Anda di halaman 1dari 25

PEMISAHAN PANGEA DAN TERBENTUKNYA KEPULAUAN

INDONESIA
MAKALAH
Disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Evolusi
Dosen Pengampu :
Dra. Ammi Syulasmi, MS.
Prof. Dr. Fransisca Sudargo, M.Pd

Oleh:
Kelompok 3
Biologi C 2016

Faiz Rosyad 1606847


Noviana Putri 1602438
Nurfazri Oktavia S 1601227

PROGRAM STUDI BIOLOGI


DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam sejarah perkembangan planet bumi sekitar 65 juta tahun lalu,
Laurasia merupakan moyang benua-benua yang saat ini letaknya di sebelah
utara ekuator (belahan bumi utara), meliputi Eurasia, Amerika Utara, dan pulau-
pulau kecil di sekitarnya. Adapun Gondwana merupakan moyang kepada
benua-benua di belahan bumi selatan, meliputi Amerika Selatan, Afrika, Sub
Benua India, Australia, dan Antartika, hingga terbentuklah benua-benua yang
kita saksikan saat ini. Kerak bumi atau lapisan bumi bagian atas, pada dasarnya
terdiri atas kerak samudera dan kerak benua. Kedua kerak ini bukanlah sesuatu
yang kaku dan diam, tetapi terus bergerak aktif mengalami pergeseran hingga
saat ini.
Teori Pangea dan Gondwana adalah sebuah teori yang menyatakan
bahwa jutaan tahun yang lampau, semua benua bergabung dalam satu daratan
besar yang disebut Pangea. Kemudian, karena suatu alasan yang masih belum
diketahui pasti, benua-benua tersebut pecah dan mulai hanyut dalam arah yang
berlawanan. Ternyata sejak zaman dulu, permukaan bumi yang diam ini telah
mengalami perjalanan atau pergeseran yang jauh dari bentuk asalnya. Di antara
para ilmuwan yang memberikan gagasan tentang adanya pergeseran di bumi,
yaitu Antonio Snidar-Pellegrini yang mengamati benua-benua Afrika dan
Amerika Selatan merupakan benua yang pernah bersatu. Seorang ahli ilmu
cuaca dari Jerman yang bernama Alfred Wegener (1912), dalam teorinya yang
terkenal yaitu teori pengapungan benua (Continental Drift Theory)
mengemukakan bahwa sekitar 225 juta tahun lalu, dahulu bumi baru ada satu
benua dan samudera yang maha luas. Benua raksasa ini dinamakan Pangea,
sedangkan kawasan samudera yang mengapitnya dinamakan Panthalassa.
Sedikit demi sedikit Pangea mengalami retakan-retakan dan pecah.
Sekitar beratus juta tahun yang lalu benua raksasa tersebut pecah menjadi dua,
yaitu pecahan benua di sebelah utara dinamakan Laurasia dan di bagian selatan
dinamakan Gondwana. Baik Laurasia maupun Gondwana kemudian terpecah-
pecah lagi menjadi daratan yang lebih kecil dan bergerak secara tidak beraturan
dengan kecepatan gerak antara 1-10 cm pertahun.
1.2 Tujuan
1. Menganalisis masa Pangea serta pemisahan Pangea menjadi Laurasia dan
Gondwana;
2. Menganalisis sejarah terbentuknya Kepulauan Indonesia;
3. Menganalisis proses terbentuknya Kepulauan Indonesia;
4. Menganalisis hubungan biogeografi dengan evolusi.
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses pemisahan Pangea menjadi Laurasia dan Gondwana?
2. Bagaimana sejarah terbentuknya Kepulauan Indonesia?
3. Bagaimana proses terbentuknya Kepulauan Indonesia?
4. Bagaimana hubungan biogeografi dengan evolusi?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Evolusi
Evolusi berasal dari bahasa Latin “Evolvere” yang berarti “membuka
gulungan”. Evolusi adalah suatu teori yang mengemukakan hipotesis tentang
perjalanan perkembangan suatu makhluk hidup sejak sel pertama hingga
menjadi bentuk makhluk hidup yang sekarang. Setiap jenis makhluk hidup yang
berubah cirinya akibat pengaruh seleksi alam dan perubahan yang sifatnya
berbeda dengan induknya dan diturunkan disebut mengalami evolusi. Teori
evolusi ditunjang adanya suatu fakta bahwa makhluk hidup mempunyai variasi
dalam keturunannya, adanya homology di antara golongan makhluk hidup dan
makhluk hidup dapat mengalami mutasi gen atau mutasi kromosom, dan
lingkungan selalu memberikan seleksi terhadap makhluk hidup. (Ashar, 2013)

B. Sejarah Terbentuknya Bumi


Bumi pada awalnya mengandung sedikit sekali oksigen. Oksigen di Bumi
terutama berasal dari tanaman-tanaman yang menggunakan karbon dioksida
untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen. Dengan semakin banyaknya
tanaman yang terbentuk di Bumi maka jumlah oksigen menjadi semakin
banyak.

