Anda di halaman 1dari 32

CASE REPORT

PITIRIASIS VERSIKOLOR

Disusun oleh:
Shanaz Novriandina
1665050248

Pembimbing:
dr. Ruri. D. Pamela, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT UMUM UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
PERIODE 5 NOVEMBER 2018 – 8 DESEMBER 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pitiriasis versikolor merupakan salah satu golongan mikosis superfisialis


yang paling sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pitiriasis Versikolor
dikenal juga dengan istilah Tinea versikolor, Kromofitosis, Dermatomikosis,
Liver spots, Tinea flava, pitiriasis versikolor flava dan panu/panau disebabkan
oleh jamur nondermatofitosis (Ragi dari Malassezia spp). Penyakit kulit ini terjadi
secara universal dan terutama terjadi di daerah tropis dengan kelembaban yang
tinggi, seperti Indonesia, dan menyerang remaja dan dewasa.1

Nama ‘pitiriasis’ digunakan untuk mendeskripsikan keadaan kulit yang


memiliki skuama mirip dengan kulit padi. Memiliki warna yang beragam
sehingga pada nama bagian kedua disebut ‘versicolor’. M. furfur (yang
sebelumnya disebut sebagai Pityrosporum ovale, P. orbiculare) adalah jamur
lipofilik yang normalnya berada di keratin kulit dan folikel rambut pada individu
dalam masa pubertas dan setelahnya. dalam kondisi tertentu jamur komensal ini
berubah menjadi bentuk filamen yang patogenik lalu menyebabkan pytiriasis
versicolor. Malassezia menghasilkan berbagai senyawa yang mengganggu
melanisasi menyebabkan perubahan pigmentasi kulit. Faktor-faktor predisposisi
terjadinya pityriasis versicolor adalah temperatur tinggi/kelembaban relatif, kulit
berminyak, hiperhidrosis, faktor-faktor herediter, terapi glukokortikoid, dan
imunodefisiensi.2

Diagnosis pityriasis versicolor ditegakkan berdasarkan gambaran klinis,


dan dikonfirmasi dengan kerokan kulit dengan KOH yang akan memberikan
gambaran hifa pendek dengan spora yang berkelompok (spaghetti and meat ball).
Pityriasis versicolor dapat menetap selama bertahun-tahun bila faktor
predisposisinya tetap ada. Depigmentasi terjadi selama berbulan-bulan setelah
infeksi dieradikasi sehingga dapat memberikan masalah social pada beberapa
pasien.1,2

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pitiriasis Versikolor

Pitiriasis versikolor (PV) adalah infeksi kulit superfisial yang kronis


yang disebabkan oleh ragi genus malassezia sp yang menyerang stratum korneum,
umumnya tidak memberikan gejala subyektif, ditandai dengan area depigmentasi
atau diskolorasi yang ditutupi skuama halus, dan tersebar diskret hingga konfluen.
Lesi PV terutama pada badan bagian atas, leher, dan perut, ekstremitasi sisi
proksimal.1 Selain pitiriasis versikolor, terdapat infeksi kulit superfisial yang juga
disebabkan oleh ragi genus malassezia yaitu folikulitis pitirosporum (folikulitis
malassezia).2

2.2 Epidemiologi Pitiriasis Versikolor

PV merupakan penyakit universal. Tidak terdapat perbedaan insindensi


berdasarkan jenis kelamin, tetapi terdapat perbedaan kerentanan berdasarkan usia,
yatu lebih banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda. Di Amerika Serikat,
penyakit ini banyak ditemukan pada usia 15-24 tahun. Perbedaan kerentananan
usia disebabkan pada remaja dan dewasa muda karena kelenjar sebasea (kelenjar
minyak) lebih aktif bekerja. Angka kejadian sebelum pubertas atau setelah usia 65
tahun jarang ditemukan. Pitiriasis Versikolor banyak dijumpai di daerah tropis
oleh karena tingginya temperatur dan kelembaban, hal ini dibuktikan dengan
tingginya prevalensi pitiriasis versikolor pada lingkungan yang panas dan lembab
adalah 50% sedangkan prevalensi pada lingkungan yang beriklim dingin adalah
1,1%.2 Insiden Pitiriasis versikolor (PV) di Indonesia belum dapat diketahui
dengan pasti karena banyak penderita yang tidak berobat ke petugas medis namun
di perkirakan 40-50% dari populasi di negara tropis terkena penyakit ini. Di
Jakarta golongan penyakit ini sepanjang masa selalu menempati urutan kedua
setelah dermatitis. Di daerah lain, seperti Padang, Bandung, Semarang, Surabaya

3
dan Manado keadaannya kurang lebih sama, yakni menempati urutan ke-2 sampai
ke-4 terbanyak dibandingkan golongan penyakit lainnya.

2.3 Etiologi dan Faktor risiko Pitiriasis Versikolor

Pitiriasis versikolor disebabkan oleh Malassezia spp, ragi yang


merupakan flora normal pada kulit. Jamur bersifat lipofilik dan dimorfik. Sebagai
organisme yang lipofilik, Malassezia furfur memerlukan lemak (lipid) seperti
asam lemak C12-C14 seperti minyak zaitun dan lanolin untuk pertumbuhan in
vitro dan in vivo sehingga menyebabkan ragi ini banyak berkolonisasi pada area
yang kaya sekresi kelenjar.2 Dimorfik berarti pada kondisi tertentu jamur berubah
dari bentuk saprofitic menjadi bentuk parasitik mycelial yang dapat menyebabkan
timbulnya gejala klinis. Ragi ini sebelumnya digolongkan sebagai genus
Pityrosporum ovale dan Pityrosporum orbiculare tetapi kemudian mengalami
reklasifikasi sebagai genus malassezia.3 Berdasarkan analisis genetik,
diidentifikasi 12 spesis lipofilik yang termasuk ke dalam genus Malassezia, yaitu
Malassezia furfur, Malassezia pachydermatis, Malassezia sympodialis,
Malassezia globosa, Malassezia restricta, Malassezia slooffiae, Malassezia
obtusa, Malassezia dermatitis, Malassezia nana, Malassezia yamatoensis,
Malassezia japonica, dan Malassezia equi. Beberapa studi menunjukkan bahwa
Malassezia globosa banyak berhubungan dengan PV tetapi studi lain
menunjukkan bahwa Malassezia sympodialis dan Malassezia furfur yang
predominan pada PV. 2,3

