Anda di halaman 1dari 70

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demam berdarah atau biasa dikenal dengan DHF ( Dengue haemorragic


Fever ) merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes
Aegypti betina, Nyamuk ini merupakan spesies nyamuk tropis dan subtropis, dan
bisa hidup pada daerah yang ketinggiannya mencapai 2200 m diatas permukaan
laut (Price & Wilson. 2007). Nyamuk ini merupakan vektor bagi virus demam
berdarah, karena nyamuk Aedes ini sangat antropolitik dan hidup dekat manusia
dan sering hidup didalam rumah. (Soedarmo, 2006) Indonesia merupakan salah satu
negara yang ditetapkan sebagai negara endemik demam berdarah. Karena indonesia
merupakan negara tropis yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi. (Depkes
RI, 2008)
Menurut Soedarto,(2005) DHF di sebabkan oleh virus dengue yang ditularkan
melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan dapat menimbulakan masalah kesehatan
seperti demam, resiko terjadi perdarahan, nyeri persendian, gangguan nutrisi dan
sebagainya. Menurut Sumarno, (2005) upaya yang paling efektif untuk
pemberantasan DHF dapat tercapai dengan baik apabila masyarakat ikut berperan
aktif dalam melakukan langkah 3 M yakni Menguras,Menutup, dan Menimbun
selain itu dapat dilakuakan tindakan kuratif berupa pengobatan terhadap pasien
yang terjangkit DHF yang dilaksanakan oleh unit-unit pelayanan kesehatan.
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue dengan gambaran klinis demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang
disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diathesis hemoragik.
Pada DBD, terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi yaitu
peningkatan hematokrit atau penumpukan cairan di rongga tubuh (Sudoyo dkk,
2009).
Manifestasi klinis DBD ditandai dengan demam akut antara 2-7 hari dengan
tipe demam menyerupai pelana kuda yang bersifat bifasik (terus-menerus),
manifestasi perdarahan seperti uji tourniquet positif, terdapat ptekie, ekimosis, atau

1
2

purpura, perdarahan mukosa (epistaksis (mimisan) dan perdarahan gusi), saluran


cerna, adanya tempat bekas suntikan, hematemesis atau melena, trombositopenia
<100.00/ul, kebocoran plasma ditandai peningkatan nilai hematocrit ≥20% dari
sesuai umur dan jenis kelamin, penurunan nilai hematocrit ≥20% setelah pemberian
cairan yang adekuat, selain itu juga ada tanda kebocoran plasma lainnya
diantaranya hipoproteinemia, asites, efusi pleura. Pemeriksaan serologi (IgG dan
IgM positif)(Nurarif dan Kusuma, 2013). Infeksi virus dengue pada pasien DBD
biasanya pada saat demam akut ditandai dengan gejala malaise, sakit tenggorokan,
rhinitis dan batuk, nyeri retro orbital, sakit kepala, sakit otot, ruam, perut tidak
nyaman, dan nyeri sendi (Yip, Sanjay, & Koh, 2012). Kasus DBD dengan berbagai
gejala manifestasi klinis hanya terlihat sebagian kecil pasien yang penyakitnya
berkembang menjadi lebih parah, yang memanifestasikan dengan sistemik transien
sindrom kebocoran pembuluh darah (kebocoran plasma) biasanya disertai dengan
trombositopenia. Komplikasi berat lainnya yang bisa terjadi seperti hati yang parah,
jantung atau neurologis tetapi jarang terjadi (Jaenisch, et al., 2016).
Jumlah kasus DBD banyak tidak dilaporkan dan terjadi kesalahan klasifikasi
pada kasus ini. Penelitian terbaru menunjukkan 390 juta infeksi dengue per tahun,
dimana 96 juta bermanifestasi klinis dengan berbagai derajat. Penelitian lain
menyatakan, prevalensi DBD diperkirakan mencapai 3,9 milyar orang di 128
negara berisiko terinfeksi virus dengue (WHO,2016).
Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah penderita DBD di Indonesia pada
bulan Januari-Februari 2016 sebanyak 8.487 orang penderita DBD dengan jumlah
kematian 108 orang. Golongan terbanyak yang mengalami DBD di Indonesia pada
usia 5-14 tahun mencapai 43,44% dan usia 15-44 tahun mencapai
33,25%. Masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap penyakit DBD
mengingat setiap tahun kejadian penyakit demam berdarah dengue di Indonesia
cenderung meningkat pada pertengahan musim penghujan sekitar Januari, dan
cenderung turun pada Februari hingga ke penghujung tahun. (Kemenkes, 2016)
Provinsi Bengkulu termasuk salah satu provinsi dengan angka kejadian DBD
yang cukup tinggi. Menurut data dari Dinkes kota Bengkulu sepanjang 2016
terdapat 840 kasus demam berdarah dengue (DBD) yang diderita warga di 67
3

kelurahan di Kota Bengkulu. Dari angka itu, 11 di antaranya meninggal dunia (


Dinkes Kota Bengkulu, 2017 ). Kasus penyakit DHF di Kota Mukomuko juga terus
meningkat dari tahun ke tahunnya. Pada tahun 2015 ditemukan kasus sebesar 49
kasus dengan dua orang meninggal. Sedangkan dari data medical record ruang
rawat inap anak RSUD Mukomuko pada tahun 2016 ditemukan kasus sebesar 35
kasus, tahun 2017 sebesar 51 kasus. Peningkatan kasus DHF yang terjadi di RSUD
Mukomuko ini perlu mendapatkan perhatian yang serius (Rekam Medik RSUD
Mukomuko 2017).
Penanganan kasus DHF/BDB yang terlambat akan menyebabkan Dengue
Syok Sindrom (DSS) yang menyebabkan kematian. Hal tersebut disebabkan karena
penderita mengalami defisit volume cairan akibat dari meningkatnya permeabilitas
kapiler pembuluh darah sehingga penderita mengalami syok hipovolemik dan
akhirnya meninggal (Ngastiyah, 2010). Dengan tingginya angka kematian
penderita DHF di Indonesia, diharapkan perawat memiliki pengetahuan dan
ketrampilan yang cukup dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien
dengan DHF.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), rawat inap sangat diperlukan
bagi orang yang kena demam berdarah serius. Masalahnya, pasien DBD akan
melewati masa-masa kritis selama 24 hingga 48 jam lamanya. Masa-masa ini yang
akan menentukan peluang pasien untuk bertahan hidup. Bila pada saat ini pasien
tidak ditangani dengan tepat, akibatnya bisa fatal. Sedangkan kalau pasien demam
berdarah serius dirawat di rumah, ia tidak akan mendapatkan bantuan medis yang
memadai. Bantuan yang hanya tersedia di rumah sakit antara lain cairan infus yang
mengandung elektrolit, pemantauan tekanan darah, hingga transfusi darah kalau
pasien mengalami perdarahan. Selain itu, dokter dan perawat juga selalu siap sedia
di rumah sakit untuk memantau serta membantu meningkatkan kondisi pasien
(WHO,2013).
Pada pasien DBD sering terjadi permeabilitas membran meningkat yang
menyebabkan terjadinya penurunan trombosit dan kebocoran plasma. Penurunan
trombosit menyebabkan penurunan faktor-faktor pembekuan darah
(trombositopeni) merupakan salah satu faktor yang sering mengakibatkan
4

terjadinya risiko perdarahan (Nurarif & Kusuma, 2013). Risiko perdarahan jika
tidak segera ditangani bisa menyebabkan perdarahan bahkan kematian akibat syok
karena perdarahan berlebih, yang awalnya disebabkan oleh infeksi virus dengue
membentuk kompleks antigen antibodi yang mengaktivasi sistem komplemen,
menyebabkan terjadinya agregasi trombosit dan mengaktivasi sistem koagulasi.
Lalu terjadi pengeluaran ADP (Adenosin Diphospat) yang disebabkan rangsangan
dari pelekatan antigen-antibodi pada membran trombosit yang menyebabkan sel-
sel trombosit saling melekat. Sel-sel trombosit tersebut dihancurkan oleh sistem
retikuloendotel (Reticuloendotehelial system-RES) sehingga terjadinya
trombositopeni yang menyebabkan risiko perdarahan (Soedarto, 2012).
Masalah keperawatan risiko perdarahan dapat dicegah dengan memberikan
penatalaksanaan perawat dalam pemberian asuhan keperawatan secara menyeluruh
mulai dari pengkajian masalah, menentukan diagnosa keperawatan, intervensi
keperawatan, implementasi keperawatan serta evaluasi keperawatan pada pasien
demam berdarah dengue maka dibutuhkan peran fungsi perawat dalam melakukan
asuhan keperawatan dengan benar dengan menggunakan pendekatan proses
keperawatan dengan memberikan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan status
kesehatan klien seperti pendidikan tentang DBD lalu menganjurkan penderita DBD
untuk banyak minum dan mengonsumsi jus jambu biji merah untuk meningkatkan
jumlah trombosit penderita DBD, melakukan pencegahan terhadap kemungkinan
terjadinya perdarahan dengan memantau kondisi 5 penderita DBD, monitor tanda-
tanda perdarahan, menganjurkan pasien untuk banyak istirahat, kolaborasi dalam
pemberian obat dan manfaatnya, monitor tanda-tanda vital dan memonitor hasil
laboratorium.
Tindakan yang dilakukan perawat pada pasien DHF diantaranya anjurkan
dan pantau pasien dalam mengkonsumsi jus jambu biji merah rasional mencegah
terjadi perdarahan (Prasetio, 2015). Rencana tindakan lain menurut Nurarif &
Kusuma, 2013 adalah monitor tanda-tanda adanya perdarahan rasional membantu
pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin, monitor nilai laboratorium,
pertahankan patensi intravena linerasionalnya untuk mendukung kebutuhan cairan
yang diperlukan tubuh, monitor status cairan (intake dan output), monitor tanda-
5

tanda vital rasionalnya untuk menentukan status kesehatan pasien, kolaborasi dalam
pemberian obat dan manfaatnya, anjurkan pasien banyak istirahat untuk
mengoptimalkan istirahat dan memulihkan energi pasien (Kozier, Karyuni, &
Widiarti, 2010). Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang “Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Dengue Hemorragic
Fever (DHF) di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Mukomuko Tahun
2018”.

B. Batasan masalah
Batasan penulisan pada studi kasus ini adalah pemberian asuhan
keperawatan pada pasien dengan DHF yang meliputi tahap pengkajian, penegakan
diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

C. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum yang ingin dicapai adalah mengetahui secara umum tentang
DHF dan mampu menerapkan asuhan keperawatan yang komprehensif
kepada pasien dengan DHF.
2. Tujuan khusus
Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah:
a. Mengetahui pengkajian Asuhan Keperawatan secara komprehensif pada
klien dengan DHF.
b. Mengetahui gambaran diagnosa keperawatan pada klien dengan DHF.
c. Mengetahui gambaran perencanaan Asuhan Keperawatan sesuai dengan
masalah yang dibutuhkan pada klien dengan DHF.
d. Mengetahui gambaran pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada klien
dengan DHF.
e. Mengetahui gambaran melakukan Evaluasi Asuhan Keperawatan pada
klien dengan DHF.
f. Mengetahui gambaran pendokumentasian Asuhan Keperawatan pada
klien dengan DHF.
6

D. Manfaat
1. Bagi Peneliti
Manfaat bagi peneliti adalah untuk memberikan tambahan pengetahuan atau
informasi tentang DHF dan memberikan masukan yang bermanfaat kepada
mahasiswa dalam pembuatan asuhan keperawatan pada pasien dengan DHF.
2. Bagi Pasien
Manfaat bagi pasien adalah untuk memberikan tambahan pengetahuan dan
informasi tentang DHF serta menjadi acuan dalam memberikan perawatan pada
pasien dengan DHF.
3. Bagi Instansi
a. Instansi Poltekkes Kemenkes
Manfaat bagi akademik adalah bentuk sumbangsi kepada mahasiswa
keperawatan sebagai referensi untuk menambah wawasan dan bahan
masukan dalam kegiatan belajar mengajar yang berkaitan dengan asuhan
keperawatan pada pasien dengan DHF
b. Instansi RSUD Mukomuko
Manfaat bagi pelayanan kesehatan adalah memberikan tambahan
pengetahuan tentang DHF kepada pelayan kesehatan, untuk meningkatkan
kewaspadaan masyarakat terhadap DHF, serta dapat memberikan masukan
yang bermanfaat kepada layanan kesehatan dalam mengembangkan asuhan
keperawatan pada pasien dengan DHF.
.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Teoritis DHF


1. Pengertian DHF
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit demam
akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang
bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian
(Mansjoer, 2000). Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (Suriadi & Yuliani, 2007).
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DHF) {bahasa medisnya
disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)} adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan
gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan
darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan (Soemarno,
2007).

2. Etiologi
1) Virus Dengue
Yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk kedalam
arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe
yaitu virus dngue tipe 1, 2, 3, dan 4. Keempat virus dengue tersebut
terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya
secara serolis virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini
berdiameter 40 nanometer, dapat berkembang biak dengan baik
pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel-sel
mamalia misalnya sel BHK (Babby homster kidney) maupun sel-sel
artrophoda misalnya sel Aedes Arbovirus. (Soedarto, 2005 dalam
Susilawati, 2008).

