Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

DEMOKRASI

D
I
S
U
S
U
N

OLEH :
KELOMPOK 6

NAMA ANGGOTA : FILBET CANDRA (4153111023)


SARI DEVI PRATIWI (4151111089)
RAHMAH ITSNA HAYATI (4153111053)
YULANDARI (4152111041)

KELAS : MATEMATIKA REGULER 2015

JURUSAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya sampaikan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Serta shalawat dan salam senantiasa
kami hanturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.
Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Dosen yang telah
membimbing dalam menyelesaikan makalah ini. Di mana tujuan penulisan makalah ini
adalah untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dan
juga menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca mengenai “Demokrasi”.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan tidak luput dari
kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Dan harapan, semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Medan, Maret 2019

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang 4
B. Rumusan Masalah 4
C. Tujuan 4
Bab II Pembahasan
A. Konsep Demokrasi 5
B. Bentuk Demokrasi 6
C. Prinsip-Prinsip Demokrasi 6
D. Demokrasi di Indonesia 8
E. Pendidikan Demokrasi 11
Bab III Penutup 15
Bab IV Daftar Pustaka 16
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebuah penelitian United Nations Educational Scientific and Cultural Organization
(UNESCO) pada tahun 1949 menyatakan bahwa demokrasi dinyatakan sebagai nama yang
paling baik dan wajar untuk semua sistem organisasi politik dan sosial yang diperjuangkan
oleh para pendukungnya yang berpengaruh (Miriam Budiarjo, 2009). Demokrasi dijadikan
sebagai suatu sistem, demokrasi juga dijadikan alternatif dalam berbagai tatanan aktivitas
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada hampir sebagian besar negara di dunia.
Dipilihnya demokrasi menjadi sistem kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara karena dua alasan. Pertama, demokrasi telah dijadikan sebagai asa yang
fundamental dan kedua demokrasi sebagai asas kenegaraan secara esensial, dimana telah
memberikan arah bagi penerapan masyarakat untuk menyelenggarakan negara sebagai
organisasi tertinggi.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah yang dimaksud dengan demokrasi?
2. Bagaimana konsep dari demokrasi?
3. Bagaimana prinsip demokrasi?
4. Bagaimana perkembangan sistem demokrasi di Indonesia

C. Tujuan
Tujuan dari makalah ini antara lain sebagai berikut.
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan demokrasi.
2. Mengetahui konsep demokrasi.
3. Mengetahui prinsip dari demokrasi.
4. Memahami perkembangan sistem demokrasi di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Demokrasi
Secara etimologi, demokrasi berasal dari istilah demokratia yang berarti “Rule of
The People” yang merupakan panduan dari dua kata, demos yang berarti rakyat dan kratos
yang berarti kekuasaan (power) atau pemerintah. Istilah itu muncul di Yunani pada abad ke 5
SM yang pada waktu itu digunakan untuk menamakan suatu bentuk pemerintahan di salah
satu negara kota (city state), yaitu Athena. Ketika itu sistem demokrasinya merupakan
demokrasi langsung (direct democracy), yaitu suatu bentuk pemerintahan dimana hak untuk
membuat keputusan-keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara
yang bertindak berdasarkan prosedur mayoritas.
Dalam ucapan Abraham Lincoln, “democracy is goverment of the people, by the
people, and for the people”, yaitu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Dan pada kesempatan lain, Lincoln menyatakan “This country, with its institutions, belongs
to the people who inhabit it. Whenever they shall grow weary of the existing goverment, they
can exercise their rights of amending it, or their revolutionary to dismember or overthrow
it.”. Yang jika di artikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi, Negara ini dengan lembaga-
lembaganya adalah milik rakyatnya. Manakala mereka meragukan pemerintahan yang ada,
mereka dapat menggunakan hak konstitusional mereka dengan melakukan amandemen atas
institusi itu atau hak-hak revolusioner mereka untuk membubarkan atau menggulingkan
pemerintahan yang ada.
Demokrasi mengandung kebebasan, namun kebebasan tersebut tidak absolut sebab
memiliki keterbatasan. Keterbatasan itu adalah tidak mengganggu kebebasan orang lain.
Demokrasi sesungguhnya adalah seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan , tetapi
juga mencakup seperangkat praktik dan prosedur yang terbentuk melalui sejarah panjang dan
sering berliku-liku, ehingga demokrasi sering disebut suatu pelembagaan dari kebebasan.
Demokrasi merujuk kepada konsep kehidupan negara atau masyarakat dimana
warga negara dewasa turut berpartisipasi dalam pemerintahan melalui wakilnya yang dipilih,
pemerintahannya mendorong dan menjamin kemerdekaan berbicara, beragam, berpendapat,
berserikat, menegakkan rule of law, adanya pemerintahan mayoritas yang menghormati hak-
hak kelompok minoritas dan masyarakat yang warga negaranya saling memberi peluang yang
sama.
B. Bentuk Demokrasi

