlu
diperhatikan persyaratan fisik kontruksi sumur gali yang memenuhi

24
14,15
syarat seperti.
a. Memiliki bibir sumur yang kedap air dengan tinggi 80 - 100 cm.
b. Memiliki cincin sumur yang kedap air sedalam 300 cm
c. Memiliki lantai sumur kedap air dan memiliki kemiringan yang
mengarahkeluar menuju saluran pembuangan air limbah (SPAL)
d. Memiliki sarana pembuangan air limbah (SPAL) yang kedap air

e. Memiliki jarak minimal terhadap sumber pencemaran 10 m 9


Disamping syarat fisik kontruksi sumur, sarana pembuangan tinja
(kotoran).manusia juga perlu karena kotoran manusia merupakan sumber
utama terjadinya pencemaran bakteri golongan coli terhadap sumber air
sumur. Oleh karenanya tempat pembuangan tinja/kotoran manusia harus
14
memenuhi syarat seperti:
a) Septic Tank (terdiri dari 2 bak yang kedap air, di mana bak utama
lebihbesar sebagai tempat penampungan kotoran dan bak kedua
sebagai bak peresapan air dan tertutup).
b) Memiliki dudukan yang kedap air dan leher angsa
c) Memiliki rumah kakus, memiliki cukup air sebagai penggelontor.
2.13 Pengaruh Air Terhadap Kesehatan
Air yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan merupakan media
penularan penyakit karena air merupakan salah satu media dari berbagai
macam penularan, terutama penyakit perut 14,15.
Sementara itu, penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air
dapat dibagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan cara penularannya.
Mekanisme penularan penyakit sendiri terbagi menjadi empat, yaitu 14,15:
1. Water borne disease
Adalah penyakit yang ditularkan langsung melalui air minum,
di mana air minum tersebut bila mengandung kuman patogen
terminum oleh manusia maka dapat terjadi penyakit. Di antara
penyakit tersebut adalah: penyakit kholera, penyakit typhoid,
penyakit hepatitis infektiosa, penyakit dysentri dan gastroenteritis.

25
2. Water washed disease
Adalah penyakit yang disebabkan oleh kurangnya air untuk
pemeliharaan hygiene perseorangan. Dengan terjaminnya kebersihan
oleh tersedinya air yang cukup, maka penyakit-penyakit tertentu
dapat dikurangi penularannya pada manusia, dan penyakit ini banyak
terdapat di daerah tropis. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh cara
penularan dan sangat banyak dan dapat dikelompokkan menjadi tiga
yaitu :
a. Penyakit infeksi kulit saluran pencernaan
Salah satu penyakit infeksi saluran pencernaan adalah
penyakit diare yang merupakan penyakit dimana penularannya
bersifat fecal-oral. Penyakit diare dapat ditularkan melalui
beberapa jalur, di antaranya jalur yang melalui air (water borne)
dan jalur yang melalui alat-alat dapur yang dicuci dengan air
(water washed).
Contoh penyakit ini serupa dengan yang terdapat pada
jalur water borne, yaitu: kholera, typhoid, hepatitis infektiosa
dan dysentri basiler. Berjangkitnya penyakit ini sangat erat
kaitannya dengan kesediaan air untuk makan, minum dan
memasak, serta kebersihan alat-alat makan.
b. Penyakit infeksi kulit dan selaput lendir
Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan hygiene
perseorangan yang buruk. Angka kesakitan ini dapat ditularkan
dengan penyediaan air yang cukup bagi kebersihan
perseorangan. Yang perlu diperhatikan adalah kualitas air bersih
sehingga air tidak mengandung mikroba-mikroba yang
menimbulkan penyakit seperti: infeksi fungus pada kulit,
penyakit conjunctivitis (trachoma) dan sebagainya.
c. Penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh insekta pada kulit dan
selaput lendir.
Penyakit ini sangat ditentukan oleh tersedianya air bersih
untuk hygiene perseorangan yang ditujukan untuk mencegah

26
infeksi insekta parasit pada tubuh dan pakaian. Insekta parasit
akan mudah berkembang biak dan menimbulkan penyakit bila
kebersihan perseorangan dan kebersihan umum tidak terjamin.
Yang termasuk parasit ini adalah Sarcoptes scabies, louse borne
relapsing fever dan sebagainya.
3. Water bashed disease
Adalah penyakit yang ditularkan oleh bibit penyakit yang
sebagian siklus hidupnya di air seperti schistosomiasis. Larva
schistosoma hidup di dalam keong-keong air. Setelah waktunya larva
ini akan mengubah bentuk menjadi cercaria dan menembus kulit atau
kaki manusia yang berada dalam air tersebtu. Dan air ini sangat erat
hubungannya dengan kehidupan manusia sehari-hari seperti
menangkap ikan, mandi, cuci dan sebagainya.
4. Water related insect vectors
Adalah penyakit yang ditularkan melalui vektor yang hidupnya
tergantung pada air misalnya Malaria, Demam Berdarah, Filariasis,
Yellow fever dan sebagainya. Nyamuk Aedes aegypti yang
merupakan penyakit dengue berkembang dengan mudah bila di
lingkungan tersebut terdapat tempat-tempat genangan atau
penampungan air bersih seperti gentong air, pot dan sebagainya.
2.13.1 Skabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau
(mite) Sarcoptes scabei, yang termasuk dalam kelas Arachnida.
Penyakit ini juga mudah menular dari manusia ke manusia, dari
hewan ke manusia dan sebaliknya. Skabies mudah menyebar baik
secara langsung yaitu, melalui sentuhan langsung dengan penderita
maupun secara tak langsung atau apapun yang pernah
dipergunakan penderita dan belum dibersihkan dan masih terdapat
tungau sarcoptesnya. Skabies menyebabkan rasa gatal pada bagian
kulit seperti disela-sela jari, siku, selangkangan16
Skabies identik dengan penyakit anak pondok pesantren,
penyebabnya adalah kondisi kebersihan yang kurang terajaga,

27
sanitasi yang buruk, kurang gizi dan kondisi ruangan terlalu lembab
dan kurang mendapat sinar matahari secara langsung. Kelainan
kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga
oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau
bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat,
menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan16.
Penyakit skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung
maupun kontak tak langsung. Yang paling sering adalah kontak
langsung yang saling bersentuhan atau dapat pula melalui alat-alat
seperti tempat tidur, handuk, dan pakaian. Bahkan penyakit ini
dapat pula ditularkan melalui hubungan seksual antara penderita
dengan orang yang sehat. Penularan skabies terjadi ketika orang-
orang tidur bersama di satu tempat tidur yang sama di lingkungan
rumah tangga, sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas asrama
dan pemondokan, serta fasiltas-fasilitas kesehatan yang dipakai
oleh masyarakat luas16.
2.13.2 Diare
Diare akut infeksi diklasifikasikan secara klinis dan
patofisiologis menjadi diare non inflamasi dan Diare inflamasi.
Diare Inflamasi disebabkan invasi bakteri dan sitotoksin di kolon
dengan manifestasi sindroma disentri dengan diare yang disertai
lendir dan darah. Gejala klinis yang menyertai keluhan abdomen
seperti mulas sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah, demam,
tenesmus, serta gejala dan tanda dehidrasi. Pada pemeriksaan tinja
rutin secara makroskopis ditemukan lendir dan/atau darah, serta
mikroskopis didapati sel leukosit polimorfonuklear16.
Pada diare non inflamasi, diare disebabkan oleh enterotoksin
yang mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa
lendir dan darah. Keluhan abdomen biasanya minimal atau tidak
ada sama sekali, namun gejala dan tanda dehidrasi cepat timbul,
terutama pada kasus yang tidak mendapat cairan pengganti. Pada
pemeriksaan tinja secara rutin tidak ditemukan leukosit16.