7
8

2) Vektor
Nyamuk aedes aegepti maupun aedes albopictus merupakan
vector penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya
melalui gigitannya, nyamuk aedes aegepti merupakan vector penting
di daerah perkotaan, sedangkan di daerah pedesaan kedua nyamuk
tersebut perperan dalam penularan (Soedarto, 2005). Nyamuk aedes
aegepti berkembang biak pada genangan air bersih yang terdapar
bejana-bejana yang terdapat di dalam rumah (aedes aegepti) maupun
yang terdapat di luar rumah dilubang-lubang pohon, di dalam
potongan bambu, dilipatan daun dan genangan air bersih lainnya,
selain itu nyamuk betina lebih menyukai menghisap darah
korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi dan senja hari
(Junaidi, 2007).
Ciri-ciri nyamuk aedes aegypti menurut Soedarto, (2005)
antara lain:
a. Badannya kecil
b. Warnanya hitam dan berbelang - belang
c. Mengigit pada siang hari
d. Badannya mendatar saat hinggap
e. Gemar hidup ditempat - tempat yang gelap

3. Patofisiologi
Virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk
aedes aegypti dan kemudian bereaksi dengan antibodi dan
terbentuklah kompleks virus-antibody, dalam sirkulasi akan
mengaktivasi sistem komplemen. Virus dengue masuk kedalam
tubuh melalui gigitan nyamuk dan infeksi pertama kali
menyebabkan demam dengue. Reaksi tubuh merupakan reaksi yang
biasa terlihat pada infeksi oleh virus. Reaksi yang amat berbeda akan
tampak, bila seseorang mendapat infeksi berulang dengan tipe virus
dengue yang berlainan. Dan DHF dapat terjadi bila seseorang
9

setelah terinfeksi pertama kali, mendapat infeksi berulang virus


dengue lainnya. Re-infeksi ini akan menyebabkan suatu reaksi
anamnestik antibodi, sehingga menimbulkan konsentrasi kompleks
antigen-antibodi (kompleks virus-antibodi) yang tinggi (Price,
2006).
4. WOC (Web Of Causation) DHF
Virus Dengue

Viremia

MK:
Hepatomegali Depresi Permebilitas
Hipertermia
Sumsum tulang kapiler me↑
-Anoreksia
-muntah Manifestasi perdarahan

MK: Devisit Kehilangan - Efusi


nutrisi MK: Resiko pleura
tinggi -Ascites
Hipovolemia perdarahan -Hemo-
konsentrasi

Syok
MK: Devisit
volume cairan MK: Intoleransi
Kematian
aktifitas

Bagan 2.1 WOC DHF


Sumber: Suhendro, 2006
10

5. Manifestasi Klinis
1. Demam
Demam tinggi mendadak selama 2 sampai 7 hari kemudian
menuju suhu normal atau lebih rendah disertai nyeri kepala, nyeri
punggung, nyeri tulang dan persendian, rasa lemah serta nyeri perut.
(Soedarto, 2005)
2. Perdarahan
Perdarahan biasanya tejadi pada hari ke-2 dan ke-3 dari
demam dan umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji
tourniquet positif, ruang kulit (petekiae, ekimosis dan purpura),
perdarahan mukosa/saluran cerna/ salur kemih, perdarahan gusi
serta hematuri.
3. Hepatomegali
Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba,
meskipun pada anak yang kurang gizi hati juga sudah teraba. Bila
terjadi peningkatan dari hepatomigali dan hati teraba kenyal harus
diperhatikan kemungkinan akan terjadi renjatan pada penderita.
(Soederita, 2006)
4. Renjatan
Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke-3 sejak
sakitnya penderita, dimulai dengan tanda-tanda kegagalan sirkulasi
yaitu kulit lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki
serta sianosis disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam
maka biasanya menunjukkan prognosis yang buruk. (Soedarto,
2004).

6. Klasifikasi DHF
WHO, (2006) mengklasifikasikan DHF menurut derajat
penyakitnya menjadi 4 golongan, yaitu :
11

a. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan


spontan. Panas 2-7 hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia,
dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II : Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-
gejala perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis,
hematemesis, melena, perdarahan gusi.
c. Derajat III : Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah
seperti nadi lemah dan cepat (>120x/mnt ) tekanan nadi sempit
(120 mmHg), tekanan darah menurun, (120/80 , 120/100 ,
120/110, 90/70, 80/70, 80/0, 0/0)
d. Derajat IV : Terjadi syok berat dimana nadi tidak teaba/ sangat
lemah, tekanan darah tidak teatur (denyut jantung 140x/mnt)
anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

7. Cara Penularan
Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan
infeksi virus dengue, yaitu manusia, virus dan vektor perantara. Virus
dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti. Nyamuk Aedes aegypti albopictus, Aedes polynesiensis dan
beberapa spesies yang lain dapat juga menularkan virus ini, namun
merupakan vektor yang kurang berperan. Nyamuk Aedes tersebut
mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang
mengalami viremia. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur
berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period)
sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan
berikutnya. Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan kepada
telurnya (transsovarian transmission), namun perannya dalam penularan
virus tidak penting. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak di
dalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut akan menularkan virus selama
hidupnya (infektif). Di tubuh manusia, virus memerlukan masa tunas 4-
6 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit.
12

Penularan dari manusia kepada nyamuk hanya dapat terjadi bila nyamuk
menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari
sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul. (Depkes RI, 2004).

8. Pemeriksaan Diagnostik
Untuk mendiagnosis Dengue Hemoragik Fever (DHF) dapat
dilakukan pemeriksaan dan didapatkan gejala seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya juga dapat ditegakkan dengan melakuakan
beberapa pemeriksaan menurut WHO (2007) sebagai berikut:
a. Permeriksaan Laboratorium :
Darah Lengkap = Hemokonsentrasi ( Hematokrit meningkat 20 %
atau lebih ) Thrombocitopeni ( 100. 000/ mm3 atau kurang )
b. Uji Serologi : Uji HI ( hemaaglutinaion Inhibition Test)
c. Rontgen Thorac = Effusi Pleura, Pemeriksaan radiologis (foto toraks
PA tegak dan lateral dekubitus kanan) dapat dilakukan untuk
melihat ada tidaknya efusi pleura, terutama pada hemitoraks kanan
dan pada keadaan perembesan plasma hebat, efusi dapat ditemukan
pada kedua hemitoraks. Asites dan efusi pleura dapat pula dideteksi
dengan USG.

9. Penatalaksanaan
Menurut Mubarak, (2009) Penatalaksanaan penderita dengan
DHF adalah sebagai berikut :
a. Tirah baring atau istirahat baring.
b. Diet makan lunak.
c. Minum banyak (2 – 2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis,
sirup dan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan
hal yang paling penting bagi penderita DHF.
d. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali)
merupakan cairan yang paling sering digunakan.
13

e. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan)


jika kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.
f. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.
g. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen.
h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
i. Pemberian antibiotik bila terdapat kehawatiran infeksi sekunder.
j. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum,
perubahan tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang
memburuk.
k. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam.
Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan
segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila
tidak tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander
atau dekstran sebanyak 20 – 30 ml/kg BB.
l. Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit
dipertahankan 12 – 48 jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan
telah teratasi nadi sudah teraba jelas, amplitudo nadi cukup besar,
tekanan sistolik 20 mmHg, kecepatan plasma biasanya dikurangi
menjadi 10 ml/kg BB/jam.
m. Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan
gastrointestinal yang hebat. Indikasi pemberian transfusi pada
penderita DHF yaitu jika ada perdarahan yang jelas secara klinis dan
abdomen yang makin tegang dengan penurunan Hb yang mencolok.
n. Pada DHF tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1½-2
liter dalam 24 jam. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan
melibatkan orang tua. Infus diberikan pada pasien DHF tanpa
renjatan apabila : Pasien terus menerus muntah, tidak dapat
diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi.
14

10. Indikasi Rawat Inap Pasien DHF


Indikasi rawat inap pada pasien DHF adalah:

a. DHF dengan syok dengan atau tanpa perdarahan.


b. DHF dengan perdarahan masif dengan atau tanpa syok
c. DHF tanpa perdarahan masif dengan:
1) Hb, Ht, normal dengan trombosit < 100.000/pl
2) Hb, HT yang meningkat dengan trombositpenia < 150.000/pl

11. Kriteria Pemulangan Pasien


Pasien dapat pulang jika syarat-syarat sebagai berikut terpenuhi:
a. Tidak demam selama 24 jam tanpa pemberian antipiretik.
b. Nafsu makan membaik.
c. Tampak perbaikan secara klinis.
d. Hematokrit stabil.
e. Tiga hari setelah syok teratasi.
f. Jumlah trombosit >50.000/ml. Perlu diperhatikan, kriteria ini
berlaku bila pada sebelumnya pasien memiliki trombosit yang
sangat rendah, misalnya 12.000/ml.
g. Tidak dijumpai distres pernapasan (Mansjoer, 2001).

12. Pencegahan Penyakit DHF


Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk
diwaktu pagi sampai sore, karena nyamuk aedes aktif di siang hari
(bukan malam hari). Misalnya hindarkan berada di lokasi yang
banyak nyamuknya di siang hari, terutama di daerah yang ada
penderita DHF nya (Hidayat, 2007). Menurut Chritianti
Efendi,(2007) ada beberapa cara yang paling efektif dalam
mencegah penyakit DHF melalui metode pengontrolan atau
pengendalian faktornya antara lain:
15

a. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah


padat, modifikasi tempat. Perkembangbiakan nyamuk hasil
samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah.
b. Pemeliharaan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang) pada
tempat air kolam, dan bakteri (Bt.H-14).
c. Pengasapan atau melakukan fogging (dengan menggunakan
malathion dan fenthion ).
d. Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat
penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan
lain-lain.

11. Pengobatan
Pada dasarnya pengobatan pasien DHF bersifat simtomatis dan
suportif (Junaidi, 2007). Fokus pengobatan Penyakit Demam
Berdarah adalah pada pengobatan penderita penyakit DHF adalah
mengatasi perdarahan, mencegah atau mengatasi keadaan syok/presyok,
yaitu dengan mengusahakan agar penderita banyak minum sekitar 1,5
sampai 2 liter air dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu)
(Soemarno, 2005).
Penambahan cairan tubuh melalui infus intravena mungkin
diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang
berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika jumlah platelet menurun
drastis (Soemarno, 2005). Selanjutnya adalah pemberian obat-obatan
menurut Soemarno, (2005) terhadap keluhan yang timbul, misalnya :
a. Paracetamol membantu menurunkan demam
b. Garam elektrolit (oralit) jika disertai diare
c. Antibiotik berguna untuk mencegah infeksi sekunder

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan DHF


Asuhan keperawatan adalah suatu rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang langsung diberikan pada pasien dengan berbagai tatanan
16

pelayanan kesehatan pada standar keperawatan dalam lingkup/wewenang serta


tanggung jawab keperawatan (Nursalam, 2006).
Asuhan Keperawatan pada kasus DHF diberikan sesuai tahap-tahap
dalam proses keperawatan sebagai berikut :
1. Pengkajian

Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan


secara keseluruhan, pada tahap ini data/informasi pasien yang dibutuhkan,
dikumpulkan untuk menentukan masalah kesehatan/keperawatan. Tahap
pengkajian terdiri dari pengumpulan data, validasi data dan pengelompokan
data (Hidayat, 2008).
a. Data Biografi
1) Biodata pasien dan Penanggung jawab
Identitas pasien, meliputi nama, umur, jenis kelamin , pendidikan,
pekerjaan, tanggal atau jam masuk rumah sakit, nomor register,
diagnose, dan identitas penanggungjawab meliputi nama, alamat, umur,
pendidikan, pekerjaan, agama dan suku bangsa.
2) Keluhan Utama
Biasanya pasien dengan penderita DHF mengeluh Sakit kepala, badan
panas dan tidak ada nafsu makan dan timbul bintik-bintik merah di
seluruh tubuh.
3) Riwayat penyakit sekarang
Kapan mulai ada keluhan, sudah berapa lama, bagaimana kejadiannya
dan apa saja upaya untuk mengatasi penyakitnya.
4) Riwayat penyakit dahulu
Bagaimana kesehatan pasien sebelumnya, pasien apakah pernah
mengalami penyakit atau ada riwayat penyakit yang lain dan jika ada,
biasanya pergi berobat kemana.
5) Riwayat penyakit keluarga
Bagaimana kesehatan keluarganya, apakah ada diantara anggota
keluarganya ada yang mengalami penyakit yang sama
17

6) Riwayat bio-psiko-sosial-spiritual
Dalam pengkajian kebiasaan sehari –hari atau kebutuhan dasar, penulis
menggunakan konsep dasar menurut Virginia Handersoon yaitu:
a) Kebutuhan respirasi
Pengumpulan data tentang pernapasan klien, apakah mengalami
gangguan pernapasan atau tidak
b) Kebutuhan nutrisi
Pada pola nutrisi yang akan ditanyakan adalah bagaiaman nafsu
makan klien, jumlah makan atau minum serta cairan yang masuk,
ada tidaknya mual dan muntah dan kerusakan pada saat menelan.
c) Kebutuhan eliminasi
Pada pola eliminasi yang perlu ditanykan adalah jumlah kebiasaan
defekasi perhari, ada atau tidaknya konstipasi, diare, kebiasaan
berkemih, ada tidaknya disuria, hematuri, retensi dan inkontenensia.
d) Kebutuhan istirahat tidur
Pada pola ini yang perlu ditanyakan adalah jumlah jam tidur pada
malam hari, pagi, dan siang hari. Apakah klien merasa tenang
sebelum tidur, masalah selama tidur, adanya insomnia.
e) Kebutuhan aktifitas
Pada pengumpulan data ini yang peerlu ditanyakan adalah
kemampuan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, apakah klien
mampu melakukannya sendiri secra mandiri atau di bantu oleh
keluarga maupun perawat.
f) Kebutuhan rasa aman dan nyaman
Biasanya ditanyakan bagaiman kenyamanan klien, pengkajian nyeri
dengan menggunakan PQRST. Dimana , P (provokatif) yaitu
penyebab nyeri yang biasanya disebabkan oleh meningkatnya
tekanan intra luminal sehingga suplai darah terganggu dan
mengakibatkan terjadinya hipoksia jaringan.Q (kualitas) yaitu
apakah kualitas nyeri ringan, sedang, berat, apakah rasa nyeri seperti
ditusuk-tusuk benda tajam atau trauma tumpul. R (region) yaitu
18

daerah terjadinya/ perjalanan nyeri (0-10) atau (0-5). T (time) waktu


klien merasakan nyari, apakah terus menerus atau klien merasakn
nyari pada waktu pagi hari, siang, sore, atau malam.
g) Pengaturan Suhu Tubuh
Harus mengetahui fisiologis panas dan bisa mendorong kearah
tercapainya keadaan panas maupun dingin dengan mengubah
temperatur, kelembapan atau pergerakan udara atau dengan
memotivasi klien untuk meningkatkan atau mengurangi
aktivitasnya.
h) Kebutuhan bekerja
Dalam perawatan maka dalam penilaian terhadap interprestasi
terhadap kebutuhan klien sangat penting, dimana sakit bisa lebih
ringan apabila seseorang dapat terrus bekerja.
i) Kebutuhan berpakaian
Bagaimna kebiasaan klien dalam dalam berpakaian dan beberapa
kali klien mengganti baju dalam sehari.
j) Kebutuhan personal hygiene
Pada pemgumpulan data ini yang perlu ditanyakan adalah berapa
kali klien mandi, menyikat gigi, keramas dan memotong kuku, perlu
juga ditanyakan penggunaan sabun mandi, pasta gigi, dan sampo.
Namun hal tersebut tergantung keadaan klien dan gaya hidup klien,
tetapi pada umumnya kebutuhan personal hygiene dapat
terpengaruhi miskipun hanya bantuan keluarga.
k) Kebutuhan berkomunikasi dengan orang lain
Pada data ini yang perlu ditanyakan adalah bagaimna hubungan
klien dengan keluarga dan orang lain dan bagaimana cara klien
berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain.
l) Kebutuhan bermain dan rekreasi
Pada pengumpulan data ini biasanya klien ditanya mengenai
kebiasaan klien dalam menggunakan waktu senjang, kebiasaan
bermain atau berekreasi dan tempat yang dikunjungi. Umumnya
19

kebutuhan bermain dan berekreasi tidak bisa dilaksanakan


sebagaimana halnya orang sakit, bagi orang sakit biasanya bermain/
berekreasi dengan membaca, berbincang-bincang tetapi tergantung
individu.
m) Kebutuhan spiritual
Bagaimana keyakinan klien pada agamanya, bagaimana cara klien
mendekatkan diri kepada tuhan dan pantangan dalam agama selama
klien sakit.
n) Kebutuhan belajar
Bagaimana persepsi klien terhadap dirinya mengenai masalah-
masalah yang ada. Kebutuhan belajar ini biasanya tergantung dari
individu itu sendiri dan tergantung dari tingkat pendidikan klien.
b. Pemeriksaan Fisik secara Persistem menurut Soemarno, (2007)
1) Sistem Pernapasan / Respirasi
Sesak, perdarahan melalui hidung (epistaksis), pernapasan dangkal,
tachypnea, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi
terdengar ronchi, effusi pleura (crackless).
2) Sistem Cardiovaskuler
Pada grade I : uji tourniquet positif, trombositipenia, perdarahan
spontan dan hemokonsentrasi.Pada grade II disertai perdarahan
spontan di kulit atau perdarahan lain. Pada grade III dapat terjadi
kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah (tachycardia),tekanan
nadi sempit, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari,
kulit dingin dan lembab.Pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan
darah tak dapat diukur.
3) Sistem Persyarafan / neurologi
Pada grade I dan II kesadaran compos mentis. Pada grade III dan IV
gelisah, rewel, cengeng → apatis → sopor → coma. Grade 1 sampai
dengan IV dapat terjadi kejang, nyeri kepala dan nyeri di berbagai
bagian tubuh, penglihatan fotopobia dan nyeri di belakang bola mata.
20

4) Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam terutama pada
grade III, akan mengungkapkan nyeri saat kencing, kencing berwarna
merah.
5) Sistem Pencernaan / Gastrointestinal
Perdarahan pada gusi, Selaput mukosa kering, kesulitan menelan,
nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran pada hati
(hepatomegali) disertai dengan nyeri tekan tanpa disertai dengan
ikterus, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah,
nyeri saat menelan, dapat muntah darah (hematemesis), berak darah
(melena).
6) Sistem integumen
Terjadi peningkatan suhu tubuh (Demam), kulit kering dan ruam
makulopapular.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan respon
aktual atau potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawat
mempunyai izin dan berkompeten untuk mengatasinya (Potter & Perry,
2010). Diagnosa keperawatan yang dapat ditemukan berdasarkan respon
pasien yang disesuaikan menurut ( SDKI, 2016):
1. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
a. Data mayor:
1) Data Subjektif:-
2) Data Objektif: suhu tubuh lebih dari 37,8˚C oral atau 38,8˚C
rektal
b. Data minor
1) Data Subjektif:-
2) Data Objektif:
a) Kulit merah
b) Kejang
c) Takikardi
21

d) Takipnea
e) Kulit terasa hangat
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
b. Faktor resiko
1) Prosedur bedah mayor
2) Trauma/perdarahan
3) Luka bakar
4) Obstruksi intestinal
5) Peradangan penkreas
6) Disfungsi intestinal
c. Kondisi terkait
1) Prosedur bedah mayor
2) Penyakit ginjal dan gland
3) Perdarahan
4) Luka bakar
3. Risiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.
a. Faktor resiko
1) Aneurisma
2) Gangguan gastrointestinal (ulkus lambung, polip, varises)
3) Komplikasi kehamilan (KPD, plasenta previa,/abrupsio,
gamely)
4) Komplikasi pasca partum ( atoni uterus, retensi plasenta)
5) Efek agen farmakologis (trombositopenia)
6) Tindakan pembedahan
7) Trauma
8) Kurang terpapar informasi tentang pencegahan perdarahan
9) Proses keganasan
b. Kondisi klinis terkait
1) Aneurisma
2) Koagulopati intravaskuler diseminata
3) Siresis hepatis
22

4) Penyakit ulkus lambung


5) Varises
6) Trombositopenia
7) Ketuban pecah dini
8) Atonia uterus
9) Retensi plasenta
10) Tindakan pembedahan
11) kanker

4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan.


a) Data mayor

Data Subjektif: Mengeluh lelah

Data Objektif: frekuensi jantung meningkat >20% dari kondisi

istirahat

b) Data minor

Data Subjektif:

1. Dyspnea setelah aktivitas

2. Merasa tidak nyaman setelah beraktifitas

3. Merasa lelah

Data Objektif:

1. Tekanan darah berubah >20% dari kondisi istirahat

2. Gambarat EKG menunjukkan aritmia

3. Sianosis
23

5. Defisit nutrisi berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.


a) Data mayor

Data Subjektif: -

Data Objektif: berat badan menurun minimal 10% dibawah

rentang ideal

b) Data minor

Data Subjektif:

1. Cepat kenyang setalah makan

2. Kram/nyeri abdomen

3. Nafsu makan menurun

Data Objektif:

1. Bising usus hiperaktif

2. Otot mengunyah lemah

3. Otot menelan lemah

4. Membran mukosa pucat

5. Sariawan

6. Serum albumin menurun

7. Rambut rontok berlebihan

8. Diare

3. Intervensi Keperawatan

Perencanaan keperawatan adalah rencana keperawatan yang akan


penulis rencanakan kepada klien sesuai dengan diagnosa yang ditegakkan
sehingga kebutuhan klien dapat terpenuh. Dalam teori perencanaan
24

keperawatan dituliskan sesuai dengan rencana dan kriteria hasil berdasarkan


Nursing Intervension Clasification (NIC) dan Nursing Outcome
Clasification (NOC)(Judith et al, 2012).
Perencanaan keperawatan disesuaikan dengan kondisi klien dan
fasilitas yang ada dengan Spesifik, Mearsure, Archievable, Rasional, Time
(SMART) selanjutnya akan diuraikan rencana keperawatan dari diagnosa
yang ditegakkan (Judith et al, 2012).
25

Table 2.1 Rencana Asuhan Keperawatan


(Bulechek, 2013), (Moorhead, 2013)

No. Diagnosa Tujuan & Intervensi Rasional


Keperawatan Kriteria Hasil
1. Hipertermia berhubungan NOC: NIC:
dengan proses infeksi virus
Termoregulasi: Regulasi Suhu 1. Mengetahui perubahan kesehatan
2. Mengganti cairan yang hilang berlebih
Dengan Kriteria : 1. Monitor warna kulit dan suhu tubuh 3. Mengetahui adanya perubahan kesehatan psien
2. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi 4. Mengetahui adanya peningkatan tekanan darah
1. Peningkatan Suhu Kulit 3. Pemantauan Tanda Vital
2. Hipertermia 5. Turgor kulit yang buruk, terjadinya dehidrasi
4. Monitor TD, nadi, suhu, RR pada pasien
3. Dehidrasi 5. Catat adanya fluktuasi tekanan 6. Mengetahui peningkatan suhu pasien
4. Mengantuk darah
5. Berkeringat Saat Panas 6. Monitor suhu, kelembapan, dan
6. Denyut Nadi Radialis warna kulit
7. Frekuensi pernapasan 7. Untuk mengetahui keadaan umum pasien
Terapi Demam 8. Mengetahui adanya penurunan kesdaran
Dengan l;evel: 9. Mengetahui adanya perubahan status kesehatan
7. Monitor suhu sesering mungkin 10. Mempertahankan nutrisi adekuat
1: Gangguan Eksterm 8. Monitor tekanan darah, nadi dan 11. Menurunkan suhu tubuh
2: Berat pernapasan 12. Mempertahankan suhu tubuh pasien
9. Monitor penurunan tingkat 13. Mencegah kehilangan panas tubuh yang
3: Sedang kesadaran berlebihan
10. Monitor WBC, Hb, dan Hct 14. Menganti cairan yang hilang dan menurnkan
4: Ringan
11. Monitor intake dan output suhu tubuh klien
5: Tidak Ada Gangguan 12. Berikan pengobatan untuk 15. Mempertahankan pertukaran gas
mengatasi penyebab demam 16. Melancarkan sirkulasi udara
13. Selimuti pasien
26

Nilai yang diharapkan 4 sampai 5 14. Kolaborasi pemberian cairan intra


vena dan berikan antipiretik
(parasetamol
15. kompres pasien pada lipatan paha
dan axila
16. Tingkatkan sirkulasi udara

2. Defisit volume cairan NOC: NIC:


berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat Keseimbangan cairan: Manajemen cairan:
1. Berat 1. Monitor status hidrasi ( missal, 1. Agar dapat segera dilakukan tindakan jika
2. Cukup membrane mukosa lembab, terjadi syok
3. Sedang denyut nadi adekuat, dan 2. Untuk mengetahui balance cairan dalam
4. Ringan tekanan darah osmotic ) tubuh/ homeostatis
5. Tidak ada 2. Jaga intake / asupan yang 3. Mengetahui dengan cepet penyimpangan
Hasil yang diharapkan adalah akurat dan catat output (pasien) dari keadaan normalnya.
indikator 4-5 dibuktikan dengan 3. Monitor tanda-tanda vital 4. Asupan cairan sangat diperlukan untuk
kriteri: 4. Tingkatkan asupan oral ( misal, menambah volume cairan tubuh.
memberikan sedotan, 5. Memenuhi kebutuhan dengan mendukung
1. Kelopak mata tidak cekung menawarkan cairan diantara partisipasi dan kemandirian pasien
2. Turgor kulit baik waktu makan ) yang sesuai. 6. mengetahui hasil laboratorium yang
3. Membrane mukosa tetap 5. Dukung pasien dan keluarga abnormal
lembab untuk membatu dalam 7. Pemberian cairan IV sangant penting bagi
4. Pengisian kapiler merah pemberian makan dengan baik. klien yang mengalami defisite volume
muda cairan untuk memenuhi kebutuhan cairan
5. Tanda-tanda vital dalam Kolaborasi 8. Untuk menghindari terjadinya hipertermi
batas normal apabila terjadi dehidrasi.
6. Monitor hasil laboratorium
yang relevan dengan retensi 9. Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
cairan ( misal, peningkatan 10. Mengetahui perubahan status kesehatan
berat jenis, peningkatan BUN, setelah pemberian obat
penurunan hematocrit,
27

peningkatan kadar osmolitas 11. Memastikan tidak terjadi kesalahan dalam


urin ) pemberian obat
7. Berikan terapi IV, seperti yang
ditentukan
8. Berikan cairan IV sesuai suhu
kamar
9. Berikan cairan dengan tepat
10. Monitor reaksi pasien terhadap
terapi elektrolit yang
diresepkan
11. Konsultasi dengan dokter jika
tanda-tanda dan gejala
kelebihan volume cairan
menetap atau memburuk

3. Resiko perdarahan NOC: NIC :


berhubungan dengan
trombositopenia Status sirkulasi: Pengurangan perdarahan: 1. Untuk meminimalisir terjadinya perdarahan
1. Berat 1. monitor pasien akan 2. Kehilangan darah dalam jumlah banyak
2. Cukup berat perdarahan secara ketat dapat menyebabkan syok.
3. Sedang 2. monitor jumlah dan sifat 3. Dapat menentukan intervensi selanjutnya.
4. Ringan kehilangan darah 4. Untuk memantau jumlah dan kadar
5. Tidak ada 3. monitor tanda-tanda vital kehilangan darah
Hasil yang diharapkan adalah 4. Perhatikan kadar trombosit dan 5. Cairan yang adekuat dapat
indicator 4-5 dibuktikan dengan hemoglobin/hematokrit mempertahankan keseimbangan cairan
kriteria: 5. Monitor status cairan, termasuk 6. Mengurangi aktifitas fisik dapat
1. Tidak menunjukkan tanda- asupan (intake) dan haluaran meminimalisir perdarahan dan kelelahan
tanda perdarahn ( mimisan, (output) 7. Pemberian tindakan yang cepat dan tepat
gusi berdarah, BAB 6. Instruksikan pasien akan dapat meminimalisir kehilangan darah
berdarah ) pembatasan aktifitas dalam jumlah yang banyak.
28

2. Tanda-tanda vital dalam 7. Instrukdikan pasien dan 8. Untuk menentukan intervensi selanjutnya
batas normal keluarga akan tanda-tanda 9. Mempermudah dalam pemberian terapi
3. Konjungtiva anemis perdarahan dan tindakan yang 10. Untuk mencegah terjadinya perdarahan
4. Hasil laboratorium normal tepat ( yaitu memberi tahu yang signifikan
( HB, leukosit, trombosit, perawat ) bila perdarahan lebih 11. Penurunan kadar trombosit yang
hematokrit ) lanjut terjadi. signifikan dalam darah dapat
5. Pengisian kapiler cepat (<2 8. Periksa perdarahan dari selaput menimbulkan syok sehingga
detik) lendir, memar setelah benturan membutuhkan penambahan
6. Membran mukosa lembab minimal, dan adanya peteki. trombosit/plasma melalui akses IV
7. Turgor kulit normal 9. Pertahan kepatenan akses IV 12. Untuk mempertahankan keseimbangan
kadar trombosit/plasma dalam darah.
Kolaborasi:
10. monitor tinjauan koagulasi,
termasuk waktu protrhombin,
waktu trhomboplastin parsil,
fibrinogen, dan jumlah
trombosit dengan tepat.
11. Atur ketersediaan produk-
produk darah untuk tranfusi,
jika perlu
12. Beri produk-produk darah (
misalnya, trombosit dan
plasma beku segar ) dengan
tepat

4. Intoleransi aktifitas NOC : NIC :


berhubungan dengan
kelemahan fisik Konservasi energi : Manejemen Energy
1. Gangguan berat 1. Anjurkan pasien istirahat 1. Istirahat akan menurunkan kebutuhan O2
2. Gangguan cukup berat dalam 12 jam pertama jaringan perifer sehingga akan menurunkan
29