Demokrasi yang dianut oleh negara-negar dunia dibagi menjadi 2 yaitu:


1) Dempkrasi langsung (direct democracy), yaitu paham demokrasi yang
mengikutsertakan warga negaranya dalam menentukan kebijakan umum dan
undang-undang.
2) Demokrasi tidak langsung (indirect democracy), yaitu paham demokrasi yang
dilaksanakan melalui sistem perwakilan yang biasanya dilakukan melalui
pemilihan umum.
Dalam hubungannya dengan implementasi ke dalam sistem pemerintahan, demokrasi
melahirkan sistem yang bermacam-macam, seperti demokrasi dengan sistem presidensial,
parlementer, dan referendum. Demokrasi dengan sistem presidensial menyejajarkan anatara
parlemen dan presiden dengan memberi dua kedudukan kepada presiden yakni sebaga kepala
negara dan kepela pemerintahan. Demokrasi dengan sistem parlementer meletakkan
pemerintah dipimpin oleh perdana mentri. Dan demokrasi dengan sistem referendum
meletakkan pemerintah sebagai bagian dari parlemen. Dan dibeberapa negara ada yang
menggunakan sistem campuran antara presidensial dan referendum.

C. Prinsip-Prinsip Demokrasi
Menurut Ranney (2982:278), ada 4 prinsip yang terkait dengan pemerintahan
demokrasi, yaitu kedaulatan rakyat, persamaan politik, konsultasi kepada rakyat dan aturan
mayoritas. Sementara itu, dalam konteks Indonesia, Achmad Sanusi (Sanusi, 2006)
mengetengahkan sepuluh pilar demokrasi yang dipesankan oleh para pembentuk negara
sebagaimana diletakkan dalam UUD 1945 sebagai berikut :
 Demokrasi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dimana esensinya adalah
seluruh sistem serta perilaku dalam menyelenggarakan kenegaraan RI haruslah taat
asas, konsisten, atau sesuai dengan nilai-nilai dan kaidah- kaidah dasar Ketuhanan
Yang Maha Esa.
 Demokrasi dengan kecerdasan, yaitu demokrasi harus dirancang dan dilaksanakan
oleh segenap rakyat dengan pengertian-pengertiannya yang jelas, dimana rakyat
sendiri turut terlibat langsung merumuskan substansinya. Menguji cobakan
desainnya, menilai dan menguji keabsahannya, sebab UUD 1945 dan demokrasinya
bukanlah seumpama produk akhir yang tinggal dikonsumsi saja, tetapi mengandung
nilai-nilai dasar dan kaidah-kaidah dasar untuk suprastruktur dan infrastruktur sistem
kehidupan bernegara bangsa Indonesia.
 Demokrasi yang berkedaultan rakyat, yaitu kekuasaan tertinggi ada di tangan
rakyat dan dilaksanakan menurut undang - undang dasar.
 Demokrasi dengan rule of law, artinya negara memiliki kekuasaan dan dapat
menggunakan kekuasaan dengan paksa. Oleh karena itu kekuasaan negara harus
punya legitimasi hukum.
 Demokrasi dengan pembagian kekuasaan negara. Demokrasi dikuatkan dengan
pembagian kekuasaan negara dan diserahkan kepada badan - badan negara yang
bertanggung jawab menurut undang- undang dasar.
 Demokrasi dengan hak asasi manusia, sebagaimana diakui dalam UUD 1945 yang
tujuannya bukan saja menghormati hak - hak asasi, melainkan untuk meningkatkan
martabat dan derajat manusia seutuhnya.
 Demokrasi dengan peradilan yang merdeka. Lembaga peradilan merupakan
lembaga yang menyuarakan kebenaran, keadilan dan kepastian hukum. Lembaga ini
merupakan pelaksana kekuasaan kehakiman yang merdeka. Kekuasaan yang
merdeka ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua pihak yang
berkepentingan untuk mencari dan menemukan hukum yang seadil - adilnya.
 Demokrasi dengan otonomi daerah. Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan
kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