Faktor predisposisi yang menyebabkan perubahan ragi saprofit menjadi


bentuk miselia terbagi menjadi faktor endogen dan eksogen. Faktor endogen
seperti faktor herediter, malnutrisi immunocompromised, penggunaan kontrasepsi
oral, hamil, luka bakar, kulit berminyak, hiperhidrosis dan terapi kortikosteroid.
Sedangkan faktor eksogen berupa suhu, kelembaban lingkungan yang tinggi,
tegangan CO2 tinggi permukaan kulit akibat oklusi, dan penggunaan minyak atau
lotion berlebih.2,3

4
2.4 Patogenesis dan Patofisiologi Pitiriasis Versikolor

Mekanisme terjadinya PV disebabkan karena adanya ketidakseimbangan


antara hospes dengan ragi malassezia sehingga mengeluarkan beberapa metabolit
yang menyebabkan perubahan pigmen kulit. Metabolit dari malassezia sp. adalah
sebagai berikut: 2
 Asam dikarboksilat (asam azeleat) yang mengganggu pembentukan pigmen
melanin dan menghambat tyrosinase.
 Pityricitrin yang mempunyai kemampuan absorbsi sinar ultraviolet..
 Malassezin merupakan agonis reseptor hidrokarbon yang menginduksi
apoptosis pada melanosit.
 Malassezindole A, aktivitasnya menghambat kerja tirosinase dan
mengganggu sintesis tirosinase
 Keto-malassezin sebagai inhibitor tirosinase dengan menghambat reaksi
DOPA (3,4-di hidroksifenilalanin) melanosit;

Lipoperoksidase dari jamur yang terdapat dalam kulit yang mengandung


lemak (sebum) akan menghasilkan asam dikarboksilat, utamanya azelaic acid
bersama dengan Malassezindole A, dan Keto-malassezin, yang mengganggu
pembentukan pigmen melanin dan menghambat tyrosinase. Tirosinase adalah
enzim yang berperan dalam pembentukan melanin sehingga penghambatan ezim
tirosinase menyebabkan kadar melanin menurun, selain itu penurunan melanin
diperparah oleh malassezin yang akan menginduksi apoptosis pada melanosit.
Pityricitrin yang dihasilkan oleh jamur dapat mengabsorbsi sinar ultraviolet.
Seluruh mekanisme tersebut diduga menyebabkan lesi hipopigmentasi.1,2
Mekanisme terjadinya bercak kemerahan dapat disebabkan oleh
pelepasan mediator inflamasi akibat reaksi inflamasi yang disebabkan oleh
miselia dari malassezia sp mengakibatkan permeabilitas dan vasodilatasi kapiler
menghasilkan hiperemi pada lesi yang memberikan gambaran makula eritematosa. 2
Mekanisme hiperpigmentasi masih belum diketahui dengan jelas, tetapi
studi menunjukkan pada pemeriksaan mikroskop elektron didapati ukuran

5
melanosom yang lebih besar dari normal. Lapisan keratin yang lebih tebal juga
dijumpai pada lesi hiperpigmentasi.1

2.5 Gambaran klinis Pitiriasis Versikolor

Lesi PV terutama terdapat pada badan bagian atas, leher dan perut,
ekstremitas sisi proksimal. Kadang ditemukan pada wajah dan skalp, dapat juga di
aksila, lipat paha, genitailia. Lesi berupa makula atau plak berbatas tegas, dapat
hipopopigmentasi, hiperpigmentasi, dan kadang eritematosa, terdiri atas beberapa
ukuran dan berskuama halus (pitiriasisform) dikelilingi kulit normal. Skuama
sering sulit terlihat sehingga dapat dilakukan peregangan atau penggoresan lesi
dengan kuku jari tangan sehingga skuama tampak lebih jelas, dikenal sebagai
evoked scale sign, finger nail sign, Besnier’s sign, scratch sign, coup d’ongle sign
atau stroke of the nail sign. Umumnya PV tidak disertai gejala subyektif hanya
berupa keluhan kosmetik, tetapi dapat disertai pruritus ringan. Variasi warna lesi
pada penyakit ini tergantung pada pigmen normal kulit penderita, paaparan sinar
matahari, dan lamanya penyakit. 2,3

(a) (b)

6
(c)
Gambar 1. (a) lesi berupa makula-patch hipopigemtasi pada perut, (b) lesi berupa
makula-patch eritema pada leher dan dada bagian atas, (c) lesi berupa makula-patch
hiperpigmentasi pada dada.
Pada kulit hitam atau coklat umumnya berwarna putih sedangkan pada kulit
terang cenderung berwarna coklat atau kemerahan. Depigmentasi terjadi setelah
stadium hiperpigmentasi PV, dibawah pengaruh sinar UV. Beberapa pasien
menyadari terdapat perubahan warna kulit (hipopigmentasi) saat terpapar matahari
(dibawah pengaruh sinar UV). Pada pitiriasis versikolor yang terletak di area
flexural akan memberikan gambaran patch eritematosa. 2,3

2.6 Diagnosis Pitiriasis Versikolor


a. Anamnesis
Gejala bercak di kulit, yang kadang menimbulkan rasa gatal terutama
bila berkeringat. Rasa gatal umumnya ringan atau tidak ada sama sekali. Warna
dari bercak bervariasi dari putih, merah muda hingga coklat kemerahan. Beberapa
pasien datang disebabkan oleh ketidaknyamanan (kosmetik) pada kulitnya.
Menggali faktor predisposisi yang menyebabkan ragi saprofit menjadi bentuk
miselia sehingga menyebabkan inflamasi superficial kronik adalah suhu,
kelembaban lingkungan yang tinggi, dan tegangan CO2 tinggi permukaan kulit