Pada awalnya hanya terbentuk satu benua besar yang disebut Pangaea dan
dikelilingi satu samudera Panthalassa. Sekitar 200 juta tahun yang lalu benua ini
terbelah menjadi dua yakni Gondwanaland dan Laurasia. Gondwanaland kemudian
terbelah membentuk benua afrika, antartika, australia, Amerika Selatan, dan sub
benua India. Sedangkan Laurasia terbelah menjadi Eurasia dan Amerika Utara.
Pada saat benua ini terbelah-belah beberapa samudera baru muncul di sela-selanya.
Diperlukan waktu berjuta-juta tahun untuk membentuk posisi daratan yang seperti
sekarang ini.
Bumi terdiri dari beberapa lapisan, lapisan luar Bumi disebut Lithosphere
dan terdiri dari 30 lapisan. Masing-masing lapisan terdiri dari bagian yang keras
dan mantel bagian atas, lapisan keras ini bergerak di atas sebuah lapisan batu yang
sangat panas di dalam lapisan mantel yang disebut asthenosphere. Pada saat lapisan-
lapisan ini bergerak mereka juga membawa benua-benua dan lantai dasar samudera
bergerak bersamanya.
Lapisan-lapisan Bumi ini bergerak dengan tiga cara; pertama saling
menjauh, kedua saling mendekat dan ketiga saling melewati. Jika lapisan Bumi
bergerak saling menjauh di suatu tempat, maka mereka pasti bergerak saling
mendekat di tempat yang lain. (Merbabu, 2017)
Nama Pangea atau Pangaea diambil dari bahasa Yunani Kuno, pan yang
berarti keseluruhan dan gaia yang berarti daratan. Ilmuwan yang pertama kali
mencetuskan teori adanya benua Pangea adalah Alfred Wegener yang juga
mengemukakan teori pergeseran benua di tahun 1912. Pangea adalah benua terbesar
yang pernah ada. Benua ini terdiri dari seluruh daratan yang ada di bumi dan
terbentuk pada zaman Paleozoic hingga Mesozoic.
Benua Pangea terbentuk melalui tahapan proses selama ratusan juta tahun.
Permulaan pembentukannya terjadi pada 480 juta tahun yang lalu saat benua
Laurentia bergabung dengan benua-benua kecil membentuk Euramerica. Benua ini
terdiri dari benua Amerika utara, Asia, dan Eropa saat ini.
Sebelum Pangea, Bumi hanya diisi oleh dua benua yaitu Euramerica dan
Gondwana. Ketika Pangea mengalami pergeseran, ia membentuk dua benua besar
Laurasia dan Gondwana yang tidak bertahan lama kemudian bergeser kembali
menjadi beberapa lempengan. Lempengan itu terus bergeser hingga terbentuk
benua dan kepulauan seperti saat ini. (Putri, 2019)
BAB III

PEMBAHASAN

A. Pemisahan Pangea menjadi Laurasia dan Gondwana


Sekitar 250 juta tahun yang lalu (jtl), tujuh benua yang ada pada saat ini
(Asia, Australia, Afrika, Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan
Antartika) berada dalam satu benua besar yang disebut Pangea atau Pangaea
dan dikelilingi oleh satu samudera besar yang disebut Samudera Phantalassa.
Kata “Pangea” berasal dari bahasa Yunani Kuno pan (semua, seluruh) dan gaia
(daratan, bumi).
Kata “Pangea” muncul pertama kali dalam sebuah buku berjudul Die
Entstehung der Kontinente und Ozeane (Asal Mula Benua dan Samudera) edisi
tahun 1920 oleh Alfred Wegner, seorang ilmuwan geofisika asal Jerman. Dalam
teorinya tentang “Pergeseran / Perpindahan Benua” (Continental Drift), beliau
berpendapat bahwa pada awalnya semua benua yang ada saat ini berasal dari
sebuah benua yang sangat besar, yang dikenal dengan Super Continent (Benua
Super).

Gambar 1. Pangea (Anonim, Tanpa tahun)

Namun, adanya arus konveksi di bagian mantel menyebabkan lapisan kerak


bumi di atasnya bergerak secara perlahan. Hal ini menyebabkan bagian kerak
tersebut terpecah-pecah dan membentuk suatu lempeng atau kerak yang lebih kecil
dan menyebabkan Pangea terpisah menjadi beberapa bagian, seperti Laurasia dan
Gondwana. Pergerakan lempeng atau kerak bumi juga menyebabkan gempa bumi;
pembentukan gunung berapi dan/atau pegunungan; dan pembentukan kepulauan
Gambar 2. Lapisan-lapisan
Bumi (Anonim, Tanpa tahun)

Proses pemecahan Pangea menjadi Laurasia dan Gondwana dimulai sekitar


200 juta sampai sekitar 135 juta tahun yang lalu. Para ilmuwan percaya, bahwa
pecahnya Pangea disebabkan oleh adanya arus konveksi di mantel yang
menggerakan kerak bumi di atasnya dan akhirnya memisahkan Laurasia dan
Gondwana. Laurasia terdiri dari Benua Amerika Utara, Asia dan Eropa, serta pulau
Greenland yang ada saat ini. Sementara, Gondwana terdiri dari Benua Amerika
Selatan, Australia, Afrika, Antartika, serta India dan pulau Madagaskar yang ada
saat ini.