 Demokrasi dengan kemakmuran. Demokrasi bukan sekedar soal kebebasan dan
hak, bukan sekedar soal kewajiban dan tanggung jawab, bukan sekedar soal
mengorganisir kedaulatan rakyat atau pembagian kekuasaan. Demokrasi ditujukan
untuk membangun negara berkemakmuran/kesejahteraan oleh dan untuk sebesar-
besarnya rakyat Indonesia.
 Demokrasi yang berkeadilan sosial. Demokrasi menurut UUD 1945 menggariskan
keadilan sosial diantara berbagai kelompok, golongan, dan lapisan masyarakat.
Keadilan sosial merujuk kepada keadilan peraturan dan tatanan kemasyarakatan
yang tidak diskriminatif untuk memperoleh kesempatan atau peluang hidup, tempat
tinggal, pendidikan, pekerjaan, politik, administrasi pemerintah, layanan birokrasi,
bisnis, dan lain - lain.
D. Demokrasi di Indonesia
1. Landasan-landasan Demokrasi Indonesia
a) Pembukaan UUD 1945
 Alinea pertama yang berbunyi Kemerdekaan ialah hak segala bangsa.
 Alinea kedua yang berbunyi Mengantarkan rakyat Indonesia kepintu
gerbang kemerdekaan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan
makmur.
 Alinea ketiga yang berbunyi Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan
didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan dan kebangsaaan yang
bebas.
 Alinea keempat yang berbunyi Melindungi segenap bangsa.
b) Batang Tubuh UUD 1945
 Pasal 1 ayat 2 yaitu tentang “Kedaulatan adalah ditangan rakyat”.
 Pasal 2 yaitu tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat.
 Pasal 6 yaitu tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
 Pasal 24 dan Pasal 25 yaitu tentang Peradilan yang merdeka.
 Pasal 27 ayat 1 yaitu tentang Persamaan kedudukan di dalam hukum.
 Pasal 28 yaitu tentang Kemerdekaan berserikat dan berkumpul.

2. Perkembangan Demokrasi di Indonesia


a) Pelaksanaan demokrasi pada masa revolusi ( 1945 – 1950 )
Tahun 1945 – 1950, Indonesia masih berjuang menghadapi Belanda yang ingin
kembali ke Indonesia. Pada saat itu pelaksanaan demokrasi belum berjalan dengan baik.
Hal itu disebabkan oleh masih adanya revolusi fisik. Pada awal kemerdekaan masih
terdapat sentralisasi kekuasaan hal itu terlihat Pasal 4 Aturan Peralihan UUD 1945 yang
berbunyi sebelum MPR, DPR dan DPA dibentuk menurut UUD ini segala kekuasaan
dijalankan oleh Presiden denan dibantu oleh KNIP. Untuk menghindari kesan bahwa
negara Indonesia adalah negara yang absolut pemerintah mengeluarkan :
 Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945, KNIP berubah
menjadi lembaga legislatif.
 Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 tentang Pembentukan Partai
Politik.
 Maklumat Pemerintah tanggal 14 Nopember 1945 tentang perubahan sistem
pemerintahn presidensil menjadi parlementer.

b) Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Lama


(1) Masa demokrasi Liberal 1950 – 1959
Masa demokrasi liberal yang parlementer presiden sebagai lambang atau
berkedudukan sebagai Kepala Negara bukan sebagai kepala eksekutif. Masa demokrasi
ini peranan parlemen, akuntabilitas politik sangat tinggi dan berkembangnya partai-partai
politik.
Namun demikian praktik demokrasi pada masa ini dinilai gagal disebabkan :
 Dominannya partai politik
 Landasan sosial ekonomi yang masih lemah
 Tidak mampunya konstituante bersidang untuk mengganti UUDS 1950
Atas dasar kegagalan itu maka Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 :
 Bubarkan konstituante
 Kembali ke UUD 1945 tidak berlaku UUD S 1950
 Pembentukan MPRS dan DPAS