7
akibat oklusi, kulit berminyak, hiperhidrosis, faktor-faktor herediter, malnutrisi,
penggunaan kontrasepsi oral, kortikosteroid sistemik, dan imunosupresi. 2,3
b. Pemeriksaan fisik
Status dermatologikus didapatkan makula berbatas tegas, dapat
hipopopigmentasi, hiperpigmentasi, dan kadang eritematosa, terdiri atas beberapa
ukuran dan berskuama halus (pitiriasisform) yang ditemukan pada badan bagian
atas, leher dan perut, ekstremitas sisi proksimal. Kadang ditemukan pada wajah
dan skalp, dapat juga di aksila, lipat paha, dan genitalia. Skuama biasanya tipis
seperti sisik dan kadangkala hanya dapat tampak dengan menggores kulit (finger
nail sign). 2,3
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan dengan lampu wood dapat memberikan fluoresensi
kekuningan (kuning kemasan) akibat metabolit asam dikarboksilat, yang
digunakan sebagai petunjuk lesi PV dan mendeteksi sebaran lokasi lesi.
Fluoresensi positif palsu dapat disebabkan karena penggunaan salap yang
mengandung asam salisilat dan tetrasiklin. Hasil negatif palsu dapat terjadi pada
orang yang rajin mandi. Dapat memberikan perubahan warna pada seluruh daerah
lesi sehingga batas lesi lebih mudah dilihat. Pemeriksaan ini memungkinkan
untuk melihat dengan lebih jelas perubahan pigmentasi yang menyertai kelainan
ini. 2,3

Gambar 2. Sinar Wood (+) fluoresensi kuning keemasan

8
Pada hasil kerokan kulit dengan KOH 10% didapatkan hasil positif
berupa hifa pendek disertai spora berkelompok. kelompok sel ragi bulat
berdinding tebal dengan misselium kasar, sering terputus-putus (pendek-pendek),
yang akan lebih mudah dilihat dengan penambahan zat tinta Parker blue-black
atau biru laktofenol. Gambaran ragi dan misselium tersebut sering dilukiskan
sebagai spaghetti and meatballs atau bananas and grapes. Spora berkelompok
merupakan tanda kolonisasi, sedangkan hifa menunjukkan adanya infeksi.2,3

(a) (b)
Gambar 3. (a). M. furfur pada pewarnaan KOH, (b). M. furfur pada pewarnaan dengan tinta
Parker Blue
Pada pemeriksaan biopsy menunjukkan stratum korneum yang tipis
bersama dengan hifa dan spora. Pada lesi terdapat hiperkeratotik dan koloni hifa
dan spora, subepidermal fibroplasias, tidak ada melanosit dan minimal infiltrate
sel radang. 4

Gambar 4. Gambaran histopatology pada pitiriasis versikolor dengan pewarnaan HE

9
Pemeriksaan dengan biakan jamur tidak terlalu bernilai secara diagnostik
karena memerlukan waktu yang lama. Pemeriksaan ini menggunakan media
biakan agar malt atau saboraud’s agar. Koloni yang tumbuh berbentuk soliter,
sedikit meninggi, bulat mengkilap dan lama kelamaan akan kering dan dibawah
mikroskop terlihat yeast cell bentuk oval dengan hifa pendek. 2,3
Dugaan diagnosis PV jika ditemukan gambaran klinis adanya lesi di
daerah predileksi berupa makula berbatas tegas bewarna putih, kemerahan, sampai
dengan hitam disertai skuama halus. Pemeriksaan dengan lampu wood
memperlihatkan gambaran kuning keemasan dan pemekriksaan mikologis
kerokan kulit ditemukan hifa pendek disertai spora berkelompok. 2,

10
2.7 Diagnosis Banding Pitiriasis Versikolor

Tabel 1. Diagnosis Banding Pitiriasis Versikolor2,3

Keterangan Pitiriasis versikolor Pitiriasis Alba


Etiologi Malassezia spp Belum diketahui
Inflamasi jamur superficial penyebabnya, diduga infeksi
kronik streptokokus
dermatitis non spesifik
(inflamasi)
Faktor pencetus Suhu, kelembaban lingkungan Impetigo
yang tinggi, kulit berminyak,
hiperhidrosis, faktor-faktor
herediter, malnutrisi,
penggunaan kontrasepsi oral,
kortikosteroid sistemik, dan
imunosupresi
Epidemiologi (umur) Remaja dan dewasa muda. (usia Anak berumur 3-16 tahun.
15-24 tahun) disebabkan
kelenjar sebasea (kelenjar
minyak) lebih aktif bekerja.
Gejala klinis Kosmetik dan pruritus ringan Asimptomatik, dapat
disertai gatal/panas
Efloresensi (ujud Makula berbatas tegas, dapat Bercak kemerahan dan
kelainan kulit) hipopopigmentasi, skuama halus berbentuk
hiperpigmentasi, dan kadang bulat, oval atau plakat yang
eritematosa, terdiri atas beberapa tidak teratur. yang akan
ukuran dan berskuama halus menghilang serta
(pitiriasisform). meninggalkan area yang
depigmentasi
Predileksi Badan bagian atas, leher dan Wajah (mulut, dagu, pipi,
perut, ekstremitas sisi proksimal. dan dahi), dapat simetris
Kadang ditemukan pada wajah pada bokong, tungkai atas,
dan skalp, dapat juga di aksila, punggung dan ekstensor
lipat paha, genitaiia lengan
Pemeriksaan Penunjang Lampu wood : kuning keemasan Histopatologik : akantosis
Kerokan kulit dengan KOH 10% ringan, spongiosis dengan
: hifa pendek dengan spora hiperkeratosis sedang dan
berkelompok parakeratosis , tidak ada
pigmen disebabkan
kemampuan sel epidermal
untuk mengangkut pigmen
melanin berkurang
Mikroskop elektron:
penurunan jumlah dan
ukuran melanosom