Gambar 3. Laurasia dan Gondwana 180 Gambar 4. Laurasia dan Gondwana 135
jtl (Anonim, Tanpa tahun) jtl (Anonim, Tanpa tahun)

B. Proses Pembentukkan Daratan


Daratan bisa berubah karena adanya suatu gaya. Ada 2 jenis gaya yaitu
Gaya Endogen, yaitu suatu gaya yang disebabkan oleh aktivitas dari dalam
bumi dan Gaya Eksogen, yaitu gaya yang disebabkan oleh aktivitas dari luar
bumi. Gaya Endogen dapat membentuk daratan dengan cara:
 Tumbukkan antara lempeng benua dengan lempeng samudera
menyebabkan lempeng samudera masuk ke lempeng benua, mengakibatkan
lempeng benua tertekan ke arah atas dan dapat menghasilkan pegunungan
atau membentuk pulau-pulau gunung berapi
 Adanya letusan gunung berapi dapat memperluas daratan, yaitu dengan cara
magma yang keluar dari gunung berapi akan mrmgeras dan membentuj
daratan baru.
 Adanya patahan atau sesar naik di dasar laut juga akan membentuk
pegunungan di dasar laut dan akan membentuk pulau-pulau,

Sementara gaya Eksogen dapat merubah daratan dengan cara:

 Erosi.adanya erosi mnyebabkan rupa bumi di suatu daerah menjadi berubah


karena tertiup angin, terbawa oleh air, terkikis oleh gletser, dsb.
 Pelapukan. Adanya pelapukan oleh suhu, air, angin, dan tumbuhan
menyebabkan batuan tereduksi menjadi kerikil, tanah, atau pasir
 Sedimentasi. Air sungai membawa serta sedimen bersamanya, dan akan
menumpuk di suatu tempat. Jika berkumpul di bagian muara, akan
membentuk delta.

Gambar 5. Gaya Endogen dan Eksogen


(Anonim, Tanpa tahun)
C. Sejarah Terbentuknya Kepulauan Indonesia
Ada beberaoa teori tentang terbentuknya Kepulauan Indonesia, yaitu :
1) Indonesia muncul dari dasar laut (1960-an)
Indonesia berasal dari paparan Sunda yang bersatu dengan Asia dan paparan
Sahul yang bersatu dengan Australia. Teori ini ditunjang oleh adanya jenis
Flora/Fauna Asia dan Australia (Sudargo, 2019). Secara geologi, Paparan
Sunda adalah landas kontinen perpanjangan lempeng benua Eurasia di Asia
Tenggara. Massa daratan utama antara lain Semenanjung
Malaya, Sumatera, Jawa, Madura, Bali, dan pulau-pulau kecil di sekitarya dan
laut di sekitarnya, seperti Laut Jawa, Selat Malaka, Selat Karimata, Teluk Siam
dan bagian selatan Laut Cina Selatan.
Bukti bahwa pulau-pulau Sunda Besar pernah bersatu dengan benua Asia
adalah sebaran jenis mamalia Asia seperti beberapa
jenis kera, gajah, macan dan harimau yang ditemukan di benua Asia, Sumatera,
Jawa, dan Bali; serta adanya Orangutan patut di Sumatera dan Kalimantan.
Paparan ini terbentuk dampak aktivitas vulkanik beribu-ribu tahun dan erosi
massa benua Asia, serta terbentuknya konsolidasi runtuhan batu di pesisir
seiring naik dan turunnya permukaan laut. Bukti pernah adanya sistem sungai
yang mempersatukan pulau-pulau Sunda Besar dan benua Asia adalah
ditemukannya bebagai spesies ikan air tawar Asia Tenggara di bermacam pulau
yang sekarang terpisah oleh laut, misalnya ikan mas, gurame, dan ikan gabus.
(Anonim, 2019)
Paparan Sahul adalah bagian dari lempeng landas kontinen
benua Sahul (benua Australia-Papua) yang terletak di lepas pantai utara
Australia dan lautan selatan pulau Papua. Paparan Sahul adalah dataran terbuka
di atas permukaan laut.
Bukti tepi pantai pada masa ini ditandai dengan lokasi yang sekarang
terletak pada kedalaman antara 100 sampai 140 meter di bawah permukaan laut.
Paparan Sahul juga dinamakan Paparan Arafura, membentuk jembatan daratan
antara Australia dengan pulau Papua, serta Kepulauan Aru. Kawasan ini adalah
habitat penyebaran marsupial (hewan mamalia berkantung), burung darat yang
tak mampu terbang seperti emu dan kasuari, serta ikan air tawar yang sama
jenisnya.
Garis Lydekker adalah garis biogeografi yang ditarik di tepi perbatasan
Paparan Sahul dimana landasan laut turun curam di kawasan
biogeografi Wallacea. Wallacea terletak antara celah yang terbentuk antara
Paparan Sahul dengan Paparan Sunda, bagian dari paparan benua Asia
Tenggara. (Anonim, 2019)
2. Indonesia sebagian berasal dari Gondwana dan sebagian berasal dari Laurasia.
Sulawesi merupakan daerah peralihan (1980-an)
Secara zoogeografi, Indonesia dipisahkan oleh garis Wallace, garis ini
memisahkan bagian barat (Oriental region; Indo-malayan sub region) dan
bagian timur (Australian region; Austro-malayan subregion). garis ini terletak
antara pulau Bali dan pulau Lombok di selatan dan antara pulau Borneo dan
pulau Sulawesi di Utara.