(2) Masa demokrasi Terpimpin 1959 – 1966


Pengertian demokrasi terpimpin menurut Tap MPRS No. VII/MPRS/1965 adalah
kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan yang berintikan musyawarah untuk mufakat secara gotong royong diantara
semua kekuatan nasional yang progresif revolusioner dengan berporoskan nasakom
dengan ciri:
 Dominasi Presiden
 Terbatasnya peran partai politik
Penyimpangan masa demokrasi terpimpin antara lain:
 Mengaburnya sistem kepartaian, pemimpin partai banyak yang dipenjarakan.
 Peranan Parlemen lembah bahkan akhirnya dibubarkan oleh presiden dan
presiden membentuk DPRGR.
 Jaminan HAM lemah
 Terjadi sentralisasi kekuasaan
 Terbatasnya peranan pers
 Kebijakan politik luar negeri sudah memihak ke RRC (Blok Timur)
Akhirnya terjadi peristiwa pemberontakan G 30 September 1965 oleh PKI.

c) Pelaksanaan demokrasi Orde Baru 1966 – 1998


Pelaksanaan demokrasi orde baru ditandai dengan keluarnya Surat Perintah 11
Maret 1966, Orde Baru bertekad akan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara
murni dan konsekwen. Awal Orde baru memberi harapan baru pada rakyat pembangunan
disegala bidang melalui Pelita I, II, III, IV, V dan pada masa orde baru berhasil
menyelenggarakan Pemilihan Umum tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.
Namun demikian perjalanan demokrasi pada masa orde baru ini dianggap gagal
sebab:
1. Rotasi kekuasaan eksekutif hampir dikatakan tidak ada
2. Rekrutmen politik yang tertutup
3. Pemilu yang jauh dari semangat demokratis
4. Pengakuan HAM yang terbatas
5. Tumbuhnya KKN yang merajalela
Sebab jatuhnya Orde Baru:
1. Hancurnya ekonomi nasional ( krisis ekonomi )
2. Terjadinya krisis politik
3. TNI juga tidak bersedia menjadi alat kekuasaan orba
4. Gelombang demonstrasi yang menghebat menuntut Presiden Soeharto untuk
turun jadi Presiden
5. Pelaksanaan demokrasi pada masa Reformasi 1998 s/d sekarang.
Berakhirnya masa orde baru ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari Presiden
Soeharto ke Wakil Presiden BJ Habibie pada tanggal 21 Mei 1998.

d) Pelaksanaan demokrasi Orde Reformasi 1998 – sekarang


Demokrasi yang dikembangkan pada masa reformasi pada dasarnya adalah
demokrasi dengan mendasarkan pada Pancasila dan UUD 1945, dengan penyempurnaan
pelaksanaannya dan perbaikan peraturan-peraturan yang tidak demokratis, dengan
meningkatkan peran lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara dengan menegaskan
fungsi, wewenang dan tanggung jawab yang mengacu pada prinsip pemisahan kekuasaan
dan tata hubungan yang jelas antara lembaga-lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Demokrasi Indonesia saat ini telah dimulai dengan terbentuknya DPR – MPR hasil
Pemilu 1999 yang telah memilih presiden dan wakil presiden serta terbentuknya
lembaga-lembaga tinggi yang lain.
Masa reformasi berusaha membangun kembali kehidupan yang demokratis antara
lain:
1. Keluarnya Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi
2. Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR tentang Referandum
3. Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan Negara yang bebas dari
KKN
4. Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan Masa Jabatan Presiden dan
Wakil Presiden RI
5. Amandemen UUD 1945 sudah sampai amandemen I, II, III, IV