11
Tabel 2. Diagnosis Banding Pitiriasis Versikolor2,3
Keterangan Pitiriasis versikolor Vitiligo
Etiologi Malassezia spp Genetik dan nongenetik
Inflamasi superficial kronik autoimun
Faktor pencetus suhu, kelembaban lingkungan Endogen : genetik, emosional,
yang tinggi, kulit berminyak, gangguan internal (hipertiorid
hiperhidrosis, faktor-faktor dan diabetes melitus)
herediter, malnutrisi, Eksogen : trauma fisik
penggunaan kontrasepsi oral,
kortikosteroid sistemik, dan
imunosupresi
Epidemiologi (umur) Remaja dan dewasa muda. Dapat terjadi disemua umur
(usia 15-24 tahun) dengan usia rata-rata 20 tahun
Efloresensi (ujud kelainan makula berbatas tegas, dapat Depimentasi kronis ditandai
kulit) hipopopigmentasi, makula putih susu homogen
hiperpigmentasi, dan kadang berbatas tegas, berbentuk bulat
eritematosa, terdiri atas atau lonjong dengan tepi
beberapa ukuran dan berbatas tegas dan kulit pada
berskuama halus tempat tersebut normal dan
(pitiriasisform). tidak mempunyai skuama.
Predileksi badan bagian atas, leher dan Terdapat pada daerah yang
perut, ekstremitas sisi terpajan (muka, dada bagian
proksimal. Kadang ditemukan atas, dorsum manus), daerah
pada wajah dan skalp, dapat intertriginosa (aksila, lipat
juga di aksila, lipat paha, paha), daerah orifisium (sekitar
genitaiia mulut, hidung, mata, rektum),
pada bagian ekstensor
permukaan tulang yang
menonjol (jari-jari, lutut, siku).
Gejala klinis Kosmetik dan pruritus ringan Kosmetik (psikologis),
kelainan terkait vitiligo berupa
ganggan pada telinga berupa
perubahan minimal
audiometiruk dan hipoakusis
unilateral atau bilateral, dan
gangguan kulit lainnya seperti
psoriasi vulgaris dan lupus
eritematosus
Pemeriksaan Penunjang Lampu wood : kuning Lampu Wood makula
keemasan dan Kerokan kulit amelanotik pada vitiligo
dengan KOH 10% : hifa tampak putih berkilau
pendek dengan spora
berkelompok

12
(a)

(b)
Gambar 5. Diagnosis banding pitiriasi versikolor (a) pitiriasis versikolor dengan pitiriasis alba,
(b) pitiriasis versikolor dengan vitiligo

13
2.8 Tatalaksana Pitiriasis Versikolor

Mengidentifikasi faktor predisposisi dan menyingkirkan yang dapat


dihindari seperti menghindari cuaca panas atau keringat yang berlebihan.
Tatalaksana terbagi menjadi medikamentosa dan nonmedikamentosa. Untuk
nonmedikamentosa dapat diberitahukan untuk menjaga hygiene melalui mandi
rutin (2x sehari), mengeringkan handuk setelah dipakai dan mengganti handuk
rutin, menghindari kelembaban kulit yang berlebihan teruatama saat berkeringat
segera menghapus keringat yang menempel di badan, menghindari penggunaan
pakaian yang ketat atau tidak menyerap keringat menjaga keseimbangan berat
badan, hal ini karena kegemukan (obesitas) sering menyebabkan banyak
mengeluarkan keringat, dan pada pagi hari hingga siang membuka ventilasi
jendela kamar, agar sirkulasi udara dapat berjalan baik dan terkena sinar matahari.
Penyakit ini merupakan penyakit yang memiliki angka keambuhan sangat tinggi
sekitar 80% dalam 2 tahun sehingga diperlukan pengobatan yang berkelanjutan
dan pencegahan. 2,3

Terapi medikamentosa dapat menggunakan topikal atau sistemik dengan


mempertimbangkan luas lesi, biaya, kepatuhan pasien, kontra indikasi dan efek
samping. Obat topikal dianggap efektif karena koloni jamur menginfeksi pada
permukaan. Obat topikal sebaiknya diteruskan 2 minggu setelah hasil pemeriksaan
dengan lampu wood dan pemeriksaan mikologis langsung dengan kerokan kulit
memberikan hasil negatif. Obat topikal yang digunakan antara lain selenium
sulfide bentuk shampoo 1,8% atau bentuk losio 2,5% yang dioleskan tiap hari
selama 15-30 menit dan kemudian dibilas. Pengolesan dianjurkan di seluruh
badan selain kepala dan genitalia. Alternatif lain adalah natrium hiposulfit 20%,
solusio propilenglikol 50% dan Ketokonazole 2% shampoo. 2,3

Pada lesi yang terbatas juga dapat digunakan krim derivat azol misalnya
Mikonazol 2%, Klotrimazol 1%, Isokonazol 1%, dan Ekonazol 1%. Dioleskan 1 –
2 kali sehari selama 2 – 3 minggu. Mikonasol memilliki struktur yang sama
dengan econazole, obat ini melakukan penetrasi sampai ke stratum korneum dan
bertahan selama 4 hari setelah pemakaian. Efek samping dari pengguanaan obat