Rodinia (1200 Mya)

Pada 1200 juta tahun lalu, seluruh daratan yang ada di bumi tergabung
menjadi super benua yang dinamakan dengan Rodinia. Rodinia berada pada Era
Neoproterozoic. Rodinia tersusun dari beberapa Craton; Craton Amerika utara,
pada bagian tenggara craton Eropa Timur, craton Amazonia dan craton Afrika
barat. Pada bagian selatan, Rio plato dan San Fransisco, sedangkan pada bagian
barat daya; craton Kongo dan craton Kalahari. Pada bagian timur laut; craton
Australia, craton India dan craton Antartica. Sedangkan untuk craton Siberia, craton
china utara dan selatan, para ahli memiliki perbedaan pendapat untuk rekonstruksi
craton ini.
Gondwana dan Laurasia (650 Mya)

Karena pergerakan kerak bumi, Rodinia terpisah menjadi dua super benua
yaitu Gondwana dan laurasia. Bagian-bagian yang akan membentuk Indonesia
termasuk ke dalam super benua Gondwana, juga Australia. Pada masa ini pulau
Papua sudah terpisah dari Australia. Sedangkan pulau-pulau lainnya dari Indonesia
masih tergabug dalam craton China Utara.

Pangea (306 Mya)

Pangea adalah super benua yang terbentuk dari bersatunya Gondwana dan
Laurasia. pada era Paleozoic, era setelah Neoproteozoic. Saya ingin membahas
dalam tulisan terpisah mengenai perbedaan Rodinia dan Pangea. Sekitar tahun ini
beberapa pulau dari Indonesia sudah mulai terpisah dari craton China Utara, para
ahli menyebutnya dengan Malaya. Pada era ini craton China Utara dan craton China
Selatan masih terpisah.
Periode Cretaceous (94 Mya)

Periode Cretaceous termasuk ke dalam Era Mesozoic, pada periode ini


China utara dan China selatan sedah menyatu dan mulai membentuk Benua Asia.
Begitu juga dengan Malaya, juga bersatu ke dalam Benua ini.

Periode Tertiary (50 Mya)

Periode ini juga termasuk ke dalam Era Cenozoic, pada periode ini
Indonesia mulai terbentuk. Pulau Sumatra, Jawa dan Borneo masih terpisah jauh
dengan pulau Papua. Bagaimana dengan Sulawesi, berdasarkan pendapat para ahli,
Pulau Sulawesi terbentuk dari pulau-pulau kecil bagian dari daratan Asia, daratan
Australia dan pulau-pulau kecil yang awalnya berada pada samudra Pasifik, yang
disebabkan oleh pergerakan kulit bumi, pulau-pulau ini kemudian membentuk
Sulawesi.

Pulau-pulau cikal bakal dari kepulauan Indonesia mulai terbentuk sekitar 50


juta tahun lalu (Mya). Pada Periode Quaternary (sekitar 2 juta tahun yang lalu-
sekarang) itulah proses utama pembentukan kepulauan Indonesia. Asal dari pulau-
pulau yang terdapat di Indonesia berbeda-beda. Pulau Papua yang berasal dari
craton Australia dahulunya, dan telah terbentuk beberapa juta tahun lalu, sebelum
terbentuknya pulau lain di Indonesia. Pulau Sumatra, Jawa dan Borneo yang
merupakan bagian dari craton China Utara, yang kemudian akibat pergerakan kulit
bumi membentuk daratan Asia, dan pada Periode Tertiary, pulau Sumatra, Jawa dan
Borneo terpisah. Sedangkan pulau unik Sulawesi yang terbentuk dari gabungan
beberapa daratan Asia, Australia dan beberapa pulau dari Samudara Pasifik,
menyebabkan pulau ini memiliki fauna yang unik dan khas. (Gunawan, 2014)

TEORI ALFRED WEGENER

Alfred Wegener adalah pencetus ide teori Pengapungan Benua yang diajukan

pada tahun 1915 yang menjelaskan bahwa benua-benua di muka bumi ini bergerak

secara perlahan dipermukaan Bumi. Akan tetapi dia tidak dapat menjelaskan

mengenai mekanisme pergerakannya pada saat itu dan sedikitnya bukti-bukti

pendukung sehingga teori ini kurang mendapat tanggapan sampai sekitar tahun

1950 dimana ditemukannya beberapa bukti-bukti yang dapat menjelaskan teori

Pengapungan Benua (Continental Drift). Teori Pergerakan Benua yang

dikemukakan oleh Wegener, masih terdapat kejanggalan dari teori tersebut yaitu

meskipun Wegener mampu menjelaskan pergerakan dari benua awal hingga sampai

pada benua-benua saat ini, dia tidak dapat menjelaskan penyebab utama dari

pergerakan lempeng. Bukti-bukti yang dipaparkan oleh Alfred Wegener,

diantaranya adalah :

1. Kecocokan Benua : Wegener terkesan dengan kemiripan yang dekat antara garis

pantai benua di sisi berlawanan dari Samudera Atlantik, khususnya Amerika

Selatan dan Afrika.

2. Kesamaan Urutan Batuan dan Barisan Pegunungan : Jika benua dalam satu

waktu bergabung, maka batuan dan pegunungan pada waktu yang sama di

lokasi yang berdampingan dan di benua yang berhadapan haruslah cocok.


3. Bukti Glasiasi : Selama Era Paleozoikum Akhir, gletser besar menutupi daerah

benua yang besar dari belahan bumi selatan. Bukti untuk glasiasi ini melingkupi

hingga lapisannya (sedimen yang diendapkan oleh gletser) dan tanda goresan di

batuan dasar hingga bagian bawahnya. Fosil dan batuan sedimen yang berumur

sama dari belahan bumi utara, bagaimanapun, tidak memberikan indikasi

glasiasi. Fosil Tanaman ditemukan di batubara menunjukkan bahwa belahan

bumi utara memiliki iklim tropis selama belahan bumi bagian selatan

mengalami glasiasi.