28
Mekanisme terjadinya diare yang akut maupun yang kronik
dapat dibagi menjadi kelompok osmotik, sekretorik, eksudatif dan
gangguan motilitas. Diare osmotik terjadi bila ada bahan yang tidak
dapat diserap meningkatkan osmolaritas dalam lumen yang
menarik air dari plasma sehingga terjadi diare. Contohnya adalah
malabsorbsi karbohidrat akibat defisiensi laktase atau akibat garam
magnesium16.
Diare sekretorik bila terjadi gangguan transport elektrolit baik
absorbsi yang berkurang ataupun sekresi yang meningkat. Hal ini
dapat terjadi akibat toksin yang dikeluarkan bakteri misalnya toksin
kolera atau pengaruh garam empedu, asam lemak rantai pendek,
atau laksantif non osmotik. Beberapa hormon intestinal seperti
gastrin vasoactive intestinal polypeptide (VIP) juga dapat
menyebabkan diare sekretorik16.
Diare eksudatif, inflamasi akan mengakibatkan kerusakan
mukosa baik usus halus maupun usus besar. Inflamasi dan eksudasi
dapat terjadi akibat infeksi bakteri atau bersifat non infeksi seperti
gluten sensitive enteropathy, inflamatory bowel disease (IBD) atau
akibat radiasi16.
Kelompok lain adalah akibat gangguan motilitas yang
mengakibatkan waktu tansit usus menjadi lebih cepat. Hal ini
terjadi pada keadaan tirotoksikosis, sindroma usus iritabel atau
diabetes melitus16.
Diare dapat terjadi akibat lebih dari satu mekanisme. Pada
infeksi bakteri paling tidak ada dua mekanisme yang bekerja
peningkatan sekresi usus dan penurunan absorbsi di usus. Infeksi
bakteri menyebabkan inflamasi dan mengeluarkan toksin yang
menyebabkan terjadinya diare. Infeksi bakteri yang invasif
mengakibatkan perdarahan atau adanya leukosit dalam feses.
Pada dasarnya mekanisme terjadinya diare akibat kuman
enteropatogen meliputi penempelan bakteri pada sel epitel dengan
atau tanpa kerusakan mukosa, invasi mukosa, dan produksi

29
enterotoksin atau sitotoksin. Satu bakteri dapat menggunakan satu
atau lebih mekanisme tersebut untuk dapat mengatasi pertahanan
mukosa usus16.
1. Adhesi
Mekanisme adhesi yang pertama terjadi dengan ikatan
antara struktur polimer fimbria atau pili dengan reseptor atau
ligan spesifik pada permukaan sel epitel. Fimbria terdiri atas
lebih dari 7 jenis, disebut juga sebagai colonization factor
antigen (CFA) yang lebih sering ditemukan pada enteropatogen
seperti Enterotoxic E. Coli (ETEC)
Mekanisme adhesi yang kedua terlihat pada infeksi
Enteropatogenic E.coli (EPEC), yang melibatkan gen EPEC
adherence factor (EAF), menyebabkan perubahan konsentrasi
kalsium intraselluler dan arsitektur sitoskleton di bawah
membran mikrovilus. Invasi intraselluler yang ekstensif tidak
terlihat pada infeksi EPEC ini dan diare terjadi akibat shiga like
toksin. Mekanisme adhesi yang ketiga adalah dengan pola
agregasi yang terlihat pada jenis kuman enteropatogenik yang
berbeda dari ETEC atau EHEC.
2. Invasi
Kuman Shigella melakukan invasi melalui membran
basolateral sel epitel usus. Di dalam sel terjadi multiplikasi di
dalam fagosom dan menyebar ke sel epitel sekitarnya. Invasi
dan multiplikasi intraselluler menimbulkan reaksi inflamasi
serta kematian sel epitel. Reaksi inflamasi terjadi akibat
dilepaskannya mediator seperti leukotrien, interleukin, kinin,
dan zat vasoaktif lain. Kuman Shigella juga memproduksi toksin
shiga yang menimbulkan kerusakan sel. Proses patologis ini
akan menimbulkan gejala sistemik seperti demam, nyeri perut,
rasa lemah, dan gejala disentri. Bakteri lain bersifat invasif
misalnya Salmonella.

30
3. Sitotoksin
Prototipe kelompok toksin ini adalah toksin shiga yang
dihasilkan oleh Shigella dysentrie yang bersifat sitotoksik.
Kuman lain yang menghasilkan sitotoksin adalah
Enterohemorrhagic E. Coli (EHEC) serogroup 0157 yang dapat
menyebabkan kolitis hemoragik dan sindroma uremik hemolitik,
kuman EPEC serta V. Parahemolyticus.
4. Enterotoksin
Prototipe klasik enterotoksin adalah toksin kolera atau
Cholera toxin (CT) yang secara biologis sangat aktif
meningkatkan sekresi epitel usus halus. Toksin kolera terdiri
dari satu subunit A dan 5 subunit B. Subunit A1 akan
merangsang aktivitas adenil siklase, meningkatkan konsentrasi
cAMP intraseluler sehingga terjadi inhibisi absorbsi Na dan
klorida pada sel vilus serta peningkatan sekresi klorida dan
HCO3 pada sel kripta mukosa usus. ETEC menghasilkan heat
labile toxin (LT) yang mekanisme kerjanya sama dengan CT
serta heat Stabile toxin (ST).ST akan meningkatkan kadar cGMP
selular, mengaktifkan protein kinase, fosforilasi protein
membran mikrovili, membuka kanal dan mengaktifkan sekresi
klorida.
5. Peranan Enteric Nervous System (ENS)
Berbagai penelitian menunjukkan peranan refleks neural
yang melibatkan reseptor neural 5-HT pada saraf sensorik
aferen, interneuron kolinergik di pleksus mienterikus, neuron
nitrergik serta neuron sekretori VIPergik.
Efek sekretorik toksin enterik CT, LT, ST paling tidak
sebagian melibatkan refleks neural ENS. Penelitian
menunjukkan keterlibatan neuron sensorik aferen kolinergik,
interneuron pleksus mienterikus, dan neuron sekretorik tipe 1
VIPergik. CT juga menyebabkan pelepasan berbagai sekretagok
seperti 5-HT, neurotensin, dan prostaglandin. Hal ini membuka

31
kemungkinan penggunaan obat antidiare yang bekerja pada ENS
selain yang bersifat antisekretorik pada enterosit.