14
ini adalah rasa terbakar dan muncul reaki alergi. Obat ini termasuk aman untuk
pasien hamil. Klotrimazol diserap kurang dari 0.5% oleh kulit yang intak. Berefek
fungisidal 3 hari setelah pemakaian dan sebagian kecil dimetabolisme di hati dan
keluar melalui empedu. Pada penggunaan secara topikal akan menimbulkan rasa
tersengat, eritema, gatal, deskuamasi dan urtikaria. Ekonazol merupakan derifat
dari mikonazol berkerja menembuh stratum korneum bahkan sampai ke lapisan
dermis kulit. Efek samping yang sering muncul adalah lokal eritema, rasa
tersengat, rasa terbakar, dan gatal. Dapat diberikan krim tolsiklat, tolnaflat,
siklopiroksolamin dan haloprogin. Tolnaftat sangat efektif untuk pitiriasis
versikolor yang disebabkan oleh M. furfur, hampir tidak ada laporan mengenai
rekasi alergi dari obat tersebut. Tersedia dalam bentuk krim 1%, gel, bedak dan
solution. Obat ini digunakan selama 7 sampai 21 hari.4

Obat sistemik dipertimbangkan pada lesi yang luas, kambuhan, dan gagal
dengan terapi topikal, antara lain dengan ketoconazole 200 mg/hari selama 5-10
hari atau itraconazole 5-7 hari. Penatalaksanaan pasien diberikan berupa antijamur
oral dan topikal, yaitu ketokonazole. Ketokonazole merupakan antijamur broad-
spektrum golongan imidazole yang menghambat pertumbuhan dermatofita, yang
bekerja menghambat enzim sitokrom P450 sehingga menghambat sintesis
ergosterol yang merupakan komponen dari membran sel jamur. Dosis
ketokonazole oral untuk dewasa adalah 200 mg/hari maksimal 400 mg/hari Obat
ini merupakan anti jamur derivate Trazol dengan spectrum luas dan lebih kuat dari
pada Ketokonazol dan disarankan untuk kasus yang relaps atau tidak responsef
terhadap pengobatan lainnya Pengobatan rumatan dipertimbangkan pada kasus
kambuhan, pasien yang sulit menghindari faktor predisposisi, dapat diberikan
selenium sulfide secara periodis dengan obat sistemik ketoconazole 400 mg sekali
setiap bulan atau 200 mg sehari selama 3 hari tiap bulan.4

15
2.9 Prognosis Pitiriasis Versikolor

Prognosis baik jika pengobatan dilakukan secara tekun dan konsisten


serta faktor predisposisi dapat dihindari. Lesi hipopigmentasi dapat menetap
selama beberapa minggu atau bulan hingga pigmen yang hilang diganti melalui
paparan ultraviolet (sampai melanosit memulai untuk memproduksi melanin lagi). Hal
ini harus diberitahukan kepada pasien agar pasien tidak berpikir bahwa
pengobatannya tidak sembuh.1,2

16
BAB III

STATUS PASIEN KEPANITERAAN

ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

3.1 IDENTITAS PASIEN


Nama / No. RM : Tn. A
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 20 tahun
Status : Belum menikah
Alamat : Jalan Raya Ciracas, Jakarta Timur
Pekerjaan : Mahasiswa
Pendidikan terakhir : SMA
Suku : Jawa
Agama : Islam
3.2 ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan di Poli Kulit Klinik Sejahtera Ciracas pada hari Rabu, 7
November 2018 secara autoanamnesis.
a. Keluhan utama : Bercak Putih di wajah dan kedua telinga sejak 5
bulan yang lalu
b. Keluhan tambahan : Bercak semakin banyak disertai gatal saat berkeringat
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien laki-laki umur 20 tahun datang ke Poli spesialis Klinik
Ciracas Sejahtera dengan keluhan terdapat bercak putih di wajah sejak 5 bulan
yang lalu. Pasien menceritakan awalnya bercak putih muncul pada bagian dagu
sebelah kiri, berukuran seperti kepala jarum pentul yang semakin lama semakin
besar dengan bentuk yang tidak teratur yang membesar hingga ukuran ± 1 cm x
0,4 cm. 3 bulan kemudian bercak putih meluas muncul di sekitar hidung, mata,
dan kedua telinga. Pasien mengatakan sebelumnya keluhan hanya berupa bercak
putih tanpa disertai rasa gatal, namun semakin membesar bercak putih, pasien
mulai mengeluhkan gatal terutama saat pasien berkeringat, tetapi gatal yang
dirasakan ringan sehingga tidak sampai menagganggu aktivitas sehari-hari.

17
Pasien tidak memakai apa-apa untuk mengurangi keluhannya dan belum berobat
ke dokter. Bercak putih disertai mati rasa atau kebas disangkal.

d. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien belum pernah mengalami keluhan sebelumnya. Pasien belum
pernah berobat ke dokter dan tidak memakai apa-apa untuk mengurangi
keluhannya. Riwayat penggunaan obat dalam jangka waktu yang lama
disangkal. Riwayat batuk dan pilek yang diikuti bercak merah sebelum keluhan
bercak putih disangkal. Riwayat muncul bercak merah yang semakin merah jika
terkena sinar matahari diwajah disertai nyeri sendi dan tulang disangkal.
Riwayat kencing manis disangkal. Riwayat gejala hipertiroid seperti benjolan
pada leher, tangan gemetar, keringat berlebih, dan jantung berdebar-debar
disangkal. Riwayat sering menggaruk, terbentur, dan luka bakar pada bagian
wajah disangkal. Riwayat gangguan pendengaran disangkal.

e. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada yang mengalami keluhan seperti pasien di keluarga. Riwayat
kencing manis dan hipertiroid dalam keluarga disangkal. Riwayat terdapat
bercak putih tanpa disertai gatal pada keluarga disangkal. Riwayat darah
rendah/anemia (sering lemas, wajah pucat, dan kesemutan hingga mati rasa di
area tangan dan kaki) disangkal.

f. Riwayat Kebiasaan Pribadi


Pasien adalah seorang mahasiswa yang sering beraktivitas di luar ruangan
sehingga sering berkeringat dan terpapar sinar matahari. Pasien mengatakan
sering menggunakan pakaian dalam berwarna hitam yang tidak menyerap
keringat. Pasien biasanya tidak langsung mengganti pakaiannya saat berkeringat.
Pasien mandi dan mencuci muka 1-2x/hari dan mengatakan mengganti handuk 1
bulan sekali. Pasien tinggal sendiri di kost yang terletak dekat dengan kampus
dan tidak pernah berganti-berganti pakaian atau handuk dengan orang lain.
Pasien jarang membersihkan kamar kostnya dan mengatakan kamar kostnya
tidak pernah terpapar sinar matahari langsung.