4. Bukti Fosil : Beberapa bukti yang paling menarik tentang pergeseran benua

berasal dari catatan fosil. Fosil flora Glossopteris ditemukan di Pennsylvania

dan Permian usia kandungan batubara di semua lima benua Gondwana.

Mesosaurus, reptil air tawar yang fosil ditemukan dalam Permian usia batuan di

daerah tertentu dari Brasil dan Afrika Selatan dan tempat lain di dunia. Karena

fisiologi hewan air tawar dan laut sangat berbeda, sulit untuk membayangkan

bagaimana sebuah reptil air tawar bisa berenang menyeberangi Samudera

Atlantik dan menemukan lingkungan air tawar hampir identik dengan habitat

semula. Dan fosil lainnya.

Sepanjang tahun 1960-an, banyak penemuan teknologi yang kemudian

mendorong revisi Hipotesis Apungan Benua ini menjadi Teori Tektonik Lempeng

(Plate Tectonic Theory). Pada teori ini, dijelaskan bahwa permukaan bumi dibentuk

oleh kepingan-kepingan litosfer, yaitu lapisan padat dari kerak bumi dan mantel

bumi bagian atas, yang mengapung di atas astenosfer.

Pergerakan yang dialami benua, juga dipengaruhi oleh pergerakan litosfer

karena kerak benua yang menumpangi litosfer yang berupa lempeng benua yang
terus mengalami pergerakan. Pergerakan lempeng menyebabkan interaksi antar

lempeng yang terjadi pada setiap batas lempeng. Terdapat tiga jenis pergerakan

lempeng, yaitu :

1. Konvergensi : Gerakan saling bertumbukan antarlempeng tektonik.

2. Divergensi : Gerakan saling menjauh antar lempeng tektonik.

3. Sesar Mendatar yaitu gerakan saling bergesekan (berlawanan arah)

antarlempeng tektonik. (Rizqy, 2019)