2.13.3 Dermatitis
Dermatitis akibat iritan yang terakumulasi misalnya
dermatitis kronis pada tangan yang disebabkan oleh air dan
detergen di antara pencuci piring dan ibu rumah tangga, dan
dermatitis akibat cairan pemotong logam di antara pekerja logam.
Pelarut seperti bahan pengencer dan minyak tanah bila dipakai
tidak semestinya seperti sebagai pembersih kulit sering
menyebabkan dermatitis17.
Dermatitis kontak ialah respon inflamasi akut ataupun kronis
yang disebabkan oleh bahan atau substansi yang menempel pada
kulit. Dikenal dua macam dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak
iritan dan dermatitis kontak alergik, keduanya dapat bersifat akut
maupun kronis. Dermatitis iritan merupakan reaksi peradangan
kulit non imunologik disebabkan oleh bahan kimia iritan.
Sedangkan, dermatitis alergik terjadi pada seseorang yang telah
mengalami sensitisasi terhadap suatu alergen dan merangsang
reaksi hipersensitivitas tipe IV17.
Dermatitis kontak iritan adalah suatu peradangan pada kulit
yang disebabkan oleh kerusakan langsung ke kulit setelah terpapar
agen berbahaya. Dermatitis kontak iritan dapat disebabkan oleh
tanggapan phototoxic misalnya tar, paparan akut zat-zat (asam,
basa) atau paparan kronis kumulatif untuk iritasi ringan (air,
detergen, bahan pembersih lemah). Dermatitis kontak iritan
diklasifikasikan menjadi dermatitis kontak iritan akut dan
dermatitis kontak iritan kumulatif (kronis)17.
2.13.3.1 Dermatitis kontak iritan akut
Di tempat kerja, kasus dermatitis iritan akut sering
timbul akibat kecelakaan atau akibat kebiasaan kerja yang
buruk, misalnya tidak memakai sarung tangan, sepatu bot,

32
atau apron bila diperlukan, atau kurang berhati-hati saat
menangani iritan. Hal ini juga disebabkan kegagalan
pekerja biasanya karena ketidak tahuan mengenali
material korosif. Dermatitis iritan akut dapat dicegah dan
pekerja yang terkena tidak perlu berpindah pekerjaan.
Pendidikan kesehatan sangat penting disini. Pemakaian
sarung tangan, apro, dan sepatu bot yang kedap air saat
bekerja dapat mencegah terjadinya dermatitis iritan akut.
2.13.3.2 Dermatitis kontak iritan kumulatif (kronis)
Dermatitis kontak iritan jenis ini disebabkan kontak
kulit berulang dengan iritan lemah. Iritan lemah
menyebabkan dermatitis kontak iritan pada individu yang
rentan saja. Lama waktu sejak pajanan pertama terhadap
iritan dan timbulnya dermatitis bervariasi antara mingguan
hingga tahunan, tergantung sifat iritan, frekuensi kontak.

2.14 Upaya-Upaya Pengolahan Air


Air yang tidak memenuhi syarat untuk langsung diminum perlu
diolah terlebih dahulu, sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat
kesehatan. Pekerjaan ini disebut treatment of water yang dengan
kemampuan ilmu pengetahuan secara teknologi banyak cara
melakukannya. Salah satu cara pengolahan air minum yang dilakukan
adalah dengan cara desinfeksi saja berupa bahan chlor atau kaporit.
Maksudnya desinfeksi adalah untuk membunuh bakteri pathogen sebagai
penyebab penyakit yang penyebarannya melalui air antara lain penyakit
typhus, kholera, dysentri dan malaria18.
Menurut Azrul Azwar (2005), ditinjau dari perlu atau tidaknya
pengolahan air, maka salah satu macam air yang perlu dilakukan
pengolahan air dalam tanah atau air permukaan. Air tersebut diperkirakan
hampir tidak terkontaminasi, mempunyai warna yang jernih dan

33
mengandung E. coli tidak lebih dari 50 ppm setiap 100 mililiter air hasil
pemeriksaan laboratorium setiap bulan18,19.
Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2005, 183 beberapa
faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengolahan air dengan cara
desinfeksi air adalah :
1. Daya dalam membunuh mikroorganisme pathogen, yang berjenis
bakteri, virus, protozoa dan cacing.
2. Tingkat kemudahan dalam memantau konsentrasinya dalam air.
3. Kemampuan dalam memproduksi residu yang akan berfungsi
sebagai pelindung kualitas air pada sistim distribusi.
4. Kualitas warna, rasa dan bau dari air yang didesinfeksi.
5. Teknologi pengadaan dan penggunaan yang tersedia.
6. Faktor ekonomi.
Selain itu, kemajuan teknologi pengolahan air lainnya, diantaranya19 :
a. Grey water bio Rotasi
Grey water adalah air limbah yang berasal dari aktivitas
domestik masyarakat. Instalasi pengolahan air limbah grey water bio
rotasi ini terdiri dari sistem bio filter dan taman sanitasi dengan
resirkulasi yang dapat mengolah air limbah rumah tangga untuk
digunakan kembali menjadi air bersih. Teknologi ini menjadi salah
satu teknologi tepat guna untuk penyediaan air bersih mengingat 60-
85% dari penggunaan air bersih, 75%-nya menjadi grey water.
Penelitian Luvita, Sugiarto, dan Wijonarko (2015) melakukan
pengolahan grey water melalui reaksi kimia dengan menggunakan
teknologi oksidasi dan filtrasi di daerah Jakarta Timur. Setelah
diproses dengan menggunakan teknologi oksidasi, maka grey water
yang dihasilkan mengalami penurunan kandungan organik, ammonia,
padatan terlarut, dan BOD sehingga sesuai dengan standar baku mutu
air bersih. Di Indonesia, teknologi ini sudah diterapkan di beberapa
perusahaan untuk memenuhi kebutuhan internal perusahaan.