E. Pendidikan Demokrasi
1. Pengertian Pendidikan Demokrasi
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan
sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui
pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan
orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki
efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.
Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah
menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.
Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu Demos dan Kratein.Demos
berarti rakyat, sedangkan kratein berarti kekuasaan. Bentuk kekuasaan dari, oleh, dan
untuk rakyat. Pendidikan yang demokratik adalah pendidikan yang memberikan
kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk mendapatkan pendidikan di sekolah
sesuai dengan kemampuannya. Pengertian demokratik di sini mencakup arti baik secara
horizontal maupun vertikal.
Maksud demokrasi secara horizontal adalah bahwa setiap anak, tidak ada
kecualinya, mendapatkan kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan sekolah.
Hal ini tercermin pada UUD 1945 pasal 31 ayat 1 yaitu : “Tiap-tiap warga negara berhak
mendapat pengajaran”. Sementara itu, demokrasi secara vertikal ialah bahwa setiap anak
mendapat kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat pendidikan sekolah yang
setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, demokrasi diartikan sebagai gagasan atau
pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan
yang sama bagi semua warga negara. Dalam pendidikan, demokrasi ditunjukkan dengan
pemusatan perhatian serta usaha pada si anak didik dalam keadaan sewajarnya
(intelegensi, kesehatan, keadaan sosial, dan sebagainya). Di kalangan Taman Siswa
dianut sikap tutwuri handayani, suatu sikap demokratis yang mengakui hak si anak untuk
tumbuh dan berkembang menurut kodratnya.
Pendidikan demokrasi pada hakekatnya membimbing peserta didik agar semakin
dewasa dalam berdemokrasi dengan cara mensosialisasikan nilai-nilai demokrasi, agar
perilakunya mencerminkan kehidupan yang demokratis.
Dengan demikian, tampaknya demokrasi pendidikan merupakan pandangan hidup
yang mengutarakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama di dalam
berlangsungnya proses pendidikan antara pendidik dan anak didik, serta juga dengan
pengelola pendidikan.
Indonesia sesungguhnya memiliki pengalaman yang kaya akan pendidikan
demokrasi. Menurut Udin S. Winataputra (Winataputra, 2008), sejak tahun 1945 sampai
sekarang instrument perundangan sudah menempatkan pendidikan demokrasi dan HAM
sebagai bagian integral dari pendidikan nasional. Misalnya, dalam usulan BP KNIP
tanggal 29 Desember 1945 dikemukakan bahwa “Pendidikan dan pengajaran harus
membimbing murid-murid menjadi warga negara yang mempunyai rasa tanggung
jawab”, yang kemudian oleh kementrian PPK dirumuskan dalam tujuan pendidikan:
“..untuk mendidik warga negara yang sejati yang bersedia menyumbangkan tenaga dan
pikiran untuk negara dan masyarakat” dengan cirri-ciri sebagai berikut: “Perasaan bakti
kepada Tuhan Yang Maha Esa; perasaan cinta kepada Negara; perasaan cinta kepada
bangsa dan kebudayaan; perasaan berhak dan wajib ikut memajukan negaranya menurut
pembawaan dan kekuatannya; keyakinan bahwa orang menjadi bagian tak terpisahkan
dari keluarga dan masyarakat; keyakinan bahwa orang yang hidup bermasyarakat harus
tunduk pada tata tertib; keyakinan bahwa pada dasarnya manusia itu sama derajatnya
sehingga sesama anggota masyarakat harus saling menghormati, berdasarkan rasa
keadilan dengan berpegang teguh pada harga diri; dan keyakinan bahwa Negara
memerlukan warga Negara yang rajin bekerja, mengetahui kewajiban, dan jujur dalam
pikiran dan tindakan”. Dari kutipan di atas, dapat dilihat bahwa semua ide yang
terkandung dalam butir-butir rumusan tujuan pendidikan nasional sesungguhnya
merupakan esensi pendidikan demokrasi dan HAM.
2. Hubungan Pendidikan dan Demokrasi
Dalam perspektif studi cultural, sistem pendidikan merupakan bagian yang
terintegrasi dari sistem budaya, sosial, politik, dan ekonomi sebagai suatu kebutuhan.
Sistem Negara dan pendidikan merupakan sistem yang terintegrasi dalam sistem
kekuasaan. Dalam kaitan ini, terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dan
demokrasi yaitu:
1. Pendidikan sebagai sarana perubahan budaya masyarakat
Masalah pendidikan tidak lepas dari kebudayaan suatu masyarakat dan politik di
dalamnya. Proses pendidikan bersifat dinamis yang menggerakkan dan merubah nilai-
nilai suatu masyarakat sesuai dengan perubahan kehidupan yang ada. Pendidikan
dipengaruhi oleh bentuk-bentuk kebudayaan masyarakat lokal maupun nasional dengan
dinamika yang ditentukan oleh kemampuan-kemampuan pribadi sebagai anggota
masyarakat. Dengan demikian, tanpa pendidikan tidak mungkin suatu masyarakat dapat
merubah budaya dan negaranya ke arah yang lebih baik.