3. Gangguan sedang 2. Observasi adanya pembatasan kebutuhan miokardium dan akan


4. Gangguan ringan klien dalam melakukan meningkatkan suplai darah dan oksigen ke
5. Tidak ada gangguan aktivitas miokardium yang membutuhkan O2 untuk
Hasil yang diharapkan adalah 3. Dorong klien untuk menurunkan iskemia (muttaqin,2012)
indikator 4-5 dibuktikan dengan mengungkapkan perasaan 2. Aktivitas yang berlebihan akan
kriteria: terhadap keterbatasan meningkatkan kerja miokard
4. Kaji adanya faktor yang 3. Keterbatasan dalam beraktivitas harus
1. Menyeimbangkan aktivitas menyebabkan kelelahan diketahui gunanya untuk mengidentifikasi
dan istirahat 5. Monitor klien akan adanya masalah
2. Menyadari keterbatasan kelelahan fisik dan emosi 4. Kelelahan diatasi untuk meningkatkan
energy secara berlebihan kemampuan toleran terhadap aktivitas
3. Mengatur jadwal aktivitas 6. Tingkatkan tirah baring, 5. Kelelahan dan emosi berlebihan
untuk menghemat energy istirahat (di tempat tidur/kursi) meningkatkan kerja jantung
Melaporkan kekuatan yang 6. Menurunkan kerja miokard dan konsumsi
cukup untuk beraktivitas oksigen, menurunkan resiko komplikasi
Terapi Aktivitas 7. Aktivitas yang memerlukan menahan napas
7. Bantu klien untuk dan menunduk dapat mengakibatkan
mengidentifikasi aktivitas bradikardi, jadi menurunkan curah jantung
yang mampu dilakukan 8. Peningkatan aktivitas dilakukan secara
8. Bantu untuk memilih aktivitas bertahap untuk menghindari serangan
konsisten yang sesuai dengan 9. Alat bantu diberikan untuk mobilisasi tanpa
kemampuan fisik, psikologi pengeluaran banyak energy
dan sosial
Bantu untuk mendapatkan alat
9. bantuan aktivitas seperti kursi
roda
5. Defisit nutrisi berhubungan NOC : NIC :
dengan mual, muntah,
anoreksia. Status nutrisi : Asupan nutrisi : Manajemen nutrisi:
1. Mencegah terjadinya dampak alergi
1. Tidak adekuat 1. Catat adanya alergi makanan terhadap makanan tertentu
30

2. Sedikit adekuat 2. Ajarkan pasien bagaimana 2. Mempermudah pasien untuk memilih


3. Cukup membuat catatan makanan makanan yang sesuai target gizi
4. Sebagian besar harian 3. Untuk meningkatkan nafsu makan
5. Sepenuhnya 3. Ciptakan lingkungan yang 4. Untuk meningkatkan nafsu makan
Hasil yang diharapkan adalah optimal pada saat 5. Untuk meningkatkan nafsu makan
indikator 4-5 dibuktikan dengan mengkonsumsi makanan ( 6. Mempermudah pasien dalam
kriteria : misal, bersih, berventilasi, mengkonsumsi makan & untuk
santai, dan bebas dari bau yang mengurangi aktifitas yang memungkinkan
1. Adanya peningkatan berat menyengat ). yang dapat menimbulkan cidera
badan sesuai dengan tujuan 4. Lakukan atau bantu pasien 7. Memenuhi kebutuhan nutrisi tdalam tubuh
2. Nafsu makan meningkat terkait dengan perawatan mulut 8. Untuk mengetahui adanya perubahan
3. Intake & output seimbang sebelum makan status nutrisi
4. Tidak ada tanda-tanda 5. Pastikan makanan yang 9. Untuk Mengetahui tanda_tanda malnutrisi
malnutrisi disajikan dengan cara menarik 10. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam
5. Mampu mengidentifikasi dan suhu yang cocok untuk tubuh.
kebutuhan nutrisi konsumsi secara optimal 11. Untuk menambah pengetahuan pasien dan
6. Tidak terjadi penurunan berat 6. Bantu pasien membuka keluarga tentang kebutuhan nutrisi
badan yang bearti kemasan makanan, memotong 12. Pemberian obat-obatan sebelum makan
makanan, dan makan jika dapat mencegah terjadinya mual dan
diperlukan muntah saat makan.
7. Tawarkan makanan ringan 13.Untuk memperlancar BAB
yang padat gizi
8. Monitor kalori & asupan
makan
9. Monitor kecenderungan
terjadinya penurunan dan
kenaikan berat badan

Kolaborasi:
31

10. Tentukan jumlah kalori dan


jenis nutrisi yang dibutuhkan
untuk memenuhi persyaratan
gizi
11. Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
12. Beri obat-obatan sebelum
makan ( misalnya, penghilang
rasa sakit, antiemetic ) jika
diperlukan.
13. Pastikan diet mencakup makan
tinggi serat untuk mencegah
konstipasi.
4. Implementasi Keperawatan

Implementasi yang merupakan komponen proses keperawatan adalah

kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk

mencapai tindakan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan

dilakukan dan diselesaikan (Potter & Perry, 2010).

Implementasi menuangkan rencana asuhan kedalam tindakan setelah

rencana dikembangkan, sesuai dengan kebutuhan dan prioritas klien, perawat

melakukan intervensi keperawatan spesifik, yang mencangkup tindakan

perawat.rencana keperawatan dilaksanakan sesuai dengan intervensi.tujuan dari

implementasi adalah membantu klien dalam mencapai peningkatan kesehatan

baik yang dilakukan secara mandiri ataupun kolaborasi dan rujukan (Bulechek

& McCloskey, 1995 dikutip dari Potter, 2005)

4. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah proses keperawatan mengukur respon klien terhadap

tindakan keperawatan dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan. Tahap

akhir yang bertujuan untuk mencapai kemampuan klien dan tujuan dengan

melihat perkembangan klien. Evaluasi klien DHF dilakukan berdasarkan

kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya pada tujuan dan menggunakan SOAP

(subjektif, objektif, analisa dan perencanaan) ( Potter & perry, 2012).

Evaluasi adalah proses keperawatan mengukur respon klien terhadap

tindakan keperawatan dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan, tahap

akhir yang bertujuan untuk mencapai kemempuan klien dan tujuan dengan

32
33

melihat perkembangan klien. Evaluasi klien Dengue Hemoragic Fever

dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya pada tujuan

(Carnevari & Thomas. 1993 dikutip dari Potter 2005).


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan /Desain Penelitian


Jenis penelitian ini adalah deskriptif bentuk studi kasus untuk
mengeksplorasikan masalah asuhan keperawatan klien dengan DBD di
Ruang rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Mumomuko. Pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan asuhan keperarawatan yang meliputi
pengkajian, analisa data, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi.

B. Subyek Penelitian
Subyek penelitian dalam asuhan keperawatan ini adalah klien
dengan DBD di Ruang rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Mumomuko yang
berjumlah 1 orang dengan perawatan minimal 3 hari.

C. Batas Istilah (Definisi Operasional)


Asuhan keperawatan dalam penelitian ini adalah pemberian
pelayanan keperawatan yang meliputi terapi farmakologi mauapun non
farmakologi pada pasien DHF dan diberikan minimal 3 hari perawatan.
Pasien adalah pasien dewasa laki-laki maupun perempuan yang menderita
DHF dan dirawat di ruang rawat inap penyakit dalam RSUD Mukomuko.
DHF adalah diagnosa medis yang ditetapkan oleh dokter dan tertulis di
rekam medik.

D. Lokasi Dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di ruang Melati RSUD Mukomuko, dimana
ruang melati adalah ruangan khusus anak, penelitian dimulai dari
melakukan pengurusan surat penelitian sampai pengurusan surat telah
selesai penelitian yang dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei
dengan waktu intervensi keperawatan dilakukan selama 3 hari .

34
35

E. Prosedur Penelitian
Penelitian diawali dengan penyusunan usulan proposal tentang
penyakit DBD dengan menggunakan metode studi kasus berupa laporan
teori asuhan keperawatan yang berjudul Asuhan Keperawatan Pada Pasien
dengan DHF Di Ruang Rawat Inap Anak RSUD Mukomuko Tahun 2018,
setalah disetujui oleh penguji proposal maka tahap yang dilakukan adalah
penyusunan proposal, pengurusan surat izin penelitian, analisa kasus,
persetujuan responden, pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan,
intervensi, implementasi, evaluasi, persiapan pasien pulang, sserta surat
perizinan telah selesai penelitian.

F. Metode Dan Instrumen Pengumpulan Data


1. Teknik Pengumpulan data
a. Wawancara (hasil anamnesis yang harus didapatkan berisi
tentang identitas klien, keluhan utama, riwayat penyakit
sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga,
riwayat psikologi, pola pola fungsi kesehatan), (sumber data bisa
dari klien keluarga dan dari perawat lainnya).
b. Obsevasi dan pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum,
pemeriksaan integumen, pemeriksaan kepala leher, pemeriksaan
dada, pemeriksaan abdomen, pemeriksaan inguinal, genetalia,
anus, ekstremitas, pemeriksaan system imunita/hematologi
(dengan pendekatan: inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi) pada
sistem tubuh klien. Data fokus yang harus didapatkan adalah pada
sistem imun/hemtologi.
c. Studi dokumentasi dan instrument dilakukan dengan mengambil
data dari MR (Medical Record), mencatat pada status pasien,
mencatat hasil laboratorium, melihat cataan harian perawat
ruangan, mencatat hasil pemeriksaan diagnostik.
36

2. Instrumen Penfumpulan Data


Alat atau insrumen pengumpulan data mengunakan format
pengkajian asuhan keperawatan sesuai ketentuan yang ada di prodi
DIII keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu, data di status klien,
dan data laboratorium, alat pemeriksaan fisik.
G. Keabsahan Data
Keabsahan data dilakukan oleh peneliti dengan cara peneliti
mengumpulkan data secara langsung pada pasien dengan menggunakan
format pengkajian yang baku dari kampus, yang dilakukan 6 jam sesuai
jadwal dinas perawat diruang melati selama 4 hari berturut turut.
Pengumpulan data dilakukan pada catatan medis / status pasien, anamnesa
dengan klien langsung, anamnesa dengan kelurga klien, dokter, dan perawat
ruangan agar mendapatkan data yang valid, disamping itu untuk menjaga
validitas dan keabsahan data peneliti melakukan obsevasi dan pengukuran
ulang terhadap data data klien yang meragukan yang ditemukan melaui data
sekunder meliputi tanda-tanda vital.

H. Analisis Data
Analisi data dilakukan sejak peneliti beradadi lapangan, sewaktu
pengumpulan data sampai dengan semua data terkumpul, analisa data
dilakukan dengan cara wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan data
penunjang, selanjutnya membandingkan dengan teori yang ada dan
selanjutnya dituangkan dalam bentuk pembahasan, tekhnik analisa yang
digunakan dengan cara menarasikan jawaban jawaban dari penelitian yang
diperoleh dari hasil interpretasi wawancara mendalam yang dilakukan untuk
menjawab rumusan masalah penelitian.
Tekhnik analisis digunakan dengan cara observasi, wawancara,
pemeriksaan fisik dan data penunjang oleh peneliti dan studi dokumentasi
yang menghasilkan data selanjutnya dimana data di interpretasikan oleh
peneliti dibandingkan teori yang ada sebagai bahan untuk memberikan
rekomendasi dalam intervensi tersebut.
BAB IV

TINJAUAN KASUS

Bab ini menjelaskan tentang asuhan keperawatan yang dilakukan pada Tn.
W dengan diagnosa medis DHF yang dilakukan pada tanggal 17-19 Juli 2018.
Asuhan keperawatan dimulai dari pengkajian, analisa data, diagnosa
keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi
keperawatan. Pengkajian ini dilakukan dengan metode auto anamnesa
(wawancara dengan klien langsung), dan allo anamnesa (wawancara dengan
keluarga atau orang terdekat), tenaga kesehatan lain (perawat ruangan),
pengamatan, observasi, pemeriksaan fisik, menelaan catatan medis dan catatan
keperawatan.

A. Pengkajian Kasus
1. Identitas Klien
Pengkajian melalui anamnesa pada hari Senin, 17 Juli 2018 jam
08.00 WIB di ruang rawat inap melati RSUD Mukomuko, dan dari rekam
medis hasil pengkajian didapat Tn. W usia 23 tahun, jenis kelamin laki-aki,
agama Islam, status belum menikah, pendidikan terakhir SMA, suku bangsa
Indonesia Jawa, bahasa yang digunakan bahasa Jawa, berasal dari Pondok
Suguh, nomor registrasi 158063. Penanggung jawab Ny. J alamat Pondok
Suguh, selaku ibu pasien. Pasien masuk ke ruang rawat inap mawar pada
tanggal 17 Juli 2018.
2. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama
Klien datang ke UDG RSUD Mukomuko dengan keluhan utama
yang dirasakan demam sedah 4 hari, lemas, BAB kehitaman, keluar
bintik-bintik merah di badan.

37
38

b) Keluhan Saat Dikaji


Klien mengatakan demam sudah 4 hari sebelum masuk rumah
sakit (dirumah). Klien mengatakan berobat ke Puskesmas, tapi setelah
2 hari tidak ada perubahan, lalu berobat ke RSUD Mukomuko dan
langsung masuk ke UGD, saat dilakukan pengkajian klien mengatakan
bada nya panas, BAB kehitaman, lemas, bintik-bintik merah diseluruh
tubuh, pusing, klien mengatakan mual, muntah 2 kali, serta kurang
nafsu makan.
c) Riwayat Penyakit Masa Lalu

Klien mengatakan pernah tidak pernah mengalami penyekit


masa lalu, klien mengatakan tidak mempunyai riwayat alergi

d) Genogram
Gambar 4.1 Genogram 3 Generasi

Keterangan:

: laki-laki : Tinggal serumah

: Perempuan : Garis pernikahan

: Pasien : Garis keturunan


39

e) Riwayat Psikososial dan Spiritual


Klien mengatakan keluarga adalah orang yang sangat berarti dalam
hidupnya, komunikasi di dalam keluarga terjalin dengan baik dan setiap
pengambilan keputusan diambil dengan musyawarah dimana pengambilan
keputusan diambil oleh ayah klien. Klien mengatakan aktif dalam kegiatan
kemasyarakatan pasien juga mempunyai usaha fotocopy di rumah. Klien
yakin dirinya akan sembuh dan dapat kembali berkumpul dengan keluarga
di rumah serta teman-teman sebaya pasien dan tidak membuat ibu dan ayah
nya khawatir. Klien juga mengatakan tidak ada nilai keyakinan yang
bertentangan dengan kesehatannya, sebelum sakit pasein rajin beribadah
menjalankan sholat lima waktu, selama dirawat di rumah sakit Klien
menjalankan sholat 5 waktu di tempat tidur dan selalu berdoa untuk
kesembuhan dirinya.
f) Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan tidak ada keluarga yang memiliki penyakit yang
sama seperti pasien yaitu DHF. Dalam keluarganya juga tidak ada yang
mempunyai penyakit keturunan seperti hipertensi, diabetes, kanker, dan
penyakit menular seperti TB, HIV, hepatitis.
40

g) Pola Kebiasan
Table 4.1 pola kebiasaan

Hal yang dikaji Pola kebiasaan


Dirumah Dirumah sakit
1. Pola nutrisi
- Frekuensi makan 3 kali sehari 3 kali sehari
- Nafsu makan Baik Kurang baik karena nafsu
makan kurang serta mual
- Porsi makan yang 1 porsi ½ porsi
dihabiskan Tidak ada Tidak ada
- Makanan yang tidak disukai Tidak ada Tidak ada
- Makana yang membuat
alergi Tidak ada Tidak ada
- Makanan pantangan Tidak ada Ada
- Penggunaan obat-obatan
sebelum makan Tidak ada Tidak ada
- Penggunaan alat batu (ngt,
dll) Kurang lebih 8 (1200 cc) Kurang lebih gelas 3 (600
- Frekuensi minum gelas perhari cc) gelas perhari