34
b. Teknologi Desalinasi Air laut
Teknologi ini mengubah air laut menjadi air bersih yang siap
digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tahapan desalinasi
air laut meliputi pengambilan air laut, pengolahan awal, proses
pemisahan garam, dan pengolahan akhir. Pengolahan awal dilakukan
untuk membersihkan air laut dari bahan pengotor seperti molekul
makro dan mikro. Kemudian dilakukan proses penyisihan garam,
dapat berbasis panas (Multistage flash distillation system), dan
berbasis membran (Reverse osmosis system). Penambahan mineral
dilakukan pada tahap pengolahan akhir agar dihasilkan produk air
bersih dengan kualitas air minum.
Negara yang telah lama menggunakan teknologi ini adalah Arab
Saudi, Bahrain, dan Kuwait. Teknologi ini sangat mungkin diterapkan
di Indonesia mengingat Indonesia memiliki sumber daya air laut yang
luas. Kendala utamanya adalah Indonesia belum memiliki aturan
mengenai pengelolaan air laut sebagai air baku20.
c. Metode Reverse Osmosis (RO)
Pengolahan air dengan metode reverse osmosis adalah suatu
sistem pengolahan air dari air yang mempunyai konsentrasi tinggi
melalui membran semipermiabel menjadi air yang mempunyai
konsentrasi rendah dikarenakan adanya tekanan osmosis. Metode ini
merupakan metode penyaringan yang dapat menyaring berbagai
molekul besar dan ion-ion dari suatu larutan dengan cara memberi
tekanan pada larutan ketika larutan itu berada di salah satu sisi
membran seleksi (lapisan penyaring). Proses tersebut menjadikan zat
terlarut terendap di lapisan yang dialiri tekanan sehingga zat pelarut
murni dapat mengalir ke lapisan berikutnya.
Pengolahan air dengan menggunakan teknologi ini banyak
diaplikasikan pada pengolahan air asin menjadi air bersih (desalinasi),
pemurnian air kotor menjadi air bersih, ataupun pemurnian air limbah
menjadi air bersih. Teknologi RO ini merupakan teknologi yang lebih
baru dibandingkan desalinasi air laut. Desalinasi yang menggunakan

35
sistem RO lebih kompleks jika dibandingkan sistem RO untuk
memurnikan air tawar.
Dalam proses desalinasi, setelah tahap pre-treatment maka air
laut disalurkan ke membran RO yang bertekanan 55 dan 85 bar. Air
yang ke luar berupa air tawar dan air berkadar garam tinggi (brine
water), untuk selanjutnya air tawar dialirkan ke tahapan post treatment
untuk diolah sesuai standar yang diinginkan. Desalinasi dengan
teknologi RO ini dianggap yang paling rendah konsumsi daya
listriknya diantara sistem desalinasi lainnya. Amerika, Jepang, Israel,
Singapura, dan Sanyol merupakan negara-negara yang telah
memanfaatkan teknologi ini untuk memproduksi air bersih21.

36
BAB III
METODE PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Populasi dan Sampel Penelitian


3.1.1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini merupakan warga Desa Binangun,
Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.
3.1.2. Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau penelitian ini adalah warga RT 1 / RW
13 Desa Binangun, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.
3.1.3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah kepala keluarga yang bertempat
tinggal di RT 1 /RW 13 Desa Binangun, Kecamatan Pataruman,
Kota Banjar. Pengambilan sampel di RT 1/ RW 13dengan metode
Purposive Sampling.
3.1.4. Sampel Penelitian
Penentuan besar sampel dalam sebuah penelitian harus
dilakukan secara tepat. Penghitungan sampel akan tepat jika rumus
besar sampel sesuai dengan metode penelitian serta variabel
penelitian yang dicari. Karena keterbatasan waktu penelitian,
sehingga sampel minimum yg digunakan di penelitian ini adalah 40
sampel.
3.1.4.1 Teknik Sampling
Untuk penarikan sampel digunakan purposive
sampling dengan rumah tangga sebagai unit sampling.
3.1.5. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah subjek penelitian
berusia 25-60 tahun dan bertempat tinggal di RT 1/ RW 13, Desa
Binangun selama > 1 bulan.

37
3.1.6. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah subjek penelitian yang pindah
tempat tinggal atau tidak berada di tempat, data kuesioner yang
diisikan tidak lengkap, dan apabila subjek menolak ikut
serta dalam penelitian ini.
3.2. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
3.3. Identifikasi Variabel
Definisi Operasional Variabel
Tabel 3.1 Definisi Operasional
NO INDIKATOR DEFINISI OPERASIONAL
KESEHATAN LINGKUNGAN
1 Keadaan air Kualitas air yang dipakai oleh warga untuk
kegiatan sehari-hari (mandi, mencuci,
mengolah makanan, dan minum).
2 Jumlah Air Banyaknya air yang dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan air per hari.
3 Asal Sumber Air Sarana warga untuk mendapatkan air yang
digunakan sehari-hari.
4 Jarak Sumur ke Jarak ideal dari sumur ke sumber
Jamban kontaminan (jamban), yaitu 10 meter.
5 Kedalaman Sumur Jarak penggalian sumur dari permukaan
bibir sumur sampai permukaan tanah yang
mengandung banyak air.
6 Saluran Air Pipa atau selang yang berfungsi untuk
menyaluran air dari sumber air menuju ke
rumah warga.
7 Lokasi Sumur Letak pembangunan sumur yang
digunakan warga untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.

38
PROMOSI KESEHATAN
1 Pengetahuan Hasil tahu responden mengenai sumber air
Responden mengenai yang tidak layak konsumsi di lingkungan
Sumber Air Tidak tempat tinggal dengan kriteria berasa,
Layak Konsumsi berbau, dan berwarna. Dicatat dalam skala
nominal, berupa tahu dan tidak tahu.
2 Pengetahuan Hasil tahu responden mengenai dampak
Responden mengenai mengonsumsi air dari sumber air yang
Dampak Mengonsumsi tidak layak konsumsi di lingkungan tempat
Air yang Tidak Layak tinggalnya. Dicatat dalam skala nominal,
berupa tahu dan tidak tahu.
3 Pengetahuan Hasil tahu responden mengenai cara
Responden mengenai mengolah air yang tidak layak konsumsi
Cara Mengatasi Air menjadi air yang layak konsumsi, melalui
yang Tidak Layak penyaringan, ditambahkan zat tertentu atau
Konsumsi diendapkan. Dicatat dalam skala nominal,
berupa tahu dan tidak tahu.
PHBS
1 Persalinan oleh Nakes Pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan (bidan, dokter) atau bagi rumah
tangga yang tidak/belum pernah hamil
mengerti kalau persalinan harus ditolong
oleh tenaga kesehatan.
2 ASI Eksklusif Bayi memperoleh ASI eksklusif sejak usia
0-6 bulan tanpa makanan tambahan lain
atau bagi rumah tangga yang tidak punya
bayi mengerti tentang ASI eksklusif.
3 Penimbangan Balita Balita ditimbangkan secara teratur
(minimal 8 kali setahun) bagi rumah
tangga yang tidak punya balita mengerti
tentang penimbangan balita ( posyandu).
4 Gizi Mengkonsumsi beraneka ragam makanan