18
g. Riwayat Penyakit Alergi
Riwayat alergi makanan disangkal, riwayat alergi obat disangkal

3.3 PEMERIKSAAN FISIK


a. Tanda Vital
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Composmentis
TD : 120/70 mmHg
Nadi : 72 x/menit
Suhu : 36,5 °ͦC
RR : 20 x/menit
BB : 50 kg
TB : 162 cm
b. Status Generalis
Kepala
Bentuk : Normocepali
Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Hidung : septum deviasi (-), sekret (-)
Mulut : dinding faring hiperemis (-)
Telinga : dalam batas normal
KGB leher : tidak teraba membesar
Thorax
Inspeksi : bentuk dan pergerakan dinding dada simetris
Palpasi : vocal fremitus simetris
Perkusi : sonor simetris pada seluruh lapang paru
Auskultasi : bunyi nafas dasar vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-,
bunyi jantung 1 & 2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : tidak tampak membuncit
Palpasi : supel, nyeri tekan (-)
Perkusi : timpani, nyeri ketok (-)

19
Auskultasi : bising usus (+) 5x/menit, normal
Ekstremitas : akral hangat, edema (-)
Genitalia : tidak ada keluhan, tidak diperiksa

c. Status Dermatologikus

Efloresensi pada wajah :


Pada regio fascilais tampak patch hipopigmentasi bentuk tidak teratur, batas
tidak tegas, ukuran numular, tersebar konfluen, yang ditutupi oleh skuama
halus. Pada beberapa tempat (sekitar mata, hidung, dan mulut) terdapat makula
hipopigmentasi multipel bentuk tidak teratur, batas tidak tegas, ukuran milier,
tersebar diskret, yang ditutupi oleh skuama halus.

20
Efloresensi pada telinga
Pada regio auricula tampak patch hipopigmentasi bentuk tidak teratur, batas
tidak tegas, ukuran numular, tersebar konfluen, yang ditutupi oleh skuama
halus.

21
3.4 Pemeriksaan Khusus
3.4.1 Cutaneous Sign
 Scratch test: Dilakukan penggoresan dengan tepi kaca objek pada lesi tampak
skuama putih halus selapis (scratch +).
 Stretch test: Melakukan peregangan lesi dengan menggunakan ibu jari dan
telunjuk, didapatkan skuama putih halus selapis (stretch +)

3.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG DERMATOLOGI (8/11/2018)


1. Pemeriksaan kerokan kulit dari bercak putih disertai sisik di regio fascialis
dengan penambahan larutan KOH 10% diperiksa menggunakan mikroskop
pembesaran okuler 10x dan objektif 40x. Didapatkan spora berkelompok

Gambar 6. Pemeriksaan kerokan kulit dengan penambahan KOH 10% dilihat dengan
mikroskop perbesaran okuler 10x dan objektif 40x. Ditemukan spora berkelompok

3.6 RESUME

Laki-laki usia 20 tahun, datang ke Poli spesialis Klinik Ciracas Sejahtera


dengan keluhan terdapat bercak putih di wajah sejak 4 bulan yang lalu. Pasien
menceritakan 4 bulan yang lalu bercak putih muncul pada bagian dagu sebelah kiri,
berukuran seperti kepala jarum pentul yang semakin lama semakin besar selama 4

22
bulan terakhir dengan bentuk yang tidak teratur yang membesar hingga ukuran ± 1
cm x 0,4 cm. Bercak putih kemudian meluas muncul di sekitar hidung, mata, dan
telinga. Pasien mengatakan awalnya keluhan hanya berupa bercak putih tanpa
disertai rasa gatal, namun 2 bulan yang lalu bercak putih semakin membesar dan
pasien mulai mengeluhkan terasa gatal pada bercak putih terutama jika pasien
berkeringat, tetapi gatal yang dirasakan ringan sehingga tidak sampai menagganggu
aktivitas sehari-hari.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran compos


mentis dan tanda vital dalam batas normal. Pada status dermatologikus di regio
fascialis dan auricula, didapatkan patch hipopigmentasi bentuk tidak teratur, batas
tidak tegas, ukuran numular, tersebar konfluen, yang ditutupi oleh skuama halus.
Pada beberapa tempat terdapat makula hipopigmentasi multipel bentuk tidak
teratur, batas tidak tegas, ukuran milier, tersebar diskret, yang ditutupi oleh skuama
halus. Dan pada regio auricula tampak patch hipopigmentasi bentuk tidak teratur,
batas tidak tegas, ukuran numular, tersebar konfluen, yang ditutupi oleh skuama
halus. Pada pemeriksaan saraf tepi tidak ada pembesaran saraf, tidak ada gangguan
sensorik dan motorik. Pemeriksaan lampu wood didapatkan pendaran warna kuning
kemasan dan pemeriksaan KOH 10% didapatkan spora berkelompok.