2. Pola Eliminasi
1) BAK
- Frekuensi 6-7 kali perhari 9 x (kurang lebih 1800 cc
setiap kali berkemih)
perhari
-
Warna Kuning jernih Kuning
-
Keluhan Tidak ada Tidak ada
-
Penggunaan alat bantu Tidak ada Tidak ada
(kateter, dll)
2) BAB
- Frekuensi 2 kali sehari 1 kali sehari
- Waktu Tidak menentu Tidak menentu
- Konsistensi Padat Padat
- Keluhan Tidak ada Tidak ada
- Penggunaan laxative Tidak ada Tidak ada
3. Pola Personal Hygiene
1) Mandi 2 kali sehari Belum pernah mandi
- Frekuensi Pagi, sore hanya di lap saja
- Waktu
2) Oral hygiene
- Frekuensi 2 kali sehari Dilap sore hari
- Waktu Pagi dan sore 2 kali sehari
3) Cuci rambut
- Frekuensi 1 kali sehari Pagi dan sore
- Waktu Sore hari Belum pernah cuci rambut
4. Pola Istirahat Dan Tidur
- Lama tidur siang 2 jam 1 jam
- Lama tidur malam 8 jam 6 jam
- Kebiasaan sebelum tidur Tidak ada Tidak ada
5. Pola Aktifitas Dan Latihan
- Waktu Bekerja Pasien bekerja dari pagi Tempat tidur saja
sampai malam
41

- Olahraga Kadang kadang pasien


jogging dan bermain bola Tidak olahraga yang
voli dilakukan selama dirumah
sakit
- Jenis Olahraga Jogging dan voli -
- Frekuensi Olahraga 1 minggu sekali -
- Keluhan Dalam Beraktifitas Tidak ada Lemah, pusing saat
(menggunakan pakaian, bangun tidur dan duduk.
,mengerakan tubuh, sesak
setelah beaktifitas)
6. Kebiasaan yang
mempengaruhi kesehatan
1. Merokok
- Frekuensi Tidak merokok Tidak merokok
- Jumlah Tidak merokok Tidak merokok
- Lama Pemakaian Tidak merokok Tidak merokok
2. Minuman Keras
- Frekuensi Tidak merokok Tidak merokok
- Jumlah Tidak merokok Tidak merokok
- Lama Pemakaian Tidak merokok Tidak merokok

Tanggal 17 Juli 2018


Cairan Masuk : minum : 600 cc
Infus : 3 kolf (1500 cc)
Air metabolisme : 5cc x 50 kg =250 cc
Injeksi + obat : 45 cc (ceftriaxone 2x1, Omz 1x1, Sulkrafat
Syr 3x1 )
Total Cairan masuk = 600cc + 1500cc + 250 cc + 45 cc
= 2395 cc
Cairan Keluar : Bak : 9 x 200 cc = 1800
Bab : 100 cc
Muntah : 2 x 100 ml = 200 cc
Keringat : 100 ml
Iwl : iwl normal + 200 x (suhu sekarang –suhu normal)
24
: ( 15 x 50/24) + (200 x (39 – 37)
: 31,2 + 200 x 2
: 31,2 + 4000
42

: 431,2
Jumlah Cairan keluar : 1800 cc + 100 cc + 200 + 100
+ 431,2 cc
= 2631,2 cc
Balance cairan :jumlah cairan masuk – jumlah cairan
keluar 2565 cc – 2631,2 cc
= - 66,2 cc
3. Pemeriksaan Fisik
a) Pemeriksaan umum
Didapatkan data keadaan umum tampak lemah, tingkat kesadaran
composmentis dengan skor GCS 15, tekanan darah 100/70 mmHg,
Nadi 80x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 39 0C, berat badan
pasien 50 kg dan tinggi badan 165 cm, dan ciri-ciri tubuh agak kurus.
b) Sistem penglihatan
Posisi mata simetris kiri dan kanan, kelopak mata tidak terdapat lesi
maupun edema, bagian kornea mata bulat dan bening, konjungtiva
anemis, sclera an ikterik, palpebral tidak terdapat edema, pupil
isokor dan repleks mengecil saat terkena cahaya, tidak ada tanda-
tanda radang pada mata, pasien tidak menggunakan kaca mata dan
lensa kotak.
c) Sistem pendengaran
Struktur telingan baik tidak ada yang kurang, telinga simetris kiri
dan kanan, daun telingah utuh, membrane timpani utuh, tidak ada
perasaan penuh didalam telinga, tidak ada cairan dari dalam telinga,
fungsi pendengaran baik, tidak ada gangguan keseimbangan antara
telinga, serta pasien tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
d) Sistem wicara
Pasien berbicara dengan baik, pasien mengunakan komunikasi
dengan baik kepada perawat saat dilakukan pengkajian dan tindakan
keperawatan.
43

e) Sistem pernapasan
Tidak ada tanda-tanda pasien mengalami sesak nafas ditandai
dengan pernafasan 20 x/menit, suara nafas vesikuler, irama napas
regular, tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan, ekspansi dada
mengembang maksimal, pasien tidak mengalami batuk, tidak
mengeluarkan sputum dan darah, pasien dapat bernapas tanpa
menggunakan alat bantu.
f) Sistem pencernaan
Membran mukosa kering, keadaan mulut dimana gigi kurang bersih
terdapat karies, lidah kotor, tidak ada stomatitis, bibir kering dan
pecah-pecah, pasien mengalami mual, bising usus terdengar 17 kali
dalam satu menit, tidak konstipasi feses, konsistensi feses padat,
warna kehitaman, tidak ada pembesaran hepar, abdomen nyeri tekan
dan lepas.
g) Sistem kardiovaskuler
Saat dipalpasi tidak ditemuan masalah pada sistem kardiovaskuler
dimana tidak ada tanda-tanda palpitasi/aritmia dan sistem
hematologi, frekuensi nadi 80 x/menit, tekanan darah 100/70
mmHg, tidak ada distensi vena jugularis, temperature kulit panas
dengan suhu 39 c tidak ada edema, tidak ada sakit dada, pasien
tampak pucat, pada saat dilakukan pemeriksaan neurologi pasien
mengeluh pusing.
h) Sistem perkemihan
Saat di insfeksi tidak ada pembesaran pada abdomen, saat di
inspeksi tidak ada pembesaran pada area kandung kemih, saat
diperkusi kandung kemih terdengar suara dullness (berisi urin), saat
diperkusi tidak ada pembesaran ginjal, saat dilakukan palapsi ginjal
tidak terasa nyeri, saat di inspeksi genetalia luar simetris kiri dan
kanan, rambut pubis tumbuh merata, tidak ada edema, lesi dan
kebersihan yang kurang, tidak ada keluar cairan dari lubang uretra,
44

bau khas, tidak ada kemerahan, tidak ada bengkak, karakteristik urin
berwarnah kuning, bau urin khas amoniak, tidak terdapat nyeri saat
buang air kecil.
i) Sistem integument
Tidak ditemukan pigmentasi pada kulit, warna kulit sawo
matang,tampak bintik-bintik merah diseluruh badan, capillary refill
time < 3 detik, turgor kulit jelek, kebersihan kulit agak sedikit kotor,
kulit kering dan panas,tidak ada bekas operasi pada kulit, tidak ada
gatal-gatal pada kulit, pasien tampak berbaring dan beraktifitas
secara mandiri, kondisi pemasangan infus tidak ada masalah.
4. Data Penunjang

Tabel 4.2 Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 17 Juli 2018

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan

1. Hematocrit 50 Laki-laki :37-47 %


Perempuan: 40-54
2. Leukosit 9000 4000-10.000 Mm3
3. Trombosit 58.000 150.000-400.000 Mm3
4. Eritrosit 5,0 4,5-5,5 Juta/mm3
5. Gula darah sewaktu 86 70-120 Mg/dl

Tabel 4.3 Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 18 Juli 2018

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan

1. Hematocrit 39 Laki-laki :37-47 %


Perempuan: 40-54
2. Leukosit 7200 4000-10.000 Mm3
3. Trombosit 62.000 150.000-400.000 Mm3
4. Eritrosit 5,0 4,5-5,5 Juta/mm3

Tabel 4.4 Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 19 Juli 2018

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan

1. Hematokrit 41 Laki-laki :37-47 %


Perempuan: 40-54
2. Leukosit 7200 4000-10.000 Mm3
3. Trombosit 108.000 150.000-400.000 Mm3
4. Eritrosit 4,8 4,5-5,5 Juta/mm3
45

Table 4.5 Terafi Obat

Tangal 17– 19 Februari 2018


Obat Dosis/cara pemberian Jam pemberian
IVFD Rl 20 Tetes/ Menit 3 kolf perhari
Obat Parenteral
- Ceftriaxone 2x1 gr/Iv 15.00 ; 03.00
- Omz (Omeprazole) 1x1/Iv 15.00
Obar Oral
- Paracetamol 3x1/Oral 13.00 ; 19.00 ; 07.00 (Setelah
Makan)
- Sukralfat 3x1/Oral 12.00 ; 18.00 ; 06.00
(Sebelum Makan)
- Imboost F 2x1/Oral 13.00 ; 19.00 (Setelah
Makan)
- Dehaf 3x1 sct/oral 13.00; 19.00; 07.00Setelah
Makan

5. Analisa Data

Tabel 4.6 Analisa Data


Nama Pasien : Tn. W Ruangan : Mawar
Umur : 23 Tahun No.Register : 158063

NO SIGN/SYMPTOM ETIOLOGI MASALAH

Do:
- Pasien mengatakan lemas
- Pasien mengatakan minum
sedikit
- Pasien mengatakan pusing
- Pasien mengatakan selalu
haus
Ds: Intake yang tidak
1 Defisit volume cairan
- Turgor kulit jelek adekuat
- Klien tampak berkeringat
- TD: 100/70mmHg
- N: 80x/menit
- R: 20x/menit
- S: 39˚C
- Membran mukosa kering
- Kedaan umum: lemah
Ds:
2 Proses inflamasi
- Pasien mengatakan badannya Hipertermia
penyakit
panas
46

- Pasein mengatakan pusing


- Pasien mengatakan sering
merasa haus
Do:
- Hasil pemeriksaan suhu 39’ c
- Mukosa bibir kering
- Kulit kering
Ds:
- Pasien mengatakan BAB
kehitaman
- Pasien mengatakan ada
bintik merah diseluruh tubuh
3 Do: Trombositopenia Resiko perdarahan
- BAB berwarna kehitaman
- Tampak bintik merah di
seluruh tubuh
- Hasil laboratorium:
Trombosit 58.000
Do:
- Pasien mengetakan mual
- Pasien mengatakan muntah 2
x
- Pasien mengatakan tidak
nafsu makan
4 Nausea (mual),
Risiko Deficit Nutrisi
DO: muntah, anoreksia
- Pasien tampak lemah
- Pasien tampak mual dan
muntah
- Pasien tampah tidak
Menghabiskan 1 porsi
makanan

B. Diagnosa Keperawatan
Tabel 4.7 Diagnosa Keperawatan
Nama Pasien :Tn. W Ruangan : Mawar
Umur : 23 Tahun No.Register : 158063
TANGGAL NAMA & TANGGAL NAMA &
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN
MUNCUL PARAF TERATASI PARAF

1 Defisit volume cairan berhubungan


dengan intake yang tidak adekuat
17 Juli 2018 Midawati 19 Juli 2018 Midawati
2 Hipertermi berhubungan dengan
proses infeksi virus
17 Juli 2018 Midawati 19 Juli 2018 Midawati
3 Resiko perdarahan berhubungan
dengan trombositopenia
17 Juli 2018 Midawati 19 Juli 2018 Midawati
47

4 Defisit nutrisi berhubungan dengan


mual, muntah, anoreksia
17 Juli 2018 Midawati 19 Juli 2018 Midawati

C. Perencanaan Keperawatan
Tabel 4.8 Perencanaan Keperawatan
Nama Pasien : Tn.W Ruangan : Mawar
Umur : 23 Tahun No.Register : 158063
No Diagnosa NOC NIC Rasional
1 Defisit volume Keseimbangan Manajemen cairan: 1. Agar dapat segera dilakukan
cairan cairan: 1. Monitor status tindakan jika terjadi syok
berhubungan 1. Berat hidrasi ( missal, 2. Untuk mengetahui balance
dengan intake 2. Cukup membrane mukosa cairan dalam tubuh/
yang tidak
3. Sedang lembab, denyut homeostatis
adekuat
4. Ringan nadi adekuat, dan 3. Mengetahui dengan cepet
5. Tidak ada tekanan darah penyimpangan dari keadaan
Hasil yang osmotic ) normalnya.
diharapkan adalah 2. Jaga intake / asupan 4. Asupan cairan sangat
indikator 4-5 yang akurat dan diperlukan untuk menambah
dibuktikan dengan catat output (pasien) volume cairan tubuh.
kriteri: 3. Monitor tanda-tanda 5. Memenuhi kebutuhan dengan
1. Kelopak mata vital mendukung partisipasi dan
tidak cekung 4. Tingkatkan asupan kemandirian pasien
2. Turgor kulit baik oral ( misal, 6. mengetahui hasil laboratorium
3. Membrane memberikan yang abnormal
mukosa tetap sedotan, 7. Pemberian cairan IV sangant
lembab menawarkan cairan penting bagi klien yang
4. Pengisian kapiler diantara waktu mengalami defisite volume
merah muda makan ) yang cairan untuk memenuhi
5. Tanda-tanda vital sesuai. kebutuhan cairan
dalam batas 5. Dukung pasien dan 8. Untuk menghindari terjadinya
normal keluarga untuk hipertermi apabila terjadi
membatu dalam dehidrasi.
pemberian makan 9. Untuk memenuhi kebutuhan
dengan baik. cairan tubuh.
10. Mengetahui perubahan status
Kolaborasi kesehatan setelah pemberian
6. Monitor hasil obat
laboratorium yang 11. Memastikan tidak terjadi
relevan dengan kesalahan dalam pemberian
retensi cairan ( obat
misal, peningkatan
berat jenis,
peningkatan BUN,
penurunan
hematocrit,
48