39
dalam jumlah cukup dengan gizi seimbang
(ada sayur dan buah setiap hari).
5 Air bersih Menggunakan air bersih untuk keperluan
sehari hari (tidak berbau, tidak berasa,
tidak berwarna dan tidak keruh).
6 Jamban sehat Menggunakan jamban sehat (leher angsa
dengan septic tank dan jamban cemplung
yang ditutup agar tidak berbau).
7 Aktifitas fisik Melakukan olahraga/aktifitas fisik
minimal 30 menit sehari.
8 Tidak merokok Anggota rumah tangga tidak merokok di
dalam rumah, rumah bebas dari asap
rokok.
9 Cuci tangan Mencuci tangan dengan air bersih dan
pakai sabun, terutama sebelum makan dan
sesudah BAB.
10 Pemberantasan sarang Pemeriksaan jentik pada tempat-tempat
nyamuk perkembangbiakan nyamuk (tempat
penampungan air) yang ada di dalam
rumah.
PENYAKIT KULIT
1 Penyakit Kulit Keadaan abnormal pada kulit yang
diakibatkan pemakaian air yang
terkontaminasi
2 Pelayanan ke Upaya yang dilakukan penderita untuk
Puskesmas datang ke puskesmas guna mendapatkan
bantuan tenaga medis
3 Frekuensi Riwayat penderita mengalami
kekambuhan dengan keluhan serupa
selama pemakaian air yang
terkontaminasi
4 Mandi Membasuh anggota tubuh dengan air dan

40
sabun dan menggosok kulit kemudian
seluruh tubuh disiram sampai bersih
DIARE
1 Diare BAB cair lebih dari tiga kali dalam sehari.
2 Wadah Tempat menyimpan air bersih yang siap
dikonsumsi (teko, termos, dispenser, botol,
dll)

3.4. Instrumen Penelitian


3.4.1. Bahan Penelitian
Data penelitian yang akan digunakan diperoleh dari data
primer berupa data hasil pengisian kuesioner terhadap warga RT 1/
RW 19 Desa Binangun, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.
3.5. Tata Kerja
3.5.1. Pengambilan Sampel
Pemilihan sampel menggunakan metode purposive
sampling. Pengambilan sampel dilakukan di RT yang terpilih.
Kemudian dilakukan wawancara menggunakan kuesioner terhadap
subjek yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.
3.5.2. Pengisian Kuesioner
Pengisian kuesioner dilakukan dengan cara pengumpulan
data dan pencatatan. Data diambil dari jawaban pertanyaan yang
disajikan didalam kuesioner tersebut. Sebelumnya, subjek
diberikan informasi berkenaan dengan tujuan penelitian dan
diminta kesediaannya untuk ikut serta dalam penelitian. Pengisian
kuesioner dipandu oleh peneliti dan dikerjakan dalam satu waktu.

3.6. Waktu dan Lokasi Penelitian


Lokasi penelitian berada di RT1/RW13 Desa Binangun, Kecamatan
Pataruman, Kota Banjar.
3.7. Pengumpulan Data dan Analisis
Data dikumpulkan dari hasil pengisian kuesioner dan diolah untuk
mendapatkan data di RT 1/ RW 13 Desa Binangun, Kecamatan Pataruman.

41
Hasil penelitian ditampilkan dalam bentuk tabel disertai dengan
pembahasan.
3.8. Etik
Penelitian ini menggunakan metode pengambilan data melalui
kuesioner. Pada prosesnya, akan menimbulkan beberapa masalah etik.
Oleh karena itu, sebelum mengisi kuesioner, responden akan diberikan
informasi yang komprehensif tentang tujuan penelitian, keuntungan dan
kerugian jika mengikuti penelitian ini dan kerahasiaan data yang diisikan,
seperti nama responden dan alamat. Dalam hal ini, peneliti memperhatikan
aspek confidential. Selain itu, penulis akan memperhatikan aspek otonomi,
melalui tidak adanya paksaan dalam pengisian kuesioner.

42
BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data dari hasil wawancara


dengan warga RT 1/ RW 19 Desa Binangun. Jumlah data yang diperoleh adalah
42 kepala keluarga. Dari 42 data yang terkumpul, diambil 40 data yang memenuhi
kriteria eksklusi dan inklusi yang dijadikan sebagai data penelitian ini.

A. KESEHATAN LINGKUNGAN
Tabel 4.1. Jumlah dan persentase pencapaian indikator Air Bersih rumah
tangga RT 01 RW 13 Dusun Girimulya Desa Binangun.

No Indikator Jumlah %
1 Keadaan Air
a. Berasa 26 65
b. Berwarna 17 42.5
c. Berbau 8 20
d. Keruh 10 25
2 Jumlah Air
a. Cukup 20 50
b. Tidak Cukup 20 50
3 Asal Sumber Air
a. Ledeng 0
b. SGL/SPT 0
c. PMA 1 2.5
d. Air Hujan 2 5
e. Sungai 4 10
f. Sumur Bor 36 90
4 Jarak Sumur Ke Jamban
a. 10 Meter 31 77.5
b. Tidak 10 Meter 9 22.5
5 Kedalaman Sumur
a. ≤ 10 Meter 18 45
b. >10 Meter 21 52.5
c. Kurang tahu 1 2.5
d. Tidak memiliki sumur 2 5
6 Saluran Air
a. Terbuka 3 7.5
b. Tertutup 37 92.5

43
7 Lokasi Sumur
a. Di belakang rumah 23 57.5
b. Di depan rumah 3 7.5
c. Di sebelah rumah 1 2.5
d. Di dekat rumah 2 5
e. Di seberang sungai 5 12.5
f. Didekat Ciseel 3 7.5
g. Tidak punya sumur 3 7.5
8 Dekat Ternak
a. Ya 1 2.5
b. Tidak 39 97.5
9 Dekat Sampah
a. Ya 1 2.5
b. Tidak 39 97.5
10 Mandi
a. Dari air sumur 40 100
b. Lain-lain 0 0
11 Mencuci
a. Dari air sumur 39 97.5
b. Dari pesantren 1 2.5
12 Mengolah Makanan
a. Dari air sumur 11 27.5
b. Dari galon 24 60
c. Dari jerigen 1 2.5
d. Dari pesantren 4 10
13 Minum
a. Dari air sumur 7 17.5
b. Dari galon 29 72.5
c. Dari jerigen 1 2.5
d. Dari pesantren 2 7.5

B. PROMOSI KESEHATAN
Tabel 4.2 Pengetahuan Responden mengenai Sumber Air, Dampak
Mengonsumsi, dan Cara Mengatasi Air Tidak Layak Konsumsi