D. Biogeografi
Biogeografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang pola distribusi
organisme seiring dengan perubahan dan waktu. Studi tentang penyebaran spesies
menunjukkan, spesies-spesies berasal dari suatu tempat, namun selanjutnya
menyebar ke berbagai daerah. Organisme tersebut kemudian mengadakan
diferensiasi menjadi subspesies baru dan spesies yang cocok terhadap daerah yang
ditempatinya. Terdapat beberapa prinsip dasar yang digunakan untuk menjelaskan
peyebaran organisme tersebut, khususnya hewan dan tumbuhan, yaitu:
1. Evolusi
Berkaitan dengan pemisahan Pangea, teori pergeseran benua (Teori
Wegener) dan perubahan pola benua. Menurut teori ”Apungan” dan
”Pergeseran Benua” yang disampaikan oleh Alfred Lothar Wegener (1880-
1930), kurang lebih 265 juta tahun yang lalu, bumi hanya terdiri atas satu benua
besar yang disebut ”Pangaea” dan satu samudera besar ”Panthalassa”, karena
adanya tenaga endogen benua besar itu terpecah membentuk Benua Eurasia di
bagian utara (Amerika Utara, Eropa, Asia bagian utara, dan Asia bagian tengah)
dan Gondwana di bagian selatan (Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, dan
Antartika). Adanya pergeseran benua yang terus berlangsung akibat tenaga
endogen, kurang lebih 20-50 juta tahun yang lalu Afrika dan Asia selatan
bergabung dengan Eurasia, sedang Australia memisahkan diri dengan
Antartika.
Proses pemisahan benua-benua tersebut menyebabkan terpisah pula
flora dan fauna saat itu. Sebagai contoh, para ahli palentologi telah menemukan
fosil reptilia masa Trias di Ghana (Afrika Barat) yang sama persis dengan yang
ditemukan di Brazil. Kedua bagian dunia ini, sekarang dipisahkan oleh lautan
sepanjang 3000 km, merupakan daratan yang menyatu selama awal zaman
Mesozoikum. Pergeseran benua juga menjelaskan banyak mengenai
penyebaran organisme saat ini, seperti mengapa fauna dan flora Australia jauh
berbeda dengan fauna dan flora yang berasal dari bagian dunia yang lain.
Keanekaragaman marsupial (mamalia berkantung) yang sangat tinggi, yang
menjadi peran ekologi analog dengan peran ekologis yang diiisi oleh mamalia
berplasenta pada benua yang lain (Campbell, 2000)
2. Perubahan Iklim
Iklim merupakan faktor utama yang menentukan tipetanah maupun
spesies tumbuhan yang tumbuh di daerah tersebut. Sebaliknya, jenis tumbuhan
yang ada menentukan jenis hewan dan mikroorganisme yang akan menghuni
daerah tersebut. Pada dasarnya iklim tergantung pada matahari.
Matahari bertanggung jawabt idak hanya untuk intensitas cahaya yang tersedia
untak proses fotosintesis, tetapi juga untuk temperatur umumnya.
Suhu dan kelembapan udara berpengaruh terhadap proses
perkembangan fisik flora dan fauna, sedangkan sinar matahari sangat
dibutuhkan oleh tanaman untuk fotosintesis dan metabolisme tubuh bagi
beberapa jenis hewan. Angin sangat berperan dalam proses penyerbukan atau
bahkan menerbangkan beberapa biji-bijian sehingga berpengaruh langsung
terhadap persebaran flora. Kondisi iklim yang berbeda menyebabkan flora dan
fauna berbeda pula. Di daerah tropis sangat kaya akan keanekaragaman flora
dan fauna, karena pada daerah ini cukup mendapatkan sinar matahari dan hujan,
keadaan ini berbeda dengan di daerah gurun. Daerah gurun beriklim kering dan
panas, curah hujan sangat sedikit menyebabkan daerah ini sangat minim jenis
flora dan faunanya. Flora dan fauna yang hidup di daerah gurun mempunyai
daya adaptasi yang khusus agar mampu hidup di daerah tersebut.
3. Daratan
Daratan memiliki peranan yang sangat penting bagi penyebaran hewan
dan tumbuhan. Pola distribusi hewan dan tumbuhan sangat dipengaruhi oleh
kondisi benua di masa lampau. Sebagai contoh, pada masa awal terbentuknya
daratan di Indonesia. Wilayah indonesia bagian barat yang disebut juga Dataran
Sunda masih menyatu dengan Benua Asia, sedangkan Indonesia bagian timur
yang disebut juga Dataran Sahul menyatu dengan Benua Australia. Dataran
Sunda dan Dataran Sahul juga masih berupa daratan yang belum dipisahkan
oleh laut dan selat. Keadaan tersebut menyebabkan keanekaan flora dan fauna
di Indonesia bagian Barat seperti Jawa, Bali Kalimantan, dan Sumatera pada
umumnya menunjukkan kemiripan dengan flora di Benua Asia.
Begitu pula denga flora dan fauna di Indonesia bagian Timur seperti
Irian Jaya dan pulau-pulau disekitarnya pada umumnya mempunyai kemiripan
dengan flora dan fauna di benua Australia. Jadi Indonesiapada masa itu menjadi
jembatan penghubung persebaran hewan dari Asia dan Australia. Kemudian,
pada akhir zaman es, suhu permukaan bumi naik sehingga permukaan air laut
naik kembali. Naiknya permukaan air laut mengakibatkan Jawa terpisah dengan
Benua Asia, kemudian terpisah dari Kalimantan dan terakhir dari Sumatera.
Selanjutnya Sumatera terpisah dari Kalimantan kemudian dari Semenanjung
Malaka dan terakhir Kalimantan terpisah dari Semenanjung Malaka.
A. Persebaran Flora di Permukaan Bumi
a. Bioma Tundra
Bioma tundra mempunyai karakteristik iklim regional yang
sangat ekstrim dengan suhu rata-rata rendah, bersalju, dan mempunyai
musim panas yang pendek. Jenis vegetasi yang tumbuh adalah lumut
yang membentuk suatu hamparan yang luas atau sering disebut sebagai
”hamparan bantalan”. Jenisjenis lumut tersebut yaitu dark red, rumput
kipas, dan lain-lain. Tersebar di kutub utara dan di Pegunungan Alpine.
b. Bioma Taiga atau Hutan Boreal
Bioma taiga terletak di kawasan beriklim subartik dengan iklim
yang sangat dingin dan musim panas yang sangat pendek. Kisaran
temperatur antara suhu rendah dan suhu tinggi sangat besar. Tersebar
di Skandinavia, Rusia Timur, Amerika Utara, dan beberapa di kawasan
Asia Utara. Jenis vegetasi yang mendominasi adalah jenis vegetasi
konifer (tumbuhan berdaun jarum), di antaranya picea, abies, pinus,
dan larix.
c. Bioma Hutan Iklim Sedang
Ciri khas dari bioma hutan iklim sedang adalah warna daun yang
berwarna oranye keemasan. Hal ini disebabkan karena pendeknya hari
sehingga merangsang tanaman menarik klorofil dari daun sehingga
diisi pigment lain. Jenis vegetasi yang tumbuh
adalah quercus (oak), acer (maple), castanea dan lain-lain.Tersebar di
Eropa Barat, Eropa Tengah, Asia Timur (Korea dan Jepang) dan Timur
Laut Amerika. Vegetasi jenis ini hanya dapat ditemui di Benua Eropa
serta Asia Timur, karena vegetasi ini hidup pada kawasan subtropis
dengan iklim semi selama enam bulan serta mengalami musim gugur
saat musim kering sampai musim dingin.
d. Bioma Hutan Hujan Tropis
Hutan hujan merupakan bioma paling kompleks, jumlah dan
jenis vegetasinya sangat banyak dan bervariasi, keadaan itu disebabkan
oleh iklim mikro yang sangat sesuai bagi kehidupan berbagai jenis
tumbuhan. Iklim hutan hujan tropis dicirikan dengan musim hujan yang
panjang, suhu udara, dan kelembapan udara tinggi. Terdapat beberapa
lapisan vegetasi dalam hutan hujan, yaitu sebagai berikut:
1) Lapisan vegetasi yang tingginya mencapai 35-42 m, dan
daunnya merupakan ”kanopi” (payung) bagi vegetasi di
bawahnya.
2) Lapisan tertutup kanopi dengan ketinggian vegetasi berkisar 20-
35 m, pada lapisan ini sinar matahari masih bias menembus.
3) Lapisan tertutup kanopi berkisar 4–20 m, merupakan daerah
kelembapan udara relatif konstan.
4) Lapisan vegetasi dengan ketinggian berkisar 1-4 m.
5) Lapisan vegetasi dengan ketinggian antara 0-1 m, berupa anakan
pohon serta semak belukar.
Jenis vegetasi yang tumbuh dalam hutan hujan tropis di
antaranya Dipterocarpaceae, Pometia spp,
Arecaceae (palem), Mangifera spp, dan Rafflesia spp. Terdapat juga
jenis vegetasi yang khas yaitu epifit (angrek-anggrekan)
dan liana (tumbuhan merambat contohnya adalah rotan). Bioma hutan
hujan tropis tersebar di daerah antara 10º LU dan 10º LS, termasuk di
dalamnya Hutan Amazon (Amerika Tengah), Afrika Barat, Madagaskar
Timur, Asia Selatan (Indonesia dan Malaysia), dan Australia.
e. Bioma Savana (Padang Rumput)
Bioma savana beriklim asosiasi antara iklim tropis basah dan
iklim kering yang terbentang dari kawasan tropika sampai subtropik.
Daerah tropika sampai subtropika dengan curah hujan yang tidak
teratur menyebabkan tanah di daerah tersebut mempunyai tingkat
kesuburan sangat rendah. Vegetasi yang tumbuh adalah rumput-
rumputan, seperti gramineae jenis rumput yang hidup sepanjang tahun
dengan ketinggian rumput mencapai 2,5 m
lebih. Selaingramineae tedapat juga palm savanna, pine
savanna dan acacia savanna. Bioma ini tersebar di Afrika Timur,
Amerika Tengah, Australia, dan Asia Timur.
f. Bioma Gurun
Bioma gurun dicirikan dengan kondisi iklim musim kering yang
sangat ekstrim dengan suhu udara yang tinggi. Bioma gurun ini tersebar
di Amerika Utara yang disebut praire, di Asia disebutsteppa, Amerika
Selatan disebut pampas, dan Afrika Selatan disebut veld. Sesuai
dengan kondisi alamnya, maka tidak semua jenis vegetasi bisa tumbuh
di gurun. Jenis vegetasi yang bisa bertahan hidup di daerah gurun antara
lain adalah kaktus, liliaceae, aloe, kaktus saguora, dan cholla.
B. Persebaran Fauna di Permukaan Bumi
Alfred Russel Wallece pada tahun 1876 membagi persebaran fauna di
dunia dalam beberapa provinsi, yaitu sebagai berikut:

(Ajim, 2016)
a. Provinsi Zoogeografi Paleartic
Provinsi ini meliputi di Siberia, Afrika Utara, dan beberapa
kawasan di Asia Timur. Fauna yang hidup di antaranya harimau siberia,
beruang kutub, beaver, dan rusa.
b. Provinsi Zoogeografi Neartic
Provinsi ini meliputi sebagian besar Amerika Utara dan
Greenland (kutub utara sampai dengan subtropis). Fauna yang hidup di
antaranya antelope, rusa, dan beruang.
c. Provinsi Zoogeografi Neotropical
Provinsi ini meliputi Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan
Mexico. Fauna yang hidup di antaranya primata, kelelawar, rodent,
trenggiling, dan kukang.
d. Provinsi Zoogeografi Ethiopian
Provinsi ini meliputi Afrika dan Madagaskar. Fauna yang hidup
di kawasan ini di antaranya gajah afrika, gorila gunung, jerapah, dan
lain-lain.
e. Provinsi Zoogeografi Oriental
Provinsi ini meliputi India, Cina, Asia Selatan dan Asia
Tenggara. Fauna yang hidup dalam kawasan ini di antaranya harimau
sumatra, tapir malaysia, gajah india, kerbau air, badak, dan lain-lain.
f. Provinsi Zoogeografi Australia
Provinsi ini meliputi Australia, Tasmania, dan sebagian
Indonesia bagian timur. Fauna yang hidup di antaranya kanguru,
plathypus, kuskus, wombat, dan lain-lain.
g. Provinsi Zoogeografi Oceanic
Tersebar di seluruh samudra di dunia, berupa beberapa jenis ikan
dan fauna laut jenis mamalia, seperti anjing laut, lumbalumba, dan ikan
paus.
h. Provinsi Antartik
Provinsi ini mencakup kawasan di kutub Selatan, jenis fauna
yang hidup di daerah ini memiliki bulu lebat untuk menahan dingin
serta memiliki lapisan lemak yang tebal pula. Fauna daerah ini di
antaranya rusa kutub, burung penguin, anjing laut, kelinci kutub, dan
beruang kutub.
C. Persebaran Flora dan Fauna di Indonesia