3.7 DIAGNOSA BANDING


 Pitiriasis Versikolor
 Pitiriasis Alba
 Vitiligo
3.8 DIAGNOSA KERJA
 Pitiriasis versikolor
3.9 PENATALAKSANAAN
a. Non-medikamentosa
Memberitahukan kepada pasien bahwa penyakitnya adalah panu,
penyebabnya adalah jamur dan dapat menular. Menjelaskan kepada pasien untuk
meningkatkan kebersihan diri dengan mengganti pakaian saat berkeringat, saat
berkeringat segera dilap. Rutin mencuci muka dan mengeringkannya. Menjelaskan

23
kepada pasien bahwa penggunaan obat dapat berlangsung lama 2-4 minggu,
namun bercak putih hilang dalam waktu cukup lama (bulan) tetapi pasien harus
rutin dan teratur dalam pengobatan karena angka kekambuhan yang tinggi jika
faktor predisposisi tidak di hilangkan,

b. Medikamentosa
Pasien diberikan obat topikal berupa krim klobetasol 0,05% dioleskan
pada lesi 2x sehari diberikan untuk 2 minggu dan diberikan obat minum yaitu
metilprednisolone 8 mg 2x1 tablet untuk 2 minggu (14) dan cetrizine 10 mg 1x1
tablet jika pasien mengeluhkan gatal yang lebih berat. Pasien diberitahukan untuk
kontrol kembali 2 minggu setelah obat habis.

3.10 RESEP

R/ Clobetasol propionate 0,05% cream 10 g No. I


S.u.e
R/ Metilprednisolone 8 mg tab No. XIV
S 2 dd I tab
R/ Cetrizine 10 mg tab No. X
S 1 dd I tab
Nama : Tn. A
Usia : 20 tahun

24
3.11 FOLLOW UP

25
• S : bercak putih belum berkurang dan semakin meluas, tetapi gatal sudah
tidak ada

• O : pada regio fascilais dan auricula tampak patch hipopigmentasi bentuk tidak
teratur, batas tidak tegas, ukuran numular, tersebar konfluen, yang ditutupi oleh
skuama halus. Pada beberapa tempat (sekitar mata, hidung, dan mulut) terdapat
makula hipopigmentasi multipel bentuk tidak teratur, batas tidak tegas, ukuran
milier, tersebar diskret, yang ditutupi oleh skuama halus.

• A : Pitiriasis versikolor

• P : Mikonazol 2% cream dioleskan 1-2x (sampai 2 minggu setelah hasil lampu


wood atau kerokan kulit ditemukan spora (-))

26
3.12 PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad sanationam : bonam
Quo ad fungtionam : bonam
Quo ad kosmetikum bonam

27
BAB IV

PEMBAHASAN

Pasien laki-laki umur 20 tahun datang ke Poli Kulit Klinik Sejahtera Ciracas
dengan keluhan terdapat bercak putih di wajah sejak 5 bulan yang lalu. Bercak putih
dirasakan semakin membesar dan rasa gatal. Pasien menceritakan 3 bulan yang lalu
bercak putih muncul pada bagian dagu sebelah kiri, berukuran seperti kepala jarum
pentul yang semakin lama semakin besar dengan bentuk yang tidak teratur, bercak putih
kemudian meluas muncul di sekitar hidung, mata, dan telinga. Bercak putih terasa gatal
terutama jika pasien berkeringat, tetapi gatal yang dirasakan ringan sehingga tidak
sampai menagganggu aktivitas sehari-hari. Pasien mengatakan berobat karena
ketidaknyaman adanya bercak putih yang semakin bertambah banyak dan melebar.
Hal ini sesuai dengan teori dari buku Ilmu Penyakit Kulit FKUI yang menyatakan
bahwa Pitiriasi versikolor adalah infeksi kulit superficial kronik, ditandai adalah
peradangan kulit kronis, gatal, sirkumskrip, ditandai dengan depigmentasi atau
diskolorasi berskuama halus. PV terutama ditemukan di daerah tropis dan lebih banyak
ditemukan pada remaja dan dewasa muda. PV disebabkan oleh Malassezia spp., ragi
bersifat lipofilik yang merupakan flora normal yang banyak berkolonisasi pada area
yang kaya sekresi kelenjar sebasea, dengan faktor predisposisi suhu dan kelembaban
lingkungan yang tinggi, faktor genetik, hiperhidrosis, kondisi imunosupresif dan
malnutrisi. Pada buku fitzpatrick juga diterangkan epidemiologi pititriasis versikolor
menyerang remaja dan dewasa muda yang memiliki banyak kelenjar sebasea yang aktif
memproduksi lipid. Hal ini sesuai dengan pasien yang masih berusia 20 tahun (dewasa
muda), tinggal di daerah tropis dengan faktor predisposisi adalah suhu dan kelembaban
tinggi yaitu sering beraktivitas di luar ruangan dan berkeringat
Pasien mengalami keluhan ini pada bagian wajah, pada awalnya muncul bercak
putih di dagu berukuran seperti kepala jarum pentul dan semakin membesar, kemudian
muncul pada daerah hidung, sekitar mata, dan kedua telinga. Hal ini sesuai dengan teori
dari buku Ilmu Penyakit Kulit FKUI yang menyatakan bahwa lesi berupa makula-patch
hipopigmentasi, berbatas tegas, terdiri atas berbagai ukuran dan berkuama halus. Dapat
disertai puritus ringan dan keluhan kosmetik dan umumnya terdapat pada bagian atas