Tahu Tidak Tahu


No Pengetahuan
N % n %
Sumber Air Tidak
1 31 77.5% 9 22.5%
Layak Konsumsi
Dampak Mengonsumsi
2 15 37,5% 25 62.5%
Air yang Tidak Layak
Cara Mengatasi Air
3 5 12.5% 25 77.5%
Tidak Layak Konsumsi
Sumber : data primer hasil survey yang telah diolah

44
Dari total 40 responden, 77.5% mengetahui tentang sumber air
tidak layak konsumsi, 62,5% tidak mengetahui dampak mengonsumsi air
yang tidak layak, dan 12,5% tidak mengetahui cara mengatasi air yang
tidak layak konsumsi.
C. PHBS
Tabel 4.3 Jumlah dan persentase pencapaian indikator PHBS rumah tangga
RT 01 RW 13 Dusun Girimulya Desa Binangun.
Indikator PHBS rumah Ya Tidak
No
tangga Jumlah % Jumlah %
1 Salinan/Nakes 32 80 5 12.5

2 ASI Eksklusif 32 80 5 12.5

3 Timbang balita 35 87.50 2 7.50

4 Gizi 28 70 12 30

5. Air Bersih 40 100 0 0

Jamban 39 97.50 1 2.50


6.

7. Aktivitas fisik 10 25 30 75

Tidak merokok dalam


8. 31 77.5 9 22.50
rumah

9. Cuci tangan 38 92.50 2 7.50

Pemberantasan jentik
10.
nyamuk 35 87.50 5 12.50

D. PENYAKIT KULIT
Tabel 4.4 Jumlah Kejadian dan Faktor Risiko Penyakit Kulit RT 01 RW 13
Dusun Girimulya Desa Binangun.

No Pertanyaan Jumlah %
1 Riwayat terkena penyakit kulit
a. Ya 7 17.5
b. Tidak 33 82.5
Jika pertanyaan No. 1 Ya, maka dilanjutkan dengan
pertanyaan 2-5

45
2 Keluhan yang ditimbulkan
a. Gatal 4 57.14
b. Gatal dan terdapat bintik-bintik 3 42.85
3 Frekuensi kejadian penyakit kulit
a. Setiap hari 4 57.14
b. 2x sebulan 2 25.57
c. Saat cuaca panas 1 14.28
4 Riwayat penyakit serupa dengan keluarga
a. Ya 2 28.57
b. Tidak 5 71.42
5 Pemeriksaan ke puskesmas atau yankes lainnya
a. Ya 7 100
b. Tidak 0 0
6 Jumlah mandi dalam sehari
a. 1 kali 0 0
b. ≥2 kali 40 100
7 Cara mandi
a. Menggunakan sabun 40 100
b. Tidak menggunakan sabun 0 0
8 Kebiasaan menggunakan peralatan pribadi
a. Memakai sendiri 11 27.5
b. Memakai bergantian dengan keluarga 29 72.5

E. DIARE

Tabel 4.5 Jumlah Kejadian dan Faktor Risiko Penyakit Diare RT 01 RW 13


Dusun Girimulya Desa Binangun.

No Kejadian dan Faktor Ya Tidak


Risiko Jumlah % Jumlah %
1 Kejadian Diare 3 7.5 37 92.5

2 Masak air 38 95 2 5

3 Penyimpanan air 40 100 0 0


tertutup

4 Jamban Septitang 39 97.5 1 2.5

5 Cuci tangan dengan 40 100 0 0


sabun

Sumber : data primer hasil survey yang telah diolah

46
Grafik . Jumlah Kejadian dan Faktor Risiko Penyakit Diare RT 01 RW 13 Dusun
Girimulya Desa Binangun

50

40

30
Ya
20
Tidak
10

0
Kejadian Diare Memasak Air Penyimpanan Air Jamban Septitang Cuci tangan
Tertutup dengan sabun

47
BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Kesehatan Lingkungan


Sebagian besar responden (65%) mengaku air berasa asin, sebagian
kecil (42,5%) mengaku air berwarna kuning, 25% responden mengaku air
keruh, dan 20% reponden mengaku air berbau busuk seperti bangkai.
Sejumlah 20 kepala keluarga (KK) (50%) dari 40 KK yang disurvei di
RT 1/13 mengaku jumlah air yang diperoleh sudah mencukupi kebutuhan
sehari-hari. Sedangkan 20 KK (50%) lainnya mengaku jumlah air belum
dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hal ini disebabkan sumur tidak
mengeluarkan banyak air pada musim kemarau.
Sejumlah 36 KK (90%) mendapatkan sumber air dari sumur bor, 4 KK
(10%) dari sungai, 2 KK (5%) dari air hujan, dan 1 KK (2,5%) dari
Perlindungan Mata Air (PMA). Sebanyak 1 KK dari 4 KK pengguna air
sungai, sudah mempunyai sumur. Namun saat kemarau tidak banyak
menghasilkan air, sehingga mengambil air dari sungai Ciseel untuk
memenuhi kebutuhan air.
Sebagian besar responden (77,5%) memiliki sumur dengan jarak 10
meter dari jamban dan sebagian kecil responden (22,5%) memiliki sumur
dengan jarak tidak 10 meter.
Dari 40 responden yang dilakukan survei, 38 responden memiliki
sumur dan 2 responden tidak memiliki sumur. Dari 38 reponden, sebagian
besar (52,5%) kedalaman sumur sedalam >10 meter, ≤ 10 meter
Sebanyak 37 KK (92,5%) mempunyai sumur dengan dilengkapi saluran
air tertutup untuk menghubungkan air dari sumur ke rumah responden.
Sedangkan 3 KK (7,5%) memiliki saluran air terbuka, yaitu mengambil air
dari sungai, dikarenakan tidak memiliki sumur.
Sebanyak 23 KK (57,5%) lokasi sumur responden berada di belakang
rumah, 5 KK (12,5%) memiliki sumur di seberang sungai Ciseel, 3 KK
(7,5%) di dekat sungan Ciseel, 3 KK (7,5%) di depan rumah dan 2 KK (5%)
di dekat rumah.

48
Sebagian besar responden (97,5%) memiliki letak sumber air jauh dari
ternak, dan sebagian kecil (2,5%) letak sumber air berada di dekat kandang
ternak.
Sebagian besar responden (97,5%) memiliki sumber air jauh dari
tempat pembuangan sampah dan sebagian kecil (2,5%) letak sumber air
berada di dekat tempat pembuangan sampah. Semua responden (100%)
mandi dengan menggunakan air sumur dikarenakan responden menganggap
air tersebut hanya aman untuk mandi dan mencuci.
Sebagian besar (97,5%) menggunakan air sumur untuk mencuci, dan
sebagian kecil (2,5%) mengambil air dari pesantren untuk mencuci. Sebanyak
24 KK (60%) mengolah makanan dengan menggunakan air galon isi ulang.
Sebagian kecil 11 KK (27,5%) dari air sumur, 4 KK (10%) air dari pesantren,
dan 1 KK (2,5%) dari jerigen hasil mengambil air di RW lain.
Sebanyak 29 KK (72,5%) minum dari air galon isi ulang. Sebagian
kecil 7 KK (17,5%) minum dari air sumur, 3 KK (7,5%) dari air yang diambil
di pesantren dekat rumah warga, dan 1 KK (2,5%) dari jerigen hasil
mengambil air di RW lain. Alasan responden mengambil air di pesantren
karena air cenderung tidak berasa asin dan jernih.