peningkatan kadar
osmolitas urin )
7. Berikan terapi IV,
seperti yang
ditentukan
8. Berikan cairan IV
sesuai suhu kamar
9. Berikan cairan
dengan tepat
10. Monitor reaksi
pasien terhadap
terapi elektrolit
yang diresepkan
11. Konsultasi dengan
dokter jika tanda-
tanda dan gejala
kelebihan volume
cairan menetap atau
memburuk
2 Hipertermia Termoregulasi: Regulasi Suhu
berhubungan Dengan Kriteria : 1. Monitor warna kulit 1. Mengetahui perubahan kesehatan
dengan proses 1. Peningkatan Suhu dan suhu tubuh 2. Mengganti cairan yang hilang
infeksi virus Kulit 2. Tingkatkan intake berlebih
2. Hipertermia cairan dan nutrisi 3. Mengetahui adanya perubahan
3. Dehidrasi 3. Pemantauan Tanda kesehatan psien
4. Mengantuk Vital 4. Mengetahui adanya peningkatan
5. Berkeringat Saat 4. Monitor TD, nadi, tekanan darah
Panas suhu, RR 5. Turgor kulit yang buruk,
6. Denyut Nadi 5. Catat adanya fluktuasi terjadinya dehidrasi pada pasien
Radialis tekanan darah 6. Mengetahui peningkatan suhu
7. Frekuensi 6. Monitor suhu, pasien
pernapasan kelembapan, dan 7. Untuk mengetahui keadaan
warna kulit umum pasien
Dengan l;evel: Terapi Demam 8. Mengetahui adanya penurunan
1: Gangguan Eksterm 7. Monitor suhu sesering kesdaran
2: Berat mungkin 9. Mengetahui adanya perubahan
3: Sedang 8. Monitor tekanan status kesehatan
4: Ringan darah, nadi dan 10. Mempertahankan nutrisi adekuat
5: Tidak Ada Gangguan pernapasan 11. Menurunkan suhu tubuh
9. Monitor penurunan 12. Mempertahankan suhu tubuh
Nilai yang diharapkan 4 tingkat kesadaran pasien
sampai 5 10. Monitor WBC, Hb, 13. Mencegah kehilangan panas
dan Hct tubuh yang berlebihan
11. Monitor intake dan 14. Menganti cairan yang hilang dan
output menurnkan suhu tubuh klien
12. Berikan pengobatan 15. Mempertahankan pertukaran gas
untuk mengatasi 16. Melancarkan sirkulasi udara
penyebab demam
13. Selimuti pasien
14. Kolaborasi pemberian
cairan intra vena dan
berikan antipiretik
(parasetamol)
49

15. kompres pasien pada


lipatan paha dan axila
16. Tingkatkan sirkulasi
udara

3 Resiko Status sirkulasi: Pengurangan 1. Untuk meminimalisir


perdarahan 1. Berat perdarahan: terjadinya perdarahan
berhubungan 2. Cukup berat 1. monitor pasien 2. Kehilangan darah dalam
dengan 3. Sedang akan perdarahan jumlah banyak dapat
trombositopenia
4. Ringan secara ketat menyebabkan syok.
5. Tidak ada 2. monitor jumlah dan 3. Dapat menentukan intervensi
Hasil yang sifat kehilangan selanjutnya.
diharapkan adalah darah 4. Untuk memantau jumlah dan
indicator 4-5 3. monitor tanda-tanda kadar kehilangan darah
dibuktikan dengan vital 5. Cairan yang adekuat dapat
kriteria: 4. Perhatikan kadar mempertahankan
1. Tidak trombosit dan keseimbangan cairan
menunjukkan hemoglobin/hemato 6. Mengurangi aktifitas fisik
tanda-tanda krit dapat meminimalisir
perdarahn ( 5. Monitor status perdarahan dan kelelahan
mimisan, gusi cairan, termasuk 7. Pemberian tindakan yang
berdarah, BAB asupan (intake) dan cepat dan tepat dapat
berdarah ) haluaran (output) meminimalisir kehilangan
2. Tanda-tanda 6. Instruksikan pasien darah dalam jumlah yang
vital dalam batas akan pembatasan banyak.
normal aktifitas 8. Untuk menentukan
3. Konjungtiva 7. Instrukdikan pasien intervensi selanjutnya
anemis dan keluarga akan 9. Mempermudah dalam
4. Hasil tanda-tanda pemberian terapi
laboratorium perdarahan dan 10. Untuk mencegah terjadinya
normal ( HB, tindakan yang tepat perdarahan yang signifikan
leukosit, ( yaitu memberi 11. Penurunan kadar trombosit
trombosit, tahu perawat ) bila yang signifikan dalam darah
hematokrit ) perdarahan lebih dapat menimbulkan syok
5. Pengisian lanjut terjadi. sehingga membutuhkan
kapiler cepat (<2 8. Periksa perdarahan penambahan
detik) dari selaput lendir, trombosit/plasma melalui
6. Membran memar setelah akses IV
mukosa lembab benturan minimal, 12. Untuk mempertahankan
7. Turgor kulit dan adanya peteki. keseimbangan kadar
normal 9. Pertahan kepatenan trombosit/plasma dalam
akses IV darah.

Kolaborasi:
10. monitor tinjauan
koagulasi, termasuk
waktu protrhombin,
waktu
trhomboplastin
parsil, fibrinogen,
dan jumlah
50

trombosit dengan
tepat.
11. Atur ketersediaan
produk-produk
darah untuk
tranfusi, jika perlu
12. Beri produk-produk
darah ( misalnya,
trombosit dan
plasma beku segar )
dengan tepat

4 Risiko Defisit NOC : Manajemen nutrisi 1. Untuk mengehetahui satus gizi


Nutrisi Status nutrisi : 1. Tentukan status gizi pada pasien
berhubungan Asupan nutrisi : pasien dan
dengan 6. Tidak adekuat kemampuan untuk 2. Untuk mengetahui alaregi yang
nausea(mua) memenuhi staus gizi terdapat pada pasien
7. Sedikit adekuat
2. Identifikasi alergi 3. Untuk menghindari mual dan
8. Cukup pada makanan muntah
9. Sebagian besar 4. Untuk memberikan
10. Sepenuhnya kenyamanan saat makan
Hasil yang
diharapkan adalah 3. Anjurkan pasien 5. Menghindari mual dan muntah
indikator 4-5 makan sedikit tapi 6. Untuk menumbuhkan nafsu
dibuktikan dengan sering makan pada pasien
kriteria : 7. untuk menumbuhkan selera
7. Adanya 4. Ciptakan lingkungan makan pasien
yang optimal saat
peningkatan berat
mengkonsumsi 8. untuk menetikan intervensi
badan sesuai makanan ( bersih dan selanjutnnya
dengan tujuan bebas dari bau)
8. Nafsu makan 5. Anjurkan pada pasien
meningkat makan sambil duduk
9. Intake & output
seimbang 6. Pastikan makanan
10. Tidak ada tanda- disajikan dalam
tanda malnutrisi bentuk yang menari
11. Mampu
7. Anjurkan keluarga
mengidentifikasi
membawa makanan
kebutuhan nutrisi kesukaan pasien,
12. Tidak terjadi tawarkan makanan
penurunan berat ringan yang padat
badan yang gizi
berarti 8. Monitor terjadinya
penurunan berat
badan
51

D. Implementasi Keperawatan

Tabel 4.9 Implementasi Keperawatan Hari pertama

Nama Pasien : Tn. W Ruangan : Mawar


Umur : 23 Tahun No.Register : 158063

HARI,
NO.
NO TANGGAL IMPLEMENTASI RESPON HASIL NAMA & PARAF
DX
PUKUL
1 Selasa, 17 Juli
2018
II Midawati
1. Memonitor status
Pukul 08.10 hidrasi ( missal, 1. membrane mukosa kering,
membrane mukosa turgor jelek, nadi adekuat
lembab, denyut nadi
adekuat, dan tekanan
darah osmotic )

2. Menjaga intake / 2. pasien minum3 gelas perhari,


Pukul 08.20 asupan yang akurat b.a.k 9x per hari
dan catat output
(pasien)

3. Memonitor tanda-
Pukul 10.00 tanda vital 3. TD= 100/60 mmHg
N= 90 x/mnt
4. Meningkatkan S= 39’c
Pukul 12.00 asupan oral ( misal, 4. Pasien tampak minum disela-
memberikan sedotan, sela makan
menawarkan cairan
diantara waktu makan
) yang sesuai.

5. Menganjurkan pasien
Pukul 12.30
unutk minum 6-8
gelas per hari 5. Pasien mengatakan akan
mengikuti anjuran perawat
Pukul 12.35
6. Mendukung pasien
dan keluarga untuk
membatu dalam 6. Keluarga mengatakan akan
pemberian makan dan selalu memotivasi pasien untuk
minuman dengan banyak makan dan minum
baik.

8. Mengobservasi
Pukul 12.40 tetesan infus
52

9. Memberikan terapi 8.Infus terpasang RL 20 tpm,


Pukul 13.00 IV, seperti yang tetesan infus lancer, tidak ada
ditentukan tanda-tanda plebitis

9. Pasien tidak menolak saat


diberikan terapi

2 Selasa, 17 Juli I
2018 Midawati
Pukul 08.00 1. Memonitor warna 1. kulit teraba hangat dengan suhu
kulit dan mengukur 39 c
suhu tubuh pasien
2. memberikan 2. pasien mengatakan kurang
pendidikan banyak minum dan
kesehatan kepada mengusahakan untuk banyak
klien agar untuk minum
banyak minum
untuk menghindari
dehidrasi

Pukul 08.15 3. menanyakan berapa 3. pasien mengatakan minum


banyak pasien sekitar 3 gelas (sekitar 600 cc)
minum dalam sehari
Pukul 09.00 4. mengukur tekanan 4. TD: 100/70 mmhg
darah, mengecek N: 80x/m
nadi, mengukur P: 20x/m
suhu, menghitung S: 39 c
pernafasan
Pukul 10.00 5. mengganti cairan 5. cairan infus RL
infus pasien
Pukul 10.15 6. mengatur tetesan 6. dengan tetesan 20 tpm
infus klien sesuai
kebutuhan
Pukul 10.17 7. menghitung cairan 7. 3 kolf pada tanggal 17 Juli 2018
infus yang masuk
perhari
Pukul 11.00 8. memberikan obat 8. pasien mengatakan setelah
antipiretik pemberian obat parasetamol
Pukul 13.00 parasetamol peroral pasien merasa panas tubuh
3x1 menurun (38.5 c)

Pukul 13.15 9. menganjurkan klien 9. pasien mengerti dan mengikuti


untuk memakai baju saran perawat
yang tipis dan
menyerap keringat
Pukul 13.20 10. memberikan pendidi 10. pasien dan keluarga mengerti
kan kesehatan dan akan menerapkan anjuran
tentang cara perawat
mengkompres pada
daerah lipatan axila
dan paha dengan
menggunakan kain
yang dibasahi
dengan air hangat
53

Pukul 14.00 11. menganjurkan klien 11. pasien mengatakan akan


untuk istirahat mencoba istirahat dengan baik
dengan baik walaupun banyak pengunjung

3 Selasa, 17 Juli III Midawati


2018
1. memonitor pasien
Pukul 08.00 akan perdarahan 1. Pasien mengatakan b.a.b
kehitanam dan banyak bintik-
secara ketat
bintik merah diseluruh tubuh
2. memonitor tanda-
Pukul 10.00 tanda vital 2. TD= 100/60 mmHg
N= 90x/mnt
RR= 20x/mnt
3. Memperhatikan S= 39˚C
Pukul 10.15 kadar trombosit dan 3. Trombosir 58.000, hematocrit
hemoglobin/hemato 9.000
crit

4. Memonitor status
Pukul 11.30 4. Pasien BAK 9 x/hari, cairan
cairan, termasuk infus 3 kolf/hari, pasien
asupan (intake) dan minum 3 gelas/hari
haluaran (output)
5. Menginstruksikan 5. Pasien mengatakan hanya
Pukul 11.35 pasien akan beraktifias di tempat tidur
pembatasan aktifitas saja
6. Menginstruksikan
Pukul 11.40 pasien dan keluarga 6. Keluarga dan pasien mengerti
akan tanda-tanda dan akan mengikuti instruksi
dari perawat
perdarahan dan
tindakan yang tepat (
yaitu memberi tahu
perawat ) bila
perdarahan lebih
lanjut terjadi. 7. Peteki (+), BAB kehitaman
7. Memeriksa (+), gusi berdarah (-)
Pukul 12.00 perdarahan dari
selaput lendir,
memar setelah 8. Tetesan infus lancar, tidak
ada tanda-tanda plebitis.
benturan minimal,
dan adanya peteki.
8. Mempertahan
Pukul 12.30 kepatenan akses IV
54

4 Selasa, 17 Juli IV MIDAWATI


2018

Pukul 08.57 1. Klien belum mengalami


1. Mentukan status gizi
penurunan berat badan
pasien dan
kemampuan untuk
memenuhi staus gizi
Pukul 09.07 2. Pasien mengatakan tidak
2. Mengidentifikasi
ada alergi makanan
alergi pada makanan
Pukul 09.32 3. Pasien mengerti dan
3. Menganjurkan pasien
menerapkan insrtuksi dari
makan sedikit tapi
dokter
sering

Pukul 09.37 4. Pasien mengatakan kurang


4. Ciptakan lingkungan
nafsu makan ingi mual
yang optimal saat
mengkonsumsi
makanan ( bersih dan
bebas dari bau)
Pukul 10.30 5. Pasien berusaha makan
5. Anjurkan pada pasien
sedikit tapi sering
makan sambil duduk
Pukul 11.30 6. Makanan Dari Rumah
6. Memastikan
Sakit tidak disajikan dalam
makanan disajikan
bentuk yang Menarik
dalam bentuk yang
menari
Pukul 12.00 7. Keluarga pasien selalu
7. Menganjurkan
membawakan makanan
keluarga membawa
kesukaan pasien
makanan kesukaan
pasientawarkan
makanan ringan yang
padat gizi
Pukul 12.30 8. pasien belum mengalami
8. Moniror terjadinya
penurunan berat badan
penurunan berat
badan
55