2. Pendidikan sebagai pelaksana kekuasaan negara


System pendidikan dapat merubah gaya hidup suatu masyarakat karena dapat
merubah tingkah laku seseorang dalam berpikir yang lebih terbuka. Dalam pandangan
studi cultural, peran Negara dapat bersifat positif apabila lembaga-lembaga pendidikan
juga mempunyai control terhadap pelaksanaan kekuasaan Negara. Masyarakat berhak
ikut serta dalam setiap proses pelaksanaan pendidikan sejak pada tahap perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi lembaga pendidikan. Atas dasar tersebut, pembangunan suatu
mayarakat hanya dapat terjadi apabila masyarakat itu sendiri mempunyai sikap
demokratis, kesatuan bangsa atau nasionalisme, dan rasa persatuan. Masyarakat akan
kritis terhadap kebijakan yang dimunculkan oleh penguasa. Dan dari sikap kritis tersebut
akan menjadi benih bagi demokratisasi penyelenggaraan Negara.

3. Tujuan otonomi pendidikan yang sejalan dengan Negara demokratis


Hakikat pendidikan demokratis sendiri adalah pemerdekaan. Sedangkan tujuan
pendidikan dalam suatu Negara yang demokratis adalah membebaskan anak bangsa dari
kebodohan, kemiskinan, dan berbagai perbudakan lainnya. Hal ini sejalan dengan tujuan
otonomi pendidikan yang memberdayakan manusia melalui otonomi lembaga-lembaga
pendidikan di masyarakat baik dalam bentuk pendidikan Negara maupun pendidikan
swasta. Eksistensi pendidikan swasta menunjukkan dengan jelas bahwa antara politik
dan pendidikan saling berkaitan. Keterkaitan ini menandakan bahwa politik tidak lepas
dari pendidikan dan demikian pula pendidikan tidak bisa lepas dari politik.
Seorang tokoh demokrasi dan pendidikan, John Dewey juga melihat hubungan
yang begitu erat antara pendidikan dan demokrasi. Dewey mengatakan bahwa apabila
kita berbicara mengenai demokrasi, maka kita memasuki wilayah pendidikan.
Menurutnya pendidikan merupakan sarana bagi tumbuh dan berkembangnya sikap
demokrasi. Oleh karena itu pendidikan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari
penyelenggaraan Negara yang demokratis.
BAB III
PENUTUP

Adapun kesimpulan yang diperoleh di dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan-
keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara yang bertindak
berdasarkan prosedur mayoritas.
2. Demokrasi merujuk kepada konsep kehidupan negara atau masyarakat dimana warga
negara dewasa turut berpartisipasi dalam pemerintahan melalui wakilnya yang dipilih,
pemerintahannya mendorong dan menjamin kemerdekaan berbicara, beragam,
berpendapat, berserikat,
3. Ada 4 prinsip yang terkait dengan pemerintahan demokrasi, yaitu kedaulatan rakyat,
persamaan politik, konsultasi kepada rakyat dan aturan mayoritas. Namun ada sebagian
ahli mengetengahkan sepuluh pilar demokrasi yang dipesankan oleh para pembentuk
negara sebagaimana diletakkan dalam UUD 1945.
4. Demokrasi yang dikembangkan pada masa reformasi pada dasarnya adalah demokrasi
dengan mendasarkan pada Pancasila dan UUD 1945, dengan penyempurnaan
pelaksanaannya dan perbaikan peraturan-peraturan yang tidak demokratis, dengan
meningkatkan peran lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara dengan menegaskan
fungsi, wewenang dan tanggung jawab yang mengacu pada prinsip pemisahan kekuasaan
dan tata hubungan yang jelas antara lembaga-lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.
DAFTAR PUSTAKA

Gandamana, Apiek . 2019. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi. Medan :


Harapan Cerdas.