5.2 Promosi Kesehatan


Tabel 4.2 menunjukkan sebanyak 77,5% responden mengetahui kondisi
air yang tidak layak konsumsi. Hal ini menunjukkan bahwa responden
memahami tentang kriteria air yang layak konsumsi, terutama dilihat dari
kuaitas air, seperti rasa, bau dan warna. Pengetahuan yang baik ini tercermin
dari hasil jawaban responden pada pertanyaan kuesioner. Responden yang
memiliki sumber air berasa, berwarna dan berbau menyatakan bahwa air
tersebut tidak layak konsumsi, dan responden tidak menggunakannya sebagai
air minum. Sesuai dengan definisi pengetahuan, yaitu hasil tahu yang
dirasakan oleh panca indera responden akibat dari penyerapan informasi
berbagai sumber seperti penyuluhan, tayangan televisi, buku maupun paparan
informasi dari media masa seperti majalah kesehatan dan sebagainya.22

49
Sedangkan tingkat pengetahuan responden mengenai dampak dan cara
mengatasi air tidak layak konsumsi masih rendah, yaitu sebanyak 37,5 dan
12,5%. Hasil ini berkaitan dengan frekuensi tenaga kesehatan/penyuluh yang
belum pernah melakukan promosi kesehatan mengenai air bersih di wilayah
ini. Menurut Buku Pedoman Promosi Kesehatan Depkes RI, promosi
kesehatan adalah proses mengupayakan individu dan masyarakat untuk
meningkatkan kemampuan mereka melalui pembelajaran dari, oleh, untuk
dan bersama amsyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya seniri serta
mengembangkan kegiatan yang bersumber daya mayarakat, sesuai sosial
budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan
kesehatan.23

5.3 PHBS
1) Persalinan dengan Tenaga Kesehatan
Pada variabel pencapaian PHBS rumah tangga di bidang persalinan
dengan bantuan tenaga kesehatan, diketahui bahwa sebagian besar
responden (87.50%) telah melakukan persalinan yang dibantu oleh teaga
kesehatan sedangkan sebagian kecil responden (12.50%) melakukan
persalinan dengan bantuan Paraji. Hasil penelitian diperoleh dari pengisian
kuesioner dan didapatkan bahwa responden sebagian besar sudah
melakukan persalinan dengan bantuan tenaga kesehatan baik bidan
maupun dokter. Adapun responden yang melahirkan dengan bantuan paraji
adalah responden yang telah berusia lanjut pada saat ini.
2) ASI Eksklusif
Pada variabel ini, sebagian besar responden (87.50%)
memberikan ASI eksklusif kepada anaknya dan sebagian kecil responden
(12.50%) tidak memberikan ASI eksklusif pada anaknya. Responden yang
tidak memberikan ASI eksklusif dikarenakan ASI yang tidak keluar sama
sekali.

50
3) Timbang Balita
Pada variabel ini, sebagian besar responden (95%) membawa anak
balitanya ke posyandu untuk ditimbang dan sebagian kecil responden (5%)
tidak membawa anak balitanya ke posyandu.
4) Gizi
Pada variabel ini, sebagian besar responden (70%) mengaku selalu
mengonsumsi sayur dan buah setiap hari dalam seminggu dan sebagian
kecil responden (30%) jarang mengonsumsi sayur dan buah setiap hari
dalam seminggu. Hal ini dikarenakan keterbatasan ekonomi responden
sehingga responden belum bisa mengonsumsi sayur dan buah setiap hari.
5) Air Bersih
Sejumlah 40 rumah tangga (100%) tidak memiliki sumber air
bersih. Sumber air bersih yang ada di daerah tersebut berasa asin dan
keruh.
6) Jamban
Sejumlah 39 rumah tangga (97.50%) memiliki jamban yang sehat,
yaitu jamban yang mempunyai septitank pada masing-masing rumah dan
terdapat beberapa rumah tangga mempunyai septitank bersama yang
dikumpulkan di satu lubang. Sedangkan 1 rumah tangga (2.50%) tidak
memiliki jamban.
7) Aktifitas Fisik
Sejumlah 10 rumah tangga (25%) yang anggota keluarganya
melakukan aktivitas fisik sehari hari/olahraga secara teratur minimal 30
menit sehari. Sementara 30 rumah (75%) ada anggota keluarga yang tidak
melakukan aktivitas fisik. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan
sebagian besar anggota rumah tangga yang tidak melakukan aktifitas
fisik/olahraga menganggap bahwa dengan bekerja sehari-hari termasuk
olahraga.
8) Merokok
Sejumlah 31 rumah tangga (77.50%) tidak merokok didalam rumah
sehingga rumah bebas dari asap rokok. Sementara 9 rumah tangga

51
(22.50%) merokok didalam rumah sehingga rumah tidak bebas dari asap
rokok.
9) Cuci Tangan
Sejumlah 38 rumah tangga (92.50%) memiliki kebiasaan cuci
tangan sebelum makan dan setelah buang air besar menggunakan sabun.
Sedangkan 2 rumah tangga (7.50%) tidak memiliki kebiasaan cuci tangan
sebelum makan atau setelah BAB dengan sabun.
10) Pemberantasan Sarang Nyamuk
Sejumlah 35 rumah tangga (87.50%) telah melakukan
pemberantasan sarang nyamuk maksimal seminggu sekali. Terdapat 5
rumah tangga (12.50%) belum melakukan pemberantasan sarang nyamuk.
Berdasarkan hasil wawancara didapatkan beberapa rumah yang tidak
menguras bak mandi maksimal 1 minggu sekali disebabkan merasa belum
kotornya bak atau penampungan air tersebut.
5.4 Penyakit Kulit
7 responden (17.5%) terkena penyakit kulit, sementara 33 responden
lainnya tidak terkena penyakit kulit (33%) saat menggunakan sumber air
tersebut. Dari 7 responden yang terkena penyakit kulit tersebut, 4 responden
mengeluhkan gatal (57.14%) dan 3 responden mengeluhkan gatal dan
terdapat bintik-bintik kemerahan. Keluhan tersebut dirasakan setiap hari oleh
4 responden (57.14%), 2 kali dalam sebulan oleh 2 responden (25.57%) dan
terjadi saat cuaca sedang panas oleh 1 responden (14.48%). 2 orang
responden mengeluhkan bahwa penyakit kulit serupa dikeluhkan oleh
keluarganya dan 5 orang responden tidak mengelukan bahwa keluarganya
menderita penyakit kulit yang serupa. Dari 7 responden yang terkena penyakit
kulit, 7 responden tersebut (100%) melakukan pemeriksaan ke puskesmas dan
telah mendapatkan pengobatan.
40 orang responden (100%) mandi ≥2 kali dan menggunakan sabun.
Sabun yang dipakai yaitu sabun sendiri sebanyak 11 reponden (27.5%) dan
29 responden (72.5%) menggunakan sabun yang digunakan bergantian
dengan keluarga. Jumlah mandi yakni ≥2 kali dalam sehari serta mandi