Tabel 4.10 Implementasi Keperawatan Hari kedua

Nama Pasien : Tn. W Ruangan : Mawar


Umur : 23 Tahun No.Register : 158063

NO HARI NO IMPLEMENTASI EVALUSI (SOAP) PARAF


TANGGAL DX
PUKUL
1 Kamis, 18 I S:
Juli 2018 - Pasien mengatakan panas
mulai turun
- Pasien mengatakan selalu
Pukul 08.40 1. Memonitor status hidrasi ( haus
missal, membrane mukosa - Pasien mengatakan
lembab, denyut nadi adekuat, dan badannya terasa lemas
tekanan darah osmotic ) - Pasien mengatakan
kepalanya masih pusing
Pukul 09.14 2. Menjaga intake / asupan yang - Pasien mengatatakan masih
akurat dan catat output (pasien) mual dan muntah
- Pasien mengatakan nafsu
3. Memonitor tanda-tanda vital
Pukul 09.46 makan sudah mulai
Pukul 10.12 4. Meningkatkan asupan oral ( bertambah
misal, memberikan sedotan,
menawarkan cairan diantara O:
waktu makan ) yang sesuai. - Klien tampak lemah
- Hasil palpasi : tubuh klien
Pukul10.22 5. Menganjurkan pasien unutk panas dan berkeringat,
minum 6-8 gelas per hari mukosa bibir kering, turgor
tidak elastis.
Pukul 10.37 6. Mendukung pasien dan keluarga - Wajah tampak merah
untuk membatu dalam pemberian dengan hasil vital sign :
makan dan minuman dengan baik. TD : 110/80 mmHg
RR : 22x/menit
Pukul 10.45 8. Mengobservasi tetesan infus HR : 86x/menit
Temp : 37,9˚ C
Pukul 11.23 9. Memberikan terapi IV, seperti A: keseimbangan cairan 3
yang ditentukan (Sedang)
P: Intervensi dilanjutkan
1,2,3,4,5,6,7
56

2 Kamis, 18 II S: MIDAWATI
Juli 2018 - Pasien mengatakan badan
1. Memonitor warna kulit dan masih panas
Pukul 08.21 mengukur suhu tubuh pasien - Pasien mengatakan sudah
banyak minum
2. Memberikan pendidikan - Pasien mengatakan minum
Pukul 08.37 kesehatan kepada klien agar 4 gelas
untuk banyak minum untuk - Pasien mengatakan sudah
menghindari dehidrasi memakai pakaian yang tipis
3. Menanyakan berapa banyak - Pasien mengatakan jika
Pukul 10.38 pasien minum dalam sehari panas di kompres dengan air
hangat
- Pasien mengatakan sudah
4. Mengukur tekanan darah, beristirahat dengan baik
Pukul 10.45 mnegecek nadi, mengukur - Pasien tidak menolak
suhu, menghitung pernafasan diberikan obat
5. Mengganti cairan infus pasien A:
Pukul 11. 49 - TD: 110/80 mmHg
6. Mengatur tetesan infus klien N: 86x/mnt
Pukul 12.39 sesuai kebutuhan P: 22 x/mnt
7. Menghitung cairan infus yang S:37,9˚C
Pukul 12.43 masuk perhari - Pasien tampak minum air
8. Memberikan obat antipiretik putih
Pukul 12.50 parasetamol peroral 3x1 - Cairan infus yang masuk
9. Menganjurkan klien untuk 1500 cc
Pukul 13.00 memakai baju yang tipis dan - Pasien Tampak Memakai
menyerap keringat Pakaian tipis
10. Memberikan pendidikan - Pasien tampak lebih tenang
Pukul 13.10 kesehatan tentang cara setelah pemberian obat
mengkompres pada daerah P: Termoregulasi 3 (sedang)
lipatan axila dan paha dengan A: Intervensi dilanjutkan
menggunakan kain yang 1,3,4,5,6,7,8,10,11
dibasahi dengan air hangat
11. Menganjurkan klien untuk
Pukul 13.30 istirahat dengan baik
3 Kamis, 17 III S:
Juli 2018 - Pasien mengatakan b.a.b
tidak hitam lagi
Pukul 09.42 1. memonitor pasien akan - Pasien mengatakan bintk
perdarahan secara ketat merah sudah mulai
Pukul 09.53 2. memonitor tanda-tanda vital menghitam
- Pasien mengatakan sudah
banyak minum
Pukul 10.03 3. Memperhatikan kadar - Pasien mengatakan hanya
trombosit dan beraktifitas di sekitar
hemoglobin/hematocrit kamar saja
- Pasien dan keluarga
Pukul 10.19 4. Memonitor status cairan, mengtakan sudah mengerti
termasuk asupan (intake) dan dan akan mengikuti istruksi
haluaran (output) dari perawat
Pukul 10.33 5. Menginstruksikan pasien akan - Pasien tidak menolak saat
pembatasan aktifitas diberi obat
Pukul 10.41 6. Menginstruksikan pasien dan O:
keluarga akan tanda-tanda - BAB berwarna kecoklatan
perdarahan dan tindakan yang - Pteki (+), gusi berdarah (-)
57

tepat ( yaitu memberi tahu - Trombosit 62.000,


perawat ) bila perdarahan lebih hematocrit 39
lanjut terjadi. - Infus tidak ada tanda-tanda
Pukul 11.00 7. Memeriksa perdarahan dari phlebitis
selaput lendir, memar setelah A: status sirkulasi 3 (sedang)
benturan minimal, dan adanya P: Intervensi dilanjutkan
peteki. 1,2,3,4,5,6,7,8
Pukul 11.37 8. Mempertahan kepatenan akses
IV

4 Kamis, 18 IV S: MIDAWATI
Juli 2018 - Pasien mengatakan kurang
pukul 08.46 1. Menentukan status gizi pasien nafsu makan
dan kemampuan untuk - Pasien mengatakan tidak
memenuhi staus gizi ada alergi makanan
pukul 09. 40 2. Mengidentifikasi alergi pada - Pasien mengatakan makan
makanan sedikit tapi sering
pukul 09.59 3. Menganjurkan pasien makan - pasien mengatakan
sedikit tapi sering lingkungan kurang
pukul 10.09 4. Menciptakan lingkungan yang nyaman
optimal saat mengkonsumsi - pasien mengatakan nafsu
makanan ( bersih dan bebas dari makan ada saat ada
bau) makanan kesukaan
pukul 10.13 5. Menganjurkan pada pasien O:
makan sambil duduk - Pasien tampak kurang
Pukul 11.15 6. memastikan makanan disajikan nafsu makan
dalam bentuk yang menari - Pasein tampak hanya
Pukul 12.00 7. Menganjurkan keluarga menghabiskan ½ porsi
membawa makanan kesukaan makanan
pasien tawarkan makanan - Pasien tampak lemah
ringan yang padat gizi A: Status Gizi 3 (cukup) nafsu
Pukul 13.00 8. Memoniror terjadinya makan 3 (cukup)
penurunan berat badan P: Intervensi Dilanjutkan
1,3,5,6,7,8
58

Tabel 4.11 Implementasi Keperawatan Hari ketiga


Nama Pasien : Tn.W Ruangan : Mawar
Umur : 23 Tahun No.Register : 158063
NO HARI NO IMPLEMENTASI EVALUSI (SOAP) NAMA &
TANGGAL DX PARAF
PUKUL
1 Kamis, 19 Juli I S: MIDAWATI
2018 - Pasien mengatakan panas
sudah turun
- Pasien mengatakan
Pukul 08.40 1. Memonitor status hidrasi ( badannya sudah terasa
missal, membrane mukosa lebih segar
lembab, denyut nadi adekuat, dan - Pasien mengatakan
tekanan darah osmotic ) kepalanya tidak pusing
lagi
Pukul 09.14 2. Menjaga intake / asupan yang - Pasien mengatakan sudah
akurat dan catat output (pasien) banyak minum.
- Pasien mengatakan sudah
3. Memonitor tanda-tanda vital
Pukul 09.46 minum 8 gelas.
4. Meningkatkan asupan oral ( - Pasien mengatatakan
Pukul 10.12 misal, memberikan sedotan, tidak mual dan muntah
menawarkan cairan diantara - Pasien mengatakan nafsu
waktu makan ) yang sesuai. makan sudah bertambah

Pukul10.22 5. Menganjurkan pasien unutk O:


minum 6-8 gelas per hari - Membrane mukosa
lembab, turgor elastis.
Pukul 10.37 6. Mendukung pasien dan keluarga - Pasien tampak lebih
untuk membatu dalam pemberian tenang
makan dan minuman dengan baik. - Intake dan output
seimbang
Pukul 10.45 8. Mengobservasi tetesan infus - hasil vital sign :
TD : 110/70 mmHg
Pukul 11.23 9. Memberikan terapi IV, seperti RR : 22x/menit
yang ditentukan HR : 86x/menit
Temp : 37,1˚ C
A: keseimbangan cairan 4
(ringan)
P: Intervensi dihentikan,
pasien pulang.
59

2 Kamis, 19 Juli II S: MIDAWATI


2018 - Pasien mengatakan suhu
Pukul 08.21 1. Memonitor warna kulit dan badannya sudah turun
mengukur suhu tubuh pasien - Pasien mengatakan sudah
Pukul 08.37 2. Memberikan pendidikan banyak minum
kesehatan kepada klien agar - Pasien mengatakan
untuk banyak minum untuk minum 8 gelas
menghindari dehidrasi - Pasien mengatakan sudah
Pukul 10.38 3. Menanyakan berapa banyak memakai pakaian yang
pasien minum dalam sehari tipis
Pukul 10.45 4. Mengukur tekanan darah, - Pasien mengatakan jika
mnegecek nadi, mengukur panas di kompres dengan
suhu, menghitung pernafasan air hangat
Pukul 11. 49 5. Mengganti cairan infus pasien - Pasien mengatakan sudah
Pukul 12.39 6. Mengatur tetesan infus klien beristirahat dengan baik
sesuai kebutuhan - Pasien tidak menolak
Pukul 12.43 7. Menghitung cairan infus yang diberikan obat
masuk perhari A:
Pukul 12.50 8. Memberikan obat antipiretik - TD: 110/70 mmHg
parasetamol peroral 3x1 N: 89x/mnt
Pukul 13.00 9. Menganjurkan klien untuk P: 21x/mnt
memakai baju yang tipis dan S:37,1˚C
menyerap keringat - Pasien tampak minum air
Pukul 13.10 10. Memberikan pendidikan putih
kesehatan tentang cara - Cairan infus yang masuk
mengkompres pada daerah 1500 cc
lipatan axila dan paha dengan - Pasien Tampak Memakai
menggunakan kain yang Pakaian tipis
Pukul 13.30 dibasahi dengan air hangat - Pasien tampak lebih
11. Menganjurkan klien untuk tenang setelah pemberian
istirahat dengan baik obat
P: Termoregulasi 4 (ringan)
A: Intervensi dihentikan,
pasien pulang.

3 Kamis, 19 Juli III S: MIDAWATI


2018 - Pasien mengatakan b.a.b
Pukul 09.00 1. memonitor pasien akan tidak hitam lagi
perdarahan secara ketat - Pasien mengatakan bintk
Pukul 09.19 2. memonitor tanda-tanda vital merah sudah mulai
menghitam
- Pasien mengatakan
Pukul 09.39 3. Memperhatikan kadar trombosit sudah banyak minum
dan hemoglobin/hematocrit - Pasien mengatakan
hanya beraktifitas di
Pukul 10.13 4. Memonitor status cairan, sekitar kamar saja
termasuk asupan (intake) dan - Pasien dan keluarga
haluaran (output) mengtakan sudah
Pukul 10.44 5. Menginstruksikan pasien akan mengerti dan akan
pembatasan aktifitas mengikuti istruksi dari
Pukul 11.00 6. Menginstruksikan pasien dan perawat
keluarga akan tanda-tanda - Pasien tidak menolak
perdarahan dan tindakan yang saat diberi obat
tepat ( yaitu memberi tahu O:
60

perawat ) bila perdarahan lebih - BAB berwarna


lanjut terjadi. kecoklatan
Pukul 12.06 7. Memeriksa perdarahan dari - Pteki (+), gusi berdarah
selaput lendir, memar setelah (-)
benturan minimal, dan adanya - Trombosit 108.000,
peteki. hematocrit 39
Pukul 13.00 8. Mempertahan kepatenan akses - Infus tidak ada tanda-
IV tanda phlebitis
A: status sirkulasi 4 (ringan)
P: Intervensi dihentika,
pasien pulang.
4 Kamis, 19 Juli IV S: Midawati
2108 - Pasien mengatakna
pukul 10.46 1. Menentukan status gizi pasien sudah nafsu makan
dan kemampuan untuk - Pasien mengatakan
memenuhi staus gizi sudah makan sedikit
pukul 10. 50 2. Mengidentifikasi alergi pada tapi sering
pukul 10.59 makanan - pasien mengatakan
3. Menganjurkan pasien makan lingkungan sudah
sedikit tapi sering nyaman
pukul 11.29 4. Menciptakan lingkungan yang O:
optimal saat mengkonsumsi - Pasien tampak sudah
makanan ( bersih dan bebas dari nafsu makan
bau) - Pasein tampak hanya
pukul 12.03 5. Menganjurkan pada pasien menghabiskan 1 porsi
makan sambil duduk makanan
pukul 12.05 6. memastikan makanan disajikan - Pasien tampak rileks
dalam bentuk yang menari A: Status Gizi 4 (ringan)
pukul 12.10 7. Menganjurkan keluarga P: Intervensi dihentikan,
membawa makanan kesukaan pasien pulang
pasientawarkan makanan ringan
pukul 12.20 yang padat gizi
8. Memoniror terjadinya
penurunan berat badan
BAB V

PEMBAHASAN

Bab ini penulis akan membahas tentang ‘’Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Dengan Dengue Hemoragic Fever (DHF) di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam
RSUD Mukomuko tahun 2018’’. Dalam melakukan asuhan keperawatan telah
diterapkan proses keperawatan sesuai teori yang ada, dimana proses keperawatan
yang meliputi pengkajian, analisa data, diagnosa, intervensi, implemetasi dan
evaluasi. Prinsip pada pembahasan ini akan memfokuskan pada kebutuhan dasar
manusia didalam asuhan keperawatan, penulis akan membahas diagnosa
keperawatan utama dengan alasan paling aktual karena harus terlebih dahulu di
tangani.

A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses pengumpulan datayang sistematis dari berbagai
sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien
(Nursalam, 2011). Sumber data didapatkan dari klien, keluarga klien, teman
terdekat, anggota tim perawatan kesehatan, catatan perkembangan kesehatan,
pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan diagnostik dan laboratorium (Potter,
2015)
Klien Tn W datang ke rumah sakit dengan keluhan badannya panas,
BAB kehitaman, lemas, bintik-bintik merah diseluruh tubuh, pusing, klien
mengatakan mual, kadang-kadang muntah sedikit, serta kurang nafsu makan.
Tn W didiagnosa DHF.Gejala yang dialami Tn W D sama dengan tanda dan
gejala menurut Soedarto, 2005, yaitu nyeri emam, perdarahan pada hari ke d2
atau 3 (ptekie, mimisan, gusi berdarah, b.a.b hitam), hepatomegaly, renjatan
yang biasanya timbul pada hari ke 3.
Hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan pemeriksaan hematologi
hematokrit 43%, leukosit 9000 mm3, trombosit 58.000/mm3, GDS 86 mg/dl.

