Anda di halaman 1dari 3

-STOP DISKRIMINASI PENDERITA KUSTA-

© HumasKammiSahabat

Kusta adalah penyakit yang menyerang saraf tepi, kulit dan organ lainnya
sehingga menimbulkan kecacatan. Kecacatan yang kelihatan pada penderita kusta
seringkali tampak menyeramkan sehingga menyebabkan perasaan jijik dan
ketakutan yang berlebihan terhadap kusta (leprofobia). Meskipun penderita kusta
telah selesai minum obat, status penderita kusta tetap melekat pada dirinya seumur
hidup. Status predikat inilah yang menjadi dasar permasalahan psikologis pada
penderita. Penderita merasa kecewa, takut dan duka yang mendalam terhadap
keadaan dirinya, tidak percaya diri, malu,merasa diri tidak berharga dan berguna
dan kekhawatiran akan dikucilkan. Selain itu, opini masyarakat (stigma) juga
menyebabkan penderita kusta dan keluarganya dijauhi dan dikucilkan oleh
masyarakat.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan di 5 kabupaten Indonesia pada


tahun 2007, diskriminasi pada penderita kusta terjadi pada sarana dan pelayanan
publik seperti sekolah, perusahaan, restoran, sarana ibadah, sarana kesehatan dan
sarana umum lainnya. Kecacatan yang ada pada penderita kusta juga
menyebabkan diskriminasi atau penolakan yang dilakukan oleh masyarakat.
Bentuk penolakan yang dilakukan masyarakat bermacam-macam seperti
dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, diceraikan dari pasangan hidupnya, tidak
boleh masuk tempat ibadah, restoran, hotel dan lain-lain. Stigma dan diskriminasi
seringkali menghambat penemuan kasus kusta secara dini, pengobatan pada
penderita, serta penanganan permasalahan medis yang dialami oleh penderita
maupun orang yang pernah mengalami kusta. Timbulnya stigma pada penderita
maupun masyarakat menyebabkan keterbatasan penderita kusta dan orang yang
pernah mengalami kusta untuk dapat menerima hak asasinya secara penuh sebagai
seorang manusia dan sebagai bagian dari masyarakat.

Surat Al-Hujurat ayat 13 yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya Kami


menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal” ayat ini menjelaskan bahwa kita diciptakan
tidak sendiri melainkan bersama dengan yang lainnya. siapapun kita dan
bagaimanapun kondisi kita, baik kita laki-laki ataupun perempuan, baik kita
berpenampilan baik ataupun buruk, baik kita sehat ataupun sakit Allah hanya
melihat kita dari sisi ketakwaan kita untuk terlihat mulia dihadapan-Nya. Lalu,
apakah pantas untuk mendiskriminasi orang yang memiliki penyakit Kusta sedang
kita sendiri tidak menyibukkan diri untuk menjadi manusia yang bertaqwa??
Boleh jadi orang yang dihina dan dikucilkan itu (penderita kusta) kadar
ketaqwaannya lebih tinggi daripada orang yang mencemooh. Naudzubillah.

Oleh karenanya, perlu cara atau tips agar kita terhindar dari sifat
diskriminasi dengan:

a. Menyadari bahwa yang membedakan manusia di sisi Allah adalah


kualitas ketaqwaan mereka.

b. Melihat keragaman ciptaan, bangsa dan suku adalah sesuatu yang


wajar dan niscaya.

c. Allah tidak melihat kemuliaan seseorang dari penampilan luar.

d. Membiasakan diri menghindari sifat-sifat saling merendahkan, saling


mencela, saling memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan,
saling berperasangka jelek (saling curiga), saling mencari-cari
kejelekan orang lain, saling menggunjig.

#kammisahabat

#kammijember

#harikustainternasional

#stopdiskriminasi

#kammipeduli
#aksikuat

#ibadahtaat

#prestasihebat