52
menggunakan sabun merupakan cara perawatan kulit yang benar agar terhidar
dari berbagai penyakit kulit24

5.5 Penyakit Diare


1) Kejadian diare
Sejumlah 37 keluarga (92.5%) di Dusun Girimulya Desa Binangun
RT01 RW13 tidak pernah terjangkit penyakit diare, sedangkan 3 keluarga
(7.5%) pernah terjangkit penyakit diare.
2) Masak Air
Sejumlah 38 keluarga (95%) di Dusun Girimulya Desa Binangun
RT01 RW13 memasak air terlebih dahulu sebelum digunakan sedangkan 2
keluarga (5%) tidak karena bersumber dari gallon isi ulang.
3) Penyimpanan Air Tertutup
Seluruh keluarga (100%) di Dusun Girimulya Desa Binangun
RT01 RW13 memiliki tempat penampungan air bersih yang tertutup dan
selalu dibersihkan minimal 2 hari sekali.
4) Jamban Saptitank
Sejumlah 39 keluarga (97.5%) di Dusun Girimulya Desa Binangun
RT01 RW13 memiliki jamban dengan saptitank sedangkan 1 keluarga
(2.5%) tidak karena ikut di rumah mertuanya.
5) Cuci Tangan
Seluruh keluarga (100%) di Dusun Girimulya Desa Binangun RT
01 RW13 melakukan cuci tangan dengan sabun setiap hari.

5.6 Keterbatasan Penelitian

Ada beberapa hal yang menjadi keterbatasan dari penelitian yang telah
peneliti lakukan. Diantaranya, waktu penelitian yang sempit, warga yang
bekerja diluar rumah sehingga sulit dilakukan wawancara, tidak dilakukannya
pemeriksaan kimia air dikarenakan tidak tersedianya bahan dan alat
pemeriksaan yang memadai.

53
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 40 keluarga di RT1
RW 13 Dusun Girimulya Desa Binangun Kota Banjar dapat disimpulkan
bahwa Analisis kualitas air bersih di daerah tersebut adalah sebagai berikut :
6.1.1 Kesehatan Lingkungan
1. Secara kualitas, air responden tidak memenuhi syarat, yaitu berasa
(65%), berwarna (42%), keruh (25%), dan berbau (20%).
2. Kualitas sumur responden sudah memenuhi syarat pembuatan, yaitu
10 meter dari jauh dari ternak (98%, jauh dari sampah (98%), dan
10 meter dari jamban (77%).
3. Kebutuhan air non domestic sebagian tercukupi (50%) dan sisanya
tidak tercukupi (50%).
6.1.2 Promosi Kesehatan
Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai kualitas air tidak
layak minum sudah cukup baik (77,5%). Namun pengetahuan akan
dampak konsumsi dan cara mengatasi air tidak layak minum masih
rendah, yaitu dibawah 50%.
6.1.3 PHBS
1. Terdapat beberapa indikator PHBS rumah tangga di RT 01/ RW 13
Dusun Girimulya Desa Binangun yang telah mencapai target PHBS
Dinas Kesehatan Jawa Barat tahun 2015 – 2019 sebesar 80%, yaitu
: Persalinan oleh tenaga kesehatan (87,50%), ASI Eksklusif
(87,50%) , Timbang balita (95%), Jamban (97,50%), Cuci tangan
(92,50%) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (87,50%)
2. Terdapat beberapa indikator PHBS rumah tangga di RT 01/ RW 13
Dusun Girimulya Desa Binangun yang belum mencapai target
PHBS Dinas Kesehatan Jawa Barat tahun 2015 – 2019 sebesar
80%, yaitu : Gizi (70%), Air bersih (100%), Aktifitas fisik (75%)
dan Tidak Merokok didalam rumah (22,50%)

54
6.1.4 Penyakit Kulit
1. Kejadian penyakit kulit di daerah tersebut sebesar 7 orang (17%)
dengan keluhan gatal dan terdapat bintik-bintik.
2. 40 orang responden (100%) mandi ≥2 kali dan menggunakan
sabun. Jumlah mandi yakni ≥2 kali dalam sehari serta mandi
menggunakan sabun merupakan cara perawatan kulit yang benar
agar terhidar dari berbagai penyakit kulit.
3. Aspek perilaku kepedulian masyarakat terhadap kesehatan sudah
tergolong baik. Hal ini dibuktikan dengan dari 7 responden yang
terkena penyakit kulit, 7 responden tersebut (100%) melakukan
pemeriksaan ke puskesmas dan telah mendapatkan pengobatan
6.1.5 Penyakit Diare
Angka kejadian penyakit menular melalui air yaitu diare di daerah
tersebut sebesar 3 keluarga (7.5%) dengan factor risiko yang minimal
dan tidak adanya pengaruh dari kualitas air bersih.

6.2. Saran
1. Perlu adanya pembahasan pada forum dalam rangka peningkatan
pengetahuan masyarakat mengenai Air Bersih.
2. Perlu dilakukan pencerdasan kepada masyarakat tentang bagaimana
mengelola air bersih berupa promosi kesehatan.
3. Perlu adanya pencerdasan mengenai factor-faktor yang mendukung
terbentuknya lingkungan yang sehat seperti sosialisasi PHBS rumah
tangga, penyuluhan penyakit menular dan tidak menular dengan media
air
4. Melakukan pemeriksaan rutin terhadap sumber air bersih di RT1 RW13
Dusun Girimulya Desa Binangun Kota Banjar
5. Mengadakan pertemuan rutin dengan pihak terkait membahas kesehatan
lingkungan di RT1 RW13 Dusun Girimulya Desa Binangun Kota
Banjar melalui pembinaan dan pemberdayaan masyarakat.

55
6. Pemberian penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat mengenai
dampak mengonsumsi air yang tidak sesuai kriteria kesehatan.
7. Pemberian penyuluhan kepada masyarakat mengenai cara pengolahan
air tidak layak minum.
8. Melakukan koordinasi dengan pihak terkait akan permasalahan air
minum di lingkungan RT 1/RW 13 Ds Binangun.
9. Melakukan penelitian lanjutan mengenai kualitas sumber air dan
kualitas tanah.

56