28
leher, perut, ekstremitas sisi proksimal. Kadang ditemukan pada wajah dan skalp, dapat
juga ditemukan pada aksila lipat paha, genitalia. Keluhan disertai gatal ringan saat
berkeringat tetapi tidak sampai mengganggu aktivitas, hanya ketidaknyamanan
kosmetik karena adanya bercak putih.
Riwayat batuk dan pilek yang diikuti bercak merah sebelum keluhan bercak putih
disangkal sehingga dapat menyingkirkan diagnosis banding pitiriasis alba. Riwayat
muncul bercak merah yang semakin merah jika terknea sinar matahari diwajah disertai
nyeri sendi dan tulang disangkal. Riwayat kencing manis disangkal Riwayat gejala
hipertiroid seperti benjolan pada leher, tangan gemetar, keringat berlebih, dan jantung
berdebar-debar disangkal. Riwayat sering menggaruk, terbentur, dan luka bakar pada
bagian wajah disangkal. Riwayat gangguan pendengaran disangkal sehingga dapat
menyingkirkan diagnosis banding vitiligo.
Riwayat kebiasaan pribadi pasien seperti sering beraktivitas di luar ruangan
sehingga sering berkeringat, sering menggunakan pakaian dalam berwarna hitam yang
tidak menyerap keringat. Pasien biasanya tidak langsung mengganti pakaiannya saat
berkeringat mendukung dengan faktor predisposisi terjadinya PV yaitu suhu
kelembaban yang tinggi disertai keringan yang berlebih.
Untuk mengkonfirmasi diagnosis dilakukan kerokan kulit langsung dengan KOH
10% pada Tn.A dan didapatkan spora berkelompok. Berdasarkan teori dari buku Ilmu
Penyakit Kulit FKUI seharusnya didapatkan hifa berkelompok dan spora berkelompok
membentuk gambaran sphagetti and meatballs, ketidaksesuaian mungkin disebabkan
saat pemeriksaan kerokan kulit sampel yang digunakan terlalu sedikit. Berdasakan
seluruh data yang diperoleh sehingga diagnosa kerja mengarah pada Pitiriasis
Versikolor.
Terapi pada pasien ini diberikan obat topikal berupa krim klobetasol 0,05%
dioleskan pada lesi 2x sehari diberikan untuk 2 minggu dan diberikan obat minum yaitu
metilprednisolone 8 mg 2x1 tablet untuk 5 hari dan cetrizine 10 mg 1x1 tablet jika
pasien mengeluhkan gatal yang lebih berat. Hal ini kurang sesuai dengan teori dari buku
Ilmu Penyakit Kulit FKUI yang mengatakan pada PV dengan lesi yang terbatas
(regional) dapat diberikan obat topikal krim derivat azol misalnya Mikonazol 2%,
Klotrimazol 1%, atau Ekonazol 1%. Dioleskan 1 – 2 kali sehari selama 2 – 3 minggu.

29
Obat sistemik dipertimbangkan pada lesi yang luas, kambuhan, dan gagal dengan terapi
topikal, antara lain dengan ketoconazile 200 mg/hari selama 5-10 hari atau itraconazole
5-7 hari. Pemberian antipruritus tidak dicantumkan pada teori karena pada sebagian
besar pasien asimptompatik atau hanya mengeluh gatal yang ringan. Ketidaksesuaian
dengan teori mungkin disebabkan terapi seharusnya ditujukan untuk pengobatan
vitiligo. Pengobatan vitiligo lokalisata pilihan pertama adalah kortikosteroid terutama
pada lesi kecil didaerah wajah. Pemberian kortikosteroid potensi sedang maupun kuat
dianggap efektif untuk repigmentasi. Pada teori untuk kortikosteroid topikal untuk
vitiligo dapat diberikan betametason valerat 0,1-0,2%, fluticasone propionate 0,05%,
dan klobetasol propionat 0,05%. Selain itu pemberian sistemik tidak dianjurkan pada
kasus ini, pemberian sistemik diberikan pada lesi yang luas hal ini disebabkan efek
samping kortikosteroid oral dapat menyebabkan sindrom cushing, gangguan
epigastrium, nyeri abdomen.
Edukasi pasien dan keluarga bahwa pengobatan harus dilakukan secara
menyeluruh, tekun dan konsisten, karena angka kekambuhan tinggi (± 50% pasien).
Infeksi jamur dapat hilang dengan cepat tetapi membutuhkan waktu berbulan-bulan
untuk mengembalikan pigmentasi ke normal. Untuk pencegahan, diusahakan agar
pasien meningkatkan kebersihan diri dengan mengganti pakaian saat berkeringat, saat
berkeringat segera dilap dan rutin mencuci muka dan mengeringkannya
Prognosis pada pasien ini adalah baik. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang
menyebutkan bahwa prognosis baik jika pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun dan
menghindari faktor predisposisi terjadinya PV.

30
BAB V

KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
Pitiriasis versikolor adalah infeksi superficial kronik yang disebabkan oleh
Malasezia sp ditandai dengan bercak putih sampai coklat yang bersisik (skuama) halus
disertai rasa gatal yang ringan. Penyakit ini banyak ditemukan pada usia 15-24 tahun,
dimana kelenjar sebasea (kelenjar minyak) lebih aktif bekerja. Faktor predisposisi
penyakit ini adalah suhu yang tinggi, kulit berminyak, hiperhidrosis, faktor herediter,
pengobatan dengan glukokortikoid, defisiensi imun, pengangkatan glandula adrenal,
penyakit Cushing, kehamilan, malnutrisi, luka bakar, terapi steroid, dan penggunaan
kontrasepsi oral. Predileksi pityriasis vesikolor yaitu pada tubuh bagian atas, lengan
atas, leher, dan abdomen.
Pada anamnesis dikeluhkan gatal ringan, adanya bercak/macula berwarna putih
(hipopigmentasi) atau kecoklatan (hiperpigmentasi) dengan rasa gatal yang akan
muncul saat berkeringat. Pada pemeriksaan fisik ditemukan bercak-bercak berwarna-
warni, bentuk tidak teratur -teratur, batas jelas-difus disertai skuama halus.
Periksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penyakit ini adalah pemeriksaan
lampu wood dan kerokan kulit dengan KOH 10%. Pengobatan pada penyakit ini
menggunakan pengobatan topikal atau sistemik dengan mempertimbangkan luas lesi,
biaya, kepatuhan pasien, kontra indikasi dan efek samping. Prognosis baik bila
pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun dan konsisten menghindari faktor
predisposisi.

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Sri Adi, Retno. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-6. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2010.
2. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. (2012). 8th ed. New York:
McGraw-Hill.
3. Wolff, Klaus dan Johnson, R.A., 2010. Fitzpatrick’s Color Atlas dan Synopsis of
Clinical Dermatology 7th ed., New York: McGraw Hill.
4. Schalock PC, Hsu JT, Arndt KA. Lippincott’s primary care dermatology.
Philadelphia: Lippincott William and Wilkins; 2011.p.132-4.

32