Kekayaan berbagai jenis flora dan fauna tersebut dipengaruhi oleh


letak geografis Indonesia, kondisi iklim serta sejarah geologis Indonesia.
Persebaran flora dan fauna di Indonesia sangat dipengaruhi sejarah geologi
Indonesia (seperti yang telah dijelaskan di hal 6). Kurang lebih satu juta
tahun yang lalu, Sumatra, Jawa dan Kalimantan menjadi satu dengan Benua
Asia, serta Papua bersatu dengan Benua Australia, sedangkan Sulawesi dan
Kepulauan Nusa Tenggara merupakan pulaupulau yang tidak pernah
bersatu dengan benua/daratan manapun. Posisi Sulawesi yang terisolasi
dalam waktu cukup lama memungkinkan terjadinya evolusi berbagai jenis
spesies yang unik sehingga pulau ini mempunyai tingkat endemisme flora
maupun fauna yang cukup tinggi.
Alfred R.Wallace pada abad ke-19 mengadakan penelitian tentang
kekayaan keanekaragaman hayati di Indonesia. Selanjutnya menetapkan
Sulawesi dan Kepulauan NTT sebagai wilayah khusus (wallace region)
yang dibatasi oleh garis maya yaitu Garis Wallace. Garis ini memisahkan
Sulawesi dan Kepulauan NTT dengan Jawa, Sumatra dan Kalimantan
(pulau-pulau Paparan Sunda) serta Garis Weber yang memisahkan
Sulawesi dan Kepualauan NTT dengan Papua dan Maluku (Paparan Sahul).
Di samping it, seorang peneliti berkebangsaan Jerman bernama Weber,
berdasarkan penelitiannya tentang penyebaran fauna di Indonesia,
menetapkan batas penyebaran hewan dari Australia ke Indonesia bagian
Timur. Garis batas tersebut dinamakan Weber.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Pemisahan Pangea menjadi Laurasia dan Gondwana terjadi sekitar 250 juta
tahun yang lalu, diduga disebabkan karena adanya pegerseran lempeng atau
kerak bumi yang menggerakan kerak bumi diatasnya sehingga memisahkan
Lauransia dan Gondwana.
2. Daratan terbentuk disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adanya gaya
eksogen yang disebabkan oleh aktivitas di luar bumi dan endogen yang
disebabkan oleh aktivitas di dalam bumi. Selain itu, terjadi penurunan suhu
bumi secara sserempak sehingga dapat menyebabkan daratan retak lalu
terpisah-pisah.
3. Terdapat beberapa teori mengenai terbentuknya Kepulauan Indonesia,
diantaranya Indonesia muncul dari dasar laut (1960-an), Indonesia sebagian
besar berasal dari Gondwana dan sebagian berasal dari Laurasia, serta
Indonesia berasal dari Gondwana.
4. Terjadinya evolusi di permukaan bumi mengakibatkan terjadinya
penyebaran hewan dan tumbuhan atau biasa disebut biogeografi. Selain
karena evolusi, terdapat faktor penting yang berpoeran dalam penyebaran
tumbuhan dan hewan diataranya perubahan iklim dan daratan yang berperan
sebagai jembatan bagi penyebaran tersebut.
4.2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan
terutama, kurangnya sumber dalam mencari informasi. Diharapkan untuk
penyusunannya, penulis harus lebih banyak menggali informasi tidak hanya
dari pencarian melalui internet tetapi juga harus bersumber dari buku-buku
referensi yang lebih relevan, supaya pembaca dapat lebih memahami lagi
mengenai isi makalah yang disampaikan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2019. Paparan Sahul. [Online]. Tersedia dari : http://paparan-


sunda.ni.web.id/id1/1688-1575/Paparan-Sahul_42443_paparan-sunda-
ni.html. 17 Februari 2019.
Anonim. 2019. Paparan Sunda. [Online]. Tersedia dari : http://paparan-
sunda.ni.web.id/id1/2766-1575/Paparan-Sunda_42444_paparan-sunda-
ni.html. 17 Februari 2019.
Anonim. Tanpa tahun. Pangaea to the Present Lesson #2. [Online]. Tersedia dari
http://volcano.oregonstate.edu/book/export/html/1083. 17 Februari 2019.
Anonim. Tanpa tahun. Pangea. [Online]. Tersedia dari:
https://www.etymonline.com/word/Pangaea. 16 Februari 2019.
Ashar. 2013. Pengertian Evolusi. [Online]. Tersedia dari :
http://pengertianahli.id/2013/10/pengertian-evolusi-apa-itu-evolusi-
2.html. 17 Februari 2019.
Campbell. 2000. Biology Campbell, Reece-Mitchell. Erlangga: Jakarta. 17 Februari
2019.
Gunawan. 2014. Sejarah Terbentuknya Kepulauan Indonesia. [Online]. Tersedia
dari :
https://www.academia.edu/8253556/Proses_Terbentuknya_Kepulauan_I
ndonesia. 18 Februari 2019.
Merbabu. 2017. Terbentuknya Bumi. [Online]. Tersedia dari :
http://www.merbabu.com/artikel/terbentuknya_bumi.php. 17 Februari
2019.
Putri, Aisyah. 2019. Benua Pangaea. [Online]. Tersedia dari :
https://www.boombastis.com/benua-pangaea/87892. 17 Februari 2019.
Rizqy, Nola. 2019. Teori Pengapungan Benua Alfred Wegener. [Online]. Tersedia
dari :
https://www.academia.edu/4505361/TEORI_PENGAPUNGAN_BENU
A_ALFRED_WEGENER. 18 Februari 2019.
DAFTAR PUSTAKA GAMBAR
Ajim, N. 2016. Persebaran Fauna di Dunia. [Online]. Diakses dari
http://www.mikirbae.com/2016/08/persebaran-fauna-di-dunia.html. 17
Februari 2019.
Geomagz. 2016. Wallace dan Biogeografi Indonesia. [Online]. Diakses dari
http://geomagz.geologi.esdm.go.id/wallace-dan-biogeografi-indonesia/.
19 Februari 2019.

http://volcano.oregonstate.edu/sites/default/files/picture2_0.gif

http://volcano.oregonstate.edu/sites/default/files/picture4_0.gif

http://volcano.oregonstate.edu/sites/default/files/picture5_0.gif

http://volcano.oregonstate.edu/sites/default/files/picture7_0.gif

https://www.clearias.com/up/geomorphic-processes-mind-map.jpg