61
62

Hal ini sesuai menurut (WHO, 2007) yaitu hasil pemeriksaan laboratorium
didapat trombosit kurang dari 100.000 mm3 yaitu 58.000 mm3 dengan nilai
normal 150.000-400.000 mm3.
Pada pengkajian ditemukan pasien mengeluh badannya panas, BAB
kehitaman, lemas, bintik-bintik merah diseluruh tubuh, pusing, klien
mengatakan mual, kadang-kadang muntah sedikit, serta kurang nafsu makan.
Pada pengkajian Tn W secara subyektif mengeluh demam, pasien
mengatakan mual dan kadang-kadang muntah serta nafsu makan yang kurang,
pasien mengatakan lemas, BAB kehitaman, dan muncul bintil-bintik merah di
tubuh. Didapat data objektif yaitu pasien tampak gelisah, suhu tubuh pasien
39 c pasien tampak mual, mukosa bibir kering, tampak bintik-bintik merah di
seluruh tubuh, BAB tampak kehitaman, pasien tampak pucat, pasien tampak
berbaring ditempat tidur, pasien tampak hanya menghabiskan ½ porsi
makanan.
B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan merupakan pernyataan respon aktual atau
potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawat mempunyai izin dan
berkompeten untuk mengatasinya (Potter, 2015). Dari hasil pengkajian yang
dilakukan penulis, penulis mengangkat lima diagnosa yaitu hipertermia
berhubungan dengan proses infeksi virus, defisit volume cairan berhubungan
dengan output yang berlebihan, resiko perdarahan berhubungan dengan
trombositopenia, defisit nutrisi berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
Berdasarkan hal tersebut ada satu diagnosa yang tidak ditemukan pada
klien di lapangan tetapi terdapat diteori yaitu diagnosa intoleransi aktivitas
berhubungan dengan kelemahan fisik dimana tidak didapatkan data intoleransi
aktifitas pada klien yang meliputi : tidak mampu beraktifitas secara mandiri
dan menurunnya kekuatan otot.
63

C. Perencanaan

Intervensi merupakan bagian dari proses keperawatan yang meliputi


tujuan perawatan, penetapan, kriteria hasil, penetapan rencana keperawatan,
akan diberikan kepada klien untuk memecahkan masalah yang dialami klien
serta rasional dari masing-masing rencana tindakan yang akan diberikan,
untuk setiap diagnosa keperawatan yang telah diidentifikasi, perawatan
mengembangkan rencana keperawatan untuk kebutuhan klien (potter,
2016). Dalam teori intervensi dituliskan sesuai dengan rencana dan kriteria
hasil berdasarkan nursing intervension classification (NIC) dan nursing
outcome calasification (NIC).

Pada kasus Tn W penulis melakukan rencana tindakan keperawatan


selama 3x24 jam. Penulis berencana mengatasi defisit volume cairan
terlebih dahulu karena defisit volume cairan tidak dapat diatasi dalam waktu
yang singkat dan perlu penanganan terlebih dahulu karena jika tidak
ditangani dengan segera defisit volume cairan dapat menyebabkan
dehidrasi, syok hingga penurunan kesadaran dan kriteria hasil yang
dituliskan penulis yaitu intake output seimbang, membrane mukosa lembab,
turgor elastis, tidak ada tanda-tanda dehidrasi, kebutuhan cairan terpenuhi.

Rencana tindakan untuk diagnosa pertama untuk memenuhi


kebutuhan cairan tubuh yaitu memonitor status hidrasi ( missal, membrane
mukosa lembab, denyut nadi adekuat, dan tekanan darah osmotic ), menjaga
intake / asupan yang akurat dan catat output (pasien), memonitor tanda-
tanda vital, meningkatkan asupan oral ( misal, memberikan sedotan,
menawarkan cairan diantara waktu makan ) yang sesuai, menganjurkan
pasien unutk minum 6-8 gelas per hari, mendukung pasien dan keluarga
untuk membatu dalam pemberian makan dan minuman dengan baik,
mengobservasi tetesan infus, memberikan terapi IV, seperti yang
ditentukan.
64

Diagnosa kedua untuk mengurangi demam yang dirasakan oleh


klien rencana tindakan yang dilakukan adalah monitor suhu dan warna kulit
klien, monitor tanda-tanda vital sesering mungkin, anjurkan pasien banyak
minum untuk mencegah dehidrasi, anjurkan klien memakai pakaian yang
tipis dan menyerap keringat, anjurkan pasien banyak minum, tingkatkan
sirkulasi udara dengan membatasi jumlah pengunjung, ajarkan keluarga
pasien untuk melakukan kompres hangat pasa lipatan axilla dan paha,
anjurkan pasien untuk istirahat dengan baik, berikan antipiretik untuk
menurunkan panas tubuh.
Rencana tindakan untuk diagnosa ketiga untuk mencegah
perdarahan yaitu monitor pasien akan perdarahan secara ketat, monitor
jumlah dan sifat kehilangan darah, monitor tanda-tanda vital, Perhatikan
kadar trombosit dan hemoglobin/hematocrit, monitor status cairan,
termasuk asupan (intake) dan haluaran (output), instruksikan pasien akan
pembatasan aktifitas, instrukdikan pasien dan keluarga akan tanda-tanda
perdarahan dan tindakan yang tepat ( yaitu memberi tahu perawat ) bila
perdarahan lebih lanjut terjadi., periksa perdarahan dari selaput lendir,
memar setelah benturan minimal, dan adanya peteki, pertahan kepatenan
akses IV.
Rencana tindakan pada diagnosa ke empat untuk mengurangi mual
dan menambah nafsu makan yaitu dengan mengkaji status gizi pasien,
anjurkan makan sedikit tapi sering, monitor adanya penurunan berat badan.
D. Implementasi
Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan, yang
merupakan kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan dari hasil yang diperkirakan dari asuhan
keperawatan dilakukan dan diselesaikan (Potter, 2006).
Implementasi pada Tn W dapat dilakukan penulis sesuai dengan
rencana tindakan keperawatan, dan ditunjang dengan melakukan tindakan
keperawatan penulis tidak mengalami kesulitan karena klien koperatif, tidak
ada rencana keperawatan yang dilakukan penulis di luar rencana tindakan
65

keperawatan yang ada diteori, penulis melakukan implementasi dengan


rencana yang telah direncanakan sebelumnya untuk memenuhi kriteria
hasil. Setelah melakukan tindakan keperawatan selama 3 hari, penulis
melakukan implementasi dan mengevaluasi keadaan klien setiap hari dan
hasilnya tidak ada tanda-tanda dehidrasi, kebutuhan cairan terpenuhi, suhu
tubuh turun 37,2˚C, turgor elastis, membrane mukosa lembab, BAB
kecoklatan, bintik-bintik merah sudah mulai menghitam, mual dan mutah
tidak lagi dirasakan pasien nafsu makan klien meningkat. Penulis tidak
dapat melakukan implementasi lebih lanjut dikarenaan pada tanggal 19 Juli
2018 pukul 15.00 wib klien pulang.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan dan merupakan
tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang
menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan
keperawatan, pelaksanaan tindakan keperawatan sudah berhasil dicapai
(Hutahaean, 2010).
Pada hari ketiga masalah defisit volume cairan berhubungan dengan
output yang berlebihan teratasi dengan kriteria hasil dehidrasi tidak ada,
turgor elastis, membran mukosa lembab, intake output seimbang. Masalah
hipertermia behubungan dengan proses infeksi virus dapat teratasi dengan
kriteria hasil peningkatan suhu kulit hipertermia teratasi dengan suhu 37,2
C, dehidrasi tidak ada, berkeringat saat panas tidak ada.. Masalah resiko
perdarahan berhubungan dengan trombositopenia teratasi dengan kriteria
hasil trombosit meningkat, tidak ada tanda-tanda perdarahan ( petekie, b.a.b
hitam), tanda-tanda vital dalam batas normal. Masalah defisit nutrisi
berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia dapat teratasi dengan kriteria
asupan gizi dan keinginan untuk makan yang adekuat, mual tidak ada,
muntah tidak ada.
BAB VI
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Pengkajian yang dilakukan pada pasien didapatkan data subyektif dan
obyektif. Dari data subyektif pasien mengatakan demam, lemas, pusing,
pasien mengeluh mual dan muntah nafsu makan berkurang, BAB
kehitaman, ada bintik-bintik merah di seluruh tubuh.
Data obyektif yang didapat adalah pasien tampak lemah, suhu tubuh 39
C, turgor jelek, membrane mukosa kering, BAB tampak kehitaman,
tampak binitk-bintik merah di seluruh tubuh, pasien tampak hanya
menghabiskan ½ porsi makanan, pasien tampak mual dan muntah
2. Diagnosa keperawatan utama yang muncul saat dilakukan pengkajian
adalah hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virust, defisit
volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan, risiko
perdarahan berhubungan dengan trombositopenia, defisit nutrisi
berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia
3. Intervensi keperawatan dibuat sesuai keaadaan, sarana dan prasarana
yang tersedia, dalam merencanakan tindakan keperawatan penulis
mengkombinasikan tindakan mandiri, kolaborasi serta penyuluhan pada
keluarga dan dari ketiga gabungan tindakan keperawatan diharapkan
dapat efektif dalam menangani masalah klien dan mencegah komplikasi
penyakit maupun komplikasi tindakan yang dilakukan.
4. Pada saat impelemtasi keperawatan semua intervensi keperawatan yang
ada pada kasus dapat dimplementasikan, hal ini disebabkan karena klien
dan keluarga koferatif pada saat implementasi dilakukan,
Implementasi pada Tn W dapat dilakukan penulis sesuai dengan rencana
tindakan keperawatan, dan ditunjang dengan melakukan tindakan
keperawatan penulis tidak mengalami kesulitan karena klien koperatif,
tidak ada rencana keperawatan yang dilakukan penulis di luar rencana
tindakan keperawatan yang ada diteori, penulis melakukan
implementasi dengan rencana yang telah direncanakan sebelumnya

66
67

untuk memenuhi kriteria hasil. Setelah melakukan tindakan


keperawatan selama 3 hari, penulis melakukan implementasi dan
mengevaluasi keadaan klien setiap hari dan hasilnya suhu tubuh turun
37,2˚C, turgor elastis, membrane mukosa lembab, BAB kecoklatan,
bintik-bintik merah sudah mulai menghitam, mual dan mutah tidak lagi
dirasakan pasien nafsu makan klien meningkat. Penulis tidak dapat
melakukan implementasi lebih lanjut dikarenaan pada tanggal 19 Juli
2018 pukul 15.00 wib klien pulang.
5. Pada saat evaluasi keperawatan hari ketiga masalah hipertermia
behubungan dengan proses infeksi virus dapat teratasi dengan kriteria
hasil peningkatan suhu kulit hipertermia teratasi dengan suhu 37,2 C,
dehidrasi tidak ada, berkeringat saat panas tidak ada. Masalah defisit
volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan teratasi
dengan kriteria hasil dehidrasi tidak ada, turgor elastis, membran
mukosa lembab, intake output seimbang. Masalah resiko perdarahan
berhubungan dengan trombositopenia teratasi dengan kriteria hasil
trombosit meningkat, tidak ada tanda-tanda perdarahan ( petekie, b.a.b
hitam), tanda-tanda vital dalam batas normal. Masalah defisit nutrisi
berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia dapat teratasi dengan
kriteria asupan gizi dan keinginan untuk makan yang adekuat, mual
tidak ada, muntah tidak ada.
B. SARAN
1. Bagi Pasien
Diharapkan sebagai informasi bagi pasien untuk mengetahui tetang
penyakit yang dideritanya yaitu DHF
2. Bagi Perawat
Digunakan sebagai bahan acuan atau bahan pembelajar agar dapat
memahami dan menerapkan asuhan keperawatan secara nyata pada
klien dengan DHF.
68

3. Bagi Institusi Pendidikan


Institusi pendidikan harus dapat meningkatkan mutu pelayanan
pendidikan yang lebih berkualitas dan professional, guna terciptanya
perawat yang professional, terampil, cekatan, dan handal dalam
memberikan asuhan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek.2013.Nursing Intervensions Classification (NIC).Jakarta: EGC

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2004). Sistem Kesehatan. Jakarta

Departemen Kesehatan RI. 2008. Peta Kesehatan Indonesia Tahun 2007. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.

Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu, 2017. Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu


Tahun 2016, Bengkulu.

Effendy, Christianti. 2007. Perawatan Pasien DHF. Volume 3. (terjemahan).


Jakarta: EGC

Hidayat,A. Aziz, Alimul. 2008. Tindakan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2,


(terjemahan). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Hindra, Satari. 2004. Demam Berdarah. Jakarta : Puspa Swara

Jaenisch, T., Tam, D. T., Kieu, N. T., Ngoc, T. V., Nam, N. T., Kinh, N. V., et al.
2016. Clinical Evaluation Of Dengue And Identification Of Risk Factors For
Severe Disease: Protocol For A Multicentre Study in 8 Countries. BMC
Infectious Diseases , 1-11.

Judith,M. 2012. Buku Diagnosa Keperawatan dengan Diagnosa NANDA,


Intervensi NIC. dan Kriteria Hasil NOC. Edisi 9. Jakarta: EGC.

Junaidi. 2007. Diagnosis Terapi Pasien DHF. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.

Kozier, B., Karyuni, P. E., & Widiarti, D. (2010). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan: Konsep, Proses, & Praktik. Edisi 7 Volume 2. Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arif & Suprohaita. 2000. Kapita Slekta Kedokteran. Jilid


II. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius
.
Moorhead, S.2013.Nursing Outcomes Classification (NOC): Measurement
of Health Outcomes.5th Edition. Missouri: Elsevier Saunder

Mubarak. 2009. Perawatan Pasien DHF. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran


EGC.

Nursalam. 2006. Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan


Praktik. Jakarta : Salemba Medika.

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Medi Action.

69
70

Price & Wilson. 2007. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Jakarta


: EGC

Prasetio, J. N.2015. Potential Red Guava Juice in Patients With Dengue


Haemorrhagic Fever. J. Majority volume 4 Nomor 2 , 25-29.

Soedarto. 2005. Perawatan Medikal Bedah. Volume I.(terjemahan). Bandung:


Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan

Soemarno. 2007. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua. Jakarta: Penerbit FKUI.

Soedarmo, Soemarmo Sunaryo Poorwo. 2005. Demam Berdarah Pada Anak.


Jakarta: Universitas Indonesia

Soedarto.2012. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Sagung Seto.

Suprajitno. 2007. Asuhan Keperawatan pada klien dengan DHF. Jakarta: EGC.

WHO.2016. Demam Berdarah Dengue. Edisi 2. Jakarta: EGC.

Yip, V. C.-H., Sanjay, S., & Koh, Y. T.2012. Ophthalmic Complicatios Of Dengue
Fever: A Systematic Review. Ophthalmol Ther , 1-19.